07 Desember 2015

Arifureta Bab 6 Bahasa Indonesia




ARIFURETA SHOKUGYOU DE SEKAI SAIKYOU
BAB 6
BEHEMOTH

[Traum adalah bahasa Jerman untuk Mimpi].
* * *
Di kedua sisi jembatan, sebuah formasi sihir yang memancarkan cahaya merah muncul. Lingkaran sihir tersebut di sisi jalan terusan berkisar 10m besarnya. Yang berada di sisi tangga sekitar 1m, tapi jumlahnya banyak.

Dari lingkaran sihir yang lebih kecil dan tak terhitung jumlahnya, muncullah kerangka-kerangka yang membawa pedang, mereka semua disebut “Traum Soldier”. Mata mereka berwarna sama dengan lingkaran sihir dan jumlah mereka terus bertambah.

Sekalipun terdapat begitu banyak kerangka Traum Soldier di sisi ini, monster di sisi lainlah yang menyebabkan kesadaran Hajime akan bahaya jadi menggila. Dari lingkaran sihir sebesar 10m, sebuah pedal iblis segiempat dengan panjang 10m dan semacam helm di kepalanya, muncul dari situ. Jika dibandingkan dengan hewan apa pun yang diketahui Hajime, yang mendekat adalah seekor Triceratops. Akan tetapi, matanya bersinar berwarna merah, sambil memukulkan cakar dan taringnya yang tajam, lidah-lidah api berkumpul di sekitar tanduk yang ada di helmnya.

Meld hanya membisikkan “Behemoth”. Pada saat itu, Behemoth menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan sebuah raungan yang memekakkan telinga.

“Gurua~a~a~aaaaa‼”

“Ugh!?”

Raungan tersebut menyebabkan semua indera Meld kembali. Dia dengan cepat memberikan perintah kepada semuanya.

“Alan! Pimpin anak-anak ke tangga dan terobos para Traum Soldier itu! Kyle, Ivan, Gale! Aku perlu kalian untuk memperlebar dinding pertahanan sebisa kalian! Hentikan itu! Kouki, cepat pergi ke tangga!”

“Tunggu sebentar, Meld-san! Kami akan membantu! Monster yang seperti dinosaurus itu adalah yang paling berbahaya!? Kami akan…”

“Tolol! Itu adalah Behemoth yang sebenarnya, dengan kekuatanmu yang sekarang itu adalah hal yang mustahil! Itu adalah iblis level 65. Dulu sekali, petualang terkenal yang “Terkuat” menghadapinya dan tidak dapat mengalahkannya. Cepat pergi! Aku tidak bisa membiarkan kalian mati!”

Bahkan ekspresi Meld terlihat bimbang untuk sejenak karena monster tak kenal takut di hadapannya. “Aku tidak bisa membiarkan kalian!” adalah balasan Kouki saat dia berdiri di tempatnya. Tepat ketika Meld mencoba untuk memberi alasan kepada Kouki untuk mundur, Behemoth tersebut meraung dan mulai menyerang mereka. Kalau begini, para murid yang sedang bergerak mundur akan mati terinjak-injak.

Untuk mencegahnya, pasukan militer terkuat dari Haihiri memunculkan banyak dinding perlindungan dalam kekuatan penuh.

“”Usirlah semua Kedengkian dan Permusuhan, Perlindungan Mutlak dari Sang Anak Dewa, Dalam Tempat Suci Ini, Kau Tidak Akan Bisa Melaluinya, “Absolute Virtue”””

Formula sihir untuk mantera ini tertera pada kertas berkualitas tertinggi selebar 2m. Perapalannya memiliki 4 frasa untuk mengaktifkannya. 3 dari para warrior melancarkannya secara serempak. Sebuah dinding perlindungan yang muncul dapat menghentikan apapun selama satu menit. Dinding perlindungan berbentuk setengah bola bersinar putih bersih saat menghentikan serangan Behemoth.

Begitu Behemoth berbenturan dengan dinding tersebut, sebuah gelombang kejut muncul dari antara mereka. Seluruh jembatan bergetar karena gelombang getarnya, dan semua yang berada di sekitar kaki Behemoth hancur lebur. Murid-murid yang mundur berteriak dan roboh karena gempa buatan itu.

Traum Soldier adalah monster-monster yang muncul dari level 38 ke atas. Mereka berada di tempat teratas dari semua monster yang mereka temui sejauh ini. Para murid menjadi panik saat mereka terjepit di antara iblis besar di belakang dan pasukan kerangka mengerikan di depan.

Mereka maju dengan gegabah, tanpa peduli untuk mempertahankan barisan, dan menuju ke tangga. Alan, mencoba untuk menenangkan mereka sekuat tenaga, tidak ada yang mendengarkan karena teror yang mendekat. Salah satu dari gadis sekolah itu terdorong dari belakang dan terjatuh. Dia mengerang saat mengangkat kepalanya dan melihat di hadapannya ada sesosok Traum Soldier yang menghunuskan pedang.

“Ah.”

Monster itu mengayunkan pedang ke arahnya.

Dia berpikir bahwa dia akan mati kapan saja, tapi tiba-tiba kaki Traum Soldier itu terangkat naik. Kehilangan keseimbangan, lintasan dari mata pedangnya tidak mengenai gadis tersebut dan membentur tanah sebagai gantinya. Lebih jauh lagi, pergolakan tersebut berlanjut seperti sebuah ombak menuju ujung dari jembatan, membuat tersandung banyak Traum Soldier di sepanjang jalurnya. Ini menyebabkan para Soldier tersebut jatuh ke dalam jurang.

2m dari tepi jembatan dalam posisi membungkuk adalah Hajime yang menghela nafas dengan berat. Dia terus menerus mentransmutasi tanah. Seperti longsor, para monster di jembatan berjatuhan ke dalam jurang. Tanpa sadar, kecakapannya dalam mengubah menjadi lebih baik karena dia terus-menerus menggunakannya. Jangkauan dari transmutasinya juga sepertinya telah meningkat.

Sambil menegak sebotol mana potion, Hajime dengan cepat mendekati gadis yang terjatuh itu. Dia membantunya bangkit. Hajime berbicara dengan gadis yang masih tertegun dengan seulas senyuman.

“Ayo cepat. Tidak apa-apa, kalau kau tenang, maka kerangka-kerangka ini bukan apa-apa. Karena kecuali aku, semuanya adalah cheater!”

Hajime menepuk punggungnya dengan penuh percaya diri, detik berikutnya dia mengutarakan sebuah “terima kasih” secara cepat dan bersemangat.

Hajime telah meruntuhkan pijakan di sekitar Traum Soldier dan membuat mereka terhambat. Dia mengambil waktu sejenak untuk memeriksa medan pertempuran. Semuanya dalam kepanikan yang membuat mereka bertarung tanpa berpikir dan terlihat begitu payah. Kalau terus begini, kemungkinan besar seseorang akan mati. Alan masih mencoba mengatur mereka, tapi tidak berjalan baik. Lebih banyak lagi bala bantuan yang muncul untuk Traum Soldier melewati lingkaran sihir baru.

“Kita perlu pemimpin yang kuat untuk memimpin kita, Amanokawa-kun!”

Hajime mulai berlari cepat menuju kelompok Kouki.

Behemoth masih terus-terusan menyerang dinding perlindungan. Sebuah gelombang kejut yang kuat membuat segala sesuatunya berbenturan dengan perlindungan tersebut, jembatannya mengerang karena tekanan tersebut. Sudah terdapat retakan-retakan pada dinding dan hanya hitungan waktu saja sebelum hancur. Meld telah bergabung dengan tenaga bantuan untuk memperkuat perlindungan tapi itu percuma, seperti menambahkan setetes air ke dalam ember.

“Ah, sial! Ini tidak akan bertahan lama! Kouki, cepat mundur! Kalian pergi juga!”

“Tidak! Aku tidak akan meninggalkan kalian semua! Kita semua pasti akan selamat dari ini!”

“Ugh, begitu egois di saat seperti ini…”

Meld menampakkan raut wajah masam pada percakapan mereka. Di tempat sesempit itu, akan sangat sulit untuk menghindari terjangan Behemoth. Karena itu, pilihan terbaik adalah untuk mundur karena tanpa dinding perlindungan, mereka akan terinjak-injak. Pemikiran tajam semacam itu hanya dapat muncul dari pengalaman, bukanlah yang mungkin bagi Kouki dan kelompoknya untuk berpikir seperti itu.

Meld mendesak untuk mundur, tapi dengan penjelasan yang minim mengenai apa alasannya. Kouki tidak dapat menerima nasehatnya dan menolak untuk “menelantarkan” mereka. Juga dari tatapan mata Kouki terlihat bahwa dia ingin menantang Behemoth tersebut.

Ini mungkin adalah ciri dari cara berpikirnya yang masih belum matang. Dia terlalu mengganggap tinggi dirinya, karena dia mendapat begitu banyak pujian yang dicurahkan padanya.

“Kouki! Dengarkan apa yang dikatakan Meld dan mundurlah!”

Shizuku, yang mengerti situasinya, mencengkeram lengan Kouki dengan sikap memprotes.

“Ini bukan pertama kalinya Kouki bersikap tidak masuk akal! Aku akan membantumu!”

“Terima kasih Ryutaro!”

Pernyataan Ryutaro semakin memanas-manasi tindakan Kouki. Shizuku mendecakkan lidah karenanya.

“Jangan terlalu terbawa situasi! Dasar bodoh!”

“Shizuku-chan.”

Kaori mengkhawatirkan Shizuku yang kesal.

Seorang pemuda melompat ke depan Kouki.

“Amanokawa-kun!”

“Na-Nagumo!?”

“Nagumo-kun!?”

Semuanya terkejut dengan betapa seriusnya Hajime.

“Cepat mundur! Kau harus membantu yang lainnya!”

“Kenapa begitu tiba-tiba? Apa yang bahkan kau lakukan di tempat seperti ini? Ini bukanlah tempat di mana seharusnya kau berada! Serahkan saja ini pada kami, Nagumo…”

“Apakah sekarang waktunya untuk berkata semacam itu?!”

Hajime menunjukkan semacam tekanan yang tak terduga dalam perkataannya yang membuat Kouki menghentikan omelannya. Sampai saat ini, mereka tidak pernah mendengar Hajime menggunakan nada bicara keras seperti itu. Dia biasanya selalu terlihat dengan seulas senyuman dan penampilannya saat ini begitu mengejutkan.

“Apakah kau tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi? Semuanya dalam keadaan panik, karena pemimpin mereka menghilang!”

Hajime menunjuk ke arah murid-murid sementara salah satu tangannya mencengkeram dada Kouki. Di tempat yang dia tunjuk, ada teman-teman sekelasnya yang sedang dikepung Traum Soldier. Hasil pelatihan yang diberikan kepada mereka sekarang tidak terlihat, mereka bertarung dengan menyedihkan. Karena mereka begitu tidak efisien, mereka sekarang kelabakan dengan bala bantuan monster. Meskipun status tinggi mereka melindungi mereka untuk saat ini, tidak lama lagi itu tidak akan ada gunanya.

“Kami perlu serangan yang dapat menerobos monster-monster itu! Sebuah kekuatan yang dapat menghapus rasa takut dari hati semua orang! Dan itu adalah kau yang memiliki kekuatan tersebut! Jangan hanya melihat apa yang ada di hadapanmu, lihat juga apa yang ada di belakangmu!”

Terpaku melihat teman-teman sekelasnya yang sedang berada dalam kekacauan, Kouki yang gemetar menganggukkan kepalanya.

“Aku mengerti! Aku akan segera pergi. Maaf, Meld-san!”

“Pergi!”

Saat Meld menoleh ke belakang untuk melihat kesediaan Kouki untuk mundur, dinding perlindungan akhirnya runtuh akibat serangan bertubi-tubi Behemoth. Gelombang kejut yang mengamuk akibat kehancuran dari dinding pelindung, menerpa langsung pada Hajime dan yang lainnya. Hajime dengan cepat melangkah maju dan membentuk sebidang dinding, tapi itu dengan mudahnya disapu minggir. Kelihatannya dia telah memperlemahnya. Debu berterbangan saat Behemoth tersebut meraung.

Di tanah, Meld dan tiga dari kesatrianya mengerang. Tubuh mereka sepertinya mendapat cedera dari gelombang kejut tadi, mereka tidak dapat bergerak. Kouki dan kelompoknya terjatuh, tapi dengan cepat mereka pulih. Tembok Hajime telah berguna untuk mereka yang berada di belakang Meld.

“Ryutaro, Shizuku, bisa ulur waktu sedikit untukku?”

Sekalipun kesakitan, mereka berdua menerjang maju atas permintaan Kouki. Karena Meld tidak dapat bergerak, sekarang tergantung pada mereka untuk bertindak.

“Akan kulakukan apa yang kubisa!”

“Entah bagaimana caranya, akan kulakukan!”

Mereka berdua bergegas menuju Behemoth.

“Kaori, mulailah menyembuhkan Meld dan orang-orangnya.”

“Baik.”

Kaori dengan cepat bekerja. Hajime sudah berada di sebelah Meld. Dia dengan cepat menciptakan sebidang dinding batu untuk mencegah dampat dari pertarungan mengenai mereka. Sekalipun kelihatannya sia-sia saat melihat pertempuran, ini masih lebih baik daripada tidak sama sekali.

Kouki pada saat ini sedang memfokuskan diri dan merapalkan mantera untuk melakukan skill terbaiknya.

“Kehendak Ilahi! Musnahkan semua kejahatan dengan cahayamu! Nafas Dewa! Tiuplah menjauh awan-awan yang mengancam dan murnikanlah dunia ini! Belas kasihan dari Dewa! Ampunilah semua dosa dengan serangan ini! “Heaven’s Might!"

Sebuah aurora memancar dari “Pedang Suci” setelah merapalkan mantera tersebut. Skill ini mirip dengan “Soaring Flash”, tapi kekuatannya sama sekali berada di level yang berbeda. Skill ini membuat sebuah lekukan pada jembatan itu saat ditembakkan ke arah Behemoth, menggetarkan jembatan dengan kekuatannya. Setelah perapalan itu, Ryutaro dan Shizuku telah menjauh. Akan tetapi, setelah bertempur dengan Behemoth tersebut, mereka dalam keadaan babak belur. Mengalami luka cedera sebanyak itu dalam waktu yang pendek.

Serangan cahaya yang bertubi-tubi mengenai Behemoth secara langsung. Cahaya memenuhi area di mana mantera tersebut berbenturan dengan iblis tersebut. Sebuah gempa bergema di jembatan itu, dan retakan-retakan muncul di seluruh permukaannya.

“Kalau seperti ini… Ha-a, Ha-a.”

“Apakah itu berhasil?”

“Kuharap begitu.”

Ryutaro dan Shizuku kembali ke sebelah Kouki. Kouki bernapas dengan berat setelah menggunakan sihir sebanyak itu. Skill tadi, adalah senjata terbaiknya. Sebagian besar kekuatan sihirnya digunakan untuk mantera tersebut. Kaori telah selesai merawat para prajurit tumbang dan Meld berusaha keras mencoba untuk bangkit berdiri.

Saat cahaya dan debunya mereda…

Di situlah berada, Behemoth yang tidak terluka gores sedikit pun.

Makhluk buas tersebut menatap tajam Kouki dan menggeram. Dia mengangkat kepalanya, ada sebuah nada yang tinggi lalu tanduk monster tersebut mulai bersinar merah membara. Magma, kata itulah yang dapat menggambarkan dengan sempurna seperti apakah helm Behemoth itu.

“Jangan hanya berdiri di sana! Minggir!”

Suara Meld membantu mereka kembali ke indera mereka masing-masing dan mereka mulai bergerak. Behemoth itu dengan segera menyerbu mereka dengan helm yang baru saja diperkuat. Seperti meteorit jatuh yang jatuh, Behemoth tersebut menjatuhkan helmnya pertama kali menuju Kouki.

Sekalipun mereka dapat menghindarinya dengan melompat ke samping, gelombang kejut yang disebabkan oleh benturan tetap melemparkan mereka menjauh. Saat mereka berhenti menggelinding, mereka terluka di sekujur tubuh mereka. Meld, yang akhirnya dapat bergerak kembali, bergegas mendekat. Kesatria yang lain masih dirawat oleh Kaori. Mempersiapkan dirinya, Behemoth itu berusaha untuk menarik kepalanya yang tersangkut.

“Bisakah kalian bergerak?”

Respon yang didapatkannya hanyalah erangan. Mereka mungkin tidak dapat bergerak lagi karena gelombang kejut yang disebabkan oleh jatuhnya Behemoth. Cedera pada organ tubuh bagian dalam mereka sepertinya parah.

Meld memanggil Kaori. Saat dia mencari-cari Kaori, tatapan Meld jatuh pada Hajime.

“Bocah! Bawa Kaori, bopong Kouki dan mundurlah!”

Untuk Meld yang mengarahkan instruksi semacam itu pada Hajime, dia hanya dapat membopong Kouki. Perintah tersebut menandakan bahwa, tidak ada orang lain yang dapat melarikan diri. Meld menggertakkan giginya dan menyiapkan tamengnya. Dia telah memilih untuk mempertaruhkan nyawaya dalam situasi berbahaya ini untuk menahan makhluk buas tersebut.

Pada saat terpojok tersebut bagi Meld, Hajime mengajukan sebuah usul. Metode ini mungkin satu-satunya cara agar semua orang dapat selamat. Akan tetapi, kemungkinan suksesnya sangat rendah. Hajime juga dapat berada di posisi yang berbahaya.

Meld ragu-ragu, tapi Behemoth sudah siap untuk bertempur. Helmnya mulai mendesis panas. Mereka tidak punya waktu.

“Apa kau akan melakukannya?”

“Aku akan melakukannya!”

Meld dapat dengan mudah melihat tatapan mantap dari Hajime, dan dia mau tidak mau tersenyum.

“Aku tidak bisa percaya bahwa aku akan mempercayakannya padamu. Aku pasti akan menyelamatkanmu. Kuserahkan padamu!”

“Baik!”

Meld menuju ke arah Behemoth setelah itu. Dia melepaskan sebuah sihir sederhana untuk memprovokasinya. Behemoth tersebuth kelihatannya punya sebuah kebiasaan untuk menargetkan siapapun yang menyerangnya pada saat itu. Manusia dan binatang buas bertatapan satu sama lain.

Ketika helmnya akhirnya terbakar, monster tersebut kemudian melompat. Meld berdiri dengan tenang, berniat untuk memancingnya hingga saat terakhir. Pada saat itu, sebuah perapalan singkat terdengar.

“Berhembuslah, “Wind Wall”!”

Dia mundur selangkah pada saat yang sama dengan dia merapalkan mantera. Seperti sebuah komet, Behemoth tersebut mendarat pada area di mana Meld tadinya berada. “Wind Wall” dapat menangkis gelombang kejut dan puing-puing dari serangan. Karena ini hanyalah sebuah serangan sederhana, dia dapat menghindarinya. Dia akan benar-benar tamat jika dia melindungi Kouki.

Lagi, kepala Behemoth itu tersangkut setelah menyerang. Hajime maju pada saat ini, tapi sisa-sisa dari hawa panas yang membara membakar Hajime. Dia menahan rasa sakit dan mulai merapalkan mantera. Itu tidak dapat dianggap sebagai rapalan mantera karena dia hanya menyebutkan nama manteranya.

“Transmute.”

Gerakan Behemoth untuk melepaskan kepalanya dari batu terhenti karena bebatuan di sekelilingnya mengubur kepalanya. Tidak peduli berapa banyak batu yang hancur untuk melepaskan dirinya, Hajime akan memperbaikinya dengan transmutasinya. Memperkuat kakinya, Behemoth tersebut secara paksa melepaskan diri, tapi Hajime mengubah area di sekitar kakinya kali ini. Dia terus-menerus mengeraskan dan mentransmutasi bebatuan dan pada akhirnya dia melesakkan binatang buas tersebut 1m ke dalam batu. Kekuatan Behemoth itu begitu mengerikan sehingga jika dia lengah sedikit saja, retakan-retakan akan muncul dalam bentuk formasi dan monster tersebut akan mencoba lepas. Untuk mencegah hal ini, Hajime tidak menghentikan transmutasinya. Dia mengamati Behemoth yang berjuang untuk melepaskan diri dengan kepala yang terkubur di dalam tanah. Siapapun yang melihatnya, ini akan terlihat konyol.

Sementara itu, Kaori dan kesatria yang pulih berkumpul dan membawa kelompok Kouki kembali. Di sisi yang terdapat Traum Soldier, para murid kembali tenang dan mulai bekerja sama satu dengan yang lainnya. Alasan pemulihannya adalah karena gadis yang diselamatkan Hajime sebelumnya. Sebuah kontribusi sederhana dari Hajime.

“Tunggu! Masih ada Nagumo-kun.”

Kaori memprotes Meld yang sedang mundur.

“Ini adalah rencananya! Kita akan menupas para Traum Soldier dan membuat area aman bagi kita sendiri, lalu kemudian kita akan membanjiri makhluk tersebut dengan sihir! Tentu saja, kita akan membiarkan dia untuk mundur juga! Dia dapat kabur saat serangan sihir kita menahan monster tersebut di tempat, kemudian kita mundur ke level lebih tinggi.”

“Kalau begitu, aku akan tinggal dan membantunya!”

“Tidak mungkin! Penyembuhanmu diperlukan untuk membantu Kouki saat kita melarikan diri!”

“Tapi!”

Meld berseru pada Kaori yang protes.

“Jangan biarkan usahanya menjadi sia-sia!”

“Ugh!?”

Termasuk Meld, orang lain dengan kekuatan tertinggi tidak diragukan lagi adalah Kouki. Kalau Kaori tidak menggunakan kekuatan sihir secara efektif, mereka mungkin akan kekurangan kekuatan untuk menghentikan Behemoth. Karena itulah mengapa dibutuhkan dirinya untuk bergabung dengan grup yang mengundurkan diri. Mereka tidak punya waktu untuk berhenti dan menyembuhkan dengan cara yang lebih lambat, dan kalau mereka tidak cukup cepat, Hajime akan kehabisan mana untuk menjebak Behemoth.

“Napas Surgawi, Penuhilah hingga meluap, Sucikan dan Sembuhkanlah, “Heaven’s Blessing”!”

Sekalipun wajahnya seperti ingin menangis, dia melanjutkan rapalannya. Sebuah cahaya pucat menyelimuti Kouki. Sifat pemulihan dari sihirnya menyembuhkan tubuhnya dari luka-luka bersamaan dengan saat sihir tersebut melingkupinya. Meld meletakkan sebelah tangannya di bahu Kaori dan menganggung, dan gadis itu pun balas mengangguk. Sekali lagi, Kaori berbalik untuk melihat adegan Hajime yang sedang mentransmutasi melawan Behemoth. Mereka semua mulai bergerak mundur setelah itu.

Jumlah dari Traum Soldier masih terus meningkat. Saat ini, jumlah mereka sekitar 200. Mereka semua memenuhi sisi tangga dari jembatan. Tapi dari satu sisi ini mungkin adalah hal yang bagus. Jika ada celah, para murid akan mencoba untuk menerabas, tapi kekurangan pengalaman akan membuat mereka terkepung dan dibantai. Malahan ini adalah jumlah yang bagus bagi para murid yang kesulitan dengan jumlah 100 sebelumnya.

Untungnya, tidak ada satu pun kematian, itu semua berkat para kesatria yang sungguh-sungguh melindungi mereka. Bukanlah hal yang berlebihan untuk mengatakan bahwa mereka mati-matian melindungi nyawa para murid. Buktinya muncul dalam bentuk luka-luka yang mereka dapatkan.

Kalau mereka kehilangan dukungan dari para kesatria, dengan meningkatnya jumlah murid yang panik dan tidak mengetahui sihir yang menyebabkan meningkatknya monster, mereka akan hancur sewaktu-waktu.

Rasa putus asa menyerang para murid yang menyadarinya. Grup yang bekerja sama dengan gadis yang Hajime selamatkan sebelumnya, sekalipun mereka bertarung dengan gagah berani, wajah mereka menunjukkan bahwa mereka berada di ambang batasnya. Saat mereka berpikir bahwa akhirnya tamat…

Soaring Flash!”

Sebuah tebasan putih bersih meledak tepat melalui sekumpulan Traum Soldier. Para Soldier yang berada di sisi tepi jembatan terhempas ke dalam jurang. Setelah tebasan sekejap itu, Soldier yang tersisa mengisi celah yang tercipta akibat skill itu. Mereka tentunya melihat tangga yang menuju lantai atas meskipun sesaat. Mereka berharap untuk melihatnya tapi tertutup oleh lautan pedang.

“Semuanya! Jangan menyerah, aku akan membuka jalan!”

Dia mengucapkan kalimat itu saat “Soaring Flash” menembus melewati musuh. Para murid bersemangat karena karisma yang Kouki tampilkan.

“Apa yang kalian semua lakukan selama ini? Ingatlah latihanmu, dan mulailah bekerja sama dengan satu sama lainnya! Bodoh!”

Pemimpin yang diandalkan semua orang tersebut mengeluarkan sebuah skill yang tidak kalah dari “Soaring Flash” pada musuh. Perasaan bisa diandalkan tersebut kembali dengan suaranya. Tubuhnya dipenuhi dengan kekuatan dan pikirannya menjadi jelas. Sihir Kaori berjalan sebagaimana harusnya, sihir untuk menenangkan pikiran. Sihir tersebut hanyalah sihir untuk membuat relaks, tapi dikombinasikan dengan performa Kouki, hal tersebut menjadi super efektif.

Semua orang dengan kemampuan penyembuhan mulai menyembuhkan semua orang. Orang-orang dengan bakat sihir yang tinggi membentuk pertahanan belakang, mereka mulai perapalan mantera mereka. Penyerang jarak dekat membentuk barisan kuat, mereka bergerak dengan mantap tapi menekankan pada perlindungan penyerang jarak jauh.

Para kesatria yang pulih juga bergabung dengan mereka, kemudian sinyal untuk serangan balasan datang. Para murid yang cheater mulai melakukan serangan beladiri dan sihir mereka, mereka merubuhkan para musuh mereka seperti amukan ombak. Monster-monster berjatuhan dengan begitu cepatnya hingga akhirnya mereka melewati kecepatan muncul kembali lingkaran sihir.

Segera, jalan menuju ke tangga terbuka.

“Semuanya maju! Kita harus mengamankan tangga!”

Kouki mulai berlari saat dia berteriak. Shizuku dan Ryutaro yang pulih menemani Kouki menyerang. Mereka melesat melewati Traum Soldier yang mengepung seperti sebilah pisau panas yang membelah mentega. Akhirnya, mereka menembus pengepungan tersebut. Kouki dengan cepat melancarkan sihirnya untuk mencegah celah dari jembatan yang baru mereka ciptakan untuk terisi kembali oleh para Soldier.

Teman-teman sekelas terlihat ragu-ragu. Sudah pasti begitu. Di depan mereka terdapat tangga, dan secara alamiah mereka ingin untuk ke tempat aman secepatnya.

“Tunggu semunya! Kita masih harus menyelamatkan Nagumo-ku! Dia seorang diri, menahan iblis itu selama ini!”

Teman sekelas Kaori menatapnya dengan ekspresi sangat ragu-ragu. Mereka semua berpikir bahwa itu adalah hal yang mustahil, karena mereka semua merasa bahwa Hajime adalah seorang yang tidak berguna. Saat teman-teman sekelas yang kebingungan melihat ke arah jembatan, Hajime benar-benar berada di situ

“Apa yang sedang dia lakukan?”

“Iblis itu terkubur!”

Meld menjawab pertanyaan-pertanyaan para murid.

“Itu benar! Karena dia menghentikan monster tersebut maka kita bisa mundur! Penyerang depan, jangan biarkan satu Soldier pun mendekati kita! Penyerang jarak jauh, siapkan serangan jarak jauh kalian! Dia sudah hampir kehabisan kekuatan sihir, kita akan membantunya melarikan diri sementara kita menyerang Behemoth tersebut.

Para murid menguatkan diri mereka saat suara tersebut bergema di dalam diri mereka. Ada orang-orang yang melihat ke arah tangga dengan penyesalan. Tidak heran, mereka baru saja mendapatkan pengalaman yang mendekati kematian. Mereka sewajarnya ingin untuk ke tempat aman secepat mungkin. Akan tetapi, saat Meld dengan marah berteriak untuk bergegas, mereka kembali ke medan pertempuran.

Di antara mereka ada Hiyama Daisuke. Sekalipun dia memandang tinggi dirinya, dia benar-benar ketakutan, dia ingin lari secepat mungkin.

Pada saat itu, adegan kemarin melintas di benaknya. Itu adalah saat mereka sedang menginap di Horlad. Dia begitu dibanjiri dengan kegelisahan pada hari berikutnya sehingga dia tidak dapat tidur dengan benar dan pergi keluar untuk mencari udara segar saat menuju toilet. Angin dingin membuatnya nyaman dan dia sedang kembali ke kamarnya saat dia melihat sesuatu. Di tengah jalan, dia melihat Kaori dalam baju tidurnya. Ini adalah pertama kalinya dia melihat gadis itu dalam penampilan tersebut dan dia secara insting bersembunyi dan menahan nafas karena pemandangan itu. Kaori lewat tanpa menyadarinya.

Daisuke tertarik dan mengikutinya, sampai gadis itu berhenti di depan sebuah kamar tertentu dan mengetuknya. Yang menjawabnya adalah…Hajime. Pikiran Hiyama menjadi gelap. Dia menyukai Kaori, akan tetapi pemikiran tersebut tidak cukup baik bagi gadis itu. Saat membandingkan dirinya dengan Kouki, dia merasa tidak sepadan, jadi dia menyerah.

Hajime berbeda, Daisuke merasa bahwa Hajime lebih rendah dari dirinya. Jadi menemukan Hajime berada di sekitar Kaori adalah hal yang aneh. Dia berpikir kalau orang itu mungkin, kenapa dia tidak? Daisuke mendengar setiap kata di kepalanya, apakah kepalanya baik-baik saja? Hijama memikirkannya dengan serius. Rasa tidak puasnya terhadap Hajime telah menumpuk, dan sekarang membengkak menjadi rasa benci. Saat dia melihat Kaori terpesona pada Grantz Crystal, dia mungkin tergerak oleh perasaan ini.

Hiyama mengingat semua itu. Melihat Hajime yang sedang menahan Behemoth seorang diri, Kaori yang menatap Hajime dengan khawatir dan bahkan berdoa untuknya… seulas senyum gelap mengembang di wajah Daisuke.

Hajime merasa mana-nya terkuras, dan dia kehabisan potion. Dia dengan cepat mengamati sekelilingnya dan menyadari bahwa semua orang telah mundur. Barisan telah terbentuk dan sihir sedang dipersiapkan untuk bagian terakhir dari rencana.

Behemoth masih meronta-ronta, kalau begini, masih ada beberapa detik jeda sekalipun dia berhenti mentransmute. Dalam jangka waktu itu dia memiliki jarak yang cukup jauh. Setetes keringat memasuki matanya. Hajime tidak pernah berada di situasi semacam itu yang menyebabkan jantungna berdetak begitu kencang sampai dia dapat mendengarnya. Waktu yang adalah hal yang penting di sini.

Lusinan retakan terbentuk pada kekang yang menahan Behemoth, dan semuanya mulai tidak dapat menahannya lagi. Pada saat yang sama, Hajime mulai berlari kencang.

Lima detik setelah Hajime mulai berlari, Behemoth itu membebaskan diri sepenuhnya dan meraung. Kemarahan yang terpancar di matanya tidak akan pernah bisa disalahartikan. Dengan cepat, pandangannya mencari musuh bebuyutannya dan menemukan Hajime. Behemoth tersebut meraung kembali, dan mengumpulkan kekuatan pada kaki-kakinya untuk mengejar Hajime.

Akan tetapi, serangan sihir bertubi-tubi menghentikannya.

Seperti bintang-bintang jatuh yang menghiasi langit malam, sihir dengan warna-warna yang tak terhitung menyerang Behemoth sepenuhnya. Tidak ada luka, tapi dapat mencegah monster tersebut untuk semakin maju.

Hajime merendahkan kepalanya dan melesat sambil berhati-hati agar tidak jatuh. Dengan semua mantera mematikan yang lewat di atas kepalanya, Hajime tidak takut kehilangan nyawanya. Tidak mungkin para cheater tersebut akan salah sasaran. Jarak antara Behemoth dan dirinya juga ada sejauh 30m.

Hajime merasa tenang karenanya.

Akan tetapi, sesuatu terjadi dan membuatnya membeku.

Salah satu dari “Fireball” dari aliran mantera tanpa henti, membelok sedikit dan mulai menuju ke arahnya. Ini jelas-jelas diarahkan padanya.

(Kenapa!?)

Keraguan dan kebingungan, semua ini melintas di otaknya dan membuatnya ketakutan.

Hajime meluncur dan menguatkan dirinya saat “Fireball” mengenai tanah tepat di depannya. Dia terlempar mundur karena gelombang kejutnya. Tidak ada luka serius yang diterimanya karena dia dapat menghindari serangan langsung, tapi keseimbangannya menjadi kacau. Sepertinya saluran setengah lingkaran di dalam telinganya terluka.

Sedikit kesulitan untuk berdiri karena pusing. Behemoth seperti biasa tidak akan roboh sendirian. Saat Hajime bangkit, monster itu meaung kembali. Hajime melihat ke arah Behemoth dan terpaku karena mata monster tersebut yang menatap tajam padanya. Untuk ketiga kalinya monster itu mulai merunduk dan menanduk, kali ini ke arah Hajime.

Kepala yang limbung, pandangan yang kabur, Behemoth yang terlihat berbayang, teriakan tidak sabaran dan seruan dari teman-teman sekelasnya di kejauhan.

Hajime berusaha mati-matian mengumpulkan kekuatannya untuk melompat. Sebuah getaran hebat membelah seluruh jembatan, akibat getaran dari kekuatan serangan Behemoth. Retakan-retakan menyebar dari pusat getaran. Jembatan itu menjerit.

Akhirnya, setelah semua hukuman itu, jembatan tersebut runtuh.

Jembatan itu telah mencapai ambang batasnya dan menyerah.

Guaaaa!

Behemoth mencakar-cakar putus asa untuk menemukan tempat bertahan. Akan tetapi tanah yang menghubungkan jembatan runtuh dan jatuh ke dalam jurang. Raungan kematian dapat terdengar dari Behemoth.

Hajime merangkak untuk menyelamatkan diri entah bagaimana caranya, akan tetapi setiap tempat yang dia pegang runtuh.

“Ah, ini gawat…”

Sementara berpikir begitu pandangannya beralih ke arah teman-teman sekelasnya. Dia melihat Shizuku yang menahan Kaori, sepertinya gadis itu ingin melompat menyusulnya. Teman-teman sekelas lainnya memucat dan menutupi mata atau mulut mereka. Meld dan para kesatria berekspresi putus asa.

Tempat bergantung yang menahan Hajime akhirnya hancur. Dia jatuh telentang ke kedalaman jurang yang gelap, sementara dia berusaha untuk meraih cahaya semakin temaram.


Arifureta Bab 6 Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

4 komentar:

  1. kejam amat temannya sendiri di korbankan demi selamat....

    BalasHapus
  2. Apa blh buat kalo pijakan udah kg ad. Buat tl ntab, lbh d okein petikannya supaya mnrk.

    BalasHapus
  3. Kok mulai kagum sama hajime ya

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.