04 November 2015

Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteiru Jilid 11 Bab 2 Bagian 3 Bahasa Indonesia



YAHARI ORE NO SEISHUN RABU KOME WA MACHIGATTEIRU
JILID 11 BAB 2
BAGIAN 3

Sudah beberapa saat yang lalu mereka meninggalkan ruang klub. Setidaknya ruangannya kembali tenang dan Yukinoshita menghela nafas tenang.

"Entah kenapa, hari ini terasa sangat melelahkan..."

Saat kami meminum teh merah yang baru diseduh, kami akhirnya bisa menenangkan diri. ada begitu banyak yang berkunjung hari ini. Tiga orang dalam satu hari. Jika termasuk Isshiki, itu akan membuatnya jadi empat orang. Ini mungkin bisa menjadi rekor tertinggi yang berkunjung semenjak klub ini dimulai.

Melihat lagi kebelakang, pekerjaan saat ini benar-benar berkembang.

Ruangan kosong yang menyerupai gudang ini benar-benar bisa berubah menjadi tempat yang ramai. Kursi-kursi yang awalnya berada disini, ditempatkan sembarangan, menghadap kearah yang acak. Tapi, semenjak beberapa waktu lalu, mereka mulai membentuk lingkaran yang tidak biasa disekitar meja panjang yang terdapat perlengkapan teh diatasnya.

Ruang klub sudah berubah banyak daripada yang dulu.

Udara yang hangat, perlengkapan teh dan selimut, buku dan novel yang menumpuk. Jumlah kursi dan juga penempatan berbagai objek. Intensitas matahari yang bersinar didalam ruangan dan mantel-mantel yang tergantung didinding.

Ruangan yang selama ini berwarna seperti es, telah berubah menjadi warna kehangatan menyusul akhir dari musim semi.

Tidak jelas apakah ini karena pergantian musim, atau mungkin ada beberapa alasan lain dibalik itu.

Udara disekitar mendorong kita untuk masuk kedalam mimpi, membuat kita merasa cukup nyaman, dan secara refleks aku jadi melihat keluar jendela.

Menurut laporan cuaca, akan ada gelombang angin dingin yang besar beberapa hari ini, dan sekarang, angin kencang sudah mulai bertiup.

Suara gemerincing kaca dan suaranya saling melengkapi satu sama lain, dengan jelas menjangkau telingaku.

Saat ini, pintu terbuka dengan kasar, menimbulkan suara yang keras. Lalu, raungan keras bergema.

"Isshiki!"

"Eek!"

Bahu Isshiki melompat karena kaget, dan dia melirik dengan penuh rasa takut kearah pintu.

"Sensei, ketuk dulu pintunya..."

"Ah, maaf. Karena ini adalah hal yang mendesak..... Isshiki."

Dengan sedikit tersenyum menanggapi Yukinoshita yang menekan jari-jarinya dipelipisnya, Hiratsuka-sensei berjalan kedalam ruangan dengan langkah besar.

Kemudian dia berjalan disebelah Isshiki, menyilangkan tangannya dan menatapnya.

"Bekerja, huh?"

"Eh......"

Isshiki tampaknya sudah kehilangan kata-kata, dan dia melihat sekeliling dengan gugup, lalu tatapan mencurigakannya mengarah padaku.

"Bukannya kau bilang kau ada banyak waktu luang?"

".....Aku ada banyak waktu luang."

Mendengar pertanyaanku, Isshiki memalingkan wajahnya, dan menjawabku dengan nada kesal.

Mendengar itu, Hiratsuka-sensei mengambil nafas panjang.

"Meskipun OSIS memang berfungsi seperti biasa, Kau masih mempunyai pekerjaan lain untuk diurus. Bukankah aku memberitahumu untuk memikirkan tentang pidato upacara kelulusan dan perpisahan lalu menyerahkannya padaku?"

Upacara kelulusan... Apakah ini sudah waktunya? Bukankah itu diadakan pada minggu kedua dibulan maret? Kalau begitu, masih ada banyak waktu... Tampaknya Isshiki juga berpikir begitu. [Ahaha, tidaaak~], dia memiliki senyum imut seperti itu diwajahnya.

"Tapi masih, masih sebulan lagi….."

"Terlalu naif! Jika kau mengabaikan hal itu, kau akan berada dalam masalah!"

Mendengar nada tegas Hiratsuka-sensei, Isshiki mengangkat bahunya.

Jelas. Satu bulan lagi, jangan hanya berpikir kalau 'masih' ada satu bulan lagi.
Baik itu bekerja maupun libur musim panas, jika kamu terus berpikir berapa banyak waktu yang tersisa, maka pasti, dalam sekejap, semua waktu 'lebih' yang kamu pikir masih kamu miliki akan lenyap.

Time and tide waits for no man (Waktu dan pasang tidak menunggu siapapun). Masih ada harapan, masih ada harapan, harapan, harapan, Tasmania devil![1] Orang-orang yeng terus berpikir begitu, akan segera mencapai situasi yang benar-benar putus asa. Kasus tersebut jelas bukan di kelompok minoritas.

          "Kau tidak bisa menghitung februari sebagai 'satu bulan'. bukan cuma harinya yang lebih sedikit, tapi ada ujian masuk juga. Oleh karena itu, akan ada begitu banyak hal yang harus dilakukan. Singkatnya, tidak ada waktu dibulan februari."

Hiratsuka-sensei mengucapkan kata-kata itu dengan tajam.

"Ya! Aku akan melakukannya! Aku akan melakukan yang terbaik! Aku akan memikirkan sesuatu! Itulah kenapa aku disini untuk berkonsultasi dengan mereka! Aku disini untuk mendengar situasi tahun lalu!"

Jawaban Isshiki cukup bersemangat. Hal itu benar-benar hebat. Namun, apa itu yang kau katakan? Aku cukup yakin kalau isi dari apa yang kau ingin bicarakan dengan kami adalah tentang giri choco...

Meskipun itu tidak terlalu penting, tidak ada hal yang lebih tidak dapat dipercaya dari kata "Aku akan melakukan yang terbaik" dan "Aku akan melakukan sesuatu tentang hal itu.".....

Kamu tidak akan mempercayai hal semacam itu jika hal itu dikatakan oleh seorang budak perusahaan. Sumbernya adalah ayahku. Meskipun orang ini akan mengatakan sesuatu yang kedengarannya menyenangkan ketika dia membahas pekerjaan dari telepon rumahnya, segera setelah telepon dimatikan, dia akan mengatakan "Mana mungkin itu bisa diselesaikan, Idiot!".....

Tentu saja, Hiratsuka-sensei melihat respon dangkal Isshiki dan saat dia menyisir rambutnya keatas, dia memandang Isshiki dengan wajah frustrasi.

"Aku bilang, kamu tidak akan bisa melakukannya dengan cara ini. Tahun depan, kamu harus bisa mandiri. Kamu tidak bisa terus mengandalkan senpaimu, benarkan?"

Mendengar kata-kata Hiratsuka-sensei, Yukinoshita terus mencengkram cangkir tehnya sambil mengangguk.

"Itu benar."

"Un. Meskipun itu hal yang cukup besar untuk ditangani….., bagaimanapun juga Isshiki-san adalah ketua OSIS….."

Yuigahama juga, melihat Isshiki dengan senyum bermasalah.

Setelah itu, seolah-olah mencari sekutu, dia memindahkan kursinya sedikit demi sedikit. Lalu, dengan air mata menggenang dimatanya, dia menarik ringan lengan bajuku.

Aku benar-benar lemah terhadap orang-orang yang menggunakan metode semacam ini untuk meminta bantuan.

Komachi sering meneteskan air mata untukku agar bisa melihat lebih banyak hal, aku, sebagai kelas elit Onii-chan akan berdiri tanpa syarat apapun dipihak adikku. Aku bahkan tidak keberatan menghancurkan satu atau dua dunia demi adikku. Ah, seperti yang diharapkan dariku ini, Onii-sama.

Rasanya tidak ada hal yang bisa dilakukan lagi. waktunya bagiku untuk mengatakan sesuatu untuk menyelesaikan semua ini..... Saat aku hendak berbicara, aku disela oleh suara Yukinoshita.

"Hikigaya-kun, kamu seharusnya tidak memanjakan dia."

"Bukan begitu, hanya saja dia kesini untuk mendiskusikan sesuatu..."

Mendengarku mengatakan hal itu, Isshiki mencondongkan dirinya kedepan.

"Tepat sekali! Bukankah kamu seharusnya disini paling tidak untuk mendengarkan seseorang yang ada disini untuk berkonsultasi?"

"Tapi, masalah Iroha-chan sedikit berbeda dengan Yumiko dan Saki..."

Saat Yuigahama merasa gelisah akan hal ini, Hiratsuka-sensei mengedipkan matanya karena terkejut.

"Apa, maksudmu ada orang lain yang datang kesini juga?'

"Ya! Seperti yang anda katakan! Ada banyak yang datang kesini! jadi, kupikir aku akan membantu juga..."

"Itu bukan tugasmu."

Hiratsuka-sensei dengan cepat menolak alasanya. Untuk itu, Isshiki tidak merespon tapi menggertakan giginya karena kesal.

Isshiki, kamu terlalu naif. Bahkan jika kamu mengatakan alasan yang layak padanya, tetap saja tidak mungkin bagi Hiratsuka-sensei untuk mengampunimu. Adapun alasanya, tidak peduli seberapa keras kau mencoba, kata-kata Hiratsuka-sensei akan selalu lebih logis ketimbang kata-katamu. Bagaimanapun juga, Isshiki tidak 'layak' sama sekali. Kata terbaik untuk menggambarkannya adalah datar..... Yah, tidak juga. Apa yang seharusnya dimilikinya, ada disana, un. Datar akan mengacu pada Sesuatunoshita-san (Yukinoshita)!

Bagaimanapun juga, orang-orang hanya mengadopsi semacam nada yang benar ketika mengkritik orang lain. Kamu tidak seharusnya menggunakannya ketika menerima kritik. Oleh karena itu, hal yang seharusnya kamu lakukan adalah mengabaikannya.

Biar aku tunjukan bagaimana melakukannya...

"Yah, isi dari apa yang mereka bicarakan lebih menyangkut pada anak perempuan, jadi akan lebih baik jika ada lebih banyak anak perempuan mendiskusikannya. Setidaknya, itulah yang kupikir karena aku tidak terlalu yakin akan hal itu. Lihat, bukankah hari Valentine sudah dekat?"

Hari Valentine, Begitu aku mengatakan kata ajaib itu, Hiratsuka-sensei membeku ditempat. Kemudian, dia langsung melempar pandangannya keluar jendela, tatapan jauh dimatanya.

"Hari Valentine, ya..... Jadi rindu....."

Lalu, dengan desahan yang mengejek diri sendiri, Tatapan Hiratsuka-sensei kembali pada kami.

Menatap kami, dia mengucapkan "Hari Valentine..." sekali lagi dengan suara kecil.
Matanya tidak lagi ada candaan sekarang, tapi lebih ke melankolis.

Hiratsuka-sensei berdehem ringan dan menyiapkan dirinya.

"Karena seseorang datang padamu dengan permintaan, aku rasa masalah pidato perpisahan bisa sedikit menunggu. Kamu perlu Isshiki untuk membantumu sekali-sekali."

"Eh, tidak juga, aku tidak terlalu memerlukan Isshiki untuk membantu dalam hal apapun..."

"Bukankah itu kejam!"

Isshiki berbalik kearahku dengan tatapan marah. Tidak, serius, kupikir kamu hanya akan membuatnya lebih buruk..... Saat aku melemparkannya tatapan dingin, Yuigahama memulai campur tangannya.

"Baiklah, baiklah... Itu bukanlah ide yang buruk. Jika dia bisa membantu, kita akan memiliki lebih sedikit hal untuk diurus..."

"Apa kau yakin?"

"Senpai, apa yang kau pikirkan tentangku..."

Menghiraukan Isshiki, aku berpaling dan melihat Yukinoshita.

"Jika Yuigahama-san berkata begitu, maka aku tidak keberatan."
Pada saat ini, Hiratsuka-sensei menepuk tangannya bersamaan.

"Jadi sudah diputuskan. Isshiki akan, dengan kemampuan terbaiknya, menyelesaikan sendiri pidato perpisahan. Juga, karena semua orang memohon padamu dengan permintaan, aku pikir kalian semua pantas mendapat pujian untuk semua kinerja kalian sampai saat ini."

"Bukankah itu hanya karena mereka memperlakukan kami seperti seorang tukang..."

Memang benar jumlah orang yang datang pada kami dengan permintaan meningkat. Berkat itu, beban kerja pun meningkat. Masalahnya terletak pada kenyataan kalau kami tidak mendapat apapun sebagai imbalan.  Itu bahkan tidak berada pada tingkat dimana kami tidak dibayar untuk lembur.

Apa ini? Memperlakukan lembur sebagai jam kerja yang fleksibel? Tolong, ini sudah seperti melatih kami untuk mendedikasikan diri kedalam bisnis gelap.

Melihat mataku yang menyampaikan pesan penuh kebencian ini, Hiratsuka-sensei berkedip padaku.

“Bahkan jika begitu, kamu tetap membantu orang lain. Sebuah eksistensi dimana kamu sedikit lebih mendorong dirimu itu sangat penting. Aku pikir itu bukanlah ide yang buruk untuk Isshiki agar memiliki sifat seperti ini.”

“Ya! Aku akan terus berusaha yang terbaik!”

          Meskipun Isshiki menjawab dengan penuh semangat, tapi itu jelas, kalau senyum lebar miliknya berkata “Tidaaak, deadlinenya diperpanjang~~”

         “.....Tujuanku sebenarnya adalah untuk memperbaiki beberapa kekurangan kalian. Bagaimanapun juga, lakukanlah yang terbaik.”

          Dengan senyum pahit, Hiratsuka-sensei perlahan menepuk kepala Isshiki dengan lembut. Kemudian, sedikit melambaikan tangannya, dia meninggalkan ruang klub.

          Melihatnya pergi, kami menghela nafas lega.

          “Tapi, itu benar-benar menyusahkan.”

          Mendengar Yukinoshita, yang sekarang menyilangkan tangannya, menggerutu tentang hal itu; Isshiki, yang tangannya disilangkan juga, tampak serius saat dia menghela nafas.

          “Ya, Miura-senpai yang menunjukan keseriusannya memang sedikit menyusahkan.”

          “Yang kumaksud itu jumlah permintaannya.....”

         Tertawa pahit karena pembicaraan antara keduanya. Yuigahama mulai berbicara.

          “Tapi kemudian, aku pikir aku mengerti bagaimana perasaan Hayato-kun.....”

          Perasaan Hayama, tidak, aku tidak begitu mengerti tentang dia..... Aku penuh tanya melihat Yuigahama, bertanya maksud dari kata-katanya. Yuigahama berpikir sejenak, dan kemudian berbicara lagi.

          “Ah, jadi..... Bagaimana aku harus mengatakannya..... Sudah kuduga aku tidak bisa mengatakannya secara terbuka, atau mungkin aku menafsirkannya terlalu banyak dalam berbagai hal.....”

          Kekhawatiran semacam ini benar-benar seperti dia. Mendengarnya, Isshiki menganggukan kepalanya.

          “Ah, itu benar-benar seperti Yui-senpai, sangat baik.”

          “Begitukah....., hahaha..... sepertiku, ya.....”

          Yuigahama tertawa canggung mendengar kata-kata Isshiki, dan memiliki ekspresi yang sedikit sedih diwajahnya.

          Dia mungkin malu karena dipuji. Itu mungkin saja. Atau lebih tepatnya, dia sama seperti Hayama Hayato. Karena mereka berdua baik, mereka mungkin menderita karena terlalu khawatir tentang orang lain.

          Memikirkan hal itu, Yuigahama memiliki hubungan yang sangat baik dengan Hayama, Miura dan juga Isshiki. Masalahnya dia terperangkap diantara mereka bertiga sudah muncul selama perjalanan ke Destiny Land, dan semuanya lebih jelas sekarang.

          ‘Ah, sepertinya masalah besar.....’ Sangat mudah untuk orang luar berkomentar seperti itu. Namun, aku tidak bisa melakukannya.

          Aku mempunyai waktu sulit untuk memahami mengapa seseorang akan terus khawatir dengan hubungan orang lain. Namun, aku punya perasaan yang sama dengannya. Perasaan ingin mendapat sebuah kesimpulan.

          Mungkin, Yukinoshita juga merasakan hal yang sama. Aku bisa tahu dari ekspresi Yukinoshita kalau dia cukup khawatir dengan suasana hati Yuigahama yang gelap.

          Sebagai contoh, jika aku bisa mendapat kesimpulan yang sama seperti Hayama, maka mungkin semua yang telah kulakukan sampai saat ini percuma.

          Hayama Hayato, yang memilih hidup untuk memenuhi ekspektasi semua orang, telah memutuskan untuk memenuhinya dengan sempurna. Untuk melakukan kompromi terbesar tanpa berkompromi. Mendedikasikan dirinya untuk menggunakan tindakan seperti itu untuk memperpanjang kehidupannya yang seperti itu.

          Tidak ada yang setulus kemunafikan ini.

          Untuk orang yang sebaik itu, tidak banyak yang orang jahat dapat lakukan. Yang mereka bisa lakukan adalah terlibat dalam monolog, atau mengulangi hal yang sama berulang-ulang.

          “.....Yah, tidakkah itu cukup hanya menggunakan alasan? Semacam alasan resmi untuk meyakinkan Hayama.”

          “Hah?”

          Isshiki tampaknya tidak mengerti sama sekali tentang apa yang aku bicarakan dan bagian atas badannya mengikuti gerakan kepalanya yang dimiringkannya kesamping, seraya melihat kearahku. Meskipun tidakan yang dilakukannya sangat lucu, tapi jawabannya benar-benar menjengkelkan, Isshiki.....

          “Selama kamu membuatnya berada di posisi dimana dia dipaksa untuk menerimanya, atau lebih tepatnya, dimana dia dapat menerimanya secara alami.”

          Mendengar kelanjutanku, sudut mulut Isshiki melengkung keatas, ekspresi aneh yang tampaknya benar-benar tidak menunjukan bahwa dia mengerti sepenuhnya. Kemudian, Yukinoshita menaruh cangkir teh dan tatakannya ke satu sisi dan dengan matanya, mengatakan padaku untuk diam.

          “Artinya, tidak apa-apa asalkan ada alasan?..... Jika kamu memberikannya dilingkungan yang tertutup, Hayama-kun tidak akan merasa terganggu.”

          “Itu benar, tertutup.”

          Sebenarnya baik itu tertutup atau terburuk atau QP[2], itu tidak masalah. Yang penting adalah Hayama tidak perlu khawatir tentang bagaimana orang lain memandangnya, hal yang perlu kita lakukan adalah tidak merusak pandangan publik tentangnya.

          Meskipun aku sudah mengatakan begitu banyak hal, Isshiki dan Yuigahama masih terlihat tidak memahami dan tetap memiringkan kepala mereka. Yuigahama masih bergumam “Cu-ro-se-to[3].....?” Erm, Apa sebenarnya lingkungan closet itu? Lingkungan hidup Doraemon[4]?

          “Misalnya..... Jangan mengatakan hari Valentine, buat dia untuk mencicipinya. Sesuatu seperti itu, aku tidak punya ide yang tepat.”

          “Jadi seperti itu..... bukankah tidak apa-apa jika semua orang membuat (Cokelat) bersama-sama?”

          Yuigahama menghirup nafas dalam-dalam saat berbicara, ekspresinya menunjukan kalau dia cukup lega. Un, kupikir akan lebih baik kalau kau mengerti tanpa banyak kesulitan.

          “Yah, sesuatu seperti itu. Entah itu Isshiki atau Miura, selama kalian membuatnya dengan Hayama dan membuatnya mencicipi rasanya, pria itu tidak akan mungkin menolaknya.”

          “Aku mengerti..... Aku mengerti intinya sekarang! Aku hanya harus menyeretnya ke suatu tempat dimana tidak ada seorang pun yang akan mengganggu kami?”

          “Meskipun yang kau katakan tidak salah, tapi tolong perhatikan bagaimana kau mengatakannya.....”

          Mendengarku menegur Isshiki, Yukinoshita tertawa kecil.

          “Namun, intinya memang seperti itu. Seperti yang diperkirakan dari seorang jenius yang mekhususkan diri dalam menghilang dari mata publik dan taktik curang.”

          “Un, kau perlu memperhatikan bagaimana kau bicara juga.”

          Kadang-kadang, kamu perlu berpikir jauh  bagaimana kamu memperpanjang pujianmu pada orang lain. Saat aku memikirkannya, Yuigahama menepuk pahanya dan berdiri.

          “Maka, mari kita semua melakukannya. Kita bersama-sama, maksudku.....”

          “.....Tentu saja. Jika kita bisa mengajarkannya ditempat itu juga, maka tidak perlu menyarankan menu untuk setiap orang juga.”

          “Ah, bukankah itu hebat!? Untuk dapat melakukan sebuah acara bersama-sama dengan orang-orang yang datang kesini dengan permintaan mereka, belajar satu sama lain juga. Dan juga, Yukinoshita-senpai akan mengajarkannya, maka itu akan benar-benar hebat.”

          Isshiki memindahkan tempat duduknya semakin dekat ke Yukinoshita. Dia menggenggam tangan Yukinoshita, yang tampaknya memikirkan sesuatu saat ini, dan dengan sedikit memiringkan kepalanya, menatap Yukinoshita dengan cara memohon dengan mata memelas. Kemudian dengan’ ehehe’, dia tersenyum padanya.

          “E, eh eh..... Aku tidak begitu keberatan.....”

          Seperti biasa, Yukinoshita tidak memiliki perlawanan terhadap kedekatan dan sentuhan tubuh. Lemparkan dengan suara memohon yang manis, Yukinoshita akan terpancing untuk itu, tersangkut, dan tenggelam

          Meskipun perbedaan antara sikap yang dimilikinya dan Yuigahama adalah seperti perbedaan antara sesuatu yang alami dan dibudidayakan, efektivitas luar biasa mereka berdua pada Yukinoshita tampaknya tidak berubah.

          Yukinoshita berdeham, dan melirikku.

          “Jika itu membantu, aku pikir tidak ada banyak masalah dalam menyediakannya..... Bagaimana menurutmu?”

          “Aku tidak bisa benar-benar peduli, bahkan jika kau bertanya bagaimana menurutku..... Orang yang mengajar itu kau, jadi jika kau pikir kau tidak kerepotan oleh hal itu, maka tidak apa-apa.”

          Dan juga, Yuigahama tampaknya benar-benar serius. Oleh karena itu, tidak terlalu penting bahkan jika aku menolaknya.

          “Begitukah? Maka kita harus berpikir dimana acara ini bisa diadakan.....”

          Yukinoshita menempatkan tangannya dibawah dagunya dan mulai berpikir. Isshiki, yang duduk disebelahnya, tiba-tiba mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.

          “Ah, Wakil Ketua? Aku perlu bantuanmu untuk menulis proposal, sesuatu tentang jalannya acara kelas memasak. Sesuatu seperti itu.... Huh? Tidak, buatlah sesuatu sehingga aku bisa menempatannya di papan pengumuman dan juga pusat komunitas.”

          Meskipun suara bermasalah yang jelas kedengaran dari ujung lain telepon itu, Isshiki cemberut dan mulai memberikan instruksinya.

          “Ne ne, Yukinon, bagaimana denganku?”

          Yuigahama juga, menggeser kursinya lebih dekat dengan Yukinoshita, bertanya padanya apa yang harus dia lakukan. Mendengar pertanyaan itu, Yukinoshita sedikit berpikir sebelum menjawab.

          “Untuk Yuigahama-san.....”

          Kemudian, dia menempatkan tangannya dengan sungguh-sungguh ke bahu Yuigahama, dan mulai berbicara padanya dengan suara lembut seolah-olah dia sedang berbicara dengan anak kecil.

          “Aku akan melakukannya bersama-sama denganmu.”

          “Kamu tidak percaya sama sekali denganku? U u, lalu..... Apa yang akan dilakukan Hikki?”

          Meskipun dia tiba-tiba membalikkan kepalanya dan menanyakan hal itu padaku, tidak ada yang bisa kulakukan berkaitan dengan hal itu.

          “Aku tidak punya pengalaman soal memasak atau memanggang.”

          Mendengar jawabanku, Yukinoshita tertawa kecil.

          “Tidak masalah. Kamu hanya perlu mencicipinya dan memberikan pendapatmu.”

          Aku rasa aku pernah mendengar kata-kata itu sebelumnya. Tapi nada yang digunakan saat itu dan sekarang berbeda. Yuigahama, yang duduk disebelah Yukinoshita tampaknya mengingat sesuatu juga dan tertawa.

          “.....Serahkan itu padaku. Aku mengkhususkan diri dibidang itu.”

          Saat aku mengingat jawaban yang aku berikan pada waktu itu, aku mengatakannya seperti itu. Kami bertiga saling memandang dan tertawa lepas.

          Isshiki, yang masih ditengah-tengah panggilannya (menelepon) melirik kami bertiga. Mungkin karena dia memperhatikan tawa kami.

          Tatapannya bertanya pada kami kenapa kami tertawa dan untuk itu, aku menjawab dengan menggelengkan kepalaku, memberi tahunya kalau itu bukan apa-apa.

          Sebenarnya tidak ada penjelasan yang tepat untuk hal semacam ini. Ada beberapa hal yang penting yang hanya bisa dipahami melalui perjalanan waktu dan kenangan bersamanya.

          Isshiki menggelang ringan atas tindakanku, dan tak lama, menyelesaikan percakapannya dengan Wakil Ketua OSIS dan mengakhiri panggilan yang bertahan lama itu.

          “Oke, baiklah, ya, terima kasih atas bantuanmu.”

          Wakil Ketua disisi lain tampaknya dipenuhi air mata. Tapi Isshiki mengabaikannya dan menutup teleponnya. Setelah menyelesaikan panggilannya, dia berdiri, terlihat lebih segar.

          “Nah, itu sudah cukup. Rincian detailnya akan diselesaikan oleh OSIS, jadi aku akan menyerahkan ruang memasak pada kalian~”

          Saat dia bergumam “Maaf sudah mengganggu kalian” dengan suara kecil, dia menunduk pada kami dan bersiap meninggalkan ruang klub.

          Dia mungkin pergi untuk melakukan beberapa persiapan untuk ruang memasak atau semacamnya.

          Sifat tidak dapa diandalkan Ketua OSIS yang ada dulu sekarang sudah tidak ada lagi.’

          Meskipun caranya melakukan suatu hal tampaknya sedikit sombong, kupikir kalau itu juga mencerminkan pertumbuhannya. Tidak, sedikit ekstrim menyebutnya pertumbuhan. Yah, kupikir lebih tepat untuk mengatakan kalau dia hanya pandai berurusan dengan berbagai hal. Dan juga, caranya memperlakukan Wakil Ketua hampir sama dengan caranya memperlakukan Tobe.

          “Kalau begitu, Maaf merepotkanmu, Isshiki-san.”

          “Un! Berusahalah! Iroha-chan!”

          Kearah Isshiki yang membungkuk pada kami didepan pintu, Yukinoshita tersenyum hangat padanya sedangkan Yuigahama melambaikan tangannya dengan riang ke udara. Aku mengangguk dan melihatnya pergi.

          Melihatnya menutup pintu secara pelan dibelakangnya, aku tiba-tiba berpikir.

          .....Aku mengerti, Karena Isshiki serius melakukan ini sekarang, aku tidak perlu melakukan hal yang khusus.

          Entah kenapa, rasanya sedikit sepi ketika aku tidak bisa membantu.  



Catatan Kaki
1.    Tasmania Devil! : Hikki cuman bermain-main dengan kata-kata, 助かる(Tasukaru) Kalimat penuhnya (Romanized) mada tasukaru mada tasukaru tasukaru tasukaru tasumania debiru (Tasmanian Devil).
2.    QP Manga/Komik karya Hiroshi Takahashi,  QP(キューピー
3.    Cu-ro-se-to: closet di english, yuigahama salah denger closed jadi closet (lemari/kamar kecil).

4.    Lingkungan hidup Doraemon : Doraemon tinggal didalam closet (lemari)

Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteiru Jilid 11 Bab 2 Bagian 3 Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.