20 November 2015

Samayou Shinki no Duelist Jilid 1 - Bab 2



CHAPTER 2
SHINKI YANG DITAMPUNG & KERJA KERAS


 “Wahai Shinki Pelindung kota ini ~" Yuuki memanggil dengan tenang. "Hamba mohon murnikanlah semua kejanggalan yang ada – bersediakah engkau membersihkan etalase?"
"Akan kukabulkan harapan itu, Master."
Tina mengangguk dengan semangat.
"... Nah, bagaimana cara menggunakan benda ini?"
Tina mengangkat kain yang sedang dipegangnya.
Tina mengenakan sepasang pakaian lama yang Yuuki belikan untuknya, dengan rambut diikat ke belakang menggunakan saputangan segitiga – cocok seperti seorang gadis yang bekerja.
"Pertama, celupkan kain ke dalam ember air."
"Seperti ini?"
"Ya. Terus peras, Setelah itu, tolong lap rak dagangannya. "
"Baiklah... Ngomong-omong, kenapa bahasamu formal begitu? Albertina mengizinkanmu untuk berbicara dengan lebih santai, Master. "
"... Luar biasa sekali kamu bisa mengatakannya tanpa tersindir. Baiklah, kalau begitu Shinki-sama, tolong turunkan benda-benda di rak dagangan lalu lap semuanya. Debu dari luar cukup mudah masuk dan mengendap disitu. Jika kamu selesai membersihkannya, kembalikan lagi ke tempatnya. Oh, dan hati-hati - jika terjatuh, mereka akan pecah ".
"Baiklah."
Tina bergerak mengikuti perintahnya dengan gerakan yang kurang meyakinkan dan belum terlatih.
Sebagai imbalan atas bantuannya, Tina membantu di toko. Itu adalah kesepakatan mereka berdua.
Sebutan Tina kepada Yuuki - "Master" - adalah wujud rasa terima kasih dan rasa hormat padanya.
Tak bisa dipungkiri, abaikan gerakan payahnya, mendengar seseorang memanggilnya 'master' entah kenapa memberikan kesan menyenangkan tersediri. Terlebih, Tina cukup berbakat dalam pembukuan. Jika dia terus mengasahnya, bukan cuma mimpi kalau suatu hari Tina bisa menjadi seorang pedagang—
Tiba-tiba, sebuah suara terdengar dari pintu depan.
"Permisi. Apa kamu buka? "
Franka mengintip melalui pintu masuk toko. Ngomong-omong, kemarin dia sudah mengatakan kalau dia mau mampir—
"Oh, ya, kami buka. Selamat Datang, masuklah. Masih pagi begini-. Apa kamu baru selesai menjelajah "?
"Ah, bukan. Kami masih bersiap-siap untuk pergi. Saat aku sedang memeriksa perlengkapanku, aku baru menyadari kalau tas yang berisi mutiara suciku ternyata berlubang. Jadi aku datang untuk mem-- -"
Franka tiba-tiba terdiam saat menyadari kehadiran Tina.
"... S-Seorang gadis? A-Ada seorang gadis. Di toko Yuuki - ada seorang gadis."
Yuuki tidak tahu apa yang membuatnya begitu terkejut, walaupun memang benar kalau Tina bukanlah seorang laki-laki.
"Saat seorang pelanggan datang, sapa mereka dengan 'Selamat datang' - Apa benar begitu, Master?"
"Benar, dan lakukan dengan sepenuh hati."
"Jadi dia bukan pelanggan ?!" Franka berteriak, menutupi mulutnya ketakutan, sambil dia perlahan melangkah mundur. "... Tidak, bertahanlah Franka. Pikirkan baik-baik. Dia mungkin hanyalah kerabatnya, ya. Misalnya, adiknya, atau mungkin kakaknya ... tapi sepertinya bukan ibunya. Atau istrinya-- "
"Hei, Franka--"
"Tidak! Aku tidak akan membiarkannya! "
Franka tiba-tiba membuka matanya dan berteriak.
"... Apanya yang tidak akan kamu biarkan?"
"Pastinya-- Eh, maaf, ada apa?"
Dia terlihat sudah kembali sadar.
"Lupakan. –Ngomong-ngomong, perkenalkan - gadis ini adalah Tina ".
"Tina ... chan. 'Gadis ini' – kalian berdua sepertinya sangat dekat. Apa aku boleh bertanya apa h-hubungan diantara kalian berdua? "tanya Franka, dengan senyum yang terlihat jelas dipaksakan.
Saat Yuuki sedang memikirkan cara terbaik untuk menjelaskan keadaannya, Tina menjawab untuk membantunya.
"Aku telah dibeli. Oleh Master. "
"M-Master?"
"Yuuki."             
"Lalu apa yang dia ... beli?"
"Tubuh Tina."
--Seisi ruangan terhenyap.
"T-T-Tubuh ...?"
"Hei, Tina."
Tina, menyadari suasana di ruangan, lalu lanjut berbicara.
"Ya, dengan begitu Master akan bersedia membantu Tina. Meskipun, sebenarnya, lebih tepatnya, Tina yang lebih dulu mendekati Master, aku bilang 'Aku akan melakukan apa-pun, jadi tolong bantu aku'. "
"M-Membatu...?"
"Jadi, jika Kamu bertanya apa hubungan antara Tina dan Master, Yaah - gampangnya, Tina adalah milik Master. Jika aku punya pilihan lain, aku harus mengakui kalau aku lebih memilih untuk tidak menjual diriku... tapi apa yang tidak ada tetaplah tidak ada. Apa boleh buat. "
"..."
Franka berpaling ke Yuuki, matanya berkaca-kaca.
"Y- Yuuki-san yang ku tahu ... apa dia sudah menghilang? Apa yang terjadi? K-Kenapa bisa seperti ini-- "
"Haa-- Memang ... kenapa bisa jadi begini?"
Yuuki menghela napas panjang.
"Aku akan pergi membuatkanmu secangkir teh sambil kamu menenangkan diri, Franka. Dan Tina, Kamu tidak diizinkan untuk berbicara. Semakin banyak kamu berbicara, akan semakin buruk keadaannya. "
--
"--Baiklah, Ulangi sekali lagi."
Setelah Franka pergi, Yuuki duduk bersama dengan Tina sekali lagi.
"Tina, dia, eh, hilang ingatan, dan Master, kasihan kepadanya, lalu merawatnya. Dia sama sekali tidak pernah melakukan sesuatu seperti membeli tubuh Tina."
"Tepat. Mulai hari ini, itulah latar belakangmu, oke? Dan juga, jangan panggil aku 'Master.' "
"Kenapa? Mawar tetaplah sebuah mawar -. Dan Master tetaplah Master."
"Tapi--"
"Apanya yang salah, karena sekarang, Tina adalah milikmu."
"Kata 'milik' juga dilarang!"
Penjelasannya tadi mampu mengelabui Franka.
Dia menemukan seorang gadis yang pingsan di dalam labirin. Karena identitasnya tidak diketahui, dia sementara menjadi tamu di rumah Yuuki. Hilang ingatan membuat pikirannya juga sedikit berantakan, dan dia terkadang mengatakan sesuatu yang tidaklah benar. Kamu tidak boleh mempercayai kata-katanya begitu saja.
Franka tidak hanya mempercayai cerita palsu itu, tapi bahkan sampai menyatakan simpatinya kepada Tina. Meskipun sebagian besar adalah karena simpati adalah reaksi yang sudah pasti dalam keadaan seperti itu, Franka memang gadis yang sangat baik.
Meskipun Shinki tersebut tidak terlalu senang dengan penjelasan yang diberikannya, keadaan tak memberikan ruang untuk menolak. Tidak peduli bagaimana perasaannya tentang hal ini, kenyataan bahwa keberadaannya yang spesial tetap harus di rahasiakan.
--Pikiran Yuuki beralih pada hasil "percobaan" yang mereka lakukan malam sebelumnya.

※※※

"Ini adalah reliquia yang disebut 'mutiara suci.'"
Yuuki mengambil dua buah batu sebesar telur puyuh, lalu meletakannya di hadapan Tina.
Benda itu adalah permata berharga dengan sifat khusus yang mampu menyimpan kekuatan suci - sumber kekuatan para cleric.
Benda itu menerima harapan manusia, lalu menggunakannya sebagai perantara agar para cleric mampu mengubah kekuatan suci menjadi Orisons. Dengan kata lain, benda itu adalah baterai praktis untuk menyimpan kekuatan suci.
"Kalau begitu, apa kamu tahu mana yang asli?"
"Saat kamu bertanya mana yang asli, maksudmu mana yang memiliki kekuatan suci?"
Yuuki menganggukkan kepalanya sebagai konfirmasi.
"Kalau begitu keduanya asli, meskipun yang sebelah kiri memiliki kekuatan suci yang cukup besar, dan yang sebelah kanan hampir tidak ada sama sekali."
"... Benar," Yuuki menjawab.
Selama suatu benda mengandung kekuatan suci, maka benda itu disebut sebagai reliquia, terlepas dari bentuk wadahnya.
Nilainya bergantung pada jumlah kekuatan yang terkandung di dalamnya. Harta yang tak ternilai harganya seperti Dragon Fang Gem adalah reliquia kelas satu, sedangkan batu cahaya biasa adalah kelas terendah - kelas lima. Sistem penilaian reliquia, yang berkisar antara satu sampai lima, menjadi dasar dari semua transaksi bisnis.
Mutiara suci adalah barang yang ditemukan dengan jumlah melimpah di dalam labirin, sehingga bisa ditemukan di setiap toko di kota, meskipun jumlah kekuatan suci yang dikandungnya sangat beragam. Mutiara yang mengandung kekuatan suci dalam jumlah besar tentu saja cukup langka, lalu bisa digunakan beberapa kali dan harganya juga mahal.
Kedua Mutiara suci yang Yuuki genggam adalah kelas lima atau yang biasa disebut "batu sampah", kebannyakan toko hanya menjual reliquia kelas satu, barang kelas atas dan jenis yang paling suci.
Manusia tidak memiliki kemampuan untuk secara akurat memperkirakan kekuatan suci. Bahkan cleric kelas atas maksimal hanya bisa memberikan penilaian secara umum, dan bahkan, hanya sebuah perkiraan.
Untuk itu, kebanyakan orang terpaksa bergantung pada standar lain, seperti ukuran, tingkat kemurnian, keadaan barang (reliquia adalah benda yang sangat sulit rusak, dan karena itu, senjata dan zirah reliquia adalah harta tak ternilai harganya), dan kemampuannya- dalam menentukan kelasnya.
Itu adalah skill "penilaian" yang dicari setiap pedagang dan juga cukup dikuasai oleh Yuuki,  bahkan pedagang lain secara terbuka mengakui kemampuannya.
"... Hanya dengan melihat sekilas dan kamu langsung bisa mengetahuinya. Bahkan aku tidak bisa melakukannya. "
"Aku tidak perlu melihatnya untuk mengetahuinya, Master. Aku bisa mengetahuinya menggunakan kekuatan suci. "
"Hmm ... Baiklah, kalau begitu, percobaan berikutnya."
Yuuki meletakkan pedang pendek bergagang perak di atas meja.
"Dibandingkan dengan mutiara suci tadi, kualitas benda ini sedikit lebih rendah."
"Tapi kualitasnya masih cukup bagus."
Itu adalah reliquia kelas tiga - senjata yang sangat bagus. Di pasar, harganya sekitar 200-300 denar - cukup untuk memberi makan seluruh keluarga untuk satu atau dua bulan.
"Pedang ini mampu dengan mudah memotong Void Beast kelas rendah, seperti pisau panas yang memotong mentega. --Sekarang, Aku ingin kamu menggunakannya untuk melukai dirimu. "
"Baiklah."
Tanpa sedikitpun menolak, Tina mengambilnya lalu mengeluarkan pedang itu dari sarungnya. Mengangkatnya dengan tangan kanannya, lalu mengayunkannya ke tangan kirinya yang diletakkan di atas meja, tanpa sedikitpun keraguan.
"--Bagaimana, Master?"
"..."
Pedang yang sangat tajam itu berayun menuju kulit Tina – lalu terhenti, tanpa meninggalkan goresan sedikitpun.
"Tina dilindungi oleh kekuatan yang tak terlihat. Kekuatan suci yang sangat sedikit seperti ini takkan pernah bisa menembus pelindung itu. "
"... Jadi itu adalah Perisai SuciScutum... Memang, seperti yang diajarkan oleh Gereja - selama Perisai SuciScutum muncul, tidak peduli berapa banyak serangan yang diterima - seorang Shinki takkan pernah terluka. Aku pikir itu adalah alasan kenapa kamu tidak terluka saat berkeliaran di dalam labirin? "
"Apakah itu berarti sekarang kamu percaya kalau Tina adalah Shinki, Master?"
Tina tersenyum puas.
"Belum. Ada satu hal lagi yang ingin ku pastikan. -Jika Kamu benar-benar Shinki, berarti kamu bisa membuat mukjizat, kan? "
Ketidakpercayaan Master sangat berat, gumam Tina saat Yuuki terus berbicara.
"Aku ingin kamu menyerap pedang ini."
Karena perintah yang aneh itu, Tina tidak bisa menahan diri untuk mempertanyakan apa yang dia maksud. Seakan menyadari maksudnya, dia memegang pedang itu.
"Kamu baru saja bilang kalau senjata ini harganya cukup mahal – apa ini benar tidak apa-apa?"
"Kalau aku ingin mengetahui kebenarannya, aku harus rela mengorbankan sesuatu."
Tina mengulurkan tangannya dan meletakannya di atas pedang itu dan perlahan melayang. Tiba-tiba, pedang itu tersebar menjadi partikel berkilauan lalu meresap ke dalam tubuhnya.
-- Shinki akan mengambil reliquia yang dipersembahkan kepada mereka lalu memecahnya, dan menyerap kekuatan suci yang tersimpan di dalamnya. Setelah itu, mereka akan mempu membuat segala jenis mukjizat dengan kekuatan yang diserapnya itu.
Meskipun kekuatan suci adalah sumber mukjizat, tidak ada satu orangpun yang pernah menyaksikan kejadian seperti itu.
"... Kau benar-benar bisa melakukannya. Kalau begitu, buat mukjizat yang bisa kulihat. "
Orisons dari para cleric manusia dan mukjizat yang dilakukan oleh Shinki memiliki perbedaan yang sangat besar.
Perbedaan utamanya terletak pada apa-apa saja yang bisa dilakukan. Misalnya, melihat ke masa lalu atau memprediksi masa depan, apa yang ada di luar lingkup pengetahuan manusia; mengubah cuaca dan iklim; dan mengendalikan waktu, kekuatan yang mempengaruhi seluruh dunia. Kekuatan seperti itu adalah mukjizat yang hanya mampu dilakukan oleh Shinki. Orisons dari cleric manusia sangat sedikit dan hanya terbatas dalam menyerang, bertahan, dan penyembuhan - yang sangat cocok untuk digunakan dalam penjelajahan labirin.
Selain itu, tingkat penggunaan kekuatan suci juga jauh berbeda. Jika dibandingkan dengan cleric manusia, kekuatan suci yang digunakan oleh Shinki sekitar seratus atau seribu kali lebih efisien.
"Baiklah. --Tapi, walaupun jika kamu mengatakan 'mukjizat’, Aku tidak tahu apa yang ingin kamu lihat?"
"Terserah, asalkan sesuatu yang takkan bisa dilakukan oleh manusia."
"Aku tidak bisa membuat sesuatu yang besar dengan kekuatan suci sesedikit ini. Maksimal aku hanya bisa membuat sesuatu yang kecil. Karena sifat dari Shinki adalah 'untuk melindungi,' Jadi aku tidak bisa melukai. Terlebih, sesuatu yang takkan bisa dilakukan oleh manusia -- "
"Bagaimana kalau teleportasi? Aku dengar Shinki bisa melakukannya. "
Memindahkan entah orang maupun benda ke suatu tempat adalah sesuatu yang tidak bisa dibuat dengan Orison. Jika kemampuan yang sangat berguna seperti itu bisa dengan mudah dilakukan, bahaya labirin akan berkurang, setidaknya sedikit. Meskipun ada titik teleportasi yang ditemukan di dalam labirin, tapi sistem kerjanya masih belum diketahui.
Tapi jika memperhitungkan kekuatan shinki, tak ada yang tak mungkin. Ada suatu legenda yang menceritakan tentang seorang Shinki yang memindahkah seluruh kelompok petualang keluar dari labirin.
"Mm. Kalau kamu ingin melihat teleportasi, aku bisa melakukannya. Aku hanya perlu untuk memastikan jarak dan arah gerakan, tidak masalah. "
"Dan kalau kamu belum memastikan hal itu?"
"Lalu apa yang kamu pindahkan akan menghilang, tapi takkan pernah muncul lagi."
"Mengerikan. --Jadi, apa yang akan kamu pindahkan? "
"Apa ya... Ah, bagaimana kalau itu?"
Tina menunjuk pada mutiara Suci yang tadi.
"Baiklah, coba lakukan."
Yuuki kembali ke ruang makan lalu menjawab.
Menurut apa yang Tina katakan, setiap reliquia memancarkan semacam kekuatan suci yang khas. Semakin kuat kekuatan sucinya, semakin mudah untuk dirasakan – bahkan dengan jarak yang membentang dan berbagai rintangan yang menghadang.
Yuuki mengambil Mutiara Suci itu (Tak perlu ditanya lagi, tentu saja yang murah), lalu menyembunyikannya di suatu tempat yang tidak diketahui Tina. Lalu Tina akan berpindah ke tempat reliquia itu, dan mengambilnya dari tempatnya disembunyikan.
--Ini adalah percobaan.
Saat Yuuki kembali, dia melihat Tina masih berada di tempatnya yang tadi, tidak bergerak sedikit pun. Dia yakin kalau Tina tidak mengikutinya dan diam-diam mengintip.
"Tina sekarang akan berpindah dan segera kembali! Tunggu sebentar, Master! "
Meninggalkan kata-kata yang diucapkannya dengan antusias itu, dia tiba-tiba menghilang.
Yuuki menyembunyikan Mutiara Sucinya di belakang toko, tinggi diatas sebuah cabang pohon yang berada diatas sebuah kolam kecil. Mengingat bertubuh kecil Tina, dia menempatkannya jauh di luar jangkauannya.
Jika dia memang tidak menipunya dengan bersembunyi menggunakan perisai tembus pandang ... Dan jika ia benar-benar menggunakan kekuatan mukjizat untuk memindahkan dirinya ke yang lokasi Mutiara Suci itu—
"U-Uwaaaaaaaaaa!"
Sebuah teriakan tragis terdengar dari halaman belakang, dan segera setelahnya diikuti suara cipratan besar.
"--Itulah yang akan terjadi. Dengan kata lain, gadis itu memang asli ..." Yuuki bergumam pada dirinya sendiri.

※※※

"... Setelah melakukan semua percobaan kemarin - bahkan sampai membuat Tina basah kuyup - dan bahkan setelah mengetahui kalau Tina bisa menggunakan kekuatan suci layaknya seorang Shinki, sikapmu pada Tina tidak berubah sama sekali, Master."
Sambil berjalan, Tina menyatakan ketidakpuasannya.
“Seharusnya kamu lebih terkejut, lebih hormat, dan lebih kagum secara terang-terangan."
"Aku memang agak terkejut. Jujur ​​saja itu pertama kalinya aku melihat sesuatu seperti itu. "
"Benarkan? Kalau begitu-- "
"Dari awal, aku melakukan percobaan itu dengan asumsi 'Tina adalah Shinki’. Itu sebabnya, walaupun setelah aku memastikan kekuatanmu, sikapku takkan berubah. Paham? "

"Jadi seperti ini keadaan Shinki zaman sekarang..."

"Oh, aku harus memperingatkanmu: untuk ke depannya, kamu tidak boleh melahap reliquia maupun membuat mukjizat tanpa seizinku. Itu pasti akan menimbulkan masalah."
"... Baiklah."
Tina mengangguk canggung.
"Jika itu adalah perintah dari Master, apa boleh buat. –Ngmong-ngomong, kita mau ke mana? "
"Ada beberapa hal yang harus ku lakukan, jadi kupikir aku akan sekalian menunjukkan kota ini padamu. Karena untuk sementara kamu akan bertugas sebagai asisten di toko, akan lebih baik kalau kamu sedikit lebih tahu tentang solitus. Hal itu dibutuhkan jika kamu memang ingin membantuku. --Baiklah, pertama pergi ke Gereja. "
Mereka berdua berjalan melewati jalan utama menuju ke pusat kota.
Tina melihat sekeliling dengan sangat bersemangat.
"Ini adalah Jalan Labirin, dan sesuai dengan namanya, kalau kamu mengikuti jalan ini, kamu akan sampai di pintu masuk labirin. Sepanjang jalan ini dihiasi oleh toko-toko yang melayani para petualang. "
"Sama seperti toko milik Master, tapi ... kelihatannya, bukankah semua toko itu jauh lebih besar daripada milik Master? Terlebih, mereka memiliki banyak pelanggan. "
"... Aku sangat pilih-pilih dalam memilih barang dagangan maupun pelanggan."
"Oh, jadi begitu! Itu menjelaskan kenapa kamu tidak membutuhkan toko yang besar, aku mengerti. "
Ekspresi polos Tina dipenuhi dengan rasa kagum yang tulus. Yang benar saja, gadis ini tidak memiliki sedikitpun rasa ketidakpercayaan, Yuuki bergumam pada dirinya sendiri.
Melihat Tina yang percaya begitu saja pada kebohongannya, dia merasa sangat bersalah. Dia segera mengubah topik pembicaraan.
"--Baiklah, Dari sini ke arah pusat kota - sisi utara gunung - adalah Jalan Artisan(seniman) dan kawasan perumahan, serta plaza kecil. Toko yang menjual bahan makanan dan serba-serbinya, dan juga pasar bisa ditemukan di sana. Kapan-kapan aku akan membawamu kesana. "
Jauh menuruni Jalan Labirin ada sebuah plaza berukuran kecil dimana terdapat sebuah bangunan berwana putih murni disana.
"Itu adalah Gereja Lima Kudus, meskipun tempat di mana Patriark berada jauh di utara, di depan Katedral di alun-alun kota distrik Patriark. Bangunan itu hanyalah kantor cabang - setiap daerah memilikinya".
"Benar, Di sanalah tempat di mana mereka menyembah Tina."
"Di sana mereka melakukan ibadah dan membaca kitab suci dan berbagai hal semacam itu. Selain kegiatan keagamaan seperti yang biasa kamu temui di sana, Gereja juga bertanggung jawab dalam banyak hal, seperti penegakkan hukum, pengumpulan pajak, belanja daerah, penyelesaian sengketa, dan sebagainya "
Kalau Oath Legions memiliki kuasa penuh atas semua yang terjadi di dalam labirin, Gereja bertanggung jawab atas pemerintahan kota.
Menurut Yuuki, Gereja adalah sosok tunggal yang jangan pernah dijadikan sebagai musuh di dunia ini. Dengan otoritas Gereja, hidup seorang pedagang dapat dihancurkan dengan mudahnya.
"Ada sesuatu yang harus ku urus di dalam, jadi tunggu aku di sini, Tina. Dan jangan berkeliaran ke manapun. "
Meskipun para ksatria berjaga di depan pintu masuk labirin, Melchior, dan juga Gereja, tapi jika berkaitan denga keyakinan terhadap Shinki, para pendeta Gereja jauh lebih keras kepala. Jika Tina ikut bersamanya dan mengatakan – Larangan Tuhan - sesuatu yang tidak boleh dikatakannya, Yuuki pikir dia takkan bisa bebas begitu saja.
Yuuki menunggu sampai Tina secara lisan menyatakan persetujuannya dan mengangguk sebelum dia masuk, lalu dia bertemu dengan seorang pendeta muda.
"Semoga kasih dan karunia para Shinki tercurahkan padamu. – ada yang bisa ku bantu? "
"Sebenarnya tidak ada. Bisnisku sedang cukup baik akhir-akhir ini, jadi aku pikir aku akan datang mengucapkan rasa terima kasih terhadap Shinki, dan memberikan persembahan kecil. "
"Terima kasih banyak atas kemurahan hatimu."
Pendeta itu tersenyum ringan.
Yuuki mengeluarkan lima buah koin 10 denar dari dompetnya, lalu meletakannya di tangan pendeta di hadapannya. Meskipun menyakitkan baginya untuk melakukan hal itu, dia tetap berhasil menjaga senyuman di wajah pendeta itu.
Jika peruntungannya tetap buruk, mungkin dia terpaksa harus menggadaikan beberapa barang murah di tokonya demi mengumpulkan uang untuk membayar pajak tahun depan ... Tapi sekarang bukan saatnya untuk memikirkan hal-hal seperti itu.
"Apakah kamu ingin aku untuk mencatat namamu?"
"Tulis saja anonim. Tapi kalau bisa, apa kamu mau berbincang sebentar denganku-- "
"Baiklah, apa yang akan kamu ingin ketahui?"
"Apakah ada masalah besar yang terjadi belakangan ini?"
"Tidak, sepertinya tidak ada. Sudah hampir lima tahun sejak kejadian 'Erosi besar’ dulu. "Aku tidak mendengar adanya gagal panen, atau menyebarnya wabah penyakit. Malahan, belakangan ini dunia terasa menjadi lebih damai - kita benar-benar diberkati oleh Shinki ".
"Aku menjalankan sebuah toko kecil di Jalan Labirin; Beritahu aku, bagaimana keadaan petualang belakangan ini? "
Gereja adalah jembatan antara Shinki dan penduduk kota, hubungan mereka dengan Oath Legions juga sangat dekat. Tapi Itu tidak berarti kalau hubungan mereka baik.
Lebih tepatnya, keadaan di dalam labirin – dimana para anggota Oath Legion berlomba-lomba mengumpulkan reliquia - adalah sesuatu yang sangat dipahami oleh Gereja. Pedagang yang mau berbagi informasi ini sangatlah sedikit. Karena Gereja sangat memahami hal itu, orang-orang harus lebih bermurah hati dalam memberikan sedekah sebelum anggota gereja akan bersedia "melayani keperluan mereka" dengan dalih berbincang kecil.
"... Karena kamu menyebutkannya, aku dengar salah satu kelompok utama dari Sky Oath Legion mengalami kekalahan telak di dalam labirin. Sepertinya mereka bertemu dengan Void Beast yang belum pernah ditemui sebelumnya. Sebuah kelompok yang beranggotakan lima orang, empat orang meninggal, dan satu-satunya yang selamat - ketuanya - kehilangan sebuah lengan ".
"Mengerikan sekali."
Itu pasti 'insiden besar' yang Melchior bicarakan.
"Kematian itu sesuai dengan rencana yang telah digariskan oleh Raja Surgawi. Bahkan Shinki mungkin tidak bisa menentang kehendak-Nya dalam hal itu. Untungnya, lengan pemimpin kelompok itu sudah sepenuhnya dipulihkan dengan mukjizat dari 'Shinki yang Menyangga Langit.’ Sekelompok petualang lain yang dipimpin oleh si anak jenius, Stefan Kloze - telah ditunjuk untuk menyelidiki kejadian itu. Informasi tentang Void Beast yang mampu memusnahkan kelompok utama Oath Legions sangatlah penting. "
Oh, siswa kebanggaan akademi kami, huh? Benar-benar calon anggota elit Oath Legions.
"Meskipun apa yang telah terjadi, posisi Gereja fraksi 'Langit' tetap memegang pengaruh besar. Jika membahas baik jumlah petualang dalam barisan mereka maupun jumlah reliquia yang mereka telah dapatkan, ketiga legion pesaingnya jauh tertinggal, terlebih posisi 'Bulan' yang kosong saat ini. Secara umum, tidak ada yang berubah . "
Sepertinya cuma itu yang ingin dia katakan. Lalu dia berhenti berbicara.
Yuuki berterima kasih dan meninggalkan gedung itu.
"Kelima Shinki bekerja sama untuk melindungi kota ini" - itu adalah doktrin Gereja. Tapi, itu tidak termasuk Oath Legions yang melayani setiap Shinki, yang saling bersaing dengan sengit satu sama lain.
Insiden itu pasti akan menunjukkan pengaruhnya di pasar.
Contohnya, saat membuat kesepakatan dengan Legion yang sedang berjaya, para pedagang akan terlibat dalam perang harga, memberi diskon agar bisa segera menjual reliquia mereka. Jika berita yang baru saja didengarnya itu menyebar, Legion pesaing pasti akan menaikkan harga mereka.
Berita tentang pergerakan Oath Legions adalah informasi yang sangat berharga, dan sesuatu yang sangat diperhatikan oleh Yuuki. Tapi untuk kali ini, dia memiliki tujuan yang jauh berbeda.
"Selain kelompok yang menjadi korban itu, sepertinya tidak ada hal besar yang terjadi pada Legions, itu juga berarti tidak ada hal aneh yang terjadi di dalam Gereja."
Itu berarti kalau kelima Shinki masih berada di sana.
Walaupun begitu, dia harus mengakui kalau kekuatan yang ditunjukkan Tina memang hanya dimiliki oleh seorang Shinki.
Jadi, siapa dia sebenarnya?
Dari apa yang baru saja didengarnya, kemungkinan bahwa dia 'dilahirkan beberapa hari yang lalu’, memang cocok seperti yang dia katakan. Singkatnya, yang baru terlahir - dan yang sebelumnya tidak diketahui – Shinki keenam.
"Walaupun sekarang ini masih belum bisa dipastikan, tapi kalau itu benar--" Yuuki merenungkannya sendiri sambil berjalan kembali ke alun-alun.
Dia melihat ke sekeliling - Tina menghilang.
"Si bodoh itu ..."
Tidak bisa menahan emosinya, Yuuki mengatakan keluhannya sambil bergegas mencari Tina.
Karena sedang siang hari, plazanya sangat ramai.
Kemana perginya dia? Apa yang menarik perhatian Shinki itu? Mungkin dia ditarik oleh aroma memikat dari warung penjual makanan, atau mungkin—
Pada saat itu, Yuuki mendengar suara tepuk tangan meriah dari kerumunan di belakangnya. Berhenti, dia berbalik.
Hal pertama yang dia lihat adalah kerumunan besar - mereka sedang menonton pertunjukan wayang untuk anak-anak. Pahlawan baru saja muncul, dan memberikan pukulan maut pada si penjahat.
"Wow, sangat kuat! Dia sangat luar biasa! Apakah dia pahlawan? "
"Y-ya. Dia adalah 'Snow Blade King.' "
"Ooh. Siapa dia? "
"Sekitar sepuluh tahun yang lalu, dia adalah seorang Duelist agung yang melayani 'Shinki yang Bermahkotakan Bulan'; julukannya berasal dari pedang seputih salju yang dipakainya. Walaupun dia sangat kuat, tapi dia juga sangat sopan - baik kepada yang lemah, dan tidak pernah takut pada berbagai ancaman yang dihadapinya-- "
Yuuki melihat bagian belakang kepala Tina,  sedang berbicara dengan bersemangat bersama gadis di sampingnya, yang sedang menceritakan tokoh dalam pertunjukan itu.
(Hei, bukankah itu murid sekolah kami?)
Yuuki berjalan.
"Itu lho, Onee-san ini sangat aneh -. Karena kamu bahkan tidak tahu siapa itu 'Snow Blade King' "
"Ah ya, itu karena aku baru lahir beberapa hari yang lalu."
"... Beberapa hari yang lalu?"
"Ya. Di dalam labirin-- Aaaaargh! "
Tinju Yuuki mendarat di atas kepala Tina.
"Eh? Hah? Yuuki-sensei? "
"Maaf atas semua masalah yang anak ini sebabkan, Kaya. –Bukannya aku bilang untuk diam menungguku? Ayo pergi. "
"S-Sebentar lagi ..."
Yuuki mengabaikan protesnya dan menyeretnya pergi. Saat mereka cukup jauh meninggalkan kerumunan di belakang mereka, akhirnya dia bisa merasa lega.
"Tadi itu pertunjukan yang bagus-- "
"..."
"... Kenapa kamu marah, Master? Tina tidak mengatakan apapun tentang status sebagai seorang Shinki. "
"Jika kamu mengatakan hal gila seperti kamu baru dilahirkan beberapa hari yang lalu, tentu saja itu akan menimbulkan kecurigaan!"
"Ohh ..."
"Jika orang normal baru dilahirkan beberapa hari, mereka tidak lebih dari sekedar bayi. Mana mungkin kamu tidak tahu itu, kan? Berhenti bersikap bodoh! –Ya ampun, Kamu harus menyadari seberapa berbahayanya keberadaanmu itu. Sekarang, ayo pergi. "
"..."
Tina terdiam.
Mendesah cemas, Yuuki berbalik untuk pergi-- Tiba-tiba, lengannya ditarik dari belakang.
"—A-apa kamu ingin membuang Tina?" tanyanya sambil tersenyum.
Tapi senyuman itu, jelas sekali dipaksakan, malahan, cukup menyakitkan baginya untuk melihatnya.
"Hah?"                                       
"Tina, d-dia mengerti. Membantu Shinki seperti Tina adalah beban yang sangat berat untuk ditanggung oleh orang biasa. Kalau ... Kalau kamu ingin pergi, aku bisa memahaminya."
Tangan Tina gemetar saat dia mengatakannya. Bertentangan dengan apa yang di ucapakannya, itu jelas menunjukkan kalau dia sangat ketakutan.
"T-tidak perlu khawatir, Tina adalah dewi yang penuh belas kasih. Bahkan jika pengikutnya tidak mampu menanggung beban ini dan p-pergi, aku takkan menyalahkannya. "
"..."
Saat itu, Yuuki tidak bisa mengatakan apapun.
(--Oh, jadi begitu.)
Yuuki akhirnya mengerti. Bahkan jika dia terlihat riang di luar, dalam hatinya, dia sangat ketakutan.
Walaupun dia baru berumur beberapa hari, pemikiran dan perasaannya jauh lebih berkembang daripada bayi pada umumnya. Dia sangat memahami rasa sakit dan kesengsaraan dari rasa kesepian karena ditinggalkan – seorang diri - di dunia yang keras dan tak kenal ampun ini. Alasan dia sangat keras kepala dengan julukan seperti "pengikut" dan "Master" itu karena dia ingin memastikan hubungannya dengan orang lain. Sederhananya, dia berusaha membangun hubungan dengan orang lain - hubungannya dengan Yuuki, adalah tempat yang nyaman baginya – satu-satunya pembatas antara dia dan jurang ketakutannya yang luar biasa itu.
Yuuki berhenti sejenak sebelum akhirnya membuka mulutnya.
"--Maaf. Aku sudah bersikap berlebihan. "
Kata yang diucapkannya berbeda  jauh dari apa yang Tina pikirkan dan hanya bisa berkedip untuk menanggapinya, matanya masih dibasahi oleh air mata.
"Sepertinya kamu tidak memahami bagaimana pedagang menjaga kesepakatannya. Tenang saja, aku takkan begitu saja membuangmu, dan aku juga takkan begitu saja mengabaikanmu. Dengan kata lain, selama kesepakatan kita masih berlaku, kalau bisa, untuk suatu alasan, anggap saja aku sebagai pengikutmu. Tapi, kamu juga harus ingat - Aku adalah tuanmu. Itu berarti saat aku memberimu perintah, kamu harus mematuhinya. Itulah yang harus dilakukan oleh Shinki yang baik - menghormati harapan pengikutnya. Bagaimana menurutmu? "
"Baik!"
Tina, yang hampir saja menangis, sekarang tersenyum ceria. Menyeka air matanya dengan satu tangan, dan sepertinya karena tidak mampu menahan rasa gembiranya yang meluap, dia berbicara dengan penuh semangatnya.
"Tina pasti akan menjadi Shinki yang baik! Dan akan mendengarkan semua perintah master! Tidak peduli apapun itu! "
"Baiklah. Sekarang, anggap saja keajdian tadi tak pernah terjadi. "
Yuuki menepuk lembut kepala Tina. Gadis muda itu menyipitkan matanya merasa sangat canggung.
"Pertunjukan wayang tadi selalu ada disana. Kita bisa kembali lagi lain kali. – Ayo kita pulang."
Tina dengan patuh mengikuti di belakang Yuuki, tangannya masih menggenggam lengan bajunya.
"... Um, Master?"
"Ada apa?"
"Apakah itu ... memang sangat terkenal? Cerita dari pertunjukan itu? "
"... Oh, maksudmu 'The Snow Blade King Vs. Black Demon’? Ya, cerita itu memang sangat terkenal. Kalau kamu memang sangat penasaran, Kamu bisa mengajak Franka untuk menemanimu melihatnya. Gadis itu juga sangat menyukai hal seperti itu. "
Karena dia sudah menceritakan pada Franka tentang Tina yang hilang ingatan, bahkan jika nanti dia mengatakan sesuatu yang aneh, seharusnya takkan ada masalah.
Cerita tentag Shinki dan Duelistsnya dan juga petualang legendaris lainnya sering digunakan dalam drama. Pihak Gereja, dengan tidak tahu malu menggunakannya untuk mendorong keinginan masyarakat dalam memberikan sedekah, secara terbuka menyebarkan cerita itu di kalangan rakyat. Pertunjukkan wayang seperti itu bisa ditemukan di seluruh penjuru kota, dan bagi siapapun yang tertarik bisa dengan mudah menemukannya.
Selama dia tidak membongkar penyamarannya, itu akan menjadi pengalaman yang sangat berharga baginya.
"Master ... tidak ikut?"
"Aku? Oh, yaah, aku tidak terlalu tertarik dengan hal seperti itu. "
"Oh."
Senyum Tina diwarnai dengan sedikit penyesalan.

※※※

Beberapa hari berlalu dengan damai dan tanpa adanya suatu insiden.
Hubungan Yuuki dan Tina perlahan tumbuh semakin kuat.
Setelah kejadian beberapa hari sebelumnya, Tina tumbuh menjadi jauh lebih hati-hati dan juga terus terang.
"—Jadi intinya, jamur tumbuh di tempat yang gelap dan lembab," Yuuki menjelaskannya kepada Tina, saat mereka melewati jalan kecil pegunungan.
"Ada beberapa jenis yang beracun, ada yang bisa digunakan sebagai obat, bahkan ada yang bisa dimakan – jamur ada banyak jenisnya, dan untuk membedakannya adalah sesuatu yang sangat sulit. Tapi, di sisi lain, itulah alasan kenapa jamur bisa dijual untuk mencari keuntungan. Mempelajari pohon buah mana yang bisa digunakan sebagai obat itu jauh lebih mudah, jadi kita akan mulai—ada apa? "
Setelah dari tadi berusaha untuk mengikuti Yuuki, Tina akhirnya kelelahan, lalu duduk dan beristirahat di tanah.
"P ... Pe ... Pedagang ... perlu ...." Tina mendesah, terengah-engah.
"Perlu ... untuk ... me ... memanjat ..."
"Kau bertanya apakah mendaki gunung adalah hal yang umumnya dilakukan oleh pedagang? Tidak juga. Aku adalah pengecualian karena aku mencari barang daganganku sendiri. Ayo, Kamu pasti bisa."
Bukan cuma reliquia, toko Yuuki juga menjual berbagai macam perlengkapan yang mungkin diperlukan oleh para petualang. Kalau hanya menghitung dari jumlah dan bukan dari harganya, barang-barang seperti itu adalah yang menjadi mayoritas barang dangangan di toko.
Barang yang paling umum dijual adalah obat untuk mengobati luka luar, lalu kain kasa dan kompres. Walaupun hampir semua petualang membutuhkan cleric sebagai penyembuh, tapi untuk menghindari penggunaan Suci Mutiara yang berlebihan, selain luka parah diobati dengan menggunakan obat-obatan dan perban. Obat-obatan yang Yuuki jual di tokonya adalah hal yang dia cari sendiri, untuk menekan pengeluaran sekecil mungkin.
Untuk itu,dia membawa Tina bersamanya dalam perjalanan ini, untuk membiasakan Tina dengan berbagai obat-obatan yang dijual ... Sayangnya, sepertinya dia sudah sangat kehabisan tenaga.
"Bagaimana kalau ita istirahat dulu sebentar-- "
Bukannya menjawab, Tina dengan lemah mengangkat botol minuman ke bibirnya. Kelihatannya dia cukup lemah bahkan untuk ukuran gadis seusia dan tubuh mungilnya.
"... Siapapun dia, jika mereka tidak terbiasa dengan kegiatan semacam ini, mereka akan mudah kelelahan. Saat pertama kali kamu memulai sesuatu, ada sangat banyak hal yang tidak kamu ketahui. Umumnya memang seperti itu. Tidak usah terlalu terburu-buru; Santai saja. "
Nafas Tina akhirnya kembali normal, lalu dia bertanya, "Master, apa dulu kamu juga seperti ini?"
"Yaah, dibandingkan denganmu, kondisi tubuhku masih lebih baik, tapi karena aku tidak tahu apa-apa tentang tumbuhan, aku sering dimarahi oleh pemilik toko sebelumnya."
"Pemilik toko sebelumnya?"
"Tanda di toko berbunyi, 'Toko Boris,' kan? Toko itu awalnya adalah milik seorang pria tua bernama Boris. Saat itu aku hanyalah seorang pengembara tanpa keluarga maupun tempat yang bisa disebut sebagai rumah. Suatu hari, saat kakek itu keluar untuk mengumpulkan tanaman obat, dia menemukanku pingsan di gunung dan membawaku pulang bersamanya. "
Kejadian itu terjadi lima tahun yang lalu. Dia menunjukkan kekuatan yang tak cocok untuk orang seusianya, lalu dia membawa Yuuki ke tokonya.
"Lalu dia mempekerjakanku, dan mengajariku bagaimana caranya menjalankan toko. Ya ampun, dia benar-benar orang tua yang ketat - aku sering dimarahi dengan sesuatu yang takkan bisa kamu percaya. Tapi ... Aku bersyukur atas semua yang telah dia lakukan untukku. "
Bagaimanapun juga, dia adalah orang yang mengajarkan Yuuki bagaimana untuk hidup normal.
"Jadi, di mana dia sekarang?"
"Dia meninggal dua tahun lalu."
Dia mengalami stroke. Suatu hari dia tiba-tiba muntah, dan pingsan. Dia juga tidak bangun selama beberapa hari, dan sampai akhirnya dia berhenti bernapas. Satu-satunya berkat dari cobaan itu adalah dia tidak terbangun untuk merasa sakit, maupun memikirkan teror kematian.
"Aku mewarisi toko itu, meskipun dari awal, aku takkan pernah bisa sepertinya. Bahkan jika tubuhku sudah jauh berkembang sejak saat itu, aku masih jauh untuk mampu bersaing dengan berbagai pengusaha besar; Aku masih pemula. "
"... Jadi begitu. Orang-orang akan mewarisi apa yang orang lain bangun, ya? "Tina bergumam pada dirinya sendiri, dengan ekspresi kagum terpancar di wajahnya.
Menghirup nafas panjang, dia tiba-tiba berdiri.
"Baiklah, Master. Tina sudah siap. Tujuan kita adalah puncak, kan? Sebaiknya kita segera jalan."
"Oh oke. Hanya saja-- "
"Hmm ...?"
Tubuh Tina mulai sempoyongan. Di sebelah kirinya terdapat jurang dengan kemiringan yang tajam, dengan lembah terletak jauh di bawahnya. Tubuh mungilnya perlahan terjatuh ke jurang, kakinya tidak menyentuh apapun selain udara—
Tiba-tiba dia berhenti terjatuh.
--Dia tidak jatuh.
"Tiba-tiba berdiri membuat kepalaku pusing."
"Hah ..."
Tangan kiri Yuuki memegang dahan pohon, dan tangan kanannya memegang erat Tina.
Saat Tina mulai kehilangan keseimbangan,Yuuki segera berlari dan menggapainya. Walaupun pijakan sedikit goyah, dia mengandalkan insting keseimbangannya untuk menyelamatkannya.
"Walapupun tekanan darah dan napasmu sudah kembali normal, tidak mungkin tenagamu akan kembali secepat itu. Bahkan jika kamu merasa baik-baik saja, jangan memaksakan diri melewati batasmu. Itu adalah salah satu aturan yang paling mendasar untuk bepergian di pegunungan maupun di labirin."
"Aku akan mengingatnya."
Tina memerah.
"T-Tapi! Bahkan jika aku jatuh, aku masih punya Holy ShieldScutum untuk melindungiku; Aku takkan terluka! Tina adalah Shinki, tahu! "
"Memang benar, tapi bagaimana caramu untuk kembali?"
"U-Um, well--"
Melihat ke lembah di bawahnya, dia mulai gemetar.
"A-ayo pergi, Master! I-ini terlalu tinggi ... I-ini sangat menakutkan-- "
"Ah iya. Kamu tidak perlu ke puncak gunung untuk melihatnya. Coba lihat, di sana. "
Menyela perkataan Tina, dia menunjuk.
Cakrawala terlihat di kejauhan. Disana, di mana langit bertemu dengan bumi, kabut hitam mengerikan menyelimuti bumi, dan perlahan-lahan, sangat perlahan, berkerak mendekat.
"'The Devourer(Pelahap) ..."
"Kamu tahu apa itu?"
"Iya. Benda itu melahap semua yang dilaluinya. Hanya kekosongan hampa, tanpa tujuan apapun. Menghambat pergerakannya dengan perisai adalah salah satu tugas Shinki. "
Seluruh penduduk solitus, termasuk desa-desa sekitarnya, berjumlah sekitar dua ratus ribu orang.
Di sebelah timur dan utara dibatasi oleh pegunungan, di selatan oleh dataran yang luas, dan di sebelah barat oleh sebuah sungai yang mengalir ke laut. Perjalanan dengan berjalan kaki dari perbatasan ke perbatasan lainnya memakan waktu sekitar tiga hari. Terkahir, berjalan jauh di bawah solitus terdapat labirin.
-Itu adalah keseluruhan dunia mereka.
Selebihnya telah dilahap oleh the Devourer, tanpa meninggalkan apapun, atau seperti itulah ceritanya.
Saat ada yang menyebutkan bahwa para Shinki melindungi kota, itu dalam artian sebenarnya, dan bukan sekedar kiasan. Perisai yang mereka buatlah yang menghambat penyebaran the Devourer.
Itulah alasan keberadaan para petualang, dan Oath Legions pada khususnya. Jika mereka berhenti memberikan reliquia pada shinki, yang menyebabkan pasokan kekuatan suci mereka habis, maka mereka takkan  mampu membuat mukjizat; sederhananya, mereka takkan mampu untuk membuat perisai.
Lebih buruknya lagi, karena manusia terjebak dalam ruang tertutup, kelangkaan pangan, ancaman wabah penyakit, dan bencana alam terus mangitai untuk memusnahkan sisa umat manusia. Sekali lagi, mukjizat – bisa dibilang, Shinki - diperlukan untuk mencegah semua kemungkinan itu. Hal itu juga memerlukan kekuatan suci yang tentu saja berasal dari reliquia.
Ada rumor bahwa reliquia yang diserap oleh Shinki akan terlahir lagi di dalam labirin. Walaupun tidak ada cara untuk memastikan hipotesis itu, tapi faktanya adalah meskipun setelah sekian tahun para petualang terus menjelajahi labirin, belum ada tanda-tanda habisnya reliquia.
"Dan akhirnya, akan datang hari dimana para Shinki akan membimbing umat manusia menuju ujung labirin - dan menyelamatkan mereka menuju dunia baru," bisik Tina pelan.
Menyelamatkan diri - kabur dari dunia tertutup ini yang perlahan mati. Legenda menceritakan bahwa hal tersebut berada di ujung labirin - dan labirin itu adalah pintu masuk menuju dunia lain. Oleh karena itu, labirin tersebut diberi nama Great GateMagna Porta.
Kalau begitu, keberhasilan para petualang berhubungan langsung dengan kelangsungan hidup umat manusia.
"Tina pasti akan menyelamatkan semua orang. Karena untuk alasan itulah Shinki ada. "
"... Tapi, tanpa kekuatan suci, kamu takkan bisa melakukan apapun."
"Mm."
Dengan cekatan Yuuki membawa Tina kembali ke permukaan - jalan pegunungan di sisi tebing.
"Langkah pertamamu adalah berusaha sebaik mungkin untuk memperlajari pekerjaan ini. Jika Kamu bisa membantu toko untuk menghasilkan uang, aku akan membayarmu dengan reliquia, jadi berjuanglah. "
---
"Halo semua-- Eh, tunggu, ada apa ...? Apa kamu baik baik saja? "
Menyapa melalui pintu masuk, Franka tiba-tiba berteriak cemas.
Seorang gadis terkapar di lantai.
"... Aku hanya kelelahan, jadi aku tiduran di sini sampai tenagaku pulih. Tidak perlu khawatir. "
Karena orang yang bersangkutan itu sendiri yang mengatakannya, Franka sedikit lega, tapi ekspresi khawatirnya belum meninggalkan wajahnya saat dia berjalan masuk melalui pintu depan.
"Tadi pagi, kami pergi ke gunung untuk mencari beberapa tanaman obat, itulah sebabnya dia sangat kelelahan. --Hei Tina, kalau kamu sudah tidak kuat lagi, tidak apa-apa kalau kamu mau istirahat."
"-!"
Mendengar perkataan Yuuki, Tina segera berdiri dengan penuh semangat.
"Sekarang masih terlalu dini untuk itu! Master, tolong beri aku perintah selanjutnya."
"Ohh, hebat. Baiklah kalau begitu, ambil beberapa batu cahaya dari gudang dan letakkan di rak. Jika kamu selesai melakukannya, tugasmu selesai, jadi tidak masalah kalau kamu mau beristirahat."
Melihat Tina berjalan sempoyongan  ke dalam ruangan, mulut Franka menganga karena terkejut.
"K-kamu benar-benar bekerja keras, iya kan, Tina-chan?"
"Hebat, kan? –Baru selesai menjelajah? "
Franka mengenakan jubah longgar dan panjang dengan ranselnya di punggungnya.
Sekarang sudah hampir senja, saat dimana kebanyakan petualang memilih untuk mengakhiri penjelajahannya. Hal itu bukanlah suatu aturan - itu hanya telah menjadi kebijakan de facto untuk menyesuaikan dengan jadwal jam kerja dengan pekerjaan lainnya, termasuk keluarga mereka dan toko-toko yang memenuhi kota.
"Ya, walaupun sayangnya kami sedang kurang beruntung hari ini" jawab Franka, tersenyum kecut. "Guru Alfred berkata kalau dia akan segera kemari. –Oh ya, aku baru ingat - aku jarang melihatmu di akademi akhir-akhir ini. Apa itu karena kamu melakukan sesuatu bersama Tina-chan? "
"Yap. Masih banyak hal yang perlu ku ajarkan, jadi aku tidak masuk beberapa hari untuk mengajarinya. "
Dan sudah jelas kalau dia tidak berpikir untuk mengikuti pelatihannya, walaupun itu tidak jauh berbeda dari biasanya.
"Oh tidak. Jangan bilang kamu menyiapkan makanan untukku lagi? "
"Tidak! Tidak! "
Pipi Franka tersipu merah tua.
"Itu, um, itu hanya sesuatu yang ku lakukan karena aku menginginkannya. Jadi tidak usah khawatir. "
"Maaf karena membuatmu khawatir. Tapi mungkin sebaiknya aku memberi tahumu - aku mungkin takkan masuk untuk beberapa hari ini."
Dia merasa gelisah membiarkan Tina untuk mejaga toko saat dia pergi ke akademi. Setidaknya, dia ingin Tina belajar agar mampu untuk mendapatkan makanannya sendiri.
"Aku pikir sifatmu itu, sifat dimana tidak akan meninggalkan orang-orang yang membutuhkan bantuanmu, sangat luar biasa. Kamu juga menyelamatkanku. Tapi tetap saja, itu pasti sangat sulit ... "
Franka menundukkan kepalanya. Waktu berlalu sampai akhirnya dia terlihat sepertinya telah memutuskan sesuatu, mengangkat kepalanya sekali lagi.
"Um, kau tahu, mungkin aku agak merepotkan usil di sini, tapi aku- kalau bisa aku juga ingin membantu. Atau mungkin, aku bisa membuat makanan untuk kali-- "
Tiba-tiba pintunya terbuka, menyela perkataan Franka.
"Yo, lama tak jumpa--"
Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahunan berjalan masuk. Di pinggang kirinya terdapat sebuah pedang yang terbungkus sarungnya. Dia cukup ramping, tapi tinggi. Dia terlihat cukup mudah diajak biacara, dan kurangnya semangat di ekspresinya memberikan kesan pemalas.
Alfred. Seorang petualang kelas tiga - warrior. Dia adalah guru Franka dalam penjelajahan labirin.
"Oh, hey Paman. Selamat datang. "
"Bagaimana tokomu? Masih-- Eh? Ada apa, Franka? "
"... Tidak ada. Sudah, lupakan saja, "gumam Franka sedih.
"Terus, apa kamu perlu sesuatu? Atau apa mungkin sebuah reliquia? "
"Aku pikir aku sedang kurang beruntung belakangan ini. Bukan, aku kemari untuk membeli beberapa batu cahaya. "
"Kalau kamu butuh batu cahaya, seharusnya sebentar lagi keluar. Tolong tunggu sebentar. "
"Tidak masalah. –Tapi bisa ku bilang, sejujurnya, keadaan tokonya terlihat cukup buruk. Jika pak tua Boris masih ada, kamu pasti sudah dihajar habis-habisa, tahu? "
Dia sudah sering datang ke toko bahkan saat masih berada di bawah manajemen pemilik sebelumnya, jadi dia tidak merasa perlu untuk menjaga perkataannya.
Alfred tidak tergabung dengan kelompok petualang manapun - seorang petualang lepas. Meskipun dia sangat berpengalaman, tapi dia umumnya menghindari menjelajah jauh ke dalam labirin. Menurutnya, dia tidak tertarik dengan kekayaan; untuk makan sehari-hari saja sudah cukup.
Meskipun akademi pelatihan mengajarkan teori dan pelatihan dasar, tapi pengalaman tempur yang sebenarnya hanya dapat diperoleh dalam labirin. Dengan begitu, umumnya para peserta pelatihan bersama dengan petualang berpengalaman dalam perjalanan mereka. Oleh karena itu, "guru" adalah pekerjaan yang cukup umum di kalangan petualang.
Alfred adalah salah satu contohnya. Reputasinya tidak apa-apa dibandingkan dengan Oath Legions, tapi Boris sangat percaya padanya.
Bahkan jika Franka sudah membentuk party dengan teman-temannya dari akademi pelatihan, dia masih cukup sering menjelajah di bawah bimbingan Alfred. Sebagai mentornya dia berkata, "Walaupun Franka sangat berbakat, tapi kekuatan terbesarnya adalah dedikasinya untuk terus berkembang."
Pada saat itu, Tina berjalan masuk. Walaupun batu cahaya yang memenuhi keranjang kayu yang dibawanya tidak terlalu berat, tapi dia berjalan sempoyongan, kemungkinan besar itu karena dia sudah sangat kelelahan.
"Waa--"
"Awas!"
Saat Tina kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh, Franka bergegas  menangkapnya.
Tina, yang hampir saja terjatuh, hanya bisa menatap kosong, seakan belum memahami apa yang terjadi.
"Tina, itu tidak sopan."
"T-terima kasih banyak, um, Franka."
"Tidak masalah," Franka tertawa.
"Tina-chan, namanya? Hmm ... kamu merawat gadis yang sangat cantik."kata Alfred.
"Kedengarannya cukup menyeramkan jika kamu yang mengatakannya, Paman."
"Aku lebih suka wanita dengan tubuh dewasa , terima kasih banyak. Ngomong-omong, aku sudah menikah. "
"... Kamu sudah menikah? Jangan bilang kamu bahkan memiliki anak? "
"Tidak, aku belum punya anak. –Ngomong-ngomong, aku dengar kamu merawatnya karena dia hilang ingatan? "
"Eh? Tapi Tina tidak hilang ing--  "
Kata-katanya terhenti saat dia melihat tatapan Yuuki.
"Oh, benar, benar. Lupakan apa yang baru saja ku katakan - aku benar-benar hilang ingatan. Yap, semua ingatanku hilang. Percayalah. "
"Aku pikir tidak ada salahnya untuk memiliki seseorang yang membantu mengurus toko, jadi aku memberinya tempat tinggal. Itu adalah keputusan sederhana berdasarkan perhitungan untung-rugi. "
Yuuki mendahului pertanyaan  Alfred dengan mengubah topik pembicaraan.
"Dia memang cukup aneh, tapi dia tidak bermaksud jahat, jadi tolong jangan terlalu mempermasalahkannya, Paman."
"Seperti yang dia katakan. --Aku Alfred, seorang petualang. Senang bertemu denganmu, nona kecil. "
"Senang bertemu denganmu juga, Alfred!"
Alfred tersenyum pada Tina sebelum berbalik untuk menghadap Yuuki sekali lagi.
"--Jadi kalau tidak salah, kamu menunggu sampai dia bisa mengurus toko sendiri sebelum kamu sepenuhnya kembali menjadi seorang petualang?"
"... Dari awal aku tidak pernah berniat untuk menjadi seorang petualang. Aku seorang pedagang. Bahkan jika terkadang aku pergi ke labirin, itu hanya untuk kebutuhan tokoku. "
"Kualifikasi petualang tidak mudah didapat. Sebaiknya kamu membentuk kelompok bersama kami. Jika kita memiliki Forward Guard lain, akan ada jauh lebih banyak yang bisa kita lakukan. Terlebih, itu akan membuat Franka bahagia. "
Terkadang Alfred akan mencoba membujuk Yuuki dengan cara ini, meskipun dia tidak pernah tahu apakah tawaran itu serius atau tidak.
"Paman, apa kamu serius meminta seorang spesialis pendukung untuk mengayunkan pedang?"
"Tentu saja tidak. Tidak, Kamu pasti takkan membiarkan ada pedang yang terayun – Karena kamu masih muda dan kuat."
Alfred tersenyum ringan, tatapannya tidak sedikitpun meninggalkan Yuuki.
Bahkan jika anggota lainnya lemah, pria paruh baya yang tidak berbahaya, di saat seperti ini, Yuuki tidak yakin harus bagaimana.
"... Dalam hal itu, bukankah Kamu sedang kesulitan untuk menemukan reliquia belakangan ini? Hari ini juga. Sebelum Kamu khawatir tentang apakah aku harus bergabung kalian, bekankah seharusnya Kamu mengkhawatirkan dirimu sendiri? "
"Yaah, itu karena ada beberapa, bagaimana menyebutnya, keadaan khusus akhir-akhir ini?"
Ekspresi kecewa terlihat di wajahnya.
"Belakangan ini, Oath Legion, dan Sky Legion khususnya, menjadi jauh lebih haus darah dari biasanya. Rasanya sedikit berbahaya, jadi aku berusaha untuk tidak terlalu lama di dalam labirin. Tapi aku tidak terlalu yakin apa penyebabnya. "
"Aku dengar baru-baru ini mereka bertemu dengan Void Beast jenis baru. Malah sampai memakan korban. "
"Jadi itu sebabnya. Itu menjelaskan sikap serius: satu hal yang tidak bisa mereka biarkan adalah tercorengnya reputasi mereka. Tapi Itu tidak ada hubungannya dengan petualang lepas seperti kita. "
Franka dan Tina menaruh batu cahaya di meja.
"Aku akan mengambil batu-batu cahaya ini. --Oh, Juga, pedang pendek yang biasa ku pakai sudah rusak. Seingatku Kamu memiliki reliquia kelas tiga yang cukup baik, kan? Yang berwarna perak. Apa aku boleh melihatnya? "
"... Oh, yang itu. Maaf, yang itu sudah terjual. ​​"
Tepatnya, itu telah dilahap - oleh Tina, beberapa hari sebelumnya saat mereka melakukan percobaan.
"Oh, sayang sekali. Aku tidak berpikir orang lain bahkan tahu tentang tempat ini. Apakah Kamu memiliki pelanggan baru akhir-akhir ini? "
"Aku harap ..."
Pelanggan tidak datang karena tokonya tapi sebagian besar datang karena penjaga tokonya, jadi saat Boris meninggal, begitu pula keadaan tokonya. Sampai saat ini, Yuuki belum bisa mendapatkan cukup pelanggan baru untuk mengisi kesenjangan tersebut. Bagi siapapun yang melihatnya, hal itu memang sudah sewajarnya karena jika melihat dari kemampuan dalam mengelola toko, dia masih muda dan kurang berpengalaman.
Satu-satunya alasan dia bisa bertahan sejauh ini adalah berkat pelanggan tetap toko - seperti Alfred - yang sudah sering mengunjungi toko sejak era Boris. Bahkan saat dia merasa sangat berterima kasih  atas bantuan mereka, dia dipenuhi dengan rasa bersalah atas ke tidak mampuannya.
"Bagaimana kalau aku mengambil beberapa pedang yang ku miliki untuk kamu lihat-lihat?"
Tepat saat Yuuki mengajukan saran itu untuk menghilangkan suasana suram itu, pintunya tiba-tiba terbuka.
"Permisi."
Dengan kata-kata itu, sekelompok petualang memasuki toko.
Itu adalah kelompok beranggotakan lima orang. Di armor mereka jelas terukir sebuah lambang yang sangat mencolok. Itu adalah lambang yang menanakan bahwa mereka melayani Shinki langit - Sky Oath Legion.
Sosok yang di depan adalah seseorang yang dia tahu - Stefan Klose.
Yuuki mengerutkan keningnya. Franka membeku saat melihat siapa orang itu.
Stefan melihat sekilas pada franka sebelum berjalan mendekat dan bediri di depan Alfred.
"Lama tak bertemu."
Meskipun suaranya lantang dan jelas, anehnya tidak terasa adanya emosi.
"... Ah. Stefan. "
Alfred membalas salam itu, meskipun sedikit enggan. Sepertinya mereka saling mengenal.
"Aku melihatmu datang ke sini. ... Ada sesuatu yang ingin kubicarakan. "
"Jelaskan dengan singkat."
Alfred mengeluh, menunjukkan jelas ke tidak tertarikannya. Mereka berdua berjalan ke sudut toko dan mulai berbicara.
"--Franka? Ada apa? "tanya Tina pada Franka, yang membeku dengan ekspresi kosong di wajahnya.
Franka kembali tersadar dan tersenyum.
"Tidak apa-apa, maaf. Sepertinya segini sudah cukup batu cahanya. Ayo kita kembalikan sisanya ke gudang."
Kedua gadis itu mulai mengumpulkan sisa batu cahaya.
Anggota Oath Legion, kecuali Stefan, dengan acuh melihat barang dangan toko di sekitar mereka. Tidak terlihat sedikitpun minat untuk mebeli. Karena memang tidak mungkin ada sesuatu yang cukup berharga untuk menarik perhatian petualang garis depan di rak-rak itu.
Apa mereka tidak bisa segera menyelesaikannya? Yuuki mengeluh dalam hatinya.
Pada saat itu—
"Ah--!"
Tina tiba-tiba berteriak.
"Kamu, Aku ingat kamu! Bahkan setelah Tina menyelamatkanmu, kamu melarikan diri tanpa sedikitpun ucapan terima kasih! Tidak tahu diri juga ada batasnya, tahu ?! "
Orang yang dia tunjuk adalah seorang pria dengan tampang garang, berusia 25 tahun. Peralatannya menunjukkan kalau dia pengguna pedang. Sikap malasnya berubah menjaid ekspresi marah dan dia berteriak menjawabnya, "Ngomong apa kau, dasar bocah tolol? Aku belum pernah melihatmu-- "
"Tidak! Tina ingat! Saat di labirin -- urgh! "
Yuuki segera berlari dan membungkamkan tangannya ke mulut Tina. Dia tersenyum ‘ramah’ sambil bergulat dengan gadis muda yang terus memberontak itu.
"Ya ampun, mohon maaf. Kepala gadis ini memang tidak terlalu sehat, aku harap kamu tahu apa yang kumaksud. Kadang-kadang dia akan membuat orang- orang bingung dengan berkeliaran sambil mengatakan hal-hal yang sangat gila. "
"--Dia bekerja di toko ini, kan? Kamu harus mendidiknya dengan lebih baik! Bodoh. "
Pria itu mendecakkan lidahnya marah, dan menendang dinding di dekatnya.
Sepertinya masalahnya sudah terselesaikan, Yuuki menghela napas lega-- Sampai seseorang kembali menyalakan api* itu dengan semangatnya.
TN: Klo d tempat ane namanya ‘ngomopor-ompori’, tapi ane  bingung jelasinnya dimana.
"Ho? Ada apa? Bertolt, jangan bilang kamu melakukan sesuatu pada anak kecil itu? Seleramu cukup bagus - melarikan diri terbirit-birit saja tidak cukup untukmu kan, si pengecut?"
Kelompok ini tampaknya tidak memiliki semagat persatuan, menjelek-jelekkan satu sama lain dengan kasarnya.
Penghasut itu adalah seorang pemuda berkulit gelap dengan pedang besar di punggungnya.
Yang sedang dihina - yang sepertinya bernama Bertolt - meraih pedang di pinggangnya dengan ekspresi marah terlihat jelas di wajahnya.
"Kau mencoba menghinaku, Jahar ?!"
"Terus kenapa?"
Dan orang yang bernama Jahar itu hanya tertawa saat menjawabnya.
"Hei, kalian berdua--"
Tolong hentikan, Yuuki hampir menangis. Jika mereka bertarung di sini, takkan ada yang tersisa dari toko miskin ini.
Tiba-tiba, hembusan angin terasa melewati telinganya.
Sebuah cahaya perak terayun di antara Bertolt dan Jahar, meninggalkan lubang di dinding.
"Kalian berdua - jaga mulut kalian. Sikap kalian adalah aib bagi seluruh Legion. "
Kata-kata dingin dan tanpa emosi itu tentu saja berasal dari Stefan, yang tiba-tiba saja memegang sebuah tombak berwarna biru.
--Tidak hanya dia tidak memegang apapun sebelumnya, dia bahkan tidak terlihat memiliki senjata di pinggang maupun di punggungnya.
Setelah memastikan bahwa Bertolt dan Jahar telah melakukan perintahnya, dia melambaikan tangannya dan tombak itu menghilang tanpa jejak.
Pemimpin kelompok mereka itu sepenuhnya mengendalikan keadaan ini. Meskipun dia terlihat menjadi yang termuda dalam kelompok itu, tapi dia menunjukkan kemampuan kepemimpinan yang jauh melebihi kemampuan anak seusianya.
Tatapannya kembali ke Alfred.
"Berhenti buang-buang waktu di tempat seperti ini. Kembali ke tempatmu yang seharusnya. Niali dari seorang petualang bukan dari usaha maupun proses, tetapi hasil. Melatih mereka yang tidak berpengalaman itu hanya buang-buang waktu. –Cepat sadarlah, Alfred. "
Stefan kemudian berbalik untuk pergi.
"Hei, tunggu dulu, Legioner."
Yuuki memanggil dari belakangnya. Dia menunggu sampai Stefan berbalik untuk menatapnya sebelum melanjutkan.
"Kalian membuat lubang di dinding tokoku - jangan bilang kamu hanya akan meninggalkannya begitu saja?"
"... Ah maaf," kata Stefan, terkejut. "Tapi aku harus mengatakan kalau menurutku lubang seperti itu takkan terlalu berpenganruh dengan nilai tempat ini."
Tapi dia tetap meletakkan sebuah koin perak ke tangan yang diulurkan Yuuki.
Masalah sekarang terselesaikan, semua kelompok itu keluar dari toko.
"Maaf tentang itu. Aku sudah mengganggumu. "
Alfred memecah keheningan dengan tertawa pahit.
"Benar sekali, Paman. Aku tidak tahu kalau kamu punya hubungan dengan Oath Legion? "
"Dulunya."
Alfred enggan berbicara lebih jauh, dan Yuuki bahkan tidak tertaruk untuk dengan hal itu.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHH! –Mereka sangat tidak sopan!"
Menggantikan mereka, Tina megnisi keheningan itu dengan teriakan.
"Master juga! Kenapa kamu mau menerima uang kotor mereka? "
"Aku menjalani hidupku dengan menerima apa pun yang orang lain berikan." Yuuki mengangkat bahunya.
Seperti kata Stefan, bukan berarti lubang seperti itu akan mejadi masalah besar, tetapi mengingat gangguan yang mereka sebabkan, Yuuki tidak bisa membiarkan mereka pergi begitu saja.
"Tapi, yang lebih penting, lebih baik untuk tidak memicu kemarahan Oath Legion. Tidak ada yang bisa kita lakukan, "Franka mencoba menenangkan Tina, meskipun semua orang bisa melihat senyumnya itu dipaksakan.
Ah ya-- Gadis ini berikap sangat aneh saat mereka datang, Yuuki tiba-tiba teringat. Franka kelihatannya kembali serperti biasanya, tapi ada apa sebenarnya ...
"Apa kamu tidak marah, Franka? Mereka menyebutmu tidak berpengalaman! "
"Jika dibandingkan dengan mereka, memang benar kalau levelku lebih rendah ..."
Franka adalah petualang kelas empat. Stefan adalah kelas satu, dan anggota kelompoknya adalah kelas tiga. Kota ini bisa bertahan karena bantuan dari Oath Legions yang terus mengumpulkan reliquia dari Labyrinth. Oleh sebab itu, itu memberikan mereka posisi yang sangat tinggi bahkan melebihi awan di langit.
"... Terus, paman, apa perlu apa mereka denganmu?"
"Oh, sepertinya ada korban lain. Void Beast yang sama, rupanya. Mereka bertanya apa yang aku tahu tentang kejadian itu. Penjelajahan mereka sepertinya sedang mengalami titik buntu, jadi mereka terpaksa meminta bantuan petualang kelas atas untuk mencari informasi. Aku rasa kejadiannya terjadi di sekitar lantai enam puluhan. "
Sudah ada rencana untuk memburu dan membasmi Void Beast itu, tapi apakah mereka memahami atau tidak tentang karakteristik dan pola serangan saat mereka menyerang itu lain lagi ceritanya. Untuk itu, mereka akan mencari setiap informasi yang bisa mereka dapatkan agar tidak terkejut nantinya.
"Aku sudah lama tidak pergi ke lantai yang lebih dalam, jadi aku tidak bisa memberikan apa yang mereka inginkan. --Oh, ngompng-omong, salah satu dari mereka bernama Bertolt, kan? Dia adalah pemimpin dari kelompok yang hampir dimusnahkan sebelumnya. Dari apa yang dia katakan, Void Beast itu berbentuk humanoid, dan bisa menggunakan skill yang sangat mirip dengan Orisons -. keamampuan yang belum pernah ditemukan sampai sekarang "
"Bertolt ..." gumam Franka.
Alfred mengerutkan keningnya, dan berbalik mentapnya.
"... Ah, sudahlah. Tidak ada apa-apa; tolong lanjutkan. "
"Apa kamu yakin? --Yaah, yang jelas, setelah Void Beast humanoid itu melihatnya, makhluk itu tersenyum. Jika apa yang dia katakan itu benar, maka itu berarti makhluk itu memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi."
Seekor Void Beast dengan tingkat kecerdasan yang setara dengan yang manusia belum terlihat. Jika ini benar-benar terjadi, itu akan menjadi masalah besar.
"Bertolt bergabung denga kelompok Stefan dalam persiapan untuk menyerang Void Beast itu. Bagaimanapun juga, hal ini tidak ada hubungannya dengan kita. Tidak usah khawatir, "Alfred bercanda sambil tersenyum.
--
"... Ada apa denganmu?" tanya Yuuki pada Tina, setelah Alfred dan yang lainnya telah pergi.
Dia menjadi terlihat marah seperti sebelumnya.
"--Tina berusaha untuk menyelamatkan mereka," jawabnya.
Dengan ekspresi marah di wajahnya, dia mulai menjelaskan.

※※※

Di dalam inti ruang labirin yang sangat luas tumbuh sebuah pohon besar. Tina terbangun dalam lubang yag terdapat di pohon itu.
Keluar dari tempat lahirnya alam, dia melihat dan mengamati area di sekitarnya. Lantai dan dinding ditutupi dengan tanaman, dengan sesuatu yang tampak seperti sebuah monumen batu besar di sudut pertemuan dinding. Selain dirinya, di ruangan tersebut tidak ada gerakan apapun.
Dia, yang baru saja merasakan keberadaannya, tidak memiliki apapun selain pakaian yang di pakainya.
Tapi dia tidak putus asa, karena ia dipenuhi dengan pengetahuan tentang identitas dan tujuannya.
Hal pertama yang harus dia lakukan adalah memanggil Duelist yang melayaninya. Karena Shinki tidak bisa melukai orang lain, mereka membutuhkan seorang penjaga.
Dia akan melakukan perjalanan ke solitus, dan mengalahkan musuhnya.
Menutup matanya, ia mulai memusatkan kekuatan suci yang dia miliki di dalam dirinya.
--Pada saat itu.
Konsentrasinya terganggu. Dia mendengar permohonan bantuan – sebuah doa pada Shinki.
Untuk sesaat dia ragu.
Tidak dia tidak punya waktu untuk menunggu proses pemanggilan selesai. Dia segera pergi ke tempat itu. Bahkan jika itu akan menguras setiap tetes  kekuatan sucinya, dia akan menyelamatkannya.
Karena dia adalah, Shinki - pelindung kota dan penduduknya.

※※※

“Pada saat Tina berpindah kesana, Void Beast kadal raksasa sudah membunuh beberapa orang. Walaupun aku cukup takut, aku pikir setidaknya aku harus menyelamatkan salah satu dari mereka, tidak peduli bagaimanapun caranya. -Aku berhasil tepat waktu untuk mengunci Void Beast itu, memindahkannya ke suatu tempat yang jauh. Aku akhirnya merasa lega; Aku akan baik-baik saja jika aku membiarkan kekuatan suciku pulih sedikit demi sedikit. Hal yang paling penting adalah bahwa aku, seorang Shinki, yang dibutuhkan oleh orang-orang- telah menyelamatkan seseorang. Aku sangat senang."
Penuh dengan sukacita, Tina tersenyum. Selebihnya dia hanya perlu untuk menemani pria yang telah diselamatkannya itu kembali ke kota.
Sayangnya, namun ... Kejadian yag tak terduga terjadi. Bertolt pikir Tina adalah Void Beast, dan segera melarikan diri.
Tina telah menghabiskan cadangan kekuatan sucinya, dan diabaikan oleh seseorang yang telah diselamatkannya, dia berkeliaran di labirin, dan tersesat. Tentu saja dia tidak dalam bahaya, tapi dia masih rentan terhadap kelelahan dan kelaparan. –Dan akhirnya dia kehabisan tenaga.
"Dan kemudian aku menemukanmu. Jadi begitu. "
Hilangnya lengan Bertolt – karena kesalapahaman yang menyebar - telah salah dikaitkan dengan Tina. Fitnah yang mengerikan.
"Itulah kenapa! –Itulah sebabnya Tina sangat marah! Mereka sangat tidak tahu rasa terima kasih! Kamu mengerti, kan, Master ?! "
Bahunya gemetar saat ia menarik napas dan matanya menatap langsung pada Yuuki.
"Mm, ya. Aku mengerti. Itu sebabnya kamu marah. Kamu sudah melakukan hal baik. "
Yuuki merenungkan sejenak sebelum melanjutkan.
"Tapi ini benar-benar sebuah kesalahpahaman yang parah. Aku tidak berpikir dia punya niat buruk. "
Bahkan jika si Bertolt itu bukanlah seseorang denga sikap mulia ... hal ini  tidak dilakukan dengan niat buruk.
"Jadi, apakah kamu mengatakan bahwa Tina yang salah, Master?"
"Kenapa kamu harus menganggapnya begitu? Aku hanya berpikir bahwa kemarahanmu takkan mengubah apa pun. Ada banyak sudut pandang dalam melihat sesuatu di dunia, dan tidak semua orang menilai sesuatu dengan cara yang sama. Itu sebabnya kesalahpahaman dan pertengkaran sering terjadi - terutama di tempat yang padat dengan penduduk seperti kota ini. Hal seperti itu selalu terjadi. "
"Mm ..."
"Jika kamu marah setiap kali seseorang salah paham padamu, maka kamu takkan pernah memiliki waktu untuk melakukan hal lain. Jika kamu tidak ingin pernah berurusah dengan mereka lagi, lebih baik lupakan saja hal itu. Itu adalah hal terbaik yang bisa kamu lakukan. "
Bagaimana pun juga, bukan seperti adanya kewajiban untuk meluruskan kesalahpahaman. Jika berkaitan dengan Void Beast jenis baru, anggota elit Oath Legion nantinya juga akan mengetahuinya. Tina, juga sudah belajar sesuatu tentang cara bermasyarakat. Hal ini berakhir cukup baik.
--Atau setidaknya itu yang dia pikir saat itu.

Samayou Shinki no Duelist Jilid 1 - Bab 2 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: h kim

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.