22 November 2015

Owari no Seraph Jilid 1 Bab 5 LN Bahasa Indonesia

Info dari penerjemah:
Terima kasih sudah membaca. Bab 5 ini, Guren masih aja begitu, ya? Btw untuk bab 6, diposting tanggal 29 November, ya. Jika memungkinkan sebenarnya bulan ini ingin selesai jilid 1. Hehehe. Jadi dukung terus KimiNovel, ya :3 Oh, ya, kalau mau, sapa dan beri dukungan pengarang Owari di twitternya. Beliau orangnya ramah >,< 


==============================


OWARI NO SERAPH JILID 1
BAB 5
PERANG DAN SUPERMARKET

 “Nah, nah, besok akhirnya, dimulailah minggu Ujian Seleksi Sihir!”
Ujar guru perempuan seraya menulis di papan tulis.
Yang dimaksud Ujian Seleksi Sihir, adalah itu. Ujian dimana sesama murid akan bertempur secara langsung, dan menentukan siapa yang unggul di antara mereka.
Tentu saja, hasil dari pertempuran ini tidak akan menentukan nilai secara keseluruhan.Tetapi, karena ujian ini adalah ujian yang hasilnya sangat diperhitungkan, seluruh murid yang mendengarnya pun menjadi sangat gembira dan antusias.
Dan, Shinya yang duduk disebelah Guren pun berkata.
 “Wah, enak banget, ya .... Orang yang nggak akan dikeluarkan meskipun enggak tarung serius, bisa santai-santai, nih.”
Guren lantas menatap ke arah Shinya dan membalas.
“Orang yang bisa membunuhku hanya dengan sekali pukul, sepertinya enggak sabar ikut, ya?”
“Haha, itu sih, karena kau nggak menghidar. Lagian, apa benar, kau enggak bisa menghindari seranganku?”
Shinya lalu melihat ke arah Guren, dan melanjutkan perkataanya.
“Kalau kau menerima serangan itu, kau ini benar-benar bodoh atau jangan-jangan ...... “
“Sampah tanpa kekuatan? Kuberitahu, ya .... Aku ini si sampah tanpa kekuatan. Kau ini terlalu percaya dengan kekuatanku.”
“Wah, orang yang bisa bilang begitu ke diri sendiri, mengerikan, lo. Yah, tapi itu pendapat dari pengalaman pribadiku sendiri, sih.”
“Kau ini terlalu waspada. Ah, ya, ya. Apa kau kira akan ada monster yang bisa mengimbangimu bertarung? Kau ini anak yang dipilih KeluargaHiiragi— Ah, bukan. Kau ini anak yang dipilih menjadi pasangan Mahiru, kan?”
“ ................. “ Shinya hanya terdiam.
“Tapi, aku ini tidak dipilih. Dan karena itulah, seharusnya tidak ada satupun hal dalam diriku yang bisa membuat kau tertarik padaku, kan. Benar bukan?” Ujar Guren
Shinya pun tertawa mendengar hal itu.
“Kalau itu bukan akting, kau ini benar-benar orang yang berpikiran negatif ke dirimu sendiri, ya.”
“Bawaan sejak lahir.”
“Haha. Apa, sih, yang disukai Mahiru darimu yang seperti ini, ya?” ujar Shinya keheranan.
Guren yang mendengar hal itu lantasmenatap ke arah Shinya. Kemudian, ia kembali melihat ke arah sang Guru.
Sang Guru masih tetap menjelaskan tentang Ujian Seleksi Sihir.
Penjelasan mengenai, jangan sampai ada satupun dari kelas ini yang kalah dalam ujian tersebut, karena berdasarkan jumlah murid yang kalah di pertarungan, maka penilaian terhadap guru juga akan berubah. Juga penjelasan mengenai agar semuanya berusaha.
Lalu Shinya melanjutkan perkataanya.
“Ah, ngomong-ngomong, katanya kau bertemu Mahiru, ya?”
“ ................ “
“Terus, bagaimana? Bisa akrab sama dia?”
Guren pun menjawab pertanyaan itu tanpa melihat ke arah Shinya.
“Enggak juga.”
“Ah, kau enggak perlu sungkan kepadaku. Aku memang tunangannya, tapi aku ini bukan pacarnya, kok.”
“ ...................”
“Ngomong-ngomong, setelah bertemu denganmu, tumben-tumbennya dia jadi kesal. Ceritakan padaku, dong, apa yang terjadi?”
Sepertinya setelah kejadian di UKS, Mahiru bertemu dengan Shinya.
Guren hanya menjawab seraya tertawa mendengar pertanyaan itu.
“ .... Dia kecewa karena aku begitu lemah.”
Shinya lantas melihat kearah Guren dan tercengang.
“Ternyata kau ini memang orang yang suka berpikir negatif ke dirimu, ya.”
“Oh, iya, kah? Kalau kau nggak suka, kau nggak perlu mengajakku ngobrol lagi, kok.”
“Haha.”
Shinya pun hanya tertawa dengan rasa terkejut. Guren hanya mengacuhkannya.
Guru wali kelas pun kembali menulis di papan tulis.
“Pastikan, kalian tidak akan sampai kalah dari siswa di kelas lain! Sekian!”
Kemudian, bel tanda berakhirnya bimbingan dari guru wali kelas pun berbunyi. Dan para siswa pun serentak berdiri. Ada yang langsung pulang. Ada yang berbicara dengan teman. Ada yang bertugas membersihkan ruang kelas. Di sekolah ini tidak ada kegiatan klub. Hal itu karena, jika mereka memiliki waktu luang untuk melakukan hal itu, maka lebih baik waktu itu digunakan untuk melatih atau belajar ilmu sihir.
Karena kelas sudah selesai, maka Guren pun mengambil tas yang ia gantungkan di sisi mejanya, dan beranjak berdiri. Shinya yang ada di sebelahnya berkata,
“Ah! Mau pulang sama-sama?” ajaknya.
“Mati sana!” tolak Guren dengan penuh keramah-tamahan.
Guren lalu melihat ke arah pintu keluar. Di sana sudah ada kedua pelayannya. Guren bisa melihat bagaimana kedua pelayannya berusaha untuk menyembunyikan diri mereka secara diam-diam.
Sayuri lalu menemukan dirinya.
“Ah ... ah! Tuan Guren!” ujarnya seraya melambaikan tangan.
Shigure yang berada di sampingnya berkata,
“Hei, kan, sudah dibilang ... kalau kau mencolok begitu, kau akan dibunuh. Nanti kau kena marah lagi, lho.”
Shigure berusaha mencegah Sayuri semampu yang ia bisa. Ia pun lantas melihat ke arah Guren dan menundukkan kepalanya, memberi permintaan maaf. Keduanya pun menjadi sangat mencolok.
“Nanti kumarahi mereka ...” gumam Guren.
Juujou Mito yang berada di dalam kelas pun melihat ke arah mereka dan berkata.
“Dasar. Keluarga Ichinose benar-benar pengecut, ya. Sampai-sampai membawa dua pelayan wanitanya kemari.”
Murid-murid yang ada pun tertawa mendengar ucapan Mito.
Goshi Norito pun lalu ikut bicara.
“Ya, benar... benar sekali. Mana cantik-cantik semua, pula.Ngomong-ngomong, kenali aku ke mereka, dong,” Ujar Goshi sambil mendekat ke arah Guren.
Dan wajah kebingungan pun terlihat pada murid-murid yang mendengar pekataan itu. Bingungantara apakah mereka boleh menertawakan hal itu atau tidak.
Di kelas ini, Hiiragi Shinya, Juujou Mito, dan Goshi Norito adalah tiga orang yang berasal dari keluarga terpandang, dan juga merupakan empat terbaik di kelas.
Satu orang lagi yang merupakan terbaik di kelas adalah anak perempuan yang berasal dari keluarga Sangu. Namanya Sangu Aoi. Namun, karena dia adalah gadis yang sangat pendiam, maka begitu jam pelajaran berakhir, dia akan langsung pulang.
Mengesampingkan kenyataan mengenai Sangu Aoi, ketiga orang yang berasal dari keluarga terhormat dengan kekuatan yang hebat, entah mengapa menjadi sangat teramat dekat dengan Guren. Oleh karena itulah, murid-murid yang lainnya, kini menjadi kebingungan harus bersikap seperti apa.
Tentu saja, sikap dari murid-murid kelas lain, sikap dari kakak kelas, juga sikap dari para guru terhadap Guren tidak berubah dari sejak awal ia masuk ke sekolah ini. Oleh karena itulah, jumlah kebencian terhadapmya tidak berkurang.
Goshi mendekati Guren dengan wajah santainya seperti biasa.
“Hei, hei ... Ichinose. Apa kau pacaran dengan salah satu pelayanmu itu?”
Tanya Goshi kepada Guren. Guren pun lalu melihat Goshi.
“Apa-apaan, nih. Bukannya kalian tidak mau berteman dengan orang dari keluarga Ichinose yang kotor?
“Cewek cantik beda cerita.”
“Pikiran macam apa itu.”
“Sudahlah, katakan saja. Mereka itu, “itu”, kan? Pelayanmu langsung, kan? Artinya, ya, itu kan? Mereka juga melakukan pekerjaan malam semacam itu, kan?”
Spontan wajah Mito menjadi sangat merah, dan marah.
“Oi, Goshi si cowok mesum! Bisakah kau berhenti membicarakan hal mesum seperti itu di dalam kelas!?”
Dan Sayuri yang berada di luar kelas pun melanjutkan perkataan Mito,
“Be-benar sekali! Tolong hentikan pembicaraan aneh yang tidak benar itu! Tuan Guren belum menyentuh saya sama sekali, tahu!”
Dengan wajah dan nada yang marah, Sayuri berkata demikian.
Dan mendengar hal itu,
“ ...................... “
Dalam sekejap seisi kelas pun menjadi hening.
Dan Goshi pun terkejut mendengar hal itu.
Mito menatap tajam ke arah Guren dengan tatapan seakan dia melihat binatang buas yang berbahaya.
Setelah tetawa seakan menikmati semua hal itu, Shinya pun berkata.
“Oioi, Guren. Boleh, nih, kalau Mahiru tahu pembicaraan barusan?”
Mendengar itu, Guren yang wajahnya menunjukkan rasa cukup kesal dengan semua kejadian ini, hanya bisa menarik napas dan berjalan.
“Haah ... sudahlah, aku pulang saja.”
Menanggapi hal itu, Goshi berkata dari belakang Guren,
“Oi, Ichinose. Kau ini licik sekali, sebagai penyandang status keluarga Ichinose. Masukkan aku  jadi kawan main perempuanmu juga, dong”
Ujar Goshi yang hanyadiacuhkan oleh Guren.
Guren keluar dari ruang kelas.
Shigure mendongak ke arahnya,
“Anu, Sayuri pasti akan saya tegur—“
“Itu harus.”ujar Guren.
Sayuri yang mendengar itu pun,
“Kok? Kenapa?”
Ujar Sayuri dengan wajah kebingungan sambil melihat-lihat ke arah Guren dan Shigure. Namun keduanya hanya mengacuhkannya dan beranjak pulang.
Tetapi, sejak Guren keluar kelas dan berjalan di koridor, ia sudah mempunyai firasat bahwa dirinya tidak akan mungkin pulang dengan mudah.
Itu karena Guren tahu, bahwa di seberang koridor ini ada hawa membunuh kuat yang diarahkan kepadanya.
“ ................ “
Tetapi, Guren berpura-pura tidak sadar dengan keberadaan hawa membunuh itu. Sampai kapan pun, ia akan terus berpura-pura seakan dirinya adalah sosok yang lemah, tidak punya kekuatan, dan juga bodoh.
Tentu saja, kedua pelayannya pun menyadarinya. Baik Sayuri maupun Shigure adalah orang yang memiliki kekuatan hebat, yang dilatih guna melindungi Guren.
Karena itulah, mereka pun bereaksi terhadap hawa membunuh itu.
Namun Guren yang melihat hal itu, memberi perintah dengan suara kecil,
“Jangan bergerak. Biar aku yang mengurusnya.”
“Eh? Tetapi..,”
Ujar Shigure yang berada di sisi kanan Guren dengan suara terkejut, menatap ke arahnya.
Namun, bersamaan dengan saat itu sebuah tendangan dari seseorang sudah menghantam muka Guren dari sisi kanan.
“Ugh!”
Teriak Guren, sambil terjatuh dengan konyolnya ke lantai. Dia pun terguling-guring. Kemudian, seraya memengang wajahnya yang terkena tendangan, dia mengangkat wajahnya. Menatap ke arah orang yang melepaskan tendangan ke arahnya.
Dan dilihatnyaseorang laki-laki dengan beberapa orang yang menjadi pengikutnya.
Laki-laki berambut cokelat, dengan mata kecil bagaikan ular. Di bibirnya terpasang tindik. Laki-laki itu melihat ke arah Guren dengan wajah yang meremehkannya, dan berkata.
“Ah, maaf-maaf ... tadi aku terpeleset.”
Dan spontan para perikut laki-laki tersebut pun tertawa.
Melihat itu, Shigure pun,
“Berengsek, kau!”ia maju ke depan dengan sangat marah. Dilepaskannya pukulan ke arah laki-laki dengan tindik di bibirnya itu.
Guren bermaksud untuk menghentikan hal itu, namun sebelum ia berhasil menghentikannya, murid perempuan yang berada di belakang laki-laki itu, berhasil menangkap kepalan tangan Shigure.
Shigure terkejut mendapati hal itu. Tentu saja dia tekejut. Gerakan pukulan yang dilakukan Shigure barusan, termasuk sebuah gerakan yang cepat.
Namun, murid perempuan itu berhasil menghentikan gerakannya. Murid perempuan itu pun kemudian berkata.
“Oi, kau! Apa kautahu, apa yang baru saja mau kau lakukan? Orang yang saat ini berada di sini ini adalah Tuan Hiiragi Seishirou, lho?”
Sepertinya, laki-laki dengan tindik di bibirnya itu, adalah laki-laki yang menyandang nama Hiiragi. Orang yang menyadang nama kehormatan dan berstatus tinggi, yang bahkan bisa disamakan dengan sosok dewa di sekolah ini. Murid perempuan itu pun melanjutkan.
“Jika kau sampai berani melayangkan pukulan ke arah Tuan Seishirou, maka hukuman mati akan—“
Perkataan murid perempuan itu dipotong oleh Seishirou.
“Sudahlah, Yumi. Lagian berbicara dengan bahasa manusia ke orang-orang bodoh dari Ichinose tidak akan nyambung. Hewan ternak seperti mereka perlu dilatih dengan pukulan,”ujar Seishirou seraya mengangkat tangannya.
Shigure beraksi melihat hal itu. Dia berusaha menghalau ayunan tangan Seishirou, namun,
“Haha, lamban sekali,  gadis mungil.” Kepalan tangan Seishirou jauh lebih cepat dari Shigure.
Dan bisa dikatakan,  kecepatan gerakan Seishirou jauh lebih unggul daripada Shigure.
“Sial.”
Guren pun bangkit, dan bermaksud untuk menghentikan kepalan tangan Seishirou yang mengarah ke arah Shigure. Namun, gerakan kepalan tangan itu terhenti.
Dari samping, seseorang menahan lengan Seishirou yang mengarahkan kepala tangan itu.
Saat Guren melihat ke arah orang tersebut, ternyata yang menghentikan gerakan kepalan tangan Seishirou adalah Shinya yang baru saja keluar kelas.
Sambil masih memengang lengan Seishirou, Shinya berkata.
“Tuan Seishirou.... Jika di tempat seperti ini Anda sampai melayangkan pukulan kepada seorang gadis lemah, itu dapat menjadi gosip. Dan itu akan melukai nama baik keluarga Hiiragi.”
Seishirou pun kemudian menatap tajam Shinya.
“Wah? Kau ini. Kau kira bicara dengan siapa sampai berani berpendapat seperti itu, dasar anak pungut.”
“ ..... Maafkan saya. Tetapi,”
Seishirou lantas menarik lengannya dan mengepalkan tangannya. Sekali lagi diayuhkannya kepala tangan itu. Dan yang dihantamnya ada wajah Shinya.
Shinya tidak mengelaknya. Dari bibir Shinya pun mengalir tipis darah dengan warna gelap.
Seishirou tertawa melihat hal itu.
“Hahaha, keputusan yang bagus. Kau itu tidak akan bisa menang dariku.”
“ ............... “
“Karena kau bisa membuat keputusan semacam ini, maka kau dipilih jadi pasangan Mahiru oleh Ayah. Ingat itu baik-baik.”
“ ........... Baik.”
“Dan satu lagi. Karena kau sekelas dengannya, beritahu aku. Apa si tikus dari Ichinose ini kuat? Di petarungan ke dua Ujian Seleksi Sihir nanti, aku akan berhadapan dengannya ..... “
Sepertinya itulah alasannya.
Alasan mengapa Seishirou datang ke sini. Sebelum ujian, dia ingin mencari tahu apakah Guren itu kuat atau tidak.
Shinya pun menjawab pertanyaan itu.
“ ..... awalnya, saya juga beranggapan jangan-jangan dia punya kekuatan .... Itu karena saya merasa curiga.Jika dia adalah orang yang menjadi penerus keluarga Ichinose, maka dia pasti mempunyai semacam tingkat kekuatan tertentu, tetapi .... “
“Hem”

Lalu Shinya memandang ke arah Guren yang masih terduduk di lantai. Dengan tatapan mata yang kejam dan dingin,
“Dan sepertinya saya berlebihan dalam menilainya. Dia ini hanya sampah yang hanya bisa diam saja saat pelayan perempuannya hendak di pukul .... dan juga saat temannya terluka. Yah, pantas saja, karena dia ini hanyalah orang dari marga level dua yang gagal.”
Ujar Shinya yang diarahkan kepadanya.
Seishirou tertawa mendengar itu.
“Haha, apaan, tuh? Akhirnya tetap sama saja. Keluarga Ichinose itu isinya sampah semua. Aku dengar saat ayahnya bersekolah di sekolah ini, ayahnya juga berjalan di lorong ini sambil gemetaran ..... dan kau pun sama.”
Para pengikut Seishirou tertawa mendengar hal itu.
Dan lagi, teman sekelasnya yang keluar dari kelas pun, menertawakan Guren. Mungkin ini karena sikap Shinya yang berubah, sehingga akhirnya mereka tahu harus bersikap apa kepada Guren.
Seshirou membalikkan langkahnya.
“Ah, sudah cukup, ah. Membosankan. Kalau dia lemah, aku jadi kehilangan niat untuk menganggunya. Ayo, pergi.”
Dan sekali lagi murid-murid menertawakannya.
Mereka menertawakan betapa lemah dan tidak bergunanya keluarga Ichinose.
Goshi yang baru keluar dari kelas pun, menatap ke arah Guren yang masih terduduk di lantai dengan tatapan penuh kasihan.
“Wah, wah, wah. Kau sekarang benar-benar jadi sampah, ya. Kau tidak bisa melindungi seorang wanita yang dalam bahaya. Itu tidak boleh, lo.” Ujar Goshi.
Jujou Mito pun menambahkan,
“ ..... kamu bahkan tidak melawannya. Apa kamu tidak merasa menderita, mereka berkata begitu padamu?”
Mito bertanya padanya dengan wajah yang marah.
Tetapi, Guren hanya menjawab pertanyaan itu dengan wajah yang seakan kebingungan.
“ ...... dari rumah, aku diberitahu agar tidak melawan orang-orang dari keluarga Hiiragi—“
“Jadi, kalau mereka menyuruhmu untuk mati, kamu akan menurutinya dan mati!”
Teriak Mito dengan nada yang marah. Dan karena sepertinya ia sudah tidak lagi bisa menahan rasa marahnya kepada Guren, Mito pergi dengan kondisi demikian.
Guren hanya melihat Mito yang berlalu itu dengan samar-samar. Ia pun beranjak berdiri.
Dan pada saat itu, para murid yang tadinya berada di sekitar mereka pun mulai turut beranjak pergi. Murid-murid itu sudah kehilangan minat, karena kerusuhan sudah berakhir.
Hanya ada satu orang saja, selain Guren dan pelayannya di situ.
Hanya Shinya yang tetap di situ, melihat ke arah Guren dan berkata.
“Rasanya, kau ini benar-benar orang yang membosankan, ya.”
“ ................. “
“Padahal, aku masih sedikit berharap padamu.”
“ ...... jangan seenak sendiri berharap kepada orang.”
“Aa .... ya, benar juga, ya. Ini salahku, yang berharap ke orang tanpa kekuatan dan benar-benar seorang sampah.”
“ .................... “ Guren hanya terdiam.
“Ah, sudahlah. Jangan bicara padaku la—“
Guren menyela perkataan Shinya.
“Kan, yang mengajakku bicara itu, kau!”
Shinya lalu menatap Guren dengan tatapan dingin dan berkata.
“Ah, ya, benar juga, ya. Kalau begitu, bukan ke aku saja. Tapi kau juga jangan mendekat ke Mahiru.”
“ ...........”
“Kau tidak punya hak untuk itu. Lagipula, orang yang tidak punya keinginan kedepan dan juga kekuatan, seharusnya tidak bersekolah di sini. Orang yang tidak berusaha apapun ... seharusnya tidak bersekolah, di sekolah tempat Mahiru berada.”
Ujar Shinya panjang lebar ke Guren.
Orang yang tidak berusaha apapun ... tidak seharusnya berhadapan dengan Mahiru.
Guren pun, juga berpikir seperti itu.
Tidak, seharusnya orang yang tidak berkekuatan mendongakkan kepalanya. Di dunia ini, untuk mendapatkan apa yang kau inginkan, harus ada kekuatan.
Untuk dapat tertawa tanpa merasa beban apapun, juga harus ada kekuatan.
Dan kekuatan itu, masih belum ada.
Belum ada, dalam diri Guren.
Kekuatan yang sanggup menghancurkan keluarga Hiiragi, masihlah sangat belum ada dalam dirinya.
Karena itu, Guren berkata.
“Lalu, aku harus bagaimana agar kalian senang? Aku juga tidak bisa pulang ke rumah. Aku tahu, aku tidak punya tempat di sini. Tetapi aku dipanggil kalian kemari. Dan, kalau hal itu juga masih membuat kalian tidak senang, aku harus bagaimana agar kalian senang? Aku harus berbuat apa agar kalian menerimanya?”
Guren melontarkan kata-kata protes dengan berani.
Dia mencoba mengatakan ketidakmampuan dirinya.
Shinya lalu melihat ke arah Guren dengan wajah yang seakan di dalam hatinya dia telah merasa muak.
“ ................... “
Tetapi, Shinya tidak melakukan apapun.
Ia tidak berkata apapun, dan latas pergi mengalihkan punggungnya begitu saja.
Dan di koridor itu, kini hanya tersisa Guren, Shigure dan Sayuri saja.
Sudah tidak ada lagi yang akan menaruh rasa tertarik kepada Guren dan pelayannya. Ia hanya akan kembali menjadi ‘sampah’ biasa. Tidak lagi jugaberinteraksi dengan Shinya, Mito, dan Goshi. Dia akan kembali menjadi ‘tikus’ keluarga Ichinose yang kotor.
Shigure kemudian berkata.
“Ma-maafkan saya ... yang sangat lemah ini.”
Seakan penuh dengan rasa sesak, Sayuri kemudian melanjutkan perkataan Shigure,
“Te-tetapi, apakah Anda benar-benar harus menahan diri sampai seperti ini? Sebenarnya, Tuan Guren, kan—“
Namun,
“Sayuri!”
Dengan suara kecil, disebutlah nama gadis itu oleh Guren, dan dia berhenti.
Sayuri kemudian menunjukkan wajah seakania tengah berusaha sekuat tenaga menahan sesuatu. Namun, tanpa bisa menahannya, air matanya pun membasahi wajahnya.
“ ............... “
Guren pun menatap wajah itu.
Di situasi seperti ini, di mana pelayannya menangis karena Tuan yang dilayaninya diremehkan sampai seperti ini, Guren hanya bisa berkata,
“ ........ Maaf, ya.”
Sayuri pun dengan segera mengeleng-gelengkan kepalanya.
“A, a, ah ... Saya tidak menangis .... Ini karena, ada debu masuk ke mata .... “
Dan dari sebelah Sayuri, Shigure berkata dengan terkejut.
“Zaman sekarang, alasan seperti itu sudah tidak mempan, kan.”
“Eeeeeh, tapi.”
“Iya, iya. Aku tahu, kok. Tuan kita yang sangat berharga terus-terusan dihina. Aku juga merasakan apa yang kamu rasakan.”
“Yu-yuki-chan ....”
“Tapi, bertahanlah. Tuan kita yang jauh lebih menderita dari kita saja, tidak menangis. Jadi tidak baik kalau kita, pelayannya, menangis duluan, kan?”
“Eeeeeh, tapi ....”
“Akan kulaporkan ke keluargamu, lo?”
“Auh”
“Nah, berhentilah menangis. Karena kita ada di sini, untuk melindungi Tuan Guren, dan juga untuk menghiburnya.”
Dan, begitu Shigure selesai berbicara, wajah Sayuri yang masih menangis pun menjadi lega dan ceria.
“Ah, begitu, ya! Kalau begitu malam ini aku akan tidur bersa—“
“Bukan itu!”
Guren pun memukul kepala Sayuri dengan ringan.
“Aduh!”
Lalu, sambil memegang kepalanya, Sayuri tertawa kepada Guren.
“Tapi, yah ... Aku sudah cukupterhibur dengan sifat tangguh kalian. Nah, ayo kita pulang.”
Guren lalu menepuk punggung Sayuri, dan mulai berjalan.
“Baik!”  Jawab kedua pelayannya serentak.
Namun, di dalam benak Guren, kini telah berkembang pemikiran yang lain.
Pemikiran tentang laki-laki, yang baru saja ditemuinya tadi.
Hiiragi Seishirou.
Kemungkinan besar, dia adalah orang dari keluarga Hiiragi yang masih memiliki hubungan darah persaudaraan dengan Mahiru.
Guren tidak pernah mendengar cerita dari Mahiru, jika dia memiliki kakak kembar laki-laki. Namun, karena laki-laki itu ada di tingkat yang sama dengannya, kemungkinan besar laki-laki itu adalah saudara beda ibu dengan Mahiru.
Guren berpikir tentang Seishirou.
Tentang pergerakan Seishirou.
Ia mengingat lagi pertarungan yang terjadi antara Seishirou, Shinya dan Shigure.
Pergerakan Seishurou sangatlah tajam. Memang, hanya dengan gerakan yang sesaat itu, tidak bisa diketahui seberapa besar kekuatan Seishiro. Tetapi,
“Memang, keluarga inti itu luar biasa ... Itulah si Keluarga Hiiragi.”
Keluh kecil Guren.
“Nah, seberapa bergunanya, kah, kekuatanku di sini?”
Katanya, lawannya di pertarungan ke dua Ujian Seleksi Sihir, adalah orang yang bernama Hiiragi Seishirou itu.
Dan ujian itu, akan dimulai esok hari.
¨¨¨
Matahari mulai terbenam.
Kota pun diselimuti warna merah.
Dalam perjalanan pulang dari sekolah.
Di depan supermarket yang berada di dalam kota, di mana tidak begitu banyak orang di sana, Shigure dan Sayuri sedang berbelanja keperluan makan malam.
Selama menunggu Shigure dan Sayuri berbelanja makan malam, Guren menunggu diluar, seraya menyandarkan tubuhnya ke pagar luar supermarket. Guren pun melipat tangannya.
Dan di sana,
“Saitou-san! Saitou-san! Beneran boleh beli jajan apapun, nih?!”
Terdengar suara gembira dari anak laki-laki.
Guren pun lalu mengarahkan pandangnnya ke asal suara itu. Dan ternyata, dari asal suara itu, memang ada seorang anak laki-laki.
Anak laki-laki berparas cantik, dengan rambut berwarna pirang dan kulit putih bersih. Kemungkinan besar, anak itu bukanlah orang Jepang. Atau mungkin, dia adalah darah campuran.
Anak laki-laki itu tertawa dan berkata dengan wajah yang benar-benar terlihat bergembira.
“Beli apa, ya ... biar anak-anak panti asuhan senang? Anu, Saitou-san, kira-kira kalau aku beli eskrim, kepala panti akan marah tidak?”
Dan, orang di samping anak itu, yang dipanggil dengan Saitou-san menjawab.
“Bagaimana, ya. Apa di panti, ada lemari es—“
“Tentu saja ada.”
“Kalau begitu, tidak apa-apa. Kepala panti juga pasti akan mengizinkan membeli jajan, kok.”
“Horeee!”
“Nah, akan kuberikan uangnya, lalu pergilah ke supermarket. Apa kamu bisa membelinya sendirian? Mikaela-kun.”
Ditanya seperti itu, anak laki-laki yang bernama Mikaela tersebut,
“Tentu saja, dong! Saitou-san kira berapa usiaku? Aku ini delapan tahun, lo” jawabnya dengan tertawa.

Guren lalu melihat Saitou mengeluarkan lembaran uang 10.000 Yen, yang merupakan nominal terbesar dalam mata uang Jepang.
“Eh, sebanyak ini .... “ Ujar Mikaela terkejut.
Saitou pun hanya tertawa.
“Kan, mau beli buat semuanya.”
“Tapi, enggak apa-apa beli sebanyak 10.000 Yen”
“Enggak apa, enggak apa. Nah, pergilah sana “
“Oke! Tapi, kalau tahu akan membeli jajan sebanyak ini, seharusnya tadi aku ajak Akane-chan, ya”
Seraya berkata demikian, mata anak kecil yang bernama Mikaela tersebut terlihat sangat berbinar-binar, dan dia pun segera menuju ke supermarket.
Dan kemudian,
“ ................. “
Dengan masih melipat tangannya di depan dada, Guren melihat kejadian itu.
Dia pun lalu mengalihkan pandangannya ke pria yang disebut dengan Saitou itu.
Saitou mengenakan setelan pakaian berwarna hitam.
Mengenakan setelah pakaian berwarna hitam, yang mirip seperti yang dikenakan oleh pria yang menyerang Guren sepuluh hari lalu.
“ .................. “
Lebih tepatnya, pria bernama Saito itu adalah, orang suruhan Gereja Hyakuya yang berusaha saling bunuh-membunuh dengan Guren di elevator 10 hari lalu.
Guren lalu menatap pesuruh itu, dan berkata.
“Saitou? Bukannya kau bilang padaku namamu Kijima, ya?
Lalu, orang suruhan itu hanya tertawa cengengesan.
“Kalau di panti asuhan, aku menjadi Saitou-san yang baik hati”
“Oooh. Kalau begitu, Kijima itu nama aslimu?”
“Aku tidak punya nama asli”
“Jadi gampangnya, kau ini seorang pembunuh bayaran, ya?”
“Ya.”
“Lalu, di panti asuhan, kau berperan sebagai paman baik hati, ya?”
“Haha, ya begitulah. Nah, setelah kau tahu bahwa aku ini adalah paman yang baik hati, apa kau jadi tertarik mendengar cerita—“
“Enggak, tuh”
Dipotong perkataannya begitu saja, orang suruhan itu justru tertawa.
“Tapi yah, tolong panggil aku Saitou di sini. Atau nanti, jika Mika-kun dengar dia akan kebingungan,”ujar Saitou.
Guren pun lalu menatap supermarket, tempat di mana anak laki-laki bernama Mikaela itu pergi menghilang.
“Lalu? Kalian gunakan untuk apa, bocah macam dia?”
“Maksudnya?”
“Percobaan pada tubuh manusia Gereja Hyakuya sudah sangat terkenal, tahu. Jadi, jangan berpura-pura bodoh saat ini.”
“Wah, bukan seperti itu. Itu sebuah kesalahpahaman besar. Selama ini, Gereja Hyakuya, menjalankan panti asuhan Hyakuya sebagai sebuah organisasi kemanusiaan yang—“
“Lalu kau ini berasal dari mana?”
Tanya Guren kepada Saitou.
“Siapa yang membuat tubuhmu jadi seperti itu? Di mana kau bisa sampai jadi seperti itu? Kau tidak akan menjawab dengan berkata, itu karena kau dibesarkan dengan penuh cinta kasih-sayang dan dengan sehat oleh orang tuamu, kan?”
“ ................ “
Senyum Saitou hilang mendengar perkataan Guren. Dan tiba-tiba, dengan wajah yang sangat serius dia berkata.
“ ....... Ya, benar. Aku memang berasal dari Gereja Hyakuya .... Tetapi, aku sendiri yang menginginkan untuk mengikuti percobaan itu, sehingga tubuhku bisa jadi seperti ini”
“Oooh, dicuci otak, ya.”
Dengan tetap menatap serius Guren, Saitou melanjutkan.
“Tidak, bukan begitu. Aku benar-benar merasa bahwa Gureja Hyakuya berusaha agar Negara ini berjalan di jalan yang benar. Mungkin Tuan Guren belum mengetahuinya. Tetapi, jika Jepang terus menerus seperti ini, maka Jepang akan diselimuti sangkakala hari penghabisan, dan akan hancur”
Ungkap Saitou.
Mendengar apa yang diungkapkan Saitou, Guren justru tertawa dan berkata.
“Nah, keluar, deh. Teori tentang kiamat? Itu kata-kata andalan untuk mempengaruhi penganut baru di kepercayaan mereka. Kalau kalian tidak mempercayainya, kalian tidak akan selamat di hari akhir, kan? Ungkapan itu juga dipakai di tempat kami. Di keluarga Hiiragi pun begitu. Di doktrin juga ada hal semacam itu, kan. Lalu? Jangan-jangan, kau berpikir bisa merekrutku dengan menggunakan kata-kata itu?” Tanya Guren pada Saitou.
Namun, ekspresi Saitou sama sekali tidak berubah. Wajahnya tetap serius seperti sebelumnya, dan berkata.
“Ini, bukan masalah tentang hal semacam itu”
“Lalu tentang apa, hah?”
“Sebenarnya ... jika terus dibiarkan seperti ini, maka virus akan menyebar. Beberapa mantra sihir yang sangat terlarang akan menyebar secara liar. Dan dunia ini, akan menjadi dunia yang tidak bisa ditinggali lagi oleh manusia”
“Lalu, kau mau bilang bahwa kalian akan melindungi kami dari hal itu?”
“Ya.”
Guren tertawa mendengar jawaban itu, dan kemudian berkata.
“Dan, karena orang-orang pendosa besar yang tidak percaya pada Gereja Hyakuya akan mati oleh virus itu, kau suruh mereka untuk segera percaya pada Gereja Hyakuya?
Namun, Saitou justru tertawa sambil menggelengkan kepalanya mendengar pernyataan Guren.
“Bukan. Sudah kubilang bahwa ini bukan pembicaraan tentang masalah kepercayaan, kan. Dan kurasa ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan masalah kepercayaan kepadamu.”
“Oh? Lalu pembicaraan tentang apa?”
Saitou pun menjawab pertanyaan itu.
“Ini adalah pembicaraan tentang peperangan. Yang menyebarkan virus, bukanlah Tuhan atau mahkluk-makhluk lainnya, melainkan manusia. Dan manusia-manusia itu adalah manusia yang cukup kau kenal dengan baik. Manusia-manusia yang bernama Hiiragi.”
“Hah, itu, sih ....”
Saitou mengacuhkan perkataan Guren dan melanjutkan.
Mikado no Oni yang menjadi liar setelah berhasil merebut kursi kekuasaan Organisasi Ilmu Sihir Negara, berusaha menguasai mantra sihir terlarang yang bahkan tidak boleh disentuh. Karena itulah, kami berusaha mati-matian menentang hal itu.”
“ ...................”
Saitou kemudian tertawa cengengesan,
“Hei, kita ini, punya minat yang sama, bukan?”
Ujar Saitou. Dia pun lalu mengulurkan tangannya kepada Guren.
“Karena itu, bagaimana kalau kita bekerja sama? Sebelum dunia ini berakhir, mari sama-sama kita hancurkan keluarga Hiiragi,”ujar Saitou lagi panjang lebar.
Guren melihat uluran tangan itu.
Katanya, mereka berusaha mencegah Hiiragi yang berusaha menguasai mantra sihir terlarang yang bisa menghancurkan dunia.
Dan, setelah Hiiragi hancur,
“ .............. apakah status Ichinose akan naik?”
Saitou pun mengangguk sambil tersenyum, mendengar pertanyaan itu.
“Tentu saja. Sebagai keluarga yang telah membantu Gereja Hyakuya, kami akan memberikan kedudukan yang dimiliki oleh Hiiragi saat ini, bahkan akan menerima keduakekuasaan, baik itu sebagai Mikado no Oni ataupun Mikado no Tsuki.
“Oh. Lalu, apa maksudnya itu? Apa itu berarti kau menawarkan kerjasama ke anggota keluarga Ichino—ah, bukan, maksudku ke semua anggota Mikado no Tsuki?”
“Tentu saja.”
“Kalau begitu, kenapa kau tawarkan kerja sama itu padaku? Yang menjadi pemimpin dari keluarga Ichinose saat ini adalah—“
“Ayahmu, ya? Tetapi ayahmu itu, adalah orang yang lunak dan cinta kedamaian, karena itu...”
Guren tertawa mendengar hal itu.
“Jadi, aku orang yang radikal dan penentang ... “
Saitou menganguk dengan wajah yang seakan meminta maaf.
“Sebelumnya, aku juga telah minta maaf, karena telah menyelidiki masa lalumu, juga masa lalu ayahmu. Lalu berdasarkan hal itu, kami memilih orang yang sekira bisa menerima pembicaraan ini secara positif.”
“Dan kalian memilihku.”
“Ya.”
“Kalian mengira, kalau aku, pasti akan menerima hal itu begitu saja, kah?”
Saitou pun menggelengkan kepalanya.
“Tidak, kami tidak berpikir seperti itu. Namun, sebelum “hal itu” terjadi, kami merasa harus memberitahumu terlebih dahulu,”jelas Saitou.
Hal itu terjadi, kata Saitou.
Itu artinya,
“Meskipun tanpa adanya keluarga Ichinose, kalian bermaksud untuk memulai peperangan?”
Saitou mengangkat bahu mendengar pertanyaan Guren.
“Yang memulai duluan, keluarga Hiiragi, lo.”
“Dan lagi, kalian memberiku banyak informasi seperti ini, itu artinya, peperangan akan dimulai, masih jauh-jauh hari nanti, kan?”
Saitou tertawa cengengesan, dan mengangguk.
“Ditunda selama 10 hari. Sepuluh hari kemudian, perang antara Gereja Hyakuya dan Keluarga Hiiragi akan dimulai.”
“Sepuluh hari lagi, ya. Kalau begitu, jawabannya sepuluh hari kemudi—“
“Tidak, aku ingin mendapatkan jawabannya sekarang. Jika Anda tidak memutuskan untuk berada di pihak kami, maka kami berencana akan menganggap Anda adalah musuh kami.”
Ungkap Saitou sambil menatap ke arah Guren.
Guren membalas tatap Saitou dengan menatap tajam kepadanya.
“Itu, sih, tidak bisa. Pertama, tidak mungkin aku setuju dengan hal ini, selama aku belum mengetahui apakah yang kalian katakan itu benar atau salah. Apa benar, keluarga Hiiragi menjadi takterkendali, berusaha menguasai mantra sihir terlarang? Apakah hal itu perlu dihentikan? Lagipula, tidak menutup kemungkinan, Gereja Hyakuya dan keluarga Hiiragi bekerja sama untuk menguji keluarga Ichinose. Kau menyuruhku untuk segera memberi jawaban, dengan kondisi seperti itu? Itu, sih, hal yang mustahil, bukan?”
Guren berusaha menjelaskan.
Saitou pun mengangguk mendengar penjelasan itu, dan berkata.
“Oh, begitu, ya. Kalau begitu, negosiasi kita batal, ya”
“Tidak”
“Jadi bagaimana? Apakah kau mau berkerja sama dengan kami? Tolong putuskan dengan jelas. Bagi kami, sebenarnya pilihan apapun juga tidak masalah. Mau kalian menjadi sekutu kami atau tidak, tidak masalah .... “
Jadi, begitulah maksud sebenarnya.
Jika terjadi peperangan, maka semakin banyak sekutu, akan semakin baik.
Tapi, meskipun begitu, mereka ini berpikir bahwa ada atau tidak adanya kekuatan selevel kekuatan keluarga Ichinose tidaklah akan memberikan dampak berarti bagi mereka.
Dan itu adalah sebuah kenyataan.
Itu karena Gereja Hyakuya adalah sebauh organisasi besar. Bahkan lebih besar dari keluarga Hiiragi, yang selama bertahun-tahun dilayani oleh keluarga Ichinose. Jadi tidak mungkin mereka akan berkata, memohon sampai menundukkan kepalanya di sini, karena membutuhkan kekuatan dari Ichinose, kan.
Jadi itu artinya, ini hanyalah sebuah ajakan sebelum ‘hal itu’ terjadi. Dan jika Ichinose tidak bisa memberi jawaban dengan cepat, maka Ichinose akan dihancurkan.
Karena itu, Guren berpikir keras dengan baik-baik di kepala, tentang apa yang seharusnya diperbuat. Tentang cara agar masa depan keluarga Ichinose tidak hancur, dan cara agar masa depan orang-orang pengikut Mikado no Tsuki tidak hancur.
Sekarang ini, di sini, satu jawaban yang dilontarkan oleh Guren, memiliki peluang untuk merubah semuanya.
Jika demikian maka, apa yang sebaiknya dilakukan?
Bagaimana sebaiknya dia bergerak?
Setelah Guren berpikir masak-masak tentang hal itu, dia pun berkata.
“Setidaknya, berikan waktu satu jam untuk—“
“Tidak bisa”
Saitou menolak permintaan Guren.
Guren yang mendengar penolakan itu pun, mengerutkan keningnya, menatap tajam ke Saitou, dan menjawab.
“Kalau begitu, jawabannya ‘no’. Aku tidak akan bisa bekerja sama dengan lawan yang bahkan tidak bisa diajak bicara baik-baik. Aku tidak mau digunakan sebagai pesuruh kalian.”
“Oh, begitu, ya .... Kalau begitu, sayang sekali.”
“Tidak. Yang disayangkan itu adalah hal, jauh setelah ini. Nantinyakalian akan merasa menyesal dan menderita, karena kalian tidak memberi waktu padaku, dan tidak membujukku baik-baik agar menjadi sekutu kalian.”
“Haha, candaan yang menarik, ya.”
Saitou pun tertawa.
Kemudian, pintu otomatis super market terbuka.
“Saitou-san! Tolong, bantu aku! Beli jajan sebanyak ini, ternyata memang berat.”
Anak kecil berambut pirang bernama Mikaela itu pun kemudian keluar.
Guren menatap Mikaela.
Dan Mikaela pun akhirnya menyadari tatapan Guren. Kemudian,
“Anu, Saitou-san. Kakak yang punya mata tajam dan jahat itu, siapa?”
Tanyanya kemudian.
Saitou pun tertawa melihat Mikaela. Namun, tanpa melihat ke arah Guren dia menjawab.
“Entahlah. Aku tidak kenal. Aku justru mengira kalau kakak itu adalah kenalannya Mika-kun.
“Aku tidak kenal, kok.”
“Oh, begitu. Kalau begitu, kakak itu adalah orang aneh, ya?”
“Uwaa, mengerikan.”
Percakapan semacam itulah, yang disampaikan Saitou ke anak kecil itu.
Dan hal itu, sesuai dengan hasil dari negosiasi yang ada.
Saitou mengatakan bahwa dia tidak mengenal Guren.
Itu artinya, mereka sudah bukan lagi, seorang kawan.
Saitou dan anak kecil itupun kemudian membalikkan punggungnya dan mulai berjalan pergi begitu saja.
Mungkin mereka kembali ke panti asuhan.
Tanpa berkata apapun, Guren melihat mereka berdua hingga sosok keduanya tidak lagi terlihat.
“Nah, mari kita lihat apakah keputusanku benar atau salah.”
Guren merasa bahwa dia perlu memastikan hal itu kemudian. Setidaknya, dia perlu menghubungi keluarga Ichinose agar mereka segera mengumpulkan data untuk mengetahui kebenaran perkataan Saitou.
Guren tidak tahu bahwa----- 10 hari kemudian, Gereja Hyakuya dan keluarga Hiiragi akan memulai peperangan. Dan jika hal itu benar, bagaimana rencana keluarga Ichinose ke depannya, di manakah mereka harus melibatkan diri, sejauh mana mereka harus terlibat di dalam peperangan itu,  Guren merasa harus segera memutuskan -------
“Ah, tidak. Atau jangan-jangan gerakkan seperti itulah, yang diincar oleh Gereja Hyakuya? Mungkin mereka berupaya memperkeruh hubungan antara Ichinose dan Hiiragi, lalu memanfaatkan hal itu demi keuntungan mereka?”
Intinya, diperlukan kehati-hatian dalam pergerakan yang akan dilakukan Guren.
Dan, kemudian,
“Tuan Guren! Maaf telah membuat Anda menunggu!”
Sayuri dan Shigure keluar dari supermarket dengan membawa kantong belanjaan yang berisi penuh dengan bahan masakan di kedua tangannya.
Guren melepaskan lipatan tangannya, dan beranjak dari pagar supermarket. Ditatapnya kantong belanjaan yang dibawa oleh kedua pelayannya itu.
“Kalian mau membuat apa, sampai beli bahan sebanyak itu?”
Sayuri pun menjawab dengan riang gembira.
“Ah, itu ... karena hari ini kita mengalami hal yang sangat tidak menyenangkan, jadi kami berencana untuk mengadakan pesta yakiniku kari atau yakiniku soba.
“Kalian ini mau makan sebanyak apa, sih?”
Shigure yang berada di samping Sayuri berkata,
“Tentu saja, semua yang dibuat bukan hanya makanan kesukaan Sayuri, kan. Tentu saja kau juga akan membuat makanan yang Tuan Guren ingin makan, kan, Sayuri?”
“Iya! Tuan Guren, Anda ingin makan apa?”
“Apapun oke.”
“Ah, Tuan Guren selalu berkata seperti itu. Itu membuat saya bingung. Lagipula, Ujian Seleksi Sihir akan dimulai besok, jadi Anda harus makan dengan benar, agar punya kekuatan untuk ujian besok”
Ujar Sayuri kepada Guren. Namun, Guren sudah tidak peduli lagi dengan Ujian Seleksi Sihir, setelah dia mendengar penjelasan dari Gereja Hyakuya. Itu karena, dalam sepulu hari kedepan, akan dimulai peperangan antara dua organisasi besar dunia sihir.
Dengan wajah yang bersemangat, Sayuri melanjutkan,
“Nah, nah nah, apa yang ingin Anda makan?”
Didesak-desak seperti itu, Guren merasa bahwa hal ini akan menjadi pembicaraan yang panjang, jika dia tidak segera menjawab. Maka dengan terpaksa, Guren pun menjawab.
“Kalau begitu, kari.”
“Mau kari ala India atau ala Eropa?”
“Ala warung soba
“Serahkan padaku! Okeee, hari ini kita akan membuat kari yang sangat enak! Ah, karena kita mau membuat kari ala warung soba, harus beli daun bawang, nih! Yuki-chan aku pergi membelinya sebentar, ya!”
Ujar Sayuri yang langsung membalikkan langkahnya, dan kembali ke supermarket.
Shigure hanya menyaksikan hal itu, dan kemudian, dengan tatapan yang dingin seperti biasanya, dia menatap ke arah Guren.
“Tuan Guren”
“Hm?”
“Saya hanya mau mengingatkannya. Apa Tuan Guren lupa bahwa kemarin Tuan Guren juga memakan kari?”
“Eh? Ah, iya, kah?”
“Jangan-jangan, ada hal yang sedang menganggu Tuan Guren?”
Tanya Sayuri kepada Guren. Sayuri pun melanjutkan,
“Jika Tuan Guren merasa kepikiran dengan kejadian di sekolah hari ini, jika Tuan Guren bersedia, ceritakanlah kepada saya .... “
Mendengar hal itu, Guren hanya menggelengkan kepala.
“Ah, bukan. Bukan tentang itu. Lagipula dalam waktu dekat ini, aku perlu berdiskusi dengan kalian. Karena itu, tunggulah dengan sabar”
“Dalam waktu dekat? Itu artinya ...”
“Tapi sebelum itu, aku perlu menghubungi rumah dulu. Penyadapanhandphone-ku ....”
Mendengar hal itu, Shigure langsung mengerti bahwa saat ini ada kondisi mendesak,  wajah Shigure pun menjadi serius.
“Tentu saja, alat untuk menghalangi penyadapan sudah berkali-kali berusaha dipasang, tetapi ...”
“Tetapi, di sini adalah wilayah kekuasaan Hiiragi, ya?”
“Iya.”
“Kalau begitu, belum  pasti aman.”
“Begitulah menurut saya.”
“Oke. Begitu pulang, aku akan menulis surat. Sampaikan kepada para kurir.”
“Baik, saya mengerti. Apakah, saya harus bergerak sekarang?”
“Lakukanlah sekarang.”
Shigure mengangguk mendengar perintah itu. Dia pun bersiap-siap untuk segera berlari, namun dia kemudian menyadari kantong belanjaan yang ada dikedua tangannya.
“A ....” Ujarnya kebingunggan.
“Biar aku yang membawanya”
Guren pun segera mengambil kantong belanjaan itu.
“Terima kasih banyak ....”
“Cepatlah pergi.”
“Baik.”
Dan Shigure pun langsung bergegas lari.
Disaat yang bersamaan, Sayuri keluar dari supermarket. Setelah melirak-lirik kesana kemari, dia pun berkata.
“Lo, Yuki-chanke mana?”
“Ada urusan lain.”
“Ah, ah, Tuan Guren, Anda tidak perlu membawa kantong belanjaan .... Tolong serahkan kantong itu kepada saya.”
“Tidak apa-apa. Ayo, kita pulang.”
“Tetapi...”
“Kubilang tidak apa-apa.”
Ujar Guren seraya beranjak menuju ke arah mansion. Sayuri mengikutinya dari belakang, dan berkata.
“Ah, anu, Tuan Guren.”
“Hm?”
“Anu, jika kita berdua berjalan bersama seperti ini, seperti apa saya dan Tuan Guren di mata orang la----“
Namun, perkataan itu dipotong oleh Guren, dengan berkata,
“Pikirkanlah sendiri khayalan yang tidak perlu seperti itu.”
“Auuuh ... baik---lah”
¨
Malam itu, Guren menulis surat untuk keluarganya.
Tentang hal yang disampaikan oleh Gereja Hyakuya.
Bahwa keluarga Hiiragi mulai tidak terkendali, bahwa ada kemungkinan dunia akan hancur, dan juga tentang virus.
Guren mengatakan bahwa akan dimulai perang antara Gereja Hyakuya dengan keluarga Hiiragi dalam 10 hari kedepan.
Dan juga tentang penolakkan Guren terhadap tawaran yang diberikan oleh Gereja Hyakuya.
Surat itu, harus sampai ke rumahnya pada hari itu juga. Jika ada masalah seperti ini, keluarga Ichinose, yang merupakan Mikado no Tsuki, pasti akan mengumpulkan para petinggi, dan memutuskan apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah ini.
Dan mereka seharusnya akan mulai mencari tahu, apakah perkataan Saitou benar atau tidak.
Dan kemungkinan, akan memakan waktu tiga hari untuk melakukan hal itu. Dan kemudian, akan diperlukan waktu satu minggu untuk persiapan setelahnya.
Namun, jika 10 hari kemudian yang dikatakan Saitou hanya bohong belaka, mereka sudah tidak punya waktu untuk besantai-santai.
Ada kemungkinan peperangan akan terjadi.
Dan juga, jika bertindak gegabah, ada kemungkinan itu adalah peperangan yang dapat menghancurkan Jepang------
Dan dalam hal itu,  diposisi apa sebaiknya dia dan yang lainnya berada.
“Bukan, aku seharusnya berpikir, bagaimana caranya menjadi nomer satu di dalam kekacauan itu”

Malam itu pun, Guren terus memikirkan hal itu seorang diri.

Owari no Seraph Jilid 1 Bab 5 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Farhan Ariq Rahmani

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.