23 November 2015

My Dearest Jilid 1 Epilog


MY DEAREST
JILID 1 EPILOG

Astaga sakit! Kenapa kepalaku sangat sakit?!

Apa aku sudah mati? Disini sangat gelap, aku tidak bisa melihat apapun.

Saat ini aku berpikir jika aku sudah mati. Hanya kegelapan yang dapat kulihat saat ini. Pada akhirnya aku tidak tau, apa tujuan Halsy yang sebenarnya, apa yang sebenarnya dia lakukan.

Aku juga melupakan beberapa pertanyaan penting saat bertemu dengannya. Aku lupa bertanya padanya, bertanya tentang alasan dia waktu itu tidak melawan Chales dan yang lainnya.

Tapi ditengah kegelapan itu, tiba-tiba muncul sebercak cahaya yang bagaikan harapan. Aku tidak berniat menghampiri cahaya itu, tapi tubuhku langsung tertarik ke dalam cahaya itu.

Perasaan mual sangat hebat langsung kurasakan saat aku melewati cahaya tersebut.

Apa ini? Apa aku akan masuk ke alam akhirat?!

Aku memang berpikir seperti itu, berpikir kalau ini adalah akhir hidupku. Tapi pikiranku salah ketika aku mendengar teriakan seorang gadis, teriakan seorang gadis yang sangat familiar bagiku.

Teriakan seorang gadis yang sangat mengkhawatirkanku.

“KAKAK! KAK ANGGELA!!”

Aku terkejut karena teriakan tersebut, langsung terbangun ketika mendengar teriakan tersebut. Aku lekas membuka mataku dan ingin segera melihat seseorang yang berteriak padaku.

Kulihat seorang gadis manis berambut putih tepat berada di depan wajahku, wajahnya terlihat khawatir melihatku dengan derlingan air mata yang cukup banyak.

Ya, dia adik kembarku Anggelina.

Kenapa? Kenapa dia menangis?!

“Ang-Anggelina –“

Aku mencoba mengeluarkan suaraku, tapi tidak bisa! Aku terlalu lelah untuk berbicara, tubuhku terasa berat.

“Kakak, sudah kuduga kalau kakak terluka sangat parah!! Biar aku carikan bantuan!” khawatirnya lalu berlari menjauhiku, mungkin mencari bantuan?

Aahh ..., iya benar. Aku baru saja bertarung dengan Charles, aku hampir kalah dan mendapatkan luka yang cukup serius.

Sial, bahkan setelah aku mencapai tingkat akhir, aku masih saja tidak berguna. Aku masih saja menyusahkan orang-orang terdekatku.

Aku menolehkan kepalaku ke samping berniat mencari tau letak keberadaanku sekarang. Kulihat hamparan rumput – tidak, bukan ..., mungkin persawahan yang cukup luas?

Ah terlihat juga beberapa gubuk kecil yang menghiasai persawahan tersebut.

Dimana? Dimana ini? Aku benar-benar tidak tau tempat ini. Tidak ada satupun F-car yang terlihat oleh pandanganku. Aku baru kali ini melihat tempat seperti ini.

Aku ingin mencoba bangkit dan berdiri, tapi Sakit! Sangat sakit!! Luka di perutku ini benar-benar membuatku sulit bangkit. Sialan Charles! Dia benar-benar seenaknya mengendalikan Heliasha untuk menyerangku.

Aku mengurungkan niatku untuk bangkit dan kembali tertidur di atas tanah. Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki orang-orang yang cukup banyak.

Aku kembali menolehkan kepalaku, kali ini kulihat Anggelina yang membawa orang-orang tak kukenal. Dia memasang wajah yang sangat khawatir sambil berjalan cepat ke arahku.

“Astaga ..., dia terluka parah. Kita harus membawanya ke rumah sakit!”

“Kamu benar, tapi bagaimana? Mobil cukup jarang melewati desa kita?”

“An-anu ..., apa salah satu penduduk disini memiliki F-Car?” tanya gugup Anggelina kepada para penduduk desa.

F-Car?” mereka saling bertanya satu sama lain, mereka terlihat kebingungan.

“Ap-apa itu?” tanya heran seorang lelaki yang diduga menjadi pemimpin dari desa tersebut.

“Eh?!” Anggelina terkejut tidak percaya.

Aku mencoba bangkit, aku berniat menanyakan sesuatu pada mereka. Pakaian mereka, suasana kota ini yang tidak dilewati oleh satupun F-Car, benar-benar membuatku sangat penasaran tentang keberadaanku saat ini.

Aku bertanya dengan nada pelan, bertanya sambil menahan rasa sakit dari luka perutku yang melebar.

“Di-dimana? –“

“Arghh!”

“Kakak!! Jangan banyak bergerak dulu!” Anggelina sangat khawatir, lalu dia perlahan membiarkanku tidur kembali diatas tanah.

“Pa-paman –“ geramku ingin meananyakan pertanyaan yang sama, pertanyaan tentang keberadaan letak kami saat ini, tapi dengan cukup cepat Anggelina memotong perkataanku.

“Paman, sekarang kita berada di area mana?”

“Area?!” kepala desa kembali memasang wajah keherenan.

“Kamu tau maksudnya?” lanjutnya melirik beberapa masyarakat dibelakangnya.

“Tidak.” “Aku juga tidak tau.”

“Ka-kalau begitu daerah! Kita berada di daerah Frosy atau daerah Dealendra?!” tanya Anggelina sedikit kesal.

“Ohhh maaf adik kecil, sepertinya kalian berasal dari negara lain yah?” senyum lelaki yang berada di belakang kepala desa.

“Negara lain?” Anggelina terlihat kebingungan.

“Ini di negara Indonesia, daerah Jawa barat. Apa kalian tersesat?” senyum seorang perempuan paruh baya.

“In-indonesia? Ap-apa itu?” tanya Anggelina kebingungan, wajahnya terlihat kalau dia sedang berpikir keras.

Negara Indonesia?! Di-dimana aku pernah mendengar nama itu? Apa negara Indonesia adalah negara kepulauan yang pernah menjadi salah satu adidaya di masa lalu. Satu-satunya negara kepulauan yang bisa menyaingi negara Amerika, Jerman dan Jepang?

Untuk menghancurkan rasa penasaranku, aku kembali bertanya, bertanya tentang tata letak bumi saat ini.

Jika suatu negara masih ada dalam bumi ini, jika benua Asia, Eropa dan yang lainnya masih utuh di bumi ini. Maka dapat dipastikan kalau kami, maksudku aku dan Anggelina telah kembali ke masa lalu.

“Ap-apa nama dari benua ini?”

“Benua ....?” sang pemimpin desa terlihat berpikir.

“Asia, Asia Tenggara. Kalian berasal dari mana?” lanjutnya bertanya kembali.

“Kami dari daerah Dealendr –“ senyum Anggelina.

“Kami dari Eropa, lebih tepatnya negara Denmark,” jawabku tersenyum dan memotong pernyataan Anggelina.

“Denmark, kah? Sepertinya cukup jauh dari sini,” gumam lelaki tersebut memasang wajah berpikir.

“Ma-maaf bisa aku bertanya satu hal lagi Pak.”

“Ya ....”

Tahun berapa sekarang?” lanjutku bertanya sambil memejamkan mata.

“2024, bulan januari.”

“Begitu,” senyumku sambil terus memejamkan mata.

“Eeehh?! 2024?! Bukannya sekarang tahun –“ Anggelina memasang wajah terkejut melihat pemimpin desa.

“Sudah Anggelina .... Biar Kakak yang jelaskan nanti,” geramku sedikit kesal melirik Anggelina.

Sekarang aku sudah tau kalau aku tidak mati, tidak pergi meninggalkan dunia ini. Mungkin aku hanya berpindah ke masa lalu?! Aku tidak terlalu panik akan hal ini, pasti ada alasan kenapa aku dan Anggelina bisa sampai ke masa lalu. Mungkin ada suatu kejadian yang besar yang akan kami hadapi di masa ini.

Tubuhku terasa lemas, ahh aku sudah terlalu banyak berpikir ...., aku sudah terlalu banyak mengeluarkan darah, lebih baik aku istirahat sebentar.

Anggelina benar-benar terlihat panik karena melihatku yang mulai tidak sadarkan diri, tapi maaf Anggelina .... Biarkan kakakmu ini merepotkanmu sekali lagi, biarkan kakakmu ini untuk istirahat sebentar lagi.

***

Japan, Nagasaki di waktu yang sama.

“Hei, apa kamu serius ingin membawa gadis ini?”

“Tentu saja, apa kamu iblis? Kita tidak bisa membiarkan gadis ini terlantar begitu saja!”

Di dekat jembatan lokal kota tersebut, terlihat dua orang lelaki yang sedang berjalan di dekat trotoar jalan. Lelaki yang satu berambut biru muda dengan wajah yang cukup tampan. Dia menggendong seorang anak perempuan yang manis dipunggungnya.

Di depan lelaki berambut biru muda tersebut, terlihat lelaki yang tampan dengan rambut berwarna coklat muda. Dia memakai jaket berwarna hijau yang cukup tebal dengan celana jeans berwarna hitam. Wajahnya terlihat cemas sambil menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.

“Kamu kan yang memberikan nama pada gadis ini, jadi paling tidak kamu bisa bergantian mengangkatnya.”

“Kamu saja yang angkat, kemampuan fisikmu kan lebih unggul daripada aku.”

“Apa kau bercanda, aku ini masih guru kamu. Hormat sedikitlah!”

“Iya iya, nanti aku bantu angkat dia!” sinis lelaki berambut coklat

“Baguslah ..., tapi sungguh yah, penamaanmu benar-benar aneh. Hanya karena dia gadis manis dan kita menemukannya pada sore hari, kamu malah menamainya dengan Evelyn. Benar-benar nama yang aneh, hahahaha!”

“Berisiknya ...! Aku lebih baik daripada penamaanmu. Kamu menamai gadis seperti dia dengan nomor1? Kamu pikir dia benda mati?!” teriak kesal Lelaki tersebut sambil kembali menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Lelaki itu seolah-olah sedang mencari sesuatu.

“Habisnya aku tidak mengenal gadis ini. Dengan memberi nama nomor1 bukankah akan lebih mudah?”

“Haah?!”

“Hahahahaha sabar kawan, aku cuman bercanda,” senyum lelaki berambut biru.

 “Tapi apa masih jauh penginapannya? Kamu masih mengingat jelas letaknya, kan?!” lanjutnya.

“Tidak, ak-aku lupa namanya.”

“Haahh?! Lalu bagaimana –“

“Aku tau, aku sedang melihat-lihat disini, ok?! Aku masih ingat jelas kalau penginapan yang aku sewa itu ada maskot kucing di depannya.”

“Kenapa tidak mengingat namanya saja?! Kamu ini –“

“Apa boleh buat! Bahasanya tidak aku mengerti! Bahasanya aneh, bahasa kanji tau!”

“Paling tidak kamu bisa belajar bahasa ini, kan?! Kamu ini Kineser tingkat tujuh, Haikal!”

“Memangnya kenapa kalau aku tingkat tujuh, Alfa?!”

“Malah nanya kenapa? Pengelolaan otakmu itu seperti monster. Menghapal satu atau dua bahasa bukan masalah bagimu!”

“Iya iya, cerewet!” jelas malas darinya.

“Carilah penginapan yang benar, jangan membayangkan Asha yang sudah mencampakkanmu. Dia sudah menikah dengan Andi –“

“Berisik! Apa kamu mau kubunuh?! Sudah kubilang jangan membahas masalah itu lagi!” teriaknya sangat kesal.

“Ya ya ya!”

***

Germany, Berlin di waktu yang sama.

Di dalam ruangan meeting yang mewah di sebuah hotel bintang lima, terlihat dua orang gadis yang sedang membicarakanya sesuatu yang serius.

“Akhirnya mereka melakukan pergerakkan. Kita tidak bisa tinggal diam saja kan, Master?!” tanya seorang gadis muda berambut merah, wajahnya terlihat sangat manis, mungkin umurnya sekitar 16 tahun.

Ignite kah? Akhirnya serikat ini menunjukan taringnya,” senyum seorang gadis lainnya, rambutnya terlihat berantakan dengan warna biru muda seperti langit yang cerah, wajahnya tertutupi oleh sebuah laporan yang sedang ia baca.

Tok tok!

Terdengar suara ketukan pintu masuk yang cukup keras, suara tersebut dengan sekejap menghancurkan ketegangan mereka.

“Masuk!”

Krekkk!

Telihat seorang gadis yang sangat cantik memasuki ruangan tersebut, gadis tersebut berambut putih dengan warna mata merah muda seperti bunga sakura. Dia datang tergesa-gesa sambil membawa sebuah remote televisi.

“Aku mendengarnya, Silica!”

“Ka-Kakak?!” tanya kaget gadis yang berumur 16 tahunan, gadis yang berambut merah panjang.

“Ohh Shana?! Kamu disini juga?”

“Ada apa Asha?” tanya gadis yang dipanggil Silica, dia bertanya sambil menurunkan laporan yang sedang ia baca.

Terlihat wajahnya yang sangat manis dengan warna mata biru seperti aquamarine. Tapi sayangnya dia memakai baju yang berantakan, lebih tepatnya dia memakai kemeja yang tidak rapih.

“Ma-master! Sudah aku katakan, berpakaianlah lebih sopan!”geram kesal Shana, gadis berambut merah.

“Silica, apa kamu benar-benar akan pergi ke Jepang?! Kamu pasti sedang bercanda kan? Serikat kita saat ini sedang berperang! Kamu tau itu kan?!” kesal gadis yang dipanggil Asha.

“Bi-bisakah kalian menurunkan tensi kalian?” Silica sedikit ketakutan.

“Jangan bercanda Silica! Meski kamu ini Guild master dari serikat Blizzard, kamu tidak bisa seenaknya seperti ini!”

“Te-tenang kak, aku juga akan ikut menemani Kak Silica.”

“Eeeh, bahkan kamu juga?”

“Iy-iya, soalnya salah satu kineser yang kuat dari serikat kita sedang berada disana.”

“Siapa?!”

“Alfa Eclipse.”

“Ooh tunanganmu itu? Aku belum pernah bertemu dengannya, aku ingin melihat tunanganmu, Silica.”

“Dia tampan loh Kak, mungkin lebih tampan dari Kak Sampah –“

“Shana!” teriak kesal Asha pada adiknya.

“Ma-maaf,” Shana memalingkan wajahnya.

“Haikal, kah? Apa kamu masih mengharapkannya?” Silica tersenyum melihat Asha.

“Aku menunggunya, bukan mengharapkannya.”

“Apa tidak ada lelaki lainnya? Kamu cantik dan kaya, banyak lelaki yang bagus untuk menjadi pendampingmu.”

“Aku ingin dia!! Tidak ingin yang lainnya!! Sampai kapanpun aku akan menunggunya!!”

“Apa kamu yakin dia akan datang ....? Setelah kamu mengkhianatinya? Setelah kamu mencampakkannya? Apa dia benar-benar akan datang padamu?”

“Memang benar perbuatanku saat itu tidak dapat dimaafkan ..., tapi aku sangat menyesal!  Aku tidak tau kalau saat itu ..., ” Asha memasang wajah penyesalan yang amat dalam, lalu menangis secara perlahan.

“......” Silica dan Shana hanya terdiam cukup terkejut.

“Aaahhh ..., kamu membuat kakak menangis, master,” lirik sinis Shana pada Silica.

“Eeeehh.....?!” Silica terkejut.

“Aku tidak menangis!” Asha menangis sambil mengusap air matanya.

Lalu air yang ada di wajahmu itu apa?” Shana dan Silica keheranan dalam batinnya.

“Sudah, tenang saja Asha. Aku yakin kamu akan segera bertemu dengannya. Tapi aku tidak tau, apa dia akan bersamamu lagi atau tidak,” senyum Silica menghibur gadis berambut putih itu.

Trinininininining~

Tiba-tiba telepon di atas meja Silica berdering cukup keras, dengan cukup cepat Shana segera mengangkat telepon tersebut. Dia mulai berbicara sendiri, berbicara yang cukup pelan hingga membuat Asha dan Silica menjadi penasaran.

Trupt~

Shana menutup telepon dan membuang nafas seakan mengeluh akan suatu hal.

“Ada apa?” Silica dan Asha bertanya penasaran.

“Ada dua orang gadis yang mencari anda, master.” Shana melirik Silica yang berdiri dari tempat duduknya.

“Siapa mereka?”

“Entahlah, tapi yang jelas kalau salah satu gadis itu berkata bahwa dia mengetahui semua tentangmu.”

“Namanya?”

“Fie La Faras ..., kamu mengenalnya?” tanya Shana sambil memejamkan matanya.

“Fie ....? Tidak, aku baru pertama kali mendengar nama itu.”

“Benar, sudah kuduga kalau dia adalah musuh yang mencoba menyusup ke markas kita,” senyum Shana yang meremehkan.

“Lalu gadis yang satunya?”

“Ohhh iya, aku hampir lupa! Kalau gadis bernama Fie itu meminta pertolongan padamu. Dia meminta bantuan karena gadis yang bersamanya terluka parah.” Shana memasang wajah berpikir.

“Kalau begitu kita harus segera menolongnya –“ Asha terlihat panik.

“Tunggu kak! Ini mungkin jebakan, kenapa kakak selalu menolong orang lain tanpa melihat situasinya dulu?” Shana bergumam kesal.

“Tapi bagaimana kalau kita terlambat! Bagaimana kalau kita –“

“Karena inilah ...,” kesal Shana sambil memejamkan matanya.

“Eh?” Asha terlihat kebingungan.

“Karena sifat inilah, Kakak melukai Kak Sampah. Apa kakak sadar, karena rasa kepedulian kakak ini dia harus mengorbankan –“

“Sudahlah Shana, tidak ada waktu bagi kita untuk membahas masalah itu! Yang lebih penting, siapa nama gadis yang terluka itu?” kesal Asha.

“Aleasha, kalau tidak salah.” Shana memasang wajah yang berpikir keras.

“Aleasha?”

“Alysha ...., ya! Namanya Alysha Aeldra!”

“Ae-Aeldra?!” tanya terkejut dari Asha melihat Shana.

“Y-ya Aeldra? Memangnya kenapa?” gugup Shana.

“Kita harus menolong gadis itu! Dia bukan musuh, aku yakin!” Asha sambil berjalan cepat menuju pintu keluar.

“Bagaimana kamu bisa seyakin itu Kak?! Dia mungkin musuh kit –“

“Mustahil!! Dia bukan musuh kita, Kakak sangat yakin!” teriak Asha sambil terus berjalan cepat menuju lobby hotel, tempat Alysha dan Fie berada.

Aeldra? Nama yang sama seperti Haikal! Apa dia saudaranya, adiknya atau kakaknya? Aku tidak tau kalau Haikal punya saudara selain Kak Hana.

Tapi jika dia memiliki nama belakang seperti itu, sudah dipastikan kalau dia memiliki ikatan darah dengan Haikal!! Aku harus menolong dan menanyakannya, harus menanyakan tentang keberadaan Haikal pada gadis ini!!” gumam Asha dalam hati sambil berjalan cepat ke arah lobi hotel.

***

Australia, Canberra di waktu yang sama.

Terlihat dua orang lelaki yang baru saja keluar dari sebuah cafe, lelaki yang pertama berambut hitam dengan mata berwarna biru, tatapannya sangat tajam. Dan yang satunya lagi berambut kuning keemasan memakai kaca mata hitam.

“Kita langsung ke Israel, jangan buang-buang waktu lagi, Jeremy,” jelas lelaki yang berambut hitam.

“Adam, kamu serius? Kamu harusnya lebih santai, jangan terburu-buru seperti in–“

“Jeremy! Ingat tujuan kita ini apa?”

“Meng-menghancurkan –“

“Keluarga Devilluck ....? Aku benar kan?” tanya seorang gadis berambut putih yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka.

Perlahan dia mengangkat wajahnya hingga terlihat jelas. Matanya berwarna biru muda seperti Anggelina dan Keisha. Ya, gadis ini sangat mirip dengan mereka berdua.

“Ke-ketauan yah?” tanya Jeremy sedikit ketakutan.

“Apa benar mereka ini orangnya, Kak?” tanya malas seorang gadis berambut panjang dengan warna hijau muda, dia tiba-tiba muncul di samping gadis yang mirip dengan Anggelina.

“Sudah kuduga keluarga Deviluck akan bergerak,” senyum ringan lelaki yang dipanggil Adam.

“Adam, apa kita akan menghadapinya? Mereka berdua ini termasuk anggota keluarga Deviluck!” bisik pelan Jeremy pada Adam, tapi sayangnya masih terdengar oleh keduanya.

“Bisa kamu hentikan itu?!” tanya gadis berambut putih sangat kesal.

“Ap-apa maksudmu?!” tanya Jeremy gugup.

“Adam! Adam! Adam! Kenapa kamu sangat menyukai nama itu?”

“Apa artinya itu?” tanya Adam memasang wajah sangat serius, dia seakan-akan sudah siap bertarung.

“Kami sudah tau kalau kamu adalah sang malaikat jatuh. Dan nama Adam hanyalah nama samaran, kan? Namamu adalah –“ jelas gadis berambut hijau muda sambil memejamkan matanya.

“Jeremy, kita bertarung!” teriak Adam sangat kesal.

“Se-serius?! Mustahil kita bisa menang! Lagipula kita sedang di tengah desa, akan berbahaya jika orang normal melihat kemampuan kit –“ Jeremy sangat cemas.

“Tenang Jeremy, kota ini sangat sepi. Hanya 5 sampai 8 orang yang tinggal di desa ini.”

“Tapi ini terlalu beresiko kan?! Lagipula kita mustahil bisa menang melawan dia –“

“Aku sudah menduga kalau kamu mengetahui identitasku, Keina Abstieg Deviluck,” senyum kesal Adam yang siap bertarung, terlihat percikan listrik berwarna putih disekitarnya.

“Ka-kamu serius, Adam?” tanya Jeremy sangat terkejut.

“Kita akhiri ini sekarang, Keina!!” lanjut Adam berteriak, dan seketika percikan listrik disekitarnya menjadi lebih besar dan ganas.

“Sudah jelas kalau aku mengenalmu. Kamu adalah pengkhianat terbesar dari ras kita,” senyum Keina memejamkan mata.


“Lama tidak bertemu, Sang malaikat jatuh dari keluarga Skullwalker,” lanjutnya tersenyum sombong membuka jaketnya. Telihat dia memakai pakaian yang cukup terbuka, tubuhnya sangat indah, kulitnya mulus putih seputih salju.

“......”

“Tapi perkataanmu tadi ada benarnya juga ..., lebih baik kita akhiri ini sekarang, aku akan memenggalmu!! Aku akan memenggal kepalamu disini dan sekarang juga, Serraph Skullwalker!!!” teriak sangat kesal Keina, dia terlihat melayang, seolah-olah gravitasi bumi untuknya telah menghilang. Bebatuan, mobil, bahkan tiang listrik yang di dekatnya pun ikut melayang.

***

Indonesia, Bandung di waktu yang sama.

Di pinggiran jalan yang amat sepi, terlihat lelaki berambut panjang yang berwarna kuning keemasan. Matanya terlihat berbeda dengan penduduk sekitar, matanya berwarna kuning keemasan. Dia tersenyum sambil melirik kagum seseorang dibelakangnya.

“Sekali lagi perang ras akan terulang, perang dunia ketiga, perang yang menyebabkan gempa bumi maha dahsyat, perang yang memakan korban terbanyak dalam sejarah umat manusia, dan perang yang akan menentukan nasib dunia ini.”

“Bukankah begitu, Hals –“

“Hmm?!” gumam kesal gadis yang waktu itu, gadis yang menyerang Anggela, gadis yang dianggap oleh Anggela sebagai tunangannya.

“Ma-maaf atas kelancanganku ..., Empress,” jawabnya sedikit membungkukkan badan.  Nada bicaranya terlihat segan saat dia berbicara dengan gadis tersebut.

“Tak apa ...., ini kesempatan terakhirku .... Aku harus bisa menghentikannya sebelum perang ras terjadi,” gumam kesal gadis tersebut sambil mengkerutkan dahinya.

“Kamu benar, akan tetapi –“ lelaki tersebut kembali bergumam dan mengubah ekspresi wajahnya menjadi khawatir, dia benar-benar menatap khawatir gadis yang dipanggil Empress tersebut.

Tapi belum selesai dia menyelesaikan perkataanya, tiba-tiba terdengar suara gadis dibelakang mereka, gadis tersebut berkata dengan nada yang lebih kahawatir dari lelaki tersebut.

“Kamu serius tentang ini, Halsy?”

“Hmm, ”  Empress membalikkan tubuhnya dan menatap gadis tersebut. Terlihat wajah cantik dengan rambut berwarna kuning cerah dari gadis tersebut. Terlihat juga kesedihan cukup dalam yang terpancar dari wajah gadis berambut kuning tersebut.

Postur tubuh dan fisiknya terlihat sama dengan Empress atau Halsy.

“Liana ...., “ pandangan Halsy seketika menjadi tajam menatap gadis tersebut. Ya, gadis itu adalah Herliana teman masa kecil dirinya.

“Halsy atau harus kupanggil kamu sekarang dengan ...., Empress Of The Holy Souls?” senyum sedih Herliana menatap teman masa kecilnya dan sekaligus sahabatnya itu.

Halsy tidak merespon dan hanya terdiam melihat Herliana, pandangan tajamnya telah menghilang. Lalu setelah itu dia kembali membalikkan badannya, dan berniat melangkah pergi.

“Tunggu Empress, kamu belum menjawab pertanyaanku!”

“Aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu. Kamu sendiri pasti sudah tau seperti apa keputusanku ...,” jawab pelan dari Halsy sambil terus melangkah pergi.

“Lebih baik kamu hentikan tujuanmu itu, Empress! Kamu tidak mungkin menang melawan mahluk itu!

Mendengar pernyataan dari sahabatnya tersebut, seketika Halsy berhenti melangkahkan kakinya, dan berbalik melihat Herliana.

“Ini takdirku, jangan ikut campur, Herlian –“

“Beban itu terlalu berat untukmu! Terlalu berat untuk seorang gadis sepertimu!” teriak kesal dari Herliana.

“Aku kuat! Aku sangat kuat, Herliana!! Aku tidak mungkin kalah darinya, aku akan menjadi pemenang –“

“Tapi tetap saja! Tetap saja kamu hanya akan menghilang dari dunia ini, meski kamu menang!”

“Aku tidak peduli ...., asalkan dunia ini dapat damai, asalkan keluarga Aeldra dapat terlepas dari kutukannya ...., aku tidak peduli dengan nasibku nant –“

“Jangan mengambil keputusan egois seperti itu! Kamu masih memiliki seseorang yang menunggumu di dunia sana!”

“Dia sudah ada di dunia ini, Anggela sudah ada didunia ini.”

“Ang-Anggela? Ap-apa maksudmu?!” tanya kesal Herliana yang terkejut.

“Maksudku aku sudah membawa Charles ke dunia ini, tapi aku tidak menyangka kalau Anggela dan yang lainnya akan terbawa –“

“Apa kamu menyeret Anggela dan yang lainnya demi tujuanmu ini?! Apa yang sebenarnya kamu pikirkan?!! “ teriak sangat kesal dari Herliana.

“Aku tidak menyeretnya!! Dia sendiri yang –“

“Lupakan hal itu, yang lebih penting hentikan semua ini! Gunakan seluruh kekuatan Empress-mu untuk menyempurnakan kehidupanmu! Kamu masih memiliki kesempatan  untuk hidu –“

“Aku tidak bisa melakukan hal tersebut! Aku sudah membulatkan keputusanku!! Aku akan menggunakan semua kekuatan ini untuk menghentikan Elenka.”

Herliana hanya mengkerutkan dahinya seakan-akan sedang menahan amarah. Dia benar-benar menatap tajam Halsy atau gadis yang dipanggil Empress tersebut.

“Kamu sudah tau kebenaran tentang takdir dunia ini. Kamu juga sudah tau betapa mengerikannya keberadaan Guardian Of The Cursed Souls. 

Jika kamu sahabatku, jika kamu berada dipihakku ...., kamu pasti akan mengerti sebenarnya apa yang sedang kulakukan ini. Berhentilah menghalangi tujuanku, Herliana,” senyum Halsy.

“Karena itulah! Karena aku sahabatmu, aku tidak akan membiarkanmu mencapai tujuanmu itu!! Kamu ini masih bisa diselamatkan, kamu ini setengah hidup, Halsy. Kamu dapat dengan mudah hidup kembali dengan kekuatan Empress-mu itu yang kamu curi –“

“Sudah cukup!! Sepertinya tidak akan pernah selesai jika kita memperdebatkan masalah ini!!” geram sangat kesal dari Halsy, dia menatap tajam Herliana.

“Keras kepala seperti biasanya, ya?!!” Herliana terlihat sangat kesal sambil ikut menatap tajam Halsy.

“Herliana ..., inikah balasan setelah aku menyelamatkanmu tiga tahun yang lalu?!”

“......”

“Jika kamu masih menghalangiku, aku tidak akan segan untuk membunuhmu,” lanjutnya berteriak kesal.

“Begitu juga denganku ..., meski seluruh tubuhku hancur, meski aku mati ditanganmu!! Aku tidak akan membiarkanmu menerima takdir yang menyedihkan seperti ini!!”

“......” Halsy dan Herliana saling memberikan tatapan tajam satu sama lain. Keduanya terlihat yakin dengan pendapatnya masing-masing.

Herliana ...., Aeldra, kah? Dia bukan kineser, tapi entah kenapa insting Elfku mengatakan kalau dia benar-benar gadis yang berbahaya, ” khawatir lelaki Half-elf yang berada dibelakang Halsy.

"Tapi bahkan dengan bujukan beberapa kali dari sahabatnya, Empress tidak goyah akan tujuannya ..... Sejujurnya, aku juga sangat tidak setuju dengan keputusannya ini. Apa dia, tunanganmu akan bisa menghentikan ambisimu ini, Empress?" lanjut lelaki tersebut sambil melirik Halsy.


***

My Dearest Jilid 1 Epilog Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Farhan Ariq Rahmani

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.