18 November 2015

My Dearest Jilid 1 Chapter XXVI

MY DEAREST
JILID 1 CHAPTER XXVI
AKHIR DARI PERTARUNGAN

Bagian Pertama
Suasana semakin tegang setelah kedatangan gadis yang mirip dengan Halsy Aeldra. Anggela dan Keisha terkejut tidak percaya ketika melihat dirinya.

Wajahnya, tinggi tubuhnya, bahkan pakaiannya benar-benar tidak berubah seperti tiga tahun yang lalu. Dia memakai pakaian one piece putih yang sama seperti saat dia dibakar hidup-hidup.

“Hal-Halsy ..., itu kamu, kan?” tanya Anggela berjalan pelan menghampiri gadis tersebut, wajahnya benar-benar terlihat sangat bahagia, tetesan kecil air mata mulai muncul dari kedua mata tajamnya.

“......” Halsy hanya terus diam menatap Anggela, raut wajahnya tidak berubah sedikitpun.

“Di-dia tunangan Kak Anggela? Tapi bu-bukankah dia yang waktu itu menyerangmu, Kak?” tanya Anggelina terkejut tidak percaya, wajahnya terlihat khawatir sambil sesekali melirik Halsy.

“Iya, dia yang menyerangku waktu it –“ sedih Anggela pada Anggelina, tapi perkataannya terpotong oleh kakaknya yang terlihat marah.

“Tu-tunggu Anggela! Ddia mungkin musuh kita!”

“Tidak mungkin Kak!! Tidak mungkin Halsy menjadi musuh kita –“

“Aku juga khawatir dengan apa yang dia lakukan tadi kak ... Kenapa dia malah menyelamatkan Gramior? Kenapa dia menyerangmu waktu itu? Kemungkinan besar dia musuh kita ...,” khawatir Anggelina.

“Ta-tapi dia –“

“Jadi dia Halsy Aeldra itu yah?” senyum sombong Charles.

Anggela segera berbalik dan menatap tajam Charles, tatapannya saat itu adalah tatapan yang benar-benar dipenuhi kemarahan. Dia berjalan beberapa langkah ke arah Charles dan berteriak.

“Charles, apa yang telah kamu lakukan padanya?!!”

“.....” Tak ada jawaban dari Charles yang tersenyum ringan.

“CHARLES!!!” teriak Anggela semakin murka.

“Tcih ..., aku tidak melakukan apa-apa ..., dia datang padaku sendiri. Tahukah kalian...? Dialah yang telah membuatku mencapai tingkat akhir, dan dia jugalah yang membantuku untuk mencapai tujuanku ini ...,” Charles terlihat malas sambil memejamkan matanya.

“Jawab aku dengan serius!! Halsy tidak mungkin melakukan it –“ teriak kesal Anggela.

“Aku serius bodoh!!” geram Charles sangat kesal.

Aku benar-benar serius, dia benar-benar membantuku tanpa alasan yang jelas!! Aku benar-benar tidak tau apa tujuan gadis ini sebenarnya!!” batin kesal Charles melirik sinis Halsy.

“Be-benarkah itu, Halsy?”

“Ya ..., “senyum Halsy memejamkan mata.

“Eh?!” Anggela, Anggelina, dan Keisha terkejut mendengar jawaban dari Halsy.

“Ka-kamu pasti bercanda kan –“

“Aku serius, Anggela. Tolong berhentilah mengejarku, lupakanlah aku, lupakanlah janji kita .... Berikan cincin tunangan milikku pada gadis yang kamu suka ..., lalu hiduplah bahagia bersamany –“

“Mana bisa aku melakukan semua itu bodoh!!” teriak kesal Anggela. Dia menangis frustasi dan menatap tajam gadis berambut merah muda itu, hatinya sungguh terasa sakit ketika mendengar pernyataanya.

“.....” Halsy terkejut mendengar teriakan kesal dari Anggela, dia berjalan beberapa langkah mundur karena mendengar pernyataan tersebut.

Lalu setelah itu dia mulai melangkahkan kakinya kembali ke depan, wajahnya berubah menjadi wajah yang sangat kesal.

“Lalu mau kamu apa?! Ikut denganku?! Pergi ke akhirat bersamaku?!!” teriak Halsy frustasi.

“Eh ...?”

“Ap-apa maksud perkataanmu ke akhira –“ senyum Anggela keheranan, tatapannya terlihat kosong menatap Halsy.

“Hei ayolah, kita masih dalam pertempuran!” teriak kesal Charles yang merasa diabaikan, dia melemparkan sebuah pisau ke arah Anggela.

Anggela yang sedang lengah tidak mungkin dapat menghindari serangan tersebut. Dia benar-benar terkejut karena pisau tersebut mengarah cepat ke arah bagian vital miliknya.

“Kak Anggela!!” teriak khawatir Anggelina ketakutan.

“Anggela dibelakangmu!!” teriak khawatir juga dari Keisha.

Si-sial aku tidak bisa menghindar –“ gumam khawatir Anggela.

WUSHH!! CRANK!!!

Pisau tersebut dihancurkan oleh anah panah milik Halsy. Ya, Halsy menyelamatkan nyawa Anggela dengan menembakkan sebuah Holy Arrow ke arah pisau tersebut.

“Ap-apa?!” Charles terkejut tidak percaya. Dia mulai menatap tajam Halsy Aeldra.

“Halsy?” Anggela benar-benar terkejut melihat tindakan Halsy.

Sebenarnya dia ini sekutu kami atau bukan?! Kenapa dia malah membantu musuh!” batin kesal Charles melihat Halsy yang memasang wajah khawatir pada Anggela.

“Halsy, sudah kuduga kamu adalah Halsy yang kukenal, kamu adalah kekasih –“

“Sudah cukup Anggela!! Aku mohon cukup ..., kamu mungkin belum menerimannya, tapi aku sudah mati, aku tidak bisa lagi bersamamu –“

“Lalu gadis yang sekarang berada di depanku ini siapa?!! Kamu terlihat baik-baik saja, kamu terlihat seperti manusia normal!”

“Apa ...? manusia normal?! Dengarkan aku baik-baik Anggela! Tubuhku ini tidak pernah berubah! Aku ini sudah mati, kumohon terimalah kenyataan ini!!”

“Kamu bohong, kamu –“

“Oh astaga, mustahil!” geram Charles ketakutan lalu jatuh tersungkur melihat Halsy.

“Haah?! Apanya yang mustahil?!” tanya Anggela kesal penasaran.

“Charles ..., jangan bilang kalau kamu berniat menggunakan skill Human Doll pada Halsy?!” tanya Keisha sangat kesal.

“Aku memang berniat melakukannya .... Tapi tidak bisa!! Aku tidak bisa melakukannya!! Dia tidak memiliki hawa kehidupan!! Dia bukan berasal dari dunia ini!”

“Jadi maksudnya?!” tanya kaget Anggelina.

“Dia sudah mati!!” teriak Charles sambil menunjuk Halsy.

“Be-benarkah –“ Gramior ikut terkejut tidak percaya.

“Sialan!! Apa katamu tadi, hah?! Dia itu masih hidup, jangan berbicara –“

“Anggela lupakan dulu Halsy!! Serang gramior sekarang juga!!” Keisha terlihat sangat khawatir.

Aku benar-benar melupakannya!! Karena tiba-tiba muncul Halsy, aku lupa kalau Gramior sedang mempersiapkan skill terkuatnya!!”

“Tapi Kak –“

“Cepat!!” teriak Keisha dengan nada sangat tinggi.

“Baiklah ....” 

“........”

“Giga Stream!!” Anggela menembakkan skill yang sama pada Gamior, tapi sekali lagi.


WUSHHH BAAAAMMMMMM!!!!

Holy Arrow!!” Halsy menghentikan serangan Anggela, dia memasang wajah sedih sambil melakukan hal tersebut.

WUSHHHHHHH CRANKKK!!

“Ke-kenapa?!!” teriak kesal Anggela berbalik melihat Halsy.

“Maaf Anggela, sebaiknya kamu pergilah dari sini sekarang juga!” Halsy menyesal sambil membuat sebuah gerbang dimensi yang menghubungkan dengan dunia asal Anggela.

“Gramior, apa masih belum?!” teriak Charles sangat kesal.

“Berisik! Aku sudah menyelesaikannya sekarang ...,” senyum kesal Gramior. 

“......” Semua orang disana seketika terkejut, khususnya Keisha.

Disortion Space!!” teriak Gramior mengeluarkan skill terkuatnya.

WUINGGGGGG WUSHHHHHHHH!!!!

Terlihat bola yang maha besar yang berwarna biru keputihan. Bola itu menghisap semua orang yang diinginkan pengguna, dan sepertinya mustahil untuk menghindari serangan tersebut. Seberapa jauh musuh untuk menghindar, seberapa kuat musuh untuk bertahan, tetap saja akan terhisap.

Tidak ada gunanya untuk menghindar!!” batin khawatir Keisha.

Despaired of The Horizon!” teriak Keisha mengeluarkan skill blackhole yang seukuran dengan Disortion Space milik Gramior.

WUING WUING WUING WUSHHHWUSHH!!!

Keisha beniat menghisap skill milik Gramior dengan skill miliknya, tapi malah sebaliknya yang terjadi. Kedua skill tersebut saling bertubrukan, dan saling menghisap satu sama lain.

DURUDURDUUDUDD!!! WUSHHHHH!!!

DURURUDUDUDDUD!!! WUSSSHHHH!!!

“Jika kamu sudah mati, kenapa kamu disini? Kenapa kamu melakukan semua ini?!” teriak Anggela pada Halsy, suasana saat itu sangat berisik karena bentrokan skill milik Gramior dan Keisha.

“Aku harus melakukan sesuatu sebelum aku mencapai akhirat ..., mengertilah, dan cepat masuk gerbang ini! Kamu hanya akan mati sia-sia disini!” senyum khawatir Halsy sambil mempertahankan gerbangnya.

“Tidak mau!! Aku akan membantumu!! Aku akan membantumu untuk menyelesaikan tugas itu!!”

“Anggela ..., “ senyum Halsy, senyuman kebahagian yang dikeluarkan oleh mantan kekasihnya itu.

Senyuman tersebut merupakan senyuman pertama kali yang dilihat oleh Anggela sejak tiga tahun yang lalu. Anggela benar-benar terkejut melihat senyuman Halsy saat itu.

“Aku akan menyusulmu nanti,” lanjutnya tersenyum yang mengeluarkan air mata kebahagian. Dia menghilang dalam sekejap dari hadapan Anggela.

“Tung-tunggu Halsy, apa maksudnya itu!!”

Suasana menjadi sangat panik karna bentrokan skill Keisha dan Gramior.

“Gramior!! Apa yang akan terjadi sekarang?!” tanya khawatir Charles.

“Kak Keisha, apa yang terjadi disini?!!”  tanya khawatir Anggelina sambil memegang Fie, Heliasha, dan Alysha yang tidak sadarkan diri.

“Se-sebentar lagi akan ada ledakan yang sangat dashyat ...,” gumam sangat khawatir dari Gramior. Dia melirik Charles dengan tatapan ketakutan.

“Dan sepertinya mustahil bagi kita menghindari ledakan tersebut ...,” Keisha menangis kecil sambil melihat Anggelina.

“Ap-apa maksudnya itu?!!” tanya khawatir Anggela sambil berjalan cepat ke arah Keisha.

Big Bang ..., itu yang akan terjadi!”

“Haah?! Apa maksud Kakak kalau kita akan mati disin –“ Anggela terdiam terkejut karena mendengar kata-kata terakhir dari kekasihnya.

Aku akan menyusulmu nanti.”

Ahhh ..., jadi ini maksudnya. Dia sudah tau kalau kami akan mati disini. Tapi tak apa, yang pasti aku sudah mengetahui kalau Halsy tidak bersekongkol dengan Charles!” gumam Anggela tersenyum dalam hatinya.

“Ki-kita akan mati?!” tanya Anggelina menangis ketakutan.

“Tak apa, kakak bersamamu!” Keisha berjalan perlahan menghampiri Anggelina, lalu memeluk lembut dirinya.

Cesss.........

BOOOOOMMMMMMM!!!! DUARRRRRRRR!!!

BOOOOMMMMMMMM!!!!DUUUUUAAAAARRRRRRR!! DUUUAARRRR!!

Terdengar suara ledakan yang maha dahsyat. Jika pertarungan ini dilakukan di bumi, tempat asal Anggela. Sudah dapat dipastikan kalau sebagian planet tersebut akan hancur tak berbekas.

Anggela dan yang lainnya benar-benar lenyap tak berbekas karena ledakan tersebut. Mereka mungkin tidak sempat merasakan rasa sakit karena ledakan tersebut.

***

Bagian Kedua 
Di waktu yang sama, di waktu yang bersamaan dengan akhir pertarungan Anggela dan Charles. Hizkil dan yang lainnya terlihat sedang bersantai di dalam salah satu gerbong Trainwater. Ini merupakan hari ketiga, sekaligus hari terakhir mereka untuk melakukan Study Tour.

“Tidak terasa kita sudah menyelesaikan Study tour kita, “senyum Eliza sambil berjalan menghampiri Shina.

Shina terlihat sedang duduk memandang segelas jus dihadapannya, wajahnya terlihat murung saat memandangi jus tersebut.

“Hey!!” Eliza menepuk pundak Shina, dan dalam sekejap Shina pun langsung terkejut karena sapaan tiba-tiba dari sahabatnya.

“Eh?!”

Eliza tersenyum memandangi wajah lucu dari sahabatnya yang terkejut. Secara perlahan Eliza memegang pipi kanan dan kiri sahabatnya itu dengan kedua tangannya.

Dia menggoyang-goyangkan pipinya tersebut ke kanan dan ke kiri. Mulai tersenyum melihat sahabatnya.

“Sampai kapan kamu mau murung seperti ini ...?”

Salsa yang duduk berhadapan dengan Shina hanya tertawa kecil melihat tindakan Eliza tersebut, dia tertawa karena melihat wajah Shina yang sangat lucu kesakitan.

“Aw aw aw, sakit!”

“Hahahahaha, makanya tersenyum dong!” Eliza tertawa sambil menghentikan tindakannya.

“.....” Shina hanya tersenyum melihat Eliza sambil memegang kedua pipinya.

“Kamu pasti mengkhawatirkannya yah?” tanya Sylvia tersenyum melihat Shina. Dia berjalan mengahampiri mereka sambil membawa segelas jus sirsak.

“Iya, kamu juga kan?” senyum Shina melirik Sylvia.

“Tentu saja,” jawabnya tersenyum lalu duduk di samping Shina.

“Anggela dan yang lainnya, kah?” Hizkil berjalan menghampiri mereka.

“Iya, apa sekarang mereka baik-baik saja ya?” tanya Shina khawatir.

“Mereka pasti baik-baik saja,” senyum Salsa melihat Shina.

“Benar apa yang dikatakan oleh Salsa, mereka pasti baik-baik saja ..., mereka itu kan kineser tingkat atas.” Eliza sambil duduk di samping Salsa.

“Aku mengerti kalau Kak Hizkil tidak ikut dalam pertempuran itu, tapi kenapa Guru Jim juga tidak ikut?” tanya Sylvia penasaran.

“Iya aku juga penasaran ..., kenapa dia tidak ikut? Padahal dia termasuk delapan kineser terkuat.” Shina memasang wajah penasaran pada Hizkil.

“Hmmm ...., aku juga tidak begitu tau alasannya. Dia memang sering begitu, selalu tidak ingin ikut campur dengan hal-hal yang cukup penting seperti ini.” Jawab Hizkil sambil memasang wajah berpikir.

“Begitukah?! Aku juga merasa kalau dia terkadang menjaga jarak dengan kita, kenapa yah?” tanya Eliza penasaran.

“Mungkin itu cuman perasaanmu saja Eliza,” senyum Sylvia melihat Eliza.

“Iya mungkin saja itu cuman perasaanku.”

“Tapi yang lebih penting ....,” Sylvia tersenyum licik pada sahabatnya, Salsa.

“Ya-yang lebih penting?” tanya gugup Salsa yang ketakutan.

“Apa hubunganmu dengan Ray, apa kalian memiliki hubungan spesial?!”

“Ah so-soal itu ..., tidak ada .... Itu hanya masa lalu,” jawab Salsa memalingkan wajahnya yang memerah.

“Eehh ..., ayo ceritakan dong!” bujuk Sylvia.

“Sudahlah Sylvia ..., kasian kan Salsa jika dia didesak seperti itu,” senyum Hizkil melirik Salsa.

“Memangnya kenapa Kak? Padahal aku juga ingin dengar,” keluh Eliza.

“Ah ..., jangan-jangan Kak Hizkil suka juga yah sama Salsa?!” lanjut Eliza bertanya menggoda Hizkil.

“Hm,” senyum Hizkil melihat Eliza, senyumannya menggambarkan kalau dia berkata iya.

“Se-serius?!” tanya Eliza sangat terkejut.

“Dia bohong Eliza, mustahil Kak Hizkil tertarik dengan seorang gadis.” Shina lalu secara perlahan meminum jusnya.

“Jika dipikir-pikir kamu benar, Shina.” Eliza memasang wajah penasaran.

“Kenapa kamu selalu menolak gadis yang menyatakan cintanya padamu, kak?!” lanjut Eliza bertanya.

“Iya, aku juga sering mendengar julukan Kak Hizkil. Kalau tidak salah ...., Penghancur hati wanita?” Sylvia memasang wajah berpikir.

“Ap-apa-apaan itu? Aku baru pertama kali mendengar sebutan it –“ Hizkil memasang wajah keheranan.

“Aaahhh ..., aku juga pernah dengar sebutan itu!” Eliza sambil menunjuk Sylvia.

“Eh, se-serius?!” tanya Hizkil terkejut.

“Tapi kenapa Kak?! Padahal gadis yang menyukai Kakak itu cantik semua, kaya, populer lagi,” tanya Eliza penasaran.

“Bu-bukan apa-apa,” Hizkil memalingkan wajahnya. Secara perlahan dia meminum segelas kopi yang ia bawa sebelumnya.

“Apa karena gadis yang bernama Herliana –“ senyum Salsa menggodanya.

“Burkghh!” Hizkil terkejut dan sontak langsung batuk tersedak.

“Uhuk uhuk uhuk!”

“Binggo,” senyum Shina melirik Hizkil.

“Ya karna dia,“ senyum kesal Hizkil melirik Shina.

“Serius?! Lalu –“ Eliza perkataannya terhentikan karena mendengar suara kosleting listrik yang cukup keras.

ZZzzztt!

“Ap-apa itu?” tanya Salsa khawatir.

“Aahhhhh tidak!! Lampu yang diberikan oleh Anggela mati!” Sylvia memasang wajah sedih melihat lampu yang berbentuk bintang.

“Ahhh, aku juga!” Shina ikut memasang wajah sedih melihat lampu miliknya.

“Di-dimana kalian mendapatkan itu?!” tanya gugup Hizkil yang ketakutan.

“Dimana? Anggela sendiri yang memberikan kami ini tiga hari yang lalu, ya kan?” Sylvia melirik Shina.

“Iya ..., katanya kalau ada sesuatu yang buruk terjadi sama kami, kami disuruh memecahkan lampu ini.” Shina memasang wajah berpikir.

LOES?!! Life Of Electrical Signal?! Pembawa pesan yang memberitahukan kondisi pemilik aslinya. Semakin redup, maka semakin gawat kondisi penggunanya. Tapi sinyalnya mati, kedua sinyalnya mati!! Ap-apa maksudnya ini?!” Hizkil memasang wajah shock sambil terus melihat bola lampu yang tidak menyala tersebut.

“Ka-Kak Hizkil? Ke-kenapa wajah kakak pucat begitu?” tanya Shina khawatir, lalu tidak sengaja dia malah menjatuhkan bola lampunya.

CRANK!

“Aaahhh jatuh!” Shina khawatir melihat bola lampur tersebut.

“Shina gawat!! Kamu memecahkan bola lampunya!!” Eliza khawatir melihat Shina.

“Ke-kenapa?!”

“Bukankah Anggela yang bilang sendiri kalau kalian hanya boleh memecahkan lampu itu jika kondisinya sedang gawat. Tapi sekarang kan ...”

“Ka-kamu benar!” Shina khawatir.

“Aduuhh ..., bagaimana ini!” Shina memasang wajah khawatir lalu kembali bertanya pada Hizkil yang berjalan menjauhi mereka.

Di-dia tidak akan datang! Ang-anggela tidak akan –“ gumam Hizkil ketakutan dalam hatinya. Keringat dingin mulai muncul disekitar tubuhnya. Tubuhnya sungguh merinding ketakutan.

“Ka-kak Hizkil mau kemana?!” tanya Shina penasaran.

“To-toilet.” Hizkil tersenyum, dia benar-benar berusaha menyembunyikan kesedihannya.

Hizkil perlahan membuka pintu toilet dengan tangan kanannya yang bergemetar hebat. Dia mulai bergumam dalam hatinya, bergumam sangat sedih hingga mengeluarkan air matanya.

Pertama Halsy, lalu Herliana, dan sekarang kamu, Anggela?! Jangan bercanda!!! Apa kalian mencoba meninggalkanku sendirian di dunia ini?!”

Salsa hanya melirik serius Hizkil yang terlihat aneh. Setelah itu dia tersenyum sambil memejamkan matanya. Mulai bergumam dalam hatinya.

Sudah dimulai ....., kah?”

~~~

Di waktu bersamaan saat bola lampu milik Shina dan Sylvia pecah. Di gerbong ruang pembimbing, gerbong yang berukuran lebih kecil tapi terlihat sangat mewah. Terlihat Jim pembimbing dari kelas B yang mencoba meminum kopinya, akan tetapi.

BRAKK!!

“Jim! Ka-kamu merasakannya?!” Guru Lina, pembimbing kelas A. Dia memasang wajah sangat terkejut sambil menggebrak meja dan berdiri dari tempat duduknya.

“Ap-apa?!” tanya Jim gugup sambil membatalkan tindakannya untuk meminum kopi.

“Haah?! Kamu ini bodoh yah?! Masa kamu tidak merasakan keberadaan mereka yang lenyap?!” tanya Lina sangat kesal.

“Ooohhh maksudmu keberadaan Anggela, Anggelina, dan Keisha?” tanya Jim lalu meminum kopinya.

Sprutt~~

“Iya ...! Kamu pasti merasakan keberadaan mereka yang menghilang dari dunia ini kan?!” tanya Lina memasang wajah yang sangat gembira.

“Iya tentu saja,” senyum sedih Jim sambil menyimpan gelasnya di atas meja.

“Oh ya Tuhan!! Akhirnya ..., akhirnya kita bebas juga!! Akhirnya kita bisa bebas dari bocah-bocah keparat itu!!” teriaknya memasang wajah sangat gembira sambil melihat jendela ke luar. Dirinya melihat pemandang laut samudra yang sangat indah.

“Hei ..., paling tidak pasang wajah sedih untuk kepergian mereka. Kasian kan mereka, jika kamu berkata seperti itu,” khawatir Jim melirik guru Lina.

“Ke-kenapa aku harus memasang wajah sedih untuk bocah-bocah brengsek itu?” senyum Lina berbalik melihat Jim.

Seketika Jim hanya terdiam terkejut melihat wajah Lina yang tersenyum. Jim hanya bisa memasang wajah sedih sambil terus mendengarkan ocehan perempuan tersebut.

“Kita harusnya senang, kan?! Sepuluh tahun lebih kita harus bersembunyi dari dunia ini karena mereka, sepuluh tahun lebih kita harus menyamar menjadi orang lain karena mereka, sepuluh tahun lebih kita harus menutupi identitas kita karena mereka. Bahkan karena mereka juga pergerakan kita jadi terbatas ...!! Tapi setelah mereka tiada, akhirnya kita be-bebas .... Ki-kita bebas!! “

Jim mulai berjalan pelan menghampiri Lina sambil mengambil sapu tangan dari sakunya. Secara perlahan dia mulai mengusap air mata yang dikeluarkan oleh wanita paruh baya itu.

“Sudah berhentilah ...., sangat menakutkan jika kamu tersenyum sambil menangis seperti ini ...,” senyum sedih Jim.

“Ehhh ...., ke-kenapa aku menangis?!” Lina sambil mengusap air matanya dengan kedua tangannya.

“Diamlah ..., biar aku yang mengusap wajahmu,” Jim memasang wajah sangat sedih sambil terus membersihkan air mata Lina.

“Ak-aku tidak mengerti?! Hiks ..., ke-kenapa aku malah menangis seperti ini?! Hiks ..., seharusnya ak-aku senang kan? Se-seharusnya aku gembira ka –“

“Sudahlah ..., percuma kamu menjelek-jelekkan mereka sekarang, percuma kamu memasang wajah gembira saat keadaan menyedihkan seperti ini.

Kamu tidak bisa membohongi perasaanmu sendiri dengan bersikap seperti ini karena bagaimanapun ..., mereka adalah anak-anak kandungmu sendiri, Keina,” senyum sedih Jim melihat Lina yang air matanya semakin deras.

“Se-Seraph ..., haaaa!! Hiks ..., ahaaahaa!!” Lina menangis sambil memeluk erat Jim. Tangisannya sangat pelan tapi memiliki tekanan nada yang dalam. Wajah gembiranya berubah drastis menjadi wajah kesedihan yang amat sangat dalam.

“Ak-aku tau hari ini akan datang!! Hiks ..., aku bahkan sudah memikirkan hal-hal jelek tentang mereka. Aku pikir dengan memikirkan hal itu, aku bisa lebih ikhlas melepaskan mereka ..., tapi te-tetap saja!! Tetap saja sangat berat untuk melepaskan merek –“

“Uahhhaaa ...!!” lanjutnya menangis dengan suara yang lebih tinggi.

“Sudahlah Keina, biarkan mereka pergi. Kita tidak dapat merubah takdir mereka,” Jim sambil mengusap pelan kepala Lina.

Lina hanya terus menangis tidak menjawab pernyataan Jim, dia benar-benar terpukul karena kepergian Anggela dan yang lainnya.

Tiba-tiba, seluruh bentuk tubuh mereka berubah, seketika rambut Lina yang berwarna hitam berubah menjadi putih bersih, bahkan seluruh wajahnya pun ikut berubah.

Evelyn, sudah saatnya yah?” gumam Jim dalam hatinya.

“Keina, yang lebih penting sekarang kita harus pergi dari sini .... Akan berbahaya jika orang-orang melihat penampilan kita sekarang.”

“Emm ..., hiks ..., hiks,” Lina menganggukan kepalanya sambil terus menangis.

***

Bagian Ketiga 
Di daerah Frosy yang cukup terpencil, terlihat sebuah rumah yang sederhana, rumah yang terbuat dari kayu yang berwarna kuning kecoklatan.

Di dalamnya terlihat Ray yang sedang membaca sebuah buku biru besar, mungkin sangat besar. Dia membaca buku tersebut di sebuah sofa kuning yang terlihat sangat empuk.

Wajah Ray terlihat benar-benar serius saat dia membaca buku tersebut. Bagaikan sebuah isyarat jika dia tidak ingin diganggu oleh sekitarnya.

Tapi sayang, saudari kembarannya yang sedang duduk disampingnya malah mulai menggodanya, Rin bergumam kecil sambil melirik saudara kembarnya tersebut.

“Kutu buku ....”

Ray tidak menghiraukan ejekan dari Rin, saudari kembarnya. Dia terus membaca buku tersebut dengan sangat serius.

“Heei ..., kutu buku ....” Rin kembali bergumam kecil.

Ray yang konsentrasinya sedikit tergangu mulai menjawab respon Rin. Dia berpikir kalau dengan menjawab sapaan saudarinya tersebut, dia akan terbebas dengan gangguan lainnya yang diberikan oleh Rin.

“Katakan saja Rin, aku sedang sibuk sekarang.”

“Emmm dingin banget ....,” Rin terlihat cemberut tak senang.

“......” Ray melirik sinis Rin.

“Hmmmm, ma-mau kopi? Aku buatin nih,” senyum manis dari Rin melihat saudara kembarnya. Dia mencoba berdiri dari tempat duduknya.

“Aku Pass, “ jawab Ray singkat lalu membuka sebuah lembaran baru dari bukunya yang besar.

Srek ...!

“Kenapa kamu harus seserius seperti itu? Apa yang sebenarnya kamu cari dari buku legenda peninggalan ras kita?” tanya Rin kebingungan sambil berjalan ke arah dapur, Rin memasang wajah malas sambil melirik Ray yang terus membaca buku.

“Aku hanya ingin tau, apakah memang benar ada kemampuan yang bisa mengendalikan mahluk hidup?!” Ray merasa kesal karena terus ditanyai oleh saudari kembarnya.

“Hmmmm ..., kenapa tidak kamu coba tanyakan saja pada Guru Alfa?! Mungkin dia tau sesuatu?!” Rin sambil menyiapkan segelas kopi panas untuk dirinya sendiri.

“Sudah ....., dan dia tidak tau apapun tentang kemampuan tersebut,” lirik Ray melihat Rin yang sedang menuangkan air panas pada segelas kopinya.

“Begitukah?” Rin sambil mencium aroma kopi yang selesai ia buat.

“Iya..”

“Emmm harum ....”

“Harum?”

“Ah tidak, aku hanya berbicara sendiri,” senyum Rin sambil kembali menghampiri Ray.

“Begitu ...,” Ray lalu kembali membaca buku besarnya.

Saat berjalan menuju sofa yang diduduki Ray, Rin mulai bersenadu indah. Wajahnya yang sangat manis seolah menggambarkan kebahagian dari dirinya, tapi.

CRANKK!!!

“Rin?! Apa yang kamu lakukan sampai bisa menjatuhkan –“ geram kesal Ray berbalik melihat Rin, tapi dia langsung terdiam terkejut ketika melihat wajah Rin yang benar-benar terlihat shock.

“Rin?” tanya pelan Ray khawatir.

“Me-mereka mati?” Rin bergumam sendiri dengan tatapan yang kosong.

“Mati?” Ray penasaran.lalu secara perlahan menyimpan bukunya dan berdiri.

“Kak Keisha, Kak Heliasha, Alysha, Anggela, Anggelina, dan gadis yang bernama Fie juga ...., telah menghilang dari dunia ini ...,” Rin lalu tersungkur jatuh duduk tidak berdaya.

“Rin!!” teriak khawatir Ray berjalan cepat menghampiri saudari kembarnya yang terjatuh.

“Aku menggunakan kemampuanku untuk mengetahui kondisi mereka. Tapi ....”

“Mereka menghilang dari dunia ini?” tanya pelan Ray sambil memeluk saudari kembarnya.

“Iya ..., Charles dan kelompoknya juga menghilang dari dunia ini,” Rin menangis kecil.

“Be-begitu ...,” senyum sedih Ray yang terkejut.

Kalian mengorbankan nyawa kalian untuk kedamaian, kah? Aku tarik kata-kataku yang menghina padamu sebelumnya, Anggela. Terima kasi,” batin Ray tersenyum sedih.

~~~

Jauh dari tempat Rin dan Ray, terlihat sebuah pulau yang terpencil, atau mungkin sangat terpencil. Bahkan pulau tersebut tidak terlihat dalam peta dunia.

Pulau tersebut tepat berada di tengah-tengah samudra yang memisahkan daerah Dealendra dengan daerah Frosy.

Di pulau yang terlihat tidak berpenghuni tersebut terlihat sebuah cafe kecil yang sangat berkelas.

Entah kenapa sebuah cafe bisa berada di sebuah pulau yang tidak berpenghuni tersebut, yang pasti bangunannya tersebut benar-benar terlihat seperti sebuah cafe.

Seorang lelaki berambut coklat baru saja turun dari F-Car-nya. Umurnya sekitar 30 tahunan ke atas, wajahnya tidak terlalu terlihat jelas, karena dia memakai sebuah kacama berwarna hitam.

Dia berjalan pelan sambil menghirup sebuah rokok yang baru ia nyalakan, dia berjalan ke arah cafe yang berkelas tersebut.

Trining~~

Seperti itulah suara pintu cafe yang terbuka, terlihat cafe tersebut yang benar-benar sepi dari pelanggan. Padahal cafe tersebut terlihat sangat bersih dan  nyaman bila dijadikan sebagai tempat untuk merenung.

Lelaki tersebut berjalan ke arah bar. Terlihat seorang gadis yang memakai pakaian apron dengan sebuah topi pantai yang sudah siap melayani pelanggan.

“Bukankah sedikit aneh jika kamu menyambut pelanggan dengan pakaian seperti itu?” senyum lelaki yang menggunakan kacamata, dia mematikan rokoknya yang terlihat masih panjang.

“Tidak juga, lagipula tindakan paman untuk mematikan rokok sangatlah bijak. Tidak biasanya aku melihat paman merokok seperti tadi,”

“Aku hanya tau kalau cafe ini melarang pelanggannya untuk merokok. Yang lebih penting lagi, tumben kamu yang menjaga cafe ini, kemana kakak?” tanya lelaki tersebut lalu duduk di sebuah kursi dekat bar.

“Mamah? Dia pergi ke hutan mencari kayu bakar.”

“Mencari kayu bakar?! Hahahahahahaha ...., tidak biasanya Kak Hana mau melakukan itu,” senyum lelaki tersebut melihat gadis yang sedang menyiapkan kopi untuk dirinya.

Cappucino, kan?” tanya gadis bertopi sambil menghidangkan segelas kopi Cappucino.

“Ya, terima kasih, tapi.”

“Tapi?”

“Kalian berdua ini aneh yah ...., kenapa malah membuka sebuah cafe di tempat yang terpencil seperti ini?”

“Entahlah, itu ide mamah. Aku hanya ikutan saja.”

“Begitu.” Senyum lelaki berkaca mata sambil melihat langit-langit cafe tersebut.

***

Bagian Keempat 
Trining~

Pintu cafe tersebut kembali terbuka, kali ini terlihat seorang lelaki dengan seorang perempuan yang saling berpegangan tangan.

Sang perempuan memiliki wajah yang sangat cantik dengan warna rambut putih bersih, kulitnya benar-benar mulus putih seputih salju. Sedangkan sang lelaki memiliki rambut hitam dengan mata yang tajam berwarna biru.

Wajah perempuan tersebut terlihat memerah sedih, seakan-akan dia baru saja selesai menangis.

“Selamat datang ...,” gumam gadis bertopi pantai sambil membungkukkan badannya.

“Kalian terlambat!” kesal dari lelaki yang memakai kacamata.

“Maaf .... Kak Hana dimana?” tanya lelaki yang memiliki mata biru.

“Mencari kayu bakar.”

“Se-serius?!”

“Bohong, kan?!” tanya kaget dari perempuan berambut putih dan lelaki bermata biru.

“Iya serius, aku juga sedikit kaget,” senyum lelaki berkaca mata hitam.

“Tapi yang lebih penting, sepertinya kalian sudah menyadari keberadaan mereka yang lenyap kan?” lanjutnya memasang wajah serius.

“Ya.”

“Em.”

“Bagaimana pendapat kalian tentang ramalan ini, Jim, Lina?!” tanya lelaki berkacamata, dia tersenyum melirik lelaki bermata biru dan perempuan berambut putih.

“Bisa kau hentikan itu? Penyamaran kita sudah selesai.”

“Benar apa yang dikatakan oleh Serraph, kami sudah muak dengan penyamaran ini.”

“Baiklah ...., emm Keina. Kamu baru saja menangis, kan?” senyum lelaki berkacamata.

“Berisik!! Istrimu juga pasti begitu, kan?!” teriak kesal Keina dengan wajah yang memerah.

“Yaa, dia benar-benar sangat sedih,” senyum sedih lelaki berkacamata hitam.

Asha, kah? Dia memang benar-benar rapuh kalau menghadapi hal seperti ini,” gumam Serraph memasang wajah berpikir. Dia dan Keina duduk di tempat duduk dekat lelaki yang menggunakan kacamata.

~~

Untuk sesaat suasana menjadi hening, tidak ada sepatah kata pun yang keluar hingga gadis bertopi memulai pembicaraan.

Pak Serraph, bagaimana keadaan mereka selama ini?”

“Iya, tolong laporkan tugasmu yang bartugas memata-matai mereka,” pinta lelaki berkacamata.

“Baiklah, tapi yang lebih penting Haikal. Bisa kamu lepaskan kacamata hitammu itu?! Entah kenapa itu benar-benar membuatku kesal,” senyum kesal Serraph.

“Eh ..., padahal kupikir ini sedikit keren,” jelas Haikal sambil melepaskan kacamata hitamnya.

“Keren? Ya terserah kamu saja. Tapi yang penting, Anggela, Anggelina, dan Keisha baik-baik saja selama ini,” jelas Serraph singkat.

“Haahh?! Itu saja?! Bagaimana dengan Heliasha, Alysha, dan Halsy! Aku ingin mendengar tumbuh berkembangnya anak-anakku!”

“Kalau begitu kenapa tidak kamu saja yang melihatnya sendiri?!”

“Apa kamu gila?! Aku tidak terlalu bisa dalam hal penyamaran. Bisa-bisa mereka mengenaliku!”

“Baiklah baiklah, biar aku ceritakan nanti padamu. Yang lebih penting, ini benar-benar terjadi, ya?” senyum sedih Serraph.

“Ya ..., jadi ini yah maksud dari perkataan Empress  waktu itu. Seluruh anak kita akan pergi meninggalkan dunia ini,” Haikal bergumam tidak percaya.

“Kita diharuskan menyembunyikan identitas kita pada dunia ini yang dengan kata lain kita harus berpura-pura mati, khususnya anak-anak kita sendiri harus percaya akan hal ini. Jika tidak, dunia ini akan benar-benar berantakan.”

“Tap-tapi itu terlalu kejam!! Aku hanya bisa melihat Keisha, Anggelina, dan Anggela dari kejauhan. Setiap kali aku melihat mereka, hatiku benar-benar sakit!! Kenapa aku tidak boleh berada di sisi anak-anakku!” Keina menangis kembali.

“Apa boleh buat, ini takdir mereka. Jika kita menghentikan takdir mereka, kita hanya akan membuat dunia ini berantakan. Bukankah begitu yang dikatakan oleh Empress?” tanya Seraph melirik Haikal.

“Ya, lalu setelah mereka meninggalkan dunia ini. Kita baru diperbolehkan untuk mengungkapkan identitas kita pada dunia,” senyum sedih Haikal.

“Tapi apa gunanya?! Aku tidak bisa melihat Anak-anakku!”

“Tenanglah Keina, kita hanya bisa mendoakan mereka dari sini. Semoga mereka selamat disana.” Serraph sambil mengelus-ngelus Keina yang terus menangis.

~~

“Ohh iya ..., ada yang mau aku tanyakan?”

“Hm?” tanya semua orang yang disana melihat Seraph.

"Apa dia benar-benar menangis?!" tanya Seraph melirik Haikal.

"Dia? Maksudmu Asha?"

“Ya, aku ingin melihat wajah cantik Asha yang menangis ... –“ tanya Seraph penasaran. Tapi langsung terdiam ketika Keina mencubit perutnya.

“Aw ...,”

“.....” Keina melirik sinis Serraph.

“Ma-maaf, aku tidak serius kok,” senyum Serraph khawatir.

“Hmm ...,” Keina terlihat paham, wajahnya masih terlihat marah tak senang.

“.....”

“Dia benar-benar menangis seperti anak kecil, benar-benar memalukkan –“ senyum Haikal.

Trining~~

“Hey!! Apakah bagus jika kamu menyebarkan aib istrimu sendiri pada orang lain?!” kesal seorang gadis cantik berambut putih kemerahmudaan. Matanya indah berwarna merah muda seperti bunga sakura.

Meski wajahnya terlihat berantakan karena menangis, dia masih saja terlihat cantik.

“As-Asha?!” tanya kaget Haikal melihat gadis tersebut.

“Selamat datang,” senyum manis gadis bertopi membungkukkan badannya.

Emo, kenapa kamu meninggalkanku?!!” geram kesal Asha sambil berjalan cepat ke arah Haikal.

“As-Asha ..., ak-aku minta maaf!” Haikal sedikit ketakutan, wajahnya sungguh terlihat khawatir.

“Tapi kalian berdua terlalu berlebihan yah ...? Kenapa harus menangis seperti itu?!” tanya Seraph kebingungan, dia melirik Asha dan Keina.

“Benar yang dikatakan oleh Serraph, padahal kan –“ Haikal dengan nada malas.

“Kalian tidak akan mengerti perasaan seorang ibu yang ditinggalkan oleh anak-anaknya!!” teriak kesal dari Keina dan Asha ke arah mereka berdua.

“Ba-baik ..., kami mengerti!” jawab pelan dari Haikal dan Serraph yang ketakutan.

Gadis bertopi pantai hanya tertawa kecil melihat situasi tersebut.

Ahahaha, seandainya Anggela dan yang lainnya ada disini .... Mereka pasti akan lebih bahagia,” batinnya.

Trining~

“Sudahlah kalian berdua, jangan berlebihan tentang hal ini! Lagipula bukan berarti mereka semua mati kan?!” kesal seorang gadis kecil yang memasuki cafe tersebut.

Gadis tersebut benar-benar terlihat sangat manis dengan warna rambut lurus dan warna mata kuning keemasan. Gadis tersebut terlihat seperti gadis yang berumur sepuluh tahun.

Evelyn!! Karena Rin dan Ray tidak menghilang, kamu tidak akan mengerti perasaan kami!! Kamu curang!!” teriak Asha menunjuk gadis yang baru memasuki cafe tersebut.

“Kamu pengkhianat!!” teriak Keina menunjuk Evelyn.

“Eehhh ...., ak-aku tidak tau! Lagipula hilang atau tidaknya Rin dan Ray bukan urusanku!” Evelyn memalingkan wajahnya yang sedikit gembira.

“Bohong!! Pembohong wajahmu itu!! Saat ini kamu pasti gembira kan!” teriak kesal dari Asha yang lucu.

“Iya kamu pasti bahagia karena bisa bertemu dengan anak-anakmu!” lanjut Keina memasang wajah seperti Asha.

“Tentu saja bahagia, Akhirnya sejak 10 tahun lebih –“ senyum Evelyn.

“Sudah berisik kalian bertiga!” geram kesal Haikal dan Seraph bersamaan.

“Dasar kalian ini,” lanjut Haikal.

“Seperti anak kecil.”Seraph yang seolah-olah melanjutkan perkataan Haikal.

“KALIAN YANG BERISIK!!” teriak kesal dari Asha, Keina, dan Evelyn bersamaan.

“.....” Haikal dan Serraph hanya terdiam khawatir.

“He-hei, kalian ini sudah dewasa, kan? Maka dari itu bersikaplah dewas –“ Haikal memejamkan matanya, lalu.

“Ah, yang satu ini tidak berubah sedikit pun,” lanjutnya melirik Evelyn.

“Apa maksudmu itu kak?!” tanya pelan Evelyn dengan tekanan nada yang dalam.

“Bu-bukan apa-apa,” Haikal memalingkan wajahnya yang ketakutan.

"Sudah sudah kalian berdua," senyum gadis bertopi mencoba meleraikan perdebatan mereka.

"Tapi aku masih penasaran denganmu ...," lirik Serraph pada gadis yang memakai topi.

"Penasaran?" tanya gadis tersebut kebingungan.

"Aku juga, apa itu benar? Apa yang dikatakan oleh ibumu itu benar?" Haikal ikut melirik gadis tersebut.

"Ap-apa maksud paman?" tanya gugup dari gadis tersebut.

"Maksud mereka berdua adalah, apa kamu tidak ingin menemuinya? Menemui lelaki yang kamu suka. Anggela dan yang lainnya telah menghilang dari dunia ini, seharusnya kamu sudah bisa menemuinya sekarang, kan?" jelas Evelyn memejamkan matanya.

"Ohhh itu ...," senyum gadis tersebut sambil menyimpan gelas yang baru ia bersihkan.

"Jadi apa itu benar, Herliana?" senyum Asha ke arah gadis yang memakai topi. Gadis tersebut perlahan mengangkat wajahnya.

Terlihatlah wajah cantik dengan rambut kuning cerah. Dirinya terlihat menawan dan dewasa. Dia mulai tersenyum manis menjawab pertanyaan Asha.

“Itu memang benar ...., tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk menunjukan diriku pada dunia ini."

“Aneh ..., padahal pertama kali kamu datang ke dunia ini, kamu ingin segera menemuinya. Tapi kenapa sekarang jadi begini?” lanjut Haikal bertanya kebingungan.

“Hahahaha tak apa paman, aku akan tetap menunjukan diriku setelah Anggela dan yang lainnya kembali,” senyum manis Herliana.

“Begitu,” senyum Haikal yang diikuti dengan yang lainnya.

Anggela ..., cepatlah pulang dan jika bisa, bawalah Halsy bersamamu! Aku dan Hizkil akan setia menunggu kalian berdua di dunia ini!” gumam Herliana  tersenyum dalam hati.

***

My Dearest Jilid 1 Chapter XXVI Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Fariq Farhan Ariq

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.