09 November 2015

My Dearest Jilid 1 Chapter XXV



MY DEAREST
JILID 1 CHAPTER XXV
KAWAN ATAU LAWAN

Bagian Pertama
Anggela dan yang lainnya telah memasuki sebuah restoran cukup berkelas. Mereka benar-benar menjadi pusat perhatian saat itu.

Kenapa ....? Coba bayangkan saja, beberapa gadis sangat cantik seperti Heliasha, Rin, Anggelina, Shina dan Salsa saat ini bersama dengan mereka.

“Mo-model?”

“Cantiknya, deketin mereka yuk!”

“Bentar, disana ada beberapa laki-laki ..., mungkin mereka salah satu pacarnya.”

“Mustahil ..., paling cuman pembantunya!”

Mungkin seperti itulah pembicaraan para pelanggan restoran itu, pembicaraan yang masih terdengar oleh Anggela dan yang lainnya.

“Hmm ...,” senyum sombong Heliasha melirik Anggela.

“Pe-pembantu ..., Buft –....,” Alysha terlihat berusaha keras menahan tawa.

“Hah?!” lirik kesal Anggela pada Heliasha dan Alysha.

“Ud-udah, ka-kalian mau makan apa ...? Bufft – ...,” tanya Anggelina yang juga menahan tawanya.

“Bahkan kamu juga?” senyum Hizkil melirik Anggelina.

“Hahahahahaha, maaf maaf, aku gak kuat! Hahahahaha!” pada akhirnya gadis berambut putih itu tertawa sangat bahagia.

“Udah kalian semua ..., gak enak sama Anggela dan yang lainnya,” Shina terlihat khawatir menenangkan teman-temannya.

“Iya benar, apa yang dikatakan oleh Shina –“ khawatir Sylvia.

“KYAAA!!”

Perkataan Sylvia terhentikan oleh suara teriakan keras dari luar restoran, teriakan seorang gadis yang benar-benar ketakutan.

“Ap-apa itu –“ Shina cukup ketakutan.

“Aku keluar ....!” geram khawatir Anggela, dia bergegas keluar restoran dengan cukup cepat.

“Aku ikut!” Heliasha juga terlihat khawatir, dia berjalan cukup cepat mengikuti Anggela yang berlari.

"Rin ....?" khawatir Ray pada saudara kembarnya, nadanya terdengar pelan karena kepanikkan disekitarnya.

"Ya ..., kemungkinan itu mereka," Rin tersenyum khawatir memejamkan mata, tangannya mulai bergemetar ketakutan.

“......”

"Kita juga harus perg –“ Anggelina berniat mengikuti kakaknya dan Heliasha, tapi.

"Tidak, biarkan saja Anggela dan Kak Heliasha yang melihat keadaan sekitar," senyum sedih Rin menghentikan Anggelina.

“.......”

Anggela terlihat berlari keluar restoran, Heliasha juga terlihat berlari mengikutinya.

Sesampainya disana, betapa terkejutnya mereka berdua ketika melihat sekerumunan orang yang sedang mengelilingi sesuatu. Kepanikkan benar-benar terasa dalam kerumunan itu, semua orang memasang wajah yang sama saat melihat pusat kerumunan itu.

Memasang wajah yang amat ketakutan.

“Panggil medis!! Seorang gadis terluka parah disini!” teriak seorang gadis menangis ketakutan.

Seorang gadis?! Halsy!” batin Anggela ketakutan.

Dia berjalan cukup cepat memasuki kerumunan tersebut. Satu-satunya gadis yang terpikirkan oleh Anggela saat ini adalah kekasihnya, Halsy. Dia terus memasang wajah sangat khawatir sambil terus melewati kerumunan tersebut.

Pada akhirnya dia melihatnya, melihat rupa gadis tersebut. Gadis tersebut tidak sadarkan diri karena luka ditubuhnya yang amat sangat parah. Untuk sesaat Anggela terdiam terkejut melihat gadis sekarat itu terbaring dihadapannya.

Dia sangat mengenali gadis yang terlihat menyedihkan itu.

Si-Silca?! Kenapa?!” Anggela sangat terkejut melihat Silca yang sekarat.

Dia benar-benar terkejut melihat salah satu kineser tingkat akhir dalam kondisi yang memprihatinkan seperti itu.

“Silca! Kamu tidak apa-apa?!” tanya khawatir Anggela sambil mengangkat tubuh Silca yang berlumuran darah.

“Si-siapa yang berani melakukan ini padam –“

“Charles!!” geram sangat kesal Heliasha melihat lelaki berambut perak dihadapannya. Lelaki itu tepat berdiri di depan Anggela dengan senyuman kecil melihat Silca yang tak sadarkan diri.

Tatapan Heliasha saat itu benar-benar sangat tajam padanya.

Charles?! Jadi dia orangnya .....? Jadi dia yang membunuh Halsy ...!?” senyum mengerikan Anggela dalam hati.

Wajahnya terlihat amat senang karena telah menemukan buruannya.

Sambil menggendong Silca, dia menatap Charles dengan tatapan yang tajam, tatapan kekesalan, tatapan yang penuh dengan amarah.

“Heliasha ....!? Astaga yang benar saja ...., apa keburuntunganku sekarang sedang buruk yah ....? Aku tidak menyangka bisa bertemu Kineser tingkat akhir sesering ini,” senyum Charles mulai melihat Heliasha yang masih menatap tajam dirinya.

“Charles!! –“ teriak Heliasha amat murka, akan tetapi.

“Kak Heliasha, bisa kamu pegang Silca sebentar?” tanya Anggela pelan menundukkan kepala, nadanya terdengar amat sangat dalam.

“Eh ....?” Heliasha terdiam cukup terkejut, tubuhnya sedikit bergemetar melihat Anggela.

Anggela perlahan memberikan Silca yang ia gendong pada Heliasha.

“Tung-tunggu Anggela, apa yang mau kamu laku ....., – kan?“ khawatir Heliasha, tapi perkataanya kembali tidak selesai karena terkejut melihat keberadaan Anggela yang menghilang dari hadapannya.

Dalam sekejap terdengar benturan yang sangat keras, benturan yang membuat seluruh orang terkejut ketakutan.

DUAK!!!! HYUNGGGGGGGG DUARRRR!!!

Charles terlempar sangat jauh.

Dia mendapatkan tendangan yang sangat keras dari Anggela hingga menembus tiga gedung sekaligus.

Arghhh.... ! –“

DUARR!!! DUARR! DARGGH!

“Se-sejak kapan?!” lanjut Charles terkejut sambil terus menabrak dinding gedung dibelakangnya. Wajahnya terlihat kesakitan karena serangan Anggela..

Dalam sekejap Anggela sudah berdiri di samping Gramior dan Lily, berdiri tepat dimana Charles sebelumnya berpijak.

Gramior dan Lily hanya memasang wajah terkejut melihat Anggela yang sudah disampingnya, mereka benar-benar tidak bisa melihat pergerakan lelaki berambut putih itu.

Ce-cepat!! Tidak, sangat cepat! Dia Anggela, Anggela adik Keisha?” Gramior terkejut ketakutan sambil melirik Anggela yang berada disampingnya. Tubuhnya bergemetar ketakutan.

Ap– apa-apaan anak ini?! Kecepatannya melebihi kecepatan suara!! Si-siapa anak ini?!!” Lily berjalan mundur satu langkah karena ketakutan.

“Charles ..., kubunuh kau ....!” senyum kesal Anggela, nada suaranya benar-benar memiliki tekanan yang dalam. Tatapannya sungguh tajam pada Charles yang masih menempel pada dinding bangunan.

“Kak Anggela!! Tenangkan dirimu!” teriak Alysha yang baru sampai di tempat kejadian. Wajahnya terlihat khawatir ketakutan.

Dia berdiri sejajar dengan Heliasha yang menggendong Silca. Kedua tangannya bergemetar karena mengingat pertarungan latihan dengan Anggela.

Dia sendiri yang paling tau kekuatan Anggela karena sudah pernah melawannya saat latih tanding.

“Mu-mustahil Alysha, dia benar-benar sudah mengamuk ....,” Heliasha terlihat sangat kesal menatap tajam Anggela

“Tapi Kak –“ khawatir Alysha ketakutan

“Pegang Silca sebentar,” Heliasha mulai memberikan tubuh Silca pada adiknya. Setelah itu dia terlihat memejamkan mata seolah sedang berkonsentrasi.

“.....”

“Charles, lawan aku!!” teriak Anggela ke arah Charles dengan penuh murka.

Si-siapa anak ini?! Ayo ingat Charles!! Dimana aku bertemu dengannya?!” gumam khawatir Charles sambil menutup luka pada kepalanya. Tubuhnya bergemetar, wajahnya terlihat khawatir karena tak melihat pergerakan Anggela yang melebihi kecepatan Silca.

“Charles –“ teriak kesal Anggela kembali, dia bersiap menyerang Charles kembali, tapi.

KREKK ..., TREKTEKK ....!!

Tubuhnya terhenti, tubuh Anggela tidak bisa digerakan. Seluruh ototnya benar-benar terkunci oleh suatu hal.

Ke-kenapa!?” batin terkejut Anggela sambil terus mencoba menggerakkan tubuhnya. Tapi seberapa keras ia berusaha, dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya.

Pada akhirnya dia mulai teringat dan sadar, secara perlahan dia mulai melirik ke belakang sambil berbicara kembali dalam hatinya.

Jangan-jangan?!”

Hemotaker ...!!” Heliasha memejamkan matanya, dia mengangkat tangan kanannya ke arah Anggela.

Hemotaker, salah satu skill Hemokinesis milik Heliasha. Pengguna memanipulasi aliran darah target. Lalu setelah itu menghentikan pergerakan target dengan membekukan seluruh pergerakan ototnya.

Sudah kuduga, Heliasha!!”

“Kak Anggela!! Aku tau kamu sangat marah, tapi pikirkan bagaimana nasib orang-orang disini?! Mereka hanya akan mati sia-sia karena pertarungan kalian!!” khawatir Alysha pada Anggela.

“.....”

“Tenangkan dirimu atau kubunuh kau disini sekarang juga, Anggela!” kesal Heliasha pada Anggela, tatapan Heliasha saat itu benar-benar serius.

Semua orang yang ada disana benar-benar terkejut melihat kejadian amat cepat tersebut, ada yang lari ketakutan, ada juga yang terdiam tidak bisa menggerakkan tubuhnya.

“Pertarungan Kineser! Kita harus lari jika tidak ingin mati!!”

“Kamu benar! Mereka monster!” teriak beberapa orang sambil lari ketakutan.

Dalam sekejap area itu seperti sedang dilanda bencana hingga membuat semua orang menangis berlari ketakutan.

“Gra-Gramior, Lily! Kita mundur!” teriak Charles pada Gramior dan Lily.

“Y-ya!” jawab serentak dari mereka berdua.

Mereka pun menghilang dengan dimensi yang dibuat oleh Gramior.

Sementara itu masih di tempat yang sama. Suasana masih terlihat tegang karena kejadian tersebut.
Tubuh Anggela masih terkunci oleh kemampuan Heliasha.

“Kak, paling tidak biarkan dia berbicara,” senyum khawatir Alysha melihat Anggela.

“Baiklah,” jawab Heliasha memejamkan matanya.

“....”

“Kenapa kau malah menghentikanku, Heliasha!!” teriak kesal dari Anggela, dia menatap tajam Heliasha.

“Jika kamu ingin bertarung, lihat situasi sekitar!! Jangan melibatkan orang luar, bodoh!!”

“Iya, jika Kak Anggela ingin bertarung, paling tidak lakukan di Schyte Room.”

“....!” Anggela hanya terdiam kesal.

“......” Alysha hanya menatap khawatir Anggela yang kesal itu.

“Baiklah, aku mengerti. Jadi lepaskan aku sekarang!”

“Syukurlah kalau kamu mengerti,” jelas Heliasha membatalkan kemampuannya. Dia mulai berjalan menghampiri Alysha yang menggendong Silca.

Dia membekukan seluruh luka luar yang diterima Silca dengan kemampuannya.

“Aku sudah menghentikan pendarahannya, tapi kita tetap harus membawanya ke rumah sakit. Dia kehilangan banyak darah, lagipula beberapa tulangnya juga ada yang patah,” khawatir Heliasha.

“Aku tidak percaya kalau Kak Silca saja bisa kalah seperti ini,” Alysha sangat sedih memejamkan mata.

“Sepertinya Charles benar-benar sangat kuat. Kita terpaksa harus menunggunya sadar,” senyum Anggela melirik Silca.

“Untuk mendapatkan informasi kekuatan musuh, kah?” tanya Heliasha tersenyum melihat Anggela.

“Ya ....,”

“Tapi sayangnya kita tidak memiliki banyak waktu. Selain itu, aku juga tak yakin jika Silca akan segera siuman,” khawatir Heliasha pada Silca yang memprihatinkan.

“......” Anggela dan Alysha hanya memasang wajah sedih.

“......”

“Maaf Heliasha, aku sudah lepas kendali tadi,” Anggela terlihat meminta maaf memejamkan mata.

“Tak apa, aku juga hampir sama sepertimu dulu,” senyum Heliasha.

“Terima kasih .... Tapi Heliasha, sesungguhnya aku benar-benar ingin menghajarnya secepat mungkin.” Anggela mengepalkan kedua tangannya.

“Aku tau perasaanmu, tapi kita tidak bisa gegabah. Charles mungkin memiliki kemampuan yang belum kita ketahui.”

“Iya, aku tahu itu.”

"Kalau begitu ayo kita kembali ke restoran, Anggelina dan yang lainnya sudah menunggu kita."

"Kamu hanya lapar kan, Heliasha?" tanya Anggela melirik Heliasha.

Heliasha hanya tersenyum ketika Anggela berkata seperti itu.

"Ak-aku mau membawa Kak Silca ke rumah sakit dulu," Alysha sambil berjalan cepat menjauhi Anggela dan Heliasha. Dia membawa Silca dengan kemampuannya.

"Apa perlu kakak temani?” khawatir Heliasha.

“Ayolah Kak, aku bukan anak kecil lagi,” gerutu manis Alysha.

Tapi kau memang masih anak kecil,” batin Heliasha dan Anggela bersamaan, dia tersenyum kecil melihat Alysha.

***

Bagian Kedua 
07.00 PM di rumah sakit pusat daerah Frosy, mungkin lebih tepatnya di depan lorong ruangan UGD.

Anggela dan yang lainnya terlihat sedang mendiskusikan sesuatu yang amat sangat penting. Mereka terlihat berdebat cukup serius akan suatu hal.

Shina, Eliza dan kineser tingkat rendah lainnya telah kembali ke hotel, hanya Hizkil saja yang bersama dengan mereka.

“Aku tidak peduli dengan apa yang kakak katakan. Aku akan ikut dalam misi ini!” kesal Anggelina yang keras kepala.

“Anggelina mengertilah!! Musuh kita saat ini benar-benar berbahaya!! Lihat ....! Silca saja sampai kritis seperti itu!” khawatir Anggela bukan main sambil menunjuk ruangan UGD.

“Silca hanya kineser tingkat rendah, sudah sewajarnya kalau dia –“

“Dia sama seperti kami Anggelina, dia sama seperti aku dan Anggela. Kineser tingkat akhir,” sedih Heliasha memejamkan mata.

“Ap-apa maksudmu?!”

“Silca merupakan salah satu kineser tingkat akhir seperti kami.”

“Di-dia tingkat akhir? Kamu serius Kak?” tanya Hizkil cukup terkejut.

“Iya, apa kamu tau nama belakang keluarganya?”

“Nama belakangnya .... –“ Hizkil tetapi langsung terdiam terkejut karena perkataannya terpotong oleh Fie.

Liviandra,” Fie terlihat sangat sedih. Dia terlihat benar-benar terpukul karena kondisi kakaknya yang ia sayang terbaring kritis.

“Li-liviandra? Salah satu dari tiga keluarga besar ...?!” tanya Hizkil memasang wajah terkejut melihat Fie.

“Emm.” Fie menganggukkan kepalanya.

“Ja-jadi Anggelina ..., mungkin sedikit aneh jika aku berkata seperti ini, tapi lebih baik kamu mengurungkan niatmu untuk ikut dalam misi ini.“ Heliasha memasang wajah sedih.

“Ke-kenapa?! Bukankah Kak Heliasha sendiri yang memintaku untuk membantu kalian?! Kenapa jadi kakak juga memihak Kak Anggela –“

“Apa boleh buat Anggelina, kemampuan Charles diluar perkiraan kami. Kami tidak mau korban semakin bertambah!“ teriak Heliasha sangat khawatir menyanggah Anggelina yang keras kepala.

“......” Untuk sesaat suasana terasa hening setelah teriakan Heliasha.

Tap tap tap...

“......” Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang menghampiri mereka dari lorong gelap. Suara langkah kaki yang terdengar cukup menakutkan itu semakin lama semakin keras.

“Sudah kuduga kalau kalian mengejar Charles,” Ray terlihat berjalan pelan menghampiri mereka. Terlihat juga Rin dibelakangnya yang berjalan pelan mengikuti Ray.

Suara langkah kaki itu berasal dari mereka yang berwajah khawatir.
  
“Lebih baik urungkan niat kalian untuk mengejar Charles.” Rin tak mengubah wajah khawatirnya.

“Haah?! Kenapa kami harus menyerah?! Kami –“ kesal Anggela dengan nada cukup tinggi.

“Jaga nada ucapanmu pada Rin!!” teriak Ray memasang ekspresi marah.

“Sudah Ray ...,” Rin mencoba menenangkan saudaranya.

In-ini rumah sakit ... Apa tidak apa-apa terus berteriak seperti ini ...,” khawatir Hizkil dalam hatinya.

Untuk sesaat suasana menjadi tegang, terlihat Anggela dan Ray yang saling menatap satu sama lain. Bukan Tatapan ketertarikan, tatapan kekaguman, ataupun tatapan rasa khawatir.

Tatapan mereka lebih mirip seperti tatapan yang menggambarkan kemarahan, kekesalan, dan rasa saling tidak percaya satu sama lain.

“Dengarkan aku baik-baik Kak Heliasha,” lanjut Rin memasang wajah serius pada Heliasha.

Setelah melihat wajah Rin yang serius seperti itu, Heliasha langsung ikut memasang wajah serius yang dihiasi dengan kekhawatiran.

“Kamu mungkin tidak percaya ini tapi ...., Charles juga sudah mencapai tingkat akhir seperti kalian.”

“Be-benarkah?!” tanya kaget Heliasha, dia perlahan berjalan mundur satu langkah.

“Itu –“

“Itu mustahil!” Keisha berjalan cepat menghampiri mereka, dia memasang wajah tidak percaya melihat Rin.

“Keisha?” tanya Heliasha sedikit terkejut.

“Iya ini aku Heli, aku sudah mendengar semua laporannya dari Fie. Terima kasih Fie,” Keisha melihat Fie.

“Ya Kak,” senyum sedih Fie yang sedang duduk di kursi tunggu.

“Lalu kembali ke masalah tadi. Kamu pasti bercanda kan, Rin?” tanya kembali Keisha melihat Rin. Wajahnya sungguh terlihat khawatir.

“Dia serius! Jika kalian tidak ingin mati, hentikan pengejaran kalian ini! Bahkan kami, khususnya seluruh ras kami sudah kewalahan mengatasi mereka,” Ray terlihat menutup matanya.

Wajahnya benar-benar terlihat sangat kesal, seolah-olah harga dirinya sudah dihancurkan oleh Charles dan kelompoknya.

“Ba-bahkan kalian juga?!” tanya Heliasha terkejut tidak percaya.

“Emm ....,” Rin menganggukkan kepalanya.

“Aku tidak menyangka kalau ras kalian saja sudah kewalahan seperti itu.” Hizkil terkejut, lalu duduk disamping Fie.

“Iya aku juga sungguh terkejut mendengar hal itu,” Fie terlihat khawatir.

“Tunggu dulu ...., dia setingkat dengan kita, kan?! Dia sama saja dengan kita, tingkat akhir sepertiku, Kak Heli, dan Rin. Lalu apa masalahnya?!” kesal Anggela dengan nada tinggi.

“Hei aku juga disini tingkat akhir ...,” sinis Ray pada Anggela.

“Oooh maaf atas ketidaksopananku tuan pemarah,” ejek Anggela.

“Haah?! Coba katakan sekali lagi –“ Ray sangat marah.

“Ray!” teriak kesal Rin, saudara kembarnya.

Dia melirik Ray dengan tatapan yang tajam.

“Cih!” Ray memalingkan wajahnya, dia terlihat mencoba menahan emosinya.

“Berhenti berdebat karena masalah sepele seperti itu!” lanjut Rin sambil memejamkan matanya.

“Kamu juga Anggela, situasi kita saat ini sedang gawat, berhentilah bersikap kekanak-kanakan,”  kesal Keisha.

“......” Anggela hanya memalingkan wajah karena teriakan kakaknya.

Sedangkan adiknya Anggelina hanya terdiam tidak mengerti apa-apa. Ras? Dia tidak pernah mengetahui hal tersebut. Dia tidak mengerti pembicaraan mereka. Dia hanya terus berdiam diri memasang wajah keheranan.

“Baiklah Rin dan Ray, apa kamu ingin membantu kami –“

“Tidak,” jawab serentak dari mereka berdua dengan sangat cepat.

“Ke-kenapa?!” tanya Heliasha terkejut.

“Apa kalian bodoh?! Bukankah kami saat ini sedang memperingatkan kalian. Charles bukan manusia biasa, dia monster! Kami saja terpaksa melarikan diri saat melawannya,” kesal Ray.

“Pengecut ...,”gumam Anggela dengan nada pelan.

“Sialan! Kalau saja disini tidak ada Rin ..., sudah kubunuh kau dari tadi,” lirik Ray pada Anggela dengan tatapan tajam.

“Mau bertarung hah?!” senyum sombong Anggela.

“Sudah berhenti kalian berdua!! Ini bukan waktunya kalian bertengka –“ teriak Heliasha khawatir.

“AAAHH!!” teriak kaget dari Alysha, teriakan yang memotong kekhawatiran kakaknya. Wajahnya terlihat jika dirinya mulai mengingat sesuatu yang penting.

“Ke-kenapa Alysha?” tanya Keisha kaget kebingungan.

“Kakak Kakak, kita masih memiliki Anggela!! Kemampuan bertarungnya sama mengerikan dengan Charles.” Alysha menarik lengan baju kakaknya, Heliasha. Sesekali dia melirik Anggela dengan tatapan kagum.

“Ji-jika dipikir-pikir kamu benar, Alysha. saat pertarungan sesaat tadi, Anggela berhasil melukai Charles.” Heliasha memasang wajah berpikir.

“Be-benarkah?!” tanya kaget Keisha dan Anggelina melihat Anggela.

“Iya ..., Charles dan kelompoknya bahkan sampai mundur,” senyum Alysha.

“Kamu hebat Anggela,” senyum Hizkil.

“Tapi tetap saja –“ Rin semakin khawatir.

“Biarkan saja mereka Rin! Kita sudah memperingatkan mereka, keputusannya ada ditangan mereka sendiri,” geram kesal Ray berjalan pelan menuju pintu keluar.

“Emmh iya.” Rin menganggukan kepalanya, dia berjalan perlahan mengikuti Ray.

“Tunggu Rin, Ray! Jika kalian tidak berniat membantu kami, setidaknya beri tau informasi tentang kemampuan Charles,” khawatir Keisha.

“Aku tidak tau secara rinci kemampuannya, tapi yang pasti dia memiliki julukan yang mengerikan.” Rin memasang wajah khawatir melihat Keisha dan yang lainnya.

“Ap-apa?” tanya Keisha penasaran.

“.....”

Controling Life ....” Heliasha memasang wajah berpikir.

“Ya itu benar.  Dia dapat mengendalikan segala bentuk dari kehidupan,” senyum khawatir Rin.

“......!” semua orang disana hanya memasang wajah terkejut ketakutan, kecuali Rin dan Ray. Mereka berdua yang sudah tau betul akan kemampuan Charles karena pernah melawannya.

“Hei yang benar saja, memangnya ada tipe kinesis seperti itu?!” tanya khawatir Hizkil yang ketakutan.

“Entahlah, tapi –“

“Aku tidak peduli seperti apa kemampuannya, akan kubuat dia merasakan penderitaan karena telah membuat Halsy menderita,” senyum mengerikan dari Anggela.

“Bodohnya ....., sekuat apa kekuatanmu, sebesar apa kemampuanmu, secepat apa kecepatanmu tetap akan tidak berguna jika kamu tidak bisa mengendalikan tubuhmu. Kamu hanya akan mendapatkan bumerang dari kemampuanmu itu untuk teman-temanmu sendiri,” senyum Ray menghina.

“Ap-apa maksudnya itu?” tanya khawatir Heliasha.

“Kalian akan tau setelah kalian melawannya sendiri ...! Ayo Rin!” geram kesal Ray lalu berjalan menuju pintu keluar.

“Aku mohon pikirkan sekali lagi, aku mohon pertimbangkan lagi permintaanku ini ....., Kak Heliasha, Kak Keisha,” senyum sedih dari Rin menundukkan kepala, dia berjalan mengikuti Ray.

Ray terus berjalan menuju pintu keluar.

Saat masih terus berjalan, dia mulai mengingat kembali pertarungannya dengan Charles dan kelompoknya.

Seketika kedua tangannya mulai bergemetar kembali.

Lagi?!” batinnya sambil melihat tangan kananya yang bergemetar hebat.

Si-sialan!! Dengan tangan ini aku membunuh semua anggota keluarga Familiarpixie, dengan tangan ini juga aku hampir membunuh Rin!”  khawatir Ray sangat sedih sambil terus melihat tangan kanannya yang bergemetar.

“Sudah Ray, aku tidak menyalahkanmu. Lagipula saat itu kamu terkena skill Human Doll milik Charles,” senyum sedih Rin sambil memegang tangan kanan Ray yang bergemetaran.

“Ma-maaf, aku sungguh minta maaf.” Ray memasang wajah sangat frustasi.

Rin hanya tersenyum lalu berjalan melewati Ray, sedangkan Ray mulai mengikuti kembarannya tersebut sambil perasaan bersalah masih terlihat jelas diwajahnya.

Charles kamu benar-benar monster, aku belum pernah melihat tipe kinesis yang mengerikan seperti itu. Apa kamu benar-benar manusia?!” batin Ray khawatir.

“Charles ...., di-dia bagaikan Tuhan yang mengendalikan mahluknya. Semoga kalian selamat  Anggela dan yang lainnya. “ Rin bergumam khawatir dalam hatinya, dia seolah-olah melanjutkan kata hati dari kembarannya, Ray.

***

Bagian Ketiga
Beberapa hari setelah itu, Anggela dan yang lainnya mulai melakukan pengejaran pada Charles dan kelompoknya. Mencari letak keberadaan mereka.

Beberapa hari yang dilalui Anggela dan yang lainnya itu akhirnya membuahkan hasil. Kini dirinya bersama teman-temannya berniat melakukan penangkapan pada Charles dan kelompoknya.

“Kamu tidak bisa lari lagi, Charles!!” teriak kesal Anggela.

“Si-sial, markas kita diketahui oleh mereka, Charles ...,” khawatir dari Gramior menatap sekitarnya yang sudah terkepung.

Anggela, Anggelina, Alysha, Heliasha, Fie, dan Keisha telah berhasil mengepung Charles dan kelompoknya.

Kini mereka berada di area G15 daerah Frosy, mungkin lebih tepatnya di apartemen yang cukup mewah milik Putri Schwzere.

“Menyerahlah dan serahkan diri kalian para pemberontak!“ Keisha memberi peringatan.

“Dimana Halsy! Cepat katakan!” geram Anggela sangat kesal.

“Bagaimana sekarang, Charles?!” Lily khawatir melirik Charles.

Charles hanya terdiam memasang senyuman. Dirinya terlihat tenang dan tidak merasa terancam sedikitpun.

“Sialan! Kenapa kamu malah tersenyum seperti orang bodoh!” Fie sangat kesal.

“Hahahaha ....,” Charles tertawa pelan.

“.....?!”

“Akhirnya kalian datang ..., aku sudah lama menunggu kalian,” senyum Charles sedikit menundukkan kepala.

“Haah?!” tanya kaget semua orang, termasuk Gram dan Lily.

“Cha-Charles apa maksudnya ini?!” tanya Gram sedikit kesal.

“.....” Charles melirik gram.

“Kau mau melakukan itu ...?!” Gram terlihat terkejut ketakutan.

“Jangan bilang kalau kamu sendiri yang memancing mereka kesini?!” kesal Lily menatap Gram.

“Ya ..., aku sendiri yang memanggil mereka kesini.”

“.....!!”

“SI-SIALl!! Ini perangkap –“ teriak Keisha terkejut kesal.

“Boooodoh! Sudah terlambat ...., Schyte Room!!”  teriak Charles dengan nada sangat tinggi. Anggela dan yang lainnya seketika dipindahkan ke dimensi baru milik Charles.

~~

Terlihat dataran luas seperti padang pasir, langitnya berwarna ungu yang gelap, mataharinya berwarna putih mencolok.

Sesekali terlihat mahluk aneh yang mirip dengan mahluk legenda dalam mitos-mitos

Gryphon, Dragon, Pegasus, dan beberapa hewan legenda lainnya benar-benar terlihat sangat besar dan ganas. Mahluk itu benar-benar mirip dengan aslinya.

“Di-dimana ini?!” tanya Anggelina sangat khawatir.

Schyte Room kah? Jadi seperti ini Schyte Room milik Charles,” batin khawatir Heliasha sambil melihat daerah sekitar.

“Bagus ..., dengan begini aku bisa bertarung sepuasnya,” senyum Anggela bersemangat.

“Aku sudah mengingatnya, aku sudah mengingatmu sekarang,” senyum Charles melihat Anggela.

“....?”

“Kamu lelaki yang bersama Heliasha palsu itu kan?” lanjutnya bertanya meremehkan.

“Heliasha palsu?! Sialan ....,” pelan Anggela menundukkan kepala, nadanya terdengar amat dalam.

“Berani sekali kau memanggil kekasihku seperti itu, bajingan ....,” senyum kesal Anggela menatap tajam Charles.

“Hoooo ....,” Charles tersenyum melihat ekspresi Anggela yang menakutkan.

“Cepat katakan dimana dia sekarang ....!? Dia masih hidup kan ...!?” tanya kesal Anggela dengan nada tinggi.

“Entahlah ..., mungkin dengan membuatku menyerah kamu akan tahu sesuatu,” senyum Charles meremehkan.

“Menyerah? Jangan bercanda, bedebah! Aku tak akan membiarkanmu menyerah sebelum kau merasakan siksaan lebih buruk dari siksaan yang kau berikan padanya, “ senyum mengerikan Anggela menatap tajam Charles.

“......” Untuk sesaat Charles terdiam terkejut karena aura kemurkaan yang dikeluarkan Anggela.

“Alysha!!” teriak Heliasha mulai berjalan mendekati Charles. Tatapannya sangat tajam seperti Anggela. Semua monster disekitarnya terlihat ia abaikan, tatapannya hanya tertuju pada lelaki yang sudah membunuh adiknya.

“Baik Kak!!” teriak Alysha mulai berkonsentrasi mengeluarkan kemampuannya.

Ice Barrier!” teriak Alysha mengeluarkan sebuah pertahanan es untuk kakaknya, Heliasha.

“.....”

“Charles, atas kematian adik perempuanku ...., aku meminta pertanggungjawabanmu. Jika kau menolak, aku akan mengambil kepalamu tanpa permisi,” Heliasha masih menatap tajam Charles.

“Ambil saja jika kau bisa,” senyum Charles terlihat bahagia memperlihatkan lehernya.

“......” Heliasha semakin menatap tajam Charles.

“Baiklah, kita mulai permainannya ....”

Rapid removal!” teriak Gramior dan berpindah dengan menembus dimensi yang dia buat.

Dalam sekejap, dia telah berhadapan dengan Fie. Dia berniat menikam Fie dengan pisau yang ia sembunyikan dibalik jaketnya.

Fie hanya terdiam terkejut, dia tidak sempat menghindari serangan tersebut, akan tetapi.

HYUNGGG!!

Fie tertarik oleh gravitasi yang dibuat oleh Keisha. Dia melayang mendekati Keisha cukup cepat.

Regravitation!” jelas Keisha memasang wajah serius. Dia terlihat mengangkat tangan kanannya ke arah Fie yang masih melayang.

Anggelina hanya terdiam terkejut, dia terlihat kebingungan karena melihat pertempuran berbahaya disekitarnya sudah dimulai.

“Terima kasih Kak!” senyum Fie.

Secara perlahan Fie mulai melayang di udara. Dia menggunakan skill Floating Air dan menatap rendah para musuhnya yang berada dibawah. 

Tak akan kumaafkan siapapun yang melukai Kak Silca ....,” batinnya sangat kesal.

Thousand Air Shoot!!” Fie mulai menyerang Gramior dengan ribuan tembakan angin yang sangat cepatTembakan angin yang sama berbahayanya seperti peluru senapan api.

Tapi sayangnya serangan Fie itu tiba-tiba dipantulkan, ratusan tembakan angin itu malah berbalik dan menyerang Anggelina yang masih kebingungan.

Tidak mengherankan jika Anggelina terkejut akan hal itu. Dia spontan mengeluarkan benteng esnya untuk melindungi diri dari serangan Fie.

Ice Barricade!!”

CRANK! CRANK! CRANK! CRANK!!!

Ha-hampir ....!” khawatir Anggelina ketakutan.

“Lily....! “ teriak sangat kesal Keisha menatap tajam Lily. Dirinya terlihat marah karena Lily mencoba melukai adik kesayangannya.

Ya, serangan Fie tadi dengan mudahnya dibelokkan oleh kemampuan memanipulasi vektor milik Lily, Quantumkinesis.

“Anggelina, kamu jangan terlalu jauh masuk dalam pertempuran. Tolong cover kakak saja,” senyum Keisha melirik adiknya, dia berlari menghampiri Lily.

“Y-ya!” teriak Anggelina gugup.

Sementara itu kembali ke tempat pertarungan Anggela dan yang lainnya.

Terlihat Heliasha yang sedang berhadapan dengan salah satu mahluk yang mirip dengan binatang legenda. Binatang mengerikan yang dikendalikan oleh musuhnya, Charles.

Dragon, kadal raksasa bersayap dengan tinggi lebih dari 10 kaki itu sedang berhadapan dengannya.

“ROAARR!!!”

Rupa hewan tersebut benar-benar terlihat menakutkan. Tapi Heliasha tidak bergeming ketakutan sedikitpun. Dia memasang wajah serius menatap tajam mahluk tersebut.

Bloody Code: Noble Sword Damascus!” kesal Heliasha memejamkan mata.

Secara perlahan dari tubuhnya keluar imitasi pedang tertajam didunia, pedang legenda yang dapat memotong apapun, Damascus.

Skill transformasi tingkat akhir .... Sudah kuduga jika dia bisa menggunakannya!” Charles tersenyum, untuk sesaat wajahnya juga terlihat khawatir.

Kamu juga bisa memunculkan senjata legenda yah, Kak Heli ...,” batin Anggela tersenyum kagum. Dirinya terlihat bertarung dengan beberapa monster seperti Alysha.

Secara perlahan Heliasha mulai merobek kulitnya sendiri dengan pedangnya.

“Aku tidak tau mahluk apa yang ada diruanganmu ini. Sejauh apa yang kuketahui, mahluk bernama Dragon berjuta kali lipat lebih mengerikan dari ini ...,” jelas Heliasha yang masih merobek kulitnya sendiri.

“......”

Setetes demi setetes darah Heliasha mulai keluar dari luka yang ia buat sendiri itu. Lalu dirasa sudah cukup, dia kembali menutup luka yang ia buat sendiri tersebut dengan membekukan darahnya sendiri.

“Fie ....!” teriak Heliasha melirik Fie yang melayang.

“Ba-baik ....!” khawatir Fie mengangkat kedua tangannya ke arah Heliasha. Dia terlihat berkonsentrasi keras. 

“.....”

Endowinds ....!” teriak Fie menembakkan sebuah angin lembut ke arah Heliasha. Angin pelan dan menyejukkan hingga membuat rambut Heliasha melayang untuk sebentar.

Dalam sekejap Heliasha melayang dan terbang seperti Fie.

Endowinds, merupakan buff khusus milik Fie. Skill ini memberikan target kemampuan terbang seperti skill Floating air. Tapi sayangnya skill ini hanya bisa bertahan selama 10 menit.

“Charles kau tau ...., kau sudah membuat dua kesalahan yang besar. Yang pertama kau sudah membunuh adik perempuanku, salah satu keluargaku yang berharga ....,” senyum Heliasha menutup matanya. Darah miliknya yang melayang mulai menggupal dan membentuk sebuah senjata yang bernama pedang.

“.....”

“Dan yang kedua adalah ...., dirimu yang tak pernah menunjukan perasaan bersalah karena membunuhnya membuatku semakin marah padamu!” teriak Heliasha. Darah disekitarnya yang sebelumnya masih berupa darah cair seketika membeku dan berubah menjadi pedang amat tajam yang mengerikan.

“.....!!”

“Kau telah membunuh anak buaya ... Sekarang rasakanlah kemarahan induknya ...!” teriak Heliasha murka terbang ke sana kemari sambil membawa pedang tertajam di dunia, Damascus.

Dia menebas dengan sangat mudah Dragon yang berada dihadapannya hingga terbelah secara rapih.

Dibelakangnya juga terlihat ratusan pedang yang terbuat dari darah yang membeku, pedang yang melayang tersebut seakan-akan sudah siap memberikan bantuan pada Heliasha yang marah.

SRETT!! SRETTT!! SLASH!! SLASH!!

GUWRHHH!! GRAAWHH!!

Satu demi satu hewan mirip legenda itu dia potong. Bahkan hewan kuat mirip seperti Dragon dan Gryphon dapat ia potong dengan sangat mudah oleh pedangnya.

Me-menakutkan!! Aku baru kali ini melihat Kakak bertarung serius seperti ini!” Alysha memasang wajah khawatir ketakutan. Dia hanya terdiam melihat Kakanya yang menyapu bersih musuh sendirian.

Semua gerakannya untuk menyerang musuh terlihat indah dan menawan, tidak banyak dari gerakannya itu yang terbuang percuma, sehingga membuat dia lebih bisa menghemat staminanya.

“Sudah kuduga dia monster ...,” khawatir Gram melihat Heliasha yang memotong hewan ganas satu per satu.

DRAGH! DRAGH!! DRAGH!!

Seperti itulah suara jatuhnya para monster milik Charles.

Charles hanya terdiam dan semakin tersenyum melihat Heliasha yang menjatuhkan pasukannya secara terus menerus.

“Jika kau masih bisa tersenyum, ijinkan aku lebih serius bertarung denganmu sekarang, “ senyum kesal Heliasha sambil melirik sinis Charles. Setelah itu dia memejamkan mata dan mulai berkonsetrasi.

Bloody Dance Hell!” teriak Heliasha.

Dalam sekejap seluruh pedang yang terbuat dari darah miliknya mulai berterbangan sendiri, mereka bergerak bebas menikam hewan legenda secara acak.

Bahkan darah yang dikeluarkan oleh hewan legenda tersebut juga berubah menjadi pedang yang dia gunakan untuk menikam hewan lainnya.

Bagaikan sebuah pesta berdarah yang amat mengerikan.

Jadi ini Sang Blood Taker itu ....? Menganggumkan, benar-benar mengagumkan,” gumam Charles tersenyum kagum melihat kemampuan Heliasha yang mengerikan. Bulu kuduknya mulai berdiri melihat Heliasha.

Ayolah Heli, jika begini terus kau bisa mengalahkan Charles sendirian,” kesal Anggela melihat Heliasha. Dirinya terlihat tidak senang

Sedangkan di waktu yang sama, di tempat pertarungan Keisha yang tidak jauh dari sana.

Keisha terlihat sudah menggunakan kemampuan skill passive tingkat tingginya, Gravity Mode. Dia melayang cepat ke arah Lily yang sudah tersenyum bersiaga.

Sedangkan Gramior berada jauh di belakang Lily, dia terlihat berkonsentrasi mengeluarkan skill terkuatnya.

“Akhirnya kita berhadapan, Sang bintang,” senyum Lily ke arah Keisha. Dirinya terlihat melayang di udara.

“Ya ...., Reflections Directions!” senyum kesal Keisha sambil menyerang Lily dengan Gravity Shock.

Seketika Lily melayang tak beraturan di udara, gravitasi untuknya dalam sekejap menjadi tidak stabil dan pada akhirnya terjatuh ke bawah.

Setelah melakukan hal tersebut Keisha mulai berteriak ke arah Fie dan Anggelina.

“Anggelina, Fie, sekarang!!”

“Yaa ..., Ice spears !!” teriak Anggelina menembakkan lima tombak es sekaligus ke arah Lily yang baru saja mendarat ditanah.

Dragon Winds Stalker!!” teriak kesal Fie, dia juga melemparkan sebuah angin berbentuk naga yang sangat besar ke arah Lily.

Lily hanya tersenyum melihat serangan dari Fie dan Anggelina. Selanjutnya dia mulai bergumam dengan nada pelan.

Referral ...,”

DUAANGGKKK!!! DUAAANGGKKK!!

Kedua serangan Anggelina dan Fie menjadi dibelokkan ke arah Keisha.

Keisha yang terkejut segera membuat pertahanan tingkat tinggi untuk menahan kedua serangan tersebut.

Reflection Of Gravity!” teriak Keisha khawatir merentangkan kedua tangannya hingga sejajar dengan bahu.

Dalam sekejap muncul lah sebuah pelindung berwarna ungu yang melindunginya. Pelindung tersebut memantulkan serangan Anggelina dan Fie ke berbagai arah.

Beberapa saat setelah Keisha memantulkan serangan tersebut, Keisha mulai membatalkan skill pertahanannya berniat mengambil nafas kelelahan.

DUANGKK!!

Tapi pada saat itulah, Lily tiba-tiba telah berada di depannya. Dia memantulkan vektor pada pijakan kakinya hingga mendapatkan dorongan cepat untuk mendekati musuhnya.

Pada saat itulah dia berniat memukul jantung Heliasha dengan tangan kanannya. Jika Heliasha terkena serangan itu, dirinya dipastikan mati karena jantungnya yang meledak dikeluarkan karena vektor Lily.

DUAANNGGKK!! KRAAKK!!

Keisha yang sedang lengah, tidak bisa menghindari serangan tersebut. Untuk menghindari luka yang fatal, dia menahan pukulan Lily dengan tangan kirinya. Alhasil tangannya yang terkena pukulan vektor Lily seketika patah dan bengkok.

“AKkhh!!!” teriak Keisha kesakitan.

“KAKAK!” teriak Anggelina khawatir melihat kakaknya yang terluka.

“Diam Anggelina! Jangan menangis!” teriak Keisha melirik adiknya yang ingin menangis.

“Ta-tapi ..., hiks!”

“Fie, kita lakukan itu!” senyum Keisha memjamkan mata.

“Eh? Ba-baiklah!”

Keisha melayang menjauhi Lily, dia berkonsentrasi keras mengangkat tangan kanannya ke arah Lily. Sedikit demi sedikit percikan listrik berwarna hitam mulai muncul disekitarnya.

Lalu dirasa sudah cukup mengumpulkan aliran listrik ditangannya itu, Keisha mulai mengangkat tangannya dan mengibaskan tangan kanannya itu ke arah Lily.

Thunderbrake Area!” teriaknya sangat keras.

JLEEEGAR!

Sambaran petir hitam lekas melayang cepat menghampiri Lily. Sambaran petir bertegangan tinggi dan terlihat sangat berbahaya.

Melihat hal itu Lily lekas mengangkat kedua tangannya ke arah Keisha, dia berkonsentrasi memantulkan sambaran petir hitam yang berbahaya itu.

DUANGGKK!!!!

Tapi pada saat itulah, saat Llily berkonsentrasi memantulkan serangan Keisha, Fie terlihat sudah melayang memutari tubuh Lily. Kini dia tepat berada dibelakangnya sambil mengangkat kedua tangannya ke arah Fie.

Cyclone Mortality!”

Pusaran angin seketika muncul mengeliling Lily, terus berputar cepat hingga Lily kesulitan untuk bernafas. Kepalanya kosong dan kesulitan berkonsetrasi mengeluarkan kemampuannya. Pada akhirnya dia pingsan dan tak sadarkan diri.

“Akhirnya kita bisa mengatasin –“ senyum Anggelina, tapi nada yang terdengar bahagia itu seketika terpotong oleh teriakan Anggela yang khawatir ketakutan.

“ALYSHA!!!!”

“Eh ....,” Anggelina, Fie dan Keisha terkejut bukan main.

Mereka berbalik dan berniat melihat pertarungan di sisi lainnya.

Terlihat Alysha mendapatkan tusukan dari ratusan pedang darah diseluruh tubuhnya, padangan matanya terlihat kosong seakan sudah siap menemui ajalnya.

Mereka terkejut melihat Alysha dalam kondisi mengerikan tersebut, darah merah benar-benar mengucur dari seluruh tubuh mungilnya.

Seketika Anggelina mengeluarkan air mata kesedihan melihat kondisi Alysha. Dia berteriak ketakutan melihat gadis bernama Alysha itu.

"ALYSHA!!”

Hal yang paling membuat mereka terkejut bukanlah itu, bukanlah kondisi Alysha yang sudah diambang batas.

Tapi mereka terkejut melihat seseorang yang membuat Alysha seperti itu. Ya dia adalah kakaknya sendiri, Heliasha. Tatapan Heliasha saat itu benar-benar sangat kosong, bagaikan tubuh yang tak memiliki jiwa.

Di belakangnya terlihat Charles yang tersenyum bahagia, dia berkata dengan nada pelan yang sombong, “Human Doll ....!”

***

Bagian Keempat 
Beberapa saat sebelum Alysha terkena serangan Heliasha.

“Semua mahlukmu sudah kuhabisi ...., sekarang menyerahlah dan katakan dimana Halsy Aeldra,” ancam Heliasha melihat Charles.

Terlihat ribuan pedang darah yang mengeliling Charles, pedang tersebut sudah siap membunuh Charles.

SREET!!

Tapi dalam sekejap pedang tersebut berbalik dan malah menyerang Alysha secara cepat. Alysha yang terkejut tidak dapat menghindari serangan dari kakaknya. Dia pun mendapatkan serangan yang sangat fatal tersebut.

JLEB!! JLEB!! JLEBB!!

Ya, Heliasha telah di kendalikan oleh kemampuan Charles yang tidak diketahui. Kemampuan tingkat atas yang dia beri nama,Human Doll. 

Tatapan Heliasha saat itu benar-benar kosong, dia bagaikan mayat hidup. Bagaikan sebuah jasad tak berjiwa yang sedang dikendalikan Charles.

“.....”

Seolah tak memberikan waktu kesedihan pada Anggela dan yang lainnya, Charles lekas menggerakkan Heliasha ke arah Anggela. Dia mencoba menebas perut Anggela dengan pedang legendanya.

SLASSH!!

Anggela segera mundur beberapa langkah untuk menghindari serangan tersebut, wajahnya terlihat sangat marah sambil menggunakan kemampuan percepatan listrik ke arah Charles.

ZWIBTT!! BUARKGHH!!!

Dia mengeluarkan salah satu skill yang baru ia pelajari ke arah Charles, Knockbolt. Sebuah pukulan keras yang dialiri listrik pada tangannya. Kecepatan dan kekuatannya 200x lebih berbahaya dari pukulan biasa.

WUINGGGG!!!
  
Dalam sekejap Charles terlempar karena mendapatkan serangan Anggela tersebut. Dia terlempar ke belakang sejauh 12 meter dari pijakan sebelumnya.

Lagi ...! Aku tak bisa melihat pergerakaannya ...,” batin khawatir Charles yang masing melayang di udara.

DRAGGH!!

Charles membentur tanah dan mendapatkan beberapa goresan dalam tubuhnya.

Heliasha bergerak cepat menghampiri Charles yang terluka, dia menghentikan pendarahan Charles dengan sangat cepat.

“Sialan! Beraninya kamu memukulku .....!!” geram kesal dari Charles.

Druaghh ....!

Pada akhirnya Alysha terjatuh tak sadarkan diri, tatapannya tetap kosong seakan dia berniat meninggalkan dunia.

“ANGGELINA, RAWAT DIA!” teriak Anggela khawatir melihat adiknya.

“Iy-iya Kak!” teriak Anggelina menangis dan berlari ke arah Alysha.

Dia berniat menyembuhkan luka Alysha dengan membekukan luka bagian luarnya. Dia berniat menutup lukanya itu dan menghentikan pendarahan Alysha.

“Tidak secepat itu!! Heliasha serang dia!!” teriak Charles memberi perintah pada Heliasha.

Heliasha mengeluarkan skill tingkat tingginya, Dragon Blood Stalker. Dia membuat sebuah naga yang amat besar dari darah hewan-hewan yang ia tebas. Naga merah tersebut benar-benar besar dan keras, layaknya seperti naga sungguhan.

“Tak akan kubiarkan .....,”  Anggela terlihat berkonsentrasi keras mengangkat tangan kanannya ke arah serangan Heliasha. 

ZWIBT ZWIBT!!

“......” Percikan listrik berwarna biru kembali muncul, khususnya disekitar tangan kanannya.

BEMM!! BEZZZ!!

Getaran disekitar Anggela mulai muncul, beberapa butiran debu disekitarnya itu mulai terangkat karena medan listrik disekitar Anggela yang kuat.

Ultimate Railgun ...!!” teriak Anggela sangat kesal.

WUSHHHHHH!!! BOOOMMMM!!!

Ultimate Railgun. Kemampuan lanjutan dari Railgun, skill ini termasuk salah satu skill yang dibuat oleh Anggela sendiri. Skill ini 10x lebih kuat, lebih besar, dan lebih cepat. Selain itu jangkauannya lebih luas dari skill Railgun.

DUUUAAAAARRRR!!!!!

Skill Heliasha seketika berbenturan dengan skill Anggela. Meski ada benturan cukup keras untuk sesaat, serangan Heliasha dapat dipatahkan oleh kemampuan Anggela.

Tapi sayanganya skill Heliasha tadi hanyalah umpan, Heliasha tiba-tiba sudah berada di depan Anggela sambil membawa pedang Damascus-nya.

Dia berniat menebas perut Anggela secara Horizontal .., dari kanan ke kiri dengan amat sangat cepat oleh pedang miliknya.

Anggela yang terlambat menghindar segera membuat skill pertahanan listriknya, Divider. Pertahanan yang membuat serangan musuh menjadi diuraikan dengan tegangan listrik yang amat sangat tinggi.

SYAAAATTT!!
CRATTT!!

Tapi sayangnya pertahanan Anggela itu tidak mempan. Seketika perutnya terkena tebasan dari Heliasha. Meski bukan bagian vital, Anggela tetap mendapatkan luka yang sangat serius. Darah merah terus keluar dari perut Anggela.

“Argghhh, bajingan!!” geram Anggela kesakitan, dia mundur dan menggunakan Els ke arah Anggelina yang sedang menyembuhkan luka Alysha.

“Ka-kakak!!” Anggelina semakin khawatir ketakutan melihat kakak kembarnya.

Tidak mengherankan jika dia khawatir ketakutan. Hampir semua orang dipihaknya sudah mengalami luka serius. Hanya dirinya dan Fie yang terlihat masih baik-baik saja.

“Ak-aku tak apa, Ughh –...” Anggela terlihat kesakitan sambil memegang perutnya yang berdarah.

“Kakak!!” Anggelina berjalan cepat menghampiri kakaknya, dia berniat membekukan luka Anggela, tapi.

“Jangan pikirkan kakak!! Cepat kamu urus Alysha, nyawanya benar-benar terancam!!” teriak kesal Anggela.

“Ta-tapi –“ Anggelina semakin menangis ketakutan.

“Berisik, berhentilah menangis!! –“ geram kesal Anggela tapi perkataannya terpotong oleh Fie.

Fie melayang cepat menghampiri Anggela dan Anggelina. Wajahnya terlihat khawatir bukan main berteriak pada keduanya.

“KALIAN BERDUA AWAS!!”

WUUUZZZZZZZ!!!!!

Ribuan hujan jarum yang terbuat darah menyerang mereka berdua. Jarum tajam itu terlihat mengguyur Anggela dan Anggelina yang belum memiliki persiapan.

Heliasha menggunakan Bloody Rain dari darah yang sebelumnya dihancurkan oleh Anggela.

Bloody Rain, merupakan sebuah serangan area cukup luas dan sangat mengerikan dari hujan jarum darah yang tajam.

“Sial!! –“ teriak Anggela sangat kesal. Wajahnya terlihat khawatir sambil memegang perutnya yang terluka.

Atmosfer Deffence!!” teriak Fie mengeluarkan pertahanan terkuatnya. Dia melindungi Anggela dan yang lainnya dengan pertahanan tingkat akhirnya.
  
WUSSHHHH!! CRANK!!!
WUSSHHH!! CRANKK!! CRANK!!

“FIE!!” teriak Anggelina khawatir melihat Fie yang terlihat sangat kelelahan. Wajahnya semakin lama semakin terlihat pucat.

Fie terus mendapatkan serangan beruntun yang tidak berhenti dari Heliasha.

“Si-sial ...., ak-aku tidak kuat la-lagi!!” khawatir Fie memejamkan matanya, dia telihat sangat bersusah payah menahan serangan Heliasha.

“ANGGELA, JANGAN DIAM SAJA!!” teriak Keisha sangat kesal.

“.....”

“Setelah skill pertahanan Fie hancur lakukan sesuatu pada Heliasha!! Lalu setelah itu serang Gramior secepatnya!!” teriak kesal Keisha. Dirinya terlihat berkonsentrasi mengeluarkan skill tingkat tingginya. Wajahnya terlihat pucat, dia juga terlihat memprihatinkan dan memaksakan dirinya untuk tetap bertarung.

Kakak ....,” batin Anggelina ketakutan melihat Keisha.

“Haah?! Kenapa?!! Lalu bagaimana dengan Charles –“ kesal Anggela.

“DIAMLAH!! Jika kalian tidak ingin mati disini, cepat ikuti perintah Kakak!!” teriak Keisha sangat kesal, wajahnya benar-benar terlihat khawatir saat dia melihat Gramior.

Ti-tidak salah lagi!! Itu skill Disortion Space!! Skill terkuat milik Gramior!! Akan berbahaya jika dia berhasil menyempurnakannya!!” batin Keisha sangat khawatir.

Jadi ini rencanamu Charles?! Berniat meyapu bersih kami sekaligus ....,” lanjut Keisha dalam batinnya.

“Baiklah aku mengerti!!” teriak kesal Anggela sambil perlahan mengankat tangan kanannya. Dirinya mulai terlihat berkonsentrasi keras.

“Ak-aku tidak kuat lagi ....,” Fie dengan pandangan yang benar-benar kelelahan, dia benar-benar terlihat mau tak sadarkan diri.

“Sebenarnya aku hanya ingin menggunakan ini untuk membunuh Charles, tapi karena situasi sudah memburuk ....., aku terpaksa menggunakannya,” senyum kesal Anggela sambil merentangkan tangan kanannya yang sejajar dengan bahunya.

Code Electra: Atlantis Dhrone ....!!” gumam pelan Anggela tapi memiliki tekanan yang amat dalam.

ZWIBTT!!!

WUING!! WUINGG!! WUINGG!!

Tiba-tiba delapan buah bola yang terlihat seperti robot mulai muncul dan melayang di sekeliling Anggela. Masing-masing bolanya dialiri listrik yang amat sangat tinggi.

Traformasi ketiga?!! Se-sejak kapan dia bisa melakukannya?!” Keisha memasang wajah yang benar-benar terkejut.

"Di-dia juga bisa?" Charles terkejut melihat Anggela.

Draghh!!

Fie pingsan karena kelelahan, dia terjatuh tepat di depan Anggelina.

Terima kasih Fie,” batin Anggela tersenyum.

Saat skill Bloody Rain hampir mencapai Anggelina dan yang lainnnya. Anggela mulai berteriak.

Divider Protection!!”

Enam dari delapan bola milik Anggela segera berpencar ke setiap sudut. Mereka membuat sebuah pertahanan layaknya skill Divider, hanya saja areanya menjadi sangat luas.

Semua hujan darah yang yang datang pada mereka seketika lenyap dan diuraikan menjadi molekul yang kecil. Tegangan listrik amat tinggilah yang membuat serangan Heliasha menjadi tidak berguna

Tidak menunggu waktu yang lama, Anggela segera menggunakan percepatan listriknya tepat di depan Heliasha.

Maaf Kak, ini cara satu-satunya menghentikanmu saat ini.”

Secara perlahan Anggela menyentuh pelan kening Heliasha. Sambil menyentuh pelan, dia berkata.

Nervestun ...”

ZWIBTT CRANKSS!!

Seketika Heliasha tersentak dan terkena aliran listrik cukup tinggi. Dirinya terjatuh dan tak bergerak kembali.

Charles kembali mencoba mengendalikan Heliasha tapi tidak bisa. Tubuh Heliasha tidak dapat bergerak untuk sesaat.

Ke-kenapa Heliasha tidak mau bergerak?!!” gumam Charles sangat khawatir.

“Percuma!!! Aku sudah mematikan saraf pada otak kecilnya. Untuk beberapa jam kedepan dia tidak akan bisa bergerak,” senyum Anggela sambil memegang perutnya yang terluka.

Hujan darah yang dikeluarkan oleh Heliasha telah berhenti, Anggelina dan yang lainnya akhirnya bisa selamat.

Enam buah bola yang melindungi Anggelina dan yang lainnya juga telah kembali ke tempat Anggela.

“Sekarang bagaimana Charles?! Bisa kamu katakan dimana Hals –“

“Anggela!!! Serang Gramior sekarang!!” teriak sangat kesal dari Keisha.

“Memangnya kenapa Kak –“

“Gramior!! Masih belum selesai juga!!” teriak kesal dari Charles.

“Se-sedikit lagi!!” Gramior dengan wajah yang terlihat kelelahan.

“Jangan banyak bicara Anggela!! Cepat serang atau kita akan lenyap seketika!!” teriak kesal Keisha.

“Baiklah!!” Anggela sambil menyiapkan kemampuan selanjutnya. Dia kembali mengangkat tangan kanannya ke arah Gramior. Dia terlihat bersiap menggunakan kembali Ultimate Railgun.

Si-sial!! Aku tidak punya cukup kekuatan untuk menghambat Anggela!! Oh yaa ..., Dimana Lily?!” gumam Charles sambil mencari keberadaan Lily.

“Percuma!! Kami sudah mengalahkan gadis itu tadi! Dia sudah pingsan!” senyum Keisha melihat Charles.

Keisha seakan-akan sudah tahu kalau Charles dan kelompoknya telah tersudutkan.

“Si-sial!!” geram sangat kesal Charles.

Ini diluar perhitunganku jika Anggela juga bisa menggunakan transformasi ketiga ....”

Checkmate ...., Charles!” senyum sombong dari Keisha.

“.....” Charles hanya menatap tajam Keisha dengan penuh kemarahan.

Giga Stream!!” teriak Anggela mengeluarkan kemampuan terbarunya.

Empat buah bola Anggela bergerak cepat dan membuat sebuah gerbang di depan Anggela. Gerbang yang berwarna biru keunguan.

Lalu Anggela menggunakan Skill Ultimate Railgun ke arah gerbang tersebut. Saat Skill Ultimate Railgun itu melewati gerbang yang dibuat oleh senjata Anggela. Ukuran, kecepatan, radius, bahkan daya rusak menjadi 5x lebih mengerikan dari sebelumnya. Dan lasser besar yang keluar dari gerbang tersebut Anggela beri nama Giga Stream.

BOOOAAAMMMMMM!!!! WUAAZZ!!!

“Si-sial!! Aku tidak akan sempat menghindar!!” khawatir Gramior sangat ketakutan. Skill tersebut sangat cepat dan sudah bisa dipastikan akan mengenainya.

Udara disekitarnya terlihat terbelah saat tembakan lasser bertegangan listrik itu bergerak cepat ke arah Gramior. Hanya dalam hitungan detik saja sampai Gramior berubah menjadi debu.

Akan tetapi ....,

Molecular Code: Euryale’s Bow ...,” gumam pelan seorang gadis asing. Suaranya tidak terdengar oleh kelompok Anggela maupun kelompok Charles. Gadis tersebut terletak beberapa meter barat daya dari pertarungan berbahaya tersebut.

SREETT!!!

Dia mulai menarik busur dan bersiap menembakkan anak panah ke area pertempuran tersebut, lebih tepatnya ke arah lasser besar milik Anggela.

Tatapannya sangat tajam, wajahnya benar-benar terlihat sangat serius saat itu.

Holy Arrow ...,” jelasnya lalu mulai melepaskan anak panahnya.

Saat anak panah itu lepas landas, terdengar suara yang sangat lembut dan menenangkan orang-orang disekitarnya.

Wuiissshhhh ....!

Wuingg!

Panah tersebut melesat sangat cepat menghancurkan skill Giga stream milik Anggela. Semua orang termasuk Anggela dan Charles terkejut melihat kejadian tersebut.

Lasser besar milik Anggela benar-benar musnah tak berbekas oleh anak panah yang dikelilingi oleh cahaya emas tersebut.

“Ap-apa?!” geram Anggela terkejut bukan main. Dia berjalan satu langkah mundur seolah tak mempercayai dengan apa yang dilihatnya.

“Ak-aku selamat?! Si-siapa yang melindungiku?!” tanya Gram terkejut menatap Charles.

“En-entahlah ...,” senyum Charles yang seakan-akan sudah mengetahui siapa yang menyelamatkan Gramior.

Anggela segera mencari tahu darimana datangnya anak panah tersebut. Dia mulai berpikir kalau sekutu Charles telah datang, tapi.

“Kak Anggela, 25m di arah barat daya, musuh berada disana!!” teriak Anggelina sambil menunjuk gadis yang menghancurkan lasser besar Anggela.

Anggela segera berbalik melihat gadis tersebut, dia berniat membereskan gadis tersebut secepat mungkin. Tapi dia malah terdiam terkejut, dia benar-benar sangat terkejut melihat gadis tersebut.

Dia sangat mengenali rupa gadis tersebut, karena gadis tersebut lah dia ingin menghancurkan Charles dan kelompoknya.

Ya, gadis tersebut adalah Halsy Aeldra, gadis yang paling berharga baginya.

Halsy terlihat memejamkan matanya, perlahan menurunkan tangan kanannya yang membawa Euryale’s Bow. 

Dia tau jika Anggela telah melihat dirinya. Secara perlahan pula dia membuka matanya dan mulai tersenyum padanya.

Senyumannya itu bukan mengagambarkan kebahagian, kesombongan, atau kekhawatiran. Tapi senyumannya itu menggambarkan kesedihan yang amat sangat dalam.
  

***

My Dearest Jilid 1 Chapter XXV Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Ariq

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.