22 November 2015

Hyouka Jilid 5 Prolog LN Bahasa Indonesia



TERLALU LAMA JIKA HANYA BERJALAN

1. Sekarang: 0km
Pada akhirnya, hujan tidak turun. Padahal aku sudah berdoa sebanyak mungkin.
Tahun lalu doaku juga tidak terkabul. Ini berarti tidak ada gunanya berdoa meminta hujan. Karena sekarang aku sudah mengerti, sepertinya tahun depan aku bisa menerima dengan tenang saat hal yang tidak bisa dihindari ini terjadi lagi. Jika aku tidak harus melakukannnya, aku tidak akan melakukannya. Jika aku harus melakukannya, akan kulakukan dengan cepat. Hari ini, aku, Oreki Hōtarō, telah mengerti bahwa berdoa meminta hujan adalah hal yang tidak perlu dilakukan.
Dari sekitar ribuan siswa SMA Kamiyama yang awalnya tersebar dilapangan sekolah, sepertiganya sudah menghilang. Mereka telah berangkat dalam perjalanan jauh menuju cakrawala. Meski aku tahu mereka harus bekerja keras untuk hal yang tidak memberikan keuntungan apapun, aku tidak merasa kasihan sama sekali. Karena pada akhirnya, aku juga akan mengalami penderitaan yang sama.
Suara yang membuat pengang terdengar saat pengeras suara dinyalakan lagi, dan terdengar sebuah perintah
Semua kelas tiga sudah berangkat. Kelas 2-A, maju kedepan.”
Para siswa menempati posisinya masing-masing seakan sedang diseret oleh suatu arus. Beberapa dari mereka menunjukkan ekspresi penuh semangat, namun, kebanyakan siswa menunjukkan ekspresi pasrah yang memancarkan tanda-tanda putus asa. Mungkin aku juga memiliki ekspresi yang sama seperti itu.
Ada sebuah garis yang digambar dengan kapur di lapangan. Di ujungnya berdiri seorang anggota Komite Acara, dengan pistol di tangannya. Dia tidak tampak seperti tipe orang yang tegas dan kejam seperti para tukang atur pada umumnya. Dari tampangnya yang masih seperti anak SMP, dia pasti masih kelas satu. Dia menatap stopwatch-nya dengan serius, seolah tidak akan mentolerir ketidaktepatan waktu meski hanya satu detik. Padahal sebenarnya, dia hanya mengikuti perintah. Bahkan mungkin, dia sama sekali tidak memikirkan kemungkinan yang akan terjadi dari tindakannya terhadap kami. Bahkan jika dia sadar, kemungkinan dia akan berpikir seperti ini:
Bukan aku yang memutuskan ini. Atasanku yang menyuruhku melakukannya, dan aku harus melaksanakan tugas yang diberikan padaku. Sebenarnya aku juga tidak ingin melakukannya, jadi aku tidak bertanggung jawab atas hal ini.”
Pasti pemikiran seperti itu yang dapat membuatnya mampu melakukan kekejaman tak terkira ini tanpa banyak perubahan pada ekspresinya. Dia mengangkat pistol di tangannya dengan perlahan.
Semoga saja sekarang, tepat pada saat ini, tiba-tiba turun hujan deras yang sangat lebat yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah badan meteorologi. Tapi sayangnya, langit di bulan Juli terlihat sangat cerah dan ini membuatku kesal. Bahkan tidak akan ada hujan panas  di hari seperti ini.
Bersiap.”
Ah, benar juga. Bukankah aku sudah menyadarinya beberapa detik yang lalu? Surga tidak akan menjawab doaku itu. Aku masih punya pilihan lain dengan mencari solusi yang hanya bisa dillakukan olehku.
Bahkan sampai saat terakhir, si anggota Komite Acara tidak mengalihkan pandangan dari stopwatch miliknya. Dia menarik pelatuknya, dengan jarinya yang ramping.
Terdengar suara ledakan, dan asap putih mengepul dari ujung pistol.
Pada Hoshigaya Cup SMA Kamiyama kali ini. Akhirnya, kelas 2-A diperintahkan untuk mulai berlari.

SMA Kamiyama terkenal dengan banyaknya jumlah aktivitas klub di sekolah, bahkan untuk menghitung berapa banyaknya klub yang ada hanya akan membuat sakit kepala. Kalau tidak salah, tahun ini ada sekitar 50 klub lebih. Festival budaya musim gugur berlangsung selama tiga hari, dan semangat yang menyelubunginya terlalu besar, orang yang berkepala dingin pasti setuju kalau semua orang terlalu berlebihan.
Di sisi lain, Ini berarti akan banyak juga acara olahraga yang diadakan. Meskipun tidak ada atlit dari sekolah kita yang kelihatan mampu berkompetisi di Inter-high tahun lalu, Ku dengar klub bela diri punya sejarah yang mengesankan di Inter-high.
Saat keadaan mulai tenang seusai festival budaya berakhir, festival olah raga segera dimulai, dan akibatnya, banyak acara olahraga besar diselenggarakan tepat setelah tahun ajaran baru dimulai. Meski begitu, aku tidak merasa kalau itu merepotkan. Lagipula aku juga tidak punya keinginan yang menggebu-gebu untuk mengikutinya, tapi aku juga tidak keberatan jika harus menjadi receiver dalam permainan voli atau lari estafet 200 meter. Jika memang harus, aku bisa berusaha keras dan menunjukan senyuman kepada semua orang.
Tetapi, aku tidak bisa menunjukan senyuman itu, jika harus lari lebih jauh dari itu.
Terutama, jika harus lari sejauh 20.000 meter.
Turnamen lari jarak-jauh SMA Kamiyama setiap tahun diselenggarakan pada akhir Mei. Sebenarnya, nama aslinya adalah “Hoshigaya Cup.” Meskipun acara ini dinamai dari nama seorang lulusan yang pernah berhasil membuktikan dirinya sebagai seorang pelari jarak-jauh yang handal di Jepang, jarang yang menyebutnya begitu. Kebalikan dengan bagaimana festival budaya bisa dipanggil dengan sebutan yang misterius seperti "Kanya Festival" meskipun itu punya nama yang jelas, “Hoshigaya Cup” biasa dikenal dengan sebutan sederhana seperti “Acara Maraton”. Namun bagiku, karena temanku Fukube Satoshi selalu menyebutnya Hoshigaya Cup, akhirnya aku juga ikut menyebutnya begitu.
Saat ini, seharusnya aku bersyukur karena jarak Acara Maraton lebih pendek dari maraton yang sebenarnya, tapi tetap saja, aku sangat berharap hari ini akan turun hujan. Yang ku dengar dari Satoshi, dari pemberitahuan tentang penggunaan jalan umum menunjukan bahwa, jika terjadi hujan, maraton akan langsung dihentikan sehari penuh tanpa dilanjutkan lagi.
Namun, dia juga menambahkan, “Tapi aneh, bukan? Berdasarkan catatan yang ada, Hoshigaya Cup belum pernah dibatalkan sekalipun.”
Diluar sana pasti ada dewa yang mengawasi para peserta Hoshigaya Cup.
Dewa yang mempunya sifat yang sangat busuk.
Aku menggunakan kaos olahraga putih berlengan pendek dan celana pendek yang berwarna antara merah dan ungu, kelihatan seperti merah tua. Anak perempuan memakai celana ketat dengan warna yang sama. Di area dada pada kaos terdapat bordir lambang sekolah, dan dibawahnya terdapat kain kertas yang dijahit menunjukan kelas dan nama siswa. Benang yang menahan kain kertas "Kelas 2-A / Oreki" milikku sudah mulai copot. Menjahitnya sangat sulit sekali, dan akhirnya aku melakukannya dengan tidak niat. buruk sekali
Sekarang sudah akhir Mei, jadi hujan tidak turun sebanyak di musim yang akan datang. Jika acaranya dibatalkan pada hari jumat, acaranya tidak akan dilanjutkan keesokannya karena itu adalah akhir pekan, sepertinya kemungkinan terkecil pun juga diperhitungkan. Karena acara dimulai jam 9 pagi, udaranya masih terasa dingin. Saat matahari meninggi, aku hampir mulai berkeringat.
Di lapangan sekolah, ada pintu masuk lain selain gerbang depan, dan seluruh Kelas 2-A mulai berlari keluar dari situ. Sampai jumpa, SMA Kamiyama. Semoga kita bertemu 20 kilometer lagi.
Rute Hoshigaya Cup tidak dijelaskan dengan jelas, penjelasan yang diberikan hanyalahLakukan satu putaran mengelilingi belakang sekolah.” Masalahnya adalah, daerah pegunungan belakang sekolah berlanjut hingga kejauhan, daerah bersalju Kamikakiuchi, jadi pada kenyataannya, “lari jarak-jauhlebih pantas disebut perjalanan jalur pegunungan jarak-jauh.
Aku sangat mengenal jalurnya.
Kau harus berlari menyusuri sungai yang mengalir di depan sekolah lalu belok kanan di persimpangan pertama setelah melalui jalan menanjak. Di awal, kemiringannya bukan masalah tetapi semakin lama semakin curam. Semakin mendekati puncak, itu menjadi lereng yang menghancurkan tubuh tanpa ampun.
Setelah berhasil mendaki, Jalannya tiba-tiba menurun. Seperti lereng saat menanjak, jalan menurunnya lebih panjang dan lebih berat dari yang orang bayangkan, dan lututmu pasti akan berteriak kesakitan karena bekerja terlalu keras.
Di ujung jalan menurun terbentang lahan pedesaan yang luas. Terkadang kau bisa melihat rumah disana-sini. Meskipun jalan ini kemiringannya lebih kecil, tapi ini seperti jalur panjang yang tidak ada ujungnya, jalur inilah yang paling merusak mental peserta.
Setelah mencapai ujung jalur yang datar, kau harus melalui bukit lagi, tapi tidak seperti lereng sebelumnya, kecuramannya tidak terlalu parah. Namun, di sini jalurnya mulai berangin, dan tikungan tajam datang satu persatu menghancurkan ritme peserta.
Di depannya adalah bagian timur-laut Kota Kamiyama yang disebut Jinde, tempat dimana rumah Chitanda berada. Dari sini, ikuti sungai kecil yang menurun.
Lanjutkan dengan berjalan melewati lembah, dan kau akan kembali ke daerah perkotaan. Meski begitu, kita tidak boleh melalui jalan utama yang biasa dilalui mobil, jadi, pada akhirnya, kau harus melalui jalan belakang. Setelah melewati Kuil Arekusa dan melihat dibalik Rumah Sakit Rengō yang berwarna putih, SMA Kamiyama sudah mulai terlihat.
Kenapa aku bisa tahu? Itu karena, aku juga mengikutinya tahun kemarin. Aku tahu setiap jarak jalur dari awal mulai hingga akhir. Tetap saja pengetahuanku tidak akan memperpendek jaraknya. Meski aku tahu kemana harus pergi, aku merasa tidak perlu terlalu memikirkan proses untuk mencapainya. Meski hampir mustahil, tapi itu juga merupakan strategi yang terbaik. Dengan kata lain, untuk menutupi jarak 20km, seseorang seharusnya boleh memilih untuk menaiki bis atau sepeda. Namun sayangnya, cara berpikirku yang sangat rasional ini tidak terlalu diberi perhatian oleh orang-orang.

Di tanjakan pertama melalui sungai depan sekolah, masalah sudah mulai muncul. Kebanyakan jalur berada di daerah yang memiliki sedikit lalu lintas, namun bagian ini terhubung dengan jalan memotong menuju kota, jadi jumlah mobil yang lewat juga lumayan banyak. Dan juga, tidak ada trotoar yang memisahkan jalur pejalan kaki dengan jalanan —hanya ada sebuah garis putih. Satu-satunya alasan kenapa kami harus mulai berlari sepagi ini adalah agar tidak menyebabkan kemacetan.
Murid Kelas 2-A berlari sebaris di dalam area yang ditandai oleh garis putih. Inilah satu-satunya tempat di antara 20 km dimana semua siswa yang cepat dan lambat harus berlari dengan kecepatan yang sama. Jika tidak, bisa-bisa mereka terdorong keluar ke jalan raya. Tahun kemarin kami masih diizinkan untuk keluar melewati barisan, namun tahun ini, hal itu sudah dilarang. Itu adalah batasan yang dibuat sekolah untuk menghindari kecelakaan karena kemarin ada anak kelas tiga yang tertabrak mobil di sini. Karena itu, kami bisa merasa nyaman karena harus berdesakan di dalam garis yang membuat sulit untuk berlari.
Sepertinya aku tidak akan bisa melewati kilometer awal dengan berjalan. Barisan ini hanya berlari jogging, dengan kecepatan pelan. Jalan di hadapanku masih panjang. Jika aku membayangkan kalau jogging ini hanyalah level-selanjutnya dari berlari, mungkin aku bisa bertahan.
Kami melewati kilometer awal dalam waktu sebentar, dan jalurnya membelok ke kanan. Kami mulai menjauh dari jalan utama yang mengarah ke kota yang melewati belakang sekolah. Dan mulai mendaki lereng.
Barisan yang awalnya rapih mulai berantakan. Seolah mereka terdorong oleh rasa frustasi yang menumpuk karena tidak boleh berlari secepat yang mereka mau, Anggota kelas yang lebih atletis langsung memisahkan diri dari kelompok. Beberapa grup perempuan, yang kebanyakan termotivasi karena ingin berlari bersama teman-temannya, juga mulai maju.
Sementara itu, aku melambat.
Melambat dan semakin melambat.
Bahkan bisa dibilang aku hanya berjalan, tapi aku tetap membuatnya terlihat seolah aku sedang berlari.
Maafkan aku peserta Hoshigaya Cup, tapi aku tidak bisa berlari dengan senang gembira seperti kalian. Dalam jarak 20km ini, ada sesuatu yang harus kucari tahu, dan sekarang hanya tersisa 19km untuk melakukannya. Sekitar 100m sebelum lereng yang menanjak, aku mendengar suara yang memanggilku dari belakang.
“Ah, akhirnya ketemu.”
Aku tidak berbalik. Lagipula pemilik suara itu akan muncul di depanku.
Dia, Fukube Satoshi, turun dari sepeda yang dikendarainya.
Dari kejauhan, kupikir dia terlihat seperti seorang pria yang feminim, tapi dari dekat kau pasti akan terkejut melihat perbedaan wajahnya yang sekarang dengan yang ada di buku tahunan SMP. Tentu saja, maslahnya bukanlah wajahnya yang berubah, lebih seperti, selama setahun kemarin, dia mengunci semua emosinya dibalik kedoknya. Aku tidak menyadarinya, namun itu karena aku belum bertatapan langsung denganya selama lebih dari tiga hari.
Tahun ini, Satoshi menjadi wakil ketua Komite Acara. Karena Komite Acara-lah yang menyelenggarakan Hoshigaya Cup, para anggotanya tidak harus ikut berlari. Itu karena, mereka yang mempersiapkan semuanya sebelum balapan dimulai dan juga harus menyebar di sekitar jalur lari. Dia memakai helm kuning dan mendorong sepeda gunungnya. Aku meliriknya dari samping dan berkata, “Apa tidak apa-apa jika kau bermalasan seperti ini?”
Tenang saja, tenang saja. Aku sudah memastikan balapan dimulai tanpa masalah, dan aku juga tidak akan kembali sebelum pelari terakhir melewati garis finish.”
Pasti berat ya.”
Aku mengerti kenapa anggota Komite Acara tidak diharuskan ikut berlari adalah sebagai bentuk terima kasih karena sudah mengawasi keseluruhan jalannya Hoshigaya Cup, tapi tetap saja orang ini harus meluncur keseluruh jalur sepanjang 20km dengan sepedanya untuk melaporkan jika terjadi kejadian yang tidak diduga..
Lagipula, aku tidak benci bersepeda, jadi ini tidak terlalu buruk, tapi aku tidak perlu melakukan ini jika saja aku boleh menggunakan ponsel.”
Kenapa tidak kau bilang pada mereka?”
Secara tekhnis tidak ada siswa yang diperbolehkan membawa ponsel, tapi kenyataannya, jika seseorang terluka kau pasti akan menggunakan ponsel untuk meminta bantuan, bukan? Ya ampun, mereka benar-benar harus mengevaluasi ulang peraturan ini.”
Dan begitulah dia meratapi ketidak-fleksibelan struktur organisasi Komite Acara, namun tiba-tiba ekspresinya menjadi serius.
Jadi, Apa kau sudah punya ide?”
Aku menjawab dengan hati-hati, sambil berjalan pelan.
Masih belum.”
“Mayaka, dia…”
Dia mulai bicara, tapi terhenti. Aku tahu apa yang ingin dia katakan, jadi aku langsung bicara.
Sangat jelas kalau dia mencurigaiku.”
Tidak, kupikir bukan begitu. Dia sepertinya berpikir kalau itu tidak mungkin kau. Aku mendengarnya dari orang lain, tapi sepertinya dia bilang, ‘Kupikir bukan Hōtarō yang melakukannya. Lagipula, dia memang tak pernah melakukan apapun.’”
Senyum pahit terpampang di wajahku. Bukan hanya karena itu terdengar seperti apa yang Ibara pasti katakan, tapi kenyataannya memang seperti itu. Kemarin aku sama sekali tidak melakukan apapun.
Namun jika itu yang benar-benar dia pikirkan, keadaan akan jadi merepotkan.
Jika bukan aku…”
Tepat sekali,” jawab Satoshi dengan menghela napas panjang.
Jika bukan aku, kemungkinan hanya ada satu orang lagi. Aku mengingat apa yang terjadi kemarin.
***

2. Dulu: 1 Hari Yang Lalu
Aku sedang membaca buku saku di ruang klub sepulang sekolah. Itu adalah novel periode yang menceritakan kisah seorang pria yang akan menjadi mata-mata ahli di kemudian hari, dan konyolnya ini sangat menarik sampai membuatku yang awalnya tak tertarik menjadi keasyikan sendiri.
Di SMA Kamiyama, tempat yang dipenuhi berbagai jenis klub, setiap tahun beberapa klub dibubarkan dan digantikan dengan yang baru, pergantian ruangan klub adalah hal yang wajar saat tahun ajaran baru dimulai. Namun, Klub Sastra Klasik masih menempati ruang peralatan Geologi. Bukannya aku terpikat pada ruangan ini, tapi karena aku sudah biasa berada di ruangan ini selama setahun yang lalu, aku pun duduk di "kursi yang biasanya." Kursi yang posisinya tak pernah berubah, baris ketiga dari belakang dan tiga kursi dari jendela yang menghadap ke lapangan sekolah.
Saat aku mencapai akhir dari salah satu bab dan mengangkat kepala untuk mengambil napas karena menariknya buku ini, pintu geser ruangan tiba-tiba terbuka. Ibara masuk ke dalam, alisnya mengkerut dan ekspresi wajahnya terlihat khawatir.
Ibara Mayaka adalah siswa kelas-dua, dan dia sudah sedikit berubah. Dia sudah keluar dari klub Komunitas Peneliti Manga yang dia pernah ikuti selain Klub Sastra Klasik. Dia bilang sendiri penyebabnya adalahaku sudah lelah dengan hal itu.” Dilihat dari wajah Satoshi yang khawatir, sepertinya ada penyebab yang lain, tapi aku tidak menanyainya.
Aku tidak berpikir kalau penampilannya sudah berubah. Jika kau memasukan Ibara kedalam kelompok anak baru dan menyuruh seratus orang untuk memilih siswa kelas-dua, aku ragu akan ada yang memilih dia. Ibara akhir-akhir ini mulai menggunakan jepitan rambut, namun jika Satoshi dan yang lain tidak membicarakan itu, aku pasti tidak akan menyadarinya.
Hanya ada aku dan satu orang lagi di ruang klub. Tapi beberapa saat yang lalu, ada tiga orang di dalam.
Ibara pun bicara.
“Hey, apa terjadi sesuatu?”
Tidak...”
Yang menjawabnya adalah Chitanda.
Chitanda Eru menjadi ketua Klub Sastra Klasik untuk kedua kalinya. Dia belum memotong rambutnya akhir-akhir ini, jadi rambutnya sudah agak tambah panjang.
Ibara melihat kembali kearah lorong dan kemudian bicara dengan agak bebisik.
Tadi aku bertemu Hina-chan disana. Dia bilang dia tidak jadi bergabung.”
Apa?”
Matanya kelihatan merah. Apa dia habis menangis?”
Chitanda tak bisa berkata-kata. Tanpa menjawab pertanyaan itu, dia bergumam pada dirinya sendiri.
Jadi begitu.”
Aku tidak tahu apa yang telah terjadi.
Setahun berlalu, dan kami pun naik ke kelas-dua, dan munculah murid kelas-satu yang baru. Klub Sastra Klasik membuka pendaftaran anggota baru, dan setelah melewati banyak hal rumit, akhirnya kami berhasil merekrut satu orang.
Ōhinata Tomoko sudah menyerahkan formulir pendaftaran klub sementara, dan hanya perlu menyerahkan formulir pendaftaran klub yang asli. Dia tidak hanya sudah sangat menempel pada Ibara, tapi dia juga terlihat sangat menikmati obrolannya dengan Chitanda. Terkadang dia memang menyebalkan, tapi bukan itu yang membuatku bersikap dingin padanya. Semuanya mengira dia akan bergabung dengan klub tanpa masalah, Kenyataanya kupikir kami sudah lupa kalau dia harus menyerahkan formulir pendaftaran klub yang asli setelah formulir sementara.
Dan sekarang, kami diberi tahu kalau dia tidak jadi bergabung. Apa semua ini menjadi berantakan dalam waktu singkat ketika aku membaca buku?
Chitanda menghadap Ibara dan bicara sekali lagi dengan bibir gemetar.
"Jadi begitu,” dia mengulangnya sebaik yang dia bisa. Meskipun Ibara tidak tahu apa yang telah terjadi, dia mendengar dengan seksama dan bertanya, “Kau tidak apa-apa, Chi-chan?”
Aku tahu itu. Karena aku…”
Apa yang kaumaksud dengankarena aku’? jika kau membicarakan tentang Hina-chan, kau salah. Dia bahkan bilang itu bukan kesalahanmu.”
Tidak, maafkan aku. Aku harus pergi.”
Chitana mengakhiri percakapan dengan paksa dan meninggalkan ruang Geologi dengan tasnya seolah dia melarikan diri.
Aku hanya bisa memandanginya.
Ibara menatap Chitanda yang pergi dan kemudian berbalik menghadapku. Dengan suara monoton yang tanpa ekspresi, dia bicara.
Jadi, apa yang terjadi?”
Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku, dengan mulut menganga.
***


3. Sekarang: 1.2km
Begitu banyak klub yang ada, begitu pula dengan banyaknya siswa baru. Perlombaan untuk merekrut para siswa baru, mencapai puncaknya pada bulan April. Tahun kemarin, aku tidak punya alasan untuk bergabung dengan klub lain jadi aku mengabaikannya, namun kali ini aku malah berada di tengah pusaran badai. Merekrut, ini adalah pengalaman pertamaku; rasanya seperti bermandikan darah.
Para siswa baru yang ingin ku rekrut direbut satu per satu oleh klub lain, dan muncul juga kejadian yang lain. Memang benar kalau itu adalah salah para murid baru itu sendiri karena tidak bisa menolak tawaran yang gencar dilakukan oleh klub yang tidak menarik bagi mereka, namun nampaknya itu karena ada beberapa klub yang menggunakan sejumlah besar anggotanya untuk menekan anak kelas-satu untuk bergabung. Menggunakan taktik tingkat-tinggi seperti itu belum tentu akan berhasil, karena. Alasan kenapa ada dua-langkah proses yang dibutuhkan untuk menyerahkan formulir pendaftaran klub sementara dan formulir yang asli adalah, untuk memastikan kalau mereka bergabung atas kemauannya sendiri. Jika siswa tidak menyerahkan formulir pendaftaran klub yang asli, maka akan dianggap batal.
Batas untuk menyerahkannya adalah akhir pekan ini, jadi pada dasarnya, batas akhirnya adalah hari ini.
Sebelumnya, ada hal yang ingin aku pastikan.
“Hanya karena kau tidak menyerahkan formulir yang asli bukan berarti kau tidak bisa bergabung dilain waktu, kan??”
Tentu saja. Kau bisa bergabung atau berhenti dari klub manapun di SMA Kamiyama kapanpun. Itu terserah padamu.”
Namun, setelah mengatakan itu, Satoshi melanjutkan dengan sedikit menyeringai.
“Masalahnya adalah, anggaran sebuah klub diperhitungkan sesuai dengan jumlah anggotanya pada akhir periode pendaftaran klub sementara, jadi pergantian anggota setelah masa itu sudah tidak dianggap penting. Ngomong-ngomong, yang lebih penting…”
Aku tahu.”
Masalahnya bukan tentang birokrasi.
Kenyataannya, sesaat kita tahu ada semacam masalah kemarin, kita harus segera mencoba menyelesaikannya, meskipun aku pikir tidak ada lagi yang bisa dilakukan karena Ohinata dan Chitanda sudah pergi pada saat itu. Baru satu hari berlalu, dan rasanya ini sudah terlalu terlambat. jika ini tetap tak terselesaikan sebelum semua orang terpisah selama akhir pekan, pengunduran diri Ohinata akan menjadi pasti, dan mungkin musahil untuk merubah pikirannya.
Tidak ada kelas yang diadakan setelah Hoshigaya Cup berakhir. Kami masih harus menghadiri perwalian kelas sebentar, tapi setelah itu, semuanya bebas untuk berkumpul dengan klub mereka.
Denga kata lain, meski ini hari terakhir untuk membawa Ohinata kembali, kami hampir tidak memiliki waktu maupun kesempatan untuk bicara dengannya.
Meskipun, aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi,” kata Satoshi dengan suara berbisik. “Sepertinya sepulang sekolah kemarin, ada sesuatu yang membuatnya sangat marah atau sedih, tapi kita tidak tahu apa penyebabnya, kan?”
“Ya, saat itu aku sedang terus membaca.”
Kalau begitu, maka Chitanda-lah penyebabnya. Kecuali sekarang, itu berlawanan dengan apa yang Mayaka bilang.”
Lereng yang menanjak ini masih belum terasa berat. Rumah-rumah berderet di bagian kiri dan kanan jalan dan bukit yang terus berlanjut. Seseorang menyusulku dengan cepat dari samping namun aku terus bergerak lambat. Sepertinya dia murid 2-B, kelas yang mulai setelah kami, yang percaya kalau kakinya mampu berlari dengan kecepatan seperti itu sampai akhir.
Aku bertanya dengan berbisik.
Apa yang Ibara bilang?”
Satoshi sesaat kelihatan kecewa padaku.
Ayolah, kau tidak mendengarnya?”
Dia tidak memberitahu apapun.”
Mungkin dia tidak punya waktu. Aku juga tidak disana, jadi detilnya agak meragukan.”
Satoshi mengalihkan pandangannya, dan menambahkan dengan canggung, "Jika ingatanku benar, Ohinata sepertinya mengatakan kalau Chitanda 'mirip seperti Budha'. Yang kuingat itu bukanlah sindiran atau semacamnya.”
Aku belum pernah mendengar apapun tentang ini. Aku tidak tahu apapun kecuali soal Ohinata yang bilang dia tidak jadi bergabung dengan klub.
Apa kejadiannya kemarin?”
“Soal ungkapan belum tentu benar, tapi aku yakin itu yang terjadi kemarin.”
Kalau begitu Ohinata mengatakanAku tidak jadi bergabungdan “Chitanda mirip seperti Budha”? Kalau begitu, sejujurnya itu membuatku berpendapat bahwa pada dasarnya dia mengatakan, “Aku tidak jadi bergabung, tapi itu bukan salah Chitanda.”
Namun jika begitu, itu artinya akulah penyebab kenapa Ohinata memutuskan keluar. Padahal, aku benar-benar tidak melakukan apapun kemarin. Tentu, itu pasti bohong jika aku mengatakan tidak mengingat atau mendengar apapun. Aku sedikit berbicara sebelum masuk ke ruang klub, dan sesekali aku mendengar beberapa hal saat sedang membaca, tapi hanya itu saja.
Sepertinya ini tidak akan berjalan dengan mudah.”
Namun, kemudian Satoshi bergumam pelan, “Lalu kalau begitu.”
Kupikir alasannya sederhana,” lanjutnya. “Seorang anak baru bergabung. Dia berubah pikiran. Dan memutuskan keluar. Itulah yang terjadi.”
Meski kurang lebih aku tetap berlari, Satoshi mengikuti disampingku sambil mendorong sepeda gunungnya. Orang yang hobi bersepeda memang hebat, caranya berjalan menganggumkan.
Satoshi menghela napas dan akhirnya mulai berbicara.
“Hey, Hotaro. Ini mungkin agak kejam, tapi jika Ohinata ingin keluar, lebih baik kita biarkan saja. Maksudku, dia memang orang yang menarik, dan Mayaka kelihatan menyukainya, tapi jika itu keputusannya sendiri, kupikir kita tidak boleh mengganggunya.”
Satoshi melihat padaku dan menambahkan.
Padahal awalnya kupikir kaulah yang akan mengatakan hal barusan.”
Itu adalah pemikiran yang masuk akal. Kenyataannya, ketika melihat Mayaka terlihat tertekan saat datang kemarin, aku tidak berpikir kalau kejadian itu adalah hal yang penting.
Aku yakin Ohinata punya kesibukannya sendiri. Di SMA Kamiyama, kau boleh bergabung dengan dua klub sekaligus, jadi jika kau ingin bergabung dengan tiga klub, sangat bisa dimengerti jika dia tidak memilih Klub Sastra Klasik. Pokoknya, alasannya masih belum jelas. Mungkin dia menemukan klub olahraga yang dia inginkan, atau mungkin dia memutuskan untuk mulai berpartisipasi dalam kegiatan OSIS. Mungkin dia memutuskan itu agar lebih serius dalam belajar. Banyak sekali alasan yang mungkin membuat dia memutuskan untuk keluar, dan Klub Sastra Klasik tidak punya satupun alasan untuk menghentikannya. Sayang sekali, tapi mungkin itu bukanlah yang dia inginkan. Pemikiran seperti itu pernah terlintas di kepalaku.
Aku sudah merubah pemikiranku tentang hal ini karena beberapa alasan. Tetapi, aku tidak ingin menjelaskannya satu per satu pada Satoshi sambil berlari. Setelah ini, dia bisa menaiki sepedanya selama perjalanan, sementara aku hanya bisa berlari. Berlari sambil bicara hanya akan membuatku bertambah lelah, jadi aku ingin membatasi pembicaraanku sesingkat mungkin.
Sepertinya dia sadar kalau aku tidak akan menjawab, Satoshi lanjut berbicara dengan santai.
Tapi kau tahu apa yang akan terjadi kan? Jika kau ingin mencoba mencegahnya, aku tidak punya alasan untuk menghentikanmu. Jadi, apa kau berencana menemuinya dan memohon padanya agar dia tidak pergi?”
Aku langsung sangat terkejut.
Memohon padanya?”
“Ya, menundukan kepalamu seperti ini dan bilang padanya, ‘Aku tahu kau pasti mengalami banyak ketidaknyamanan saat bersama kami, tapi kumohon padamu, bertahanlah hanya untuk kali ini saja.’”
Satoshi mengatakan ini sambil memperagakannya, dan kemudian wajahnya terlihat bingung.
Kau tidak akan melakukannya?”
Aku bahkan belum pernah memikirkan hal itu. Sepertinya itu juga termasuk pilihan, tapi pada akhirnya...
Ohinata berkata dia punya alasan mengapa dia keluar, bukan? Aku ingin tahu apa kita bisa menutup masalah ini tanpa mengetahui alasannya lebih dulu.”
Dia menjawab dengan menggeram.
Kau serius ingin mencoba menyelesaikan maslah ini, ya. Sepertinya memohon bukanlah hal yang akan kaulakukan pertama kali, meskipun memohon dengan segala cara yang diperlukan adalah cara tercepat untuk masalah ini. Bahkan hasilnya mungkin lebih baik dari yang diharapkan."
Aku masih membayangkan apakah benar begitu. Aku sulit mempercayainya. Setidaknya, aku tidak berpikir dengan bersujud didepannya bisa langsung menyelesaikan masalah.
Lagipula, aku melakukan ini bukan karena ingin menghalanginya untuk pergi. aku tidak yakin bisa mengesampingkan harga diriku agar bisa memohon padanya untuk menandatangani fomulir pendaftaran yang asli dan kemudian bersikap seolah tidak tahu pada apa yang kulakukan. Hal seperti itu hanya akan membuat repot di kemudian hari. Aku memang suka menghindari pekerjaan, dan akan lebih senang jika bisa menghilangkannya, tapi aku tidak suka menunda-nunda sesuatu. Jika kau menemui sesuatu hal yang merepotkan tapi pura-pura tidak tahu, berurusan dengan hal itu dilain waktu malah akan lebih merepotkan.
Sepertinya aku tidak akan memohon padanya.”
Bagaimana dengan membujuknya secara langsung?”
Itu juga tidak. Selain itu, apa kau pikir orang sepertiku bisa membujuk orang lain?”
Kupikir tidak. Daripada membujuk seseorang, kau lebih ke tipe orang yang menyelesaikan masalah dengan perkataan bijakmu.”
Dia diam setelah mengatakan itu.
Dia memandangku perlahan.
Sebelumnya kau bilang menyelesaikan masalah ini tdak akan mudah. Apa kau benar-benar ingin mencari tahu alasan sebenarnya yang membuat Ohinata ingin keluar?”
Jika disebutmencari tahukurasa agak berlebihan.
Aku hanya mencoba mengingat semua yang sudah terjadi sampai sekarang. Selama hanya itu yang kulakukan, aku bisa menghemat energi.”
Satoshi mulai berpikir sebentar.
Mengingat, ya? Jadi begitu. Dengan kata lain, kau berpikir kalau apapun yang membuat Ohinata marah atau sedih adalah bukan hal yang hanya terjadi sepulang sekolah kemarin. Penyebabnya, atau lebih tepatnya, dasar masalahnya, adalah sesuatu yang terjadi di waktu yang berbeda.”
Dia sangat tanggap.
Aku tahu kenyataannya aku tidak melakukan apapun kemarin, dan soal Chitanda, bahkan jika kau tidak mempertimbangkan cerita Ibara yang 'Chitanda mirip seperti Budha', membayangkan Ohinata yang sangat terluka dan marah hanya karena bicara dengan Chitanda membuatku merasa Ibara mungkin agak melebih-lebihkan.
Aku merasa tidak enak mengatakannya, tapi jika itu Ibara, aku bisa mengerti jika memang begitu. Dia terlihat seperti tipe orang yang akan menyerangmu bahkan jika kau hanya mengatakan sesuatu yang membuat dia tersinggung, tak peduli seberapa sepele itu. Namun jika Chitanda, dia pasti hanya akan memiringkan kepalanya karena bingung.
Jika dipikirkan lagi, penyebabnya mungkin berhubungan dengan hal yang terjadi sebelum kemarin. Mungkin penyebabnya, dimulai sejak Ohinata bergabung sebagai anggota sementara, beban pikiran mulai terkumpul sedikit demi sedikit di kepalanya. Dan mungkin kemarin, dia sudah mencapai batasnya.
Aku mengatakan tidak akan menghentikanmu, tapiini agak merepotkan, bukan?”
Tentu saja.”
“Hōtarō, sebanyak apapun kau mencoba mengingat, tidak ada jaminan kau bisa mendapatkan informasi yang kau butuhkan untuk memecahkannya.”
Ku rasa itu benar.”
Anggota Klub Sastra Klasik tidak selalu bersama; bahkan aku tidak pergi ke ruang klub setiap hari. Mungkin banyak hal yang belum pernah kulihat atau kudengar. Apa semua ini dimulai dan berakhir sementara aku tidak sadar kalau hal ini sedang terjadi, berpikir saja tidak ada gunanya.
Meskipun aku sudah memiliki beberapa ide, namun aku masih belum bisa memberi tahu Satoshi. Sejak Ohinata bergabung sebagai anggota sementara, ada beberapa hal yang menurutku terlihat aneh. Mungkin jika aku memfokuskan diri pada hal itu, sesuatu akan menjadi jelas. Bisa jadi aku salah, aku bisa memulai dari sana. Selain itu, masih ada 20 kilometer. Untuk menyelesaikan jalur ini, terlalu lama jika hanya berjalan.
Aku bicara.
Jika ada yang ingin kuketahui, akan kucoba bertanya padamu.”
Satoshi mengerutkan alisnya karena heran.
Bertanya padaku? Biar kuberitahu, aku akan bersepeda di depanmu mulai sekarang.”
Aku tahu, tapi kita akan bertemu lagi di beberapa titik, bukan? Sampai jumpa lagi.”
Aku tersenyum padanya dan melanjutkan.
Lagipula, Ibara dan Chitanda akan menyusul dari belakang.”
Untuk sesaat, Satoshi menatapku sambil tercengang.
Kau mengerikan! Jadi itu yang kau rencanakan. Mengapa kau? Coba pikirkan semua keringat dan darah yang dicucurkan Komite Acara untuk mengatur Hoshigaya Cup.”
Maksudmu Acara Maraton?”
Tak salah lagi, aku harus berbicara dengan Ibara dan Chitanda.
Di sisi lain, aku juga harus bertemu dengan Ohinata di penghujung hari.
Hanya ada satu cara agar aku bisa melakukan kedua hal itu.
Untuk mencegah kemacetan di jalan, setiap kelas memiliki waktu mulai yang berbeda. Aku ada di kelas 2-A. Kalau tidak salah, Ibara di kelas 2-C dan Chitanda di kelas terakhir, kelas 2-H. Jika aku berlari dengan pelan, Ibara pasti akan menyusul, dan jika aku lebih pelan lagi, Chitanda pasti juga menyusul.
Ohinata ada di kelas berapa?”
Kelas 1-B. Tidak heran kau berlari dengan sangat pelan. Tidak, Aku lega. Sebenarnya aku merasa sangat lega. Benar juga, tidak mungkin kau akan berlari dengan serius dari awal sampai akhir.”
Satoshi tertawa sambil mengatakan itu. Tidak sopan sekali. Aku berlari dengan serius tahun lalu, meskipun hanya setengah jalan dan pada akhirnya aku berjalan sekitar 10km.
Sekarang aku tahu rencana licikmu, sepertinya sudah waktunya aku bergerak. Karena bermalas-malasan juga ada batasnya.”
Dia menaiki sepeda gunungnya. Kupikir dia akan langsung pergi mengayuh sepedanya, tapi tiba-tiba dia terlihat ragu untuk sesaat. Dan berbalik ke arahku .
Sebagai teman aku akan memberitahumu satu hal. Pastikan kau tidak menanggung semuanya sendiri, Hotaro. Kau bukanlah tipe orang yang biasanya peduli dengan keadaan orang lain, jadi jangan lupa kalau kau tidak bertanggung jawab atas apapun, tak peduli apapun yang akhirnya terjadi pada Ohinata.”
Itu cara yang kejam untuk mengatakannya, tapi aku mengerti apa yang ingin dia sampaikan. Dia ingin memberitahuku apapun yang kupikirkan atau kutemukan, pada akhirnya, itu adalah keputusan Ohinata. Kau bisa menuntun kuda ke air, tapi kau tidak bisa membuat dia meminumnyaKupikir lebih baik aku mengingat hal itu.
Aku pergi sekarang. Sampai jumpa lagi di jalur yang lain.”
“Ya...”
Akhirnya Satoshi mulai mengayuh. Meskipun lerengnya menjadi semakin dan semakin terjal, sepeda gunungnya bertambah cepat tanpa hambatan. Dia bahkan tidak mengayuh sambil berdiri. Dengan posisi duduk di jok yang benar dan dengan tubuh yang membungkuk ke depan, dia mengayuh semakin dan semakin jauh.
Dengan langkah kecil dan berlari lemas, aku melihatnya pergi.

Meskipun aku mengatakan akan bicara dengan Ibara dan Chitanda, itu tak semudah kedengarannya.
Meski bisa berpapasan dengan mereka, aku tidak akan bisa bicara dengan mereka untuk waktu yang lama. Terutama Ibara yang mungkin tidak akan mengurangi kecepatannya untukku. Dengan waktu yang kupunya mulai dari berpapasan dengannya sampai dia melewatiku, mungkin aku hanya bisa menanyakan dua pertanyaan.
Aku tidak punya cukup waktu untuk menanyakan semua yang ingin kuketahui. Jika aku masih belum memutuskan apa yang ingin kutanyakan sebelum berpapasan dengannya, kesempatan itu akan sia-sia.
Untuk menanyakan pertanyaan yang tepat, aku harus mengerti betul situasinya. Intinya, apa yang harus aku mengerti adalah orang seperti apa Ohinata Tomoko si murid kelas-satu SMA Kamiyama itu.
Jadi aku mencoba mengingat. Kemarin setelah Chitanda pergi, Ibara menanyai satu-satunya orang yang tersisa, yaitu aku.
Jadi, apa yang terjadi?”
Saat aku tidak menjawab, dia mengatakan hal lain.
Kau tidak tahu? Tidak mengherankan. Lagipula, kau bukan tipe orang yang memperhatikan orang lain.”
Sebuah, komentar yang dingin.
Rasanya hampir seperti dia terlihat sedikit terkejut, Namun.
Ketidaktahuanku bukan karena aku sedang membaca buku sepulang sekolah kemarin. Namun karena, aku hanya tidak terlalu tertarik dengan apapun yang dikatakan Ohinata. Mungkin karena hal seperti ini Satoshi sering memanggilkupembenci-orang lain.” Bukan itu masalah sebenarnya, tapi itu tidak terlalu jauh berbeda. Mungkin dari sudut pandang orang luar aku terlihat semakin dan semakin menjauh dari Ohinata.
Pada umumnya, aku tidak terlalu peduli dengan kehidupan pribadinya, tentang apa yang membuatnya senang dan apa yang membuatnya terluka di masa lalu. Dengan kata lain aku mengabaikan dia. Mungkin, jika sekarang, aku bisa berputar balik dari sifat apatis. Bisakah aku melakukannya dalam 20km ini? Untuk menyelesaikan jalur ini, terlalu lama jika hanya berjalan, namun meski dengan waktu sebanyak itu apakah cukup untuk memahami seseorang.
Aku harus coba memikirkan itu, apapun yang diperlukan.
Lerengnya menjadi semakin curam, dan pada suatu titik, pemandangan di kiri dan kanan jalan berubah menjadi hutan cemara.
Orang lain terus melewatiku karena aku terus mengulur waktu.
Aku pertama kali bertemu Ohinta di bulan April. Itu adalah saat penerimaan siswa baru.


***

Hyouka Jilid 5 Prolog LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Ariq

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.