30 November 2015

Date A Live Jilid 9 Bab 8 LN Bahasa Indonesia



BAB VIII
Menata Rias - Berubah
BAGIAN PERTAMA


“-------Aku dengar Natsumi sudah sadar!?”

Sebuah pintu terbuka dan Shidou mengeluarkan suaranya.

Di sisi fasilitas bawah tanah kota yang dimiliki oleh <Ratatoskr>. Didalam ruangan yang dibuat sama seperti jembatan <Fraxinus>; ada banyak alat ukur digital dan monitor besar terpasang di tempat itu.

“Aah, Itu sangat cepat, Shidou”

Dan seakan-akan dia merespon suara Shidou, kursi yang berada di tengah ruangan berputar balik dan perempuan yang duduk dikursi itu memperhatikan Shidou.--------Dia adalah Kotori. Ketika Natsumi kehilangan kesadarannya, kekuatan Transformasi <Haniel> menghilang dan Kotori kembali ke bentuk semulanya seperti yang ada di memori Shidou.

Tidak----Lebih jelasnya, ini sedikit berbeda. Shidou memiringkan kepalanya dengan bingung.

“Hn…….? Kotori, kenapa wajahmu?”

Ketika dia melihatnya dengan hati-hati, dia melihat garis merah pucat di wajah Kotori. Ya, kelihatannya dia baru saja seperti dicakar oleh kucing.

Kotori [Ahh………….] menggaruk pipinya sebelum […………baiklah, Shidou tolong berhati-hari] mengatakan itu.

“Tidak, dari apa yang………..terserahlah, lebih penting lagi dimana Natsumi? Dia sudah sadar benar kan?”

“Ya, ikuti aku.---------disini”

Shidou keluar dari ruangan sambil didesak oleh Kotori dan *Kaka* suara langkah kaki yang teratur menggema didalam korridor yang mana lebih luas dibandingkan dengan <Fraxinus>.

Ini adalah pertama kalinya dia datang kesini tapi, tempat fasilitas tersebut dibuat seperti tempat yang dia gunakan saat waktu dia mengungkap identitas Natsumi beberapa hari lalu. Kelihatannya <Ratatoksr> memiliki beberapa fasilitas seperti ini untuk berjaga-jaga dalam berbagai macam situasi.

Beberapa hari lalu, setelah Kotori dan perempuan yang lainnya membawa Natsumi ke <Fraxinus>, dia tiba-tiba saja dipindahkan ke fasilitas ini dan sedang mengalami pemeriksaan dan perawatan. Sangat sulit kalau dikatakan luka yang dia dapatkan dari Ellen hanyalah luka ringan dilihat dari manapun, beruntungnya ini bukanlah seperti " hidupnya-terancam " .

“------Ada beberapa masalah dengan Ellen dan kita sangat ingin untuk membiarkannya menetap sementara di <Fraxinus> tapi………..seperti yang diketahui, tidak ada cara untuk kita membiarkan Roh yang tidak tersegel berada disana begitu saja"

Sambil berjalan melewati korridor, Kotori berkata seperti itu sambil sekilas melihat pada Shidou.

Itu sangatlah wajar. Jika Roh yang memiliki kekuatan sepenuhnya mengamuk didalam, tak peduli seperti apakah tempat karantina itu, tidak akan ada kesempatan satu detik pun.



“Disini.”

Kotori tiba-tiba saja berhenti. Tepat didepan mereka, dia melihat  pintu yang sangat kokoh dihadapannya.

Kotori memasukkan digit angkat pada terminal yang terpasang disebelah pintu dengan gerakan yang familiar dan mengenai tangannya pada tombol angka. Ketika dia melakukan itu, suara irama digital terdengar dan pintu terbuka menggeser.

“Masuklah, Shidou.”

“Aah………..”

Kotori mendesaknya dan dia pun masuk.

Disana ada ruangan yang sangat luas dibalik pintu tersebut. Ada beberapa jenis mesin melapisi ruangan yang redup dan ditengah, terlihat seperti kaca yang kokoh membagi-bagi ruangan dapat terlihat disana. ini dibuat seperti ruangan karantina yang Kotori tempati ketika dia mendapatkan kembali kekuatannya didalam <Fraxinus>.

Dan diatas kasur yang ada diruangannya itu, there ada satu perempuan yang merendahkan wajahnya dan bermain dengan boneka sambil duduk.

“…………Natsumi”

Shidou memanggil namanya.

Kepalanya telah ditutupi dengan rambut bangun tidur, dan memiliki warna kulit putih pucat. punggungnya sangat kecil dan tangan kakinya sangat tipis seperti ranting.

Perempuan itu duduk dikasur sambil menggunakan baju rumah sakit. Seketika, Shidou melihat Natsumi seperti pasien yang memiliki penyakit serius dan memiliki sisa umur yang sedikit untuk hidup.

Dia terlihat seperti---tapi diwaktu yang sama tidak terlihat seperti Roh-Natsumi yang Shidou dan Roh lainnya selamatkan kemarin. Tapi, Shidou tau tentang semua ini. Penampilan yang dia lihat melalui kaca adalah bentuk asli Natsumi.

“------------Aku pikir kau mengetahuinya tapi”

Kotori menggerakkan Chupa chups didalam mulutnya memutar sambil berkata seperti itu.

“Tolong hati-hati. kelihatannya untuk sementara dia tidak bisa menggunakkan kekuatan malaikatnya karena karena luka yang dia dapatkan dari Ellen tapi, lawannya adalah Roh. Dan juga, saat ini keadaan nilai-nilai kesannya terhadap Shidou sangatlah buruk.”

“aah…………..tapi, hal tersebut bukan berarti jika aku tidak perlu bicara, benar kan?”

“Seperti yang kau bilang. terkecuali jika Natsumi membuka hatinya untuk Shidou, ini akan menjadi sangat tidak mungkin untuk menyegel kekuatan Natsumi. Aku tidak akan memintamu untuk membuatnya tunduk padamu, tapi tolong cari sedikit beberapa petunjuk. Karena ini adalah kesempatan besar.”

“Kesempatan Besar?”

Ketika Shidou bertanya-tanya kenapa, Kotori dengan tak wajar mengangkat bahunya.

“Tidakkah ini sangat jelas? Dia terluka sangat berat dan tidak bisa menggunakkan kekuatannya dengan bebas. Terlebih lagi, dia sekarang menjadi mengurung dirinya ditempat yang tidak dia ketahui dimana dirinya sekarang. Selama jika dia bertindak berani, dia akhirnya menjadi merasa gelisah. jika Shidou memperbaiki itu lalu kemungkinan dari poin perasaannya akan meningkat pesat.”

“Aku ragu jika ini akan berjalan lancar………..Aku harus waspada jika itu adalah aku.”

“Benar sekali. Tapi, sementara, kau adalah pahlawan yang mengambil resiko hidupmu untuk melindungi Natsumi. Dia mungkin sebenarnya tidak mau menjadi keras hati seperti itu.”

“Itu sangat bagus jika masalahnya seperti itu.”

Setelah sedikit mengatur nafasnya, Shidou [Aku masuk sekarang] berbicara pada Kotori dan menempatkan tangannya di depan pintu ruangan yang mana terpisah dengan kaca.

Dia perlahan membukanya dan masuk kedalam. Tembok transparan yang terlihat dari luar, jika dilihat dari dalam sisi interiornya telihat putih normal. Selain sebuah kasur, disana juga ada lemari makanan dan meja yang telah disediakan. Kebetulan, disana juga ada beberapa macam alat-alat hiburan disediakan dan semua ini dapat disimpulkan bahwa <Ratatoskr> membuat mereka membanting tulang untuk bekerja keras agar tidak membiarkan Natsumi bosan.

“…………………!”

Ketika Shidou memasuki ruangan, Natsumi yang sedang berada di kasur mengejangkan pundaknya karena terkejut.

“Yo-yo…….Natsumi”

Shidou mencoba membuat senyuman terbaiknya dan memberi salam padanya. Bagaimanapun juga, dibandingkan menjawab salam yang diberikan, Natsumi dengan seketika melempar benda yang ada disekitar tangannya seperti mainan, bantal dan benda-benda yang berada di kasur.

“…………..! ……………!”

“Wah…………tunggu! Itu sangat berbahaya Natsumi!”

“Jangan…………lih…………ni…………….!”

“Eh?”

Masalahnya bukan apa yang Natsumi katakan, suaranya tidak dapat didengar dengan jelas. Dia mengangkat kedua halisnya dan bertanya kembali.

“Jangan……………..lihat…………kesini!”

“Eh, tidak, kenapa……………”

Setelah Shidou memiringkan kepalanya, sebuah boneka panda melayang padanya dan mengenai tepat di wajahnya.

“Kugghh!?”

“…………….!”

Tapi, boneka panda tersebut adalah perluru terakhir. Menyadari kalau tidak ada lagi benda yang bisa dia lempar di kasur, Natsumi panik untuk beberapa lama sebelum, merayap kedalam seprai kasur.

Dia menggeliat-geliat untuk beberapa lama sebelum, membuat celah untuk matanya saja dan memperhatikan Shidou. Ini terlihat seakan-akan dia seorang sniper yang menggunakkan pakaian kamuflase bersembunyi di semak-semak.

“Ap……….apa yang kau inginkan……….!”

Sambil menatap tajam Shidou dengan pandangan yang dipenuhi dengan permusuhan, Natsumi berkata seperti itu.

“Tidak, Aku hanya ingin berbicara denganmu sedikit………..”

“Aku tidak ingin berbicara tentang apapun………! Ke-keluar sekarang!”

“Ja-jangan berbicara seperti itu. Apa lukamu sudah membaik?”

“uu………..”

Ketika Shidou berbicara seperti itu, Natsumi ragu untuk berbicara dengan janggal.
Dan setelah beberapa detik terdiam, dia melanjutkan kata-katanya.

“……… kenapa……kau mau menolong. Aku”

“Kau bertanya kenapa………..semua itu karena, kau hampir saja dibunuh oleh Ellen……….”

“Bukan itu yang aku maksud!”

Ketika Shidou menjawabnya, Natsumi memotong kalimat Shidou sambil berteriak.

“Bu-bukankah sebelumnya…………..Aku menyamar menjadi sepertimu, menghilangkan teman-temanmu……..dan melakukan hal-hal buruk padamu! Kenapa………kenapa kau melindungiku?! Kau! Dan teman-temanmu juga………..!”

Setelah mengatakan hal itu, Natsumi *pii* menunjuk pada Shidou dengan jarinya. Shidou menyilangkan kedua tangannya sebelum membuat desahan kelelahan.

“Aah……..Aku benar-benar menyerah pada hal itu. Seakan-akan tubuhku merinding kedinginan. Bisakah kau hentikan itu?”

“Seperti yang aku bilang……….!”

Natsumi mengatakan itu dengan jengkel. Shidou berpikir dengan cepat tapi, dengan seketika *pon* menepuk tangannya.

“Ah, Aku mengerti. Kau harus meminta maaf pada semuanya dengan baik oke?”

“Aaah, Moouu………….!”

Natsumi mengayunkan tangannya didalam sekitar seprai kasur. Debu terlihat keluar. Kelihatannya dia sangat tidak senang mendengar jawaban Shidou.

Tapi bagi Shidou, dia hanya akan mendapatkan masalah jika dia ditanyakan hal seperti [Kenapa kau melindungiku?]. Dia menggaruk kepala belakangnya sambil, menjawab kembali:

“Kalau kau bertanya seperti itu………..jika aku melihat kejadian seperti itu, Aku tidak punya pilihan lain selain untuk menyelamatkanmu”

“Ja……jangan bercanda denganku! Tidak ada jalan kalau itu adalah hal yang benar! Katakan saja! Apa tujuanmu!? Ketertarikan seperti apa yang kamu miliki sampai ingin melindungi kriminal yang telah menyebabkan masalah pada dirimu sendiri?!”

“………….tidak, baiklah, bagaimana kalau aku bicara hal ini? Sangat benar bahwa aku telah mengalami banyak sekali kesakitan tapi………..ketika aku berbicara dengan Roh, meskipun tingkatnya berbeda, Aku biasanya akan menghadapi beberapa hal yang sama. Lihatlah, disana ada Tohka dan Yoshino benar kan? Aku pikir kau sudah tau semua ini tapi, mereka adalah Roh sama sepertimu. Terus terang saja, Aku hampir saja mati beberapa kali kau tahu?”

“Ma-mati……….?”

“Aah. Aku tertembak oleh sinar tanpa ada alasan, dan seluruh kota hampir saja membeku”

“Ha……haaah!?”

“Aku serius hampir saja akan dimakan dan diwaktu itu Aku hampir saja menjadi abu.”

“Eh…….ehh?”

“Setelah itu aku hampir saja terhantam jauh karena serangan sebuah topan………aah, bicara tentang kejadian baru-baru ini, aku hampir ingat ketika seluruh orang dikota ini dicuci otak dan mencoba menyerangku berkali-kali.”

“………………..”

Datang cari celah seprai kasur, Natsumi membuka matanya dengan lebar seakan-akan dia mendengar hal yang sangat luar biasa. Shidou senyum yang aneh sambil melanjutkan.

“Jadi……..bagaimana aku mengatakannya, selama ada orang yang tersakiti, meskipun aku tidak bisa berkata jangan khawatirkan hal ini, Tohka dan yang lainnya memikirkan tindakan itu, mengatasi semua ini, dan hidup seperti biasa sekarang. Jika itu adalah masalahnya, tidak ada alasan untukmu tidak bisa melakukan itu juga kan?”

Setelah Shidou berkata seperti itu, Natsumi menjadi diam untuk beberapa saat, sebelum mendengus dengan kasar.

“Ap-apa maksudnya semua itu………kau pikir kau berbicara hal yang keren?”

“Tidak, Itu…………”

Bukan seperti itu, dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Dia menggaruk pipinya sambil berbicara lagi dengan Natsumi.

“Yang lebih penting, Aku punya satu pertanyaan, apa kau tidak apa-apa soal hal itu?”

“…………………………………apa?”

Setelah memikirkannya beberapa lama, Natsumi menjawab kembali. Meskipun begitu, ini sangat bagus sampai dia tidak menolak untuk menjawab. Shidou sedikit menggangguk sebelum bertanya.

“Alasan kau menjadi diriku dan menculik semua orang. Kenapa kau melakukan hal seperti itu?”

“……………..!”

Ketika Shidou bertanya, Natsumi melihat kembali pada Shidou dari celah kasur.

“Itu karena…………tidakkah sudah jelas kalau kau melihat rahasiaku pada saat itu…………!”

“Rahasia…….rahasia apa yang kau maksud?”

“Tidakkah sudah jelas…………..itu adalah penampilan asliku!”

“Huh……………….? Tu-tunggu sebentar. Kenapa kau melakukan itu saat penampilan aslimu terlihat!?”

Natsumi menjawab kembali dengan berteriak sambil dengan mata ingin menangis. Ketika dia seperti itu, Natsumi menggertakkan giginya sebelum melanjutkan.

“Apa………kau bilang…………..? Berhenti membuat lelucon bodoh! Tidakkah sudah jelas dari kelihatannya! Setelah melihat penampilan busuk seperti ini……………tidak bisa kau tenang begitu saja!? Atau apa ini? Apa tujuanmu membuatku mengatakannya dengan mulutku sendiri!?”

Natsumi berteriak histeris, dan *Pofu**pofu* memukul-mukul kasur. Shidou tidak terlalu mengerti tapi, kelihatannya kejadian itu adalah hal yang paling mematikan bagi Natsumi. Sambil menatap seperti haus darah, dia melanjutkan kata-katanya dengan sikap tidak tenang secara gelisah.

“Suasana sangat bagus ketika aku pertama kali bertemu denganmu kan? Kau bilang aku sangat cantik benar kan? Karena apa semua itu? Karena aku dalam keadaan berubah menjadi penampilan Onee-san iya kan!? JIka aku seperti ini dari awal, apa kau akan memiliki reaksi seperti itu? Kau tidak akan seperti itu kan? Tidak akan mungkin kau akan menjadi gugup kan? Jika itu masalahnya lalu, kau akan menolakku ketika aku berbicara denganmu kan!?”

“Se-sesuatu seperti itu…………….”

“Iiiiiitttttuuuuu Tiiiiddddaaaaakkk Muuuunnggkkin! Sekarang ini------orang-orang disana, Jika [Aku] tetap menjadi [Aku], lalu tidak akan ada satupun yang akan menghiraukan tentang diriku………….!”

“Natsumi……………?”

Dengan seketika, Shidou merasa suara nada dari kalimatnya menjadi sedih dengan tiba-tiba dan mengangkat kedua halisnya bersamaan.

Tapi dengan seketika, Natsumi lagi-lagi mempertajam pandangannya.

“Bagaimanapun juga! Aku, Aku tidak akan memaafkan siapapun di dunia ini yang tahu penampilan asliku!"

Setelah mengatakan itu, dia lagi-lagi mengambil seprai kasur yang tidak tersusun kembali.
Seakan-akan dia dikalahkan oleh kekuatan Natsumi, Shidou mengambil satu langkah kebelakang dan meringkas semua kalimat Natsumi dikepalanya.

Kelihatannya……………Natsumi sangat membenci penampilan aslinya. Oleh karena itu, dia mentransformasikan tubuhnya sendiri dengan kekuatan <Haniel> menjadi tubuh onee-san dirinya yang idealistik……………...seperti itulah.

Melihat hanya melalui komposisinya, tidak ada perbedaannya dari sebuah fashion-lama wanita penyihir. …………juga, Untuk persoalan Natsumi, dia kelihatannya sangat muak terhadap penampilan aslinya karena tubuh onee-san yang dia miliki sangat luar biasa berbeda dari yang asli.

Tapi, meskipun dia mengerti hal itu, Shidou masih memiliki hal yang dia tidak mengerti.
Masalahnya sangat spele. Itu-----------

“Uuuuun…………..tapi Natsumi. apa penampilanmu saat ini benar-benar mengecewakan?”

Itu benar bahwa rambutnya sangat berantakan dan sekalipun sangat sulit untuk dikatakan membuat tersanjung atau terlihat sehat, dia merasa kalau Natsumi tidaklah seburuk itu sampai membuat dirinya tertekan. Jika dia mau merapihkan sedikit maka level keimutannya akan cukup.

Bagaimanapun, Natsumi memberikan kembali pandangannya memperlihatkan kebencian terhadap kalimat Shidou.

“Berkata hal seperti itu………….! Aku tidak akan tertipu! Aku tidak akan tertipu!”

“Tidak, Aku tidak menipumu. Biarkan aku melihat wajahmu seluruhnya hanya sebentar saja.”

Setelah mengatakan itu, Shidou berjalan perlahan menuju kasur dan menempatkan tangannya di seprai kasur yang menutupi Natsumi.

“! Hnnn! Hnnnnnn!”

Natsumi terus berusaha, dan mencoba menentang tapi--------mungkin karena lukanya belum sepenuhnya sembuh, dia dengan seketika diam mendadak dan Shidou berhasil melepaskan seprai kasur yang menutupi Natsumi.

“…………………!”

Wajah Natsumi berubah menjadi merah sambil menutup matanya dengan keras, dan menyusutkan badannya.

Memang benar bahwa dia tidak memiliki aura sensual dan tak ada daya tarik yang indah seperti tubuh versi dewasa Natsumi, jika dia memiliki kemauan untuk merapihkan penampilannya lalu, dia mungkin akan berubah menjadi perempuan yang cantik

“Hn, Seperti yang aku perkirakan. Jangan berbicara hal yang buruk pada dirimu sendiri. Kau yang sekarang memiliki daya tarik tersendiri yang baik yang mana dimiliki kau yang sekarang.”

“Apa………..! Jangan berbicara seenaknya…………!”

Natsumi membuat wajah yang penuh rasa benci tapi, *Jiii* dia memperhatikan kembali pada wajah Shidou. Natsumi berhenti berbicara dan mengalihkan pandangannya dengan sikap yang agak kesusahan.

Dan beberapa lama terdiam, Natsumi membuka mulutnya sedikit-sedikit.

“………..Benarkah? Apakah…………sungguh tidak apa-apa untukku tetap seperti ini?”

“Aah, Sungguh.”

Setelah Shidou mengangguk, mengulurkan tangannya pada Natsumi seakan-akan jika dia telah sampai menghampirinya.

“Itulah kenapa; meminta maaflah pada semuanya dengan baik dengan penampilan aslimu, dan dengan kalimatmu. Tidak apa-apa. Semua orang akan mengerti. Jika kau melakukan itu------kau juga pasti bisa berteman dengan semuanya.”

“…………Te..man”

“Aah”

Natsumi melihat kebawah dengan sikap seakan-akan jika dia tidak ada ide untuk melakukan sesuatu, dengan sikap yang agak takut, Dia mengulurkan tangannya pada tangan Shidou. Tapi, disaat tangan mereka berdua akan saling bersentuhan.
Natsumi membalikkan tangan kanannya dan *Piii* mengacungkan jari tengahnya.

“-------Tunggu, Aku tidak akan tertipu oleh kalimat seperti itu! Iddiooooot!”

Dia lalu mengatakan hal itu dengan suara yang keras.

“heh………..?”

“Teeeemmmaaannn? Kau hanya mengatakan seperti itu dan sampai aku ditipu, kau akan membuat diriku sebagai bahan ejekan, iya kan!? Uwah, dia menganggap kalimat itu dengan serius, bodoh sekali! Sesuatu seperti itu.. kau akan bicara seperti itu dan mengobrol seperti itu benar kan!? Kau mungkin akan memasang hastag dengan kata [Shock] tertulis disitu ya kan!? Aku sudah tahu! Aku tahu akan begitu!”

“Ti-tidak……....Natsumi?”

Dia mengambil langkah mundur seperti jika dia telah tertekan sangat dalam oleh Natsumi. Tapi dibandingkan menjadi sedikit tenang, Natsumi malah memanas.

“Perempuan jelek ini hanya bangga setelah menggunakkan kulit dari onee-san cantik, sangat menjijikan! Kau berpikir sesuatu seperti itu kan!? Aku tahu dan juga bila jika kau tidak berbicara sialan! Di dunia ini aku tahu, Aku tahu diriku sendiri yang terbaik kalau aku adalah sampah yang tidak memiliki harapan! Tapi, Aku tidak bisa menyelamatkan diriku! Apa yang bisa aku lakukan?!”

“Te-tenanglah, Natsumi! Tidak ada yang berpikir seperti-------------“

“Diiiiiaaammmmllllaaahh! Untuk orang baik sepertimu sangat jelas kau akan diam-diam berbicara hal yang buruk tentang seseorang dibelakang mereka dan membuat sebuah fitnahan di SNS! Kau akan membuat postingan dengan foto yang terpasang disana dan ini akan seperti, Aku melihat perempuan jelek ini hari ini dan Aku benar-benar merasa sakit. Bukankah aku benar?! Aaaaaaaaaaaaaaaaaahh! Mati saja mati mati mati maaaaaatttiii! Aku akan membuatmu dibanjiri dengan spam! Aku akan mengambil GyotakuI darimu dan membongkar rahasia mu di situs besar BBS dan membuatmu terpojok sampai kau dikeluarkan dari sekolaaaahhhh!”

“bagaimana kau bisa tahu banyak tentang kehidupan sosial sehari-hari jaman modern!?”

Shidou membuat jawaban dengan refleks tapi, sekarang bukan waktunya memikirkan hal seperti itu. Dia mecoba untuk mencoba menenangkan Natsumi yang sedang mengamuk.

“Baga-bagaimanapun juga, tenanglah. Apa!? ayolah, ambil satu nafas besar dengan tenang……….”

“Ugaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!”

Bagaimanapun, ini tidak ada gunanya. Natsumi yang terganggu mengayunkan kedua tangannya disekitar dan-------dia lalu sudah menyiapkan kuku tangannya dan, *gariii* mencakar wajah Shidou.



“……………………….”

“Itulah kenapa aku memberitahumu untuk berhati-hati”

Setelah Shidou keluar dari ruangan Natsumi, Kotori yang sama-sama memiliki bekas cakaran yang dibuat diwajahnya seperti Shidou mengatakan seperti itu sambil mengangkat kedua bahunya. kelihatannya, Kotori juga dicakar oleh Natsumi sama seperti Shidou.

“………………..Aku bertanya seperti yang dibahas, tapi bagaimana keadaan mentalnya?”

“Ada beberapa yang naik dan turun tapi, ini tidak berada di dalam level penyegelan dapat dilakukan.”

“Begitu yahh…………….”

Shidou menepuk wajahnya yang tercakar yang mana masih terasa sakit sambil memperhatikan pada ruangan karantina yang terbagi-bagi oleh tembok transparan. Mungkin dia sudah agak tenang berkat kepergian Shidou; Natsumi mengatur nafasnya dan turun dari kasurnya perlahan-lahan sebelum mengumpulkan bantal dan boneka yang baru saja dia lempar.

Dari yang dapat dilihat, itu adalah tindakan yang normal. Bagaimana pun bagi Shidou, maksud dari mengumpulkan bantal-bantal itu kembali bukan untuk membuatnya terlihat rapih tapi lebih tepatnya, kelihatan seperti dia mengisi kembali perlurunya untuk menyerang orang lain jika mereka menyusup keruangannya.

“Kelihatannya dia tidak memiliki rasa kepercayaan diri dalam keadaan penampilan aslinya. Kita harus memperbaiki masalah itu bagaimanapun caranya, selama tujuan kita adalah untuk bisa menyegel Reryokunya, rencana mengarusi balik akan kita buat.”

Kotori mengatakan itu dengan agak kesulitan sambil menempatkan tangan di dagunya.

Lebih jelasnya, seperti yang Kotori katakan. Beberapa hal kesempatan setelah menyegel kekuatan Natsumi, Natsumi kemungkinan tidak akan bisa menggunakan kekuatan Transformasinya. Tentu saja------------dia tidak bisa juga berubah menjadi onee-san, dia harus menjalani hidupnya menggunakkan penampilan aslinya seperti itu. Menilai dari keadaan Natsumi saat ini…………………..itu akan benar-benar sangat sulit untuknya.

“Tapi, kita tidak bisa membuang-buang waktu untuk hal ini. Kita punya waktu terbatas.”

“Waktu terbatas?”

Ketika Shidou bertanya, Kotori mengangguk dan [Bukankah sudah jelas] berbicara.

“Saat ini, alasan Natsumi tetap diam karena luka yang dia dapatkan dari Ellen belum sembuh sepenuhnya. jika tubuhnya sembuh sampai ke titik dimana dia dapat menggunakkan kekuatan malaikatnya, maka dia mungkin dengan seketika akan melarikan diri.”

“Ah…………….Aku mengerti. Jika kau berpikir seperti itu, butuh berapa lama dia dapat sembuh?”

Ketika dia mengatakan seperti itu, Kotori membuat dua jarinya berdiri membuat tanda "peace".

“Dari diagnosis Reine, waktu yang kita punya hanya sekitar 2 hari. Kita bagaimanapun juga harus membuat Natsumi membuka hatinya pada jarak waktu 2 hari itu.”

“Uuun………….”

Shidou menyilangkan tangannya sambil mengangkat kedua halisnya dan membenamkan dirinya dalam pikiran.
Tidak ada waktu lagi.Masalah paling utama adalah, Natsumi saat ini dalam situasi dimana dia sangat membenci untuk mengobrol baik-baik dengan mereka. Seperti yang terlihat, pertama, mereka bagaimanapun juga harus sedikit meringankan kebencian tak berdasar yang Nats------

“………….ah.”

Disaat itu, Shidou berpikir beberapa ide, dan *pon* menepuk tangannya.

“Hey Kotori. Aku tidak tahu apa cara ini akan bekerja dengan baik tapi, bagaimana soal ini?”

“..Apa itu?”

Kotori mengangkat sebelah halisnya sambil memiringkan kepalanya. Shidou memberikan penjelasan singkat soal idenya padanya.

“Fumu…………..Aku mengerti.”

Setelah dia memberitahunya, Kotori menempatkan tangan di dagunya dan membuat gagang dari Chupa chups yang dia makan berdiri.

“Baiklah. Kita tidak punya metode ataupun pilihan efektif lainnya jadi kita coba metode itu. Kita<Ratatoskr> akan menyiapkan semua yang kau butuhkan”

“Aah, Aku mengandalkanmu. Aku akan mencoba meminta bantuan pada semuanya.”

“Ya, Aku memintamu untuk melakukan.-----------Kita akan membuat sebuah rencana besok. Kita akan menysun rencana selanjutnya setelah Natsumi menyelesaikan sarapannya.”

“Ou. Jangan sampai ketiduran.”

“Kau juga.”

Setelah Kotori mengatakan itu, dia mengeluarkan chupa chups-nya dengan jarinya dan *nii* mengangkat sisi bibirnya.

“Kalau begitu-------Kita mulai Kencan<<Pertempuran>> kita”



***




BAGIAN KEDUA

“Hnnn…………..”

Pagi selanjutnya. Setelah Natsumi terbangun, dia mencium bau yang enak menguap di dalam ruangan.
Dia dengan seketika tahu dimana bau itu berasal. Beberapa bagian dari tembok berubah dan berubah menjadi sesuatu seperti meja, dengan sarapan yang berada diatasnya. Disana terdapat piring dengan daging, telur, 2 roti panggang dan sup yang berdekatan dengan salad. uap sebuah air datang dari sup dan daging yang masih mengeluarkan suara *crackle*. Dia sadar kalau itu bukanlah sesuatu seperti siap saji tapi sesuatu yang baru saja dimasak.

Kelihatannya bagian dari tembok itu dapat menjadi dibuka dan ditutup, dan dibuat sebagai tempat menempatkan makanan yang dapat masuk kedalam ruangan melewati tembok itu. Untuk makan makan siang dan makan malam kemarin, mereka diam-diam menyiapkannya didalam ruangan sebelum Natsumi menyadarinya.

“………………”

Setelah Natsumi bergerak kearah penampan. dia dengan berhati-hati mencium bau makanan yang ditempatkan di piring sebelum dengan gemetaran memasukan makanan ke mulutnya.

Bumbu yang enak dari daging yang banyak bumbunya dan rasa yang lembut dari egg tercampur bersamaan tak berdasar di dalam mulutnya. Natsumi merasakan nyaman di pipinya-------dan *puun**puun* menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menentang.

“Sial……………kenapa ini sangat enak………..”

Dia bergumam seperti itu dalam penyesalan sambil memakan makanannya.

Natsumi memenuhi pipinya dengan roti yang berselai diatasnya sambil melihat tempat sekitar ruangan yang membuatnya terjebak untuk beberapa kali saat itu.

DIsana ada kasur, meja, dan televisi. Hampir setiap benda keperluan lainnya untuk ruang tamu telah disediakan disana. Dan lagi, makanan atau camilan dengan sendirinya tersedia tanpa ada permintaan dahulu dengan siapapun. BIsa dibilang, ini adalah tempat yang terbaik.

Tapi--------Dia tidak bisa selamanya terus diam disini. Natsumi merasa sebuah pukulan terasa di badannya sambil menggertakan giginya.

Dia tidak dapat berpikir apa tujuan Shidou dan Kotori miliki tapi, Ini tidak sulit untuk membayangkannya kalau ini adalah hal tidak bermanfaat bagi Natsumi. Menggunakkan beberapa metode, ini adalah balas dendam pada Natsumi. Bisa jadi kalau mereka sedang membuatnya gendut sebelum memakannya. JIka itu adalah masalahnya, tidak ada alasan lain kenapa mereka mau memberikan beberapa makanan enak pada Natsumi.

“Aku tidak akan membiarkanmu………….!”

Luka yang dia dapatkan dari Ellen telah sembuh dengan baik. Jika berpikir lebih jauh lagi, dia mungkin akan cukup sembuh jika dia sampai bisa memanggil <Haniel> dalam jangka beberapa waktu. Jika itu terjadi maka, tembok diruangannya akan menjadi persis seperti setipis kertas. Lebih baik baginya untuk melarikan diri secepatnya.

Untuk saat ini, ada cara dimana dia dapat melarikan diri ke dunia sebelah dengan menghilang tapi, selama disana ada sesuatu yang menjadi beban terdapat di tubuhnya ketika berpindah antara dunia-------disaat dia kembali ke dunia sebelah, disitu juga ada kemungkinan dia akan tertarik oleh dunia ini. ini adalah pergerakan yang tidak ingin dia gunakan sementara, jika memungkinkan.

Selama kemungkinannya rendah, jika beberapa kesempatan dia tertarik kemari dan diwaktu itu juga, jika dia kebetulan bertermu dengan Wizard yang dipanggil Ellen, dia akan benar-benar terbunuh saat ini.
Bagaimanapun juga, saat ini prioritas tertingginya adalah untuk memikirkan kesembuhan tubuhnya dan mengumpulkan beberapa tenaga. Berpikir seperti itu, Natsumi mengambil makanan yang tersisa dan melemparkannya kedalam mulutnya.



Dan, disaat itu.

Ketika pintu terbuka dengan tiba-tiba, beberapa bayangan manusia memasuki ruangan dan mengepung Natsumi dengan cepat.

“Eh…………..!?”

Dia terkejut karena keadaan mendadak dan mengeluarkan suara yang histeris dari tenggorokkannya.

Ketika dia melihat daerah sekitarnya dengan panik, Dia sadar setiap salah satu dari mereka memiliki wajah yang familiar.

Shidou dan Kotori. Dan juga, Tohka, Yoshino yang mana terpilih sebagai calon tersangkanya.

Sangat jelas untuk Kotori; Tohka juga yang mana penuh dengan harga diri sambil diberkati dengan penampilan seperti itu dan Yoshino yang mana bermaksud untuk mencari perhatian laki-laki dengan sikap yang malu-malu, mereka tipe perempuan yang dibenci oleh Natsumi.

Tapi, bukan itu masalahnya sekarang. Semua orang dari mereka telah mengepung Natsumi, untuk beberapa alasan, membawa tali dan karung besar bersama mereka.

“Ap-ap……Apa!?”

Telah dikepung diempat sisi, ketika Natsumi mengeluarkan suara dengan penuh kebingungan, Kotori *Pii*! menunjuk jarinya pada Natsumi.

“Tangkap dia!”

“””Ooou!!”””

Mengikuti perintah Kotori, Shidou, Tohka, dan Yoshino bergerak di waktu yang sama.

*Bassaa* dia dimasukkan kedalam karung dari depan dan pandangannya berubah menjadi gelap. Setelah itu, diwaktu yang sama perintah dari Kotori bergema, diwaktu yang sama dari atas karung, tubuhnya telah tergulung dengan tali.

“Hnn! Hnnnnnnnnnn!?”

Bahkan saat dia mencoba memberontak, ini tidak ada gunanya. Tangan dan kakinya terikat tali dengan keras dan dia tidak dapat bergerak dengan bebas. Satu-satunya hal yang bisa Natsumi lakukan hanyalah berputar-putar dan membalikan tubuhnya seperti anjing laut tuli yang baru saja terbawa ombak ke darat di pantai.
Dan dengan seketika, tubuhnya terangkat dan dibawa oleh seseorang.

“Jadi, Kotori. Apa yang harus kita lanjutkan selanjutnya?”

“Ya, bawa dia kesini seperti itu.”

“Umu, Aku mengerti!”

Setelah mendengar pembicaraan seperti itu melalui karung yang keras, Tohka yang mengangkat Natsumi mulai bergerak.
---Kemana aku akan dibawa!? imajinasi sangat buruk datang dengan liar dipikiran Natsumi. Apakah aku akan berada diatas papan pemotong sayur sampai karungnya disimpan………..!? Atau mungkin, Aku akan dilempar ke panci panas mendidih bersamaan dengan karung!?

“Ji! Ji! Ji=Jika kau memakanku, perutmu akan hancur!”

Bagaimanapun, Tohka yang membawa Natsumi tidak terkejut. Suara guncangan bergema pada Natsumi dan ini membuat Natsumi tahu kalau dia telah sampai pada tempat tujuan.

Setelah beberapa lama telah berlalu sejak itu, Natsumi kelelahan berteriak dan ketika dia mulai membiarkan tubuhnya seperti tak bernyawa di pundak Tohka, Tohka tiba-tiba berhenti dan perlahan menurunkan Natsumi di tempat itu.

Tali dan karung dilepaskan setelah itu. Cahaya kecil sedkit menyilaukan mata Natsumi yang mana sedang tertutup.

“Uu…………….”

Sambil membuat bayangan diwajahnya dengan tangannya, Dia menunggu sampai matanya bisa terbuka dan------Natsumi

*pokan* membuka mulutnya dari pemandangan yang terbentang disekitarnya.

“Ap-apa, ini……………”

Disana, dia tidak berada di papan besar pemotong sayur ataupun berada di atas panci mendidih neraka.

Didalam ruangan disinari hangat oleh lampu , disana ada satu kasur yang cukup untuk satu orang tertidur dan disekitar tempat itu tercium bau bunga yang menguap. Ini adalah ruangan yang cukup menenangkan yang sangat ramah lingkungan.

Ketika Natsumi berpikir kosong, Perempuan yang menggunakkan baju perawat disebelah kasur mengayunkan tangannya.

“Baiiiklah, salon kecantikan hanya satu hari, Selamat datang di [Salon do Miku]“

Setelah mengatakan itu, perempuan itu memberikan senyuman padanya. Ini adalah wajah yang pernah dia lihat. Nama perempuan itu tidak lain adalah------Izayoi Miku. Mementingkan dirinya sendiri untuk menarik perhatian dengan dadanya yang mana suka dia pamerkan. Dia adalah tipe perempuan yang Natsumi benci.

“Tu-tunggu sebentar, apa ini………?”

“Apa yang kau maksud dengan apa ini? Bukankah tadi Miku sudah mengatakan ini? Ini adalah salon kecantikan. Kita akan memberimu perawatan kulit untukmu.”

“……………..!?”

Shidou menjawabnya dengan terus terang tapi, Natsumi menjadi lebih pusing tanpa alasan.

“Tunggu sebentar. Aku tidak mengerti. Kenapa--------“

Saat itu, Natsumi tiba-tiba saja mengejangkan pundaknya dengan terkejut. Dia menebak motif apa yang dipikirkan Shidou dan Perempuan lainnya.

“Ha…………..haha…………….Aku mengerti………….setelah membuatku mengikuti semua sesuatu ini, kalian semua akan tertawa karena penampilan yang konyol dari seorang perempuan jelek dalam kesalahpahaman? Ahaha………..Kalian semua tidak diragukan lagi memiliki salah satu hobi menghina. Memiliki sifat yang sama buruknya seperti aku…………”

“Touu!”

“Ouch!”

Di tengah perkataan Natsumi, Kotori memberi tepakan keras ke kepalanya. Dia merintih setelah dengan refleks memegang kepalanya.

“Untuk apa semua itu?!”

“Selain penampilan itu, kita harus melakukan sesuatu tentang prasangka buruk penyiksaan itu. Bagaimanapun juga, cepatlah dan berbaring. Kita memiliki waktu terbatas.”

“Aku tidak mau untuk…………..! Kenapa aku harus melakukan itu jika aku sudah tahu aku akan ditertawakan karena………!”

“Oh kau ini………..”

Kotori mendesah jengkel sambil menggaruk kepalanya. Dan disaat itu, Shidou menempatkan tangannya pada pundak Kotori.

“Baiklah Natsumi, bagaimana kalau seperti ini? Untuk hari ini, kita akan menggunakkan metode yang kita pikirkan dan menunjukanmu kalau kita bisa men-[Tranformasi] dirimu. Jika itu berhasil maka itu adalah kemenanganku. Kita ingin kau mendengarkan apa yang ingin kita bicarakan padamu secara langsung.------tapi, jika kau berpikir tidak ada hal yang berubah sedikitpun maka, kita akan kalah. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau setelah itu.”

“…………apapun yang aku mau, apa maksudmu?”

“Biar kuperjelas……………..untuk sementara waktu, bagaimana kalau membiarkanmu pergi melarikan diri ke sebuah tempat yang kau suka?”

“…………..!”

Natsumi membuka lebar matanya karena perkataan Shidou. Rencana itu benar-benar tidak diketahui oleh Kotori tapi, tangan Kotori menyiku mengenai siku tangan Shidou.

“Hey, Shidou..”

“Kenapa tidak? Kita tidak ada metode lain.------bagaimana tentang hal itu, Natsumi? Aku pikir itu tidak terdengar buruk.”

“…………….”

Natsumi membuat sipit matanya mencari apa tujuan sebenarnya Shidou.

Dalam beberapa persoalan, suatu saat kalau tubuh Natsumi sepenuhnya sembuh, dia dapat melarikan diri menggunakkan <Haniel>. Tapi, selama disana ada roh seperti Tohka dan Yoshino disamping Shidou dan yang lain, dia tidak akan bisa menolak kalau ada kemungkinan mereka akan mengalanginya.

Dan juga, tantangan ini tidaklah sepenuhnya tantangan. Tidak peduli seberapa mereka mencoba, ini sangat tidak mungkin untuk melakukan sesuatu pada penampilan buruk seperti ini. Ini sangat menjengkelkan jika dia akan tertawa pada saat dirinya mengikuti bujukan dari lawannya, dia merasa jika dia bisa melarikan diri dengan aman, maka ini bukanlah tawaran yang buruk.

“…………Aku mengerti. Kalau begitu tidak apa-apa.”

“Aku mengerti.---------jadi untuk sekarang, tolong ikutilah semua instruksi dari Miku.”

“……………………”

Natsumi dengan terdiam memperhatikan Shidou. Tapi, Shidou tidak ragu sama sekali sedikitpun dan memperhatikan balik Natsumi.

“Pikirkan tentang ini, Natsumi.”

“………..huh? Tentang apa?”

“--------Tentang fakta kalau perempuan dapat [Transformasi] tanpa menggunakkan kekuatan Malaikat.”

“……………….uh”

Cara dari berbicaranya benar-benar sangat merendahkannya, Natsumi *pui* memalingkan pandangannya dari wajah Shidou.

“-----baiklah, Aku akan serahkan semua ini pada Miku.”

“Okay okay. Serahkan padakuu~”

Shidou sedikit melambaikan tangannya dan pergi keluar melalui pintu paling dalam di ruangan. Ketika dia sudah keluar, Miku membalikan badannya dan memandang pada tubuh Natsumi.

“Baiklah, kita mulai. Untuk sementara, tolong lepaskan dulu pakaian yang kau pakai.”

Setelah berbicara seperti itu, Miku membuka dan menutup kedua tangannya berkali-kali sambil menghampirinya. Untuk alasan lain, Dia merasa kalau kilauan dimatanya menjadi berbeda jika dibandingkan dengan saat Shidou ada disini.

“Eh………tidak…………”

Natsumi tanpa sengaja mundur kebelakang. Jika ini adalah akhir hidupnya, dia tidak akan menunjukan tubuhnya yang kurus ini pada perempuan ini yang mana dadanya terlihat seperti Holstein----dan yang lebih penting, dia merasakan sebuah ancaman pada tubuhnya dengan instink-nya.

Tapi, Kotori yang mana sedang berdiri dibelakangnya, *gaaa* memegang pundaknya dan dia tidak dapat bergerak.

“Tungg………..!”

“Kau tidak akan tahu jika kau benar-benar menyerah. Tolong tetap tenang.”

“Semuanya akan baik-baik saja. Ini tidak akan menyakitkan.”

“Kyaa! Kyaaa!”

Nafas Miku menjadi lebih terengah-engah sambil membuka pakaian pasien wanita Natsumi. Natsumi memberontak tapi, semua perlawanannya sia-sia dan dia menjadi telanjang tanpa ada sehelai kain pun dibadannya sebelumnya dia terbaring tengkurap diatas kasur.

“Ren-rencana apa yang akan kau lakukan………..!?”

“Uufufu, Aku merasakan banyak ketakutan berkat dirimu. Aku akan dengan baik balas budi padamu oke?”
Setelah Miku berbicara, dia meringis dan mengambil botol yang berada di rak sebelum mulai membalurkan cairan yang tidak diketahui dari dalam botol keatas punggun Natsumi.

“Kyaaaaaa! Apa!? Apa yang kau lakukan!?”

“Ayolah, jangan bergerak. Ini adalah minyak aroma terbaik kau tahu.”

Miku menggerakkan jarinya sambil dengan lembut menggosok kulit Natsumi.

“Ah………afuu……”


Karena sensasi baru yang belum pernah dia alami sebelumnya, suara yang aneh dapat terdengar keluar dari tenggorokkan Natsumi.

“Ufufu, rasanya enak kan? Seperti yang diduga, meskipun ini tidak selevel dengan professional, Aku sungguh ahli dalam hal ini. Ini tidak bagus kau tahu? Kau harus merawat kulitmu dengan baik”

 “Ji-jika kau……..memberitahuku begitu………..”

“Pertama, kelihatannya kau bilang kau tidak pecaya diri pada dirimu sendiri tapi, tidak ada cara apapun yang akan membuatku yakin jika kau memberitahuku seperti itu tanpa adanya usaha. Nah, secara alami ada orang yang cantik dari lahir seperti Tohka-san di dunia ini tapi, semua perempuan yang membuatmu cemburu di dunia ini semuanya bekerja keras untuk menjadi cantik.”

“Itu karena, tidak peduli apa yang akan aku lakukan…………”
Sambil berkata seperti itu, Natsumi merasakan kesadarannya merasa kabur. Mungkin dia merasakan kelelahan di tubuhnya atau mungkin ini karena pijatan Miku terasa sangat nyaman, sebuah keinginan untuk tidur menyerangnya.

“Aku………………”

Akhirnya dari kata-kata tersebut. Natsumi tertidur.



“-----Oke! Selesai dan selesai!”

“…………….!”

Karena suara Miku, Natsumi dengan seketika terbangun.

Merasa ragu kalau dia memutar balikan posisi tubuhnya, dia saat ini tertidur dikasur terlentang. Sementara itu, disitu ada handuk mandi berada di dadanya tapi, ini sangat memalukan.

“Bagaimana hasilnya? Apa kesanmu?”

“Eh………..er”

Ditanya oleh Miku, Natsumi sedikit mengusap kulitnya sendiri.

Dan lalu-------dia membuka matanya lebar-lebar dengan keheranan.

“! Ap-apa, ini………?”

Ini benar-benar luar biasa dari yang diduga. Kulitnya yang kering telah menjadi lembut seperti kulit bayi.

“Ufufu. Setiap orang yang baru pertama memiliki pengalaman di salon kecantikan akan terkejut. Nah, tentu saja, keadaan seperti itu tidak akan datang selamanya tapi, ini memiliki kemajuan yang sangat dalam seperti yang diduga.”

“Luar biasa……….eh, ini……….apa ini benar-benar tanganku…………?”

“Ya, Ini benar-benar tanpa ada keraguan. Ufufu, jika aku mendapat reaksi yang bagus, Aku akan memandumu keruangan selanjutnya.”

“Eh…………..?”

“Baiklah, sampai kau menggunakkan pakaianmu, waktunya pergi kearah sini.”

Dan demikian, Kotori yang mana muncul yang mana telah menunggu di kursi yang berada di pinggir ruangan, berdiri sambil bicara seperti itu. Kebetulan disebelahnya, Tohka dan Yoshino yang mana saling bersandar satu sama lain tertidur.
Natsumi memakai gaun pasiennya yang baru saja dia ambil saat ini mengikuti apa yang telah diberitahu padanya sebelumnya, melewati pintu yang ada didalam ruangan dan dengan segera keruangan selanjutnya.

“Kukuku, senang kau telah datang. Ini adalah daerah kita, daerah Yamai!”

“Bangga. Aku memuji keteguhan hatimu.”

Ketika Natsumi masuk keruangan selanjutnya, sang kembar identik yang mana mengambil sebuah pose yang keren sambil menyambut Natsumi.

Celah yang melewati tubuh langsing Kaguya dan Yuzuru yang sangat menarik dan mempesona. Seperti yang dia perkirakan, mereka adalah tipe perempuan yang dibenci Natsumi.

“Di-dimana ini……….”

Natsumi membuka matanya dengan lebar sambil melihat-lihat sekitar ruangan. Disana ada cermin besar menempel di tembok dan berhadapan didepannya, ada kursi yang besar ditempatkan disana. Dia mengerti dalam sekali lihat. Disana------adalah salon rambut.

“Memandu. Pertama kesinilah”

Setelah bicara, Yuzuru memegang tangan Natsumi.

“Wah…………”

Disaat seperti itu, Natsumi duduk di kursi yang berada diruangan, dan kain besar ditempatkan padanya, menutupinya dari pundaknya sampai kebawah kaki.

Kursi itu kemudian merendah, dan membuat wajahnya melihat keatas.

“Ap-apa in………..”

“Melanjutkan. Kau akan tahu nanti”

Setelah Yuzuru bicara seperti itu, dia memutarkan keran yang berada di dekat tangannya dan setelah itu, keluar air yang hangat membasahi kepala Natsumi.

Ketika dia melakukan itu, Shampo mengeluarkan busa gelembung dan dia mulai dengan lembut mencuci rambut panjang Natsumi.

“Uh, ah………….”

Kepalanya dikeramas oleh seseorang adalah sebuah sensasi yang belum pernah dia alami, Natsumi sedikit menggerakkan badannya. Melihat dari tingkahnya, Kaguya yang berdiri disamping mereka membuat tawaan besar.

“Kukakaka! Shampo Yuzuru benar-benar sangat nyaman iya kan! Itu karena dia memiliki keahlian yang membuat hilang kesempatanku untuk mencapai kemenangan tanpa hitungan menit saat kompetisi ke 71 - pertarungan shampo!”

“Tersenyum. Itu karena Kaguya mudah geli.”

Yuzuru dengan sungguh-sungguh mengatakan itu sambil mencuci sampai busanya hilang, bau yang wangi terawat melapisi rambut Natsumi. Berkat rasa yang sangat nyaman ini, Natsumi merasa seperti tertidur lagi.

“Bergantian.----------baiklah, dari titik ini sekarang, ini adalah keahlian Kaguya”

Perawatannya selesai dan setelah mengeringkan rambut Natsumi, Yuzuru berdiri dari kursi sambil berbicara sebelum mengeluarkan gunting dengan maksud untuk menata rias rambut dari pinggannya dan dengan mahirnya membalikkannya sebelum menyiapkan di kedua tangannya.

“Kukuku! Serahkan padaku!”

“Po-potong rambut?”

“Ya Benar! Bagaimapun, percayalah dengan tenang! Melihat hasil di kontes ke 72 - kontes merapihkan rambut, keahlianku benar-benar jelas!”

“……………….ternyata kalian berdua benar-benar melakukan macam-macam kontes apa saja”

Melihat dari pinggir, Kotori membuat senyum masam sambil berkata seperti itu. Kaguya dengan bangga mengangguk  sebelum menjawab [Yap!] dan berdiri dibelakang Natsumi.

“ Aku tidak berencana memotong rambutmu dengan asal-asalan. Bagaimanapun------kesakitan datang dari ujung rambut dan rambut kusut yang tebal! Aku tidak akan membiarkan hal itu teralami! Jatuhlah seperti bunga dengan keahlian guntingku – Kaizer Scheele wind!”

Setelah berteriak, Kaguya membunyikan *stek-stek* gunting yang dia pegang dengan penuh irama, dan akhirnya rambut Natsumi jatuh berterbangan disekitar.

Setelah beberapa menit, rambut Natsumi yang mana hasilnya penuh dengan belahan dirapihkan dengan cantik sampai ini membuat terkejut.

“Kau bercanda………..wow”

“Fuu……..nah, ini seperti yang diperkirakan”

Seperti seorang ahli senjata api yang mana sudah menyelesaikan pertarungannya, Kaguya melemparkan ujung gunting sebelum lubang untuk jari dari gunting masuk ke jarinya dan setelah itu *kuru**kuru* memutarkannya, dia menyelipkan guntingnya ke pinggang.

Setelah seperti itu, dia lalu mengambil alat pengering rambut dan sisir, dengan hati-hati merapihkan rambut kusut Natsumi.

“Kuku……………kelihatannya kebiasaan itu membuat agak sulit dengan yang satu ini, ini bukan berarti tidak ada cara. Jika aku bisa merawatnya saat waktu masih basah, mereka tidak akan mengamuk.”

“Ha,haaa………”

Natsumi membiarkan keringat jatuh ke pipinya sambil mengangguk.

Tapi, sangat benar kalau keahliannya adalah membual dengan cukup baik. Rambut Natsumi yang biasanya memiliki rambut bangun tidur telah berubah dengan luar biasa. Bagaimanapun juga, ini sedikit terlihat berkilau.

“Kuku, sempurna. Kau sudah boleh bergerak keruangan selanjutnya.”

“Mengizinkan. Kearah sini.”

“Eerrrr…………….”

Tempat selanjutnya. Mendengar kalimat mereka, Natsumi mengangkat kedua halisnya dengan penasaran.

Tapi, dia tidak bisa mundur kebelakang semenjak dia sudah datang kesini. Sambil dibuat terdesak, Natsumi membuka pintu yang ada didalam ruangan. Diikuti dari belakang oleh Kotori, Yamai bersaudara, Miku, dan Tohka dan Yoshino yang mana rupanya terbangun ketika Natsumi sedang dipotong rambutnya.

Melewati ruangan yang besar sampai sat ini. Semuanya di tiap sisi lantai dilapisi oleh lampu pijar, terdapat baju yang terlihat cantik dilipat, jaket yang menempel di gantungan dan rok disana.

Ya------ruangan itu seperti meniru yang biasa disebut Toko pilihan atau Butik.

“Dim, Dimana kah………..”

Natsumi dengan gelisah melihat sekitarnya. Ketika dia melakukan itu, disaat itu, matanya berpapasan dengan Kotori yang ada dibelakangnya.

“Fufuun. Jika disini ada salon kecantikan dan tempat pijat kecantikan, maka selanjutnya pasti adalah memilih pakaian.”

Tohka dan yang lainnya *un**un* menggangguk karena kalimat kotori.

“……………hu-huh? Tunggu sebentar, Aku tidak terlalu suka yang seperti-----“

“Oke oke, Aku akan mendengarkanmu nanti.-----oke, semuanya!”

Memotong kalimat dari Natsumi, Kotori *pan**pan* menepuk kedua tangannya.

“Umu!”

Ketika dia melakukan itu, tidak ada yang tahu ketika mereka menyiapkannya, semuanya memegang pakaian yang menurut mereka bagus dan dengan cepat menghampiri Natsumi. Tohka memegang one-piece yang manis dan menempelkan pada badan Natsumi sambil mengeluarkan suara yang ceria.

“Tidakkah ini bagus!? Ini sangat manis!”

“Un, itu benar. Ini tidak buruk. Tapi, ini akan terasa sedikit dingin untuk musim ini”

Kotori menyentuh dagunya sambil mengatakan seperti itu, sebelum Yoshino dan Yuzuru menunjukan sebuah pakaian luar dan topi saat ini.

“Baiklah, Bersamaan dengan ini…………..”

“Merencanakan. Ini sangat direkomendasikan juga.”

“Hn, kenapa tidak. Oke, coba pakai itu sekarang, Natsumi.”

Setelah berkata seperti itu, Kotori mendorong Natsumi kearah ruang ganti yang terlihat seperti biasa.

“Tungg…………kenapa kalian semua berbicara tanpa persetujuanku!”

Ketika Natsumi berteriak, [Ya ya] Kaguya menunjukan rasa setuju.

“Ini seperti yang Natsumi katakan. Minggirlah."

Setelah berkata itu, Kaguya menunjukan pakaian hitam dengan banyak rantai dan sabuk yang agak banyak.

“Ahh, yang satu ini tidak bagus kau tahu. Maksudku ini lebih cocok untuk Natsumi-chan”

Dan, seakan-akan dia menunjukan rasa keberatan, Miku menunjukan pakaian lain. Tapi yang satu ini memiliki banyak jumbaian disekitarnya, dan kelihatannya seperti pakaian yang dibuat untuk boneka.

“…………………..”

Terdiam, Natsumi memegang pakaian dari Tohka, Yoshino dan Yuzuru, sebelum berjalan dengan berat menuju ruang ganti dan menutup gorden dengan jengkel.

“Ke-kenapa kau menolah pakaian hitam pekatku………..!”

“Aaahnn! Aku padahal benar-benar berpikir ini sangat manis!”

Melalui gorden, suara Kaguya dan Miku dapat terdengar.

“Sialan, apa, apa ini…………….”

Natsumi bergumam sambil melihat satu sama lain melalui cermin, menempatkan tangannya pada gaun pasien yang dia pakai.
Dia benar-benar tidak menyukai ini tapi, jika dia yang mana terus menggerutu disana, dia akan dipaksa dengan pilihan Kaguya dan Miku. Sambil merasa muram, dia membuka pakaian gaun pasiennya dan menggunakkan one piece dan pakaian luar, sebelum memasang topi.

“Mu, Natsumi, apa kau sudah selesai?”

“Jika kau terus menahannya, lalu Tohka dan Aku akan membuka gordennya!”

Suara Tohka dan Kotori dapat terdengar di sisi lain dari gorden. Natsumi membuat menarik nafas panjang menyiapkan dirinya dan benar-benar berbeda dari waktu dia menutup gordennya, dia perlahan-lahan membuka gorden.

Pandangan Tohka, Kotori, Yoshino, Yamai bersaudara dan Miku, semuanya tertuju pada Natsumi.

“Uu………….”

Natsumi menutup matanya seakan-akan jika dia menahan keinginan untuk muntah, secara berangsur-angsur datang dari bawah tenggorokkannya, dan menggertakkan giginya. Dan senyuman mencurigakan ingin tertawa dari perempuan yang mana----.

“Umu! Ini bagus!”

“Uuun, secara pribadi aku merasa kalau sedikit lebih cantik lebih baik, kurasa.”

“Ah………….Seperti ini?”

“Eeh--, kita buat ini terlihat lebih indah lagi. Bagaimana soal ini?”

________________________________________
tidak mendengarkan.

“…………..heh?”

Dia membuka matanya lebar-lebar pada suara yang tak diduga menggetarkan gendang telinganya. Ketika dia seperti itu, disana ada 6 orang dan 1 melihat padanya dengan senang dan expresi yang serius.

“Err……………”

Dia agak ragu pada respon mereka yang tak terduga. Ketika dia terlihat ragu seperti itu, Kotori memberikan dia blus dengan kualitas yang bagus dan rok yang berwarna polos.

“Baiklah, Natsumi. Pakailah ini, untuk saat ini. Aku pikir setelan ini sangat bagus untukmu.”

“E-errr…………..”

"Ayolah, cepat"

---Setelah 3 Jam, Natsumi tetap mengganti dan mengganti pakaiannya.

Lebih jelasnya, pakaian bukanlah satu-satunya yang dicoba. Sepatu, topi dan beberapa aksesoris kecil sepeti jam tangan dan kacamata (Tentu saja, hanya untuk gaya fashion.) dan kebetulan, dia disuruh agar membuat pose dalam langkah-langkah terakhir. Dia merasa seperti boneka yang didandani atau mungkin seperti avatar dari game online. Dia tidak bisa lagi berpikir apa yang sebenarnya terjadi. Seiring waktu mereka menunjukan kepuasan pada pakaian yang terpilih, Natsumi benar-benar kelelahan.

“-------Oke! Tidak ada kekurangan lagi sekarang.”

"Ya.........itu sangat cantik.”

“Un Un, ini bagus.”

“Umu! Aku pikir ini bagus!”

Tohka membuat senyuman yang menyenangkan dan *un**un* mengangguk. Setelah itu, dia mengarahkan pandangannya pada Kotori.

“Baiklah kalau begitu, ini adalah ruangan terakhir.”

Setelah Kotori bilang seperti itu, semuanya mengangkat halis mereka dengan terkejut. Melihat dari sikap aneh itu, Natsumi berkeringat sampai membiarkan keringatnya jatuh ke pipinya tanpa disengaja.

"Ap-Apa………….?”

Ketika Natsumi membuat wajah yang cemas, Yamai bersaudara tertawa dengan bahagia.

“Kuku, kau akan tahu sampai kau kesana. Baiklah, lewat sini”

“Setuju. Pembunuh terakhir menunggu untukmu disana”

“Te-terakhir………!?”

Mendengar kalimat mereka yang menggelisahkan, dia menarik nafasnya terkejut. Terus terang saja, Dia benar-benar tidak ingin pergi kesana.

“Ayo, kita bergegas.”

“Ah, tunggu………….!”

Tapi, punggungnya didorong oleh Miku dengan sedikit memaksa, dan ruangan selanjutnya terbuka.

Ruangan terakhir, atau dapat disebut,  ruangan kecil yang terbagi-bagi beberapa bagian yang lain sampai saat ini. disana ada kursi yang asing di tengah ruangan--------dan disisinya, disana ada perempuan yang berdiri hanya menampakan punggungnya dari arah mereka. Dia tidak pernah melihat punggung orang itu sebelumnya. Dia mungkin adalah pembunuh terakhir yang dikatakan Yamai bersaudara.

Ketika Natsumi membasahi tenggorokannya, perempuan itu perlahan-lahan berbalik.

Rambutnya sangat cukup untuk menutupi bagian punggungnya dengan aksesoris rambut daun semanggi berhelai empat akhirnya dia selesai berbalik arah, dan dia adalah perempuan yang tinggi dengan segi dandanan yang netral. Tapi, untuk beberapa alasan, dia sedikit dalam pengasingan-diri atau keadaan sedih dan dia merasa jika seakan-akan dia sangat memaksakan dirinya. Dilihat dengan jelas, disana ada air mata yang keluar di pinggir matanya.

“----------Senang kau datang! Ini adalah ruangan terakhir dari rencana Transformasi Natsumi!”

“Ap-apa yang sedang kau rencakan………..”

Ketika Natsumi bertanya, perempuan itu bicara dengan gagap [……………..Eeei, ini memang sudah seperti ini] dengan suara yang lembut sebelum membuka pinggir mulutnya dan dengan cepat menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.

Pada jari perempuan itu jika dilihat dengan teliti, disana ada peralatan untuk menata rias seperti pelembab bibir, pensil halis, dan disembuyikan diantara jarinya.

“It-itu-----------!”

“Ya. Aku akan mentransformasi dirimu dengan make-up ku.”

Perempuan itu *pii* mengarahkan pelembab bibir pada Natsumi. Natsumi mengambil langkah mundur dalam refleks dari kalimat tersebut.

Dia lalu *Buun**Buun* menggeleng-gelenkan kepalanya.

"Ap-apa yang kau katakan. Tidak ada cara aku dapat berubat melalui hal…………….”

“Kau bisa!”

"Ja-jangan bicara sesuatu yang tidak masuk akal! Seseorang sepertiku………!”

“Apa kau benar-benar berpikir seperti itu? Kalau seseorang tidak akan berubah dengan make-up?”

“Bu-bukankah itu sudah jelas!”

Ketika Natsumi mengatakan itu, perempuan itu megambil alat make-up yang dikemukakan diantara jarinya kedalam kantung kecil yang terpasang di pinggannya. Dia lalu memikul tangannya ke pundak.

“Hal seperti itu, bahkan jika aku………tidak-------“

Perempuan itu lalu dengan penuh semangat mencabut plester luka kecil yang menempel di lehernya.

“Bahkan jika aku laki-laki haah!?”

“Huh………!?”

Natsumi mengejangkan pundaknya atas suara mendadak laki-laki dengan seketika keluar dari tenggorokan perempuan.

“Eh………? Apa…………..”

Natsumi dalam kebingungan untuk sesaat tapi, dia dengan seketika menyadari beberapa fakta.
Ya. Natsumi pernah mendengar suara itu sebelumnya.

“Ja-jangan katakan………kau adalah Shidou……..!”

“Aah, itu benar!”

Perempuan itu (?) benar-benar mengangguk.

Ketika dia melihat wajahnya dengan hati-hati, dia menyadari wajah Itsuka Shidou dapat terlihat dari wajah perempuan itu.

Ketika dia menyadari hal itu, Natsumi mengeluarkan suaranya tanpa disengaja.

“Me-mesum……….!?”

“………………….”

“Ah, dia terluka, dia terluka.”

“Yah, meskipun begitu kita tidak dapat menolak.”

Suara Kotori dan Miku dapat terdengar dibelakang. Kelihatannya mereka tahu semuanya.

“Ba-bagaimanapun juga!”

Terjatuh ke lantai, Shidou mengangkat dirinya berdiri kembali dan melihat balik pada Natsumi lagi.

“Meskipun ini tidak direncanakan, keahlian make-up ku telah mencapai tingkat dimana sudah cukup untuk laki-laki keliru dengan perempuan! Sekarang ini aku bisa membuatmu merasa percaya diri!”

“Tidak, mungkin, sangat benar kalau keahlianmu sangat bagus tapi, orang itu sendiri memiliki sifat pada tingkat tertentu.”

“Ya--.  Aku benar-benar berpikir dia adalah perempuan saat pertama kali bertemu.”
Kotori dan Miku lagi-lagi memulai obrolan dengan diam-diam. Shidou *kii* mempertajam tatapannya.

“Or-orang yang diluar tetaplah tenang! Bagaimanapun juga, ini adalah tantangan Natsumi! Aku akan menggunakkan seluruh jiwa, raga dan keahlianku! Dan men-[Transformasi] dirimu!”

“…………………..!”

Natsumi mengeraskan wajahnya-------bagaimana pun, dia menggertakkan giginya dalam menentang hal itu.

“…………..oke. Ayo kita lakukan ini. Tapi, jangan lupa. Jika aku tidak setuju lalu, kau kalah dalam pertandingan ini!”

“Aah, Aku mengerti.------baiklah”

Shidou mengangguk paham dan mendesak Natsumi ke kursi. Dia seperti pelayan ketika menunggu sang putri.
Natsumi mengikuti permintaannya dan duduk di kursi. Ketika dia duduk, dia dapat melihat wajah Shidou dengan dekat. Di waktu sifat Shidou telah pergi, dia akhirnya menjadi seperti perempuan yang ramah. Dia hanya dapat berkata ini sangat hebat.

---mungkin, aku juga………..

“………..ti-tidak, tidak……………”

*fuu* dia menggelengkan kepalanya seakan-akan untuk menghilangkan imajinasi yang lewat ke kepalanya.-------tidak perduli bagaimana sehebat apa keahlian Shidou, bagaimanapun juga ini akan menjadi sia-sia. Jika itu adalah masalahnya, maka lebih baik tidak perlu berharap dari awal. Harapan setengah hati akan hanya berbelok kedalam keputus asaan yang dalam.

Ketika dia memikirkan hal itu, Shidou membuat senyuman dengan mulutnya seakan-akan jika dia menebak apa yang dipikirkan Natsumi.

“Semua ini akan baik-baik saja.”

“……………..”

Setelah pipi Natsumi menjadi merah, dia melihat kebawah.

“………errr, bisakah aku mengatakan sesuatu?”

“Aah, apa itu? Katakan saja.”

“………….Sangat mengganggu mendengar suara laki-laki datang dari wajah itu.”

“……………”

Dalam kesuraman, Shidou memasang kembali plester luka yang dia lepaskan saat ini kembali pada lehernya.

“Ba-baiklah kita mulai! Pertama, yang paling dasar dari yang paling dasar, pembersihan wajah. Jika kita mengabaikan hal ini maka, ini akan menjadi sangat buruk ketika make-up sedang berlangsung!”

Suara Shidou menjadi sedikit bernada tinggi tapi dia mengatakan itu untuk memperoleh kembali ketenangannya.
Natsumi mengikuti instruksi Shidou dan membersihkan wajahnya dengan hati-hati, sebelum mengambil dengan baik banyaknya cairan pembersih pada tangannya dan menggosoknya pada seluruh daerah wajahnya.

“-----------Baiklah, serahkan sisanya padaku.”

Setelah mengatakan itu, Shidou dengan cepat mengunakkan make-up dasar pada wajah Natsumi, dan mulai membuat sedikit pondasi menggunakkan bedak wajah.

“Pertama-tama aku akan mengatakan ini, Natsumi.”

Di tengah perkerjaan, Shidou berbicara pada Natsumi.

“Aku tidak akan membuat wajahmu menjadi seseorang dengan make-up. Aku hanya mendorongmu kembali. Aku hanya menolongmu untuk keluar dari prasangka burukmu yang berlebihan berpikir [Aku tidak berguna]”

“……………..Fu-fuun, Kau hanya hebat dalam berbicara.”

Meskipun Natsumi mengatakan itu dengan tidak senang, Shidou hanya senyum terdiam.

Dia membuat merah muka pada pipi Natsumi dan make-up mata------dia lalu menggarisi pelembab bibir pada bibirnya di akhir.

“----------Baiklah, selesai.”

Setelah Shidou membuat desahan kecil, dia mengambil semua kosmetik kembali dimasukkan kedalam kantung kecilnya dan berdiri di tempat itu.

“In-ini sudah selesai? Ini sungguh simpel.”

“Seperti yang aku bilang. Tidak ada artinya jika aku menghilangkan wajah alaminya. Tapi-------ini sudah cukup. Lihat”

“Ap-apa………..”

Ketika Natsumi berbalik arah, Tohka dan lainnya yang mana berkumpul disana. Dan ditengah-tengah, dia melihat papan besar yang tertutupi dengan kain. Dia dengan seketika menyadari. Itu adalah cermin tata rias besar. Mereka yang mana mungkin ingin mempertunjukan penampilan Natsumi menggunakkan itu.

---dan disaat itu, Natsumi memperhatikan expresi dari perempuan yang berdiri disebelah cermin tata rias. Semuanya membuka mata mereka dengan lebar dalam kejutan.

“Ap-apa, apa ini…………”

Setelah Natsumi berbicara seperti itu dalam sikap yang gemetaran, Tohka mengangguk dengan dilebih-lebihkan dan memegang ujung dari kain yang menutupi cermin tata rias.

“Umu! Lihat saja!”

Dia lalu melepaskannya dalam satu ayunan. Cermin tata rias yang besar telah terbuka.

“Eh-------“

Dia melihat pada perempuan yang dipantulkan pada cermin.

Natsumi kehilangan kata-katanya dengan seketika.

Rambutnya yang mana bergelombang dengan acak benar-benar sangat cantik dengan dandanan yang sangat natural dan mempersona dari mandi ringan. Seakan-akan dia telah keliru dengan kulit yang dia miliki, kulit yang sangat buruk itu menjadi mengkilat dan bergabung bersamaaan dengan pakaian manis; penampilannya membuatnya dia membayangkan kalau itu adalah perempuan muda yang penuh rasa harga diri dengan keanggunan.

Tapi yang lebih penting, alasan mengapa Natsumi merasa terkejut karena wajahnya.

Pada wajah dengan sedikit banyak pencahayaan dari kerapihan yang dikerjakan dalam waktu yang cukup, Ini benar-benar Natsumi. Jika dia yang mana ingin mendapatkan perubahan maka, ini berarti sedikit zat warna oranye-kemerahan nampak di pipinya, matanya dengan garis luar yang sedikit sangat jelas, dan merah muda bening yang mewarnai bibir; dia hanya menemukan sedikit perubahan.

Tapi, dari satu-persatu perubahan telah membuat kesan di wajahnya sangat bagus. Dengan seketika, dia ragu kalau itu adalah layar proyektor yang menunjukan gambaran lain dibandingkan sebuah cermin.

“In-ini adalah……….diriku……….?”

“Aah, tanpa keraguan, itu adalah kau Natsumi.”

Dalam sikap ketika melihat pada sesuatu yang luar biasa, Natsumi tetap menyentuhi pipinya sambil berkomat-kamit tercengang, Shidou lalu menempatkan tangannya pada pundak kecil Natsumi.

Seakan-akan untuk melanjutkan dari kalimat itu, perempuan yang berada disana mulai mengeluarkan suara mereka semua pada saat itu juga.

“Umu! Kau sangat cantik!”

“A-ra, Tidakkah ini bagus? Bagaimana? Bagaimana pendapatmu.”

“Ya ampun, ya ampun………….hey Natsumi-san. Maukah kau datang kerumahku untuk bermain dilain waktu?”

Dalam kepastian tertentu, dia merasa kalau hanya satu orang saja yang mempesona dimatanya dibandingkan yang lainnya tapi, Natsumi berdiri membatu terus berada disana tercengang dan Dia tidak penuh perhatian.

“------Bagaimana? Natsumi. Bagaimana hasil dari pertandingan ini?”

Setelah mengatakan itu, Shidou melihat pada mata Natsumi melalui cermin.

“……….!”

Natsumi bernafas terengah-engah tanpa disengaja. Untuk saat ini dengan cepat, Natsumi berpikir tentang perempuan yang ada dicermin------


---berpikir dia sangat manis.


“Ah……….ah………….”

Mata Natsumi berputar terus dan terus, dan kakinya gemetaran.

Dia bisa jadi senang. Dia bisa jadi dalam kegembiraan. Dia tidak berpikir kalau penampilannya yang mana sangat dia benci menjadi berubah sejauh ini. Tapi dalam waktu singkat itu, beberapa kejadian yang tak terduga terjadi dan dia tidak bisa memproses situasi ini dalam pikirannya.

--Apa? Apa yang terjadi? Siapa ini? A-aku? Dan juga, apa yang terjadi pada orang-orang ini? Mengapa mereka melakukan banyak hal untukku? Meskipun aku melakukan banyak hal buruk. Tidakkah mereka mengalami masalah dengan kepala mereka? Pertandingan?

Pertandingan apa? Aku kalah jika aku terlihat manis, semacam itu adalah kalah. Maka ini adalah kekalahan besar. Karena, ini sedikit manis. Eh, tapi, ini, eh…………….?

“O-oi, Natsumi………….?”

“U-a-a-aaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh--------!!”

Dia tidak mengerti apapun lagi. Setelah Natsumi mengacak-acak rambutnya, dia mengeluarkan teriakan yang keras dan mulai berlari kearah ruangan asalnya.



***




BAGIAN KETIGA

Akhirnya setelah itu, Natsumi terpeleset di lantai [Salon Do Miku] dan jatuh dengan mengenaskan, dia lalu mengenai kepalanya pada tembok dan hilang kesadaran. Dia mungkin benar-benar terkejut. Rambut yang telah dirapihkan menjadi teracak-acak dan jahitan pada pakaian menjadi robek.

Natsumi yang mana sedang tidak sadar diganti pakaiannya menjadi gaun pasien sekarang, dan dia sedang tertidur di dalam ruangan karantina lagi. Mungkin dia sedang mengalami mimpi yang buruk karena, dia akan menggeliat di sekitar kasur beberapa saat dan *un**un* merintih dengan kesakitan.

“Fumu……………”

Diluar ruangan sambil melihat pada monitor, Kotori menempatkan tangan pada dagunya. Melihat pada expresi kesakitan itu, Shidou menggaruk pipinya.

“Mungkin kita terlalu memaksanya seperti yang diperkirakan. Aku tidak sampai berpikir dia akan sangat membecinya……………”

“…………..tidak, kelihatannya itu bukanlah masalahnya.”

“Eh?”

Ketika Shidou memiringkan kepalanya Reine yang mana duduk disebelah Kotori, menunjukan layar dekat tangannya. Disana ada beberapa angka yang ditampilkan termasuk wajah Natsumi juga.

“……………..keadaan mental, suasana hati, tingkat perasaan………..semuanya telah keluar dari keadaan mood yang buruk. Tentu saja, ini tidak berada di tingkat dimana penyegelan bisa dilakukan”

“Ja-jadi kalau begitu?”

“………….aah. Dia, ini artinya tidak membenci hasil dari transformasi dirinya. Sekarang, kelihatannya ketidak tenangan dan kebingungannya sangat tinggi”

“Ah--……………..”

Mendengar kalimat Reine, Shidou [Aku mengerti] mengangguk. Sangat benar jika dia merasa kepanikan Natsumi sangatlah wajar.

“…….kemungkinan yang paling besar, dia tidak ingin dipuji saat dia dalam keadaan tidak bertransformasi. Pemikirannya tidak bisa diganggu oleh orang lain sampai dia berubah adalah alasan menyebut dirinya tidak berguna. Didalam hatinya yang paling dalam, meskipun menginginkan [Dirinya sendiri] untuk diterima siapapun, dia tidak memiliki kepercayaan diri untuk itu.”

Reine melanjutkan kalimatnya sambil membuat satu jarinya berdiri.

“……….dari yang dilihat dan telah dianalisa, kelihatannya dibandingkan Roh yang lain, Kita menganalisa kalau Natsumi sangat sering datang diam-diam ke dunia ini. Dia adalah Roh yang memiliki keingintahuan yang tinggi. Dia pun mengenal banyak tentang pengetahuan dunia ini. Ini bukanlah cara yang terpuji tapi, karena dia dapat membuat uang dengan menggunakkan <Haniel>, kelihatannya belanja bukanlah masalah baginya.”

“Aku mengerti…………tapi, jika itu adalah masalahnya lalu, kenapa dia tidak memiliki kepercayaan diri pada dirinya sendiri seperti itu?”

“…………tidak, bukankah alasannya sudah jelas?”

Reine berkeluh keberatan. Setelah mendengar hal itu, Shidou mengingat kembali kalimat Natsumi.

“Sekarang aku berpikir lagi, dia bilang tidak ada satupun yang ingin menghiraukan tentangnya jika [Natsumi] tetaplah seperti [Natsumi] di dunia ini”

“………..kemungkinan besarnya, pengalaman yang dikumpulkan mungkin telah menyimpang dari nilai pandang Natsumi. Sejak dia mengganti penampilannya semaunya tanpa dipikirkan, kelihatannya ini secara berangsur-angsur mulai membuat dirinya menolak penampilan dirinya yang normal………………faktor utamanya bukanlah tentang penampilan pribadi tapi lebih pada iya atau tidaknya kita bisa membuat dia berpikir kalau seseorang akan menerima keberadaannya.”

“Itu sangat menyakitkan.”

Kotori mendesah sambil mengangkat pundaknya.

“Tapi, semenjak disana ada hasrat keingintahuan maka, masih ada kesempatan untuk kita ambil. Kita hanya harus membuatnya memiliki kepercayaan diri pada dirinya sendiri, benar kan? Jika kita melakukan itu maka, dia mungkin akan berbicara dengan terus terang. Ini kemungkinan akan membuat sikapnya lebih baik juga.”

“Ini akan sangat bagus jika semuanya berjalan dengan lancar…………”

“Tidak ada yang akan dimulai jika kita menjadi pesimis. Bagaimanapun juga, kita coba ini. Kita akan dengan segera memulai rehabilitasi untuk Natsumi besok.”

“Rehabilitasi…………huh. Lebih jelas apa yang akan kita lakukan?”
Ketika Shidou bertanya, Kotori *fuumu* berkeluh keberatan seakan-akan jika dia membenamkan dirinya kedalam pikiran.

“Baiklah kita lihat……………bagaimanapun juga, kita hanya harus membuatnya percaya bahwa [Dirinya sendiri sangatlah manis] jadi, mengatur penilaian padanya dari pihak ketiga akan sangat bagus.”

“Tidak, tapi tak perduli berapa kali kita memanggilnya manis………….”

“Seperti yang aku katakan, pihak ketiga. Shidou dan Roh yang mana berhubungan pada [Transformasi] Natsumi akan membuat hal ini menjadi sangat sulit. Bahkan jika kita berencana untuk memberikan dirinya penilaian yang benar, ini akan menjadi tidak ada artinya jika kita membuat dia berpikir kalau kita memandang dirinya melalui kaca berwarna. --------Aku akan menyiapkan orang dari <Ratatoskr> tapi, aku harap ada seseorang yang tidak berhubungan dengan rencana kita jika memungkinkan. Shidou, apa ada seseorang yang bisa kau pikirkan?”

“Eh? Kita lihat…………”

Setelah Shidou menggaruk pipinya, wajah dari satu teman muncul dipikirannya, dan dia [ah] mengeluarkan suaranya.



“Tidak--, kau bilang kau akan mengenalkan padaku seorang gadis? Seperti yang diduga teman adalah sesuatu yang sangat penting!”
Dihari selanjutnya. Dengan sikap yang kelihatannya sudah melupakan semua huru-hara yang terjadi beberapa hari lalu, dia menepuk punggung Shidou dengan keadaan yang sedang baik.

Ya. Teman sekelas Shidou, Tonomachi Hiroto adalah orang yang dipanggilnya untuk bekerja sebagai rehabilitasi Natsumi. Dalam teman Shidou, dia adalah yang terbaik dalam melakukan banyak hal, dan dengan kata-katanya yang sangat bagus. Sejak dia menjadi korban di kejadian sebelumnya, dia akan menjadi orang yang familiar bagi Natsumi. Shidou berpikir ini akan meringankan rasa gugup ketika bertemu seseorang pertama kali meskipun ini hanya akan ringan sedikit.

“Ini tidak seperti aku memperkenalkan dia dengan dirimu tapi………….ah, bagaimana aku mengatakannya yah, dia sedikit pemalu jadi. Maukah kau menjadi rekan berbicara dengan dia?”

“Oke oke. Serahkan ini padaku, teman baikku. Aku akan benar-benar mengundangmu ke upacara resmiku.”

“………..haha”

Tonomachi *don* menepuk dadanya sambil mengangguk. Shidou merasa kalau pemikiran temannya tentang Natsumi terlalu kelewatan bahkan sebelum bertemu dengan Natsumi………………Apa aku memilih orang yang salah?

“Ngomong-ngomong Itsuka, dimana tempatnya? Kau akan mendapatkan masalah karena membuatku tersesat dan kabur menggunakkan taxi. Terus terang saja, jantungku berdegup kencang berpikir soal kemana aku akan dibawa…………….”

Shidou dan Tonomachi saat ini berada di dalam tempat yang terlihat seperti ruangan utama hotel kecil yang penuh gaya. Lebih jelasnya, karena mereka tidak bisa membiarkan Natsumi turun ke lapangan, ini adalah pinggiran dari fasilitas bawah tanah yang telah dibentuk ulang. Pengunjung dan pegawai dapat terlihat tapi, mereka semua adalah anggota dari <Ratatoskr>.

“Na-nah, jangan terlalu khawatir tentang hal ini. Aku akan mengantarmu pulang juga.”

Ketika Shidou mengatakan itu dengan keringat yang membanjiri pipinya, Tonomachi mempertajam matanya.

“Aku pikir ini sangat mustahil, Itsuka……………perempuan itu..”

“Ehh?”

Melihat pada tatapan Tonomachi yang terlihat seperti dia melihat melalui semuanya, Shidou mengejangkan pundaknya.

Tonomachi tidak tahu apa-apa tentang Roh tapi, dia mungkin mulai curiga seperti yang diduga. Ini akan sangat buruk jika dia memiliki prasangka pada Natsumi bahkan sebelum bertemu dengannya. Shidou memikirkan sesuatu untuk mengelabui dia. Tapi,

“Jangan bilang padaku, dia adalah Ojou-sama dari keluarga yang sangat kaya!?”

“Heh……………?”

Mendengar Tonomachi berkata seperti itu dalam sikap yang terkejut, Shidou menjawab kembali dengan suara histeris.

“Wanita muda lemah yang jarang keluar rumah……………..dia benar-benar terkejut karena melihat foto kelas temanku (Itsuka) dan……………suatu hari, dia melihat satu laki-laki didalam foto…………aah, dia ingin bertemu pria ini…………! Perempuan ini kemudian mengumpulkan keberaniannya dan meminta pada temannya untuk mengajak laki-laki istimewa itu………..! seperti itu, benar kan!?”

“O-ou, ya…………menurut perkiraanku benar seperti itu.”

Ketika aku menyesuaikan percakapan dengan asal menjawab,

Tonomachi [Kuuuuuuu] membalikan tubuhnya seperti jika dia dikuasai dengan emosi.

“Masa muda duniaku disini! Terima kasih Itsuka! Aku akan terus menjadi temanmu bahkan sampai aku menjadi penambang emas………!”

“A-aah…………..”

Tonomachi menggetarkan tangannya. Bagaimanapun juga ini adalah hal yang disengaja tapi, ini menyakitkan.

Tapi, Tonomachi tidak memperhatikan sikap Shidou’s manner dan melihat sekitarnya.

“Jadi? Dimanakah jantung hatiku?”

“Aah………….Disana”

Setelah berkata seperti itu, dia tertuju pada sebuah tempat duduk. Disana, menggunakkan pakaian manis dan make-up yang indah-------Natsumi yang sangat tidak senang sedang duduk disana.

“……………..”

Natsumi sedang duduk dikursi sambil membuat wajah yang mengecewakan.

Ketika dia terbangun di pagi hari, Kotori tiba-tiba saja datang dan tanpa penjelasan apapun, membawanya ketempat seperti ini.

Dimana sebenarnya ini? Karena dia tidak ingin muncul dihadapan banyak orang dalam keadaan tidak bertransformasi menggunakkan <Haniel>, ini terasa tidak menyenangkan. Seiring berjalannya waktu pengunjung yang berada disekitar sedang mengobrol dengan ramah, dia merasa tidak mudah kalau mereka akan tertawa pada dirinya.

Dan, disaat itu.

“Halo, senang bertemu denganmu!”

Suara menyenangkan yang tidak biasa terdengar dari depan dan Natsumi mengejangkan badannya.

Ketika dia melihat, dia menemukan ada satu laki-laki muda disana. Dia pernah melihat wajah itu di suatu tempat sebelumnya.------ya, itu adalah teman kelas Shidou. Namanya adalah------

“…………..To-Tonomachi Hiroto…………kenapa kau ada disini?”

Natsumi dengan curiga mengatakan itu tanpa melihat pada Tonomachi
Tonomachi dengan terkejut membuka matanya dengan lebar.

“Ka-kau tahu namaku!? Tohka-chan dan Kaguya-chan tidak bisa mengingat hal itu tak perduli seberapa lama itu berlalu!”

Setelah mengatakan itu, dia menahan air matanya dengan penuh rasa bersyukur. Bagaimanapun juga ini terasa mengganggu, Natsumi sedikit mendorong kursinya.

Tapi, Tonomachi tidak memperhatikan tindakan Natsumi dan duduk pada kursi yang berlawanan arah dengan kesunyian yang mendalam saat ini.

“Apa kabar! Siapa namamu!?”

“……………I-itu…….Natsumi”

“Natsumi-chan! Itu adalah nama yang indah”

“…………….”

Natsumi melihat padanya dengan curiga karena kalimat Tonomachi yang terlalu akrab.

Laki-laki ini, ketika Natsumi berpikir alasan dia muncul dengan tiba-tiba, apa maksud dari yang dia katakan? Mungkin dia disuruh untuk memuji Natsumi karena permintaan Shidou atau Kotori…………..?

Ya. Tidak diragukan lagi karena hal itu. Jika bukan karena itu maka, tidak mungkin dia akan mengetahui Natsumi dari awal pembicaraannya.

“Tidak---, Aku tidak berpikir kau secantik ini. Aku benar-benar berterima kasih pada Itsuka.”

Diwaktu yang sama Natsumi memikirkan tentang hal itu, Tonomachi melanjutkan kalimatnya dengan senang. Natsumi mendengus.

“………berapa banyak?”

“Eh?”

“berapa banyak kau disogok untuk permintaan ini? ini pasti karena uang.”

“………………..? Apa yang sedang kau katakan?”

Tonomachi memegang sebelah pundaknya. Dia terlihat seakan-akan jika dia tidak terkena sebuah lesan bidik.

“……………….”

Natsumi mengangkat kedua halisnya…………….apa yang sebenarnya terjadi?

Normalnya, Ketika seseorang terkena sebuah lesan bidik, paling tidak sebuah respon akan muncul dari tubuh. Dan, tidak mungkin Natsumi yang mana memperhatikan dengan tajam apa yang dia lihat tidak menyadari hal itu.

Yang mana artinya……………….jangan bilang padaku kalau laki-laki ini menyebut Natsumi manis dengan benar-benar serius.

“……………………uh.”

Ketika dia menyadari tentang hal itu, Natsumi merasakan detak jantungnya semakin cepat. Tidak, tidak mungkin. Ini hanyalah pura-pura. Tapi, Natsumi yang sekarang berbeda dari Natsumi dari yang kemarin. Ini adalah Natsumi yang mana telah ber-transformasi berkat Shidou dan para Roh. Hanya mungkin---------

Dan, setelah mata Natsumi mulai berkeliling di sekitar, Tonomachi mengangkat kedua halisnya sambil melanjutkan kalimatnya.

“Tidak, Aku benar-benar terkejut. Kau benar-benar manis. Aku merasa pusing tanpa adanya sebuah alasan yang pasti , aku serius!”

“………………….!!”

Natsumi tiba-tiba saja mengeraskan wajahnya, karena kalimat dari Tonomachi.



Aku merasa pusing.
Untuk merasa pusing………….Artinya: Kepusingan mendekati kata pingsan.
Aku ingin pingsan karena pusing melihatmu.
Aku merasa sakit hanya karena melihatmu, jelek.



“Seperti yaaannnnggg aaaaaakkkuuu ddduuuggaaa!!”

Natsumi membuat teriakkan yang nyaring sebelum membalikan meja.

“U-uwah!? Ada apa Natsumi-chan?!”

“Jangan [ada apa?] padaku! Bermain-main denganku, Bermain-main denganku! Disaat aku tidak suka menjadi seperti ini!”

Ketika dia mulai mengamuk sambil berteriak, para pegawai yang berada disekitar menghampiri dan menahan Natsumi.

“Te-tenanglah, nona…………!”

“Bagaimanapun juga, Waktunya untuk membawa! Kita akan membawanya seperti ini!”

“Me-mengerti………….!”

“Apa yang kau lakukan brengsek! Lepaaasssskkkaaann!”

Natsumi lalu dibawa kedalam ruangan yang berada di tempat aula tamu seperti itu.



***




BAGIAN KEEMPAT

“…………Tidak bagus.”

“………….Itu sangat tidak bagus.”

Disaat waktu ketika Natsumi mecoba untuk menenangkan dirinya, Shidou dan Kotori mengeluh diwaktu yang bersamaan.

Kebetulan, Tonomachi yang sebelumnya dari bawah tanah sudah diantar kembali keatas. Setelah Natsumi mengamuk dengan mendadak, dia merasa gemetaran untuk beberapa waktu tapi, [Seperti yang telah aku pikirkan, itu adalah penyakit yang serius………….tapi, aku akan mendukung Natsumi-chan……….!] dia mengatakan kalimat aneh tersebut tapi, belum ada kepastian apakah dia berkata kalimat yang dia katakan berkesan kasar atau berani.

“Nah, apa yang akan kita lakukan?”

“Aku pikir cara selanjutnya seperti yang direncanakan.----Kannazuki.”

“Hah!”

Kotori membunyikan jarinya dan laki-laki tinggi yang mana sedang berdiri entah muncul dari mana, *Shuta*! Muncul disana. Dia adalah asisten Kotori dan juga wakil komandan <Fraxinus>, Kannazuki Kyouhei.

Melihat pada Kannazuki yang mana dia telah terlihat beberapa kali, Shidou mengangkat kedua halisnya tanpa disengaja. Bagaimanapun, itu sangatlah wajar. Saat ini, dia sedang memakai kacamata coklat muda sambil menyimpan rompi lengan panjang di pundaknya tanpa memasukkan tangannya pada lengan rompi dan juga lengan rompinya saling mengikat di depan dadanya; itu adalah gaya produsen stereotypikal yang mencurigakan.

“Kannazuki-san…………? Kenapa kau berpenampilan seperti itu?”

“Fufu----------ini adalah rencana rahasiaku. Kita beri kucing buas itu memahami tentang pesona dirinya sendiri.”

Ketika Shidou berkata seperti itu, Kannazuki mengacungkan jempolnya dengan penuh percaya diri.



“…………Sekarang apa lagi?”

Telah berlalu 3 jam sejak kejadian yang dialami bersama Tonomachi. Telah memperoleh kembali ketenangannya, Natsumi sekarang pergi sendirian ke tempat yang terlihat seperti kafé.

Kelihatannya ini adalah tempat dimana dia akan dibawa setelah kejadian sebelumnya jadi, mereka ingin Natsumi untuk menunggu disana untuk beberapa waktu tapi………………..tempat apakah ini sampai dia dibawa kesini? Sambil melihat kebawah sedikit untuk menghindari pandangan di sekitar, Natsumi memikirkan hal itu.

Dan-----disaat itu.

“Oooo? OOOOOOOOOOOOOOOo?”

Ketika dia sedang berpikir Dia mendengar sebuah suara, laki-laki dengan penampilan yang mecurigakan menggunakkan kacamata dan rompi di pundaknya menghampiri Natsumi seakan-akan jika dia mengintip sejenak pada wajah Natsumi.

“……..uh, a-ada apa………?”

Ketika wajah Natsumi mengeluarkan kewaspadaan, laki-laki itu *pechin* menepak dahinya dengan reaksi berlebihan.

“Ooootoo, Maafkan aku! Aku selalu terlihat seperti ini.”

Setelah mengatakan itu, laki-laki itu mengeluarkan kartu nama dari sakunya dan memberinya pada Natsumi.

“…………….produki Ratatoskr, manajer tim, Kannazuki Kyouhei.”

“Ya! ini adalah perusahaan yang membuat film dan acara televisi, atau bahkan permodelan dan direksi acara pencari talenta.”

Orang yang bernama Kannazuki menunduk dengan berlebihan dan melanjutkan kalimatnya dalam sikap yang gembira.

“Ini mungkin sangat mendadak tapi, nona! Apa kau memiliki ketertarikan untuk menjadi model!?”

“Eh…………………..?”

Natsumi membuka matanya dengan lebar karena kalimat itu yang mana tiba-tiba keluar.

“Mo-model……….tunggu, yang seperti ada di majalah…………?”

“Ya! model seperti itu!”

Kannazuki dengan semangat mengangguk. Tapi, Natsumi mengeluh dengan sikap dingin sebagai respon.

Itu karena ini permodelan. Natsumi mengingat-ingat kembali majalah dan acara televisi yang dia lihat di dunia ini. Jika ingatan Natsumi benar, menjadi model artinya menjadi perempuan dengan penampilan yang bagus dan badan ramping yang tinggi.

Jika saat ini Natsumi dalam keadaan transformasinya menggunakkan <Haniel> lalu ini akan sangat cocok tapi, ini sangatlah jelas kalau ini tidak akan cocok untuk kondisi Natsumi saat ini. Laki-laki ini menjadi [Seperti itu]. Tidak diragukan lagi dia adalah kontraktor yang korupsi yang akan menipu banyak perempuan dengan kalimat manis dan mendapatkan sejumlah uang yang banyak dengan mengandalkan keahliannya menjadi dalih.

“………Maafkan aku tapi, Aku sangat benci lelucon. Permodelan adalah sesuatu yang hanya dimiliki orang yang berpenampilan bagus dan tinggi yang sempurna. Seseorang sepertiku tidak akan---------” dengan sikap yang mengolok-olok dirinya sendiri, ketika Natsumi mengatakan hal itu, Kannazuki *buun**buun* menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ini bukanlah lelucon! Penampilan bagus? Hah, apa itu artinya hanya dengan dada yang besar saja! Itu tidak sepenuhnya benar! Cantik yang sebenarnya yaitu tubuh yang belum dewasa seperti kuncup yang siap bermekaran dibawah munculnya musim semi! Indah sekali! Kau yang saat ini benar-benar sangat cantik Kaulah satu-satunya yang memilki tubuh sangat bagus! Ingatlah hal itu selalu!”

“…………………..uh.”

Arah Kannazuki yang mana mulai mendekat pada Natsumi dengan nafasnya yang mulai menjadi liar, Natsumi mundur dengan refleks. Seperti saat bertemu Tonomachi, laki-laki itu tidak terlihat kalau dia berbohong.

Ini sedikit mengganggu tapi, laki-laki itu benar-benar berpikir Natsumi seperti itu. Apa manusia menyukai orang seperti Natsumi benar-benar ada di dunia ini……………? Tidak, tapi menyebut Natsumi yang sekarang memiliki tubuh yang bagus itu hanya……..

“Hah…………”

Natsumi membuka matanya dengan lebar.



Natsumi memiliki tubuh yang bagus
Tubuh Natsumi bagus
Kau terlihat sangat menyesal tapi, tidak ada masalah dengan fungsi tubuhmu.
Sepertinya organ tubuhmu akan sangat mahal jika dijual.



“Pem-pembunuh………….!?”

Setelah Natsumi mengeluarkan suara teriakkan dengan sangat keras, dia berdiri dari kursi.

“Oya, Apa ada yang salah?”

“Ja-jangan mendekat! Aku tak akan tertipu! Aku tak akan tertipu!”

“Aku tidak menipumu! Baiklah, kita kurang pas berada di tempat seperti ini, jika kau mau maukah kau datang ke kantor---“
Setelah mengatakan hal itu, Kannazuki memegang tangan Natsumi.

“Kyaaaaaaaaaaaaaa!”

Setelah Natsumi berteriak dengan suara yang nyaring, Dia memberikan Kannazuki tamparan di pipinya dan berlari masuk kedalam toko.




***




BAGIAN KELIMA

“…………tetap tidak berhasil”

“…………masih saja tidak berhasil.”

Setelah melihat semua yang terjadi, Shidou dan Kotori lagi-lagi mengeluh.

“Tidak haha, Aku minta maaf.”

Tidak terlihat ingin meminta maaf, Kannazuki tertawa. Dia memiliki bekas warna ungu di pipinya, dan salah satu kaca dari kacamatanya remuk.

“Baiklah, Kannazuki menjadi sangat mengganggu, tapi kelihatannya prasangka buruk Natsumi sudah diluar pemikiran kita. Ini mungkin lebih baik jika kita menurunkan levelnya.”

“Apa kau bilang………..menurunkan levelnya?”

“Kita lihat…………pertama, daripada memujinya, kita mulai dengan membuatnya mengerti kalau orang lain tidak akan tertawa jika dia berbicara dengan normal dengan seseorang.”

“Fumu…………lebih jelasnya?”

“Sesuatu seperti membuat dia untuk mencoba memesan sesuatu di restoran cepat saji.”

“…………Levelnya benar-benar menjadi turun drastis.”

Shidou membuat senyuman kaku sambil menggaruk pipinya. Dilihat pada responnya saat ini, sangat benar jika ini lebih baik untuk Natsumi. Membuat dia secara berangsur-angsur terbiasa, cara itu mungkin lebih efektif.

“Oke kita bergerak ke tempat selanjutnya. Kita akan membawa Natsumi keluar ruangan jadi, dimohon bersiap-siap.”

Ketika Kotori mengatakan itu, dia membuat gagang dari chupa chups yang dia makan berdiri.



“…………..jadi, kali ini apa?”

Natsumi membuat ekspresi tegang sambil melihat pada Shidou dan Kotori yang mana duduk berlawanan dengannya.

Natsumi dibawa ke sebuah tempat yang mana jika dipikir-pikir adalah restoran hamburger. Di sekitarnya, dapat terlihat ada beberapa siswa dalam perjalanan pulang ke rumah dari sekolah dan orang tua membawa anak-anak mereka terus berjalan; tempat tersebut sangat ramai.

“Tidak ada apa-apa, hanya sedikit lapar saja.”

“Aah, ya ya. Hanya lapar”

Kotori mengatakan itu dengan acuh tak acuh saat Shidou mengatakan itu dengan tak wajar. Natsumi melihat pada mereka dengan keraguan.

“Emm, Maafkan aku tapi, aku akan memberikanmu uang jadi buatlah sebuah pesanan. Aku serahkan daftar makanannya padamu.”

“Ha………..hah!? kenapa harus aku………..”

“tidak apa-apa. Ini ambillah. Jangan dilepaskan oke?”

“He-hey tu-tunggu……….!”

Setelah Natsumi dipaksa untuk memegang beberapa uang kertas, dia menuju ke kasir pemesanan.

“……………….guh.”

Ada beberapa banyak hal yang membuat dia kesulitan, tapi dia tidak memiliki pilihan lain. Natsumi sampai disana dan berdiri didepan kasir sambil melihat kebawah. “Selamat datang! Apa kau sudah memutuskan apa yang akan kau pesan?”

Perempuan dengan rambut poni berdiri di tempat kasir berbicara dengannya sambil tersenyum. Natsumi berusaha menenangkan detak jantungnya sambil berbicara dengan suara yang gemetaran.

“……………3……Ha-hamburger……..”

“Oke! 3 hamburgers!”

“………….Ya-ya benar.”

“Apa kau ingin memesan kentangnya juga?”

“…………………….!”

Disaat ketika pegawai kasir bertanya sambil tersenyum, Natsumi membuka matanya dengan lebar.



Apa kau ingin memesan kentang?
Kentang yang dimaksud dalam persoalan = Kentang goreng.
Menjadi gendut sangatlah mudah dengan kombinasi dari karbohidrat dengan minyak.
Tubuh yang terlihat lusuh itu akan menjadi lebih buruk jika kau menambahkan lebih aneh benar kan?



“Terkutuk. Dasar. Siiiaaaallllaaannn!”

“Eeh!?”

Ketika Natsumi mengangkat kepalan tangannya pada kasir, Anggota pegawai mengejangkan badannya dengan terkejut.

“Aku sudah tahu bahkan jika kau tidak memberitahuku! Ini tidak seperti aku senang mempunyai badan seperti iiinnnii!”

“A Tunggu……….no-nona!?”

“Na-Natsumi!”

“Shidou! Tahan dia!”

Suara Shidou dan Kotori dapat terdengar dibelakang. Setelah Natsumi dengan seketika ditangkap, dia dibawa kembali ke ruanganya semula.



***

Date A Live Jilid 9 Bab 8 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.