06 November 2015

Arifureta Bab 5 Bahasa Indonesia


ARIFURETA SHOKUGYOU DE SEKAI SAIKYOU
BAB 5
JEBAKAN

Saat ini, Hajime dan teman-temannya sedang berkumpul di sekitar lapangan tepat di depan pintu masuk Orcus Dungeon.

Bagi Hajime, dia membayangkan pintu masuk yang kelam dan suram, tapi pintu masuknya terlihat seperti pintu masuk ke museum, bahkan sampai ada meja penerima di pintu masuknya. Ada seorang kakak yang tersenyum dalam balutan seragam yang memeriksa orang-orang yang masuk dan keluar dari dungeon. Kelihatannya, ini adalah tempat di mana orang masuk dengan Plat Status mereka. Menggunakan benda tersebut, mereka dapat mencatat siapa yang gagal di dalam dungeon. Dengan perang yang mendekat, mereka tidak ingin terlalu banyak korban jiwa.

Di lapangan dengan pintu masuk, ada banyak kios yang berbaris. Toko-toko tersebut sedang berkompetisi satu sama lain. Tempat ini ada area yang pouler untuk mendapatkan penghasilan yang bagus karena orang-orang pada umumnya berkumpul di sini. Level yang dangkal dari Dungeon ini sangat terkenal. Ada banyak orang yang ingin menantang Dungeon ini, beberapa menganggapnya serius sementara yang lain hanya bermain-main dengan nyawa mereka. Kelihatannya adalah banyak aktivitas kriminal di gang belakang dekat Dungeon. Negeri ini, dengan bantuan dari guild petualang, telah membentuk kerjasama dan fasilitas untuk membatasi kriminalitas yang diakibatkan perang yang akan datang. Ini sangat berguna karena kau bisa membeli dan menjual material di sini, dan tempatnya dekat dengan Dungeon.

Sementara sekelas melihat-lihat sekitar seperti orang kampung, mereka berbaris mengikuti tunggangan seperti bebek di belakang Meld.
* * *
Bagian dalam Dungeon sangat berbeda dengan keributan di luar. Tidak ada begitu banyak cahaya menerangi sekitar, tapi di depan ada sebuah lintasan yang memancarkan sinar. Lintasan tersebut tinggi dan lebarnya sekitar 5 m, adalah hal yang mungkin untuk melihat sampai ke titik tertentu bahkan tanpa cahaya sihir apapun atau obor. Batu hijau khusus, yang terbenam di dinding, mengeluarkan cahaya untuk menerangi dungeon. Orcus Dungeon terlihat seperti memiliki sebuah lorong besar dar batu-batu hijau ini.

Kelompok tersebut terbagi menjadi beberapa tingkatan dan terus maju. Untuk sementara, tidak ada hal menarik yang terjadi sampai mereka menuju ke aula. Aula tersebut berbentuk kubah dan langit-langitnya sepertinya sekitar 7-8 tingginya. Bola-bola halus berwarna kelabu melompat keluar dari celah-celah di dinding.

“Baiklah, Kouki dan grupnya maju ke depan. Yang lainnya mundur! Kita akan bergantian untuk ke garis depan. Bersiaplah! Monster-monster ini disebut Ratman. Mereka sama kuatnya atau berbahayanya, tapi mereka cepat. Serang hati-hati.”

Seperti yang dia katakan, Ratman melompat ke arah mereka dengan cepat. Mata merah menyala mereka bersinar menakutkan di antara rambut kelabu mereka. Namanya sesuai dengan dirinya. Ratman berkaki dua dan memiliki bagian tubuh atas yang berotot, dan mereka memiliki ciri-ciri seperti tikus. Hanya dada dan abdomen mereka, yang memiliki 8 pak, yang ditutupi rambut. Ini seakan-akan mereka sedang memamerkan otot-otot daerah perut mereka.

Garis depan terdiri dari Kouki dan teman-temannya. Saat Shizuku, yang berada di depan, melihat musuh, wajahnya menjadi kaku. Ratman memberikan perasaan menakutkan. Kouki, Shizuku, dan Ryutaro menghalangi serbuan Ratman. Sementara itu, dua gadis yang berada dekat dengan Kaori mulai merapalkan mantera. Gadis-gadis ini adalah Nakamura Eri si kacamata, dan Taniguchi Suzu si lolo energetik. Mereka bersiap-siap melancarkan sihir mereka. Mereka bertahan di dalam formasi yang diajarkan pada mereka.

Kouki mengayunkan pedang besarnya yang bercahaya putih dengan begitu cepat sampai sulit untuk melihat gerakannya, dia dengan cepat menyerang beberapa lawan. Pedangnya adalah salah satu artifak yang Kerajaan berikan padanya, “Pedang Suci”. Pedang tersebut memiliki atribut cahaya. Setiap musuh yang terkena cahayanya, yang dihasilkan pedang tersebut, menjadi lemah dan juga secara otomatis memperkuat si pemegangnya. Bahkan sekalipun ini “Suci”, pedang ini memiliki kemampuan “kotor”.

Class Ryutaro adalah “Fist Fighter”, jadi dia menggunakan sarung tangan dan pelindung kaki sebagai perlengkapannya. Ini juga adalah artifak, dan mereka bisa menghasilkan gelombang kejut. Mereka juga diyakini tidak dapat dihancurkan. Ryutaro mengambil kuda-kuda menyerang dan sama sekali tidak membiarkan musuh melewatinya dengan secara teliti mengirimkan tendangan dan pukulan. Meskipun dia sama sekali tidak ada tameng, dia beraksi seakan dia tank bersenjata berat.

Shizuku, yang seperti gadis Samurai, dengan class “Swordswoman”nya dan pedang yang seperti gabungan dari sebatang Shamsir dan sebatang Katana. Mengambil kuda-kuda jurus pedang dan menarik keluar pedangnya. Semua musuh ditebas dalam sekejap. Tarikan pedangnya begitu mulus, bahkan para ksatria terpukau karenanya.

Sementara murid yang lain terkagum-kagum dengan pertarungan kelompok Kouki, sebuah mantera terdengar.

“””Pusaran Api Kegelapan, Bakarlah Musuhku, Kembalikan Mereka Ke Bumi sebagai Abu, “Spiral Flame”.”””

Tiga orang secara bersamaan melancarkannya, dan tiga pusaran api melahap para Ratman. Ratman tersebut mengeluarkan jeritan kematian saat lidah-lidah api mengubah mereka menjadi abu.

Mereka menyadari bahwa semua Ratman telah ditumpas. Para murid lainnya tidak mendapatkan giliran. Kelihatannya musuh di level pertama terlalu lemah untuk kelompok Kouki.

“Ya, kerja bagus! Kali berikutnya kalian mencobanya, jangan sampai menurunkan kewaspadaan!”

Meld mengingatkan untuk tidak lengah, tapi dia tersenyum karena kemajuan yang ditunjukkan murid-muridnya. Akan tetapi, ketegangan dari pengalaman pertama mereka bertemu dengan monster-monster di dalam dungeon tidak dapat dihentikan. Wajah para murid berubah menjadi senyuman. Meld hanya mengangkat bahunya atas reaksi mereka.

“Meskipun ini adalah latihan praktek, jangan lupa untuk ingat tentang Batu Sihir. Karena ini benar-benar pembunuhan dalam sekejap mata.”

Mendengar perkataan Meld, orang-orang di grup Kaori yang melancarkan mantera wajahnya tersipu-sipu.

Tidak ada masalah besar dari sini, mereka mengulangi pertempuran dengan cara yang sama. Segalanya berjalan baik di level rendah. Pada akhirnya, mereka sampai pada lantai ke-20, yang adalah tanda sebagai petualang kelas atas. Level tertinggi yang pernah dijelajahi adalah lantai ke-65 Orcus Dungeon. Pencapaian tersebut dilakukan oleh para petualang sekitar lebih dari 100 tahun yang lalu. Mencapai level 40 dianggap elit kelas atas. Mereka yang melewati level 20 dianggap sebagai kelas atas. Karena semua murid “curang”, mereka dengan mudah melewati level 20, bahkan sekalipun mereka tidak memiliki banyak pengalaman.

Jebakan adalah fitur yang paling mengerikan dari Dungeon. Dalam beberapa kasus, jebakan bersifat mematikan. Ada sesuatu yang disebut Fair Scope untuk level lebih rendah. Ini adalah alat untuk mendeteksi jebakan dengan merasakan aliran sihir. Karena kebanyakan jebakan di dungeon menggunakan sihir, Fair Scope dapat mendetksi lebih dari 80% jebakan. Jangakauan deteksinya cukup sempit, jadi pengalaman atau informasi dibutuhkan untuk melanjutkan prosesnya dengan lancar.

Walau begitu, mereka dapat dengan cepat melewati setiap lantai. Ini sebagian besar berkat betapa sungguh-sungguhnya para kstaria yang memandu mereka. Meld terutama menjelaskan kepada mereka bahwa kalau mereka tidak mengetahui tataruangnya, periksa adanya jebakan. Kalau mereka tidak yakin apakah ada jebakan di sekitarnya, bergeraklah dengan waspada.

“Baiklah, kalian semua. Mulai dari sini, tidak hanya akan ada iblis tipe lainnya, tapi mereka juga akan bekerja sama untuk menyerang kita. Jangan lengah hanya karena segalanya lancar selama ini! Setelah kita menyelesaikan level 20, maka cukup untuk hari ini! Bersemangatlah!”

Nada rendah Meld dalam pesannya bergema di semua orang. Sampai titik ini, Hajime tidak pernah melakukan apa pun yang penting. Sekali, dia mempraktekkannya pada monster yang dilemahkan para ksatria. Dia menciptakan sebuah lubang jebakan supaya para monster jatuh, dan menusuknya dengan sebuah pedang. Sampai sekarang, dia hanya mengalahkan satu monster yang seperti seekor anjing.

Tidak ada yang menginginkannya dalam kelompok mereka. Pada dasarnya, dia hanya berdiri di belakang perlindungan yang diberikan para ksatria. Ini benar-benar menyedihkan. Akan tetapi, dengan berulang kali menggunakan skill Sinerginya dalam pertempuran, dia dapat meningkatkan kekuatan sihirnya. Kekuatan sihirnya naik 2 poin, kelihatannya pertempuran yang sesungguhnya benar-benar berguna.

(Tetap saja, aku aku benar-benar seorang parasit…)

Lagi, seekor monster yang dilemahkan dilemparkan ke Hajime oleh ksatria yang melemahkannya. Ketika monster itu mendekat, Hajime mengubah bentuk tanah dan menghela nafas. Dengan terkekangnya monster itu, Hajime mengayunkan pedangnya untuk menghabisinya.

(Yah, sepertinya ketepatanku dengan transmutasi sudah meningkat. Ayo lakukan yang terbaik selangkah demi selangkah.)

Dia memakan pil pemulih sihir, saat dia menyeka keringat dari alisnya. Hajime tidak menyadarinya, tapi ada beberapa ksatria yang terkesan dengannya.

Ksatria tersebut tidak mengharapkan apapun darinya sejak awal. Akan tetapi dalam pertempuran, dia berani bertarung melawan para iblis dan tidak hanya berdiam diri. Tentunya, monster yang telah dilemahkan.

Bagi para ksatria, mereka tadinya berpikir Hajime akan bertarung hanya dengan menggunakan pedangnya. Hajime memilih untuk menggunakan transmutasinya untuk mengunci pergerakan monster-monster tersebut. Dia melancarkan serangan mematikan pada monster-monster itu dengan strategi yang bisa diandalkan yang tidak pernah dilihat para ksatria itu sebelumnya. Sinergis dianggap sebagai class perajin. Mereka tidak pernah memikirkan untuk menggunakan skill transmutasi seperti itu dalam pertempuran.

Karena dia tidak memiliki hal lain, Hajime berpikir untuk menggunakan transmutasi sebagai senjatanya. Dia berpikir kalau dia dapat memanipulasi mineral, kenapa dia tidak bisa memanipulasi tanah? Karena dia dikelilingi begitu banyak orang-orang yang kuat, dan dia hanya mengalahkan beberapa saja, dia merasa tidak berguna. Ini adalah pertunjukkan taktiknya yang pertama di hadapan publik. Ketika ketidakmampuannya diperlihatkan saat latih tempur di ibukota, dia mendapat ide taktik ini.

Mereka berhenti untuk istirahat singkat. Dia melihat ke depan dan bertemu mata dengan Kaori. Gadis itu melihat ke arah Hajime dan tersenyum padanya. Kaori sepertinya mengawasinya setelah deklarasinya semalam untuk “melindungi”nya. Ini membuat Hajime menjadi malu dan memutuskan kontak matanya. Ekspresinya menjadi sedikit merengut karenanya. Shizuku yang telah mengamati apa yang sedang terjadi dengan senyum simpul di wajahnya, bertanya dengan suara kecil.

“Kaori, kenapa kalian berdua terus-menerus menatap satu sama lain? Kau tidak bisa mengharapkan komedi romantis di dalam sebuah dungeon, tidak ada waktu untuk itu.”

Kaori tersipu-sipu karena godaan itu. Dia menyangkal Shizuku dengan kesal

“Uuh, Shizuku-chan. Jangan katakan hal yang aneh-aneh. Aku hanya penasaran apakah Nagumo-kun baik-baik saja. Hanya itu!”

Shizuku tahu bahwa bukan itu sebenarnya, tapi dia menutup mulutnya. Dia tidak ingin mengatakan apapun yang mungkin dapat menyinggungnya lebih jauh. Meskipun dia tidak dapat menyembunyikan tawa di matanya. Kaori melihatnya dan hanya merengut.

Hajime hanya melirik keadaan mereka, saat tiba-tiba dia merasakan sebuah tatapan. Tatapan tidak menyenangkan yang penuh dengan emosi negatif dan kelihatannya tertuju penuh padanya. Hajime bukannya tidak terbiasa dengan tatapan semacam itu di ruang kelas, tapi perasaan kali ini tidak bisa dibandingkan, ini begitu mendalam.

Bukan pertama kalinya hari ini dia merasakan tatapan itu. Sejak pagi hari dia merasakan tatapan tersebut. Saat dia berusaha mencari-cari sumbernya, hal tersebut akan menghilang. Hajime muak dengan hal tersebut, setelah melakukannya beberapa kali.

(Aku penasaran apa itu… apakah aku melakukan sesuatu? Kupikir aku sudah melakukan yang terbaik sekalipun aku tidak berguna. Aku bertanya-tanya apakah itu penyebabnya? Aku tidak menjadi sombong! Target?)

Hajime menghela nafas dalam-dalam. Dia mulai merasakan firasat buruk yang Kaori katakan.

Kelompok tersebut menyelidiki level 20. Setiap level Dungeon luasnya beberapa kilometer ke setiap arah. Memerlukan beberapa lusin orang dan beberapa bulan untuk memetakan level yang tidak diketahui. 47 level telah dipetakan dengan baik, jadi semudah itu untuk tersesat. Tidak ada kekhawatiran besar untuk terkena perangkap.

Ruangan terdalam dari level 20 memiliki kondisi geografis yang sangat rumit. Dindingnya mencuat seperti goa stalaktit dan tetesan air beku terbentuk di sekeliling ruangan. Tangga yang menuju lantai 21 berada di depan dari ruangan ini. Kalau mereka mencapai titik tersebut, latihannya akan selesai untuk hari ini. Di masa lalu, mereka dapat menggunakan sihir tipe transportasi, tapi pada masa sekarang hal tersebut mustahil. Mereka harus kembali ke cara yang lama. Kelompok tersebut menghela nafas lega, karena dinding-dindingnya menonjol, mereka harus bergerak maju dalam bentuk satu barisan.

Setelah beberapa saat, kelompok Kouki dan Meld yang berada di bagian depan berhenti. Teman-teman sekelas yang waspada, segera mengambil pose siaga.

“Mereka berkamuflase! Pastikan untuk memperhatikan sekeliling kalian!”

Meld menganjurkan mereka. Dindingnya tiba-tiba naik dan berubah warna sedikit. Tubuh yang berkamuflase sekarang berubah menjadi coklat gelap, dan mereka berdiri pada dua kaki. Sosok itu mengangkat dadanya dan mulai memukulinya seperti sebuah drum. Saat mereka mengamatinya dengan baik, monster tersebut adalah iblis yang seperti gorila dengan kemampuan menyamar.

“Rockmount! Berhati-hatilah dengan lengannya, mereka kuat!”

Seruan Meld bergema di ruangan yang seperti goa tersebut. Kelompok Kouki muncul menghadapi mereka. Ryutaro dapat memantulkan serangan yang datang dari seekor Rockmount. Kouki dan Shizuku mencoba mengepung makhluk buas itu. Mereka tidak dapat memposisikan dirinya karena kondisi ruangan yang terlalu menghalangi.

Saat Rockmount merasa tidak dapat melewati Ryutaro, dia menarik diri sedikit dan menarik napas dalam-dalam.

“GuGaGaGaaaaa——‼”

Raungan menegangkan bergetar di seluruh ruangan.

“Ugh!?”

“Uwa!?”

“Kya!?”

Sebuah gelombang kejut merambati tubuh mereka, tidak melukai mereka, tapi membekukan mereka. Ini adalah Sihir Khusus “Intimidating Roar” Rockmount. Raungan tersebut mengandung sihir yang menyebabkan kelumpuhan yang sementara.

Penyerang garis depan Kouki menerima dampak raungan tersebut hampir seluruhnya, ini menyebabkan mereka membeku sementara. Rockmount mengambil celah pertahanan ini untuk menyerang, dia mengangkat sebongkah batu besar dan melemparkannya ke penyerang garis belakang Kaori. Sebentuk jalur serangan terbentuk karenanya. Batu tersebut melayang menuju Kaori, dan penyerang garis depan yang membeku tidak dapat bergerak untuk menghentikannya.

Kaori dan rekan-rekannya menyiapkan diri dengan tongkat sihir yang mereka punya, untuk menghalanginya. Tidak ada cukup ruang untuk menghindar. Akan tetapi, saat mereka akan mengaktifkan sihirnya, mereka mau tidak mau terpaku pada pemandangan di hadapan mereka.

Bongkahan batu yang dilemparkan tersebut adalah Rockmount yang lain. Mendekati grup Kaori, monster tersebut melakukan putaran mencolok dan melebarkan lengannya. Penampilannya seperti seorang Rune Driver. Sebuah suara yang berkata “Ka-o-ri-chan~!” hampir dapat terdengar. Anehnya, mata monster itu semerah darah dan napasnya terdengar kasar. Kaori, Eri, dan Suzu tanpa sadar berteriak dan menghetikan sihir mereka.

“Hei! Apa yang kalian lakukan dalam pertempuran.”

Dengan cepat, Meld menebas Rockmoun yang masih menukik. Para gadis itu meminta maaf, tapi perasaan buruk masih ada di sana. Wajah mereka memucat.

Ada seseorang yang marah pada situasi tersebut. Si pembela keadilan, Amanokawa Kouki.

“Brengsek… Beraninya kalian memperlakukan mereka seperti itu… Tidak akan kumaafkan!”

Kouki kelihatannya telah salah tentang mengapa para gadis tersebut memucat dan merasa buruk, dia berpikir bahwa mereka takut karena nyaris tewas. Menakut-nakuti para gadis seperti itu! Tak terbayangkan, tanda kecil kemarahan muncul di wajah Kouki. “Pedang Suci”-nya kelihatan bersinar merespon perasaannya.

“Ribuan Sayap Melambung Tinggi, Mencapai Langit, “Soaring Flash”!”

“Ah, si bodoh ini!”

Mengabaikan suara Meld, Kouki mengacungkan pedangnya ke atas kepala dan mengayunkannya ke bawah dalam satu gerakan. Rapalannya telah membuat pedang tersebut memancarkan cahaya yang kuat, dan ayunannya melepaskan cahaya tersebut. Membentuk lengkungan, cahaya itu membelah dua Rockmount tersebut tanpa menemui hambatan. Bilah cahaya itu terus berlanjut hingga menghancurkan tembok belakang.

Puing-puing berjatuhan dari dinding yang hancur. Kouki menghela nafas dan menyunggingkan senyuman berkilauan. Dia telah mengalahkan monster yang menakuti mereka. Sekarang aman! Hampir memberikan pujian, dia didekati oleh Meld yang tersenyum dan kemudian menjitaknya.

“Ow!?”

“Dasar bodoh. Aku mengerti apa yang kau rasakan, tapi kau seharusnya tidak menggunakan tekhnik semacam itu di tempat sesempit ini. Kalau tempat ini rubuh, apa yang akan kau lakukan?”

Diomeli Meld, dia tercekat. Kouki mencoba untuk meminta maaf. Para gadis tersebut mendekatinya dan memberikan seulas senyuman kaku untuk menghiburnya.

Pada saat itu, dinding yang roboh menangkap perhatian Kaori.

“Apa itu? Terlihat berkilauan.”

Semuanya melihat ke dinding yang Kaori maksudkan. Yang merekah dari dinding tersebut adalah mineral yang memancarkan cahaya pucat. Itu adalah kristal yang ditutupi tourmaline. Para gadis terpesona oleh pemandangan indah dari kristal-kristal tersebut.

“Oh, itu adalah Kristal Grantz. Dan ukuran sebesar ini langka.”

Saat membicarakan tentang Kristal Grantz, itu adalah semacam bijih yang seperti permata. Kristal tersebut tidak memiliki efek khusus, tapi penampilannya yang indah dan berkilauan membuatnya terkenal di kalangan wanita. Cincin, anting-anting, kalung, dan perhiasan lainnya bertatahkan benda tersebut dan sangat disenangi. Permata ini adalah salah satu tiga batu teratas yang dipilih untuk cincin lamaran.

“Cantiknya…”

Terpesona, pipi Kaori bersemu merah. Hanya Hajime dan Shizuku yang menyadari hal ini.

“Kalau begitu, akan kuambilkan!”

Yang mengatakan hal tersebut dan bergegas menuju benda itu adalah Hiyama. Dia mendekati dinding dan dengan cepat meraih kristal tersebut. Meld menjadi panik karenanya.

“Hei! Jangan lakukan sesukamu! Kita belum memastikan itu aman!”

Hiyama berpura-pura tidak mendengarnya dan akhirnya sampai di depan kristal itu. Meld mengejar Hiyama untuk menghentikannya. Pada saat itulah, salah satu ksatria selesai menganalisis dengan Fair Scope. Dia memucat karena hasilnya.

“Komandan! Itu jebakan!”

“Hah!?”

Akan tetapi, peringatannya datang terlambat. Begitu Hiyama menyentuh Kristal Grantz, sihir mulai menyebar dari kristal itu. Jebakan tersebut dipasang untuk orang yang begitu terpesona pada kristal tersebut sampai mereka akan menyentuhnya dengan sembrono. Ada sebuah cerita bagus tentang ini. Itu adalah cara dari dunia ini.

Dalam sekejap mata, lingkaran sihir menyebar ke seluruh ruangan, dan perlahan-lahan bersinar semakin terang. Itu sepertu tiruan dari sihir yang memanggil mereka.

“Mundur! Keluar dari ruangan ini sekarang juga!”

Begitu Meld menegaskan, semuanya mulai mengosongkan ruangan tersebut dengan tergesa-gesa, tapi mereka tidak cukup cepat. Saat cahaya itu memenuhi ruangan, semuanya untuk sesaat merasakan sensasi melayang. Para murid merasakan perubahan atmosfirnya. Mereka terhempas ke tanah dengan suara gedebuk.

Dengan rasa nyeri yang mendera bokongnya yang diakibatkan jatuhnya, Hajime melihat ke sekeliling. Sama seperti Hajime, teman-teman sekelasnya jatuh pada bagian belakang mereka. Meld, para ksatria, dan kelompok Kouki dengan cepat berdiri dan mengamati sekelilingnya. Sepertinya sihir yang tadi adalah sihir tipe transportasi. Karena sihir semacam itu tidak mungkin dengan sihir saat ini, kemungkinan hal ini adalah sihir kuno.

Mereka semua dikirim ke atas sebuah jembatan batu yang sangat besar. Kira-kira panjangnya 100m. langit-langitnya kelihatan sekitar 20m. Tidak ada sungai yang mengalir di bawah jembatan itu, karena kegelapan pekat, tidak ada apapun yang terlihat. Ini terasa seakan berada di sebuah jurang ngarai yang begitu curam.

Lebar jembatan itu sekitar 10m, tapi tidak terdapat pagar pengaman. Kalau kau terpeleset jatuh, tidak ada yang bisa dipegang, dan kau akan jatuh dengan kepalamu terlebih dahulu. Kelompok itu berada tepat di tengah-tengah jembatan. Di kedua sisi jembatan, mereka dapat melihat jalur yang menuju tangga yang naik ke lantai atas.

Ketika dia memastikannya, Meld memberi perintah dengan ekspresi suram.

“Kalian semua, ke atas secepatnya, ke tangga. Cepat!”

Dengan cepat para murid bergerak. Akan tetapi, sebuah jebakan di dungeon bukanlah sesuatu yang sederhana, untuk mundur bukanlah hal yang mudah. Monster bermunculan dari lingkaran sihir yang muncul dari kedua sisi jembatan. Di satu sisi adalah seekor monster raksasa. Yang lainnya adalah sejumlah besar monster.

Meld menatap monster raksasa tersebut dan hanya berbisik…


“Tidak mungkin… seekor Behemoth.”

Arifureta Bab 5 Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.