21 Oktober 2015

Samayou Shinki no Duelist Jilid 1 - Bab 1


BAB 1
GADIS YANG TERJATUH





 “--Baiklah, Baiklah. Aku mengerti; Aku tahu apa yang kamu inginkan. Kita coba bicarakan dulu baik-baik, oke? "
Pemuda itu berbicara sambil mengangkat kedua tangannya.
Dia terlihat seperti anak usia lima belas tahun atau sekitarnya. Yang jelas belum sampai dua puluhan.
Dengan rambut dan mata berwarna hitam. Tinggi rata-rata. Tubuhnya ramping tanpa sedikitpun kekurangan.
"Seperti yang kamu lihat, aku sama sekali tidak bersenjata. Aku di sini bukan untuk mengganggu siapapun, maupun merebut mangsa siapapun. Aku hanya ingin mencari sesuatu untuk dijual. Jujur ​​saja, uang kurang lebih hanyalah hal paling penting nomor dua dalam kehidupan. Saat ini aku sedang mengalami masa sulit, dan kecuali aku ingin kelaparan, saat yang luar biasa membutuhkan penanganan yang luar biasa pula. "
Pihak lain mengabaikan ceramah panjangnya, dan bahkan dalam sekejap bergerak mendekatinya.
Pemuda itu ingin segera pergi, tapi dia baru menyadari kalau punggungnya sudah menempel ke dinding.
"Dalam hal itu, hal yang paling penting tentu saja hidup itu sendiri."
Mengangkat kepalanya, ia tersenyum pasrah.
"Jadi, apa kamu bisa membiarkanku pergi?"
Lagi, pihak lain tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Tentu saja, karena makhluk itu adalah Void Beast jenis serangga berbentuk belalang sembah raksasa. Kira-kira dua kali tinggi anak itu: sekitar tiga setengah meter. Kaki depannya terlihat seperti sabit raksasa, dengan rahang mengerikan mencuat dari kepala berbentuk segitiganya.
"... Kejamnya, kamu benar-benar tidak ramah, kan? "
Tiba-tiba, dia merunduk saat kaki depan Void Beast yang berbentuk sabit itu diayunkan ke arah kepalanya.
Hampir saja, gumamnya sendiri sambil berlari kabur.
Void Beast itu menghadang jalan larinya dengan menempatkan tubuhnya yang sangat besar itu di depannya. Tapi, sebagai seekor belalang, tubuhnya terangkat agak jauh dari tanah, disangga oleh kakinya yang banyak - hadangan itu masih menyisakan celah. Kelihatannya mustahil untuk berlari lewat kanan maupun kiri, tapi jika dia bisa menerobos langsung lewat tengah ...
Dia melihat sabit depan makhluk itu berayun mendekatinya dari kedua sisi – akankah dia berhasil?
"Oooohhhhhhhhhhh!"
Sambil berteriak, dia menghentakkan kakinya sekuat tenaga.

Yuuki Takamigahara adalah seorang petualang kelas sembilan, Spesialis pendukung.
--tapi, sebenarnya penjelasan itu agak kurang tepat. Jika kamu bertanya langsung padanya, dia akan menjadi orang pertama yang memberitahumu kalau dia tidak punya niat untuk menjadi seorang petualang.
Jika kamu bertanya pekerjaan apa yang dia inginkan, dia akan menjawab seperti ini.
"Saudagar kaya. Atau semacamnya. "

"Ya ampun, sudah lama sejak aku terakhir gagal seperti ini."
Yuuki mengeluh sambil berjalan pulang dengan kesal.
Dia tidak mengenakan armor. Dia malah mengenakan pakaian biasa yang bisa kamu temui di manapun. Dari penampilannya, ciri khasnya hanyalah kain di punggungnya. Sekilas di pinggang dan punggungnya tidak terlihat adanya senjata.
Itu karena tujuannya bukanlah untuk berburu Void Beast.
Dia menjalankan sebuah toko kecil di tepian jalan utama kota dimana dia menjual berbagai macam barang. Dagangannya terdiri dari obat-obatan herbal yang bisa dipetik di dalam labirin, bijih dan berbagai benda lainnya, dan tentu saja Reliquia.
Dari sudut pandang Yuuki, menjelajahi labirin hanyalah rangkaian pencarian barang dagangan.
Oleh karena itu, dia menghindari kontak dengan Void Beast - mundur adalah kebijakan utamanya. Dia sangat berhati-hati agar tidak berjalan ke sarang Void Beast. Saat dia merasakan kehadiran Void Beast di depannya, dia akan mengubah arah. Terkadang, saat nasib sial membuatnya harus berhadapan dengan monster, dia akan berusaha menghindar darinya secepat yang dia bisa. Untuk alasan itulah dia tidak mengenakan armor, dan lebih memilih untuk melakukan perjalanan dengan mengenakan pakaian seringan mungkin.
Monster belalang yang dia temui tadi secara mengejutkan bersembunyi di sudut tikungan.
Tidak diragukan lagi - dia sudah bertindak ceroboh. Jika dia mengerahkan semua indranya untuk merasakan kehadirannya, dia pasti bisa merasakan keberadaannya.
"Aku pikir saat semangatmu rendah, daya konsentrasimu juga akan menurun ..."
Memasuki labirin di pada hari, harapannya terbumbung tinggi. Tuhan hanya tahu kalau dia membutuhkannya – akhir-akhir ini, keberuntungannya sedang sangat buruk. Lupakan reliquia, dia bahkan tidak bisa menemukan tanaman obat maupun bijih yang biasanya dia jual.
Menilai dari cepat meredupnya batu cahaya miliknya, dia memperkirakan kalau dia kira-kira sudah berada di dalam labirin selama enam jam; sepertinya sudah hampir tengah hari.
Jika dia tidak segera kembali sekarang, itu akan merusak jadwal rencananya untuk hari ini. Dia memiliki pekerjaan lain yang dijadwalkan pada sore hari. Upahnya tidak terlalu buruk, jadi tidak ada alasan untuk membatalkannya.
"Meskipun begitu, aku tidak bisa kembali ke rumah begitu saja dengan tangan kosong. Setidaknya aku butuh sesuatu ... "
Bergumam pada dirinya sendiri sambil mengamati daerah sekitar, dia melihat sesuatu di depannya.
Dia mengangkat batu cahayanya untuk mencari sudut yang lebih baik, lalu kembali berjalan.
"Kain ...?"
Mungkin korban dari Void Beast, sekarang benda itu tidak lebih dari sebuah sampah.
Atau mungkin tidak ... sebuah reliquia yang mengandung kekuatan suciwis, atau jika benda ini adalah kain berkualitas tinggi, masih tetap berharga.
Saat Yuuki mengangkat perlahan potongan kain itu, dia melihat rambut berwarna emas menawan tergeletak dibawahnya.
"... Bukan kain. Tapi sebuah jubah? "
Benda itu adalah sejenis jubah yang biasanya dipakai oleh seorang cleric atau priest. Bagian yang sedang dipegang olehnya sepertinya adalah bagian kerudung.
Di mana ada pakaian, disana juga, tentu saja pemakainya.
"--Sepertinya dia hilang kesadaran lalu pingsan di sini ..."
Dia mengangkat tubuh kecil itu di lengannya.
Anak itu mengerang pelan. Berarti dia masih hidup.
Dia terlihat seperti anak usia sepuluh tahunan. Dari cahaya redup batu cahaya milik Yuuki, dan melewati debu yang menutupi wajah anak itu, terlihat sosok yang cantik dan lembut. Kesan yang Yuuki rasakan darinya hampir samacam rasa suci.
Memeriksa cepat, dia lega saat mengetahui kalau kondisi anak itu berkebalikan dengan pakaiannya yang compang-camping - tidak ada tanda luka parah yang terlihat.
Melihat ke depan, dia melihat sebuah jejak kaki. Sepertinya dia tersandung, sebelum akhirnya pingsan di sini karena kelelahan. Cukup masuk akal.
"Meskipun begitu... Apa yang dilakukan anak ini di tempat seperti ini seorang diri?" Yuuki bertanya pada dirinya sendiri, memiringkan kepalanya karena bingung.
Apa yang harus dia lakukan di saat seperti ini? Yaah, bukan berarti dia punya pilihan lain. Dalam keadaan seperti ini, dia tidak mungkin begitu saja melanjutkan perjalannya untuk mencari barang dagangan.
Yaah, mau bagaimana lagi, dia mengeluh, lalu mengangkat gadis itu ke punggungnya.
Suara napas gadis itu yang cepat dan pendek bergema di telinganya, sepertinya dia tidak dalam kondisi kritis. Alasan dia pingsan sepertinya hanya karena kelelahan dan kelaparan. Untungnya, gadis itu sangat kecil, jadi tidak terasa berat saat menggendongnya.
Perjalanan kembali menuju permukaan berjalan sangat lancar. Perlahan, cahaya matahari siang menyinari matanya.
Melihat ke sekitar, ksatria gereja yang sedang berjaga maupun kelompok petualang bisa terlihat.
Di dekat pintu masuk labirin ada sebuah klinik medis untuk para petualang. Saat dia berpikir untuk meminta mereka merawat gadis itu—
"Mm ... Ah ..."
Gadis di punggungnya itu bergerak.
"... Di mana ... Di mana aku?"
"Di kota. Kita sudah kembali ke pintu masuk labirin. Kamu pingsan di dalam labirin... Apa kamu ingat? "
"Kota ...?"
Gadis itu tiba-tiba memaksa dirinya untuk bangun.
"Sebuah kota! Oh, ini solitus - kotaku! Senangnya! Berkahku untuk kota ini beserta penduduknya! Kemarilah, anak-anakku, berilah penghormatan kepada Shinki pelindung kalian! "
Kata-katanya itu diikuti dengan teriakan "Ahahahaha!"
Pada perilaku tiba-tiba, tak terduga, dan anehnya itu, Yuuki sangat terkejut, mulutnya menganga tanpa kata.
--Perlahan, Yuuki menyadari kalau kerumunan perlahan terkumpul, perhatian mereka terfokus ke arahnya.

※※※

Solitus.
Kota ini didirikan untuk menghormati dewa pelindung dunia: Raja Surgawi dan lima dewi pengikutnya - "Shinki yang Menyangga Langit," "Shinki yang Menerbitkan Matahari," "Shinki yang Bermahkotakan Bulan," "Shinki yang Menyebarkan Bintang," dan "Shinki yang Menjaga Bumi."
Di kedalaman jauh di bawah solitus terdapat sebuah labirin yang luas, yang lebih dikenal dengan Great GateMagna Porta.
Mencari alat misterius yang memiliki kekuatan yang sangat besar- reliquia - kelompok petualang yang tak terhitung jumlahnya, dengan penuh keyakinan pada kemampuan mereka menjelajahi labirin itu siang dan malam, menguji kemampuan mereka dengan berbagai alasan.
Ada yang ingin cepat kaya.
Ada yang mencoba untuk menunjukkan kesetiaan mereka kepada shinki pelindung mereka.
Ada juga yang hanya sekedar untuk mengisi perut lapar mereka.
--Petualang.

Saat Yuuki terus berjalan sambil menggendong gadis itu di punggungnya, gadis itu terus menerus mengatakan hal gila dan tertawa.
"Kenapa terburu-buru sekali wahai anakku? Tina ingin melihat kota yang indah ini. "
Mengabaikan ucapan gila dari orang yang dibawanya, Yuuki terus berjalan sampai akhirnya tiba di rumahnya, "Toko Boris." Saat memasuki rumah itu, dia segera menutup pintu dan menguncinya.
"Jadi ini adalah kuil yang akan ku tinggali?"
Gadis itu melihat sekeliling dengan senangnya, sepenuhnya mengabaikan Yuuki, yang sedang bersandar di dinding sambil terengah-engah.
"Mana mungkin. Ini adalah rumahku. "
"Rumahmu? --tidak masalah. Kamu tidak perlu khawatir kalau aku akan meminta sesuatu yang mewah. Dimanapun Tina tinggal, maka tempat itu akan menjadi istana suci -. Ya, bahkan akan menjadi sebuah kuil "
Gadis itu mengangguk pelan.
"... Jadi, namamu Tina?"
"Ya, lebih tepatnya 'Albertina'. Tapi aku paling senang dipanggil Tina. Kamu mendapatkan izin dariku untuk memanggilku dengan nama itu. Omong-omong, pengikut pertama Shinki ini, siapa namamu? "
"Yuuki Takamigahara. "
"Yuuki Ta, Tamiga ... Tatamira ... Takarami, Tara ...? "
Memiringkan lehernya karena bingung, Tina akhirnya tersenyum pasrah.
"Nama yang bagus."
"Jadi Kamu berulang kali menggigit lidahmu, hanya untuk menyerah begitu saja? –Terserah lah. Ngomong omong, Kamu berulang kali berkata ‘Shinki inilah’ ‘Shinki itulah’ - apa kamu yakin kalau kamu tidak hilang ingatan karena kepalamu terbentur saat di dalam labirin ?”
"Mana mungkin? Kenapa kamu menanyakan hal itu? "
"Yaah, kita bahas hal itu belakangan. Untuk saat ini, Kamu harus tahu kalau Shinki yang kamu bicarakan itu adalah sosok agung bagi mereka yang mempercayainya ."
"Pelindung kota, penuntun umat manusia. Ya, aku tahu. "
"Justru itu, Mengaku-ngaku sebagai Shinki di tengah jalan seperti itu – orang-orang pasti menganggapmu gila !"
Bukan cuma itu - kalau dia terlihat oleh penganut fanatik, dia mungkin akan menjadi korban amuk massa. Parahnya lagi, kalau sampai dia diketahui oleh pihak Gereja, maka dia pasti dicap sebagai pembelot, dan kemungkinan terburuknya, dipenggal. Tidak peduli mana yang terjadi - tidak ada satu pun yang baik.
"Aku tidak tahu bagaimana keadaanmu, tapi setidaknya, kamu harus segera berhenti mengatakan hal semacam itu."
"Di kota ini, Shinki tidak diperbolehkan untuk memberitahukan ke-shinki-annya?"
"Tidak."
"Huh ..."
Untuk sejenak, Tina mengerutkan dahinya sambil terdiam, sepertinya masih tidak bisa menerima kata-kata darinya. Tapi, tidak lama kemudian, senyuman kembali muncul di wajahnya. Sepertinya dia sudah berhenti mengkhawatirkan tentang masalah itu.
"Baiklah. Tidak ada gunanya juga mengkhawatirkan tentang hal itu sekarang. Tina merasa ingin beristirahat sekarang. Yuuki, tolong berikan aku tempat untuk tidur! "

Pintu masuk menuju Great GateMagna Porta bisa ditemukan tersebar di berbagai tempat di luar perbatasan kota.
Tapi sudah jelas kalau penduduk biasa dilarang masuk. Pintu masuknya dikelilingi oleh dinding batu yang tebal. Menuju gerbang logam yang dijaga oleh ksatria dari Gereja Lima Kudus.
"Hmm? Kupikir kamu sudah selesai untuk hari ini? Apa ada yang kelupaan? --Malahan, apa kamu baik-baik saja? Kamu terlihat cukup kelelahan, " seorang penjaga yang mengenal Yuuki bertanya padanya, saat Yuuki datang lagi ke pintu masuk labirin.
Yuuki sudah sangat kelelahan, secara mental.
"Tidak, aku punya pekerjaan lain yang harus ku kerjakan."
Yuuki hanya menjawab pertanyaan pertama darinya.
Di belakangnya berdiri belasan pemuda. Yang termuda adalah anak berumur sekitar 10 tahunan, sedangkan yang tertua berumur 21 tahun.
"Kamu meninggalkan kehidupan sebagai petualang hanya untuk menjadi seorang pengasuh?"
"Mana mungkin. Ini hanyalah pekerjaan sampingan dari akademi pelatihan. Ngomong-omong, seperti yang sudah ku bilang sejak dulu: Aku bukan seorang petualang, aku adalah pedagang. Satu-satunya jenis pekerjaan yang kukerjakan adalah yang melibatkan angka dan uang. "
"Yaah, Kelihatannya kamu cukup sehat. Sepertinya kamu akan baik-baik saja kan untuk tahun ini? "
Senyum polos bersemi di wajah ksatria muda itu.
"Aku akan baik-baik saja ... apa maksudmu?"
"Namamu berada di daftar biro pajak gereja. Kamu masih menunggak pajak tahun lalu, jadi berhati-hatilah. "
"..."
"Sensei, menunggak itu apa?" tanya anak termuda dari kelompok itu.
"... Itu adalah saat dimana orang miskin menghindar dari tuntutan, Mark."
"Pastikan bahwa 'menghindari tuntutan'mu itu tetap di tingkat di mana barang-barang di tokomu tidak akan disita. –Ngomong omong, ada urusan apa dengan anak-anak itu? "
"Mereka kesini untuk mengamati, Komandan."
Sebuah suara datar menyela, berasal dari ksatria wanita yang bertindak sebagai wakil komandan.
"Akademi Pelatihan Petualang Cabang Timur telah menyerahkan tujuh belas persyaratan yang diperlukan. Tolong cepat biarkan mereka masuk; mereka menghalangi jalan. "
"Oh ya, benar juga. Kalau begitu, silakan lewat. Yang semangat ya belajarnya, ok? --Oh ya, Yuuki ... "
"Ada apa?"
"Sky’s Oath Legion sepertinya terlibat dalam suatu insiden besar. Aku tahu kalau kamu tidak ada hubungannya dengan mereka, tetapi akhir-akhir ini mereka menjadi lebih liar dari biasanya. Jadi tolong berhati-hatilah, oke? "
Di kota ini, pekerjaan sebagai petualang memiliki derajat yang tinggi.
Gereja Lima Kudus, yang dikhususkan untuk menyembah Shinki, adalah lembaga dengan pengaruh besar di kota ini, tidak hanya mempengaruhi akademi kependidikan, tetapi juga akademi pelatihan petualang. Tidak ada batasan usia, tapi pada umumnya siswanya berusia antara sepuluh sampai dua puluh tahun.
Meskipun tidak ada kewajiban untuk mendaftar ke akademi untuk menjadi seorang petualang resmi, tapi disana juga banyak memberikan keuntungan, baik dari segi pengetahuan maupun pengalaman praktik. Hampir semua petualang ternama saat ini adalah alumni dari akademi pelatihan.
Yuuki disini bertindak sebagai asisten, membantu instruktur dengan berbagai macam tugas seperti mengurus daftar. Dengan organisasi sebesar gereja sebagai bosnya, imbalannya cukup besar. Karena tokonya sedang berada dalam masa sulit, pekerjaan ini menjadi sumber utama pemasukannya.
Pekerjaan hari ini adalah perjalanan ke labirin. Tujuannya adalah untuk memberikan kesempatan pada anak-anak untuk mengunjungi tempat kerja para petualang.
Pekerjaan Yuuki seharusnya berakhir saat dia mengentar para siswa ke tempat itu. Tapi karena Instruktur dari Gereja datang agak terlambat, jadi Yuuki menggantikannya sampai dia tiba.
Yuuki tidak terlalu menyukai pekerjaan yang mengharuskannya untuk menjaga gerombolan anak-anak, tetapi mengingat kalau dia di bayar untuk melakukan pekerjaan itu, dia tidak bisa mengeluh.
Untuk sekarang, dia harus melupakan orang asing yang sedang tidur di rumahnya, dan fokus pada pekerjaannya.
"Oke, dengarkan!"
Setelah membawa anak-anak melewati gerbang logam, dia menepukkan kedua tangannya untuk menarik perhatian mereka dan berbicara.
"Ini adalah pintu masuk labirin, Great GateMagna Porta. Kita akan menunggu di sini sebentar. Instruktur dari Gereja akan segera tiba. Pada saat itu, pelatihan akan dimulai, jadi kalian tidak diperbolehkan berkeliaran kemana-mana. –Untuk sekarang, diam dan tunggu saja di sini. "
Meskipun sekarang bukan saat puncak dimana para petualang menjelajah, tapi ada banyak kelompok petualang yang berkumpul di sekitarnya.
Ruang di dalam dinding adalah sebuah ruangan dengan diameter sekitar lima puluh meter. Di tengahnya terdapat sebuah bangunan kecil yang terlihat seperti sebuah kapel. Didalamnya terdapat sebuah jalan menuju bawah tanah, tersembunyi sekitar lima meter di dalam tanah.
Asal mula labirin, pintu masuk, dan kapan terbentuknya masih menjadi sebuah misteri.
Satu hal yang pasti adalah semakin bawah kamu turun, semakin banyak yang bisa kamu dapatkan.
Tiba-tiba—
"Apaan cuk?!"
Suara penuh kemarahan terdengar.
Seorang anak meringkuk ketakutan dikelilingi oleh sekelompok pria besar yang sepertinya adalah kelompok petualang. Sepertinya anak itu tidak sengaja menabrak mereka saat sedang berlarian dengan riangnya.
"Uh, um, maa--"
"Apa?! Tidak kedengaran! "
Baju zirah dari orang besar itu berlambangkan "Star’s Oath Legion." Yuuki mengeluh.
"Oath Legion" adalah kelompok petualang yang bertugas langsung di bawah perintah Shinki. Pada umumnya, bergabung dengan Legion adalah impian dari kebanyakan petualang. Tapi, karena persyaratannya hanya berfokus pada kekuatan dan kemampuan, belum tentu anggota Legion adalah orang yang baik.
"Kau seorang siswa, kan? Yang benar saja? Kau pikir 'maaf' saja akan menolongmu saat berhadapan dengan Void Beast? Kau pikir mereka akan membiarkanmu pergi begitu saja? "
Yuuki menghela napas lalu berjalan.

"Yo, maaf maaf. Kelihatannya anak asuhku menyebabkan sedikit masalah buat kalian. "
Saat dia mengatakannya, dia mencoba tersenyum seramah yang dia bisa.
"Haa?"
Mata orang itu beralih melotot ke arah Yuuki.
"Bisa tolong memaafkan dia? Dia sudah merenungkan perbuatannya. Benar kan, Edgar? "
"Y-ya. Um, aku benar-benar minta maaf. "
Anak yang tadinya berlarian dengan riangnya itu, sekarang terlihat seperti hampir menangis.
"... Baiklah. Aku akan memaafkanmu. "
"Terima kasih banyak. Baiklah, ayo kita kem-- "
"Tunggu dulu. Aku bilang aku memaafkan anak itu; Tapi aku tidak mengatakan apa-apa tentang gurunya. Kau pengawasnya, jadi kau yang harus bertanggung jawab atas tindakannya, kan? "
Sepertinya hal ini berkembang menjadi cukup merepotkan, Yuuki berpikir pada dirinya sendiri.
"Yaah, itu memang benar. Jadi? Apa yang harus ku lakukan? "
"Bertandinglah melawanku sebentar."
Pria itu tersenyum, menunjukkan gigi kuningnya.
"Akhir-akhir ini aku jarang punya kesempatan untuk bertarung dengan Void beast, jadi tubuhku terasa agak kaku. Jika kita bertanding sebentar tanpa senjata, sepertinya lumayan. Benar kan, sensei? "
Singkatnya, dia ngajak berkelahi. Tujuannyanya adalah untuk menghajar Yuuki di hadapan murid-muridnya. Selera yang buruk.
"... Mmm. Yaah, tidak ada pilihan lain, ya? Baiklah. "
Yuuki menghela napas lalu perlahan menggulung lengan bajunya.
"Kamu tahu, Kamu pasti akan menyesalinya nanti, Mas bro?"
"Kita lihat saja berapa lama kepercayaan dirimu itu bertahan."
Pria itu meludah. Kelihatannya, Yuuki yang tidak merasa takut sedikitpun agak merusak kesenangannya.
"Tunjukkan padanya siapa juaranya", "Hajar dia" - anggota kelompok pria itu berteriak mengejek.
Kerumunan penonton mulai terkumpul. Para petualang bersemangat untuk menonton kejadian yang takkan menjadi tanggung jawab mereka. Tapi anak didik Yuuki dipenuhi dengan rasa gelisah.
"Oh, ya. Ada sesuatu yang aku harus ku katakan sebelum kita mulai. "
Saat memastikan orang itu menatapnya, Yuuki melanjutkan.
"Pukulan pertama menentukan pemenangnya. --Paham, anak-anak? Perhatikan baik-baik. Sensei akan menunjukkan pada kalian bagaimana petualang sejati bertarung. "
"Apa katamu- ?!"
Sifatnya sepertinya adalah jenis yang mudah dipancing. Wajahnya memerah karena marah, ia berlari ke depan dan mengayunkan tinjunya dengan sekuat tenaga.
"Oraaaaaaaaaa!"
"Guhaaaaaaaaaa!"
Yuuki menerima pukulan itu langsung di wajahnya, dan terlempar ke udara. Dia berputar lima ratus empat puluh derajat sebelum akhirnya mendarat tertelungkup di tanah.
"--apa apaan ini? Tadi dia songongnya minta ampun, tapi ternyata lemah kaya gini? "Pria itu mengejek.
"..."
"Bacot doang, yang benar saja. Orang kaya gini dijadikan instruktur? "
"..."
"Memiliki pecundang sepertimu sebagai guru, masa depa-- "
Suara lantang pria itu tiba-tiba terhenti di tengah kalimat.
Sejak tadi, Yuuki masih belum bergerak sediktpun dari tanah. Tapi, tiba-tiba tubuhnya mulai kejang-kejang tidak karuan.
"Hei, hei, ada apa ini?"
"Mungkin Kamu memukulnya di tempat yang berbahaya ...?"
"... Sial, apa-apaan ini?"
Pria itu dan anggota kelompoknya cemas melihat keadaannya.
Apapun yang terjadi di dalam labirin, membunuh adalah tindakan yang harus dipertanggung jawabkan bahkan bagi anggota Oath Legion. Hukum melarang pertikaian karena alasan pribadi, sesuatu yang tidak akan dibiarkan oleh biro keamanan publik ksatria Gereja.
"-A-akan ku lepaskan kau untuk sekarang. Tapi tidak ada lain kali! "
Pria itu dan kelompoknya berkata hal itu saat mereka bergegas pergi.
Anak-anak mengelilingi asisten instruktur mereka yang terbaring dari kerjauhan, tidak ada satupun yang berani mendekat. Akhirnya, seorang gadis memberanikan diri untuk mendekatinya.
"Umm, Yuuki-sensei?"
"Puha!"
Yuuki tiba-tiba mengangkat kepalanya, terengah-engah. Dengan cepat berbalik ke posisi handstand, lalu perlahan menapakkan kakinya di tanah. "Uoooh," murid-muridnya terkejut.
"Jurus maut 'Pura-pura Mati' - Kunci dari teknik ini dalam putaran tubuh saat melayang serta kejangan tangan dan kaki. Jika lawanmu hanya menantangmu berkelahi, mereka pasti akan sangat ketakutan. "
"Kamu menyebutnya 'Jurus maut' tapi tidak ada satupun yang mati ..."
"Benar sekali, Kaya."
Yuuki mengangguk kuat.
"Target 'Jurus maut' ini adalah keinginan lawanmu untuk bertarung."
Mendengar penjelasannya, gadis itu tidak tahu apakah itu adalah lelucon yang seharusnya membuatnya tertawa atau saran yang harus dia hormati. Sebaliknya, rasa bingung membuatnya menunjukkan ekspresi sangat kebingungan di wajahnya.
"Jangan ragu untuk menambahkan jurus ini di daftar teknikmu, tapi kalian harus ingat kalau jurus ini hanya efektif saat melawan manusia. Jangan sekali-kali mencobanya pada Void Beast - Kamu tidak akan bertahan hidup untuk menyebutnya sebagai pengalaman. –Bagaimanapun juga, seperti yang ku sebutkan tadi, pukulan pertama menentukan pemenangnya. Orang itu berlari terbirit-birit dan menyesali perbuatannya. Dengan kata lain, Akulah pemenangnya. HaHaHaHa. "
Membusungkan dadanya dengan bangga, Yuuki tertawa bahagia. Kerumunan tadi segera menghilang, bosan melihat hasilnya.
"... Um, jadi yang baru saja kita lihat adalah 'cara bertarung petualang sejati'?" tanya salah satu anak, terlihat tidak puas.
"Ya, itu benar, siswa kelas pemula, Edgar."

"Tapi--"

"Baiklah, dengar. Ini adalah kesempatan yang bagus bagiku untuk mengajarkan kalian sesuatu. –Aku ingin bertanya sesuatu: menurut kalian apa tujuan utama yang harus dimiliki oleh setiap petualang? "
"Ooh, ooh, membawa pulang buanyaaak reliquia sebagai persembahan kepada Shinki!"
Kaya, yang berdiri di depan, bertindak sebagai perwakilan kelompok untuk menjawab pertanyaannya.
"Sangat cocok dengan buku panduan. Tapi sayangnya itu salah. "
"... Kenapa?"
"Akan sedikit ku ubah pertanyaannya. Apa kalian pikir Duelists itu keren? "
Semua orang mengangguk berulang kali secara bersamaan. Selain itu, kilauan bisa dilihat di mata mereka.
"Yang paling kuat tentunya 'Snow Blade King'."
"Dia sudah mati. Bukan, yang terkuat adalah 'Thousand-eyes Witch'. "
"Oh, jangan lupakan 'Iron Claw Tiger' dan 'Black Demon--"
"Ya, ya, aku mengerti. Kita kesampingkan hal itu dulu, "sela Yuuki.
"Aku tahu kalian sangat mengagumi Duelists. Mereka cukup kuat untuk dengan mudahnya memusnahkan sekelompok Void Beasts, atau untuk dengan mudahnya menyelesaikan seluruh labirin. Drama dan novel bahkan menjadikan mereka sebagai tokoh utama. --Tapi untuk sekarang kita lupakan dulu tentang mereka. Tingkatan yang telah mereka capai bukanlah sesuatu yang manusia normal dapat lakukan - mencoba untuk meniru mereka adalah jalan pintas menuju kesengsaraan. Bukan itu, tujuan utama para petualang berbeda dengan tujuan para Duelists, yang berkelana ke bebagai tempat untuk mengumpulkan harta, lalu meninggalkan warisan yang takkan lekang oleh waktu. "
Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Apakah tujuan utama dan paling penting yang harus dimiliki setiap petualang? Jawabannya adalah --'bertahan hidup.' Bahkan jika kamu gagal untuk membawa pulang reliquia di suatu perjalanan, dia yang mempu bertahan untuk melihat esok hari mungkin bisa membawa pulang dua buah reliquia di perjalanan berikutnya. Tidak apa jika kamu dihina, atau jika kamu harus meninggalkan reliquia yang telah kamu kumpulkan - tidak masalah. Yang paling penting adalah - Kamu tidak boleh mati ".
Hampir semua anak-anak itu tercengang.
Di akademi, mereka diajarkan untuk "mempertaruhkan nyawa mereka dami membawa pulang reliquia untuk Shinki."
Meskipun mereka melihat kebenaran dalam kata-katanya, belum pernah ada satupun orang yang menyampaikan hal seperti itu.
"Terus, untuk bertahan hidup, menurutmu apa yang paling penting? Kepercayaan? Berkat dari Shinki? Omong kosong!. Saat kamu masuk ke dalam labirin, hanya ada satu hal yang bisa kamu andalkan – dirimu sendiri. Apakah itu berarti hal yang paling penting adalah kekuatan? Yaah, pemikiran seperti itu tidak salah. Tapi kekuatan besar yang digunakan pada waktu yang salah, tempat yang salah, atau untuk alasan yang salah sama saja tidak berguna. Itulah kenapa jawabanku adalah -. 'Menimbang baik-buruknya' "
Kali ini, para peserta hanya mentapnya bingung.
"Dengan kata lain, sebelum bertindak kamu harus memahami apa-apa saja konsekuensinya: apa yang akan hilang, apa yang akan diperoleh. Contohnya, bayangkan ada seekor Void Beast yang sangat kuat sedang menjaga sebuah reliquia. Apa kamu akan melawannya? Apa kamu akan menyerah? Memikirkan siasat untuk memancingnya? Meminta bantuan? Setiap situasi akan berbeda, dan mungkin saja ada kalanya setiap jawaban itu mungkin benar. Jika kamu sangat memahami tentang sejauh mana kemampuanmu, dan pada saat kamu harus memprioritaskan keselamatanmu, sebaiknya kamu bisa menilai apa yang harus kamu lakukan. –Seperti yang baru saja kalian lihat, aku baru saja menilai setiap pilihanku dengan hati-hati, dan bisa kalian lihat – aku masih hidup. Jika aku menang, apakah teman-temannya akan diam begitu saja? Itu juga bisa dibilang sebagai kemenangan besarku. "
Yuuki melihat ekspresi wajah dari beberapa siswanya berubah. Eh? Kata-katanya sepertinya tidak memiliki nilai persuasif lagi. Abaikan saja dia.
"Semakin genting keadaan, pertimbangan yang lebih matang diperlukan sebelum kalian bertindak. Hanya saat kalian sudah tidak punya pilihan lain, tidak ada jalan lain, itulah saat kalian mengandalkan keyakinan kalian kepada Shinki - pada kepercayaanmu. Sejujurnya, lebih baik kalian jangan terlalu mempermasalahkan tentang Shinki. Entah setuju atau tidak, tidak ada salahnya untuk mengingat apa yang baru saja ku katakan pada kalian. --Oh, Satu hal lagi: jangan beritahu siapa pun kalau aku mengatakan hal ini pada kalian - Aku pasti akan dimarahi ".
Karena akademi pelatihan dijalankan oleh pihak gereja, instruktur diambil dari anggota pengikutnya. Jika mereka mengetahui apa yang baru saja dia katakan, mereka pasti tidak akan senang.
"Oh, jangan khawatir tentang itu; kami takkan memberitahukannya pada siapa pun. Hanya saja ... "
Terlihat bersalah, Kaya menunjuk ragu ke arah belakang Yuuki saat ia mengatakannya.
Hmm? Yuuki menoleh untuk melihat ke belakangnya.
Seorang pria paruh baya berdiri tepat di belakangnya, asisten pendeta kepala - instruktur untuk hari ini - melotot tajam padanya.
"Umm, jangan salah sangka!"
Yuuki segera berdiri dan menegakkan tubuhnya.
"Saat membahas hal-hal yang harus diperhatikan saat di dalam labirin, sepertinya aku sedikit terbawa suasana dan membahas bidang tertentu terlalu banyak. Aku sama sekali tidak tidak berniat mengajarkan untuk ingkar terhadap Shinki! Tidak sedikitpun!"
Kembali ke akademi pelatihan, Yuuki dipanggil oleh kepala akademi dan diinterogasi.
"Aku menerima laporan kalau kamu berusaha untuk mengindoktrinasi para pemuda dengan ajaran sesat. Apa itu benar? "
Kota ini berpusat pada kepercayaan terhadap Shinki. Hampir semua penduduk yang tinggal di dalam dinding adalah penganut. Tentang labirin, Gereja mengajarkan kalau itu adalah "ujian yang diberikan oleh Tuhan, misi mulia yang diberikan kepada hamba setia para Dewa."
Kenyataan bahwa kota mereka dilindungi oleh para Shinki adalah fakta yang tak terbantahkan. Yuuki bukanlah orang yang menghina kepercayaan orang lain, tapi dia tetap merasa yakin bahwa ajaran-ajaran itu hanya memaksakan pengikutnya untuk memberikan hasil. Caranya menilai sesuatu lebih berguna dan praktis dibanding orang lain. Dunia di dalam labirin hanyalah dunia ajaib dari negeri dongeng.
"Kota ini ada berkat kasih dan karunia dari lima Shinki. Dengan begitu, persatuan dan harmoni adalah prinsip yang dianut oleh Gereja Lima Kudus; bisa dibilang, panutan hidup kami. "
Kepala sekolah, yang merangkap jabatan sebagai kepala imam untuk daerah setempat, mengeluh.
"Jujur saja, sepertinya kamu tidak terlalu disukai baik oleh senior maupun rekan seangkatanmu, Yuuki Tamakigahara."
"Ya, aku juga berpikir begitu," jawab Yuuki.
Hubungannya dengan pihak gereja cukup buruk karena rendahnya kepercayaanya yang terlihat begitu jelas.
"Di sisi lain, sejujurnya, secara pribadi aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Kepercayaan adalah sesuatu yang datang dari lubuk hati, dan memberikan setiap orang bebas menentukan pilihannya. Pengajaran formal tentang hal itu tidak akan mengubah apa pun. –Ngomong-omong, kualifikasimu sebagai petualang menempatkanmu sebagai petualang kelas sembilan, kan? Bagaimana kalau kamu mengambil ujian kualifikasi untuk menaikkan peringkatmu? Aku pikir itu akan sedikit memperbaiki reputasimu. "
"... Sebenarnya, bertentangan dengan apa yang kamu harapkan, aku mau mengikuti tes, tapi aku takut kalau aku masih belum mampu."
Yuuki menggaruk kepalanya canggung saat menjawab.
"Kalau begitu, setidaknya, Kamu bisa sedikit lebih serius saat balajar sebagai siswa. Itu akan mengubah cara pandang orang lain terhadapmu. Kehadiranmu cukup rendah; bukankah kamu berada di kelas lanjutan? "
"Ah, akhir-akhir ini aku sedang cukup sibuk karena berbagai alasan ... Itu loh, aku pikir panggilanku yang sebenarnya adalah menjadi pedagang."
"Aku tahu; Kamu mewarisi Toko Boris '. Tapi, sejujurnya, keterampilan bisnismu masih cukup rendah dibandingkan dengan-nya. "
Saat suara lembut itu menusuk langsung ‘Right in the kokoro’, Yuuki hanya bisa terdiam.
"Nah, kamu takkan bisa mengubah apa yang tidak bisa diubah. Kamu sudah dengan yakin mengabaikan kewajibanmu terhadap Gereja. Baik pengetahuan tentang reliquia maupun Void Beast, kamu sangat menguasainya, dan evaluasimu di tingkat pemula juga cukup baik. Meskipun begitu, kamu sebaiknya sedikit lebih memperdulikan tentang hubungan pribadimu; itu akan sedikit meringankan kekhawatiranku. --Bubar. "
Yuuki mengatakan "Terima kasih atas waktumu" sambil berjalan pergi.
Ada tiga akademi pelatihan di kota ini, cabang timur memiliki pendaftar sekitar dua ratus siswa.
Ada tiga tingkatan kelas, pemula, menengah, dan lanjutan, dan kenaikan tingkat umumnya membutuhkan dua sampai tiga tahun.
Kelas dibagi berdasarkan usia. Secara umum, siswa masuk pada usia sepuluh tahun, dengan siswa lulus dari kelas pemula pada usia sekitar dua belas tahunan, lulus dari kelas menengah di usia lima belas tahun, dan lulus dari kelas lanjutan di usia delapan belas tahun. Dan tentu saja ada pengecualian - siswa yang masuk terlambat, akselerasi, maupun yang tinggal kelas.
Gedung akademi terbagi manjadi tiga kelas. Ruangannya kecil, tapi teratur; inti pelatihan mereka lebih terfokus pada pelatihan fisik, jadi waktu yang dihabiskan di dalam kelas sangat terbatas.
"Aah, Yuuki-san ..."
Saat dia keluar dari kantor kepala sekolah, dia disambut oleh seseorang yang sudah dia kenal dengan baik.
Yang menyapanya adalah seorang gadis yang terlihat rajin, yang sedang tersenyum malu.
"Apa pelajaranmu hari ini sudah selesai, Franka?"
"Ah, belum; masih ada satu. Masih ada sedikit waktu sebelum kelas dimulai, jadi aku jalan-jalan sebentar sampai saat aku melihatmu keluar dari kantor kepala sekolah. Um ... "
Franka berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Hei Yuuki-san, apa kamu lapar? kalau kamu tidak keberatan, apa kamu mau makan bersama denganku? "
"Hmm? Oh ... "
Saat ia ragu, memikirkan bagaimana menanggapinya, perutnya duluan menjawab dan dengan lantang menyuarakan pendapatnya.
Di bawah naungan pohon besar di belakang ruang kelas akademi, duduk dua orang siswa.
Dari dalam tasnya, Franka mengambil sebidang kain kecil. Membuka bungkusan itu, dia mengambil beberapa potong roti yang didalamnya terdapat irisan keju, tomat, dan daging asap.
"Ini, silakan dinikmati."
"Terima kasih."
Yuuki menggigitnya; rasanya renyah. Aroma roti panggang yang tercium langsung dari lubang hidungnya menuju langsung ke perutnya. Rasa manis dan asam dari tomat serta rasa asin dari daging asap dan keju membentuk perpaduan nikmat saat semuanya perlahan meleleh di lidahnya.
"... Enak."
Meskipun sesuatu yang sesederhana ini tidak bisa disebut sebagai memasak, tetap itu lebih dari cukup untuk memenuhi rasa laparnya dan menggugah cita-rasanya. Franka sangat termapil dalam memilih bahan-bahannya.
"Syukurlah. --Kamu Tahu, sebenarnya, aku melihatmu tadi pagi. Saat kamu datang untuk menjemput siswa kelas pemula, Kamu terlihat seperti sedang sangat terburu-buru; Jadi aku pikir kamu tidak sempat untuk makan. "
"Yaah, tebakanmu benar. Hari ini ... sepertinya memang bukan hariku. "
Yuuki menghela napas. Serius, hari ini benar-benar gila: sudah kena pukul, dimarahi oleh kepala sekolah, dan tadi pagi di labirin, tidak hanya  gagal mendapatkan barang, tapi dia malah membawa pulang sesuatu yang aneh.
Tiba-tiba, Franka mendekat.
"--Eh? Yuuki-san, bibirmu pecah? Bibirmu terluka di sini. "
"Terluka?"
Saat dia mengatakannya, dia tiba-tiba ingat - dia telah dipukul oleh anggota dari Star’s Oath Legion.
"Ah benar, tadi aku terlibat dalam insiden kecil. Tidak perlu khawatir. "
"Jangan berkata seperti itu. Jika sampai membengkak, Kamu pasti akan menyesalinya. Kamu tidakkan bisa makan seperti itu-- sini, sebentar. "
Franka merogoh tasnya lalu mengeluarkan sebuah batu kecil seukuran ujung jarinya.
Itu adalah reliquia yang dikenal sebagai Divine Pearl. Itu adalah kristalisasi dari energi suciwis - sumber dari semua mukjizat. Mereka menjadi inti dari kemampuan penyembuh dan menyerang yang digunakan oleh cleric.
Franka menutup matanya dan meletakkan tangannya di bibir Yuuki. Saking dekatnya mereka, Yuuki bisa merasakan sensasi bulat nan lembut di lengannya.
"--Selesai. Seharusnya sekarang baik-baik saja. "
Mutiara sucinya berubah menjadi debu saat dia mengatakannya.
"... Maaf. Aku tahu benda itu tidaklah gratis. "
"Tidak masalah. Karena Yuuki-san sudah selalu menjagaku. "
Gadis cleric muda itu tertawa senang.
"Aku hanya perlu membelinya lagi di tokomu."
Franka adalah siswa kelas lanjutan dan juga seorang petualang yang menjadi pelanggan tetap di toko kecilnya.
Dia baru berusia enam belas tahun, tapi karena dia biasanya terlihat tenang, cukup tinggi untuk anak seusianya, dan memiliki tubuh yang menonjol - tepatnya, dada yang cukup menonjol - dia terlihat cukup dewasa.
Dulu, dia pernah terjebak dalam sesuatu insiden dimana Yuuki kebetulan menyelamatkannya, dan sejak saat itu mereka berdua dengan cepat menjadi teman. Mengingat gadis itu saat pertama kali bertemu, gadis yang berdiri di hadapannya sekarang benar-benar sudah tumbuh. Dalam berbagai artian.
"Jadi, bagaimana ujian promosimu?"
"Oh, hasilnya sudah keluar - aku lolos. Sekarang aku kelas empat. "
"Luar biasa. Selamat! "
Franka dengan gembira mengucapkan terima kasihnya sambil tersenyum.
Secara umum petualang tergolong dalam tiga kategori:
·        Mereka yang memegang senjata - pedang, kapak, tombak, busur, dll, petarung fisik.
·        Mereka yang mengendalikan kekuatan suci untuk menyerang, bertahan, dan menyembuhkan - para cleric.
·        Mereka yang bertugas untuk menilai reliquia, memiliki pengetahuan tentang Void Beast dan labirin, serta menyediakan berbagai bantuan non-tempur - spesialis pendukung.
Saat ini, tentu saja para petualang tidak lagi terbatas pada patokan itu, tapi, setiap ujian kualifikasi petualang masih terfokus pada salah satu dari tiga kriteria itu.
Franka sekarang resmi menjadi cleric kelas empat.
Untuk anak seusianya, itu adalah suatu pencapaian yang luar biasa. Terlebih, dia sudah mendapatkan banyak pengalaman di dalam labirin itu sendiri, berhasil mendapatkan reliquia lebih dari satu kali. Melihat prestasinya, dia seharusnya bisa bergabung dengan barisan kelompok petualang profesional, kalau dia menginginkannya.
Dia baru memulai perjalanannya sebagai seorang petualang tiga tahun lalu. Ujian masuknya menyatakan potensinya sebagai cleric, lalu dia terdaftar langsung di kelas menengah. Dia segera mencuat sebagai siswa unggulan, hanya setahun kemudian dia naik dari siswa kelas menengah dan bergabung bersama Yuuki di kelas lanjutan.
"Yuuki-san, bagaimana, um ... denganmu? Ujian promosi ... "
"Ugh. Jangan tanyakan hal itu. "
"Oh, m-maaf ..."
Franka sedikit membungkuk saat meminta maaf.
Yuuki adalah petualang spesialis pendukung kelas sembilan. Kamu bisa menyebutnya sebagai produk gagal dari kelas lanjutan. Untuk catatan, kelas sembilan dan sepuluh dapat dicapai oleh siswa kelas pemula dengan yang mau berusaha keras.
"Aku bercanda, bercanda. Aku takkan marah hanya karena hal seperti itu. Aku tidak bisa meningkatkan peringkatku dan tokoku juga sepi, sepertinya aku memang tidak berbakat. "
"I-itu tidak benar!"
Untuk suatu alasan yang tidak dia ketahui, Franka menjawabnya dengan sangat serius.
"Karena Yuuki-san,Kamu tahu banyak tentang reliquia! Itu sebabnya, jika Kamu mau menjalaninya dengan serius ... "
"Yaah, aku menjalankan toko, jadi hal semacam itu sama sekali tidak masalah untukku. Yaah, aku memang bisa menilai reliquia; masalahnya adalah aku tidak tertarik untuk ikut bertarung. Satu-satunya alasanku bisa naik ke kelas sembilan adalah karena ujian di kelas sembilan dan sepuluh adalah ujian tertulis. Jika aku ingin meningkatkan peringkatku lebih dari itu-- yaah, itu cukup sulit. "
Di tingkat awal labirin biasanya tidak terdapat Void Beasts, selalu dijaga oleh ksatria Gereja, dan bahkan memiliki peta yang dijual. Resikonya kurang lebih setara dengan mendaki gunung.
Tapi, semakin dalam masuk ke dalam labirin, semakin sering kamu bertemu dengan Void Beast, dan semakin kuat mereka. Karena itu, membentuk party adalah suatu keharusan - dan tentu saja, termasuk kemampuan tempur mereka.
Itulah sebabnya para petualang kelas atas, bahkan bagian pendukung, harus melatih tubuh mereka dan mengasah kemampuan bertarung mereka. Di kelas lanjutan, pelatihan bertarung tangan kosong adalah program wajib.
"Aku berbeda dari mereka yang hanya berfokus untuk menjelajah - Aku utamanya adalah seorang pedagang. Itu sebabnya aku baik-baik dengan tetap berada di tingkat awal labirin. Memetik tanaman herbal dan mengambil reliquia apapun yang bisa kutemukan sambil menghindari Void Beast, itu saja sudah cukup bagiku "
"Begitu ..."
"Biar kutebak - seseorang menjelek-jelekkanku?"
"..."
Raut wajahnya lebih dari cukup untuk menjawaban pertanyaannya.
"Yaah--"
Dia mulai berbicara, tapi berhenti di tengah kalimat.
Sebuah kelompok berisikan tujuh atau delapan orang, berusia lima belas tahun ke atas dan memiliki tubuh yang terlatih dengan baik, berjalan melewati mereka berdua. Pemuda yang sepertinya menjadi pusat kelompok itu menunjukkan ekspresi dingin.
Mereka adalah elit di kelas lanjutan Akademi Pelatihan Petualang Cabang Timur.
Di dalam kelompok mereka ada seseorang yang sangat berbakat dan telah memecahkan rekor sebagai anak termuda yang mencapai status petualang kelas satu. Yuuki tidak terlalu sering masuk, jadi dia tidak sepenuhnya yakin, tapi dia pikir kalau orang itu adalah pusat dari kelompok itu. Siapa ya namanya?
Salah satu anggota kelompok itu meludah saat melewatinya, sambil mengatakan pelan kata 'sampah'.
Yuuki tersenyum kecut, tapi tetap diam.
Bukan hanya instruktur dan petugas gereja yang memiliki hubungan buruk dengannya; tentu saja hal itu menjalar sampai teman seangkatannya dan juga di kelas lanjutan. Sepertinya mereka tidak menyukai baik kemampuan yang payah dan juga kurangnya kepercayaan terhadap Shinki. Di belakangnya, dia sering dijuluki sebagai ‘sampah tak berTuhan', 'babi serakah', 'sesat', dll .; terkadang, perkataan mereka terdengar sampai ke telinganya. Bukan berarti dia pernah bertemu dengan orang-orang itu sebelumnya - gosip menyebar dengan cepat.
"Yuuki-san ..."
"Mau gimana lagi. Saat mereka melihatku, mereka melihat sosok pemalas yang bolos sekolah, hanya berpikir tentang uang, dan, yang paling buruk, sosok yang hanya seorang spesialis pendukung kelas sembilan. Dari sudut pandang mereka yang berusaha dengan sepenuh hati dan tenaga untuk bergabung dengan jajaran Oath Legion, aku hanyalah orang yang sesat. "
Gereja Lima Kudus bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan semua interaksi antara masyarakat kota dan kuil-kuil dimana Shinki tinggal - Istana suci Lima Shinki. Orang yang bertindak sebagai kepala di puncak organisasi besar ini selain untuk urusan keagamaan, dia juga bertanggung jawab dalam pemerintahan kota dan penegakan hukum.
Di kota solitus, ada suatu organisasi yang pengaruhnya setara dengan Gereja – Oath Legion.
Tujuan dari Legions adalah untuk menemukan dan memberikan reliquia sebagai persembahan kepada Shinki yang menjadi pemimpin langsung mereka. Setiap anggota Legion adalah milik, dan diatur oleh satu salah satu kuil Shinki, dengan begitu total ada lima Legion, yang mewakili lima Shinki.
Anggota Oath Legions sangat dihormati oleh orang lain, gaji dan biaya hidup mereka juga sangat tinggi.
Sejalan dengan itu, persyaratan untuk bergabung dengan kelompok mereka juga tidak main-main. Hak untuk sekedar mendaftar sebagai anggota legion minimal adalah petualang kelas tiga, dengan begitu jumlah mereka sangatlah sedikit. Jalan untuk menjadi anggota Legion memang sangat sempit. Bisa dibilang kalau itu adalah impian bagi setiap petualang.
Setelah lulus dari akademi pelatihan, jalan yang paling umum diambil oleh seorang petualang adalah mengumpulkan pengalaman bertarung sambil terus mencoba ujian masuk Legion. Selain mereka yang tidak lulus, kira-kira hanya tiga orang yang berhasil lulus tiap tahunnya.
Itulah sosok pemuda jenius yang berada di depannya, yang telah mendapatkan posisi di "Sky’s Oath Legion" saat masih menjadi siswa kelas menengah.
"Aku ingat sekarang. Dia adalah Stefan Kloze -. Anak bungsu dari keluarga Kloze "
"-?"
"Orang yang memimpin kelompok tadi. Dia sangat hebat, kan? "
"Oh ya. Ya, benar. "
Gadis itu mengangguk.
Keluarga Kloze adalah keluarga elit, ada banyak anggota keluarga mereka yang dibesarkan untuk melayani Legion, beberapa di antaranya bahkan ada yang menjadi komandan di Legion itu sendiri.
"Jika Kamu terlihat bersamaku, Kamu juga akan direndahkan, tahu?"
"Aku tidak peduli. Tapi Yuuki-san, apa kamu benar-benar tak apa-apa? "
Franka mengerutkan keningnya sedikit sambil menatap Yuuki.
"Saat menjelajah maupun saat latihan ... Tidak pernahkan kamu berpikir untuk membiarkan mereka melihatmu bertarung dengan serius?"
"Kita tunggu sampai tokoku bisa menghasilkan uang sepuluh kali lipat dari penghasilannya sekarang, dan saat aku bisa menyewa pegawai toko -. Aku akan mempertimbangkannya"
Dengan lihai menghindari pertanyaannya, Yuuki menelan gigitan terakhir makanannya dan minum dari cangkir yang diberikan Franka.
"—Terimakasih atas makanannya; sangat enak. "
Menyerah, Franka mengeluh.
"Sama-sama. -Jika Ini dapat membayar walau hanya sedikit dari apa yang telah Kamu lakukan untukku, aku rasa itu cukup. Kalau bukan berkat Yuuki-san, bahkan roti akan menjadi makanan mewah yang takkan mampu kubeli. "
"Kamu tidak berhutang apapun padaku."
Orang tua Franka telah meninggal. Orang yang akan menempatkannya di jalan seorang petualang yang sekarang dia jalani adalah Yuuki, meskipun semua pencapaiannya adalah buah dari kerja kerasnya sendiri.
"Itu hanya taktik pemasaran. Semakin banyak petualang, semakin banyak pelanggan yang akan datang ke tokoku. Terlebih, Kamu sendiri sudah menjadi pelanggan tetap di toko ku, Franka. "
"Itu tidak mengurangi rasa terima kasihku. --Kamu Tahu, bahkan sejak pertama kali aku masuk sekolah sini, mimpiku adalah suatu hari aku bisa pergi bertualang bersamamu, Yuuki-san. Tidak ada yang lebih membuatku bahagia daripada melihat mimpi itu menjadi kenyataan. "
"Maaf karena telah mengecewakanmu."
Yuuki tertawa pahit sambil mengangkat bahunya.
Setiap petualang memiliki caranya sendiri dalam bertindak, meskipun sangat sedikit penyendiri seperti Yuuki. Kebanyakan adalah petualang bayaran yang bisa disewa untuk masuk ke dalam labirin saat diperlukan. Begitu pula Franka, sebagai anggota kelompok akademi, dia juga sesekali pergi mengambil pekerjaan.
Beberapa jenis tumbuhan dan bijih, serta daging dan tanduk Void Beast hanya bisa diperoleh di dalam labirin, dan tentu saja reliquia - yang semuanya bisa jual untuk mendapatkan uang. Meskipun Gereja melarang pola pikir yang mendewakan uang, tetapi dari sudut pandang pelaku, menjelajah labirin memang cukup menguntungkan.
"Sudah hampir waktuku untuk pergi. Oh ya Franka, jangan ragu untuk mampir ke toko-- "
Tiba-tiba dia teringat masalah yang belum terselesaikan menungggunya di rumah.
"Ah, sial. Aku lupa kalau aku tutup cepat untuk hari ini. "
"Begitu? Kalau begitu aku akan datang besok. Aku akan menjelajah besok bersama Guruku, jadi aku akan mampir dalam perjalanan pulang. --Sampai jumpa besok! "
Berdiri, dia melambai dengan gembira lalu pergi.
Toko Yuuki terletak di pinggiran solitus, di sudut kota yang dikenal sebagai "Jalan Labirin." Sebuah bangunan kecil dengan tanda yang bertuliskan 'Toko Boris'.
Persediaannya termasuk alat-alat penting yang mungkin diperlukan oleh penjelajah labirin, serta reliquia dan apa pun yang bisa ditemukan di dalam labirin. Terlebih, dia juga biasa membeli dan menjual barang; tanda yang tergantung di pintu masuk bertuliskan, "Apa pun yang Kamu temukan di dalam labirin, kami akan membelinya!"
Nasib reliquia yang dibawa kembali dari labirin terbagi menjadi dua: entah menjadi bagian dari koleksi temuan petualang atau dijual ke toko, gereja, maupun Legion.
Reliquia yang dijual entah diberikan sebagai persembahan kepada Shinki, atau ditempatkan di gudang persediaan, menunggu pelanggan yang tepat. Sejalan dengan itu, reliquia menjadi bagian penting dalam perekonomian solitus ', dan sering berpindah tangan antara pembeli dan penjual.
Yuuki menghadapi situasi sulit sebagai pemilik usaha kecil dengan modal pas-pasan.
Toko besar berada di setiap sudut kota, dan untuk memastikan pasokan reliquia mereka, sering kali mereka harus menyewa jasa petualang. Baik dari sudut pandang persediaan maupun nilai, sebuah toko kecil seperti milik Yuuki tidak punya kesempatan bersaing.
Meskipun begitu, Yuuki masih memiliki dua 'senjata' jika berkaitan tentang bisnis.
Yaitu pengetahuan yang luas tentang reliquia; dan juga kenyataan bahwa dia juga adalah seorang petualang. Jika persediaan toko ditemukan sendiri olehnya di dalam labirin, maka biaya pengadaan barang-barang adalah nol.
Untuk tujuan itu Yuuki melakukan perjalanan ke labirin tadi pagi—
Dan membawa pulang sesuatu yang belum pernah dia temukan sebelumnya.
Pulang dari akademi pelatihan, Yuuki melewati tokonya, dan membuka pintu menuju ke kediaman pribadinya.
--Tempat tidurnya kosong.
"... Pergi kemana dia?"
Dia ingin beristirahat, jadi dia meminjamkan kamar tidurnya lalu pergi berkerja—Kemana perginya dia?
Dia memeriksa kamar itu sebelum pergi - dia tadi tertidur pulas.
Pikirannya tiba-tiba terganggu oleh suatu suara lemah. Telinganya terfokus pada suara itu; suaranya terdengar dari dapur - bukan, dari lemari makanan.
Yuuki diam-diam menyelinap melalui pintu ruang makan dan melihat sosok kecil. Dengan satu tangan, sosok itu mengangkat apel ke dekat mulutnya, lalu tiba-tiba menjauhkannya lagi dengan menjulurkan lengannya, sebelum akhirnya - seakan tak kuat menahan godaan – menggigit apel itu dengan buasnya.
Crunch! Suara dia menggigit apel bergema di selurung ruangan yang kecil itu, sosok mungil itu terlihat bahagia, tersenyum kekanak-kanakan. Rasa manis apel itu meresap ke dalam mulutnya.
"Jadi um, apa yang kamu lakukan?" kata Yuuki, menyebabkan gadis itu untuk tersentak kaget sebelum berbalik menatapnya.
"Uh ... Ka-kapan kamu kembali?"
"Baru saja. Apelnya-- "
Panik, Tina berusaha menyembunyikan apel yang ada di tangannya ke belakang punggungnya.
"Semua yang ada di dalam lemari itu adalah milikku, tahu?"
Itu semua adalah barang pemberian dari Franka beberapa hari yang lalu. Bagi Yuuki, yang sedaag mengalami masa sulit, semuanya sangat berharga, keperluan bertahan hidup.
"Yaah, um ... Ini bukan seperti yang kamu lihat."
Gadis itu terus menyembunyikan tangannya di belakang punggungnya sambil dia menggelengkan kepalanya.
"Tina tidak mencuri makanan! Hanya saja, itu lah, saat aku bangun aku merasa agak lapar, jadi aku berpikir untuk mencari sesuatu untuk dimakan ... "
"Terus ...?"
"Lalu aku menemukan tempat ini, lalu apelnya, itu ... apelnya benar-benar terlihat seperti meminta dimakan oleh Tina, jadi ..."
"..."
"Um, ah ... Mungkin Kamu bisa menyebutnya sebagai persembahan?"
Suaranya perlahan semakin pelan saat dia mengatakannya, mungkin karena dia merasa bersalah.
Yaah, mengingat dia pingsan di dalam labirin, tidak aneh kalau dia merasa lapar.
Yuuki mengetuknya pelan di kepala, mendesah sambil berpikir untuk  merelakan satu buah apel itu untuknya. Saat dia melakukannya, Tina menyerahkan apel yang dipegangnya itu padanya, bukti kejahatannya didapatkan.
"... Maafkan aku," katanya sedih.
"Aku tahu kalau ini adalah rumahmu, dan semua yang ada di sini adalah milikmu. Hanya saja, yaah, Tina merasa sangat kesulitan untuk melawan rasa lapar ... "
Keadaan di hadapannya mengingatkannya pada anak anjing yang dimarahi karena bertingkah nakal.
Mengganggu mereka, perut Tina tiba-tiba meraung keras. Tidak dapat menahan diri, Yuuki tertawa.
"Tidak apa-apa; Tidak usah khawatir. "
"... Kamu tidak marah?"
"Kamu sudah jelas merasa bersalah. Ruang makan ada di sebelah sana. Aku akan membuatkan sesuatu untukmu, jadi ambil saja apelmu dan tunggu di sana, oke? "
Dia adalah orang yang telah memungutnya, jadi setidaknya dia punya tanggung jawab terhadapnya. Satu porsi makanan anak-anak seharusnya cukup.
"Mm, enak."
Meletakkan mangkuk di atas meja, Tina merasa sangat puas.
Apa yang dia siapkan untuknya hanyalah semangkuk bubur dan asinan daging. Yuuki juga tidak terlalu berbakat dalam memasak; jadi, ini lebih seperti "lapar adalah bumbu terbaik."
"Bahan yang kamu gunakan adalah sesuatu yang aneh. Tina tidak tahu apa itu. "
"Aku menggunakan beras."
"Buras?"
"Kamu belum pernah mendengarnya? Yaah, sebenarnya, benda itu juga belum terlalu umum di sini. Dan masih tergolong produk impor baru. "
Bahan utamanya adalah beras, ditambah oleh kentang. Meskipun desa-desa pertanian di luar solitus membudidayakan berbagai jenis tanaman, beras masih cukup langka.
Berkat apel dan bubur, rasa lapar dari orang yang mengaku sebagai Shinki itu sepertinya telah mereda.
"Ijinkan aku untuk mengucapkan rasa terima kasih sekali lagi padamu Yuuki Katamiga ... Takagami ..."
"Takamigahara, tapi Kamu boleh memanggilku Yuuki. Nama keluargaku memang adak sulit diucapkan, aku tahu. "
"Kalau begitu Yuuki. Kamu telah menyelamatkan Tina dari labirin, dan memberiku makanan; Terima kasih dari lubuk hatiku yang paling dalam. Untuk mendapatkan rasa terima kasih secara langsung dari seorang Shinki adalah suatu kehormatan langka bagi seorang penganut - Kamu patut merasa sangat bangga "!
Saat dia mengatakannya, dengan bangga dia mengangkat kepalanya sambil membusungkan dadanya.
"Sikapmu, untuk sesaat terkesan tulus dan ikhlas tapi tiba-tiba langsung berubah sombong dan tak tahu diri. Lagi pula, Kamu salah dalam satu hal -. Aku bukan penganut "
"Kamu bukan penganut?"
"Ya, aku bukan penganut. Dalam hal itu, aku sudah lama ingin bertanya - Sebenarnya kamu itu siapa?"
"Aku sudah berulang kali memberitahumu, kan? Aku adalah Shinki. Jangan khawatir --, aku tidak marah. Karena hidup bersama orang-orang dan membagikan petunjuk adalah salah satu tugas Shinki. Mana mungkin aku akan marah hanya karena ada seseorang yang tidak percaya. Aku sangat hebat, kan? Aku mengizinkanmu untuk menunjukkan rasa kagummu. "
Tina mengangguk bahagia.
"... Anggap saja kamu adalah Shinki - Dari kelima shinki, yang mana dirimu?"
"Shinki yang Menyangga Langit," "Shinki yang Menerbitkan Matahari," "Shinki yang Bermahkotakan Bulan," "Shinki yang Menyebarkan Bintang," dan "Shinki yang Menjaga Bumi" - itu adalah nama-nama shinki.
Tapi jawaban Tina sangat mengejutkan.
"Aku tidak tahu."
Yuuki mengerutkan keningnya.
"Kamu tidak tahu? Kenapa? "
"Aku tidak tahu apa yang tidak ku ketahui. Tina tahu kelima nama shinki, tapi jujur saja Tina ​​tidak tau Tina adalah yang mana. "
"Jika Kamu bahkan tidak tahu hal itu, jadi kenapa kamu bisa mengatakannya dengan yakin seperti itu ... Er, yang lebih penting, kenapa Kamu pikir kamu adalah seorang Shinki?"
"Bukannya 'berpikir' - itu adalah kenyataan, jadi aku yakin itu."
Tidak ada perkembangan apapun. Yuuki menghela napas, dan mencoba pendekatan yang berbeda.
"Kalau begitu, wahai pelindung agung kota ini, Albertina-sama, kenapa kamu pingsan di dalam labirin?"
"Panggil saja aku Tina. Tidak usah memakai penghormatan. "
Sindirannya tidak disadari gadis itu, lalu gadis muda itu melanjutkan.
"Aku ada di sana karena di sanalah aku lahir."
"Lahir ...?"
"Mungkin 'terbentuk' adalah cara yang lebih tepat untuk menyebutknya. Di suatu ruangan besar dalam labirin, Tina pertama kali merasakan keberadaannya. Selanjutnya, seperti yang kita tahu "
"Jadi Kamu tidak hilang ingatan saat di labirin?"
"Tidak, aku tidak hilang ingatan."
"Lalu, biar ku tebak - alasanmu bisa mengatakan hal itu dengan sangat yakin adalah karena 'itu adalah kenyataan, jadi Kamu yakin?"
"Tepat sekali."
Yuuki mengeluh frustrasi sambil menggaruk kepalanya.
"Nah, kalau begitu kapan kamu lahir?"
"Saat aku terbangun di dalam labirin, aku terlibat sesuatu insiden dan akhirnya aku berkeliaran di labirin ... sampai akhirnya aku kehabisan tenaga dan pingsan. Itu kira-kira, hmm, sekitar satu atau dua hari. Kurang lebih begitu, ya. "
"Jejak ingatanmu cukup jelas, dan menilai dari debu di tubuhmu, aku rasa kamu pingsan selama kurang lebih satu hari..."
Jika dia berkata jujur, berarti, dia dsucirkan maksimal tiga hari yang lalu.
"Bahkan jika Kamu berkata seperti itu, bagaimanapun aku melihatmu, kamu tidak tidak terlihat seperti seseorang yang baru lahir tiga hari yang lalu. Kamu bisa berbicara, Kamu tahu apa itu apel ... Jujur saja, ceritamu cukup mencurigakan. "
"Aku tidak berbohong. Dari awal, pikiran Tina dipenuhi dengan pengetahuan, "Tina cemberut sedih.
"Jadi, tepat saat yang Kamu muncul, Kamu sudah mengetahuinya?"
Yuuki berpikir sejenak sebelum melanjutkan.
"Aku akan mengajukan beberapa pertanyaan. Aku ingin Kamu menjawabnya dengan cepat – jangan pikirkan jawabannya. Kalau kamu tidak tahu jawabannya, jawab saja tidak tahu. --Apa nama kota ini? "
"Solitus?"

"Apa julukan untuk labirin?"
"Great GateMagna Porta."
"Pentagram adalah simbol untuk organisasi apa?"
"Pentagram?"
Yuuki menggambarnya dengan jari di atas meja.
"Ah -. Gereja Lima Kudus"
"Menara lonceng baru di Gereja Katedral - kapan itu dibangun?"
"Tidak tahu. Aku pikir kedengarannya itu cukup bagus? "
"Untuk menuju ke alun-alun utama toko ini, jalan apa yang yang harus kamu lewati?"
"Aku juga tidak tahu itu. Aku belum pernah mengunjungi kota. "
Untuk catatan, menara lonceng yang baru, dibangun sebulan yang lalu. Untuk merayakan pembangunannya, diadakan festival besar-besaran. Dan juga, kamu hanya perlu melewati jalan yang tepat berada di luar toko untuk menuju ke alun-alun. Kedua hal itu adalah pengetahuan umum bagi siapa pun yang mengenal kota ini.
Yuuki menggunakan pertanyaan-pertanyaan itu untuk mengukur sejauh mana pengetahuannya.
Dia tahu tentang apel, tapi tidak tahu beras, yang baru akhir-akhir ini beredar. Dia tahu tentang Shinki dan Gereja, tapi tidak tahu apapun tentang pembangunan menara lonceng baru dan juga daerah sekitar. Sejujurnya gaya bahasanya agak aneh; tapi itu sesuai dengan kepribadiannya.
(Dengan kata lain-- Dia memiliki pengetahuan secara umum, tetapi tidak tahu tentang tata letak kota dan kejadian akhir-akhir ini.)
Singkatnya, jawabannya cocok dengan apa yang selama ini dia katakan- bahwa dia baru lahir tiga hari yang lalu. Dia lahir dengan membawa beberapa pengetahuan umum, tapi belum pernah mengunjungi kota ini, jadi tidak heran kalau pengetahuannya cukup rendah tentang sesuatu yang mudah berubah.
Semua jawaban itu diberikannya secara langsung dan tanpa sedikitpun keraguan.
Dia tidak terlihat mempersiapkan jawaban itu terlebih dahulu layaknya membaca naskah, dan tindakannya juga sesuai dengan kepribadiannya. Meskipun ada kemungkinan kalau dia adalah seorang dewa pembohong yang sedang mengelabuhi Yuuki, tapi sepertinya dia hanya orang bodoh yang sepenuhnya percaya pada cerita yang tertanam di dalam pikirannya.
"Apa cuma itu?"
"Ah, ya."
"Tidak masalah. Menjawab pertanyaan dari seorang penganut adalah salah satu tugas penting bagi Shinki. Jangan khawatir. –Ngomong-omong, apa yang ingin kamu ketahui dengan menanyakan pertanyaan itu? "
Tina mencondongkan tubuhnya ke depan dengan penuh semangat.
"Apa kamu benar-benar seorang Shinki atau bukan. Tapi untuk sekarang aku akan merahasiakan jawabannya. "
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Dicurigai oleh pengikut pertamaku itu sangat tidak menyenangkan. "
"Bagaimana mungkin seseorang yang meragukamu menjadi pengikutmu? –Bagaimanapun juga, Kamu pingsan di dalam labirin itu sangat tidak wajar. Aku hanya ingin mencari tahu apa aku bisa memahami penyebabnya. "
Yuuki dengan mudah merubah topik pembicaraan.
"Malahan, jika Kamu seorang Shinki, mana Duelistmu?"
"Hmm ..."
Tina tidak bisa menjawab, dan tatapannya berkeliaran kesana-kemari.
Petarung suci Duelists penjaga para Shinki. Menjaga area kekuasaan mereka, dan memiliki kekuatan super yang kelewat IMBA. Ke lima Shinki memiliki Duelist mereka sendiri - itu adalah pengetahuan umum yang bahkan diketahui oleh anak kecil.
"Jika Kamu bisa menunjukkan Duelistmu, mau tidak mau aku akan percaya kalau Kamu memang seorang Shinki. Coba kamu panggil dia? "
" Shinki harus memanggil Duelistsnya untuk menjaga mereka. Aku tahu itu. Sebenarnya, aku bisa saja melakukannya, dulu. "
"dulu ...?"
"Saat aku datang ke dunia ini, aku punya kekuatan suci yang cukup untuk melakukannya. Tapi, karena suatu ... kejadian yang tak terduga, kekuatan itu sekarang sudah habis. "
Kekuatan Suciwis adalah kekuatan yang digunakan Shinki untuk membuat mukjizat. Dengan perantara batu suci, para Cleric bisa melakukan hal serupa, hanya saja dalam skala yang lebih jauh kecil - yang dikenal sebagai Orison.
"Apa yang terjadi?"
"... Apakah itu penting bagimu untuk mengetahui apa yang terjadi?" Jawab Tina, wajahnya menunjukkan kalau dia tidak ingin membahasnya.
"Apapun alasannya, sekarang Tina tidak memiliki sedikitpun kekuatan suciwis yang tersisa. Karena itu, aku tidak bisa memanggil Duelistku. "
"Aku mengerti, aku mengerti. Jadi kamu pergi tanpa Duelistmu, lalu berusaha pergi menuju kota, tapi tersesat dan pingsan di tengah jalan. "
"Begitulah."
"Bagaimanapun juga, karena Kamu tidak bisa membuat mekjizat, Kamu tidak bisa membuktikan kalau Kamu adalah seorang Shinki. Gampangnya, Kamu telah kehilangan artifak sucimu. "
Saat Yuuki mengatakannya, orang yang mengaku Shinki itu menggembungkan pipinya.
"Saat kekuatan suci Tina pulih, dia akan bisa memanggil Duelistnya dan membuat banyak mukjizat! Dan aku tidak kehilangan apapun! Apa yang harus Shinki lakukan, siapa musuh yang harus kami kalahkan - aku ingat itu semua "!
"..."
Hmmm.
Bagaimanapun juga, dia sangat bersemangat. Yuuki terus memperhatikannya sambil memperhitungkan semua informasi yang telah di dapatnya. Entah darimana, ia mendengar suara batuk kecil - Tina sengaja membersihkan tenggorokannya untuk membangkitkan lagi suasana yang lebih serius.
"Nah, sekarang giliranku untuk bertanya. Yuuki, Kamu adalah seorang petualang yang bekeja demi Shinki, kan? "
"Tidak sama sekali."
"..."
Jawaban itu mengejutkannya, menghentikan perkataan yang telah dia siapkan, lalu dia terdiam, sebelum tiba-tiba bertanya—
"K-K-Kenapa?! Bukankah kamu menyelamatkan Tina dari dalam labirin? Selain itu, bukannya tujuan seorang petualang adalah mengumpulkan reliquia untuk dipersembahkan kepada Shinki? "
"Panggilan utama jalan hidupku adalah menjadi pedagang. Apa pun yang dapat ditemukan di labirin aku akan membelinya, dan apa pun yang orang-orang perlukan aku akan menjualnya. Sekalian juga, aku menjual berbagai barang yang dibutuhkan saat menjelajah labirin. Meskipun aku juga memang seorang petualang, tapi itu semata-mata hanya untuk mencari barang persediaan tokoku. Aku hanya memungutmumu secara kebetulan. "
"Kalau begitu, pedagang Yuuki, aku punya sesuatu yang ingin ku sampaikan untukmu. Dengan ini aku mengakui engkau sebagai pengikut pertama dari Shinki Albertina, dan memberikan engkau hak untuk menjadi pelayanku. "
"Hah?"
"Tujuanku sekarang adalah mengembalikan kekuatan suciku agar aku bisa memanggil Duelistku. Untuk itu, aku akan membutuhkan reliquia, dan bantuan jiwa terpercaya untuk membantuku dalam misi ini. Selain itu, dengan tempat ini bertindak sebagai kuil sementaraku, aku membutuhkan seseorang untuk membimbing dan memberiku nasihat. Tina baru datang ke dunia ini tiga hari yang lalu; Aku masih kurang berpengalaman. "
Posisi itu bukanlah sesuatu yang akan membuat siapapun iri. Terlepas dari bagaimana dia membuatnya agar terdengar keren, seperinya kurang lebih dia hanya ingin seorang pesuruh.
Sambil menunjukkan kesan bijaknya, mata Tina berbinar saat dia menatap dengan penuh harapan kepada Yuuki.
"Ada terlalu banyak yang ingin ku katakan, aku bahkan sampai bingung darimana harus memulainya. Pertama, berhenti menyebut rumahku sebagai kuilmu. "
"... Tidak boleh?"
"Tidak!"
Dia terlihat sedih. Dia tahu kalau Yuuki mengusirnya sekarang, dia akan sepenuhnya menjadi gelandangan.
"Jangan salah sangka - aku tidak keberatan membiarkanmu tinggal di sini. Mengusirmu itu terlalu kejam untuk dilakukan. "
"Benarkah?!"
Dalam sekerjap ekspresinya terlihat ceria.
Yuuki sendiri telah diselamatkan berulang kali oleh kebaikan hati orang lain. Tidak peduli apakah dia adalah Shinki atau hanya orang biasa - dia sedang butuh bantuan, jadi Yuuki membantunya.Dia tidak sedikitpun merasa kalau dia akan mendapatkan balasan atas apa yang dilakukannya.
"Ribuan berkah atas kemurahan hati mu! Seperti yang kuharapkan dari pengikut pertamaku! "
"Aku Bukan pengikut siapapun. Tapi kamu harus mengingat satu hal - satu-satunya hal yang bisa ku berikan secara gratis hanyalah tempat tinggal. Jika untuk mengumpulkan reliquia maupun memanggil Duelist, itu urusanmu sendiri. "
"Ah, begitu..."
"Untuk menghindari kesalah pahaman, akan ku jelaskan dua alasan kenapa aku menolak untuk membantumu."
Yuuki duduk di kursi di berhadapan dengan gadis muda itu dan mulai menjelaskan.
"Pertama, entah Kamu benar-benar atau Cuma mengaku-ngaku saja, bersama orang yang menyebut dirinya sebagai Shinki itu sangat berbahaya. Kemungkinan besar pengakuanmu akan dicap sebagai penghujatan. Di kota ini, Gereja adalah salah satu pihak yang tidak boleh dijadikan musuh, begitu juga diriku. Hal itu akan memungkinkanku untuk tetap berpura-pura kalau aku tidak mengetahui apa yang telah Kamu lakukan - jadi aku hanya memberikmu tempat tinggal sementara ".
"... Jadi maksudmu itu bukan karena Kamu tidak mempercayaiku?"
"Bukan. Sekarang, yang kedua: Aku adalah seorang pengusaha tulen. Bisnis hanya bisa dilakukan saat ada pertukaran. Jika Kamu menginginkan bantuanku, tidak masalah; apa yang Kamu inginkan adalah urusanmu sendiri. Permasalahannya adalah, apakah kamu bisa membayarnya? Aku yakin kamu tidak punya uang, kan? "
"Ya, aku tidak punya..."
Tina menunduk, kecewa, meskipun tak lama kemudian ia mengangkatnya lagi.
"J-Jika Tina mendapatkan kekuatannya kembali, dia bisa membalasmu sepuluh--"
"Aku tidak tertarik dengan janji palsu seperti itu."
Mereka yang berkata kalau mereka akan "membayar hutang saat mereka punya kesempatan" tidak pernah benar-benar melakukannya.
"Satu-satunya yang bisa kupercaya hanyalah kepingan dingin uang tunai; Aku tidak mau melakukan transaksi dengan dasar hutang. Jika Kamu tidak punya uang, maka Kamu harus mengurusnya sendiri. Hidupmu adalah milikmu sendiri, lakukan tanggung jawabmu. Hidup tidak ada yang gratis - itulah aturan di dunia ini. –kurang lebih Itu yang ingin ku katakan. "
Yuuki tahu kalau kata-katanya kejam, tapi dia tetap harus mengatakannya. Menjelaskan semua hal dari awal adalah aturan penting dalam kehidupan.
Sebenarnya di berpikir kalau Tina akan sedih, tetapi sebaliknya, dia mengerutkan keningnya dan, setelah beberapa saat, dia berkata.
"Dengan kata lain, asalkan aku bisa membayarmu ... Kamu bersedia untuk membantuku?"
"... Kamu bisa menganggapnya begitu. Kenapa? Lagian kamu juga tidak punya uang. "
"Mm, memang benar kalau Tina tidak punya uang-- Tapi dia punya rencana."
"Oh? Kalau begitu, coba katakan. "
"Tina punya sesuatu untuk ditawarkan kepadamu sebagai pertukaran -! Tubuhnya"
"..."
Yuuki sangat terkejut dia jatuh dari kursinya.
"Jadi? Bagaimana menurutmu? "
"'Bagaimana menurutmu?' pala lu soek!  Wahai Shinki-sama yang agung, apa kamu serius? Apakah Kamu benar-benar serius? Apakah Kamu tahu apa artinya 'menjual tubuhmu’? "
"Eh, apa artinya?"
Tina menatap bingung.
"Yaah, bukankah itu berarti untuk membantu saat dibutuhkan - untuk membantu dengan berbagai cara? Apa pun yang Kamu butuhkan, tidak masalah. Terlebih, jika Kamu memberiku reliquia, aku bahkan bisa memberikanmu mekjizat! Mujizat! Khusus untukmu! Untuk dapat membeli layanan dari Shinki semurah ini - itu adalah diskon yang sangat besar "!
"Hah ... dasar bocah; tentu saja kamu tidak mengerti ... Tapi, jujur saja, ini adalah pertama kalinya aku bertemu dengan dewi yang memberikan untuk diskon dirinya seperti itu. "
"Bukankah tadi kamu bilang kalau kamu akan membeli 'apapun yang ditemukan di dalam labirin'? Aku termasuk dalam kategori itu. Kamu tidak dapat membantah logika itu, jadi berhenti terlalu banyak berpikir, dan cepat terima tawaranku! "
"... Ya anj-- bagaimana ya? Nah, singkatnya, aku tidak bertransaksi dengan nyawa manusia. Perdagangan manusia itu dilarang, tahu? "
"Tidak masalah!"
Tina mengakui argumennya dengan anggukan sebelum melanjutkan.
"Tentu saja, perdagangan 'manusia' mungkin ilegal, tapi Tina adalah Shinki, bukan manusia. Jadi ini adalah perdagangan dewa! "
"Aku juga tidak membeli dewa!"
"Jadi kamu berbohong saat Kamu berkata kalau kamu akan membeli 'apapun' asalkan itu dari labirin?"
Tina cemberut kesal.
"Tina ditemukan di dalam labirin, jadi Kamu harus bersedia untuk membeli nya. Atau apa kamu ini seorang pembohong? Pengusaha macam apa yang suka berbohong? "
"Permasalahannya di sini bukan tentang 'berbohong', tapi akal sehat ... Malahan, tunggu dulu- jika Kamu adalah sesuatu yang ku pungut di dalam labirin, bukannya itu berarti Kamu sudah menjadi milikku. Kalau begitu, kamu tidak berhak memberikan hal yang sudah menjadi milikku, kan? "
"Tapi tadi kamu bilang 'hidupmu adalah milikmu?"
Yuuki terdiam tanpa kata. Dia mengangapnya tidak lebih dari seorang anak yang bodoh, tapi tidak diduga ternyata dia cukup cerdik. Kenyataan bahwa dia tahu kalau dia tidak punya niat buruk maupun kesalahan perhitungan membuatnya semakin sulit untuk melawan kata-kata Tina.
Berpikir sejenak, dia bertanya, "... andai saja - hanya perumpamaan – andai saja aku tidak mau menerimanya, apa kamu akan pergi ke toko lain lalu memberikan tawaran yang sama? Kamu akan ‘menawarkan  tubuhmu pada mereka’? "
"Yah, mau gimana lagi," dia menjawab tanpa sedikitpun ragu. "Tina butuh bantuan, dan uang dibutuhkan untuk mendapatkan bantuan itu. Tapi Tina tidak punya uang. "
--Yuuki berpikir sejenak apa yang mungkin terjadi dalam situasi seperti ini.
Di kota ini terdapat transaksi pasar gelap. Terlebih ... Di kota ini juga terdapat banyak om-om tajir yang sangat menyukai gadis-gadis muda yang cantik.
Singkatnya, itu hanyalah masalah sederhana tentang penawaran dan permintaan.
"..."
"Hmm? Apa ada masalah? "Tina bertanya, terkejut dengan Yuuki yang terus diam.
Pada akhirnya, dia akhirnya berbicara.
"Tidak ada pilihan lain, sialan. Baiklah, sepakat. Aku akan membantumu sebatas kemampuanku. "
"Oh, itu berarti-- "
"TAPI!"
Yuuki segera menyela kebahagiaan Tina, terus, "Ada satu syarat - Kamu tidak boleh memberitahu siapa pun kalau kamu adalah Shinki, dan juga jangan berbicara tentang tujuan maupun informasi tentang Shinki."
"... Baiklah."
"Satu hal lagi: kontrak ini hanya berlaku sampai Kamu dapat memanggil Duelistmu. Jika hal itu tidak pernah tercapai, maka kontrak ini akan berakhir melalui kesepakatan bersama. Saat kita berpisah, aku ingin mendapatkan bayaran yang layak atas bantuanku. Bahkan jika Kamu tidak bisa membayarku dengan uang, reliquia juga boleh. Aku tidak mengharapkan sesuatu seperti Dragon Fang Gem, tapi semakin tinggi kualitasnya, semakin baik. "
"Baiklah. Tina berjanji untuk berusaha membayarmu dengan barang berkualitas terbaik. --Hanya untuk memastikan, apa itu berarti kalau Kamu akhirnya mengakui kalau Tina adalah Shinki? "
"Tidak juga. Tapi aku juga tidak membantahnya. Lebih tepatnya, aku tidak terlalu peduli. "
"Apa yang kamu--"
Ekspresi Tina sulit untuk dibaca.
"Aku tidak peduli jika Kamu asli maupun palsu - Aku tetap akan membantumu. Aku akan bekerja dengan tujuan untuk membantu 'Shinki yang dikenal sebagai Tina dalam memulihkan kekuatannya.' "
Gadis itu mengerutkan kening sedikit sambil berpikir keras.
"... Meskipun Kamu masih belum mengakuiku, aku akan menerima persayaratan itu. Baiklah kalau begitu, sejak hari ini, tubuh Tina adalah milikmu, dan sebagai gantinya Kamu akan membantuku. "
Perjanjian selesai. Yuuki mengangguk lemah.
Ahhh, seperti yang Yuuki perkirakan – gadis itu benar-benar membawa masalah untuk Yuuki. Tapi, dia adalah seorang pengusaha dan kesepakatan tetaplah kesepakatan.
"Hanya untuk acuan, berapa banyak kekuatan suci yang diperlukan untuk memanggil Duelist?"
"Hmmm, gimana ya..."
Tina menutup matanya seakan mencoba merasakan keberadaan benda yang ada di sekitarnya.
"Gudangmu ada di sebelah sana, kan? Jika kita menjumlahkan semua reliquia yang ada di sana, itu masih jauh dari cukup. "
"Oh? Kamu bisa merasakan hal seperti itu? "
"Aku harus bisa merasakan kekuatan suci; Atau aku takkan bisa membuat mukjizat. Hal seperti itu hanyalah mainan anak-anak bagi Tina. –Meskipun begitu, kalau Kamu ingin menunjukkan rasa kagummu, tidak usah ragu, silahkan. Kemarilah, kemarilah - puja aku ".
"Kalau begitu ayo kita coba lakukan percobaan kecil."
Yuuki mengajukan sebuah percobaan, sepenuhnya mengabaikan kesempatan untuk memberikan pujian, membuat Tina agak kecewa.
"... Percobaan? Apa maksudmu? "
"Untuk melihat apa kamu benar-benar bisa membuat mukjizat."
Tapi bagaimana caranya? --Saat Yuuki bergumam pada dirinya sendiri, Tina berkata dan berbicara padanya.
"Sebelum itu, ada yang ingin ku tanyakan."
"Ada apa?"
"Walaupun Tina sekarang adalah milikmu, dia masih tetaplah seorang Shinki. Jadi, apa posisimu: pengikut Tina atau tuannya " orang yang mengaku dewi itu menanyakannya denang tenang.

Samayou Shinki no Duelist Jilid 1 - Bab 1 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: h kim

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.