10 Oktober 2015

Rokujouma no Shinryakusha Jilid 1 Bab 4 Bahasa Indonesia

ROKUJOUMA NO SHINRYAKUSHA?!
JILID 1 BAB 4
HMM... MEMULAI INVASI?


Koutarou menguap dengan keras.

“Kau terlihat mengantuk, Satomi-kun.”

“Aku tidak bisa tidur banyak kemarin.”

“Tidak biasanya kau begitu, Kou.”


Koutarou, Kenji dan Shizuka sedang berjalan ke sekolah bersama-sama.

Ketiganya mengenakan seragam baru mereka.

Dan mereka semua akan mengikuti upacara penerimaan SMA Kitsushouharukaze.

“Ya, kemarin ada sesuatu.”

“Apa ada sesuatu yang terjadi, Satomi-kun?”

Nada bicara Shizuka bukan nada bicara ibu kos, melainkan nada bicara seorang teman.

Nada bicara Shizuka sudah berubah sejak dia mengubah panggilannya pada Koutarou menjadi Satomi-kun kemarin.

Koutarou, yang tidak nyaman dengan formalitas, menyambut baik perubahan itu.

“Sebenarnya, Ibu kos-san, hal itu muncul.”

“Muncul? Yang kau maksud...”

“Hantu itu muncul!?”

“Ya. Pada awalnya aku juga tidak mempercayainya, tapi tidak salah lagi itu adalah hantu.”

Shizuka dan Kenji merasa heran mendengar jawaban Koutarou.

“Jadi karena hal itu kemarin terdengar sedikit keributan...”

“Jadi... Jadi apa kau baik-baik saja, Kou!?”

“Tenanglah, Mackenzie. Ini bukan masalah yang besar. Sesosok hantu muncul dan beberapa fenomena paranormal terjadi, itu saja."

“O-oh... Yah, jika kau bilang begitu...”

Kenji menghembuskan nafas lega setelah melihat Koutarou bertingkah seperti tidak ada yang terjadi.

Kenji tidak menyukai cerita seram.

“Jadi apa kau tidak apa-apa, Satomi-kun? Apa kau pikir kau masih bisa tinggal disana?”

Sebagai ibu kos Rumah Corona, Shizuka tidak hanya memiliki rasa khawatir seperti Kenji; dia juga memiliki rasa khawatir lain.

Jika Koutarou keluar sekarang, reputasi Rumah Corona akan jatuh lebih jauh lagi.

“Tidak apa-apa, Ibu kos-san, ini bukan masalah besar. Masalah ini akan selesai dalam beberapa hari.”

“Begitu. Kau sangat bisa diandalkan, Satomi-kun.”

“Serahkan saja padaku. Aku akan mengatasinya!”

Koutarou menepuk dadanya sambil menerima tugas itu, dan Shizuka menunjukkan senyuman lega.

Menatap senyuman Shizuka, Koutarou meneguhkan keputusannya untuk tidak akan pernah pergi dari kamarnya.

“Tapi tak disangka hantu itu benar-benar ada...”

“Aku juga ter – ha?”

Saat Koutarou tersenyum kecut ke arah Kenji, dia menyadari bayangan seseorang yang sedang mengintip mereka dari belakang tiang lampu di depan mereka.

“Ada apa?”

“Lihat kesana. Ada seorang gadis yang menatap kita...”

“Kau benar, tapi pakaian itu pastinya mencolok...”

“Aku biasanya bukanlah orang yang akan bicara hal ini, tapi... Apa dia tidak merasa malu berkeliaran memakai pakaian itu?”

Dia adalah seorang gadis yang sepertinya sebaya dengan Koutarou.

Walaupun sebagian besar tubuhnya tertutupi tiang lampu, tiang itu tidak cukup untuk menutupi bajunya yang mencolok.

Gadis itu mengenakan pakaian yang berenda dan penuh warna yang terlihat seperti pakaian yang dimiliki oleh heroin anime.

“Ah.”

Walaupun suaranya tidak terdengar Koutarou, cara mulutnya bergerak mengesankan kalau itulah yang gadis itu katakan.

Segera setelah itu, gadis itu berbalik dan kabur, menghilang di sekitar belokan terdekat.

“Apa-apaan itu?”

“Siapa yang tahu...”

Saat Koutarou dan Kenji menatap dalam kebingungan, mereka bisa mendengar suara tabrakan dari belokan yang dilalui gadis itu.

“Kyaa!?”

“Dasar bodoh! Jangan meloncat ke depan sepedaku secara tiba-tiba!”

“Aku minta maaf! Aku minta maaf! Aku tidak sengaja!”

“Dan apa-apaan pakaian itu!? Jika kau akan bermain, lakukan di tempat lain!”

“Aku minta maaf! Aku minta maaf! Aku bukan bermain! Ini bagian pekerjaanku!”


Sebuah percekcokan dapat didengar dari belokan tersebut.

“Apa-apaan itu?”

“Siapa yang tahu...”

“Aku penasaran apakah itu gadis tadi.”

Ketiganya mendekati belokan tersebut.

“...Siapa yang tahu apa yang para remaja pikirkan akhir-akhir ini...”

Namun, saat mereka menengok belokan tersebut, apa yang mereka lihat hanyalah seorang pria paruh baya yang mengangkat sepedanya.

Gadis tadi tidak kelihatan sama sekali.

“Gadis tadi mungkin meloncat dan tertabrak sepeda itu...”

Kenji menyimpulkan hal itu saat dia mengintip belokan itu.

“Begitu. Aku penasaran apa dia baik-baik aja, sih...”

Koutarou menoleh kembali ke arah belokan itu yang semakin jauh.

“Aku yakin dia baik-baik saja, Satomi-kun. Jika tidak, dia akan terbaring disana.”

“Benar juga.”

Koutarou, yang merasa khawatir, sedikit tersenyum setelah mendengar kata-kata Shizuka.

“Tapi gadis itu sangat aneh, ya...”

“Sekarang musim semi sih..”

“Setelah kau bilang begitu, orang-orang aneh banyak muncul saat musim semi, kan.”

Dan ketiganya pergi menuju sekolah seakan tidak da yang terjadi.

Setelah mengikuti upacara penerimaan dan pelajaran, Koutarou pergi ke tempat kerjanya.

Dia kemudian bekerja sampai malam dengan total sekitar tujuh jam.

Karena itu, baik Koutarou maupun Kenji sangat kelelahan saat mereka sampai di Rumah Corona.

“Aku akan cepat-cepat pulang dan tidur.”

“Aku berharap aku bisa melakukan hal yang sama...”

Koutarou menghela nafas di sebelah Kenji, yang sedang duduk di sepedanya.

“Pastikan kau cukup tidur, oke? Kau ketiduran saat upacara penerimaan, dan kau tidak mau melakukan hal yang sama saat di kelas!”

“Ya, baiklah. Sampai jumpa, Mackenzie.”

“Ya.”

Koutarou dan Kenji melambaikan tangan dengan ringan satu sama lain dan pergi ke tujuan mereka masing-masing. Koutarou menuju kamarnya dan Kenji menuju stasiun.

“...Baiklah, Saatnya menyelesaikan urusan ini.”

Koutarou menoleh ke arah Kenji dan menepuk pipinya dengan kedua tangannya untuk menyemangati dirinya sendiri.

“Apa-apaan!?”

Apa yang dilihat mata Koutarou saat dia membuka matanya adalah sebuah gunung yang dibuat dari barang-barangnya, bertumpukan di depan pintu.

“Aku membantumu berkemas sekaligus membangun benteng pertahanan untuk melindungi diriku dari penjajah!”

Kata Sanae tersenyum saat dia menunjukkan kepalanya melalui gundukan barang-barang.

“Terserah, minggir.”

“Oh ayolah!”

Namun, Koutarou menujukkan tasnya pada Sanae dan Sanae menghilang menuju ruangan kamarnya. Maneki Neko dan jimat-jimatnya masih ada disana.

“Kekanak-kanakan sekali sampai... Benar juga, kau memang anak-anak.”

Koutarou melepaskan sepatunya dan bergumam sambil menaiki barang-barang itu.

Karena barang-barang itu hanya untuk kamar berukuran 6 tikar tatami, barangnya memang tidak banyak.

“Jika kau tidak mau hal kekanak-kanakan terjadi padamu, datanglah lebih awal! Menunggu saja itu membosankan! Selain itu, kau bilang kau hanya mengikuti upacara penerimaan! Mengapa kau pulang terlambat!?”

“Maaf, aku harus bekerja setelah upacara penerimaan. Tidak sepertimu, aku harus mencari uangku sendiri. Aku tidak ingin membebani orang tuaku.”

Koutarou mulai merapihkan kamar dengan membawa TV kembali ke ruangan itu.

“Hmm... Jadi kau juga sedang dalam sedikit kesulitan.”

“Karena itu aku tidak akan meninggalkan kamar murah ini!”

“Tapi aku akan membuatmu pergi!”

Ruangan itu benar-benar kosong.

Koutarou menghela nafas sambil menurunkan TV di dekat tempat antena.

“Baiklah, selanjutnya adalah...”

Setelah meletakkan TV, Koutarou melewati Sanae yang sedang menunggu dan pergi ke pintu masuk untuk memindahkan barang-barang lainnya.

“Stop! Kau bisa melakukan itu nanti, kan? Bagaimana denganku? Selain itu, toh kau mungkin akan pergi.”

“Hantu, daripada berbicara terus, bantu aku memindahkan barang-barang ini kembali. Aku tidak akan menghiraukanmu sampai semuanya kembali seperti semula.”

“Baiklah, apa boleh buat...”

Dan Sanae dengan enggan mengikuti Koutarou.

''Dia kadang-kadang bisa cukup menurut...''

Melihat Sanae dengan enggan membantunya, Koutarou merasakan beberapa perasaan positif terhadap Sanae untuk pertama kalinya.

“Apa masih ada lagi?”

“Tidak ada, ini yang terakhir.”

Sanae menggelengkan kepalanya dan menjawab pertanyaan Koutarou saat dia menerbangkan kardus di udara.

“Oke.”

Mendengar hal itu, Koutarou berhenti bergerak menuju pintu masuk.

“Baiklah, serahkan kardus itu, Sanae.”

“Sanae... ?”

Koutarou mengulurkan tangannya untuk mengambil kardus itu tapi Sanae menatap heran pada Koutaroo dengan ekspresi terkejut.

Air mata mulai terbentuk di mata Sanae.

“Ada apa?”

Koutarou bertanya saat dia menyadari hal itu dan Sanae dengan cepat menyeka matanya.

“Bukan apa-apa! Hanya debu masuk ke mataku”

“Begitu”

Karena Sanae adalah hantu, tidak mungkin debu akan masuk ke dalam matanya, tapi Koutarou yang tidak memikirkan hal itu, percaya pada Sanae.

“Ayolah, berikan itu padaku, Sanae”

“N-nih!”

Sanae menerbangkan kardus itu ke tangan Koutarou, yang kemudian berjalan menuju lemari.

“Dia memanggilku Sanae...”

Sanae berbisik sambil menatap punggung Koutarou.

Tidak ada orang yang memanggil Sanae dengan namanya sejak dia menjadi hantu beberapa tahun lalu.

Karena itu Sanae tidak menyerang Koutarou yang kedua tangannya sedang memegang kardus dan memunggunginya, melainkan Sanae menatap punggung Koutarou dengan emosi misterius yang mengembang.

“Dan selesai”

Menutup lemarinya, Koutarou berbalik ke arah Sanae.

“Hm, Ada apa?”

Koutarou melihat Sanae yang tidak bergerak.

“Bu-bukan apa-apa! Benar juga, kita masih harus menyelesaikan urusan kita!”

“Ya, kita harus menyelesaikannya.”

Koutarou hampir saja melupakan hal itu setelah dia dan Sanae memindahkan kembali barang-barangnya.

“Aku tidak berniat meninggalkan kamar i–”

Kalimat Koutarou dipotong oleh suara jendela yang pecah.

“Kyaa!?”

“Apa!?”

Koutarou dan Sanae yang terkejut, melihat ke arah jendela, dan di saat yang sama, sesuatu yang telah memecahkan jendela itu terbang ke dalam ruangan.

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”

Sesuatu itu jatuh dengan wajah terlebih dahulu dan berguling di tikar sambil berteriak.

Dia menabrak dinding dengan wajahnya kemudian berhenti.

“A-apa yang baru saja terjadi!?”

“Si-siapa yang tahu...”

Koutarou dan Sanae saling berpandangan sebentar dan menoleh ke arah sesuatu yang telah melayang ke dalam ruangan.

“Itu sepertinya manusia...”

“Ya...”

Dia adalah seorang gadis yang sepertinya sebaya dengan Koutarou. Dia memiliki benjolan besar di bagian atas kepalanya.

“Tapi apa-apaan pakaian mencolok ini?”

”Apa dia tidak merasa malu berkeliaran mengenakan pakaian itu? Kau hampir bisa melihat payudaranya dari posisi ini.”

Apa yang Koutarou dan Sanae rasa aneh adalah pakaiannya.

Pakaian itu terlihat seperti sebuah gaun yang dihiasi penuh oleh benda seperti jumbai-jumbai dan renda. Desain penuh warnanya menggunakan banyak warna merah muda dan warna primer, dan gaun itu sendiri cukup terbuka.

Seperti yang Sanae katakan, payudara berbentuk bagus gadis itu terlihat seperti hampir keluar.

Dan benda yang paling mencolok adalah sapu yang dia tunggangi.

Itu adalah sebuah sapu, tidak salah lagi, tapi sapu itu tidak didesain untuk membersihkan.

Sapu itu juga penuh warna dan dihias, dan sepertinya lebih mementingkan desain daripada fungsinya.

“Dia terlihat seperti gadis dari dongeng, seperti penyihir tua yang membagikan apel beracun... Yang berbeda adalah gadis ini lebih imut.”


“Dia memang memiliki aura penyihir, tapi bukannya pakaiannya itu terlihat seperti pakaian yang dikenakan oleh heroin anime?”

“Jadi ini cosplay...”

“Itu dia!”

Keduanya sampai pada kesimpulan itu, dan saat kau memikirkannya sebagai cosplay, maka akan terlihat wajar.

“Tapi mengapa seorang cosplayer datang terbang melalui jendela?”

“Siapa yang tahu... Mungkin karena sekarang itu musim semi?”

“Musim semi... Ah!”

Di titik itu, Koutarou mengingat kejadian pagi ini.

“Kupikir gadis ini adalah gadis yang kulihat tadi pagi!”

“Pagi?”

“Aku melihatnya saat aku berjalan ke sekolah! Dia bersembunyi di belakang tiang lampu jadi aku tidak yakin, tapi akan aneh jika beberapa orang berkeliaran dengan pakaian seperti ini. Orang ini pasti gadis itu!”

“Yang berarti dia sudah berkeliaran dengan pakaian ini sejak tadi pagi?”

“...Orang yang benar-benar aneh...”

“Ya...”

Dengan gadis maniak di depan mereka, keduanya tidak sengaja saling menatap dengan ekspresi heran.

“Jadi apa yang kita lakukan dengan gadis ini?”

Sanae mencolek gadis yang terbaring pingsan di dekat kakinya berulang kali. Namun, gadis tersebut tidak merespons sama sekali.

Benjolan besar di bagian atas kepalanya dan mulut yang terbuka lebar membuatnya terlihat menyedihkan.

“Kita tidak bisa meninggalkannya seperti ini. Aku akan mengeluarkan futon, kau ambilkan air."

“Oke, aku mengerti.”

Keduanya lupa mengenai situasi mereka dan mulai merawat gadis yang pingsan itu.

Gadis yang bersangkutan terbangun setelah Koutarou mengganti kain yang mereka gunakan untuk mendinginkan dahi gadis itu untuk keempat kalinya.

Lebih dari tiga jam berlalu, dan sekarang sudah jam 11 malam.

“N-nnnn...”

“Hei, sepertinya dia mulai sadar.”

“Benarkah?”

Sanae berlari ke arah futon Koutarou tepat di saat gadis itu mengedipkan matanya berulang kali.

“E-Eh?”

Dan saat penglihatannya mulai fokus kembali, dia dapat melihat wajah Koutarou dan Sanae.

“Hei.”

“Selamat pagi!”

Gadis itu berkedip sekali lagi.

“Eh? Uhm... Eh?”

Gadis itu tidak mampu untuk memahami situasi ini.

“Dengarkan. Beberapa waktu lalu kau terbang melalui jendelaku, menabrak dinding, dan pingsan.”

Koutarou menunjuk ke arah jendela yang ditutupi koran dan kemudian ke arah dinding.

“Dan kami berdua merawatmu dan membereskan kaca yang pecah itu.”

Mendengar penjelasan Sanae, mata gadis itu terbelalak saat dia mulai menyadarinya.

“Ahhhh! Ma-maafkan aku! Maafkan aku!”

Gadis itu buru-buru bangun dan membungkuk berulang kali.

“Aku tidak sengaja!”

Mendengar permintaan maafnya, Koutarou menjadi yakin kalau gadis ini adalah gadis tadi pagi. Suaranya terdengar sama seperti sebelumnya.

“Kalau kau sengaja, kami pasti sudah mengusirmu... Itu bukan masalah, sih. Kau yang membayar biaya perbaikannya.”

“Maafkan aku, Maafkan aku! Aku tidak punya uang sama sekali!”

“Kalau begitu masuklah melalui pintu! Mengapa kau masuk dengan memecahkan jendela!?”

“Maafkan aku, aku sedang buru-buru!”

Diserang oleh Sanae sejak momen dia terbangun, gadis itu terlihat seperti hampir menangis.

Melihat hal itu, Koutarou memutuskan untuk memberikan bantuan.

“Jangan menyudutkannya terus, Sanae. Dia mungkin punya alasan melakukan hal itu."

“Tapi dia memecahkan jendelaku, tahu?”

“Kau bisa merasa marah nanti. Sebaiknya kita mulai dengan mendengarkan ceritanya.”

“Kau bahkan tidak mau mendengarkan cerita’’ku’’!”

Sanae terlihat seperti mau meletus.

“Ah... Pokoknya, kita dengarkan dulu apa yang akan dia katakan!”

“Baiklah, tapi jangan pikir kalau ini sudah selesai...”

Sanae akhirnya menyerah setelah dibujuk dengan gigih, dan keduanya menatap gadis itu.

“Jadi, apa keperluanmu masuk ke kamar ini? Atau kau ini kecelakaan atau semacamnya?”

“Uh-uhm...”

Gadis itu tersentak saat keduanya menatap ke arahnya.

“...Bukannya itu hanya hobinya?”

“Kau diam saja, Sanae.”

“Hmph!”

Saat Sanae membalikkan wajah cemberutnya dari Koutarou, gadis itu menepuk pipinya untuk menyemangati dirinya sendiri.

“Berjuang! Yurika Berjuang!

 - Sebenarnya, kamar ini dalam bahaya”

Suara dan tatapannya lebih serius daripada sebelumnya, dan bisa dilihat dari ekspresi tajamnya.

“Bahaya? Bahaya apa?”

“Jelaskan dengan benar!”

“Ada orang-orang yang mencoba untuk mencoba untuk menguasai kamar ini untuk mereka sendiri!”

“Menguasai kamar ini untuk mereka sendiri?”

“Itu...”

Koutarou dan Sanae saling menunjuk dan berkata bersamaan:

“Apa yang kau maksud itu Sanae?”

“Apa yang kau maksud itu Koutarou?”

“Bukan aku! Ini adalah kamar''ku''!”

“Apa yang kau katakan!? ''Akulah'' orang yang tinggal disini!”

Saat keduanya mulai bertengkar, gadis itu menggelengkan kepalanya.

“Tidak, bukan salah satu dari kalian.”

“Bukan?”

“Eh? Bukan Koutarou?”

“Ya. Ini adalah grup yang benar-benar berbeda.”

Gadis itu berkata demikian sambil mengangguk.

“Siapa mereka!? Apa mereka juga mengincar kamar murah ini!?”

“A-atau mereka ingin memiliki hantu cantik ini!?”

“...Itu tidak akan terjadi, selamanya.”

“Mengapa tidak!? Jangan tidak sopan begitu!”

“Bukan keduanya. Mereka mengincar kekuatan abnormal yang terkonsentrasi di kamar ini, jadi tolong cepatlah pergi dari sini! Disini berbahaya! Mereka pasti akan muncul dalam beberapa hari!”

“Kekuatan? Bahaya?”

“Apa maksudnya itu?”

Mendengar penjelasan gadis itu, keduanya terlihat keheranan. Bagi mereka, kata-kata itu hanyalah omong kosong belaka.

“Tolong jelaskan dengan benar. Walaupun kau menyuruhku untuk pergi, tentu saja aku tidak akan berkemas dan pergi begitu saja.”

“Ya. Untuk awalnya, kekuatan apa yang kau bicarakan?”

“Aku juga ingin tahu!”

Saat keduanya meminta jawaban dari gadis itu, pandangan gadis itu mulai tidak fokus.

“Uh-uhm... Kau bisa menyebutnya sebuah kekuatan melimpah yang alami, atau erm... kekuatan supernatural...”

Tingkah meyakinkannya mulai menghilang dan kata-katanya mulai tersendat.

Keringat mulai terbentuk di dahinya dan dia memaksa dirinya untuk tersenyum.

“Aha, aha, ahahaha...”

''Apa? Apa aku tidak boleh bertanya?''

Senyum palsu gadis itu memberi kesan seperti itu pada Koutarou.

“Aku tidak mengerti apapun dari penjelasan seperti itu! Jangan gunakan kata-kata samar seperti kekuatan dan beritahu aku apa sebenarnya itu!”

“A-Apa aku harus melakukannya?”

“Tolong beritahu kami. Mungkin sulit bagimu untuk mengatakannya, tapi aku siap untuk menerima sebagian besar hal aneh hari ini.”

“Tapi kau tidak mau mendengarkanku kan...”

“Karena aku mempercayaimu sekarang, aku ingin mendengar cerita gadis ini dari awal.”

“Ja-jangan berpikir kalau aku gila atau sedang bercanda, oke?”

Pandangan gelisah gadis itu mengarah ke wajah Koutarou dan Sanae beberapa kali.

“Jangan khawatir.”

“Baiklah, aku berjanji.”

“O-oke, kalau begitu aku akan memberitahu kalian...”

Gadis itu mengangguk dan menelan ludahnya.

Dan setelah menatap wajah Koutarou dan Sanae sekali lagi, gadis itu akhirnya membuka mulutnya.

“...Sebenarnya, kekuatan di kamar ini adalah.......”

Walaupun gadis itu mulai menjelaskan, suaranya dengan cepat menjadi semakin mengecil dan mengecil, dan bagian pentingnya tidak bisa didengar.

“Kekuatannya adalah apa?”

“Aku tidak bisa mendengarmu!”

“A-aku bilang, kekuatan yang memenuhi kamar ini adalah si...”

Dia benar-benar tidak ingin mengatakannya.

Kata-katanya menghilang untuk kedua kali.

Dan wajahnya menjadi memerah.

“Jangan khawatir. Kami tidak akan menertawaimu, jadi beritahu kami.”

“Dia benar. Jika kau tidak memberitahu kami apapun, tidak akan ada yang terjadi.”

Mendengar kata-kata Koutarou dan Sanae, gadis itu menyemangati dirinya sendiri sekali lagi.

“Yurika Berjuang! Yurika Berjuang!”

Dia kemudian menatap lurus ke arah Koutarou dan Sanae.

Dan mulai menjelaskan dengan sikap yang berlebihan.

“Kalian berdua, tolong dengarkan! Sebenarnya, sejumlah besar kekuatan sihir telah berkumpul di kamar ini!”

“Eh?”

“Si-sihir!?”

“Jika kekuatan sihir ini terus berkumpul dengan kecepatan ini, gadis penyihir jahat yang berencana untuk menyalahgunakan kekuatan ini akan segera muncul! Dan tempat ini akan menjadi medan perang! Jadi tolong pergilah sekarang kalau mungkin!”

Gadis itu mengumumkan hal itu dengan keras sambil memegang sapu di tangannya dan mulai memutar sapu itu.

“Aku adalah putri cinta dan keberanian, Gadis Penyihir Yurika! Aku akan melindungi kedamaian di kota ini!”

Dengan pose yang anehnya sempurna dan suara cantik yang kokoh, Koutarou dan Sanae terbengong untuk sesaat.

“Ah, apa yang bisa kau katakan... Benar kan, Sanae?”

“Aku tahu sekali apa yang ingin kau katakan. Ini pasti perkembangan terburuk yang mungkin terjadi.”

“Sekarang musim semi sih...”

“Pasti karena itu.”

Saat Kotarou dan Sanae tersadar dari keheranan mereka, hal pertama yang mereka lakukan adalah saling menatap dan menghela nafas panjang.

“Eh? Eh? Apa? Apa yang kalian bicarakan!?”

“Tidak, bukan apa-apa. Kami hanya bicara mengenai cuacanya yang lebih hangat sekarang karena musim semi, sungguh.”

“Dia benar.”

Berkata begitu, Koutarou memegang gadis itu, Yurika, gadis yang mengenakan pakaian mencolok.

“Apa? Mengapa kau memegangiku?”

“Tidak ada alasan apapun, tidak ada alasan apapun."

Koutarou tersenyum ke arah Yurika dan berjalan langsung menuju pintu masuk.

“Itu benar, tidak ada alasan apapun, tidak ada alasan apapun.”

Sanae juga tersenyum, menggunakan Poltergeistnya untuk mengangkat sapu Yurika.

“Eh? Apa? Kemana kita pergi?”

“Terserah padamuuuuuu!”

Membuka pintu depan, Koutarou melempar Yurika keluar.

“Kyaaaaaa!?”

Yurika terjatuh dengan wajahnya terlebih dahulu dan mulai berguling sampai dia mencapai dinding beton Rumah Corona.

“Ini, kau lupa benda ini.”

Sanae melanjutkannya dengan melemparkan sapu itu ke arah Yurika.

“Kyan.”

Sapu itu mengenai kepala Yurika. Namun, baik Koutarou maupun Sanae tidak sudi untuk melihat hal itu.

“Fu...”

“Ada-ada saja.”

Setelah menutup pintu dengan cepat, Koutarou dan Sanae menghela nafas.

“Sekarang musim semi, sih...”

“Bukannya karena musim dingin tahun kemarin itu dingin?”

“Kau benar. Cuacanya menjadi hangat secara tiba-tiba...”

Koutarou dan Sanae yakin kalau Yurika adalah cosplayer dengan imajinasi yang bagus.

Walaupun dia sudah menerima fenomena paranormalnya Sanae, sihir dan gadis sihir itu benar-benar ada di tingkatan yang berbeda.

Ada batasan hal yang bisa dipercaya seseorang.

“Permisi, tolong buka pintunya! Tolong dengarkan apa yang harus kukatakan! Dan mengapa kau melemparku keluar sih!?”

Suara protes yang kuat dapat terdengar dari sisi lain pintu bersama dengan ketukan yang hebat.

Yurika tidak pergi seperti apa yang diharapkan Koutarou dan Sanae.

“Jangan berisik, wanita cosplay! Jika kau ingin mengadakan pesta cosplay, lakukan di tempat lain!”

“Kau dengar dia! Karena orang-orang sepertimu yang tidak menghiraukan sekeliling dan mengganggu orang-orang di sekitar mereka sehingga reputasi semua cosplayer menjadi rusak! Bagaimana kalau kau memikirkan perbuatanmu saja!”

Mendengar kata-kata itu, Yurika mengetuk sangat lemah sekali lagi dan terdiam. Mereka malah mulai mendengar tangisan Yurika.

“Uuu... Auuuu, ka-kalian tidak perlu mengatakannya seperti itu! Kalian ingin aku mengatakannya dan kalian bilang kalian akan mempercayaiku, jadi aku memberitahu kalian walaupun aku tidak mau! Tolong percaya padaku!”

“Siapa yang akan mempercayaimu saat kau berkeliaran dengan pakaian seperti itu, bicara mengenai sihir!”

“A-aku tahu itu! Aku juga tidak mau begini! Saat aku berubah ke pakaian ini, semua pria menatapku! Pakaian ini tidak cukup untuk menutupi dada atau pantatku!”

Dan daripada sebuah ketukan, sebuah cakaran bisa didengar.

“Tapi, negara sihir bilang padaku untuk mengenakan pakaian ini dan bertingkah berani atau aku akan menerima respon buruk dari masyarakat, jadi aku tidak punya pilihan!”

Suara rengekan itu secara bertahap menjadi semakin keras.

“Aku sudah tahu! Kalau aku tidak cocok untuk pekerjaan ini dan tidak ada orang yang akan mempercayaiku! Aku tidak gila! Fueeeeeeeeeeee!”

Suara rengekan Yurika telah berubah menjadi suara tangisan yang keras.

“Uwaaaaaaaa! Ini terlalu kejam! Uwaaaaaaa! Buka pintunya! Ini tidak adil! Tolong percayalah! Fueeeeeeeeeeee!”

Walaupun ada daun pintu diantara mereka, suara tangisan itu seakan terdengar dari sebelah mereka.

“Haa...”

Dan Koutarou, akhirnya menyerah, meletakkan tangannya di gagang pintu.

“Koutarou, apa kau benar-benar percaya dengan cerita idiot ini?”

“Tidak peduli aku percaya padanya atau tidak. Kalau terus begini, dia akan mengganggu tetangga.”

Jika Koutarou bisa mendengar suaranya sejelas ini, semua kamar lain mungkin juga bisa mendengarnya. Selain itu, sekarang sudah tengah malam. Jika terus begini, dia akan diusir.

“Aku tidak ikut-ikutan dalam hal ini.”

“Apa boleh buat...”

Dan Koutarou menghela nafas sekali lagi sambil membuka pintu.

“A-aku tidak berbohong, aku memang gadis sihir!”

“Aku mengerti, oke? Jadi tolong berhentilah menangis.”

“Itu benar, Yurika. Keyakinanmu baik sekali; tidak banyak orang yang bisa bertahan sepertimu.”

Bahkan di dalam kamar, Yurika tidak berhenti menangis.

Koutarou dan Sanae mencoba menenangkannya, tapi tidak berhasil.

“A-Apa ini berarti kalau kalian mempercayaiku? Bahwa tempat ini dalam bahaya? Dan sihir itu ada?”

“I-itu sedikit...”

“Aku tahu kau tidak mempercayaiku! Kalian cuma asal bicara! Fueeeeeeee! Kalian berpikir kalau aku hanya orang mesum!”

“Dasar bodoh, Sanae! Pada saat seperti ini, bilang kalau kau mempercayainya, walaupun itu bohong!”

“Itu karena dia bicara mengenai sihir! Tidak peduli sebanyak apapun ketidaknormalan yang kau tambahkan, sihir itu tidak mungkin!”

“Uaaaaaa! Kalian benar-benar tidak mempercayaiku! Kalian Cuma mencobba untuk menipuku!”

“Lihat apa yang kau lakukan karena kata-kata yang tak perlu itu!”

“Ini bukan hanya kesalahanku!”

Di tengah ruangan, Yurika sedang menangis. Koutarou dan Sanae kebingungan, dan situasinya menjadi semakin buruk setiap menitnya.

“Ini, Yurika, seka air matamu dengan ini. Oke?”

Sanae menggunakan Poltergeistnya untuk menerbangkan handuk terdekat ke arah Yurika yang menangis.

Melihat handuknya terbang ke arahnya, Yurika tiba-tiba berhenti menangis dan matanya terbelalak.

“Si-sihir!? Kau bisa menggunakannya juga!?”

“Eh? Aku?”

“Ya! Ini sihir, kan!? Mengapa kau tidak mau percaya padaku saat kau bisa menggunakannya juga!?”

Wajah Yurika kembali bersinar dalam sekejap. Dia merasa senang telah menemukan pengguna sihir lain.

“Ah, ini? Ini bukan sihir.”

Namun, Sanae dengan jelas menyangkalnya.

“Ini bukan... sihir?”

Yurika menunjukkan wajah terkejut dan berkedip berulang kali, kemudian air mata mulai terbentuk lagi.

“Ini cuma fenomena paranormal.”

“Fenomena... paranormal?

“Ya. Aku kan hantu. Lihat”

Sanae melebarkan handuk itu di udara dan terbang melewatinya.

“Eeeeeeee!?”

Ini membuat Yurika tidak bisa berkata-kata.

“Apa kau benar-benar ha-ha-hantu?”

“Ya, seperti yang kau lihat. Ini handukmu.”

Sanae mendarat dengan punggungnya ke arah Yurika dan memberinya handuk itu.

Handuk itu terbang melewati tubuh Sanae dan terbang di depan Yurika.

“...”

“Apa?”

Sanae menatap ke arah Yurika, yang matanya terbelalak, dan berhenti bergerak.

“A-Aaa, auuu...”

Yurika berkedip dua kali.

“Apa kau tidak apa-apa?”

Dan saat Koutarou yang khawatir mulai mendekati Yurika, dia mulai bergerak.

“Kyaaaaaaaaaa! Tidaaaaaaaaak! Ha-hantu! Jangan sesosok hantu!!”

Yurika tiba-tiba bangun, mengambil sapunya, dan mengamari ruangan ini. Dia kemudian berlari ke arah lemari.

“A-Apa!?”

“H-Hei, ada apa?”

“Jangan merasukiku kumohon! Aku mohon! Aku takut pada hantu! Jika kau akan merasuki seseorang, rasuki dia saja!”

Yurika melompat ke dalam lemari dan menutup pintu gesernya dengan buru-buru.

“Jangan mendekatiku! Jangan merasukiku! Tidak ada hal bagus kalau kau membunuhku! Tolong ambil nyawa orang energik disana saja, kumohon!”

Permohonan yang menyedihkan dapat didengar dari lemari.

“Apa-apaan itu?”

“Si-siapa yang tahu... Tapi mungkin dia takut padamu.”

Koutarou dan Sanae, yang sudah ditinggalkan, menatap ke arah lemari dengan penuh heran.

“Be-benar. Biasanya saat seseorang bertemu dengan hantu, mereka bertingkah seperti itu. Setelah menghabiskan waktu bersamamu, aku benar-benar lupa.”

“Apa semua penyewa sebelumnya juga begitu?”

“Ya, hampir sama sih.”

Sanae menoleh ke arah Koutarou dan mengangguk.

“Tapi apa tidak apa-apa bagi seorang gadis sihir cinta dan keberanian untuk kabur seperti itu? Dia bahkan meninggalkanmu untuk menggantikannya sebagai korban.”

“Yah, dia cuma seorang cosplayer. Walaupun dia ingin berakting sebagai gadis sihir sungguhan, dia tidak bisa”

“Kau benar juga.”

Keduanya terus menatap lemari itu dengan tatapan dingin.

“Maafkan aku! Aku sungguh minta maaf! Kau tidak perlu percaya dengan sihir lagi! Tolong jangan merasukiku saja!”

Tidak menyadari perasaan Koutarou dan Sanae, Yurika dengan mati-matian memohon memohon keselamatannya.

“Jadi apa yang harus kita lakukan dengan itu?”

“Apa lagi? Kita hanya perlu membuatnya keluar.”

“...Ya.”


Koutarou dan Sanae saling menatap dan menghela nafas sekali lagi.

Rokujouma no Shinryakusha Jilid 1 Bab 4 Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Ariq

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.