07 Oktober 2015

Rakudai Kishi no Eiyuu-tan Jilid 1 Bab 1 Bagian 5 Bahasa Indonesia

RAKUDAI KISHI NO EIYUU-TAN
JILID 1 BAB 1
KSATRIA JENIUS DAN KSATRIA GAGAL

Bagian 5

Selesai!?
Serangannya kena. Seharusnay sudah selesai.
Tidak mungkin, Stella-san yang Rank A dikalahkan seperti ini….
Bukankah dia hanya tidak siap? Kalau tidak, ini mustahil….
…Tidak, tunggu! Lihat itu!

Penonton yang kebingungan mengalihkan pandangan mereka ke pundak kanan Stella. Intetsu memang telah mendarat di sana, tetapi pedang itu berhenti di sana. Serangan terkuat Ikki tidak bisa melukai Stella sama sekali.
"…Jadi pada akhirnya, seperti ini."
Mengesampingkan kejengkelannya, sekali lagi Ikki mundur untuk menghindari panas yang membara, menciptakan jarak di antara mereka. Lawannya menggunakan sihir sebagai pelindung, dan serangan tanpa kekuatan sihir yang seimbang tidak bisa melukai Blazer yang terlindung. Sihir Ikki terlalu terbatas, terlalu lemah. Sehebat apa pun tekniknya, tidak memiliki cukup sifat Blazer berarti dia tidak bisa menembus kekuatan sihir yang dikeluarkan tanpa sadar oleh Stella.
Kapasitas aura―jumlah energi spiritual yang dapat dipakai Blazer untuk menggunakan kemampuannya. Sifat itu tidak dapat ditingkatkan dengan usaha. Sifat itu sudah ditentukan saat lahir, terikat oleh takdir… nilai seorang manusia yang sudah ditentukan.
Orang besar diberikan kebesaran untuk mencapai pencapaian besar. Sejak mereka lahir, semua orang memiliki tempat di hirarki yang tak terbantahkan. Dengan kata lain, bakat yang dimiliki Stella sejak lahir menjadi tembok yang berdiri tegak dan menghentikan pedang Ikki.
"Rasanya tidak enak, menang seperti ini…."
"Sesuai dugaanku, Stella-san segera mengerti. Intetsu milikku sama sekali tidak bisa melukaimu."
"Tentu saja. Dan karena aku mengerti, aku menantangmu di duel ini bukan hanya di sihir, tetapi juga keahlian pedang, untuk menunjukkan bahwa kekuatanku ada bukan hanya dari bakat. Tetapi tidak seperti yang kuharapkan… Aku akui. Pertarungan ini, aku menang karena bakat itu."
Ikki memang kuat. Kata-kata usaha yang dia katakan memiliki bobot lebih dari pada lawan-lawannya sebelum ini. Dengan bakat Blazer normal, atau bahkan sedikit di bawah, dia sudah bisa mengalahkan Stella di pertandingan ini. Ini memang menjengkelkan, tetapi Ikki tidak memiliki itu. Jika dia mengatakan “aku kalah oleh bakat Stella” sebagai alasan kekalahannya, Stella tidak akan menyangkalnya. Dia punya hak untuk mengatakan itu.
Dia… memang sekuat itu. Karena itu―
"Aku akan menyelesaikan ini dengan penuh hormat."
Seketika, Stella loncat ke belakang. Dia mundur ke garis batas arena yang berbentuk lingkaran, di tembok yang memisahkan arena dari bangku penonton.
Dengan penuh hormat. Ikki merasa gelisah karena Stella mundur sejauh itu setelah mengatakan kata-kata itu―tetapi kegelisahan itu segera digantikan oleh sensasi yang lebih berat.
"Tembus langit biru, api purgatory." (cek notes) [Pierce the blue sky, blaze of purgatory]
Pada saat mengarahkan Lævateinn ke atas, api yang melapisi pedangnya terbakar lebih liar dan panas―dan segera pedang itu tidak terlihat sosoknya, di tempat yang seharusnya ada bilang pedang terdapat pilar cahaya yang melelehkan atap kubah arena.
A-apa iniiiii!!!
Ini gila! Apa dia masih manusia!?
Bilah pedang yang mencapai seratus meter ke atas bersinar seperti matahari, lautan api yang tanpa tanding. Bagi ksatria Rank A, Crimson Princess, ini adalah Noble Art miliknya yang terkuat. Stella sudah tidak lagi berniat bertarung dengan pedang. Dia tidak lagi sombong. Ikki adalah ahli pedang yang jauh melebihinya, dan karena dia mengakui itu, dia memilih mengakhiri pertarungan ini dengan menghancurkan arena dengan bakatnya yang tidak adil.
"Sudah selesai. Terima kekalahanmu. Lebih mudah bagimu juga."
Sebelum dia melepaskan serangannya, dia mengatakan itu tanpa perasaan. Stella percaya jika ada orang yang mampu melampauinya seperti ini maka dia akan menang di tempat lain tak peduli sesulit apa pun, tetapi dia belum pernah bertemu orang yang kekurangan bakat seperti Ikki yang terpaksa mengambil jalan Ksatria Gagal. Karena itu Stella akan mengalahkan Ikki untuk dirinya juga, menggunakan kekuatan mutlak dari bakatnya!

"Katharterio SalamandraΚαθαρτήριο Σαλαμάνδρα―!!!" [8]
Pedang cahaya yang mengayun turun hanya tahu menghancurkan, membakar seluruh arena.
Uh, uwaaa!
Lari! Kita akan ikut terbakar―!
"Hey hey…. Apa ini serangan untuk pertarungan satu lawan satu?"
Karena arena mulai ambruk, murid yang menonton mulai lari bergerombol sambil berteriak, dan Kurono menyaksikannya dengan muka masam.

Tetapi berdiri di hadapan kerusakan ini, Ikki Kurogane tersenyum.
"Adik perempuanku sering berkata, ‘Kakak bisa menjadi apapun selain ksatria-sihir, jadi dia seharusnya mengejarnya apapun itu.' Mungkin dia benar, karena aku tidak berbakat."
Kalau Ikki Kurogane mau menjadi ksatria-sihir, minimal dia harus menang di Seven Stars Sword-Art Festival, tetapi mencoba menang di sana senekat memanjat air terjun dengan perahu bambu. Ikki mungkin mengetahui itu lebih dari siapapun.
"Tetapi aku tidak bisa mundur sekarang, karena menjadi seorang ksatria adalah mimpiku. Kalau aku menyerah, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri karena tidak menepati janji yang mengikat kita."
Jadi―
"Jadi aku berpikir, bagaimana orang yang paling lemah mengalahkan yang paling kuat? Bagaimana aku bisa melampaui diriku yang lemah? Di sini dan sekarang, aku akan menunjukkan jawabannya."
Ikku mengarahkan ujung Intetsu kepada Stella dan berkata,

"Di sini, dengan kelemahanku yang paling besar, akan kukalahkan kekuatanmu yang paling besar―!"

Pada saat itu, seluruh tubuh Ikki dan Intetsu mulai bersinar.
Cahaya biru yang berkelip kecil seperti api―apa itu kekuatan elemen seperti kekuatannya? Stella berpikir begitu sesaat tetapi kemudian menyangkalnya. Tidak, itu adalah sinar dari kekuatan sihir sendiri yang memancar sampai terlihat mata.
Kekuatan sihirnya… meningkat…!?
Mustahil. Kekuatan sihir tidak bisa meningkat atau berkurang sejak lahir. Kalau begitu apa yang terjadi? Stella tidak mengerti. Dia tidak pernah mendengar kemampuan yang meningkatkan kekuatan sihir. Tetapi dia paham satu hal: sekarang Intetsu yang memancarkan sinar biru memiliki kekuatan untuk melukainya.
―Terus mengapa!? Tidak peduli kekuatan macam apa yang dia miliki, semua hal di langit dan bumi terbakar menjadi abu di hadapan matahari!
Tebas dia! Aku bisa menang hanya dengan melakukan itu!
Jarak di antara mereka lebih dari enam puluh meter. Tidak peduli apa yang lawannya lakukan, karena pedang cahanya akan mencapai Ikki terlebih dahulu.
Tetapi orang ini―dia bilang dia akan menembus pemikiran itu!
"Apa!?"
Dalam sekejap ketika pedang cahaya itu jatuh di tempat Ikki, dia menghilang. Bukan, dia hanya melompat dengan cepat sambil menghindari cahaya itu sehingga terlihat menghilang.
Stella terkejut setelah meleset.
Apa itu, barusan!?
Meskipun dia terkejut, dia segera menyerang Ikki dengan ayunan kedua. Katharterio Salamandra menciptakan pedang dari panas dan tidak memiliki wujud fisik, dan dapat mencapai target lebih dari seratus meter. Manusia yang terdiri dari daging dan darah tidak dapat menghindari itu begitu saja.
Tetapi Ikki melakukannya.
Serangan kedua, dan kemudian ketiga. Di sini dan di sana di arena pertarungan, Ikki terus bergerak seperti angin di antara serangan Stella yang bercahaya, menghindari setiap serangan dengan sempurna. Gerakannya mustahil diikuti. Lupakan pedang Stella, bahkan matanya hampir tidak bisa mengikuti kecepatan Ikki. Pada akhirnya Stella tidak lagi bisa melihat posisinya.
"Kuh, apa-apaan kekuatan itu!? Bagaimana mungkin kamu bisa mendadak bergerak seperti itu!?"
"Karena itu kemampuanku. Seperti Stella-san bisa mengendalikan api, aku juga punya kemampuan sebagai Blazer."
Kemampuan Ikki adalah… melipatgandakan kemampuan fisik.
Ini disebut kemampuan terburuk di antara semua kemampuan yang mungkin dimiliki seorang Blazer, karena bahkan tanpa meningkatkan kekuatan fisik, seorang Blazer mampu mencapai kekuatan dan kecepatan yang lebih besar dengan menggunakan sihir. Memang, Stella sudah menggunakan sihir seperti itu di pertarungan ini, dan kemampuannya meningkat lima sampai enam kali lipat, bukan hanya dua kali lipat. Dengan kata lain, kemampuan Ikki adalah versi lebih rendah dari apa yang dapat digunakan setiap Blazer dengan menggunakan sihir.
Bisa dibilang ini sangat cocok untuk seorang Rank F.
"Bohong! Gerakan itu, jauh lebih dari dua kali lipat! Lagi pula, aku tidak pernah dengar kekuatan sihir juga meningkat bersamaan dengan kekuatan fisik!"
Sambil mengayunkan pedang cahaya miliknya, Stella memprotes. Pelepasan kekuatan sihir yang bahkan dapat dilihat dengan mata telanjang, dan gerakan yang tidak bisa dilihat? Hal semacam itu bukan hanya karena melipatgandakan kemampuan fisik. Bahkan kalau dia berbicara mengenai kempuan fisik, Ikki jelas melampaui sepuluh kali lipat.
Ikki, masih bergerak seperti angin ribut sambil menghindari pedang Stella, tertawa kecil yang sedikit sombong pada apa yang ditekankan Stella.
"Benar, tetapi aku tidak menggunakan kemampuanku dengan cara normal. Sebagai gantinya, aku menggunakannya dengan kekuatan penuh."
"Hah!? Tidak mungkin kamu berkembang sejauh ini hanya karena antusiasme!"
"Bukan… Aku bukan berbicara mengenai antusiasme, tetapi arti sebenarnya."
"Eh…?"
"Aku sudah memikirkan ini untuk waktu yang cukup lama. Mari katakan kamu lari sprint seratus meter setelah mengatakan kamu akan melakukan itu dengan kekuatan penuh. Bahkan kalau kamu melakukan sesuai yang kamu maksud, kamu masih mempunyai sisa tenaga setelahnya. Aku pikir itu aneh. Kalau kamu lari sambil menggunakan seluruh kekuatanmu, bukankah seharusnya aneh untuk tetap sadar setelahnya?"
Bagaimana mungkin itu terjadi? Jawabannya karena manusia hidup, dan makhluk hidup memiliki naluri untuk menjaga hidupnya, nalurinya memberi prioritas penuh untuk bertahan hidup. Tidak peduli bagaimana mungkin seseorang bersumpah menggunakan kekuatan penuh, alam bawah sadarnya tidak akan mengizinkannya. Bahkan kalau dia menggunakan seluruh energi, sejumlah energi akan tersisa jadi badannya akan terus bekerja. Batasan ini tertanam ke pikiran makhluk hidup.
Karena batasan itu, manusia biasanya tidak menggunakan bahkan setengah dari stamina, kekuatan, atau kekuatan sihir. Itu adalah hukum mutlak.
Tetapi bagaimana jika seseorang melanggar hukum itu? Bagaimana jika seseorang, menggunakan kekuatan tekadnya, mampu melepaskan batasan yang menjaganya dari penggunaan kemampuan penuh?
"Maksud… maksudmu―!"
"Ya. Kekuatan sihirku tidak bertambah. Aku hanya membuka kekuatan yang tidak aku pakai sebelumnya, setelah dengan sepenuh hati melewati batasanku."
Ikki tidak memiliki bakat seperti orang lain, dan dia paham fakta itu lebih dari siapa pun. Dia tidak bisa mengurangi jarak antara dirinya  dan seorang jenius hanya dengan bekerja keras, karena orang jenius juga bekerja keras, dan adalah sebuah penghinaan mengatakan mereka menang hanya dengan bakat. Usaha yang tidak cukup hanya memperbesar jarak itu, tetapi berusaha keras tidak bisa memperkecilnya dengan mudah. Perbedaan di bakat adalah faktor yang penting, biasanya.
Kalau dia mau memperkecil jaraknya bagaimanapun caranya, dia tidak bisa memakai cara normal. Dia tidak mempunya cara lain kecuali menjadi Shura[9]. Ikki tidak mengalihkan pandangannya dari kenyataan itu. Fokus pada penemuan itu, dia menemukan cara. Untuk melewati bakat, dia tidak bisa menyisakan kekuatan sedikitpun.
Satu menit sudah cukup. Tidak apa-apa mengabaikan apa yang terjadi setelahnya, tetapi satu menit dia akan menjadi cukup kuat untuk mengalahkan siapa pun.
Itulah jawaban yang ditemukan Ikki Kurogane, jadi kelemahannya yang terbesar mampu mengalahkan kekuatan terbesar orang lain. Dengan sengaja menggunakan seluruh kekuatan dan stamina setelah menembus batasnya, itu adalah Noble Art yang menggunakan seluruh kekuatannya yang sedikit selama satu menit dan meningkatkannya berkali-kali lipat.
"Ittou Shura[10]."
Mendadak Ikki, yang bergerak berkeliling arena dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap mata, menggunakan kecepatannya ke titik buta Stella, dan menyelesaikan segalanya.
Dengan satu tebasan.
Dengan kecepatan yang tidak bisa dihindari atau ditangkis, bahkan tanpa kesempatan untuk berteriak, Stella menerima serangan langsung dari Intetsu.
"Ah―"
Dia merasakan tanah di bawah kakinya menghilang, dan kemudian pikiran Stella jatuh dalam kegelapan. Ini adalah ketidaksadaran yang hadir karena luka ilusi yang fatal. Seperti yang dijelaskan namanya, Ittou Shura mengalahkan Crimson Princess dalam satu serangan, dan Stella jatuh pingsan tanpa tenaga.
"Cukup! Pemenangnya, Ikki Kurogane!"
Meskipun Kurono menyatakan kemenangan Ikki, dan hasil yang mengejutkan ada di depan mata mereka, murid di arena masih belum memahami apa yang telah terjadi. Yang dapat mereka lakukan adalah memandang sosok dari Ksatria Gagal yang berdiri diam di sana.

Rakudai Kishi no Eiyuu-tan Jilid 1 Bab 1 Bagian 5 Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Ariq

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.