24 Oktober 2015

Owari no Seraph Jilid 1 Bab 3 LN Bahasa Indonesia

[Kata Penerjemah] [Owari no Seraph, Bab 3]
Yo! Halo, aku Qwerentz (panggil Qwe) Terima kasih sudah membaca terjemahan Owari no Seraph di kiminovel. Aku dan editor Ridzgank bakalan nemenin & nanggepin komen kalian seputar Owari no Seraph di sini. Sebenarnya sudah proses sampai bab 5 (www) Tagih aja tukang postnya!! Spamming aja di FP'nya (wahahaha). Komen aja, dan tagih terus!! Aku juga menerima masukkan, kritik pun oke, buat hasil terjemahanku (/ ' v')/

Btw, btw ... chapter 3. Huh!! No komen, 'w')/ Takut spoiler~~
Hanya saja, di bab ini Mikaela dan Yuu, kan, belum muncul (belum, loh, ya), juga bukan tokoh utama di novelnya. Terus, kenapa kalian mau baca ini? Gimana perasaan kalian membaca ini? Selama nonton animenya, jujur saja, aku benci Guren dan teman-temannya. Brengsek, si Guren! (wkwkwkwk) Apalagi pas dia tarung lawan Mika, main keroyokkan. Tapi, ternyata~~ masa lalu Guren seperti ini. Penasaran gimana akhirnya, Guren bisa jadi sosok yang seperti itu. Kenapa Shinya juga jadi seperti itu. Di setiap bab ke depannya pun hatiku (ceileh) makin ketonjok-tonjok setiap kali liat gejolak hati Guren dan Shinya. (hahaha) Jujur saja, aku bingung siapa yang baik dan benar di Owari. Jangan-jangan Guren itu penjahat?

Salam dariku, Qwe~

--------------------------------------------

OWARI NO SERAPH
JILID 1 BAB 3
PEWAKILAN MURID BARU

Di auditorium, seluruh murid sekolah berkumpul.
Total berjumlah 1100 murid.
Kelas satu berjumlah 600 murid.
Kelas dua berjumlah 340 murid.
Kelas tiga berjumlah 160 murid.
Begitulah pembagian jumlah murid yang ada.
Jumlah murid yang semakin sedikit di setiap kenaikan tingkat kelas dikarenakan, setiap tahunnya, murid-murid beberapa kali menghadapi ujian seleksi ilmu sihir, untuk mengukur kemampuan mereka. Kemudian kemampuan mereka akan dirangking.  Dan apabila kemampuan mereka dinilai tidak sesuai dengan sekolah ini, maka mereka akan dikeluarkan dari sekolah secara paksa.
Dan karena itulah, setelah satu tahun berlalu, jumlah murid akan menjadi separuhnya. Dan bersamaan dengan kenaikan tingkat, maka jumlah murid yang ada semakin sedikit.
Tentu saja para murid belajar dan berlatih mati-matian baik ilmu bela diri maupun juga ilmu sihir. Jika mereka mereka tidak bisa menguasai dengan baik kedua hal tersebut, maka mereka tidak akan bisa bertahan di sekolah itu.
“Yah, walau aku pengecualian dari sistem itu, sih.
Keluh Guren seraya mengamati auditorium yang ramai oleh para murid.
Untuk dapat diterima di sekolah ini, Guren juga melalui semacam ujian.
Ujian itu selain terdiri dari ujian matematika, bahasa, sejarah, juga terdiri dari ujian ilmu sihir dan pengetahuan akan mantra.
Guren mengerjakan hal itu dengan asal-asalan. Meskipun begitu, bagi dia, walau dia tidak serius mengerjakannya, level soal ujian itu sangat amat mudah untuk dijawabnya dengan benar semua. Oleh karena itulah, Guren berusaha menjawab soal itu dengan jawaban yang salah.
Hasilnya, nilainya seharusnya tidak memungkinkan baginya untuk dapat diterima masuk di sekolah tersebut.
Dengan itu, kemungkinan orang yang menilai akan berpikir seperti ini, kan? Kenapa orang bodoh macam dia ikut ujian Sekolah Unggulan Shibuya yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang elit?
Tapi sekarang ini, entah kenapa Guren bisa ada di sekolah ini.
Dia bisa diterima di sekolah ini. Sekolah Ilmu Sihir Unggulan Shibuya, yang bahkan hanya bisa dimasuki oleh orang-orang yang paling unggul dari kelompok Mikado no Oni.
Itu artinya, ujian yang dia ikuti tidak memiliki arti apa pun.
“Akhirnya, selama tiga tahun ini, tidak peduli sejelek apapun nilaiku, aku akan tetap ditahan berada di sini dan mengalami penindasan, ya?”
Keluh Guren. Namun tidak seperti apa yang dikeluhkannya, Guren memandang murid-murid yang akan menindasnya mulai hari ini dan seterusnya nanti dengan wajah senang.
Mereka semua tampak bergembira.
Berharap pada kehidupan baru di sekolah mereka, namun juga khawatir dengan kompetisi yang akan dimulai setelah ini. Dan suara bising pun semakin bertambah.
Sambutan panjang dari kepala sekolah di panggung auditorium nampaknya akan berakhir.
“Kalian adalah murid-murid terpilih. Bagi orang-orang yang berhasil bertahan di sekolah ini, dikemudian hari, akan ada kemungkinan menjadi kandidat petinggi di dalam Mikado no Oni. Kalian adalah berlian. Banggalah pada diri kalian, dan jalanilah kehidupan sekolah yang menyenangkan.
Lalu pembicaraan panjang itu pun, berlanjut.
Guren memandang Kepala Sekolah tersebut.
Kemudian, tiba-tiba ....
“Hei, Ichinose Guren. Jawablah pertanyaanku ini,terdengar suara memanggilnya dari samping.
Guren mengalihkan pandangan ke arah suara itu. Lalu dilihatnya seorang gadis yang menggenakan seragam sekolah sailor. Karena dia berada di barisan sebelahnya, kemungkinan dia adalah salah satu teman sekelasnya.
Gadis dengan mata bentuk berlian tajam, rambut merah, dan kulit putih.
            “Kau bicara denganku?” jawab Guren.
Lalu gadis itu menjawab dengan muka yang seakan merasa dibodoh-bodohi.
            “Memangnya ada orang dengan marga Ichinose yang rendahan itu, selain kau di sini?”
            “Rendahan, ya ....?”
Guren tertawa mendengar kata-kata itu. Lantas dia melihat gadis itu dan berkata.
            “Lalu, kau ini siapa? Berkata seperti itu. Kau ini Nona besar dari marga apa?”
Gadis itu pun lantas memperlihatkan wajah yang seakan tidak percaya melihat Guren tidak mengenal dirinya.  Dia lantas mengibaskan rambut merahnya, dan berkata.
“Hah ..., sudah kuduga, beginilah kelakuan marga Ichinose. Sudah tidak sopan, bodoh pula. Bisa-bisanya kau tidak tahu siapa aku setelah melihat rambut merahku ini.”
Sebenarnya Guren sudah bisa mengetahui siapakah kiranya gadis ini.
Kemungkinan besar dia adalah anak dari keluarga Jyuujou.
Lagipula, orang yang mempelajari ilmu sihir, tidak mungkin tidak mengenal siapakah marga pemilik rambut merah itu.
Jyuujou Tohito.
Dia adalah orang yang dapat membasmi iblis legendaris seorang diri. Namun, sebagai akibatnya, dia mendapatkan kutukkan. Sejak saat itulah, keturunan darinya akan terlahir dengan rambut merah bagaikan warna darah.
Itulah kisah yang tertulis dalam buku sejarah.
Dengan kata lain, jika melihat rambut merah itu, Guren akan langsung mengetahui bahwa dia adalah orang dari marga Jyuujou. Salah satu marga yang telah lama melayani keluarga Hiiragi—keluarga yang melayani keluarga Hiiragi bisa dihitung dalam hitungan jari—namun Guren justru berkata begini, sambil memandang gadis itu.
            “Apa kamu ... sebegitu terkenalnya, ya? Kamu ini artis, ya?”
Gadis berambut merah itu, lantas langsung menatap Guren dengan wajah yang sangat kesal, dan berkata,
            “ ....Bisa-bisanya orang dengan pengetahuan serendah kau ini, masuk ke sekolah ini, ya!”
            Mendengarnya, Guren hanya tertawa dan balas berkata,
“Yah, aku kebetulan bisa menjawab benar semuanya. Padahal aku jawab pakai lempar dadu.”
“Ujian sekolah kita tidak ada soal pilihan gandanya! Yah, tapi mungkin saja sekolah ini menerima penerus keluarga Ichinose sepertimu tanpa syarat, agar bisa belajar sopan-santun,ujarnya dengan memandang remeh Guren.
Guren yang mendengarnya justru kembali bertanya.
“Lalu, ada perlu apa denganku? Nona yang ingin jadi artis dan penuh kesadaran .... ”
            “Siapa yang ingin jadi artis!”
Suara gadis yang memiliki bentuk mata tajam itu pun meninggi. Dan tatapannya menjadi semakin tajam. Tetapi, wajahnya tidak berubah menjadi memuakkan. Mungkin dikarena rupanya yang memang cantik.
            “Aa! Blah blah blah! Kau ini berisik sekali, ya. Jadi siapa kau ini sebenarnya?”
Lalu ekspresi gadis itu pun berubah, seakan berkata “Dengarlah namaku, dan sadarilah siapa aku!” Dan dia pun berkata.
            “Aku, Juujyou Mito. Anak dari keluarga Juujyou. “
Gadis itu lantas tertawa puas, dan berpikir bahwa tidak ada orang yang tidak akan tunduk padanya, setelah mendengar nama itu.
Guren hanya menanggapi
            “Oh ....”
            “Bagaimana? Apa sekarang kau merasa ketakutan?”
            “Eng .... “
“Ufufufu ... Kau boleh sujud minta maaf, kok. Yah, walau menerima sujud pemintaan maaf orang bodoh dari keluarga Ichinose itu bukan hal yang bisa membuat senang, sih.”
“Eng, tapi, yah ... aku ....”
“Apa? Apa kau segitu senangnya, diajak ngobrol olehku?”
Ditanya seperti itu, Guren justru menjawab,
“Ternyata, aku memang tidak tahu, siapa itu keluarga Juujyou.”
“Oh, begitu. Kalau kau memang merasa sangat senang, akan kumaaf“ ucapan gadis itu tiba-tiba terhenti. “Apa! Tunggu! Tadi kau bilang apa?!”
“Tadi kubilang, aku memang tidak tahu, siapa itu keluarga Juujyou.”
“Apa! Kau bercanda, kan! Juujyou yang itu, lho! Aku ini keturunan keluarga Juujyou yang berhasil membasmi Mikade no Shiki.”
“Enggak tahu, tuh.”          
“A-a-a-a-a ....”
Gadis itu seakan hendak meneriakkan sesuatu. Namun tidak ada satu pun kata-kata yang bisa diucapkannya. Dan dia lantas menggelengkan kepalanya.
“Tidak, tidak. Kau tidak boleh marah Mito. Lawan bicaramu adalah Ichinose si tikus rendahan. Kau sudah tahu, kan, kalau pengetahuannya bahkan tidak mencapai pengetahuan manusia normal. Kalau kau marah hanya karena hal remeh-temeh semacam ini, itu akan membuat malu nama keluargamu. Makanya, tenangkan dirimu Mito.”
Ujar gadis berambut merah itu, seraya menarik nafas, dan menepuk-nepuk dada kecilnya, berusaha menenangkan diri.
Guren melihatnya, dan lantas berpikir “Dia ini kenapa ...?” . Lalu dia segera mengalihkan pandangannya dan kembali mengamati sekitarnya.  Kemudian dia berpikir.
Mungkin sebagian besar murid-murid di sini tingkah lakunya seperti dia, ya.
Setidaknya, jika mereka tidak mendapatkan pelatihan ilmu sihir yang tegas dan ketat sejak kecil, mereka tidak akan bisa berada di sekolah ini. Ditambah lagi, mereka pastilah orang-orang yang diisolasi akibat dari status dan strata keluarga mereka. Jika memang benar begitu, pastilah mereka adalah kumpulan orang-orang dengan jiwa dan kemampuan sosialisasi yang rendah.
“Yah, kalau masalah sosialisasi mungkin aku sendiri enggak berhak mengomentari orang lain.”
Guren pun lantas tetawa kecil.
Mito yang melihatnya mendadak menjadi kesal.
            “Apa yang kau tertawakan!”
            “Ah? Tidak, bukan apa-apa.”
“Ya, sudahlah. Aku rasa, aku tidak perlu memperkenalkan diriku lebih dari ini, ke orang tak berotak sepertimu.”
“Oh, begitu, ya. Yah, tapi aku paham, kok, kalau kau ingin sekali menjadi artis terke—“
“Sudah kubilang, bukan begitu, kan!” teriak Mito.
Suara teriakannya kali ini terdengar menggema di ruang auditorium tersebut. Otomatis, pidato kepala sekolah pun terhenti. Semua pandangan pun tertuju padanya. Wajah Mito pun terlihat panik dengan ekspresi seakan berkata ah, sial.  Wajahnya memerah, tak kalah dengan warna merah rambutnya.
            “A-a-anu, maafkan saya. Silakan dilanjutkan,ujarnya dengan suara yang kecil.
Mendengar itu, kepala sekolah lantas melanjutkan pidatonya. Dan pandangan murid lainnya pun lantas tertuju ke kepala sekolah itu lagi. Sikap mereka itu, mungkin dikarenakan mereka menyadari dari keluarga mana Mito berasal, hanya dengan melihat warna rambutnya. Itulah kekuatan nama yang dimiliki oleh keluarga Juujyou.
Mito menunduk karena rasa malunya. Guren pun berkata padanya, seakan-akan hendak menghiburnya.
            “Hahaha, syukurlah. Kau bisa langsung menarik perhatian semua orang seperti artis.”
            “Kubunuh kau nanti!” dipukulnya punggung Guren.
Pukulannya tidaklah terlalu keras. Yah, hal itu wajar jika melihat ukuran tubuhnya yang mungil. Bisa dikatakan, dia adalah orang yang melengkapi seluruh tubuhnya dengan sihir untuk bertarung.
Dalam buku pelajaran sejarah dikisahkan bahwa, hal itu dikarenakan, orang-orang dari keluarga Juujyou memiliki kekuatan Iblis di tangannya yang tak tertandingi. Selain itu, keluarga Juujou juga dikenal sebagai keluarga militer. Banyak anggota keluarga tersebut yang digunakan jasanya sebagai seorang pembunuh bayaran ataupun sebagai pengawal. Kemungkinan besar, gadis itu pun memiliki kekuatan semacam itu. Karena itulah, Guren menatap gadis itu untuk mengukur kekuatannya.
--Nah,  apa aku punya kekuatan untuk membunuhnya, ya? Batinnya.
Namun, Guren tidak memperlihatkan hal itu melalui sikapnya. Dia lantas melihat Mito yang baru saja memukulnya, dan bertanya,
            “Lalu ...?”
            “Ada apa?”
“Kan, kau duluan yang tadi mengajakku bicara. Jadi, ada perlu apa? Mau menggodaku, ya?”
“Menggodamu! Itu tidak mungkin!”
Suaranya seketika meninggi lagi dan kemudian direndahkannya karena dia menyadarinya. Sepertinya, dia adalah tipe yang mudah terpancing emosinya.
Mito lalu berkata,
“Yang ingin aku tanyakan itu, tentang Tuan Shinya.”
“Oh.”
“Tadi, kau dan Tuan Shinya membicarakan sesuatu, dan terlihat sangat akrab. Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?” Tanya Mito penasaran.
Guren mengerti apa yang ingin ditanyakan gadis itu dengan pertanyaan semacam itu.
Banyak anggota keluarga Juujou yang telah melayani keluarga Hiiragi.  Dia pasti penasaran dan ingin mengetahui, hal macam apa yang membuat Tuan Hiragi Shinya bisa berbicara sangat akrab dengan orang dari keluarga Ichinose semacam dirinya.
Oleh karenanya, Guren berusaha menjawab.
            “Ah, bukan hal penting, kok.”
            “Bohong, kan! Kalian terlihat sangat akrab.”
            “Kau ini ngeliatin sampai segitunya, ya?”
“Ah, ayo katakan! Apa yang sebenarnya kau bicarakan dengan Tuan Shinya?”
Mito bersikeras bertanya. Guren pun lantas menjawab sambil menghela nafas,
“Haa ... Lagian kalau kau dengar juga, kau bisa apa? Tapi, apa kau benar-benar mau tahu?”
            “Ceritakan padaku!”
            “Ya, itulah ... anak laki-laki seusia kami sekarang ini, pastinya bicara tentang itu, kan?”
            “Tentang apa itu?”
            “Tentang anak perempuan.”
            “Eh?”
“Tentang, ‘siapa anak termanis di kelas?” Dan Shinya bilang kau yang paling manis, lho. Malam ini dia mau mengajakmu keluar.”
“Apa? Eh ...?!”
Ekspresi Mito pun lantas berubah. Wajahnya menjadi sangat merah.
“E-e-eh ...? I-i-i-itu bohong, kan? Itu hal yang tidak diperbolehkan! Lagipula Tuan Shinya dan Nona Mahiru, kan ...... “
Ujar Mito tanpa pikir panjang.
Sepertinya hubungan antara Shinya dan Mahiru menjadi pembicaraan terkenal yang diketahui oleh publik. Dan sepertinya, hal itu bukanlah suatu masalah.
Dan jika Mito bisa mengatakan hal itu dengan gampangnya kepada orang dari keluarga Ichinose, maka pastilah hal ini juga sudah diketahui oleh orang-orang dari keluarga Ichinose. Tapi, kenapa kabar itu tidaklah terdengar olehnya?
            “Ayahku, ya?
Keluh Guren dengan wajah yang sedikit merasa kebingungan. Kemungkinan besar, ayahnya mengatur sebuah aturan yang membuat berita tentang Mahiru tidak sampai terdengar olehnya.
Dan besar kemungkinan, kedua pelayan langsungnya, yaitu Yukimi Shigure dan Hanayori Sayuri, juga mengetahui hal ini.  Dan kemungkinan juga, mereka berdua tahu, siapakah yang akan memberikan pidato perwakilan murid baru hari ini. Mereka mengetahuinya, dan menyembunyikan hal itu dari tuan mereka.
Guren pun tertawa miris sendiri.
“Apa-apaan mereka itu. Itu, kan, hanya cinta monyet anak-anak usia 5 tahun. Memangnya aku terlihat masih punya rasa padanya?”
Lalu, dengan muka yang masih malu-malu, Mito melanjutkan ucapannya.
“La-la-lagipula, kami yang seorang pelayan ini, dilarang memiliki hubungan dengan anggota keluarga Hiiragi. Karena itu, apa bisa kau sampaikan ke Tuan Shinya, bahwa hal itu akan bisa menyusahkannya.”
“ .............. “ Guren terdiam tak berkata.
“Selain itu, aku juga sangat menghormati Nona Mahiru. Maka, tolong sampaikan ke Tuan Shinya agar menganggap pembicaraan ini tidak pernah ada ....”
“Ah? Kau kenal Mahiru, ya?”
Mendengar ucapan Guren, ekspresi wajah Mito langsung berubah. Matanya naik menunjukkan kemarahan.
“Aku tidak izinkan orang dari keluarga Ichinose menyebut nama Nona Mahiru dengan sok akrabnya!”
“A ..., em, apakah kau dan Nona Mahiru saling mengenal satu sama lain?”
Mito pun mengangguk dengan penuh semangat. Dan seakan penuh kebanggaan ia pun berkata,
“Nona Mahiru benar-benar sangat cantik. Dan Nona Mahiru juga mau berhubungan dengan para pelayannya dengan lemah lembut dan tanpa membeda-bedakan. Nona Mahiru benar-benar bagaikan sosok seorang dewi.”
“Dewi”—Gadis ini juga menyebut Mahiru demikian.
Sepertinya Mahiru benar-benar sangat dicintai.
Mito lantas melanjutkan.
“Ditambah lagi, Nona Mahiru sangat pintar dalam bidang akademik maupun pertarungan. Saat masuk ke sekolah ini pun, katanya, Nona Mahiru lulus dengan nilai pelajaran tertinggi. Bagi kami para pengikut Mikado no Oni, bisa melayani Nona Mahiru adalah sebuah kebahagian yang tak ternilai.”
Begitulah katanya.
Nilai tertinggi di semua mata pelajaran.
Mahiru lulus masuk ke sekolah itu dengan nilai tertinggi.
Itu artinya, di antara semua anak kelas satu ini, yang paling hebat adalah Mahiru—kan? Pikir Guren dalam hati.
Lalu lagi-lagi, pemikiran itu muncul di benak Guren.
Kalau begitu apa aku bisa mengalahkan Mahiru? Apakah aku punya kekuatan untuk bisa menguasai keluarga Hiiragi?
Namun, pada saat yang bersamaan, gambaran lain muncul di benaknya. Ah, tidak. Mungkin lebih tepatnya terkenang di benaknya.
Gambaran kenangan akan saat di mana ia masih sering bermain dengan Mahiru.
Di atas padang rumput nan hijau.
Di bawah langit biru cerah nan luas.
Mahiru yang akan selalu berada di sampingnya, dengan wajah yang nampak ceria, senang, dan juga polosnya.
Sudah sepuluh tahun berlalu sejak peristiwa tersebut.  Waktu berlalu dengan begitu cepat. Batin Guren.
Dan pada saat itulah, Kepala Sekolah berkata,
“Sambutan dari saya yang panjang ini, cukup sampai sekian. Dan setelah ini, kita akan mendengarkan sambutan dari perawakilan murid baru. Perwakilan murid baru tahun ini, telah disetujui oleh semua warga sekolah ini. Em ..., Adalah suatu kehormatan bagi kami, untuk bisa menyabut anak perempuan keluarga Hiiragi yang terhormat di sekolah ini—Dengan ini, waktu dan tempat kami persilakan bagi Nona Mahiru.”
Mengakhiri ucapannya, kepala sekolah lantas menundukkan kepalanya, meminta izin.
Lalu, dari sisi panggung, muncullah sesosok anak perempuan.
Anak perempuan dengan rambut abu-abu panjang dan cantik. Tatapan mata yang dingin dan tajam. Walaupun memiliki bentuk wajah yang dingin, namun dia sama sekali tidak terlihat dingin.
Sangat tenang, sangat anggung, namun Guren masih bisa melihat sisi polos yang sama dengan saat Mahiru masih kecil. Guren kini bisa mengerti alasan mengapa seorang memanggilnya “dewi”.
“ ..............”
Auditorium yang penuh dengan seribu lebih orang di dalamnya, kini menjadi hening tanpa suara. Ketenangan yang tak membuat orang mengira terdapat lebih dari seribu orang di dalamnya.
Semua perhatian tertuju pada Mahiru.
Tentu saja nama Hiiragi sendiri sudah memiliki kekuatan yang bisa membuat semua orang yang ada di auditorium itu terdiam. Namun, apa yang terjadi saat ini, bukanlah hanya dikarenakan kekuatan nama itu saja.
Terlihat, adanya semacam aura kuat dari dalam diri Mahiru, yang dapat membuat para murid diam takbergerak.
Mahiru melangkah menaiki podium.
Dia lantas menatap semua murid, menundukkan kepala sedikit sabagai tanda salam, lalu tersenyum dengan lembut.
“Terima kasih, atas sambutan dan pekenalannya. Saya Hiiragi Mahiru. Di sini, saya akan menyampaikan sambutan sebagai perwakilan dari murid baru. Senang berkenalan dengan semuanya, dan mohon bimbingannya.”
Suara yang terdengar sangat nyaring.
Hanya dengan suara itu saja, seakan dia sudah dapat menyihir seluruh ruangan auditorium.
Dari samping Guren, Mito melihat Mahiru dengan wajah yang terpesona.
Dan jauh berjarak beberapa murid ke depan, Hiiragi Shinya melirik ke arahnya.
Dan tentu saja, Mahiru tidak menatap Guren. Di antara seribu orang yang memenuhi auditorium itu, pastilah sulit untuk dapat menemukan dirinya.


                      Ah ... atau,
“Mungkin dia tidak tertarik dengan Ichinose, si tikus rendahan dan punya nilai paling jelek pula.”
Mahiru melanjutkan pidato sambutannya dengan suara nyaring yang seakan tengah bernyanyi. Guren yang menatapnya pun berpikir.
Jarak antara dirinya dan Mahiru tidaklah berubah. Jarak yang tidak berubah sejak dahulu.
Sang dewi dan seekor tikus yang merangkak di atas tanah.
Guren yang memikirkan hal itu, lantas tertawa kecil, dan dia pun ...
“Hahaha ...”
... mengepalkan tangannya tanpa diketahui oleh siapa pun.

***

Malam.

Tepat pukul 19.30

Setelah diperdengarkan mengenai kurikulum yang berlaku kali ini, Guren dan murid-murid lainnya diharuskan mengikuti beberapa ujian ilmu sihir, walaupun mereka baru saja melakukan upacara penerimaan murid baru. Setelah ujian tersebut berakhir, Guren dan yang lainnya kembali ke rumah.

Rumah yang didiami Guren, berjarak kira-kira 15 menit jika berjalan dari sekolah. Sebuah mansion pencakar langit.

Kamar seluas 5 LDK[1] yang sengaja disewa oleh Keluarga Ichinose, agar Guren dapat bersekolah di SMA Unggulan Shibuya.

Dan bukan hanya itu. Untuk mencegah agar musuh tidak menyusup, semua kamar di setiap lantai pun disewa oleh keluarga Ichinose. Mereka juga memasang perangkap ilmu sihir di masing-masing ruangan untuk menghindari penyusup. Dan begitulah sikap kewaspadaan mereka.

Bisa dikatakan, di lantai itu, terdapat 4 kamar lain, selain kamar yang kini ditinggalin Guren. Jika dijumlah keseluruhan dengan lantai atas dan lantai bawah, maka seharusnya terdapat 14 kamar lainnya. Namun,

            “Kenapa kalian ada di kamar yang sama denganku?”

Dengan duduk menyilangkang kakinya di sofa ruang tamu, Guren mengatakan hal itu kepada kedua gadis yang ada dihadapannya, dengan wajah keheranan.

Kedua gadis itu adalah dua pelayannya. Yukimi Shigure dan Hanayori Sayuri.

Pada perjanjian awal, seharusnya kedua gadis tersebut tinggal di kamar yang bersebelahan dengan kamar Guren. Namun kini, kedua gadis tersebut memanggul barang bawaannya, dan pindah ke dalam ruangan Guren.

            Shigure menjawab pertanyaan Guren.

            “ ..... Sebagai pengawal, kami memang tidak seharusnya berpisah dengan Tuan Kami, di saat apapun—“

            “Kalian menganggu!”

            “Eh .....”

            Sayuri kemudian berkata,

            “Te-tetapi, tetapi ... kamar ini seluas 5 LDK. Sebagai pengawal Anda, kami akan berusaha untuk beraktifitas yang tidak akan menganggu Tuan Guren. Sebisa mungkin, dan sebaik mungkin.”

            “Tapi kalian tidak pernah bisa, kan!”

            “Eh ......”

            “Sudahlah, keluar sana! Aku benci yang namanya berisik.”

            “Tetapi ...”

            “Tidak ada kata ‘tetapi’. Sudah! Keluar sana!”

            Perintah Guren sambil menujuk ke arah pintu keluar.

            Kemudian kedua gadis pengawal itu pun mengangguk seraya berkata.

            Dimulai dari Shigure.

           “ ....... Oke, Sayuri. Pertama-tama, kita pura-pura menuruti perintah Tuan Guren dan keluar. Lalu kita kembali lagi di tengah malam.”

            Lalu, Sayuri yang mendengarnya pun menepuk kedua tangannya, dan berkata,

            “ Yuki-chan memang luar biasa! Kamu cer—“

            “Cerdas apanya!”

            Ujar Guren dengan suara marah.

            Dia lantas menghela napas, dan berkata.

            “Kalian ini pengawalku. Tapi sama sekali tidak pernah mau dengar kata-kataku.”

            Shigure pun protes.

            “Tetapi, kami hanya berpikir untuk memprioritaskan keselamatan Tuan Guren, dalam situasi apa pun.”

            Sayuri hanya mengangguk-angguk tanda setuju.

            “Ya, benar. Demi Tuan Guren, kami telah mempersiapkan diri untuk mengorbankan nyawa kami.”

            Keduanya sama sekali tidak memperlihatkan keinginan untuk keluar dari kamar itu. Guren pun lantas berpikir seraya melipat tangannya.

            Berpikir mengenai penderitaan macam apa yang akan dia alami karena harus tinggal di bawah atap yang sama dengan dua orang gadis selama 3 tahun nantinya.

            Ditambah lagi, mereka adalah seorang gadis dan lelaki yang menginjak remaja.

            Pastinya, akan ada semacam perasaan untuk saling menoleransi satu sama lainnya. Dan hal itu sangat-sangat merepotkan. Bagi Guren, benar-benar merepotkan.

            Karena itulah, dia berkata.

            “Lagian, kalian bilang ingin tinggal di ruangan yang sama. Memangnya kalian tahu, apa maksud sebenarnya perkataan itu?”

            Sayuri lantas mengelengkan kepalanya, dan berkata.

            “Anda bertanya apa arti dari tinggal bersama?”

            “Ya.”

            “Memangnya, apa arti sebenarnya dari hal itu?”

            Guren lantas menjawab.

            Dia menjawab seraya menunjuk ke arah kotak kardus yang berada di pojok ruangan. Kotak tersebut belumlah dibuka. Guren pun bekata,

            “Apa kau tahu, isi kotak kardus itu?”

            Sayuri lantas menoleh ke arah yang ditunjuk Guren. Ia melihat kotak kardus itu, dan bertanya.

            “Apakah isinya?”

            “Buku porno, tahu!”

            “Eh ....!!”

            Sekejap, ekspresi wajah Sayuri pun menjadi kaku.

            Sebenarnya, isi dari kotak kardus itu bukalah buku porno. Tetapi, untuk saat ini, kenyataan sebenarnya akan isi dari kotak itu tidaklah penting.

            Guren lantas tertawa jahil dan melanjutkan perkataanya,

            “Yah, dengan kata lain, itulah maksudnya. Kalau kau mau tinggal bersama dengan seorang pria, itu artinya kau juga siap untuk hal semacam itu, kan?  Lalu, apa kau masih mau tinggal di sini walaupun harus seperti itu?”

            “ .... I, itu adalah .....”

            “Baiklah. Kalau kau sudah paham bahwa tidak mungkin kita tinggal bersama, cepat keluar sekarang ju—“

            “Ti-tidak masalah!”

            Ujar Sayuri memotong pekataan Guren. Dan entah karena apa, wajahnya sangat merah dan matanya pun terpejam dengan sangat erat. Dia pun melanjutkan,

            “Em, tentang hal seperti itu pun, saya sudah dijelaskan oleh Ayah saya dengan sangat jelas.”

            “Hah?”

            “Anu, em ... Kalau Tuan Guren perlu, te, tetetete, teman tidur di saat malam, itu juga sudah merupakan salah satu tugas saya.”

            “Hal bodoh macam apa yang ayahmu jelaskan, sih?”

            “Se, sesesese selain itu, kalau demi Tuan Guren, saya bersedia melakukan ‘hal itu’ ... karena itu, Tuan Guren tidak perlu memakai buku porno .......”

            “Sudahlah! Cepat keluar sana! Dasar bodoh!”

            Mendengar ucapan Guren, Shigure yang sendari tadi berada di sisi Sayuri berkata dengan suara kecil kepada Sayuri.

            “Oi, Sayuri .”

            “Iya?”

            “Tenang saja. Isi kotak kardus itu bukan buku porno. Tapi dokumen penelitian ilmu sihir.”

            “Eh?”

            “Tidak mungkin Tuan kita membaca buku rendahan semacam buku porno, kan? Karena Tuan Guren sudah sangat sibuk dengan berbagai macam latihan yang keras. Jadi, Tuan Guren tidak mungkin punya waktu untuk hal semacam itu.”

            Mendengar penjelasan itu, wajah Sayuri pun menjadi cerah kembali.

            “Be-benar sekali! Tuan Guren memang hebat!”

            “ .............”

            “ Tetapi, Jika Tuan Guren memerlukan hal seperti itu. segeralah bilang kepada saya. Sa-saya pun, sudah memiliki persiapan hati untuk hal semacam itu.”

            “ ............”

            Shigure kemudian lanjut berkata,

            “Nah, kalau begitu, saya akan memulai membersihkan ruangan. Sayuri kau .... ”

            “Ah, kalau begitu, saya akan  menyiapkan makan malam, ya .... Tuan Guren ingin makan apa?”

            Mereka berdua kemudian mulai bergerak seakan-akan semua pembicaraan tadi telah selesai, walaupun sama sekali belum ada penyelesaian.

            Sambil merasa kesal dengan sikap kedua pengawalnya yang hanya bisa menentang perkataannya itu, Guren hanya bisa menjawab,

            “ ..... Kare.”

            Mendengarnya, Sayuri lantas menjawab,

            “Baik!”

            Dengan jawaban yang terdengar sangat riang gembira, kedua gadis itu sudah benar-benar penuh dengan semangat tinggal di kamar  tersebut. Dan mereka pun, mulai bergerak dengan cepat.

            “ ..... Haa.”

            Guren hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, penuh rasa lelah.

            Dia lantas mengambil  handphone yang ada di atas sofa, dan menelepon ke rumah. Setelah beberapa kali menelepon, akhirnya dia mendapat jawaban.

            (“Guren, ya?”)

            Yang mengangkat teleponnya adalah orang yang memimpin keluarga Ichinose.

            Dengan kata lain, ayah Guren sendiri.

            Guren menjawab pertanyaan ayahnya itu.

            “Ya, ini aku.”

            (“Bagaimana kondisi di sana?”)

            “Para pelayanku tidak mau mendengarkanku.”

            (“Haha, karena itu adalah perintahku.”)

            “Jangan beri perintah yang nggak perlu, deh.”

            (“Lalu, bagaimana sekolahmu?”)

            Mendengar pertanyaan ayahnya itu, di kepala Guren kemudian kembali terbayang kejadian yang dialaminya hari ini.

            Tentang, kepalanya yang pagi-pagi sudah disambut dengan lemparan minuman bersoda di jalan menuju sekolah. Tentang Hiiragi Shinya. Lalu tentang Mahiru yang ada di sekolah ini. Juga tentang dirinya yang merasa ayahnya menyembunyikan berita pertunangan Mahiru kepada dirinya.

            Guren teringat semua hal itu.

            “Tidak ada apa-apa. Biasa saja.”

            (“Oh, begitu. Biasa saja, ya?”)

            “Ya.”

            (“Yah, kau itu memang berbeda dengan Ayah. Kau itu kuat.”)

            “Justru Ayah yang lebih kuat. Aku ini mudah emosional.”

            (“Haha .... benarkah? Tapi, kalau kau butuh bantuan—“)

            Guren memotong perkataan Ayahnya.

            “Itu bukan masalah. Kalau aku tidak bisa mengatasi masalah semacam ini, maka aku tidak pantas menyandang nama penerus keluarga Ichinose, kan?”

            (“Begitu, ya .... Sebagai ayahmu, aku ingin bisa sedikit membantumu. Tetapi, tenyata kau adalah anak yang sudah melampui ayahmu, ya.”)

            “Ah, enggak juga, kok. Ngomong-ngomong, bagaimana kondisi di sana?”

            (“Seperti biasa. Jangan khawatir.”)

            “Oh, begitu. Kalau begitu, baguslah. Sudah, ya, aku tutup.”

            (“Baiklah. Oh, ya, Guren.”)

            “Apa”

            (“Hati-hati, ya ....”)

            Ujar ayahnya. Guren lantas mengangguk dan menjawab.

            “Baiklah. Sampai nanti.”

            (“Baik.”)

            Dan pembicaraan mereka pun berakhir.

            Melihat sepertinya Guren telah selesai menelepon. Shigure pun lantas bertanya.

            “Tuan Guren.”

            “Ya?”

            “Apakah ada barang yang Anda ingin bongkar terlebih dahulu?”

            Guren membalikkan arah ke arah Shigure, lalu menjawab
.
            “Tidak ada. Biarkan saja barang bawaanku. Kalian urus saja barang bawaan kalian sendiri.”

            “Tetapi ....”

            “Aaargh, kalau begitu barang-barang yang ada di ruangan pojok ruang masuk. Tolong, itu yang didahulukan. Karena isi barang-barang itu adalah peralatan sihir.”

            “Saya mengerti.”

            Shigure menganggukan kepalanya, lalu berjalan masuk ke ruangan di ujung ruang masuk dengan langkah kecilnya.

            Guren memandang sosok mungil itu dari belakang. Dia lantas memanggil Sayuri yang berada di dapur.

            “Oi, Sayuri.”

            “Baik, Tuan. Ada apa?”

            “Kira-kira berapa lama lagi makan malamnya siap?”

            “Em, jika Anda tidak keberatan  tanpa direbus dahulu, kira-kira masih satu jam lagi ....”

            “Oh, begitu. Satu jam, ya?”

            “Apakah Anda ingin lebih cepat?”

            “Tidak. Rebus saja sekalian. Aku akan tiduran sebentar di kamar sebelah.”

            Setelah berkata demikian, Guren bangkit. Dia lalu mengambil kantong panjang berwarna hitam yang diletakkan di ujung ruang tamu.

            Kantong tersebut berisi pedang jepang yang disebut dengan katana.

            Keluarga Ichinose adalah keluarga yang mengutamakan perkembangan ilmu sihir pada kombinasi teknik pedang dan jurus sihir. Maka dari itu, jika mengenai teknik penggunaan pedang, kehebataan keluarga Ichinose tidaklah kalah dari keluarga Hiiragi.

            Karena itulah, jika Guren tidak menggunakan katana-nya, maka dia tidak akan bisa mengerahkan seluruh kekuatan yang dimilikinya. Tetapi, Guren sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menarik katana-nya di sekolah itu.

            Dia berencana untuk lulus, tanpa memperlihatkan kekuatan sebenarnya yang dimilikinya. Juga tanpa memperlihatkan ilmu sihir yang dikembangkan oleh keluraga Ichinose kepada orang-orang dari keluarga Hiiragi.

            Tetapi, selama jangka waktu itu, Guren tetap perlu berlatih.

            Guren pun mengambil kantong berisi katana tersebut, dan menggendongnya di pundak. Dia lantas menyembunyikan keberadaannya, agar Sayuri dan Shigure tidak menyadari pergerakannya.

            “ .............. “

            Dan Guren lantas menyelinap keluar ruangan.

            Tujuannya adalah satu lantai di atas lantai ini.

            Keluarga Ichinose seharusnya telah menyiapkah suatu ruangan di lantai tersebut yang telah dimodifikasi sepenuhnya, untuk menjadi tempat berlatih. Karena itulah, Guren bertujuan untuk menuju ke sana.

            Dari pintu masuk, Guren menuju ruangan elevator. Dia menekan tombol nomor lantai tujuan, dan menunggu elevator datang.

            Mansion ini mempunyai dua sistem pengunci otomatis. Yaitu, hanya orang yang tinggal di mansion itu, atau hanya orang yang mendapat izin dari orang yang tinggal di mansion itu yang bisa menggunakan elevator. Selain itu mereka hanya bisa turun di lantai yang telah diizinkan. Namun, di dalam elevator yang telah dinanti Guren tersebut, terdapat orang lain di dalamnya.

            Mansion ini adalah mansion yang terdiri atas 27 lantai.

            Dan lantai di mana Guren menanti elevator tersebut adalah lantai ke-25. Dengan kata lain, lantai tujuan Guren adalah lantai ke-26. Lantai yang seharusnya sudah disewa semuanya oleh keluarga Ichinose. Sedang lantai ke-27 adalah lantai tempat tinggal pemilik mansion ini bersama dengan keluarganya.

            Dan sekarang ini, ada seorang pria yang berada di dalam elevator.

            Pria yang mengenakan setelah hitam. Umurnya sekitar 20 tahun lebih. Dan kalau pria ini bisa menaiki elevator sampai ke lantai ini, berarti dia adalah salah satu anggota keluarga Ichinose, atau salah satu anggota keluarga pemilik mansion ini.

            Guren menatap pria tersebut dari luar elevator.

            Pria tersebut lantas tersenyum dan menundukkan kepalanya.

            “Selamat siang. Apakah Anda akan menuju ke lantai atas?” tanya pria tersebut.

            Guren mengangguk dan menjawab,

            “Ah, iya. Apakah Anda akan ke lantai 27?”

            Pria itu pun tersenyum tipis dan mengangguk.

            “Ya.”

            “Kalau begitu, Anda adalah keluarga dari pemilik mansion ini?”

            “Ya, benar.”

            “Oh, ya ... begitu, ya. Kalau begitu, selama tiga tahun ke depan, saya akan banyak merepotkan Anda.”

            “Ah, tidak-tidak. Kami pun demikian. Kami merasa sangat senang, keturunan dari keluarga yang luar biasa, bersedia tinggal ditempat kami,ujar pria tersebut.

            Guren menganggukkan kepalanya, lantas masuk ke dalam elevator. Ia kemudian berbalik arah, dan melihat tombol nomor lantai yang dipilih di dalam elevator tersebut.

            Tombol nomor lantai yang dipilih pria tersebut, bukanlah lantai 27 di mana pemilik dan keluarganya tinggal. Tapi justru, tidak ada satu pun nomor lantai yang dipilihnya.

            Itu berarti lantai yang menjadi tujuan sebenarnya pria ini adalah lantai 25. Tempat di mana Guren berada. Tetapi, pria ini lantas berbohong dengan berlagak seakan-akan anggota keluarga dari sang pemilik. Dan lagi, seharusnya pria ini tahu, bahwa begitu Guren masuk ke dalam elevator, semua kebohongannya tersebut akan segera terbongkar.

            Itu artinya, pria ini adalah seorang,

            “Pembunuh bayaran, ya?

            Guren lantas merendahkan bahunya. Dengan segera melepas bungkusan kantong yang digendongya, dan menarik katana dari sarungnya. Meskipun seharusnya menarik pedang di dalam ruangan sempit seperti elevator ini adalah hal yang sulit, namun Guren sudah terbiasa dengan hal itu.

            Guren sudah mendapat latihan sejak kecil agar dia bisa menggunakan pedangnya dalam kondisi dan situasi apa pun dan di mana pun.

            Pria tersebut pun telah bereaksi melihat sikap Guren. Tidak, lebih tepatnya, pria tersebut seakan telah menanti sikap Guren tersebut. Pria itu lantas mengambil sesuatu dari kantongnya. Itu adalah sebuah rantai. Rantai yang begitu Guren sadari, sudah membelit di katana miliknya.

            Rantai tersebut telah dimantrai dengan beberapa macam mantra sihir. Mantra sihir yang jarang sekali Guren lihat. Setidaknya, itu bukanlah mantra sihir yang biasa dipakai oleh keluarga Hiiragi.

            Mantra sihir yang biasa digunakan oleh keluarga Hiiragi, berdasar pada teknik tradisional rahasia, berasal dari ajaran agama buddha yang disebut, Mikkyou. Teknik tersebut digabungkan dengan teknik tradisional Onmyoudou yang merupakan teknik kosmologi rahasia, gabungan dari ilmu pengetahuan alam dan ilmu gaib. Teknik tersebut adalah teknik yang dikembangkan secara rumit dengan menggunakan gabungan dari  ilmu pengetahuan sihir di seluruh dunia. Dan keluarga Ichinose yang merupakah pecahan dari keluarga Hiiragi, seharusnya bisa sedikit memahami mantra sihir tersebut.

            Namun, dasar mantra sihir yang digunakan oleh pria tersebut berbeda jenis dengan yang digunakan oleh keluarga Hiiragi maupun keluarga Ichinose. Kemungkinan besar, mantra sihir yang digunakan pria ini berdasarkan pada mantra sihir dari negara Eropa. Mungkin semacam teknik tradisional rahasia, berasal dari ajaran agama Yahudi yang disebut Kabbalah? Atau bisa juga teknik yang sangat berbeda dari Kabbalah? Dan sepertinya, ilmu sihir tradisional Jepang juga digabungkan di dalamnya. Intinya, Guren tetaplah tidak bisa memahami teknik apa itu.

            Pria itu bermaksud untuk menjerat katana milik Guren dengan rantai yang telah dimantrai oleh mantra-mantra yang tidak diketahuinya itu.

            Guren lalu mendendang perut pria itu. Membuatnya gagal merebut katana miliknya. Dengan jari tangan kirinya ia kemudian menyetuh kerah seragamnya, dan menarik kertas mantra yang disembunyikan di situ. Guren lantas membaca mantra kuji dengan cepatnya. Kuji merupakan salah satu mantra dari teknik Mikkyou dengan sembilan suku kata yang harus diucapkan.

            Dalam sekejap, kertas mantra itu pun terbelah menghilang, bersamaan dengan munculnya kilatan putih nan cepat dihadapan pria tersebut.

            Itu adalah kilat yang berbeda dengan apa yang digunakan oleh Shinya untuk menyerang Guren pagi ini. Dibandingkan dengan yang digunakan Shinya, kilat kali ini lebih kuat, lebih halus, dan memiliki kekuatan yang sangat mungkin untuk membunuh orang.

            Mata pria tersebut lantas terbelalak. Kilat iblis yang kecil pun masuk dan menusuk bola mata pria tersebut. Jika saja lawannya adalah orang biasa, maka pastilah mata lawannya sudah hancur berkeping-keping.

            Guren tetap terus bergerak tanpa henti. Ia menghunuskan katana yang tadi telah dilepaskan dari sarungnya ke leher sang lawan.

            Dan pria tersebut pun berkata,

            “Hahaha, luar biasa .... benar-benar tanpa ampun.”

            Seraya berkata demikian pria tersebut mengangkat tangan kanannya, menahan hunusan katana Guren yang mengincar lehernya.

            Guren tak peduli, dan terus menghunuskan katana-nya. Hunusan katana yang begitu tajam hingga tidak hanya bisa menebas putus lengan sang lawan, namun juga bisa tembus menebas putus leher lawannya.

            Tetapi,

TRAANG

            Terdengar suara melengking nyaring. Suara yang dihasilkan dari benturan dua benda yang terbuat dari bahan logam. Hunusan katana Guren terhenti.

            Katana miliknya berhasil mengenai tulang lengan pria tersebut. Seharusnya, jika itu adalah lengan orang pada umumnya, maka lengan itu sudah putus terpotong. Tidak hanya itu. Bahkan jika seandainya lengan tersebut dilindungi oleh baju zirah dari besi, Guren yakin bisa memotongnya.

            Namun yang terjadi, katana miliknya justru terhenti.

            Pria itu pun menatap Guren dan tertawa.

            Bahkan mata milik pria tersebut tidak hancur. Dari sayatan lengan yang dihasilkan oleh katana milik Guren, keluar semacam asap hitam. Asap itu dengan segera menuju ke arah Guren, seakan-akan asap tersebut memiliki kesadaran untuk mengincarnya ....

            “Sial! Di tempat sempit seperti ini, sangat tidak menguntungkan.”

            Guren lantas mundur ke belakang. Melompat keluar dari elevator. Dan bersamaan dengan itu, dia menarik beberapa kertas mantra sihir yang ada di saku seragamnya. Melemparnya ke empat sudut pintu keluar-masuk elevator. Pelindung penghalang pun terbentuk.

            Penghalang yang akan membunuh siapa saja yang keluar dari pelindung tersebut.

            Guren pun mengembalikan katana ke sarungnya. Menyantelkannya ke sabuk yang terdapat di pingangnya. Dan memasang kuda-kuda yang akan selalu siap sedia menarik katana tersebut kapan pun juga.

            Dia lalu berkata kepada pria dengan pakaian serba hitam, yang masih berada di dalam elevator. Dilihatnya pria tersebut tertawa dengan sinis.

            “Ayo, keluarlah! Selanjutkan akan kutebas lehermu hingga putus!”

            Namun, pria tersebut tidak melangkah keluar.

            Seraya tertawa dengan nada yang terdengar bergembira, pria tersebut menggunakan lengannya yang terayun-ayun tak beraturan karena tebasan pedang Guren. Digunakannya lengan itu untuk menekan tombol “terbuka”, mencegah pintu elevator tertutup.

            “Uwaaa, luar biasa. Benar-benar penerus keluarga Ichinose. Mengerikan sekali. Kau bisa tanpa ragu-ragu menebas orang yang kebetulan satu elevator denganmu ....”

            Guren menatap lengan pria itu  yang mengeluarkan asap hitam dan berkata.

            “Kau itu bukan manusia, kan!”

            “Wah, sayang sekali, ya ....”

            “Tapi kau ini bukan vampir. Karena mereka itu tidak tertarik kepada manusia.”

            “ ................. “

            “Kalau begitu, kau ini adalah pembunuh bayaran yang disuruh oleh seseorang?  Apa kau pembunuh bayaran dari keluarga Hiiragi?”

            Pria itu lantas tertawa dan merentangkan kedua tangannya.

            “Jawaban yang cer—“

            Namun, Guren memotong perkataan pria tersebut dan berkata.

            “Jangan membodohiku! Mantra di rantai yang kau gunakan, bukan mantra dari keluarga Hiiragi. Lagipula, keluarga Hiiragi tidak akan menyuruh pembunuh bayaran untuk membunuh orang dari keluarga Ichinose yang bodoh ini. Katakan! Siapa sebenarnya kau ini?”

            Kemudian, Guren merendahkan kuda-kudanya. Dia memusatkan seluruh kekuatan untuk menarik pedangnya ke dalam tubuhnya. Agar dapat memberikan sihir yang kuat kepada sarung katana-nya, dan untuk dapat mengaktifkannya. Dengan jari kelingking dan jari manis tangan kanannya, berulang kali dan berulang kali, Guren menuliskan mantra sihir di udara. Dan akhirnya semua mantra sihir tersebut telah selesai. Itu adalah semacam mantra kutukan yang sangat kuat hingga membuat katana miliknya berubah menjadi sangat merah seluruhnya.

            Lalu Guren berkata, dan menghadap ke pria tersebut.

            “Kalau kau tak berkata jujur, kubunuh kau!”

            Pria tersebut lantas menatap Guren dan menjawab.

            “Wah, kau menyadarinya sampai sejauh itu. Wah, wah. Seperti yang kuduga, kau itu memang lebih unggul—“

            Namun ditengah perkataan pria tersebut, Guren menarik pedangnya.

            Lagipula dari awal dia tidak bermaksud untuk berbincang-bincang dengan pria itu. Karena sejak awal, pria itu tidak ada niatan untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Saat Guren bertanya apakah dia adalah pembunuh bayaran yang dikirim oleh keluarga Hiiragi, dan pria tersebut bohong dalam menjawab, Guren sudah memahami, bahwa percuma saja berbicara dengannya.

            Karena itulah dia menarik pedangnya.

            Dalam sekejap wajah pria tersebut menjadi terlihat tekejut.

            Tapi ekspresi terkejutnya itupun hanya sekejap saja.

            Ayuhan katana Guren mengenai bagian kanan bawah pria tersebut. Langsung menghantam tulang rusuk pria itu. Namun, sama seperti saat katana Guren mengenai tulang lengan pria itu, lagi-lagi terdengar suara “TRAANG” .  Suara yang dihasilkan oleh katana Guren, berbenturan dengan benda yang terbuat dari logam. Namun,

            “Terbelahlah .....!” Teriak Guren.

            Katana berwarna merah tua itu pun bergetar hebat, dan mulai bergerak membelah. Melaju membelah dari tulang rusuk yang terpotong menuju ke atas, hingga ke bahu sebelah kiri. Jika dengan ini, pria tersebut tidak mati, maka sudah pasti dia benar-benar seekor monster.

            Dan.

            “Haha!”

            Pria tersebut menatap Guren dan tertawa.

            Ternyata pria tersebut memang benar-benar seekor monster.

            Dari bagian tubuh yang terpotong itu, kemudian muncul asap hitam, dan rantai yang mantrai dengan mantra-mantra sihir yang tidak dikenal oleh Guren. Asap dan rantai tersebut berusaha untuk membelit Guren.

            Sekali lagi Guren melocat mundur ke belakang, keluar dari elevator. Namun lengan kanannya yang menggenggam katana berhasil tertangkap. Guren yang mendapati situasi tersebut lantas bepikir. Apakah ia harus memotong lengannya? Tapi kalau begitu, katana miliknya pasti akan direbut oleh pria itu bukan? Ataukah dia mencoba sekali lagi untuk menebas pria itu, dan mengacuhkan rantai yang ada itu?

            Tapi, apakah itu adalah sebuah pilihan yang tepat? Memilih untuk melanjutkan pertarungan di dalam elevator yang sempit. Ditambah lagi, Guren belum melihat kekuatan sebenarnya lawannya itu dengan sepenuhnya.

            Tetapi yang menjadi masalah sebenarnya adalah asap hitam itu.

            Rantainya bukanlah masalah yang berarti. Karena Guren sudah bisa memahami kekuatan apa yang dimiliki oleh rantai itu. Namun, asap itu. Kekuatan apa yang dimiliki oleh asap itu? Guren belumlah bisa memahaminya. Tapi sepertinya, jika dia bernapas di dalam kepulan asap itu, akan sangat berbahaya. Oleh karena itu, selama bertarung di dalam elevator, tak pernah sekali pun Guren mengambil napas.

            Pria tersebut lantas berkata.

            “Kau ini benar-benar luar biasa, ya. Seharusnya kau sudah tidak bisa bergerak karena terkena efek racun dari asap ini .... Jadi, apakah selama kita bertarung, kau sama sekali tidak mengambil napas?”

            Guren menatap tajam lawannya dan berkata.

            “Aku sama sekali tidak minat dipuji olehmu yang masih segar bugar, walau badanmu sudah terbelah dan terkena kutukanku, tuh.”

            “Ahaha, badanku ini, luar biasa, kan?”

            Lagi-lagi pria tersebut telihat sangat senang dan merentangkan kedua tangannya. Rantai dan asap yang ada, kemudian membumbung ke udara seakan mereka memiliki tubuh dan juga kesadaran diri. Melihat hal itu Guren berkata,

            “Mahkluk apa sebenarnya kau ini?”

            “Menurutmu apa?”

            “Monster.”

            “Haha. Biarpun begitu, pada dasarnya, aku ini seorang manusia, loh,ujar pria tersebut.

            Guren pun mengerutkan kening mendengar perkataan tersebut.

            “Manusia .... Manusia, ya? Jadi, kau ini semacam Chimera hasil percobaan pada tubuh manusia, begitu?”

            Pria tersebut tersenyum dan menjawab.

            “Ya. Keluarga Ichinose, si orang-orang Mikado no Tsuki juga melakukan hal yang sama, bukan?”

            Guren menggeleng mendengar pernyataan itu.

            “Aku tidak tahu apakah keluarga Hiiragi melakukannya. Tapi kami tidak melakukannya. Lagian, tanpa percobaan tubuh manusia pun, aku jauh lebih kuat darimu.”

            “Ahaha, mungkin saja, ya.”

            “Lalu? Sudah cukup sikap pamermu itu. Katakan! siapa kau ini sebenarnya! Dari organisasi apa? Dan buat apa kau datang kemari?”

            Seakan hendak menjawab pertanyaan Guren dengan serius, pria tersebut lantas menyembunyikan rantai ke dalam tubuhnya. Asap hitam yang ada pun menghilang. Tidak hanya itu. Luka serta bajunya yang terpotong pun kembali menyatu dengan sempurna. Guren tidak mengerti mekanisme tubuh semacam apa, yang mampu membuat hal tersebut terjadi. Apakah baju setelan itu juga merupakan bagian dari tubuh pria itu? Ataukah itu adalah bagian terpisah dari tubuh pria itu?

            Guren lantas berpikir,

            Mungkin, lebih baik kucoba membakar asap itu dengan mantra sihir api pada serangan yang berikutnya, ya?

            Dan pada saat itu, pria tersebut menyebutkan namanya.

            “Kalau begitu, pertama-tama, akan kuperkenalkan diriku. Namaku adalah Kijima makoto. Dari organisasi ‘Gereja Hyakuya’”

            “ Gereja Hyakuya?”

            Guren menggumankan nama tersebut dan mengerutkan keningnya.

            Gereja Hyakuya termasuk organisasi berskala besar di negara Jepang ini. Katanya, lembaga negara rahasia menjadi menyokong dari organisasi sihir berskala besar tersebut.

            Banyak politikus yang menerima bantuan dari Gereja Hyakuya. Orang biasa pada umumnya tidak mengetahui hal ini. Namun, Gereja Hyakuya adalah sebuah organisai besar yang bisa dikatakan, dapat mengendalikan negeri tersebut dari balik bayangan.

            Dan setiap kali terdapat pergantian  organisasi ilmu sihir yang akan memimpin negeri ini dari depan dan balik layar, maka pertarungan perebutan kekuasaan pasti akan terulang dan semakin meluas. Pertarungan antara Gereja Hyakuya, dan Keluarga Hiiragi, yang juga merupakan salah satu organisasi sihir berskala besar di negara ini. Namun, sejak Perang Dunia II berakhir, Gereja Hyakuya mendapat bantuan dari Amerika, dan menempati posisi sebagai organisasi pusat ilmu sihir.

            Menurut kabar, Gereja Hyakuya akan melakukan segala cara untuk bisa mendapatkan kekuatan dan juga kekuasaan.

            Membunuh.

            Menculik.

            Bertempur.

            Dan juga, percobaan pada tubuh manusia.

            Ada pula kisah menyeramkan yang sangat terkenal, mengenai anak-anak di panti asuhan yang dikelolah oleh Gereja Hyakuya. Katanya, orang tua dari anak-anak yang memiliki kemampuan istimewa akan dibunuh oleh mereka. Anak-anak itu lantas dikumpulkan di dalam panti asuhan tersebut, dan akan diberikan percobaan yang mengerikan secara berulang-ulang.

            Mungkin saja pria ini adalah salah satu monster hasil percobaan yang dilakukan oleh Gereja tersebut.

            Guren mengamati pria yang mengaku bernama Kijima tersebut. Ia lalu menurunkan katana miliknya, dan berkata.

            “Oh, begitu. Jadi, kalian si politisi yang gila kekuasaan itu, ya? Lalu, ada perlu apa Gereja Hyakuya denganku?”

            Dan tanpa kehilangan tawa, Kijima berkata.

            “Ah, itu. Kami, Gereja Hyakuya ingin menawarkan perjanjian menguntungkan denganmu. Jadi kami datang menawarkan bantuan.”

            “Perjanjian menguntungkan? Perjanjian macam apa itu?”

            “Yah, tentu saja untuk menghancurkan Mikado no Oni, kan? Untuk menghancurkan keluarga Hiiragi. Kau membenci keluarga Hiiragi, kan? Karena itu, kami akan memberimu kekuatan untuk dapat menghancurkan keluarga Hiiragi. Perjanjian semacam itu, lah. Bagaimana? Tertarik untuk—“

            Namun, belum selesai pria itu berkata, Guren sudah memotong perkataannya.

            “Wah, aku nggak tertarik, tuh.”

            “Haha, kau bohong.”

            “Lagian, apa-apaan, sih, seharian ini. Apa ini semacam ujian kesetiaanku, ya? Jadi ini semacam ujian, begitu, ya?”

            Hiiragi Shinya, dan juga orang ini. Mereka ini mau melibatkanku untuk melawan keluarga Hiiragi? Oioi, ini baru hari pertamaku masuk sekolah, lho.

            Batin Guren sambil tersenyum miris sendirian.

            Kijima pun melanjutkan perkataanya.

            “Aku sudah mencari tahu mengenai masa lalumu.”

            “Wah, jangan seenaknya cari tahu masa laluku, dong.”

            “Kau sangat geram dengan situasimu saat ini, kan?”

            “Wah, wah .... lalu?”

            “Terserah pendapatmu. Tetapi kurasa sangat tidak mungkin kau bisa menghancurkan keluarga Hiiragi dengan kekuatanmu seorang diri saja.”

            “Oh .... Lalu bagaimana?”

            “Karena itulah, kami akan—“

            Lagi-lagi Guren memotong perkataan Kijima dan berkata,

            “Aku nggak tertarik, tuh. Lagian, kalau aku tertarik, aku enggak minat gabung sama kalian.”

            Kijima pun menatap Guren penuh heran dan bertanya.

            “Kenapa?”

            Guren tertawa lepas lantas menjawab pertanyaan itu.

            “Aku ini dari dulu, suka sekali hadiah utama, lho. Tetapi, kalau aku bergabung sama kalian, kalian pasti akan mengambil hadiah utama itu, kan?”

            “ ............. “

            “Kemudian, giliran Gereja Hyakuya terhormat yang akan membodoh-bodohi kami, si keluarga Ichinose rendahan? Jangan bercanda, deh! Sudahlah, cepatlah menghilang sana!”

            “ .......... “

            “Atau kau mau kubunuh untuk menghilangkan keberadaanmu?”

            Dan sekali lagi, Guren memengang sarung pedangnya.

            Melihat hal itu, Kijima hanya tertawa.

            “Kau tidak mungkin bisa menang mela—“

            “Bisa menang, kok. Kalau aku bersungguh-sungguh ingin membunuhmu. Dipertarungan selanjutnya, aku tidak akan segan-segan lagi.”

            “ ........... “

            “Sudah kuputuskan untuk membunuh semua lawan yang sudah melihat kekuatanku yang sebenarnya. Karena itu akan kutunggu lima detik. Kembali, sana. Kembali, dan sampaikan ke atasanmu, bahwa Ichinose ini, tidak akan berkhianat. Nah, aku mulai hitung, ya. Lima ..... “

            “........... “

            “Empat ....”

            Dan di saat yang bersamaan Guren menggenggam erat pangkal pedang katana-nya.

            Katana bernama Kujakumaru. Sebuah katana yang memberikan kutukan ber-aura merah yang dihasilkan oleh ilmu sihir. Guren menyentuh bagian tersegel dari Kujakumaru tersebut.

            “Tiga ....”

            Dan di saat hitungan ketiga itu, ekspresi wajah Kijima yang dari awal terlihat santai pun berubah.

            “Aa! Sial. Apa-apaan, tuh. Sikapmu itu benar-benar berbeda dari yang sebelumnya .... Jadi, yang tadi bukan hanya gertakan? Baiklah, aku mengerti. Aku akan kembali.”

            “Dua ....”

            “.....................”

            Kijima kemudian menarik tubuhnya, dan menekan tombo “tertutup” elevator. Pintu elevator pun mulai tertutup perlahan-lahan. Dan di saat itulah, Kijima berkata.

            “Tapi, kau pasti akan menyelesali keputusanmu, untuk tidak bergabung dengan ka—“

            “Satu ....”

            Di saat itulah, elevator mulai melaju kebawah. Dan sosok Kijima pun menghilang.

            Guren melihat elevator yang beranjak turun tersebut.     

            “ ..... Haah! Gereja Hyakuya, ya. Mungkin saja, dalam waktu dekat ini, akan terjadi peperangan, nih?”

           Ujar Guren sambil mengambil nafas kecil. Dilepaskannya katana dari genggaman tangannya.

            Dan sempat terbersit dipikiran Guren, jika memang hal demikian akan benar-benar terjadi, maka kesempatan untuk menghancurkan keluarga Hiiragi mungkin akan tiba.

            Lagipula, Gereja Hyakuya benar-benar sebuah organisasi berskala besar. Bahkan kabarnya, kekuatan dan Gereja Hyakuya juga meluas hingga ke negara lain. Dan apabila Gereja Hyakuya berperang melawan Mikado no Oni, maka ditengah kekacauan pertempuran itu, akan muncul kesempatan bagi mereka, Mikado no Tsuki untuk mengambil ahli kekuasaan—

           Di saat yang bersamaan dengan Guren memikirkan hal itu, terdengar suara dari jalan masuk.

            “Tuan Guren! Tuan Guren!”

            Itu adalah suara dari Sayuri, yang entah kenapa terdengar tergesa-gesa. Suara itu diikuti oleh suara langkah kaki yang berlari tergesa-gesa. Dan dalam waktu sebentar saja, Sayuri sudah dapat menemukan keberadaan Guren.

            “A, ketemu! Tuan Guren! Jangan pergi seenaknya sendiri. Itu akan sangat menyusahkan kami!”

            “Ah, itu. Aku hanya ingin berlatih sebentar .....”

            Lalu Shigure yang muncul dari belakang Sayuri berkata.

            “Ruang latihannya belum selesai kami bersihkan. Kemungkinan, baru akan selesai dibersihkan esok hari. Oleh karena itu, mohon Anda beristirahat saja dahulu, hari ini.”

            “Hem. Benar juga, ya. Hari ini memang aku sedikit merasa lelah. Kare-nya sudah jadi?”

            Mendengar pertanyaan itu, wajah Sayuri lantas berubah penuh rasa terkejut.

            “Ah! Aku tinggal kompornya masih menyala!”

            Lalu dengan segera Sayuri berlari kembali ke ruangan.

            Shigure memandang sosok Sayuri yang berlari kembali itu, dan lantas kembali menatap ke arah Guren.  Shigure pun melihat sarung katana Guren dan berkata.

            “Apakah Anda menarik pedang Anda di sini?”

            “Eh? A ... Iya, benar. Ruang elevator ini cukup luas juga, kan?”

            “Kalau begitu, apakah perlu saya siapkan ruangan ini sebagai tempat berlatih hingga esok hari? Pasti repot jika harus naik satu lantai setiap kali ingin berlatih, bukan?”

            “Wah, bagus sekali, tuh. Tolong siapkan itu.”

            Guren lantas mengambil kantong pedangnya yang terjatuh di lantai, dan mulai berjalan kembali.  Shigure pun lalu berkata.

            “Tuan Guren.”

            “Hem?”

            “Apakah terjadi sesuatu?”

            Guren lalu membalikkan badannya, dan menatap Shigure yang terlihat sedikit khawatir. Dia lantas tertawa ringan dan menjawab.


            “Tidak terjadi apapun, kok. Seperti biasa saja, kok.

----------------------------------------------------

Catatan Kaki
1. Kembali ke atas ↑     LDK : Living room, dinning room, kitchen. 1 LDK terdiri dari 1 ruang tamu, 1 ruang makan, dan 1 dapur berserta toilet. 5 LDK berarti 5 kali lipatnya

Owari no Seraph Jilid 1 Bab 3 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.