23 Oktober 2015

My Dearest Jilid 1 Chapter XXIII

Kata-kata dari Lullaby

Kepada seluruh My Dearest readers, saya ucapkan banyak terima kasih karena telah mengikuti Light Novel ini. Saya sungguh sadar jika LN ini banyak kekurangannya. Maka dari itu saya menerima masukan berupa kritik dan saran yang membangun dari kalian. Jika bisa di setiap chapter tinggalkan komentar kalian. Komentar kalian sungguh menjadi semangat bagi saya untuk melanjutkan tulisan ini.

Ngomong-ngomong bagaimana tanggapan kalian tentang LN ini? Ada yang tau kemana LN ini akan berakhir? Sad ending, Happy ending, atau malah ngegantung dan bikin penasaran hohohoho.Mula-mula kita bahas, awal mula munculnya My Dearest di tahun 2014 lalu. Yups umur LN ini udah setahun :D
Pada awalnya saya menulis My Dearest cuman menumpahkan ijamanisasi saja, cuman mengisi waktu luang. Awalnya saya gak nyangka kalau chapter My Dearest bisa lebih dari 20 chapter kayak gini. Malah bisa sampai ke seri kedua segala hahaha.

Dan tahukah kalian? My Dearest sebenarnya cuman spin off dari cerita pertama saya. Tapi entah kenapa jadi cerita ini yang berkembang melebihi cerita aslinya.

Saya ucapkan terima kasih pada Khresna Bayu Mahisa yang sudah mau membuat cover LN ini. :D Saya ucapkan terima kasih pada salah satu admin KimiNovel, yakni Mesato Ariq yang sudah mau memasukkan LN ini dalam list webnya. :D


Dan tentunya, saya berterima kasih juga pada kalian para pembaca LN ini yang sudah mau mengikuti LN ini sampai saat ini. >,<

------------------------------------------------------
MY DEAREST
JILID 1 CHAPTER XXIII
KEYAKINAN ORANG YANG DITINGGALKAN

Bagian Pertama:

Dua minggu telah berlalu, Anggela dan yang lainnya telah kembali ke daerah Dealendra. Anggela akhirnya berhasil menyelesaikan latihannya secara sempurna. Dia berhasil membuat beberapa skill baru.

Kemampuan bertarunganya pun meningkat secara signifikan.

10:00 PM di daerah Dealendra, lebih tepatnya dirumah Keisha.

Anggela, Heliasha dan Alysha terlihat kelelahan berdiri di depan pintu rumah itu. Salah satu dari mereka berniat mengetuk pintu itu

Tapi belum sempat mereka ingin mengetuk pintu, tiba-tiba.

“Selamat datang Anggela, bagaimana latihanmu?” tanya Keisha sambil membukakan pintu pada Anggela dan yang lainnya.

“......”

“Lumayan Kak,” jawab Anggela lalu masuk ke dalam rumahnya. Dia berjalan ke arah kamarnya dan berniat beristirahat.

“Kelelahan yah?” senyum Keisha. Dia mulai berbalik dan berjalan ke arah ruang keluarga.

“Ya .., sudah pasti dia kelelahan,” senyum Heliasha lalu berjalan mengikuti Keisha.

“Wajar saja kan, Kak? Selama latihan, Kak Anggela jarang sekali beristirahat,” senyum Alysha sambil mengikuti Keisha dan Kakaknya. Wajah Alysha juga terlihat kelelahan seperti Anggela.

“Benarkah?! Apa kalian tidak memperingatkannya? Bagaimana kalau dia tumbang?” tanya Keisha mulai duduk di atas sofa.

“Sudah kami lakukan ....,” senyum Alysha dan Heliasha bersamaan, mereka juga duduk di atas sofa yang berlawanan dengan Keisha.

“Kak Anggela tidak pernah mendengarkan perkataan kami,” lanjut Alysha mengeluh. Dia memejamkan matanya karena terlihat kelelahan.

“Hahahaha, dia memang seperti itu,” senyum Keisha melihat Alysha.

Kamu juga tidak ada bedanya ....,” batin Heliasha tersenyum melirik sahabatnya.

“Jadi ...., seberapa besar perkembangannya?” lanjut Keisha bertanya penasaran.

“Aku tidak percaya mengatakan ini tapi .... Dia benar-benar berkembang sangat pesat. Alysha saja dapat ia kalahkan dalam kurun waktu dua menit,” senyum khawatir Heliasha melirik adiknya yang sudah tertidur kelelahan.

“........” Keisha dan Heliasha hanya terdiam melihat wajah manis Alysha yang tertidur.

“Dia tertidur,” senyum Keisha.

“Ya ...,” senyum Heliasha, dia mulai mengelus kepala adiknya dan membaringkan adiknya di atas sofa. Setelah itu dia mulai duduk disamping Keisha.

“Tapi apa yang tadi kamu katakan itu benar, Heli?” tanya Keisha melihat Heliasha.

“Iyaa, dia mungkin saja sudah melampaui kita berdua,” senyum Heliasha bersemangat.

“Begitu yah ....,” senyum Keisha memejamkan matanya, dia bersandar pada sofa.

“Oh iya Kei, aku mau bertanya beberapa hal padamu,” tanya Heliasha penasaran.

“Hmm apa?”

“Apa kamu masih belum menceritakan hal itu padanya?”

“Hal itu ...?” untuk sesaat Keisha berpikir.

“Ohh maksudnya itu ....,” lanjutnya terlihat terkejut paham akan pertanyaan sahabatnya

“Jadi sudah kamu ceritakan padanya?”

“Pada Anggelina?” senyum sedih Keisha.

“Iya ...., Anggela sudah mengetahui kalau dirinya bukan manusia, tapi bagaimana dengan Anggelina?”

“Dia belum tau. Ini terlalu awal baginya, Heli. Selain itu Anggelina juga masih dirawat dan belum sadarkan diri,” senyum sedih Keisha.

“Anggelina itu sudah mencapai tingkat Expert, kan? Jika iya, berarti dia sudah termasuk kineser tingkat atas. Cepat atau lambat kamu harus memberitahukan kenyataan ini pada adik kecilmu itu.”

“Iya aku tahu itu.”

“Kamu ini ....” Heliasha hanya tersenyum melihat sahabatnya itu.

“.......”

 “Lalu satu hal lagi Kei,” lanjut khawatir Heliasha.

“Ehm, apa lagi?”

“Kamu masih menyembunyikan pada Anggelina dan Anggela bahwa mereka keturunan keluarga Deviluck, kan?”

“......?! ” Keisha hanya melirik sahabatnya dengan tatapan amat serius.

“Bukan apa-apa, aku hanya bertanya,” senyum Heliasha memalingkan wajah.

“Aku tidak terlalu peduli dengan nama keluarga tersebut.”

“Kamu seharusnya bangga karena mewarisi keturunan tersebut dari ibumu.”

“Harus bangga, kah?” senyum Keisha menyebalkan.

“Kamu ini harus lebih membanggakan keluarga ibumu it –“ senyum kesal Heliasha melihat Keisha.

“Heliasha, tolong jangan beritahu masalah ini pada Anggela dan Anggelina,” sinis Keisha.

“Baiklah aku tau, biar mereka yang mengetahuinya sendiri, kan?”

“Ya.”

Setelah percakapan terakhir tersebut, mereka berdua pun tertidur di atas sofa. Untuk sesaat suasana terasa sangatlah hening dan damai.

Tapi suasana tersebut tidak berlangsung lama, suasana hening itu pecah karena bunyi ketukan pintu yang cukup keras.

TOK TOK!

Suara ketukan pintu tersebut seketika membangunkan Keisha dan Heliasha.

“Si-siapa!?” tanya Heliasha yang setengah sadar, tapi pada akhirnya dia malah tidur kembali dan berbaring memenuhi sofa.

“Entahlah, biar aku yang buka,” jelas Keisha sambil berdiri dari sofanya, wajahnya terlihat sangat mengantuk.

Dia berjalan ke arah pintu keluar dan berniat membuka pintu tersebut.

Siapa sih yang bertamu semalam ini?” batinnya cukup kesal.

Krekk!

Terlihat seorang gadis berambut putih dengan wajah yang sangat mirip dengan dirinya. Gadis itu adalah Anggelina.

Dia membawa tas besar dengan kedua tangannya. Dirinya yang tadi siang masih terbaring kritis terlihat segar bugar melihat kakanya. Ya, hanya wajahnya saja yang terlihat kelelahan dan perlu beristirahat.

“Ak-aku pulang kak,” senyum Anggelina.

“Ang-Anggelina?!” tanya Keisha kaget, dirinya seketika langsung sadar sepenuhnya melihat adiknya itu.

“Iya, ini aku Kak, memangnya siapa lagi ...,” senyum manis Anggelina.

“Kenapa kamu bisa pulang? Dan juga, kenapa harus pulang selarut ini? Gimana kalau nanti kamu kenapa-napa dijalan –“ tanya Keisha merasa sangat khawatir.

“Aku gak apa-apa kak.”

“Tapi kamu kan bisa telepon kakak! Kakak bisa langsung jemput kamu!” kesal Keisha sambil merebut tas besar yang dibawa Anggelina.

“Aku gak mau ngerepotin kakak,” senyum Anggelina sambil memberikan tas besar tersebut.

“Ngerepotin?! Kamu ini yah! Bagaimana bisa ngerepotin –“

“Udah-udah Kak, boleh aku masuk? Aku ngantuk, mau tidur.”

“Ya udah deh, tapi kamu ini benar-benar sudah sembuh kan?”

“Udah Kak,” jawab Anggelina sambil berjalan ke arah kamarnya.

“Kamu yakin? Kamu enggak bohong kan –“ tanya khawatir kembali Keisha.

“Aku udah sembuh Kak.” senyum Anggelina melihat kakaknya, kemudian dia membuka pintu kamarnya untuk beristirahat.

“Di-dia enggak bohong kan?” khawatir Keisha sambil melihat Anggelina yang baru memasuki kamarnya.

Setelah menyimpas tas besar milik Anggelina, Keisha lekas berjalan ke kamarnya, atau lebih tepatnya ke lemari yang berada di dalam kamarnya.

Dia mengambil dua buah selimbut yang berwarna merah muda dan biru muda, lalu selimbut yang baru dia ambil tersebut dia pakaikan pada Alysha dan Heliasha yang tertidur di ruang keluarga.

Sambil menyelimbuti mereka berdua, dia bergumam dalam hatinya seperti ini.

Tidak mungkin Anggelina dapat sembuh secepat ini, dia itu kan mendapatkan luka yang sangat serius. Apa telah terjadi sesuatu saat dia masih di rumah sakit?”

***

Bagian kedua:

“Kakak! Kenapa kakak tidak membangunkanku?!” tanya kesal Anggela, dia berjalan cepat menghampiri kakaknya yang berada di dapur.

“Iya Kak! Kenapa Kakak juga enggak ngebangunin Anggelina!” kesal Anggelina hampir menangis, dia benar-benar menatap tajam kakaknya yang sedang memasak itu.

“Ke-kenapa kalian berdua ini?! Ini kan masih jam sembilan pag –“

“Ang-Anggelina?!” tanya kaget Anggela bukan main melihat adik perempuannya.

“Iya Kak, kenap –“

“Kamu sudah keluar dari rumah sakit?! Kapan?!” khawatir Anggela menghampiri adiknya.

“Udah Kak, kemarin malam aku pulang ...,” keluh Anggelina memejamkan mata.

“Kemarin malam?! Jam berapa Anggelina?!”

“Jam 12 malam –“

“12 MALAM?!! Harusnya kamu telepon Kakak, Kakak bisa jemput kamu! Kalau ada apa-apa gimana, hah?!” Anggela terlihat khawatir menatap tajam adiknya.

“Lagi?!” Anggelina mengalihkan pandangan dari kakak kembarnya.

“Apa maksudmu dengan kata lagi ?!”

Aku hanya lahir beda beberapa jam dengan Kak Anggela, tapi kenapa dia meperlakukan aku seperti anak kecil ...., bahkan Kak Keisha juga ...,” keluh Anggelina dalam batinnya.

“Anggelina?!”

“Eng-enggak Kak, bukan apa-apa,” jawab Anggelina memalingkan wajahnya.

“Tapi yang lebih penting kenapa kamu tidak bilang –“

“Iya iya maaf Kak! Nanti untuk selanjutnya Anggelina bakal bilang,” senyum kesal Anggelina.

“Ya udah kalau begitu, kamu duluan saja ke kamar mandinya.”

“Oh iya sekolah, aku hampir saja lupa! Makasih Kak –“

“Sekolah?” tanya Keisha kebingungan.

“Kak Keisha, mulai hari ini kita sekolah! Anggelina bakal kesiangan nih!” keluh Anggelina lalu berjalan cepat ke kamar mandi.

“Eeh kalian masih mau melanjutkan sekolah?!”

“Iya tentu saja, Kak!” teriak Anggelina dari kamar mandi.

“Kamu juga?”

“Iyalah Kak, aku gak punya alasan untuk berhenti sekolah,” jawab Anggela lalu duduk di atas kursi makan.

“Tapi ingatan kamu sudah kembali, kan?! Kamu gak punya alasan lagi bersekolah disana,” lirik Keisha pada adik laki-lakinya.

“......” Anggela hanya mengalihkan pandangan dari Keisha.

“Kamu juga Anggelina, kamu ini sudah termasuk kineser tingkat atas. Pelajaran formal seperti sekolah sudah bukan kewajibanmu lagi!” lanjut Keisha melihat pintu kamar mandi.

“Tapi Kak, aku ingin ketemu Shina dan yang lainnya! Aku gak bakal buat masalah kok!”

“Tapi kan –“

“Udah Kak, biarkan saja dia. Sebagai gantinya aku akan mengawasi Anggelina,” senyum Anggela.

“Kamu hanya ingin ke sekolah kan?!”

“......” Anggela hanya tersenyum memejamkan mata..

“Terserah kalian berdua deh.”

“Makasih Kak!” jawab Anggelina bahagia.

“Tapi Anggela, kenapa kamu tidak mandi di kamar mandi kamarmu?” tanya Keisha penasaran.

Showrlass di kamar mandiku rusak.”

“Kenapa tidak bilang dari tadi?”

“Kakak tidak bertanya,”

“Hooo .....,” Keisha hanya tersenyum kesal melihat adiknya.

Showrlass, merupakan salah satu perkembangan teknologi dari shower yang sudah memiliki kepintaran seperti android.

“Berisiknya ....! Kenapa sih harus berteriak di pagi hari seperti itu?” kesal Heliasha. Rambutnya terlihat berantakan dengan wajah yang terlihat masih mengantuk.

“Oh Heli, kamu menginap disini?”

“Astaga, sudah kubilang panggil aku Kakak, Anggela. Aku ini lebih tua darimu!” geram sangat kesal Heliasha memejamkan mata.

“Hahahahaha,” Keisha tertawa pelan sambil berjalan ke arah Heliasha, dia memberikan secangkir kopi panas kepada sahabatnya itu.

“......” Anggela hanya memalingkan wajahnya.

“Kamu mau ke sekolah?” tanya Heliasha sambil meminum kopi panasnya, dia melirik Anggela.

“Iya.”

“Tapi ini sudah jam sembilan, sudah hampir pelajaran kedua.”

“Tak apa, aku bisa ikut pelajaran setelah istirahat pertama.”

“Ohh, mau berperan sebagai anak bandel yah,” senyum meledek dari Heliasha.

“Berisik ...! Yang lebih penting, kamu juga harus membangunkan adikmu, dia juga sekolah kan –“

“Dia sudah berangkat,” senyum Heliasha sombong.

“Eh .... Ap-apa katamu?”

“Dia sudah berangkat ke sekolah, dan tentunya tepat waktu.”

“Serius! Kenapa bisa?”

“Dia anak rajin, enggak kayak kamu –“

“Aku udah selesai Kak!” senyum Anggelina yang baru saja keluar dari kamar mandi.

“Anggelina?!” tanya Heliasha terkejut melihat Anggelina. Dirinya sungguh terlihat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Eeh? Si-siapa?” tanya Anggelina kebingungan melihat Heliasha.

“Keisha!! Secemas apapun kamu terhadap adikmu, kamu tidak bisa membawa dia pulang tau! “ kesal Heliasha pada sahabatnya.

“Si-siapa yang membawa dia pulang? Dia sudah sembuh dan pulang sendiri kesini!” jawab Keisha dengan muka yang memerah.

“Kamu benar-benar sudah sembuh Anggelina?” tanya kembali Heliasha.

“Su-sudah, tapi an-anda siapa ya –“

“Coba aku periksa lukamu!” jelas Heliasha berjalan cepat menghampiri Anggelina yang masih memakai handuk. Dia mulai membuka handuk Anggelina untuk memeriksa lukanya.

“Kyaa!!” wajah Anggelina memerah sambil mendorong Heliasha yang terkejut melihat luka Anggelina sembuh total.

“It-itu namanya pelecehan seksual, Heli!” geram Anggela dengan muka yang memerah.

“Be-benar, lukamu benar-benar sudah hilang!” jelas Heliasha terkejut melihat perut Anggelina.

“Si-siapa wanita ini?” tanya Anggelina ketakutan, wajahnya memerah.

“Heli, cepat hentikan perbuatanmu –“ kesal Anggela mengalihkan pandangannya, wajahnya juga masih terlihat memerah.

“Berisiknya .., dan juga....”

“Dan juga?” tanya Anggela kebingungan melirik Heliasha.

“Menjijikannya wajahmu itu. Kamu bahkan mempunyai nafsu pada adikmu?! Dasar binatang,” senyum Heliasha dengan nada meremehkan.

“Memangnya salah siapa?!” teriak Anggela sangat kesal.

“Ka-kakak kenal dia?!” tanya Anggelina ketakutan sambil membetulkan handuknya.

“Lebih baik kamu tidak usah kenal dia, dia hanya gadis brutal –“

“Apa maksudmu itu? Aku ini kakak iparmu tau!” kesal Heliasha memukul keras kepala Anggela.

DUUK!!

Halsy, kenapa kamu punya kakak yang menyebalkan seperti ini?!” kesal Anggela dalam hati.

“Ka-kakak ipar?!” Anggelina terlihat semakin kebingungan.

“Iya, kakak ipar,” senyum manis Heliasha melihat Anggelina.

“Ma-maksudnya –“

“Anggela, Anggelina! Jika kalian tidak ingin kesiangan lebih parah lagi ....., Anggelina cepat pakai seragammu ...., dan Anggela, cepat pergi mandi sana!” kesal Keisha.

“Iya Kak!” jawab mereka melaksanakan perintah Kakaknya.

Sebelum memasuki kamar mandi, Anggela melihat kamar adiknya dan mulai berkata.

“Anggelina, kamu berangkat sekarang, kan?”

“Iy-iya, kenapa Kak?!” teriak Anggelina yang masih memakai pakaiaanya.

“Nanti tolong kasih tau pembimbing di kelas B kalau kakak bakal masuk setelah jam istirahat pertama.”

“Ohh iya Kak!”

***

Bagian Ketiga:

Ting Tong!!

Jam istirahat pertama telah selesai, para murid pun telah memasuki kelasnya masing-masing. Wajah para siswa terlihat mengeluh seakan malas untuk melanjutkan pelajaran.

Suasana ricuh masih terasa di dalam kelas B. Para siswa masih terlihat bercakap-cakap satu sama lain.

“Anggela, masih belum datang yah?” tanya khawatir Sylvia pada Salsa.

“Belum. Tapi kata adiknya, dia akan datang sekarang.”

“Ohh begitu,” senyum manis Sylvia yang bahagia.

“Kenapa? Apa kamu mau menghinanya lagi,” senyum Salsa menggoda sahabatnya.

“Enggak enggak enggak!! Mana mungkin aku melakukan hal itu!”

“Hahahahaha, iya aku juga tahu. Aku hanya menggodamu kok,” senyum Salsa.

Krekk!

Pintu masuk kelas terbuka, suasana ricuh perlahan memudar ketika pembimbing kelas B, yaitu Jim memasuki kelas. Dia mulai mengamati setiap penjuru kelas dan berkata.

“Ini mungkin menjadi kabar yang baik bagi kalian ...., Kita sebentar lagi akan mengadakan Study Tour di daerah Fros –“

“Yee!” “Hore!” “Yeah, Akhirnya!”

Teriak beberapa murid bersorak bahagia. Aura kesuraman yang sebelumnya dikeluarkan para murid seketika lenyap ketika mendengar kabar tersebut.

“Tunggu dulu! Bapak belum selesai menyampaikan keseluruhan beritanya.”

“Ssstt!!” Sylvia terlihat memberi peringatan pada teman-temannya untuk diam.

“.......”

“Karena untuk persiapan pemberangkatan, kalian akan pulang lebih cepat hari ini,” jelas Guru Jim.

“Jadi kita pulang sekarang?!” tanya para siswa semakin gembira.

“Pu-pulang ...?” keluh Sylvia memandang Jim.

“Iya pulang. Tapi sebelum pulang, kalian akan melakukan quis ...., quisnya tes terakhir dari bapak.”

“Apa itu?” tanya Salsa mengangkat tangan kanannya.

“Semuanya ikut bapak saja ke lapangan pertarungan,” senyum Jim bersemangat sambil berjalan keluar kelas.

Seluruh siswa berjalan mengikuti Jim ke lapangan. Wajah mereka terlihat keheranan melihat gurunya yang tersenyum bersemangat.

Mereka bertanya-tanya, saling bercakap-cakap merundingkan tes apa yang akan diberikan oleh gurunya itu.

Sesampainya di lapangan pertarungan yang amat luas, kelas B dikejutkan oleh murid kelas A yang juga mendatangi lapangan itu. Guru Lina yang merupakan wali kelas A juga terlihat bersama mereka.

“Apa maksudnya ini pak?” tanya Sylvia penasaran, sesekali dia melirik kelompok kelas A yang berada disisi lapangan lainnya.

“Baiklah semuanya, kalian akan melakukan Royal rumble dengan Kelas A! Kalian akan dianggap kalah jika berkata menyerah atau tidak sadarkan diri dari pertarungan,” jelas Jim tersenyum.

“Eehh?! Bapak pasti bercanda kan?! Disana ada Anggelina! Kineser yang baru saja mencapai kineser tingkat atas!” khawatir Sylvia menunjuk Anggelina yang mulai melakukan pemanasan, dia juga sudah meamsuki area pertarungan.

“Tak apa, Sylvia. Kalah dalam pertandingan bukan berarti kalian tidak lulus. Bapak hanya ingin melihat sejauh mana kemampuan kalian.”

“Eeehhh ...., yang benar saja!” keluh Sylvia dan teman-temannya.

“Disana juga ada Shina dan Alysha, mustahil kita bisa menang,” gumam Salsa khawatir.

Sementara itu dilain tempat masih di area HoK. Terlihat Anggela yang baru sampai dikelasnya, dirinya sungguh terkejut ketika melihat keadaan kelas yang sudah kosong.

Bel masuk sudah berbunyi, seharusnya pelajaran sudah dimulai kembali ....., tapi kenapa tak ada satupun orang dikelas!? Apa yang sudah terjadi?!” batin Anggela terkejut melihat keadaan kelas.

Disaat dirinya yang sedang kebingungan itu, tiba-tiba datang seorang lelaki berambut hitam yang lebih tinggi darinya. Dia memakai seragam dan topi petugas kebersihan sekolah sehingga wajahnya tidak dapat terlihat.

“Kamu murid kelas B?”.tanya petugas itu.

“Iya, saya murid kelas B. Dimana yang lainnya?”

“Ohh, jika anda mencari mereka. Mereka sedang berada di lapangan petarungan.”

“Lapangan petarungan?!” Anggela cukup terkejut.

“Apa yang mereka lakukan disana ....?” lanjut Anggela terlihat malas.

“.......“ Petugas itu hanya tersenyum menganggukan kepala.

“Terimakasih pak ...,” senyum Anggela lalu berlari cepat ke arah lapangan petarungan.

Kembali ke tempat dimana murid kelas B dan kelas A sedang bertarung, mungkin lebih tepatnya sedang melakukan tes terakhir.

“Mu-mustahil kita dapat mengalahkannya! Dia tingkat Expert! Kineser tingkat atas!” khawatir murid lelaki dari kelas B. Dia bergemetar ketakutan melihat Anggelina yang sedang bertarung serius mengalahkan musuh-musuhnya.

“Sudah delapan orang kalah olehnya. Jika seperti ini terus, kita akan benar-benar di sapu bersih ....,” senyum khawatir Salsa.

“Lebih buruk dari itu, masih belum ada satupun murid kelas A yang gugur karena Anggelina yang menjadi perwakilan pertama mereka,” teman Salsa yang lainnya terlihat bergemetar ketakutan.

“Bapak, pertarungan ini berat sebelah!” kesal Sylvia protes pada wali kelasnya.

“Iya pak!” “Iya” “Iya pak, ini berat sebelah!!” teriak beberapa murid kelas B yang protes.

Dilain pihak, di kelas A ..., teman-teman Anggelina malah bersorak untuknya. Mereka terlihat bangga dan kagum karena gadis berambut putih itu mengalahkan para murid kelas B dengan mudah.

Hanya satu orang yang terlihat tidak bahagia dalam kelompok itu. Alysha hanya terdiam khawatir sambil menatap Anggelina yang masih bersemangat.

Kak Anggelina, ka-kamu terlalu berlebihan ....,” batinnya.

“Bapak ini curang, Anggelina itu kineser tingkat atas –“ Sylvia merasa sangat kesal. Dirinya sungguh tidak terima.

Tapi perkataanya itu terpotong oleh teriakan seorang lelaki yang amat tegas dan cukup berwibawa.

Lelaki itu adalah Anggela yang memasang wajah sangat serius.Teriakannya sungguh terdengar berbeda hingga membuat beberapa pandangan tertuju padanya. Dia hanya mengabaikan pandangan itu dan berjalan cepat ke arah guru Jim.

“Kak Jim!”.

Anggela?! Di-dia datang!” batin Sylvia sungguh terkejut melihatnya. Dia langsung tersenyum ketika melihat Anggela yang berjalan menghampiri Jim.

“Anggela? Apa kamu protes tentang ini juga?” keluh Jim.

“Tentang ini? Maksudmu ....?” tanya Anggela kebingungan. Dia mulai mengamati sekitar, dan pada akhirnya melihat Anggelina yang sedang bertarung serius dengan teman-teman sekelasnya.

“Anggelina ....? Apa dia harus seserius itu? Dasar ...., dia tidak pernah berubah,” keluh Anggela melihat adiknya yang belum menyadari keberadaanya. Anggelina terlihat masih asik menekan lawan bertarungnya tanpa ampun.

“Jadi kakak sedang melakukan tes?” lanjutnya bertanya melirik Jim.

“Iya, tes terakhir. Apa kamu mau bergabung?” senyum Jim.

“Mungkin nanti, aku ingin bertanya beberapa hal padamu dulu, Kak.”

“Baiklah, ada apa?” Jim mulai terlihat khawatir.

“Kemana saja kakak saat insiden penculikan terjadi?!” senyum kesal Anggela.

“Nada bicaramu, tatapanmu yang tajam. Sepertinya kamu sudah mengingat semuanya yah?” senyum Jim sambil memandang langit.

“Iya, yang lebih penting jawab dulu pertanyaanku.”

“.......” Jim hanya tersenyum melihat Anggela.

“Jawab kak,” senyum kesal Anggela memejamkan mata.

“Baiklah baiklah...., aku hanya ingin melihat wajah aroganmu itu,” senyum Jim bahagia.

“......”

“Aku memata-matai Charles dan kelompoknya, mereka ada di daerah Frosy.”

“Charles dan kelompoknya?”

“Ya, kamu ikut kan dalam misi ini? Misi menangkap Charles dan kelompoknya?”

“Kamu tidak perlu bertanya lagi. Sudah jelas aku akan ikut,” senyum Anggela.

“Bagus –“ Jim tapi perkataanya terhentikan karena mendapatkan serangan berupa empat tombak es yang sangat besar, untuk sesaat lelaki paruh baya itu cukup terkejut.

Tapi tombak es tersebut tiba-tiba langsung hancur tak berbekas, tombak es itu terlihat seperti diuraikan oleh mendan listrik yang amat tinggi.

Anggela menghancurkan tombak es tersebut dengan pertahanan listrik tingkat tingginya, Divider.

Divider, kemampuan membuat perisai listrik bertegangan tinggi dengan bentuk yang diinginkan pengguna. Skill ini merupakan skill tingkat atas yang amat sulit untuk dipelajari.

Setelah itu, Anggela segera berbalik dan melihat Anggelina yang tidak sengaja melakukan serangan tersebut.

“Anggelina!” teriak kesal Anggela pada adiknya.

“Ka-kakak?!” tanya Anggelina terkejut bukan main melihat kakaknya, kedua tangannya bergemetar melihat sang kakak yang terlihat marah padanya..

“Anggela?!” seluruh murid langsung berbalik melihat Anggela. Pada saat itu juga dia menjadi pusat perhatian bagi seluruh murid, baik kelas A maupun kelas B.

“Kamu tidak perlu seserius itu, apa kamu ingin membunuh mereka?!” teriak kesal Anggela sambil memejamkan matanya.

“Ta-tapi kak ...., jika aku kalah dari mereka, aku akan memalukan nama keluarga kita –“

“Kalau begitu alasannya, biar kakak melawanmu sekarang secara serius. Dengan begitu kamu tidak akan memalukan nama keluarga, kan?” senyum kesal Anggela membuka matanya.

“Eeh?! Ka-kakak melawanku?!” tanya kaget Anggelina, dia berjalan mundur satu langkah. Dia sendiri tahu betul akan kekuatan kakaknya yang berada di tingkat lebih tinggi darinya.

“Kamu tau apa yang harus kamu lakukan, kan? Jangan membuat masalah atau aku akan melaporkanmu pada Kak Keisha .....,” lanjut Anggela mulai berjalan meninggalkan lapangan, dia berjalan kembali memasuki bangunan sekolah.

“Ma-maaf,” jelas Anggelina tertunduk menyesal. Dia perlahan mengangkat tangan kanannya ke atas, dirinya yang masih terlihat ketakutan mulai berkata.

“Ak-aku menyerah ....”

“.........” Semua orang disana hanya terdiam terkejut mendengar pernyataan Anggelina yang tak terkalahkan.

“Eeehh, Anggelina menyerah? Kenapa?!”

“Setelah dimarahi Kakaknya, dia langsung menyerah?!” geram terkejut beberapa murid melihat sikap Anggelina.

Anggela ... Itukah kamu? Tapi kenapa kamu terlihat sangat berbeda dari biasanya?!” batin Shina terdiam kagum melihat Anggela.

“Apa ini cuman perasaanku saja, atau dia memang terlihat berbeda ...?” khawatir Sylvia sambil melihat Anggela. Detak jantung dalam dadanya semakin berdegup kencang.

“Anggela ....?” Salsa hanya terdiam terkejut melihat lelaki berambut putih itu. Dia mengepalkan kedua tangannya karena suatu alasan tertentu.

Ke-kenapa dia bisa menahan serangan kineser tingkat atas?!” batin Eliza terkejut, kedua tangannya bergemetar..
  
Anggela yang saat ini seperti Kak Heliasha. Aura kineser tingkat akhir memang berbeda .... Suasana tegang langsung terasa saat dia berbicara lantang,” senyum Alysha dalam batinnya.


“Kak Jim, kita lanjutkan pembicaraan kita ditempat lain. Ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu secara pribadi,” jelasnya sambil terus berjalan. Pandangannya tetap lurus kedepan.

“Baik baik,” senyum Jim melihat Anggela.

“Guru Lina, tolong awasi tes ini yah. Saya ada urusan sebentar,” lanjutnya berbicara pada pembimbing kelas A.

“Ba-baiklah,” jawab khawatir Lina.

Sebelum Anggela meninggalkan lapangan, perhatian seluruh murid masih tertuju padanya. Mereka memasang wajah yang tidak percaya dan keherenan melihat sikap Anggela yang sangat berbeda.

Apa itu Anggela, si kakek banci?’’

“Anggela? Dia menahan serangan kineser tingkat atas dengan sangat mudah!”

“Apa itu benar-benar Anggela yang pendiam? Dia terlihat sangat berbeda!!” 

Mungkin seperti itulah pikiran beberapa murid yang terkejut melihat perubahan sikap Agggela yang signifikan.

Sementara itu Anggela hanya terus berjalan meninggalkan orang-orang yang memandang kagum dirinya. Dia hanya terus berjalan dan bergumam kesal dalam hati.

Aku tidak peduli jika identitas kemampuanku terbongkar, tidak peduli bagaimana pendapat orang lain tentangku .... Satu-satunya yang aku pedulikan adalah Halsy! Dimana dia?! Jika dia masih hidup, kenapa dia tidak datang padaku?!!” 

***

Bagian Keempat:

Di atap gedung HoK yang cukup sepi, terlihat dua lelaki yang sedang melakukan pembicaraan serius.

Ya ..., mereka adalah Anggela dan Jim.

Angin yang cukup kencang mulai menerpa mereka berdua, keduanya yang sebelumnya menatap langit mulai melihat satu sama lain sambil memasang wajah serius.

“Jadi bagaimana rencananya?”

“Sudah kuduga kamu akan bertanya seperti itu ..., apa kakakmu tidak memberitahu rencananya padamu?”

“Tidak,” jawab Anggela lalu duduk di atas tempat duduk yang telah tersedia.

“Kelompok pemberontakan benar-benar telah menyulitkan pemerintahan. Mereka benar-benar telah diburu oleh beberapa orang. Bahkan mereka diiburu oleh kedua kineser terkuat saat ini, Fuaim orga Silca dan Bloodtaker Heliasha.”

“Silca? Bahkan dia juga memburu mereka, kah?” senyum Anggela bersemangat.

“Kelompok mereka hanya tinggal tiga orang lagi. Charles Controling life, Lily Replacment Directions, dan Gramior Dimensional tropper. Ketiganya termasuk jajaran tertinggi tujuh kineser terkuat.

“Dua dari kelompok mereka telah ditangkap waktu insiden penculikan itu. Lalu bagaimana dengan sisanya?“ tanya penasaran Anggela.

“Menghilang,” sanggah Jim khawatir.

“Menghilang?” Anggela menatap heran Jim.

“Aku juga tidak tau. Tapi aku berasumsi kalau sisanya dikalahkan oleh –“

Half-elf ...?”

“Iya, kemungkinan oleh mereka. Keluarga Skyline tidak mungkin melakukan penyerangan. Rin dan Ray yang merupakan keturunan terakhir keluarga itu bukan tipe yang suka bertarung.”

“Kalau bukan keluarga Rin dan Ray, lalu siapa?”

“Entahlah, mungkin Dreamheart atau Familiarpixie. Mereka juga cukup kuat untuk menghancurkan organisasi pemberontakan.”

Dreamheart? Dimana aku pernah mendengar nama itu?” tanya Anggela memejamkan mata.

“Di kelas kita ada siswi yang bernama itu, Anggela,” senyum Jim amat khawatir.

“Siapa? Aku tidak tau ...., –“

“Ah ...., Sal-Salsa? Salsa Anybreaker Dreamheart ....,” lanjut Anggela memasang wajah terkejut.

“Ya, kemungkinan besar dia berasal dari ras Half-Elf –“

Tunggu dulu! Dia hanya kineser tingkat Beginner!! Mustahil dia anggota keluarga tersebut!”

“Kamu benar, untuk keturunan keluarga bangsawan kelas A dia terlalu lemah.”

“Tapi ....., bukan mustahil kan jika dia menyembunyikan kemampuannya,” lanjut Jim sangat serius.

“Jadi maksudmu, kalau Salsa lah yang mengalahkan sisa kelompok pemberontakan itu?!”

“Aku tidak bepikir seperti itu, mungkin saudara atau keluarga lainnya yang mengalahkan mereka.”

“Begitu ....., jadi?”

“Jadi?”

“Rencana kita? Rencana mengahancurkan organisasi pemberontakan,” kesal Anggela.

“Ohh iya aku hampir lupa. Heliasha, Keisha, dan Fie akan datang ke daerah Frosy sebagai turis biasa. Sedangkan kita ..., maksudku kamu, Aku, Alysha, dan Anggelina akan datang sebagai turis Study Tour dari HoK –“

“Tung-tunggu dulu!! Kamu bilang Anggelina?! Apa kamu bercanda?! Dia baru saja sembuh!! Jangan libatkan dia dalam masalah in –“

“Jika dia mengetahui insiden Halsy Aeldra, dia pasti akan memaksa ikut terlibat dalam misi ini, dia pasti tidak akan tinggal diam, Anggela.”

“Lalu apa dia sudah mengetahui insiden itu? Insiden Halsy?!”

“Tidak tau, aku tidak tau –“

“Belum ... Dia belum mengetahuinya, Anggela,” senyum Hizkil menyanggah Jim, dirinya terlihat berjalan menghampiri mereka. Dia tersenyum sedih melihat Anggela.

“Hi-Hizkil? Kamu juga sudah keluar dari rumah sakit?”

“Ya, aku tiba-tiba sembuh seperti Anggelina. Tapi yang lebih penting ...., kamu sudah mengingat semuanya, ya?” sedih Hizkil.

“Ya, beberapa bulan sebelum tragedi Herliana. Aku mengingatnya, aku mengingat orang paling berharga bagiku dibunuh didepan mataku.”

“Begitu ...”

“Tapi syukurlah, sekarang kamu terlihat lebih tenang, sepertinya kamu sekarang sudah bisa menerima kepergian –“ lanjutnya.

“Dia masih hidup,” senyum Anggela bersemangat.

“Ma-masih hidup? Ap-apa maksudmu kalau Halsy masih hidup?!“ Hizkil terlihat sangat terkejut.

“Halsy Aeldra masih hidup?” tanya Jim memasang wajah yang sama seperti Hizkil.

“Mu-mustahil Anggela, dia sudah –“

“Aku melihatnya sendiri! Dia menyerangku dari atas bangunan!”jelas Anggela sambil memegang dadanya.

“Me-menyerangmu?!” Hizkil memasang wajah keherananan.

“Jangan-jangan rumor itu benar?” tanya Jim memasang wajah penasaran.

“Rumor? Rumor apa itu, Kak Jim?!” kesal Hizkil bertanya.

“Rumor kalau Putri kedua dari keluarga pahlawan masih hidup!”

“Kamu pasti bercanda, kan?” tanya Hizkil memasang wajah tidak percaya.

“Dengarkan aku Anggela, dia tidak mungkin masih hidup! Halsy sudah mati, terimalah kenyataan in –“ lanjut Hizkil cukup kesal.

“Lalu bagaimana denganmu?! Bukankah kamu sama saja? Kamu juga masih belum menerima kepergian Herliana! Kamu masih menganggap kalau Herliana masih –“ kesal Anggela.

“Itu berbeda Anggela! Herliana hanya hilang dan masih belum ditemukan! Sedangkan Halsy mati tepat di depan matamu!! Herliana masih memiliki kemungkinan hidup! –“

“Hanya hilang?! Dia jatuh ke jurang dan mayatnya masih belum ditemukan! Manusia normal mustahil selamat dari ketinggian seperti itu! Herliana bukan Kineser, dia hanya gadis normal! Mustahil dia bisa bertahan.”

“Tapi dia pasti bisa selamat! Aku yakin kalau dia masih –“ Hizkil semakin kesal. Wajahnya terlihat frustasi merasa bersalah.

“Aku juga yakin kalau Halsy masih hidup!! Dia pasti punya alasan kenapa dia berpura-pura mati di depanku –“ Anggela juga semakin kesal, keduanya tak mau mengalah.

“Berpura-pura?! Dia jelas-jelas telah dibunuh! Dia dibakar hidup-hidup!! Kamu masih mengingatnya, kan?!”

“Berhentilah berdebat denganku! Terima kenyataan kalau Liana sudah –“ Anggela menatap tajam sahabatnya.

“Kamu yang seharusnya menerima kenyataan Anggela!! –“ Hizkil juga menatap tajam sahabatnya.

“Sudah sudah!! Kalian ini sudah hampir dewasa tapi masih bertengkar seperti anak kecil!” kesal Jim melerai pertengkaran mereka..

“Cih!!” kesal Hizkil dan Anggela bersamaan memalingkan wajah.

“.....” Jim hanya tersenyum melihat keduanya.

“Percayalah pada diri kalian sendiri, percaya pada apa yang kalian yakini sekarang. Tidak peduli apa kata orang lain, kalian hanya harus mempercayai keyakinan kalian kalau orang yang berharga bagi kalian masih hidup,” lanjutnya sambil memegang kepala Anggela dan Hizkil yang lebih pendek darinya.

“Yaaa ...,” jawab kompak dari mereka berdua.

“......”

“Maaf Anggela, aku terbawa emosi.”

“Aku juga minta maaf, seharusnya aku tidak berkata kasar seperti itu.”

“Kita hanya harus meyakini kalau mereka berdua masih hidup,” senyum Hizkil melihat Anggela.

“Iya, itu yang kita yakini sekarang,” senyum Anggela melihat Hizkil.


***

My Dearest Jilid 1 Chapter XXIII Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.