15 Oktober 2015

My Dearest Jilid 1 Chapter XXII


MY DEAREST
JILID 1 CHAPTER XXII
LATIHAN

Bagian Pertama:

Di dalam sebuah pesawat berkelas, terlihat Anggela yang duduk menatap pemandangan lewat jendela pesawat. Wajahnya yang terlihat malas mulai bertanya pada wanita di dekatnya.

“Kemana kita akan pergi Heli?”

“Daerah Forsy.”

“Untuk sampai kesana, apa kita harus menggunakan pesawat pribadimu ini?” tanya Anggela mulai terlihat kesal.

“Tentu saja, apa kamu ingin berjalan kaki untuk sampai kesana? Apa kamu ini bodoh, hah?!”

“Bukan begitu, kita kan bisa menggunakan F-Car. Lebih cepat lebih baik, kamu juga setuju kan Alysha?”

“Eh kalau menurutku menikmati perjalanan yang penting, jadi aku lebih memilih menaiki pesawat pribadi kami. Lagipula dengan manaiki ini kita gak usah bayar kok.”

“Tapi kan –“

“Berisiknya ..., kenapa kamu begitu banyak mengeluh? Diam saja atau kulempar kamu dari pesawat ini,” kesal Heliasha melirik Anggela.

“Baiklah. Jadi kita ini mau kemana?!”

“Apa kamu tuli?! Sudah kubilang kita ini mau ke daerah Fr –“

“Bukan itu yang kumaksud Heli, kita ini –“

BUAKK!! Anggela tepat mendapatkan pukulan yang keras dibagian perutnya.

“Ap-apa yang kamu lakukan –“  Anggela merintih kesakitan.

“Panggil aku kakak, bodoh!” geram Heliasha dengan nada kesal.

Alysha yang melihat hal itu sontak tertawa bahagia.

“Hahahahahaha.”

“Ke-kenapa kamu malah tertawa Alysha! ...., –“ dirinya terdiam, wajah Anggela terlihat amat terkejut melihat gadis manis itu dihadapannya.

“Eh?! Alysha?!”

“Ya kenapa?” tanya Alysha kebingungan.

“Kenapa aku baru sadar sekarang!! Ka-kamu masih hidup?!” tanya Anggela dengan nada sangat kaget bahagia.

Re-reaksinya terlalu lambat ....,”  batin Heliasha mengeluh.

“Ten-tentu saja aku masih hidup!” teriak kesal Alysha.

“Tapi sejak aku bertemu dengan Halsy, kamu sudah menghilang! Tidak ada kabar sedikit pun tentang keberadaanmu! Kami menganggap kalau kamu sudah mati!!”

“Anggela, tungu dulu –“ khawatir Heliasha melirik adiknya.

“Be-benarkah?!” tanya Alsyha terkejut, wajahnya  terlihat hampir menangis.

“Bo-bohong sayang, kakak tidak pernah menganggap kamu seperti itu!”

“Eeh bohong darimana? Kita semua berpikiran seperti itu, kecuali Halsy. Dia masih saja percaya kalau saat itu Alysha masih hidup.”

“Diam kamu Anggela! Apa kamu senang merusak hubungan keluarga kami!” Heliasha menatap tajam Anggela, kemarahan benar-benar keluar dari dirinya.

“Baiklah ... Aku cuman bercanda kok Alysha.” datar Anggela sambil memalingkan wajahnya.

“Benarkah?”

“Iya benar sayang, kita gak mungkin gitu kok!”

Tapi memang begitu faktanya,”  kesal Anggela dalam hati.

“Kalau begitu kemana kita akan pergi Hel –, Maksudku Kak Heli.”

“........” Heliasha hanya menatap datar Anggela.

“Ap-apa?”

“TIdak, bukan apa-apa. Kita akan ke daerah Frosy, kamu akan latihan disana.”

“Iya, HoK kan sedang cuti selama dua minggu. Kak Anggela bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk latihan.”

“Begitu ..., tapi kenapa aku mesti latihan? Aku ini sudah tingkat akh –“

“Memang benar kamu ini Kineser tingkat akhir Anggela. Tapi, kemampuan bertarungmu sangat kurang.”

“Iya kemampuan bertarungmu sangat lemah Kak. Maka dari itulah kamu harus belajar cara menggunakan kemampuanmu dengan efektif!”

“Latihan yaah ..., apa aku disana mempunyai pembimbing, atau mungkin teman latihan?”

“Tenang saja, disana ada guru yang sudah menunggu kita. Dia itu guru kamu, ya kan Alysha?” tanya Heliasha sambil melihat adiknya.

“Iya kak,” senyum manis Alysha.

“Aku hampir lupa menanyakan ini. Anggela, maaf aku tidak bermaksud kamu untuk mengingatnya. Tapi ini penting ...”

“Apa?”

“Apa kamu masih mengingat siapa saja orang yang menyerangmu dan Halsy saat itu?!”

“........” tak ada jawaban dari Anggela, dia hanya menundukkan kepala.

“Mungkin ini terlalu cepat bertanya padam –“ senyum sedih Heliasha yang merasa bersalah, tapi.

“Aku tidak tau seperti apa wajah mereka, mereka  semua memakai topeng. Tapi aku masih mengingat jelas nama panggilan mereka,” Anggela mengangkat wajahnya yang terlihat serius.

“Apa? Apa nama panggilannya?!” tanya Heliasha terlihat antusias.

“Char, Xia, Gr –“

“Cukup Anggela ....! Aku sudah tau sekarang. Seperti dugaanku ...!” Heliasha memejamkan mata, dirinya terlihat menahan murka.

“Kamu kenal merek –“

“Charles!!” geram kesal Heliasha yang terbakar amarah, dia mengabaikan pertanyaan Anggela.

“Eh Charles?”

“Dia pemimpin pasukan pemberontakan. Mereka berniat menggulingkan AoE (Alliance of Earth)” senyum Alysha melihat Anggela.

“Jadi dia yah otak di balik insiden itu,” senyum Anggela menahan kesal. Kemarahannya benar-benar terasa disekitarnya.

HYUNGGG !! SYUUUUUUUTT!

Mungkin seperti itulah suara dari pesawat pribadi keluarga Aeldra mendarat. Mereka mendarat dengan selamat di atap gedung hotel milik keluarga Aeldra.

Mereka pun akhirnya sampai di daerah Forsy, lebih tepat di area G5. Area ini dekat dengan pantai, mungkin lebih tepatnya area ini memang area yang memiliki pantai. Terlihat desiran pasir berwarna putih keemasan yang memantulkan cahaya matahari pada Anggela dan yang lainnya.

Suara ombak yang cukup keras seolah kembali mengingatkan Anggela pada kekasihnya.

Halsy!” gumam sedih Anggela sambil memandang laut. Dia mengepalkan erat kedua tangannya. Dirinya sungguh terlihat frustasi karena tak bisa melindungi orang yang berharga baginya.

“Anggela,” senyum Heliasha sambil terus berjalan ke arah utara pantai tersebut. Dia melirik Anggela seolah memberi isyarat ‘kita pergi sekarang’.

“Ya,” senyum sedih Anggela sambil berjalan mengikuti Heliasha dan Alysha.

WUAASHHH! WUAASSSH!!

Suara ombak terdengar semakin keras, hal tersebut semakin membuat hati Anggela sakit.

Secara perlahan Heliasha mulai memperlambat langkah kakinya, hingga ia bisa berjalan sejajar dengan Anggela. Lalu dengan nada sedih dia pun bertanya.

“Apa kamu sedang mengingatnya?”

“Ya, Aku sedang memikirkan liburan waktu itu dengannya.”

“Hemm ....,” senyum Heliasha seakan paham.

“Anggela, apa kamu masih berharap kalau Halsy itu masih hidup?” lanjutnya sambil memandang langit yang sangat cerah.

“Aku tidak pernah berharap. Tapi aku sangat yakin kalau dia masih hidup, aku yakin kalau dia selamat dalam insid –“

“Menurutmu apakah Halsy masih hidup setelah menerima luka seperti itu? Aku dan Keisha juga tau bagaimana Halsy dibunuh,” Heliasha dengan nada sangat sedih dan hampir mengeluarkan air mata.

“Apa kamu melihatnya? Lalu kenapa kalian tidak menolong –“ tanya Anggela mulai menaikan suaranya.

“Tenanglah Anggela, biar aku ceritakan dengan jelas.”

“Kalau begitu, ceritakanlah!”

“Saat insiden itu, kami .., maksudku Keisha dan aku sedang memasak di rumahmu. Sampai tiba-tiba datang sebuah petir hitam yang menyambar keras daerah Dealendra. Hawa yang sangat jahat, dan tekanan yang mengerikan langsung membuat kulit kami merinding,” jelas Heliasha memasang muka sedikit ketakutan.

“Kami segera bergerak ke tempat dimana jatuhnya petir tersebut. Dan saat kami sampai disana, kami melihat kamu yang sudah tidak sadarkan diri tersambar oleh petir tersebut,” lanjut Heliasha.

“Aku? Tersambar petir?”

“Ya, saat itu kami panik, benar-benar panik. Kami berdua tidak tau apa yang terjadi padamu, hingga datang dua orang dari keluarga Skyline yang menenangkan kami.”

“Dua orang Skyline?”

“Iya, dan salah satu dari mereka sekarang merupakan tunangan anak itu!” senyum Heliasha sambil melihat Alysha yang sedang berjalan di depannya.

“Namanya?”

“Rin dan Ray, kamu bisa memanggil mereka seperti itu. Saat itu mereka tingkat Lord sepertiku. Mereka sangat kuat, mungkin lebih kuat dari ak –“

“Tu-tunggu dulu! Aku masih mengingatnya dengan jelas, Heliasha! Waktu tiga tahun yang lalu, hanya satu orang yang mencapai tingkatan Lord, dan itu hanya kamu Heli!”

“Ya, aku juga tau. Aku juga kaget ketika mereka mengatakan seperti itu. Mereka sengaja menyembunyikan kemampuan mereka karena suatu alasan,” senyum Heliasha melihat Anggela.

“Suatu alasan?”

“Iya, alasannya karena ras mereka berbeda dengan kita!”

“Kita? Apa maksudmu dengan kita? Jadi mereka bukan manusia atau Arcdemons, begitu?” tanya Anggela kebingungan.

“Bukan, mereka berbeda dengan ras kita berdua.”

“Lalu mereka itu mahluk ap –“

Half-elfs, Archangels, atau nama yang lainnya. Mereka musuh terbesar bagi ras kalian, Anggela. Selama berabad-abad lebih ras kalian berdua selalu bertentangan.”



***

Bagian Kedua:

Half-elfs? Ap-apa mereka benar-benar ada? Maksudku Elf?”

“Entahlah, tapi itulah perkataan mereka. Mereka memperkenalkan diri mereka seperti itu.”

“Aku tidak percaya ini, ini hampir seperti fantasy dalam film-film,” gumam Anggela memasang wajah tidak percaya.

“Menurutmu mengendalikan darah dan listrik merupakan hal yang wajar? Kita sudah benar-benar masuk dunia itu Anggela. Selain itu, aku juga tidak terlalu terkejut pada saat itu, karena sudah mengetahui keluarga kalian sebenarnya.”

“Dan juga, kekuatan mereka berdua saat itu benar-benar diluar perkiraan kami. Mereka kuat, amat sangat kuat,” lanjut Keisha terlihat sedikit ketakutan.

“Apa ras mereka juga memiliki kemampuan khusus seperti ras kami?”

“Berbanding terbalik dengan ras kalian yang sulit untuk mengendalikan emosi, ras mereka –“

“Kita sudah sampai Kak!” jelas Alysha menghentikan langkahnya lalu berbalik melihat Anggela dan Heliasha.

“......” Heliasha dan Anggela hanya terdiam melihat Alysha.

“Kenapa Kak? Kita sudah sampai,” gerutu Alysha.

“Benarkah?!” tanya Heliasha berjalan pelan ke arah adiknya.

“Iya kak, lihat rumah yang cukup besar itu. Itu rumahnya Guru Alfa,” jelas Alysha sambil menunjuk rumah yang cukup besar.

“Baiklah –“

“Hei Heli, selesaikan ceritamu dulu. Kamu membuatku jadi penasaran!” teriak Anggela dengan nada sedikit kesal.

“Kita lanjutkan nanti saja ...., dan yang lebih penting ....”

“Yang lebih penting?”

“Panggil aku Kakak!“ teriak Heliasha sambil melemparkan alas kakinya ke arah Anggela.

WUNGG! DUAKK!!

Alas kaki tersebut tepat mengenai kepala Anggela. Seketika Anggela langsung terjatuh kebelakang karena mendapatkan lemparan dari Heliasha.

“Sa-sakit!” geram Anggela kesakitan.

“Dasar bodoh! Sudah kubilang berapa kali panggil aku kakak, tapi dia masih saja belum mengerti! Dasar anak kurang sopan santun!” geram kesal Heliasha sendiri sambil terus berjalan ke arah rumah yang ditunjukan oleh adiknya.

“Sa-sabar kak,” senyum Alysha ketakutan sambil terus berjalan mengikuti kakaknya.

“Ma-mau bagaimana lagi, itu sudah kebiasaan,” geram Anggela sendiri sambil mengusap-ngusap kepalanya.

~~

Ting Tong!

Heliasha mulai membunyikan bel rumah tersebut. Di samping kiri dan kanannya terlihat Anggela dan Alysha yang bediri.

“Permisi!” teriaknya sambil kembali membunyikan bel tersebut.

 Ting Tong!.

“Ka-kakak kurang sopan kan kalau membunyikan bel berkali-kali,” khawatir Alysha pada kakaknya.

“Hehe maaf, tangan kakak tergelincir ..,”

“Be-benarkah? Kalau begitu tak apa ...–“

KREKKK!!

“Ohh ada perlu apa yah?” tanya seorang lelaki sambil membukakan pintu pada Anggela dan yang lainnya.

Terlihat seorang lelaki yang sudah cukup tua dengan rambut lurus berwarna putih kebiruan. Meski umurnya terlihat sudah lebih dari 30 tahun, tapi wajahnya masih saja terlihat tampan.

“Guru!” teriak Alysha sambil memeluk lelaki tersebut.

“Alysha, kamu sudah besar yah!” senyum lelaki tersebut sambil mengelus-ngelus kepala Alysha.

“Umm... permisi?” senyum Heliasha keheranan.

“Ahh maaf atas ketidaksopananku, namaku Alfa pemilik rumah ini,” senyum lelaki bernama Alfa itu ke arah Anggela dan Heliasha.

“Ka-kami tau itu, tapi yang lebih penting –“

“Ohh kalian ingin membicarakan sesuatu? Silahkan masuk dulu, tidak enak membicarakan sesuatu di depan pintu masuk seperti ini,” senyum Alfa sambil mempersilahkan Anggela dan yang lainnya masuk.

Mereka berjalan ke arah ruang tamu dalam rumah tersebut, terlihat ada lebih dari tiga pelayan yang berada di samping Alfa.

Jika ada pelayan, kenapa dia harus repot-repot membukakan kami pintu?” batin Anggela dan Heliasha keheranan.

“Silahkan duduk,”Alfa sambil mulai duduk di atas sofanya.

“Y-ya.”

“An-anu, kedatangan kami kesini –“ lanjut Heliasha.

“Tenang-tenang, jangan terburu-buru seperti itu. Kalian pasti capek kan karena perjalanan jauh. Apa kalian haus? Mau minuman apa –“

“Maaf guru Alfa, tapi waktu kami tidak banyak. Kedatangan kami kesin –“ khawatir Anggela.

“Anggela Dwiputra, yah?” tanya Alfa tersenyum melihat Anggela.

“Y-ya, itu namaku. Ke-kenapa?”

“Kamu sangat mirip dengan Serraph, ya?” Senyum Alfa memejamkan matanya.

“Serraph?” tanya Anggela, Heliasha, dan Alysha bersamaan. Ketiganya memasang wajah kebingungan melihat Alfa.

“Si-siapa dia?” lanjut Anggela bertanya.

“Eh kamu tidak tau?” Alfa terkejut melihat respon Anggela.

“Ti-tidak,” Anggela sambil menggelengkan kepalanya perlahan.

“Be-begitu yah,” senyum Alfa yang dipaksakan.

Dasar orang itu, dia bahkan menyembunyikan identitas dirinya pada anaknya,” keluh Alfa dalam hatinya.

“Baiklah kalau begitu, ada keperluan apa Anggela dan yang lainnya datang kemari?”

“Guru, tolong ajari Anggela cara menggunakan kemampuan ilmu kinesis!” jelas Alysha dengan wajah meminta pertolongan.

“Hemmm, Anggela tingkat berapa kamu sekarang?”

“Ak-aku –“

“Dia tingkat akhir!” senyum Heliasha melanjutkan perkataan Anggela.

“Ti-tingkat akhir??! Ka-kamu serius?” tanya Alfa sangat terkejut.

“Iya, tiga tahun yang lalu aku mencapai tingkat Lord, dan baru kemarin aku mencapai tingkatan ini.”

“Be-begitu, apa kamu terlibat dalam insiden itu? Insiden pembunuhan itu?” tanya Alfa penasaran.

“Guru, dia melihat sendiri bagaimana Kak Halsy dibunuh,” jelas Alysha dengan nada sedih.

“Be-benarkah?! Bisa kamu ceritakan bagaimana kejadian yang sebenarnya?” tanya Alfa memasang muka penasaran.

“Tunggu guru Alfa, itu mungkin terlalu –“

“Tak apa Heli, aku sudah tidak apa-apa,” senyum Anggela melirik Heliasha.

“........”

“Baiklah, biar aku ceritakan bagaimana kejadianya,” lanjutnya memasang muka serius.

“Ya tolong ceritakan.”

“Aku juga ingin tau bagaimana kejadianya,” Alysha memasang muka penasaran.

“Saat insiden itu terjadi, kami maksudku aku dan Halsy baru saja pulang dari cafe tempat berkumpul dengan teman-temanku.”

“Mereka tiba-tiba datang dan bertanya ‘Apa kamu Heliasha Aeldra’ pada Halsy.”

“Heliasha? Bukankah mereka mencariku? Lalu kenap –“ Heliasha terkejut panik.

“Aku tau, tapi saat itu Halsy malah berpura-pura menjadi dirimu! Dia berkata ‘sudah kuduga’, tapi aku tidak tau maksud perkataannya tersebut!”

Berpura-pura menjadi kakaknya? ‘Sudah kuduga’? Apa maksudnya?” gumam Alfa berpikir dalam hatinya.

“Lalu dia pun dibunuh secara keji. Dan yang paling membuatku menyesal adalah, aku merupakan salah satu orang yang menyerang Halsy saat itu! Aku tidak mengerti, kenapa aku bisa melakukan semua itu?” geram Anggela ketakutan sambil memejamkan matanya. Dirinya sungguh terlihat frustasi.

Itu pasti ulah Charles!” gumam Heliasha dalam hati.

“Ap-apa dia tidak melakukan perlawanan? Dia itu kineser tingkat akhir, kamu tau itu kan!” tanya Alfa dengan nada khawatir.

“Ak-aku tau, tapi dia malah terdiam tak melakukan perlawanan! Dia hanya tersenyum menerima semua serangan dari mereka!”

Ke-kenapa dia hanya diam tak melakukan perlawanan? Sebenarnya apa yang  –“ gumam khawatir Alfa dalam hati, tapi.

“Ah iya, dia juga sempat mengatakan ‘aku akan tetap mati meski kejadian ini tidak terjadi padaku, aku telah menerima kutukan dari keluarga Aeldra’, seperti it –“

Kutukan?!” geram Alfa terkejut dalam hati, dia melihat Anggela dengan tatapan yang tidak percaya.

“Tung-tunggu! Ap-apa dia benar-benar berkata seperti itu?!”

“Iya dia mengatakannya, tapi aku benar-benar tidak tau apa maksudnya.”

Eh? Ma-ma-masih berlanjut?!! Ka-kamu pasti bercanda kan?!” batin Alfa terkejut sambil melihat Anggela. Dia mengepalkan kedua tangannya yang bergemetar ketakutan.



***

Bagian Ketiga:

“Gu-guru? Kenapa muka kamu sangat khawatir seperti itu? Apa kamu tau maksud perkataan Kak Halsy?” tanya Alysha kebingungan.

Ak-aku tau sekarang alasan kelompok tersebut mencari Heliasha, dan aku juga tau sekarang alasan Halsy mengorbankan dirinya demi Kakaknya!”

Ka-kamu sangat mirip dengan ayahmu Halsy, kamu mengambil jalan yang ceroboh seperti ayahmu!”

“Guru?!” tanya kembali Alysha dengan nada khawatir.

“Y-ya ya maaf, ke-kenapa?”

“Ada apa denganmu guru Alfa, kamu mengeluarkan keringat yang cukup banyak,” Anggela memasang muka kebingungan.

“Ti-tidak apa, ahahahaha ...., Ang-Anggela aku ingin bertanya sesuatu padamu,” tanya Alfa dengan nada khawatir.

“Hubungan kamu dengan Halsy sangat dalam, kan?”

“Dia tunangannya!” jelas Heliasha sambil menunjuk Anggela.

“Begitu yah. Sekarang semuanya sudah jelas, aku tau sekarang alasan kenapa dia menceritakan hal tersebut kepadamu!”

“Ap-apa kamu tau sesuatu?!” tanya Anggela penasaran.

“Entahlah,” senyum Alfa.

“Lalu bagaimana kelanjutannya?” lanjut Alfa bertanya.

“Aku tidak tau, setelah Halsy dibakar hidup-hidup aku langsung tidak sadarkan diri!”

“Begitu yah, sayang sekal –“

“Biar aku lanjutkan ceritanya!” Heliasha dengan nada yakin.

“Apa kamu juga disitu saat kejadian itu terjadi?”

“Sayangnya tidak. Setelah aku dan Keisha sampai ke tempat kejadian ...., yang terlihat hanyalah Anggela. Dia tersambar oleh petir yang berwarna hitam gelap.”

Overrun!? Jadi itu sebabnya dia bisa mencapai tingkat akhir!” gumam Alfa sambil melihat Anggela dengan tatapan khawatir.

“Saat kami tidak tau apa yang seharusnya kami lakukan, tiba-tiba datang dua anak kembar, lelaki dan perempuan. Namanya Rin dan Ray, mereka berdua berasal dari keluarga Skyline.”

Skyline? Half-elf?” gumam Alfa terkejut sambil melihat Heliasha.

“Guru Alfa pasti kenal mereka kan? Mereka bukan manusia, mereka –“

“Ya aku tau, mereka berbeda dengan kita. Jangan pernah mengusik nama keluarga tersebut.”

“Maksud Guru?” tanya Alysha kebingungan.

Liviandra, Deviluck, dan Skyline. Berikut nama keluarga kelas S yang ada di dunia ini, masing-masing keluarga tersebut mewakili ras mereka masing-masing.“

“Jadi Rin dan Ray itu seperti Silca, mereka berdua merupakan anggota keluarga kelas S,” gumam Heliasha berpikir.

“Lalu bagaimana dengan Deviluck? Aku belum pernah mendengar nama tersebut!” tanya Anggela terkejut.

“Aku juga, aku belum pernah mendengar seseorang yang mempunyai nama belakang seperti itu?” tanya Alysha penasaran.

“......” Heliasha dan Alfa hanya terdiam memalingkan wajah.

“Sudahlah, kita benar-benar sudah keluar dari topik. Bukankah Guru Alfa ingin mendengarkan cerita dari kita semua? Kenapa kita jadi yang terus bertanya padanya?” senyum Heliasha dipaksakan, dia berusaha mengubah topik pembicaraan.

“Hahahahahaha. Dari penjelasanmu tadi, aku sudah dapat menebak kelanjutan ceritanya kok,” senyum Alfa sambil berdiri dari tempat duduknya.

“Rin pasti menahan amukan Anggela, sedangkan Ray bertanya padamu tentang siapa orang yang paling berharga bagi Anggela .... Benarkan?”

“Be-benar? Bagaimana anda bisa tau?”

“Hem,” senyum sombong Alfa.

“Ja-jadi yang menghapus ingatanku adalah –“

“Ya itu Ray, dia berkata kalau kamu tetap terus seperti itu, kamu hanya akan mati karena menerima kekuatan yang terlalu besar!”

“Sudah kuduga, keluarga skyline pasti akan membantu siapapun meski itu musuh terbesarnya,” senyum Alfa sambil berjalan ke arah kamarnya.

“Gu-guru Alfa, anda mau keman –“ tanya Heliasha.

“Tunggu sebentar, ada sesuatu yang tertinggal di kamarku. Aku akan segera kembali dan langsung melatihmu, Anggela,” senyum Alfa melihat Anggela.

“Be-benarkah?” tanya Anggela bahagia.

“Ya, tentu saja,” jelasnya tersenyum.

Dia kembali memalingkan wajahnya kedepan, ekspresi wajahnya langsung berubah drastis. Wajahnya terlihat sangat khawatir, kedua tangannya masih terus bergemetar saat dia mulai membuka pintu kamarnya.

Ak-aku tidak percaya ini?! Kutukan keluarga Aeldra masih berlanjut?”

Dia memasuki kamarnya dan bergegas berjalan cepat mengambil sebuah telepon. Dia menekan nomor telepon tersebut dengan sangat cepat.

Tiit ~ Tiit ~
Krek~

Saat telepon tersebut terhubung, tanpa banyak bicara dia langsung berkata.

“Silca, Gunakan Sound mind milikmu untuk menghubungi Ayah, sekarang!” jelasnya dengan nada khawatir lalu menutup telepon tersebut dengan sangat cepat.

Ay-ayah? Ada apa? Kenapa nada bicara Ayah khawatir seperti itu?!” tanya Silca khawatir dalam pikirannya.

Dengarkan ayah, Silca. Kamu harus segera menangkap pemimpin pemberontakan!”

“Pemimpin pemberontakan? Maksudmu Charles? Tentu saja, itu tujuanku saat ini.”

“Bagus kalau begitu, tapi kamu masih ingat kata-kata ayah kan?”

“Iya aku masih ingat. Pertama jangan menganggap remeh lawan, aku jangan sombong dengan kekuatanku. Dan kedua jika situasi memburuk, aku harus mundur. Aku harus mengutamakan keselamatanku! Itu kan?”

“Bagus kalau kamu masih ingat! Jaga dirimu baik-baik yah!”

“Iya iya, ayah!”

Setelah berkomunikasi dengan Silca. Dia pun segera mengganti bajunya yang sudah basah karena keringat sebelumnya. Sambil mengganti bajunya tersebut, dia bergumam kesal dalam hatinya seperti ini.

Charles, dia sudah mengetahui sisi gelap dari keluarga Aeldra ... Tapi darimana dia bisa mengetahui hal tersebut? Bahkan di keluarga Aeldra sendiri, tidak banyak yang mengetahui kebenaran tentang keluarga tersebut.”



***

Bagian Keempat:

SET! BRAAK!

“Lagi?”

“Ini sudah ke-48 kalinya Anggela, apa kamu tidak bisa lebih lemah lembut?”

“Iya, benar yang dikatakan oleh Kak Heliasha. Kamu harusnya lebih bisa mengontrol konsentrasi dan emosimu.”

“Berisik! Apa-apaan dengan pakaian kalian itu? Dan juga kenapa kalian masih bisa bersantai di situasi seperti ini?!” tanya Anggela dengan muka memerah.

Beberapa meter dari tempat latihan Anggela, terlihat Alysha dan Heliasha yang sedang bersantai lengkap memakai bikini mereka. Mereka bersandar layaknya putri dari kerajaan tertentu, disamping mereka berdua terlihat empat orang pelayan berpakaian sama yang siap melayani mereka.

“Apa salahnya, ini kan pantai? Cuaca sedang bagus juga, kan? Sayang sekali kalau kita tidak menikmatinya,” senyum Heliasha yang meremehkan.

“Iya betul apa yang dikatakan Kak Heliasha,” senyum manis Alysha lalu meminum kelapa muda yang masih segar.

“Tapi kalian bisa melakukannya di tempat lain kan?! Kalian berdua menggangu konsentrasiku!”

“Ke-kenapa kami bisa menganggu konsentrasimu? Aku dan Kak Heliasha hanya bersandar dan tidak melakukan apapun,” Alysha dengan nada sedikit kesal.

“Alysha, lihat tubuhmu,” senyum Heliasha sambil melihat Alysha yang sedang memakai bikini.

“Eh,” Aysha sambil melihat tubuhnya yang memakai bikini, dia mulai sadar dan mukanya seketika memerah.

“Da-dasar mesum!” geramnya dengan nada kesal yang lucu sambil melirik Anggela.

“Dia memang mesum –“

“Ap-apa boleh buat, aku ini laki-laki normal! Jadi wajarlah!” teriak kesal Anggela.

“Mesum, ya tetap mesum. Ya kan sayang?!”

“Iy-iya,” jelas Alysha dengan muka yang masih memerah.

Si-sialan, jika saja muka mereka yang tidak mirip dengan Halsy, aku pasti tidak akan tertarik!”

“Tapi ya sudahlah tak apa, yang lebih penting ...., Anggela sini, kamu harus istirahat dulu sebentar.” jelas Heliasha sambil melambaikan tangannya ke Anggela.

“Istirahat? Waktuku tidak banyak Kak! Aku tidak butuh istirahat –“

“Ayolah, kamu sudah berlatih dua hari tanpa istirahat. Akan sangat merepotkan jika kamu tumbang di saat seperti ini!”

“Iya, Kak Anggela harusnya lebih memperhatikan tubuh kakak sendiri.”

“Ya ya berisik, aku kesana!” geram Anggela lalu berjalan pelan ke tempat Heliasha dan Alysha.

Sesampainya disana, Anggela segera meminum minuman yang baru saja diberikan oleh salah satu pelayan milik keluarga Aeldra. Karena kelelahan dia lekas membaringkan tubuhnya di atas tikar mewah yang sebelumnya sudah ada.

“Huuuh ...,” keluh Anggela sambil memejamkan matanya.

“Kenapa kamu mengeluh seperti itu? Apa kamu frustasi karena belum menguasai latihan yang diberikan guru Alfa?”

“Aku tidak mengerti? Kenapa aku harus mengangkat sebuah koin kecil dengan kemampuanku, dan tanpa manghancurkannya juga? Bukankah itu mustahil?!”

“Konsentrasimu sudah baik, Kak. Tinggal emosimu saja yang belum kamu kuasai,” senyum Alysha lalu kembali meminum air kelapanya.

“Emosi?!”

“Aku mengerti kenapa Guru Alfa memberikan latihan seperti ini kepadamu. Sudah kuduga, dia memang hebat,” senyum Heliasha sambil memejamkan matanya.

“Apa maksudnya itu?! Hei beritahu aku!” tanya Anggela dengan nada sedikit kesal.

“Emm ..., Anggela, untuk apa kamu bertarung?” tanya Heliasha melirik Anggela.

“Haah?! Tentu saja untuk balas dendam! Aku akan menghancurkan Charles dan kelompoknya!”

“Sudah kuduga!” senyum Heliasha mengeluh dan kembali memejamkan mata.

“Kalau alasan kakak bertarung seperti itu, Kakak tidak akan pernah menguasai latihan yang diberikan oleh guru Alfa,” senyum Alysha yang menyindir.

“Eehh! Kenapa? Apa yang salah dengan diriku!” tanya Anggela kebingungan.

“Cari tau saja sendiri! Alasan kenapa Kakak tidak pernah bisa mengangkat koin tersebut dengan kemampuan Kakak. Dan kakak malah terus menghancurkan koin tersebut dengan kemampuan Kakak.”

“Ak-aku benar-benar tidak mengerti apa yang kamu katakan! Kenapa kamu tidak langsung keintinya saja?!”

“Anggela, biar aku ceritakan keadaan kamu setelah kamu tersambar petir hitam tiga tahun yang lalu,” jelas Heliasha melihat Anggela.

“Semoga saja setelah kamu mendengar cerita ini, kamu bisa tersadar alasan kamu bertarung selama ini,” lanjutnya.

“Cerita? Cerita ini tidak dibuat-buat olehmu, kan?!”

“Tentu saja! Ini cerita nyata tentang kamu yang kehilangan kendali saat itu!”

“Aku juga mau dengar Kak!” senyum Alysha sambil melihat Heliasha.

“Baiklah aku ceritakan .... Setelah kedatangan Rin dan Ray, kamu bangkit dan mengamuk Anggela. Tatapanmu saat itu sangat mengerikan. Tatapan yang dipenuhi oleh amarah dan dendam.”

“Aku mengamuk? Be-benarkah? Aku tidak mengingat ap –“

“Tentu saja, aku juga sempat berpikir kalau saat itu kamu bukanlah kamu yang saat ini. Saat itu kamu benar-benar berbeda! Kamu bagaikan iblis yang siap menghancurkan apapun yang berada didepanmu.”

“Eehhh.... apa aku semengerikan itu? Kamu tidak berbohong kan?” tanya Anggela dengan nada yang meremehkan.

“Iya kamu seperti iblis saat itu, bahkan kakakmu Keisha saja hampir kamu bunuh ... Tapi untung –“

“Tung-tunggu! Ap-apa kamu serius?! Apa aku benar-benar melakukan itu?” tanya Anggela sangat terkejut.

“Iya, tapi untung saja ada Rin yang melindungi kami berdua. Saat itu dia benar-benar kuat.”

“Lalu bagaimana dengan yang satunya, siapa namanya?... –“

“Ray? Dia bertugas memanipulasi semua ingatanmu tentang Halsy dan keluarga Aeldra. Dia juga sepertinya sama kuatnya dengan Rin,” jelas Heliasha memasang muka berpikir.

“Oh iya, kamu masih belum meberitahuku. Jadi kelebihan ras Half-elf itu apa?”

“Mereka bisa mengontrol emosinya dengan sangat baik, aku belum tau lebih detailnya tapi beberapa orang menyebut kemampuan khusus mereka dengan sebutan Second Mind!”

“Second mind? Ap-apa itu Kak? Aku baru pertama kali mendengarnya,” tanya Alysha penasaran.

“Entahlah, kakak juga tidak tau. Kakak hanya –“

Second Mind, pikiran kedua atau mungkin lebih tepatnya ilmu kinesis kedua. Ras mereka dapat menggunakan dua ilmu kinesis sekaligus,” senyum Alfa berjalan menghampiri mereka.

“Be-benarkah?!” tanya Anggela terkejut.

Ya sebenarnya ada kemampuan lain yang lebih mengerikan dari ras Half-elf selain Scond Mind,” batin khawatir Alfa.

“Bohong, kan? Ak-aku belum pernah mendengar manusia yang mempunyai kemampuan seperti itu?!”

“Tapi sayangnya mereka bukan manusia, mereka berbeda dengan kita,” senyum Alfa melihat Alysha.

“Ta-tapi darimana Guru Alfa bisa tau?” tanya Heliasha penasaran.

“Ra-ha-sia,” senyum Alfa.

“....”

“Baiklah Anggela, aku ingin bertanya sesuatu padamu,” lanjutnya melihat Anggela.

“Ap-apa?”

“Jika kamu berhasil membalaskan dendammu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?!”

“Ak-aku –“ Anggela terdiam berpikir, dia terlihat kebingungan.

“Apa kamu hanya akan berdiam diri. Tak melakukan apapun ketika orang-orang berhargamu dibunuh kembali? Lalu kamu kembali melakukan balas dendam seperti sebelumnya.”

“Begitu?!” lanjut Alfa.


“.......!” Anggela hanya terdiam menundukkan kepala.

“Lupakan masa lalu, dan hadapi kenyataan saat ini. Kamu boleh melihat masa lalu, tapi tidak untuk seterusnya. Kamu harus berpikir juga tentang masa kini dan masa yang akan datang,” senyum Alfa.

Lindungi? Aku harus melindungi orang-orang yang berharga bagiku?! Aku tidak ingin insiden Halsy terulang kembali!” gumam terkejut Anggela dalam hati.

“Sepertinya kamu sudah mengerti,” senyum Heliasha melihat Anggela.

“Kamu sudah tau kan tujuan kamu bertarung?!”

“Ya aku sudah mengerti, aku harus bertarung melindungi orang-orang yang berharga bagiku. Aku tidak ingin insiden itu terulang lagi.”

“Satu hal lagi, pikiranmu harus tenang saat bertarung melawan musuhmu! Jangan biarkan emosimu mengendalikanmu,” senyum Alfa.

“Ya, terima kasih. Sekarang aku sadar!” jelas Anggela lalu berlari ke tempat yang biasa ia gunakan untuk berlatih.

Anggela mencoba mengangkat koin seperti sebelumnya, secara perlahan tapi pasti koin itu terangkat oleh kemampuan Anggela.

Koin itu terus melayang beberapa menit di atas Anggela, terlihat keringat yang mulai berucuran dari tubuh Anggela, entah karena panas matahari atau karena usaha Anggela untuk menahan kemampuannya.

Dia akhirnya berhasil mengontrol kemampuan dan emosinya, dia berhasil mengangkat koin tersebut dengan kemampuannya selama 30 menit.

“Akhirnya ia berhasil,” senyum Alfa melihat Anggela dari kejauhan.

“Ya, dia berhasil. Lalu latihan apa lagi yang dia butuhk –“

“Hanya itu, hanya itu yang bisa aku ajarkan padanya. Sisanya tinggal dia sendiri yang membuat skill-skill khusus untuk dirinya sendiri,” senyum Alfa melihat Heliasha.

“Eh benarkah?!” tanya Heliasha terkejut.

“Ya ....”

“Aahhhh ...., mungkin aku akan kasih solusi beberapa skill tentang Electrokinesis. Aku punya beberapa skill Electrokinesis yang bagus,” lanjutnya.

“Ap-apa kamu kineser tipe Electro –“

Bukan bukan, aku tipe Telekinesis.”

“Lalu kenapa Guru Alfa bisa –“

“Dulu aku punya murid yang hampir mirip seperti Anggela, tapi sayangnya dia satu tingkat dibawah Anggela.”

“Hemmmm .....,” Heliasha hanya bergumam sambil mengambil gelas yang berada disampingnya.

Sang Kilat, apa kamu pernah mendengar julukan terseb –“

“Pa-papah?!” tanya Heliasha memasang wajah yang tidak percaya pada Alfa, gelas yang sebelumnya dia pegang seketika terjatuh kebawah.

“Wow, ternyata kamu masih mengenal julukan orang tuamu."

“Be-benarkah itu?!” tanya Heliasha lalu berdiri melihat Alfa. Kedua tangannya bergemetar, wajahnya terlihat masih tak percaya memandang lelaki dewasa itu.

“Ya, dia adalah sahabat dan mantan muridku. Sang pahlawan dalam perang ras, Haikal Aeldra ....,” senyum Alfa memejamkan matanya.




***

My Dearest Jilid 1 Chapter XXII Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.