08 Oktober 2015

My Dearest Jilid 1 Chapter XXI

MY DEAREST JILID 1
CHAPTER XXI
HALSY AELDRA

Bagian Pertama:

Berat, nafasku sangat berat! Apa ini waktunya? Waktuku untuk meninggalkan dunia ini .... Tentu saja itu tidak mungkin, aku tahu akan hal itu.

Hampir setiap hari aku mengalami hal seperti ini.

Aku kembali membuka mataku, aku kembali ke dunia nyata dari alam mimpiku. Kulihat seorang gadis sedang menimpa tubuhku, menipa dadaku sambil tertidur pulas.

“Halsy, kamu begini lagi?”

“Ehmm ....,” gumamnya melindur dan dia malah semakin erat memeluk tubuhku.

“Halsy!” jelasku mencoba membangunkannya.

“Ya? Kenapa .... –“

“Oh, selamat pagi,” lanjutnya malah tersenyum melihatku.

“Selamat pagi mukamu, cepat menyingkir dari atas tubuhku!” kesalku memejamkan mata.

Gadis itu mulai menyingkir dari tubuhku, wajahnya terlihat sedih sambil menguap.

“Hoaam... kamu galak banget sih.”

“Berisik.” Aku mulai duduk di atas kasurku dan memandang gadis yang masih setengah sadar itu.

Biar kuperkenalkan, gadis yang memakai panjama ini adalah Halsy Aeldra. Gadis cantik dengan rambut twintails berwarna merah muda seperti bunga sakura. Kalian pasti tidak percaya ini, tapi dia adalah Kineser terkuat di era ini, Sang Noble Heart.

Mungkin ini juga sulit dipercaya kalau dia adalah kekasihku, kami sudah berpacaran sejak kami berumur sembilan tahun.

“Halsy, apa itu panjama barumu?”

“Ini? Iya iya, cocok gak?” senyumnya amat manis.

“Iya ..., co-cocok,” jawabku memalingkan wajah, sungguh aku tak kuat melihat wajahnya yang seperti itu.

“Muka kamu memerah lagi! Senangnya kalau kamu menyukainya.”

“Berisik! Aku cuman sedang tidak enak badan, karena itulah mukaku menjadi merah!”

Ini mungkin salah satu sifatku yang paling kubenci, aku sulit untuk jujur pada diriku sendiri. Aku benar-benar menyukainya, tapi perkataanku yang keluar malah sering berbanding terbalik.

“Be-benarkah? Apa kamu benar-benar sakit?!” tanya Halsy sedikit panik. Dia mulai mendekatiku dengan penuh kekhawatiran.

“Aaahh ...., se-sekarang sudah tidak apa ...,”jawabku dengan nada sedikit gugup.

“Tidak apa bagaimana? Muka kamu semakin memerah tau!”

“Tentu saja bodoh! Ini semua karena kamu yang tiba-tiba mendekatiku.”

“Biar aku periksa suhu tub –“ Halsy mencoba mengadu kening kepalanya dengan kening kepalaku.

Tapi.

“Apa yang mau kamu lakukan, bodoh?” senyumku bertanya kesal, aku menahan kening kepalanya itu dengan tangan kananku.

“Memeriksa suhu tubuhmu ....,” sedih Halsy yang terlihat khawatir.

“Ak-aku tidak apa-apa!”

“Eh?”

“Sudahlah! Yang lebih penting, kamu sangat cocok dengan panjama baru itu!” jelasku sambil menunjuk panjama barunya.

“Be-benarkah?” jawabnya dengan muka yang mulai memerah.

“Y-ya.”

“Be-begitu yah,” jawabnya dengan wajah yang semakin memerah.

“.........”

Ah sial, aku paling benci dengan situasi seperti ini, setelah perkataan terakhirnya tadi suasana berubah menjadi agak canggung. Dalam situasi seperti ini, aku benar-benar tidak tau apa yang harus kulakukan.

“Ka-kalau begitu aku akan memakai pakaian ini ke pantai –“

“Tu-tunggu dulu! Kenapa kamu memakai panjama ke pantai?” tanyaku datar memiringkan kepala.

“Kenapa? Bukankah kamu bilang sendiri kalau panjama ini sangat cocok untukku? Jadi aku mau memamerkannya,” jawabnya polos.

“Ha-Halsy, menurutku akan sedikit aneh atau mungkin sangat aneh jika kamu memakai panjama ke pantai.” Geramku menahan kesal.

“Eeeh, tidak boleh yah!?” cemberut Halsy yang kecewa.

“Apa aku harus menjawab pertanyaanmu? Tentu saja tidak boleh!”

“Tapi –“

Krek!!

Seorang gadis yang mirip dengan Halsy masuk ke dalam kamarku, dia yang sedang membawa buku kamus terlihat tersenyum mulai menggoda kami.

“Wow hari masih pagi, sudah mesra aja nih ....”

Dia adalah Heliasha Aeldra, Kakak kandung dari kekasihku. Rambutnya terurai panjang berwarna emas putih. Seperti halnya Halsy, dia juga termasuk Kineser yang kuat dan menduduki peringkat runner up, dengan julukan Blood Taker.

“Ohh Kakak!” senyum Halsy gembira.

“Ada apa Heli? Apa kamu ada perlu denganku –“

“Panggil aku kakak bodoh. Aku ini lebih tua darimu!” kesal Heliasha sambil melemparkan bukunya tepat mengenai mukaku.

WUINGG!! DUAAKK!

“AWW!”.

“Kakak, jangan kasar gitu dong,” Halsy terlihat cemberut tak senang.

“Maaf maaf, tangan kakak bergerak sendiri,” senyum manis Heliasha.

“Be-benarkah? –“

“Sudahlah, bisakah kalian keluar sebentar? Aku mau mengganti pakaianku.”

“Tuh denger kan Kak, Anggela mau mengganti pakaiannya. Jadi Kakak harus –“

“Kamu juga Halsy!” geramku menahan kesal.

“Eeeh aku juga, kenapa? Kita kan sepasang kekas –“

“Jangan jadikan itu sebagai alasan! Cepat keluar!”

“Eeehh,” keluh Halsy.

“Ayo keluar, kita sarapan bareng yuk!” Ajak Heliasha pada adiknya.

“Em, aku suka sarapan, ” senyum Halsy menganggukan kepalanya.

Saat mereka keluar dari ruanganku, aku langsung berjalan ke arah kamar mandi, dan mulai melakukan aktifitas pagiku yang seperti biasanya.

Beberapa menit telah berlalu, kini aku sedang memakai pakaianku dan bersiap turun ke bawah.

“Anggela! Sini makan!” teriak Kakakku, Keisha.

“Iya kak, aku baru mau kesana!” jelasku sambil berjalan ke arah ruang makan.

“Yo Anggela!”

“Hi-Hizkil? Kenapa kamu disini?” keluhku bertanya.

“Apa-apaan muka kamu yang menyedihkan itu?! Apa kamu tidak senang kalau sahabatmu datang menjemputmu.”

“Anggela, duduk disini! Aku sudah menyiapkan makananmu,” senyum Halsy sambil menyuruhku duduk disampingnya.

“Y-ya makasih,” jawabku sambil berjalan ke arahnya.

“Kenapa kalian tidak menikah saja! Aku sudah mulai bosan dengan kemesraan kalia –“ Hizkil dengan nada mengejek.

“Ap-apa maksudmu dengan ke-kemesraan? Kami hanyaa –“

“Aku juga ingin, tapi kami masih belum cukup umur untuk menikah,” jawab Halsy dengan nada sedih.

“Eeehh... kamu tidak perlu menanggapinya dengan serius, Halsy!” kagetku dengan wajah memerah.

“Ohh indahnya orang yang sedang kasmaran,” senyum Heliasha melihat Anggela.

“Kalau begitu kamu juga cari saja orang yang kamu suka, Heli.” Keisha sambil melirik Heliasha.

“Malas malas, aku tidak begitu tertarik dengan hal begituan.”

“Eh? Sayang sekali, padahal Kak Heli cantik dan cukup populer,” Hizkil lalu mulai meminum air minumnya.

“Iya, tapi tidak secantik Herlian –“

“Burrkgh!! ”Hizkil terkejut seketika, wajahnya mulai memerah menatap Heliasha.

“Ap-apa maksud, uhuk uhuk, mu Kak?” jelas Hizkil yang diiringi dengan batuknya.

“Tidak ada maksud,” senyum Heliasha sambil memalingkan wajahnya.

“Ngomong-ngomong, kemana Liana? Apa dia masih belum sampai?” tanya Halsy penasaran.

“Entahlah, tapi tadi aku sudah menyuruhnya datang kesi –“ Keisha.

Ting Tong!!

“Ahhh, panjang umur dia,” senyum Heliasha sambil berjalan ke arah pintu keluar.

Lalu setelah itu.

“Halsy, jangan sisakan makananmu lagi,” senyumku yang mengejek.

“Ak-aku enggak pernah menyisakan makananku!” kesal Halsy, wajahnya mulai memerah.

“Oohhh, benarkah?”

“Ten-tentu saja, iya kan Liana?” Halsy sambil melihat Herliana yang baru saja memasuki ruangan.

“Eeh... Ap-apa Hal?” tanya Herliana yang kaget kebingungan.

Gadis yang sedang kebingungan tersebut bernama Herliana, memiliki paras cantik, dengan rambut bergelombang panjang berwarna kuning keemasan. Sifatnya bisa dikatakan baik, hampir seperti Halsy.

Mungkin hanya satu hal yang kurang dari gadis ini, dia kurang peka sama keadaan sekitarnya.

“Ini loh, tentang aku yang selalu menyisakan makanan.“

“Ohh iya, kamu memang sering menyisakan makananmu,” senyum Liana.

“Burgh, ahahhahaha!” aku spontan tertawa lepas.

“Eeeeh .... beneran?” sedih Halsy yang terkejut.

“Ahahahaha, kan apa aku bilang?”

“Berisik, kamu juga berhenti ketawa!” lanjutnya sambil memukul pelan pundakku.

“Liana, kamu udah sarapan?” tanya Keisha tersenyum.

“Udah –“

“Sa-sarapan lagi ajah, biar diperjalanan nanti kamu kuat,” Hizkil dengan nada sedikit gugup.

“Liana, kamu duduk di samping Hizkil aja. Dia sendiri loh yang sudah mengosongkan tempat duduk tersebut.” Heliasha sambil melirik Hizkil.

“Kak Heli –“

“Benarkah? Makasih yah,” senyum Liana pada Hizkil.

“Y-ya tidak ap –“

“Ah bentar, dipipi kamu ada saus,” jelas Liana sambil mengusap pelan pipi Hizkil.

“A-aa...” Hizkil dengan muka yang semakin memerah.

“Kenapa?” tanya Liana kebingungan.

Kan? Liana memang gak pernah peka sama sekitarnya, udah jelas kalau Hizkil itu suka sama dia. Tapi dia gak pernah sadar.

“Dia demam ....,” jelasku sambil memalingkan wajah.

“Be-benarkah?!” tanya khawatir Liana dan Halsy.

“Gak enggak, cuman bohong kok.”

“Kamu ini! –“

“Tapi kamu juga kenapa malah ikutan khawatir?” tanyaku sambil memalingkan wajah.

“Kamu cemburu yah ....!” senyum Halsy meledek.

“Haah, eng-enggak, aku enggak cemburu!”

“Terlihat jelas dari wajahmu Anggela. Wajahmu memerah ...,” Hizkil dengan tatapan mengejek.

“Dia cemburu sama hal kecil lagi,” Heliasha melirik sahabatnya, Keisha.

“Iya, dia melakukannya lagi,”Keisha mengeluh memejamkan mata.

“Ak-aku enggak cemburu!! “ teriakku semakin kesal, semuanya benar-benar mengesalkan saat seperti ini.

“Aahh lucunya, seandainya ada yang menyukaiku. Aku pasti akan bahagia seperti kalian berdua,” senyum Liana melihatku.

Oi oi, lalu orang dengan muka yang memerah disampingmu itu bagaimana? Cepatlah sadar!”

“Liana ...,” keluh Halsy, Keisha, dan Heliasha melihatnya.

“Emm? Kenapa?” tanya Herliana penasaran.

“Gak, enggak jadi,” jawab Halsy, Keisha, dan Heliasha memalingkan wajahnya.

“Aneh,” senyum Herliana memiringkan kepalanya.

“Hey, disini kamu yang aneh!! Hampir tiga tahun lebih kamu tidak pernah sadar sama perasaan Hizkil.”

“.......”

“Jadi kita ini mau berangkat jam berapa?!”

“Sekarang aja Anggela,” jawab Heliasha lalu berdiri dari tempat duduknya.

Setelah perkataan Heliasha tadi, kami pun bergegas berjalan ke arah pintu keluar rumah. Saat aku mau membuka pintu tersebut, tiba-tiba.

“Aah, dompet kakak ketinggalan. Tunggu sebentar yah!!” Keisha sambil berjalan cepat kearah kamarnya.

“Ya, jangan lama-lama Kak!”

Untuk sesaat suasana terasa hening, kami hanya terdiam berdiri dekat pintu keluar menunggu Kak Keisha.

“Anggelina, yah?” Halsy sambil memandang foto keluarga kami.

“Ooh adik kembarku?”

“Iya, aku jadi pengen bertemu dengannya!” senyum Halsy mendekatiku, mulai merangkul tangan kananku.

“Y-ya aku juga ..., kapan-kapan kita kunjungi dia aja. Gimana?”

“Waaah ide bagus!” senyum Halsy gembira.

“Kami juga ikut yah!” Herliana sambil memegang tangan kanan Hizkil.

“Tentu saja, kita berempat kan selalu bersama!” senyum Halsy melihat Herliana.

Sejak berumur delapan tahun kami memang sering bermain bersama, bahkan sampai sekarang pun tetap seperti itu. Hari ini kami berniat pergi ke daerah Dealendra, area 92. Ya, area itu merupakan area yang memiliki pantai yang cukup indah.

Diantara kami berempat, hanya Herliana saja yang bukan merupakan seorang Kineser. Dia hanya gadis biasa dengan tubuh yang lemah, ya meski dari luar dia kelihatannya segar-segar saja.

Sementara itu, Hizkil merupakan Kineser tingkat dua dengan tipe teleport. Sedangkan aku Kineser tingkat empat dengan tipe Electrokinesis.



***

Bagian Kedua:

“Halsy, kenapa kamu malah membiarkan pergi perampok itu?!” geramku dengan nada sangat kesal.

“Dia pasti punya alasan karena telah melakukan hal tersebut!! Semua manusia itu pasti memiliki kekurangan dan melakukan kesalahan!”

“Tapi kamu itu terlalu berlebihan –“

“Sudahlah Anggela, yang terpenting kita selamat,” senyum Kak Keisha melihatku.

“Baiklah! Aku mengerti!” teriak kesalku. Sejujurnya aku masih belum menerima tindakan kekasihku tadi.

Beberapa jam yang lalu sebelum kami menaiki F-Car. Kami tidak sengaja melihat aksi perampokan pada area perbelanjaan. Tentu saja dengan sigapnya Heliasha dan Keisha menyergap perampok tersebut.

“Hukum mati ditempat aja!” geramku saat itu sambil menatap tajam perampok itu.

Sungguh, aku benar-benar membenci orang-orang seperti mereka. Hasil rampokan itu bukan hak mereka, tapi mereka masih tetap mengambilnya. Lebih buruk dari itu, terkadang mereka tidak segan-segan untuk membunuh korban tak bersalah.

Bajingan seperti mereka memang sepantasnya dihabisi.

“Enggak, itu terlalu berlebihan Angela. Kakak akan memasukannya ke penja –“ Kak Keisha terlihat khawatir melihatku. Dia seperti sudah tau jika aku akan mengatakan perkataan sebelumnya.

“Lepaskan dan maafkanlah dia. Dia pasti sedang memiliki masalah .... Kasian kan, kalau masalahnya malah bertambah,” jelas Halsy, dia malah berbalik melindungi perampok tersebut.

Ya, karena itulah aku kesal terhadapnya. Orang bodoh macam apa yang melepaskan penjahat?! Aku tau dia itu baik, tapi itu sih sudah kelewatan! Masa penjahat dilepaskan begitu saja, tanpa hukuman? Tanpa sanksi? Aneh banget kan?

Waktu dulu aku pernah bertanya seperti ini pada Halsy. 

Apa yang akan kamu lakukan jika kamu dirampok ditengah jalan?!”

Dan coba tebak apa jawabannya?

Dia hanya tersenyum dan menjawab. “Aku kasih hartaku, keselamatan yang terpenting. Lagipula dia pasti punya alasan khusus karena melakukan hal tersebut.”

Ini salah satu sifat Halsy yang paling aku benci, dia terlalu rela berkorban demi orang lain! Tentu saja sifatnya ini sangat berbanding terbalik dengan sifatku. Aku kurang peduli terhadap orang lain. Untuk apa kita membantu mereka? Mereka juga belum tentu membantu kita.

“Benar-benar yah, dalam situasi seperti tadi kamu dan Halsy pasti selalu saja berbeda pendapat,” senyum Hizkil melihat kami berdua.

Aku hanya terdiam mengabaikannya. Aku benar-benar malas bercanda dengannya saat ini.

“Iya, Halsy memiliki rasa kepedulian yang tinggi, sedangkan sifat kamu malah sebaliknya,” Liana terlihat khawatir melihatku.

“Anggela, paling tidak kamu punya rasa empati seperti Hals –“ senyum khawatir Hizkil.

“Berisik!” teriak kesalku. Disaat aku yang masih kesal, Halsy hanya terdiam memalingkan wajahnya, dia hanya terus melihat pemandangan luar dari jendela F-Car.

“Sudahlah kalian berdua, berhenti bertengkar.” Keisha dengan nada mengeluh.

“Tak apa Kei, biarkan saja mereka.” Heliasha.

“Tapi –“

“Anggela Anggela, lihat disana ada lumba-lumba!” Halsy dengan nada gembira sambil menarik lengan bajuku. Suaranya terdengar lembut sambil menatapku dengan mata yang bersinar-sinar.

“Eeeh ... “

“Woah kamu benar, banyak lumba-lumba!” senyumku melihat sekumpulan lumba-lumba tersebut. Ini benar-benar kebetulan yang menakjubkan. Tidak kusangka aku bisa melihat binatang kesukaan kami berdua sedang bermigrasi.

“Kan? Kan? Mereka banyak sekali! Kita ambil satu yah –“

“Hah? Untuk apa?”

“Untuk kita pelihara!” Senyum Halsy bersemangat.

“Enggak bisa Halsy, kita gak punya kolam untuk menampung lumba-lumba,” senyumku pada Halsy. Rasa amarahku terasa hancur karena kepolosan Halsy.

“Eehhh... “ Halsy memasang muka kecewa.

“Kan? Mereka berbaikan lagi,” senyum Heliasha.

“Iya. Seperti biasanya, mereka aneh sekali,” senyum Keisha dengan nada mengeluh.

Akhirnya kami sampai di area 91, kulihat pantai yang sangat indah menyambut kedatangan kami. Terik matahari yang sangat terang menyinari kami berenam.

WUSH WUSH!

Suara ombak juga seolah-olah bersorak menyambut kedatangan kami.

“Anggela Anggela, ayo!” senyum Halsy lalu menarik tangan kananku. Halsy berlari ke arah depan, tempat laut berada. Aku hanya bisa tersenyum pasrah dan terus berlari mengikutinya.

Setelah kakinya menyentuh air laut, seketika dia menghentikan langkahnya dan bertanya kepadaku.

“Ang-Anggela.... apa kamu mencintaiku?”

Aku cukup terkejut dengan pertanyaan yang dia ajukan, dengan cukup cepat aku segera melepaskan tangan kananku darinya.

“Bo-bodoh!! Ke-kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?” jawabku dengan muka yang mulai memerah.

“Jawab saja ..,” senyum Halsy sambil membalikkan badannya, dia melihatku dengan tatapan yang serius.

“Iy-iya, te-tentu saja bodoh,” jawabku sambil memalingkan wajahku yang semakin memerah.

“La-lalu kenapa kamu tidak pe-pernah menyentuhku?” Halsy dengan nada gugup. Dia memalingkan wajahnya yang mulai memerah.

“Menyentuhmu? Seperti ini?” Aku bertanya sambil memegang tangan kanannya.

“Bu-bukan! Ma-maksudku itu ....., “ Halsy perkataannya tidak selesai, mukanya malah semakin memerah.

Aku hanya terdiam kebingungan karena melihat tingkahnya. Aku mulai berpikir keras, apa yang dimaksud perkataan Halsy tadi.

Sentuh? Menyentuh ....? Ja-jangan bilang?!

“Ja-jangan bilang kamu memikirkan itu?” Aku bertanya dengan wajah yang memerah.

“Ta-tapi aku memang memikirkan itu ...,” Halsy dengan nada amat pelan, dia perlahan kembali memalingkan wajahnya ke arahku. Terlihat tatapan wajah yang sangat menggoda darinya.

“Eng-enggak enggak, itu ma-masih terlalu cepat buat kita!” jawabku sambil menggelengkan kepala dengan sangat cepat.

“Ak-aku tau! Tap-tapi kita ini sudah berpacaran selama empat tahun. Aku hanya takut kalau kamu ini cuman mempermainkanku! Kam-kamu bahkan belum pernah menciumku!” jelasnya dengan nada sedikit kesal.

Ini benar-benar diluar perkiraanku, aku tidak menyangka kalau Halsy bisa seagresif ini. Aku hanya mengira kalau dia ini gadis polos yang belum mengetahui tentang hal seperti itu. Tapi ternyata dugaanku salah, pikirannya lebih dewasa daripada aku.

“Ha-halsy tenanglah, bu-bukan berarti aku tidak mau menciummu. Aku hanya .... “

“Hanya apa ....!?” Ttnya Halsy memasang muka cemberut yang lucu.

“Ha-hanya ...” jawabku sambil mencoba berpikir keras.

“Hanya apaa?”

“Pe .., Pernikahan! Iya pernikahan, aku sudah bertekad akan mencium kamu dipernikahan.” Jawabku sambil memalingkan pandangan darinya.

“Pernikahan yah ... Itu masih tiga atau empat tahun lagi. Aku takut kalau kamu akan membuangku, dan malah mencintai perempuan yang lain –“

“Mustahil! Aku tidak akan seperti itu!” jawabku berteriak secara spontan.

“Be-benarkah?”

“Iya benar!”

“Kalau begitu kita akan buat janji saja.” Senyum Halsy melihatku.

“Janji?”

“Iya janji. Kamu tau bunga Edelweis?”

“Aku pernah mendengar nama bunga itu. Bunga yang abadi, bunga yang tidak pernah layu. Tapi aku pikir itu hanya sebuah legenda belaka, mustahil ada bunga yang seperti it –“

“Itu benar ada kok! Ketika aku masih kecil, mamahku pernah menceritakan bunga itu padaku. Bunga itu berwarna putih seputih salju, dan ditengah-tengahnya berwarna kuning keemasan.”

“Kamu tidak bohong kan?”

“Enggak, aku gak bohong. Tapi sepertinya bunga itu sudah punah karena gempa besar waktu itu.”

“Jadi apa hubungan bunga itu dengan janji kita?”

“Aku ingin cinta kita abadi seperti bunga itu, dan kamu jangan pernah berpaling dariku.”

“Ba-baiklah, tapi kamu juga jangan seperti itu!” senyumku sambil mengelus-ngelus kepalanya.

“Emm,” jawabnya menganggukan kepalanya, terlihat mukanya yang memerah sepertiku. Dirinya sungguh terlihat menggemaskan.

“Aduuuh panasnya hari ini, kenapa yah?! Apa karena matahari? Atau..... “ Heliasha dengan nada mengejek sambil melirik kami berdua.

“Kakak!!” Halsy terkejut sambil melihat Kakaknya.

“Bu-bukan, tadi dikepala Halsy ada sesuatu. Ja-jadi aku membantu membersih –“

“Oooh kamu tidak jujur lagi, seperti biasanya yah, Anggela,” senyum Hizkil melihatku.

“Manisnya.” Herliana ikut memojokkanku.

“Berisik kalian berdua!” teriakku ke arah mereka berdua dengan muka yang masih memerah.

“Waaa ayo kita lari Hizkil, ada ogre yang mengamuk!” Herliana sambil berlari menarik tangan kanan Hizkil.

“Ah-ahh.. iy-iya –“ Hizkil dengan muka yang memerah.

“Kenapa kamu Hikil? Sakit lagi?” tanya Herliana kebingungan.

“Eng-enggak, ah-ahahaha.”

“Ternyata kamu benar yah Heli, disini panas sekali –“ Ledekku sambil melirik Hizkil yang tersipu malu tapi langsung terpotong karena mendapatkan tendangan keras tepat pada perutku.

BUAKK!!

“Panggil aku Kakak bodoh!!” geram Heliasha dengan nada kesal.

“Aww!”

“Iy-iya Kak,” Lanjutku sambil merintih kesakitan.

“Hahahahahaha.” Kak Keisha hanya tertawa sambil berjalan ke arah kami.

“Aahahahaha, rasakan itu!” tertawa Hizkil meledekku.

“Berisik!”

“Kakak, sudah kubilang jangan kasar seperti itu!” Halsy dengan nada sedikit kesal sambil berjalan cepat kearah kakaknya.

“Maaf Halsy, tadi kaki kakak tergelincir.”

“Benarkah? Kalau begitu apa boleh buat,” senyum Halsy.

“Itu bohong Halsy! Mustahil kakinya tergelincir, dan lagipula kenapa juga kamu percaya begitu saja padanya?! Aku jadi sempat ragu, apa kamu ini benar-benar memiliki sifat yang dewasa, atau hanya gadis polos seperti biasanya?”

“Baiklah, saatnya kita menikmati liburan kita! Kita dilarang pulang sebelum hati kita senang ...., mengerti?!!” teriak Heliasha sambil mengangkat kedua tangannya.

“Yaaa!!”



***

Bagian Ketiga:

Krekk...

Aku perlahan membuka pintu sebuah cafe di dekat rumahku, terlihat Halsy dibelakangku yang memegang bajuku dengan memasang wajah cemas.

“Siap?”

“Em,” jawabnya menganggukan kepala.

Krekk!!.

“Woah mereka datang!” teriak salah seorang dari cafe, dia adalah Kak Jim. Teman dari Kakakku, Keisha.

“Sialan Anggela .... Apa berita itu benar?!” tanya Hizkil dengan nada sedikit kesal.

“Be-berita? Berita apa?” tanyaku berpura-pura bodoh.

“Jangan berlagak bodoh Anggela, apa kamu sudah –“

“Sudahlah teman-teman, tidak enak kan jika kita mendesak mereka seperti ini,” senyum Herliana melihat kami berdua. Dia terlihat berjalan menghampiri kami.

Di dalam Cafe itu terlihat beberapa orang yang sudah kami kenal, mereka semua mendatangi kami sambil memasang wajah penasaran. Kak Jim, Hizkil, Herliana, dan beberapa teman dari Junior Highschool mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya sudah kami duga.

“Ne ne, Apa kalian benar-benar sudah bertunangan?!” tanya Sakura salah satu teman kami berdua.

“It-itu...” Halsy dengan nada gugup, wajahnya memerah melihatku.

“Ka-kami hanya terpaksa –“

“Kyaaa!! Hebat, sebentar lagi kalian akan melakukan ini dan itu, la-lalu ka-kalian –“

“Sudah jangan diteruskan Ilya, wajahmu memerah, darah sudah keluar dari hidungmu. Kamu tampak mengerikan,” jelas Dimas sambil menutup mulut Ilya.

“Tapi selamat yah Nggel, Kamu akhirnya bertunangan dengan Hals –“ lanjutnya melihatku.

“Su-sudah kubilang aku terpaksa melakukan itu!”

“Woah tidak jujur seperti biasanya,” senyum Hizkil memejamkan mata.

“Lucunya...” Herliana ikut tersenyum ke arahku.

“Be-berisik!” Jawabku berteriak, sedangkan Halsy hanya terdiam dengan wajah yang masih memerah.

“Ya ya, lalu bagaimana kejadiannya sampai-sampai kalian bisa bertunangan seperti ini?” tanya Herliana pada kami berdua.

“It-itu karena salahku, Anggela –“

“Biar aku yang menceritakannya Halsy...,” senyumku kearah Halsy.

“Jadi begini ...” Lanjutku mulai menceritakan kronologisnya pada mereka.

Tiga, bukan ..., mungkin empat hari yang lalu kami berdua bertengkar hebat. Mungkin masalahnya cukup sepele bagi kalian atau orang lain, tapi bagi kami itu adalah masalah yang sangat serius.

Aku tau kalau Halsy terkadang sering ditindas disekolahnya, mungkin karena kepopulerannya. Aku tau betul siapa orang-orang yang seringkali menindas Halsy, dan aku seringkali berniat memberi pelajaran pada mereka.

Tapi tahukah kalian, Halsy malah melarangku untuk melakukan hal tersebut, dia hanya tersenyum ke arahku, dia hanya bisa menerima perlakukan tersebut dengan ikhlas.

Bukan hal itu yang membuatku bertengkar hebat dengannya, aku masih bisa mentolerir hal tersebut karena sifat Halsy yang sudah dari dulu seperti itu.

Tapi empat hari yang lalu, tiba-tiba orang tersebut datang menghampiri Halsy, salah satu orang yang sering menindas Halsy. Dia berkata kalau keluarganya sedang kesulitan dalam hal ekonomi. Dia berniat meminjam uang pada Halsy, dia tau kalau keluarga Halsy bukan keluarga sembarangan.

Kelurga Halsy yaitu keluarga Aeldra, merupakan salah satu keluarga yang kaya, mungkin sangat kaya. Mereka juga seringkali disebut sebagai keluarga pahlawan oleh beberapa kineser tingkat atas, alasanya aku juga masih belum mengetahui kenapa keluarga Halsy dipanggil seperti itu. Hanya segelintir orang yang mengetahui kebenaran tentang keluarga ini.

Kalian pasti sudah tau apa yang Halsy lakukan saat mendengar permintaan itu. Ya, dia meminjamkan uangnya, dia meminjamkan uang pada orang yang sudah menindas. Bukankah itu sedikit aneh? Bukankah itu sedikit berlebihan? Itu tidak normal!

“Halsy! Aku mendengarnya, katanya kamu meminjamkan uangmu pada gadis itu! Benar kan?”

“Iy-iya, kenapa kamu bisa tau –“

“Kenapa kamu ini?! Dia itu sudah menindasmu!”

“Alasan dia menindasku adalah karena dia cemburu, dia hanya cemburu karena aku sering bermain dengan teman-temanku yang lain –“

“Dan kamu percaya saja? Bodohnya kamu ini, kenapa kamu bisa mudah percaya pada perkataan musuhmu?!”

“Dia bukan musuhku! Dia teman –“

“Teman?! Apa teman melakukan penindasan seperti itu? Apa Herliana melakukan itu padamu? Apa Sakura dan Ilya melakukan itu padamu?! Tidak kan?!” tanyaku dengan nada sangat kesal.

“Ta-tapi –“

“Sudahlah, cepat temui dia lagi! Ambil kembali uangnya! Jangan pernah berikan dia bantuan!”

“Tapi dia butuh uang itu untuk keluarganya, ibunya sakit dan harus dioprasi. Biaya operasinya sangat mahal, hanya aku saja yang dapat membantunya!” bujuk Halsy melihatku.

“Aku tau kamu ini sangat kaya, mungkin uang yang kamu berikan padanya bukan seberapa bagimu, dan mungkin kamu juga tidak akan meminta dia untuk mengembalikan uangnya. Tapi bagaimana jika dia berbohong padamu! Bagaimana jika dia hanya memanfaatkan kebaikanmu dan hanya ingin memerasmu!” teriakku semakin kesal.

“Kenapa kamu selalu seperti ini?! Bukankah hal yang mengagumkan jika kita dapat membantu orang lain!”

“Orang lain?! Dia musuh kita! Jika kamu membantu orang lain aku bisa menerimanya. Tapi dia sudah melukaimu!! Kenapa kamu masih tidak mengerti Halsy!!”

“Kamu yang tidak mengerti!! Apa kamu membenciku?! Kenapa kamu selalu melarangku untuk melakukan hal yang baik seperti ini?” tanya Halsy dengan nada kesal, matanya memerah seakan sudah siap menangis.

“Aku seperti ini karena aku menyayangimu! Lagipula kamu menolong orang yang salah, dia harus mendapatkan ganjaran –“

“Bohong! Kamu pembohong!”

“Hah? Apa maksudmu?! Apa maksud kamu bilang aku seperti it –“

“Kamu tidak menyayangiku ...,” pelannya lalu mulai mengeluarkan air mata.

“Ap-apa katamu?” tanyaku dengan nada pelan, sungguh aku merasa bersalah karena sudah membuatnya menangis.

Apa aku terlalu berlebihan?” batinku saat itu.

“Ha-Halsy, maaf –“

“Tak apa! Aku tidak menangis!” teriaknya sambil memasang wajah marah.

“Tunggu sebentar disini,” senyumku padanya. Aku mulai berjalan meninggalkannya yang berada di ruang tengah.

“Ma-mau kemana ...?”

“Aku mau mengambil sesuatu di kamarku.”

Aku lekas berjalan cepat ke kamarku, membuka lemari, dan mengambil sebuah kotak berwarna ungu. Aku membuka kota tersebut, terlihat kedua cincin yang berwarna emas keputihan. Ya, itu adalah cincin yang nanti akan kugunakan untuk melamarnya.

Aku lekas membawa kedua cincin tersebut dan bergegas berlari menghampiri Halsy yang sedang duduk di sofa ruang tamu.

“Ap-apa yang kamu ambil?” tanya Halsy sambil mencoba menghentikan tangisannya.

“Bukan hal yang penting ...., pinjam tangan kananmu sebentar,” senyumku sambil memegang tangan kanannya.

Perlahan aku mengeluarkan cincin tersebut, mulai memasukannya cincin itu ke jari manisnya lembut.

“Ang-Anggela, in-ini –“ Halsy dengan muka yang mulai memerah.

“Diamlah sebentar ..,” senyumku sambil terus memasukan cincin tersebut.

“Se-selesai! “ senyumku melihat Halsy. Saat itu mungkin wajahku memerah seperti Halsy.

“Tap-tapi apa kamu serius tentang ini?” tanya Halsy dengan nada gugup.

“Aaah ja-jangan-jangan kamu tidak mau? Ma-maaf aku terlalu percaya diri kalau kamu akan menerima lamaran –“

“Eng-enggak, bukan itu .... Apa kamu tidak keberatan denganku?” tanya Halsy dengan wajah yang semakin memerah.

“Tentu saja, apa kamu percaya sekarang? Aku tidak mungkin membencimu!” senyumku sambil mengusap kepalanya.

“Ka-ka –“

“Ka?” tanyaku kebingungan.

“Ka-kamu juga pakai!”

“Ohh iy-iya tentu saja,” jelasku sambil memakaikan cincin yang satunya pada jari manisku.

“Ang-Anggela, ini tentang –“

“Aku tau tentang gadis itu kan? Gadis yang sering menindasmu.”

“Iy-iyaa, bisakah kamu melepaskannya? Aku tidak keberatan jika dia hanya menipuku –“

“Ya aku sudah tidak peduli lagi!” senyumku melihatnya.

Aku tidak ingin berdebat lagi dengan Halsy karena masalah ini, jadi lebih baik aku turuti saja kemauannya. Tapi jika gadis itu berniat melukai Halsy, akan kubuat dia mendapatkan ganjarannya.

“Kei, kamu merekamnya?”

“Ya Heli, dengan jelas!”

“Bagus –“

“Kakak!!” teriak kaget kami berdua melihat Heliasha dan Kak Keisha.

Terlihat Kak Keisha dan Heliasha yang sedang terdiam bersembunyi di balik dinding ruang tengah. Kak Keisha membawa sebuah perekam video, mungkin dia sudah merekam semua pembicaraan kami saat itu. Sedangkan Heliasha hanya tersenyum menjengkelkan ke arah kami berdua.

“Se-sejak kapan kalian disana?” tanyaku dengan nada gugup.

“Sejak kamu mulai memasangkan cincin pada adikku,” senyum Heliasha sambil berjalan ke arahku.

Kami berdua hanya terdiam dengan wajah yang memerah seperti tomat masak.

“Tapi aku tidak menyangka kalau kamu akan bergerak terlebih dahulu,” senyum Kak Keisha kearahku.

“Jantannya...” Heliasha dengan nada mengejek.

“Berisik!!”

“Ahahahaha, tapi kalian masih belum cukup umur untuk menikah. Kakak khawatir kalau –“

“Tapi Kak –“

“Aku tau kak, kita masih berumur 14 tahun. Akan sangat aneh jika kita menikah di usia seperti ini.” Jawabku sambil melihat Halsy.

“Anggela, aku tidak keberatan ko –“

“Kita tunggu tiga atau empat tahun lagi yah?”

“Ya...” Halsy dengan nada sedikit sedih.

“Tapi kalian boleh kok memakai cincin itu. Anggap saja jika kalian ini sudah bertunangan,” senyum Keisha ke arah kami.

“Tapi mereka benar-benar sudah bertunangan Kei.”

“Kalau begitu kita harus memberitahu teman-teman mereka tentang kabar gembira ini!”

“Ide bagus!”

Ya seperti itulah kenapa aku bisa bertunangan dengan Halsy. Sebenarnya aku ingin melamarnya tiga atau empat tahun lagi, tapi karena kejadian itu jadi terpaksa deh.

Sepertinya Kak Keisha dan Heliasha juga benar-benar menyebarkan pertunangan kami ke teman-teman kami. Buktinya meski liburan sekolah belum selesai, mereka mengundang kami berdua ke cafe ini, mereka ingin mendengar kebenaran tentang masalah ini secepatnya.

“Begitu yah, tapi aku tidak menyangka kalau kamu yang akan melamarnya,” senyum Hizkil ke arahku.

“Berisik kau!”

“Sial, kamu membuatku iri Anggela! Kamu sudah ke tahap itu, sedangkan aku tidak memiliki kemajuan disini,” keluh Hizkil sambil melirik Herliana.

“Kenapa?” tanya Herliana kebingungan.

“Bu-bukan apa-apa!” Hizkil dengan nada gugup, wajahnya kembali memerah.

Bodohnya,” batinku dengan nada datar.

“Baiklah, aku sudah menceritakan tentang masalah ini. Jadi bisakah kita pulang?”

“Ayolah Anggela, tinggalah disini sebentar lagi!” senyum Kak Jim melihatku.

“Iya Halsy, tinggalah sebentar lagi!” Herliana dengan nada sedih.

“Anggela...” Halsy memasang wajah memelas yang lucu melihatku.

“Ba-baiklah, kita tinggal sebentar lagi.”


***

Bagian Keempat:

Langit sudah berubah menjadi gelap. Waktu benar-benar tak terasa ketika kami bersenang-senang di dalam cafe itu.

“Tadi menyenangkan yah!” senyum Halsy sambil terus merangkul tangan kananku.

“Y-ya menyenangkan, tapi Halsy..”

“Ehm? Kenapa?”

“Apa kamu tidak malu melakukan ini? Kita ini sedang di tempat umum.”

“Apa salahnya, kita ini sudah bertunangan. Lagipula disini tidak ada seorangpun,” senyum manis Halsy melihatku.

“Aaah ya ka-kamu benar.” Jawabku dengan nada gugup.

“Emm permisi sebentar?” tanya seorang gadis yang tiba-tiba berada didepan kami.

Se-sejak kapan?!” gumamku terkejut melihat gadis tersebut.

Terlihat sekelompok orang yang berjumlah delapan orang menghadang perjalanan pulang kami, setiap orang memakai topeng dengan warna yang berbeda. Mungkin 4 laki-laki dan 4 perempuan.

“Apa kamu Heliasha Aeldra?” tanya gadis yang memakai topeng ungu.

“Dia bukan –“

“Kami tidak bertanya padamu! “ teriak lelaki yang memakai topeng merah.

“Ayolah Halsy, kamu tinggal menjawab bukan dan masalah ini akan selesai, kenapa kamu malah terdiam khawatir seperti itu?”

“Bu-bukan, Ak-aku bukan Heliasha Aeldra!” Jawab Halsy dengan nada gugup yang dibuat-buat.

Kenapa kamu malah menjawabnya seperti itu?! Kamu malah akan lebih dicurigai!”

“Pembohong!  –“ teriak gadis yang memakai topeng kuning.

“Tenanglah Xia,” j lelaki yang memakai topeng biru terlihat menenangkan wanita yang memakai topeng kuning.
.

“Jika kamu Heliasha, kami akan membunuhmu disini, sekarang juga!” lanjutnya.

“Sudah kuduga,” pelan Halsy tersenyum, suarannya masih terdengar jelas olehku.

Su-sudah kuduga? Apa maksudnya?”

“Hal-Halsy –“

“Yaa aku memang Heliasha Aeldra, sang Blood Taker! Memangnya kenapa?!” teriak Halsy.

“Akhirnya mengaku juga! “ teriak kesal gadis yang memakai topeng kuning, dengan sekejap dia melancarkan serangan earthknife kearah Halsy.

SWINGG!!

Serangan seperti itu dapat dihindari dengan mudah oleh kineser tingkat akhir seperti Halsy, tapi.

JLEEEB!!!

Halsy malah menerima serangan tersebut, terlihat darah mulai keluar dari perutnya. Setelah melihat kejadian yang sangat cepat tersebut, aku segera bersiap mengeluarkan skill tingkat tinggiku ke arah gadis yang menyerang Halsy. Aku tidak bisa tinggal diam melihat Halsy terluka seperti itu.

“SIALAN!!” teriak kesal dariku kearah gadis tersebut, aku mulai mengeluarkan kemampuanku.

“Xi-xia, itu Railgun. Dia sama sepertimu, tingkat veteran!” khawatir gadis yang memakai topeng ungu.

“Ya-yang benar saja –“

Railgun!” teriakku menembakkan sebuah meriam petir ke arah gadis tersebut. Dengan sangat cepat meriam petir tersebut menembus dadanya. Dadanya mulai mengeluarkan darah.

BOAAAMMM!! CRATT!!!

“Itu sebabnya kalau kamu berani melukai ..... –“ geram kesalku tapi langsung terdiam terkejut, sangat terkejut.

Setelah aku mengedipkan mataku untuk sesaat, terlihat bukan gadis itu yang kutembak, melainkan Halsy lah yang telah kutembak dengan meriam petirku. Selain mendapatkan luka pada perutnya, kekasihku juga mendapatkan tembakan Railgun tepat pada paru-parunya.

Aku terkejut, tidak dapat berkata apa-apa. Aku hanya bisa melihat Halsy kesakitan sambil tersenyum kearahku.

Kenapa?! Aku sudah yakin kalau yang kutembak adalah Gadis itu! Kenapa bisa mengenai Halsy?!

Controling life, benar-benar kemampuan yang mengerikan Charles! Kamu baru saja mengendalikan lelaki itu kan?” tanya lelaki topeng hijau ke lelaki topeng biru.

“Hahaha, kamu hampir mirip seperti dewa yang mengontrol mahluknya saja!” jelas gadis topeng merah muda, dia melihat lelaki topeng biru yang terlihat memimpin penyerangan itu.

Kenapa mereka malah tertawa!” geramku kesal sambil berjalan menghampiri Halsy yang terluka.

“Hal-Halsy? Ma-maaf ak-aku –“ Jelasku memasang muka yang tidak percaya. Aku menangis, perasaan sakit dalam hatiku benar-benar terasa amat mengerikan.

“Ti-dak a-pa, hah hah, ak-aku tau ....” senyumnya dengan nada yang mulai melemah.

“Ki-kita ke rumah sakit sekarang! Aku akan membawamu –“ Aku berteriak dengan nada sangat cemas. Tapi.

SWINGGG!!!

“Aw-awas!” Jelas Halsy lalu menukar posisinya denganku, dia mendapatkan serangan berupa tombak kaca yang sangat besar. Tombak itu benar-benar menembus punggungnya, darah Halsy seketika langsung membasahi bajuku.

CRATTTT!!!

“Hal-sy?” tanyaku memasang tatapan kosong melihatnya, dia hanya terus tersenyum melihatku.

“Uhuk!” dia mulai batuk mengeluarkan darah yang mengenai pipiku.

Restrictions,” jelasnya lalu mencium bibirku. Bibiranya terasa lembut saat bibir kami saling bersentuhan, aku juga merasakan sensasi rasa darah pada ciuman kami.

Aku takut! Aku benar-benar takut! Aku benar-benar takut kehilangannya!

Saat ini situasi begitu mencekam bagiku, aku ingin mengakhiri ini semua, aku berharap kalau ini semua hanya mimpi buruk.

Tapi sayangnya ini kenyataan, Aku hanya terdiam terkejut melihat Halsy yang berlumuran darah tepat dihadapanku.

“Ke-kenapa? Kenapa kamu tidak melawan –“

“Tak apa, de-dengarkan aku Ang-anggela, hah hah.” Halsy dengan nafas yang mulai berat.

“Ci-ciuman tadi, hah hah..., adalah ciuman per-pertama dan terakhir kita,” senyum Halsy sambil memejamkan matanya.

“Hal-Halsy .... Eh ..... –“ Dalam sekejap mulutku tidak bisa berkata apapun lagi. Tubuhku tidak dapat bergerak sedikitpun. Aku langsung terjatuh, dan terlentang sambil melihat Halsy yang ikut terjatuh menimpaku.

Tubuhnya bergemetar, dia seolah-olah berusaha bangkit. Wajahnya yang pucat tepat berada di depan wajahku.

“Ja-jangan khawatirkan aku. In-ini takdirku .... Ak-aku akan tetap mati meski kejadian ini tidak terjadi! Ak-aku sudah menerima kutukan keluarga Aeldra. Ja-jadi kamu jang –“ jelas Halsy tapi kembali mengeluarkan batuk darah.

“Uhuk!”

Darahnya tepat mengenai wajahku, saat ini aku ingin benar-benar menangis tapi untuk beberapa alasan yang tidak kuketahui, aku tidak bisa melakukannya. Dan apa-apaan maksud Halsy tentang kutukan keluarganya.

“Ma-maaf aku mengotori wajahmu –“ Dia malah tersenyum mengeluarkan air mata.

“Waaah benar-benar menakutkan, dia masih hidup?!” gadis topeng kuning terlihat cukup terkejut.

“Biarkan saja dia, dia hanya akan mati,” khawatir lelaki topeng hijau.

“Kamu terlalu baik Gram! John bakar Heliasha menjadi abu! Dia itu bisa beregenerasi dengan cepat! Dia tipe Hemokinesis!” jelas lelaki topeng biru.

“Ya dengan senang hati!”

Tepat di depan mukaku, Halsy dibakar hidup-hidup. Mulai dari kaki sampai kepala, dia hanya bisa berteriak kesakitan. Saat itu hatiku benar-benar hancur, sangat hancur.

Aku melihat orang yang paling berharga bagiku dibunuh seperti itu. Senyuman terakhir, dan sebuah gerakan bibir “Selamat tinggal, dan terima kasih”  yang terakhir kali kulihat darinya.

Aku langsung tenggelam dalan kesedihan dan tiba-tiba berada di ruangan yang sangat gelap. Dimana aku? Alam mimpi? Atau Alam sesudah kehidupan? Aku bertanya pada diriku sendiri, lalu tiba-tiba datang sebuah jawaban.

Kamu bisa mendapatkan kekuatan! Balas dendamlah, maka aku akan meminjamkanmu kekuatan! Hancurkan mereka! Musnahkan mereka! Binasakanlah mereka, wahai sahabatku! Tarik mereka dalam keputusasaan!”

Ya! Berikan aku kekuatan untuk menghancurkan mereka!! Aku akan membuat mereka merasakan ganjarannya!!” jawabku berteriak.

Baik, ambilah kekuatan ini! Hancurkan mereka yang sudah berani membunuh orang yang berharga bagimu!!”



***

My Dearest Jilid 1 Chapter XXI Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Ariq

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.