13 Oktober 2015

Kuzu to Kinka no Qualidea Jilid 1 - Bab 1

Haruma
Dia berkata padaku,
Janganlah merahasiakan kata-kata nubuat dalam buku ini;
karena sudah hampir waktunya.
Barangsiapa yang salah, biarkan dia tetap berbuat kesalahan:
barangsiapa yang kotor, biarkan dia tetap kotor:
barangsiapa yang benar, biarkan dia tetap berbuat kebenaran:
barangsiapa yang suci, biarkan dia tetap suci.
Sesungguhnya, Aku akan segera datang
dengan membawa ganjaran,
untuk diberikan kepada setiap orang sesuai dengan perbuatannya.
Johannes 22: 10-12, ASV

TL: Ane bukan kristiani jadi sorry klo ada kesalahan.


Haruma
Ada suatu pendapat yang selalu terlintas di pikkiranku setiap kali aku membaca Light Novel, yaitu "Ilustrasi adalah segalanya."
Saat kamu jenuh dengan dialog klise moeshit, latar yang dipenuhi khayalan penggugah fap-fap, para pecundang yang menjiplak karakter karya orang lain, serta kalimat membosankan yang bahkan bisa dibaca oleh anak SMP-tidak, bahkan bisa ditulis oleh anak SD-ilustrasi menjadi satu-satunya solusi. Light Novel sebenarnya sulit untuk dibaca, tapi ilustrasi membuatnya mudah dibaca.
Dasar kesenangannya terletak pada mata yang melihatnya. Dengan kata lain, apa yang kamu lihat itulah apa yang kamu dapatkan.
Suatu kebohongan besar saat ada yang mengatakan kalau penampilan hanya berpengaruh sembilan puluh persen. Ilusrasi adalah segalanya, aku jamin itu. Seratus sepuluh persen.
Aku cukup yakin kalau bukan cuma diriku yang berpikir seperti itu. Pasti banyak orang lain yang juga berpikir begitu.
Itik buruk rupa, bacaan yang disarankan dalam unit pemilihan kenamaan "Dunia Dongeng Hans Christian Andersen", ceritanya kurang lebih juga seperti itu. Intinya, ceritanya seperti ini: "Hidup akan menjadi jauh lebih mudah saat penampilanmu menjadi lebih baik. Setidaknya, Kamu tidak akan dicincang untuk dijadikan masakan Cina. Coeg pembuat Foei gras murahan itu sangat memahami apa yang dilakukannya! "
Itulah pesan yang ingin di sampaikan oleh Hans Christian Andersen melalui dongengnya. Buruk rupa adalah sebuah dosa. Yaah, aku juga tidak begitu tahu apa benar kalau dia bermaksud seperti itu. Tapi hal itu memang  pesan yang ku dapatkan dari karya Andersen. Aku bisa merasakan kesedihan dalam kisah itu seakan itu adalah cerita tentang diriku sendiri. Itu membuatku bertanya-tanya apakah aku ini Andersen. Aku benar-benar Andersen. Setidaknya cukup untuk membuatku menggenggam bayonetku dan berkata amin.
Mungkin, mungkin saja, orang bisa menganggap Itik buruk rupa adalah kisah yang memberikan harapan kepada mereka yang bernasib sama.
Meskipun lain lagi ceritanya dalam kehidupan nyata. Hanya coeg Grimm Bersaudara yang mungkin seenaknya menarik kesimpulan seperti itu (lol).
Tidak ada harapan dalam kisah itu. Itu hanyalah sebuah fantasi untuk membalas kedikdayaan kecantikan yang menyangkal adanya keburukan. Itik itu membalas dendam dengan menjadi lebih cantik daripada mereka yang menolaknya. Tanpa sedikitpun membahas persahabatan maupun kerja keras; Kemenangan sepenuhnya berasal dari garis keturunan. Kamu takkan pernah menemukan tokoh utama seperti itu bahkan di Shonen Jump sekarang ini.
Anggap saja, anggap saja kalau dongeng itu adalah dasar dari filosofi manusia. Fakta pahitnya adalah Andersen menulis cerita itu dengan sedikit rasa takut kalau si buruk rupa takkan pernah diterima apa adanya.
Jadi seperti itulah yang ku tulis di buku tugasku setelah pelajaran.
Tentu saja, aku menyesalinya sekarang. Kenapa aku tidak menulis sesuatu yang lebih aman? Kenapa aku tidak menuliskan pujian basa basi yang akan membuat guruku senang seperti yang siswa lain lakukan? Aku tahu kalau sesuatu yang aneh, janggal dan tidak biasa memang mudah dikucilkan dari kelompok. Andersen tidak perlu memberitahukan hal itu padaku.
"Hei, Haruma ..." Kusaoka Amane, guru yang bertugas, memanggil namaku sambil mengeluh pelan. Sekarang adalah jam makan siang, dan kami berdua berada di ruang UKS, dimana aroma antiseptik menyengat hidungku.
Kusaoka Amane memintaku duduk di atas kasur sementara dia menarik sebuah kursi dan duduk di depanku. Perlahan, dia menyilangkan kakinya yang panjang dan ramping, membuat jas lab dan rok ketatnya membuat suara gemerisik. Saat dia mencondongkan tubuhnya untuk menatap wajahku sambil memeluk kedua kakinya, bentuk dadanya terlihat malalui blusnya. Sekali lagi, Amane-chan mendesah seakan mengatakan "kemarilah".
Tirai tipis membatasi kasurku dengan dunia luar, dan kami berdua duduk sangat dekat. Memang selalu seperti ini setiap kali dia memanggilku.
Saat ini adalah sore hari dan aku sedang duduk di ujung kasur di dalam ruang UKS, sendirian bersama dengan seorang guru wanita cantik yang mengenakan jas lab. Belum lagi guru itu mendesah yang mengisyaratkan "kemarilah". Jika Kamu bertanya padaku, aku yakin kalau itu akan membuat jiwa penasan remaja laki-laki sangat tertarik.
Tapi kenyataan tetaplah kenyataan.
Ruangan ini bukanlah set jav, bukan juga bentukan imajinasi remaja. Ini hanyalah ruang pengakuan. Atau bisa juga disebut sebagai ruang ceramah.
Amane-chan mengibaskan rambutnya, menyebabkan aroma wangi nan lembut menyerang hidungku. Apa dia mengganti parfumnya lagi? Yang kemarin masih lebih baik. Saat pemikiran tak berguna itu terlintas di pikiranku, Amane-chan menatap tajam padaku.
"Nah, Haruma. Apa kamu pernah memikirkan tentang posisiku di sini? "
"Posisimu ... Nah, kamu adalah guru(penjaga) UKS, aku pikir."
"Itu benar." Amane-chan mengangguk dengan semangat. "Aku guru UKS yang muda dan cantik." Dia mengulangi apa yang ku katakan dengan beberapa tambahan kata yang agak berlebihan.
Lalu tiba-tiba, anggukkan kepalanya terhenti.
"Oh, dan aku juga kakakmu." Dia menunjukku dengan penuh gaya.
"Mmm, ya, sepertinya."
Hal itu sudah jelas, tapi Kusaoka Amane dan Kusaoka Haruma adalah saudara kandung yang terikat oleh darah, dan untuk suatu alasan mereka juga pergi ke sekolah yang sama dan memiliki hubungan guru-murid. Berkat itu, tidak mungkin aku bisa memenuhi hasrat duniawiku, bahkan di dalam ruang yang seperti set jav ini. Malahan, aku hanya bisa terheran dengan apa yang kakak bodohku ini katakan untuk kesekian kalinya.
Kakakku menjadi dirinya sendiri, itu memberikanku alasan untuk sebisa mungkin menghindari ruang UKS. Sayangnya, ada banyak pengecualian, seperti setiap kali dia butuh seorang budak maupun sasaran untuk melampiaskan stres nya. Untuk kali ini, sepertinya lebih ke alasan kedua.
Amane-chan mengeluarkan pipa tanpa tembakau dari saku jas labnya lalu meletakkannya di antara giginya. "Kalau kamu mengerti, berhenti berulah saat di sekolah, dasar bodoh. Setiap kali Kamu melakukan hal bodoh, aku yang selalu ditegur di ruang guru. "
"Bukannya itu hanya karena mereka tidak menyukaimu? Rasanya aku tidak melakukan kesalahan apapun. "
"Tidak, Kamu melakukannya! Seperti, itu loh, tugas yang Kamu tulis hari ini, atau apalah itu? Kamu menuliskan hal aneh di dalamnya. "
Dia melirikku, memaksaku untuk mengingatnya. Hasil pencarian hanya mendapaktan satu hasil.
"Maksudmu bukan tentang... bagaimana orang  jelek tidak memiliki Hak Asasi Manusia, kan?"
"Yeah! Aku tidak tahu, tapi mungkin itu! Kamu menuliskan omong kosong sepert itu! Gak usah songong lah! Cobalah bercermin! Kamu selalu memiliki wajah ngenes itu di wajahmu! "
"Tidak perlu khawatir," kataku. "Jika Kamu seorang pria, kamu bisa membeli Hak Aasasi Manusia."
Amane-chan kelihatannya dia tidak setuju. "Mmm, yaah. Kamu bisa melakukan apa pun jika harta dan pendapatanmu cukup tinggi. "
Heh, jadi dia setuju, ya? Bener kan, jika seorang pria memiliki penghasilan yang sangat tinggi, mereka selalu bisa mendapatkan segalanya. Dahulu kala, saat sebelum gelembung pecah, Tiga PT adalah syarat untuk untuk menjadi populer: Pendidikan Tinggi, Perawakan Tinggi, Pendapatan Tinggi. Kekurangan di wajah bukanlah suatu masalah, jadi mungkin tidak ada hal seperti diskriminasi terhadap wajah seorang pria. Tapi yaah, wanita dari zaman itu memang sesuatu banget. Apa mereka menilai orang hanya berdasarkan tiga kategori itu? Pertukaran setara adalah dasar dari alkimia, jadi jika mereka ingin mencari pacar ideal seperti itu, mereka harus rela mengorbankan satu lengan atau kaki.
Yaah, kakakku juga termasuk tipe itu. Dia memiliki wajah dan tubuh yang cukup bagus, tapi dia sendiri mengakui kalau kepribadiannya buruk.
Amane-chan terlihat tenang di matanya, dan setelah beberapa saat, dia terbatuk tidak nyaman. "Yaah, bagaimanapun juga, bahkan jika secara teknis kamu benar, dari sudut pandang pendidikan kita tidak bisa menerimanya. Mereka sangat tidak menyukai jawabanmu - maksudku, mereka bahkan mengeluh kepadaku. Nenek tua pengampu pelajaran itu tidak terlalu sedap dipandang, jadi apa yang kamu lakukan sangatlah menjengkelkan. Berpikirlah sebelum bertindak, ya ampun. "
"Bukannya kamu baru saja mendiskriminasikan penampilannya? Belum lagi kamu juga mempermasalahkan umurnya. "
"Aku tidak mengatakannya langsung di depannya, jadi tak masalah," Amane-chan tertawa sambil membusungkan dadanya dengan bangga.
Yap, saat ini dunia tetap damai karena "kebaikan yang tak terucapkan" seseorang. Aku juga orang yang baik, jadi aku melatih "kebaikan yang tak terucapkan" ku dengan tidak pernah berbicara dengan teman sekelasku. Tapi, meskipun semua orang sudah sangat terbiasa dengan kebaikanku selama ini, perselihan masih terkadang muncul di sana-sini. Sangat aneh.
"Walaupun Kamu tidak mengatakannya langsung padanya, kamulah yang ditegur, jadi bukannya itu berarti permasalahannya ada pada kepribadianmu, Amane-chan?"
Saat kata-kata itu keluar dari mulutku, Amane-chan melambaikan tangannya dengan kuat untuk menyangkal, wajahnya sangat datar. "Tidak. Ini tidak ada hubungannya dengan kepribadianku. Mengerti? Jika kamu seorang guru UKS yang muda dan cantik, statusmu sangat rendah di ruang guru! "Dia melanjutkan berbicara. "Rekan kerjaku menggoda dan meremehkanku secara terang-terangan! Di tambah lagi, aku harus menghadapi anak laki-laki yang berpura-pura sakit dan datang ke UKS setiap hari, ada juga sekelompok wanita sialan yang menatap cemburu padaku seakan aku adalah musuh mereka! Aku ingin segera menikah dan berhenti dari pekerjaan ini! "
Suaranya sedikit tersendat di akhir kalimatnya.
Menjadi seorang guru kedengarannya sangat berat. Saat pemikiran bodoh itu terlintas di kepalaku, tirai pemabatas tempat tidur mulai bergoyang.
"Permisi, Sensei?"
Sebuah tangan kecil dengan ragu menggeser tirai itu.Matanya yang besar gemetar saat mengintip kami dengan ragu-ragu melalui celah tirai. Gadis yang memanggil kami sepertinya masih sedikit demam menilai dari pipinya yang kemerahan dan bengkak di matanya.
Saat tatapan kami bertemu, dia segera bersembunyi ke balik tirai seperti binatang kecil. Lalu, sambil gemetar ketakutan, dia mengintip ke arahku sekali lagi. Sikap tak berdayanya itu kelewat manis. Menilai dari seragamnya, sepertinya dia siswi dari divisi SMP.
Amane-chan tersadar saat gadis itu memanggilnya. Menggeser kursinya, dia berbalik menghadap pemilik suara itu.
"M-Maaf, Misa-chan. Kamu tahu kan seperti apa adikku ini, "katanya, sambil tertawa.
"Tidak tidak tidak, akulah yang seharusnya minta maaf! Aku tidak tahu apa aku harus bertanya atau tidak, tapi, um, aku hanya ingin tahu dimana obat demamnya...? Apa kamu keberatan kalau aku menanyakannya? "
Gadis yang bernama Misa-chan itu membelai kepang duanya dengan cemas dan beralih antara menatapku dan Amane-chan. Sepertinya dia khawatir kalau dia mengganggu percakapan kami. Setelah memperkirakan hal itu, Amane-chan berdiri dan menepuk bahu Misa-chan dengan pelan.
"Tidak, tidak, tidak sama sekali. Kalau ada sesuatu yang mengganggumu, sebaiknya segera katakan saja. Itu lho, pepatah mengatakan:. Malu bertanya atau selamanya bersama adikmu yang menjengkelkan"
"Pepatahnya bukan seperti itu," kataku. "Keluargaku sangat membenciku apa gimana?"
Apa, apakah Amane-chan membenciku? Walaupun aku cukup menyayangi kakakku? Yah, aku tak tahu bagaimana orang tuaku maupun kakakku, tapi aku yakin kalau kakek menyayangiku. Dia memberiku Originals Werther dan semacamny. Nenek kurang lebih selalu memberiku Rumandos atau Elises. Aku sudah bosan memakan Elises, jadi setiap kali dia membawanya, aku merasa dilema. Dilema Elise ... (1)
Tapi Amane-chan hanya tersenyum, tak bergeming oleh bantahan kerasku. Misa-chan yang daritadi hanya menonton percakapan kami dari samping, tertawa canggung. Yaah, memang sulit untuk memikirkan apa yang harus kamu lakukan saat orang yang tidak terlalu kamu kenal bercakap-cakap dengan penuh lelucon. Pada saat seperti itu, tindakan terbaik adalah untuk tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah, aku pergi sekarang."
Kalau begini terus, aku akan memaksa gadis manis itu tersenyum terpaksa  sama seperti yang ku lakukan di kelas. Aku melambai pelan pada Amane-chan lalu berjalan melewati Misa-chan.
Saat itu, tepat saat aku berpapasan dengannya, Misa-chan menundukkan kepalanya dan membungkuk. Pita rambutnya, yang mengikat rambut hitamnya, terangkat karenanya. Tubuhnya kecil, dan memancarkan semacam daya tarik, ditambah dengan bahu ramping dan dada yang datar. Pipinya merah cerah dan matanya berair. Saat dia menekan jari rampingnya ke bibir mungilnya untuk menahan batuk kecilnya, itu menambah pesonanya. Dia memiliki semacam daya tarik seks yang unik.
Kata "malaikat" sangat cocok untuk Misa-chan. Kamu juga bisa mengatakan kalau dia terlalu manis untuk dunia yang  penuh dosa ini.
"Oh ya, Haruma. "Sebuah suara menggangguku dari belakangku saat aku meletakkan tanganku di pintu ruang UKS.
"Ada apa?"
"Lantai atap agak kotor akhir-akhir ini. Itu lho, mereka mengatakan banyak hal padaku di ruang guru. Mereka bilang untuk membersihkan lantainya sepulang sekolah. Mereka juga bilang untuk memberitahu adikku agar merenungkan perbuatannya, "kata Amane-chan sambil mengedipkan matanya, walaupun itu semua mungkin adalah tugasnya. Kemungkinan besar dia kepergok saat sedang merokok di atap atau semacamnya.
Sayangnya, adik ada untuk manjadi budak dan melayani kakaknya. Atau, Kamu bisa mengatakan kalau seorang kakakperempuan ada untuk mengukir trauma terhadap perempuan ke dalam hati adiklaki-lakinya. Jika kamu menyebut kakak perempuan sebagai momok di dunia ini, itu adalah pandapat yang sepenuhnya benar. Seenaknya, mereka dapat berubah dari orang yang manis menjadi monster bernapaskan api dalam sekejap. Terkadang, mereka akan datang padamu dengan air mata buaya. Aku sudah membangun toleransi pada perempuan (dalam cara yang buruk), dan aku juga cukup memahami tentang siklus biologis mereka lebih dari apa yang ku inginkan.
"... Baiklah, akan ku lakukan," jawabku, meletakkan tanganku di pintu untuk benar-benar meninggalkan ruang UKS. Itu menyebabkan pintunya berderit terbuka.
Pada saat itu, kakiku terhenti.
Seorang gadis berdiri di hadapanku.
Sinar mentari berkilauan melewati jendela lorong, dan angin lembut membawa aroma halus dan manis parfum Anna Sui.
Rambutnya hitam panjang dan lurus, kulitnya putih bersinar, dan tubuhnya halus ramping dan gemulai. Mata besar dan bibir memikatnya terbelalak karena terkejut.
Kata "dewi" sangat cocok untuk gadis ini. Kamu juga bisa mengatakan kalau kecantikannya bisa meluluh lantahkan dunia dalam sekejap.
Aku tahu nama gadis ini. Tentu saja, aku tidak bisa mengharapkan hal yang sama untukku. FYI, Aku tidak perlu mencaritahu atau semacamnya. Aku hanya kebetulan mengetahuinya begitu saja, sebagai bagian dari pengetahuan umum yang dimiliki oleh sebagian besar siswa sekolah ini.
Chigusa Yuu. Ini adalah pertama kalinya aku melihat gadis ini - yang satu angkatan dibawahku - dengan sangat dekat.
Pertemuan secara kebetulan dengan Chigusa ini hampir berakhir dengan kepala kami saling bertubrukan, kami berdua melangkah mundur karenanya.
Kalau dirinya, ekspresinya lebih seperti kaget, tapi aku cukup yakin kalau wajahku terlihat sangat konyol. Tapi satu-satunya orang terdiam membeku disini hanyalah diriku. Dia segera tersenyum malu-malu lalu menunduk sopan dan melewatiku dari samping. Tatapanku mengikutinya secara naluri.
"Oh, Onee-chan! Maafkan aku! "Misa-chan memanggilnya, setelah menyadari kalau gadis yang di depannya adalah Chigusa. "Kamu kemari walaupun kamu sangat sibuk ..."
"Mana mungkin ada sesuatu yang lebih penting daripada Misa-chan. Apa kamu baik-baik saja? "
Pemandangan saat Chigusa dengan lembut membelai dahi Misa-chan terlihat seperti lukisan. Oh, jadi begitu, jadi Misa-chan adalah adik Chigusa Yuu, ya? Itu menjelaskan kenapa dia sangat manis.
Sambil melirik diam-diam pada kedua bersaudara itu, malaikat dan dewi, aku menutup pintu di belakangku. Pintunya membentur bagian belakang kepalaku.
Andai saja aku sedikit lebih mirip dengan Amane-chan, aku pasti akan memiliki wajah yang cukup tamvan. Kenapa aku berakhir dengan wajah ngenes seperti ini? Saat Kamu menilainya dari sudut pandang lain, jika aku memiliki satu kekurangan atau dua atau tiga atau empat... yaah, tapi banyaknya kekurangan yang ku miliki membuktikan kalau aku adalah manusia. Itu berarti gadis itu memang sesuatu banget.
Dunia ini sangat tidak adil, dan sebagai akibatnya, dunia ini dipenuhi dengan diskriminasi.
Tidak masalah untuk menjadi spesial dan unik – itu adalah akal sehat yang dapat dengan mudah dipahami oleh siapa pun.
Walaupun aku memahami hal itu, aku tetap saja tidak bisa menahan diri untuk berpikir kalau Chigusa Yuu ... memiliki wajah yang cantik. Wajah yang sangat cantik!

×       ×       ×

Saat aku meninggalkan ruang UKS, berbagai suara keras beregema di sekitarku. Jam istirahat makan siang sudah hampir berakhir, dan suara langkah kaki bergema melewati lorong dan ruang kelas.
Aku benci bahasa Jepang untuk ‘keramaian’: hitogomi. Aku tidak menykai orang-orang (hito) dan aku juga tidak menyukai sampah (gomi), jadi aku tidak punya alasan untuk menyukai keduanya saat disatukan. Di sisi lain, aku suka bahasa Jepang untuk ‘demam’: kaze. Kata itu terbentuk dari karakter "angin" dan "jahat". Itu sangat berlebihan dan itu juga alasan kenapa aku menyukainya.
Untuk kenyamanan bersama, aku sudah berusaha semampuku untuk menyukai keramaian.
Saat aku masih kecil, aku mencoba banyak hal: liga bisbol junios, les renang, les mental aritmatika, les kaligrafi, les piano. Hampir semua itu adalah hal-hal yang, yaah, Amane-chan paksakan kepadaku. Mungkin itu hanya untuk kepentingannya sendiri. Tapi tidak ada satupun yang ku sukai. Berkat itu, secara mengejutkan aku hanya menyisakan sedikit uang tabunganku. Aku menuntut pengembalian uangku.
Hanya ada satu pelajaran yang sangat ku ingat sepenuh hati.
"Anggap saja manusia sebagai labu!"
Itulah yang guru les pianoku katakan saat aku merasa gugup sebelum konser piano. Kalimat yang cukup umum, tapi karena nenek tua itu yang mengatakannya, setidaknya aku harus menghormatinya. Kita harus menghormati orang yang lebih tua, kan?
Walaupun ternyata, ada benarnya juga apa yang dikataan nenek tua itu. Memang, jika Kamu menilainya dari segi kandungan air, manusia dan sayuran tidak jauh berbeda. Jika kamu mempertimbangkan sifat umum keduanya yang merupakan gumpalan cairan, bisa dibilang keduanya adalah makhluk yang sama. Nenek tua yang hebat. Semakin tua semakin bijak, atau semacamnya. Dia mengatakan hal yang bagus. Terima kasih, nenek.
Berkat dia, aku memiliki anggapan kalau manusia adalah sayuran. Yaah, bukan berarti perkataan dari nenek tua itu membantu untuk mengatasi rasa gugupku, jadi aku tetap mengacaukan konser pianoku dan segera berhenti setelahnya. Maafkan aku, nenek.
Saat itu, aku menatap ke langit melalui jendela di lorong. Disana, aku bisa melihat awan yang berbentuk agak aneh dan menyerupai lonceng kuil di tengah malam. Netizen pasti akan sangat ramai saat melihat kejadian ini: Whoa! Apa itu awan pertanda gempa?
Dasar tolol. Jujur saja, dunia ini dipenuhi dengan manusia berkepala labu. Saat berkaitan dengan pertanda akan terjadinya gempa bumi, bahkan awan bisa berubah menjadi pertanda. Kebanyakan awan itu sepertinya hanyalah awan biasa. Mereka seenaknya mengaitkan hal itu dengan gempa bumi, dan membodohi orang lain dengan ketidaktahuan mereka.
Ada sisi positif untuk memutar balikkan logika demi kenyamananmu. Kalau mau, kamu bisa menipu dirimu sendiri dengan mempercayai kalau manusia dan sayuran adalah sama karena keduanya memiliki tingkat kandungan air yang sama. Tapi siapapun yang mengatakan hal itu adalah seorang idiot tulen.
Yaah, untuk sekarang.
Bagaimana kalau aku memberitahumu persamaan lain antara manusia dan sayuran?
Aku sudah bilang kalau aku benci sayuran. kecuali stroberi dan melon.

×       ×       ×

Yuu
Ruang ganti siswa perempuan setelah pelajaran olahraga sangat ramai seperti sawah setelah hujan turun. Hampir tidak ada ruang untuk bernapas, tidak hanya karena aroma parfum dan bedak yang memenuhi ruangan, tapi juga karena berbagai botol minuman ringan dan handuk keringat yang berserakan dimana-mana. Sementara itu, celotehan mereka juga tak ada matinya - kroak di sini, kroak di sana, kroak dimana-mana, seperti paduan suara katak.
TL: ‘kroak’ diatas maksudnya suara katak.
Bukan berarti kita tahu seperti apa suara katak sebenarnya. Di zaman sekarang, kebanyakan anak SMA yang tinggal di kota mungkin belum pernah melihat katak secara langsung.
Karena itu, aku bisa dengan bebas menggunakan imajinasiku. Sambil menyembunyikan tubuhku di balik pintu loker yang terbuka, aku menikmati pertunjukan yang menarik ini.
Katak melepas pakaiannya satu per satu.
Katak menyemprotkan deodoran ke tubuhnya.
Katak membicarakan cinta bersama teman-temannya.
Saati aku secara mental merubah teman sekelasku menjadi katak, ruang ganti berubah menjadi tempat yang cukup lucu. Ribbit ribbit ribbit. Hal itu selalu membuatku tersenyum sendiri.
Aku cukup yakin kalau di dunia persawahan, katak yang berusaha untuk menghindarimu itu tidak perlu kamu pedulikan. Katak itu blak-blakan. Katak itu kuat. Katak itu bebas. Semua manusia seharusnya berubah menjadi katak.
Andai Bumi adalah desa bagi ratusan katak, takkan ada katak yang merasa iri terhadap angsa. Tidak salah lagi, mereka takkan pernah menyadari keburukan mereka sendiri dan dengan begitu dunia akan damai selamanya.
Di telapak tanganku, aku menggenggam sebuah bunga putih kecil, aku tidak tahu namanya. Aku yakin kalau bunga ini tidak pernah berangan-angan untuk berubah menjadi apapun selain bunga sampai saat aku memetiknya. Itu pasti definisi dari kebahagiaan.
Sebuah desahan menyelinap keluar mulut aku, tanpa kusadari.
Awan berbentuk melingkar terlihat saat aku menatap langit melalui jendela, seperti pertanda akan datangnya gempa. Terkejut, aku menelan lagi napas yang baru saja keluar dari tenggorokanku.
Ada banyak orang di luar sana yang bisa disebut sebagai produk dari logika konyol itu. Saat mereka menganggap semua hal sebagai pertanda, semuanya tidak berguna. Contohnya saja, mereka yang percaya pada hal sampahan semacam itu hanyalah manusia berkepala labu atau sejenis dengan sayuran.
Ya, seperti itulah mereka.
Tapi itu adalah logika dari orang yang bermental baja. Tidak ada salahnya menjadi labu yang enak.
Di dunia ini, entah kenapa orang-orang sangatlah penakut. Kecuali ada yang mendorong mereka, mereka takkan bergerak sedikitpun.
Seperti aku misalnya.
Pertanda maupun ramalan mungkin bisa menjadi katalis bagi mereka yang penakut. Ramalan tertulis maupun wahyu yang diajarkan secara turun-temurun itu ada karena bisa dijadikan sebagai penuntun bagi mereka yang ragu. Apakah berpegang teguh pada takdir yang tak tentu adalah sesuatu yang buruk.
"Ya, tidak, ya, tidak, ya, tidak, ya ..." gumamku saat aku memetik kelopak dari bunga yang ku pegang.
Tentu saja, aku bersembunyi di balik loker saat aku melakukannya. Aku tahu kalau ramalan kelopak bunga adalah hal kuno bagi anak seusiaku. Aku bisa membayangkan bagaimana aku akan diperlakukan jika teman sekelasku memergokiku dalam keadaan seperti ini.
"Ya…"
Kelopak terakhir membentuk semacam kerutan di telapak tanganku. Entah kenapa, bagiku itu terasa seperti senyuman wajah Misa. Adikku yang bagaikan malaikat. Setiap kali aku memikirkanya, aku merasa kalau aku akan melakukan apapun yang kubisa untuknya.
Didorong oleh kelopak itu, aku mengambil smartphoneku dan membuka aplikasi pesan.
Maria-san, aku ingin minta tolong ...
Sebentar lagi, aku harus berhadapan dengan sosok yang sangat menakutkan.
Demi mendapatkan kembali sesuatu yang telah dicuri dengan liciknya dariku - sesuatu yang sangat berharga.


-------------------------------------------------------------------

Catatan kaki
(1) Werther Original dan Elise adalah merk permen yang terkenal, dan juga sejenis lelucon dewasa. Versi dub Jepun dari iklan Werther Original berubah menjadi meme di internet karena terjemahan yang berantakan dan membuatnya terkesan seperti si kakek memiliki hasrat seksual pada cuculaki-lakinya. "Delima Elise(The melancholy of Elise)" adalah referensi pada salah satu teknik Sexy Commando dari ajaran 1998 anime Sexy Commando Gaiden: Sugoi yo !! Masaru-san. "Delima Elise" melibatkan kejadian memelorotkan celana seseorang sambil membuat suara sekseh
IYKWIM.
  Source: Nanodesu

Kuzu to Kinka no Qualidea Jilid 1 - Bab 1 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: h kim

5 komentar:

  1. Kata "malaikat" sangat cocok untuk Misa-chan. Kamu juga bisa mengatakankalau dia terlalu manis untuk dunia yangpenuh dosa ini.

    wataru-sensei banget XD
    Ditunggu lanjutannya min. . .

    BalasHapus
  2. berkat dia aku memiliki anggapan bahwa manusia adalah sayuran.... di tunggu kelanjutan nya min...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmmm...pengen sih ngelanjutinnya, tapi......doakan kita cepat dapat translaternya yang baru ya :D Terima kasih buat dukungannya XD

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.