17 Oktober 2015

Kanojo Tachi No Meshi Ga Mazui Hyaku no Riyuu Jilid 1 Pembukaan Bahasa Indonesia



KANOJO TACHI NO MESHI GA MAZUI HYAKU NO RIYUU
JILID 1 PEMBUKAAN
PADANYA, HANYA SATU KEKURANGAN YANG TAK BISA DIAPA-APAKAN

Pagi Minggu. Tok tok, dua suara kecil mengetok pintu kamarku.
Tanpa sempat membalas dengan suara sedikit berderak pintu terbuka.
"Yousuke. Kau tidak bisa terus-terusan tidur. Cepat bangun"
Yang muncul adalah teman sepermainanku, Benio Kagami. Kemudian aku menyadarinya---Hari ini pun, waktunya telah tiba.
Benio, baik dari penampilan luarnya maupun dalamnya, adalah anak perempuan yang kesannya cukup tenang.
Rambut panjang yang mengilat, selalu diselimuti suasana yang anggun. Memiliki suara yang cantik alih-alih manis. Anak perempuan dengan kepribadian yang seperti wanita terhormat hingga aneh baru-baru ini, walau ada juga sedikit sisi bodohnya, tapi teman sepermainan yang terlalu baik bagiku anak SMA yang tidak berguna ini.
Pada dasarnya.
"......tidak, aku sudah bangun. Aku cuma istirahat, mana mungkin aku ketiduran sampai setelat ini"
"Begitu ? Memang, sudah jam 11 sih"
"Ya kan. Tapi yah, aku baru saja bangun"
Tak bisa kukatakan.
Sebenarnya, aku sudah terbangun sekitar satu jam lalu, menunggu dengan khawatir Benio menyelesaikan semua persiapan dan datang mengunjungi kamarku.
Tidak mungkin bisa kukatakan, sama sekali.
"---sa-ra-pan"
"......!"
Kata Benio singkat. Langsung melihat ke sini.
"Karena sarapan telah siap, aku datang untuk memanggil Yousuke"
"Begitu kah......aku mengerti. Ma, maaf"
"Tidak perlu," ia menggelengkan kepala. "Sama sekali tidak. Soalnya, aku sangat suka memasak, makan dan memberi makan juga tentu saja!"
Berkebalikan denganku yang balas memandang langsung ke matanya saja tidak bisa, Benio dari pagi sudah bersemangat tinggi.
Ekspresi terpikat yang khas ketika sedang membicarakan makanan. Senang. Justru karena pagi minggu, sebaiknya kondisi tekanan darah yang sedikit lebih rendah lagi, kurasa.
"Nah, kesannya begitu !"
Hanya mengatakan hal secara sepihak, Benio keluar dari kamar.
Tapi.
"Anu !" Saat pergi, punggung yang kecil berbisik dengan suara yang sedikit bersemangat. "---mungkin, hari inilah aku pasti bisa membuatnya dengan enak. Karya kebanggaanku"
Tanpa sempat membalas kata-katanya, pintu tertutup.
Kali ini pintunya tidak berderak.
Hanya suara tap tap tap tap tap Benio dengan cepat menuruni tangga yang sedikit bergema.
"Hari inilah, ya......"
Sambil membuang napas aku berpikir.
---Kenapa bisa jadi seperti ini.
Sejak Benio jadi membuat makanan untukku dengan hari ini tepat satu minggu.
Kemudian, tiga minggu penyimpangan yang kualami sebelum sampai ke satu minggu itu.
---Satu bulan yang lalu, akibat orangtua pergi ke Inggris dan meninggalkan anak laki-laki seorang diri, hanya ada penderitaan yang sangat besar dalam tubuh 16 tahunku ini.

Dalam pertanyaan kenapa Benio yang tidak lebih dari teman sepermainan yang tinggal di sebelah dari pagi-pagi minggu menyiapkan makan pagi, jujur saja, ada alasan dan kejadian yang tidak terlalu kumengerti di sana.
Awal kejadiannya adalah keputusan kepindahan pekerjaan ayahku.
Ayahku yang bekerja dalam firma yang menangani barang impor, sebenarnya dari bulan April tahun ini telah diputuskan untuk memulai pekerjaan baru di luar negeri sekitar satu tahun ke Inggris.
Ngomong-ngomong, tanpa ada alasan khusus keluarga kami punya hubungan yang dalam dengan negara Inggris. Pamanku menikah dengan orang Inggris dan tinggal di sana, dan seharusnya ada juga sepupu perempuan yang seumuran denganku.
Tulang punggung keluarga menuju luar negeri......benar-benar masalah yang serius menurutku.
Tapi, jujur saja ya, aku sepenuhnya telah melihat situasi ini dengan enteng.
Hanya dengan kepindahan kerjanya ayah ke luar negeri, bagaimana pun juga kehidupanku tidak terlalu berpengaruh---demikianlah yang kukira dari lubuk hati. Makanya aku meremehkannya.
Tapi, dengan segera masalahnya berkembang menuju arah yang mengerikan. Malam berikutnya setelah kepindahan ayahku ditetapkan,
'Ah, iya, Yousuke. Ibu akan mengikuti ayah. Yousuke akan jadi sendirian untuk sementara, tapi berjuanglah hidup setahun di Jepang'
Saat ibu menyatakan itu dengan tenang, penderitaanku telah dimulai.
---yang disingkirkan bukan ayah, tapi aku.
Ibuku sendiri terang-terangan menimbang-nimbang antara suami dan anak sampai sejauh ini, tanpa banyak keraguan memilih suami sedikit pun tak terpikir olehku sama sekali.
Sebaliknya, sudah jelas kurasa akan memilih anak. Karena dengan seenaknya kupikirkan bahwa ibu adalah makhluk yang  'anak>>>suami'.
............yah, tapi tidak ada yang seperti itu.
Bagiku yang telah dihadapkan pada keadaan sulit, masalah terbesarnya adalah keadaan rumah tangga keluarga Aiuchi.
Susunan keluarga Aiuchi adalah orang tua dan tiga orang anak. Rinciannya adalah putri pertama, putra pertama (aku), putri kedua.
Tapi, dalam kesempatan ini yang tinggal di rumah orang tua hanyalah aku, putra satu-satunya yang jadi anak SMA kelas 2 tahun ini dan kedua orang tuaku.
Kakakku yang 7 tahun di atasku (24 tahun), sedang mengembara keliling dunia.
Adikku yang 1 tahun di bawahku (16 tahun), sedang bersekolah di sekolah putri elite dengan asrama yang ada di Nagano.
Kalau kakak atau adikku, urusan rumah tangga sebagian besar bisa. Tapi, aku berbeda. Kemampuan hidupku yang menyandang status sebagai anak laki-laki satu-satunya tidak salah lagi hampir mendekati nol.
Hasilnya, aku yang merasakan krisis hidup protes habis-habisan dengan ibu, tapi, di sini lagi-lagi ibuku meluncurkan anjuran yang terpisah jauh dengan akal sehat.
'Ah, tenang saja. Sebenarnya, pas ibu bicara, tetangga kita nak Benio telah menerima untuk mengurusi semua urusan Yousuke. Masakan, cucian, pembersihan......mungkin saja, sampai yang lebih dari itu pun diurusi juga. Ufufufu. Sebenarnya, menjadi nenek yang cantik dan muda adalah mimpi ibu dari dulu lho'
Dengan kata lain, cuma orang tua yang bodoh.
Hanya meninggalkan omong kosong seperti ini, kepergian orang tuaku ke Inggris sekitar satu bulan yang lalu.
............kemudian, sungguh, segala yang berkaitan dengan kehidupanku telah diserahkan ke tangan teman sepermainanku Benio Kagami.
Hanya saja, dari sini ceritanya akan sedikit jadi rumit.
---Aku, Yousuke Aiuchi, bukanlah laki-laki gampangan yang segampang itu 'diurusi' oleh anak perempuan teman sepermainan.
Bagiku, ada harga diri sebagai laki-laki. Aku tidak ingin menampilkan bagian lemahku pada Benio.
Pertemananku dan Benio panjang.
Sampai SD, kalau ada apa-apa Benio datang mendampingi di belakangku, di sekolah pun dari kelas satu sampai sekarang terus sekelas, tiap valentine sampai sekarang pun masih mendapat coklat (kalau dipikir, coklat yang diberikan sebagai kegiatan rutin itu semuanya barang dari toko).
Dengan masuk SMP, dan SMA, kami sama-sama jadi dewasa, meski tanpa pertemanan yang berlebihan seperti zaman SD, sekarang pun, kurasa sedang membangun hubungan teman sepermainan yang rasanya lumayan bagus.
---makanya, aku mengesampingkan segala bantuan Benio, sekuat tenaga menjalani hidup seorang diri. Tanpa meminjam kekuatan siapa pun, telah bertahan hidup bulan April jadi anak SMA kelas dua selama dua minggu.
............tapi, hasil dari berbagai kejadian yang sangat mengenaskan, adalah kejadian yang terlihat sekarang.
Dengan hebatnya aku jadi 'diurusi'.
Oleh anak perempuan teman sepermainan.
Masakan, cucian, pembersihan, semuanya diserahkan. Apa-apaan ini. Apa aku sudah jadi protagonis galge kah ? Terlalu mengenaskan......
Walau kukatakan begitu, teman sepermainanku Benio Kagami adalah anak perempuan yang lumayan perfect. Teman sepermainan yang patut dibanggakan yang terlalu baik bagiku.
Sampai beberapa minggu lalu, selalu hadir dan tidak pernah telat dari waktu SD terus berlanjut, ketiduran selama pelajaran pun tidak pernah. Buku catatannya pun sempurna, dari kelas 1 SD tiap tahun menjadi perwakilan kelas, kepercayaan dari teman sekelas pun berlimpah. Kenyataannya, aku pun mengira sama sekali tidak ada orang yang setepat Benio.
---tapi, aku dan ibu, justru karena itulah, mengabaikan hal yang terlalu penting.
Yaitu, 'Kemampuan memasak dan cara hidup sehari-hari adalah hal yang sama sekali tidak ada hubungannya', suatu fakta yang terlalu sederhana......

"Ah, Yousuke. Pagi"
Saat aku menyeret kaki yang berat sampai dapur, Benio yang memakai apron merah sedang menyusun masakan di meja makan.
Aku bingung dengan kata 'pagi' yang sangat riang itu,
"......kalau mau katakan itu, katakan saja tadi, kalimat itu"
"Ah, gitu ya. Mungkin bisa dikatakan begitu. Tapi, baru sekarang aku ingat kalau 'aku  lupa bilang selamat pagi ya'. Jadi, bagaimana pun juga rasanya aku ingin mengatakannya"
"Apa-apaan itu"
"Ahaha"
Benio tertawa pada bagian yang aneh.
Tapi, kalau dikatakan biasanya selalu terasa begini mungkin memang tidak salah.
Percakapan pun sedang-sedang saja, kujatuhkan pandanganku pada meja. Lalu, di sana.
"Ugh......!"
Benda yang memiliki tampilan yang terlalu kuat tengah menungguku. Dari mulutku keluar rintihan secara sendirinya. Jantung berdebar kencang, membunyikan peringatan.
'gawat' 'gila' 'aneh' 'mundur' 'memang hari ini juga ya'
Hanya pemikiran lemah yang timbul tenggelam. Meski begitu, kukerahkan keberanian, dengan suara serak menanyai Benio.
"Benio......menu pagi ini......apa......"
"Eh. 'Hot sandwich'. Apa, jangan-jangan kau tidak pernah memakannya ?"
Setelah memastikan aku mengambil tempat di meja, Benio yang duduk di seberang menatap dengan mata terbelalak.
......pasang wajah yang serius.
Seriuskah, ini.
"Aku pernah makan hot sandwich, tapi belum pernah makan hot sandwich ini......"
"Ini ? Eh, kenapa ? Ini hot sandwich standar yang lumayan umum lho ?"
"Berkali-kali kukatakan, tapi, mengenai masakan, 'normal'nya Benio itu pada dasarnya semuanya aneh"
"Ah, begitu" angguknya, hanya dengan dagu.  "Memang sering dikatakan begitu, itu"
"Kau sama sekali tidak mengerti ya......"
"Ya"
Mencondongkan kepalanya, benar-benar seperti takjub Benio menjawab.
"Aku, tidak terlalu mengerti yang susah-susah. Soalnya hot sandwich itu masakan ternama kan. Rasanya juga sering muncul dalam buku resep bu Kyouka. 'Cara memasak roti yang mengubah hidup', atau '43 aturan untuk membuat sarapan yang enak'......"
"Tidak, kalau soal muncul itu aku tahu......tapi bukan soal itu"
Keluarga Aiuchi adalah apa yang disebut 'Keluarga Kuliner'.
Pekerjaan ibuku, Kyouka Aiuchi, adalah peneliti masakan. Sering tampil di acara masak, banyak buku resep yang dikerjakannya jadi best seller. Terus terang, bintang gourmet yang super populer.
Ayahku juga, melakukan pekerjaan yang sepenuhnya mengurusi makanan impor, kakakku pun, sedang dalam kegiatan bekerja sebagai penulis yang menulis artikel berkaitan dengan makanan, mengembara ke seluruh Jepang dan seluruh dunia (orangnya sendiri menyebut dirinya 'pelancong').
Adikku......karena aku tidak terlalu ingin mengingatnya secara kongkret, aku tidak memberikannya sebagai contoh.
Oleh karena itu, kurasa sudah jelas makanan yang biasanya itu enak. Betapa bodohnya. Entah betapa diberkatinya diriku, sedikit pun aku tidak mengerti.
---Hot sandwich.
Menurut pemahaman bersama kebanyakan orang, pasti adalah bagian roti panggang yang berwarna coklat muda dan mulus. Apa yang dimasukkan di tengahnya bisa lumayan bebas, kalau pakai alat khusus tanpa diduga bisa dibuat dengan gampang. Masakan menyenangkan di mana hidup ekspresi sang pembuatnya.
Aslinya.
............aslinya.
"Jadi. Ini, apa yang kau masukkan di tengahnya......?"
"Eh ? Keju, cherry compote, dan kenari cincang. Lalu, wiener......hmm atau mungkin schau essen ? Rasanya bukan sosis ikan. Sisa hamburg steak yang kubuat kemarin juga kumasukkan. Kalau tidak salah krim segar juga"
"Uuh"
Sambil menghitung dengan jarinya, Benio menyebutkan kata-kata yang merangsang dengan panjang lebar.
Aku gemetar. Hot sandwich ? Dengan bahan itu ?
"......ngomong-ngomong, mengabaikan sirup mapel yang menggantung dari atas dengan bodohnya, kau tidak memasukkannya ke dalam kan ?"
"Ya. Enak dan manis kan, sirup mapel"
Jadi begitu. Memang, sirup mapel enak.  Tidak salah lagi, setidaknya, aku tidak pernah menemui sirup mapel yang tidak enak, pahit, dan asin.
Hanya saja, yang penting  adalah bukan soal itu.
"Hot sandwich ini mengincar daerah baru dari rasa. Mungkin kau mengerti 'McGriddle'. Menu pagi di McDonald. Karena 100 yen sebuah, kadang-kadang, saking sukanya aku makan sampai lima buah sekali makan untuk sarapan. Menurutku itu, kombinasi antara manisnya dan asinnya pasti paling hebat. Makanya, aku juga mencoba mengambil teknik itu. Gini lho, rasanya seperti memasukkan nanas pada babi asam manis. Ledakan orisinalitas lho"
"Itu namanya kau tidak sopan dengan babi asam manis"
"Kalau begitu, memasukkan rasberi pada mapo tofu. Enaknya manis pedas"
"Emang tidak ada yang lain ya, bodoh !"
"Eh, tidak"
Singkatnya, griddle itu 'hamburger manis'. Sama seperti hot sandwich ini, bagian rotinya direndam sirup mapel. Benda yang bisa menyatakan kalau tidak ada orang yang tidak terkejut saat pertama kali memakan itu.
"Begitu kah, memasukkan rasberi pada mapo tofu itu tak disangka tidak umum ya. Hmm, tapi, yaa"
Kalau percakapan seaneh ini dikembangkan, siapa pun seharusnya mengerti.
---anak perempuan macam apa kah Benio Kagami ?
---anak perempuan yang memiliki 'masalah' macam apa kah ?
"Hot sandwich ini, bagi Yousuke pun, kelihatannya luar biasa enak kan ?"
"............"
Setelah menatap benda di atas piring sekitar lima detik, sekilas kulihat wajah Benio yang duduk di seberang. Lalu Benio, melayangkan senyuman yang kental tepat seperti sirup mapel yang menggantung dengan bodohnya dari atas bagian yang dipanggang.
"Karya kebanggaanku. Kurasa ini sangat luar biasa"
Mengangguk kuat-kuat dengan bangga, tiba-tiba menonjolkan jempol kanannya.
Pasti beda arti 'luar biasanya' tahu !
......dorongan ingin berteriak semacam itu entah bagaimana berhasil kutahan dalam kerongkonganku, kubulatkan tekad dan menjangkau piring di depan mata. Ya, makanan yang dibuat Benio pada dasarnya ada yang tak bisa diapa-apakan. Dan Benionya sendiri, pada masakan itu sedikit pun tidak merasakan itu......
Inilah masalah terbesar.
Kalau bisa kabur dari ini, aku ingin kabur sekarang juga. Tapi, itu tidak bisa. Teman sepermainan melakukannya hingga sejauh ini, kabur bukanlah pilihan.
Menyedihkan.
Bahwa pada laki-laki, ada pertarungan yang tak bisa dilewati jika dihindari.
Kalau dimisalkan, seperti laki-laki yang memiliki takdir untuk lahir dan dibesarkan sebagai pejuang, demi raja, tanah air, memegang pedang zamrud yang dicari, pergi untuk mengalahkan naga jahat.
Memakan masakan yang dibuat teman sepermainan---tidak salah lagi itu masuk ke daerah 'destiny'.
"Selamat makan---u!?"
Jegerr.
Saat kuambil roti panggang yang lengket dengan sirup mapel dan mentega, dan merasakannya satu suapan, dalam kepalaku kilat berhamburan.
Mungkin, itu rasanya dekat dengan ahli matematika saat menghadapi rumus yang belum pernah ada sebelumnya.
Rasa tidak enak yang tidak bisa diturunkan dari persamaan.
Alasannya karena sampai kapan pun minus dikalikan dengan minus pasti tidak akan berubah jadi plus, itulah rasa tidak enak makanan.
Rasa tidak enak yang membengkak berkali-kali lipat memainkan simfoni berwarna beton, debaran misterius yang mirip dengan ritme sakitnya migrain menggerakkan jantung, lalu, pada akhirnya aku---
Menatap langit, melipat tangan......hanya terdiam, secara rasional.
---tiba-tiba, ada adegan dalam gag manga dan semacamnya, protagonis yang terpaksa menelan masakan hancur heroine wajahnya berwarna ungu, mengeluarkan busa dan pingsan.
Dalam kasus ini, kebanyakan punya tampilan yang merangsang, yang hanya dengan melihat sekilas masakan mereka bisa ditebak ada bahan berbahaya. Entah berwarna ungu, mengeluarkan bau menyengat, apalagi tumbuh tentakel yang punya keinginan sendiri dan meledak tidak jarang (selain itu, para gadis entah bagaimana seperti sudah janjian, tidak mencobanya. Sungguh, bagaimana bisa begini)
Meski begitu. Masakan yang dibuat Benio Kagami, sedikit berbeda dengan masakan tidak enak fiksi seperti itu.
Alasannya simpel. Jawaban yang luar biasa sederhana.
"............ini"
---masakannya betul-betul tidak enak dan sangat nyata.
Bukannya menimbulkan campuran kimia yang aneh, pada dasarnya betapa pun dilebih-lebihkannya reaksi yang ditimbulkan oleh orang yang memakannya, juga tidak akan roboh di tempat.
Pertama-tama, tidak berarti makanan Benio tidak enak hingga sepenuhnya tidak bisa dimakan.
Seburuk-buruknya, masih berbentuk makanan.
Itu bukan rasa dari dimensi lain (fantasi), sebagai kenyataan (riil) yang sepenuhnya kuat, di hadapan orang yang memakannya berdiri tembok besar.
Aku berpikir. Masakan berbahaya yang membawa orang yang memakannya masuk ke rumah sakit yang muncul di manga atau anime,  mungkin tidak bisa disebut masakan yang benar-benar tidak enak kah. Alasannya karena ketika masakan seperti itu muncul, sudah jatuh jadi benda yang sulit dijelaskan sebagai masakan.
Air kalau membeku akan jadi es. Wajar kalau keadaannya berubah namanya juga berubah.
Justru karena itu, kupikir makanan yang benar-benar tidak enak itu menginginkan bisa terus menjaga pada daerah terburuk 'kenyataan yang ada dalam jarak yang bisa dimengerti' sampai akhir. Menembus ke bawah pun tidak bisa---dalam artian itu, makanan buatan Benio sempurna.
Tidak............mungkin hanya hari ini saja, jadi makanan tidak enak yang sedikit kelewatan.
"......hey, Benio......dalam ini......ada 'bahan rahasia' yang kau masukkan kan......kau masukkan bahan yang tidak kau sebut namanya tadi kan......?"
Dengan suara bergetar kutanya Benio.
Kalau tidak ditanya, tidak bisa. Hanya ini saja, pasti.
"Ya, tepat. Kumasukkan. Tapi menurutku, kalau kukatakan bahan rahasianya tidak jadi bahan rahasia lagi"
"Bodoh, jangan bilang begitu ! Ch, aaaa ! Ini, jangan-jangan---"
Kuanalisis sambil mengunyah benda seperti hot sandwich.
Sirup mapel yang dituang. Keju yang meleleh.
Seakan tidak cukup, cherry compote mendorong rasa manis.
Asin schau essen dan hamburg steak (setengah matang).
Kelat yang ditimbulkan kenari cincang.
Di balik bahan roti panggang yang jadinya berantakan, samar-samar terlalu menonjol, bentuk yang bahkan tidak bisa ditemukan pecahan estetika, lalu.
"Kenapa kau masukkan Pabron ke dalam masakan ! Pa, pahit ! A, a-a-apa-apaan ini !?"
Kelewat gusar akan bahan-bahan yang dimasukkan yang terlalu tidak terduga, entah bagaimana kegelisahanku mencolok.
Tidak mungkin salah.
Saat makan, dalam mulut tersebar rasa pahit yang kuat. Walau kukatakan pahit, jelas beda dari paprika hijau atau pare atau semacamnya, yaitu, rasa buatan (kimiawi). Lebih lanjut......rasa bukan makanan.
Dengan kata lain---obat !
"Tidak. Aku tidak memasukkan Pabron lho ?"
Dengan ekspresi ragu, Benio menggelengkan kepalanya.
Aku terkejut.
"Ap......"
"Yang kumasukkan adalah Bufferin"
"Ujung-ujungnya sama aja kan !"
Tanpa sadar berteriak. Tapi, Benio dengan kelihatan bangga menggoyangkan jarinya, ckckck,
"Beda lho. Setengah bagian Bufferin dibuat dari kebaikan. Hal yang sepenuhnya berbeda !"
"Di mana ! Pabron dan Bufferin selain nama dan kebaikannya sama aja kan !"
Kali ini, perlahan menggelengkan kepalanya.
Benio mengatakan dengan wajah yang serius.
"Soalnya Pabron ada bentuk serbuk dan tablet, tapi Bufferin hampir semuanya tablet kan ?"
"Peduli amat sama trivia itu !"
Memang karena belum pernah dihidangkan obat, kata-kataku pun jadi bergairah.
Meski begitu, Benio seperti tertarik padaku,
"Tapi, meski Yousuke sudah beberapa hari kena flu dan batuk-batuk, merasa merepotkan sama sekali tidak minum obat. Tidak boleh, kau harus memerhatikan kesehatanmu"
"Guh......"
Saat dibilang begitu, aku tak bisa balas jawab dengan jujur.
......ta, tapi, kalau mundur di sini !
"Bukan soal itu. Ya, Benio.  Cara berpikirmu secara mendasar salah !"
"Eh. Beneran ? Aku jadi tertarik. Ceritakan itu, Yousuke"
Mencondongkan kepalanya, dengan pandangan 'Jadi, apanya yang salah ?' Benio bertanya.
Pada sepasang mata yang terlalu polos itu, sekejap jantungku melonjak kencang---tapi, mengabaikan hatiku, kukembalikan dorongan itu. Melepaskan diri dari semuanya, dengan nada yang kuat kunyatakan.
"Dengar---obat bukan makanan. Pabron kek, Bufferin kek, mana ada orang yang memasukkan benda itu dalam makanan. Normalnya, tidak ada di mana-mana kan. Bukan begitu ?"
Kupikir.
Kenapa hal seperti ini harus susah-susah dikatakan.
Menyesakkan. Hampa. Tak ada gunanya. Rasa terus kehilangan tenaga dari pundak seperti asap ini tidak salah lagi disebut perasaan lelah. Dari pagi minggu, kenapa percakapan bodoh ini---
"Yousuke yang tidak memasukkannya. Huuh. Atau, mungkin beda tergantung rumahnya"
"Eh"
Dengan sangat mengejutkan, kata Benio. Hasilnya, perasaan lelah seperti asap dengan hebatnya berbalik, jatuh ke kedua pundak dan jadi keputusasaan yang kuat, berat, dan tanpa tujuan.
Dengan riangnya Benio melanjutkan.
"Baik roti atau nasi sama-sama enak. Aku suka nasi putih yang diberi Pabron. Lebih kuning dan enak daripada tamago furikake'"
"............"
Aku kehabisan kata-kata. Sama sekali tidak menyangka kalau Benio orang yang seanarkis ini. Sambil memakan hot sandwichnya sendiri, Benio berkata.
"......ya, terasa bermacam-macam rasa dan enak. Manis, asin, kelat, pahit, kurasa akan jadi masakan yang sangat menguntungkan. Eh, malah jadi memuji diri sendiri"
Pertama kali kuketahui seminggu yang lalu---rahasia mengerikan teman sepermainanku, yang tak kuketahui selama 16 tahun.
Akan kusimpulkan dalam sepatah kata.

---Lidah Benio Kagami, dalam kaitannya mengenai nilai terhadap masakan, sepenuhnya berada di dimensi yang berbeda.

Itu pun sudah sampai secara menyeluruh.
"Ngomong-ngomong"
Mulut yang terbuka lebar, bibir berwarna menyala yang kurang lebih sama dengan merahnya apron, sedikit bergerak.
Slow motion.
Aku jadi terpaku padanya. Jarak kami yang duduk saling berhadapan, terasa sedikit mengecil. Hasilnya, sesuai dengan itu dengan sendirinya ada yang masuk dalam bidang pandanganku.  Apalagi itu besar. Terlalu besar. Tidak mungkin jadi sebesar ini hanya bayanganku saja---
"---enak ?"
Mata yang suci, menatapku langsung, dengan sangat polosnya.
Degg,  jantungku melonjak.
"Ya. Lihat, seenak ini. Yousuke juga kan. Kan ? Kan ?"
"Hah......"
Tak bisa memberikan balasan segera, Benio mencibir, dengan penampilan yang sangat tidak puas,
"Ia, makanya. Kesan rasanya. Kau sudah memakannya kan ?"
"Itu, yah"
"Jadi, ayo terangkan"
"Anu, itu---"
Mengalihkan pandangan dari Benio yang langsung menatap ke arahku, kupaksa mengeluarkan suara.
"............tak disangka, bisa bagus kan ?"
Jawaban tidak jujur yang paling bisa kuberikan.
Memang, bohong pun aku tak bisa bilang 'enak'.
---kumulai melarikan diri dari kenyataan lagi.
Saat masakan tidak enak dibuat oleh anak perempuan, sebenarnya, entah bagi laki-laki reaksi seperti apa yang paling tepat untuk diambil......ini adalah hal yang paling kuperhatikan baru-baru ini.
Dengan jawaban dari dunia manga love-comedy, kebanyakan adalah 'terus bohong'. Betapa pun keringat bercucuran, wajah berwarna ungu pun, apa pun yang terjadi jangan mengatakan 'tidak enak' pada anak perempuan. Lelaki yang memilih gaya ini sangat banyak.
Kurasa itu keputusan yang lumayan pandai.
Tidak mungkin semudah itu mengatakan 'tidak enak' pada anak perempuan yang sudah susah-susah membuatkan masakan.
Sebenarnya aku tidak ingin berbohong pada Benio. Tapi, kalau kukatakan masakan yang sudah susah-susah dibuatnya 'tidak enak', aku tidak ingin menyakiti perasaan Benio.
Walau pun tidak ingin......
"Itu sungguhan ?"
Benio membuka matanya lebar-lebar, berkata dengan berbisik. "----sungguh, enak ?"
"......ermm"
"Tidak boleh Yousuke. Aku ingin mendengar kesanmu yang sesungguhnya. Tidak baik berbohong seperti itu. Menurutku, anak laki-laki yang berbohong itu tidak keren"
Pandangan tulus yang dipasang terang-terangan.
Ya---si Benionya sendiri, keras kepala tidak mau membiarkanku memberikan kesaksian palsu. Benio yang biasanya lembut, anehnya punya bagian yang membandel.
Kenapa orang ini bisa jadi seserius ini ?
Kalau dipikir, pasti karena dari masa kanak-kanak sudah bersama dengan teman sepermainan yang tak bertanggung jawab. Pikiran 'aku harus bisa diandalkan' akhirnya menimbulkan pengaruh besar bagi pembangunan karakternya.
............dengan kata lain, ini gara-gara kesalahanku sendiri kan !
"A, aku tidak bohong ! Benio ! Tidak bisakah kau memercayaiku ?!"
"Aku terus percaya dengan Yousuke. Tapi, ini dan itu lain cerita. Jadi, reaksimu dengan Bufferin yang tadi ?"
"I, itu.....se, sekedar kaget saja !"
"Kalau begitu, toppingnya tidak hanya Bufferin tapi akan kutambah juga pabron lho ?"
Sekilas Benio melempar pandangan ke rak obat. Situasi yang tak terduga membuatku mengeraskan suara.
"He, hentikan sampai situ saja ! Jangan ada obat ! Serius, itu terlarang ! ............Ah"
"Li~hat.  Kan......"
"Ah, tidak, itu......"
"Tidak bisa. Kau ketahuan. Aku ingin kau mengatakannya dengan tepat......"
"Su......"
---kejadian lagi, pikirku.
Tapi, datang sampai sini dan terus berpura-pura tidak tahu itu tidak mungkin pun juga sebuah fakta. Sudah kuduga aku hanya bisa......mengatakannya kah......
Setelah sedikit keraguan, aku memeras kata-kata.
"------terus terang, tidak enak, melewati yang terhebat yang lalu"
"............"
Benio menatapku lekat-lekat, keringat bercucuran di dahi, aku pun balas menatap.
Lalu, detik berikutnya.
"A------------------! Hari ini pun tidak bisaaaaaaaa !"
Suara aneh tiba-tiba. Menjatuhkan wajahnya ke meja, sambil menggulingkan badannya seperti anak kecil yang merajuk, Benio mulai pingsan.
---dalam satu minggu ini, aku dan Benio sedang melakukan 'pertandingan'. Isinya sangat simpel.
'Benio membuat masakan yang membuatku mengatakan enak'
Sungguh, hanya itu. Tapi tentu saja, sedikit pun aku tidak punya niat untuk bertarung. Hanya muncul dengan sendirinya, Benio yang secara sepihak menantang diri sendiri dengan tujuan itu.
Lalu, hanya dengan Benio kalah telak dengan sendirinya dalam setiap pertandingan itu,
"Kenapa, bagaimana bisa ? Sangat enak kan......ya, enak dengan manis dan pahit......apalagi menyehatkan......meski begitu kenapa Yousuke bilang tidak enak......aaah......aku sama sekali tidak mengerti......"
"Soalnya, apa pun yang kau makan kau bilang enak kan......misalnya, itu. Bagaimana ya, ada yang aneh ? Apa kau tidak punya kalimat seperti itu ?"
"Tidak, karena aku benar mengerti apa itu 'enak'. Selain sama sekali tidak pedas, memang seharusnya beda dengan penyakit......"
"Ya......"
Memang, kalau merasa enak apa pun yang dimakan, tidak salah lagi pasti sangat menyenangkan. Hanya dengan makan, pada dasarnya tidak ada masalah.
'Hanya' dengan makan.
"Coba pikirkan soal itu nanti saja......Pertama-tama akan kumakan ini. Sudah dingin"
"Eh. Ti, tidak usah. Sisanya biar aku yang makan,  jadi Yousuke tidak usah memaksakan diri. Soalnya, yang hari ini lebih tidak enak dari yang sampai sekarang kan......?"
Memegang lengan bajuku yang menjangkau ke piring hot sandwich, dengan penampilan takut-takut Benio bertanya untuk melihat air mukaku. Aku menggelengkan kepala.
"Yeah.  Walau tidak enak, tapi kau susah-susah membuatnya, kalau sampai sini kau katakan tinggalkan saja aku merasa tidak enak.  Tiap kali pada akhirnya aku juga yang makan kan"
"Memang begitu tapi......Tapi, memang aku salah pada Yousuke, aku sangat menyedihkan, menjengkelkan, memalukan, mengesalkan......"


Kata Benio dengan ekspresi yang perlahan-lahan meredup. Terasa kalau kata-katanya semakin ke belakang semakin kuat itu cuma perasaanku saja kah ?
Kenyataannya, depresi Benio saat ia tahu sendiri masakannya tidak enak tidak tanggung-tanggung.
Hari berikutnya fakta ini menjadi jelas, ia membuang catatan selalu hadir dan tidak pernah telat selama sepuluh tahun berturut-turut, mengurung diri seharian dikamar dan jadi muram (kudengar dari orangnya sendiri setelahnya).
Selain menurutku Benio ingin membuat masakan yang enak lebih dari siapa pun, ia juga ingin membuatku memakannya. Tak perlu kukatakan lagi. Sudah jelas kalau itu sebaiknya enak.
Tapi, itu tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Dengan hari ini, tepat seminggu setelah Benio jadi mulai membuat masakan. Masakan Benio masih tidak terlihat tanda-tanda peningkatan.
Jujur saja, aku juga merasa komposisi saat ini---punya macam-macam masalah.
Tapi tidak ada solusinya.
Skill memasak Benio tidak terbangun seperti bangunnya kekuatan yang tersembunyi protagonis battle manga, aku cuma bisa memikirkan kalau tetap berusaha keras entah bagaimana tidak akan jadi masalah.
Oleh karena itu, pada akhirnya, aku datang kembali ke kata-kata ini.
---apa yang sebaiknya kulakukan ?
"Ng ?"
Lalu, saat itu.
Tiba-tiba lonceng di pintu masuk berbunyi 'ping pong'.
"Ah......kelihatannya ada yang datang. Aku akan keluar"
Bisik Benio, mencoba berdiri seperti sudah seharusnya. Buru-buru kucengkeram dengan enteng lengannya, menegur tindakan itu.
Tidak mungkin aku membuat Benio melakukan apa saja soal rumah tangga.
Kalau demikian, aku  akan sepenuhnya turun derajat.
"Tu, tunggu sebentar ! Kau tidak usah pergi ! Itu saja aku yang akan melakukannya !"
"Begitu ? Ya, baiklah. Ini. Mungkin akan perlu"
Dengan gampangnya Benio menyetujui, mengambil Hanko dari laci kecil, menyerahkannya padaku sambil sedikit tersenyum. Di satu sisi, aku terkejut. Hanko berada di tempat seperti itu, baru saat ini aku tahu......
"......thank you"
"Tidak perlu. Kalau ada yang menyusahkan silakan panggil saja aku"
Aku berpaling dari Benio yang tersenyum tanpa memerhatikan perasaanku, tak perlu ditebak, ia tahu lebih banyak soal rumah ini daripada aku---sambil memikirkan keyakinan semacam itu, aku menuju pintu masuk.
Koridor terasa dingin, juga terasa hangat.
Entah musim semi sudah berakhir kah, atau musim panas sudah dimulai kah, masih jauh untuk mengetahui itu.
"Ya, ya. Siapa ya---"
Srakk, pintu masuk terbuka, di sana,
"Selamat pagi"
"Ha, haa. Selamat pagi juga, dengan hormat......eh ?"
Entah bagaimana, di sana---menunduk dengan cepat, berdiri seorang gadis cantik berambut pirang.
Tidak mungkin salah lihat, mimpi di siang bolong, atau magic mushroom yang dicampurkan ke sarapan pagi yang dibuat Benio mengaburkan kesadaranku.
Yang berdiri adalah gadis cantik, orang asing.
Memakai topi dengan pinggiran besar dan mantel wol merah tua, anak perempuan putih dengan rambut pirang dan kulit putih seperti transparan.
"Ah, anu......na, nice to meet---"
"Yousuke ! Aku ingin bertemu !"
Memotongku yang mencoba memberikan sapaan dengan Inggris yang benar-benar sederhana, gadis pirang itu menerobos seperti peluru. Lalu tiba-tiba aku dipeluk.
"Ntar, hah --- !?"
Tentu saja, aku jadi panik. Kacau.
Bagaimana pun juga rambutnya pirang. Gadis cantik. Pundak ramping yang sepertinya akan hancur kalau dipeluk kuat-kuat, tubuhnya pendek tidak kelihatan seperti orang asing---manis gila.
Sensasi sentuhan badannya yang empuk melintasi mantel wol tersampaikan dengan nyata.
Wangi buah apel, lalu badan yang montok dibandingkan dengan tingginya......!
Tapi, aku yang murni orang jepang harusnya tidak punya kenalan orang asing, malahan, cara berpikir apa ia peri yang muncul dari dunia lain demi aku yang kesusahan dengan masakan tidak enak, kenyataan masih---
............ahm ? kenalan, orang asing ?
"Ah"
"apa kau sudah bisa mengingatku ?"
Ada, kenalan.
Ya. Tidak hanya sampai sekarang sekali pun belum pernah bertemu, fotonya saja belum pernah kulihat. Pamanku yang menikah dengan orang Inggris di sana, harusnya punya anak perempuan yang seumuran denganku.
Ermm, kalau tidak salah namanya---
"Lily......ya ?"
"Ya, Lily Applegarth. Aku senang kau sudah mengingatku"
Mata birunya yang berkilau menatapku.
Tanpa sadar aku hampir sempoyongan dari aura kuat gadis cantik yang dilepaskannya. Persis seperti menelan aroma yang tebal mencekik.
"Jadi, kenapa kamu.....? Eh, sendirian. Apa paman datang......?"
"Ya, soal itu,"
Sang gadis melepas topi yang dipakainya, mengangguk dalam-dalam padaku. Saat mengangkat kepalanya lagi dengan gerakan yang mengalir apa adanya, ia tersenyum manis ke arahku  yang ternganga.
"---kurasa akan jadi waktu yang cukup lama, jadi mohon bantuannya"
"......ya ?"
"Karena itu," kemudian, menusukkan kata-kata yang terlalu jelas padaku yang tidak bisa mencerna situasi "aku datang ke Jepang untuk homestay"
Tanpa sadar, aku mengangguk 'Hooh' seperti mengerti dengan kata-kata itu,
"Heeh, jadi begitu. Homestay ya. Itu cukup tiba-tiba---eh, homestay !?"
"Ya. Terima kasih atas bantuannya"
"............serius ?"
"Serius. Aku akan masuk SMA mulai esok. Kudengar juga sekelas dengan Yousuke"
Senyum-senyum.

---Mendengar kata-katanya yang dipenuhi senyuman seluruh wajah, akhirnya aku menangkap kondisi saat ini.

Dengan begini, kehidupanku sehari-hari, akan menemui perubahan besar lagi.
Tidak hanya 'diurusi' oleh teman sepermainan, sampai muncul baru lagi sepupu orang asing yang diputuskan untuk tinggal satu atap.
Kemudian, saat ini aku masih belum tahu.
Seberapa menyiksanya padaku makanan yang mereka buat.
Bukan,

Seberapa menyiksanya padaku---banyaknya masalah yang ditimbulkan oleh makanan yang mereka buat.

Kanojo Tachi No Meshi Ga Mazui Hyaku no Riyuu Jilid 1 Pembukaan Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.