02 Oktober 2015

Heavy Object Jilid 1 Bab 3 Bagian 1 - 7

HEAVY OBJECT JILID 1
BAB 3

PERANG ANTARA SEMUT DAN BELALANG >> PERTEMPURAN UNTUK MENGALAHKAN NEGARA MILITER OCEANIA

Bagian 1
Negara Militer Oceania berada di sebuah benua yang terkenal karena koala dan kangurunya. Di sebuah zaman di mana negara bernama Australia pernah berada, kota-kota dibangun di sisi pantai dan daerah tengah dari benua itu hampir semuanya kering, tanah yang retak seperti yang bisa dilihat di zaman para koboi. Walau areanya sendiri bukanlah sebuah padang gurun, kering, tanah keras hanya bisa mendukung beberapa jenis tumbuhan, jadi menumbuhkan tanaman dan gedung-gedung di situ sangatlah sulit.
Namun, zaman modern merubah semuanya.
Tanah buatan dengan daya serap air yang tinggi dikembangkan dan banyak tumbuhan yang telah mengalami perubahan genetik dikembangkan dan membuat tanah kering itu kembali hidup bahkan di dalam lingkungan yang keras. menggunakan metode ini, sebuah rencana besar dan jangka panjang dikembangkan untuk meningkatkan perkembangan benua ini. dengan perkembangan tanah seperti itu, bagian tengah benua itu mampu dikembangkan secara maksimal dan orang-orang mampu menciptakan sejumlah panenan raya yang besar dan kota-kota besar dibangun di situ dengan jalan tol penghubung. Dengan menggali sumber daya alam di dalam bumi, ekonomi negara itu tumbuh , dan posisi di dalam masyarakat internasional kembali naik. Jika semuanya kembali tumbuh seperti rencana, tidak akan ada negara yang menargetkan tempat ini dengan sebuah Object.
Namun, tidak semuanya berjalan dengan lancar.
Suku yang telah tinggal di Oceania sejak zaman dahulu kala merasa perlu untuk membawa Oceania kembali ke masa-masa awalnya. Kepercayaan mereka menganggap bahwa tanah ini adalah sebuah tanah suci tidak peduli betapa kering dan tandusnya tempat mereka ini. Dan mereka tidak mau ketika tanah mereka dihuni oleh bukan penduduk asli ataupun ditumbuhi tanaman yang telah dikembangkan secara genetika. Suku pedalaman itu tidak mau tanah mereka “dimakan” oleh uang, jadi mereka mulai melancarkan aksi unjuk rasa damai dan protes. Negara militer itu kehilangan hasratnya untuk mengembangkan tanah-tanah itu, jadi mereka menjawabnya dengan sebuah jawaban yang simpel.
Mereka mengirimkan sebuah Object.
“Itulah yang disebut sebagai Konservasi Hutan dua tahun yang lalu. Dan pasukan koalisi dikirim untuk mengamankan suku-suku itu dari pasukan tirani sebuah negara militer,” kata Heivia di dalam sebuah markas Yan ditutupi oleh pasir.
Berdiri di sebelahnya, Quenser berkata, “Huh? Ini semua dimulai dua tahun yang lalu? Lalu kenapa kita baru dipanggil sekarang?”
“Memangnya aku tahu? Pasti ada sesuatu yang telah dikembangkan di sana yang membuat kita harus ikut campur sekarang.”
Keseimbangan kekuatan di Oceania sangat mudah untuk dilihat. Area yang berada di dalam kekuasaan negara militer sangat hijau sementara yang dikuasi oleh pasukan koalisi (dan termasuk suku pedalaman yang menolak dukungan negara militer) sangat kering di daerah gurun. Mereka juga dipisahkan oleh mereka yang mau membantai pihak yang lain demi keuntungan di atas makanan dan kayu.
Object dari berbagai kekuatan pasukan koalisi berkumpul di markas di garis depan. Biasanya, Object-object ini berada pada posisi yang berbeda sebagai musuh dan teman, tapi sekarang mereka berkumpul pada satu pihak.
Tanahnya sangat kering. Sesuai dengan permintaan suku pedalaman ini, mereka hanya menyingkirkan tanaman yang tidak ada sejak dahulu kala benua ini ada.
“Kenapa di sini sangat panas? Bukannya beberapa saat yang lalu bokong kita sangat kedinginan di Alaska sana?”
“Musim di bagian selatan bumi ini terbalik bodoh. Tapi aku rasa cuaca di sini cocok untuk santa dengan rok mini.” Quenser melihat ke sekeliling dengan keringat di wajahnya. “Kau tahu, kita memiliki banyak Object di sisi kita saat ini. Mungkin kita bisa memaksa mereka untuk menyerah tanpa harus menyerang mereka.”
“Jangan bodoh. Apa kau lupa betapa sering harapan kita berulang-ulang kali dihancurkan oleh mereka? Aku akan mengatakan kalau lebih banyak pasukan koalisi ini saat ini menambah kesempatan kita untuk melangkah satu langkah maju secara tidak sengaja.”
“Pasukan koalisi sudah mengirim puluhan Object ke sini untuk menghancurkan kediktatoran di sini, bukan? Kenapa tidak menggunakan bendera putih? Perang saat ini hanyalah antara Object, jadi tidak perlu lagi ada tentara yang ikut dalam berperang.”
“Jangan tanya aku. Mungkin mereka memang pengecualian. Apa kamu pernah melihat negara-negara berkumpul dan membentuk sebuah koalisi? Aku tidak pernah menyangka kalau kita bekerja sama dengan negara kejam seperti ini selama 2 tahun. Diktator Oceania ini pasti sangat dibenci oleh komunitas internasional. ...Juga, aku ragu kalau mereka akan mengangkat bendera putih. Mereka telah banyak melakukan hal buruk, jadi aku ragu kalau mereka tetap akan menyerah walau kabur ke luar negeri.”
Sementara mendengarkan Heivia, Quenser bersandar di balik barikade fiber sintetik yang direntangkan di seluruh markas ini dan memasukkan sesuatu seperti penghapus kotak ke dalam mulutnya.
“Hm, ransumnya sangat menjijikkan.”
“Yah, tapi lihat, sekarang kita bisa menambahkan rasanya dengan sedikit pasir di atasnya.”
“Aku ingin pulang.”
“Para petinggi pasti menggunakan ini seperti sebuah permainan.”
Sambil komplain, barikade itu mulai bergetar.
Mereka melihat ke sekeliling mereka dan melihat gadis pribumi berumur kira-kira 10 tahun dari luar barikade itu dan menatap ke arah mereka.
“Apa itu?” tanya gadis yang masih murni itu sambil menunjuk Object pasukan koalisi yang bergerak di dalam markas ini.
Quenser dan Heivia tidak tahu harus berkata apa.
Namun, gadis itu tidak merasa terganggu dan menunjukkan sebuah gambar dari sebuah buku melewati barikade itu.
“Itu mereka, bukan? Monster batu seperti yang ada di buku ini.”
“Y-yah, itulah mereka. Mereka memberikan perlindungan bagi tupai dan kanguru kalau hujan turun.”
Quenser tidak tahan kalau harus memberi tahu gadis itu kalau itu adalah sebuah senjata raksasa yang tidak memiliki belas kasihan sama sekali. Walau begitu, Heivia memiliki sesuatu untuk dikatakan pada Quenser, “Jawaban yang bagus, Quenser!!”
Berikutnya, jejak asap putih ditembakkan dari markas ke udara.
Gadis itu menunjuk ke langit dan bertanya, “Dan apa itu?”
Quenser tentu saja tidak mau menjawabnya dengan mengatakan bahwa itu adalah sebuah misil meteorologis tipe sensor yang sedang diuji coba.
“I-itu adalah roket... seperti pesawat ulang-alik.... aku rasa?”
“Wow, aku tidak pernah melihat itu sebelumnya.
Saat gadis itu kegirangan karena penuh semangat, dua laki-laki itu melihat ke arah lain.
Itu adalah sebuah panggilan dari atasan mereka, Froleytia.
“Hei, kalian berdua, jangan ngobrol dari balik barikade. Tetap fokus.”
Gadis itu kemudian kabur karena takut. Dia segera loncat dan pergi dari tempat itu.
Quenser dan Heivia melirik ke arah Froleytia.
“....Sia-sia sekali.”
“....Mau bagaimana lagi. Dia memang terlihat cantik, tapi dia tetap seorang komandan yang keras. Bahkan seorang ahli bela diri akan kehilangan keberaniannya saat berhadapan dengan Froleytia.”
“Oh, jadi kalian mau melihat sisiku yang lembut? Aku bisa memperkenalkan diriku lewat hak sepatu bot ku kalau kalian mau. Tapi untuk sekarang, jangan bersantai di dekat barikade, ini adalah medan perang, ingat?”
“Kita tidak apa-apa. Bahkan kalau kita ada di negara militer ini, aku ragu seorang penembak jitu mau menarget markas dengan Object sebanyak ini.”
“Bukan itu yang aku maksudkan. Markas ini dipenuhi oleh banyak kamera.” Froleytia terlihat frustrasi, tapi dari pada panasnya, dia sama sekali tidak melepaskan satu kancing saja dari pakaiannya yang dilihat saja sudah membuat panas. “Jumlah wartawan asing meningkat, mereka mengatakan bahwa mereka akan menunjukkan pada dunia negara tirani seperti ini. Namun, mereka sepertinya hanya kumpulan orang manja yang belum pernah melihat medan perang sebelumnya dan beberapa orang lainnya yang aku ragu kalau mereka adalah seorang wartawan.”
“Oh maksudmu orang-orang yang dulunya tentara bayarang yang sekarang bekerja sebagai pemandu wisata di medan perang yang dikuasai oleh Object saat ini?” tanya Heivia.
“Sepertinya itu,” kata Froleytia, setuju dengan apa yang dikatakan Heivia. “Masalahnya protokol keamanan militer tidak mengizinkan kita untuk memberikan mereka izin untuk masuk ke dalam negara yang dikuasai oleh junta militer. Biasanya, mereka akan mengarahkan kameranya kepada kita, berharap bahwa mereka akan mendapat tembakan yang seharga dengan gaji mereka. Kalau kalian tidak mau wajah bodoh kalian muncul di kamera bersama dengan artikel sair di negara asalmu, pastikan kalian tetap menjaga sikap kalian di luar.”
“...Oh Tuhan, merepotkan sekali. Apa kau tidak bisa melarang wartawan itu untuk masuk ke dalam markas untuk menjaga keamanan informasi tingkat tinggi dari Object-object yang ada di sini atau apalah itu?”
Froleytia rasa dia sekarang terserang sakit kepala saat dia mendengar perkataan Quenser yang begitu amatir.
“Memangnya kau pikir buat apa koalisi ini dibentuh, heh? Negara asal kita bisa mengakhiri pertempuran tidak penting ini jika perlu, tapi atasan tinggi kita menginginkan gambaran yang sangat jelas tentang siapa pahlawan perang yang akan berjalan di parade kemenangan nanti. Kalau kita melarang wartawan ini, para kandidat yang berusaha merebut kekuasaan di negara asal kita pasti akan sangat marah pada kita. Konselor Flide dan yang lain tidak akan senang mendengar hal itu.”
“Apa kau tidak dengar Quenser,? Mereka melakukan hal-hal seperti ini kepada media. Bahkan aku dengar ada pembicaraan untuk membawa mega sponsor dari perusahaan-perusahaan besar atau partai politik untuk menempelkan logo perusahaan mereka di zirah Object seperti di mobil balap F1.”
“Apa mereka mencoba merekam gambar markas yang diserang dan para prajurit yang tertembak di tanah ke televisi ruang keluarga mereka? Mereka semua tidak mengerti perang itu seperti apa.”
Komentar Quenser terdengar sama dengan suara prajurit lain jika ditanyakan hal yang sama pada mereka, tapi secara teknis di hanyalah seorang tamtama. Ekspresi serba tahu yang dia tunjukkan tidak lebih dari wajah warga sipil yang mengeluh soal kebijakan pemerintah.
Merasa suntuk dengan topik pembicaraan mereka, Heivia mengganti subyek obrolan mereka.
“Hei, apa kau melihat kapal para aktivis anti-perang di lautan? Mereka memasang spanduk raksasa yang meminta pasukan koalisi ini untuk menghentikan invasinya yang terdiri dari kekuatan-kekuatan Object luar biasa ini.”
“Mereka semua hanyalah tumpukan orang bodoh yang tidak tahu sama sekali soal apa itu negara junta militer ini sebenarnya atau kumpulan orang brengsek yang tahu tapi berpura-pura tidak tahu. Apa kita harus mempedulikan mereka semua? Faktanya, aku ingin bertaruh kalau mereka pasti akan bertanya kenapa pasukan koalisi tidak menyerang, segera setelah salah satu kapal aktivis itu ditembak jatuh oleh torpedo negara militer Oseania.
Dengan wajah yang tidak senang, Froleytia berbicara, “Pemilihan anggota dewan di negara asal akan dimulai sebentar lagi. Seperti yang aku katakana, Konselor Flide dan yang lain berada dalam ujung tanduk untuk memastikan mereka tidak mendapat insentif yang buruk di depan masyarakat. Mungkin mereka juga memikirkan operasi militer untuk memberikan perlindungan kepada aktivis anti-perang itu.”
“Oh, ayolah. Kita datang ke sini untuk merawat orang-orang bodoh itu?” keluh dua laki-laki itu.
Froleytia menatap matahari tenggelam.
“Kalian berdua akan bergabung ke dalam operasi militer yang akan dimulai pada saat matahari tenggelam, jadi persiapkan diri kalian sekarang. Pengarahannya akan dilangsungkan malam ini, jadi pastikan kalian sudah sangat siap untuk itu.”
“Tunggu, ‘kalian berdua’? Froleytia, apa kau hanya akan duduk di ruangan ber-AC di dalam markas sambil menunggu hasil perang?” tanya Heivia yang mencebikkan bibirnya.
Froleytia mengangkat bahunya dan mengatakan, “Apa kau ingin membantu-bantu di sini? Tidak mudah lho menahan wartawan bintang tiga yang ingin menjadi wartawan medan perang sambil melanggar protokol militer kita dengan maju ke garis depan pertempuran. Mereka pikir kita para prajurit adalah pemandu wisata bagi mereka. Kapan pun mereka merasa tidak puas mereka akan mengadukan kita seperti orang yang protes kepada Costumer Service. Apa kau ingin melihat wajah asli para pasifis itu sementara wajahmu diludahi karena tidak menyerang balik?”
Quenser dan Heivia saling memandang satu sama lain ketika mendengar itu.

Bagian 2
Di dalam markas perawatan Object, karakteristik peralatan yang digunakan oleh tipe fasilitas yang sama berbeda tergandung dari pasukan mana mereka berasal. Seorang elit perempuan yang biasa dipanggil Putri oleh yang lain berdiri di salah satu porsi wahana yang terdiri dari tumpukan kendaraan besar.
Puluhan fasilitas lain berada di sini dan salah satu yang dimasuki oleh sang Putri bukanlah sebuah fasilitas raksasa untuk menampung Object miliknya, Baby Magnum. Dia berada di sebuah fasilitas spesial yang dibangun tepat di samping Object miliknya. Ini adalah fasilitas khusus yang dibuat untuk merawat tubuh Elit.
Jika dilihat, area yang luas ini sulit dipercayai berada di dalam sebuah kendaraan dan membawa sebuah dome setengah lingkaran dengan diameter 10 meter. Elit yang berdiri di tengah dome itu dan peralatan tak terhitung dan mata manusia mengamati tubuhnya dari luar dome itu. Orang-orang itu adalah para tim medis yang dibawa untuk mengamati perawatan dan kesehatan sang Elit.
Wanita tua yang biasanya merawat Object sang Elit berada di dalam fasilitas itu bersama dengan puluhan tim medis ini dan dia mengoperasikan sebuah perangkat yang terlihat seperti alat perekam yang digunakan untuk menyulih suara kartun atau film.
“Oke, kita mulai. Apa kau sudah selesai menyiapkan alat musiknya?”
Suaranya tidak dikirim oleh sebuah gelombang. Malahan, sebuah kalimat dengan cahaya oranye tampil di dinding bersih dome itu. Itu karena dome ini kedap suara. Gadis itu membaca kata-kata itu yang turun seperti yang ada di papan skor elektrik. Saat partitur musik itu tampil dengan jelas di matanya, dia memasang goggle spesial yang biasa dia kenakan saat mempiloti Object.
Dia menggenggam sebuah flute panjang, silver, dan bersih lalu memasukkan teks dengan input inframerah di goggle-nya untuk membaca gerak matanya.
“Menyetel flute sudah selesai.” Tulisnya.
“Aku tidak melihat ada yang salah dengan partiturnya. Kalau begitu, nyalakan metronom-nya. Kamu bisa mulai resitalmu sesuka hatimu.”
Membaca kata-kata wanita tua itu, sang putri membiarkan pesawat kertas di tangannya terbang dari tangannya. Sambil melihat origami itu melayang tinggi di udara, dia menggenggam flute itu secara horizontal di tangannya.
Dia meniupnya dengan memindahkan jari-jarinya yang keperakan.
Suara kecil berbunyi dari flute itu dan hidung dari pesawat kertas itu naik cukup tinggi. Itu dibuat dari material khusus yang bisa terdistorsi hanya karena gelombang suara.
“Ya, ya, itu bagus. Naikkan gelombangnya menjadi 5 meter dengan ketinggian 140 sentimeter, dan setiap gelombang dengan kecepatan 30 detik.”
“Penampilan yang tidak memiliki kualitas seni seperti itu sangat membosankan.”
Dengan flute yang masih menempel di mulutnya, sang putri melanjutkan menggerakkan matanya untuk melanjutkan pembicaraannya. Not bergerak begitu riuh di monitor yang menampilkan partitur itu, tapi tidak ada gerakan yang pasti di jarinya. Itu tidak seperti seseorang yang terlihat seorang musisi pecinta musik dan gerakannya lebih terlihat seperti lengan robot yang menyolder motherboard dengan papan semikonduktor.
“Apa rasanya nikmat dikelilingi oleh suara-suara merdu seperti itu?”
“Maksudmu getaran suara yang mengelilingi dome yang aku buat ini? Kalau aku puas dengan hanya ini, aku rasa aku sudah menjelek-jelekkan nama orkestra.”
Tidak ada standar yang pasti untuk metode perawatan tubuh Elit. Juga tidak ada perbedaan standar di tiap-tiap pasukan atau negara. Metode yang paling cocok adalah membangun sebuah spesifikasi yang cocok untuk tubuh tiap-tiap Elit. Untuk seseorang, itu adalah berenang di kolam renang yang sangat besar, berenang untuk mengejar waktu. Untuk yang lain, itu adalah menyelesaikan setiap soal di sebuah lembar soal ujian masuk universitas. Untuk yang lain, itu adalah bermain catur melawan super-komputer. Dan untuk seseorang seperti sang putri adalah untuk mengelilingi dirinya dengan suara-suara yang sudah diatur.
“Apa kamu punya keluhan soal alat musiknya? Untuk mengganti suasana, apa kamu mau mencoba menggunakan gitar listrik?”
“Menghasilkan suara yang tercipta karena napasku memiliki efek yang besar pada tubuhku. Aku menggunakan flute karena napasku ditulis dalam nada dan lagu.
Suara lain tidak bisa bersatu dengan musik. Dia bisa berbicara tanpa masalah dengan berhenti dan beristirahat sebentar, tapi regulasinya tidak bisa berhenti untuk beristirahat.
Itulah kenapa sang Elit merasa risih ketika ada seseorang yang mengajaknya berbicara dan ia harus menjawabnya dengan menggerakkan matanya sambil meniup flute ini. Sekarang, dia sampai pada nada terakhir dan pengaturannya selesai. Sang Putri melepaskan flute itu dari bibirnya dan pesawat kertas yang mengambang di udara itu turun ke lantai.
Sang putri mengambil metronom itu dan bersiap untuk lagu berikutnya, tapi kemudian dia melihat ke atas. Dari dome yang jernih itu, dia melihat wajah familiar yang dia kenal masuk dari pintu yang terbuka dari wahana ini.
Itu adalah Quenser.
Dia didorong oleh sahabatnya, Heivia, dan dari wajahnya sepertinya ia tidak tahu di mana di sekarang sebenarnya. Melihat itu, sang Putri mengangguk pelan.
(Heivia ternyata bisa kasar, tapi sepertinya itu masih bisa ditoleransi)
Di antara orang-orang yang mengamatinya terus-terusan, hanya wanita tua itu yang menyadari ada sesuatu yang berubah di kondisi mentalnya. Teks oranye itu dibaca, “Bagaimana kalau kita beristirahat sebentar?” dan pintu dari dome kedap suara ini terbuka secara otomatis.
Quenser masuk ke dalam dan sang Putri memberikan sebuah instruksi ke dome ini. Segera setelah itu, polarisasi membuat dinding dome ini terlihat putih.
“Wah!” teriak Quenser terkejut.
Sang Putri menghampirinya dan berkata, “Apa yang kau lakukan di sini hari ini?”
“Oh, Heivia bilang kalau ada sesuatu yang membuat kita harus mampir dan mengingatkanku kalau kita ada misi bersama lagi.”
(Memang dia pikir aku ini kejam apa?)
Sang Putri merasa sedikit jengkel.
Melihat bahwa Sang Putri agak jengkel, Quenser memperhatikan flute perak yang digenggam oleh Sang Putri.
“Hehh. Apa itu flute? Aku pernah melihat seseorang memainkannya di sebuah orkestra tiup di negara asalku, tapi aku tidak tahu bagaimana mereka bisa memainkannya. Aku pikir aku tidak akan bisa mengeluarkan suaranya walau mencobanya.”
“Ini sangat mudah dari yang kamu pikirkan. Mau coba?” tanya Elit itu dan Quenser mengangguk seperti yang sudah diduga oleh sang Putri.
Sudah cukup untuk membuat mood sang Putri membaik, tapi...
“Kamu memegangnya di sisinya, kan? Huh? Dipegangnya di kiri atau di kanan?”
Sebelum dia mengatakannya, Quenser dengan polosnya membawa flute itu ke bibirnya.
Sang Elit sudah berpikir paling tidak mengelap mouthpiece-nya sebelum menyerahkannya kepada Quenser, jadi dia agak terkejut dan berdiri dengan wajah bingung dan memerah di pipinya. Namun, gelombang kejut yang membuatnya bergetar terasa segera setelah flute itu berbunyi.


Gadis itu membuat tubuhnya bergejolak ketika mendengar alat musik itu berbunyi, saat suara kecil, jelek dan tidak jelas itu keluar dari flute itu, perasaan delusi yang aneh terasa di sekujur tulangnya.
“...!?”
Mulut sang Putri terbuka dan menutup saat dia menekuk punggungnya. Sebuah sugesti perintah tertentu keluar dari efek pengatur flute itu, tapi dia lupa untuk memberikan perintahnya.
Saat sebuah cahaya lembut dan nyaman muncul di matanya dan sebuah alasan untuk menghentikannya muncul, tubuh sang Putri menegang, tapi Quenser tidak tahu apa yang terjadi.
Saat Quenser benar-benar mencoba untuk mengeluarkan nada “do re mi fa so la si do”, udara yang ia keluarkan sangatlah kuah dan dia menggunakannya dengan sangat salah.
“Huh? Not yang keluar salah, ya. Nadanya sangat kacau. Dan bagaimana caranya untuk menghasilkan nada ‘do’?”
Dengan setiap suara yang dihasilkan oleh flute itu, tubuh sang Putri terguncang tanpa sebab. Sebuah cahaya kuning muda muncul di pipinya dan air mata menetes di matanya. Tangannya yang ramping dan kakinya bergetar tanpa dia inginkan. Saat mengelus pahanya bersamaan, dia tidak tahu kenapa dia secara alami ingin melakukan itu.
“Do re mi...fa? Apa ini ‘fa’? ....Huh?”
Akhirnya, Quenser menyadari ada sesuatu yang salah.
Sang Putri begitu merona karena sebuah konflik antara kenikmatan dan rasa malu yang akhirnya dia sadari.
“A-apa kau baik-baik saja? Apa kau ingin ke kamar kecil?” tanya Quenser dengan wajah yang begitu khawatir.
Segera setelah itu, sang elit melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dia lakukan.
Dia memukul seorang manusia dengan kepalan tangannya yang kecil.

Bagian 3
Matahari mulai tenggelam di garis cakrawala.
Saat Quenser berdiri dan melihat tanah asing yang dicat dengan warna oranye, Heivia berbicara kepadanya.
“Coba pikir, apa yang sebenarnya kita lakukan di sini sekarang?”
“Bukannya ini yang coba kita tahu di pengarahan ini?”
“Aku sangat yakin kalau pasukan koalisi ini hanya memiliki tujuan mereka sendiri-sendiri untuk mencari kejayaan perang demi diri mereka sendiri. Apa kau pikir tidak akan ada yang berdebat tentang siapa yang memenangi perang ini nantinya?”
“Aku hanya berharap kalau perang ini tidak berakhir seperti kumpulan anjing liar yang berebutan daging.”
Saat Quenser berjalan, dia membuka sebuah peta. Itu adalah peta Negara Militer Oseania. Saat Heivia melihat peta tua itu, Heivia merasa agak risih melihatnya.
“Apa yang kau lakukan? Kau kehilangan perangkat genggammu?”
“Kalau baterainya habis atau masuk ke dalam pasir, kita akan tamat. Kalau kita tidak belajar kapan menggunakan peralatan digital dan kapan menggunakan peralatan manual, kita pasti akan cepat mati.” Saat dia berbicara, Quenser melipat peta itu lagi seperti seseorang yang sedang membaca koran di dalam kereta yang sedang berjalan. “Dari apa yang aku dengar dari orang-orang yang merawat Object sang Putri, rencananya adalah menyerang markas rahasia milik Negara Militer Oseania dan meledakkan Object musuh.” Heivia melirik peta itu dari sisi lain saat Quenser berbicara. “Menurut informasi dari atasan tinggi kita, kekuatan teknologi militer negara ini cukup lemah. Jadi sebenarnya kita tidak tahu apakah mereka memiliki Object atau tidak tidak. Grup simulasi sudah membuat desain perkiraan Object musuh berdasarkan apa yang ada di sini atau yang diperkirakan sedang dikembangkan, dan mereka menyimpulkan bahwa negara ini memiliki sebuah Object Generasi 0.5. Pada dasarnya, teknologinya cukup lemah bagi fungsi kerja sebuah Object, jadi itu hanya sebuah sampah saja. Zirahnya dibuat sangat kasar, jadi analis memperkirakan bahwa hulu ledak nuklir sudah cukup untuk menghancurkannya.”
“Jadi sebenarnya ini cukup mudah. Kita memiliki pasukan koalisi dengan 20 Object di seluruh lautan Oseania. Object bersinonim dengan perang, jadi kita bisa menghancurkan kekuatan militer Oseania dengan jumlah saja kan?”
“Sebenarnya, ini tidak semudah yang kau katakan, Heivia.”
Quenser menunjukkan peta yang dilipat itu pada Heivia.
Itu memiliki lingkaran hitam di beberapa titik.
“Negara Militer Oseania tahu bahwa Object berharga milik mereka akan hancur seketika jika kita menyerangnya, jadi mereka menyembunyikannya di dalam markas. Itulah kenapa, walau dengan Object yang kita miliki, kita tidak bisa menyerang mereka begitu saja.
“Ahn? Tapi aku pikir operasi militer ini dimulai saat senja. Maksudnya pasti mereka tahu di mana lokasi itu berada, bukan?”
“Kita memiliki beberapa perkiraan.” Quenser menunjukkan titik merah di peta. “Sepertinya Oseania sudah membangun beberapa markas palsu sepanjang tanah membentang untuk membingungkan para analis kita. Kita sudah menyerang beberapa dari mereka, tapi tidak ada satupun yang benar-benar markas Object. Mereka sudah melakukan penyelidikan sampai saat ini, tapi mereka tidak tahu apakah ini benar markas yang kita inginkan atau tidak.”
“Object itu sangat besar. Tidak bisakah mereka melihatnya dari satelit?”
“Satelit itu sudah mengkhianati kita. Para atasan sudah sangat senang ketika melihat sebuah benda setinggi 50 meter dan mengirimkan pasukan besar untuk menyerangnya tapi mereka hanya menemukan sebuah tangki gas raksasa yang disamarkan. Dari yang aku dengar, para teknisi satelit di markas menangis karena penyiksaan yang mereka dapat.”
“Itu adalah serangan tidak langsung,” jawab Heivia.
Negara militer ini sudah menyebarkan tangki gas di seluruh Oseania karena mereka tahu mereka sudah diawasi oleh satelit. Sebenarnya, mereka ingin mengatakan, “Lihat, betapa banyak Object yang kita miliki. Wah hah hah hah!”
Tentu saja, pasukan koalisi tidak cukup bodoh untuk jatuh ke dalam boneka tiruan lain, tapi mereka harus cukup hati-hati kalau mereka tiba-tiba saja menemukan Object sungguhan. Tentu saja ini menurunkan semangat para prajurit dan begitu banyak menghabiskan uang pajak. Karena itu, para atasan tinggi begitu ingin mengakhiri perang ini secepat mungkin.
“Jadi ini tidak lebih dari mencoba latihan menembak melawan target palsu?”
“Bagian yang terburuk adalah membuat kita terbunuh sia-sia di sana.”
Merasa tidak membutuhkannya lagi, Quenser melipat peta itu lebih kecil dan memasukkannya ke dalam sakunya.
Heivia melihat ke sekeliling dan berkata, “Ngomong-ngomong, kita sudah bekerja sama dengan pasukan koalisi bukan? Jadi pasti ada Object lain selain yang dimiliki oleh sang Putri. Aku harap kita tidak bekerja sama dengan faksi yang kita kalahkan di Alaska atau Gibraltar. Aku tidak ingin ditembak secara rahasia oleh sekutu yang merasa dendam dengan kita karena masalah pribadi.”
“Apa kau yakin ingin bertanya tentang itu? Kau mungkin tidak suka dengan jawabannya. Aku sudah bertanya pertanyaan yang sama ke tim perawatan. Hanya rumor, tapi...”
Sebelum Quenser menjawabnya, sebuah gedung raksasa melintas di depan mereka.
Sebenarnya, itu adalah Object.
Raksasa setinggi 50 meter itu melintas di depan mereka dan meniup pasir ke udara seperti badai pasir, tapi Quenser dan Heivia memiliki hal lain yang lebih penting.
Bendera yang dicetak di zirah Object itu sudah cukup membuat jantung Heivia berhenti berdetak.
“Gaahh!?? Kau pasti bercanda! Itu adalah Aliansi Informasi!!”
“Yeah, aku juga sudah dengar tentang itu. Sepertinya kita bekerja sama dengan orang-orang gila.”
Perangkat pengumpul informasi milik Object itu pasti sudah menangkap suara mereka karena raksasa setinggi 50 meter itu berjalan pelan seperti ingin merespon dan suara wanita dikirim keluar lewat speaker itu.
“Oh, ya ampun. Ternyata kalian cuman anjing-anjing tentara Kerajaan Legitimasi. Sepertinya kita akan bekerja bersama-sama. Oh ho ho.”
Mesin pendorong udara Object itu menahan untuk mengambang di atas tanah dan meniupkan udara tambahan, meniup lebih banyak pasir dan membuat Heivia dan Quenser batuk-batuk.
“Sial. Inilah kenapa kita tidak boleh membiarkan orang yang belum dewasa untuk tidak menaiki Object! Apa kita harus pergi ke dalam misi bersama dengan orang-orang seperti ini!?”
“Masih lebih baik daripada harus bekerja sama dengan Korporasi Kapitalis atau Organisasi Keagamaan, jadi kau harus lebih tenang dan berhenti mengeluh.”
Seorang jurnalis satire pernah menulis tentang dunia ketika seluruh dunia ini terbagi ke dalam negara-negara kecil di dalam peta, sekarang peta itu sudah mengecil dan membagi negara-negara ke dalam “warna-warna” yang saling berbeda untuk menunjukkan kepada siapa negara-negara itu berada dalam warna.
Salah satunya adalah kelompok yang mempercayai bahwa keakuratan sebuah informasilah yang menentukan sesuatu jahat atau baik dan mencoba membuat sebuah jaringan yang menjangkau seluruh dunia. Salah satu yang lain adalah kumpulan korporasi kapitalis yang percaya bahwa tumpukan uang di dalam banklah yang mampu memberikanmu sebuah posisi di dunia dan hak asasi yang kamu inginkan. Salah satu yang lain adalah sebuah kerajaan yang terdiri dari banyak budaya yang ingin membangkitkan lagi sistem lama di mana legitimasi dari darah ningrat dan kejayaan seseorang menentukan status sosial mereka.
Batasan sumber makanan, terbatasnya energi, meningkatnya jumlah populasi manusia, dan banyak hal yang menumpuk menimbulkan sebuah “alasan resmi” yang membuat negara-negara menjadi seperti itu, tapi sepertinya alasan sebenarnya adalah kegagalan dan tumpukan masalah yang menimpa Persatuan Bangsa-bangsa di pertengahan abad 21. Potongan yang terpisah itulah yang membuat sebuah arah yang mereformasi berbagai macam persekutuan yang terbentuk saat ini.
Tidak lagi ada keseimbangan kekuatan negara didominasi oleh satu warna. Malahan, negara-negara bebas memilih ke mana mereka berpihak, membuat kekuatan dunia ini melampaui batas-batas wilayah geografis. Ini membuat peta terlihat seperti retakan kaca. Ini juga yang membuat apakah negara itu yang sekarang adalah sekutu, suatu saat nanti akan berbalik menjadi musuh, pertempuran kecil sangat sering berkobar di seluruh dunia. Namun, semua ini terlihat normal sejak Quenser lahir di dunia ini, jadi dia hanya terlihat bingung ketika orang-orang tua menggeleng-gelengkan kepalanya soal kondisi dunia ini.
“Namun, dua Object akan digunakan di operasi kali ini, jadi aku ragu kalau tentara rendah seperti kalian akan berguna di sini. Oh ho ho,” kata pilot Object itu.
“Kalau begitu, apa kita bisa pergi ke kamar kita dan tidur sekarang?”

Bagian 4
Setelah pengarahan yang diisi dengan begitu keras kepalanya faksi-faksi yang ada di sini untuk mengincar kejayaan perang yang didapat oleh Object mereka, Quenser dan tentara yang sama seperti dirinya keluar dari gedung itu, merasa sangat bosan.
Matahari sudah tenggelam dan kegelapan mengisi angkasa.
Sudah saatnya operasi ini dimulai.
“Oh, tuhan. Kenapa lokasi yang kita tuju berjarak 2 kilometer dari sini? Dua kilometer, coba bayangkan! Apa kita tidak bisa mendapatkan truk!?” teriak Quenser tanpa berpikir.
Heivia mengangguk dan kemudian berkata, “Mereka sebenarnya sudah, tapi semua truk itu digunakan untuk mengangkut zirah robot milik Aliansi Informasi. Lihat ban truk yang mau meletus itu.”
“Mereka memiliki mesin dan per fiber untuk meningkatkan kekuatan mereka, jadi kenapa mereka tidak berjalan saja? Dan apa yang ingin mereka lakukan dengan zirah robot itu untuk melawan Object?”
“Itu adalah unit bantuan yang dilengkapi dengan kamera berkecepatan tinggi. Mereka menganalisa setiap menit gerakan meriam Object dan kameranya lalu mengirimkan data yang mereka dapat itu ke Object milik mereka untuk memberikan data bantuan untuk menghindar dan bertahan. Paling tidak, mereka lebih berharga dari pada kita. Walau mereka sendiri lebih sering diserang lebih dahulu karena keberadaan mereka yang cukup mengganggu.
Namun, tidak hanya pasukan infanteri yang terganggu dengan keberadaan itu.
Object raksasa yang mampu bergerak dengan mesin kereta jet harus bergerak perlahan dengan kecepatan yang sama dengan pasukan infanteri. Mereka membuat gerakan perlahan seperti langkah kaki yang dibuat seseorang ketika mengetuk lantai dengan kaki mereka ketika menunggu seseorang.
Kedua Object itu menutup sisi samping barisan pasukan infanteri di sisi yang berlainan.
Yang pertama adalah Object sang Putri dari pasukan Kerajaan Legitimasi.
Dan yang lain adalah sang Elit dari Aliansi Informasi yang Quenser dan Heivia temui tadi.
Dua Object itu menggunakan tipe pendorong yang berbeda karena suara seperti petir hanya terdengar dari milik sang Putri.
Untuk membuat tensi agak menurun dan karena mereka sama-sama memiliki hubungan untuk bekerja bersama-sama saat ini (walau ia pernah hampir mati karena mereka), Quenser memutuskan untuk bertanya kepada Elit dari Aliansi Informasi.
Sepertinya ia hanya penasaran karena jika dalam situasi biasa, ia tidak akan bisa mendekati (karena takut tubuhnya akan terpanggang jika mendekatinya) sebuah Object dari Aliansi Informasi.
“Hei, apa benar kalau Aliansi Informasi sedang mengembangkan Object dengan bentuk manusia?”
“Oh ho ho. Itu adalah sebuah kebohongan yang sangat buruk. Mungkin secara teknis bisa, tapi pusat gravitasinya terlalu tinggi, jadi pasti itu akan sangat mudah untuk jatuh.”
“Tidak menyenangkan. Kalau begitu apa Objectmu yang menggunakan saluran pembuangan tenaga juga bohong?”
“Kalau yang itu benar. Sama seperti tangki pembakaran, sebuah reaktor Object akan lebih efektif jika menyala 24/7 dari pada harus dinyalakan atau dimatikan. Hasilnya, ada tenaga sisa yang bisa disisakan ketika sedang bersiap di dalam markas. Oh ho ho.”
“Kamu bergerak di atas tanah untuk waktu yang lama dengan mesin pendorong udara yang menggunakan secara murni tekanan dara daripada menggunakan tenaga listrik statis. Kalau kamu sedang serius, tenaga yang keluar itu cukup kuat untuk menghempaskan prajurit yang ada di sini.”
“Kalau sedang melaju bersama dengan para prajurit, mesin pendorong udara yang aku gunakan cukup kecil untuk menahan berat Object saja. Oh ho ho. Itulah kenapa udara di sekeliling sini tidak terganggu dan para prajurit bisa berjalan beriringan.”
“Heeh. Jadi itu yang dilakukan oleh Aliansi Informasi akhir-akhir ini.”
“Aku suka dengan tatapan kagummu. Oh, dan untuk membiarkan tekanan udara ini bisa bergerak secara maksimal, tubuh utamanya menggunakan karbon dan material aramid untuk bagian zirahnya. Oh ho ho.”
“Ngomong-ngomong, berjalan seperti ini sangat melelahkan, jadi apa aku bisa ikut menumpang?”
“Oh ho ho. Kalau cuman prajurit biasa saja tidak jadi masalah, naik saja sesukamu.”
Quenser meraih sesuatu seperti material urethane dari mesin pendorong udara dan Heivia tiba-tiba saja berteriak padanya.
“(Hei! Itu bukan ide yang bagus Quenser!!)”
“(Apa? Apa karena unit intelijen Aliansi Informasi melihatku karena takut informasi Object mereka akan bocor?)”
“(Itu salah satunya, sebenarnya sekarang mereka melihat wajahmu dengan teropong mereka adalah salah satu masalah, tapi masalah sebenarnya adalah putri sepertinya agak badmood untuk alasan tertentu!!)”
“(...Hah?)”
Hampir sampai menaiki material urethane yang digunakan oleh mesin pendorong udara ini, Quenser melihat Object sang Putri itu dengan bingung.
Dia melihat Object sang Putri bergerak seperti menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tidak apa-apa,” kata putri.
“Gwaah!? Object putri yang terlalu banyak bergerak membuat tekanan udara dan semprotan penolak itu menerbangkan pasir ke mana-mana!!” teriak Heivia dari tanah dan semua pasukan yang berada dalam formasi mereka mulai batuk-batuk. Quenser menghindari itu dengan menaiki Object itu beberapa meter ke atas. “Quenser! Kalau kamu mau mencegah lebih banyak kerusakan, naik saja ke Object sang Putri!!”
“Tapi Object sang Putri menggunakan listrik statis dan laser untuk penggeraknya? Itu menyimpangkan laser secara acak dengan lempeng logam untuk memanaskan udara dan meledakkannya. Aku pikir cukup berbahaya untuk berada dekat dengan itu.”
“Uhuk uhuk!! Y-ya, pasir ini juga cukup berbahaya juga, tahu!”
Itu adalah saat ketika Elit Aliansi Informasi itu berbicara.
“Mencoba untuk ramah dan mengobrol secara santai merupakan salah satu cara untuk meraih kepercayaan di antara prajurit seperti kita. Oh ho ho. Aku rasa, Elit dari Kerajaan Legitimasi tidak tahu cara tata krama untuk berkawan dengan orang lain.”
“Aku bilang tidak ada apa-apa... apa kau mengejekku?” jawab sang Putri.
“Tolong Quenser!! Cepat turun!! Jangan memancing amarah antara Putri dengan Elit itu!! Kalau begini terus, kita semua akan mati terbunuh di antara pertempuran dua Object ini!!”
“?”
Quenser bisa mendengar suara teriakan di bawahnya, tapi dia tidak punya matan untuk turun kembali dan berjalan dengan peralatan berat di punggungnya. Dia berbaring di urethane itu dan membuat dirinya nyaman sampai mereka sampai.

Bagian 5
Cukup mudah untuk melihat faksi mana saja yang menguasai daerah-daerah di Oseania.
Wilayah yang dikontrol oleh pemerintahan junta militer ditutupi oleh hutan sementara area yang dikuasai oleh pasukan koalisi adalah area padang gurun.
Quenser dan yang lain berada di dalam hutan hijau ini.
Pada awalnya mereka berjalan dari tanah tandus, kering, dan berkerak-kerak, tapi setelah mereka melintasi sebuah garis wilayah tertentu, tanah yang mereka lalui menjadi ditutupi oleh rumput. Setelah itu, mereka dengan cepat masuk ke dalam hutan. Kondisi tanah di sini sangat tergantung dari apakah tanah buatan yang memiliki daya serap air yang tinggi ini sudah tersebar di seluruh wilayah di sini atau tidak. Tidak heran kalau suku pedalaman yang telah mencintai tanah leluhur mereka selama kurang lebih 1000 tahun ini melihat pemandangan aneh seperti tanaman asing yang tidak pernah mereka lihat adalah sebuah penghinaan bagi tanah yang sangat sakral bagi mereka.
Quenser turun dari bagian urethane Object Elit Aliansi Informasi dan melihat ke sekelilingnya.
“Sekarang, wilayah pertempuran kita sudah terlihat. Walau aku rasa yang kita lakukan hanya duduk santai di sini melihat sang bintang beraksi di atas panggung.”
“...Aku berharap kau pergi saja dari tempat ini sekarang,” keluh Heivia.
Tanpa diketahui oleh Quenser, Heivia merasakan saat-saat yang begitu menyakitkan ketika terjebatdi antara dua Object sementara Quenser hanya bersantai di atas salah satu Object itu.
Heivia melihat ke sekelilingnya dan berkata, “Kau tahu, sialnya ini adalah sebuah hutan. Mereka mengembangkan teknologi biotik demi kepentingan penghijauan sosial, benar? Aku tidak percaya kalau ini dulunya adalah sebuah padang gurun.”
“Jangan bodoh. Meski mereka sudah menaikkan rata-rata kecepatan pertumbuhannya, mereka tidak mungkin mengembangkan pohon dengan cabang sebesar itu. Kalau pohonnya pendek aku tidak masalah, tapi ini terlihat seperti sudah berumur 100 tahun dan mungkin ini diambil dari negara lain.”
Sang putri kemudian berbicara lewat speaker yang dipasang di Object-nya.
“Kita akan bergerak maju. Berhati-hatilah dan pastikan kalian tidak terkena peluru nyasar atau radiasi panas.”
“Terima kasih atas perhatiannya, tapi bukannya itu sama saja mengatakan kalau kami tidak berguna?”
“Oh ho ho. Kau bisa menunggu di sini sambil bermain permainan ketangkasan otak selama 10 menit atau apapun yang kau inginkan.”
Dua Object raksasa itu menembus ke dalam hutan yang lebat ini dengan kecepatan tinggi. Quenser dan yang lain ditinggal dengan meninggalkan jejak suara petir yang datang dari arah Object sang Putri.
Mesin raksasa itu memiliki tubuh setinggi 50 meter dan bergerak dengan kecepatan 200-300 km/j. Pohon yang dibuat dengan rekayasa genetik itu patah seperti sumpit kayu saat massa raksasa itu melewatinya. Dan tak lama setelah itu, kedua Object itu meninggalkan hutan yang rata dengan tanah.
Target mereka adalah gedung-gedung beton yang berada di tengah-tengah hutan.
Sebuah alarm yang biasa berada di sebuah fasilitas militer menyalak saat senjata yang menjadi puncak rantai teknologi itu mendekat.
Quenser menarik sepasang teropong dan Heivia berbicara padanya, terlihat terganggu.
“Aku bertaruh kalau ini pasti bukan target kita. Kalau Object Oseania benar ada di sini, pasti benda itu meninggalkan jejak yang sama seperti hutan yang rata dengan tanah. Kau tahu kan waktu Object sang Putri melintasi hutan itu juga sama.”
“Tidak, aku sedang mengamati Object Informasi Aliansi,” jawab Quenser saat dia mengatur jarak penglihatan teropong itu dengan tangannya. “Kalau monster itu menyerang kita saat menjadi musuh, aku tidak akan memiliki kesempatan untuk menganalisisnya, tapi ini berbeda. Aku memiliki kesempatan untuk menyelidikinya. Aku bisa menggunakan waktuku untuk mencuri pandang informasi dari Object itu.”
“Apa, kau sekarang sedang menggilai gadis asing? Ayolah, kalau kau tetap mengejarnya, putri kita yang lucu nan anut akan berusaha membunuhmu.”
“Apa yang kau bicarakan itu sebenarnya, Heivia.”
Saat mereka berbicara, pertempuran antara Object koalisi dengan tentara normal di markas Oseania dimulai.
Dari pengamatan, sepertinya Object musuh generasi 0,5 tidak ada di situ.
Hasil yang sudah sangat jelas terlihat seperti pemandangan di atas pematang ladang.
Ledakan sorotan sinar menutupi pertempuran itu, memecah belah pemandangan malam hari.
Mereka semua sedang ditembak oleh meriam cahaya panas.
Itu adalah sebuah meriam yang yang menembak secara terus menerus dan memiliki interval yang sangat pendek.
Object Aliansi Informasi memiliki sebuah senjata utama sepanjang 35 meter yang terdiri dari lima meriam cahaya panas yang disambung menjadi satu seperti Gatling Gun. Beberapa orang mungkin berpikir untuk apa memasang sebuah perangkat seperti Gatling Gun yang menembakkan cahaya radiasi panas dari pada proyektil logam, karena kekuatan panasnya juga akan menghancurkan larasnya dan perangkatnya yang lain kalau ditembak dengan interval yang terlalu pendek. Juga, mereka menggunakan sebuah amplifier untuk secara cepat memperkuat dan melepaskan tenaga listrik, jadi penting untuk menyalakan dan mematikannya ketika berada dalam interval yang sangat pendek untuk membagi daya panas yang ada di setiap meriam.
Seperti yang sudah seharusnya diperkirakan, Object Aliansi Informasi itu menggunakan kelima meriamnya dengan sangat kejam.
Setiap energi cahaya kebiruan itu memotong langit malam, dinding beton tebal itu terpotong menjadi bagian-bagian kecil. Bongkahannnya meledak di udara seperti erupsi gunung berapi dan membuatnya terlihat meleleh. Para prajurit Oseania mencoba melarikan diri dengan tembakan tank dan misil yang ditembakkan dari kendaraan, tapi Object tidak akan merasakannya seperti digigit nyamuk. Bangunan-bangunan yang runtuh itu menimpa kendara-kendaraan yang membawa misil dan tank-tank yang ada di bawahnya.
Ngomong-ngomong, Object sang Putri tidak akan tinggal diam melihat semua ini.
Ia menggunakan manuver gerak cepat yang dimilikinya untuk memotong jalan keluar yang dimiliki oleh unit tank yang melarikan diri dan menembakkan ketujuh meriam utamanya. Meriam yang dimiliki oleh sang Putri mampu berganti-ganti seperti mikroskop yang mengganti lensanya. Dengan memutar rotor barelnya, dia menggunakan cahaya laser, meriam plasma berkeseimbangan rendah, coilgun, dan juga beberapa pilihan lain. Itulah kenapa Objectnya dinamakan Object Multi guna.
Ledakan, sorotan cahaya panas, dan suara erangan memenuhi seluruh area pertempuran ini, tapi tidak ada suara teriakan yang bisa terdengar.
Teriakan kemarahan dan teror mungkin akan sangat terasa di sana, tapi suara kehancuran yang disebabkan oleh Object menenggelamkan mereka semua.
Pemandangan itu memenuhi seluruh area pertempuran.
Itu adalah sebuah neraka yang lahir di bumi bagi siapapun yang ingin melawan monster bernama Object.
“Wow. Aku rasa inilah yang didapat oleh Oseania jika mereka tidak mengindahkan perjanjian perang dan hanya melakukan apa yang mereka inginkan. Aku merasa bersalah kepada mereka karena aku tahu bagaimana rasanya tidak bisa mengibarkan bendera putih.”
“Aku bisa meliat kenapa sang Putri meminta kita untuk tidak terjebak di sana. Hei, Quenser, apa kau bisa menjelaskan padaku bagaimana cara kerja Gatling Gun itu? Pasti keren sekali kalau Putri memiliki salah satu senjata itu di mesinnya.”
“Eh? Aku lebih penasaran dengan apa yang terjadi di bawahanya,” kata Quenser sambil memindahkan pandangannya ke bawah dan menunjuk bagian bawah Object Aliansi Informasi. “Aku ingin tahu kenapa ia menggunakan pendorong udara dan telapak kaki-kaki di saat yang bersamaan, tapi aku rasa aku tahu kenapa. Mengambang di udara dengan pendorong udara adalah dasar dari mesin penggerak dengan tekanan udara, tapi itu menggunakan telapak kaki-kaki untuk menghentak tanah dan memberikan sebuah dorongan singkat untuk membuat sebuah dorongan untuk berpindah dengan cepat. Sebenarnya juga, itu terlihat lebih seperti gergaji dari pada telapak kaki-kaki.”
“Jadi apa yang akan terjadi kalau kita menggunakan itu pada Object Putri?”
“Putri bisa bergerak dengan sangat cepat sekali. Seperti ini: whoosh.”
Saat Quenser dan Heivia mengakhiri perbincangan bodoh mereka, pertempuran itu telah selesai.
Musuh sudah dihabisi dan tidak ada satupun tentara sekutu yang mati atau terluka.
Itulah kenapa para petinggi pasti bertepuk tangan mereka karena itulah kegunaan Object yang sebenarnya. Tidak ada hasil yang lebih baik selain dari mereka yang bertempur bersama-sama dengan Object.
Suara Elit terdengar di radio.
“Hei, kita sudah selesai.”
“Oh ho ho. Aku sudah melakukan scanning dengan sensorku, dan menemukan bahwa masih ada ranjau dan tentara musuh menunggu untuk menyergap. ...Itulah kenapa aku bilang kalau kamu itu sama sekali tidak kompeten, Elit dari Kerajaan Legitimasi.”
Melihat dua Object itu saling perang dingin, tentara yang lain hanya bisa berbisik seperti ini “Sepertinya masih berbahaya” dan “Kita tunggu saja sebentar lagi”.
Namun, tindakan militer bukanlah sesuatu yang bisa ditolak oleh seorang tentara.
Quenser dan yang lain berjalan menuju area pertempuran sepanjang jalur yang diratakan oleh Object. Mereka merasa aman karena mereka pikir semua jebakan sudah hilang ketika Object itu melintasinya. Tentu saja, ini tidak menjamin keamananmereka, tapi paling tidak mereka bisa menarik napas lega karena tidak mati karena ranjau setelah perang selesai.
Saat mereka sampai, sang Putri berbicara lewat speakernya.
“Sepertinya ini adalah markas boneka lagi. Markas ini tidak memiliki fasilitas yang dibutuhkan untuk merawat sebuah Object dan Object itu juga tidak ada di sini.”
“Kita akan segera melakukan pencarian, tapi aku pikir tempat ini tidak memiliki tempat yang cukup luas untuk menyembunyikan sesuatu yang cukup besar,” balas Quenser sambil melihat ke sekelilingnya.
Area ini tidak sekedar hangus terbakar.
Bangunan-bangunan hancur berkeping-keping, aspalnya meriak pecah, dan tanahnya terbelah menjadi dua dan cukup besar belahannya. Pohon, logam, dan semua yang ada di sini berubah warna menjadi hitam dan kehilangan bentuk aslinya. Tingkat kerusakan yang terlihat di sini tidak mungkin bisa dilakukan hanya dengan menyalakan sumbu pada campuran petrochemical saja.
Object lebih sederhana dari pada senjata nuklir, lebih kuat dari pada nuklir, lebih aman dari pada nuklir, dan memiliki akurasi serangan yang lebih tinggi dari pada senjata nuklir.
Tentara musuh sudah pasti hangur terbakar hingga tidak menyisakan apa pun dan sulit untuk menemukan di mana saja tubuh mereka tercerai berai.
“Uehh...” teriak Heivia. “Aku senang kita bisa mengobrol tentang ransum militer kita sebelum datang ke sini. Aku dengar ransum milik Aliansi Informasi memiliki bumbu perasa di ransum mereka. Kau bisa memilih rasa kare atau keju atau rasa apapun yang kau inginkan.”
“Aku pikir bumbu perasa rasa panggang tidak akan menjadi bumbu yang populer untuk beberapa saat ke depan.”Quenser melihat kepada dua Object itu. “Ngomong-ngomong, apa yang harus kita lakukan setelah kalian menyelesaikan pertempuran dengan sangat mudah? Apakah kita bisa meninggalkan tempat ini setelah memastikan bahwa tidak ada tempat perawatan Object rahasia di bagian ruangan bawah tanah?”
“Oh ho ho. Aku tidak yakin kalau masih ada senjata yang cukup di sekitar sini untuk menghancurkan sebuah Object, tapi bisakah kau mengeceknya?” jawab sang Elit dari Aliansi Informasi.
“?”
“Aku ingin beristirahat sebentar setelah pertempuran habis-habisan ini. Oh ho ho.”
“Aku mengerti. Apakah gaya gravitasi tambahan dari inersia selama kau bertempur membuatmu sangat lelah?”
Desain dari pakaian khusus bagi sang Elit berbeda untuk tiap Elit, tapi sebagian besar, mereka semua dibuat agar tahan terhadap tekanan tinggi seperti pakaian tempur pilot pesawat tempur. Object tidak bergerak dengan kecepatan supersonik seperti pesawat tempur, tapi Object tentu memiliki massa yang luar biasa besar. Untuk menjelaskan masalah ini, coba bayangkan sebuah bola logam digantung pada sebuah rantai .Tarikannya akan luar biasa besar ketika bola logam itu bergerak dan menghasilkan gaya sentrifugal yang membuat massa bola logam itu semakin berat.
Quenser menyadari bahwa Object Aliansi Informasi dan Object sang Putri tidak bisa bergerak untuk beberapa saat.
“Oh ho ho. Kalau aku harus bertarung, aku akan melakukannya, tapi menjaga kewaspadaan tingkat tinggi ketika tidak ada musuh di sekitar kita adalah tindakan konyol. Dan pakaian Elit sangat ketat di bagian paha.”
“Oh, itu benar. Saat kau bergerak dengan kecepatan tinggi, itu memotong aliran darah di kakimu untuk memastikan bahwa darah mengalir ke otakmu dengan sangat cukup. Apa itu tidak membuatmu mengantuk?”
“Setelah pertempuran yang membutuhkan konsentrasi yang besar, tubuhku menyisakan panas, jadi cara tercepatnya adalah mengeluarkan kakiku dari pakaian ini dan menggunakan semprotan pendingin. Oh ho ho.”
“Aku mengerti....” Kata Quenser, dalam kekaguman yang abu-abu, tapi kemudian dia membeku di tempat.


(Tunggu... Jika Putri menggunakan pendingin untuk kakinya juga, apakah itu berarti sekarang dia sedang melepaskan pakaiannya di balik dinding logam yang tebal itu sekarang?)
Masih membeku di tempatnya, Quenser berpikir sangat dalam seperti seorang ahli filsafat.
Saat dia berpikir, Baby Magnum dari Kerajaan Legitimasi mengarahkan meriamnya ke arahnya.
“Kamu tidak perlu memikirkan hal-hal seperti itu sekarang,” kata sang Putri.
“Gyaaah!? Jangan main-main dengan senjata seperti ini kalau hanya bercanda!! Dan yang memprovokasiku itu si Elit dari Aliansi Informasi, bukan aku!!”
Dibawa-bawa di dalam sebuah perbincangan, sang Elit membalasnya lewat speakernya.
“Heh. Oh ho ho. Sepertinya aku harus membuka seragam yang sangat ketat ini dan mendinginkan suhu tubuh ukuran G ini!!”
“Be-benarkan!? Aku tidak sadar kalau satu kalimat saja bisa menarik perhatian yang begitu besar! Aku tahu kalau seragam putri kita memang bagus, tapi kenapa Elit Aliansi Informasi harus bertindak sejauh itu!?”
“Itu permintaan desainer. Oh ho ho.”
“...!? Sekarang, aku tidak memiliki niat untuk membelot, tapi kalau pekerjaan mau bagaimana lagi...!”
“Jangan tertipu, Quenser. Jangan biarkan kilau dari Elit Aliansi Informasi itu menutupi matamu dan yang dikatakan oleh dia itu pasti informasi palsu!! Kalau memang benar pakaiannya sangat ketat, tidak mungkin dia membuka kakinya untuk mengurangi tekanan udara!!”
“Oh, kau menyadarinya. Buruk sekali. Oh ho ho. Memang ini menutupi kakiku, tapi ada sela di beberapa bagian yang bisa aku semprot dengan cairan pendingin. ...Dan ada beberapa bagian yang lebih sensitif dari pada sela yang ada di pakaian renang.”
“Hei, Heivia, apakah itu benar!?”
“Quenser!! Kalau kau tetap tertipu tentang apa yang dia katakan, kau pasti akan membuat sang Putri kehilangan kesabarannya!!”
Setelah Heivia memukulnya di wajah, Quenser akhirnya mengembalikan kesadarannya.
(Bukankah kita sedang membicarakan cara untuk mengontrol markas musuh? Kenapa kepalaku dipenuhi dengan kemurnian seorang gadis dan keseksian seragam para Elit?)
“Kita harus melanjutkan misi kita,” tanya Quenser, mengumpulkan motivasinya.
“Kalau begitu, masih ada tugas yang tersisa untukmu. Oh ho ho,” perintah Elit Aliansi Informasi. “Oh ho ho. Kita ada permintaan dari suku pribumi. Karena reboisasi ini secara genetik tidak alami, mereka ingin kita membakarnya sampai rata dengan tanah.”
“Oh, benar. Kita harus mengganti warna wilayah ini menjadi warna kita,” jawab Quenser.
Sang Putri kemudian berbicara dengan nada ingin meminta maaf.
“Kalau kita mau, kita bisa membakarnya dengan Object kita, tapi...”
Menggunakan Meriam Plasma Bertekanan Rendah yang ditenagai oleh Object, semua yang ada di atas tanah dan yang ada di dalam tanah akan terbakar habis. Namun, suku pribumi Oseania melihat tanah mereka ini sebagai tanah suci, jadi mereka tidak ingin kita merusak yang tidak penting.
“Sedikit kasar dan sedikit menahan diri, hm? Terdengar seperti cerita superhero ala Amerika.”
“Jangan katakan itu, Agensi Perlindungan Budaya memprotes keras kata itu. Mereka mengatakan kalau itu seharusnya disebut Komik Korporasi Kapitaslis karena negara bernama Amerika sudah tak lagi ada.”
“Itu karena mereka terus saja bekerja demi barang-barang tak berguna, makanya tidak ada yang suka sama mereka.”
Saat Quenser dan Heivia saling berargumen, nyala api membakar beberapa tempat di dalam hutan malam ini. Unit khusus Aliansi Informasi menggunakan Flamethrower untuk menyalakan api.
“Hei, kita tidak memiliki pakaian anti api seperti mereka. Kita tidak akan terjebak di dalam kobaran api, kan?”
“Masih lebih baik daripada menggunakan defoilant juga.”
Tiba-tiba suara statik terdengar di radio Quenser yang diikuti oleh perintah dari pasukan sekutu.
Setelah mendengarkan sebentar, Quenser mematikannya dan menghadap Heivia.
“Kita mendapat tugas kecil untuk diurus. Kita harus memeriksa desa-desa di tempat ini sebelum kita membakarnya habis.”
“Apa mereka tidak bisa menggunakan UAV?”
“Sebenarnya, apa tidak apa-apa membakar rumah para penduduk.”
“Hubungi Froleytia di radiomu dan tanyakan dia tentang hal ini. Sepertinya, pasukan koalisi akan mengurus mereka untuk pindah dari tempat ini sesegara mungkin. Dan karena suku-suku ini setengah hati untuk berada di tempat ini sejak pertama, mereka pikir lebih baik seperti ini untuk mendapatkan gaya hidup mereka yang lama kembali.”
Mereka mengeluh, tapi mereka masih merasa lega karena mereka masih mampu untuk melakuksan sesuatu sebelum pergi. Dan kemudian, pasukan Kerajaan Legitimasi dan Aliansi Informasi mulai mencari sambil berhati-hati dan menjaga mata mereka untuk memastikan tidak ada ranjau ataupun jebakan.
“Menurut peta, wilayah kita sekitar 3 kilometer persegi. Jika jika menemukan kabin tua atau sesuatu seperti tempat tinggal di tempat seperti ini, kita harus mengetuk pintunya dan memeriksanya.”
“Perang sepertinya sangat membosankan.”
“Yah, memang lebih baik seperti ini dari pada harus begitu heboh kurasa.”
Quenser dan Heivia berjalan sambil mengobrol tentang betapa bodohnya mereka jika mereka tak sengaja menginjak sebuah ranjau, tapi kemudian mereka berhenti.
Mereka keluar dari wilayah hutan.
Mereka berdiri di sebuah bukit setinggi 7-8 meter. Sebuah hujan badai atau sesuatu yang cukup kuat sepertinya membuat bagian depan dari bukit ini longsor, jadi ini seperti sebuah tebing. Di bawah tebing itu terdapat sebuah desa kecil yang hanya terdiri dari 20 rumah.
Jika hanya itu, mereka bisa segera masuk dan segera memberikan tanda peringatan evakuasi.
Masalahnya adalah sebuah truk militer yang menghalangi jalan masuk ke dalam desa itu.
Pasukan Oseania telah masuk ke dalam desa.
Quenser dan Heivia mengasumsikan bahwa perang telah selesai, tapi mereka bergerak cepat dengan menunduk di tanah. Quenser melihat melalui teropongnya dan Heivia melihat melalui teropong senapannya.
“(...Sial. Kenapa harus kita yang selalu mendapat kejadian yang paling heboh dengan bertemu mereka!!)” keluh Quenser dengan bisik-bisik. “(Putri dan Elit yang lain itu hanya bertempur di sana. Apa mereka tidak mendengarnya?”
“(Bagaimana aku bisa tahu!? Mungkin mereka hanya pasukan pengintai. Mereka mungkin  sudah memberitahu atasan mereka posisi Object kita dan mereka sendiri di sini untuk menutup jalan keluar kita,)” jawab Heivia tenang. “(Jadi apa yang akan kita lakukan? Akan menyulitkan kita kalau kita menangani ini sendiri, jadi bagaimana kalau kita memanggil Object?)”
“(Tidak, tunggu. Mereka pasti akan menyadari Object sebesar itu mendekati mereka. Mereka pasti akan membawa para penduduk itu untuk dijadikan sandera. Dan pikirkan spesifikasi Object sendiri. Putri mungkin memiliki senjata laser anti-personil, tapi Aliansi Informasi hanya memiliki meriam Gatling Gun cahaya itu saja. Ia pasti menghancurkan seluruh desa jika dipanggil ke sini.)”
“Dari apa yang mereka lihat di atas bukit ini, pasukan Oseania terlihat tidak ingin menembak para penduduk atau membakar desa. Saat mereka melihat lebih dekat, mereka bisa melihat seorang tua yang kelihatan seperti kepala desa yang menyerahkan uang ke tentara berseragam itu.
“(Apa itu semacam ‘uang sewa’? Sepertinya mereka sudah terbiasa melakukan itu.)”
Menurut peta mereka, area ini beradai wilayah perbatasan Oseania dan pasukan Koalisi. Desa ini pasti dibuat untuk memberikan bantuan bongkar muat kargo truk dari dua wilayah ini untuk memeriksa isinya.
Heivia memeriksa keseluruhan tentara yang ada di tempat itu dengan teropong senapannya.
“(Mereka semua ada 20. Mereka semua dilengkapi dengan sebuah senapan model lama dengan pelontar granat. Karena mereka hanya 1 truk, sepertinya tidak akan ada lagi tentara yang akan kita lihat. Apa yang akan kita lakukan?)”
“(Apa maksudmu? Kau lihat sendiri tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang.)”
“(Yah, aku rasa juga sama. Melawan musuh dengan jumlah kita yang berbanding 10:1 terdengar bodoh.)”
Quenser dan Heivia saling menarik napas lega dan mereka kemudian merasa sangat lelah.
Jika tentara musuh telah berkumpul di sini dan mengumpulkan semua penduduk di tengah desa dan mereka akan menembak para lelaki dan memerkosa perempuan, mereka tidak memiliki pilihan selain melawan, tapi sepertinya apa yang mereka pikirkan itu tidak akan benar-benar terjadi. Setelah pembayaran itu selesai, tentara Oseania itu akan meninggalkan desa. Quenser dan Heivia tinggal menunggu sampai mereka pergi untuk memberikan tanda peringatan evakuasi.
Jika mereka memulai baku tembak, sepertinya mereka hanya akan menambah jumlah korban.
Juga, Quenser adalah teknisi perang, jadi dia hanya memiliki peledak. Senjata praktis yang mereka pakai hanyalah senapan dan pistol milik Heivia. Saat mereka tidak memiliki alasan yang pasti untuk bertempur, tidak ada satupun dari kedua belah pihak yang ingin bertarung di kondisi yang sangat tidak menguntungkan ini.
Namun...
“(Hei, tunggu. Ada yang salah,)” kata Quenser saat dia melihat melalui teropongnya.
Tentara Oseania yang pada awalnya hanya berdiri santai tiba-tiba saja berpencar. Mereka memegang senapan mereka yang menggantung di bahu mereka dan mencari musuh dengan wajah yang gugup. Sementara itu, wanita-wanita dan anak-anak berlarian masuk ke dalam rumah-rumah mereka.
“(Apa yang terjadi?)”
“(Lihat, Quenser. Di sana!)”
Heivia menunjukan sebuah area terbuka di desa itu. Seseorang jatuh di sana. Itu adalah seseorang yang mengenakan seragam tentara pasukan Oseania. Darah mengalir dari jantungnya. Sepertinya dia tewas seketika.
“(Itu tidak terlihat seperti orang yang tewas karena sengatan panas.”
“(Jadi... apa? Heivia, apa kau tidak sengaja menembak orang itu sambil kau melihat melalui teropong senapanmu?)”
“(Kau bodoh sekali! Apa kau pikir senapan payah milikku ini memiliki peredam yang sangat hebat hingga kamu yang ada di sebelahku sendiri tidak bisa mendengar suaranya!? Dan, orang itu jatuh di arah yang berlainan denganku!!)”
Quenser melihat arah jatuh tentara yang tewas itu yang berlainan dengan arahnya.
Yang dia lihat adalah...
“(Itu adalah batas wilayah pasukan koalisi.... apa dia ditembak dari arah itu? jadi apakah seseorang sengaja melemparkan ‘kerikil’ dari luar wilayah ini?)”
Tiba-tiba, dia mendengar sebuah suara statik dari radio Quenser. Dia pikir dia dapat sambungan, tapi ternyata bukan. Sebuah suara tembakan beruntun terdengar terus menerus.
“(Suara statik bunyi tembakan dengan jarak interval 0,8 detik.... aku pikir seseorang menggunakan pembidik senapan laras panjang! Ini menggunakan laser dan gelombang elektromagnetik untuk membantu mengarahkan.)”
“(Hah? Tidak ada peralatan militer yang akan memberitahukan posisi snipernya begitu mudahnya. Sudah jelas ini adalah tindakan orang bodoh yang berpikir kalau dirinya adalah seorang relawan tentara militan!)” kata Heivia, marah, tapi kemudian mukanya terlihat masam. Dia mengangkat senapannya dan bergumam. “Oh sial. Tidak bagus, tidak bagus, tidak bagus!)”
Untuk tambahan teropong di senapannya, senapannya juga memiliki infrared dan ultraviolet dan memiliki mikrofon untuk mencari musuh. Karena dia memiliki headphone di satu telinganya, dia pasti mendengar suara perbincangan penduduk dengan tentara Oseania itu.
Senapannya mengarah menuju salah satu tentara yang berbicara dengan tentara Oseania yang sedang berbicara dengan kepala desa itu.
“Apa? Apanya yang enggak bagus?)”
“(Aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya, jadi aku katakan saja. ‘Sial, kau menipu kami!’ ‘Tidak, kau salah. Kita tidak akan pernah melakukan hal ini.’ ‘Diam kau. Aku akan membunuh semua orang dan membakar desa ini sampai rata dengan tanah!’)”
“(Aku pikir ‘tidak bagus’ itu terdengar meremehkan!!” kata Quenser terkejut.
Heivia kemudian berbalik untuk meminta pendapatnya, ia bertanya, “(Apa yang akan kita lakukan?)”
“(Kalau kita memanggil Object, mereka pasti akan menghancurkan tempat ini kalau mereka benar-benar datang.)”
“(Jadi apa yang akan kita lakukan!?)”
“(Yah, kita tidak di mana si sniper brengsek ini bersembunyi dan tentara Oseania itu akan melakukan tindakan kekerasan kalau kita tidak segera bertindak.)” Quenser menancapkan pemicu elektrik di salah satu Hand Axe-nya yang sudah dia kuasai. “(Kita tidak memiliki pilihan selain melakukan ini!!)”
Sudah merasa jelas dengan situasinya, mereka berdua mengangguk dan langsung bergerak.
Quenser melemparkan peledak yang sudah dia tancapkan dengan pemicu dari atas tebing. Mereka mendarat agak jauh dari desa, tapi Quenser mengirimkan sinyal untuk meledakkan Hand Axe itu. Ledakan beruntun itu membawa tentara Oseania itu untuk segera berlindung.
Pada kenyataannya, itu hanyalah ledakan yang dibuat oleh seorang tamtama, tapi mereka pikir itu adalah ledakan mortar dari sebuah tank. Ledakan beruntun membuat mereka semakin khawatir.
Berikutnya, Heivia mulai menembak satu persatu.
Untuk berlindung dari musuh baru, tentara Oseania bersembunyi dari arah yang salah. Heivia bisa melihat mereka menyembunyikan bokong mereka karena ketakutan, jadi dia menembak mereka dengan mudahnya. Sebuah baku tembak yang mengesankan, Quenser dan Heivia hanya kalah dalam jumlah, tapi taktik penggertak mereka berhasil membawa pertempuran ini ke sisi mereka.
“(Hei, aku tidak akan bisa menembak mereka semua!!)”
“(Kalau kau bisa menembak beberapa dari mereka, mereka pasti akan pergi untuk menjaga nyawa mereka dan lari ke dalam hutan. Mereka tidak akan bisa bertempur cukup lama untuk menjadi orang terakhir yang bertahan hidup.)”
“(Hei, tuan tamtama, mereka sepertinya tidak akan melarikan diri. Mereka sepertinya bersiap untuk membawa pertarungan ini sampai darah penghabisan!!)”
“(Sial, itu snipernya! Dia menembak lagi! Mereka menembak ke arah mereka lagi untuk menutup jalan keluar mereka, jadi mereka tidak akan bisa kabur walaupun mereka mau!!)”
Semakin lama pertempuran ini berlangsung, semakin besar kemungkinan para penduduk untuk terkena serangan peluru nyasar. Quenser dan Heivia tidak memiliki alasan untuk menang, jadi mereka tidak peduli kalau tentara Oseania itu melarikan diri, tapi sniper misterius itu menghalangi harapan mereka itu.
Tiba-tiba, seorang pria gempal yang sepertinya komandan mereka menaiki bukit.
Dia memberikan perintah dengan gerakan tangannya dan para tentara itu mengangkat senapan mereka.
“(Oh, sial! Mereka tahu posisi kita!!)”
Quenser dan Heivia dengan panik segera mundur. Segera setelah itu, sebuah badai peluru menghujani mereka. karena mereka menembaki tebing longsor ini, longsorannya mereka gunakan sebagai tempat berlindung.
“(Untungnya kita cukup jauh untuk menghindari lontaran granat dari senapan lawas itu.)”
“(Mereka enggak butuh waktu lama untuk mengepung kita. Hei, Quenser, bisa kau pasang peledak di jalan mereka sebelum mereka sampai di sini?)”
Namun, sebelum mereka bisa melakukan apapun, seseorang meraih pundak mereka dan memutar tubuh mereka.
Mereka berputar dengan panik dan melihat pasukan infanteri Aliansi Informasi.
“(Aku tidak tahu situasi apa yang terjadi di sini, tapi kami akan membantu. Kita akan mengirimkan unit infanteri berat untuk menghancurkan mereka kurang dari lima menit.)”
“(Lima menit, hm? Tidak buruk, tapi ini sudah terlambat.)
Heivia menggunakan pipinya untuk menunjuk bagian bawah tebing itu.
Banyak sekali mayat yang bergelimpangan di sana karena orang yang terlibat dalam baku tembak. Dan mereka semua bukanlah tentara Oseania. Beberapa dari mereka ditembak sampai mati karena rasa takut mereka.
Juga, sejumlah mainan anak kecil tersebar di tempat ini seperti seseorang sengaja membuat mereka menjatuhkan mainan mereka karena terburu-buru ingin melarikan diri.
Dari sejumlah mainan yang tertutupi oleh pasir, debu, dan darah ada sebuah buku bergambar. Mereka cukup jauh dari desa itu, tapi buku itu terlihat dengan jelas lewat teropong mereka.
Judul buku itu adalah The Kind Beast of the Rocks.
Itu adalah buku yang sama yang dipegang oleh gadis kecil di luar barikade markas pasukan koalisi tadi sore.
Heivia mendecakkan lidahnya dan melemparkan senapannya ke tanah.
“(Baiklah, aku mengerti. Ini adalah perang yang sangat brengsek. Wanita tidak berdosa dan anak-anak kecil tidak berdaya mati dibunuh karena alasan yang tidak jelas. ...Lakukan. Bunuh semua orang Oseania brengsek itu.)”
Tentara dari Aliansi Informasi itu mengangguk pelan dan memberikan perintah kepada tentara infanteri berat mereka. Tanpa memperhatikan desingan peluru, mereka melompat dari bukit yang longsor ini.
“Hei, aku menemukannya,” kata Quenser saat dia menurunkan teropongnya dan menunjuk sebuah titik.
Dia tidak menunjuk desa itu. Dia menunjuk sebuah titik di perbatasan Oseania dan wilayah pasukan koalisi.
“Aku menemukan sniper itu. Lihat, dia bukan tentara Oseania atau koalisi. Itu adalah salah satu dari reporter. Dia menggunakan kameranya untuk menutupi senapannya. Sepertinya ini yang menjelaskan kenapa dia tidak menggunakan pembidik militer. Mungkin dia salah satu tentara bayaran yang menyamar sebagai wartawan yang dikatakan oleh Froleytia.”
“Oke,” kata Heivia saat dia mengambil kembali senapannya yang ada di tanah. Dia berbalik ke tentara Aliansi Informasi itu. “Kita akan tangani sniper itu. Aku rasa aku tidak akan puas sebelum bisa menghajar mukanya.”

Bagian 6
Setelah kembali ke markas mereka, Quenser dan Heivia bersandar di dinding jalur pegawai.
Froleytia berbicara kepada dua bawahannya.
“Aku sudah memeriksa laporan kalian, dan sepertinya pemilik buku itu bukan anak kecil yang kalian khawatirkan.”
Quenser dan Heivia terdiam untuk waktu yang agak lama.
Akhirnya, Quenser membuka mulutnya dan berkata, “Apa kau pikir ini cukup untuk membuat kita lega?”
“Aku tahu, sebagai seorang prajurit, kita tidak memiliki hak untuk berpikir kita suci atau bersih, tapi ini bukan perang yang kita inginkan untuk ikut.”
“Aku tahu,” gumam Froleytia sebelum menekan kenop pintu dan masuk tanpa mengetuk.
Dia menghela napasnya karena harus berhadapan dengan pekerjaan yang menyusahkan ini.
Dia berada di dalam sebuah ruangan kecil.

Dia memiliki rambut yang panjang berwarna perak dengan sebuah tusuk rambut panjang nan lancip yang memiliki bentuk seperti kanzashi Jepang, dan ia sedang menghisap sebuah kiseru Jepang. Dia mengambil sebuah komputer dan tablet sensor dari bawah lengannya dan meletakkannya di meja. dia biasanya menggunakan pena khusus untuk komputer itu untuk mengirimkan perintah ke unit yang berada sangat jauh dari situ, tapi monitor itu mati.

Froleytia melihat lurus ke depan.
Sebuah kursi dipaku di lantai itu berseberangan dengan dirinya dan diantaranya itu ada sebuah meja kecil. Ia berdiri di depan seorang pria dengan tangan yang melipat.
Dia adalah seorang reporter.
Quenser dan Heivia memberitahnya tentang tamu mereka itu yang ternyata adalah seorang mantan tentara bayaran, tapi Froleytia tidak setuju. Seorang tentara bayaran masuk ke wilayah perang tanpa Object yang melindunginya adalah sebuah pekerjaan yang sangat kasar bagi dirinya. Sepertinya, atau tanpa perlu dilihat lagi, dia lebih dari seorang tentara biasa.
Dia sepertinya berasal dari seorang keluarga kaya dari luar wilayah Oseania yang tergila-gila pada dirinya sendiri dan menganggap bahwa dirinya adalah pusat segala tren.
“Tuan... Sewax, benar? Anda telah mengganggu sedikit operasi kami. Apa anda mengerti bahwa ini adalah ruangan interogasi militer dan anda telah melakukan sesuatu yang pasti membuat anda harus datang kemari?”
“Lepaskan ikatan ini,” kata Sewax dengan cepat, memotong Froleytia. “Aku tidak memiliki kewajiban untuk berbicara di sini tanpa kehadiran seorang pengacara, tapi aku akan melakukannya khusus untukmu. Anda tidak memiliki satu hak pun untuk mencabut kebebasanku di sini. Lepaskan ikatan ini dariku secepatnya.”
“...”
“Apa? Kau marah karena aku menembak tentara-tentara itu? Kalian para prajurit sangat tidak berguna. Apa kau ingin mengatakan kalau aku adalah seorang pembunuh karena bukan bagian dari tentara? Di wilayah lain, di mana Object tidak ikut campur dalam konflik seperti di Oseania, para tentara bayaran seperti kami berkeliling ke wilayah-wilayah negara untuk membasmi tentara musuh, dan kemudian kembali ke negara asal kami. Apa kau ingin mengatakan kalau mereka juga seorang kriminal? Penjahat?” Sewax tersenyum senang saat dia mengatakan kalau haknya adalah absolut dan dia tidak ada seorangpun yang dapat mengancamnya. “Yang aku lakukan hanyalah melakukan apa yang tidak kalian lakukan. Bukankah tugas kalian adalah menembus tubuh monster Oseania itu dengan peluru? Aku hanya melakukan ini demimu, untukmu, dan sekarang aku akan menulis laporannya dan mengganti opini publik. Kasarnya, anda semua tidak melakukan tugas kalian dengan baik pada level paling dasar ketika anda marah ketika seseorang menghabisi beberapa prajurit Oseania. Apa kau pikir kau bisa mengakhiri tirani di Oseania?”
Froleytia menyeringai saat Sewax melihat dirinya dengan mata yang sangat sombong.
Dia melihat wajah seorang tentara yang berubah emosinya.
“Karena Object, kalian begitu melupakan tugas kalian sebagai seorang tentara. Aku akan menulis tentang kalian saat aku kembali ke negara asal. Aku akan memberi tahu semua orang tentang kalian para prajurit yang telah melupakan tugas kalian untuk bertempur dan betapa kalian sangat panik ketika melihat darah. Aku tidak akan menulis tentang anda yang kehilangan pikiran rasional dan anda yang secara ilegal menahan seorang wartawan yang jujur dan pekerja keras sepertiku.”
Froleytia meletakkan kiseru panjang dan lancip itu di atas meja.
Setelah itu, sebuah suara keras terdengar.
Dia meraih bahu Sewax, mengangkat wartawan itu, beserta kursi dan semuanya lalu menempelkannya di dinding.
“Gbh.... Ghaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhh!?”
Tenaga yang sangat kuat menghancurkan sandaran kursi itu dan tubuh Sewax ditekan punggungnya. Namun, lengan Froleytia tidak mengizinkannya untuk menyentuh tanah. Dia menahan tubuh itu di dinding dan menekan kepalanya sangat kuat ke dinding.
“Ada empat,” kata Froleytia pelan, suara yang dingin dan jarang ia begitu pelan seperti itu. “Jika kamu... kalau saja kamu hanya membunuh tentara musuh, aku akan menyanjungmu tinggi. Namun, ada empat. Empat penduduk yang tak bersalah yang terbunuh karena aksi yang tidak diinginkan ini. Orang-orang itu tidak akan mati jika saja... dengarkan ini, salah satu dari empat orang itu mati bukan karena peluru tentara Oseania, tapi dari pelurumu.”
“Uhuk. Tapi karena itu, kau bisa segera membuat tindakan cepat untuk menyerang Oseania! Kita tidak bisa mengendur hanya karena dosa kecil ini!! Yang aku lakukan ini tidak salah!! Kalau aku menulis ini, orang-orang di seluruh dunia akan merasa sensitif dengan perang dan kelompok anti-perang akan bangkit. Sebuah zaman di mana para tentara yang menghabiskan pajak kami akan segera berakhir, bodoh!!”
“Oh, benar begitu!?”
Froleytia membawa tubuh Sewax dari dinding dan menerbangkannya. Gaya sentrifugal menghantam punggungnya saat dia jatuh tepat di atas meja kecil itu.
Saat Sewax Bath, Froleytia mulai berbicara.
“Kalau begitu izinkan aku untuk berbicara sebentar. Kami mengetahui bahwa para tentara Oseania itu tidak berada di situ untuk menarik uang. Mereka tidak berada dalam jadwal untuk datang ke tempat itu. bahkan kalau kau tidak menyerang mereka dengan senapan, mereka akan mematuhi perintah atasan mereka dan mulai menyerang desa itu.”
“La-lalu...”
“Dan mereka melakukan karena aksi wartawan seperti kalian!! Karena intervensi pasukan koalisi, negara junta militer Oseania berpikir bahwa masyarakat internasional menganggap remeh keberadaan mereka. Karena itu, mereka ingin menunjukkan kekuatan mereka pada pasukan koalisi dengan memperkuat wilayah reboisasi mereka dan rencana bodoh untuk membantai seluruh penduduk desa!! mereka akan menggunakan orang-orang mereka sendiri sebagai kartu negosiasi dengan mengatakan bahwa kematian mereka adalah kesalahan kami karena mengirim tentara ke wilayah mereka dan menurunkan Object!! Memangnya kenapa kami melarang para wartawan untuk mendekati wilayah perbatasan Oseania? Karena kami sudah tahu rencana mereka! Mereka tidak memiliki saksi untuk genosida yang akan mereka lakukan dan menyebarkannya ke seluruh dunia! Namun, karena aksimu yang sungguh ceroboh itu, mereka akan bergerak semakin gila untuk rencana busuk mereka!!” kata Froleytia, menyesali kebodohan yang dimiliki oleh Sewax. “Memangnya kau pikir apa yang akan dilakukan oleh orang-orang Oseania ketika melihat kawan-kawan mereka mati? Mereka akan menunjukkannya kepada dunia betapa mereka menderita di sini. Mereka pasti akan menggunakan pembantaian ini untuk menunjukkan pada dunia kalau kitalah yang salah! Mereka sekarang akan memainkan peran ‘mencari pelaku pembunuhnya’. Mereka akan mencarinya di dalam ‘orang-orang mencurigakan’, yaitu di suku-suku pribumi asli Oseania. Mereka akan mengirimkan pasukan, dan membantai mereka sampai puas!! Apa kau dengar itu!? Sampai mereka puas!!”
Tubuh Sewax seakan tidak bisa mendengar lagi apa yang dikatakan oleh Froleytia.
“Ta-tapi aku adalah seorang wartawan Kerajaan Legitimasi. Aku sudah memastikan kalau aku menembak dari wilayah pasukan koalisi. Kenapa mereka malah menarget penduduk Oseania? Itu omong kosong. Bahkan negara junta militer tidak akan melakukan hal itu tanpa ada bukti—“
“Apa kau pikir mereka akan mendengar alasan itu!!!??”
Froleytia mengepalkan tangannya dan memukul Sewax di perutnya.
Sewax tidak bisa menahan rasa sakit ini dan muntah-muntah di lantai. Froleytia meraih kursi dan berbicara padanya dengan wajah yang sangat marah.
“Mereka melihat wajah para penduduk itu tidak lebih dari serangga!! Kalau mereka menyukainya, mereka akan membunuh tanpa perlu ada bukti atau tidak! Itulah kenapa aku mengatakan mereka akan terus membunuh sampai mereka puas. Mereka akan menyerang desa-desa yang tidak mereka sukai! Apa kau pikir pengadilan bisa menegakkan hukum di negara ini!? kau pikir berapa banyak orang-orang tidak berdosa yang kehilangan nyawa mereka karena tindakan berbahayamu ini yang tidak membawa penyelesaian apapun selain harga dirimu!?”
Masih tidak jelas apakah dia sudah mengerti semuanya atau hanya sebuah rangkaian berantai untuk mengosongkan perutnya, tapi air mata mulai menetes dari matanya.
“Jujur saja, aku ingin menyerahkanmu ke pemimpin bodoh Oseania ini, tapi untungnya Kerajaan Legitimasi menjunjung tinggi hak asasi manusia. Aku tidak bisa menyerahkanmu begitu saja.” Froleytia melepaskan dirinya dari kursi itu dan sepertinya dia mulai bisa mendinginkan pikirannya, lalu dia bicara lagi. “Apa kau mengerti? Kita ada di sini untuk menjaga keseimbangan di medan perang dan aksimu itu membawa perang ini ke sisi yang lebih buruk dan membuat semua usaha kami sia-sia.”

Bagian 7
Saat interogasi yang dilakukan oleh Froleytia ditampilkan di dalam monitor di depan mereka, Quenser dan Heivia melihat ke arah lain di saat yang sama. Mereka meninggalkan ruang observasi kecil yang diisi dengan staf perekam dan analisis lalu mereka saling bertukar pendapat saat mereka berjalan di lorong.
“Hei, Quenser. Berapa lama kau pikir sampai orang-orang Oseania itu mulai mencari pembunuhnya?”
“Jika perkiraan dari simulasi elektronik ini akurat, maka satu-satunya Object yang dimiliki oleh Oseania adalah sebuah Object generasi 0.5. Tingkat teknologinya sangat rendah untuk memiliki fungsi maksimal sebuah Object.” Quenser memilih kata-katanya secara hati-hati. “Sebuah reaktor Object memiliki cara kerja seperti reaktor nuklir atau sebuah ledakan berantai yang lebih efisien untuk terus menghasilkan tenaga daripada harus dimatikan dan dinyalakan. Namun, generasi 0.5 itu terlalu lemah. Jika ia terus menggunakan tenaga dari reaktornya terlalu lama, bagian dalamnya bisa menyatu. Aku yakin kalau reaktornya pasti sedang dimatikan sekarang. Kalau kita menghitung kecepatan kemampuan reaktornya untuk menghasilkan tenaga yang cukup untuk bergerak, maka....”
“Kita memiliki waktu antara 4 sampai 5 jam,” kata Heivia saat dia melihat jam tangan militer di pergelangan tangannya.
Quenser mengangguk dan berkata, “Menurut Froleytia, mereka ingin pembantaian mereka terhadap penduduk desa bisa mendapatkan perhatian dari para wartawan itu untuk menarik perhatian dunia. Sekarang mereka telah gagal untuk itu, maka para prajurit Oseania itu pasti mencari suatu cara lain untuk menghapus kegagalan mereka ini. Dalam kasus ini, tidak menyerang penduduk desa sekarang adalah pilihan terbaik yang mereka miliki.”
Mungkin Object milik Oseania ini diberi nama generasi 0.5, tapi tetap saja itu adalah Object. Kerajaan Legitimasi atau Aliansi Informasi pasti menyatakan bahwa Object itu bisa dengan mudah dikalahkan dengan mudah oleh mereka, tapi desa-desa kecil tidak akan memiliki kesempatan untuk melawannya.
Jika terus seperti ini, mereka pasti akan mencari cara apapun untuk bisa mendapatkan “tragedi mengerikan” yang mereka incar.
“Ini buruk. Kalau kita tidak menemukan Object itu, ini akan menjadi, sangat buruk.”
“Tapi bagaimana caranya kita menemukan Object itu? Satelit sudah mengincarnya selama sebulan, dan mereka tidak menemukan apapun. Bagaimana kita bisa menghancurkan Object hanya dalam waktu 4 jam.”
“Menghancurkanya tidak terlalu sulit. Kita memiliki 20 Object milik pasukan koalisi. Jika kita bisa memberitahukan mereka posisi dari Generasi 0.5, mereka bisa menggunakan seluruh kekuatan militer mereka untuk menghancurkannya.”
“Artinya?”
“Aritnya kita harus mencari di mana letak Object itu. Kita pasti bisa mencari tahu posisinya jika kita melihat dari sudut pandang kita sendiri dari pada harus bergantung pada satelit.”
Saat dua orang itu baru memulai aksi mereka, seseorang menginterfensi mereka.
Itu adalah Froleytia yang baru saja keluar dari ruang interogasi.
“Jujur saja, aku ingin kalian berdua melakukan itu, tapi aku tidak bisa. Itulah perintah dari atasan.”
“?”
“Kalau Object 0.5 milik Oseania itu memberikan jejak setitik mereka saat keluar dari bangunan beton miliknya, kita pasti memiliki kesempatan. Atasan tinggi menginginkan kita untuk hanya mengawasi satelit dan menunggu sampai mereka meninggalkan Object mereka. Kalau mereka sampai menyadari keberadaan pasukan pengintai kita, kesempatan ini akan hilang dan mereka pasti akan pergi dari markas mereka dan mencari tempat yang baru.
“Jadi kau mencoba mengatakan kalau kita harus membiarkan mereka menyerang desa-desa kecil itu!? Kau tahu kan rasanya ketika Object musuh menyerang kelemahan kita saat kita lengah!”
“Saat kita menyadari bahwa ia meninggalkan markas, kita akan segera bergerak cepat sebelum ia mulai menyerang!! Aku jamin tidak akan ada penduduk desa yang akan menjadi korban!!”
“Tapi aku yakin kalau militer Oseania akan menyadari kita! Apa yang akan kau lakukan ketika kita dengan bangga menyerang target yang terlihat di satelit dan ternyata itu hanyalah sebuah tangki gas raksasa dengan umpan!? Sementara yang asli akan keluar dan membakar habis sebuah desa, menyamar menjadi tangki gas yang lain, dan melarikan diri ke markas yang lain!! Kalau itu terjadi, kita harus melakukannya lagi. Apa kau akan membiarkan mereka membakar desa sampai kita mendapatkan Object mereka!? Mungkin terdengar salah ketika kita menyerang para prajurit Oseania itu dengan Object, tapi Object bukanlah sesuatu yang bisa ditangani oleh para penduduk tak bersenjata!!” teriak Heivia, kehilangan harga diri yang ia junjung tinggi terhadap atasannya sendiri.
Sepertinya, Froleytia sendiri tahu dengan apa yang akan terjadi sebenarnya, tapi sesuatu menghalanginya untuk menyetujui pendapat Quenser dan Heivia.
Itu adalah peraturan militer.
“Sebenarnya aku ingin sekali mengirim kalian berdua, tapi aku tidak bisa melanggar perintah,” kata Froleytia dengan masam.
Melihat ekspresinya, Quenser dan Heivia kemudian diam.
“Dan jangan coba-coba mengaksesnya lewat database militer. Untuk menghindari informasi Object kita ketahuan oleh anggota pasukan koalisi yang lain, pengamannya sudah ditingkatkan. Kalau kau mencoba mengakses data yang di luar wilayah kewenanganmu, kau akan langsung disidang di pengadilan militer sebelum kau menyadarinya.”
“Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?”
Heivia masih tidak mau untuk menyerah, tapi Froleytia membalikkan badannya.
“Aku akan menyiapkan segalanya untuk memastikan kalau kita bisa langsung bergerak segera setelah kita mengetahui koordinat Object Oseania dari satelit,” katanya sebelum meninggalkan mereka berdua.
Ditinggal sendirian, Quenser dan Heivia hanya bertukar pandang.
“Hei, Quenser, apa yang harus kita lakukan sekarang? Kau memiliki akses khusus untuk Object setelah menang di Alaska, kan? Bisakah kau masuk ke dalam database tanpa ada orang yang menyadarinya?”
“Kalau aku memiliki kemampuan, aku hanya butuh sedikit meretas dan mengaksesnya. Tapi itu tidak mungkin. Tidak mungkin kita bisa mencari data tentang informasi generasi 0.5 ini di situasi seperti ini.
Quenser memasukkan jarinya ke dalam kantungnya dan mengeluarkan peta dari dalamnya dan kemudian membuka peta itu.
Heivia terkejut, tapi Quenser hanya menunjukk peta itu dan berkata, “Aku rasa cara manual adalah cara terbaik untuk memecahkan masalah kita.”

Heavy Object Jilid 1 Bab 3 Bagian 1 - 7 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: [ Yuu ]

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.