03 Oktober 2015

Samayou Shinki no Duelist Jilid 1 - Prolog



SAMAYOU SHINKI NO DUELIST JILID 1
PROLOG

Pengantar
--Siapa yang ingin kamu bunuh?
Beri aku kekuatan! Saat aku selesai berbicara, anak itu menanyakan hal itu padaku.
Dia terlihat seperti anak usia dua belas atau tiga belas tahunan, meskipun penampilannya terlihat cukup manis, tapi kesan itu rusak karena tidak adanya ekspresi di raut wajahnya.
Dan tentu saja kata-katanya tadi juga dikatakannya dengan nada datar. Dia hanya sedang maminta konfirmasi – sebenarnya, tidak peduli apapun jawabanku, semuanya sama saja baginya.
Anak itu, sepertinya menganggap dirinya tidak lebih dari sekedar alat.
Dia hanya harus memastikan siapa targetnya, lalu segera bergerak untuk membunuhnya - dia adalah sebuah alat, dan itu adalah tujuannya.
"Hmm ..."
"Mmm, gimana yaah?" gumamku.
Aku tahu bahkan saat aku melakukan pemanggilan, aku tahu kalau siapa pun yang menjawab panggilan itu pasti memiliki pola pikir yang aneh – itu adalah bayaran untuk kekuatannya yang besar.
"Sebenarnya, sebelum kamu berbicara tentang membunuh ... Aku ingin kamu tersenyum lebih dulu."
Anak itu mengerutkan dahinya. Dia terlihat bingung.
"Melihat anak seusiamu membicarakan hal semacam itu dengan ekspresi wajah seperti itu - aku tidak menyukainya. Memang benar kalau kamu akan bertarung untukku, tapi aku ingin memastikan kalau kamu setidaknya mengerti tentang hal semacam ini sebelum kita dapat bekerja sama. Oh, tapi jangan melakukannya karena itu adalah perintah dariku, atau karena itu adalah tugasmu. –Bagaimanapun juga, singkatnya, sekarang adalah saatnya bagimu untuk belajar bagaimana cara untuk tertawa dan menangis. "
Anak itu berdiri terdiam sesaat sebelum dia mengisyaratkan padaku kalau dia belum pernah belajar tentang bagaimana cara untuk melakukan hal-hal seperti itu.
"Tidak apa-apa. Cukup coba dan ikuti Onee-san, oke? Lihat, caranya begini. "
Aku mengangkat kedua sudut mulutku.
"Ada banyak waktu untuk berbicara tentang pekerjaan nanti. Pertempuran yang akan kamu hadapi akan jauh berbeda dengan apa yang pernah kamu lihat. Untuk sekarang, ayo kita belajar bagaimana cara untuk merasa; pertempuran itu urusan belakangan. Benar, yang paling penting sekarang adalah mengajarkamu apa artinya menjadi manusia. "
Anak itu sangat kebingungan sambil tetap terdiam.
"Kamu tahu kan kalau kamu sudah mati sekali dan hidup lagi? – Itulah kenapa - saat ini - daripada bertarung untuk membunuh, bagaimana kalau kamu bertarung untuk melindungi - untuk menolong? Bagaimana menurutmu? "
Dia bertanya padaku apa yang akan dia lindungi, siapa yang akan dia tolong.
"Orang-orang. Dunia ini. --Kamu akan menjadi pahlawan sejati, dalam berbagai artian; Aku akan mengajarimu. Sekalian juga, kamu akan belajar bagaimana untuk menikmati hidup, bagaimana untuk tertawa dari lubuk hatimu-. Aku akan mengajarkan semua hal itu padamu "
--Kenapa kamu melakukan hal itu?
"Karena kamu adalah duelistku, dan aku membutuhkanmu. Ayo, Kita akan bersama-sama melindungi dunia ini. "


Prolog
Sebuah serangan sekuat tenaga terpantul oleh sisik yang sangat keras; kelihatannya tidak menggoreskan luka sedikitpun, malahan, dari semua serangannya.
(Sial! Yang benar saja,  sial ...)
Bertolt merasakan keringat dingin di punggungnya.
Scimitar yang dipegangnya itu ditemukannya di dalam labirin ini, Great GateMagna Porta, dan itu adalah sebuah artifak sucireliquia level dua. Sebuah senjata yang luar biasa, dengan ketajaman dan daya tahan yang yang sangat kuat, bahkan tidak ada seorangpun pandai besi yang mampu membuatnya. Tapi, senjata yang luar biasa itu baru saja gagal untuk menggoreskan luka sedikitpun.
Monster itu berbentuk menyerupai kadal, dengan tinggi tiga sampai empat kali tinggi orang biasa, dengan tiga buah mata di kepalanya.
Itu adalah sesuatu yang hanya bisa ditemukan di kedalaman labirin, dan tidak pernah muncul di permukaan - seekor Void Beast.
Tiga dari lima anggota party itu mati saat makhluk itu menyergap mereka dari belakang.
"I-Ini buruk! Ayo cepat keluar dari sini! "
"Diam kau! Hartanya sudah berada di depan mata - mana mungkin kita pergi sekarang?! "
Bertolt, ketua party, berteriak marah pada rekan cleric nya.
Berkat bimbingan dan perlindungan dari Dewi keberuntungan, mereka berhasil menemukan sebuah harta karun. Sedikit lagi - hanya sedikit lagi! Saat mereka berhasil mendapatkan ‘sesuatu’ yang tergeletak di belakang Void Beast itu, maka mereka bisa pergi.
Jika mereka pergi sekarang, maka harta, ketenaran, kekayaan – semuanya akan lepas dari genggaman mereka.
Kadal bermata tiga itu perlahan mengangkat kepalanya. Pupil hitamnya tidak menunjukkan sedikitpun emosi dan terus mengendus, mencari. Terus mencari.
Tiba-tiba, makhluk itu bergerak dengan sangat cepat, tak bisa dibayangkan untuk ukuran tubuh sebesar itu.
"Gyaaaa--!"
Berteriak histeris, cleric itu berusaha bertahan sekuat tenaga.
Perisai transparan muncul di depan mereka berdua. Kekuatan perisai ini bervariasi tergantung pada kekuatan pembuat nya. Dengan perisai sekuat ini, bahkan terjangan dari kuda maupun banteng tidak akan membuatnya bergeming.
Kepala kadal itu membentur perisai transparan itu. Terlihat bingung, makhluk itu mundur beberapa langkah.
Tapi saat karena mereka menghela napas lega, makhluk itu kembali menyerang, menyeruduk perisai itu dengan kepalanya. Berulang kali.
“H-hei ..."
Cleric itu terlihat pucat.
Di benturan keempat, perisainya mulai retak. Di benturan kelima, perisai itu hancur berkeping-keping.
"O-oh tidak! Lar-- aaaaaaaaaargh! "
Terpotong di tengah kalimatnya, cleric itu terhempas ke tanah, lehernya tergigit oleh mulut kadal itu.
Bertolt meninggalkan rekannya itu dan segera kabur.
Menyakitkan baginya untuk meninggalkan harta berharga itu, reliquia kelas atas "Dragon Fang Gem," tetapi menilai keadaannya, dia tidak punya pilihan lain.
Tapi keputusannya itu sudah sangat terlambat. Mungkin karena makhluk itu menilai kalau memburu mangsa itu lebih penting daripada memakannya, makhluk bermata tiga itu mengabaikan mayat cleric itu dan mengejar Bertolt.
Dengan mulutnya yang dipenuhi dengan gigi gergaji setajam pisau, makhluk itu menggigit lengan kanan Bertolt dengan kuat dan mengoyaknya.
"AAAAAAAAAAAHHHHHHHH ....!"
Meskipun begitu, Bertolt memaksakan dirinya untuk tetap bertahan dan terus berusaha melarikan diri.
Jika mereka mundur sejak tadi, seharusnya semuanya baik-baik saja. Andai saja mereka segera pergi setelah anggota pertama party mereka mat-
Tanpa berhenti untuk menoleh ke belakang, Bertolt bisa merasakan kalau kadal itu semakin dekat dengannya.
"Sial ... .SIAL! Melawan monster seperti itu, hanya seorang Duelist yang mampu mengalahkannya! "
Bertolt terus berlari, sambil terus berteriak. Mungkin karena dia sudah jauh melewati batas mentalnya, dia tidak merasakan sakit dari bahunya, tapi hilangnya anggota badan sangat mengganggu keseimbangannya. Tak lama kemudian, dia tersandung dan terjatuh.
Saat ia tersungkur ke tanah, rasa takut dari ancaman yang luar biasa itu memenuhi pikirannya; membuatnya merasa ingin muntah.
(Tidak! tidak, tidak Tidak TIDAAAK! Aku tidak ingin mati, aku tidak ingin mati, AkuTidakInginMatiAKUTIDAKINGINMATIII!!--)
Terobsesi untuk mengumpulkan reliquia, dan setelah menyuap para petinggi untuk mengingkirkan pesaingnya, dia akhirnya mendapatkan posisi ketua dalam party "Sky’s Oath Legion."
Itu benar, tidak mungkin dia mati di sini. Mana mungkin dia bisa mati di tempat seperti ini? Hal ini tak mungkin terjadi.
--Meskipun dia berusaha lari dari kenyataan, tapi, kenyataan menolak untuk meninggalkannya.
Suara decitan langkah kaki kadal itu perlahan semakin mendekat.
Bahkan jika dia seorang petualang kelas atas, seorang elit, bawahan langsung "Putri Sucishinki [1] – Yang Menyangga langit" - bahkan dia akan gila karena tekanan dari situasi seperti ini.
"Ya Tuhan, ya Tuhan, ya Tuhan--"
Tersugkur ke tanah, Bertolt berdoa dengan nada yang sangat bertentangan dengan sikapnya tadi.
"Pelindung kota kami, Wahai para Dewi, dengarlah doa hamba – berilah hamba perlindungan. Berikanlah ham-- "
Dia melakukannya bukan karena dia adalah orang yang beriman; malahan, itu adalah doa tulus pertama sepanjang hidupnya.
Tapi, tidak ada keajaiban terjadi, dan kematian masih terus mengintainya, sangat dekat.
Dari dalam kegelapan, kadal itu muncul, rahangnya menganga lebar - tapi tiba-tiba kadal itu terdiam.
"Ap ...?"
Dia terbelalak.
Kadal itu tidak berhenti dengan sendirinya. Bahkan sekarang makhluk itu sedang berusaha menggeliatkan tubuhnya sekuat tenaga, tapi sia-sia. Sebuah kekuatan yang sangat kuat menahannya - benang cahaya melilit tubuhnya.
Itu adalah sebuah Orison[2], tapi berbeda dari biasanya – dia belum pernah bertemu cleric yang mampu menahan Void Beast sekuat ini dengan mudahnya.
Tanpa disadarinya, sesosok bayangan kecil berbentuk manusia muncul di dekat monster bermata tiga itu.
Sosok itu mengenakan jubah. Bayangan yang terpantul oleh cahaya lembut dari tumbuhan di sekitarnya, ditambah dengan kerudung jubahnya, menyembunyikan wajah sosok itu dari penglihatan. Siapa pun itu dia agak pendek, entah orang tua atau anak kecil. Labirin ini adalah rumah bagi beberapa Void Beast jenis humanoid, tapi sosok itu tidak terasa seperti mereka.
Bagaimanapun juga, tidak mungkin ada orang yang mampu bertahan sejauh ini seorang diri.
Terlebih, dia tidak merasakan apapun saat sosok itu mendekat. Tidak peduli seberapa kacaunya dia karena takut, hal itu tetap saja tak mungkin. Tidak ada makhluk hidup yang mampu bergerak tanpa memberikan tanda keberadaanya, entah suara maupun yang lainnya.
Bayangan mengerikan itu mengibaskan tangannya ke arah monster yang terus memberontak itu. Tiba-tiba tubuh kadal itu mulai terdistorsi dan lenyap, seakan terhisap ke dalam semacam lubang yang tak terlihat, lalu menghilang.
Terdiam, Bertolt menyaksikan kejadian itu, tidak bergerak.
Void Beast yang telah membunuh empat petualang terkenal di masa kejayaan mereka, yang dengan mudahnya menghancurkan perisai suci, ternyata bukan predator puncak di tempat ini.
Bayangan itu perlahan mendekat. Dari bawah bayang-bayang kerudung sosok asing itu, hanya terlihat bentuk mulut seseorang – sebuah mulut yang bahkan terlihat seperti sedang tersenyum.
Saat itu, bagian terkecil dari kendali kesadaran Bertolt akhirnya hancur.
"Gyaaaaaaaaaaaaaaaaaa--"
Sebuah jeritan bersimba darah akhirnya terbebas dari tenggorokannya sambil dia berlari menuju kejauhan.
Catatan kaki
[1] Terdiri dari dua kanji " ," yang masing-masing berarti "dewa" dan "putri". (Dewi, "makna" yang digunakan oleh penulis untuk judul, adalah "女神.") Terlalu merepotkan untuk terus menyebutkan "Putri Suci", jadi aku akan menggantinya dengan "Shinki" untuk kedepannya.
[2] Istilah yang digunakan adalah " ," yang secara harfiah diterjemahkan menjadi teknik suci. "Memberikan kesan RPG fantasi pada seri ini, meskipun, aku mencoba memilih istilah yang lebih " cocok ". Orison gampangnya adalah sebuah doa, tapi melibatkan kekuatan suci. 

Eng Source : guhehe

Samayou Shinki no Duelist Jilid 1 - Prolog Rating: 4.5 Diposkan Oleh: h kim

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.