26 September 2015

My Dearest Jilid 1 Chapter XVIII

JILID 1 CHAPTER XVIII
PENCULIKAN

Bagian Pertama:

Bunyi bel HoK mulai berdering keras, bel yang menjadi pertanda jika aktifitas kegiatan belajar di tempat tersebut telah berakhir. Beberapa siswa ada yang langsung pulang, dan ada juga yang sedang berdiam diri didalam kelas. Entah karena kegiatan klub atau karena suatu alasan yang lainnya.


Sambil berjalan pelan Salsa menghampiri sahabatnya Sylvia yang sedang merapikan bukunya. Dia tersenyum dan berkata.

“Ayo pulang.”

“Hmm... aku ada urusan, maaf kamu duluan aja,“ jawab Sylvia terlihat menyesal.

“Begitu yah.”

“Gimana kalau sebagai ganti aku tidak pulang bersamamu, aku akan beri kamu permen?” Sylvia tersenyum manis.

“Eh, memangnya aku ini anak kecil?“ Salsa memasang muka cemberut.

“Hehehe maaf, ” senyum Sylvia.

“Ya sudah aku pulang duluan ya!” Salsa sambil berjalan ke arah pintu keluar, tapi.

“Ohh iya, sekarang bagaimana pendapatmu tentang Anggela?” tanya Salsa penasaran. Dia menghentikan langkahnya dan mulai melihat kembali sahabatnya.

“Ang-Anggela? Kenapa kamu tiba-tiba membicarakan dia? “ Sylvia dengan nada gugup.

“Jangan-jangan kamu sudah menyukainya –“

“Ba-bagaimana kamu tahu?! Si-siapa yang memberitahumu?!” tanya gugup Sylvia yang memerah.

“Hoo, jadi kamu beneran suka yah,” Salsa terlihat menggoda Sylvia, dia kembali berjalan mendekati sahabatnya.

“Eng-enggak! Ta-tadi aku cuman keceplosan,” bantah Sylvia sambil memalingkan wajahnya.

“Ehmm ..., benarkah? Jadi kamu benci dia?”

“Ba-bagaimana aku bisa membencinya! Dia sudah banyak berkorban demi aku.”

“Kalau begitu jujurlah Sylvi, ” senyum Salsa sambil melihat sahabatnya.

“Kamu menyukainya kan? “ lanjutnya bertanya.

“Ba-baiklah aku akan jujur! Ak-aku memang menyukainya! Kamu puas?!” teriak kesal Sylvia dengan muka yang semakin memerah.

“Begitu yah, ” senyum Salsa sambil melihat jendela. Dia berjalan pelan ke arah jendela yang ia lihat tersebut.

“Tapi ini sungguh aneh yah, ” lanjutnya bergumam sendiri.

“Aneh? Aneh kenapa?” tanya Sylvia penasaran lalu berdiri dari tempat duduknya, dia terlihat telah selesai membereskan bukunya.

“Awalnya Anggela dibenci, bahkan dijauhi oleh seluruh murid di kelas ini. Tapi sekarang sikap murid dikelas ini menjadi berbanding terbalik, dia sekarang menjadi dikagumi oleh semua murid di kelas ini.”

“Tentu –“

“Temasuk kamu juga.” Salsa membalikan badannya, dia melihat sahabatnya dengan senyuman kebahagiaan.

“Ehm,” angguk Sylvia dengan muka yang memerah.

“Ta-tapi bagaimana denganmu? Bagaimana pandanganmu tentang Anggela?!” Sylvia memasang muka penasaran.

“Aku? Kurasa pandanganku berubah sedikit, “ senyum Salsa.

“Eh, berubah sedikit? Maksudnya?”

“Dari awal aku sudah tau kalau Anggela adalah orang baik. Seperti halnya denganmu ..., aku juga menyukainya, bahkan sejak kelas satu.” Salsa kembali membalikkan badannya pada jendela dan melihat pemandangan langit yang sudah mulai berwarna orange.

Perkataan Salsa tadi membuat suasana menjadi lebih hening sementara, terdengar beberapa obrolan kecil dari beberapa siswa yang cukup jauh dari mereka. Ya, Sylvia untuk sesaat sangat terkejut dengan perkataan yang diutarakan oleh sahabatnya tadi.

“Ehh se-serius? Kamu juga?  –“

“Tapi sepertinya aku harus menyerah hahaha,” Salsa tertawa kecil..

“……..”

“Aku tidak mungkin menang jika bersaing denganmu,” lanjutnya tersenyum membalikkan badan, dia mulai melihat sahabatnya kembali dengan senyuman.

“Tapi sebaiknya kamu –“

“Taka pa Sylvia, aku lebih mementingkan hubungan persahabatan daripada hubungan seperti itu, “ senyum Salsa.

“Ta-tapi bagaimana dengan perasaanmu? Apa perasaanmu tidak apa-apa? ” khawatir Sylvia berjalan cepat ke arah sahabatnya.

“Sudah aku bilang tak apa Sylvia,” senyum Salsa.

“……..” Sylvia hanya memasang wajah sedih melihat sahabatnya.

“Tapi Sylvi, sepertinya saingan kamu bakalan berat deh,” lanjut Salsa sambil berjalan menuju pintu keluar.

“Jadi maksudmu ada orang lain selain kita yang menyukai Anggela.”  Sylvia sambil berjalan cepat menyusul sahabatnya.

“Iya, Shina Shilvana. Sepertinya dia juga menyukai Anggela.”

“Be-benarkah? –“

“Tunggu Sylvia, bukankah kamu ada urusan? Kenapa kamu masih mengikutiku?” tanya Salsa penasaran.

“Ohh astaga aku lupa! ” Sylvia dengan muka khawatir.

“Kalau begitu kamu harus cepa –“

“Tapi kayaknya udah telat, jadi aku cancel ajah deh?”

“Apa urusan ini penting? Kalau ini penting, aku gak akan biarin kamu batalin gitu ajah.” Salsa dengan nada sedikit kesal.

“Enggak enggak, ini cuman kumpulan biasa dari aktifitas klubku, ” senyum Sylvia.

“Ehh.”

“Tapi Salsa, apa benar Shina menyukai Anggela? Darimana kamu bisa tau itu?” tanya Sylvia penasaran.

“Aku juga gak terlalu yakin sih, tapi kamu coba pikir deh reaksi Shina waktu itu.”

“Waktu itu? Maksudmu waktu terbongkarnya kebaikan Anggela?”

“Iya, bukankah terlihat aneh Shina sikap waktu itu?”

“Emhh iya juga yah. Dia terlihat sangat peduli terhadap Anggela, dan bahkan membantah hinaan dariku.”

“Itu bukan sikap yang wajar dari orang yang telah membuangnya.”

“Aku juga dengar gosip kalau Anggela sengaja mempermalukan dirinya didepan teman-teman Shina,” lanjutnya.

“Maksudmu waktu kejadian Anggela yang dibuang itu?”

“Iya yang itu, katanya dia sengaja mempermalukan dirinya sendiri demi Shina. “

“Be-benarkah?! Tapi kenapa dia sampai rela mempermalukan dirinya seperti itu?” tanya Sylvia penasaran.

“Mungkin dia tidak mau Shina dipermalukan oleh teman-temannya sendiri. ” Salsa sambil memasang muka berpikir kembali.

“Jadi begitu, aku mengerti.” Shina terlihat menganggukan kepala.

“Tapi kenapa dia harus berlebihan seperti itu? Aku merasa heran dengannya, ” lanjutnya.

“Aku juga. Baru kali ini aku bertemu dengan laki-laki yang memiliki sifat seperti ini, dia tidak ragu menolong orang lain, meski yang dia tolong itu pernah berbuat jahat padanya. ”

“Ehm.” Sylvia menganggukan kepalanya.

“Aduh sial ….!” lanjutnya dengan muka yang memerah.

“Aku tau kamu kenapa!” senyum Salsa melirik sahabatnya.

“Pasti hatimu saat ini berdetak kencang. Kamu semakin menyukainya kan?”

“Berisik!!” kesal Sylvia dengan wajah yang semakin memerah.

“Sudah kuduga,“ senyum Salsa.

“Tapi aku juga kok, “ lanjutnya dengan wajah yang sedikit memerah.

“Sudah kuduga, lebih baik kamu juga harus –“

“Berisik! Aku kan sudah bilang, aku menyerah!” senyum Salsa sambil melirik sahabatnya.

“Tapi sebagai gantinya, kamu tidak boleh kalah dari Shina. Kamu harus mengutarakan perasaanmu sebelum dia!” lanjutnya dengan nada mengancam.

“Mu-mustahiil!! Aku gak bisaaa!” Sylvia dengan muka yang semakin memerah.

“Aku tau, tenang aja kamu tidak usah terburu-buru. Dan sepertinya untuk saat ini Shina juga tidak akan mengutarakan isi hatinya.”



***

Bagian Kedua:

Dijalan yang sangat sepi, Sylvia dan Salsa terlihat berjalan pulang ke rumahnya secara bersamaan karena jalur mereka yang sama. Sambil terus berjalan Sylvia mulai membuka percakapannya kembali.

“Sa-Salsa, apa kamu masih belum percaya kalau waktu itu Anggela menggunakan skill railgun?”

“Tidak Sylvia, Anggela mustahil bisa menggunakan skill tingkat tinggi seperti itu.”

“Tapi aku benar-benar melihatnya.” Sylvia dengan nada yakin.

“Iya iya kamu benar, dia benar-benar melakukan skill railgun, “ senyum Salsa melirik sahabatnya.

“Ka-kamu meledekku kan?” cemberut Sylvia.

“Habisnya kalau aku tidak percaya padamu, kamu akan terus mengajakku berdebat kan? “ senyum Salsa.

“Aku serius Salsa!! Mungkin saja dia menyembunyikan sesuatu yang lainnya! Seperti dia itu sebenarnya kineser tingkat atas, atau yang lainnya!”

“Kamu terlalu berlebihan Sylvia!” senyum Salsa pada sahabatnya.

“Atau mungkinkah dia dalam kondisi terpojok, sehingga dia harus menyembunyikan kemampuan –“

“Sylvi tenanglah! Kamu ini terlalu berlebihan memikirkan Anggela, ” Salsa menenangkan sahabatnya yang panik.

“Maaf, entah kenapa aku menjadi seperti ini, ” Sylvia dengan nada menyesal.

“Tak apa, itu membuktikan bahwa kamu mencintainya, “ senyum Salsa.

“Eh? Mak-maksudnya?”Sylvia dengan muka memerah.

“Bukankah hal yang wajar bagi seorang gadis jika dia mengkhawatirkan orang yang dia cintainya.”

“Ayolah jangan mebahas hal itu lagi, aku malu tau!” Sylvia dengan wajah yang memerah.

“Hahahahaha …. –“

“Indahnya orang yang sedang jatuh cinta, aku jadi ingin merasakannya ……,” senyum seorang gadis yang tidak dikenal memotong tertawaan Salsa.

Ya dalam perjalanan pulang tersebut tiba-tiba muncul seorang lelaki dan gadis yang tidak dikenali oleh Sylvia dan Salsa. Sang lelaki memiliki rambut hitam dengan mata yang berwarna ungu, dia juga memakai sebuah kacamata. Tampangnya bisa dikatakan cukup tampan meski usianya sekitar 25 sampai 30 tahun.

Dan seorang gadis yang disampingnya memiliki rambut kuning seperti kulit lemon yang sudah matang, matanya berwarna biru seperti batu aquamarine. Bentuk rambutnya bergelombang halus dengan baju gothic putih layaknya seperti seorang putri. Umurnya mungkin sama seperti Anggela dan yang lainya.

Sambil tersenyum yang mengerikan sang perempuan misterius berkata.

“Serahkan barang berharga kalian, jika tidak nyawa kalian akan melayang!”

Pe-perampok?!” gumam Sylvia dan Salsa terkejut dalam hati.

“Lear, kita ini penculik, bukan perampok,” keluh lelaki disebelahnya.

“Aku tau, aku hanya ingin mengatakan kalimat keren itu! Aku ingin mencoba peran sebagai perampok,” senyum manis gadis yang dipanggil Lear.

“Berhentilah bercanda, dan cepatlah selesaikan misi kita ini.”

“Kaku seperti biasanya,”  keluh Lear melirik Gram.

“……”

“Baiklah, bisa aku kuhabisi mereka!?” lanjutnya dan mengeluarkan aura membunuh pada Sylvia dan Salsa. Dia berjalan pelan menghampiri Salsa dan Sylvia yang ketakutan. Tapi.

“Tunggu! Kamu tidak benar-benar berniat membunuh mereka berdua kan!” tanya Gram khawatir.

“Enggak lah! Misi kita kan hanya menculik mereka, aku hanya akan mematahkan kaki mereka.”

“Kamu memang sadis seperti biasanya yah. Bersikaplah lebih baik Lear, kamu seorang putri kan?!”

“Sudah kubilang jangan bahas masalah itu lagi.“

“Tu-tunggu sebenarnya ap-apa mau kalian ini?” tanya Salsa dengan nada ketakutan.

“Woah reaksi yang lambat, “ senyum Lear.

“Apa kalian penculik yang meresahkan warga itu?!” tanya Sylvia dengan nada serius.

“Benar itu kami,” senyum manis Lear.

“Si-sialan!! Jadi kalian yang menculik murid HoK –“ teriak Sylvia tapi perkataannya terhenti karena mendapatkan serangan berupa tombak kaca yang mengenai perutnya. Tombak kaca tersebut cukup besar hingga bisa menembus perut Sylvia sampai kepunggungnya.

Seketika Sylvia langsung batuk mengeluarkan darah dan akhirnya pingsan karena mendapatkan luka yang cukup parah.

“Aku benci jika seorang gadis cantik berteriak didepanku!” kesal Lear sambil terus mengangkat tangan kanannya ke arah Sylvia yang terjatuh.

“Sy-Sylvia!! “ teriak Salsa menangis sambil mencoba membangunkan sahabatnya.

“Kamu tidak membunuhnya kan?” tanya khawatir Gram.

“Tentu saja tidak. Tenang saja, aku tidak melukai bagian vitalnya kok.”

“Begitu? Baguslah.“  Gram lalu berjalan menghampiri Sylvia dan Salsa.

“Ap-apa yang kalian mau dari kami? Apa kalian perlu uang? Ak-aku punya kok, jadi tolong lepaskan kami khusunya Sylvia!” Salsa menangis memohon kepada lelaki bernama Gram.

Gram hanya terdiam dengan pandangan yang seolah tidak peduli pada Sylvia dan Salsa, dia terus berjalan menghampiri mereka berdua.

“Ba-baiklah, apapun akan kulakukan asal lepaskan sahabatku!! Tolonglah, dia menderita luka yang sangat parah!!” Teriak Salsa memohon.

Gram tidak menjawab teriakan Salsa, dia menghentikan langkahnya tepat dihadapan mereka berdua. Dia membungkukkan badannya lalu tangannya bergerak mencoba menyentuh kepala Salsa.

Salsa hanya memejamkan matanya karena ketakutan oleh Gram. Tapi.

“Tenang saja, aku tak akan melukaimu. “ Senyum Gram sambil mengusap-ngusap kepala Salsa yang terus mengeluarkan air matanya.

“Kami hanya akan membawamu. Tenang saja aku akan segera mengobati luka sahabatmu,” lanjutnya lalu berdiri dan mengarahkan tangannya pada Sylvia dan Salsa.

Teleport!” jelasnya.

Seketika muncul sebuah persegi empat dimensi yang cukup besar dari atas Sylvia dan Salsa. Lalu persegi dua dimensi itu bergerak kebawah melewati Sylvia dan Salsa. Secara perlahan tubuh Sylvia dan Salsa menghilang ketika persegi dimensi itu melewati meraka. Ya mereka berdua dipindahkan lebih tepatnya di teleport oleh Gram.

“Lear, kamu harus memperbaiki sifat burukmu itu,” kesal Gram.

“Yaaaa!” Lear dengan nada meremehkan.

“Huuh, sepertinya aku harus melaporkan ini lagi padanya.“ Gram dengan nada mengeluh.

“Ja-jangan!! Aku enggak akan melakukan hal itu lagi kok ”  Lear dengan nada yang mulai ketakutan.

“Anehnya, kenapa Kineser tingkat atas yang kuat sepertimu bisa tunduk padanya?!” senyum Gram.

“Diamlah, bukankah kamu sama saja denganku?” Lear dengan muka yang memerah.



***

Bagian Ketiga :

“Be-Benarkah itu?! Sylvia dan Salsa juga diculik?!” tanya Anggelina kaget pada sahabatnya.

“Tenanglah Anggelina! Jangan keras-keras!” jawab Shina dengan nada khawatir.

Mereka berdua diculik kemarin?! Jadi pulang secara berkelompok juga percuma saja. Sepertinya musuh benar-benar Kineser yang kuat,” batin Anggelina khawatir.

“Shina, jangan beritahu orang lain lagi tentang masalah ini! Bisa-bisa kehebohan di sekolah tambah parah,” Hizkil dengan nada khawatir.

“Tapi Shina darimana kamu dengar berita ini?” tanya Eliza penasaran.

“Saat aku mau menyerahkan tugas, aku tidak sengaja mendengarkan percakapan tersebut di ruang guru.”

“Tidak kusangka musuh akan bergerak lebih cepat dari dugaan kita,” khawatir Hizkil.

“Apa Kak Keisha juga sudah tau tentang masalah ini? Kenapa dia tidak mengatakannya kepadaku?” Anggelina dengan nada panik.

“Tenanglah Anggelina, untuk sekarang kita harus tenang.“ Hizkil mencoba menenangkan Anggelina.

“Aku tidak bisa tenang saja jika korban terus bertambah seperti ini! Apalagi korban dari penculikan itu adalah murid dari HoK!”

“Aku tau perasaanmu, tapi yang harus kita pikirkan sekarang adalah kenapa mereka terus menyerang murid HoK? Kenapa tidak yang lainnya?!” Hizkil memasang muka kebingungan.

“Emm bukankah semua korban sebelumnya merupakan kineser tingkat dua kebawah?!” khawatir Shina.

“Iya, memangnya kenap …. –“ Hizkil akan tetapi langsung terdiam terkejut. Wajahnya yang terlihat khawatir mulai bertanya kembali.

“Jangan bilang?!!”

“Iya tidak salah lagi! Mayoritas murid HoK adalah kineser tingkat dua kebawah,” Shina dengan wajah cemas.

“Penculik akan kembali melakukan aksinya pada murid HoK!” Anggelina dengan nada kesal.

“Aku harus melaporkan ini kepada Kak Keisha!” Hizkil sambil berdiri dari tempat duduknya.

“Ya, bilang ke Kak –“ Anggelina.

“Hey teman-teman, sepertinya kurang bagus membicarakan masalah serius seperti ini di dalam kafeteria. Haruskah kita Pindah? Semua murid dari tadi melihat ke arah kita,” tanya Eliza dengan nada khawatir.

“Tidak apa, pembicaraan kita sudah selesai. Dan sepertinya bel masuk juga hampir berbunyi.” Shina sambil berdiri dari tempat duduknya.

“Hizkil, nanti pulang sekolah kita harus melaporkan masalah ini pada Kak Keisha,” jelas Anggelina dengan nada serius.

“Ya kamu ben –“

BUARRRRR!!!

Perkataan Hizkil langsung terpotong oleh sebuah ledakan yang cukup besar dari tembok kanan kafeteria.

Seketika muncul asap tebal dari ledakan tersebut yang membuat beberapa murid panik, mereka berlari berhamburan keluar dari kafeteria.

“Kyaaa!!”

“Apa yang terjadi?!”  Itulah beberapa teriakan murid yang berhamburan keluar.

Apa yang terjadi?” gumam Anggelina terkejut dalam hatinya, dia lekas berdiri sambil terus melihat asap hasil ledakan tersebut.

“Musuh?!” tanya Shina panik.

“Seseorang cepat panggil guru!” teriak Hizkil dengan nada cemas.

“Aku yang akan melakukannya!” Eliza dengan nada cemas lalu berlari keluar menuju ruang guru.

Dari Asap hasil ledakan muncul seorang gadis dan lelaki sebelumnya. Ya mereka adalah Gram dan Lear. Mereka berjalan pelan keluar dari asap tersebut.

Sambil memasang senyuman yang manis Lear berkata.

“Sudah kubilang, kita harusnya melakukan ini dari awal! Misi kita kan akan jadi lebih cepat selesai.”

“Kamu tidak salah Lear, tapi jika kita melakukan ini –“ Gram perkataannya terhenti karena melihat Anggelina dan yang lainnya.

“Lear, hati-hati dengan gadis yang berambut putih itu. Dia kineser tingkat empat dan juga merupakan adik kandung dari sang bintang,” lanjutnya sambil terus melihat Anggelina.

“Hoo... akhirnya ada musuh yang cukup kuat! Kalau begitu, perkenalkan namaku Schwzere Deleare, umurku 17 tahun, bintangku virgo, berat 46kgi, tinggi ehmm …. 165 cm mungkin.

Aku kineser tingkat 5 dengan tipe Hyalokinesis. Oh iya, aku ini berasal dari daerah Frosy,” senyum Lear sambil membungkukkan badannya layaknya seorang putri.

Lalu setelah Lear melakukan hal tersebut dia langsung melihat Gram yang sedang berdiri disampingnya, tatapan Lear seolah-olah sedang menyuruh Gram untuk ikut memperkenalkan diri.

“Gramior Behavior! ” jelas Gram sambil memegang kacamatanya.

“Haah?!! Cuman segitu?! Jangan becanda, aku udah panjang lebar memperkenalkan diriku, aku udah keren-kerennya memperkenalkan diriku. Jangan membuatku terlihat bodoh didepan musuh kita!” teriak kesal Lear pada Gram.

“Sabarlah, kita disini bukan untuk memperkenalkan diri kita, kita disini mau menculik kineser tingkat dua kebawah, jangan lupakan misi kita.”

“Tapi –“ kesal Lear.

“Lagipula kamu ini bodoh atau apaan sih? Memberikan Informasi pada musuh dengan mudahnya, apa kamu ingin mereka tau kelemahan kamu?!” Gram terlihat memberi nasihat pada Lear.

“Ma-maaf aku gak berpikir sejauh itu. Terus, apa yang harus aku lakukan?!”Lear dengan nada cemas.

“Entahlah bodoh.”

“Emm kalau gitu kalian lupain aja semua perkataanku tadi yah?” senyum manis Lear melihat Anggelina dan yang lainnya.

“Ma-mana bisa bodoh!! Memangnya kamu ini anak kecil hah?” Hizkil dengan nada kesal.

Umm …, apa mereka berdua ini benar-benar penculik?” batin Shina keheranan melihat Lear dan Gram.

“Gak mau yah? Kalau gitu kalian mati aja ….,“ Lear sambil mengeluarkan aura membunuhnya.

“…….” Dalam sekejap suana menjadi sangat mencekam. Hizkil dan yang lainnya mulai memasang wajah khawatir karena intimidasi gadis bernama Lear.

“Lear sudah kubilang tahan sedikit sifat psikopatmu, kita hanya ditugaskan menculik mereka. Jika kamu ingin membunuh seseorang, cari saja kineser dengan tingkat 3 keatas.”

“Ja-jangan anggap remeh aku! Sini lawan aku, aku akan menghabisi kalian berdua sekaligus!!” teriak Anggelina memberanikan diri.

“Tenang Anggelina, kita masih belum tau kemampuan bertarung mereka. Dan gadis yang bernama Lear itu sepertinya tingkat 5, dia termasuk tingkat atas!” Hizkil mencoba menenangkan Anggelina.

“Berisik Kak, kita harus segera menangkap mereka keburu mereka kabu –“ Anggelina tetapi langsung terpental karena mendapatkan serangan berupa dinding kaca yang dibuat oleh Lear. Dinding kaca itu melayang sangat cepat, sehingga Anggelina tidak sempat menghindarinya.

BUAAKKK!! WUINGGG!! DUAAAK!!

Dia terpental cukup jauh hingga menabrak dinding tembok kafeteria, kepalanya terbentur cukup keras sehingga membuatnya menjadi tidak sadarkan diri.

“Langsung pingsan? Lemahnya ….!” Lear dengan nada mengeluh sambil melihat Anggelina yang tidak sadarkan diri.

“Anggelina!” teriak Shina berlari menghampiri Anggelina. Wajahnya terlihat khawatir ketakutan.



***

Bagian Keempat:

Dengan serangan mendadak yang dilakukan Lear tadi, pertarungan pun bisa dikatakan telah dimulai. Terlihat Hizkil langsung bersiaga sambil mengamati Lear dan Gram.

Gram hanya terdiam sambil memasukan kedua tangannya kedalam saku, sedangkan Lear mulai melangkahkan kakinya mendekati Anggelina.

Woaah jika Anggela melihat kejadian ini, dia pasti langsung mengamuk,“ batin Hizkil khawatir.

“Ok selanjutnya –“ Lear tersenyum lebar, tapi perkataanya tidak selesai karena mendapat serangan dari Hizkil yang telah berteleport tepat didepannya.

Hizkil mencoba memukul muka Lear dengan tangan kanannya, tapi dengan cukup cepat Lear dapat menghindarinya serangannya tersebut. Dia menghindari serangan tersebut dengan mundur ke belakang beberapa cm.

“Waah hampir saja!!” khawatir Lear.

Hoo, tipe teleport kah?” batin Gram melihat Hizkil.

“Baiklah, aku akan mulai serius –“ senyum Lear bersemangat.

“Ke-kenapa mantan seorang putri dari kerajaan Prussia melakukan ini semua?!” teriak Shina bertanya khawatir memotong perkataan Lear.

“Wow, ternyata namamu masih cukup terkenal yah Lear, ehmm atau harus kupanggil kamu Putri Schwzere,” senyum Gram melihat Lear.

“Kamu mengenalnya Shina?” tanya Hizkil sambil berbalik melihat Shina.

“Aku tidak pernah bertemu dengannya, tapi aku mengenalnya! Beliau sangat terkenal dikalangan keluarga bangsawan. Aku tidak menyangka kalau Putri Schwzere merupakan salah satu dari kineser tingkat atas,” jawab Shina sambil terus melihat Lear yang menundukkan kepala.

“Kalau begitu kenapa dia melakukan –“ Hizkil perkataanya tidak selesai karena mendapatkan sebuah serangan mendadak dari Lear.

Lear menyerang Hizkil dengan skill yang sebelumnya, skill yang dia gunakan untuk membuat Anggelina pingsan. Seperti halnya Anggelina, Hizkil terpental cukup jauh ke arah tembok kafeteria, tapi saat 1m hampir menabrak tembok tersebut, dia berteleport ke tempat Shina dan Anggelina. Dia berdiri sejajar dengan Anggelina dan Shina, terlihat dari mukanya yang kesakitan karena mendapatkan serangan dari Lear.

“Perhatikan lawanmu jika sedang bertarung!!” teriak Lear sangat kesal.

Gawat, dia terlihat marah sekarang ….,” khawatir Hizkil.

“Dengarkan aku!! Aku sudah membuang statusku sebagai seorang putri dari negara yang dulu dipanggil Jerman itu! Jadi jangan pernah membahasnya lagi!” lanjutnya dengan nada kesal.

“Hmm, tapi bukankah masih ada satu pelayan yang setia mengikutimu?” Gram tersenyum sambil memalingkan wajahnya.

“Diam kau!!” teriak kesal Lear sambil menatap tajam Gram.

“Sialan! Lagipula kenapa hanya aku saja yang mereka kenal, bukankah kamu juga sama terkenalnya!! Seluruh anggota Adjoin sudah pasti akanmengenalmu!!” lanjutnya sambil menunjuk Gram.

“Ya, tapi sayangnya disini tidak ada anggota adjoin jadi –“ senyum Gram.

“Tu-tunggu?! Gra-Gramior?! Aku pernah mendengar nama itu, tapi dimana yah?!” Hizkil mulai terlihat khawati.

“Hoo ..., sepertinya disini ada anggota Adjoin, bagaimana Gram? Sepertinya dia mengenalimu,” senyum Lear melihat Gram.

“…….” Gram hanya terdiam khawatir sambil melihat Hizkil yang sedang berpikir.

“Baiklah aku kasih kata kunci, julukannya adalah Dimensi –“ Lear.

“Schwzere Deleare!!” teriak kesal Gram melihat Lear.

Dimensi?... Ahhh aku ingat dia sekarang !” Gumam Hizkil dalam hatinya, wajahnya mulai terlihat terkejut ketakutan.

“Aku ingat, Ka-kamu adalah mantan atasannya Kak Keisha!!” teriak kaget Hizkil sambil menunjuk Gram.

“Woah dia mengetahuinya!! Bukankah bisa berbahaya kalau Sang Bintang mengetahui hal ini?!” tanya Lear dengan nada sedikit mengejek.

“Sh-shina kamu bawa Anggelina dan cepat pergi dari sini!! Kita mustahil mengalahkan mereka berdua, khususnya lelaki itu!” jelas Hizkil sambil memasang muka yang sangat khawatir.

“Ap-apa mereka sekuat itu?!” Shina memasang muka penasaran.

"Aku tidak tau pasti, tapi mereka mungkin sangat kuat."

Selagi Hizkil dan Shina mengobrol, Gram berjalan menghampiri Lear. Dia berbisik.

“Lear, kita bunuh lelaki yang bernama Hizkil itu!” bisik Gram kepada Lear sambil memasang muka serius.

“Aku tahu, bisa bahaya kalau Sang Bintang mengetahui identitas kita. Mungkin dia tidak akan percaya kalau musuhnya adalah mantan atasannya,” senyum Lear berbisik kepada Gram.

“Tenang saja, dia tidak kuat kok. Dia malah lebih lemah dari aku,” Lear tersenyum sambil menunjuk Gram yang memasang muka serius.

“Ja-jangan berlagak bodoh!“ teriak kesal Hizkil yang ketakutan.

“Dia adalah Kineser Terkuat Ketiga di era ini!! Dimensional Trooper, Gramior Behavi –“

JLEBBBBB

“Eh ….?” Hizkil terdiam karena mendapatkan tikaman dibelakang punggungnya.

“Kak Hizkil!!” teriak Shina semakin panik melihat Hizkil yang berlumuran darah.

Gram membuat sebuah dimensi dibelakang Lear dan Hizkil. Kedua dimensi yang dibuat oleh gram tersebut saling berhubungan. Jika kita melemparkan sebuah benda kedalam salah satu dimensi tersebut, maka benda tersebut akan keluar dari dimensi yang lainnya. Lear melemparkan sebuah pedang kaca pada dimensi dibelakangnnya, dan pedang kaca itu seketika muncul dibelakang Hizkil dan menikam punggungnya.

“Sekarang bagaimana?” tanya Lear melihat Gram.

“Setelah kita membunuh lelaki tersebut, kita akan selesaikan misi kita!” jawab Gram sambil berjalan menghampiri Shina dan yang lainnya.

“Tidak apa kan membiarkan dia hidup? Lagipula jika Keisha bergerak, dia bukan ancaman bagi kita! Bukankah dia lebih lemah daripada kamu?!” tanya Lear kebingungan.

“Itu dua tahun yang lalu, kita tidak tau seberapa kuatnya dia sekarang!” jawabnya sambil terus berjalan menghampiri Shina, dia seakan-akan sudah siap membunuh Hizkil.

“Nafsu membunuhku sudah hilang! Ayo kita selesaikan misi kita saja, drama harianku sebentar lagi akan dimulai.” Lear dengan nada malas.

“Tapi bagaimana dengan dia? Apa kita akan membiarkan ancaman itu hidup?!” tanya kesal Gram berbalik melihat Lear.

“Tenang saja, dengan luka yang separah itu mustahil baginya untuk berbicara. Dia hanya akan terkurung dirumah sakit.”

“Ini bukan kamu yang seperti biasanya, Kenapa kamu begitu peduli padanya?!” Gram dengan nada semakin kesal.

“Prinsipku adalah mengikuti kata hatiku. Jika aku ingin membunuh seseorang, maka aku akan membunuh orang itu, meskipun orang itu adalah sahabat atau keluargaku. Sebaliknya jika aku tidak ingin membunuh seseorang, maka aku juga tidak akan membunuh orang tersebut, meskipun orang tersebut adalah musuh terbesarku!” Lear dengan senyuman yang manis.

“Lakukan sesukamu! Jika terjadi sesuatu jangan salahkan aku!!” Gram terlihat sangat kesal memejamkan mata.



***


My Dearest Jilid 1 Chapter XVIII Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.