19 September 2015

My Dearest Chapter XVII

JILID 1 CHAPTER XVII
KEJADIAN YANG SEBENARNYA


Bagian Pertama:

“Haah?! Ap-apa katamu? Apa makasudmu kalau kamu juga terlibat dalam … –“ tanya Sylvia terkejut, tapi langsung terdiam dan segera berbalik melihat Anggela yang telah memotong perkataannya.


“Hizkil!!  Sialan kau –“ teriak kesal Anggela mencoba berdiri, tapi dia langsung terjatuh kembali karena lukanya yang mulai terbuka. Perkataanya terhentikan oleh batuk yang mengeluarkan darah.

Uhuk uhuk!

“Kak, tolong jangan banyak bergerak! Kondisi kakak bisa memburuk,” Anggelina yang khawatir terlihat menolong Anggela yang terjatuh.

“Ak-aku akan panggil guru,” khawatir Shina sambil berjalan ke arah pintu keluar.

“Enggak, jangan Shina!” lirik Anggelina pada Shina.

“Eh ….?”

“Tolong hubungi Kak Keisha aja, cepat!” lanjutnya dengan nada semakin khawatir.

“Iy-iya!” Shina lalu mengeluarkan Handphonenya dan lekas berjalan keluar kelas.

“Ada apa ini? Bukankah kamu ini sahabatnya? Kenapa kamu malah menyerangnya?” tanya Eliza kebingungan melihat Hizkil.

“Maaf Anggela, aku harus menceritakan kejadian yang sebenar –“ jelas Hizkil menghiraukan pertanyaan Sylvia. Tapi kembali lagi, perkataanya langsung terpotong oleh teriakan Anggela yang semakin kesal.

“Apa kamu gila?! Apa kamu ingin dia sekarat lagi hah?!! Apa kamu ingin dia masuk rumah sakit lagi hah?! Hah hah hah …..,” dirinya terlihat mengambil nafas, nafasnya mulai berat, pandangannya terlihat kabur mulai tak sadarkan diri.

Masuk rumah sakit? Apa maksud kata ‘dia’ tadi itu mengacu pada Sylvia?” gumam Salsa melirik khawatir Anggela..

“Kakak!! Ud-udah aku bilang tolong tenanglah sebentar!! Luka kakak udah kebuka lagi ini. Nanti kalau kondisi kakak malah jadi tambah buruk gimana?!” Anggelina menangis sambil memeluk perut Anggela yang mulai mengeluarkan darah.

“An-Anggela perutmu! Perutmu mengeluarkan darah?! Apa kamu sedang dalam kondisi yang buruk?!” tanya Salsa terkejut bukan main.

Suasana dikelas saat itu menjadi semakin tegang, beberapa siswa hanya memasang wajah terkejut keheranan karena melihat kejadian ini. Di tambah lagi, mereka juga baru pertama kali melihat siswi paling populer di HoK memperlihatkan sisi kelemahannya .., yaitu menangis.

“Itu sekarang menjadi masalah dia, Anggela. Cepat atau lambat dia harus menerima kepergian ibunya,” lirik Hizkil pada Sylvia.

“Se-sebenarnya apa yang kalian berdua bicarakan daritadi? Apa ‘dia’ yang kalian bicarain itu aku? “ tanya Sylvia kebingungan.

“Sylvia, aku mau tanya satu hal lagi,” Hizkil tersenyum sambil melihat Sylvia.

“Ap-apa?” tanya Sylvia sedikit ketakutan.

“Kenapa ibumu bisa meninggal?”

“Itu karena ulahnya!! Ibuku mengorbankan hidupnya demi menyelamatkan dia yang hampir tertabrak f-car !” teriak kesal Sylvia sambil menunjuk Anggela.

“Dia bahkan tidak bersyukur dan malah menghina ibuku, dia tidak punya hati nurani!” lanjutnya bergeram kesal sendiri.

“Darimana kamu tau akan hal itu?! Apa kamu benar-benar melihat kejadian itu?!” tanya Hizkil mulai menaikkan kembali suaranya.

“En-entah kenapa aku tidak ingat tentang kejadian itu. Tapi Anggela yang bilang sendiri bahwa seperti itulah kejadiannya, “ jawab Sylvia sambil memalingkan wajahnya.

“Dan kamu percaya saja?! Orang macam apa yang menginginkan dirinya sendiri dibenci oleh orang lain?! Dia sengaja membohongimu demi kebaikan dirimu sendiri !!” kesal Hizkil.

“Iya Sylvia, jarang sekali ada orang yang sengaja mengakui kejahatannya. Coba kamu ingat-ingat lagi, apa yang sebenarnya terjadi di awal tahun itu …!” Salsa sambil melihat khawatir sahabatnya.

“Eh?” Sylvia hanya terdiam terkejut.

“Dengarkan aku Sylvia! Bukan ibumu yang menolong Anggela, tapi Anggela lah yang menolong kalian berdua dari kecelakaan itu!! Dia menolong kalian berdua dan mendapatkan patah tulang dibagian rusuknya!” kesal Hizkil menunjuk Anggela.

“Eh?” Sylvia memasang tatapan kosong dan mulai kembali mengingat kejadian satu tahun lalu itu.

“Be-benarkah itu?” tanya Sylvia dengan tatapan kosong kepada Anggela. Kedua tangannya bergemetar ketakutan.

 “Saat itu, saat penerimaan murid baru kita berdua tidak sengaja melihatmu dan ibumu yang sedang bertengkar. Lalu dalam waktu yang amat cepat datang sebuah F-car yang mendarat tiba-tiba ke arah kalian berdua. Anggela bergerak lebih cepat daripada teleport milikku. Untungnya kamu selamat tanpa mengalami luka dari kejadian itu, tapi sangat disayangkan bagi ibumu yang meninggal di tempat kejadian. Dan juga karena aksi heroiknya itu Anggela mendapati luka yang sangat serius sehingga dia harus dirawat di rumah sakit selama beberapa minggu. “

“Ka-kalau dipikir-pikir setelah upacara penerimaan itu, Anggela dan Sylvia tidak masuk sekolah selama beberapa minggu. Jadi karena itu yah …,” Salsa menganggukan kepala, wajahnya terlihat berpikir.

“Lalu kenapa Anggela harus repot-repot bertindak jahat di depan Sylvia? Bukankah itu sangat aneh?” tanya Eliza kebingungan.

“Beberapa minggu kemudian setelah kecelakaan itu, Anggela akhirnya dapat keluar dari rumah sakit, tapi hal tersebut tidak berlaku bagi Sylvia. Dia mendapatkan tekanan mental yang sangat berat saat dia mendengar kematian ibunya. Lalu –“ jelas Hizkil tapi langsung terpotong oleh seseorang yang memasuki kelas..

“Kak Anggela memutuskan untuk kembali menolongmu, dia bertanya pada dokter yang merawatmu tentang bagaimana cara menyembuhkan dirimu. Kalau tidak salah, dokter yang merawatmu berkata pada Kak Anggela seperti ini, ‘Ibunya merupakan pusat kehidupan bagi dirinya, tapi sekarang dia telah meninggal. Dia harus mendapatkan pusat kebencian atau kecintaan yang baru untuk melanjutkan hidupnya kembali’. Karena itulah kak Anggela berpura-pura bahwa dirinya yang telah membunuh ibumu, dengan begitu kamu dapat melanjutkan kehidupanmu dengan menaruh kebencian padanya ….. ” Jelas Alysha tersenyum melihat Sylvia. Penjelasan Alysha tersebut sontak membuat Anggela dan Hizkil terkejut.

“Da-darimana kamu bisa tau tentang kejadian itu?” tanya Hizkil sangat terkejut.

“Eh? Jadi semua yang dikatakan sam –,“ respon Sylvia cuman langsung terdiam dan pada akhirnya dia mulai mengingat semua tentang kejadian waktu itu. Dia akhirnya sadar kalau kematian ibunya merupakan kesalahannya dirinya sendiri.

Ak-aku ingat sekarang!! Kematian ibuku adalah salahku! Ibuku berlari mengejarku saat aku masih marah dengannya, aku marah hanya karena masalah sepele. Hanya karena aku ingin dia datang ke penerimaan siswa baru di HoK!! Kenapa aku bisa lupa!!” gumam Sylvia dalam hatinya yang sangat terkejut.



***

Bagian Kedua:

Ak-aku tidak percaya ini?! Jadi perlakuan Anggela kepadaku selama ini hanya untuk menolongku!!? Tapi bagaimana perasaannya sendiri?! Kenapa dia bisa kuat menahan kebencianku selama hampir setahun ini, ” gumam Sylvia dalam hatinya, air mata penyesalan amat berat mulai menetes dari kedua matanya.

Dia tertunduk menangis dan perlahan menghampiri Anggela, dia mulai duduk lemas tepat dihadapan Anggela dan berkata.

“Maaf! Maaf! Maaf! Maaf! Tolong maafkan aku! Aku tidak tau harus mengucapkan kata maaf berapa kali. Dan kamu juga mungkin tak akan pernah memaafkanku yang sudah membuatmu tersiksa selama hampir setahun ini, ” jelas Sylvia sangat menyesal, wajahnya dihiasi penuh oleh air mata penyesalan.

“Ak-aku gak peduli kamu mau apain aku! Tapi satu hal yang harus kusampaikan, aku ingin berterima kasih padamu karena sudah mencoba menyelamatkanku dan ibuku pada saat kejadian it –“ lanjut Sylvia tapi perkataanya langsung terpotong oleh Anggela.

Sambil tersenyum lemah dan memegang kepala Sylvia, dia berkata.

”Ahaha, se-sepertinya kamu sudah bisa menerima kepergian ibum …. –“ senyum Anggela dengan nada berat dan hampir pingsan. Tapi perkataanya terhenti karena sakitnya luka sebelumnya.

“Erghh ….,”

“Kak Anggela kamu enggak akan mati kan?!“ teriak khawatir Anggelina yang terus mengeluarkan air matanya.

Jadi begitu yah, jadi begitu alasan Anggela bersikap jahat di depan kami! Aku sungguh tidak tau kalau sikap jahatnya itu demi Sylvia. Sebenarnya seberapa besar batas kesabaran dan kepeduliannya terhadap orang lain.” Salsa terkejut gembira melihat Anggela, tatapan kagum pada dirinya juga terlihat di kedua mata Salsa.

“Hmmm, jadi itu yah alasan Anggela berpura-pura jahat dihadapan semua orang, terutama dihadapan Sylvia. Sungguh aneh ….., kamu sampai berbuat sejauh itu untuk menolong Sylvia. Apa ini karena kamu merasa kasian melihat Sylvia dalam kondisi itu, atau ini hanya sebuah penebusan dosamu terhadap dirinya yang –“ Jim sambil berjalan memasuki kelas Anggela.

“Kak Jim!” teriak amat kesal Hizkil memotong penjelasan Jim.

“Guru Jim lihat situasinya, jangan malah memperburuk suasana,” wali kelas A bernama guru Lina terlihat berjalan dibelakang  Jim. Wajahnya terlihat cemas melihat Anggela dan Anggelina.

“Ya ya aku juga mengerti. Lagipula kalau aku kasih tau semuanya, si cewek galak itu bakal ngamuk gak jelas, jadi –“ Jim tapi perkataanya terpotong oleh Keisha yang baru saja memasuki kelas tersebut.

“Siapa yang kamu maksud cewek galak hah?!” kesal Keisha.

“Hahaha, bercanda bercanda kok, ” Jim tersenyum ketakutan.

“Yang lebih penting cepat tolong adikmu itu, dia hampir mati kehabisan darah. ” lanjutnya sambil melihat Anggela yang sudah tidak sadarkan diri.

“Hei kalian semua, cepet tolong Anggela, ” teriak keisha pada seluruh dokter yang datang dengannya.

Keisha? Bukankah itu Keisha sang bintang?” gumam kagum beberapa siswa melihat Keisha.

“Kak Keisha, gimana keadaannya kak Anggela? Dia enggak akan mati kan?” Anggelina sambil berusaha mengusap air matanya.

“Udah gak apapa, ” senyum Keisha sambil mengelus-ngelus kepala adiknya.

Setelah kedatangan Keisha suasana tegang pun akhirnya menghilang, terlihat beberapa siswa memandang kagum Keisha yang merupakan Kineser tingkat atas. Saat itu juga, saat semua pandangan tertuju pada Keisha, Alysha berjalan pelan menuju pintu keluar, dia berniat keluar dari situasi tersebut. Tapi.

“Tunggu Alysha Aeldra, ” sedih Keisha melihat Alysha yang sedang berjalan menuju pintu keluar.

“Maaf atas ketidaksopananku Kak Keisha, ” Alysha dengan nada sedih lalu membungkuk layaknya tuan putri.

“Ae-Aeldra?” tanya Hizkil dan Jim terkejut bukan main.

“Ya dia adiknya, ” jelas Keisha dengan tatapan sedih melihat Alysha.

“Pantas saja, dari tadi aku penasaran dengan dia karena mukanya yang sangat mirip dengannya,” Hizkil tersenyum sedih memejamkan mata.

“Jadi sudah dimulai ya?” lanjutnya bertanya sambil melihat Keisha dengan tatapan sedih.

“Tidak kusangka putri bungsu dari keluarga pahlawan akan bersekolah disini,“ senyum sedih Jim melihat Alysha.

“Apa Heli serius ingin melakukan ini?” tanya Keisha dengan nada sedih pada Alysha.

“Ya, mau tidak mau dia harus mengetahui kebenaran pahit itu, “ senyum sedih Alysha melihat Anggela yang tidak sadarkan diri.

“Ta-tapi bagaimana kalau peristiwa tiga tahun yang lalu itu terjadi lagi? Anggela mungkin masih belum menerima kenyataan itu. ” Keisha memasang muka sangat khawatir pada Alysha.

“Iya aku setuju dengan Kak Keisha, mungkin kita harus menunggu lebih lama lagi ….,” Hizkil ikut memasang muka khawatir.

“Kami juga ingin seperti itu, tapi kita tidak punya banyak waktu. Badai akan segera datang, itu yang dikatakan kakak tertuaku, ” senyum sedih Alysha.

“Heli mengatakan seperti itu?!” Keisha terlihat sangat terkejut..

“Badai? Apa maksudnya kak?” Tanya Hizkil penasaran.

Badai? Apa maksudnya pemberontakan? Apa mereka sudah mulai begerak?” gumam Jim khawatir dalam hatinya.

“Untuk lebih detailnya biar nanti kakakku saja yang menjelaskan. Untuk sekarang aku permisi dulu,” Alysha kembali membungkukkan badannya ke arah Keisha dan berjalan pergi keluar kelas.

“Kak Keisha apa maks –“ Anggelina terpotong perkataanya oleh Keisha.

“Bukan apa-apa, ” senyum sedih Keisha pada Anggelina.

“Tapi sebenernya siapa yang sudah membuka luka Anggela seperti ini, “ lanjutnya bertanya  dengan nada kesal.

Dengan tatapan marah yang lucu Anggelina menunjuk Hizkil. “Dia .“

“Hizkil?!” geram Keisha kesal.

“An-anu, itu banyak al-alasannya kak, ” respon Hizkil terlihat ketakutan sambil memalingkan wajahnya.

“Apapun alasannya, kamu gak usah menyerang dia juga kan, Anggela masih dalam pengobatan atas lukanya yang dia terima dua minggu lalu, ” jelas Keisha sambil menutup matanya.

“Eh luka? Jadi dia terluka?” tanya Sylvia dan Salsa terkejut.

“Eh iya, dua minggu yang lalu Anggela mendapatkan luka yang cukup parah karena melindungi  Anggelina, jadi dia tidak masuk sekolah selama dua minggu. Emang kalian belum tau y –“ Keisha cuman terpotong oleh Hizkil.

“Kak Keisha, bukankah kakak sendiri yang merahasiakan ini dari seluruh siswa HoK!”

“Eh benarkah?”

Ak-aku tidak percaya, jadi itu alasannya Anggela tidak sekolah selama dua minggu?! Aku jadi merasa sangat bersalah padanya, ” mungkin semacam itulah pikiran Salsa, Sylvia, dan teman sekelas Anggela.

“Iya, apa kakak lupa itu kan permintaan Kak Anggela sendiri!” senyum Anggelina melihat kakak kembarnya.

“Begitu yah, Aduh anak ini! Jika kakak tau kejadiannya akan seperti ini, kakak pasti tidak akan menuruti permintaanya,” kesal Keisha melihat Anggela.

“Tapi yang terpenting kakak harus bawa Anggela ke rumah sakit dulu!” lanjut Keisha sambil berjalan ke arah pintu keluar, beberapa dokter yang membawa Anggela juga terlihat mengikutinya.

“Aku ikut kak, ” Anggelina sambil berlari mengikuti Keisha.

Mereka berdua pun pergi. Sementara Hizkil, Shina, dan Eliza kembali ke kelasnya masing-masing karena bel masuk sudah lama berbunyi.

Setelah kejadian itu semua siswa yang sekelas dengan Anggela terkejut terutama Sylvia, dia tidak menyangka bahwa Anggela ternyata pria yang sangat baik. Pusat kehidupan Sylvia pun berubah dari yang sebelumnya menaruh kebencian terhadap Anggela menjadi pusat yang menaruh kagum pada Anggela.

Dan untuk beberapa bulan kedepan Anggela tidak mengikuti sekolah, dikarenakan kondisinya yang memburuk, dia harus dirawat dengan intensif sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama.



***

Bagian Ketiga:

“Anggelina!!” teriak Eliza sambil berlari menghampiri Anggelina.

“Ohh Eliza, selamat pagi,” senyum Anggelina melirik dirinya.

“Pagi, Kamu denger berita tentang itu lagi gak?”

“Tentang penculikan itu kan?”

“Iya yang itu! Ini udah Ke-12 kalinya. Bukankah ini sedikit menakutkan? ”

“Em iya, dan yang anehnya korban yang diculik itu semuanya kineser tingkat 2 kebawah.”

“Aku pikir penjahatnya merupakan organisasi kineser tingkat atas! Bahkan Adjoin pun masih belum bisa menangkapnya.”

“Ya aku juga sempat berpikir seperti itu, tapi apa motifnya yah?” tanya Anggelina penasaran.

“Entahlah, tapi mulai dari sekarang kita harus sering bersama-sama agar tidak menjadi target dari penculik itu,” Eliza terlihat khawatir.

“Ya kamu benar. Ngomong-ngomong kita lari yuk, ini sudah hampir jam delapan. Aku gak mau kesiangan terus.” Anggelina yang khawatir mulai berjalan cepat. 

“Yuk.” Eliza lalu berlari.

“Eh tunggu!” Anggelina dengan nada sedikit kesal lalu berlari mengejar Eliza

Ya, Beberapa hari setelah Anggela masuk rumah sakit muncul masalah baru, muncul kelompok atau organisasi yang mencoba menculik kineser tingkat 2 kebawah. Motif mereka sampai saat ini masih belum diketahui.

Selain itu juga Adjoin yang menangani masalah ini masih belum menemukan titik temu masalahnya. Bahkan ketua Adjoin di cabang Dealendra yaitu Keisha merasa kesulitan dengan munculnya kasus ini. Kasus ini merupakan hal pertama yang terjadi di Dealendra.

Oh ya, dan juga pandangan seluruh siswa HoK pada Anggela pun mulai berubah. Setelah insiden Sylvia waktu itu, Anggela mulai menjadi sangat terkenal di HoK. Bahkan identitasnya sebagai saudara kembar Anggelina pun benar-benar sudah terbongkar.

“Yess!! Kita selamat!” Eliza yang kelelahan terlihat berjalan pelan memasuki kelas.

“Capek! Aku mau pulang ….,” Anggelina memasang wajah kelelahan.

“Pulang? Kita ini kan baru saja sampai disekolah, masa mau balik lagi? Aneh-aneh aja kamu ini,” Eliza tersenyum keheranan.

“Tumben kalian cepet banget! Apa ada keperluan?” tanya Shina sambil berjalan menghampiri mereka berdua.

“Eh? Yang lainnya pada kemana?” tanya Eliza penasaran.

“Mungkin mereka masih dirumahnya masing-masing. Ini kan masih jam tujuh.” Shina memasang muka keheranan.

“Ja-jam tujuh?!” Tanya Eliza dan Anggelina bersamaan, keduanya terkejut mendengar pernyataan sahabatnya tersebut.

“Iya, memangnya kenapa?” tanya Shina kebingungan.

“Ang-ge-li-na?!” tanya Eliza menahan kesal.

“Ahh ternyata jam miliku mati. Maaf …..,“ Senyum Anggelina.

“Ya terserah deh, yang penting kita gak kesiangan,” senyum Eliza.

“Tapi tenaga kita habis terkuras.” Anggelina dengan muka mengeluh.

“Memangnya itu salah siapa?”

“Ahahaha, oh iya ngomong-ngomong kamu sering datang jam segini yah Shina?” tanya Anggelina  melihat Shina.

Dia malah mengganti topik pembicaraan! Dasar !” gumam Eliza tersenyum

“Enggak terlalu sering juga sih, ” senyum Shina.

“Kamu udah banyak berubah yah Shina, ” senyum Eliza melihat Shina.

“Be-berubah? Maksudnya?” tanya Shina penasaran.

“Sebelum kamu jatuh cinta sama Anggela, kamu terkadang memiliki sifat arogan, dan menganggap laki-laki di dunia ini adalah musuhmu,” senyum Eliza.

“Eh kamu menyukai kakak aku? Serius ?” tanya Anggelina terkejut.

“Ahhh Eliza, jangan bilang kata ‘jatuh cinta’ segampang itu!! Aku jadi malu.” Shina dengan wajah yang mulai memerah.

“Emhh lucunya, ” senyum Eliza memandang Shina.

“Ja-jadi beneran itu?” Anggelina sungguh terlihat terkejut.

“Kamu baru sadar sekarang Lina? Padahal sikapnya terlihat jelas kalau dia dekat dengan Anggela, ” jelas Eliza.

“Tapi bukankah dia sudah membuang kakakku? Aku kira dia tidak mungkin menyukainya, ” jelas Anggelina sambil menunjuk Shina.

“Eh kamu tau tentang kejadian itu?” tanya Eliza sedikit terkejut.

“Tau, Kak Hizkil yang menceritakan padaku waktu itu. Iya kan Shina?” tanya Anggelina lalu melihat Shina.

“Iya.”

“Ehh?! Dia juga tahu?! Sejak kapan?” tanya Eliza terkejut.

“Umm bentar, ngomong-ngomong mau sampai kapan kita berdiri seperti ini? kakiku mulai pegal nih, ” Shina terlihat berjalan menghampiri tempat duduknya.

“Iya aku juga,” senyum Anggelina lalu berjalan menghampiri di tempat duduk miliknya.

Anggelina dan Shina duduk di tempat duduknya yang saling berdekatan, sedangkan Eliza duduk di bangku salah satu temannya karena tempat duduknya yang cukup jauh dari mereka berdua.

“Jadi sejak kapan kak Hizkil tau kejadian itu?” tanya Eliza.

“Sejak awal, Kak Hizkil dan Anggela sudah mengetahui rencanaku sejak awal,” keluh Shina.

“Ehh? Me-mereka berdua sudah tau?! Lalu kenapa Anggela masih tetap saja datang ke pertemuan itu?!” tanya Eliza sangat terkejut.

“Di-dia sengaja datang demi aku, ” Shina dengan muka memerah, dia mengalihkan pandangannya yang malu-malu.

“Hah?! Maksudnya?” tanya Eliza penasaran.

“Iyaa, dia sengaja datang demi aku. Dia berpikir jika dirinya tidak datang pada pertemuan itu, aku hanya akan mempermalukan diriku sendiri !” jelas Shina dengan muka yang semakin memerah.

“Begitu yaah, jadi itu alasan kamu suka sama dia?” tanya Eliza tersenyum menggoda sahabatnya.

“Bukan itu aja sih, masih banyak alasan yang lainnya,” Shina dengan nada pelan sambil kembali memengalihkan pandangannya.

“Apa? Apa itu?” tanya Anggelina penasaran.

“Dia juga pernah menyelamatkan nyawaku saat aku hampir tertabrak f-car,” jelas Shina dengan nada pelan.

“Wow, sudah kuduga dari Kak Anggela! Dia memang hebat!” kagum Anggelina..

“Awalnya aku tidak percaya pada semua lelaki didunia ini, semua lelaki itu bajingan. Bahkan ayahku juga seperti itu, dia meninggalkanku dan ibuku ….!! ” Shina bergeram kesal memejamkan mata.

“Jadi itu sebabnya kamu menganggap lelaki hanya sebagai mainanmu, kamu hanya mencari lelaki yang akan menaikan popularitasmu dan melindungimu dari lelaki yang seperti ayahmu”

“Emm …,” jawab Shina menganggukan kepalanya.

“Tapi setelah kamu melihat sifat kakakku pikiran kamu berubah kan? “ tanya Anggelina tersenyum kepada Shina.

“Iya, pikiranku berubah. Dia berbeda dari semua lelaki yang aku temui, aku tidak menyangka kalau ada lelaki sebaik dia,” Shina tersenyum pada Anggelina.

“Tapi sepertinya pandangan semua siswa di HoK juga sudah berubah pada Anggela, Dia menjadi terkenal sejak kejadian itu. Bahkan punya penggemarnya sendiri, ” senyum Eliza.

“Emm iya, Kakak  pantas mendapatkannya. Dia mengorbankan tenaga dan waktunya demi orang lain! Bukankah itu sesuatu yang jarang orang lain bisa lakukan?”

“Tapi Anggelina, apa sejak kecil Anggela memang memiliki sifat seperti itu? “ tanya Shina melihat Anggelina.

“Emhh yang aku inget itu dia cuman sering mengusiliku, bahkan sampai membuatku menangis. Aku tidak pernah ingat kalau Anggela mempunyai sifat rela berkorban yang besar seperti sekarang, ” jelas Anggelina memasang muka berpikir.

“Benarkah!?” tanya Eliza dengan nada sedikit terkejut.

“Iya, aku mulai berpikir kalau sesuatu yang besar terjadi pada masa lalu kak Anggela, sesuatu yang merubah sifatnya, ” jelas Anggelina memasang muka curiga.

“Iya aku juga berpikir seperti itu, pasti telah terjadi sesuatu pada Anggela di masa lalu. Aku masih penasaran maksud perkataan kak Keisha tentang ‘tragedi yang mengerikan’ “ jelas Eliza berpikir lalu melihat Anggelina.

“Aku juga penasaran dengan masa lalunya, ” jelas Shina memasang muka antusias.

“Aku sering bertanya ke Kak Keisha tentang masalah ini, tapi dia selalu saja mengganti topik pembicaraan,” keluh Anggelina.

“Eh tunggu! Sepertinya Alysha juga tau tentang masalah ini. Saat kejadian Sylvia waktu itu, dia dengan kak Keisha berbicara tentang sesuatu yang tidak kita pahami.” Shina.

“Ka-kamu benar, dia pasti tahu sesuatu!” senyum Eliza bersemangat.

“Iya kita harus menanyakan hal tersebut pada Alysha!” Anggelina memasang wajah yang sama seperti Eliza.

“Mau bertanya apa kak?” tanya Alysha yang baru memasuki kelas, dia tersenyum melihat ketiganya.

“Oh Alysha kebetulan sekali, kesini sebentar!” teriak Anggelina sambil melambaikan tangannya.

“Lina dia sedang berjalan kemari, tidak perlu berteriak juga, ” senyum Eliza

“Iya, jadi apa yang mau kalian tanyakan kepadaku?” tanya Alysha.

“Kamu tau tentang masa lalu kakak aku kan?” tanya Anggelina tersenyum.

“Ehh, langsung ke intinya?” tanya Shina dan Eliza terkejut.

“Kakak kamu? Ohh Kak Keisha? Aku enggak tau tentang masa lalunya –“ Alysha perkataanya terpotong oleh Eliza.

“Bukan bukan, maksud Anggelina adalah kakak kembarnya,” jelas Eliza tersenyum.

“Ohh kak Anggela, ” Alysha dengan nada sedikit sedih.

“Ehmm enggak, aku juga gak tau, ” lanjutnya memasang senyuman yang menyembunyikan kesedihan.

“Kamu bohong kan? Terlihat jelas dari mukamu, ” Eliza dengan nada curiga.

“Apa seburuk itu? Sampai kami saja tidak diperkenankan mengetahuinya?” tanya Shina penasaran.

“Iya, apa aku juga gak boleh tau tentang tragedi mengerikan itu? Meski aku ini adik kandungnya?”

“Tragedi mengerikan? Seberapa jauh kalian tau tentang masalah ini?” tanya Alysha yang mengubah raut wajahnya menjadi serius.

“Ki-kita belum tau apa-apa, karena itulah kita bertanya padamu, ” Shina dengan nada sedikit ketakutan.

“Syukurlah kalian masih belum tau apa-apa,” senyum Alysha terlihat lega.

“Maka dari itu, tolong kasi tahu kami masa lalu –“ Anggelina terpotong oleh Alysha.

“Mohon maaf jika aku berkata kasar. Tapi, tolong kalian jangan membahas masalah ini kepada siapapun, khususnya Kak Anggela. Jika kalian mengabaikan perkataanku ini, nyawa kalian akan berada ditanganku,” jelas Alysha dengan nada mengancam.

Anggelina, Shina, dan Eliza terkejut mendengar perkataan Alysha tersebut. Mereka bertiga tidak berkata apapun karena ketakutan, mereka bertiga mendapat tekanan aura Alysha yang sangat kuat.

Apa ini benar-benar Alysha?” Mungkin itulah isi pikiran dari mereka bertiga. Tapi disisi lain Alysha bergumam dalam hatinya seperti ini.

Lebih baik seperti ini kan kak? Lebih baik aku mengancam mereka demi kabaikan mereka sendiri juga,” senyum Alysha dalam hatinya.



***

Bagian Keempat:

Ting Tong !!

Seperti itulah suara bel masuk terdengar, hampir seluruh siswa di kelas Anggelina sudah memasuki kelas. Mereka semua sudah duduk di bangku mereka masing-masing, dan sesekali Anggelina menoleh ke belakang melihat Alysha dengan muka penasaran.

“Ok anak-anak selamat pagi!” jelas seorang guru wanita yang baru memasuki kelas, ya dia adalah Bu Lina, wali kelas mereka.

“Pagi bu!” teriak seluruh siswa.

“Sebelum memulai pelajaran, ada yang mau ibu sampaikan, ” jelas Lina sambil berjalan menghampiri mejanya.

“Ibu sarankan sebaiknya kalian pulang bersama-sama, jangan pernah pulang sendiran!” jelas Lina lalu duduk ditempat duduknya.

“Apa karena kasus penculikan itu bu?!” tanya Eliza sambil mengankat tangannya.

“Ya, siswa disekolah kita yang menjadi korban bertambah lagi, ” jelas guru tersebut dengan nada sedih.

“Ehh benarkah?”. “Aku tidak percaya ini.”. “Aku takut.” Itu lah beberapa perkataan dari siswa yang mendengar berita tesebut.

“Berarti ini sudah ketiga kalinya kan bu?! Apa kita tidak bisa melakukan sesuatu?” tanya Anggelina dengan nada sedikit kesal.

“Kita tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan organisasi Adjoin saja kesulitan. Sepertinya mereka kekurangan orang, ” senyum Lina melihat Anggelina.

Kekurangan orang ?!” Gumam Anggelina dalam hatinya.

“Ok itu saja yang mau ibu sampaikan. Sekarang kita mulai pelajarannya, ” senyum Lina sambil membuka bukunya.

Setelah mendengar berita tersebut Anggelina pun memutuskan bahwa dia akan meminta izin pada sekolah, dia meminta izin untuk ikut berpartisipasi membantu Adjoin dalam menyelesaikan masalah ini.

Ya tentu saja sekolah tidak menginjinkan tindakan Anggelina yang beresiko tersebut, dikarenakan mereka tidak mau ada murid mereka yang terluka lagi. Apalagi murid yang mencoba terlibat ini adalah murid kebanggaan sekolah.

Tapi karena keras kepalanya dan bantuan dari Keisha, dia berhasil mendapatkan izin dari sekolah. Untuk satu minggu kedepan dia mendapatkan izin cuti dari sekolahnya untuk membantu Adjoin dalam menangkap pelaku.

Ting Tong!!

Istirahat kedua telah berbunyi. Anggelina dan sahabatnya terlihat pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka. Di sana mereka mulai membahas tentang niat Anggelina yang ingin membantu Adjoin.

“Lina! Beneran kamu izin cuti dari sekolah buat membantu Adjoin!” tanya Eliza khawatir.

“Iya, ahahaha, ” Anggelina yang diakhiri dengan tertawaan kecilnya.

“Lina ini bukan waktunya tertawa ! Kamu tau kan seberapa besar resiko yang kamu dapat nanti!” Shina dengan nada khawatir.

“Iya mending kamu batalin ajah deh. Kita gak mau kamu kenapa-napa, ” khawatir Eliza.

“Tenang ajah, aku ini kineser tingkat empat, jadi tidak mudah dikalahkan, dan juga ada kak Keisha kok yang mengawasi aku,” senyum Anggelina.

“Tapi tetap saja, –“ Shina perkataanya terpotong oleh Anggelina.

“Sudahlah Shina, aku akan baik-baik aja kok. “ Anggelina tersenyum.

“…….” Eliza dan Shina hanya memandang satu sama lain, kedua wajahnya terlihat khawatir.

“Lagipula aku gak bisa diem aja ngeliat teman sekolahku di culik satu persatu. Penculiknya hanyalah orang-orang pengecut yang berani dengan kineser tingkat bawah, ” geram kesal Anggelina sendiri.

“Tapi meski begit –“ Eliza.

“Sepertinya memang benar yah gosip tentang kamu yang ingin membantu adjoin, ” Hizkil sambil berjalan menghampiri meja makan mereka. Dia tersenyum melihat Anggelina.

“Meski Kak Anggela nyuruh Kak Hizkil buat menghentikan niatku, aku bakal tetep gak akan berhenti, keputusanku sudah bulat,” sinis Anggelina.

“Hah menghentikan niatmu? Enggak lah, lagipula Anggela juga belum tau, dia kan masih belum sadar. Tapi meski dia sudah sadar juga aku gak akan kasih tau tentang kabar ini,” senyum Hizkil tersenyum pada Anggelina.

“Benarkah?” tanya Anggelina.

“Ya, jadi mohon kerja samanya yah, ” senyum Hizkil.

“Kerja sama? Apa maksud Kak Hizkil?” tanya Eliza keheranan.

“Apa kak Hizkil juga izin cuti untuk membantu Anggelina?” tanya Shina penasaran.

“Enggak enggak, berbeda dengan Anggelina yang suka rela. Aku secara paksa langsung dipanggil Adjoin khususnya oleh kak Keisha buat mengintai kelompok mereka, ” jelas Hizkil dengan muka malas.

“Ehh, enaknyaaa! Kenapa Kak Keisha enggak manggil aku aja yah?” Anggelina dengan nada sedih.

“Enak darimananya?! Yang jelas ini sangat menyusahkan, Kineser dari kelompok musuh sangat kuat. Bahkan kineser tingkat 3 dan 4 dalam organisasi Adjoin aja dengan mudah dikalahkannya,” keluh Hizkil.

“Eh? Tingkat 3 dan 4? Bohong kan?” tanya Eliza memasang muka terkejut.

“Aku serius.” Senyum Hizkil.

“Memangnya mereka semua tingkat berapa?” tanya Shina penasaran.

“Entahlah, kita belum mendapatkan informasi sejauh itu.”

“Tapi kak Hizkil kan cuman tingkat tiga. Mengapa Kak Keisha harus repot-repot mengundang kak Hizkil? Bukankah itu sedikit berbahaya?” Tanya Anggelina memasang muka keheranan.

“Udah aku bilang, aku ini hanya ditugaskan untuk mengintai musuh. Jika ada pertarungan aku diwajibkan untuk menghindari pertarungan tersebut.”

“Bohong?! Bahkan kak Hizkil juga enggak sanggup melawan mereka?” Eliza memasang muka terkejut.

“Udah jelas lah, kalau aja Anggela enggak di rumah sakit, “ geram Hizkil sendiri yang tidak sengaja keceplosan.

“Anggela?” Eliza.

“Kenapa kak Hizkil membawa nama Anggela?” tanya Shina penasaran.

“E-eh enggak, ma-maksudnya buat nyemangatin kita gitu, biar lebih semangat, ” Hizkil sambil memalingkan wajahnya yang khawatir.

Sedangkan Anggelina hanya terdiam dan melihat Hizkil dengan tatapan yang seolah-olah berkata “Bodoh!”



***


My Dearest Chapter XVII Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.