06 September 2015

My Dearest Chapter XVI

JILID 1 CHAPTER XVI
KEMARAHAN SYLVIA


Bagian Pertama:

Dua minggu telah berlalu sejak Anggela dirawat di rumah sakit, kini Anggela sudah keluar dari rumah sakit yang merawat dirinya.


Meski pihak rumah sakit sudah menyarankannya untuk beristirahat lebih lama, Anggela tetap bersikeras untuk segera keluar dari ruangan yang membuat tubuhnya tidak nyaman. Hatinya masih mengganjal karena pertemuan dengan gadis yang menyerangnya, dia ingin segera mengetahui ingatannya tentang tiga tahun yang lalu.

Padahal jika melihat kebenaran tentang kondisi tubuh Anggela, kondisi tubuhnya memang masih belum stabil. Pihak rumah sakit khawatir jika Anggela terlalu memaksakan diri, luka dari pertarungan sebelumnya bisa saja terbuka kembali.

“Anggela, apa tidak apa-apa jika kamu keluar dari rumah sakit? Kamu ini masih belum sembuh total,” khawatir Keisha, dia terlihat berjalan menghampiri Anggela yang sedang duduk di ruang keluarga.

“Tak apa kak. Aku sudah bisa menggerakkan semua badanku, lagipula ini hanya luka kecil –“ Anggela sambil melihat bekas lukanya, tapi dengan cepat perkataannya langsung terpotong oleh Anggelina yang sedang duduk disamping kirinya.

“Juangan buarcanda kak! Luka –“ Anggelina dengan kosa kata yang lucu karena sambil memakan sarapannya.

“Anggelina telan dulu makananmu, baru bicara ….,“ senyum Keisha memandang Anggelina yang berwajah lucu, setelah itu dia mulai duduk di samping kanannya Anggela.

“Dasar kamu ini …..,” senyum Anggela melihat Anggelina yang merubah tempo mengunyah makanannya menjadi lebih cepat.

“…….”

“Ok, kita ulang. Jangan bercanda kak! Luka kakak sangat parah, perut kakak itu bolong tau! Seharusnya kakak ini dirawat dirumah sakit lebih dari tiga bulan!” kesal Anggelina yang lucu.

“Iya iya, makasih sudah mengkhawatirkan kakak,” senyum Anggela sambil mengelus-ngelus pelan kepala adiknya.

“……..” Anggelina hanya terdiam, wajah kesalnya berubah menjadi wajah yang merasa nyaman karena dimanjakan oleh kakak kembar laki-lakinya.

“Sudah-sudah, ini sudah hampir jam 08.00 …., kalian harus segera berangkat,” jelas Keisha lalu memakan sarapannya.

“Ok kita berangkat,” senyum Anggelina lalu berdiri dari tempat duduknya.

“Tunggu sebentar,” Anggela terlihat serius melihat kakak perempuannya.

“Ehmm, kenapa? Masih lapar?” tanya Keisha sambil melihat wajah serius Anggela.

“Bukan kak …,” geram Anggela menahan kesal.

“Apa kakak sudah merahasiakanya pada semua siswa?” tanya Anggela dengan nada serius.

“Tentang kamu yang masuk rumah sakit?” senyum Keisha.

“Iya.”

“Iya sudah semua, kecuali adik kamu, sahabat kamu, dan dua gadis yang bernama Shina dan Eliza itu,” jelas Keisha lalu kembali memakan sarapannya.

“Begitu, baguslah,“ senyum Anggela lalu berdiri dari tempat duduknya.

“Memangnya kenapa harus dirahasiakan sih?” tanya Anggelina kebingungan.

“Kakak gak mau ada kehebohan yang berlebihan di sekolah,“ jawab Anggela lalu berjalan ke arah pintu keluar.

“Padahal tenang ajah kak, seluruh siswa gak akan heboh cuman dengan masalah itu!” jelas Anggelina sambil mengikuti kakaknya dari belakang.

“Eh? Kenapa?”tanya Anggela penasaran.

“Kenapa? Bukankah sudah jelas, mereka gak akan seheboh itu hanya karena Kak Anggela masuk rumah sakit. Kak Anggela kan enggak populer kayak aku, “ senyum Anggelina memasang wajah polos layaknya seperti anak kecil.

“Ahahaha iya juga ya, kamu benar sekali,” tertawa Anggela yang seolah-olah menahan kesal.

“Kan? Hahaha.”

“Lidahmu masih tajam seperti biasanya ya …,” pelan Anggela sambil memalingkan wajahnya.

“Apa kak?” tanya Anggelina penasaran

“Enggak, bukan apa-apa. Yang lebih penting kita harus lari supaya tidak kesiangan,“ Anggela lalu berlari menjauhi Anggelina.

“Ehh kakak! Bukankah dokter sudah bilang kalau kakak jangan beraktifitas yang terlalu berlebihan! Gimana kalau luka kakak nanti kebuka lagi!” teriak Anggelina khawatir sambil berlari mengejar kakaknya.

“Apa boleh buat Anggelina! Sekarang keadaannya sedang darurat!” teriak Anggela tersenyum melihat adiknya yang berlari mengikutinya.

“Eh!?” untuk sesaat Anggelina terlihat terkejut, lalu setelah itu dia mulai tersenyum dan bergumam dalam hatinya sendiri.

Jadi keterlambatan sekolahnya lebih penting daripada keadaan dirinya sendiri?! Aduh seperti biasanya, Kak Anggela memang aneh ….”

Anggela membalikkan wajahnya kembali ke depan, wajahnya yang tersenyum berubah menjadi wajah yang kesal dan kecewa.

Sial dalam kondisiku saat ini aku tidak bisa memaksa kak Keisha untuk bicara. Dan lagipula kenapa gadis yang mirip dalam mimpiku itu menyerangku?! Apa salahku?!”

Ting tong!!

Bel masuk telah berbunyi, usaha Anggela untuk tidak kesiangan gagal. Dia terlambat masuk kelasnya.

Ketika dia masuk sudah ada Jim yang memulai pelajaran. Tatapan teman sekelasnya berubah menjadi lebih tajam dari sebelumnya. Mereka seakan benar-benar terganggu akan kehadiran Anggela.

“Ma-maaf! Aku terlambat, hah heh hah …,” Anggela sambil mengambil nafas karena kelelahan.

Jim yang mengetahui kondisi Anggela hanya terdiam terkejut melihat dirinya, untu beberapa saat dia hanya terus menatap Anggela sambil berbicara dalam batinnya.

Anggela?! Bukankah dia sedang dirawat di rumah sakit, kenapa dia bisa berada disini?!” 

“Guru Jim, anda tidak apa-apa ….?” tanya kembali Anggela.

“Ya, ti-tidak apa-apa. Silahkan masu –“ Jim terpotong oleh teriakan salah satu siswa di kelas tersebut.

“Whuu, kenapa si banci ke sekolah lagi? Udahlah mending kamu keluar ajah!! teriak salah seorang siswa dibelakang kelas.

“Pak kenapa siswa kayak dia gak dikeluarin ajah? Dia udah bolos lebih dari 2 minggu, itu udah keterlaluan banget, kesal Sylvia sambil mengangkat tangan kanannya.

“Iya, iya pak, protes beberapa siswa mendukung Sylvia.

“Tenang semua! Gini ya –“ Jim mencoba menjelaskan kejadian yang sebenarnya tetapi terpotong perkataannya oleh Angggela.

“Hah, cuman gak sekolah 2 minggu aja bisa dikeluarin? Jangan becanda! Apa kalian semua anak kecil? Terserah aku mau gak sekolah 1 bulan juga, bukan urusan kalian semua!! jelas Anggela sambil berpura-pura bertindak arogan kembali.

“Tapi Anggela –“ Jim cuman terdiam ketika Anggela mulai tersenyum padanya. Senyuman yang seolah mengatakan,

Jangan kasih tau mereka. .

“…….”

“Ya udah kalo gitu, Anggela silahkan duduk di kursi kamu, sopan Jim sambil melihat kursi Anggela yang dijauhi oleh kursi lainnya.

“Sip thx pak, senyum licik Anggela sambil melirik Sylvia, dia berjalan dan duduk ditempat duduknya.

BRAKKK!!

“Bapak!! teriak Sylvia sangat kesal, dia menggebrak mejanya sendiri hingga membuat seisi kelas terkejut akan tindakannya..

“Berhentilah bersikap lembut pada manusia busuk ini!” lanjut Sylvia sangat marah menunjuk Anggela.

“Sylvi sabar, kita masih dikelas. Jangan menggebrak meja seperti itu “ Salsa mencoba menenangkan Sylvia.

“Iya Sylvia tenanglah, sebentar lagi kita akan memulai pelajaran,khawatir Jim.

“Tapi tunggu pak, menurut saya benar juga yang dikatakan sama Sylvia. Bapak harus bertindak tegas terhadap murid yang sering membolos seperti Anggela, jelas Salsa dengan nada sopan, dia mulai melirik Anggela yang memalingkan wajahnya.

“Ta-tapi ….., Jim melirik khawatir Anggela, tatapannya merasa tidak enak jika dia menghukum Anggela.

Saat Anggela melihat tatapan Jim tersebut, dia menjadi merasa bersalah karna sudah membawa Jim ikut campur dalam masalahnya. Untuk menyelesaikan masalah ini akhirnya Anggela pun berdiri sambil bekata,

”Berisiknya …., hanya perasaanku saja, atau seisi kelas ini benar-benar seperti anak kecil.”

Anggela mulai berjalan menghampiri pintu keluar. Saat Anggela masih berjalan dan berpapasan dengan Jim, dia mulai berbisik padanya.

”Saat aku kembali lagi ke kelas, tolong hukum aku seperti yang mereka minta.” 

Sontak Jim sangat terkejut dengan bisikan Anggela tesebut. Dia benar-benar kebingungan mendengar permintaan Anggela tadi.

Apa yang sebenarnya terjadi dikelas ini?! Kenapa dia bersikap arogan didepan teman-teman kelasnya?”


***

Bagian Kedua:

“Ma-mau kemana kamu Anggela?” tanya Jim sambil melihat Anggela yang mulai membuka pintu keluar.

“Toilet, senyum Anggela memejamkan mata.

Saat Anggela keluar dari toilet, Jim mulai menuruti permintaan Anggela. Dengan memasang wajah yang tidak tega dia berkata.

”Ok bapak akan hukum dia. Jadi menurut kalian hukuman apa yang pantas buat Anggela?

“Nah gitu dong pak, mending keluarin dari sekolah aja, jelas Sylvia tersenyum bahagia.

“Ehh? Jangan bercanda, cobalah sedikit lebih serius.

 Gimana kalo dia digantung aja!” teriak salah satu cowok dibelakang kelas.

“Hey hey! Itu malah lebih gak mungkin, serius jawabnya lah,” jelas Jim dengan nada sedikit kesal.

“Kalau di arak-arak keliling kota dengan flying car. Gimana?” tanya gadis yang paling depan sambil mengangkat tangan kanannya.

“Itu malah terlalu berlebihan …..!” geram Jim menahan kesal.

“Gimana kalo dia gak dinaekin kelas ajah pak? tanya Sylvia.

“Enggak-enggak, itu masih terlalu keterlaluan Sylvia, senyum sedih Jim melihat Sylvia.

“Terus yang mana dong!? Perasaan bapak cuman menolak saran dari kita semua, kesal Sylvia.

“An-anu Sylvia, menurutku wajar aja kalau bapak menolak saran dari kita semua. Semua saran kita memang terlalu berlebihan,“ senyum Salsa mengangkat tangan kanannya sambil melirik Sylvia.

“Kalau gitu Salsa, saran kamu apa?” tanya Sylvia sambil melhat Salsa.

“Emm ……, Skorsing?” tanya Salsa terlihat berpikir.

“Ya itu dia! “ teriak Sylvia sambil menunjuk sahabatnya.

“Eh apa –“ Salsa terkejut karena teriakan sahabatnya, lalu perkataanya terpotong oleh Sylvia.

“Bapa! Kita beri hukuman skorsing saja pada Anggela!” teriak Sylvia sambil mengangkat tangan kanannya.

“Ya ya, skorsing itu ide bagus! Kita kasih dia hukuman Skorsing selama tiga tahun!” teriak lelaki yang berada dibelakang kelas.

Ti-tiga tahun?! Oi oi .., bukankah itu sama saja dengan hukuman dia dikeluarkan dari sekolah “ gumam jim terkejut dalam hatinya.

“Ti-tiga tahun …..?! Enggak-enggak itu terlalu berlebihan baginya,” Salsa terkejut sambil berdiri dari tempat duduknya.

“Iya tiga tahun itu kayaknya terlalu berlebihan deh,” jelas Sylvia sambil melihat lelaki di belakang kelas.

“Benarkan Sylvia?! itu terlalu berlebihan?!” tanya Salsa tersenyum melihat sahabatnya.

“Iya seharusnya satu tahun saja sudah cukup. Iya kan pak?!” tanya Sylvia sambil melihat Jim.

“Eh?” Jim dan Salsa terkejut mendengar pernyataan Sylvia.

“Kenapa? Ideku cemerlang, kan? Siapa dulu –“ Sylvia terlihat bangga akan dirinya tapi langsung terpotong oleh sahabatnya, Salsa.

“Tiga hari pak …..! Beri Anggela hukuman 3 hari skorsing,“ jelas Salsa memasang muka datar sambil mengangkat tangan kanannya.

“Tiga hari?! Hanya tiga hari?!  Apa kamu ini malaikat? Masa hanya memberi hukuman seperti itu?” teriak Sylvia dengan nada kesal pada sahabatnya.

“Bukan aku seperti malaikat, tapi kalian yang seperti Iblis! Saranku itu memang sudah sewajarnya!” teriak Salsa mulai kesal.

"Tentu saja kita bersikap seperti iblis! Karena orang yang sedang kita hukum ini adalah iblis juga!"

"Iblis? Sylvia, kenapa kamu menyebut Anggela dengan iblis?! Dia itu manusia biasa seperti kita!"

"Kenapa?! Bukankah sudah jelas, Dia sudah membunuh ibuku! Jadi dia harus mendapatkan ganjaran yang setimpal!" teriak Sylvia dengan nada semakin kesal.

"Itu tidak ada hubungannya dengan sekarang Sylvia! Kita disini sekarang sedang membahas hukuman Anggela yang sudah membolos!! Bukan tentang kejadian yang setahun yang lalu!!" Teriak Salsa yang ikut semakin kesal.

“……..”

Setelah petengkaran kedua sahabat itu, untuk sesaat suasana menjadi lebih tenang. Terlihat mereka berdua terdiam sambil terus mengambil nafas karena kelelahan.

Skorsing tiga hari kah ……? “ geram Jim sendiri mencairkan suasana, dia terlihat memikirkan hukuman yang diajukan Salsa.

“Aku tolak!”  lanjutnya tersenyum sambil melihat Salsa.

“Haahh?!! Hukuman ringan aja bapak tolak, sebenarnya bapak ini niat memberi hukuman sama Anggela gak sih?!” Sylvia dengan nada semakin kesal.

“Itu karena saran kalian semua terlalu berlebihan! Hanya ide Salsa yang anggap bapak logis. Tapi Salsa …., jika kita memberi hukuman skorsing pada Anggela, bukankah dia akan semakin tertinggal pelajaran, dan kemungkinan sifat bolos akan menjadi lebih parah,  jelas Jim sambil memegang kepalanya sendiri.

“Ah iya, benar juga yah ….,” Salsa mulai mengerti maksud gurunya tersebut.

Yaaa meskipun jika Anggela menerima hukuman itu, dia pasti tidak akan kesulitan dalam pelajaran karena pengelolaan otaknya yang mengerikan, ” gumam Jim tersenyum dalam hatinya.

“……..” Salsa masih memasang wajah berpikir.

“Kalau gitu saya minta maaf pak,” lanjutnya dengan nada menyesal.

“Kamu enggak usah minta maaf juga. Lagipula bapa bersyukur masih ada siswa dikelas ini yang masih berpikiran logis “ jim sambil tersenyum keheranan.

“Tapi kalo bapak perhatikan, sepertinya kalian semua mengucilkan Anggela, padahalkan dia anak yang baik-baik. Apa ada masalah ?! lanjut jim bertanya.

“Hah anak baik-baik? Jangan bercanda pak! Dia itu hatinya busuk, orang jahat …., iyakan Sylvia?” jelas lelaki yang berada dibelakang kelas.

Sylvia mengangguk, lalu semua siswa dikelasnya pun ikut menjawab pertanyaan yang ditanyakan guru tersebut.

 Iya betul pak? Emang bapak gak sadar yah kalo dia itu egois, arogan ....  dan jawaban-jawaban lainnya yang menghina Anggela

 Udah-udah kalo gitu. Begini aja deh, bapak akan kasih hukuman buat Anggela. Dia akan membersihkan kelas kita setelah pulang sekolah selama 1 bulan, gimana?” tanya Jim.

“Hah satu bulan? Lagipula apa-apaan cuman membersihkan kelas? Itu terlalu ringan pak, Sylvia yang masih terlihat kesal.

“Iya pak.”

”Iya iya,” teriak seluruh siswa mendukung sylvia, kecuali Salsa.

Salsa hanya tiduran diatas mejanya, wajahnya seolah-olah mengatakan.

Aku gak mau ikut campur lagi.”

“Ok ini keputusan mutlak bapak. Bapak akan hukum Anggela buat bersihin kelas kita sampai kenaikan kelas, jelas Jim sambil memasang muka tidak tega.

“Ayolah pak masa cuman bersihin kelas? Seharusnya lebih berat lagi! Sylvia terlihat kecewa.

“Itu udah keputusan mutlak bapak, jika kalian tidak setuju, hukuman untuk Anggela ini akan dibatalkan! Gimana?”

“Udahlah kalian semua! Kita terima ajah, menurutku hukuman itu sudah lebih dari cukup bagi Anggela, jelas Salsa membujuk teman-temannya.

“Tapi –“

“Ayolah Sylvi jangan seperti anak kecil. Terima saja saran yang bapak Jim berikan.“

“Baiklah,” Sylvia masih terlihat tidak puas.

Mereka semua pun akhirnya setuju dengan keputusan Jim. Dalam hati Jim, dirinya masih bingung kenapa Anggela bertindak jahat dihadapan teman-temannya, padahal yang dia tau kalau sifat Anggela itu cukup ramah

.
***

Bagian Ketiga:

Krekkkk!!

Terdengar pintu masuk kelas terbuka.

Ya, Anggela telah kembali ke kelasnya dari toilet. Saat dia memasuki kelasnya, suasana menjadi sangat hening, seluruh perhatian siswa didalam kelasnya menjadi berpusat padanya.

Woaah semuanya memandangku ….,” gumam Anggela sambil berjalan mendekati tempat duduknya.

“Ok, sebelum melanjutkan pelajaran ada yang bapak ingin sampaikan padamu Anggela,” Jim sambil melihat Anggela yang mulai duduk dikursinya.

Jadi mereka sudah memutuskan hukumannya yah,” gumam Anggela tersenyum.

“Ya ada apa pak?” tanya Anggela tersenyum.

“Ang-Anggela kami sudah memutuskan untuk memberikan hukuman untukmu karena sudah membolos selama dua minggu,” jelas Jim sambil melihat Anggela dengan tatapan yang tidak tega.

Bagus kak Jim,” batin Anggela.

“Ehhh?! Yang benar aja?” Anggela berdiri dari tempat duduknya dan berpura-pura terlihat kecewa.

"Iya Anggela, kamu mendapatkan hukuman. Kamu harus membersihkan kelas setelah pulang sekolah sampai kenaikan kelas!"

"Ehh?! Tapi pak -" Anggela perkataanya terpotong oleh Sylvia.

“Jelas lah! Manusia busuk seperti kamu udah wajib kena hukuman!“ sinis Sylvia.

“Ooohh, terima kasih atas pujiannya, Sylvia,” senyum mengejek Anggela melirik Sylvia.

Respon Anggela tersebut membuat Sylvia menjadi sangat marah. Dia seakan-akan merasa dipermainkan oleh Anggela. Sambil menggebrak mejanya kembali Sylvia berteriak dengan nada yang sangat marah.

BRAAAKKK!!

“Kamu masih mencoba meledekku hah?! Selama ini aku udah sabar sama kelakuanmu yang menjijikan itu, tapi sekarang aku udah gak tahan!!”

“Sylvi udah –“ Jim mencoba menenangkan Sylvia.

“Diam pak!! Ini sudah menyangkut masalah pribadi aku, jangan ikut campur!!” teriak Sylvia ke arah Jim.

“Sylvi tenanglah ini masih disekolah dan jangan lupa kalau orang yang kamu teriaki barusan masih guru kamu,“ Salsa dengan nada sedikit ketakutan.

"Aku tidak peduli!" teriak kesal dari Sylvia.

“Sylvia …..,” khawatir Salsa.

“Salsa, sepertinya aku akan mengikuti saranmu,” lanjut Sylvia sambil melihat sahabatnya.

“Haah? Jangan bilang –“ Salsa terkejut melihat sahabatnya..

“Anggela Dwiputra, aku Sylvia Andini dengan ini menantangmu untuk melakukan Death Battle. Jika kamu menolak, aku akan membunuhmu disini sekarang juga.“ Sylvia memotong perkataan Salsa sambil menunjuk Anggela. Wajahnya terlihat serius yang dihiasi dengan kemurkaan pada Anggela.

De-Death battle? Apa dia serius? Apa dia benar-benar berniat mempertaruhkan nyawanya?!” gumam Anggela sangat terkejut melihat Sylvia.

“Sy-Sylvia?!! Kamu enggak perlu sejauh itu!” Salsa terkejut bukan main, dia mulai berdiri dari tempat duduknya.

“Iya, ka-kalian  tidak perlu sampai mempertaruhkan nyawa kalian hanya karena masalah sepele seperti ini!” khawatir Jim bukan main.

Death Battle, merupakan sebuah pertarungan antar Kineser yang mempertaruhkan nyawa mereka. Peraturan utama dalam pertarungan ini adalah …., pertarungan ini hanya akan dihentikan jika ada salah satu dari kedua belah pihak yang sudah tak bernyawa, kecuali salah satu pihak menyerah dan hak hidupnya menjadi milik pemenang. Ya, itu sama saja dengan menyerahkan dirinya sendiri menjadi budak bagi sang pemenang.

“Sy-Sylvia? An-anu itu terlalu –“ Anggela terlihat khawatir, dia mulai berdiri dari tempat duduknya.

“Berisik!! Berhentilah bersikap seperti pengecut, dan lawanlah aku!!” teriak Sylvia dengan nada sangat kesal.

Suasana saat itu sangat tegang, tidak ada satupun siswa yang berani menghentikan Sylvia. Sylvia sudah terlanjur sangat marah terhadap Anggela, dan sepertinya sisi kemanusiannya untuk Anggela juga telah hilang.

Siaaal! Tidak kusangka hal seperti ini akan terjadi! Sepertinya kebenciannya terhadapaku sudah sangat besar!” gumam Anggela memasang muka khawatir.

“Ada apa dengan mukamu itu?! Apa kamu ketakutan karena melawan kineser tingkat dua sepertiku?!” senyum Sylvia sambil memandang rendah Anggela yang tertunduk.

Aku tidak ingin Sylvia menjadi budakku, atau apalagi membunuhnya. Jika sekarang aku menolak tantangan ini, Sylvia pasti akan menimbulkan kerusuhan di dalam kelas,” gumam Anggela khawatir.

“Kenapa kamu tidak menjawabku?! Cepat jawab !” Teriak Sylvia dengan nada sangat kesal.

Sial, tidak ada pilihan lain selain aku menerimanya! Ya apa boleh buat sepertinya aku harus menjadi budaknya,” senyum Anggela lalu melihat Sylvia yang sedang marah.

“Ba-baiklah! Aku terima tantanganmu,” Anggela tersenyum khawatir.

“Bagus! Waktu pertarungannya saat pulang sekolah dan tempatnya di tengah lapangan sekolah!” senyum Sylvia bersemangat.

“Akan kuhabisi kamu!” lanjutnya menatap tajam Anggela

“Ap-apa kalian berdua serius?! Anggela? Sylvia?” khawatir Jim.

“Ber-berhentilah bercanda Sylvia, ini tidak lucu! Nyawa kalian berdua menjadi taruhannya! Apa kalian masih tidak mengerti?!” Salsa mencoba membujuk Sylvia

“Diamlah Salsa! Tekadku sudah bulat! Sudah lama sekali aku menantikan datangnya hari ini! Akhirnya aku bisa membalaskan dendam ibuku!” jelas Sylvia sambil terus melihat Anggela dengan tatapan marah.

“Jadi kamu masih belum melupakan kejadian itu?! Kekanak-kanakannya dirimu! Aku jadi merasa kasihan padamu!” senyum sombong Anggela sambil melirik sinis Sylvia.

“Kurang ajar! Aku tarik kata-kataku tadi!! Pertarungannya diadakan sekarang saja, aku akan membungkam mulut –“ Sylvia terpotong oleh teriakan Jim.

“Diamlah kalian!!” teriak Jim dengan nada sangat kesal

Semua siswa terkejut mendengar teriakan jim tersebut, mereka untuk pertama kalinya melihat guru yang selalu tersenyum marah seperti itu.

“Anggela, Sylvia, dan Salsa cepat duduk dibangku kalian!! Bapak tidak peduli dengan masalah pribadi kalian, tapi sekarang kita dalam jam pelajaran jadi tolong ikuti dengan benar!”

“Ya pak!” teriak seluruh siswa. Setelah kejadian tersebut suasana proses pembelajaran pun berubah menjadi tegang dan tidak mengenakkan.



***

Bagian Keempat :


Ting tong!

Bel istirahat pertama telah berbunyi. Suasana dalam kelas Anggelina sangat berlawanan dengan suasana kelas kakaknya yang sungguh menegangkan. Suasanya kelas Anggelina terasa lebih damai dan terlihat tidak ada permusuhan.

“Shina, ke kafeteria yuk,” ajak Eliza sambil berjalan menghampiri Shina.

“Iya bentar,” Shina sambil terus merapikan bukunya, dia tersenyum melihat sahabatnya itu.

“Mau kemana nih kalian berdua,” senyum Anggelina menghampiri Eliza dan Shina.

“Ke kafeteria, mau ikut?” tanya Eliza

“Ehmm aku gak terlalu lapar sih, tapi ikut ajah deh.”

“Terus tujuan kamu ikut bareng kita apaan dong?” tanya Eliza kebingungan.

“Ehmm gak tau juga, mungkin itu hanya insting teman,” senyum Anggelina.

“Insting teman?! Apaan tuh?” senyum Eliza keheranan sambil melihat Anggelina.

“Alysha mau ikut juga?!” teriak Anggelina sambil melihat Alysha yang berjalan di depannya.

“Enggak kak. Aku ada keperluan, makasih udah ngajak,” teriak Alysha lalu berjalan meninggalkan kelas.

“Ya udah kita bertiga aja,” senyum Anggelina.

“Ya ….,” angguk Shina dan Eliza bersamaan.

Di kafeteria mereka tidak sengaja bertemu dengan Hizkil yang sedang membeli makanan bersama teman sekelasnya. Pusat perhatian pengunjung kafeteria langsung tertuju pada ketiga gadis yang baru memasuki kafeteria itu.

“Oh Kak Hizkil!” teriak Anggelina lalu berlari menghampiri Hizkil,

“Ada apa Anggelina? Tidak biasanya kamu menghampiriku seperti ini” tanya Hizkil kebingungan.

“Wah Hizkil sialan, keren kamu bisa kenal sama Anggelina!” bisik salah satu temannya.

“Iya iya, kenalin ke kita juga dong!”

“Me-mending urungkan niat kalian kembali,” senyum khawatir Hizkil mengalihkan pandangannya.

“Eh kamu mau memonopoli dirinya sendiri, dasar curang!”

Bukan, aku takut jika terjadi sesuatu pada kalian jika kalian macam-macam sama Anggelina,” senyum Hizkil dalam batinnya, untuk sesaat dia membayangkan tampang sahabatnya, Anggela.

“Anggelina, tu-tungu ….! Jangan berlari tiba-tiba seperti itu, iya kan Shina?” jelas Eliza sambil menghampiri mereka, wajahnya terlihat kelelahan melirik seseorang dibelakangnya.

“Iya, huh huh …,” Shina sambil menganggukan kepalanya, wajahnya juga terlihat kelelahan.

“Jadi ada apa?!” tanya Hizkil kembali melihat Anggelina.

“Aku mau bertanya tentang alasan kakak yang bersikap jahat dihadapan semua orang. Jadi apa alasannya?”

“Ohh itu, jadi kamu masih belum dikasih tau yah sama kakak kamu?”

“iya belum.”

“Eh tunggu dulu! Jadi Anggela itu sengaja bersikap jahat dihadapan semua orang?” tanya Eliza terkejut memotong percakapan Anggelina dan Hizkil.

“Tentu saja, aku tidak terlalu terkejut kalau faktanya dia sengaja berbuat seperti itu. Dia pasti punya alasannya, karena yang aku tau dia itu bukan orang yang seperti itu,” Shina sambil melirik Eliza

“Jadi apa?” tanya kembali Anggelina.

“Ok, jadi gini sebenarnya Sylvia itu ….. –“ Hizkil perkataanya tiba-tiba terhenti, dengan tanpa sengaja dia mendengar obrolan siswa yang berasal dari kelas Anggela.

“Aku gak nyangka kalau Sylvia bakalan menantang Anggela untuk melakukan Death Battle …

“Iya aku juga gak nyangka. Sepertinya kemarahan Sylvia sudah tidak bisa dibendung lagi.”

“Tapi ini salahnya Anggela juga yang sudah memancing kemarahan Sylvia. Dia memang pantas mendapatkannya!”

“Iya aku setuju, Dia sekarang hanya punya dua pilihan …., mati atau menjadi budak Sylvia!! tingkat satu mustahil mengalahkan tingkat Dua.”

Anggelina yang mendengar percakapan tersebut lekas menghampiri kedua siswa yang berasal dari kelas kakaknya. Wajahnya yang terlihat sangat terkejut mulai bertanya.

“Hey, apa maksud percakapan kalian tadi?!”

“Iya, Anggela sepertinya akan diberi pelajaran oleh Sylvia –“ jelas gadis tersebut tapi perkataanya terpotong oleh Hizkil.

“Sialan …., dasar keras kepala!” kesal Hizkil lalu berjalan cepat ke arah kelas Anggela. Wajahnya sungguh terlihat marah, seisi cafeteria dibuat terkejut oleh ekspresi wajahnya yang amat sangat langka itu.

“Eh tunggu kak!” Anggelina berlari mengikuti Hizkil. Wajahnya terlihat khawatir setelah melihat Hizkil yang marah.

Pada akhirnya, mereka berempat termasuk Shina dan Eliza mendatangi kelas Anggela. Mereka berniat mencari tau kebenarannya.

Tapi saat mereka sampai disana dan memasuki kelasnya Anggela, betapa terkejutnya Anggelina, ini merupakan pertama kalinya Anggelina melihat kelasnya Anggela. Dia melihat tempat duduk Anggela yang dijauhi oleh semua siswa lainnya. Sambil menahan rasa kesal dia bertanya pada Hizkil.

” Apa-apaan ini?! Apa mereka sebenci ini sama kakak aku?” Anggelina sambil menunjuk Anggela yang sedang duduk di bankunya.

“Aku memang pernah mendengar rumor kalau Anggela sering dijauhi oleh teman sekelasnya, tapi aku gak nyangka kalau mereka sampai sejauh ini,” sedih Shina sambil melihat sekeliling kelas Anggela.

“Bu-bukankah ini terlalu berlebihan? Dia hampir seperti diisolasi,” khawatir Eliza menatap Anggela.

Hizkil tidak menjawab pertanyaan Anggelina dan yang lainnya, dia hanya diam menundukkan kepala. Dia terlihat mengepalkan kedua tangannya seolah menahan kesal. Urat kekesalan di keningnya mulai terlihat.

“Maaf, ada perlu apa siswa-siswa populer datang ke kelas kami?” tanya Sylvia tersenyum sambil menghampiri mereka bertiga.

“Kita mau cari tau tentang duel dia sama kamu, apa benar?” tanya Anggelina sambil menunjuk kakaknya.

“Ohh iya, tenang aja aku akan memberi pelajaran pada siswa sampah seperti dia,” senyum Sylvia.

“Sylvi, jangan seperti itu lah. Enggak enak sama Anggela,” Salsa berjalan menghampiri mereka berdua.

“Kenapa kamu merasa enggak enak sama sampah seperti dia?“ kesal Sylvia menatap sahabatnya.

“Apa maksudnya sampah sampah sampah itu ….!?” Anggelina terlihat sangat kesal menatap tajam Sylvia.

“Tentu saja orang itu?” Sylvia sambil menunjuk Anggela.

“Berani sekali kamu menghina Kakakku! Tak peduli kamu yang terkuat dan punya kuasa di kelas ini. Aku akan memberikan pelajaran pada siapun yang melukai keluargak –“ Anggelina sambil mengangkat tangan kanannya, hawa dingin langsung terasa disekitarnya. Tapi perkataanya terpotong oleh teriakan kekesalan dan kemurkaan dari seseorang yang berada di sampingnya.


“Anggela!” teriak Hizkil amat kesal, dia benar-benar menatap tajam sahabatnya.

“…….” Hanya untuk sesaat suasana menjadi sangat hening, semua pandangan tertuju pada Hizkil.

“Hah ….?! Ngapain kalian semua datang kesini!?” kesal Anggela melirik sahabatnya. Dia mulai berdiri dan menatap tajam sahabatnya tersebut. Kini keduanya saling menatap tajam satu sama lain.

Dalam sekejap suasana berubah menjadi tegang karena mereka berdua, semua siswa di dalam kelas bahkan di luar kelas melihat pertengkaran itu.

“Lihat, sadarlah Anggela! Ini benar-benar sudah keterlaluan! Kenapa kamu tidak menghentikan ini semua?!”

“Sudah kukatakan berapa kali padamu, Hizkil ….! Jangan ikut campur, ini masalahku!” teriak kesal Anggela pada sahabatnya.

Pusat perhatian benar-benar tertuju pada mereka. Bahkan beberapa siswa juga sempat terkejut akan tindakan Anggela yang membentak siswa populer seperti Hizkil.

“Anggela dengarkan aku … Aku tau niat kamu baik, tapi engga gini juga, engga kamu terus yang jadi korban …., “ sedih Hizkil berjalan menghampiri Anggela.

“Haaahh, korban? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti,” jawab Anggela berpura-pura bodoh memejamkan mata.

“Kamu memang bisa tahan tapi aku enggak bisa. Aku tidak kuat melihatmu diperlakukan seperti ini secara terus menerus!!” teriak Hizkil mulai murka.

“Kamu harusnya sadar!!” lanjutnya sambil menggunnakan kemampuannya.

ZWWUBBB!!

Dia mulai berteleport tepat kebelakang Anggela. Setelah itu dia menendang keras punggung Anggela hingga dirinya terpental menabrak tembok kelas.

DUAKKK!! WUINGG!! BRUAGHHKK!

“Ka-kak Hizkil apa-apaan sih? Kak Anggela kan masih belum sembuh total karena lukanya,” khawati Anggelina lalu berlari menghampiri kakaknya.

Se-sembuh total?” gumam heran Sylvia dan teman-temannya sambil melihat Anggela yang kesakitan.

“Tu-tunggu! Kenapa kamu menyerang Anggela seperti itu?! Apa kalian mempunyai masalah?!” tanya kesal Salsa pada Hizkil.

“iya, se-sebenarnya ada apa dengan kalian berdua? Bukannya kalian berdua ini sahabat –“ khawatir Shina tapi perkataanya langsung terpotong oleh Sylvia.

“Ohh aku mengerti, jadi Kak Hizkil udah muak sama sampah itu ….? Tapi tenang ajah kak, biar aku ajah yang ngehabisi dia saat –“

“SYLVIA!!” teriak Hizkil memotong pernyataan Sylvia, teriakan yang lebih keras, teriakan yang dipenuhi kemurkaan lebih dalam.

Dalam sekejap suasana kelas tersebut pun menjadi lebih tegang dari sebelumnya. Hampir seluruh siswa mengeluarkan keringat dingin melihat Hizkil yang terkenal ramah sudah menunjukan kemarahannya.

Semua siswa merasa tidak bisa bergerak dan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Hizkil dan yang lainnya.

Ap-apa yang sebenarnya terjadi disini?” mungkin itulah beberapa pikiran yang melihat kejadian ini.

“Anggela maaf, aku gak pernah tau batas kesabaran kamu itu sebesar apa. Tapi seperti yang kukatakan sebelumnya, aku udah gak tahan lagi melihatmu dalam keadaan seperti ini,” lanjut Hizkil sambil melihat Anggela dengan tatapan khawatir.

Anggela tidak merespon pertanyaan Hizkil, dia hanya terdiam kesakitan karna luka sebelumnya mulai terbuka kembali.

“Ada apa ini? Kenapa Kak Hizkil membentakku seperti ini?” tanya Sylvia kebingungan.

Dengan nada amat kesal dihadapan semua orang, Hizkil bertanya.

”Sylvia …., menurutmu kenapa Anggela bersikap arogan, egois, dan sifat jahat lainnya di depan kalian semua terutama kamu?”

“Hah? Tentu aja karna hatinya busuk!” jawab Sylvia dengan sangat yakin.

“Ahahaha,” Hizkil tertawa kecil.

”Coba kamu tanya dua gadis yang sekarang ada di samping Anggela, apa dia benar-benar mempunyai sifat seperti it –“ tanya Hizkil tapi dengan cepat perkataanya terpotong oleh Anggelina.

“Tentu ajah enggak! Kak anggela bukan orang yang seperti itu,” teriak Anggelina dengan nada sedih.

“Iya yang dikatain Anggelina benar, Anggela bukan orang yang memiliki sifat seperti itu,” khawatir Shina sambil melihat Sylvia.

“Apa? Kalian tidak tau sifat sebenarnya dari orang itu, kalian berdua mungkin sudah tertipu olehnya!” sinis Sylvia pada Anggela.

“Benarkah? Kita liat apa kamu masih bisa berkata seperti itu, setelah aku ceritakan kejadian yang sebenarnya tentang kecelakaan 1 tahun yang lalu. Kecelakaan yang merenggut nyawa ibumu,” Hizkil tersenyum melihat Sylvia.

“Hah ….., dengarkan aku! Hanya tiga orang yang terlibat dalam kecelakaan itu …., yaitu aku, ibuku, dan orang itu! Jadi mana mungkin kamu tau kronologis kejadiannya,“ kesal Sylvia sambil menunjuk Anggela.

“Tidak Sylvia, sebenarnya ada empat orang yang terlibat dalam kecelakaan itu …., dan orang keempat itu adalah aku,” jelas Hizkil sambil menunjuk dirinya sendiri dengan jempol tangan kanannya.



***


My Dearest Chapter XVI Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.