19 September 2015

Heavy Object Jilid 1 Bab 1 Bagian 10 - 17

Bagian 10

Badai salju yang dingin memberikan rasa menusuk yang tajam di kulit wajahnya.
Pandangannya yang tertutup oleh warna putih salju membuat perasaannya tidak enak.
Salju yang dalam menahan kakinya seperti batang kayu yang tertanam di bawah tanah saat Quenser dengan susah payah lari dengan memegang senapannya pada kedua tangannya.
Tujuannya adalah untuk menyelamatkan sang Putri.
Dia tidak memiliki alasan untuk melawan Object. Dan sebenarnya, kalaupun dia bertemu monster itu, dia akan mati sebagai sampah yang terinjak daripada dianggap mati sebagai musuh. Quenser berharap bahwa sekarang dia memiliki cara untuk menemukan titik lengah dari Object dan menyelamatkan sang Putri, tapi...
(Di mana?)
Senapan itu begitu dingin seperti balok es.
Giginya berderit dan ia melihat sekelilingnya sambil menahan rasa dingin di ujung jarinya.
(Sial! Di mana dia!?)
Dia sangat yakin bahwa layar itu menunjukkan area ini sebagai area yang benar, tapi sang Elit itu sama sekali tidak bisa ditemukan keberadaannya. Apakah pasukan musuh sudah membawanya pergi? Atau dia sendiri salah membaca petanya dan pergi ke tempat yang salah?
(Sial! Bagaimana aku bisa hidup selama 6 bulan tanpa mengetahui posisi di dalam peta? ... Sudah berapa banyak aku bergantung pada orang lain?)
Quenser menancapkan kabel ke pembidiknya. Kabel yang lain memiliki earphone kecil untuk satu telinga. Dia memasangnya di telinga kanannya dan mengoperasikan senapan yang tidak biasa ia gunakan ini dengan jari yang bergetar.
Menurut Heivia, senapan ini memiliki mikrofon untuk menemukan musuh.
(...)
Sementara memfokuskan diri pada mikrofon yang mencuat dari senapan itu seperti bayonet, Quenser secara perlahan berputar pada satu titik. Sementara ia sedang memutar mikrofon itu ke semua arah, dia mendengar sebuah suara melalui mikrofonnya.
“Ke sini...?”
Dia tidak terlalu terlatih, jadi dia memegang senapan itu seperti orang lain yang mengarahkannya ke arah suara itu berasal.
Saat dia mendekatinya, dia mendengar bahwa suara itu terdengar semakin jelas.
Terkadang, suara itu terdengar seperti suara manusia dan Quenser dengan panik bersembunyi di balik batu.
Quenser hanya menjulurkan kepalanya saja dari balik batu.
Dia bisa melihat manusia di balik salju yang tertiup dengan keras.
Dia mengira bahwa jaraknya dengan jarak sosok manusia itu ada 100 meter. Dari jarak seperti itu, dia tidak akan tahu siapa yang ada di depannya, tapi dia bisa melihat tiga sampai empat orang figur berotot seperti manusia mengelilingi figur manusia lain yang lebih pendek. Figur yang lebih pendek itu berlutut di bawah dengan tangan berada di balik kepalanya.
(Sang Putri! Sial, jadi dia benar-benar tertangkap...!!)
Quenser menarik kepalanya lagi ke balik batu dan melihat ke sekeliling area itu terlebih dahulu.
Dia tidak melihat Object berada di sekitar mereka.
Mungkin benda itu sudah kembali untuk memburu mereka yang selamat setelah sang Putri tertangkap.
Dalam waktu yang singkat, Quenser berpikir bahwa ini adalah sebuah perangkap yang akan menjebaknya dengan sebuah tembakan meriam plasma berkeseimbangan rendah dari jarak yang jauh saat dia misalkan bergerak sedikit saja. Namun, dia sadar bahwa hal seperti itu tidak akan terjadi. Dia ragu bahwa mereka akan menggunakan Object untuk menjebak dirinya sendiri dan Object tidak perlu membuat sebuah jebakan yang digunakan hanya untuk menjebak seorang manusia saja. Sama seperti gajah, Object akan menghancurkan semut seperti menginjak pasir.
Quenser merasa takut bahwa sensor bahaya di kepalanya sudah tidak bekerja secara maksimal.
Object itu sangat menakutkan sampai-sampai dia benar-benar tidak bisa memikirkan apa pun.
Bagaimanapun, jika dia tenang dan memikirkannya lagi...
(Object tidak ada di sini.)
Quenser menyadari berat senapannya sekali lagi.
Dia menjulurkan kepalanya dari balik batu itu untuk mengecek situasinya sekali lagi.
(Kalau aku bisa melakukan sesuatu kepada empat orang itu, aku bisa menyelamatkan sang Putri!!)
Perasaan tidak nyaman yang melebihi rasa takut akan Object mulai membuat dadanya terasa sesak.
Dia “harus melakukan sesuatu” kepada empat orang itu.
Dengan senapan di tangannya, “melakukan sesuatu” itu berarti adalah menembak dan membunuh empat orang manusia itu. Quenser tidak cukup ahli dalam menyerang mereka tanpa harus mengenai organ vital mereka dan peluru di dalam senapan militer ini cukup ampuh untuk menghancurkan bagian tubuh mereka dengan sekali tembakan. Mereka akan mati karena syok walau tidak mengenai organ vital mereka.
Apakah dia bisa membunuh mereka?
Apakah dia bisa membunuh empat orang untuk menyelamatkan satu orang kawannya?
(Sial!!)
Dengan tangan satunya ia menggenggam jemarinya yang gemetaran.
Dia tidak bisa mengendalikan giginya yang terus bekertak.
(Ini adalah medan perang. Membunuh mereka adalah hukum di sini! Menyerahkan semua masalah perang kepada Object... apakah ini yang kita serahkan kepada sang Putri!?)
Di dalam usahanya yang harus meningkatkan keberaniannya, Quenser memukul pahanya dengan kepalan tangannya dan memaksakan dirinya untuk menahan senapan itu. Namun, dia merasa pusing saat dia melihat melalui pembidik itu. dia mundur untuk menahan rasa ingin muntahnya dan entah bagaimana dia berusaha bertahan untuk membidik.
Dia membidik seorang pria yang lebih dekat dekat dengan sang putri.
Dia mengarahkan ke kanan di mana pria yang tidak menyadari keberadaannya itu berada dekat dengan sang Putri.
Sekarang dia tinggal menarik pelatuknya.
Namun, seperti es yang begitu cepat membeku, jari yang berada di pelatuk itu tidak bisa bergerak.
(...Ini adalah manusia.)
Saat dia menahan perasaannya untuk muntah, gambar yang ada di pembidik itu bergerak.
(Ini bukan target yang biasa aku tembak di tempat pelatihan. Ini benar-benar manusia. ini sama sepertiku; prajurit yang terlena oleh kedamaian yang ditawarkan oleh Object yang melindungi negara mereka dan menjamin kepulangan ke negara asal mereka...)
Dia tidak bisa menembak.
Saat dia menyadari hal itu, dia mendengar suara aneh melalui mikrofonnya.
Itu adalah suara seseorang yang ditangkap oleh mikrofon.
Itu adalah suara yang berasal dari salah seorang prajurit yang dia bidik.
“Hei, ayo kita coba daya tahan pakaian khusus Elit ini. Saat Object itu kembali, kita bisa mengikat tangannya dengan tali dan menariknya di belakang. Nanti kita lihat apakah ia telanjang atau tidak saat kita sampai markas.”
Gerakan Quenser terhenti saat dia mendengar hal itu.
Dia mendengar suara tawa dari beberapa prajurit yang lain.
“Tidak peduli betapa mudahnya meluncur di salju ini, bukankah Elite ini tetap akan menjadi daging cincang?”
“Yah, dan apa yang akan kita lakukan kalau dia masih hidup saat kita kembali ke markas kita? Apa kita akan melakukan tes pada tubuh indah Elite ini? Aku dengar orang-orang dari kamar penyiksaan sering mengeluh ‘alat’ mereka mulai tumpul karena jarang dipakai.”
Tidak, bukan gerakannya yang berhenti.
Getaran pada tubuhnya yang berhenti.
Begitu juga dengan perasaannya yang ingin muntah yang membuat tubuhnya bergetar.
Detak jantungnya kembali normal.
Dia mematikan mikrofonnya seperti menutup suara para prajurit yang saling berbicara itu.
Quenser memiliki pemikiran baru.
Dia tidak bisa menarik pelatuk itu karena berpikir bahwa mereka adalah manusia.
Tapi...
Mereka bukan manusia, bukankah begitu?
Suara ledakan yang keras dan peluru senapan itu meledakkan kepala salah seorang prajurit yang tertawa sebelum Quenser sadar bahwa senapannya lah yang mengakibatkan hal itu. Tidak mempedulikan mayat tanpa kepala itu, Quenser berteriak.
“Menunduk!!”
Apakah Sang Putri yang telah mengerti pada apa yang dia katakan atau malah para prajurit yang berada di sekitarnya?
Saat sang Putri itu melempar dirinya di dalam salju, Quenser dengan cepat mengganti mode senapan itu menjadi semi-auto. Dengan latihan yang sangat sedikit pada tangannya, dia ragu bahwa bisa menahan gaya dorong senjatanya saat dia menggantinya pada mode otomatis. Namun, musuh juga tidak mungkin membiarkan diri mereka ditembak oleh Quenser. Dengan refleks, mereka berbalik dan mengangkat senjata mereka ke arah suara itu berasal.
Quenser bergerak sedikit lebih cepat.
Quenser menembak membabi buta semua yang ada di sana, jadi dia mengarahkan larasnya dari kanan ke kiri daripada berhati-hati membidik. Dengan cepat dia menarik pelatuknya, dia menembakkan peluru yang terbang dengan jarak waktu yang membuat kematian terasa begitu pendek. Untungnya, dia membuat mereka terkejut. Darah merah tepercik ke udara dan para prajurit itu jatuh ke salju.
(... Sepertinya aku sudah menyelesaikannya...!!)
Namun, dua sisa dari prajurit yang tersisa itu kemudian berhasil menunduk dan kemudian lari dari tembakan membabi buta Quenser. Saat Quenser berdiri karena berat dari dorongan senapannya, dia melihat salah satu dari prajurit yang selamat mengarahkan senjatanya sambil berlutut. Sambil tetap menunduk, sang Putri menendangnya. Di dalam pergulatan mereka, prajurit itu tidak bisa menembakkan senjatanya. Quenser panik, tapi rasa khawatirnya itu tidak beralasan. Sang Putri memegang tusuk logam untuk memasak yang memiliki standar yang sama dengan peralatan bertahan hidup seperti perban dan tongkat pancing. Dia menusuk prajurit itu dari samping.
Satu prajurit yang tersisa mencoba melarikan diri dari sang Putri, tapi dia dengan cerobohnya mengangkat kepalanya terlalu tinggi sehingga berondongan peluru dari Quenser mengenai kepalanya dan membuatnya jatuh ke salju.
Selesai.
Atau itu yang Quenser pikirkan.
Prajurit yang terluka akibat serangan tusukan dari sang Putri menarik pelatuk senapannya ketika ia jatuh ke salju. Sepertinya, dia tidak berniat melakukan itu, tapi dia menarik pelatuk dari pelontar granatnya yang terdapat di bagian bawah senapannya. Larasnya membidik semua arah... yang tanpa sengaja membidik ke arah Quenser.
Suara ledakan yang keras membentuk sebuah bentuk busur daripada garis lurus.
Quenser tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Segera setelah itu, Quenser terlempar karena ledakan itu dan rasa sakit menjalar ke bagian atas tubuhnya. Pandangannya tertutup oleh warna putih. Saat pertama, dia berpikir bahwa itu adalah langit, tapi sebenarnya kepalanya tertutup oleh salju. Butuh beberapa saat sampai dia bisa berbaring di sisi tubuhnya.
(... Apa ... yang terjadi padaku.... ?)
Saat dia masih belum sadar apa yang terjadi pada dirinya, semua kekuatannya meninggalkan tubuhnya.
Entah bagaimana dia mampu menggerakkan tubuhnya yang membeku seperti mayat yang telah mencapai tahap Rigor mortis, tapi pegangan senapannya masih ada di jarinya. Lengannya kemudian jatuh di atas salju.
Akhirnya dia bisa merasakan rasa sakit di dada dan lehernya.
(Sial, apa yang terjadi? Apa mereka semua mati? Apa aku meleset? Mereka tidak akan bangun lagi kan?)
Tidak ada lagi suara tembakan.
Dia telah membunuh mereka semua, mereka telah kabur, atau mereka berhenti karena mereka sadar bahwa mereka akan menghabiskan peluru mereka? terkubur di bawah salju, Quenser tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
(... Kh ...)
Dia mencoba melihat lukanya, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak sesuai dengan keinginannya.
Sementara itu, pikirannya seperti berhenti bekerja secara normal.
(Apa yang terjadi dengan sang Putri...?)
Dia berusaha keras untuk sampai ke tempat ini demi menyelamatkan sang Putri dan dia tidak memiliki tenaga untuk melihat apakah sang Putri masih hidup atau tidak.
Kesadarannya menurun hingga ia turun ke dalam kegelapan.
Bahkan rasa sakit yang ia rasakan tadi menghilang; tidak ada lagi rasa sakit yang membuatnya harus berteriak.

Bagian 11
Ia serasa mendengar seseorang memanggil namanya.
Yang bisa dia lihat sekarang hanyalah pandangan yang entah berwarna hitam atau warna-warni. Sepertinya warna itu berasal dari kedua bola matanya yang tertutup yang menghasilkan mosaik tanpa proses dari otak. Sementara Quenser kehilangan keseimbangannya, rasanya dia akan muntah, dan matanya begitu kosong, dia mendengar seseorang memanggil namanya.
“... Hoi, bangun, Quenser!! Jangan tidur! Bangun!!”
“Heivia...?” Quenser bergumam dengan suara yang serak.
Tubuhnya tenggelam di dalam salju, tapi dia tidak bisa merasakan dinginnya salju.
“Kenapa? Bukannya kau melarikan diri...?”
“Diam. Aku tidak memiliki pilihan lain.”
Heivia memiliki misil anti-tank yang mudah dibawa, tergantung di punggungnya. Dia sebenarnya tahu bahwa memiliki benda seperti ini pun tidak ada artinya, tapi Heivia merasa bahwa dia harus membawa senjata api sebanyak yang ia bisa bawa. Quenser sepertinya tahu bahwa tubuh Heivia bergetar karena ketakutan.
Rasa takut akan Object tidak akan bisa hilang begitu saja.
Bahkan, Heivia telah mengikuti Quenser.
“... Apakah aku tertembak...?”
“Dasar amatir. Granat tadi tidak diarahkan ke arahmu tapi ke batu yang ada di sana. Tubuh bagian atasmu terkena pecahan batu yang meledak tadi. Kalau kau langsung terkena granat itu, tubuhmu pasti hancur. Mereka sengaja melakukan itu.”
“Begitu ya. Aku payah sekali... apa aku pingsan karena ledakan itu?”
Quenser mencoba untuk bangun, tapi ia mengerang setelah merasa tekanan yang begitu hebat di dadanya. Sepertinya efek syok yang diakibatkan ledakan itu tadi membuat jantungnya berdetak cepat. Ia batuk dan akhirnya ia bisa merasakan dirinya yang masih utuh di dalam salju.
“Oh, tidak! Di mana sang Putri Elite...? Apa dia dibawa oleh musuh saat aku pingsan?”
“Apa yang kau katakan? Kau menang. Kau mengalahkan mereka semua, jadi jangan khawatir. Lihat, pahlawan. Putri yang kau selamatkan ada di sana.”
Quenser melihat ke arah yang ditunjuk oleh Heivia dan melihat sang Elite itu duduk sekitar dua meter dari mereka. Putri berdiri sambil melihat wajah Quenser seperti tidak percaya pada apa yang dia lihat itu.
Ekspresinya saat itu sulit untuk dikatakan.
Hanya saja yang pasti adalah rasa takut yang begitu kuat. Lebih kuat dari syok yang ia rasakan. Dia terlihat tidak bisa percaya bahwa dia telah selamat dan tetap hidup. Emosinya tidak bisa dijelaskan dengan istilah umum yang biasa digunakan.
“Kenapa...?” katanya dengan suara yang bergetar karena emosinya yang masih berkumpul di dalam dirinya. “Kenapa kau datang untuk menyelamatkanku...?”
Setelah itu, apa yang selama ini dia rasakan dan seperti tumpah keluar dari lubang di dalam hatinya.
Atau mungkin dia merasakan sesuatu yang membuatnya tidak bisa berbohong lebih lama lagi.
“Kamu tidak pernah diperintah untuk bertarung. Kamu juga bukan Elite. Kamu tidak dilindungi oleh zirah yang anti ledakan nuklir, jadi kenapa kamu ke sini?”
Quenser merenungkan perkataan sang Elite.
Makna yang lebih dalam dari yang biasa sang Elite itu tunjukkan seperti menampilkan pribadi yang berbeda dari yang Quenser tahu.
“Dan aku akan terus menertawakanmu di dalam hatiku.”
Kata-katanya terus tumpah ke luar.
Hal ini sebenarnya agak tidak sopan untuk dikatakan seorang pilot Object yang menjadi ujung tombak angkatan militer dan, sekaligus, wakil dari negaranya.
“Aku akan menertawakanmu karena kau akan selalu membutuhkanku untuk melindungimu dan karena kalian semua akan terbunuh tanpa Object!”
Namun, hal inilah yang membuatnya kini terlihat seperti manusia.
Quenser sadar bahwa sang Putri itu tidak terlihat seperti air yang bening; ia lebih terlihat seperti air putih yang berbau seperti klorin.
“Aku tidak ingin mengatakan seperti ini dan aku rasa aku memiliki pendapat yang lebih sopan dari itu, tapi aku harus mengatakan ini karena aku memiliki perasaan yang buruk tentangmu!! Kenapa kamu ke sini untuk menyelamatkanku!?”
Quenser dan Heivia saling bertukar pandang.
Mereka kemudian melihat kembali sang Elite.
Mereka melihat seorang gadis yang kehilangan perannya karena kehilangan Object.
“Yang kamu maksudkan dengan ‘perasaan yang buruk’ tentangku itu benar.”
“Eh...?”
“Aku mencoba mempelajari sebanyak mungkin tentang Object, tapi aku sekarang mengerti sesuatu yang kudapat setelah pertarungan hari ini. Benda itu adalah monster. Benar, itu adalah monster. Siapa yang bertarung sendirian di sana selama ini untuk mencegah monster itu datang ke markas kita?”
Gadis itu melihat Quenser dengan pandangan yang terkejut.
Terkubur di dalam salju dengan tingkat gangguan mental dan syok yang tinggi sepertinya tidak menghilangkan keteguhan di wajahnya, tapi Quenser mencoba menggerakkan otot wajahnya yang kaku untuk tersenyum.
“Tapi tidak lama lagi,” kata Quenser sambil mengangkat senapan yang jatuh di dekatnya.
Dia menarik magasin yang telah habis dan menggantinya dengan magasin yang baru yang diberikan oleh Heivia.
Dibandingkan dengan Object, benda ini tidak lebih dari tusuk gigi.
Dengan benda itu di tangannya, Quenser melihat wajah sang Elite dan memperlihatkan mukanya yang kacau itu.
“Kau tidak perlu lagi bertarung sendirian. Apa ada alasan lain yang perlu kau tahu?”
Gadis itu tidak tahu apa yang harus ia jawab lagi.
Dia adalah seorang Elite, pilot yang mengendarai senjata raksasa bernama Object.
Sepertinya tidak ada seorang pun yang pernah berkata seperti itu kepadanya sebelumnya. Dia telah hidup dengan menanggung begitu banyak nyawa di pundaknya, menang adalah hasil yang ingin mereka dengar, dan dia tidak pernah diancam akan kehilangan semuanya jika ia kalah. Dia berusaha sendirian dengan keringatnya sendiri dengan beban seperti itu. Maka dari itu, dia tidak pernah protes atas perannya di dalam perang ini yang tidak memberikan hasil menggembirakan apa pun bahkan ketika dia harus terluka dan berapa banyak perasaan yang kecewa padanya.
Gadis itu tidak begitu menerima apa yang dikatakan oleh Quenser.
Dia berbalik dengan wajah yang kacau kepada Heivia, tapi Heivia menyelanya.
“Aku bukan tentara khusus. Quenser bilang bahwa kamu tidak cukup untuk menjadi umpan dan instingku mengatakan hal yang sama. aku tahu kalau Quenser benar, jadi aku harus menyiapkan sesuatu yang dapat berfungsi sebagai umpan – umpan yang lebih baik dari kita. Kalau tidak, kita akan mati. Dan juga... yah ... seperti yang aku bilang tadi, aku tidak memiliki pilihan.” Dengan gayanya yang biasa, Heivia melihat ke sekelilingnya. “Sekarang, putriku dan ksatrianya. Sepertinya kita tidak bertahan di tempat ini lebih lama lagi.”
“...?”
Quenser termenung, tapi dia sadar apa yang dimaksudkan oleh Heivia kemudian.
Keberanian Heivia yang ia paksakan – tersembunyi dibalik ketakutannya – merasakan kehadiran Object yang mendekati mereka dengan suara petir yang menggelegar.
“Ayo pergi! Kau membuat beberapa kegaduhan saat membunuh prajurit-prajurit itu. Object mereka pasti mengarah ke sini.!!”
Heivia menangis karena ketakutan dan mengakhiri suasana menenangkan itu.
Mereka kembali ke neraka yang menyambut mereka.
Permainan kejar-kejaran dengan taruhan hidup dan mati bersama dengan Object yang mengejar mereka telah dimulai.
“Sial! Ke mana kita harus pergi!?”
Salju yang dalam menahan kaki mereka, tapi Quenser begitu kuat berusaha untuk bergerak. Sementara Heivia berteriak begitu keras untuk menghilangkan rasa takutnya.
“Kau harus mengingat peta area tempat di mana kau berperang!! Ada gua sekitar lima puluh meter lagi dari sini. Kalau kita bisa ke sana, kita bisa kabur dari Object ini!!”
Lima puluh meter.
Itu adalah jarak yang bisa mereka tempuh dengan berlari bahkan dengan peralatan di punggung mereka.
Namun, salju yang dalam ini menahan kecepatan mereka dan Object musuh menggunakan aliran listrik statis yang bergerak dengan mulus di lereng gunung. Gerakannya itu membuat Object terlihat menuruni bukit seperti seluncuran.
Jaraknya sekitar tiga kilometer, tapi jarak itu tidak ada artinya bagi Object.
“Benda itu mengarahkan meriam plasmanya ke arah kita!!” teriak sang Elite.
(Jika Object itu mengarahkan senjatanya ke arah kita, tidak mungkin bisa mengenai kita tepat sasaran. Apa mereka sudah tidak peduli lagi untuk menangkap Sang Putri hidup atau mati?)
Jarak menuju gua itu anehnya terasa sangat jauh.
(Mereka mungkin bisa mendapatkan informasi di mana Object kita disembunyikan kalau bisa menangkap sang Putri lalu menyiksanya, tapi serangan ini sangat berbeda dari tindakan prajurit-prajurit yang tadi!!)
Ia merasa bahwa kakinya begitu kaku karena rasa takut, tapi dia tidak memiliki pilihan lain selain lari.
“Hei, Quenser. Kau insinyur perang, kan? Apa kau punya peledak?”
“Aku punya lima kilogram C4!”
“Apa!? Bukannya standarnya 10 kilo!?”
“Aku merasa bodoh kalau membawa peledak seperti itu ke mana pun aku pergi! Dan kenapa insinyur sipil sepertiku harus menggunakan peledak! Benda itu tidak akan berguna bagi Object!!”
“Berikan padaku! Cepat pergi ke sana!! Pemicunya sekalian!!”
Saat mereka mendekati mulut gua itu, Quenser menempelkan liat seukuran kaleng semprot rambut. Bom itu diletakkan di dalam sebuah paket dengan kertas film yang bening dan Heivia menyiapkan penerima sinyal peledak di kertas film itu sebelum menancapkan pemicu listrik di dalamnya. Dia kemudian menempelkannya tepat di mulut gua itu.
Senjata utama Object mendekati mereka, meriam plasma berkeseimbangan rendah, dengan perlahan mengarahkan senjatanya kepada mereka.
Namun, Heivia lompat ke dalam gua itu sebelum mereka sempat menyalakan pemicunya dan Quenser mengikutinya. Kaki sang Putri tersangkut di dalam salju dan tersandung, tapi dia mampu bangkit kembali dan berguling masuk ke dalam gua.
Quenser dengan panik menangkap sang Putri sebelum berteriak kepada Heivia.
“Hei, apa yang akan kita lakukan sekarang!? Kalau meriam itu menembak gua ini, kita akan dimasak sampai mati!! Tidak peduli berapa dalam gua ini, panasnya akan menaikkan suhu udara di gua ini dan mengubah gua ini menjadi oven untuk memasak kita!!”
“Itulah kegunaan C4! Sekarang, minggir!! Masuk lebih ke dalam!!”
Heivia menyuruh mereka dan Quenser masuk ke dalam gua itu lebih dalam dengan mengajak sang Elite di belakangnya. Setelah masuk sekitar sepuluh meter, Quenser baru menyadarinya.
Apa yang Heivia rencanakan dengan bom C4 itu?
Dia mungkin telah merencanakan sesuatu saat Object tadi mendekati mulut gua, tapi Quenser ragu kalau serangan itu akan memberikan efek ke Object. Lagi pula, zirah Object bisa menahan serangan apa pun bahkan serangan nuklir sekali pun tanpa kesusahan sedikit pun.
“Maaf, aku mencoba mengadu keberuntungan kita dari awal.”
Setelah itu, Heivia menekan tombol pemicu ledakan dengan perangkat nirkabel peledak.
Dengan suara begitu menggelegar, langit-langit gua itu runtuh, menutup pintu gua itu.
Heivia sedang mencoba menguji keberuntungan mereka.
Dari awal, dia ingin mengubur mereka hidup-hidup jika tidak ada jalan keluar.
Kedua, suara ledakan yang menekan tubuh mereka menghancurkan gua itu.
Berkat itu, Quenser merasa bahwa gendang telinganya terbakar.




Bagian 12
Mereka menyusuri gua yang bercabang-cabang itu sedikit lebih jauh lagi dan menemukan sebuah pintu keluar yang lain setelahnya. Setelah keluar, mereka bertiga mengubur jalan keluar itu dengan salju. Mereka sebenarnya ingin meledakkannya dengan C4, tapi suara ledakan itu pasti menarik perhatian Object yang mengejar mereka.
Object raksasa itu tidak dapat masuk ke dalam gua, jadi prajurit manusia-dengan-darah-daging pasti akan dikirim untuk mencari mereka bertiga. Mereka ingin musuh berpikir bahwa mereka masih bersembunyi di dalam gua.
Quenser dan yang lain bersembunyi di dalam hutan Conifer di luar gua itu. Quenser yakin bahwa bersembunyi di hutan di saat seperti ini tidak akan bisa menghilangkan hawa dingin yang menusuk di tanah yang membeku, tapi hutan ini juga mengurangi aliran angin yang dingin; paling tidak mereka bisa menjaga suhu tubuh mereka.
Sambil memakan ransum mereka yang memiliki rasa nasi mentah yang dibuat dari penghapus, Quenser melihat pintu masuk gua itu.
“Yah, sepertinya mereka tidak tahu ke mana kita pergi.”
“Aku masih bisa mendengar suara rendah itu, seperti suara kilat dan guruh, jadi Object pasti masih di dekat sini,” kata sang Putri Elite sambil menegangkan telinganya dan memasukan ransum itu ke dalam mulutnya dengan kedua tangannya.
Mendengar itu, Quenser memfokuskan pendengarannya pada suara yang tidak asing itu.
“Sepertinya menangkap Elite yang mengendarai Object adalah prioritas utama mereka. Mereka tidak akan berhenti mencari sebelum menemukannya.”
Itu juga berarti bahwa kawan yang sama-sama melarikan diri bersamanya tidak akan dibunuh sampai Quenser dan yang lain ditemukan atau musuh memilih menyerah mencari mereka.
Heivia masih memiliki perangkat nirkabel anti misil tank yang menggantung di pundaknya.
“Hei, karena musuh sudah kehilangan jejak kita, apa kita memiliki kesempatan kalau kita melarikan diri sekarang?”
“Mungkin, tapi kita sama saja bunuh diri kalau kita memanjat gunung sekarang,” kata Quenser.
“Sial!” kutuk Heivia.
Gadis Elite itu sedang makan ransum berbentuk kotak dan berkata, “Tapi apa kamu benar-benar yakin kalau kita bisa tetap bertindak sebagai umpan sampai mereka pergi?”
“Kita pasti akan mati kalau kita melakukan itu. Kalau tentara musuh menangkap kilasan bayangan kita saja, mereka pasti akan mengirim Object dan akan menembakkan meriam plasmanya ke arah kita! Bahkan kalau kita keluar sebagai umpan, kita tidak akan berbuat banyak!!”
“Kalau begitu, apa kamu mau bilang kita pergi begitu saja!?”
“Ya!! Aku cuma mau bilang itu!! Bahkan tidak mungkin sang Putri bisa melawan monster itu sekarang! Apa yang memangnya bisa kita lakukan!?”
Sang Putri menundukkan kepalanya yang menyiratkan bahwa dia telah kalah.
“... Itu karena perangkat itu tiba-tiba saja aktif. Aku butuh waktu untuk menunda mode itu dan Object itu berusaha menyerangku saat aku sedang menunda sistemnya.”
“Perangkat… Oh, maksudmu perangkat keamanan.”
Pada dasarnya, itu adalah perangkat peledakan diri sendiri. Object adalah brankas teknologi militer rahasia sebuah negara, jadi harus benar-benar dipastikan bahwa sebuah Object tidak jatuh ke tangan musuh. Jika sensor itu mendeteksi bahwa sebuah Object tidak bisa lagi berfungsi karena kerusakan parah, Object sang Putri akan menutup gas yang digunakan oleh meriam plasma berkeseimbangan rendahnya di ruang kosong di antara zirah dan reaktornya dan meledakkannya.
“Itu tidak penting. Jangan coba-coba melarikan diri dari sebuah masalah dengan obrolan kosong. Kita harus menangani water strider itu!!”
“Apa kau masih berpikir untuk melarikan diri? Kau mungkin bisa selamat, tapi efek traumanya akan tetap hinggap di tubuhmu selama-lamanya! Kamu bangsawan, kan? Menjadi satu-satunya orang yang selamat setelah ini adalah sebuah aib bagimu. Kamu tidak akan bisa menjadi kepala keluarga dan kualitas hidupmu akan terus menurun, menurun, dan menurun lebih cepat dari yang kau bayangkan!”
“....!? Lalu apa yang harus aku lakukan!?”
“Pada saat ini, kau akan mati di sini atau mati di negara asalmu! Kalau kau tidak ingin seperti itu, kita harus melakukan sesuatu sekarang!!”
Mereka bertiga terdiam dan sekarang mereka memiliki pertanyaan yang sekarang harus mereka jawab yaitu “Bagaimana?”
Quenser melempar ransum tanpa rasa itu ke mulutnya.
Dia melihat keduanya dan muncullah sebuah pemikiran.
“Aku adalah tamtama yang mempelajari desain Object, kau adalah analis yang menangani sebuah strategi untuk kemenangan Object, dan kau adalah sang Elite yang mengendarai Object. Kalau begitu, kita bertiga bisa...”
“Hei, kau bercanda kan. Aku rasa aku tahu apa yang kamu pikirkan, tapi tolong katakan kalau kau bercanda.”
“... Kita tidak ada pilihan lain lagi, benar?” kata Quenser dengan ekspresi yang sama dengan orang yang sedang dipojokkan. “Kita harus mencari kelemahan dari makhluk yang tak terkalahkan itu, Object.”

Dan kemudian, Quenser dan dua orang lainnya telah memutari lereng gunung itu dengan kaki mereka, mengarah kembali ke pintu masuk gua yang mereka ledakkan dengan C4.
Dia bersembunyi di dalam salju dan memegang senapannya yang ditaruh di antara celah-celah pepohonan.
Dia tidak berencana untuk menembak musuh.
Dia menggunakan pembidiknya.
Quenser sedang memperhatikan Object, jadi senapan itu sebenarnya tidak ada gunanya.
“(...Hey, jangan tekan pelatuk infra merah itu. kalau mereka menyadarinya, Object akan menembak kita dengan meriam plasmanya.)”
Heivia sedang berbaring di sebelahnya dan memberikan sebuah peringatan kepadanya. Itulah tanda betapa gugupnya ia sebenarnya.
Bukan itu saja yang mengejutkan.
Mereka berada sejauh tiga ratus meter dari Object, tapi jika Object menyadari keberadaan mereka, mereka tidak memiliki jalan lain untuk kembali. Mereka, tanpa ampun, akan dibunuh. Mendengar suara gemuruh itu saja sudah membuat rasa takut mereka begitu tinggi.
“(... Apa yang dilakukan Object itu?)”
“(... Mencari kita dengan radar? ... Tidak. Mereka mungkin bisa mendeteksi tank atau pesawat, tapi aku ragu kalau radar itu bisa mencari manusia.)”
“(... Sepertinya Object itu berusaha mencari akses ke satelit. Namun, sepertinya tidak berjalan dengan baik karena sinyalnya dihalangi sesuatu,)” tambah gadis Elit itu.
“(...Oh, benar juga. Rudal sekam yang digunakan sebagai senjata meteorologi. Rudal itu bisa menyebarkan partikel penghalang sinyal di awan dan mengubahnya menjadi raksasa penghalang sinyal satelit.)”
Kalau Object bisa menggunakan satelit, mereka bisa ditemukan dalam waktu singkat. Quenser begitu berterima kasih atas pembuangan pajak ini.
“Oke, sekarang kita ulas kembali semua yang kita tahu,” katanya sambil melihat melalui pembidiknya.
Heivia melihat Object melalui perangkat misil anti tanknya dan harus berusaha keras agar suaranya bisa begitu pelan.
“Codename-nya adalah Water Strider. Oh, itu nama yang kita buat. Kita tidak tahu nama apa yang diberikan oleh pengembangnya.”
“Nama itu berasal dari kakinya,” kata sang Putri Elit yang merangkak mendekati Quenser sambil melihat water strider itu dengan mata telanjang.
Quenser mengarahkan senapannya ke arah kaki Object itu.
Tubuh utamanya berbentuk bola. Empat kaki itu memanjang dari bola itu dan menusuk tanah di bawahnya.
Bergerak dengan meluncur bukan berjalan. Itu meluncur sama seperti water strider yang bergerak di atas air, dan dari situlah nama itu berasal.
“Sepertinya untuk meluncur di tanah, dia menggunakan tenaga listrik statis. Prinsip kerjanya sama dengan Objectmu, tapi dengan empat kakinya, Object itu bisa bergerak dengan mulusnya di atas permukaan yang kasar,” kata Quenser yang begitu fokus memperhatikan bagian bawah kaki itu.



Sang Putri melanjutkannya untuk mereka.
“Listrik statis itu hanya digunakan untuk membuat Object mengambang, bukan digunakan untuk menggerakkan tubuh Object agar maju. Untuk Objectku, aku menembakkan laser untuk memanaskan udara, tapi Water Strider menggunakan kakinya untuk menendang langsung tanahnya.”
Dengan aspek itu, Water Strider bergerak persis seperti serangga water strider sungguhan. Namun, perhitungan tingkat tinggi dan pengaturan yang teliti pasti dibutuhkan untuk secara cepat memastikan bahwa berat Object tidak tertumpu pada satu kaki saja yang dapat menghancurkan kakinya sendiri. Sebenarnya Object itu harus menggunakan metode di mana kakinya hanya menyentuh tanah saat benda itu menolaknya.
Setelah melalui beberapa pemikiran, Quenser melanjutkan penjelasannya.
“Pada dasarnya, metode listrik statis sama saja dengan hovercraft yang menghembuskan udara di bawah untuk mengambang di atas air. Dari pada menghancurkan Object, bisakah kita menggali tanah di bawah kakinya? Jika ada perbedaan permukaan tanah, energi yang digunakan membuatnya mengambang tidak akan bisa menyeimbangkan berat badan Object dan mungkin tidak akan bisa mengambang lagi.”
“Benda itu masih bisa berjalan dengan empat kakinya kalau perlu. Kalau ada satu kaki yang terjebak, tinggal ditarik saja. Mungkin kita bisa menghentikannya selama 10 detik, tapi tidak akan cukup untuk membuatnya berhenti berfungsi,” Heivia mencoba menjelaskan. “Juga, meriam plasmanya tetap aktif bahkan ketika kita menghentikan kakinya. Kita malah akan merubah mode serangnya menjadi mode bertahan dan berubah menjadi benteng. Ketika benda itu sadar bahwa kita menghancurkan kakinya, Object itu pasti akan meledakkan kita. Mungkin rencana ini akan berhasil kalau kita ingin mati demi menyelamatkan Froleytia dan yang lain, tapi jujur saja aku tidak ingin mati seperti itu.”
“Kalau begitu...” Sang Elite memindahkan pandangannya dari kaki Water Stider sampai senjata utamanya yang dipasang di bagian atas. “Bisakah kita membuat tembakannya meleset? Kalau hanya Object yang bisa menghancurkan Object, mungkin kita bisa menggunakan kekuatan Object sendiri untuk...”
“Mungkin bisa kalau kita memiliki Object kita sendiri, tapi rudal kecil ini tidak akan bisa menggores meriam utamanya.”
Heivia memukul ringan rudal anti tank di punggungnya seperti sampah.
Mereka tidak bisa menghancurkan kaki atau meriamnya.
Yang tersisa hanyalah...
“Jadi yang harus kita tangani sekarang adalah tubuh utamanya.” Quenser melihat bola raksasa yang menjadi tubuh utama Object itu dengan pembidiknya. “Tapi bukankah bagian itu adalah bagian yang paling kuat dari semuanya? Sebuah pelindung nuklir yang mengelilingi reaktor raksasa di dalamnya. Bagaimana mungkin kita bisa menembusnya?”
“Oh ya, kita masih memiliki suku cadang Object kita, kan? Mungkin ada bagian senjata utama sang Putri yang bisa digunakan di sana? Hanya senjata Object yang bisa digunakan untuk menghancurkan Object, kan? Jadi mungkin kita bisa menyerangnya dengan meriam kita.”
“Apa kau tahu berapa banyak tenaga yang dimiliki oleh Object?” Quenser menggeleng kepalanya dengan muka yang masam. “Reaktornya bisa menghasilkan tenaga yang cukup untuk dibagi bahkan ketika 100 senjatanya ditembakkan di saat yang bersamaan. Bahkan pesawat carrier yang bertenaga nuklir sekalipun tidak akan bisa mencukupi tenaga itu. Reaktor itu adalah hasil kerja keras umat manusia. Itu adalah karya tangan manusia yang dibuat oleh 300 teknisi dengan kemampuan yang melebihi mesin. Tidak mungkin ada reaktor yang bisa digunakan untuk mengganti reaktornya.” Quenser melanjutkan kelemahan yang ada pada saran Heivia. “Dan bahkan ketika kita memiliki reaktor itu, senjata itu dibuat khusus untuk Object setinggi 50 meter dan seberat 20 ton. Gelombang kejut pasca tembakan Railgun dan Coilgun mungkin cukup untuk membunuh kita setelah menembak dan reaksi panas dari laser dan meriam plasmanya akan merubah kita menjadi manusia obor. ...Sebenarnya, meriam plasma berkeseimbangan rendah itu akan berubah menjadi roket ketika kita menembakkannya.”
“Aku juga memikirkannya tadi, berengsek. Dan Water Strider sialan itu sudah pasti menghancurkan semua fasilitas perawatan di markas kita dan menghancurkan semua kemungkinan yang dapat memperbaiki Object.”
Namun, dua orang berhenti bicara di bagian ini.
“Tunggu sebentar.”
“Yah.”
Gadis Elite itu terlihat bingung ketika dua orang laki-laki ini mengalihkan perhatian mereka dari pembidiknya dan saling bertukar pandang.
“Kalau kita tidak bisa menghancurkan Object, markas mereka masih dijalankan oleh manusia.”
“Monster itu adalah sebuah senjata, jadi dia akan berhenti bergerak ketika dia tidak mendapatkan perawatan, benar begitu kan?” Quenser dan dua orang lainnya melihat Water Strider yang jauh itu mengarah menuju lereng gunung. Mereka bertiga beralih menuju markas perawatan Object musuh.
Mereka berada di dalam menara berkarat.
Sepertinya menara ini dibangun untuk digunakan sebagai menara pengawas saat menara ini sedang dibangun dan radar yang masih dalam tahap pembangunan. Juga, sepertinya menara ini sudah ditinggalkan sejak markas itu selesai dibangun, jadi Quenser dan yang lain bisa menggunakannya.
Sambil bersembunyi di balik bagian anti peluru yang menempel di menara pengawas ini, mereka melihat dari jauh letak markas perawatan itu tersebar. Markas itu sepertinya memiliki luas 500 meter persegi.
“...Hei, apa kau sadar?” bisik Heivia saat mereka melihat markas itu.
“Yah, banyak sekali fasilitas radar di sini. Dan bahkan, markas ini terdiri dari banyak radar.”
Gedungnya banyak dibangun dari beton yang tebal termasuk area perawatan Object yang digunakan oleh Water Strider atau fasilitas radar yang mendukung Object. Hampir tidak ada kekuatan militer selain Object. Markas ini dibangun berdasarkan teori yang menyatakan bahwa Object sinonim dengan perang dan maka dari itu semua hal harus difokuskan padanya.
“Selain tidak ada tank dan pesawat, bahkan tidak ada kendaraan lapis baja atau kendaraan pengangkut tentara. Beberapa kendaraan tersebar di sana seperti traktor untuk menggali salju.”
“Aku rasa mereka membuang semua fasilitas yang sama sekali tidak berhubungan dengan Object atau fasilitas lain yang tidak diperlukan untuk memangkas biaya.”
“Benar juga, menghabiskan pajak demi perawatan tank dan pesawat yang sudah ketinggalan zaman terdengar sangat bodoh...”
Sepertinya, satu-satunya kekuatan militer di luar Object yang ada di dalam markas itu adalah infanteri. Dan berbicara soal infanteri...
“Aku rasa ini tidak mengejutkan,” gumam Quenser. “Seorang tamtama sepertiku yang tidak pernah memegang senjata tidak akan bisa melawan empat orang tentara sungguhan. Mereka mungkin hanya pekerja perawatan. Mereka tidak akan menduga bahwa mereka menangkap sang Elite, jadi mereka dengan cepat mengumpulkan pekerjanya untuk mencari kita.”
“Tidak peduli mereka terlatih atau tidak, mereka adalah orang berengsek yang kau bunuh. Ini tidak merubah kenyataan bahwa kau adalah ksatria yang menyelamatkan sang Putri,” kata Heivia setengah bercanda.
Suasana hati mereka sedikit meningkat saat mereka begitu dekat dengan Object bahkan ketika hanya sebentar.
“Namun, kalau mereka mengirim pekerja perawatan ke garis depan, ini berarti mereka tidak memiliki cukup banyak tentara. Kalau kita bisa menangani Object itu, Froleytia dan orang-orang yang melarikan diri bisa menyerang mereka semua.”
“Masalah utamanya adalah Object ini,” kata Putri Elite.
Quenser melihat fasilitas besar di markas itu yang sepertinya adalah fasilitas perawatan.
“? ... Sepertinya atap dan dinding itu bisa dibuka.”
“Yah, sepertinya mereka hanya berperang dengan Object. Akan menjadi masalah besar kalau mereka diserang saat Object mereka sedang dirawat. Aku yakin mereka masih mengaktifkan meriamnya ketika dirawat jadi mereka tidak akan bisa diserang.”
“Tapi kalau Object itu masih bergerak, bagaimana mereka bisa merawatnya?”
“Water Strider memiliki 100 senjata, jadi mereka masih memiliki lebih dari 50 lainnya yang tersisa saat setengah yang lain sedang dalam perawatan. Dengan itu, mereka memiliki jumlah minimum yang bisa diaktifkan.”
Quenser melihat ke belakang, yaitu ke arah markas saat mendengarkan suara Heivia.
“... Jadi apa yang harus kita hancurkan?” tanya Quenser kepada teman seperjuangannya sambil memikirkan struktur dari berbagai macam bangunan ini. “Apa yang akan menghasilkan kerusakan paling parah jika dihancurkan.”
“Kau sudah tahu, kan? Kakinya. Pasti ada tempat penyimpanan di sana yang menyimpan suku cadang untuk kaki Water Strider.”
“?”
Sang Elite terlihat bingung, tapi Quenser setuju dengan pendapat itu.
“Bahkan ketika raksasa itu mengambang, pasti kakinya akan memiliki efek ketegangan yang tinggi. Akan sangat buruk bagi permukaan yang rata seperti hovercraft dan menggunakan ujung dari empat kakinya.”
“Menurut rekam jejak perang kita, Water Strider itu selalu mundur ke markas mereka setiap 12 jam dalam sehari untuk perawatan. Sepertinya Water Strider itu harus dibongkar pasang untuk bagian “selop kaca” di bagian kakinya. Menghasilkan tenaga sebesar itu pasti membuat raksasa itu melelehkan bagian logamnya.”
“Objectku menggunakan listrik statis juga, tapi kita bisa bergerak selama setengah tahun tanpa mengganti suku cadangnya. Aku ingat karena itu dipasang menyatu dengan kotak mengatur tekanan gas yang dikeluarkan dari reaktor JPleverMHD.”
“Itu karena efektivitas areanya, itukah yang kau pikirkan? Permukaan datar yang mengambang di bagian bawah Y terbalik memiliki panjang puluhan meter, jadi beban pada satu titik tidak terlalu besar. Namun, Water Strider itu mengambang hanya dari empat kakinya, jadi kaki-kakinya akan cepat rusak. Itulah kenapa ada perbedaan antara Objectmu dengan Water Strider ini di dalam penggantian suku cadangnya; yang satu setiap hari dan milikmu setiap setengah tahun.”
“... Karena itu setengah hari, bukankah itu berarti Water Strider itu akan mengejar kita selama 12 jam lagi walau fasilitasnya dihancurkan?”
“Benar, kalau hanya mengganti ‘selop kacanya’ dengan yang baru. Sudah cukup lama sejak terakhir ia menggantinya dan pasti akan meningkatkan ketegangan di kakinya lebih tinggi dari pada saat bertarung dengan Object sang Putri. Aku rasa, bagian bawahnya pasti sudah terbakar cukup parah sekarang. Dan aku yakin, tidak mengejutkan kalau Object itu akan kembali sekarang.”
“Jadi kalau kita menghancurkan suku cadangnya...” gumam sang Putri.
“Monster itu tidak bisa menggantinya. Object itu akan membakar kakinya dan tidak akan lagi bisa bergerak. Bahkan ketika monster itu dipaksa bergerak, dinding tebalnya akan melelehkan sistem di dalamnya.”
“Kita tidak bisa menghancurkan Object itu, tapi kita bisa melarikan diri dari ancamannya.”
“Itu berarti kita harus memikirkan cara untuk menyusup ke dalam markas musuh,” kata sang Elit.
Quenser dan Heivia melihat gadis pendek itu dan dia melanjutkan bicaranya katanya.
“Sebagai seorang pilot Object, aku punya cara bagaimana kita bisa menerobos jaringan radarnya.”




Bagian 13
Satu-satunya bahan peledak mereka yang tersisa hanyalah C4 yang biasa digunakan untuk meledakan jembatan atau bebatuan dan misil anti tank.
Quenser dan Heivia turun dari menara pengawas itu dan menuju markas perawatan Object.
“... Apakah kita harus meninggalkan sang Putri di belakang?”
“Walau kita bertiga pergi ke sana, tak ada yang akan berubah. Jika Water Strider itu kembali saat kita sedang bekerja, kita harus keluar dari markas, jadi meninggalkannya di sana sebagai pengawas adalah jalan terbaik.”
“Hah. Beri aku waktu berpikir, tuan Ksatria. Bahkan jika tentara berpangkat rendah seperti kita tertangkap oleh musuh, masih ada kemungkinan kalau musuh akan memperlakukan kita seperti tawanan perang. Namun, kalau sang Elite tertangkap, perlakuannya pasti berbeda. Dia pasti akan disiksa secara brutal untuk mendapatkan informasi di mana posisi Object kita yang lain berada atau menghancurkan perlawanan tentara kita sampai ke akarnya. Kau seharusnya bisa memastikan dia bisa melarikan diri kalau rencana kita ini ketahuan.”
“Seperti yang aku bilang: ini yang terbaik.”
Saat Quenser berusaha dengan keras untuk menerobos salju yang tebal ini, sekilas ia tersenyum di bibirnya.
Karena suhu yang amat dingin, itu terlihat sangat kaku, senyum yang kaku, tapi bagaimanapun bentuknya itu adalah senyum yang natural.
“Kau terlihat bersemangat,” katanya ke Heivia.
“Tentu saja. Menyerang markas musuh dengan orang berengsek sepertimu terdengar lebih baik dari pada dikejar-kejar Object musuh.”
Semangat mereka telah kembali seperti semula setelah melalui beberapa candaan sarkastik yang membawa mereka lebih nyaman dan tidak tertekan.
Mereka kemudian mencapai barikade di belakang markas musuh. Markas musuh dikelilingi oleh jaring yang dibuat dari serat sintetik, tapi sepertinya tidak ada sensor yang dipasang di sepanjang jaring itu.
“Apa yang kau pikirkan? Memanjatinya?”
“Jangan, dasar bodoh. Penjaga pasti akan sadar kalau kita memanjat jaring sepanjang 2 meter ini. Kita perlu memotong jaring ini dan membuat lubang di barikadenya,” bisik Heivia saat dia menarik pisau dari pinggulnya.
Dia menggunakan pisau besar itu untuk memotong serat sintetik itu dan menerobos masuk ke dalam markas musuh.
“Ayo pergi.”
“Hei, kau tahu dimana suku cadang kakinya itu disimpan?” tanya Quenser saat dia masuk melalui lubang barikade itu.
Sepertinya banyak bangunan yang dibuat dengan dinding beton yang tebal di seluruh markas itu. Bangunan-bangunan itu memiliki banyak sekali antena yang digunakan untuk membantu penyelidikan Object. Area di antara tiap-tiap gedung itu sangat panjang sampai-sampai seorang penyusup saja bisa langsung terdeteksi oleh menara pengawas atau Object raksasa itu bisa dengan mudah melewatinya tanpa merusaknya.
Heivia menjawab pertanyaan Quenser saat dia bersembunyi di balik gedung di dekat mereka.
“Aku tidak tahu, tapi Object itu pasti harus dibongkar pasang setiap setengah hari sekali. Mungkin tempat bongkar pasang Object itu adalah tempat di mana banyak orang yang mondar-mandir.”
“Ngomong-ngomong, sudah berapa lama sejak Water Strider itu bergerak?”
“Seharusnya dia sudah mulai kembali sekarang, jadi kita perlu menghancurkan suku cadangnya sebelum dia kembali.”
Kalau mereka bisa menahan Water Strider untuk dirawat, ia akan terjebak di markas ini. namun, kalau kaki-kakinya selesai dirawat, ia bisa bergerak dengan sesukanya selama 12 jam berikutnya. Kalau itu terjadi, kawan-kawan mereka yang melarikan diri akan dibantai.
Quenser menggunakan pembidik senapannya untuk melihat fasilitas di sekeliling mereka dan menemukan sebuah gedung yang memiliki banyak sekali jejak kaki di atas salju yang mengarah menuju suatu tempat. Badai salju membuat jejak kaki itu menghilang, tapi salju putih itu tidak menghilangkan noda cokelatnya. Dia bisa melihat jejak kaki dari 100 sampai 200 orang, jejak ban dan kendaraan berat lainnya.
“Gedung itu tidak cukup besar untuk menampung Object di dalamnya.”
“Lalu apakah mungkin jejak kaki itu berasal dari para pekerja yang membawa suku cadangnya ke tempat perawatan Object?”
“Mungkin itu klub striptis yang ada di markas. Kalau memang iya, kita pasti akan bertengkar dengan 100 orang bodoh dengan ereksi di dalam celana mereka.”
Quenser menggunakan pembidiknya untuk melihat empat buah menara pengawas di tiap sudut markas, tapi antena parabola dari fasilitas radar yang dibangun di gedung-gedung itu menghalangi pandangannya untuk memastikan berapa banyak penjaga di menara pengawas itu. Sekali lagi, Object adalah prioritas utama. Sepertinya, walau mereka berlari di sepanjang markas ini, mereka tidak akan tertangkap.
Quenser dan Heivia merangsek masuk ke dalam bangunan dan berlari di area salju terbuka itu.
Mereka hanya memerlukan 10 detik untuk menyeberang, tapi yang mereka rasakan adalah jantungnya yang seakan berhenti berdetak.
Tidak ada suara senapan yang meletus yang terdengar.
Mereka menekan tubuh mereka di dinding depo itu.
“Ayo kita masuk lewat belakang. Apa kau tahu cara membuka kunci elektronik?”
“Kalau perlu, kita buka dengan meledakkan C4.”
“Ide yang bagus kalau kau mau membangunkan seluruh pasukan di markas ini untuk memburu kita.”
Saat Quenser dan Heivia bolak-balik, mereka mengitari bangunan itu dan menemukan kunci pintu belakangnya tidak terkunci.
“... Aku rasa mereka sangat yakin kalau tidak mungkin ada orang yang akan menyusup ke tempat ini.”
“Dan membayar tentara untuk berjaga di sini adalah pemborosan pajak juga.”
Mereka membuka pintu kecil itu dan masuk ke dalam depo.
Bangunan itu memiliki lebar 50 meter, panjang 100 meter, dan tingginya 15 meter. Itu adalah sebuah bangunan yang luas tanpa adanya dinding bagian dalam. Balok logam dipasang secara vertikal dan horizontal di seluruh tempat ini. Bingkai logam sepertinya adalah komponen utama dari tempat ini dan membuatnya terlihat seperti rak buku di dalam perpustakaan.
Dan rak buku itu dibuat berbaris dengan peralatan silinder.
Silinder yang berdiameter setengah meter dengan panjang 5 meter membuatnya terlihat seperti mesin pesawat. Dari pengetahuan Quenser, dia menduga bahwa itu adalah perangkat yang membuat tenaga listrik statis dengan memutar turbinnya.
“Tebakanku, ini adalah salah satu bagian dari bawahan Object, tapi...”
“Yah, di tempatku bertugas, kita harus menganalisis rekaman pertempuran dan mencoba membuat desain perkiraan dari Object musuh. Aku yakin kalau bagian ini mirip dengan diagram perkiraan kita,” kata Heivia setuju.
Quenser melihat turbin silinder itu di mana ada angka yang ditulis di tempat itu. Sepertinya itu adalah spesifikasi sederhana dari pembangkit tenaga listrik itu, tapi...
“...Apa? Bukannya angka desimal ini ada di tempat yang salah? Kalau ini benar, ini bahkan lebih kuat dua kali dari meriam plasma yang mereka gunakan.”
“Untuk menjaga tubuh besar itu tetap mengambang dan bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, mereka harus melakukannya seperti itu. Dari simulasinya, tiap kaki menggunakan 10 turbin seperti itu.”
“Dua puluh kali tenaga yang lebih besar dari meriam plasma? Hanya untuk satu kaki?”
“Lihat,” kata Heivia sambil membuka sebuah penutup turbin itu dan melirik ke dalam. “Benda ini penuh dengan sensor. Benda ini terlihat sangat mirip dengan bom yang ada di dalam film. Ini semua untuk peralatan keamanan tingkat tinggi. Mereka harus benar-benar memastikan bahwa mereka bisa menebak dengan tepat kalau kontrol dari salah satu turbin ini kehilangan tenaganya atau rusak sehingga mereka bisa dengan cepat mematikannya.”
“... Coba pikir, sepertinya aku pernah dengar sesuatu tentang turbin yang meleleh kalau terus-terusan membuat tenaga.”
“Sudah terlambat kalau terlanjur meleleh,” kata Heivia. “Hanya karena turbinnya berhenti berfungsi bukan berarti tenaga yang diproduksi oleh reaktornya akan hilang. Reaktor dan kakinya memiliki trafo darurat dan akan melepas tenaga tiap perangkat yang dipasang, tapi jumlah tenaga yang harus disingkirkan akan jauh lebih besar daripada yang sanggup ia tangani. Kalau semua turbin pada salah satu kaki mati semua, itu sama dengan 20 kali tenaga yang digunakan untuk satu meriam plasma. Aku rasa trafo dan pelepas perangkatnya tidak akan bisa berfungsi kalau turbinnya meleleh dan gagal fungsi. Perangkatnya akan hancur berkeping-keping.”
Itulah kenapa turbinnya memiliki banyak sensor yang dipasang. Kalau mereka bisa memprediksi kegagalan fungsinya lebih cepat, maka mereka bisa menangani pengeluaran tenaga yang terlalu besar itu dengan mematikannya secara bertahap.
“Fungsinya mungkin sangat dioptimalkan... tapi bukannya Water Strider malah terlihat seperti menumpukkan semuanya begitu saja, bukan begitu?”
“Itu hanyalah salah satu aspek untuk membuat Object khusus untuk wilayah bersalju. Salah satu yang dibuat untuk sang Putri, didesain untuk bisa bergerak di seluruh tempat di muka bumi dan Water Strider hanya mampu bergerak di wilayah Alaska yang bersalju. Mereka berdua memang Object, tapi mereka berdua dikembangkan dengan ide dan konsep yang sangat berbeda,” kata Heivia. “Salju yang dalam akan memperlambatmu, jadi Object yang bisa dengan mudah bergerak dengan cepat adalah sebuah keuntungan. ...Dan itulah yang menimpa Putri kita.”
Namun, jika turbinnya tidak bisa digantikan, mereka akan menang.
Kalau listrik statis yang diproduksi di bagian bawah Water Strider dihancurkan, maka ia tidak akan bisa diperbaiki dan Object musuh akan terjebak di dalam markas.
Dan mereka memiliki C4 yang bisa menyukseskan rencana ini.
Tapi...

Bagian 14
Masih berada di dalam menara pengawas yang tidak begitu jauh dari area markas, sang Elite itu sedang menunggu kembalinya Quenser dan Heivia.
Tiba-tiba, telinganya berkedut dan ia langsung berbalik menuju arah sebaliknya.
Dia mendengar suara bising kilat dan guntur yang dibuat oleh Water Strider saat bergerak dengan menggunakan tenaga listrik statis. Sepertinya Water Strider sudah mencapai batas maksimumnya dan akan segera kembali ke markas.
Jika benda itu melewati dua orang rekannya di markas, mereka pasti akan mati.
Gadis itu memiliki radio yang memang ditujukan untuk situasi seperti ini. Jika sudah saatnya, dia harus mengontak Quenser dan Heivia jadi mereka bisa pergi dari sini. Rencana mereka akan gagal, tapi paling tidak mereka masih bisa hidup. Jika rencana menghancurkan bagian bawah Object itu gagal, maka mereka harus mencari cara lain lagi.
Sang Elite itu meraih saklar radionya, tapi tiba-tiba dia berhenti.
(....Ini buruk.)
Dia menelan ludahnya.
Markas musuh terdiri dari fasilitas perawatan yang khusus dibuat untuk Object dan fasilitas radio yang besar untuk mendukung Object dari belakang. Mereka sepertinya menggunakan radar-radar ini untuk mendeteksi musuh di badai salju, tapi jika dia menggunakan radio sedekat ini dengan markas musuh yang memiliki banyak sekali radar penjejak...
(Mereka pasti akan menyadarinya. Tidak hanya menyadari keberadaanku, tapi mereka pasti sadar bahwa sinyal itu diarahkan ke arah markas...)
Radio itu seharusnya digunakan untuk memperingatkan mereka akan adanya bahaya, tapi sinyal transmisi radio ini sendiri membawa malapetaka bagi mereka.
Namun, dia tidak bisa memberi tahu mereka berdua kalau Object musuh sudah mendekat tanpa menggunakan radio.
(Apa yang harus aku lakukan?)
Elit itu menunduk dan melihat radio itu.
Dia tidak ingin orang lain mati. Ini bukanlah masalah kewajiban untuk melindungi para prajurit dari Object karena dia adalah seorang Elite, pilot dari Object. Lebih dari sumpahnya, dia tidak ingin ada orang yang mati karena melindunginya malah mati sia-sia.
Kawan seperjuangan.
Saat pikiran itu muncul di kepalanya, sang Elite itu mengangguk.
(Prioritas musuh adalah menemukan pilot Object...)
Dia mengambil napasnya yang dalam dan melihat senjata raksasa itu begitu dalamnya.
Ini adalah satu-satunya kesempatannya untuk menjadi umpan.

Bagian 15
Dengan C4 di tangannya, air muka Quenser berubah semakin masam.
“... Apa yang harus kita lakukan?” katanya dengan suara yang bergetar.
Bagian perawatan untuk Object adalah sebuah peralatan yang dibuat dengan presisi yang sangat khusus tanpa adanya cangkang bagian luar, jadi C4 sudah lebih dari cukup untuk menghancurkannya.
Namun...
“Ada banyak sekali benda yang harus dihancurkan. C4 kita tidak akan cukup!!”
Ruangan yang sangat besar di dalam bangunan ini menyimpan banyak sekali bagian silinder. Quenser mengertakkan giginya pada situasi yang terasa kacau ini.
Object adalah sinonim dari perang.
Semua orang di dalam markas ini akan mati jika Object tidak berfungsi lagi.
Jumlah suku cadang yang begitu banyak di markas ini menunjukkan betapa takutnya mereka akan hal yang akan terjadi itu. Musuh begitu pengecut karena menyerahkan semua masalah perang kepada Object, tapi itulah yang membuat mereka sadar akan kelemahannya.
Heivia memikirkan masalah yang sama dan ia menepuk bahu Quenser.
“Hey, ayo kita ledakkan seluruh bangunan ini saja. Kalau kita tidak bisa menghancurkan suku cadang ini satu-satu, kita bisa menghancurkan tiang utama bangunan ini dan meruntuhkannya!!”
“Apa kau benar-benar yakin kalau tindakan itu pasti akan merusak seluruh suku cadang ini? Dan bahkan kalau setiap suku cadang ini rusak, mereka masih bisa mencari sisa-sisanya dan mengerjakan tiap komponen menjadi satu yang baru yang bisa digunakan!”
“Tapi itu-...! Tidak, kau benar. Melanjutkan operasi Object adalah masalah hidup dan mati bagi mereka. Tidak mengejutkan kalau mereka begitu gigih. Tapi apa yang harus kita lakukan?”
“Sial!!” Quenser mengutuk kejadian ini dan lari ke arah depo.




Dia melihat tiap rak yang dibuat dengan bingkai logam untuk melihat apakah dia bisa mendapat informasi yang berguna. Saat dia membaca layarnya, rasa tidak sabarnya menumpuk, dan mencegahnya untuk menemukan solusi.
Di saat yang sama, Heivia melirik ke arah pintu keluar.
“Hey, ini berbahaya. Kita harus pergi dari sini! Kalau kita tidak bisa menghancurkan bagian bawah Object itu, tidak ada gunanya lagi kita berlama-lama di sini!! Kita harus keluar dari sini segera!!”
“Tunggu, tunggu sedikit lagi!! Pasti ada sesuatu!!” jawab Quenser saat dia membalik petunjuk manual perawatan turbin yang ia temukan.
Saat dia mendengar suara berat yang mirip dengan guntur mendekat mereka dari langit, jantungnya serasa mau berhenti.
Itu adalah suara Water Strider yang bergerak.
“Sial!! Kenapa Putri tidak memperingatkan kita lewat radio!?” pekik Heivia, tapi Quenser tidak mempedulikannya.
Setelah datang sejauh ini, mereka akan mati sia-sia tanpa ada hasil yang mereka dapat.
(Tunggu dulu sebentara. Kombinasi sensor level empat ini dan saklar otomatisnya...)
Quenser melihat ke belakang dan melihat buku manual perawatan itu dan kemudian raknya.
(Angka apa!? Kalau aku tahu angka kuncinya...!!)
“Waktu habis, pahlawan!! Kalau kita tidak keluar dari ini dalam 30 detik lagi, kita akan terjebak di sini!!”
“Beri aku satu menit lagi.”
“Kenapa kau sibuk sendiri!? Apa kau tidak bisa menyimpulkan kalau kita tidak bisa menghancurkannya!?”
“45 detik!!”
Heivia mendengar suara langkah kaki dalam jumlah besar mendekati mereka. Quenser sepertinya sudah kehilangan kemampuannya untuk membuat keputusan yang rasional dan logis karena harapan yang mereka miliki saat ini. Saat Heivia berpikir untuk menendang bokong Quenser agar membuatnya mau ikut pergi, Quenser melihat kepada Heivia.
“Ayo kita pergi. Apa kita masih bisa melakukannya!?”
“Karena ada orang idiot yang menghabiskan waktu di saat yang penting, ini pasti akan menjadi sangat mendebarkan, tapi masih bisa! Lewat sini!!” kata Heivia saat mereka berlari menuju jalan belakang.
Dia membuka pintunya dan mengintip ke luar untuk melihat apakah Object itu telah melewati mereka. Sepertinya Object itu mengarah menuju area perawatan. Prajurit teknisi mengikutinya dari belakang.
“Apa kita bisa melakukannya?”
“Yang kita lakukan sekarang ini sama seperti masuk ke dalam sarang lebah, tapi kita tidak memiliki kesempatan lain. Fasilitas radar akan berada dalam status siaga yang sangat tinggi saat Object berada dalam status perbaikan. Kita harus keluar dari sini sebelum mereka mengganti modenya.”
Mereka bisa mendengar suara berdenting.
Itu tidak berasal dari pintu belakang. Personil yang bertugas di pintu utama itu sedang membuka pintunya.
“Berengsek, ayo pergi!”
Quenser dan Heivia hampir mendorong satu sama lain saat mereka keluar dari depo itu.
Sepertinya tentara musuh sudah menurunkan penjagaannya karena satu-satunya Object yang menjadi ancaman mereka telah dihancurkan. Orang-orang dengan jumlah yang besar berkumpul di dekat Water Strider seperti sedang melakukan parade kemenangan.
“Hei, kau tidak berniat untuk menggunakan C4, kan? Nyalakan pemicunya dan lempar ke arah sana.”
“Apa kau ingin menggunakannya sebagai pengalih perhatian?”
“Saat Water Strider itu selesai diperbaiki, kita membutuhkan rencana baru untuk keluar dari sini. Kalau mereka melaporkan ledakan itu ke seluruh area di dalam markas ini, mereka pasti berpikir kalau itu adalah serangan meriam dan Object akan dikirim untuk membalasnya!!”
Quenser pergi mengikuti ide Heivia dan melempar bagian kecil dari C4 itu dan berlari. Ternyata benar bahwa mereka tidak memerlukan C4 itu.
Setelah membuang semua C4nya, mereka berlari ke belakang ke arah lubang yang mereka buat di barikade tadi.
Lalu Quenser menyadari sesuatu.
Dia berhenti.
“Apa yang terjadi, pahlawan!? Apa kau meninggalkan sesuatu di belakang!?”
“Ya, Putri sudah tertangkap!!”
Heivia syok ketika dia mendengar hal itu dan ia memperhatikan secara serius apa yang dikatakan oleh Quenser.
Mereka kembali lagi ke arah gedung lain dari pada keluar melewati lubang yang mereka buat di barikade dan mengintip melalui sisi samping agar mereka bisa melihat pusat dari markas itu.
Dari jarak tersebut, mereka bisa melihat sang Elite diborgol dan dipaksa untuk berjalan di dekat Water Strider. Sorak-sorai mereka ternyata bukan karena kembali Obyek mereka, tapi mereka begitu bersemangat karena mereka telah menangkap orang yang selama ini memiloti Object yang telah membahayakan nyawa mereka selama ini.
Quenser melihat ke belakang dan kemudian dia menjadi bingung karena dia melihat sang Elite yang ada di depannya dan lubang keluar yang ada di belakangnya.
“Brengsek. Apa yang harus kita lakukan!?” tanyanya.
“Apa yang harus kita lakukan...? Oh tidak. Padahal tadi aku baru saja mengagumimu sebagai seorang ksatria, sekarang kau tidak bisa memilih apakah kau harus menyelamatkan sang Elite!”
“Jadi apakah kita harus meninggalkannya!? Aku tidak bilang kalau kita bisa mengalahkan Object. Kita bisa meledakkan C4 itu di mana saja, ingat!? Kalau kita bisa membingungkan musuh dengan itu, kita bisa memiliki kesempatan untuk menyelamatkannya!!”
“Dengan kita berdua saja!? Mereka memiliki Object. Dan kalaupun mereka tidak memiliki Object, mereka memiliki banyak pasukan di sini! Apa kau tahu, berapa banyak bala bantuan yang kita butuhkan untuk menerobos mereka semua!?”
“Tapi tanpa Object, masalah ini jadi lebih sederhana kan?”
“Apa?”
“Kalau kita bisa mengalahkan Water Strider, kita bisa melawan mereka dengan bala bantuan seperti tank atau pesawat, kan!?”
Quenser mengertakkan giginya dan mengoperasikan radio di tangannya.
Dia tidak meledakkan C4.
Dia mencoba menghubungi Froleytia dan para tentara lainnya yang melarikan diri, tapi Heivia langsung meraih tangannya ketika menyadari hal tersebut.
“Kau bodoh!! Markas mereka ini dibangun dengan banyak fasilitas radar! Kalau kau mengirimkan sinyal radio, mereka akan menemukan kita dalam sekejap!”
“Tapi...!!”
“Tidak ada yang bisa kita lakukan. Kalaupun kita mengontak Froleytia dan yang lain, apa kau pikir mereka akan benar-benar datang!?”
“Lalu apa kau pikir kita bisa meninggalkan sang Putri!? Apa kau tidak sadar alasan kita memisahkan diri dari pasukan utama dan datang ke tempat ini!? Itu karena kita tidak ingin meninggalkannya!”
“Berengsek,” kata Heivia sambil mendecakkan lidahnya.
Dia terlihat ragu dengan sesuatu, tapi akhirnya dia membulatkan keputusannya.
“Instrukturku dulu waktu di akademi militer pernah memberi tahu aku sebuah rahasia saat aku masih dalam masa-masa pelatihan.”
“?”
“Kalau kau bisa meningkatkan kekuatan pelacak inframerahnya pada misil anti tank generasi ke-8 ini, kita bisa membuat sebuah modifikasi khusus untuk diarahkan ke komputer, dan hubungkan ke port radio, satelit berkekuatan tinggi milik militer akan menangkap sinyal infra merah itu, dan menyelesaikan transmisinya.”
“Tunggu, kau bilang....!!”
“Tapi tidak ada jaminan bahwa fasilitas radar musuh tak menyadari trik kecil seperti ini dan rudal sekam yang menghalangi sinyal di langit tak akan menghalangi sinyal ini. Instruktur yang mengajariku trik ini bilang bahwa cara ini hanya boleh digunakan sebagai cara terakhir untuk mengirim sinyal SOS. Kita hanya bisa berserah pada keajaiban jika sinyal itu bisa bertahan selama semenit.”
Saat dia menjelaskan semua itu, Heivia menurunkan misil itu dan membuat perlengkapan. Quenser memindahkan penutup misil itu dan mengarahkannya ke komputer.
“Apa kau tahu di mana dan kapan satelit akan melintas di atas kita?”
“Lihat jadwal di File 399 di perangkat genggammu. Kalau masih berada di dalam orbit standarnya, maka kita bisa memastikannya tanpa harus mengeceknya secara Online.”
Heivia mengkoneksikan radio dan misil anti tank itu dengan kabel dan secara perlahan memindahkan moncongnya ke arah langit berdasarkan petunjuk yang ia miliki Quenser di perangkat genggamnya. Saat dia melakukan itu, suara statik muncul di pengeras suara radio itu.
“Ini, Heivia. ... Oke, sepertinya kita mendapatkan satelitnya.”
“Cepat dan amankan jalur transmisinya dan hubungkan dengan perangkat komunikasi laser satelit milik Froleytia! Aku tidak tahu berapa lama koneksi ini akan bertahan.”
Meski cara yang mereka gunakan ini ilegal, tapi mereka masih menggunakan kode umum militer, sehingga satelit masih bisa menyiarkan sinyalnya. Setelah mendapat sinyal yang menandakan bahwa cara ini berhasil, Quenser berbicara lewat radio.
“Ini Quenser. Apa kau bisa mendengarku, Froleytia? Kita ada di dalam markas musuh!!”
“...!?”
Mereka mendengar suara napas seseorang yang berasal dari dalam radio itu.
Karena memaksakan sinyal dengan perangkat rudal anti tank ini, sinyalnya terganggu dengan noise di dalamnya. Statiknya lebih besar daripada suaranya, tapi mereka masih mendengar kata-kata yang terucap satu sama lain.
“Putri tertangkap oleh musuh di markas ini. Kita akan menyelamatkannya. Apa kau bisa mengirimkan bantuan? Markas ini hanya dibuat untuk perawatan Object saja dan fasilitas radar, jadi mereka tidak memiliki tank atau pesawat tempur. Jadi kalau kami bisa melakukan sesuatu dengan Object itu, kita masih memiliki kesempatan untuk mengalahkan mereka!!”
“Apa kau tidak tahu betapa berbahayanya Object itu? Menyerahlah untuk menyelamatkan sang Putri. Tidak ada gunanya mati dan, Quenser, kau bukan prajurit sungguhan. Tidak ada yang akan menyalahkanmu kalau kau melarikan diri!!”
“Kita akan mengurusi Objectnya,” kata Quenser datar. Tidak ada yang mengira bahwa kata-katanya memiliki arti yang sebenarnya dari pada gertak sambal semata. “Froleytia, kau bisa menunggu sampai kau melihat cahaya besar akibat hancurnya Object, tapi yang harus kau lakukan adalah mengirim tank dan bala bantuan kepada kami! Itu saja bisa merubah situasi ini. Tolong pikirkan hal ini!!”
“Oke, tapi aku tidak akan begitu berharap kalau aku adalah kamu.”
“Aku bebas memilih untuk berharap atau tidak,” kata Quenser sebelum mematikan radionya.
Dia lalu melihat Heivia.
Dia tertunduk dengan tubuh yang bergetar dan berkata, “Sekarang kita telah melakukan apa yang kita bisa.”
“Yah, tapi aku tidak berpikir bakal ada perubahan berarti kalau Froleytia membantu kita. Untuk satu hal, permintaanmu tidak didasari tata tertib militer. Dia tidak akan membahayakan bawahan dan unitnya dalam bahaya seperti ini.”
“Sekarang yang tinggal kita lakukan hanyalah berharap bahwa keajaiban akan terjadi, atau menghancurkan Object itu sendiri dengan tangan kita.”
“Jangan berbicara seperti membalikkan telapak tangan. Dan aku tidak pernah bilang sepatah kata pun tentang menyelamatkan sang Putri.”
“Aku tahu.”
Quenser tidak akan mengutuk Heivia jika ia ingin melarikan diri. Dia yang memaksanya untuk ikut dalam kejadian ini, jadi tidak ada jaminan bahwa mereka akan selamat. Juga, apa yang Quenser lakukan sekarang bukanlah tindakan yang akan dilakukan seorang prajurit militer. Bahkan, dia sangat berterima kasih karena Heivia mau menemaninya di saat seperti ini.
“Maaf, sudah membawamu di situasi seperti ini. Kau bisa meninggalkan markas ini melalui barikade itu dan melarikan diri ke hutan. Aku akan melakukan apa pun untuk mengalihkan perhatian mereka terhadapmu.”
“Tunggu, sialan kau. Jangan tinggalkan aku dengan trauma seumur hidup ini! Kau tidak memberiku pilihan lain, kau tahu!?”
Heivia masih begitu keras kepala saat melirik ke arah barikade yang telah mereka lubangi sebelumnya, tapi saat Quenser menerobos dari belakang gedung itu dan meraih satu-satunya tempat mereka untuk berlindung dari pandangan musuh, Heivia mengikutinya dari belakang.
Quenser dan Heivia mengarah ke luar sendirian untuk melanjutkan misi ini sendirian dengan kemungkinan keberhasilan yang sangat kecil.

Dan tentu saja, tidak ada keajaiban yang terjadi.
Setelah 10 menit, mereka ketahuan, tembakan peringatan ditembakkan ke tanah tempat mereka berpijak oleh seorang Sniper, dan akhirnya mereka tertangkap oleh pasukan musuh dengan tangan yang diletakkan di atas kepala mereka.

Bagian 16

Quenser, Heivia, dan Sang Elite dibawa ke pusat markas perawatan. Mereka diperintahkan untuk berlutut dan meletakkan tangan mereka di atas kepala.
Seorang prajurit ditempatkan masing-masing di belakang mereka, sambil membawa pistol yang mengarah ke kepala mereka. Lingkaran manusia terbentuk di markas itu dan menampilkan eksekusi publik.
“Cerita yang menyedihkan, bukan? Ini adalah contoh yang bagus bagi kisah seorang ksatria yang menyelamatkan putrinya.”
“Apa kau mengejekku?”
“Oh, tidak. Object itu memasuki wilayah perawatan.”
Saat Heivia dan Sang Elite bertukar kata dan melihat ke belakang, Quenser terdiam dan menatap Water Strider yang berjalan pelan itu.
“(...Kalau aku bisa bisa membuat kekacauan, apa kamu pikir kita bisa pergi dari sini?)
“(...Ahhn? Maksudmu peledak C4 yang kita sebar tadi? Kalau itu bisa meledakkan Object, mungkin patut dicoba.)”
“(...Aku serius ini.)”
“(...Aku juga.)”
Sementara itu, salah satu prajurit musuh maju dan berdiri di depan Quenser dan yang lain. Sambil mengunyah permen karetnya, dia meludahkan ludah kuning ke atas kepala Quenser.
“Kita akan memanggangmu dengan senjata utama Object.” Dia berbalik ke sang Elite. “Untukmu, kita akan menggunakan sugesti dan elektrode untuk menarik semuanya keluar dari kepalamu. Kepribadianmu tidak akan bisa pulih kembali, tapi semua itu akan selesai setelah 30 menit. Setelah itu, kau akan kami telanjangi dan kami gantung di senjata utama Object sampai kau mati kedinginan. Mungkin para pengintai yang berlari di hutan dan gunung ini akan menyerah ketika melihat itu.”
“... Jadi kau tidak peduli dengan perjanjian perangnya dan memperlakukan tawanan perang. Aku rasa kau tahu siapa yang sebenarnya melarikan diri, bukan, berengsek.”
Heivia membiarkan komentarnya meleset dan setelah itu dia mendapatkan sebuah sepatu bot tebal di dagunya. Itu menjatuhkannya dan membuatnya tenggelam di dalam salju. Saat dia terbatuk, dia memandang musuh dengan tatapan yang begitu tajam.
“Perawatannya sudah selesai, jadi ini saatnya eksekusi,” kata prajurit musuh itu dengan mengejek.
Dengan suara bising seperti lonceng gereja, dinding dan langit-langit bangunan tempat memperbaiki Object itu terbuka dengan lebar. Yang muncul dari situ adalah sebuah senjata besar dengan panjang tubuh utamanya 50 meter dan senjata utamanya yang memanjang ke setiap arah, membuat panjangnya bertambah menjadi 140 meter. Water Strider menguasai seluruh Alaska dengan lebih dari 100 senjata dan tebalnya zirahnya. Saat bawahannya diganti, suara guntur dan kilat yang bising muncul yang terbuat dari sejumlah besar listrik statis yang dibuat dengan berfokus pada satu titik itu.
Jaraknya sekitar 300 meter dari Object, tapi dengan kekuatannya yang begitu besar tidak peduli seberapa panjang jaraknya dengan musuh, pasti bisa dihancurkannya dalam sekejap. Hal itu membuat mereka merasa seperti akan dilindas oleh kaki-kakinya jika mereka menggerakkan tubuh mereka sedikit saja.
Melihat Object itu, Quenser berbisik kepada Heivia.
“(...Menunduklah saat aku menerjangnya. Gunakan traktor penyapu salju itu untuk berlindung.)”
“(...Hey!!)”
Heivia tidak bisa menghentikannya.
Quenser menerjang musuh yang mendekatinya. Semua prajurit yang ada di tempat itu memegang senapan, tapi mereka tidak bisa menarik pelatuknya karena terganjal sesuatu. Sepertinya memang benar bahwa para prajurit di sini banyak yang tidak terlatih.
Musuh mungkin berpikir bahwa Quenser akan meraih senapannya karena dia menarik senapan itu dari dirinya.
Namun, Quenser tidak meraih senapan itu.
Dia meraih radio kotak yang ada di bahu prajurit itu seperti pisau.
“Menunduk!!” teriak Quenser saat dia mendorong prajurit itu.
Quenser mengoperasikan radio itu dengan ibu jarinya sambil berguling di atas salju meski banyak moncong senjata yang mengarah padanya. Heivia berpikir bahwa dia akan meledakkan C4 yang disebar di markas ini, jadi dia segera melompat ke balik traktor itu sambil melindungi sang Elite.
Namun, bukan itu yang terjadi.
Quenser tidak meledakkan C4 itu untuk menarik perhatian musuh.
Dia meledakkan kaki Water Strider.
Dengan suara yang begitu keras, salah satu dari empat kaki sejauh 300 meter itu meledak dari dalam. Itu bukan ledakan yang berasal dari luar. Ledakan itu sangat jelas berasal dari dalam zirahnya.
Saat Quenser melihat suku cadang di depo itu, dia tahu bahwa tidak mungkin meledakkan setiap suku cadang yang ada di sini. Itulah kenapa dia mencari suku cadang yang paling mungkin akan digunakan pada Object untuk perbaikan nanti dan meletakkan C4 di dalamnya. Masih banyak harus dipelajarinya, tapi pengetahuan yang dia dapat soal konstruksi dari Object telah membuatnya yakin mana saja suku cadang yang paling penting dan di mana dia harus meletakkannya agar tidak ketahuan.
Juga, dia meledakkan turbin yang memakan tenaga yang sangat besar untuk tenaga listrik statis yang membantu Water Strider bergerak. Bahkan untuk satu kaki membutuhkan 2 kali tenaga meriam plasma berkeseimbangan rendah yang berarti tiap kaki menggunakan 20 kali tenaga lebih besar dari pada yang biasa digunakan. Ini membuat titik baliknya.
Jadi apa yang terjadi jika titik itu dihancurkan?
Puluhan sensor yang dipasang pada turbin itu memprediksi kegagalan dan menutupnya dengan cepat untuk meminimalisasi kerusakan yang ada. Berapa banyak kerusakan yang ditimbulkan saat trafo darurat dan perangkat pelepasnya – begitu juga dengan reaktor tersebut – meledak dan menimbulkan reaksi berantai yang menghancurkan sisa lainnya?
Prajurit yang Quenser curi radionya itu sekarang mengarahkan moncongnya ke arah Quenser dengan ledakan yang mengikutinya.
Tapi...
“... Apa kau pikir kau bisa menghancurkan Object hanya seperti itu?” katanya dengan begitu bangga.
Ledakan beruntun mengikutinya, tapi yang meledak hanyalah satu kaki. Sepertinya tidak begitu berpengaruh terhadap hancurnya kaki Object yang lain; atau menghancurkan tubuh Water Strider itu.
“Apa kau tahu 5% dari berat Object kami menggunakan peralatan pengaman? Prajurit rendahan sepertimu yang menyusup ke dalam fasilitas perawatan kami tidak mungkin bisa memotongnya.”
Setelah menyebabkan ledakan besar itu, Quenser melompat dari traktor penyapu salju itu dan prajurit musuh yang lain berdiri di tengah-tengah hamparan salju yang terbuka dan mengarahkan laras senjata mereka kepadanya.
“Kekuatan superioritas Object tidak akan pernah bisa diungguli oleh siapa pun. Ini adalah medan perang tempat kita hidup.”
“Benarkah begitu?”




Namun, Quenser tersenyum di situasi tanpa harapan ini.
“Apa kau tahu bahwa Object milik putri kami dan Water Strider milikmu memiliki kesamaan? Aku melihatnya di panduan manual perawatannya. Beberapa Object memiliki perangkat keamanan yang dipasang untuk memastikan bahwa Object tidak jatuh ke tangan musuh. Jika tidak hancur tapi sudah tidak berfungsi lagi, musuh bisa mengambilnya dan menganalisis teknologi yang digunakan. Untuk mencegah hal itu, gas khusus yang digunakan untuk meriam plasma digunakan untuk menghancurkannya.”
Sesuatu muncul di tangan Quenser seperti di panggung pesulap.
Itu adalah benda kecil yang muat di telapak tangannya dan terlihat seperti papan sirkuit kotak.
“Perangkat ini dikontrol oleh sensor presisi, jadi hampir tidak pernah digunakan untuk hal yang tidak penting.”
Prajurit musuh itu sadar tentang benda kotak yang dilihatnya itu apa.
Namun, itu semua sudah terlambat.
“Tapi jika sensor itu dipindahkan dari turbin yang meledak itu, apa kau pikir benda itu bisa melakukan keputusan yang tepat?”
Lagipula, ledakan C4 itu sudah merusak fungsi keamanan Water Strider, menyebabkannya untuk aktif. Gas spesial untuk meriam plasma berkeseimbangan rendah diisi di ruang kosong di dalam mesin itu... dan menyebabkan ledakan tak lama setelah itu.
Ledakan besar yang diakibatkan plasma itu menghancurkan reaktor di dalamnya dalam waktu yang sangat singkat. Namun, itu adalah ledakan yang dimaksudkan untuk menghancurkan semua informasi yang ada. Itu adalah ledakan yang digunakan hanya untuk menghancurkan teknologi yang ada di dalam Object itu agar tidak dianalisis, jadi ledakan itu tidak seberapa kuat dibandingkan ledakan yang diakibatkan oleh ledakan reaktor tersebut.
Dan kemudian, semua suara menghilang.
Bola raksasa yang menjadi tubuh utama Object membesar dan sebuah kilat cahaya berwarna putih dan gelombang kejut yang begitu kuat menyebar ke segala arah. Prajurit musuh yang berdiri di area terbuka terjebak karena gelombangnya. Dia terlempar beberapa puluh meter sebelum mendarat di atas salju. Hal yang sama terjadi kepada prajurit yang lain.
Object raksasa itu meledak di tangan seorang prajurit teknisi.
Kejadian ini adalah sebuah kejadian yang tak pernah terdengar sebelumnya dan membalikkan teori perang yang ada. Penyelesaian dari misi ini diselesaikan oleh kombinasi kemampuan dari Quenser, Heivia, dan sang Elite. Teknisi Perang yang biasanya bekerja di balik layar untuk menghancurkan batuan atau jembatan untuk membuat atau membangun jalur mendapatkan sebuah kenaikan yang luar biasa menjadi seorang pahlawan yang mengubah semua sejarah perang.
Namun, dia tidak memiliki waktu untuk menikmati hasilnya.
“Gwaaaaaahhhhhhhhhh!!”
Quenser terkena gelombang kejut itu, tapi tidak terlempar dengan mudahnya.
Meski dia berjarak 300 meter dari pusat ledakan dan bersembunyi di balik traktor itu, ledakan cahaya putih itu serasa menusuk retinanya.
Permukaan traktor baja itu hangus dan meluncur ke samping.
Rasa sakit langsung menjalar ke kepalanya dan indera pendengarannya serasa hampir hilang. Rasa sakit akan terbakar terasa begitu sakit di punggungnya. Dia menggosok matanya saat matanya dipenuhi oleh warna putih di mana-mana dan mencoba mencari di mana Heivia dan Sang Elite yang mungkin berada dalam kondisi yang sama dengannya atau pingsan.
Dia kemudian mendengar suara logam berdenting.
Beberapa prajurit secara ajaib berhasil selamat sama seperti Quenser dan dua orang kawannya. Penglihatannya kembali dan dia melihat beberapa prajurit dengan susah payah mencoba mengarahkan senapannya ke arahnya dengan tubuh yang terus bergetar karena efek ledakan itu.
Quenser sekali lagi merasakan radio di tangannya.
Dia mengeset frekuensi dan mengirimkan kode peledak untuk C4.
Peledak yang dia sebar dimana-mana membuat ledakan yang melempar tubuh para prajurit itu ke langit.
Quenser berteriak kepada Heivia yang jatuh di bawah.
“Apa kau bisa berlari!? Ambil salah satu senapan itu dan menembaklah!!”
“Berengsek kau! Apa itu yang kau bilang ‘membuat kepanikan’? Ledakan sebesar itu juga membuatku panik kau tahu!!” teriak Heivia saat dia bangkit dari tanah dan meraih senapannya.
Bahkan ketika mereka berhasil meledakkan Water Strider karena banyak sekali ketidaksengajaan, tujuan utama mereka bukan menghancurkan markas ini.
Mereka tinggal melarikan diri dari tempat ini.
Tapi...
“!?”
Saat Quenser dan yang lain berlari dari tempat ini menuju jalan keluar, seorang prajurit musuh menutup jalan mereka. Dia memegang senapannya dan mengarahkannya ke dada Quenser. Dua orang itu saling menatap dan sadar bahwa mereka berada pada situasi yang sangat sulit. Quenser melihat senyum di wajah prajurit itu.
Lalu dia mendengar suara tembakan.
Namun, itu tidak berasal dari senapan prajurit itu.
Sebuah peluru menerjang kepala prajurit itu dari jarak yang jauh.
Sisa dari pasukan musuh terkejut dari arah dari mana suara itu berasal dan melihat rudal yang tak terhitung dan peluru meriam terbang ke arah mereka yang berasal dari luar markas mereka. Prajurit musuh bukan satu-satunya yang terkejut karena serangan ini. Quenser dan dua orang yang lain selamat karena tembakan perlindungan itu, tapi mereka berdiri seakan tidak percaya.
“Mereka datang... Itu pasukan Froleytia, bukan!?”
“Apa? Sepertinya si dada besar penggila Jepang itu bisa bekerja sebagai komandan!!”
Markas musuh berisi fasilitas perawatan dan radar yang mendukung Object dari belakang. Sisa dari pasukan di tempat ini tidak lain hanyalah infanteri. Mereka tidak memiliki tank atau bahkan kendaraan lapis baja.
Di sisi lain, Quenser dan prajurit yang lain memiliki perlengkapan yang lengkap mulai dari tank hingga pesawat tempur yang selalu dikeluhkan karena hanyalah penghabisan biaya pajak semata. Hampir saja senjata yang ketinggalan zaman ini tidak akan pernah digunakan, tapi sekarang mereka akan menunjukkan taring sebenarnya.
Beberapa pecahan ledakan dan tentara musuh beterbangan di langit. Di tengah itu semua, Quenser meraih tangan sang Elite dan lari menuju jalan keluar. Sepertinya pengawalnya telah dilumpuhkan dengan Howitzer.
Heivia lari mengikuti mereka dari belakang sambil menembakkan senapannya.
“Heh heh. Hey, Quenser! Kita pasti akan terlihat sangat bodoh kalau kita mati setelah semua yang telah terjadi, bukan begitu?”
“Yah, Froleytia datang ke sini karena percaya pada kita. Kita harus tetap hidup demi memenuhi harapannya!!”
Apakah atasan mereka bergegas ke tempat ini karena mereka ke sini setelah melihat tanda kemenangan yang begitu jelas setelah Object itu meledak? Atau mereka merasa bertanggung jawab karena meninggalkan sang Putri sendirian?
Saat Quenser berlari menuju jalan keluar, dia melihat markas musuh di belakangnya dan melihat asap hitam membumbul.
Pertempuran ini telah selesai.
Kedua belah pihak sama-sama kehilangan Object mereka. Yang tersisa hanyalah para prajurit yang masih bertempur. Setelah ini semua, ada perbedaan jelas terhadap para tentara yang terdiri dari teknisi perawatan dan personil radar yang dibutuhkan untuk membantu Object dan pasukan yang terdiri dari tank dan pesawat gaya lama.
(Prajurit manusia mengalahkan Object...)
Bocah yang bertindak melebihi pengetahuan umum tentang perang melihat markas musuh dengan kosong di mana ledakan dan suara tembakan terdengar di mana-mana.
Sang Elite itu pasti memikirkan sesuatu karena dia membuka mulutnya untuk berbicara.
“... Orang-orang itu mungkin berpikir bahwa kita adalah monster yang sama dengan Object.”
“Bukan masalahku,” kata Heivia membela diri saat dia melihat markas musuh dengan mukanya yang tertutupi oleh jelaga. “Ini adalah perang. Mereka yang mengajari kita saat mereka tidak mempedulikan bendera putih kita. Kita semua telah melupakan arti ‘perang’ sebenarnya akibat Object.”.

Bagian 17
Perang terjadi di semua wilayah di dunia, tapi paling tidak, perang yang terjadi di seluruh Alaska telah mencapai puncaknya. Kedua belah pihak telah kehilangan Object dan (jarang hal ini terjadi pada era ini) sebuah pertarungan antara prajurit manusia tumpah di sana. Pada akhirnya, Quenser dan para prajurit yang lainlah yang memenangi pertempuran itu.
Quenser, Heivia, dan Sang Elite kembali dari Alaska menuju negara mereka masing-masing.
Mereka berasal dari berbagai tempat, jadi mereka berpisah di markas perawatan mereka.
Namun, mereka memiliki satu buah kesempatan untuk bertemu.
Sebuah pesta penghargaan sedang digelar.
Satu-satunya orang yang menyelamatkan seluruh pasukan di saat paling putus asa setelah Object mereka hancur bukanlah seorang prajurit profesional. Ia adalah seorang tamtama biasa yang sedang mempelajari Object. Berita tentang seorang manusia yang menghancurkan Object yang tak terkalahkah menyebar begitu cepat di seluruh dunia dan mereka sekarang akan dianugerahi medali.
Quenser berada di ruang tunggu aula di hotel yang sangat besar yang tak pernah ia kunjungi sebelumnya. (Sebenarnya dia berencana mengunjunginya setelah dia menjadi kaya mendadak seperti seorang desainer Object.) Perasaan tidak nyaman karena berada di dalam pakaian rapi ini menganggunya dan dia terus membenahi kerah dasinya. Namun, sosok Heivia yang lama tak ia jumpai membuatnya lupa dengan apa yang dia rasakan sekarang.
“Aku pikir kau sekarang adalah seorang bangsawan? Aku tidak pernah melihat seseorang yang terlihat lebih buruk saat memakai jas selain aku.”
“Diam kau. Aku kehilangan perasaan seperti ini saat masih mengejar rusa di Alaska. Dan itu tidak terlihat buruk padamu.”
Namun, dia berasal dari keluarga bangsawan, jadi dia tidak merasa canggung karena atmosfer aula pesta ini walau pakaiannya tidak cocok dengannya. Tubuhnya tidak sekaku Quenser.
“Jadi pertempuran apa yang kau jalani sekarang, Heivia?”
“Apa kau bodoh? Aku hanya menghabiskan waktu di markas militer untuk memenuhi prestasiku agar bisa menjadi penerus keluargaku. Sekarang aku terkenal sebagai salah seorang yang meledakkan Object. Aku tidak perlu dekat-dekat lagi dengan kemiliteran. Sekarang aku bisa hidup dengan bergelimang harta dan nyaman. ... Meski sepertinya hal itu juga memiliki kesusahannya sendiri.”
“Aku tahu. Jadi kau berniat mengambil jalan ‘karir yang sukses’.”
“Kau juga punya hal yang bagus, kan? Aku dengar militer terarik denganmu dan memberikanmu hak khusus untuk database negara. Sekarang kau bisa melihat cetak biru Object yang ada di negara ini tanpa harus pergi ke medan perang. Dengan banyaknya sampel untuk dipelajari, tingkat pemahamanmu pasti akan semakin cepat meningkat dari pada orang-orang yang ada di sekelilingmu.”
Mendengar itu, Quenser menopang dagunya.
Sepertinya memang terlihat begitu nyata baginya, tapi ia juga sepertinya telah meraih jalan kesuksesannya sendiri.
“Apa yang dilakukan sang Putri sekarang?”
“Well, sang Elite tidak bisa meninggalkan garis depan dengan begitu mudahnya. Bagi kita, menghancurkan Object sudah lebih dari cukup untuk mendapatkan perhatian publik, tapi bagi Sang Putri Elite, ini adalah kewajibannya,” kata Heivia, dengan menunjukkan betapa berbedanya dunianya dengan dunia sang Elite tinggali.
Quenser berpikir tentang betapa beratnya tugas seorang pilot yang berperang dengan Object tanggung.
Sementara itu, Heivia melanjutkan pembicaraanya.
“Dia menunggu perintah berikutnya sambil memakai Object yang dikembangkan mirip dengan Objectnya yang hancur di Alaska. Aku dengar Object seperti itu membutuhkan waktu 3-4 tahun untuk dikembangkan mulai dari nol, jadi sepertinya sudah ada rencana untuk menggantinya dengan yang baru. ... Well, apa kau pikir sang Putri memilih untuk hidup di medan perang karena dia menyukainya?”
“Setelah semua yang kita lalui, aku tidak mengerti kenapa dia ingin kembali lagi.”
“Mungkin itu karena semua yang telah dia jalani. Dia mungkin telah berpikir betapa berharganya nyawa prajurit seperti kita ini.”
Tiba-tiba, sebuah suara ketukan terdengar di pintu ruang tunggu.
Seorang sekretaris cantik yang bekerja untuk seorang pejabat tinggi militer memasukkan kepalanya ke dalam ruangan itu dan meminta kepada mereka untuk segera masuk ke dalam aula pesta karena semuanya sudah siap.
Saat mereka meninggalkan ruang tunggu ini dan berjalan menuju koridor menuju aula pesta, Quenser memiliki pemikiran baru yang muncul di kepalanya.
“Oh, hey, apa kau mendapat email dari sang Putri?”
“Kau bodoh. Itu adalah hak khusus yang kau miliki sendiri. Lagi pula, kau adalah satu-satunya orang yang menggenggam senapan dan berlari untuk mengejarnya waktu itu.”
“... Aku berharap aku bisa menemuinya saat kita di sini.”
“Yah, kita akan berpencar satu sama lain setelah pesta ini selesai, tapi mari kita rayakan pesta ini untuk menyambut kedatangan kita dari pada merayakan perpisahan kita.”
Mereka membuka pintu kembar itu dan masuk ke dalam aula pesta ini dan disambut dengan tepuk tangan dan kilatan cahaya kamera. Dengan dipandu oleh suara seorang pembaca acara, Quenser dan Heivia dengan perlahan berjalan menuju panggung yang kemudian mereka disambut oleh sejumlah petinggi militer yang memiliki medali di atas potongan kain yang lebih berharga dari pada medali emas olimpiade di leher mereka.
Di akhir pesta, sang pembawa acara memberikan satu kenang-kenangan terakhir.
“Sekarang, mari beri tepuk tangan yang meriah kepada mereka berdua yang mengalahkan Object tanpa bantuan Object sama sekali. Mari kita lihat aksi mereka berdua di pertempuran selanjutnya dan berdoa demi kemampuan mereka yang khusus dan spesial yang akan membawa keuntungan kepada negeri yang kita cintai ini di masa depan.”
(... Eh? Apa yang baru saja dikatakan oleh orang bodoh itu?)
Sementara berdiri di panggung, Quenser dengan ketakutan melihat ke arah para petinggi militer, tapi mereka hanya memasang senyum palsu di wajahnya.
Mata mereka serius.
Object memiliki sinonim yang sama dengan perang. Tekanan yang tak terlihat memberi tahu Quenser bahwa para petinggi militer ini tidak akan membiarkan prajurit seperti ini yang berhasil mengalahkan Object sendirian dan mengubah arah peperangan.
“(..Hey. Dengar pahlawan. Sepertinya ini bukan guyonan. Aku dengar orang gendut di belakang itu berkata apa. Aku tahu di mana kita akan ditugaskan lagi!)”
“(...Di mana kita akan ditugaskan? Apa sudah diputuskan!?)”
“(...Sepertinya kita akan ditugaskan bersama dengan Object sang Putri! Sepertinya itu yang mereka pikirkan, karena kita bisa mengalahkan Object sendirian, kita mungkin bisa bekerja dengan lebih baik untuk mengalahkan musuh jika ada Object yang bekerja bersama kita!!)”
“(...Apa kau serius? Jadi kita harus menghadapi monster itu lagi!?)”
Saat hubungannya dengan beberapa orang membuatnya pusing, Quenser melihat ke medali yang menggantung di lehernya.

(Tolong katakan padaku kalau ini tidak berbeda dengan pemberian gelar kepada orang yang telah meninggal.).

Heavy Object Jilid 1 Bab 1 Bagian 10 - 17 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.