Sabtu, 19 September 2015

Date a Live Jilid 8 Bab 4 Bahasa Indonesia



PENUNJUKKAN TERSANGKA

Bagian 1
“...........................”

“............................”

Selagi duduk bersebalahan di bangku taman, Shidou dan Kotori diam-diam saling menatap di kolam air mancur.

Tidak, yang benar, bukannya mereka saling menatap. Kolamnya ada di depan mereka. Shidou menekankan sikunya pada lututnya dan membungkukka punggungnya selagi Kotori melipat kedua kakinya dan menyandarkan tubuhnya di kursi, diam-diam tenggelam dalam pikirannya.

Jam saat ini 11:30. Mungkin ini bukan akhir pekan; hanya ada beberapa ibu rumah tangga dan anak-anaknya dan orang tua yang berjalan-jalan di taman. Disana, ada pemuda dan perempuan duduk di kursi yang menonjol, terkadang ada beberapa ibu rumah tangga yang melihat mereka.

Tapi saat ini, Shidou dan Kotori tidak perlu repot-repot peduli tentang hal itu.

Walau ini sesuatu yang normal. Itu karena-------pagi ini, Yamai Yuzuru tiba-tiba menghilang.

Dan, setelah beberapa saat, Kotori tiba-tiba mengeluarkan suaranya.

“......hei. Katakan sesuatu.........Ini masih kencan.”

“Ah-aah............itu benar.”

Dibilang seperti itu oleh Kotori, Shidou sedikit menghela nafas dan menarik pipinya untuk mengontrol dirinya.

Ya. Saat ini, walau agak terlambat, Shidou dan Kotori menjalankan kencan yang sudah direncanakan sebelumnya.------saat ini, hanya inilah yang bisa dia lakukan.

“Ah--...........dan.................”
Tapi, walau dia mencoba mengatakan sesuatu yang pintar, tidak ada kata-kata yang keluar.

Saat dia melakukannya, Kotori menghela nafasnya karena merasa jengkel.

“Merasa pikiran kosong.....................yah, itu tidak mengejutkan.”

“.................maaf.”

Setelah Shidou menggaruk kepalanya, dia mengeluarkan gangguan dan ketidakberdayaannya di dalam dadanya dengan sebuah nafas panjang..........biasanya, walau dia mengeluarkannya, bukan berarti semuanya sudah keluar.

Wajah Shidou menjadi cembertu selagi mengingat kembali gambar yang dia liat tadi di Fraxinus.


Kembali ke jam 10 pagi. Reine mengunjungi rumah Itsuka dimana ada Shidou dan Kotori.

Dari apa yang dia tahu, seperti dia tahu tentang menghilangnya Yuzuru. Tapi, karena lebih baik tidak memberitahukan pada Kaguya, Kaguya, dan juga, Tohka, Yoshino akan siap siaga di satu ruangan di mansion sebelah.

“Jadi...........Reine-san, kenapa Yuzuru menghilang?”

Saat Shidou bertanya, Reine sedikit mengangguk sebelum menggerakkan bibirnya.

“............Mari bicarakan dari awal. Pertama dari omongan Kaguya, Yuzuru kembali ke mansion kemarin malam bisa dikonfirmasi. Tidak salah, kan?”

“Ya. Itu yang dia katakan.”

Dia kembali mengingat apa yang dikatakan Kaguya dan menyetujuinya.

Memang benar, Kaguya melihat Yuzuru kembali dari luar kemarin malam. Karena dia bilang sedang lelah, sepertinya mereka tidak saling berbicara, tapi dia melihatnya mandi dan masuk kamar.

Yang artinya-------Yuzuru menghilang antara beberapa jam dari malam sampai pagi.

“................Lihat ini.”

Setelah mengatakannya, Reine menempatkan terminal di atas meja. Saat dia melakukannya, gambar ruangan di mansion ditampilkan.

Itu adalah pemandangan yang familiar. Itu adalah kamar milik Kaguya dan Yuzuru. Ada dua ranjang yang diletakkan bersebelahan di belakang dan dua perempuan yang mirip sedang tidur.

“Apa tak apa melakukan hal seperti ini?”

“.........Aah. Ruangan Yamai bukanlah satu-satunya. Di dalam ruangan milik orang yang dicurigai sebagai Natsumi, ada kamera otomatis terpasang. Aku pikir mungkin, dia akan memperlihatkan dirinya sendiri di tempat dimana yang tidak ada yang melihat.”

Setelah Reine mengatakannya, dia sekali lagi mengoperasikan terminalnya. Saat dia melakukannya, muncullah gambar Yamai, mulai mengulang video. Jam di ruangan itu terus berputar dan berputar dan akibatnya posisi tidur keduanya menjadi sibuk.

“..........sudah hampir waktunya.”

Setelah mengatakannya, Reine menekan kunci di dekat tangannya dan video yang dipercepat kembali normal.

Tidak lama setelahnya, jarum jam menunjuk angka 12. Saat itu terjadi-----------

“A............”
“Apa ini.............”

Suara Shidou dan Kotori saling menimpa.

Monitor utama menampilkan kamar Yamai. Ketika bagian tengah ruangan terganggu, sebuah sapu datang entah darimana.

“Itu------<Haniel>.........?”

Ya. Itu adalah angel Natsumi <Haniel> yang dia lihat beberapa hari lalu.

<Haniel> pelan-pelan membuka pintunya dan terlihat di tampilan kaca.

Dan, setelah kacanya tersinarkan.

Tidur di kamar, tubuh Yuzuru menjadi pucat dan tersedot ke dalam kaca.

“...........! Yuzuru!?”
Sebenarnya, ini terjadi di video. Teriakan Shidou tidak berguna dan bayangan dan tubuh Yuzuru menghilang.

Dan dengan begitu, <Haniel> yang menyedot Yuzuru pelan-pelan menutup pintu dan menghilang.

“...........seperti yang kau lihat.”

Reine memutar mejanya ke arah Shidou.

“........Yuzuru dicullik Natsumi lewat <Haniel>. Sepertinya, [Seseorang] yang asli yang Natsumi menyamar sebagai, menghilang sama persis seperti itu.”

“A-Apa Yuzuru tak apa.........!? Dan [seseorang] itu juga...........!”

Saat Shidou bertanya, wajah Reine menjadi kesulita dan menunduk ke bawah.

“...............Aku mau berpikir mereka aman, tapi aku tidak bisa bilang apa-apa saat ini.”

Reine mengatakannya dengan suara lembut. Shidou tidak tahu harus dikemanakan rasa kesal dan marah yang ada di kepalanya, dan secara kasar menggaruk kepalanya.

“Aku, apa yang harus aku............!”

“..............hanya ada satu hal yang bisa kau lakukan. Adalah menemukan Natsumi secepat mungkin.”

“Itu masalahnya.”

Sesuai dengan perkataan Reine, Kotori mengeluarkan chupa chups yang ada di mulutnya, dan melihat ke arah Shidou.

“Kita tidak punya waktu--------ayo mulai kencan kita.”

Dan, selagi menatapnya dengan tajam, dia mengatakannya.



Kembali ke waktu ini di taman.

Saat Shidou mengingat kejadian yang terjadi di Fraxinus, Kotori yang duduk disebelahnya berdiri dan setelah berjalan beberapa langkah, dia berpose sesuatu yang memaksakan untuk memisahkan air mancur dengan pandangan Shidou.

“Kotori.........?”

“touu!”

Saat Shidou menangkat wajahnya, Kotori meluncurkan potongan yang tajam pada rambutnya.

“Ouch! A-Apa-apaan itu Kotori!”
“Jangan berwajah muram. Kau pikir Yuzuru akan kembali jika kau khawatir?”

“I-Itu.........!”

Shidou menaikkan suaranya dan---------mengayunkan kepalanya dan berpikir kembali.

“.............tidak, seperti yang kau katakan, Kotori. Sekarang bukan waktunya melakukan ini.”

Saat Shidou mengatakannya, Kotori *Fuun* menghembuskan nafas selagi membuat batang chupa chups yang ada di mulutnya berdiri.

“Bagus kau mengerti. Tidak ada yang bisa didapat jika kau hanya khawatir-----terlebih saat ini, karena dia menambahkan aturannya tanpa memberitahukan kita. Tidak.........daripada menyebutnya menambahkan, detilnya terungkap, bukankah lebih baik seperti itu?”

Kotori mengangkat alisnya seperti merasa jijik.

Peraturan yang terungkap. Tidak ada kesalahan; Ini tentang fenomena yang terjadi pada Yuzuru kemarin malam.

“[Sebelum semuanya menghilang]..............bagian terakhir yang tertulis di kartu, mungkin mengarah ke hal ini.”

“Harusnya.-----ini akan menjadi spekulasiku saat ini......sepertinya, satu orang dari tersangka akan menghilang oleh <Haniel> setiap harinya. Dan, setelah 12 tersangka menghilang kecuali [Seseorang] yang sebenarnya Natsumi, Natsumi menang. Jika Shidou menemukan Natsumi sebelum itu, Shidou menang.”

Kotori menangkat satu jarinya selagi memikirkan sesuatu. Memang benar, jika tulisan yang ada di surat Natsumi memang benar, maka itu masalahnya.

“...........Aku penasaran jika aku bisa menemukan Natsumi.”

“Aku tidak ingin mendengar komplainmu. Sekarang Yuzuru menghilang, masih ada 11 tersangka termasuk aku. Hanya ada sekitar 10 hari tersisa.”

“Aah......itu benar.”

Shidou mengangguk dari perkataan Kotori.

Setelah itu, tuk beberapa saat-------mereka menjadi diam kembali.

Saat itu terjadi, Kotori mengeluarkan suaranya karena kesal.

“...........jadi, Shidou.”

“Hnn? Ada apa?”

“Masih ada 30 menit lagi sampai jadwal berikutnya.”

“Eh? A-ah........”
Saat Shidou membalasnya dengan terbata, Kotori menggerakkan mulutnya menjadi bentuk

“Itulah kenapa aku bertanya apa tidak apa tidak menyelidikiku atau tidak.”

“Ah............”

Saat dia mengatakannya, Shidou membuka lebar kedua matanya.

Itu benar. Dia sudah lupa sampai sekarang, tapi Kotori yang tepat di depannya, mungkin Natsumi yang menyamar.

Sebenarnya, Shidou tidak ingin meragukan adik kecilnya yang lucu yang baru saja menyemangatinya. Tapi, jika komandan Ratatoskr Kotori itu palsu lalu; kerusakannya akan lebih berdampak daripada yang lain. Kedepannya, dia harus membuktikan kalau Kotori tidak bersalah.

“Baiklah, kalau begitu, aku akan menanyakan beberapa hal............”

“............disini?”

“Eh?”

“..........walaupun ini namanya penyelidikan, ini tetap kencan.”

Shidou [Ah........] menggaruk pipi kanannya mendengar perkataan Kotori.

Dia mengingat percakapan antara dia dengan Reine dan Kotori kemarin malam.

Itu benar. Dia kehabisan akal karena situasi aneh dimana Yuzuru menghilang tapi, ini tetap kencan. Hanya karena Kotori mengerti situasinya, tidak mungkin dia bisa mengakhirinya dengan pertanyaan biasa.

Setelah Shidou sedikit menghela nafas, dia berdiri dari kursi dan memberikan tangannya ke Kotori.

“----------Itu benar. Ayo jalan sedikit.”

“..........hnn.”

Dengan agak kecewa, tapi wajahnya sedikit memerah, Kotori menggenggam tangan Shidou, dan berdiri dari kursi.

Dan, selagi tangan mereka saling menggenggam, mereka perlahan berjalan ke ujung taman.

“Bagaimanapun..............sudah lama sekali sejak terakhir kita jalan bersama seperti ini.”

“Hnn..........itu benar.”

“Aku akan bertanya, apa kau ingat tempat kencan kita di bulan Juni?”

“Tentu. Taman air.”

“Haha.........benar.”
Saat Kotori mengatakannya, Kotori *fuun* menghembuskan nafasnya.

“Tapi, jika aku Natsumi, pertanyaan seperti ini mungkin tidak ada gunanya.”

“Eh? Apa maksudmu?”

“Coba pikir. Walaupun aku dilarang ke Fraxinus, aku memiliki gambaran yang jelas tentang penyelidikan ini. Aku pikir normal untuk menyelidiki masa lalu.”

Setelah mengetakannya, Kotori mengangkat bibirnya. Keringat bercucuran dari pipi Shidou.

“O-oioi, biarkan aku istirahat dari leluconmu.”

“Bagus jika itu hanya lelucon.------yah jaga-jaga, tentang itu, kau tahu.............dengan metode yang tidak terpengaruh hal seperti itu, bukankah ada sesuatu yang bisa dicoba?”

Kotori mengatakannya selagi menghindari kontak mata.

“? Metode bagaimana?”

“Contohnya, sesuatu seperti mencoba..........melihat reaksinya.”

“Mencoba? Mencoba apa?”

“I-Itu........yah kau tahu, errrr, itu...........Ci,.............ci----”

“------ah”

Ada sesuatu yang melintas ke pikiran Shidou, dan alisnya menjadi naik.

Untungnya--------Shidou tahu metodenya.

“--------Kotori, bisakah kau menutup matamu sebentar?”

“! Ah.............u-un..............”

Saat Shidou mengatakannya, Kotori menutup matanya dengan pipinya yang memerah.

“............Touu.”

Mengambil kesempatan, Shidou mendekatkan tangannya ke kepala Kotori dan--------mencuri pita hitam yang ada di kepalanya.

“Fu........fueee--!?”

Mungkin dia merasakan perasaan yang aneh saat rambut yang diikatnya menyentuh pundaknya, Kotori berteriak.

Dia lalu *peta*peta* menyentuh kepalanya dengan panik dan saat dia mengetahui pitanya tidak ada-----

“U-uwaaaaaaaaaahhh!?”

Dan, selagi air matanya mengalir, dia melompat ke arah Shidou yang mencuri pitanya.

“O-Onii-chan! Apa yang kau lakukan! Kembalikan! Kembalikan!”

Kotori berteriak dengan suara yang kesakitan selagi *pyon**pyon* berharap mendapatkan kembali pita yang dipegang Shidou. Saat ini benar-benar menindas Nona Komandan, dia memiliki suatu hal yang sama juga tidak sama.

Kotori biasanya menempatkan pola pikirnya dengan kuat. Saat dia memakai pita yang hitam, dia bisa mempertahaknkan [Kekuatannya]. Sebaliknya, jika dia melepas pitanya, dan memakai pita yang putih, dia akan berubah ke mode adik yang polos dan lucu.

---yang artinya, seperti ini.

“Onii-chan! Onii-chan!”

“............................”
Dia sudah beres mengkonfirmasi tapi, karena dia tidak melihat Kotori dengan mode pita putih akhir-akhir ini, Kotori yang meloncat-loncat seperti kelinci sangatlah lucu. Dia merendahkan pita di depan Kotori dan saat Kotori melompat, dia menghitung waktunya dan mengangkat tangannya, dia melakukannya beberapa kali.

“U..........uu.............”

Awalnya Kotori merasa putus asa untuk mengambil kembali pitanya tapi, tak lama setelahnya wajahnya menjadi cengeng, *Zuu*zuu* menyeruput iler hidungnya.

“Ma-maaf maaf. Ini, Kotori.”

Mungkin lebih dari yang diharapkan. Setelah berpikir seperti itu, Shidou memberikan pitanya dan dengan kecepatan yang luar biasa, Kotori mengambilnya dan mengikat rambutnya.

Lalu, *Yurari*.........., dia mengangkat wajahnya, dan mellihat dengan tajam ke arah Shidou.

“Shidou............kau............”

“Ti-tidak! Itu hebat. Sepertinya Kotori yang asli!”

Tadi itu adalah metode yang digunakannya untuk memastikan apakah dia yang asli atau tidak, dia meninggikan suaranya untuk menekannya.---------tapi, Kotori sepertinya tidak mendengarnya.

“Ko-kotori? Tenang-------”

“Tidak ada maaaaaaaaafffffffffffffff!”

Dengan sentuhan yang luar biasa, Kotori menampar tepat ke wajah Shidou.

***

Bagian 2
“..........Shidou, kenapa wajahmu............”

Kencan dengan Kotori sudah berakhir dan setelah dia sampai di tempat selanjutnya, Kaguya menunggu disana sambil melihat wajah Shidou dengan keraguan dan mengangkat alisnya.

Namun, itu memang normal. Menerima tinju Kotori tanpa ampun, Pipi Shidou menjadi memerah dan tisu digulung dimasukkan ke hidungnya untuk menghentikan mimisannya.............setidaknya, itu bukan wajah untuk menghadiri sebuah kencan.

“Tidak........aku baru saja diserang seorang petinju di ujung jalan dalam perjalanan kesini.”

“Be-begitu......”
Wajah Kaguya jelas menunjukkan ketidakpercayaan tapi, entah bagaimana mungkin dia menebak situasinya, dia tidak melanjutkannya lebih dari itu.

Kebetulan, yang sedang dipakai Kotori sekarang, baju dengan alfabet, garis dan desain tengkorak, celana dengan rantai dan bel terpasang; itu disebut gaya gothic. Dari yang dia dengar, saat Reine membawanya untuk membeli baju dan kebutuhan sehari-hari, dia jatuh cinta pada pandangan pertama dan langsung membelinya.

“Fuun..........tapi walau begitu, aku terkejut dengan apa yang terjadi tadi pagi. Kau harusnya beritahu aku dulu kalau itu inspeksi, itu akan masuk akal.”

Dan, selagi berpose yang tidak perlu, *Fuu* dia mendorong poninya ke atas. Wajahnya saat ini sudah tidak ada bekas tangisan dan kepanikan Kaguya pagi tadi.

Itu karena, dia diberitahu oleh Reine bahwa Yuzuru dikirim ke kantor Fraxinus untuk pemeriksaan.

Entah kenapa itu adalah alasan yang lemah tapi........sepertinya dia mempercayainya.

“Entah kenapa........dia terlihat lebih ceria dari yang kukira, Kaguya itu.”

“.........baguslah kalau begitu.”

Setelah Shidou menghela nafas dan mengatakannya dengan suara lembut, Reine membalasnya dengan suara kasar.

“Eh?”

Walau dia mencoba menanyainya lagi------kata-kata Shidou, dipotong oleh suara Kaguya.

“Oi, apa kau mendengar Shidou. Ini merupakan penghinaan kau tidak mendengarkan kata-kataku. Ketahuilah bahwa rekan bijaksana yang seperti itu akan terbakar api neraka, dan jatuh ke dasar jurang.”
“Aah...........maaf maaf. Aku akan beritahu kau aku akan berhati-hati mulai sekarang.”

“Oke. Lakukan dan itu kerja bagus.-------jadi, berapa lama waktu inspeksi Yuzuru?”

“Eh? A-ah..........karena kita membicarakan kantor utama, jadi sekitar 10 hari.........”

Shidou berpikir untuk sementara, dan membalasnya.

10 hari. Itu adalah batas waktu permainan Natsumi yang bisa dia pikirkan di situasi seperti ini.

Sekarang dia memikirkannya, temukan Natsumi apapun yang terjadi sebelum batas waktu berakhir dan selamatkan Yuzuru, itu mungkin ekspresinya yang penuh tekad secara tak sadar.

“Fuu---n.”
Setelah wajah Kaguya menjadi bosan karena jawaban Shidou, dia mengatakannya dengan suara lembut.

Tapi, setelah tiba-tiba sengaja batuk, dia sekali lagi menatap ke arah Shidou dengan berpose.

“Kuku, dasar lamban. Berdoalah sebanyak mungkin agar aku tidak kelelahan.”

“Ou.........itu benar. Aku akan meminta mereka menyelesaikannya secepat mungkin.”

“Umu, bagus.--------jadi, Shidou.”

Setelah Shidou mengangguk, dia berputar dengan indah dan *piin*! Dia menunjuk gedung yang ada di belakangnya. Di atap gedung bangunan putih besar, ada pin bowling raksasa yang terpasang.

Ya. Tempat yang Ratatoskr desain untuk kencan dengan Kaguya adalah tempat permainan bowling yang hanya 15 menit berjalan dari stasiun Tenguu.

“Saat aku kira ini mendadak, sepertinya kau ingin bertarung denganku.”

“Tidak, bukan berarti aku ingin bertarung........”

“Kuku, aku akan mendapatkan keberanian itu tapi bukankah kau terlalu nekat? Aku anak dari angin topan Hurricane, Yamai Kaguya! Tidak mungkin kau bisa menang!”
Bahkan saat Shidou menggaruk pipinya dan mengatakannya, sepertinya Kaguya tidak mendengarnya. Dia berpose aneh sembari mengatakannya. Walau tanpa Yuzuru, kecintaannya terhadap pertandingan tetaplah kuat.

Yah, dia tidak keberatan jika itu bisa membantu kerinduannya pada Yuzuru walau hanya sedikit. Setelah Shidou menghela nafas, dia memasuki tempat bowling bersama Kaguya.

Mereka kemudian meminjam sepatu dan bola di konter, dan berjalan ke area mereka.

Dan saat itu, Shidou menarik lengan Kaguya.

“Tu-tunggu Shidou. Lihat itu.”

Selagi matanya dengan aneh berkilap, Kaguya kembali menunjuk ke arah konter. Shidou memutar kepalanya selagi melihat ke arah yang ditunjuk Kaguya.

Itu adalah toko diujung yang menjual berbagai produk bowling. Sepatu, bola yang dipinjam Shidou dan Kaguya dan tas untuk menyimpannya dipajang di lemari kaca.

Untuk sejenak, dia ingin mengucapkan rentalnya bagus tapi------dia tiba-tiba mengerti alasan Kaguya menunjuknya.

Disamping bola, ada pelindung yang keren dan mahal yang digunakan pemain bowling professional di tangan mereka dipajang........terlebih, sepertinya tidak bisa dipinjam.

“..............Aku tidak punya pilihan.”

Setelah Shidou menghela nafas, dia mengangkat kakinya ke arah konter toko; dia lalu membeli pelindung untuk wanita dan menyerahkannya pada Kaguya.

“Ini, cobalah.”

“U-uooooh!”

Setelah pipi Kaguya memerah karena kesenangan, dia cepat-cepat memasang pelindung ke tangannya.

“Ini yang melegenda, Pelindung Tangan Api Penyucian.....!”

“Itu legenda.....?”

“Kuku, tak apakah Shidou? Memberikan senjata suci seperti ini padaku. Ini adalah pertandingan dengan hasil yang jelas tapi, kau baru saja membuat perbedaan semakin besar kau tahu?”

Setelah Kaguya mengatakannya, dia bersikap sebelum memakai protector, dan mengganti sepatunya sebelum mengarah ke jalur bowling. Dia mengangkat bahunya seolah dia kelelahan dan mengikutinya.

“Nah, ayo kita mulai. Aku akan membiarkanmu mulai duluan. Kuku, berjuanglah!”

“Ya ya.......ini dia.”

Setelah mengatakannya, Shidou mengambil bola ke tangannya dan berjalan ke arah jalur yang pinnya sudah tersusun, Kaguya berteriak untuk menghentikannya.

“Tunggu! Aku tahu, aku memikirkan sesuatu yang bagus.”

“Hnn...? Apa itu?”

“Pertandingan biasa terlalu membosankan. Kenapa kita tidak membuat taruhan. ------yang kalah harus mematuhi satu permintaan dari pemenang, bagaimana?”

“Eeehhh....kenapa..”

Saat wajah Shidou menjadi tidak enak, Kaguya tersenyum tanpa rasa takut selagi menutupi setengah wajahnya dengan pelindungnya dalam posisi yang keren. “Kuku, apa ini? Apa kau tiba-tiba takut kekalahan setelah semua ini?”

“Tidak, daripada kalah, aku hanya tidak ingin........”

Dan, saat Shidou akan mengatakan sesuatu selagi keringatnya bercucuran ke pipinya, dia mendengar suara Reine dari telinga kanannya.

“.............yah, itu tak apa. Jika itu permintaan yang menyimpang, kami akan menghentikannya.”

“..................”

Haa, dia menghela nafasnya dan kembali melihat Kaguya.

“Aku mengerti. ------kalau begitu, jika kau menambahkan sesuatu lagi, aku akan semakin serius.”

Saat Shidou mengatakannya, Kaguya *nii* mengangkat bibirnya dengan bahagia.

“Kakaka! Ini menjadi menarik! Baiklah, tunjukkan keseriusanmu itu! Aku akan menghancurkannya dengan mudah!”

“Kau bilang begitu......lihat baik-bak.”

Setelah Shidou menatap dengan tajam, dia melempar bolanya dengan indah.

Bola ungu itu menuju lurus ke jalurnya--------dan mengenai bagian tengah pin yang membentu V itu. Pinnya membuat suara yang bagus dan terus berjatuhan; layar yang terpasang di atas menampilkan tulisan strike.

“Bagus! Bagaimana!”

“Hohou, tidak buruk! Ini tidak akan menarik jika bukan itu masalahnya!”

“Fufu, itu karena aku sering bermain bowling bersama Tonomachi. Aku tidak akan kalah dengan mudah.”

Setelah mengatakannya, dia melipat tangannya dengan bangga.

Namun, Kaguya tidak sedikitpun tampak terganggu, dia kemudian mengambil bola berwarna oranye dan perlahan berjalan ke depan jalur bowling.

“Kuku, perhatikan baik-baik. Anak hurricane. Dan, mengertilah. Fakta betapa tidak berdayanya kau.......!”

Kaguya mengatakannya dan melempar bolanya,

“Gerakan spesial! Dunkelheit Windhouse----!!”
Saat dia meneriakkan nama yang misterius, bolanya menyentuh lantai dengan keras. *Goo*! Suara yang sangat keras terdengar dan menyebabkan getaran di sekitarnya.

“Oi oi, Kaguya, kau tahu---------”

Dan, saat dia mengatakan itu padanya selagi menghela nafas, Shidou menghentikan perkataannya.

Bola yang jatuh oleh Kaguya *gyagyagyagya*! Mulai melaju dengan kekuatan yang besar dan setelah terdengar suara seperti ban mobil yang direm mendadak. Dia tidak tahu bagaimana dia melakukannya tapi, sebuah revolusi yang tepat ditambah.

Selagi mengeluarkan asap dan suara berisik di jalur, bola itu dengan mudahnya menghembuskan semua pin yang ada.

Di 3 layar di 3 jalur yang berbeda, tanda strike muncul secara bersamaan.

“Kau lihat! Jurus andalanku, Dunkelheit Windhouse!”

“Kau bercanda?”

“Kaka, permainan seperti ini, aku sudah menyelesaikannya dengan Yuzuru terakhir kali! Gerakan spesial yang aku asah sendiri, aku akan menunjukkannya padamu!”

Setelah Kaguya berputar dan menatap ke arah Shidou, dia tersenyum percaya diri.




----Setelah sekitar 1 jam. Shidou benar-benar dikalahkan.

Walau dia berhasil menghentikan Kaguya menghancurkan jalur yang lain, itu hanya pikiran mereka yang sementara. Nilai Shidou tidaklah buruk tapi, dari gerakan spesial Kaguya yang terus berlanjut, perbedaan yang besar dibuat saat sampai pertengahan.

“Kuku, sepertinya ini kemenanganku! Yah, aku mengagumi semangat juangmu!”

“..........Aku tersanjung.”

Saat Shidou mengangkat kedua tangannya menunjukkan dia kelelahan, Kaguya mengangguk dan tersenyum tanpa takut sebelum melipat tangannya.

“Yah, kau mungkin tidak melupakan ini. Kontrak yang sudah dibuat sebelum pertarungan ini.”

“Aku jelas mengingatnya............jadi? Apa yang kau inginkan?”

Saat Shidou mengatakannya, Kaguya tiba-tiba terlihat serius dan mulai memperhatikan keadaan sekitar.

“Hnn? Ada apa?”

“...............[Ki] yang mengalir jelek, karena garis ley. Kita ganti tempat.”

Setelah mengatakannya, Kaguya memegang tangan Shidou, dan berjalan semakin dalam ke bangunan itu.

“O-oi, kemana kita pergi”

“Tak apa jadi diamlah dan ikut aku.-----oh, bagus. Aku akan memilih tempat itu.”

Tempat yang Kaguya tunjuk adalah tempat istirahat dengan mesin penjual otomatis berbaris disana. Dia menunjuk semakin dalam, di kursi yang ada di bawha bayangan mesin itu.

“Duduk disana.”

“A-aaaah..............”

Dia cemas dan apa yang akan Kaguya lakukan tapi, Shidou tidak berhak menolaknya. Dia duduk di kursi seperti yang diperintah.

Setelah itu, Kaguya duduk di sebelah Shidou sebelum wajahnya berubah menjadi serius dan menggerakkan bibirnya.

“.........baiklah, aku akan memerintahmu. Dengar baik-baik.”

“A-Apa ini....?”

Dia mengangkat alisnya selagi keringatnya bercucuran dari dahinya, dari situasi yang aneh. Saat dia melakukannya, Kaguya menatap Shidou sebelum melanjutkan.

“-----saat ini untuk 10 menit, berjanji kau tidak akan terkejut terhadap apa yang aku lakukan apapun yang terjadi, tidak menjadi kacau, dan juga jangan menolaknya. Dan juga, berjanji tidak memberitahu siapapun tentang apa yang terjadi saat ini.”

“Eh..........?”

“Janji!”

Kaguya mengatakannya dengan nada yang serius. Shidou pun langsung mengangguk.

“A-Aku mengerti.....”

“Oke.”

Setelah Kaguya mengangguk, dia tidak mengatakan apapun untuk sesaat---

Saat dia berpikir bagian atas tubuhnya jatuh dari samping, dia meletakkan kepalanya pada paha Shidou.

“.........!?”

Dia mengeluarkan suaranya karena aksi yang tiba-tiba, tapi dia menahannya sampai akhir. Saat ini, dia berjanji tidak akan terkejut, kacau balau------dan juga menolaknya.

“Kuku, bukankah ini nyaman untuk tidur. Aku tidak keberatan menjadikanmu sebagai bantal penuh waktu jika kau menangis dan memohon kau tahu?”

“Ka-kau............”

“Houu? Apakah pecundang ini tidak mematuhiku?”

“Guh....................”

Saat Shidou mengangkat alisnya dengan menyesal, Kaguya *kara**kara* tertawa dalam mood yang bagus.

“Kaka, nyaman nyaman. Budak, usaplah kepalaku.”

“.......seperti yang kau minta.”

Shidou menghela nafas sebelum menganggukkan kepala Kaguya dan menyisir rambut Kaguya dengan jari sebagai sisir. Kaguya melemaskan pipinya yang merasa geli, dan memutar tubuhnya.

“Ga---!”

Dan mungkin dia memikirkan sesuatu, setelah Kaguya memutar arah tubuhnya, dia menggenggam pergelangan Shidou *gyuu* dengan sangat kuat.

“Tu.............”

“.........Aku sudah bilang jangan jadi kacau.”

“Uh...........”

Memang benar, sekarang dia memikirkannya. Di saat pikiran Shidou sedang cukup kacau, Kaguya tidak bergerak untuk sementara.

“Ka-Kaguya..............?”

Dan, setelah beberapa saat, Shidou mencoba memanggilnya dengan ketakutan.

“.......Uu,uah...........”

Kaguya sedikit terisak tangis.

“Ka-Kaguya..............?”

“...........Kuh, u, u.............u,............Yuzuru.............Yuzuru.........uh.....”

Dan. Shidou tiba-tiba tersentak, mendengar nama yang dia degar dalam tangisan Kaguya.

“Kaguya, kau, Yuzuru------------”

Setelah Shidou mengatakannya denga tidak sengaja, Kaguya menyeruput hidungnya sebelum mengeluarkan suaranya yang bergemetaran.

“...........Kau, tidak dapat menemukan Yuzuru kan..........Aku tahu itu. Jangan anggap aku bodoh.”

“I-Itu-------”

Tapi, Kaguya melanjutkan.

“..........lebih baik jika aku tidak tahu kan.....kalau begitu, aku percaya padamu. Itu karena, Shidou satu-satunya yang memberikan aku dan Yuzuru pilihan ketiga saat itu.............”

“Kaguya...............”

“Itulah kenapa..........tolong. Yuzuru.........Yuzuru-------------”

“........................”

Shidou menggertakkan giginya dengan kuat, dan dengan lembut meletakkan tangannya ke kepala Kaguya.

---10 menit setelah itu.

Seperti yang dia katakan sebelumnya, Kaguya berhenti menangis tepat dan saat mereka keluar dari bayangan mesin otomatis, situasi kembali menjadi seperti sebelumnya.

Itu adalah penahanan diri yang tepat. Saat Shidou mengelus kepalanya [Kau hebat] mengatakan itu, Kaguya memerah dan menjawab [..............diam].

***

Bagian 3
Setelah selesai bermain bowling dan mengantar Kaguya kembali ke mansion, sebuah transmisi dikirim dari Fraxinus seolah itu sudah diperkirakan.

“..................hn, kerja bagus, Shin.”

“Tidak..............lebih penting lagi, Reine-san.”

Saat Shidou mencoba berbicara. Reine [...........Aaah] dan melanjutkannya.

“....Aku minta maaf karena mendadak tapi, kita tidak punya waktu. Kita harus mengirimmu ke kencan selanjutnya.”

“Aku mengerti. Aku pasti............akan menemukan Natsumi. Dan, aku akan mengirim Yuzuru kembali ke Kaguya.”

Shidou mengepalkan tinjunya seolah dia membuat resolusi baru.

Bukan berarti dia bersantai sekarang. Tapi, memang kenyataannya perasaannya semakin kuat setelah kencan dengan Kaguya. Seperti yang diduga, kedua Yamai harus bersama. Tidak peduli siapapun itu, dia tidak akan memaafkannya karena sudah memisahkan mereka berdua.

“.....bagus. Oke, sekarang menuju area selanjutnya. Warung kopi di depan Stasiun Tenguu pintu timur. Seperti biasa, kami menggunakan namamu untuk mengundang target untuk kencan. Dia akan disana sekitar 30 menit lagi.”

“Ya. Siapa selanjutnya?”

“....aah, teman sekelasmu Yamabuki Ai.”

Shidou tersentak mendengar perkataan Reine.

Yamabuki Ai. Dia satu dari trio perempuan terkenal di kelas Shidou. Sekarang dia memikirkannya, dia juga salah satu tersangka.

Tapi, mereka dekat dengan Tohka dan bukan Shidou, jadi dia tidak pernah berbicara dengannya sebelumnya.

Secara kebetulan, saat Natsumi menyamar sebagai Shidou, tampaknya dia meletakkan jarinya pada trio ini dalam beberapa hal dan mereka sangat waspada terhadap Shidou. Sejujurnya, dia lawan yang menyebalkan dari beberapa hal yang berbeda dari Tonomachi.

“.........aku mungkin akan menanyakan pertanyaan yang canggung, tapi bagaimana kau mengundangnya?”

“..........hnn? Yah, tidak seperti Tohka, Yoshino, dan yang lain, aku tidak menggunakan metode mengundangnya sebagai penggantimu. Saat siang tadi, aku menaruh surat di dalam rak sepatunya di sekolah.”

“Su-surat........? Apa isinya?”

“...........[Yamabuki Ai-sama. Ada sesuatu yang ingin kuberitahukan saat kita sendirian. Setelah sekolah, jam 6 sore aku akan menunggumu di warung kopi di depan stasiun. Itsuka Shidou.]”

“........Uoo..........”

Shidou mengerang sambil menekan dahinya, dari kalimat yang Reine sebutkan dengan jelas.

Entah kenapa.................isinya dapat menyebabkan kealahpahaman........tidak, selama dia menganggapnya sebagai kencan, dia tidak bisa menyebutnya kesalahpahaman.

“.......kenapa?”

“Tidak..................tidak apa-apa.”

Setelah Shidou membalasnya, dia mengayunkan kepalanya untuk menenangkan dirinya sendiri.

Itu benar. Dia tidak memiliki waktu luang lagi. Saat, yang harus dilakukan Shidou, adalah menyelidiki tersangka yang tersisa secepat mungkin dan menemukan Natsumi. Dia mengarahkan kepalanya ke stasiun.

.............tapi, Shidou menggaruk pipinya.

Hubungan antara Shidou dan Ai. Pertikaian yang disebabkan oleh Natsumi ketika dia menyamar sebagai Shidou beberapa hari yang lalu. Surat undangan yang digunakan dengan nama Shidou dikirim pada waktu seperti ini.........dan juga kebiasaan perempuan.

Jawaban yang berasal dari semua ini. Itu------




“............seperti yang kuduga.”

Setelah 30 menit. Di warung kopi di depan stasiun.

Keringat mengalir dari pipi Shidou karena pemandangan yang dia lihat di depannya.

“Apa maksudnya seperti yang kuuduga-----”

“Ada masalah-----”

“Kenapa kau berengsek----”

Di seberang tempat duduk Shidou,dimulai dari kanan, Ai. Mai, Mii, mereka bertiga duduk di sana.......berpikir, itu hanya prediksinya.

Setengah jalan untuk ke sini, dia entah kenapa merasakan firasat buruk. Di dalam situasi ini, jika dia diundang seperti yang di dalam surat Shidou, sudah jelas mereka akan waspada terhadapnya. Tidak mungkin dia akan datang sendiri. Setidaknya dia beruntung tidak harus berdiri.

“............fumu, 3 tersangka berkumpul. Kita tidak punya pilihan. Kesulitannya agak tinggi tapi, ayo selidiki mereka semua.”

“...........dimengerti.”

Setelah mengatakannya dengan suara lembut, Shidou kembali melihat ke trio itu.

Untuk sementara, karena mereka memesan kue dari traktiran Shidou, dia merasa sikap mereka jauh lebih lembut tapi, tidak mengubah fakta kalau mereka sedang bad mood. Shidou berenang dalam pikirannya untuk memikirkan sesuatu untuk dikatakan.

Saat dia melakukannya, trio itu mengeluarkan suara kekesalan mereka, lebih cepat sebelum Shidou mengatakan sesuatu.

“.....jadi, apa yang kau inginkan? Memanggilku dengan surat ini.”

“Apa ini? Surat cinta? Apa, Itsuka-kun, apa kau mengincar Ai?”

“Sekarang kau mengatakannya, Ho-ra, waktu itu, kau melipat rokku dan Mai, tapi Ai satu-satunya yang ditiup telinganya.”

“Bu-bukan, itu bukan a.......”

Dia merasa percakapannya menuju arah yang aneh. Shidou buru menyangkalnya tapi, trio itu tidak mendengarkan.

“Eh, serius? Itsuka-kun, padaku? E-eeeeehh----.......tidak, itu, aku berterima kasih tapi, aku, kau tahu......”

“Itu benar. Ai memiliki seseorang dalamm hatinya bernama Kashiwada-kun! Jadi Itsuka-kun tidak punya kesempatan!”

“Ya ya! Saat ini, Ai memiliki cinta bertepuk tangan dengan pria yang sangat lembut, berbudaya, dan berkacamata, dia akan menolak kami ajak kesini, itu Kashiwada-kun!”

“Tunggu, kalian berdua! Kenapa kalian mengoceh dengan biasa!?”

Ai berteriak dengan wajahnya yang memerah.............yah, sepertinya Shidou tidak berencana memberitahukan apa yang didengarnya pada orang lain.

“La-lagipula! Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan tapi, walau kau sudah memiliki Tohka-chan, aku tidak akan memaafkanmu mengirim surat seperti ini pada gadis lain!”

“Itu benar! Apa, maksudmu kau tidak puas walau kau sudah disukai oleh perempuan super cantik seperti Tohka-chan!? Apa kau mengincar poligami!?”

“Ah, sekarang aku memikirkannya, Shidou juga meletakkan jarinya pada Tobiichi-san. Eh, jangan bilang dia selalu berpesta mewah setiap malam? Uwaah! Najis!”

Setelah mereka bertiga [Kya!] memundurkan kursinya, mereka berbicara diam-diam selagi tidak memedulikan Shidou.

“Sekarang aku memikirkannya, murid pindahan itu Tokisaki-san, kan? Itsuka-kun juga meletakkan jarinya padanya.”

“Ah--, itu benar! Dia benar-benar tidak pandang bulu--”

“Dan juga, Ho-ra, saat itu, bukankah anak Loli misterius datang memberi Itsuka-kun bentonya?”

“Uwah, itu benar. Seperti yang diduga, tidak salah dia ini lolicon, mothercon, dan siscon.”

“Eh? Mothercon, siscon, selain lolicon?”

“Un un, aku pernah mendengarnya. Kebetulan, Ho-ra, bukankah waktu itu Itsuka-kun juga? Orang yang membuat gadis SMA mengenakan pakaian berkerah dan membawanya berjalan di sekitar taman dengan telinga anjing dan ekor, serta baju renang.”

“Serius? Dari yang aku dengar, itu dimana dia melepas rok perempuan.”

“Kyaa! Aku tidak percaya! Kenapa Tohka-chan oke saja dengan pria seperti ini!”

“Ah, ya ya, aku bertanya perempuan kelas sebelah----”

“............O, O---i..............”

Walau Shidou mengeraskan suaranya, percakapan trio ini tidak akan selesai dengan cepat.

***

Bagian 4
“...........Aku capek............”

Malam hari. Karena semua kencannya telah berakhir, Shidou berbaring di sofa di ruang tamu selagi mengeluarkan suaranya dengan nada rendah.

Percakapan Ai, Mai, dan Mii terus berlanjut setelah itu, dan hari sudah benar-benar gelap saat mereka selesai. Untuk sementara, walau dia sempat melakukan penyelidikan tapi, saat itu, mental dan tubuh Shidou sudah sangat kelelahan.

Setelah kembali ke rumah, dia memakan (Shidou hampir menangis kebahagiaan dari perasaan Kotori, dan fakta bahwa makanan sudah disiapkan saat dia kembali ke rumah, waau makanan Supermarket adalah hidangan utama) makanan yang disiapkan Kotori, walau ia perlahan menenggelamkan dirinya ke dalam bak mandi, kelelahan dalam tubuhnya tidak keluar.

“Serius, betapa sedihnya............aku tidak akan mengatakannya. Untuk hari ini cukup.”

Dan, saat dia berpikir Kotori berjalan perlahan ke dapur, benda yang dingin menyentuh pipi Shidou.

Dia terkejut untuk sesaat tapi, dia langsung mengetahui itu adalah minuman kaleng dingin berkarbonasi yang dingin di dalam kulkas.

“Ou, makasih”

Saat Shidou mengatakannya, Kotori [Ya] menjawabnya dan duduk di sofa. Dia membuka kaleng jus yang ada di tangannya dan menelannya.

Setelah Shidou mengangkat tubuhnya, dia mengikutinya dan membuka mulutnya, sebelum menunpahkan minumannya ke dalam kerongkongannya. Perasaan yang dingin menyebar ke dalam tubuhnya.

“Jadi, bagaimana, penyelidikan kemarin dan hari ini.”

Setelah mengatakannya, Kotori melihat ke arahnya. Shidou menurunkan kepalanya untuk menghadap ke depan.

“.........hnn, itu benar. Ada beberapa yang aku ragukan jika kau ingin tapi..........lagipula, aku tidak bisa mengatakan apapun sebelum memeriksa semuanya.”

“Fuunn......begitu.”

Saat Shidou mengatakannya, Kotori membalas seperti dia sudah memperikarakan jawabannya.

Sepertinya Kotori sudah memeriksa semua percakapan Shidou dengan para tersangka. Mungkin, Kotori memiliki perasaan aneh sama seperti Shidou.

“Besok, semua tersangka yang ada di foto sudah diselidiki. Tidur secepat mungkin dan buang kelelahanmu sebanyak mungkin.”

“Aah, itu benar. Aku akan melakukannya, tapi----”

Selagi mengatakannya, mata Shidou melihat ke arah jam di dinding.

“Walau aku menyelam ke kasurku...........sepertinya aku tidak akan langsung tertidur.”

“.........Sepertinya.”

Kotori mengangkat pundaknya seolah dia bersimpati dengan kata-kata Shidou.

Alasannya sangatlah mudah.

Jam berdetak di ruang tamu rumah Itsuka. Jarum jam sudah hampir menunjuk angka 12.

Ya. Kemarin malam, ini adalah jam dimana Yuzuru dicuri Angel <Haniel>.

Sebenarnya, dia berencana menaruh penjaga di rumah setiap orang yang ada di foto tapi, itu tidak berguna karena lawannya adalah angel...........dan lebih penting, merusak mood Natsumi tidak bisa disebut rencana bagus saat dia memiliki sandera saat ini.

Bahkan sepertinya hari ini juga-----seseorang akan menghilang.

“..............”

Dalam keheningan, Shidou mengingat kembali video yang dia lihat di Fraxinus dan juga perasaan hangat pada tangis Kaguya sebelumnya. Tidak berdaya. Selagi berpikir dia tidak bisa membiarkan Natsumi melakukan apa yang dia mau lagi, perasaan kesal karena tidak bisa menghentikan <Haniel> dari mencuri orang lain, berlarian di dalam dadanya.

Dan-----saat itu.

Jarum panjang dan jarum pendek menunjuk angka 12, bagian tengah ruang keluarga rumah Itsuka *Guwann* kacau. Dan dari situ, figur sebuah sapu berbentuk Angel muncul.

“A............!?”

Shidou mengangkat alisnya dan tubuhnya menjadi kaku. Itu karena, Angel ada disini........!?

Namun, dia langsung memikirkan kemungkinannya. Itu benar. Disini ada Kotori-------salah satu tersangka.

“Kotori!”

Setelah Shidou berteriak, dia melempar minumannya dan berdiri di depan <Haniel> selagi melebarkan tangannya untuk melindungi Kotori. Untuk menyamainya, ujung <Haniel> perlahan membuka dan mengeluarkan sebuah kaca.

“! Shidou!? Berbahaya! Pergilah!”

Tapi----tidak peduli berapa lamapun, <Haniel> tidak dapat mendapatkan Kotori.

Sebagai gantinya.

“---fufu.”

Suara tawa terdengar dari <Haniel>.

Saat dia melihatnya karena merasa aneh, dia melihat wajah Natsumi di kaca itu.

“Natsumi........!?”

“Hai. Lama tidak berjumpa, Shidou-kun.”

Setelah Natsumi mengayunkan tangannya dalam sikap yang bersahabat, dia mengangkat bibirnya.

“Ini adalah akhir dari hari kedua permainan ini. Apa kau bersenang-senang?”

Di dalam kaca, Natsumi bertanya selagi memiringkan kepalanya, Shdou menggertakkan giginya.

“...........apa yang kau rencanakan?”

“Apa maksudmu apa yang kurencanakan?”

“Yuzuru-------dimana kau menyembunyikannya?”

Saat Shidou bertanya, Natsumi *fufu* tersenyum dan mengangkat bahunya.

“Itu ra.ha.si.a. Aku akan mengembalikannya jika kau bisa menebak siapa aku. Tapi, jika kau tidak bisa menebak siapa aku pada akhirnya dan------pada saat itu, [Kehadirannya] jadi milikku.”

“[Kehadiran].........?”

Saat dia bertanya selagi alisnya menjadi cemberut, Natsumi menyetujuinya dengan tenang.

“Ya. Jika aku memenangkan permainan ini, korban yang menghilang tidak akan kembali. Sebagai gantinya, aku akan menggunakan wajah, suara, badannya untuk berkeliaran di dunia ini.”

“................!”

Shidou tersentak mendengar perkataan Natsumi.

Di dunia dimana keaslian tidak selalu ada, sesuatu yang palsu yang sangat dekat dengan yang nyata berjalan di sekitarnya.

Dalam hal ini, Natsumi dapat benar-benar menggantikan Yuzuru dan orang-orang yang menghilang dari sekarang.

“.........Jangan bercanda. Aku tak akan membiarkan itu terjadi.......!”

Saat Shidou mengatakannya dengan tatapan yang tajam, Natsumi *kara**kara* tertawa dengan senang.

“Kalau begitu caranya mudah. Coba tebak siapa aku.---yah, kau pikir siapa aku? Waktu menjawabnya adalah........mari kita lihat, sepertinya 1 menit cukup.”

Shidou dan Kotori langsung saling menatap mendengar perkataan Natsumi.

“Jawab...!? Sekarang!?”

“Sepertinya masalah......”

Kotori melotot pada Natsumi dengan rasa jijik selagi mengatakannya. Saat dia melakukannya, Natsumi mengangkat bahunya sembari tersenyum.

“Fufu, itu karena, Shidou-kun menjadi tidak sabaran. Pada akhirnya, dia tidak menunjuk siapapun pada hari pertama. Itu kenapa, aku berpikir untuk.........memberikannya beberapa pengarahan.”

“.......fuun, kau tentu mengatakannya.”

Setelah mengatakannya, *Fuun* Kotori menghembuskan nafas. Tapi tiba-tiba, dia melihat ke arah Shidou dan tahu itu bukan saatnya melakukan itu.

“Jadi bagaimana, Shidou. Barusan, bukankah ada seseorang yang kau ragukan.”

“Aah.......memang benar, tapi aku masih tidak yakin---”

“Seseorang masih akan menghilang dan itu akan mengakhiri hari ini jika kau tetap diam. Kita tidak akan kehilangan apapun walau kita mencoba jadi katakanlah.”

Kotori mendesaknya dengan mengatakannya. Shidou menenggelamkan dirinya ke dalam pikirannya untuk sesaat sebelum sedikit menurunkan kepalanya ke depan.

“.......Kau benar.”

Lalu, dia kembali melihat kaca <Haniel> yang menunjukkan Natsumi dan mulai membuka mulut.

“---Natsumi. Kau menyamar sebagai.......Yoshino.”

“Yoshino?”

Yang membalasnya adalah Kotori. Shidou tetap melihat ke arah Natsumi selagi melanjutkannya.

“..........aah, Yoshino satu-satunya dengan perasaan yang paling aneh, jika ada batas antara penyelidikan kemarin dan hari ini.”

“Aku akan bertanya untuk jaga-jaga, apa alasannya?”

“........Di dalam orang yang kuselidiki, aksinya lah yang paling aneh.”

Dan tentu, itu bukti yang jelas. Dialah satu-satunya yang paling aneh dibanding yang lain, itu saja. Dia merasa bersalah memperlakukannya sebagai kriminal untuk sesuatu seperti ini. Tapi, itu juga fakta, tidak ada tersangka yang mencurigakan saat ini.

“Fuuuunnn.............”

Setelah Natsumi mendengar jawaban Shidou, dia hanya mengatakan itu dan menjentikkan jarinya.

Saat dia melakukannya, ujung <Haniel> tertutup dan kembali menjadi sapu seperti sebelumnya, menghilang ke suatu tempat.

“.............menghilang!? Apa artinya? Apa jawaban Shidou benar? Apakah dia keluar.......?”

Kotori mengangkat alisnya karena ragu sembari mengatakannya.

Namun, tidak ada satupun yang dapat menjawabnya.

---Dan, malam itu. 2 perempuan menghilang secara tak terduga.

***

Bagian 5
Hari selanjutnya, 24 Oktober,

Berlawanan dengan cuaca yang sedang bagus, mood Shidou sedang jelek.

Tapi itu biasa. Kemarin malam, 2 perempuan dihapus oleh <Haniel>, suatu surat dikirim dari Ratatoskr.

---Yoshino dan Yamabuki. Mereka berdua.

“Yoshino..........Yamabuki......., karena aku mereka------”

“.........itu tidak benar.”

Setelah Shidou mengerang untuk dirinya sendiri, dia bisa mendengar suara Reine dari Incam yang ada di telinga kanannya.

“.........kau melakukan pekerjaan baik dengan informasi yang terbatas. Itu artinya bukan salahmu.”

“Tapi.........bukankah Yoshino......menghilang karena........aku menyebut namanya?”

Ya. Dari Ratatoskr, saat mereka diberitahukan 2 tersangka lagi hilang dibanding kemarin malam, itulah yang dijelaskan pada Shidou dan Kotori.

Yang artinya, junlahnya akan terus bertambah tiap malamnya, dan saat Shidou salah menunjuk pelakunya maka orang lain akan hilang? Seperti itu.

“........kemungkinannya tinggi. Tapi, Shin. Itu-----”

“........tak apa. Aku mengerti. Ini dan itu berbeda. Walapun aku ragu-ragu, bukan berarti Natsumi akan menunjukka dirinya sendiri. Juga..........jika aku wajahku terus bersedih, aku akan merasa tidak enak pada idol yang memberikan waktunya padaku.”

Setelag mengatakannya dan menarik pipinya, dia tersenyum.

Ya. Kencan pertamanya hari ini adalah dengan idol yang sangat terkenal, Izayoi Miku.

“............hn, itu benar..........maaf, Shin.”

“? Kenapa Reine-san meminta maaf?”

“..............itu karena walaupun aku mengerti dengan kekuatan dan perkembanganmu, aku sekali lagi hampir memberikan ide yang tidak diperlukan.”

Setelah mengatakannya, Reine bergumam untuk dirinya sendiri dan tersenyum.

Dia entah kenapa merasa malu dengan respon langka dari Reine; Shidou kemudian menggaruk pipinya dan melihat ke sekitarnya.

“Se-sekarang aku memikirkannya..........ada banyak pelanggan berpenampilan aneh disini.”

Tempat Shidou menunggu Miku adalah plaza tengah sebuah taman hiburan-----Taman hiburan laut dimana dia kencan dengan Kotori terakhir kali tapi, pelanggan dengan kostum unik dapat terlihat. Tidak seperti terakhir kali.

Lebih lagi, ini bukan hanya unik. Semuanya memakai pakaian dari anime atau games dari yang dia lihat. Ya........................lebih dikenal sebagai cosplay.

“...................aah, itu karena---”

“Daaaaaaaaarrrrlliiiiinnnngg!”

Dan, menganggu perkataan Reine, dia mendengar suara yang familiar dari pintu masuk area taman bermain.----itu Miku.

Setelah Shidou melihat ke arah itu, dia langsung mengangkat tangannya dan saat akan memanggilnya-----

“Ou........tunggu, eh?”
Wajahnya menjadi kosong, setelah melihat perempuan yang berjalan ke arahnya.

Itu karena, perempuan yang dia kira Miku........mengenakan kostum berenda dengan warna putih dan ungu sebagai warna dasar.

Alasan kenapa dia tidak bisa menunjuknya mudah. Itu karena dia memakai topeng yang menutupi daerah matanya. Seolah dia sedang menuju ke sebuah pesta topeng.

“Miku....kan? Kenapa dengan penampilanmu,”

Saat Shidou bertanya, Miku sedikit bernapas *fufun* dan *baa*! Membuat pose lucu dan menunjukkan padanya.

“Bagaimana? Cocok kan. Ini gadis perang ke-4 dari [Valkyrie Misty], Tsukishima Kanon-chan. Dan ini adalah topeng langka saat dia muncul menyelamatkan Misty dan kelompoknya di jilid 6!”

“............eh? Tidak, eh?”

Saat alis Shidou mendekat karena curiga, Miku [Mouu!] mengembungkan pipinya.

“Kau tidak tahu, [Valkyrie Misty]? Ini anime yang ditujukan untuk perempuan pada Minggu pagi.”

Alis Shidou [ah] membatu, mendengar perkataan Miku.

“Sekarang aku memikirkannya, aku merasa Yoshino pernah menontonnya sebelumnya......”

“Eh, Yoshino-chan suka [Misty] juga? Ufufu, aku mendengar sesuatu yang bagus---, aku akan mengundangnya ke rumahku lain waktu---!”

Mengatakannya dengan bahagia, Miku *nico**nico* tersenyum.

Shidou menggaruk belakang kepalanya selagi menunjuk penampilan Miku.

“Jadi........kenapa penampilan Miku seperti Kanon-chan?”

“Eh? Kau tidak mendengarya dari Reine-san? Di taman bermain laut ini, ada event Halloween minggu ini jadi cosplay diperbolehkan masuk ke dalam taman---”

“Eh.....uh, jadi begitu?”

Mata Shidou terbuka lebar karena terkejut tapi..........sekarang dia mengatakannya, dia setuju. Tidak heran hanya ada cosplayer yang berjalan di sekitar sini.

“Begitu, sepertinya itu masalahnya. Tapi walau begitu, aku tidak tahu Miku suka cosplay.”

“Yah, memang tapi, kau tahu, aku selebriti.”

“Aah.......begitu.”

Diberitahu seperti itu, Shidou diyakinkan. Bukan hanya orang bertopeng, ada juga yang memakai kostum robot. Memang benar jika tempatnya seperti ini, bahkan walau Miku menutup wajahnya seperti saat ini, mungkin tidak akan terasa aneh.

“Yah, aku tidak keberatan ketahuan tapi, sepertinya darling khawatir jadi---.......juga, aku tidak ingin menggangu kencan kita.”
“Haha.......tidak, yah, unn, terima kasih.”

Dan juga. Saat Shidou tersenyum kecut, Miku *pon* memukul tangannya seperti dia mengingat sesuatu.

“Oh iya! Aku menyiapkan kostum pria untuk darling di ruang loker. Topeng dan mantel Jack-sama, pahlawan misterius yang menyelamatkan Mysty dan heroinenya! Baiklah, aku akan pergi dan mengambilkannya jadi tolong ganti--!”

“Eh? Ti-tidak terima kasih, aku tak apa.”

“..........kalau begitu, perempuan tempur kedua Narusaki Mei-chan yang kubawa.........”
“Aku pikir Jack super keren! Aku akan senang memakainya!”

Dia tidak tahan jika harus memakai sesuatu yang berenda. Saat Shidou menjerit, wajah Miku menjadi puas dan dia benar-benar bahagia.




“Kyaaaah!!”

Saat dia keluar dari ruang loker untuk berganti, tubuh Miku menggeliat sembari berteriak bahagia.

“Hebat! Cocok sekali! Kau sangat keren darling!”

“Be-benarkah.....?”
Shidou mengatakannya dengan keringat bercucuran dari kepalanya.

Itu karena, saat ini, penampilan Shidou dengan mantel menutupi seluruh tubuhnya, dan topeng menutupi wajahnya, dan juga wig panjang di kepalanya. Satu-satunya yang menyentuh udara adalah telinganya.

“...........ini, jika bukan untuk figurku yang sangat berbeda, bukankah akan terlihat seperti orang lain?”
“Tidak! Itu tidak benar! Aura yang keluar akan berbeda!”

“Aura......huh”

“Ya! Sebenarnya, penampilan Jack-sama seperti itu tapi, identitas aslinya adalah gadis tempur keenam, Kanou Emily-chan.”

“Oi tunggu sebentar, aku tidak tahu itu.”

“Ahahaha, begitu?”

Miku memiringkan kepalanya dengan lucu selagi *pero* menjulurkan lidahnya........entah kenapa setelah melihatnya, dia berhenti merasa marah. Yah, ini lebih baik daripada dipaksa memakai rok.

Lebih penting lagi, kencannya akhirnya dimulai. Shidou bergumam [Oke] dengan wajahnya yang ditutupi topeng.

“Baiklah, Miku. Agak aneh jika terus diam di depan ruang loker jadi, ayo bergerak.----karena ini kencan, jadi ayo banyak ngobrol.”

“Ya! Aku akan senang sekali.”

Setelah Miku mengatakannya dengan senang, *Hashi* dia mengeratkan tangannya dengan lengan Shidou. Dan, dengan tubuh mereka bersentuhan, meraka mulai berjalan.

..........memakai kostum dan topeng adalah hal yang bagus. Pipinya kemungkinan memerah, jadi Shidou memikirkannya dan mulai menanyakan pertanyaan padanya.

“Hey, Miku.-----apa kau ingat pertama kali kita bertemu? Kau tahu, saat Miku bernyanyi di Tenguu arena sendirian........”

“Ya--. Tentu saja.”

Miku tersenyum dan mengangguk. Shidou mempersempit matanya dalam topengnya dan melanjutkan perkataannya.

“Saat pertama kali kita bertemu, Miku sudah seperti ini. Aku terkejut saat kau tiba-tiba memelukku.”

“Eh?”

Mata Miku terbuka lebar mendengar perkataan Shidou.

“Apa itu terjadi? Saat itu, aku pikir aku sedang di masa dimana aku membenci pria sampai tidak bisa tahan..........”
“........dia tidak tertipu huh.”

“Apa kau mengatakan sesuatu, darling?”

“Tidak, bukan apa-apa. Itu benar; sepertinya ingatanku berbeda.”
Setelah Shidou mengatakannya, dia langsung melihat ke arah Miku dan bertanya lagi.

Tapi, saat itu.

“Err.........maaf.”

Di depan Shidou dan Miku, dua perempuan dengan penampilan yang sama dengan Miku datang dan secara bersamaan memanggil mereka.

“Ini Kanon-chan dan Jack-sama, kan? Bolehkah aku mengambil foto kalian berdua?”

“E-errr.....”

Shidou menggaruk kepalanya dengan kebingungan. Shidou oke saja tapi, Miku itu idol. Walau dia memakai topeng, bukankah lebih baik untuk menghindari----

“Ya, kita tidak keberatan. Sebagai gantinya, tolong diam yah.”

Tapi, berlawanan dengan rencana Shidou, Miku dengan mudahnya memberikan izin.

“Ah, terima kasih banyak! Kalau begitu langsung.........”

Setelah mengatakannya, gadis itu langsung menyiapkan kameranya. Shidou berbisik pada Miku.

“Oi, apa tidak apa? Sesuatu seperti foto.”

“Tak apa. Wajahku tertutupi. Lebih penting lagi, darling berposelah.”

Miku mengatakannya dengan mood yang bagus dan memberikan intruksi dengan baik. Shidou menaruh tangannya di sekitar pinggang Miku dan berpose seperti menyelesaikan penampilan di sebuah pertunjukan skate berpasangan; mereka mengambil pose yang sangat tidak stabil.

“Tu-tunggu, entah kenapa aku merasa tidak stabil.”

“Tak apa, Baiklah, silahkan ambil foto.”

Setelah Miku mengatakannya dengan tersenyum, perempuan itu menekan tombol kamera berulang kali.

“Ah, sudut ini juga tidak apa, kan!?”

“Oke, silahkan.”

Miku menanggapi permintaan perempuan itu dan membengkokkan tubuhnya.

Saat dia melakukannya, tiba-tiba ada beban di lengan Shidou, dan langsung menuju kehancuran.

“Uwah..........!?”

“Kyaa!”

Dan hanya seperti itu, dia jatuh seperti didorong Miku.

“Ma-maaf! Kau tak apa!?”

“Uuunn.......oh darling, kau benar-benar baik da.rli.ng♥”.

Sepertinya dia tidak terluka. Pipi Miku memerah selagi *tsun* menyentuh hidung Shidou yang ditutupi topeng.

“.......Sepertinya kau tak apa.”

Setelah Shidou mengatakannya denga matanya yang setengah terbuka, dia berdiri dan membantu Miku berdiri.

Dan----dia menyadari sesuatu yang aneh.

Perempuan yang tadi mengambil foto mulutnya terbuka lebar, dan berdiri diam di tempat.

“Mi-Miku-tan.....?”

“Kau bercanda, yang asli?”

“......!?”

Mendengar perkataan perempuan itu, Shidou langsung melihat ke arah Miku.----itu benar. Itulah kenapa Shidou dapat melihat pipi Miku memerah.

Alasannya mudah. Setelah mereka jatuh, topeng yang dipakai Miku pun lepas.

“Oh tidak---?”

Ketika Miku mengatakannya dengan tidak peduli, perempuan itu terkejut tapi, sepertinya sudah menyebar ke cosplayer lain yang berada di sekitar.

“Eh? Miku? Miku itu?”

“Ada cosplay Izayoi Miku? Eh? Bukan? Yang asli?”

“Uwah........serius? Aku penggemar berat......”
“Tapi seseorang dengannya, siapa dia. Lelaki? Perempuan......?”

Tiba-tiba sekitar mereka jadi ribut.

“Guh.......ayo Miku!”

Setelah wajah Shidou menyeringai dalam topeng, dia menarik tangan Miku yang santainya matanya terbuka lebar, dan lari dari tempat itu.

Tapi, tangan Miku menjadi kuat seolah dia menolaknya.

“Ke-kenapa Miku. Jika terus seperti ini, lebih banyak orang akan berkumpul.”

“Hnn..........sepertinya kakiku terkilir.......”

“Eh? Kayaknya tidak apa-apa...........”

Miku mendorong jari telunjuknya ke bagian mulut topeng Shidou, saat Shidou akan mengatakannya.

“Itu. Kenapa.........gendong aku.”

“Ha........haaaa!?”

Mata Shidou terbuka lebar di dalam topengnya mendengar permintaan Miku.

“Ka-kau, apa...........”



“Ayooo...........jika tidak cepat, lebih banyak orang yang berkumpul dan kita tidak bisa kabur kau tahu?”

“Guh..........!”

Setelah Shidouu menggertakkan giginya, dia menggendong Miku dari pundak sampai kakinya sampai seluruh tubuhnya. Sering disebut sebagai, gendongan putri.

Dan seperti itu, dia lari dari tempat itu.

“Kyaa! Darling sangat keren!”

Miku berteriak dengan bahagia, dan tangannya melingkari Shidou.

“Itulah kenapa berhentilah memanggilku darling dimana semua orang bisa dengar.....!”

Shidou berteriak selagi berlari melewati taman bermain penuh dengan cosplayer.

***

Bagian 6
Pada akhirnya, agar bisa melewati cosplayer sembari menggendong Miku, itu menghambiskan beberapa waktu dan staminanya.

Itu karena, walau ini hari biasa, pelanggan ingin menampilkan penampilan mereka diseluruh taman bermain. Ada sekerumanan orang di sekitar Shidou dan Miku saat mereka menuju tujuan mereka.

Dia entah kenapa berhasil lari ke toilet dan berhasil kabur dari keadaan sulit dengan Miku memakai kostum Shidou tapi-----saat itu juga, stres dengan jumlah besar terkumpul dalam tubuh Shidou.

Tapi, Shidou tidak punya waktu untuk beristirahat.

Kencan dengan Miku selesai jam 5 sore. Shidou langsung mengganti bajunya dengan seragam SMAnya dan menuju sekolah dimana kelas sudah selesai.

Untuk bertemu target selanjutnya-----Tama-chan-sensei.

“...........Aku sudah memberitahu guru Okamine sebelumnya. Dia menunggumu di ruang konseling.”

“Mengerti, Aku akan langsung kesana.”

Setelah membalasnya, dia berjalan ke bangunan sekolah dimana hanya ada beberapa murid saja.

Dan, setengah perjalanan, pikirannya tiba-tiba menjadi agak gelisah. Langsung ke Incam, dia bertanya dengan takut.

“........sekarang aku memikirkannya, alasan apa yang kau gunakan untuk memanggil Sensei?”

Ya. Seperti Ai, Mai dan Mii, Tama-chan-sensei adalah orang yang belum pernah Shidou ajak berkencan sebelumnya. Dia penasaran alasan apa yang dia gunakan untuk mengundangnya.

“.........Aah, aku memberitahunya tentang [Dia memiliki sesuatu untuk diskusi tentang karirnya]”

“Begitu. Itu akan biasa saja.”

Setelah Shidou menghela nafasnya dengan lega, dia menuju ke tempat yang ditentukan.

Tidak lama kemudian, dia sampai di depan ruang konseling.

*Kon**Kon* Shidou mengetuk pintu dan [Masuklah] suara lucu Tama-chan-sensei dapat langsung didengar dari dalam ruangan.

“Maaf atas ketidaksopananku.”

Setelah mengatakannya diapun masuk ke dalam ruangan. Saat dia melakukannya, dia mengkonfirmasi Tama-chan-sensei ada sedang menyebarkan cetakan tugas pada meja dan duduk di sofa. Sepertinya dia memang sedang menunggu Shidou.

“Ah, Itsuka-kun. Lama tidak bertemu.”

Tama-chan-sensei mengatakannya dengan senyum sembari membereskan kertas-kertasnya, dan memasukkannya ke sebuah buku yang sepertinya terkait tentang karir yang ada di sisi meja.

Lama tidak bertemu, Shidou entah kenapa merasakan sesuatu yang aneh dari kata-kata itu tapi..........tidak ada yang salah dengan itu, itu karena Shidou sudah bolos sekolah untuk mencari Natsumi dari kemarin dan hari ini.

“Silahkan duduk.”

“Terima kasih.”

Setelah disuruh oleh Tama-chan-sensei, dia duduk di arah yang berlawanan dengan sofa. Saat dia melakukannya, Tama-chan-sensei mengangkat batang kacamatanya dengan ekspresi lemah lembut.

“Eeeer, aku dengar Murasame-sensei ada sesuatu yang kau konsultasikan tentang karirmu.....”

“Ya, bolehkah aku bertanya sedikit?”

Saat Shidou mengatakannya, wajah Tama-chan-sensei [Uuun..........] menjadi kebingungan.

“Aku tidak keberatan tapi......kenapa harus aku yang jadi konselor?”

“Eh? Ah, errrr..............”

Shidou menjadi ragu-ragu. Memang benar apa yang dikatakannya. Ada guru khusus konseling disini. Jika ada sesuatu yang ingin ditanyakan, normal saja untuk berkonsultasi dengan guru itu.

Tapi, jika dia bereaksi dengan jujur, dia hanya akan dipertemukan dengan konselor. Shidou mengepalkan tinjunya selagi mengeluarkan suaranya.

“Tidak, bagaimana mengatakannya........harus Okamine-sensei!”

“Eh........!?”

Saat Shidou mengatakannya, wajah Tama-chan-sensei menjadi terkejut. Untuk imej, wajahnya menjadi seperti hatinya *Dokyyyuuuunn!* tertusuk.

“Ini konsultasi............karir, yang tidak berarti..........jika bukan aku?”

“Ya. Tidak ada artinya jika itu bukan Sensei.”

Saat Shidou mengangguk sungguh-sungguh, keringat mulai turun dari wajah Tama-chan-sensei.

“E,eeh.....? I-Itu artinya, per--------”

“Eh?”

“Ti-tidak! Tidak apa-apa!”

Tama-chan mengayunkan kepalanya dengan panik. Tidak bisa mengerti tindakannya, Shidou memiringkan kepalanya.

Bagaimanapun, sekarang dia sendirian bersama Tama-chan-sensei. Lebih baik jika cepat-cepat mengecek apakah dia Tama-chan-sensei yang asli atau bukan. Shidou menyelam dalam pikirannya untuk membuat keputusan dan-------untuk sekarang, dia memutuskan untuk bertanya kapan sensei menjadi wali kelasnya.

“Err, Sensei. Ada sesuatu yang ingin kupastikan...........apa kau ingat tentang April?”

“April..........tunggu, ah!”

Setelah Tama-chan-sensei mengingat sesuatu dan membuka lebar matanya, dia lalu menangguk dengan keras yang membuatnya berpikir lehernya akan copot.

“Aku ingat! Aku jelas-jelas ingat! Itsuka-kun, mungkinkah........kau sudah yakin?”

“Huh..........?”

Saat Shidou menjadi bengong, Tama-chan-sensei mengambil beberapa buku dari tasnya, yang ada di sofa dan menyebarkannya ke meja yang menghadap Shidou.

“Aku menyiapkan banyak buku tentang karir. Tolong beritahu aku jika kau sudah memilih salah satu!”

“Tidak, Sensei, aku..............”
Dan, saat dia mencoba kembali pada pertanyaannya, Shidou menyadari sesuatu yang aneh. Buku [Tentang Karir] yang dikeluarkan Tama-chan-sensei.

Buku pertama. Itu adalah buku dengan pengantin yang cantik di covernya. Apa ini tentang pekerjaan pengantin?

Buku kedua. Ada pria dan perempuan yang berpikir sebagai suami istri dengan bayi yang lucu pada covernya. Ini adalah..........panduan mengasuh anak........mungkin. Mungkin.

Dan buku ketiga..........sepertinya, itu bukan buku melainkan sesuatu seperti dokumen. Di atas kata-kata [Registrasi Pernikahan] bersinar, namanya tertulis di bagian pengantin dan sudah dibubuhi perangko.

“A-a.........!?”

Setelah melihatnya, Shidou akhirnya menyadari kesalahpahaman Tama-chan-sensei yang berlebihan.

Sekarang dia memikirkannya kembali, karena intruksi yang diberi Ratatoskr, Shidou mengaku perasaannya (Lebih seperti, melamar) pada Tama-chan-sensei sekali di bulan April.

“E-err, Sensei.........?”

“Itsuka-kun..............Aku sangat senang! Aku, terus yakin kau tahu, bahwa Itsuka-kun mungkin menarik lututnya dari kejadian yang tiba-tiba terakhir kali, dan pasti akan kembali setelah tenang! Aaah..............ini sepadan dengan persiapanku semua ini! Hei Itsuka-kun, kapan aku harus memberi salam pada orang tua mu? Ah, sebelum itu, haruskah kita menulisnya dulu? Eh? Stempel? Tidak apa kau tahu. Aku juga sudah menyiapkannya baik-baik. Yakinlah. Aku akan pastikan akan memberikan ini pada kantor pejabat saat Itsuka-kun sudah berumur 18 tahun!”

Matanya bersinar selagi Tama-chan-sensei menggenggam jaket Shidou. Shidou [Hiii] tersentak dan langsung berdiri.

“Ma-maaf atas kesalahpahamannyaaaaaaaaaaaaaaaa!”

Dia berteriak dan keluar dari ruangan.

Saat ini masih di ruangan konseling, Tama-chan-sensei masih mengoceh tentang rencana keluarga masa depannya dengan pesona.

***

Bagian 7
Jam 7 malam. Shidou berjalan di jalanan malam untuk kencan dengan target selanjutnya.

Tersangka ke 12. Dengan ini, artinya akhir dari penyelidikan semua orang yang ada di foto.

“............................”

Shidou berjalan selagi meletakkan tangannya pada dagunya, dan menyelam dalam pikirannya.

Saat ini tersangka yang tersisa adalah Tohka, Mai, Tonomachi, Kotori, Mii, Tama-chan-sensei, dan juga tersangka terakhir, total ada 9 orang.

Kencan hari ini dari Miku, Tama-chan-sensei. Miku ingat saat mereka pertama bertemu dan walaupun tidak banyak berbicara dengan Tama-chan-sensei, dia ingat dengan pengakuan Shidou di bulan April. Dari kedua sisi, dia tidak pikir kalau mereka adalah Natsumi.

Yang artinya, orang terakhir yang akan dia temui adalah Natsumi............mungkin.

Atau-----------mungkin Natsumi, punya kemampuan untuk melacak kembali ingatan seseorang.

Kalau begitu, dia harus mulai penyelidikan lagi. Selain menemukan cara lain menemukan Natsumi, hari ini sekali lagi, seseorang akan dihapus oleh <Haniel>.

Tapi.................entah kenapa.

3 hari setelah penyelidikan dimulai. Ada perasaan aneh yang berasap pada kepala Shidou.

Permainan menebak kriminal tanpa ada petunjuk. Satu orang untuk satu hari akan dihapus dan jika dia salah dalam menebak kriminal, maka target itu akan hilang. Sebelum semua tersangka hilang, Shidou harus menemukan Natsumi.

Apakah dugaan itu, memang benar..........?

Ada sesuatu yang tersangkut dalam pikirannya. Tapi dia tidak tahu apa itu. Shidou menggaruk keras kepalanya karena merasa kesal.

“..........Shin, kau hampir sampai dengan tempat target.”

“..............., ah................”

Diberitahu oleh Reine, Shidou langsung mengangkat wajahnya. Dia sadar dia berjalan cukup jauh selagi bepikir tentang hal itu. Cukup hebat dia tidak menabrak apapun.

Dan, ketika Shidou menarik nafas dalam-dalam dengan menasihati diri sendiri, di depan------datang dari arah tempat yang dituju Shidou, dia mendengar suara yang familiar.

“------Shidou.”

“Aaah, Origami.”

Shidou mengangkat tangannya dan membalasnya. Kepada tersangka terakhir--------Origami Tobiichi.

“Maaf, apa aku membuatmu menunggu?”

Origami menggerakkan kepalanya saat Shidou mengatakannya.

“Aku baru sampai.”

“...........kita mengamatinya hanya untuk jaga-jaga tapi, sepertinya dia sudah menunggu selama satu jam.”


Tapi, Reine mengatakannya seperti sudah menduganya. Shidou tersenyum kecut.

“? Ada apa?”

“Tidak-tidak........yah kau tahu, aku pikir sudah agak lama sejak terakhir kali aku pergi bersama Origami.”

“Begitu.”

Setelah Origami mengatakannya dan mengangguk, dia melanjutkannya tanpa seinci pun perubahan pada ekspresinya.

“Aku juga senang.”

“O-ou.........”

Tidak ada yang aneh dari apa yang dia lihat tapi, di saat yang lama dia bersama Origami, Shidou entah kenapa mengerti ada sedikit perubahan pada emosinya. Daripada tindakannya yang murni untuk penyelidikan, dia merasa sakit di dadanya.

“Jadi, apa yang kita nonton?”

Setelah mengatakannya, Origami melihat ke atas bangunan tempat dia menunggu. Disana, ada papan iklan film yang sedang diputar.

Ya. Tempat kencan Origami kali ini adalah bioskop.

“Hnn, itu benar...........aku belum memilih............”

“Belum memilih?”

Saat Shidou mengatakannya, Origami mengangkat alisnya.

Oh tidak, dia kaget. Shidou yang memanggilnya untuk pergi, jadi tidak semestinya tidak menentukan apa yang akan di tonton-----mungkin, itu terlalu bimbang.

“Tidak, maaf, bukan itu..........ah, benar, ayo kita pilih! Ini sering ada di CM...........”

Saat Shidou sedang panik, Origami diam-diam melanjutkan.

“Itu artinya kau tidak mengajakku untuk menonton, tapi kau mengajakku karena kau hanya ingin bersamaku, kan?”

“Eh? A-aaah. Ya.........mungkin.”

“................”

Saat Shidou menjadi ragu, Origami *pyon* bahagia tanpa ekspresi.

Dia memutar tubuhnya, dan berlajan cepat ke arah bioskop.

“Ah, oi, Origami?”

“Kemari”

Setelah Origami membawa Shidou ke tempat pembelian tiket, dia berdiri di depan jendela kosong dan menaikkan 2 jarinya ke arah staff.

“--------[Balck fantasia] jam 7:30 malam. 2 tiket untuk pasangan.”

“Heh?”

Mata staff perempuan itu terbuka lebar mendengar perkataan Origami yang terus terang.

“E-errrrr, apa 2 tiket tidak apa...........?”

“Aku tidak keberatan.”

“Y-Ya, tak apa, harganya 3600 yen.”

Setelah Origami mengambil tiketnya, dia mengambil satu dan memberikannya pada Shidou.

“Ini.”

“A-aaah.......terima kasih. Ah, aku yang mengajakmu, aku yang akan bayar.”

Namun, Origami menghentikan tangannya saat Shidou akan mengeluarkan dompetnya.

“Tak apa, nanti saja.”

“Eh?”

Saat mata Shidou terbuka lebar, Origami berjalan untuk membeli makanan dan minuman.

Tidak tahu satupun maksud dari Origami, saat dia berdiri terdiam, dia mendengar suara Reine dari telinga kanannya.

“....Begitu, jadi dia tidak berencana langsung melepaskanmu setelh filmnya selesai.”

“....................”

Shidou merasa punggungnya entah kenapa merinding.

“He-hei Origami. Kau ingat acara di bulan Juni?”

Tepat sebelum film dimulai. Sekitar preview film baru ada di layar, Shidou mulai berbicara pada Origami yang duduk di sebelahnya.

“Acara di bulan Juni?”

“Aah, kau tahu, bukankah kita kencan saat itu.”
“Tentu saja, aku ingat.”
“Benarkah? Jadi apa yang sebenarny terjadi.”

Origam mengangguk saat Shidou mengatakannya.

“Jam: 11.00 bertemu di depan patung di plaza stasiun Tenguu. Jam: 11.10 pergi makan siang di restauran. Jam: 11.15 Shidou pergi ke toilet. Jam: 12.00 pergi ke bioskop. Jam: 12.10 Shidou pergi ke toilet lagi. Berpikir Shidou mungkin sedang sakit perut. Jam: 14.20 membeli obat di apotek. Jam: 15.00-------”

“Tu-tunggu sebentar.”

Dia mengentikan Origami yang terus berbicara, untuk sesaat.

“.......bagaimana kau bisa ingat sejelas itu...?”

Saat Shidou bertanya dengan keringat turun ke pipinya, Origami mengangguk sebelum mencari sesuatu di dalam tasnya. Dia lalu mengambil satu buku.

“Itu?”

“Buku harian.”

Saat Origami membalasnya dengan cepat, dia memberikan bukunya pada Shidou.-----Terlebih, setelah halaman dibuka setelah membacanya. Saat dia melihat kata-katanya, dia mengetahui itu tertulis dengan menit dan kejadian yang ditulis sangat detil.

“Lu-Luar biasa.”

Dia tersenyum kecut selagi melihat buku hariannya. Apalagi, hari saat Shidou mengaku pada Origami dan hari saat Shidou pertama kali ke rumah Origami, buku hariannya memiliki lebih dari 5 kalimat dari biasanya.

“........uh.”

Shidou melihat tulisan hari itu, dan membiarkan keringat bercucuran ke pipinya. Itu adalah waktu saat dia memeriksa kamarnya setelah Shidou menghilang, dan boneka kelinci yang dia pungut beberapa hari yang lalu hilang......itu pasti tentag Yoshinon. Ada ilustrasinya juga disini. Tidak ada kesalahan.

Walaupun ini untuk Yoshino, perasaannya setelah mencuri menyakiti dadanya.......tapi, dia merasa sedikit lebih baik setelah membaca deksripsi [Hari peringatan Shidou mengambil benda pribadiku] tertulis setelahnya.

“.......karena dia punya sesuatu seperti ini, mungkinkah dia yang asli, Origami ini.”

“.....kita masih tidak tahu. Tobiichi Origami yang asli mungkin punya buku harian tapi, bukan berarti dia pasti yang asli dengan hanya dia saat ini memiliki bukunya.”

“Yah.........itu benar.”

Shidou menutup buku hariannya dan mengembalikannya pada Origami.

Saat dia melakukannya, layar tiba-tiba menjadi gelap dan musikpun mulai terdengar. Sepertinya filmnya sudah dimulai.

Shidou lalu merasakan sesuatu yang lembut menyentuh punggung tangan kanannya.

“Haha..........”

Dia tersenyum kecut tapi, dia tidak akan melakukan sesuatu seperti menyingkirkannya. Malahan, sesuatu seperti menggenggam tangan di tengah film, Shidou pikir itu cukup lucu untuk Origami bahkan mempesona.

Tapi, pikiran Shidou terlalu naif.

“..............”

Ditemani dengan laju film, tangan Origami perlahan merangkak sedikit demi sedikit.

Tadinya tangannya ada tepat di atas tangannya tapi, sekarang mulai membelai punggung tangan Shidou. Seolah merasa sayang pada tangan Shidou, dia mulai menuju ke atas dengan satu jarinya satu demi satu dan setelah dia mencapai celah jarinya, dia membuat langkah yang terlalu eksotis dan menjerat jarinya.

“Hii...........!?”

Walaupun tempat yang disentuhnya adalah sebelah pergelangan tangan kanannya, Shidou merasa kejutan seperti listrik mengalir di seluruh tubuhnya. Perasaan antara geli dan ketidaknyamanan menekan seperti gelombang dan membuat mata Shidou terus berkedip.

“Shidou.............”
Dia lalu mendengar bisikan di telinganya. Mata Shidou berputar terus.

“A-aaaaaaaaa?”

“Shidou, aku ingin kau menyentuhku juga.”

“Me-menyentuhmu.........”

Saat Shidou mengatakannya dengan suara gemetar, Origami menurunkan kerahnya dengan tangan kanannya dan menunjukkannya.

“Aku tidak memakai apapun hari ini.”

“...........!?”

Shidou tersentak. Otaknya mulai berputar tak karuan seperti telah ditembak, dan wajahnya sangat panas sampai dia berhalusinasi ada asap keluar dari telinganya.

Shidou mengambil nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya sendiri, sebelum mengambil es teh yang dia beli tadi setelah merasakan sekitarnya dan menempatkan sedotan ke dalam mulutnya untuk membasahi tenggorokannya yang kering.

Namun, tidak peduli berapa lama, rasa teh tersebut tidak terasa oleh mulutnya.



Berpikir kalau itu aneh, setelah dia mengintip ke tangannya, dia langsung mengetahui alasannya. Shidou tidak memasukkan sedotan ke gelas es tehnya ke dalam mulutnya.

Jadi, dimana sedotan yang ada di mulut Shidou saat ini..........

Setelah Shidou mengalihkan pandangannya, dia mengetahui Origami meletakkan ujung sedotan pada mulutnya selagi membengkokkan tubuhnya ke depan.

Origami diam-diam *churu* menyedot sedotan.

“Uwah!?”

Shidou berteriak keras dan berdiri dari kursinya. Dan pandangan yang tajam dari pengunjung sekitar menusuk seluruh tubuhnya.

“? Ada apa?”

“Tidak, apa maksudmu ada apa......”
“..........ini...........”

“Yang asli.............”

“Tidak salah...............”

Datang dari telinga kanan Shidou, sudah dipastikan Origami secara bulat sebagai yang asli oleh kru Faxinus.

***

Bagian 8
---Pada akhirnya, Origami melepaskan Shidou pada jam 11 malam.

Dia berjalan di jalanan malam dengan kelelahan dan kembali ke rumahnya.

“Hari ini...........benar-benar melelahkan.”

Dia meregangkan badannya ketika berbicara dengan dirinya sendiri. Terdengar sebuah suara dari tulang pundaknya.

Setelah menonton, dia berbicara dengannya warung kopi terdekat tapi.........sebuah kasus yang menunjukkan apa yang terjadi sepanjang waktu, Origami mengingat setiap hal yang dia lakukan dengan Shidou. Dia mengatakannya dengan tepat seperti memutar kembali sebuah video.

Selain itu, denga tegasnya. Seperti yang diduga, sepertinya Origami bukanlah Natsumi.

Dengan ini, dia sudah mengencani semua tersangka tapi, saat ini, yang sangat mencurigakan adalah----

“Shidou!”

Dan saat Shidou memikirkannya selagi membuka pintu gerbang rumah Itsuka, Tohka dengan piyamanya memanggilnya dari pintu masuk mansion di sebelah.

“Tohka, kenapa kau disini selarut ini”

“Itu kata-kataku. Kemana kau pergi sampai selarut ini?”

Tohka berjalan ke arah Shidou dan mengatakannya. Daripada menyebutnya sedang marah, perasaan dia murni bertanya semakin kuat.

“Ah-........maaf, sesuatu.”
“Muu...........”
Setelah Shidou berhasil menghindarinya, Tohka mengembungkan pipinya karena dia sedikit tidak puas.

“Beberapa hari ini, Shidou terlihat sibuk. Kau tidak masuk sekolah dan tidak membuat bento dan makan malam........”

“Ma-maaf. Aku akan membuatnya lagi setelah semianya beres. Oke?”

Saat Shidou mengatakannya selagi menggabungkan tangannya dan menundukkan kepalanya, Tohka mengayunkan kepalanya dengan panik.

“Tidak, kau salah. Bukan itu maksudku, kau tahu........Hnn? Tidak, memang benar aku ingin memakan makan malam buatan Shidou, jadi apa itu tidak salah..........?”
Setelah Tohka memeras kepalanya seperti dia memikirkan sesuatu, *muumuu* dia mengerang. Tapi dia langsung mengayunkan kepalanya untuk menenangkan diri dan meraih tangan Shidou.

“Lagipula! Kau harus melakukan sesuatu, kan? Jangan cemaskan aku. Aku tidak akan bertengkar dengan Tobiichi Origami dan aku akan melakukan sesuatu soal makanan. Itulah kenapa, Shidou lakukan apa yang harus kau lakukan.”

“Tohka..............”

Saat Shidou menyebut namanya, pipi Tohka langsung memerah.

“...........tapi, saat Shidou tidak ada, agak, err.......kesepian. Katakanlah jika ada sesuatu yang bisa kulakukan. Jika untuk Shidou, aku akan datang berlari padamu apapun yang terjadi!”

Setelah mengatakannya, Tohka menggenggam tangannya kuat-kuat.

Padangan yang lurus itu, perkataan itu, membuatnya sangat senang dan Shidou kembali menggenggam tangannya.

“..........Aah, terima kasih. Tohka. Aku memiliki kekuatan seribu manusia jika aku memilikimu.”

Setelah mengatakannya, Tohka tersenyum dalam keadaan yang sangat bahagia.

“Umu, itu yang ingin aku katakan! Baiklah selamat malam, shidou! Natsu-mi!”

Untuk sesaat, dia mengangkat alisnya saat Tohka mengatakannya dengan tersenyum tapi........dia langsung mengingatnya.

“Ah, selamat malam, Tohka. Natsu-mi”

Saat Shidou mengayunkan tangannya, Tohka mengayunkan tangannya berkali-kali dengan bersemangat dan kembali ke mansion. Dan selagi menguap, dia masuk ke mansion.

Sepertinya, dia benar-benar terjaga sampai sekarang hanya untuk mengatakan itu pada Shidou. Tohka biasanya selalu tidur lebih awal.

Bagaimana dia mengatakannya, dia merasa itu adalah permintaan maaf bersama dengan hiburan dan keindahan mengisi dirinya, jadi Shidou pun tersenyum.

Dia merasa caranya berjalan menjadi sedikit ringan dibanding sebelumnya. Shidou membuka gerbang dan mengambil kunci dari sakunya untuk membuka pintu utama.

Seperti itu---

“Kau telat.”

Dengan waktu seperti dia memang sedang menunggu disana, adiknya mengatakannya dengan pose yang agak menakutkan.

“Jangan bilang begitu. Aku punya banyak masalah.........”

“.........Aku tahu itu. Aku mengerti situasinya dan bukan artinya aku marah. Tapi------”

*Fuun* Saat Kotori menghembuskan nafas, dia mengerutkan keningnya selagi melanjutkan perkataannya.

“----sudah hampir waktunya.”

Dan, di saat Kotori mengatakannya.

*Gunyari*Saat Shidou pikir jarak antara dirinya dengan Kotori menjadi kacau, Angel seperti sapu muncul di tempat itu.

“Kuh.......dia disini.”

“Haniel.........!? Sudah jam 12!?”

Shidou mengatur wajahnya dan menggertakkan giginya. Sepertinya, diluar ekspektasi waktu yang diperlukan untuk kembali.

Meski demikian, untunglah Haniel tidak muncul saat dia bersama Tohka. Dia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya dan melihat angel itu.

Seolah bersamaan dengan itu, ujung Haniel terbuka dan mengeluarkan sebuah kaca di luarnya.

Dan seperti kemarin, Natsumi menunjukkan dirinya.

“Hai.i.i.i. Satu hari tidak melihat Natsumi-kun. Apa kau kesepian?”

“Natsumi........kau..........!”

“Iyaaaan, menakutkan sekali. Ayo kita bersenang-senag lagi dengan permainannya, oke?”

Setelah mengatakannya, Natsumi tersenyum seolah menikmatinya. Shidou mengepalkan tinjunya sampai kukunya masuk ke dalam tangannya sambil sedikit menarik napas untuk menenangkan dirinya.

Membiarkan emosinya keluar saat ini tidak akan memperbaiki apapun. Daripada itu, ada kemungkinan Yuzuru, Yoshino dan Ai yang dihapus oleh Haniel berada dalam bahaya. Dia tidak bisa mengatakan apapun yang buruk.

Natsumi *nya**nya* melihat ke arah Shidou dengan tingkahnya selagi melanjutkan perkataannya.

“Fufu, hari ketiga sudah selesai. Apa kau sudah menyelidiki semuanya? Kalau begitu, berikan aku jawaban.------Siapa aku”

“..........uh”

Setelah Shidou menelan ludah, dia mengingat kembali wajah tersangka yang dia kencani selama 3 hari ini.

Tapi-------dia tidak bisa langsung menjawabnya. Walaupun penyelidikan semua orang sudah selesai, Shidou masih belum memiliki bukti yang jelas.

“Shidou, tidak ada waktu”

“......Aku tahu”

Dia membalas suara Kotori dan para tersangka dalam kepalanya menghilang satu persatu.

Yang tersisa adalah------Tama-chan-sensei.

Memang benar dia bertingkah seolah dia mengingat pengakuan Shidou pada bulan April tapi, sepertinya tidak terlalu jelas dan jika dia kembali melihat tingkah Tama-chan-sensei beberapa hari terakhir, dia mungkin dapat mendapatkan jawaban kenapa dia sangat tidak sabar tentang pernikahan.

Saat dia berpikir seperti itu, dia merasa itu juga mungkin metode untuk menggoyahkan Shidou mencegah bertanya sesuatu yang tidak perlu.

Setelah Shidou melotot ke arah Haniel, dia mulai membuka mulutnya.

“Natsumi--------”

Tapi..........pada saat itu, wajah Yoshino yang menghilang kemarin terlintas dalam pikirannya, dan membuatnya menghentikan perkataannya.

Perempuan yang dihapus oleh Haniel----------karena Shidou secara tidak jelas menunjuknya sebagai Natsumi.

Jika dia menunjuk orang yang salah, Shidou akan menyeret orang itu ke dalam hal ini.

Nyatanya, Tama-chan-sensei hanya tersangka terakhir. Bukan berarti dia memiliki bukti yang jelas. Sebagai tambahan, saat dia akan mengucapkan nama Tama-chan-sensei, perasaan aneh yang sangat samar melingkari kepalanya membuat pemikiran Shidou makin sulit.

---sesuatu. Ada sesuatu yang mendasar, membuatnya salah paham.

Perkataan Shidou terhenti dari keraguannya yang tidak mendasar.

“----Shidou!”

“.......uh!”

Dia membuka lebar matanya mendengar teriakan Kotori.

Tapi--------sudah terlambat. Disaat Shidou kembali sadar, Natsumi menggunakan tangannya dan *baa*.

“Buu--! Waktu habis. Sayang sekali. Aku akan menantangmu besok~”

Ruangannya kembali mengguncang dan Haniel menghilang.

Dan Itsuka bersaudara satu-satunya yang masih berdiri di pintu masuk rumah Itsuka.

Setelah beberapa waktu berlalu, Kotori menggaruk kepalanya selagi menghembuskan napasnya.

“........Aku tidak akan mmenyalahkanmu. Dengan situasi dimana orang yang ditunjuk akan menghilang jika kau salah, tidak mungkin kau bisa memberi jawaban tanpa bukti yang pasti.”

Tapi, Kotori melanjutkan.

“Beberapa orang sudah menghilang, dan juga-------permainan ini tidak akan berakhir kecuali kau menemukan Natsumi, tolong ingat ini.”

“............aah............maaf.”

Apa yang dikatakan Kotori itu masuk akal. Shidou menggertakkan giginya karena keraguan dan ketidakberdayaannya, dan menggaruk kepalanya secara kasar.

Dan, saat itu dia mendengar suara Reine dari telinga kanannya.

“............Shin. Bisakah kau mendengarku, Shin.”

“Reine-san....? Ada apa?”

“.......barusan, Haniel muncul pada kamera yang mengawasi tersangka.”

Shidou merasa hatinya serasa diperas mendengar perkataan Reine.

Dia harusnya tahu ini. Ini sama seperti kemarin. Setelah Shidou membalas, Haniel akan menghapus satu tersangka. Itu, sesuatu yang sudah dia ketahui.

Tapi, saat dia diberitahukan lagi situasinya, dia merasa jantungnya berdetak cepat sekali sampai terasa sakit.

“...........hari ini, siapa”

Siapa yang menghilang? Kata-kata itu tidak keluar dari mulutnya. Walaupun hasilnya tidak akan berubah, sulit untuk mengucapkannya seolah tubuhnya menolaknya.

“.....aah. Yang menghilang hari ini adalah---”

Reine menjadi ragu tuk sesaat------itu kenapa, dia tidak tahu harus memberitahukan hal ini pada Shidou atau tidak-----setelah dia memotong perkataannya, dia melanjutkannya.



“.........Tohka”


“Eh........?”

Mendengar perkataan Reine.

Shidou merasa tubuhnya menjadi retak.

***


Date a Live Jilid 8 Bab 4 Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Damas Anang

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.