01 Agustus 2015

Oregairu Jilid 10.5 Bab 4 Bahasa Indonesia

Jilid 10.5 Bab 4
Jadi, malam di rumah Hikigaya berlangsung

Itu adalah malam hari berangin ketika musim dingin mencapai suhu puncaknya. Ledakan udara menghantam jendela, menyebabkan kaca ruang tamu berderik dengan berisik. Aku mengangkat tubuhku dari dalam kotatsu dan melihat ke luar. Malam sudah cukup larut dan hanya pemandangan lampu jalan berkedip yang bisa dilihat dalam kegelapan




Sepertinya orang tuaku akan pulang telat malam ini karena beberapa masalah mengenai laporan keuangan akhir tahun. Satu-satunya yang ada di rumah hanyalah Komachi dan aku. Baru-baru ini, saat-saat dimana kami bisa melihat dan berbicara satu sama lain, sudah berkurang. Hanya tinggal beberapa hari tersisa sampai hari-H ujian. Hari ini, seperti biasa, dia mengurung diri di kamarnya dan mengerahkan segala upaya untuk belajar.



Wuss, wuss, angin yang tampaknya sangat dingin tertiup sekali lagi. Meskipun ada pemanas yang diletakkan di ruang tamu, hawa dingin masih bisa meresap dari area dekat jendela.



Aku ingin tahu, apakah Komachi menderita karena kedinginan di atas sana ... Aku berpikir, dan mengarahkan tatapanku pada dinding kamarnya. Tidak ada suara sedikit pun yang terdengar dari luar. Tapi sekarang sudah larut malam. Dia mungkin sudah tidur.



Aku berpikir, sepertinya aku juga harus tidur. Aku membaringkan tubuhku dan membalikkan badan. Aku pun tidak dapat menolak kenyamanan kotatsu ini. Kamakura, kucing kami tercinta, datang dengan merangkak keluar dari bawah kotatsu. Sepertinya aku tak sengaja menendangnya. Dia memberiku pandangan sekilas yang terkesan tidak puas . Oh, m-maaf ...



Setelah aku meminta maaf kepadanya dalam hati, Kamakura mendengus dan menyisir rambutnya sendiri. Setelah selesai, telinganya berdiri dan ia menghadap ke arah pintu.



Pintu berderit terbuka, dan orang yang memasuki ruang tamu sambil mengenakan jersey-bekas-milikku adalah Komachi.



"Apa, kau masih terjaga?"



"Aku tidur dalam waktu yang aneh, jadi sekarang aku terjaga ..." katanya sambil mengarahkan matanya yang terbuka jelas ke arahku. Oh ya, ada orang-orang yang seperti itu. Mereka akan bermalas-malasan di sofa atau kotatsu setelah mereka sampai di rumah, lantas jatuh tertidur. Ketika malam hari datang, mereka akan merasa sulit untuk tidur.



Tidur siang seperti itu bukanlah masalah, tapi ketika musim dingin datang, dan orang tersebut hendak menempuh ujian, tentu saja itu adalah suatu hal yang tidak bisa dibenarkan. Jika terbiasa seperti itu, pastilah pola hidupmu jadi tidak selaras.



"Kau hanya harus mencoba untuk tidur. Jika tidak, kau akan menyesal besok.”



"Aku tahu, tapi aku agak lapar. Aku akan tidur setelah aku makan sesuatu.” Komachi memutar bahunya dan langsung menuju ke dapur.



"Whoa ..." Komachi menggerutu dengan suara syok pelan. Aku menyeret tubuhku ke atas untuk melihat apa yang terjadi, dan Komachi memandang ke dalam kulkas dengan tatapan kosong.



Ah, sial. Aku benar-benar lupa, ibu meminta aku untuk pergi berbelanja tempo hari. Aku bertanya-tanya, apa yang dia inginkan karena dia meneleponku dengan begitu tiba-tiba. Aku begitu sibuk dengan pembuatan koran gratis, sehingga perintah untuk berbelanja itu menyelinap begitu saja di pikiranku. Aku sudah memasak makan malamku sendiri ... Sehingga mungkin saja, hanya ada sedikit bahan makanan yang tersisa. Komachi melihat ke dalam kulkas yang hampir kosong dan mengeluh. Jadi, maafkan aku, onii-chan benar-benar lupa untuk berbelanja ... Tidak baik! Ini artinya, adalah kesalahanku, sehingga Komachi kelaparan!



"... Baiklah, aku akan membuat sesuatu," kataku sambil menepuk bahunya.



"Eh ...? Kau tidak perlu.” Komachi berbalik dan menggeleng.



"Apa, jangan malu-malu."



"Tidak, tidak apa-apa. Sungguh, jangan lakukan itu. Aku tidak ingin merusak perutku.”



Komachi berbicara dengan terburu-buru sambil melambai-lambaikan tangannya. Bocah nakal ini tampak benar-benar serius ketika dia mengatakan itu ... Tapi mungkin, dia hanya akan berakhir dengan menyantap makananku jika aku memasak sesuatu. Betapa baiknya gadis ini! Tapi, pastikan kau memegang perkataanmu sendiri ya!



"Aku juga agak lapar, jadi tetap saja, aku akan membuat sesuatu. Porsimu hanyalah ekstra.” aku memberi Komachi dorongan yang lembut dari belakang, dan aku pun berdiri di dapur.



Komachi dengan enggan mengangguk.”Yahh, jika kau berkata begitu ..."



Meskipun mengatakan itu, dia mengikuti aku dari belakang, sepertinya dia khawatir tentang apa yang akan aku masak. Aku pun menyelidiki apa yang tersisa di lemari dan kulkas.



Aku menemukan telur, susu, dan Chikuwa* di dalam kulkas dan lemari. Aku juga menemukan ramen dan kornet daging sapi. Ini seharusnya sudah lebih dari cukup. Aku mengatur itu semua di meja dan Komachi mengintip dari belakangku.

[Chikuwa adalah produk makanan seperti tabung Jepang yang terbuat dari bahan-bahan seperti ikan surimi, garam, gula, pati, monosodium glutamat dan putih telur. Setelah pencampuran mereka dengan baik, mereka melilit bambu atau logam tongkat dan dikukus atau panggang. Kata Chikuwa, ("cincin bambu") berasal dari bentuk ketika diiris. http://navishapk.blogspot.com ]



"Aku akan menjadi gemuk jika aku makan benda-benda seperti ini di malam hari ..."



"Tidak apa-apa, Komachi tetaplah imut dalam segala bentuk dan ukuran."



"Wooow, pria ini memang tak pernah peduli."



Sementara Komachi menggumamkan keluhan, aku mengisi panci dengan air dan menaruhnya di atas kompor. Adalah penting untuk mengisi 70% panci dengan air. Menunggu airnya mendidih, aku memulai persiapan untuk menumis daging kornet dan Chikuwa.



Komachi datang di sampingku dan meneliti setiap bahan satu per satu.



"... Onii-chan, apakah akhir-akhir ini kau makan malam dengan masakan seperti ini?"



"Tidak juga, biasanya aku makan masakan ibu setiap kali dia memasak. Yahh, aku kira, aku melakukan ini untuk hari ini karena aku lupa pergi berbelanja.”



"Aku tidak melihat ada sayuran sama sekali ..."



"Tidak ada gizi seperti itu dalam makanan seorang pria. Sapi kan sudah makan sayur, jadi dengan memakan sapi, itu sudah cukup.”



"Aku cukup yakin bahwa mereka hanya makan biji-bijian ... Ya ampun, apa yang akan kulakukan terhadapmu ..." kata Komachi. Dia membuka lemari dan menjulurkan tangannya sedalam mungkin pada lemari tersebut.



"Oh, ada beberapa rumput laut nori. Kami bisa merendam rumput laut wakame* dan ... mungkin kita harus membuka jagung kaleng, juga.”

[Wakame adalah salah satu makanan khas Jepang yang berukuran tipis, berwarna hijau tua dan berserabut. Wakame merupakan sejenis rumput laut yang hidup di perairan Jepang. Jenis rumput laut tersebut biasa digunakan sebagai sayuran hijau bagi masyarakat Jepang. Wakame dimakan dengan dua cara yaitu dalam keadaan kering dan basah. Wakame tidak hanya digunakan oleh orang Jepang, tetapi juga oleh orang Korea dan Cina. Wikipedia Bahasa Indonesia tanpa perubahan.]



"Ohh, ini semakin mewah saja ..."



Ketika aku melihat Komachi mempersiapkan topping makanan dengan kagum, aku meraih satu pack susu. Melihat itu, Komachi segera memegang tanganku. Ekspresinya mendadak serius.



"Whoa, onii-chan, susu itu akan kau gunakan untuk apa? Aku tak tahu apa yang akan kau rencanakan, tapi kau menakut-nakuti aku, jadi hentikan itu.”



"Kamu tidak tahu? Menambahkan susu pada kaldu akan merubahnya menjadi kaldu tonkotsu*.”

[Tonkotsu sebenarnya adalah kaldu daging babi. Namun karena wujudnya yang kental dan seperti krim, maka Hachiman membuatnya dari kaldu biasa yang ditambahkan susu, sehingga bentuknya mirip. Sepertinya, ini hanyalah candaan dari Hachiman.]



Aku menuangkan susu ke dalam panci sembari aku berbicara. Pada saat itu, Komachi menjerit tragis. ”Aku kan sudah bilang untuk menghentikannya!”



"Tidak, lihat? Mengentalkan kaldunya bisa membuat itu terasa lebih enak.”



Aku mengabaikan Komachi yang mengendus dan menyelesaikan masakanku dengan lancar. Aku merebus telur dan mengisi dua mangkuk ramen dengan masakanku dari panci yang mendidih. Lalu, aku menambahkan daging kornet dan Chikuwa yang sudah kutumis sebelumnya. Terakhir, setelah aku menambahkan rumput laut basah, rumput laut kering dan topping jagung ... ramen pun sudah siap untuk dihidangkan!



Komachi berdiri dengan malas sambil mengerutkan keningnya. Aku mendorongnya dari belakang dan menuju ke kotatsu. Aku meletakkan dua mangkuk ramen di depanku, lantas menyerahkan pada Komachi sepasang sumpit dan sendok Cina.



"Baiklah, makanan sudah disajikan."



Komachi mengambil sumpitnya sambil ketakutan. Ketika dia menggigitnya, pipinya yang tadinya tegang, mendadak jadi lemas.



"... Oh, anehnya, rasanya enak!" bisik Komachi. Setelah itu, dia meniup mie dan kuah sebelum menyeruputnya dengan mulut. Aku lega walaupun dia terheran-heran dengan masakanku, lagipula, itu adalah suatu sambutan yang positif terhadap masakanku. Aku pun mulai makan juga.



Kami berdua tidak bisa menangani makanan panas terlalu baik, jadi kami tidak makan dengan cepat. Kami dengan santai menghabiskan waktu sampai Komachi menyadari sesuatu dan bergumam, ”Kau benar-benar tidak semakin baik dalam memasak sejak kita masih muda ... ini sedikit membuatku kangen pada saat-saat itu.”



Bibir Komachi membentuk senyum yang lembut, dan tatapannya diarahkan pada mangkuk.



Dulu, ketika Komachi masih bersekolah di tahun-tahun pertama SD, orang tua kami kadang-kadang pulang terlambat. Seperti hari ini, aku memasak untuk kami berdua, dan kami pun memakannya bersama-sama. Memang benar, bahwa aku hanya bisa membuat makanan bermutu rendah untuk seukuran pria sepertiku di kala itu. Tapi Komachi juga tidak prot....tidak, dia benar-benar banyak protes ... Tapi terlepas dari itu, ia masihlah memakan masakanku. Mengingat semua itu, aku pun merasakan nostalgia dan malu secara bersamaan.



"Tak sopan. Masakanku sekarang rasanya jauh lebih baik daripada saat itu. Ramen Bag meningkat cukup banyak sejak saat itu.”



"Itu benar. Onii-chan benar-benar belum membaik sama sekali!” Komachi membalasnya dengan penghinaan dan memberikan aku tawa yang mengejek. Dia melanjutkan. ”Tapi aku pikir, akan lebih baik jika kau belajar cara memasak dengan benar untuk kepentinganmu sendiri.”



"Yahh, itu benar, aku harus menjadi suami rumahan kelak."



"Mm, ya, aku benar-benar tidak berpikir kau akan mampu menjadi orang seperti itu. Lagi pula, aku sedang berbicara tentang universitas dan bekerja. Suatu hari nanti kau akan meninggalkan rumah ini, kan? Kau harus tahu bagaimana caranya memasak untuk dirimu sendiri!”



"Eh, aku tidak berencana untuk meninggalkan rumah ini ..." kataku.



Komachi memberiku tatapan dingin. ”Keluar."



"O-Oke ..."



Apa, apakah kau membenciku sekarang? Aku memeriksa corak kulit di wajah Komachi dan dia terbatuk. Kemudian dia diam-diam mengalihkan tatapannya dariku, melirik ke atas dengan pipi memerah, dan mengucapkan suara yang manis.



"Nah, kalau onii-chan tidak bisa memasak sama sekali, aku bisa selalu datang dan membuatkanmu sesuatu saat ini atau suatu saat nanti... Oh, itu bernilai begitu tinggi dalam poin Komachi!”



"Asumsi bahwa kau akan mengejarku, adalah poin yang rendah..."



Sembari kami bercakap-cakap, kami pun menghabiskan ramen-tengah-malam kami.



"Terima kasih untuk makanannya," kata Komachi sambil menundukkan kepalanya dengan sopan. Kemudian dia menarik napas dalam kepuasan dan berbaring ke samping.



"Ya, sama-sama. Baiklah, sekarang pergilah tidur di kamarmu.”



Tampaknya Komachi akan jatuh tertidur di kotatsu, jadi aku memanggilnya. Dia menjawab balik dengan erangan aneh dan gumaman, tapi seolah-olah sesuatu telah masuk ke pikirannya, tiba-tiba dia mengangkat tubuhnya ke atas.



"Aku merasa seperti makan sesuatu yang agak manis!"



"Kita tidak punya sesuatu pun yang manis."



Satu-satunya hal yang bisa aku persiapkan sekarang adalah wajah manis, kata-kata manis, dan pikiran yang manis. Tidak terpuaskan, Komachi dengan penuh semangat bangkit dan berdiri.



"Oke, kalau begitu, mungkin aku akan mampir ke toko."



"Seorang gadis tidak boleh keluar sendirian di malam selarut ini."



"Tidak apa-apa selama aku tidak pergi sendiri, kan?" Komachi menjulurkan tangannya kepadaku.



... Yahh, sudah lama sejak terakhir kali seperti ini, jadi mungkin aku juga akan bertindak seperti kakak yang layak.



× × ×



Ini adalah malam berbintang yang indah. Angin berhembus dengan kuat dan udaranya bersih. Bulan, bintang, lampu jalan, dan barisan rumah yang bercahaya menerangi jalan malam.



Dalam perjalanan ke toko, kami tidak menemukan seorang pun. Di tengah-tengah kota yang damai ini, suara Komachi menggema.



"Astaga! Ini dingin! Diiiiingiiiiiiiiiinnn!”



"Serius ..."



Kami berdua gemetaran karena perbedaan suhu antara di dalam dan di luar ruangan. Komachi berteriak dan menabrak aku dari belakang. Kemudian dia meraih lenganku.



"... Mm. Dengan begini, rasanya jauh lebih hangat, dan juga bernilai sangat tinggi dalam poin Komachi,” katanya sembari menatapku.



Sulit untuk berjalan, memalukan, dan mengumpulkan semua poin ini agaknya menjengkelkan. Aku mengulurkan tanganku dan meraih kepalanya untuk memisahkan diri darinya. Komachi kemudian bergumam

diam-diam. ”Sudah hampir waktunya untuk ujianku, ya ...? Setelah itu, aku akan lulus ... Lalu, aku akan memasuki sekolah baru.”



Komachi tidaklah se-energik yang dulu. Matanya hanya terfokus pada lampu jalanan yang bersinar sesekali, dengan dengan muram. Ketika aku menyaksikan kecemasannya, aku menghentikan tanganku yang mendorongnya ke samping.



"Komachi."



"Hm? Ada apa, onii-chan?”



Dia mengangkat wajahnya ketika aku memanggil namanya. Aku menepuk kepalanya dan dengan lembut mengusap rambutnya.



"Aku akan menunggumu di SMA."



"... Mhm." Komachi mengarahkan matanya ke bawah, seolah-olah aku mendorong kepalanya ke bawah. Namun, suara kecil dan lemahnya bergaung dengan kuat.



Kota di saat larut malam sungguh tenang, pijakan kami goyah, dan angin yang merobek tubuh kami terasa begitu dingin. Kapankah malam musim dingin yang panjang ini berakhir, kami tidak tahu, tapi kali ini, kami pasti akan bergerak maju. Bahkan langit malam di atas kepala masih mengedipkan konstelasi musim semi.



Haruskah musim berubah, begitu pula dengan ikatan manusia ketika mereka melalui siklus kelahiran kembali. Mungkin, seorang pelajar baru akan mengunjungi ruang klub itu. Dan kemudian, dalam waktu satu tahun, aku akan mengatakan perpisahan pada ruang klub itu.



Jika musim dingin tiba, dapatkah musim semi berada jauh di belakang?[] Untuk melihat langit malam ini juga, akankah satu hari menjadi yang terakhir bagiku.



Itulah sebabnya, untuk saat ini, bahkan jika hanya sebentar, bersama dengan kehangatan di sampingku.



Mari kita lihat ke langit berbintang dan terus berjalan.


Catatan Kaki

1. Ode ke West Wind.

Oregairu Jilid 10.5 Bab 4 Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.