01 Agustus 2015

Oregairu Jilid 10.5 Bab 3 Bahasa Indonesia

Jilid 10.5 Bab 3
Ada tenggang waktu mutlak yang tidak boleh dilewatkan

Beberapa hari terakhir, ruang klub terasa jauh lebih dingin dari biasanya.



Kami memberitahu Hiratsuka-sensei tentang bagaimana keadaan alat pemanas ruang klub yang mulai memuntahkan suara tidak normal sejak beberapa hari lalu. Setelah itu, kami diberitahu untuk tidak menggunakannya sampai pihak produsen memperbaikinya.





Kehidupan sekolah kami normal seperti bisa (ruang klub tidak bisa digunakan pada hari itu). Tapi sepulang sekolah, lain ceritanya.



Dengan semakin terbenamnya matahari dan suhu yang semakin mendingin, kami masih memilih untuk berpartisipasi dalam klub.



Itulah sebabnya, bahkan di ruang klub, syalku masih melilit di leherku. Satu-satunya sumber kehangatan terpercaya yang layak disebut adalah ketel listrik.



Namun, ketel tersebut tidak dimaksudkan untuk membuat kami tetap hangat. Bagaimanapun juga, itu sedang digunakan untuk menyeduh teh pada hari ini. Artinya, di ruang beku ini, kontribusi kehangatan yang sangat minim tersebut jauh lebih baik daripada tidak ada sama sekali.



Manusia adalah makhluk yang tidak bisa mengatasi kekosongan, setelah hilangnya hidup mewah yang sudah terbiasa dijalaninya. Setiap sensasi dingin merangkak naik dari kakiku, tanganku berhenti membalik halaman bukuku.



Bagaimanapun juga, klub kami sudah terbiasa tidak menerima banyak tamu. Akan jauh lebih menyenangkan jika aku dapat menghabiskan waktu untuk membaca di rumah, daripada di sini. Sial, betapa memalukannya diriku karena mengucapkan ini, tapi membaca di Starbucks yang dikelilingi oleh orang terlalu sadar (lol), akan lebih menyenangkan daripada ini. Di sisi lain, mengapa orang terlalu sadar (lol) selalu duduk di dekat jendela dan berusaha untuk memamerkan MacBook* miliknya? Atau berpura-pura membaca buku yang baru mereka beli, sih? Apakah mereka mencoba untuk menjadi serangga yang menempel di jendela pada malam musim panas?

[MacBook adalah merk komputer yang dikembangkan oleh Apple.]



Tentu saja, membaca dengan damai di lokasi populer seperti Starbucks tidaklah sesederhana itu. Jika kita mempertimbangkan keramaian yang akan kita hadapi, ruang klub adalah tempat yang lebih unggul. Dan pastinya, aku suka suasana tenang dan sejuk yang ada di dalamnya. Tapi ketika musim dingin datang, kesejukan akan semakin berlipat ganda.



Kursiku, secara khusus, diposisikan di dekat dinding yang memisahkan ruang dari lorong. Hanya saja, tembok ini setipis Something-Place 21[1]. Mungkin akan lebih akurat jika menyebutnya papan, bukannya dinding. Itu begitu tipis sehingga terbukti tidak terlalu menghalangi udara dari luar. Angin dingin akan merembes melalui celah-celah pintu.



"... Hei, bisakah kita mengakhiri klub lebih awal hari ini? Ini benar-benar dingin.”



Bahuku terguncang setiap kali aku menyadari betapa dingin tempat ini. Karena tidak dapat menahan kedinginan ini, aku berbicara pada dua gadis yang duduk di dekat jendela.



Sambil membaca seperti aku, Yukinoshita memiringkan kepalanya dengan heran. ”Sungguh ...? Yahh, apa yang harus kita lakukan setelahnya?”



"Ehhh, mengapa? Aku bahkan tidak kedinginan.”



Yukinoshita memindahkan tangannya ke dagu dan merenung. Yang menjawab pertanyaannya adalah Yuigahama.



Nah lho, tentu saja Yuigahama tidak merasa kedinginan.



Bagaimanapun juga, dia memindahkan tempat duduknya dengan segera ke sebelah Yukinoshita setelah menyadari betapa dingin suhu di ruangan. Kemudian, dia ikut-ikutan menyisipkan tubuhnya pada selimut yang ada di pangkuan Yukinoshita. Biasanya, Yukinoshita akan mengusir dia agar pergi sambil mengeluh. Karena dengan adanya Yuigahama di dekatnya, udara jadi pengap dan dia begitu menyusahkan. Tetapi hari ini, ia membiarkan Yuigahama melakukan apapun sesuka hatinya.



Dengan demikian, mereka berdua memiliki ekspresi yang sangat nyaman.



Sementara mereka duduk di tempat di mana sinar matahari bisa menjangkau, alasan terbesar mengapa mereka tidak merasa kedinginan adalah, mereka saling bertukar kehangatan tubuh. Kelihatan lebih hangat, kalian berdua ini memang ...



Aku memberi suatu tatapan bernada mencela pada kedua gadis yang tampak intim tersebut. Yuigahama menempel ke Yukinoshita yang duduk dengan tegak.



"H-Hei Hikki, tidakkah kau kedinginan di sana?"



"... Ya, begitu dingin."



Ketika ia menegaskan kembali fakta tersebut dengan pertanyaan, aku merasakan hawa dingin lain yang merangkak naik ke tubuhku. Aku pun hanya mengatasinya dengan menggosok-gosok lengan atasku.



"Oh ..." Yuigahama menatap ke arah selimut untuk memeriksa ukurannya. Setelah itu, dia ragu-ragu sejenak dan menghela napas kecil.



Kemudian, dia mengamatiku dengan pandangan memelas. Aku pun semakin gelisah.



Dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Dadanya yang lapang mengembang dan mengempis. Tampaknya, dia mencoba untuk mengatakan sesuatu. Kemudian, setelah terlihat siap, ia membuka mulutnya. Suaranya begitu kecil dan tidak terdengar. Sangat berbeda dengan suaranya yang sebelumnya.



"Ka-Kalau begitu, b-b-bagaimana jika kau ..."



Yuigahama menggumamkan kata-katanya dalam kesulitan. Dan seketika, Yukinoshita menyelesaikan kalimat Yuigahama dengan senyum lembut.



"........pakai mantelmu?"



Ya, aku tahu bahwa dia akan berkata begitu. Seperti yang telah disarankan, aku meraih mantelku dan menempatkannya di sekitar bahuku. Aku sengaja tidak memasukkan lenganku ke mantel. Ini seperti cara memakai mantel seorang wanita kantor yang sensitif terhadap hawa dingin, dan tersiksa oleh AC selama musim panas.



Aku ingin tahu apakah klub bisa diakhiri lebih cepat ... Saat aku menatap jam di dinding, ada suara mengetuk dari pintu. Ah, sialan, seseorang benar-benar datang ... Aku kira, aku tidak pulang ke rumah dalam waktu dekat.



"Masuklah," jawab Yukinoshita sembari mengabaikan aku yang menundukkan kepala dalam keputus-asaan. Setelah dipersilahkan masuk, pintu itu kemudian terbuka lebar.



"Kerja bagus, semuanya!"



Dengan membungkuk sekali, seseorang gadis berambut pirang memasuki ruangan. Di antara poninya yang tersibak, terlihat pupil mata yang besar, dan ia menampakkan senyum tipis di bibirnya.



Hari ini, seperti biasa, Isshiki Iroha datang ke klub kami. Namun kali ini, dia menyambut kami dengan lebih sopan. Itu justru menimbulkan rasa tidak nyaman. Aku tidak suka hal ini terjadi ...



"Ohh, Iroha-chan. Yahallo!” Yuigahama mengangkat tangan dan memanggil namanya. Isshiki melambai balik dan kardigan longgarnya berayun.



"Hallooo yang ada di sana, selamat malam juga untukmu ... Um, tidakkah kamar ini terasa agak dingin?" Isshiki membalas salamnya, masuk ke dalam ruangan, dan berhenti. Dia kemudian memberikan suatu tatapan bingung pada Yukinoshita.



Yukinoshita tersenyum dan tampak sedikit terganggu. ”Ya, pemanas tidak berfungsi sewajarnya pada saat ini.”



"Huh, begitu?" kata Isshiki dengan tak acuh. Dia meraih kursi dan langsung menuju tempat di samping Yukinoshita. Lalu, dia duduk, lantas menarik selimut di pangkuan Yukinoshita. Mereka bertiga menjadi satu untuk membentuk manusia-kotatsu-buatan.



"T-Tunggu ..."



Menanggapi Isshiki yang tiba-tiba menempel pada dirinya, Yukinoshita menggerutu dengan nada suara kebingungan dan mengancam. Tetapi Isshiki tidak peduli. Sembari ia bergumam pada dirinya sendiri, "Saaaaangat hangat !! ♪" ia semakin memperpendek jaraknya terhadap tubuh Yukinoshita dan menggeliat.



"Oh, ingin sedikit lebih mendekat?"



"Apakah itu tidak masalah? Terima kasih baaaaaanyak!”



Yuigahama menawarkan itu dengan ramah dan Isshiki mengucapkan terima kasih dengan suara bernada menjilat. Dengan begitu, Yukinoshita dijepit diantara kedua gadis itu layaknya roti sandwich.



Hentikan! Jangan meremas Yukinon lagi! Dia harus berurusan dengan tiupan angin yang berhembus di dataran Kanto, yaitu, dadanya! Jika kalian terus menekan dia seperti itu, setidaknya lakukan itu sedikit ke atas!



Tentu saja, aku tidak bisa mengatakan itu dengan lantang. Tapi, ketika aku kebingungan apakah aku harus menghentikannya ataukah tidak, roti sandwich yang terbuat dari Isshiki dan Yuigahama malah melakukan permainan saling desak. Mereka menekankan punggungnya terhadap Yukinoshita.



"... Ya ampun." Yukinoshita mendesah dan membiarkan mereka melakukan sesuka hatinya. Dia menggeser kursinya sedikit ke belakang, agar ada cukup ruang bagi Isshiki untuk berbagi selimut. Dia mengeluarkan teriakan bahagia "Yaaay" sambil mendorong kursinya agar lebih dekat, dan semakin dekat ke arah Yukinoshita sampai menempel padanya.



Meskipun Yukinoshita memberinya ekspresi kesal, tangannya melakukan hal yang sebaliknya. Dia memegang teko yang dibungkus oleh kain selimut, dan mulai menuangkan teh di cangkir kertas.



"... Teh?"



"T-Terima kasih banyak."



Setelah mengambil secangkir hangat dengan kedua tangannya, Isshiki mulai meminumnya. Mmm, kalian bertiga tampak begitu hangat ...



Tapi kau tahu, Yukinoshita-san, kau sungguh menyadari bahwa kau telah memanjakan Yuigahama dan juga Isshiki hari ini, iya kan ...?



Jika dipikir-pikir lagi, bagi Yukinoshita, Yuigahama adalah teman pertamanya, sementara Isshiki adalah adik kelas pertamanya. Melihat dia bertindak seperti seorang kakak kelas, adalah suatu pemandangan yang begitu menyenangkan untuk ditonton.



Aku terus menatap tiga gadis yang saling menghangatkan diri, dari tempatku yang terisolasi dan dingin. Setelah minum tehnya dan terlihat nyaman, Isshiki mengirimi aku suatu ucapan singkat.



"Oh, senpai, terima kasih ya, yang kemarin."



"Mm, ya," jawabku.



Yukinoshita dan Yuigahama menatapku dengan rasa ingin tahu mengenai percakapan kami. Eh, mungkin ini sulit untuk dijelaskan ...



Kami hanya keluar untuk jalan-jalan, hanya kami berdua. Hanya itu yang terjadi, tapi aku membayangkan mengatakan, ”Kami hanya pergi keluar untuk bersenang-senang, tidak ada yang lain." Jika aku harus menjelaskannya pada Yukinoshita dan Yuigahama dengan alasan yang tidak masuk akal seperti itu, aku akan merasa begitu gugup.



Tapi, jika aku merahasiakannya, aku akan merasa sangat bersalah. Tidak, sejak awal, merasa bersalah adalah ketika kau bertindak dengan gugup. Astaga, Hachiman-kun, kau begitu menyeramkan ...



Pada akhirnya, yang bisa kulakukan hanyalah duduk di sana dengan tenang. Aku pun hanya bisa mengeluarkan napas panjang yang terdengar seperti desahan dan erangan. Seolah-olah menyadari bahwa tindakanku mencurigakan, Yukinoshita mengerutkan kening ketika Yuigahama bergantian melirik antara Isshiki dan aku. Oh ya ampun ...



Untuk selanjutnya, beberapa saat yang singkat, ruangan itu diselimuti oleh keheningan yang aneh. Meskipun ruangan tersebut begitu dingin, aku bisa merasakan terperasnya kelenjar keringat pada pori-pori kulit kepalaku.



Seolah-olah untuk menghancurkan keheningan itu, Isshiki batuk. ”Jadi, aku dari tadi berpikir, tapi aku ingin mencoba membuat beberapa surat kabar gratis untuk OSIS.”



"Maaf? Surat kabar gratis?”



Yukinoshita memberikan ekspresi ragu pada Isshiki, karena dia berbicara secara tiba-tiba dan tidak terkait dengan topik sebelumnya. Tapi, hei, kerja bagus, Irohasu! Sekarang aku terbebas dari tatapan mereka berdua...



"Surat kabar gratis, um, yang itu, kan?"



"Ya, yang itu."



Yuigahama dan Isshiki menggunakan kata ganti petunjuk dalam percakapan mereka. Beberapa hari lalu, ketika Zaimokuza datang ke ruang klub kami, aku ingat bahwa kami pernah membahas tentang koran gratis selama diskusi berlangsung. Sudah cukup bagiku untuk mengetahui apa yang mereka maksud dengan “yang itu”.



Namun, aku masihlah tak tahu alasan apa yang mendasari Isshiki menginginkan hal ini.



"Tapi kenapa harus surat kabar gratis?" Yukinoshita bertanya sembari memiringkan kepalanya.



Isshiki menarik tangannya yang berada di bawah selimut, dan terus menjelaskan sembari menggoyang-goyangkan jarinya.



"Kami segera menghadapi laporan keuangan OSIS. Jadi, ketika wakil ketua OSIS dan yang lainnya mengumpulkan semua data, ternyata kami masih memiliki banyak uang yang tersisa dalam anggaran tahun ini.”



"Jangan bilang ..."



Ketua OSIS sebelumnya adalah Meguri-senpai. Sebagai seorang Megu rin yang menyenangkan, dia sungguh tidak memiliki citra yang kuat terkait dengan ketamakan terhadap uang. Oleh karena itu, adalah hal yang masuk akal, jika tersisa anggaran yang banyak ketika masa baktinya dilimpahkan ke Isshiki.



Tapi ketua OSIS saat ini adalah Isshiki Iroha. Sebagai seorang Iro hasu yang cerdik, dia mungkin khawatir tentang uang ...



Dan seperti yang sudah kuduga, ia menepuk tangannya di depan dada dan tersenyum. ”Kami boleh saja menggunakan semua uang karena ada beberapa yang tersisa, kan? Aku memeriksa berapa banyak uang yang tersisa, dan tampaknya cukup untuk membuat surat kabar gratis.”



"Itu tidak berarti bahwa kau harus meningkatkan pekerjaanmu ..."



Tidak dapat dimengerti. Terlepas dari berapa banyak uang yang tersisa, mencoba untuk melakukan pekerjaan lebih banyak adalah hal yang tak dapat dimengerti ... Gadis ini pasti merencanakan sesuatu ... Aku memberikan tatapan yang terkesan menginterogasi pada Isshiki. Dia hanya menepisnya dengan berkata "aha!" dan senyuman. I-Itu bahkan lebih mencurigakan ...



"Tapi lihat, Iroha-chan. Jika kau memiliki sisa uang, tidakkah seharusnya kau simpan uang tersebut? Tabungan adalah suatu hal yang penting, lho?” Yuigahama menyatakan itu, seolah menegur dia. Itu adalah sesuatu yang biasa dikatakan oleh seorang ibu ...



Tentu saja, Yuigahama ada benarnya. Yaitu, jika kami menganggap bahwa uang itu adalah milik Isshiki. Tapi itulah masalahnya. Uang itu bukanlah milik Isshiki secara pribadi, melainkan uang anggaran untuk OSIS.



Setelah mendengarkan percakapan sejauh ini, Yukinoshita menyadarkan sesuatu berdasarkan situasi ini. Dia menaruh tangannya ke dagu dan berbicara dengan perlahan.



"Aku kira, mungkin tidak sesederhana itu."



"Kenapa?" tanya Yuigahama sambil memiringkan kepalanya seolah-olah dia ingin mengistirahatkannya di bahu Yukinoshita.



"Jika ada sisa dana dalam anggaran dari tahun sebelumnya, mungkin anggaran yang dialokasikan untuk tahun berikutnya dapat dikurangi. Andaikan saja aku adalah orang yang menangani anggaran tersebut, aku akan tanpa ragu menguranginya.”



"Iya! Tepat! Itulah sebabnya, untuk menghindari dikuranginya anggaranku pada tahun depan, akan lebih baik jika aku menggunakan semua uang sebelum periodenya berakhir, kan?”



Setelah mendengar penjelasan Yukinoshita, Isshiki menggeliatkan tubuhnya untuk semakin mendekat ke Yukinoshita. Dan untuk mendapatkan lebih banyak persetujuan dari Yukinoshita, Isshiki merapat padanya seperti seorang anak kecil.



"Terlalu dekat ..."



Aku bisa mendengar dia mengeluarkan suara dangkal dan terkesan bingung. Terjebak di tengah-tengah kedua gadis, tubuh Yukinoshita terperas layaknya seorang penumpang yang menaiki kereta super padat. Yep yep, syukurlah bahwa kalian bertiga bisa seakur ini.



Artinya, kekhawatiran Isshiki tidak benar-benar tanpa alasan. Lagipula, itu bukanlah uangnya Isshiki. Yang benar saja,”anggaranku ...?" itu adalah uangnya OSIS, bukan milikmu. Tapi, jika dia ingin tetap mendapatkan anggaran dalam jumlah yang sesuai, harusnya bukan masalah jika mereka menerbitkan surat kabar gratis.



"Lakukan itu. Meskipun begitu, aku tidak benar-benar tahu kau berencana menerbitkan apa,” kataku dengan biasa.



Isshiki memisahkan diri dari Yukinoshita dan berbalik ke arahku. ”Sebenarnya....tentang masalah itu...sepertinya, aku sudah memutuskan apa yang harus dilakukan. Aku berpikir untuk menulis sesuatu seperti: memperkenalkan tempat di mana kau bisa bersenang-senang, tempat di mana kau bisa makan makanan yang enak pada, atau bahkan cafe yang imut.”



"Oh, itu kedengarannya hebat! Bagaimana dengan pakaian atau berbagai macam barang, juga !? Para pembaca mungkin akan menyukainya!”



"Itu akan membuat kontennya mirip dengan fanzine* atau majalah lokal. Tentu saja, itu adalah konten yang ingin para pembaca lihat ...”

[Fanzine adalah suatu majalah untuk para fans dalam hal-hal khusus, seperti: tim, penyaji, dan genre. Kata Fanzine sendiri dibentuk dari fan+zine(magazine). Kamus Oxford.]



Yuigahama menjadi antusias dengan ide Isshiki dan dia pun bergerak mendekatinya. Karena itu, Yukinoshita semakin tergencet di antara mereka berdua.



Hmm, tempat di mana kau bisa bersenang-senang, tempat di mana kau bisa makan makanan enak, dan cafe yang imut, ya ...? Rasanya aku pernah mendengar ini sebelumnya. Aku pikir itu berasal dari "Menjadi Manusia Adalah Bagus?”[2] Tempat yang bagus untuk dikunjungi dan nasi panas, mereka pasti menunggu suatu cafe yang imut? Satu-satunya hal yang benar adalah nasinya. Oke, jadi itu adalah sesuatu yang berbeda.



"Jadi, suatu majalah lokal berarti... sesuatu seperti 'Chiba Walker'?" tanya Yuigahama sembari menyandarkan tubuhnya ke arah Isshiki.



Isshiki mengangguk dengan: "ya, ya" dan memajukan tubuhnya ke depan. Akhirnya, setelah dibebaskan dari tekanan mereka, Yukinoshita bisa bernapas dengan lega.



Penjelasan Isshiki terus lanjut.



"Misalnya, jika itu adalah suatu majalah informasi, aku dapat pergi ke tempat manapun yang aku suka. Lantas aku bisa habiskan-habiskan-habiskan-habiskan-habiskan-habiskan-habiskan uangnya sebagai pengeluaran, kan?”



Tentu saja itu tidak akan menjadi masalah. Karena semua tagihannya akan ditanggung oleh dana sisa tersebut. Itu akan dihitung sebagai pengeluaran yang diperlukan untuk pengumpulan bahan artikel koran.



Isshiki memberikan senyuman ka-ching! dan juga mengucapkan hal-hal terburuk yang pernah kudengar. Apa maksudmu dengan "habiskan-habiskan-habiskan ...?" Kau tidak mencoba membuat komentar untuk menghasut orang, guna menghabiskan uang permainan sosial di sini ...[3]



Yukinoshita dan aku terkejut. Di sisi lain, Yuigahama memiringkan kepalanya sambil berpikir.



"Pengeluaran ..."



Aku sangat berharap bahwa kau tahu apa arti kata tersebut ... Mengabaikan Yuigahama, ketika Isshiki melihat reaksiku, dia pun menggembungkan pipinya.



"Bukankah kau adalah orang yang mengatakan kepadaku untuk melakukan itu, senpai? Bahwa uang hanya akan berakhir sebagai biaya, jadi, bukankah aku juga bisa menggunakannya sesuka hatiku?” kata Isshiki.



Yukinoshita kemudian memberi aku pandangan dingin.”Kau tidak mengajarkan padanya suatu pelajaran yang layak, bukan ...?”



"Tunggu, aku tidak mengatakan itu."



Untuk membela kehormatanku, Isshiki menggeleng dan menatapku dengan muram. ”Ya, kamu mengatakan itu. Ketika kita sedang mempersiapkan acara Natal, kau sungguh mengatakan itu.”



Iya kah ...? Even itu adalah kolaborasi dengan sekolah lain, jadi kita harus menggunakan uang sebanyak yang kita inginkan, tanpa khawatir tentang biayanya ...



Oke, aku memang mengatakan itu. Sudut pandang Irohasu memang menakutkan. Sebenarnya, jelas-jelas dia menafsirkannya dengan salah ...



"Isshiki-san, tindakanmu dapat juga dianggap sebagai penyelewengan dana ..."



"Tapi semua orang akan mengenal tentang banyak hal dan aku akan bersenang-senang. Bukankah ini, seperti, Win-Win Solution* untuk semua orang?”

[Yah, Win-Win Solution adalah jalan keluar yang menguntungkan kedua belah pihak atau lebih.]



Yukinoshita menegurnya, tapi Isshiki membalasnya seakan-akan itu tidak berhubungan. Oh, ya ampun! Tamanawa-kun menjadi suatu pengaruh buruk pada anak ini ... Ayah tidak akan membiarkanmu bersama dengan orang seperti itu, kau mendengarnya!?



"Ketika memandangnya dari sisi itu, itu tidak terdengar seperti suatu hal yang buruk ..." kata Yuigahama sambil mengeluh. Kenyataannya, jika yang kau lakukan adalah suatu hal yang menyenangkan bagimu, dan hal tersebut secara langsung terkait dengan kebahagiaan semua orang secara keseluruhan, maka kau tidak bisa menyebutnya sebagai perilaku tak jujur, ​​tanpa syarat. Mungkin, ini adalah hal ideal yang bisa kau manfaatkan untuk memenuhi hasratmu sembari menuai keuntungan.



Jadi, Isshiki tidak hanya membual tentang hal-hal yang tidak masuk akal itu. Aku bisa memahami sampai sejauh itu. Sekarang, kami harus mempertimbangkan tentang seberapa realistis saran Isshiki tersebut.



Yukinoshita menyilangkan lengannya dan berpikir. Dia kemudian perlahan-lahan berbicara.



"Namun, akankah mereka benar-benar menyetujui pengeluaran tersebut?"



"Oh Yukinoshita-senpai, apa yang kau bicarakan? Orang yang bertanggung jawab menyetujui hal itu adalah si sekretaris, kau tahu?” Isshiki menjawab sambil membuat tawa. Sudahlah, dia benar-benar mengusulkan sesuatu yang konyol ... Yahh, apapun itu, jika itu benar-benar terjadi, Isshiki lah yang bertanggung-jawab. Jika pekerjaan sekretaris adalah menyetujui penyesuaian terhadap anggaran, maka, pekerjaan Isshiki adalah mengeluarkan kebusukan hatinya sampai bersih! Bagaimanapun juga, itu adalah tanggung jawabnya sebagai seorang pimpinan!



Tak peduli apakah Isshiki menyadari itu ataukah tidak, aku ragu-ragu akan hal itu. Tapi sepertinya, dia sudah cukup termotivasi.



"Jadi, kembali ke masalah koran ... Menurutmu, bagaimana aku harus membuatnya?" tanya Isshiki untuk me-restart percakapan dan kembali ke topik utama. Mmhmm, sebaiknya kau tahu, bahwa kau sangat bersemangat dalam hal ini ...



"Kau tidak akan mendapatkan banyak saran dari kami .... sebelumnya pun, kami tak banyak memberimu saran ...”



"Itu benar ... Sebaliknya, kita tak akan tahu sampai kita mencobanya."



Yukinoshita menyatakan kesepakatannya. Mendengarkan di samping, Yuigahama melihatnya sambil berpikir. Dia pun mengingat sesuatu dan menepuk tangannya.



"Hei, bukankah sebelumnya kita sudah membuat halaman untuk salah satu majalah lokal?"



"Oh ya, sebelumnya kita sungguh melakukan hal seperti itu, kan ...?"



Dari apa yang bisa kuingat, itu adalah suatu hal yang Hiratsuka-sensei bawa pada kami. Majalah lokal akan diterbitkan untuk mata pencaharian daerah, dan target demografi-nya adalah generasi muda. Kami bertugas membuat satu halaman tentang subyek pernikahan. Kami bekerja cukup keras untuk menyelesaikannya.



Kami berbicara sementara aku mengingat kenangan itu satu per satu. Kemudian, Isshiki bergerak maju dengan tiba-tiba. ”Oh itu bagus! Sepertinya, sekarang kita mendapatkan sesuatu!”



"Kami hanya diminta untuk menyelesaikan satu halaman saat itu. Jika kami harus mulai dari awal, keadaannya berubah. Itu tidak mungkin,” kata Yukinoshita, menegur Isshiki.



Isshiki menyesuaikan posisi duduknya dengan kekesalan dan melemaskan bahunya. Dia kemudian memandang Yukinoshita dengan tatapan tak percaya.



"... Sungguh?"



"Ya." Yukinoshita menegaskannya dengan dingin. Namun, Isshiki mengeluh, seakan-akan dia mencela Yukinoshita. Tapi, dia juga memasang tatapan mata yang terkesan manja. Bahkan Yukinoshita kehabisan kata-kata untuk Isshiki, dan dia pun memalingkan wajahnya. Oh tidak, tidak baik! Kalau begini terus, lama-lama Isshiki akan bercinta dengan Yukinoshita (bercanda)!



Dalam hal logika dan kata-kata yang mapan, Yukinoshita adalah seorang gadis yang sanggup dengan mudah membuat orang lain depresi. Tapi setiap kali dia ditekan oleh kata-kata sentimental dan gerak tubuh, dia begitu mudah menyerah. Sumber: perbincangan Yuigahama sehari-hari dengannya.



Isshiki menatapnya dengan mata tak berdaya, dan Yukinoshita pun menggeliat dengan tidak nyaman. Kemudian, Yuigahama campur tangan.



"Oke, oke, jadi ini tentang membuat koran gratis, pertama-tama, mengapa kau tidak mencari cara untuk membuatnya? Coba bertanyalah kepada beberapa orang yang tahu, dan dapatkan bantuan dari mereka ... Setelah itu, kami bisa membuatnya bersama-sama denganmu!”



"Kau begitu baik, Yui-senpai!" Isshiki tersenyum gembira ketika Yuigahama menanggapinya dengan hangat. Yuigahama memang merupakan gadis yang baik, tapi jika perkataannya diperiksa dengan lebih cermat, sebenarnya dia sama saja dengan mengatakan: "datang kembali lain waktu, ya."



Yuigahama memang top. Sebagai seorang ahli yang sanggup menarik perhatian Yukinoshita, serangan Isshiki terbukti tidak efektif melawan dia.



"Ya, Yuigahama benar. Jika kau benar-benar harus melakukannya, maka akan lebih baik jika kau menghabiskan beberapa waktu untuk mempersiapkan apa yang kau butuhkan.”



Kami bertiga menyatakan ketidaksetujuan. Isshiki terlihat susah dan alisnya berkerut.



"Tidak sesederhana itu, lho."



"Kenapa?" aku bertanya.



Isshiki menggerakkan matanya ke bawah. Dengan suara serius, ia berbisik, ”Itu karena laporan keuangan akan segera datang.”



Rasanya, ia seperti menyebutkan sesuatu yang benar-benar signifikan sekarang.



Itu benar, laporan keuangan memang sudah dekat. Orangtuaku mungkin akan jauh lebih sibuk dari biasanya.



Rupanya, selama periode ini, budak perusahaan memiliki banyak kewajiban untuk diurus.



Artinya, internet publik mengabarkan suatu kebenaran. Seharusnya, alasan mengapa mereka terfokus pada barang dagangan seperti BD box dan OVA pada bulan Februari dan Maret, adalah karena mereka akan mengadapi laporan keuangan.



Tentu saja, ini tidak berlaku untuk semua hal yang berhubungan dengan anime. Periode ini adalah ketika perusahaan mencoba upaya agar kondisi keuangan memenuhi proyek-proyek bisnis. Salah satu contoh upaya tersebut adalah dengan memproduksi merchandise secara massal untuk meningkatkan penjualan. Sumber: Mama dan Papa. Hari ini, mirip seperti pegawai-pegawai lainnya, kedua orang tuaku sibuk bekerja ...



"Sepertinya, aku tidak terlalu yakin tentang rinciannya. Jika kami ingin memeras pengeluaran pada laporan keuangan, kami harus melakukannya sebelum periode akuntansi pada awal Maret. Kami sudah melewati awal Februari, jadi kami hanya memiliki apa yang tersisa dari bulan ini!” kata Isshiki dengan emosi. Dia menggoyang-goyangkan jarinya ketika mencoba menjelaskan situasinya sebaik mungkin. Dia begitu menggemaskan ketika menerangkan itu. Namun setelah aku mendengar dia mengatakan hal-hal seperti "laporan keuangan", "pengeluaran", dan "pemerasan"...itu sama sekali tidak lucu.



Pokoknya, aku mengerti bahwa dia tidak punya banyak waktu tersisa. Selama beberapa hari terakhir pada bulan ini, ia harus fokus pada penyusunan semua faktur dan kuitansi, untuk membuat pembukuan periode bulan depan.



Jadi, itu artinya, adalah suatu hal yang buruk jika dia tidak menyelesaikan pekerjaannya pada akhir bulan ini...



Karena kita sedang berada di bulan Februari, artinya, tidak banyak waktu yang tersedia bagi mereka karena Februari adalah bulan yang pendek. Terlebih lagi, jika dia ingin membuat surat kabar gratis, membuat itu dari awal adalah tugas yang begitu berat, layaknya tugas Hercules.



"Ini benar-benar mustahil, menyerah sajalah," kataku. Yukinoshita diam-diam mengangguk, dan Yuigahama hanya memberikan senyum yang terkesan tanpa harapan dan pahit.



Merengek, membungkuk, dan menatap diriku, semua itu tidak akan ada gunanya. Sesuatu yang mustahil adalah mustahil. Aku perlahan-lahan menggelengkan kepala. Kemudian, Isshiki diam-diam berdiri.



"Senpai ... Aku ingin beberapa saran ..." Isshiki berdiri dan diam-diam berjalan ke arahku. Dia berhenti di depanku dan menatapku, sementara aku masih saja duduk. Dia tepat berada di depanku, namun dia mengalihkan pandangannya dengan ragu-ragu.



"Untuk apa ...?" aku bertanya.



Namun, Isshiki tidak mengatakan apa-apa. Yukinoshita dan Yuigahama memberi kami tatapan bingung.



Mengabaikan kami bertiga yang kebingungan, Isshiki mulai membuka kancing blazer-nya satu persatu. Whoa, apa sih yang gadis ini lakukan?



Aku syok, begitu pun Yukinoshita dan Yuigahama. Tidak, yang benar saja, apa-apaan yang dia lakukan? Oh, ya ampun, tunggu, tunggu, yang kau menanggalkan pakaian !? Tolong!



Isshiki menggeliatkan tubuhnya untuk melepas blazer dan merintih seolah-olah menahan sesuatu. Berikutnya, dia mendorong tangannya ke dalam kardigan merah muda, dan mulai mengaduk-aduk blusnya di derah dada.



"Umm ..." Isshiki mengerang dengan nada membosankan ketika dia terus mengutak-atik blusnya. Sementara dia melakukan itu, kerah depan bajunya terbuka dan berayun-ayun. Sekilas, tulang selangkanya kelihatan. Aku mengalihkan tatapanku karena dia berada tepat di depanku, jadi aku bisa melihatnya secara langsung. Namun, dia hanya terdengar suara gemerisik pakaian dan napasnya semakin berat.



"Aku tidak tahu apa yang kau coba untuk keluarkan, tapi.....ya ampun, lakukan itu di tempat lain." Aku menunduk dan mengusir dia pergi dengan lambaian tanganku. Aku pun mencoba untuk menjauh darinya.



Isshiki kemudian tersentak dengan suara keras.”Oh, ini dia."



Tangannya yang merogoh sesuatu dari dalam baju, akhirnya keluar. Dia mencengkeram beberapa potongan kertas. Dengan menggunakan tangannya yang lain, ia perlahan-lahan meraih tanganku. Dia menempatkan beberapa potongan kertas di telapak tanganku, kemudian mengepalkan telapak tanganku bersama-sama carikan kertas tersebut.



Tanganku bersentuhan secara tiba-tiba dengan tangan Isshiki. Jari lentik dan sensasi kulit gadis itu yang  begitu lembut membuat aku membeku di tempat. Dengan segera, Isshiki melepaskan tanganku, dan apa yang tertinggal di dalam tanganku adalah potongan-potongan kertas bekas yang masih hangat.



Ketika tersadar bahwa kehangatan ini berasal dari diriku sendiri, tanganku hampir saja dipenuhi dengan keringat. Aku dengan ragu membuka kepalan tanganku.



Ada beberapa lembar kertas. Ketika aku meneliti lembaran kertas tersebut, sepertinya, aku mengenal huruf-huruf yang tercetak padanya. Kata "tanda terima" tertulis di bagian atas. Dan di bawah terdapat nama-nama tempat bowling dan cafe. Bahkan ada tiket makanan dari toko ramen.



Jangan bilang, tanda terima ini adalah...



Pikiran tiba-tiba menjadi kosong. Ketika aku mengangkat wajahku, Isshiki tersenyum dan tatapan mata kami saling bertemu.



Apakah kau melihat itu? Kau melihatnya, kan? Kalau begitu, kau tahu apa yang akan kulakukan terhadap benda-benda kecil ini, kan? Dia hanya tersenyum, namun seakan-akan, senyumannya itu berisi pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dia pun tak perlu lagi mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan di atas. Aku sudah mengerti.



Isshiki menyentak tangannya padaku untuk meminta kertas-kertas itu kembali. Aku mengembalikannya dan dia dengan hormat menerimanya. Dengan tenang, dia menempatkan tanda terima itu kembali ke saku blusnya.



"Jadi, senpai, tentang saranku ..." Isshiki mengucapkan perkataan yang sama seperti sebelumnya, hanya saja kali ini dengan suara imut dan membujuk.



Sebagian besar, aku mengerti apa yang Isshiki ingin katakan. Pada dasarnya, dia mengatakan bahwa aku adalah kaki-tangannya.



Tapi, harusnya aku adalah pihak yang tidak bersalah. Maksudku, aku membayar tagihanku sendiri. Dan aku pun tak berhutang satu sen pun padanya, atau semacamnya. Namun, mengapa aku merasa begitu bersalah ...? Aku memang ikut bersenang-senang bersamanya. Namun, jika ada orang yang harus disalahkan, dia lah orangnya. Bahkan bisa dibilang bahwa dia berhutang padaku atas semua pengeluaranku. Aku seharusnya ada di rumah dan tidak berbelanja apa-apa, iya kan? Tidak, tapi, masih saja ... Tapiiiiiiiiiiiiiii...



Pasti karena Isshiki begitu percaya diri ketika ia memberikan tanda terima tersebut padaku. Sehingga, aku mulai merasa, seolah-olah aku telah melakukan sesuatu yang salah. Sekarang, aku merasa seperti seorang penonton kecelakaan yang tak tahu apa-apa, namun dipakasa bersaksi di depan pengadilan ...



Aku batuk sekali dan menoleh ke arah Isshiki. Baiklah, ini adalah saatnya aku memamerkan keterampilan tawar-menawar milikku!



"... A-Apapun itu, kenapa tidak kami mendengarmu terlebih dahulu?"



"Sepertinya, dia sedang mengancam Hikki, bukankah begitu!?"



"Astaga ..."



Suara Yuigahama yang terkejut bercampur dengan desahan Yukinoshita yang seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi.



× × ×



Untuk mengadakan diskusi yang lebih mendalam, Isshiki kembali ke ruang OSIS untuk mengambil beberapa materi. Beberapa waktu telah berlalu sejak dia pergi. Sementara kami menunggu dia kembali, Yukinoshita menuangkan teh hitam lagi pada cangkir kami.



Ketika uap air naik dari teh, aromanya memenuhi ruangan. Pemanas tidak berfungsi seperti biasa, tetapi kombinasi teh dan mantel sudah cukup untuk membuatku lupa akan dinginnya ruangan ini.



"Maaf karena telah menunggu!"



Pintu terbuka lebar dan Isshiki dengan penuh semangat datang ke ruangan.



Dia datang sambil membawa suatu file yang jelas. Dia menempatkannya di atas meja dan mulai melepaskan isinya ke alas meja. Matanya berbinar seolah-olah dia adalah seorang anak yang melihat suatu selebaran dari toko mainan, tepat sebelum Natal tiba.



Setelah menyaksikan dia bertingkah seperti itu, bahkan aku pun mulai ingin membantunya untuk mewujudkan koran gratis tersebut jadi kenyataan. Namun, hal-hal spiritual seperti energi, nyali, dan motivasi... itu saja tidaklah cukup untuk mewujudkannya.



Pertama, kami perlu menangani situasi ini. Semakin kau memahami situasinya, semakin terpojok dirimu, itulah yang mereka sebut dengan pekerjaan.



Jika biaya dan jadwal tidaklah cukup fleksibel, kau tidak bisa membuat sesuatu hal terlaksana sejak awal. Menyadari itu dan masih berusaha untuk menekan masalah, hanya akan menyebabkan penurunan moral. Di sisi lain, pada kasus di mana biaya dan jadwal begitu fleksibel, orang akan mendapatkan kepuasan dan mengklaim bahwa dirinya akan menang. Mereka hanya akan menjadi lengah dan akhirnya, semuanya akan jatuh pada kehancuran. Ew, apa-apaan itu? Sejak awal mengerjakan suatu pekerjaan, namun kemudian hanya mengarah pada kegagalan ...



Tapi, itulah mengapa...adalah suatu hal yang penting untuk menolak pekerjaan ketika kau tahu betul bahwa kapasitasmu tidak akan sanggup memenuhinya. Dalam situasi di mana kau tidak memiliki pilihan untuk menolak, kau harus bernegosiasi untuk mengurangi beban kerjamu. Setelah aku menghabiskan waktuku di lingkungan ini untuk melakukan kerja paksa dalam suatu organisasi yang disebut Klub Relawan, aku akhirnya bisa mendapatkan pencerahan ini.



Akhirnya.



Aku menunggu Isshiki menyelesaikan penyusunan dokumennya, dan aku pun berbicara dengannya.



"Hal paling pertama yang harus kau ketahui adalah, kami belum memutuskan bahwa kami akan melakukan pekerjaan ini. Kami akan memutuskan, hanya setelah kami mendengar detailnya, dan membahas apakah itu bisa dilakukan ataukah tidak.”



"Iya. Itu tak masalah bagiku!” dia menjawab dengan suara ceria dan senyum cerah.



Argh ... Kau membuatku sulit untuk menolaknya, jika kau memandangku dengan mata berkilau dan penuh harapan seperti itu ...



Aku terdiam dan mengeluh sembari masih duduk di sana. Seolah-olah menjadi wakilku, Yukinoshita memulai percakapan untuk ikut memberikan dia nasehat.



"Nah, kenapa kita tidak mulai dengan bagaimana kau ingin membuat ini semua."



"Iya. Jadi, ummm, ketika kami membuat cetakan untuk susunan acara Natal kemarin, kami membuat pesanan pada suatu perusahaan percetakan. Aku menghubungi mereka dan mengajukan beberapa pertanyaan, kau tahu?”



Ketika Isshiki berbicara, dia dengan cepat mengambil beberapa dokumen. Itu adalah pamflet dan tanda penjualan. Tapi menurutku, berpikir bahwa dia sudah menjalin komunikasi dengan perusahaan percetakan ... Tampaknya dia tidak melakukan suatu perencanaan pun, tapi tentu saja dia memiliki kemampuan untuk mengambil tindakan ...



"Jadi, inilah yang mereka rekomendasikan kepadaku ..." Isshiki menunjuk suatu titik pada pamflet. Yukinoshita, yang berada di sampingnya, melihat ke arah yang ditunjukkan olehnya.



"Delapan halaman penuh warna ... Skalanya cukup besar sekarang ..." Yukinoshita menekan-nekan pelipisnya seakan untuk menahan sakit kepala. Isshiki memberikan tawa malu di sampingnya.



"Yah, aku akhirnya memutuskan ini karena arah percakapannya."



"Mengarah ke mana percakapannya ...?"



Aku sangat terkejut. Pipi Isshiki menggembung. ”... Maksudku, kau akhirnya mengatakan 'ya', ketika ada orang dewasa yang memberitahumu sesuatu, kan?”



"Aku mengerti maksudmu. Aku benar-benar mengerti maksudmu.” Yuigahama mengangguk dan dengan berani mengungkapkan kesepakatan itu. Mmhm, para gadis jaman sekarang ... Apa boleh buat, tetapi aku khawatir bahwa orang-orang dewasa atau para senior yang jahat akan menipu mereka satu hari nanti ...



"Mari kita lihat ... Berdasarkan anggaran, kita dapat menentukan berapa banyak salinan yang dapat kita cetak ... Kita harus sanggup mengamankan tempatnya, apakah itu berada di lingkungan sekolah. Dan kita dapat membuatnya bisa didaur ulang ... Dan juga, tampaknya kita tidak perlu khawatir tentang resiko inventaris.”



Di sisi lain, Yukinoshita tidak memperhatikan mereka berdua, dan bergumam pada dirinya sendiri. Dia memikirkan semuanya sendirian. Mmhmm, Penyendiri-chan ... aku juga sedikit khawatir tentang dirimu!



Setelah pemeriksaan pamfletnya dengan menyeluruh, Yukinoshita mengangkat wajahnya dan mengoper pamfletnya padaku. Aku mengambil pamflet tersebut dan menyelidikinya. Pamflet tersebut memiliki satu set instruksi sederhana tentang tata cara pencetakan.



"Kita dapat membuat perusahaan menangani desainnya dan membingkai konten untuk kita ... Artinya, selama kita bisa mempersiapkan draft tentang kontennya dan petunjuk pada desain, kita berada pada posisi yang aman.”



"Tentu saja. Itu tidak terdengar berbeda dari halaman majalah lokal yang kita buat sebelumnya.”



Jadi singkatnya, selama kita tahu apa yang akan dicetak pada koran tersebut, kita tidak akan memiliki masalah apapun. Artinya, itu tidak mengubah fakta bahwa kami perlu MEMBENARKAN gambar dan komposisi dalam artikel pada koran tersebut. Fiuh, rasanya tidak normal ketika aku mengucapkan MEMBENARKAN.



"Namun, dibandingkan dengan yang kemarin, jumlah halaman yang harus kita buat kali ini benar-benar berbeda ..." jawab Yukinoshita. Suaranya terdengar agak tragis. Ketika itulah Yuigahama membuka mulutnya dengan suara yang energik.



"Tapi, hei, kita memiliki orang-orang dari OSIS saat ini. Jika kita membagi-bagi pekerjaan dengan semua orang, kita pasti mampu mendapatkan sesuatu, kan?”



"Ya, itu benar. Itu harusnya agak ...” ketika aku hendak melanjutkan perkataanku, aku bisa melihat Isshiki sedang bengong dengan wajah masam.



"......"



"... Isshiki-san? Mengapa kau begitu terdiam?” Yukinoshita tersenyum manis, suaranya ramah dan tatapan matanya begitu bersahabat. Tapi cukup misterius, tidak ada tanda-tanda kehangatan dalam senyumnya. Hanya dengan melihatnya,  aku bisa merasakan aliran hawa dingin menjalar di tulang belakangku. Aku sudah pernah bilang kan, itu benar-benar menakutkan ...



Isshiki ketakutan....tidak.....dia panik jikalau ia membuat keributan.



"Ah! T-Tidak! Um ... H-Hanya saja, para anggota OSIS agak sibuk karena hendak menghadapi laporan keuangan. Jadi, aku pikir, mungkin kami bisa agak longgar setelah kami menangani kesibukan tersebut, atau semacamnya ...”



"... Dengan kata lain, Kau mengatakan bahwa kita tidak bisa mengharapkan bantuan anggota OSIS."



"Ya ..." Isshiki melemaskan bahunya sebagai tanda permintaan maaf. Yukinoshita hanya mendesah tipis.



"Y-Ya sudah, apa boleh buat, kita tidak bisa memaksa mereka. Jika kita benar-benar membutuhkan bantuan, aku bisa mencoba untuk meminta bantuan dari teman-temanku atau semacamnya ... Jadi, um ... jangan terlalu dipikirkan!” Yuigahama mengepalkan telapak tangannya dan mengucapkan itu dengan paksaan. Tapi, definisi "jangan terlalu dipikirkan" yang diucapkan oleh gadis ini, mungkin adalah suatu hal yang jauh berbeda, dari apa yang biasanya kita pahami dalam kehidupan sehari-hari ...



Apapun itu, kami sudah bisa melihat biaya kerja dan beban kerjanya. Agaknya, kami juga sudah bisa memprediksi jumlah staff kami yang begitu terbatas. Satu-satunya hal yang belum kami temukan adalah jadwalnya. Setelah kami mengetahui itu, kami bisa memprediksi seberapa tinggi kemungkinan sukses pada pekerjaan ini.



Kami memiliki gambaran kasar tentang rencana untuk sebulan, tapi kami membutuhkan analisa lebih mendalam pada jadwalnya.



"Jadi, tepatnya kapan harus kita selesaikan semua ini?"



"Seegera mungkin." Isshiki mengeluarkan lembaran jadwal kosong dan mengetuknya. ”Sekarang, dengan sisa anggaran kami, tampaknya rencana yang paling pas adalah yang ada diskonnya ini, kan? Jadi untuk menggunakan rencana tersebut, perusahaan percetakan mengatakan, kami harus mengirimkan bahan dan data pada mereka selama bulan Februari.”



Hoh, diskon. Jadi mereka juga memiliki hal-hal seperti itu. Jika mereka bisa membatasi anggarannya dengan hal seperti ini, maka seharusnya tidak akan menjadi masalah. Karena bertepatan persis dengan periode pembukuan bulan depan, maka Irohasu lah yang perlu menjaga dirinya sendiri!



Aku berusaha untuk mengabaikannya, tapi ada suatu hal yang benar-benar tidak dapat aku kesampingkan.



Hm? Pada bulan Februari? Aku memiringkan kepalaku dan Isshiki dengan cepat menambahkan keterangannya dengan suara kecil. ”... Jadi, hanya tersisa ... sekitar dua minggu lagi.”



"Huh? Tidak mungkin, tidak mungkin. Dua minggu? Kau meminta sesuatu hal yang mustahil,” jawabku dengan langsung sambil menggoyangkan tanganku. Yukinoshita mendukung pernyataanku dengan sedikit anggukan.



"Itu benar. Ditinjau dari batas waktunya, ini adalah suatu pekerjaan yang tidak realistis. Terlebih lagi, jika kita berasumsi bahwa kita perlu mengawasi, memeriksa, mengecek, dan membetulkan konten artikel yang hendak dipublikasikan....ditambah lagi, kita harus membuatnya sinkron dengan hal-hal lainnya...itu semua bisa dilakukan hanya dalam satu minggu.”



"Ha!? Itu bahkan lebih cepat!?" Yuigahama berpaling ke arah Yukinoshita dengan wajah terkejut, karena waktu yang diestimasi oleh Yukinoshita malah kurang dari dua minggu.



"Ini hanyalah jadwal yang ideal untuk mempublikasikan koran ... Tentu saja, pengerjaannya akan jauh dari kata ideal jika kita memulainya setelat ini. Kita harus terus berpedoman pada  jadwal, sekaligus berjaga-jaga akan adanya berbagai macam permasalahan yang mungkin muncul.”



Meskipun Yukinoshita menjelaskan secara logis, ditambah dengan beberapa keterangan faktual, bahkan dia pun tahu bahwa ini bukanlah suatu proposal yang realistis.



"... Tentu saja, semua itu akan kita hadapi jika kita menerima permintaan ini." dia menambahkan dan menatapku untuk menanyakan kejelasan. Sepertinya dia mempercayakan pengambilan keputusan kepadaku. Jadwal yang hendak kita rencanakan cukuplah sulit untuk diwujudkan, di sisi lain, semuanya akan selesai dengan mudah jika kita menganggap ini mustahil dan menolak permintaan Isshiki.



Satu minggu, ya ...? Tunggu. Jika aku tidak bisa bekerja pada akhir pekan dan saat ini adalah hari ... Aku mencoba menambahkan hari kerja, tapi entah kenapa, aku tidak bisa melakukan perhitungan. Huuuh? Hachiman-kun, kau benar-benar buruk dalam aritmatika, ya?



Tidak, aku jelas-jelas bisa menghitungnya, bahkan ini adalah perhitungan matematika anak SD. Tapi entah kenapa, hatiku tetap saja tidak bisa menyetujuinya.



"Oke, katakan padaku. Jika kita mengikuti jadwal ini, berapa hari tersisa sampai deadline ...?”



"Umm ..." Yuigahama menatap langit-langit dan mulai menghitung dengan jari-jarinya. Ekspresinya berubah menjadi ekspresi terkejut.



Yukinoshita menatapku dengan mata sedih.”... Kau masih bisa melihat harapan jika kau tidak menghitung hari-hari.”



"Mengatakan itu sama saja dengan memberitahuku bahwa tidak ada harapan ..."



Benar-benar tidak ada gunanya berusaha? Ya, kan? Aku melirik Isshiki dan bahkan ekspresi wajahnya menjadi gelap.



"... Aku kira ... tidak mungkin, ya?" bisik Isshiki dengan terpatah-patah, suaranya terdengar begitu lemah seakan-akan ia sedang menahan tangis. Matanya menjadi lembab dan dia napasnya terasa panas. Kepalan tangan yang mencengkeram roknya terlihat gemetaran dengan lemah. Bahu kurusnya lemas, dan dia perlahan-lahan menatap mataku dengan ketakutan. Seolah-olah, ia mencurahkan semua gairah dan perasaannya dalam setiap gerakan tubuhnya. Itu membuatku merasa ingin menanggung pekerjaan itu.



Tapi tidak secepat itu! Aku sudah terbiasa melihat Komachi, adikku, menangis seperti itu! Saat kau dibesarkan dengan adik perempuan seperti dia, kau akan mendapatkan suatu pertahanan untuk menangkal hal-hal melankolis seperti itu, entah kau menginginkannya atau tidak! Itu sebabnya, aku sudah terbiasa menerima berbagai hal tanpa ragu.



"Jadi, yang kau perlukan hanyalah menyelesaikan semua ini dalam waktu beberapa hari, iya kan ...?" aku menjawabnya dengan suara yang biasa kugunakan pada Komachi. Aku menggunakan atribut: Aku benci! Aku benci onii-chan!



"Terima kasih baaaaaaaanyak," kata Isshiki. Dia tersenyum sembari mengungkapkan pujiannya. Sebaliknya, dua gadis lainnya menatapku dengan tatapan dingin dan mendesah dalam-dalam.



"... Aku paham, kau lembut seperti biasanya."



"Y-Yah ... Itu adalah salah satu sisi baik Hikki ... sekaligus, salah satu sisi menyedihkan darinya."



Ketika Yuigahama membuat senyum yang terkesan bermasalah, dia juga menatapku dengan mata dingin. Meskipun begitu, aku pikir, dia sedang menengahi Yukinoshita dan aku.



Er, aku sangat menyesal ... Aku sangat menyesal karena menyebabkan kalian terlibat dalam begitu banyak masalah ... Secara refleks, aku harusnya meminta maaf kepada mereka berdua, Satu-satunya orang yang membawa pekerjaan ini kepada kami adalah Isshiki. Jadi, dia lah yang bersalah, bukan aku.



Aku melirik Isshiki dan dia mengelus dadanya dengan lega.



"Fiuh, kau sungguhlah penyelamat hidupku. Aku benar-benar berharap bahwa aku bisa menekan biaya pengeluarannya.”



Dia menebarkan senyum yang sangat cerah. Ini sungguh kontras dengan sikap lemah-lembut yang dia tunjukkan sebelumnya. Maksudku, aku kira ini bukanlah masalah, karena aku tidak begitu tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini.



Tapi setidaknya, tetaplah menampakkan kelicikanmu sampai akhir! Astaga, aku benar-benar tidak punya harapan atau impian.[4]



× × ×



Ini adalah jadwal yang cukup sulit, tapi entah bagaimana, kami berhasil menetapkan sesuatu.



Perkembangan ini akan mempengaruhi biaya kami, tetapi pada kondisi saat ini, tidak ada masalah dengan anggaran.



Namun, kami belum memutuskan apa yang harus dilakukan, dan itu merupakan bagian yang paling penting.



"Okaaaay, mari kami mulai rapat perencanaan."



Isshiki menyatakan itu dalam gaya bertele-tele, seperti biasa. Hanya Yuigahama yang bertepuk tangan. Meskipun Isshiki memulai rapat ini, dia langsung menghadap ke arah Yukinoshita ketika dia memikirkan langkah apa yang hendaknya diambil.



Setelah menyadari itu, Yukinoshita menempatkan tangan ke dagunya. ”Aku kira, pertama-tama kita harus berpikir tentang konsep.”



"Bukankah apa yang disebutkan oleh Iroha-chan sebelumnya adalah ide bagus? Perkenalan tempat lokal yang menyenangkan, toko dengan makanan lezat, atau hal-hal semacam itu.”



"Oh ya! Aku pikir itu bagus! Aku pikir, melakukan berbagai jenis penelitian dan menggunakan anggaran sebagai penanggung biaya, adalah rencana yang bagus!”



Tampaknya Isshiki begitu setuju dengan Yuigahama, tapi yang ada di pikirannya adalah suatu hal dengan tujuan yang sama sekali bebeda ...



Mendengar dua pendapat mereka, Yukinoshita menggeleng. ”Jika kita punya waktu, ide itu bukanlah masalah, tetapi mengingat situasi kita saat ini, sepertinya itu sulit. Mengisi delapan halaman hanya dengan artikel yang membahas hal seperti itu adalah suatu pekerjaan yang sulit untuk kita tangani. Kita harus berpikir tentang artikel jenis lain.”



"Apakah ada hal lain yang ingin kau lakukan?" tanya Yuigahama pada Isshiki.



Isshiki bersedekap dan memiringkan kepalanya untuk merenung. Setelah mengeluh selama beberapa menit, dia berbisik, ”... Tidak juga."



Setelah mendengarkan jawabannya, bahu Yukinoshita turun dan Yuigahama hanya tersenyum kecut. Yahh, seperti itulah Isshiki ...



Usulan Yukinoshita (yaitu mencari ilham tentang suatu konsep) hanyalah metode-di-atas-kertas. Kau bahkan bisa mengatakan bahwa itu adalah cara yang tepat dan benar ketika menerbitkan koran gratis sungguhan. Namun, dalam kasus Isshiki, penerbitan surat kabar harus selaras dengan tujuannya, sehingga usulan Yukinoshota tersebut hanyalah pilihan kedua baginya.



Apa yang harus kami pikirkan sekarang bukanlah konsep yang penerbit akan gunakan sebagai dasar untuk membuat surat kabar, melainkan konsep untuk bisa menarik perhatian pembaca.



"Jika kita tidak yakin bagaimana harus memulai, mengapa kita tidak berpedoman pada tujuannya?"



"Huh?"



Tampaknya ideku begitu tak masuk akal bagi Isshiki. Dia memiringkan kepalanya ke sudut kanan, dan menatapku dengan mata menyipit. Betapa menjengkelkan ... Di sini aku benar-benar mencoba untuk membantumu, lho ...



Tapi, meskipun Isshiki tidak memahaminya, Yukinoshita tentu saja memahaminya.



"Tujuan ... Dengan kata lain, maksudmu para pembaca?"



"Ya. Pada dasarnya, kita mempersempit target demografis dan memenuhi apa yang ingin mereka baca.”



"Pembaca ... Jadi koran ini hanya akan diedarkan di lingkungan sekolah?" tanya Yuigahama, dan Isshiki pun mengangguk.



Yah, kita terus menghadapi jalan buntu sampai akhir. Jadi untuk sekarang, hal yang tepat untuk dilakukan di sini adalah mendistribusikan salinan pra-rilis atau edisi pertama di lingkungan sekolah.



Kita menyempitkan demografis lebih jauh.



"Jadi, koran ini akan diterbitkan pada sekitar bulan Maret, kan? Itu berarti Kelas III akan lulus, sehingga target utamanya adalah Kelas I dan Kelas III.”



"Tergantung pada saat koran tersebut diterbitkan, kita mungkin juga harus mempertimbangkan untuk mentargetkan para pelajar baru.”



"Oh, aku punya perasaan bahwa akan banyak para pelajar baru yang melihat koran itu!"



"Itu benar, seharusnya para pelajar baru akan mengambil koran tersebut karena mereka akan melihatnya sebagai hal yang berbeda.”



Mereka bertiga membagi pendapat yang sama. Sekarang, kami sudah menentukan target pembaca utama.



Setelah mempersempit target pembaca, hal tersisa yang harus diselesaikan adalah merencanakan dan menyesuaikan rangkaian tindakan.



Yukinoshita, yang sejak tadi menulis catatan, kini berhenti menggerakkan penanya. Sembari dia mengulas kembali apa yang telah dia tulis, ia pun membuka mulutnya.



"Jika kita akan menargetkan pelajar baru, bisa saja kita mengambil tema tentang perkenalan sekolah. Kita juga dapat menulis rubik tentang perkenalan tempat-tempat lokal ... Itu pasti akan semakin memadatkan isi koran ini.”



"Itu cukup umum, tetapi itu adalah cara yang kolot untuk menerbitkan edisi pertama. Jika kita bisa membendelnya jadi semacam buku panduan untuk pelajar baru, kita pastinya bisa membuat sesuatu yang lebih layak.”



"Ohh, itu terdengar bagus ..." kata Yuigahama sembari terkesan. Senada dengan itu, Isshiki bertepuk tangan seolah-olah menemukan sesuatu yang memuaskan dan membuatnya setuju.



"Kedengarannya bagus bagiku! Jadi, bagaimana kita harus memperkenalkan sekolah kita?” Isshiki memberikan tatapan penuh harapan pada Yukinoshita. Namun, Yukinoshita hanya membalasnya dengan tatapan bosan. Rupanya, Yukinoshita sedang menyuruhnya untuk memikirkannya sendiri. Ohh, betapa keras mbak yang satu ini ...



Dengan tatapan mata dingin yang Yukinoshita tunjukkan padanya, Isshiki pun tergagap. Saat Yukinoshita melirik, dia berbicara dengan takut.



"B-Bisakah kita ... m-mempromosikan klub, a-atau semacamnya ...? Mungkin?”



Isshiki membungkuk dengan sopan dan meremas dadanya.



Sebaliknya, Yukinoshita diam-diam mendengarkan omongannya. Dia pun menatap Isshiki seolah-olah menanyakan padanya tentang hal apa yang benar-benar diinginkannya.



Dan yang terakhir, Yuigahama menonton ketegangan yang dihadirkan oleh mereka berdua dengan gugup.



Selama beberapa saat, keheningan menyelimuti ruangan ini. Dalam suasana beku itu, Isshiki merintih. Sudah...sudah! Menyaksikan ini sudahlah cukup untuk membuatku sakit, jadi, ikhlaskan saja dan anggap dia benar, kumohon!



Meskipun aku tidak yakin apakah permohonanku bisa dia dengarkan, Yukinoshita akhirnya tersenyum. ”... Aku kira itu bagus.”



Yukinoshita membelai rambutnya di bahu dan mengangguk. Isshiki pun menghela napas lega.



"Kalau begitu, sudah diputuskan. Mmmm..okay, jadi kita akan melakukan perkenalan klub. Klub, klub ...”



Yuigahama dengan senang hati mengangguk dan mulai menuliskan nama-nama berbagai klub. Yukinoshita menatap catatannya.



"Dengan semua ini, harusnya kita bisa melakukan sesuatu. Aku percaya bahwa ini semua sudah cukup untuk mengisi dua halaman penuh.”



"Akan lebih baik jika kita bisa membuat satu halaman lagi."



Delapan halaman mungkin terdengar sedikit, namun pada kenyataannya, itu cukup banyak. Ini tidak akan terasa jika kau menjadi pihak pembaca, namun ketika kau menjadi pihak pengonsep dan pembuat artikel tersebut, itu sangat memakan waktu. Bahkan ketika kami diminta menyelesaikan satu halaman saja tempo hari, itu terasa sangat menyusahkan.



"Kau benar ... Aku kira, kita harus memilih satu klub, dan membahasnya pada suatu artikel yang spesial dan banyak.”



"Sepertinya, Klub Tenis cocok!"



"Sepertinya, Klub Sepakbola cocok!"



Isshiki dan aku menjawab di saat yang hampir bersamaan, untuk memberikan saran pada Yukinoshita. Kemudian kami saling melotot satu sama lain.



"Harusnya Klub Tenis. Semua orang ingin bergabung dengannya, lho.”



Maksudku, semua orang membaca Prince of Tennis, dan tenis adalah olahraga yang sangat populer saat ini. Namun, Isshiki tidak mau mengalah.



"Tak peduli berapa kali pun kau memikirkannya, jawabannya jelas-jelas adalah Klub Sepak Bola. Itulah yang semua orang ingin lihat, dan ada Hayama-senpai.” Isshiki mempertahankan pendapatnya dengan sungguh-sungguh.



M-Mmm ... aku agak lengah saat nama Hayama muncul ... Jika kita menampilkan foto Hayama dalam artikel, tentu saja popularitasnya akan tinggi ... Seperti Sagami Minami misalnya, tampaknya dia mengambil beberapa keuntungan dari fotonya Hayama untuk dirinya sendiri. Dan kemudian, ada juga Miura. Dia menguntit selembar foto darinya ketika tidak ada siapapun yang melihat. Tunggu, tidak, jika kita menampilkan foto Totsuka, semua orang pasti akan..... ah baiklah, itu tidak mungkin. Satu-satunya orang yang bisa menikmati foto Totsuka adalah aku!



Aku bertarung dengan iblis di dalam batinku dan mengeluh dengan frustrasi. Yuigahama menampilkan ekspesi yang kompleks saat melihatku.



"Mmm. Orang-orang mungkin akan mengatakan hal yang tidak-tidak tentang kita, jika kita memberikan perlakuan khusus pada satu klub ...”



"Ahh, aku kira, kita bisa mendapatkan beberapa komplain."



Selalu perhatian seperti biasa, itulah Yuigahama. Gahama-san kita memang top. Ternyata, bahkan jika kita tidak punya niatan jelek, kita masihlah tidak tahu bagaimana orang lain akan menanggapinya. Akan lebih mudah jika kita hanya mengikuti template untuk T, dan menghindari konflik yang tidak perlu.





Namun, Isshiki memiliki pendapat yang berbeda. Dia mengerutkan alisnya seperti ketika membuat ekspresi cemberut dan menampilkan ketidakpuasannya.



"Ehh, tidak bisakah kita mengabaikan saja mereka yang komplain?"



Ohh, dia sungguh punya pendirian yang kuat ... Meskipun begitu, ”Tidak peduli apa yang dilakukan oleh orang seperti Isshiki, pada akhirnya seseorang pasti akan mengeluh!” mungkin itu lebih tepat.



Yukinoshita mendesah dan menatap Isshiki. ”Tidak sesederhana itu. Tulisan ini akan dikenakan sanksi oleh OSIS. Ada beberapa hal yang perlu kau pertimbangkan mengenai sesuatu seperti ini ... Bagaimanapun juga, orang yang akan menjadi target serangan balik adalah kau.”



Kata-katanya memang keras, tapi nadanya ramah dan semua ini ditujukan untuk kebaikan Isshiki sendiri.



"... Yah, aku kira begitu."



Perkataan Yukinoshita yang memikirkan tentang kebaikan Isshiki tampaknya telah berhasil dipahaminya, karena akhirnya Isshiki mengangguk dengan enggan. Meskipun agak sulit untuk dikatakan, tapi Yukinoshita bertindak seperti seorang senior yang baik untuknya.



"Oh, tapi...hei....kenapa kita tidak menanyai Hayato-kun? Bagaimanapun juga, dia adalah seorang ketua dari pertemuan ketua-ketua klub lainnya. Jadi, jika kita meminta dia bertindak sebagai wakil untuk semua ketua klub, semua orang pasti tidak akan mempermasalahkannya, kan?” kata Yuigahama dengan suara positif. Dia pun juga bertindak sebagai senior Isshiki yang baik.



Wajah Isshiki pun mulai ceria dan dia membuat senyum berkilau. ”Kedengarannya bagus! Aku akan mewawancarai dia!”



"Ya, mari kita mengisi satu halaman penuh dengan wawancara tersebut."



Setelah tahu rencana kami, hal berikutnya yang perlu dibahas adalah, mengisi halaman dengan rincian.



Yukinoshita menuliskan daftar pertanyaan-pertanyaan yang perlu diajukan, seperti: nama ketua klub, gambar,

dan komentar untuk fitur di halaman profil klub. Isshiki melihat catatan tersebut dan berbicara.



"Apakah kita tidak akan menampilkan profil Klub Relawan?"



Ketika Isshiki menanyakan itu, Yukinoshita dan Yuigahama mendongak dan saling bertukar pandang. Terjadi suatu keheningan singkat, seolah-olah mereka tidak yakin harus melakukan apa. Kemudian aku memecah kesunyian itu.



"Kita tidak perlu menulis apapun tentang klub ini."



"Kenapa begitu?"



"Eh, yahhh ..."



Isshiki menanyaiku dengan penasaran sambil memiringkan kepalanya. Karena dia menatapku secara langsung, ak tidak bisa berbicara dengan lancar. Aku pun menyemburkan perkataan yang tidak aku mengerti, agar aku tidak terlihat gagap.



"Ayolah, menulis berbagai hal tentang dirimu sendiri adalah suatu tindakan yang memalukan, iya kan ...?" kataku.



Yuigahama mengangguk untuk menyadarinya. ”Ugh, itu benar ..."



"Terlebih lagi, tidak ada seorang pun yang tahu tentang klub ini, sehingga menampilkan profilnya di koran tidak akan membuat orang bahagia.”aku melanjutkan.



Yukinoshita memindahkan tangannya ke dagu dan berpikir. ”Aku kira begitu, dan sepertinya, kami pun tidak sedang mencari anggota baru ...”



"Benar kan? Ditambah lagi, akan lebih mudah bagi kami, jika kami memprioritaskan pengeditan dengan mengurangi kerja sebanyak mungkin.”



Meskipun aku mengatakan itu, aku sangat mengerti alasan sebenarnya.



Alasan sebenarnya adalah, aku tidak tahu sedikit pun tentang apa yang harus aku tuliskan mengenai klub ini. Aku tidak yakin tentang kata apa yang tepat, untuk mendeskripsikan dan mendefinisikan kegiatan klub kami ini.



Isshiki membuka mulutnya seakan berusaha untuk menambahkan pendapatnya sendiri, tetapi dia menghentikan itu dengan desahan.



"... Yahh, kalau itu alasannya, apa mau dikata."



Untuk saat ini, sepertinya ia sudah yakin. Isshiki dengan cepat mengambil catatan itu. Sementara menariknya, dia menoleh ke arah Yukinoshita dan Yuigahama.



"Jadi, apakah tidak masalah jika kami menggunakan bahan ini untuk korannya?"



"Iya. Dan juga, mengenai pengenalan tempat ...”



Isshiki mengeluarkan smartphone setelah mendengarkan perkataan Yukinoshita.



"Oh, sebenarnya, aku sudah mencarinya. Aku punya beberapa gambar toko-toko tersebut pada ponselku.”



"Ohh, aku ingin melihat!"



Isshiki memain-mainkan ponselnya sementara Yuigahama melihat. Tentu saja, sebagai orang yang terjebak di antara mereka berdua sembari terus digencet, Yukinoshita terpaksa ikut-ikutan melihat gambar di ponsel Isshiki itu.



Isshiki meluncurkan jari-jarinya di layar. Setiap gambar, mereka terlibat dalam percakapan cewek seperti: ”Itu saaangat imut!", "Ini sangat bagus, kan?", dan "Bisakah kau memperlihatkan lagi foto yang tadi? Ya, yang ada serba-serbi kucing itu lho.”



Aku mendengarkan suatu percakapan enerjik di antara mereka bertiga, sambil duduk di kursiku yang terpisah jauh. Aku melamun dan bermain-main dengan ponselku sementara waktu.



Dan tiba-tiba, obrolan mereka berhenti.



Karena merasakan ada sesuatu yang aneh, aku pun melihat mereka bertiga. Isshiki memasang wajah berekspresi "oops". Yuigahama dan Yukinoshita melihatku dengan tatapan dalam.



"Huh, ada apa ...?"



"Oh, um, ahaha, sepertinya, A-a-akan lebih baik jika aku juga ke sana ..."



Ketika aku bertanya, Yuigahama tertawa dengan enggan. Di sampingnya, Yukinoshita menyajikan senyum ramah.



"... Sepertinya di foto ini, kau terlihat cukup senang, ya?"



Bukankah ruangan ini terasa sedikit dingin? Sangat dingin! Aku ingin tahu apakah mereka dapat memperbaiki pemanasnya lebih cepat ...?



× × ×



*Clack, cangkir ditempatkan pada lepek.



"Apapun itu, sepertinya kita tidak perlu khawatir tentang cakupan tempatnya."



"Ya, aku pikir begitu," jawab Isshiki sembari menjauhkan ponselnya. Gambar-gambar yang Isshiki ambil selama bepergian bersamaku tempo hari, tampaknya akan digunakan untuk konten surat kabar gratis ini. Itulah hal yang Isshiki jelaskan. Aku tidak tahu bagaimana Yukinoshita dan Yuigahama menanggapi hal itu, tapi aku terbebaskan dari tatapan dingin mereka.



"Oke, Iroha-chan akan diberi bertanggung jawab untuk itu," kata Yuigahama sambil memutar-mutar catatannya. Jadi, kita harus memutuskan apa yang harus dilakukan. Sekarang, tugas yang masih tersisa adalah membagi-bagi tanggung jawab. Tentu saja, kami harus mendistribusikan setiap halaman, tapi kita membagi setiap tugas satu per satu.



Yukinoshita mengatur apa yang telah ditulisnya pada catatan. ”Aku akan menangani tata letak halaman, jadwal, dan desain. Yuigahama-san, kau akan bertugas mengumpulkan data pada klub dan menangani komunikasi dengan mereka.”



"Siap bos!" jawab Yuigahama dengan semangat sambil mengangguk.



Kemudian, Yukinoshita melirikku.”Adapun, Hikigaya-kun ..."



"Cameraman, ya aku mengerti."



Cameraman, yaitu seseorang yang mengambil gambar setiap klub. Pada dasarnya, itu artinya aku punya cara untuk memperoleh foto Totsuka. Aku begitu termotivasi, sampai-sampai aku ingin berseru, ”Tinggalkan pekerjaan itu untukku! Srek-Srekl!” tapi jawaban Yukinoshita begitu kejam.



"Kau akan menangani penulisan, cakupan, fotografi, perencanaan, produksi, koreksi, humas, pembukuan, dan semua tugas yang rutin.”



Ngomong-ngomong tentang banyaknya pekerjaan ... Ada pekerjaan yang bahkan tidak diperlukan di sana. Aku memasang wajah jengkel dan Yukinoshita memelototiku.



"Apakah ada yang membuatmu tidak puas?"



Bukannya “ada”, tetapi “semua”, aku mengatakannya di dalam hati. Yuigahama menepuk bahu Yukinoshita.



"O-Oke, oke, Yukinon. Kita sudah menyelesaikan cakupan untuk toko-tokonya, jadi ...”



Ketika Yuigahama mencoba untuk campur tangan, Yukinoshita memasang wajah sedikit keberatan. Dia kemudian mendesah dan menepis rambutnya.



"... Itu benar. Kalau begitu, Hikigaya-kun akan bertanggung jawab atas penulisan dan tugas-tugas rutin.”



"... Ya bos."



Aku mengangguk untuk menyetujuinya. Dalam hatiku, aku berkata: "Dapat!!!" sambil melambaikan tanda piss di jaiku ☆. Yahh, dalam perihal menyusun sesuatu, aku adalah pilihan yang tepat karena kecepatan kerja yang kumiliki. Aku bisa membayangkan Yuigahama dan Isshiki akan membuat banyak kesalahan ketik saat menulis. Dan tulisan Yukinoshita adalah tulisan yang membosankan dan terkesan kaku.



Setelah kami diplot peran masing-masing, kita siap untuk mulai bekerja. Namun Isshiki dengan lemah mengangkat tangannya, ”Umm, apa yang harusnya aku lakukan?"



"Tak perlu disebutkan lagi. Kau adalah Kepala Editor.”



"Ohhh ... sepertinya terdengar luar biasa."



Yukinoshita menyatakan itu secara langsung yang Yuigahama memberi restu dengan bertepuk tangan. Yahh, Isshiki adalah orang yang membawa pekerjaan ini kepada kami, sehingga wajar saja bahwa dia diberikan posisi yang paling bertanggung jawab. Si ratu OSIS yang kini sudah merangkap jadi Ketua Edito tampaknya tidak begitu memahami situasi ini dan hanya memiringkan kepalanya.



"Apakah kerja Kepala Editor?"



Setelah mendengar itu, Yukinoshita mendesah dengan pasrah. ”Mari kita lihat ... Pertama, kau harus mendapatkan izin bagi kami untuk mendapatkan informasi dan gambar toko pada korannya.”



"Iya! Aku akan pergi untuk melakukan itu!”



Tanggapan Isshiki begitu bersemangat, jelas bahwa dia tampak senang akan tugas yang dibebankan padanya. Untuk semakin menetapkan statusnya, Yukinoshita menambahkan lebih lanjut. ”Dan juga, kita harus mengamankan jalur distribusi. Apakah kau sudah memutuskan di mana tempat untuk mendistribusikan surat-surat kabar tersebut?”



"Aku kira tempat-tempat seperti: di depan Ruang OSIS, ruang pengajar, dan tempat-tempat lainnya di mana orang lewat?”



"Kalau begitu, pergi dan dapatkan izin untuk menggunakan tempat-tempat tersebut."



"Iya! Aku akan pergi untuk memintanya pada Hiratsuka-sensei.”



"Dapatkah kau mengopy ini ketika kau kembali nanti?"



Yukinoshita menyerahkan suatu catatan pada Isshiki. Isshiki menerima catatan tersebut sembari menekankannya pada dadanya dan memberi hormat.



"Ya aku mengerti ...! Tunggu, bukankah ini hanyalah tugas rutin?” bahu Isshiki melemas. Ohh, dia menyadarinya.



"Tugasmu adalah mengawasi dan meninjau seluruh situasi, bernegosiasi dengan pihak ketiga, melakukan pemeriksaan terakhir, dan memberikan dukungan yang sesuai.” Yukinoshita menjelaskan.



Isshiki menghembuskan napas dengan kagum. ”Oke, aku akan pergi memberitahu Hiratsuka-sensei."



"Silakan lakukan."



Dalam perjalanan keluar ruangan, ketika ia tepat melewatiku, dia meraih lenganku. ”Mari kita pergi, senpai.”



"Apa, pergi saja sendiri ..."



"Ayo, senpai, jika kau berada di sana, kau dapat bertindak sebagai penangkal petir....maksudku, aku mungkin akan berpikir tentang sesuatu yang menakjubkan, lho!? Aku benar-benar mengandalkanmu, senpai!”



Kau tidak harus membenarkan perkataanmu sendiri ... Tapi seperti kata Isshiki, aku memang punya reputasi sebagai penangkal petir. Jika dengan kehadiranku berarti pembicaraan akan lebih lancar, maka aku hanya harus pergi dan segera menyelesaikannya.



"Baiklah, mari kita pergi."



Aku melepaskan lenganku dari cengkeramannya dan bangkit dari tempat duduk. Kemudian, Yuigahama dengan berisik berdiri dari tempat duduknya juga.



"Oh, aku juga akan pergi!"



"Astaga ... Aku kira, aku juga harus pergi untuk menjelaskan dokumennya." Yukinoshita mendesah dan dengan tenang meninggalkan tempat duduknya.



"Oke! Mari kita semua pergi bersama-sama!”



Yuigahama meraih lengan Yukinoshita dan Isshiki, kemudian menuju pintu. Mmm, bergandengan seperti itu sembari melewati lorong yang dingin, sungguh terlihat lebih hangat ...



Nah, jika ada mereka bertiga di sana, sepertinya yang harus aku lakukan hanyalah berdiri dan bengong. Aku mengikuti mereka bertiga dari belakang, dan kami pun meninggalkan ruang klub.



× × ×



Kami masuk ke dalam ruang guru, dan secara langsung menuju meja Hiratsuka-sensei.



Di antara semua meja di dalam ruangan tersebut, kami melihat dia sedang duduk di salah satu meja yang paling berantakan dan mencolok. Dia mengetik pada komputer yang berada di depannya. Sesekali, dia mengirimkan mie soba dari mangkuk (itu adalah mangkuk makanan siap saji) yang berada di sisinya, ke dalam mulutnya. Wow, lagi-lagi dia makan sesuatu ...



"Hiratsuka-sensei."



"Hm? Ohh, Hikigaya. Apa yang kalian sedang lakukan di sini?”



"Kami ingin mendiskusikan sesuatu denganmu ..."



"Hm? Mmm ...” Hiratsuka-sensei melirik mangkuknya dan mengambil waktu sebentar untuk berpikir.



"Silahkan melanjutkan makananmu," kata Yukinoshita.



"Bolehkah? Aku minta maaf.”



Hiratsuka-sensei membuat tawa minta maaf dan menempatkan mangkuk ke dekat tangannya. Kemudian, dia memutar setengah tubuhnya di kursi dan mengambil sumpitnya.



"Jadi, apa yang ingin kalian bahas?" Hiratsuka-sensei melanjutkan ucapannya setelah menyeruput soba-nya.



"Um, kami berpikir untuk membuat suatu surat kabar gratis."



"Surat, kabar, gratis?" Hiratsuka-sensei mengulangi kata-kata tersebut dengan bingung. Sepertinya, dia tidak mengharapkan untuk mendengar itu.



Isshiki menerangkan rincian tentang rencananya untuk menerbitkan surat kabar gratis. Sesekali Yukinoshita menyela pembicaraan tersebut dengan sopan untuk mempresentasikan dokumen, pamflet, dan kutipan yang menjelaskan segalanya.



"Kami sudah memperkirakan biaya korannya dan itu layak untuk direalisasikan dalam anggaran. Kami masih memiliki gambaran kasar tentang konten koran tersebut, namun ini adalah apa yang telah kami kumpulkan sampai sejauh ini.”



"Mmhmm." Hiratsuka-sensei melihat semua dokumen itu dengan antusias, sementara beberapa kali menyeruput soba-nya. Setelah kami membalik-balikan semua dokumen, dia mengangkat wajahnya untuk melihat kami. Seolah-olah, dia sudah memahami inti umum dari rencana tersebut.



"Yah, aku tidak punya masalah dengan apa yang telah kalian buat ini ... Tapi tidakkah ini dapat diselesaikan dengan menggunakan stensil* dan kertas jerami?”

[Stensil adalah mesin penduplikat yang sekarang sudah digantikan dengan mesin fotokopi.]



Begitu dia bertanya, Yuigahama memiringkan kepalanya.”Kertas Jerami?"



"Huh? Stensil?” Isshiki memberikan suatu tatapan bingung pada Hiratsuka-sensei, atau lebih tepatnya, suatu tatapan yang tak sopan. Astaga, gadis memang memiliki perilaku yang buruk ...



Jika Hiratsuka-sensei sedang berada dalam mode biasanya, dia pasti sudah memberinya suatu kelas pendidikan khusus yang kasar. Tapi tampaknya, ia tidak sedang berada dalam mood itu sekarang.



"Oh, jadi kalian tidak tahu apa yang kumaksudkan ..."



Ketika dia bergumam dengan lemah, senyum tegang dan mencela-diri-sendiri terpampang di wajahnya.



"Aku tahu tentang benda-benda itu, tapi aku tidak pernah melihatnya secara pribadi ..."



"Aku rasa begitu ..."



Yukinoshita menyatakan itu dengan sopan, dan Hiratsuka-sensei menanggapinya dengan suara gemetar. Yahh, bagaimanapun juga, kita tidak bisa berbuat banyak tentang mesin dan bahan baku jadul ketika semua teknologi sudah semakin lebih maju. Lagipula, adalah hal yang mencurigakan ketika orang macam Sensei mengetahui hal-hal seperti stensil ... Jangan salah paham, bukannya aku tidak mengerti berapa usianya, oke?



Guru perempuan yang tidak diketahui umurnya (sekitar 30an) tampak depresi, dan dia pun mempererat cengkraman pada mangkuk makanannya.



"Yah, pergi dan lakukan sesukamu."



Setelah hanya mengatakan itu, ia mulai lagi menyeruput soba-nya yang sudah agak mengembang dalam kesedihan ...



× × ×



Setelah kami memperoleh izin dari Hiratsuka-sensei, akhirnya kami bisa mengerjakan bisnis ini.



Untuk memenuhi tanggung jawab yang telah dibebankan pada setiap individu, aku meminjam laptop dan mulai mengetik susunanku pada keyboard.



Lantas, Yukinoshita berjalan ke sisiku dan berbicara kepadaku.



"Hikigaya-kun, apakah kau punya waktu sebentar?"



"Mm," jawabku.



Yukinoshita mengambil tempat duduk searah diagonal dariku dan menyerakkan setiap halaman tabel rancangan koran. Tabel ini, sederhananya adalah gambaran tata letak dan konten untuk setiap halaman.



Dengan menggunakan ujung pena, dia mengetuk suatu bagian pada tabelnya. ”Jadi, masalah kita adalah bagaimana kita menangani sampul depan.”



"Bukankah akan lebih mudah jika kita melewatkan desainnya dan menggunakan gambar saja?"



"Haruskah kita mencoba untuk desain yang sederhana seperti gambar dengan judul halaman atau kerangka kerja dengan log?"



"Ahh, mungkin kita bisa membuatnya lebih terlihat jika kita melakukan sesuatu seperti Times*, atau Forbes*?”

[Times dan Forbes, keduanya sama-sama merupakan majalah terkenal dari Amerika yang membahas berbagai aspek, terutama bisnis.]



"Ya, aku percaya jika kita memperjelas apa yang ingin kita tunjukkan, itu pasti lebih menonjol."



"Itu juga akan mempermudah kinerja kita."



Ketika kami berdua mulai terlibat dalam suatu diskusi, aku merasa ada suatu tatapan dari jauh yang terfokus pada kami. Aku melihat ke arah itu, dan aku menemukan Isshiki sedang meringis pada kami.



"Apa sih yang kalian berdua sedang bicarakan ...?"



"Oh, aku tahu, kan !? Itu adalah yang aku sudah pikirkan sepanjang waktu!” kata Yuigahama sembari memajukan tubunya. Aku ingin tahu apakah dia senang karena dia punya teman baru ... Mereka berdua rupanya sedang membuat template pertanyaan bagi setiap klub. Kami meninggalkan mereka berdua bersama perangkatnya, karena Yukinoshita dan aku perlu untuk melanjutkan obrolan kami.



Yukinoshita menambahkan catatan dalam tabel. Dia kemudian berhenti tangannya dan squished pena

pipinya.



"Jadi, kita tahu apa yang kita inginkan untuk desain. Jadi, sekarang masalahnya adalah, apa yang akan kita inginkan di dalamnya."



"Mengapa kita tidak gunakan saja foto Isshiki? Bagaimanapun juga dia adalah ketuanya.” aku menunjuk Isshiki dengan jari telunjukku.



Dia menggoyangkan tangannya. ”Huh? Maksudmu seperti gambar gravure*? Aku tidak cocok memakai pakaian renang, maaf.”

[Secara harfiah, gravure diartikan klise foto, tapi pada kalimat di atas, maknanya jauh berbeda dari itu. Gravure adalah istilah untuk video atau foto yang tidak seronoh di Jepang. Gambarnya bermacam-macam, mulai dari : berpakaian, setengah telanjang, telanjang bulat, sampai yang merangsang. Uban Dictionary].



"Kau boleh bersumpah bahwa aku sudah tahu tentang hal itu... Entah kenapa, tak seorang pun mengharapkan hal-hal seperti itu darimu."



Apa lagi yang tidak cocok denganmu ...? Yahh, yang kelicikannya adalah bagian dari kepolosannya dan tindakannya yang murni. Jadi, sepertinya aku tahu tentang hal itu. Namun, seseorang macam aku tidak percaya pada hal-hal seperti: kemurnian, keamatiran, dan cermin sihir.[5]



"... Oh sungguh?"



Seolah-olah ada orang yang salah sangka terhadapnya, suara Isshiki berubah jadi dingin. Kilatan di mata sipitnya juga tampak tajam. Mulutnya kemudian melengkung ke bawah dan dia menempatkan tangannya di dadanya sambil berpikir. Akhirnya, senyum menyenangkan muncul, seolah-olah dia memikirkan sesuatu. Dia pun tiba-tiba berbicara dengan suara ceria dan manis.



"Oh ya ampun, aku ingin tahu siapakah yang kau inginkan berada di gambar itu, ya? Ohhh, mungkin seseorang seperti Yui-senpai?”



"Wh-Whoa! T-Tidak mungkin! Aku pasti tidak bisa melakukan itu, pasti!”



Isshiki menarik Yuigahama ke bawah, dan memaksakan tubuhnya ke depan. Karena tubuhnya condong ke depan, dadanya jadi terdorong, dan sekilas kulitnya bisa terlihat di balik kerah yang melambai-lambai. Secara refleks, pandanganku terpaku pada kulit Yuigahama yang terungkap itu, aku pun menoleh sekuat tenaga. Aku tidak akan kalah! Manusia tidak akan kalah dari hal-hal seperti nafsu!



Untuk mengalihkan pandanganku, aku akhirnya hanya bisa menutup mataku. Pipi Yuigahama memerah dan ia memegang bahunya, seakan-akan menyembunyikan tubuhnya.



"Ah, um ... A-agak memalukan melakukan hal-hal seperti itu ... dan aku tidak ingin orang lain melihatku melakukan hal-hal seperti ...”



Yuigahama memerah sampai ke lehernya sembari ia berbicara dengan tergagap. Ketika dia selesai, dia melihatku dengan tatapan mata mirip seseorang yang terserang demam. Terus terang, jika kita menampilkan Yuigahama di sampul, aku yakin sekelompok orang tertentu akan bersukacita. Tapi aku tidak tega melakukannya. Maksudku, lihatlah, orang yang bersangkutan tidak menyukainya, kan?



"Nah, uh, yeah ... aku pasti juga tidak akan melakukan itu."



"B-benarkah ...? Syukurlah.”



Ketegangan hilang dari bahu Yuigahama. Demikian pula denganku, aku menghela napas dalam-dalam.



Tapi begitu Yuigahama tenang, penyebab percakapan ini terpikirkan olehku.



"Pokoknya, gravure tidak berarti foto hanya dengan mengenakan baju renang. Apa itu, rotogravure*? Aku pikir, itu juga disebut gravure.”

[Rotogravure di sini bisa juga diartikan sejumlah majalah yang dicetak dengan suatu sistem.]



Benarkah, Yukipedia-san? Aku memandang Yukinoshita, dan dia bermain-main dengan pita lehernya. Ketika tatapan mata kami bertemu, dia memberikan ekspresi terkejut dan segera mengalihkan wajahnya. Setelah itu, dia menali lagi pitanya.



"......"



Aku bisa mendengar dia menghela napas dangkal. Bisakah kau, tidak membisu di saat-saat seperti ini ...?



"Pokoknya, foto seragam biasa sudah cukup baik. Oke, berikutnya. Yukinoshita, apa yang harus kita lakukan pada cover belakangnya?” aku bertanya pada Yukinoshita untuk mengubah topik pembicaraan. Dia kemudian menatapku sesaat seakan memeriksa diriku. Sementara dia tidak menanggapi, dia mendengarkan semuanya. Aku terus melanjutkan perkataanku.



"Haruskah kita menempatkan iklan di bagian belakangnya? Seperti: tasbih misterius, teknik membaca cepat, peralatan melatih kekuatan, atau bahkan produk kesehatan?” kataku sambil membayangkan betapa lucu jika aku mengambil gambar Zaimokuza yang sedang mandi di bak penuh catatan bank. Akhirnya, Yukinoshita membuka mulutnya.



"Mencari pihak yang mau menempatkan iklan produknya pada saat ini, adalah suatu keputusan yang sangat tidak realistis. Mungkin mereka baru mau mempertimbangkannya jika kita melakukan publikasi berkala, tapi itu mungkin tidak layak untuk saat ini. Kita tidak memiliki bahan untuk itu, jadi kita harus mengisinya dengan teks.”



Tatapannya masih terpaku pada tabel rancangan saat berbicara dengan ekspresi tidak tertarik. Aku menghabiskan waktu sebentar untuk berpikir.



"Jadi, baik kolom majalah ataupun catatan tambahan dari editor ... Yah, aku bisa mengatasinya."



"Ya, silakan," Yukinoshita menjawab dengan singkat. Dia mulai bekerja lagi, tapi terus berpaling dariku. Tidak seperti sebelumnya, suara decitan penanya terdengar lebih keras. Aku ingin tahu apakah dia masih mempermasalahkan hal yang tadi ... Dia benar-benar tidak perlu terganggu dengan hal seperti itu ...



Tidak apa-apa! Kau masih memiliki beberapa harapan yang tersisa! Maksudku secara genetik!



× × ×



Sekarang, tugasku adalah menulis semua hal yang berkaitan dengan artikel dan fotografi yang begitu aku inginkan. Tapi sebagai gantinya, itu juga berarti bahwa materinya harus dipresentasikan dalam wawancara untuk setiap klub. Dengan begitu sedikitnya tenggang waktu yang kami punyai, kami membagi lagi tim kami menjadi 2 pasangan. Isshiki dan aku adalah salah satu pasangan, sementara Yuigahama dan Yukinoshita adalah pasangan yang lainnya. Setelah membagi rata kemampuan komunikasi dan akademik pada kedua pasangan....baiklah....aku kira ini adalah cara yang tepat untuk berpencar.



Isshiki dan aku menangani klub laki-laki, sementara Yuigahama dan Yukinoshita menangani klub perempuan ...



Klub pertama yang wawancarai adalah ... Klub Tenis, tentu saja!



Yuigahama sudah membuat janji sebelumnya, jadi Isshiki dan aku tiba di lapangan tenis yang disertai dengan hembusan angin keras.



"Pengembalianmu terlalu lambat! Kau dapat melakukan lebih baik dari itu!”



Suara imut yang terdengar di seluruh lapangan itu adalah suaranya kapten Klub Tenis, Totsuka. Sembari mengistirahatkan raketnya di bahunya, dan tangan yang lain di pinggang, ia meneriakkan nasehat untuk para juniornya. Sepertinya ia sudah terbiasa menjadi kapten.



Setelah tiba di sekitar lapangan tenis, Totsuka menyadari kehadiran kami. Dia berlari ke arah kami sambil melambaikan tangannya.



"Hachiman! Halo untukmu juga, Isshiki-san.”



"Halo, terima kasih karena telah meluangkan waktumu hari ini."



"Maaf karena telah mengganggu latihanmu."



Setelah Isshiki membungkuk dengan hormat, aku menjulurkan tanganku untuk berjabat tangan dengan Totsuka.



"Oh, jangan, jangan begitu! Um, kau mau mengambil gambar, bukan? Jangan ragu untuk memulainya setiap kali kau ingin.” Totsuka menggeleng. Setelah, ia mengulurkan tangannya dan berbalik ke arah lapangan. Kemudian, dia menengok ke arah kami dan tersenyum. Ya, aku bilang, ini adalah saat yang paling tepat untuk memulai!



"Baiklah, mari kita mulai ..."



Karena Totsuka tampak begitu imut dengan menjulurkan tangannya seperti itu, aku mulai dengan memotretnya. Aku memposisikan kamera dan menekan shutter-nya. Dengan begitu, Totsuka tampak bingung.... aku pun mengambil gambar lainnya. Dia memiringkan kepalanya dengan imut, dan aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu dengan memotretnya lagi. Aku baru saja hendak memotret salah satu ekspresi penasaran Totsuka, tapi ketika aku mempersiapkan kameranya, ia membuka mulutnya dengan bingung.



"Um ... apakah kau tidak mengambil gambar saat kami sedang latihan?"



"Ya, kau benar. Kau benar, tapi ini dulu.” aku mengatakan itu padanya sambil memanfaatkan kelengahannya. Totsuka tergagap ketika menghadapi hujanan jepretan dariku.



"B-benarkah ...? Ini agak memalukan ... mmm ...”



Totsuka meletakkan tangan di pipinya untuk menyembunyikan rasa malu, karena aku terus mengambil foto. Tapi setelah melirik ke arah lapangan tenis, dia bergumam. ”Tapi, kita mungkin mendapatkan anggota baru jika mereka melihat ini ...”



"Itu benar, mungkin saja siswa baru akan menggunakan foto-foto tersebut untuk memutuskan apa yang harus mereka lakukan."



Ketika Yuigahama membuat janji dengan setiap klub, kami juga memintanya untuk menginformasikan pada mereka tentang tujuan dari surat kabar gratis ini. Bagi para anggota klub, ini adalah kesempatan yang sempurna untuk mempromosikan klub yang mereka kelola. Ketika aku menjawabnya, Totsuka mengangkat wajahnya seolah-olah sedang berusaha untuk mempersiapkan dirinya sendiri.



"A-aku akan mencoba yang terbaik ..."



Kemudian, dia mengepalkan tinjunya di depan dadanya dan tampak termotivasi.



"Y-Ya ...? Baiklah, mari kita melakukan yang terbaik.”



Tidak masalah jika aku mampu meyakinkan Totsuka, tapi entah kenapa, aku mulai merasa bahwa aku sedang menipunya dalam sesi pemotretan ini. Perasaan bersalah ... Tidak, tunggu. Ini bukanlah perasaan bersalah, tapi ......kecacatan moral! Sial, dari sisi kepribadianku yang berbeda, aku sedang bergembira-ria sekarang!



"Baiklah, mari kita menggila dan ambil gambar sebanyak-banyaknya."



"Ya!"



Setelah mendengar jawaban bersemangat dari Totsuka, aku menyiapkan kamera sekali lagi.



"Dapatkah kali ini kau mencoba bergaya sambil membawa raketmu?"



"T-tentu."



Aku mengambil gambar dari sudut yang rendah. Ketika Totsuka mengayunkan raketnya, aku berhasil mengabadikan momen tersebut dalam gerakan animasi, dengan menggunakan beberapa kali jepretan. Aku menangkap gerakan Totsuka dalam bidikan, ketika dia menahan tanah karena kehilangan keseimbangan. Kesempatan memotret!



Aku dengan sepenuh hati mengambil gambar Totsuka yang sedang bergerak. Lantas, aku melanjutkan ke tahap berikutnya.



"Berikutnya, dapatkah kau mencoba memeluk raketmu?"



"Tentu ... Hmm?" Totsuka memiringkan kepalanya dengan bingung sambil memeluk raketnya di dada. Di situlah aku mengambil jepretan berturut-turut, jepretan spektakuler, dan bahkan jepretan penuh panorama. Sembari melakukan itu, mari kita coba posisi melempar handuk. Itu bagus, itu benar-benar bagus. Mari kita menjadi sedikit lebih berani, mengapa tidak? Aku terus mengambil foto dalam mode antusias. Di sampingku, Isshiki tampak agak kecewa.



"Senpai, bukankah kau sudah cukup mengambil gambar ...?"



"Benarkah? Yah, aku kira begitu.”



"Ya." Isshiki mengangguk. Memang, kali ini Isshiki benar.



"Benar, aku kira, kita sudah cukup banyak memiliki gambar dengan pose raket. Mari kita mengambil gambar tanpa itu untuk saat ini.”



"Huh?" Isshiki menjadi kaku.



Mengabaikan dia, aku melihat ke viewfinder* sembari berpikir tentang pose apa yang seharusnya aku potret berikutnya.

[Viewfinder adalah suatu perangkat di kamera yang berfungsi untuk menunjukkan tampilan pada lensa, digunakan juga untuk membingkai dan memfokuskan gambar. Kamus Oxford.]



"Totsuka, dapatkah kau melakukan ini sebentar?"



"... Tentu."



Entah kenapa, tanggapan Totsuka terdengar agak putus asa, seolah-olah dia sedikit kelelahan. Aku tahu apa ini. Dia bereaksi seperti kucing rumahanku yang kehilangan semua energinya karena berpose terlalu banyak. Dengan kata lain, ia begitu imut!



Mematuhi instruksiku, Totsuka meletakkan raketnya ke bawah kakinya dan duduk sambil memeluk lututnya. Aku mengambil gambarnya dari sudut depan dan sudut diagonal. Aku memintanya menunjukkan lebih banyak pose bervariasi melalui pola tatapan wajahnya. Adapun tatapan wajahnya kali ini adalah ekspresi antara senyum dan bosan.



"H-Hachiman ... Apakah kau masih ingin memotret lebih banyak?" kata Totsuka dengan senyum kaku dan suara terpatah-patah.



"O-Oh, benar ..."



Aku kira, Totsuka mulai lelah sekarang. Apa yang harus kami lakukan ...? pikirku. Dan itu membuatku sadar.



"Kalau begitu, mari kita istirahat sebentar."



"Jadi kau masih akan lanjut ..." bahu Totsuka melemas.



Yap, bagaimanapun juga, aku tidak salah dalam memilih waktu untuk istirahat sekarang. Untuk mempersiapkan paruh kedua dari sesi pemotretan, aku bermain-main dengan kameraku dan memeriksa gambar yang sudah kuambil sejauh ini. Kemudian aku menyadari sesuatu hal yang penting.



"Isshiki."



Aku memanggil Isshiki, yang sudah dari tadi menyerah berurusan denganku. Dia pun hanya mengawasi kami dari kejauhan . Dia berjalan kemari dengan ekspresi kesal.



"Iya?"



"Apakah kau memiliki memory card cadangan? Yang satu ini, seperti, sudah habis.”



"Berapa banyaknya gambar sih yang sudah kau ambil ...?"



"Aku sebenarnya sudah menyingkirkan gambar tambahan ..." kataku.



Isshiki mendesah dalam-dalam dan meraih lenganku. Kemudian dia menariknya dan mulai berjalan.




"Kami sudah selesai! Totsuka-senpai, terima kasih banyak,” kata Isshiki.



"Ah, iya. Terima kasih juga, seperti biasa.” Totsuka memberikan senyum dengan tiba-tiba dan menjawab balik. Dia sudah kehilangan semangat, sementara duduk sambil memeluk lutut di lantai.



Kalau saja memungkinkan, aku ingin menangkap senyuman itu lantas kuabadikan di foto, tetapi karena Isshiki terus mengguncang lenganku, aku tidak diberikan ijin untuk melakukan jepretan beruntun atau jepretan spektakuler. Paling tidak, aku telah merubah senyumnya menjadi suatu memori fotografi yang tersimpan di dalam hatiku.



× × ×



Isshiki menyeret lenganku dan tak lama, kita berada di Klub Sepakbola.



Lapangan yang biasanya digunkan untuk latihan Klub Sepakbola, berada tepat di samping lapangan tenis, sehingga jaraknya tidak begitu jauh. Aku juga ingin menyatakan, bahwa aku tidak memiliki ketertarikan yang tinggi pada Klub Sepakbola.



Aku pikir, kita hanya harus memotret mereka dua atau tiga kali saja, tetapi Isshiki tidak akan mengijinkan itu.



"Ohh, mohon fokus untuk memotret Hayama-senpai di sana. Oh, di sana, di sana!”



Isshiki mengetuk bahuku dan dia mengatur momen yang paling tepat untuk dipotret. Setelah mengambil gambar, kami memeriksa lebih setiap gambar tersebut satu per satu.



"Mohon, biarkan aku melihat ... Oh, beberapa kali, ada gambar Tobe-senpai bersamanya, jadi aku akan menghapusnya, oke?” katanya dan dia pun menghapus gambar-gambar tersebut begitu saja. Kemudian dia menyodorkan kameranya kembali padaku.



Oh, ayolah, apa masalahnya? Itu hanya Tobe ... Tidak ada yang akan peduli jika dia ada di sana atau tidak, kau tahu?



Ini berlanjut sedikit lebih lama, jadi kita tidak membuat banyak progres.



"Hei, ini sudah cukup, kan? Tidak ada lagi memori ...”



"Kau pikir salah siapa, sehingga kita tak punya banyak memori tersisa?" Isshiki menggembungkan pipinya dan menatapku dengan lirikan.



Aku pun tak bisa banyak berdalih. Pada akhirnya, aku dipaksa untuk mengambil gambar sepak bola mini-game* sampai berakhir.

[Mini-game di sini artinya adalah semacam latihan.]



Setelah itu akhirnya selesai, Hayama berjalan ke arah kami.



"Hayama-senpaaaai!" Isshiki berteriak sambil melambaikan tangannya.



Hayama mengangkat tangannya untuk meresponnya. ”Jadi, aku dengar dari Yui bahwa kalian akan membuat sejenis surat kabar gratis? Seperti biasa, kau melakukan apa pun yang kau minta, ya?”



Hayama memberikan senyum yang menyegarkan sambil sedikit terheran-heran.



"Aku sudah bilang, bahwa seperti itulah klub kami bekerja. Aku tidak ingin mendengar itu dari seseorang yang keluar lebih awal dari latihan, hanya untuk diwawancarai. Maaf karena telah mengganggumu.”



"Itu adalah cara yang lucu untuk menunjukkan rasa terima kasihmu." dia mengangkat bahu dan tersenyum. Kemudian, ia melihat ke arah halaman. ”Di sini dingin, kan? Bagaimana kalau kita melakukan wawancara di sana?”



"Oh, tentu."



Karena area piloti* dari halaman gedung dikelilingi oleh bangunan sekolah, angin tidak bisa lewat. Dengan senyum bahagia, Isshiki menunjukkan jalan menuju tempat yang lebih baik. Tempat yang dia tuju adalah area di sekitar mesin penjual otomatis, yang dilengkapi dengan bangku sederhana di sampingnya. Isshiki duduk dan menepuk kursi di sampingnya. Itu adalah isyarat bagi kami berdua untuk menghampirinya. Betapa licik...

[Piloti adalah nama lain dari kolom bangunan. Jadi “halaman gedung” yang dimaksud di atas adalah suatu halaman yang berada agak menjorok masuk ke area gedung, bukannya halaman terbuka di luar bangunan. http://encyclopedia.thefreedictionary.com/pilotis]



Aku membiarkan Hayama pergi duluan, sementara aku membeli sekaleng kopi hitam dan teh hitam dari mesin penjual otomatis. Sembari aku menimang-nimang kaleng panas itu dari satu tangan ke tangan lainnya, aku pun duduk bersebrangan dengan posisi Hayama.



"Membicarakan tentang hal-hal yang acak. Kau cukup baik dalam melakukan itu, kan?”



Aku melemparkan kepadanya kopi kaleng sembari aku berbicara. Ketika Hayama menerimanya, ia melihat dengan terkejut. Kemudian dia mendesah sebentar dan tertawa tegang. Dengan nada mengejek, dia berkata, "Apakah kau sedang menyindir?"



"Hanya memujimu. Aku tidak benar-benar peduli, tapi kami mengandalkanmu kali ini.”



"... Yah, aku akan mencoba untuk memenuhi harapan kalian semampuku," kata Hayama sambil tersenyum. Dia mengangkat tangannya padaku dan menghadapi Isshiki.



"Okaaaay, mari kita mulai wawancaranya!"



Isshiki memainkan perekam suara di smartphone dan menyisihkan tehnya. Aku mengambil dua langkah menjauh dari mereka dan menyiapkan kamera. Seperti yang kuduga, Hayama yang berada di luar viewfinder adalah Hayama Hayato yang dikenal semua orang. Namun, candaan dan senyum kecut dari Hayama yang diberikannya beberapa saat lalu terasa sedikit berbeda.



× × ×



Kami menyudahi wawancara dan sesi pemotretan dengan Hayama. Setelah itu, kami mengunjungi semua klub lain dan menyelesaikan semua tugas kami di sana. Kita bahkan berhasil mendapatkan gambar Hayama yang sedang menengadahkan tangannya ke atas, sehingga kualitasnya tidak perlu diragukan.



Harusnya, Yuigahama dan Yukinoshita juga sudah menyelesaikan tugasnya di klub-klub perempuan. Pekerjaan yang tersisa adalah mengambil foto Isshiki Iroha untuk sampul depan koran.



Sesuai permintaan Isshiki, si model, kami berpindah ke perpustakaan untuk sesi pemotretan.



Kami pergi melalui pintu depan halaman, mengganti sepatu kami dengan sepatu indoor*, melewati ruang guru, dan memasuki perpustakaan.

[Sepatu indoor adalah sepatu yang dikenakan di dalam gedung agar lantainya tetap bersih. Seperti yang kalian ketahui, di Jepang para pelajar memiliki dua macam sepatu. Mereka harus menggantinya ketika masuk ke gedung sekolah.]



Pada jam-jam setelah pulang sekolah, perpustakaan jarang digunakan oleh siswa. Suatu suasana damai meliputi ruangan tersebut.



"Jadi, mengapa kau memilih perpustakaan ...?"



Isshiki men-survei perpustakaan dan berjalan di sekitar untuk menemukan tempat yang cocok buat sesi pemotretan. Ketika aku bertanya dari belakang, dia berbalik. ”Bukankah perpustakaan terkesan sangat intelektual?"



"Justru alasanmu itu yang tidak intelektual ..."



"Tidak apa-apa. Ini adalah masalah yang menyangkut gambarku.” dia memalingkan wajahnya dan mulai berjalan. Setelah berhenti di beberapa tempat, dia akhirnya menentukan titik yang dianggapnya paling sesuai. Dia mengambil tempat duduk di meja dengan punggungnya menghadap rak buku. Lalu, ia mengambil cermin dan mulai memperbaiki penampilannya.



Rak buku menjulang tinggi di atas Isshiki dan bertindak sebagai semacam pelindung. Barisan buku berwarna gelap terlihat begitu kontras dengan penampilan Isshiki yang mencolok. Lampu perpustakaan terlihat semakin terang karena hari semakin senja, itu dibuat untuk memudahkan para pembaca menikmati bukunya. Pencahayaan itu menyinari kulit putih Isshiki yang sedikit memancarkan warna kehangatan.



Aku bukanlah seorang Cameraman profesional, tapi aku merasa bahwa penampilan Isshiki ini bisa menghasilkan suatu gambar yang cantik. Itulah yang bisa kau harapkan pada seorang Isshiki Iroha. Dia begitu paham bagaimana cara untuk menunjukkan daya tarik dirinya.



"Baiklah, aku akan mengambil beberapa gambar." aku memanggil Isshiki. Dia menjawab dengan mengistirahatkan pipinya di tangan dan meletakkan siku di meja.



Mata lembab dan bulu mata yang lentik membuat ekspresinya begitu mengesankan. Di samping senyum gembira yang diwarnai dengan kepolosan, bibir cherry-nya mengkilap dengan lembut.



Meskipun lensa kuarahkan padanya, aku lupa untuk menekan tombol shutter. Setelah aku mendengar suara batuk, aku pun kembali sadar dari alam fantasiku.



Aku menekan shutter beberapa kali dan menurunkan kamera. Ketika aku memeriksa foto yang baru saja aku ambil, aku berbicara pada Isshiki untuk menutup-nutupi rasa malu karena aku tadi terpana oleh penampilannya.



"Sepertinya kau cukup biasa dipotret ..." kataku.



Isshiki hendak mengubah pose-nya dan melihat ke cermin sambil berpikir. Setelah menghadapi cermin, ia memiringkan kepalanya. ”Sungguh? Bukankah suatu hal yang normal jika seorang gadis selalu dipotret?”



"Tidak selalu."



Aku rasa, pemotretan yang akan selalu diingat dan dijadikan kenangan adalah pemotretan sewaktu peristiwa-peristiwa khusus seperti study tour, atau sejenisnya . Setidaknya, itulah yang terjadi di dalam hidupku selama ini.



Tapi Isshiki mengatakan sesuatu yang sama sekali berbeda. Dia menutup cerminnya dan melirik padaku. Meskipun kamera tidak terfokus pada dirinya, dia memberikan suatu senyuman yang lembut.



"Kenangan adalah hal yang penting, bukankah begitu?"



Itu adalah sesuatu yang normal bagi seorang Isshiki Iroha.



Suatu pemandangan yang khas tidak pernah berubah. Tidak ada bedanya antara memori yang normal dan memori yang luar biasa, keduanya sama-sama harus dihargai. Isshiki Iroha...mengatakan sesuatu yang senada dengan dua pernyataan tersebut.



"... Aku kira begitu," jawabku dengan singkat, dan aku pun memposisikan kamera sekali lagi. Yahh, mari kita berpikir. Akankah foto-foto ini menjadi kenangan yang biasa-biasa saja, ataukah kenangan yang luar biasa? Aku memikirkan itu sembari menekan shutter.



× × ×



Setelah mengumpulkan sebagian besar bahan untuk koran, kami mulai bekerja. Beberapa hari telah berlalu sejak saat itu. Perkenalan klub dan panduan tempat, pembuatan artikel tentang dua hal tersebut berjalan dengan lancar. Artikel wawancara pun sebagian besar sudah selesai. Desainnya memberikan kemajuan yang menguntungkan, dan kami mengisi setiap halaman satu per satu, mulai dari yang pertama.



Adapun untuk semua artikelnya, setelah beberapa penyesuaian keterangan dan pengaturan pada header, maka kami hampir selesai. Untuk fitur komentar dari ketua klub, kata-katanya sudah direvisi, dan itu juga hampir selesai.



Progres yang baik. Seharusnya tidak ada masalah.



Kami juga membumbui artikelnya dengan: profil klub, tempat-tempat nongkrong yang direkomendasikan, dan wawancara khas dengan Isshiki Iroha si ketua OSIS. Kami menerima konfirmasi dari setiap klub untuk diperbolehkan menyertakan fotonya. Kami bahkan memenuhi keinginan mendadak dari Isshiki untuk memperbaiki sampul depan, tanpa suatu kendala pun.



Namun. Namun, meskipun begitu, tulisanku belum berakhir.



"Bagaimana ini bisa terjadi ...?"



Apakah karena aku menganggapnya terlalu serius? Memang, aku bekerja dengan serius, tidak hanya ketika aku menulis artikel normal, aku juga membantu Yukinoshita, dan, sebagai pengganti peran Yuigahama, aku pergi ke Klub Game untuk mendapatkan komentar mereka.



Untuk seukuran orang sepertiku, aku bekerja cukup keras, menghabiskan beberapa hari terakhir hingga hari ini dengan pekerjaan yang sangat menyibukkan. Mungkin itu sebabnya ... Ketika kau terlalu sibuk, kau akan berakhir dengan melupakan pekerjaanmu yang lainnya ...



Aku menulis ke seluruh kolom, sampai ke batas "dua hari sampai deadline!"



Saat aku memegang kepalaku dengan tangan, sedangkan Isshiki berdiri di samping aku. Kemudian, dia menuangkan teh dari botol.



"Ini, minum dulu. Mohon lakukan yang terbaik,” katanya. Dia menyingkirkan botol ke dalam peti es mini yang berada di bawah meja. Setelah itu, dia mengambil tempat duduk di sisi meja lain yang searah diagonal dengan tempat dudukku.



Teh, meja, kursi, dan yang terakhir, ruangan.....semuanya berbeda dari yang biasanya.



Beberapa hari terakhir, aku terikat di dalam ruang OSIS untuk dipaksa menulis sisa kolom majalah sambil berada di bawah pengawasan. Karena pemanas ruang klub kami masih rusak, ruang OSIS diatur oleh Isshiki agar bisa dipakai sebagai alternatif untuk tempat mengurung diriku.



Aku melirik jendela dan hari sudah senja. Biasanya, untuk memeriksa waktu, aku hanya akan menggunakan jam di ponselku, bukannya melihat pemandangan sekitar. Tapi aku tak lagi bisa melakukan itu karena poselku telah disita. Aku mengamati ruangan dan menemukan suatu jam meja, angka yang ditunjukkan pada jamnya sungguh kejam.



Aku dibawa ke kamar ini segera setelah sekolah berakhir, dan belum keluar ruangan selangkah pun sejak saat itu. Itu karena deadline-nya esok hari.



Oooooooooooooh siaaal ... aku belum menulis satu huruf pun ... Aku tidak bisa membayangkan sanggup menyelesaikan ini tepat waktu ...



Aku memencet-mencet keyboard-ku dengan serius hanya untuk menghapus beberapa kata, karena itu tidak sesuai dengan keinginanku. Aku memikirkan perkataannya berulang-ulang hanya untuk menulis beberapa patah kata. Sial, siaaaaaaaaaaaaallll, kalau begini terus, aku tidak akan selesai tepat waktu, ahhhhhhhhhhhh!



Ketika aku memukul-mukul mejaku, Isshiki menatapku sambil mundur. Ekspresinya tampak seperti ingin mengatakan,”Ugh ..." sambil menggeleng. Kemudian, ada sesuatu yang mencuri perhatiannya. Dia mulai merogoh-rogoh saku blazer-nya.



"Senpai, ponsel," katanya, dan mengambil ponselku dari sakunya. Dia berusaha menyerahkannya kepadaku.



Namun, telepon di saat aku sedang sibuk mengejar deadline adalah suatu hal yang buruk. Andaikan saja dianalogikan dengan dunia anime, jika kau membuat tuntutan seperti itu, maka tidak akan ada kebutuhan untuk anime rekap. Menunda tanggal rilis karena permintaan dari author adalah suatu kejadian yang juga mustahil.



Itulah sebabnya pada saat-saat seperti ini, yang terbaik adalah: memeriksa nama si penelpon, kemudian mengabaikan panggilan tersebut.



"... Dari siapa? Editor?” aku bertanya.



Isshiki mendesah tak percaya. ”Jika editor adalah hal pertama yang kau pikirkan, situasinya pasti sudah semakin memburuk ... Umm ... Oh, di sini tertulis 'Mom’. Mungkin ini dari ibumu?"



"... Ibunya ... editor ...? Apakah mereka terus mengawasiku dengan kedok keluarga?”



"Tidak, mengapa kau berpikir seperti itu? Sepertinya, ini dari ibumu yang asli senpai.”



"Benar. Biarkan saja, aku akan meneleponnya lagi nanti.”



"Oh, jika kau berkata begitu."



Isshiki menjawab dengan singkat dan menempatkan ponselku kembali ke sakunya. Kemudian dia membalik dan memeriksa setumpuk kertas. Mungkin itu adalah kertas untuk laporan keuangan. Sesekali, dia men-stample kertas-kertas itu.



Dengan adanya Isshiki yang sedang bekerja di sampingku, rasanya seperti, aku harus cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanku ... Dengan malas, aku mulai mencabik-cabik keyboard-ku untuk terus mengetik.



Dan, waktu terus berlalu.



Di luar jendela, pemandangan sudah gelap, mendekati waktu ketika semua pelajar harus pulang ke rumah. Aku berhenti mendengar suara stempel. Aku tidak menyadari bahwa Isshiki sudah menyelesaikan pekerjaannya. Aku melirik, dan dia menatap smartphone-nya sendiri.



Dapatkah aku juga berhenti di sini, untuk hari ini ...? Masih ada hari esok. Dan aku bisa berusaha lebih keras besok. Aku akan selesaikan semuanya besok ...



Pemikiran seperti itu melintas di kepalaku, konsentrasiku buyar seperti kepulan asap yang terbang di udara.



"Aku selesai, aku tidak bisa menulis lagi hari ini. Aku tidak akan bisa menulis lebih banyak ketika aku panik seperti ini. Aku kira, satu-satunya hal yang dapat aku lakukan sekarang adalah pulang dan tidur.” aku menyatakan itu denga keras.



Isshiki mengangkat wajahnya dari smartphone dan menatapku. Setelah mendesah tak percaya, dia membuat ekspresi yang terlihat ramah. ”Benar, yahh, sepertinya itu adalah ide yang bagus."



"Aku tahu, aku tahu. Tidak apa-apa jika kita sedikit melewati deadline-nya, kan?”



Apakah ini yang biasa disebut dengan tekanan penulis? Dibebani dengan stres berlebih tepat sebelum deadline, kelelahan akibat kerja terus-menerus, dan perasaan misterius yang kuat untuk mencoba melarikan diri dari kenyataan. Tak sadar, aku tertawa cekikikan dengan ekspresi jahat.



Isshiki kemudian membuat ekspresi kaku. ”... Hah? Kau tidak akan berhasil menyelesaikannya tepat waktu?”



"Y-Yahh, aku tidak yakin begitu ..."



Sungguh, kolom ini harusnya terisi sekitar beberapa ribu kata yang terbaik, jadi jika aku mengupayakan yang terbaik untuk hari ini dan besok, aku punya feeling bahwa aku bisa menyelesaikan. Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu, karena aku hanya berhasil menyelesaikan beberapa ratus kata dalam beberapa jam.



Aku ragu-ragu untuk mengatakan itu dengan keras. Alasannya adalah, Isshiki memegang kepalanya sebelum aku bahkan bisa menjelaskan itu padanya.



"Oh tidak ... Itu tidak baik ... Umm, tidakkah itu seperti sesuatu yang...benar-benar buruk?"



Isshiki mengeluh dan merobohkan dirinya ke meja. Dia perlahan-lahan menoleh ke arahku dan matanya sedikit berkaca-kaca. Tepat setelahnya, dia bergumam dengan suara kecil, ”Pengeluaran! Diskon! Biaya tambahan! Melebihi anggaran! Pembukuan pengeluaran!”. Dia tampak syok.



Reaksi Isshiki menceritakan padaku tentang semua yang ada di benaknya. Isshiki mengharapkan kami untuk menyelesaikannya tepat waktu untuk rencana diskon dan mencatatnya dalam anggaran. Dan dia mungkin sudah mencatatnya dalam laporan keuangan.



Tentu saja, adalah hal yang masih memungkinkan jika kita membuat revisi laporan tersebut.



Tapi ini adalah konsekuensi dari kebanggaan Somethin-gaya Something-man*; meskipun dia sok-mampu menyelesaikan semuanya hanya dalam beberapa hari, ia terus menunda-nunda hasil kerjanya sambil beralasan, ”Jangan khawatir, jangan khawatir, aku bisa melakukannya dengan super cepat." Dia tidak layak untuk menjadi sombong ...

[Itu hanya permainan kata dari Hiki-Gaya dan Hachi-man. Mudah-mudahan kau memahaminya.]



"... S-Sepertinya memang buruk ... Yahh. A-aku akan berusaha sedikit lebih keras, oke?”



"B-benarkan? Kumohon lakukan itu ...”



Isshiki menatapku dengan mata berkaca-kaca. Matanya tidak terlihat licik. Setidaknya itu terjadi ketika mode kekanak-kanakannya muncul, dan matanya terlihat mengungkapkan suatu ekspresi jujur. Setelah melihat dia seperti itu, aku harus menyelesaikan ini tepat waktu tak peduli apa konsekuensinya ...



Ada deadline yang benar-benar tidak boleh dilewatkan.



× × ×



Terus terang, aku tidak sanggup melakukannya lagi. Aku minta maaf karena telah mengatakan ini dengan begitu tiba-tiba. Tapi aku tidak bisa.



Hanya dalam beberapa jam, suara lonceng yang biasa akan terdengar.



Itulah tanda deadline.



Hati-hati, si gadis editor berdada kecil akan datang tak lama kemudian.



Ketika dia datang, kiamat akan datang hanya dalam beberapa saat kemudian.[6]



Pikiran-pikiran ini mengisi rongga kepalaku.



Terhambat oleh deadline yang benar-benar tidak boleh dilewatkan....aku benar-benar merindukan waktu sepulang sekolah yang damai dan tenang seperti tempo hari.....hari inipun, aku meminjam ruang OSIS seperti hari-hari sebelumnya, dan melakukan pekerjaan terisolasi di ruangan yang berbeda.



Meskipun kemarin aku mencoba untuk melakukan apa yang aku bisa setelah mengumpulkan semua motivasiku, tubuhku akhirnya mencapai batasnya seperti Chiyonofuji Mitsugu[7] dan aku pun akhirnya pulang. Ketika aku benar-benar membuat beberapa progres setelah pulang ke rumah, dan menulis beberapa kata pada smartphone-ku selama kelas berlangsung....akhirnya.....masih kurang.



Dan sekarang, dari jendela ruang OSIS yang kosong, aku menatap matahari yang tergelincir di ufuk barat. Tentu saja, tidak ada kemajuan lagi pada naskahku.



Sial, sial ... aku bahkan tidak mengetik pada keyboard-ku, aku hanya menderap-derap pada kursiku. Kemudian, terdengar beberapa ketukan dari sisi luar pintu.



"Hei Hikki, bagaimana kabarmu?"



Yang memasuki ruangan dengan mengucapkan salam adalah Yuigahama. Sepertinya dia di sini untuk memeriksa progres-ku.



"... A-Aku kira, masih sedikit dibawah 70%."



"Whoa, itu luar biasa!"



"Dari apa yang tersisa ...."



Ketika aku membisikkan itu, Yuigahama merengek dengan nada tragis. Aku juga, aku ingin merengek karena keadaanku yang menyedihkan ini ...



Saat aku menundukkan kepala dalam kekecewaan, Yuigahama berjalan ke mejaku dan menepuk bahuku. "Kamu bisa melakukannya! Jangan khawatir, kita pasti akan berhasil! Aku akan melakukan pekerjaanku di sini bersamamu!”



Mengatakan hal seperti itu dalam situasi seperti ini, seakan-akan seperti kau sedang memantau aku di sini ...



Aku biasanya akan menolak melakukan pekerjaan jika berada di bawah pengawasan seseorang, tapi situasinya sudah separah ini. Mengawasi aku agar tetap berada di tempat, adalah satu-satunya cara untuk menjaga aku dari melalaikan tugas. Yahh, andaikan saja ini adalah suatu pekerjaan paruh waktu, aku pasti sudah mengabaikan tanggung jawabku. Tapi setelah melihat wajah Isshiki kemarin, dan Yuigahama menontonku hari ini, aku harus menyelesaikan pekerjaan ini. Anak laki-laki, seperti yang kalian ketahui, adalah makhluk yang agak keras kepala ...



Aku termotivasi lagi dan kembali menghadapi naskahku. Aku memindahkan kursor ke titik yang tadi kutinggalkan dan melanjutkan progres terakhirku. Setelah berusaha keras mengetik beberapa baris kata, lagi-lagi aku diserang oleh keputus-asaan. Seakan-akan mataku terbakar ketika setiap kali aku melihat spasi kata pada laptop. Kenyataan melihat langsung padaku dan mengatakan bahwa aku tidak akan menghasilkan apa-apa, tak peduli seberapa lama waktu yang kuhabiskan.



Dalam satu hari, aku hanya berhasil menyelesaikan sedikit kurang dari 20%. Masih tersisa sekitar 80% lagi, dan menyelesaikan semua itu dalam beberapa jam ke depan secara fisik adalah suatu hal yang mustahil. Jika aku, entah bagaimana caranya, berhasil menyelesaikannya tepat waktu, hukum alam semesta akan rusak![8]



Ugh ... Seakan-akan aku kewalahan oleh kenyataan. Aku mendengarkan suara selain bunyi tombol-tombol laptopku. Aku menoleh ke arah Yuigahama, dan dia menggunakan kalkulator dengan bolpoinnya.



"... Apa yang kau lakukan?" tanyaku.



Yuigahama menempatkan penanya di belakang telinga dan menatapku. ”Hm? Oh, umm, aku sedang menghitung berapa banyak uang yang digunakan selama ini. Tampaknya agak aneh ketika aku melirik laporannya.”



"Bagaimanapun juga, Isshiki memang jenis orang yang ceroboh dalam hal matematika ..."



"Ahh, itu benar ... Yahh, itulah kenapa Yukinon atau aku membantunya!" kata Yuigahama kata sambil  tersenyum kecut. Dia hampir miirp seperti seorang kakak. Aku yakin bahwa dia memperlakukan Isshiki dengan baik sebagai seorang junior.



Satu-satunya masalah adalah, si junior yang imut tersebut tidak akan menghadirkan apa-apa selain masalah pada seniornya. Sebenarnya, alasan di balik kunjungan pertamanya ke ruang klub adalah suatu hal yang cukup keterlaluan ...



Namun, kenyataannya kami selalu mengerjakan permintaannya.



Seseorang akan membuat suatu kebohongan besar. Kemudian, kebohongan tersebut akan berubah menjadi sesuatu yang nyata, dan menyebabkan datangnya pekerjaan. Dalam masyarakat, pembohong besar seperti itu juga dikenal sebagai produser. Jadi dalam artian itu, Isshiki memiliki kualitas sebagai seorang produser. Contohnya dalam permintaannya kali ini, Yukinoshita akan menjadi sesuatu seperti direktur sementara Yuigahama akan menjadi AD. Mengenai posisiku saat ini, seperti biasa, aku hanyalah seorang budak perusahaan subkontrak kelas rendahan.



Sembari menggerutu, aku menghadapi komputer lagi untuk melakukan pekerjaanku. Tapi aku sudah tidak lagi berada dalam lingkaran-setan-menulis-dan-menghapus-baris, jadi aku sudah menyelesaikan banyak bagian.



Pada kondisi tertentu, rasanya seperti, aku menghabiskan lebih banyak waktu untuk melihat ke luar jendela, pada matahari terbenam atau bahkan menatap jam meja. Aku lebih sering melakukannya daripada menonton layar laptopku.



Berlalunya waktu saja sudah cukup untuk membuat pikiranmu tertekan. Tanpa sadar, aku menghembuskan napas dalam-dalam. Aku juga merasakan dampak kelelahan akibat duduk dan menghadapi komputer dalam waktu yang lama.



"Kamu baik-baik saja, Hikki?"



Yuigahama bangkit dari tempat duduknya, setelah mendengar desahan keras dariku. Dia mengambil beberapa langkah menuju ke arahku, kemudian berdiri di sisiku. Lantas dia melihat ke wajahku dengan tatapan penuh keprihatinan.



Dia begitu dekat, sehingga jika aku membentangkan tanganku, aku mungkin bisa menyentuh wajahnya. Kami bahkan bisa mendengar suara napas masing-masing. Kami begitu dekat, bahkan tatapan mata kami saling bertemu. Itu adalah keadaan yang memalukan, dan itu menyebabkan aku berpura-pura menggertakkan leherku dan berpaling.



"Jadwal ini tidak tampak terlalu bagus pada tingkat ini ..." gerutuku dan aku mencoba untuk melewati saat-saat penuh kecanggungan tersebut. Kemudian, kedua bahuku tiba-tiba lebih berat.



"Jika kita tidak berhasil tepat waktu, maka kita akan gagal."



Ketika aku menoleh ke arah lain, Yuigahama mengistirahatkan tangan kecilnya di pundakku. Jari rampingnya melengkung dan membentuk suatu kepalan tangan untuk mencengkeram blazer-ku di bagian bahu.



"Aku akan meminta maaf bersama-sama denganmu, dan aku yakin Iroha-chan juga akan memahaminya. Sejak awal, ini adalah suatu permintaan yang tidak masuk akal.”



"Benar, ini tidak masuk akal."



Ketika aku berbicara, aku menggeliatkan tubuhku untuk melepaskan diri dari cengkraman tangannya, tapi dia tidak membiarkan aku pergi. Akhirnya, ia mulai memukul-mukul bahuku dengan ringan pada interval pendek.



"Bukannya ini salahmu, Hikki. Bahkan jika kau menyerah sekarang, tidak akan ada yang menyalahkanmu. Dan ini sebenarnya bukanlah suatu hal yang harus kita selesaikan.”



Kata-katanya sedikit tak terduga. Itu karena Yuigahama tidak pernah mengutarakan penolakannya dengan jelas. Yang dia lakukan selama ini hanyalah menerima semua permintaan yang ditujukan pada Klub Relawan bersama kami.



Dengan perasaan bingung, aku berbalik dan melihat Yuigahama memberikan suatu senyum lemah.



"... Aku tidak terlalu suka melihatmu kesusahan, Hikki."



"Mengatakan hal seperti itu, tidaklah adil."



Meskipun aku meledeknya, aku tahu bahwa aku mengucapkannya dengan nada yang begitu lembut. Mungkin itu karena kelelahan yang menumpuk di tubuhku. Mendengar sesuatu seperti itu, sembari mendapatkan pijatan lembut pada bahuku, semua itu menyebabkan bahuku menjadi santai.



Secara bersamaan, aku menegangkan bahuku lagi.



Untuk seorang gadis luar biasa yang memberikan perkataan semacam itu padaku, ini bukanlah waktu untuk menyerah dan melarikan diri dari kenyataan. Justru ketika diberi kata-kata yang baik dan manis seperti itu, kau tidak boleh terlena dan tidak boleh mengandalkannya. Itu malah membuatku sanggup melenyapkan semua perasaan ingin menyerah. Tidak peduli seberapa konyol keadaannya atau betapa sulit masalahnya, adalah suatu hal yang memalukan jika aku menyerah di sini.



"Kau pikir begitu ...?" Yuigahama menghentikan pukulannya. Dia perlahan-lahan mengangkat tangannya yang tadinya diistirahatkan di pundakku.



"Oh, eh, itu lebih mirip suatu kiasan."



Aku memilih kata-kata yang salah ketika aku menghadapi seorang gadis yang secara tidak adil mengkhawatirkan aku. Aku memutar kursiku dan membalik tubuhku untuk menghadap Yuigahama. Aku duduk di sana sembari menggali beberapa kata yang tepat untuk berbicara padanya. Namun, Yuigahama tidak memberiku waktu dan hanya mengangguk.



"... Ya, aku pikir, aku tidak adil!" kata Yuigahama. Suaranya terdengar ceria dan seolah-olah dia yakin akan sesuatu.



Aku tidak begitu paham tentang makna di balik responnya itu, tapi aku ingin mendapatkan nuansa yang tepat untuk mencapainya dan aku pun membuka mulutku.



"Aku tidak bermaksud seperti itu, tapi eh, dalam maksud yang baik ..."



Namun, Yuigahama menggeleng dan menyela. ”Aku pikir ... Aku benar-benar tidak adil ... Ini karena aku tidak pernah dapat menghentikanmu atau bahkan membantumu. Dan juga ... untuk banyak hal lainnya.”



Perkataan Yuigahama bercampur aduk. Mungkin itu karena dia mencoba untuk berpikir saat dia berbicara. Tapi karena itulah, aku berpikir bahwa kata-katanya murni berasal dari lubuk hatinya yang terdalam. Pada saat yang sama, ia tertawa untuk menyembunyikan rasa malunya, atau menggumamkan kata-katanya untuk berpaling. Aku yakin bahwa dia ingin mengelak.



Namun demikian, dia menatap lurus ke arahku, seolah-olah ingin menceritakan semuanya.



"Itu sebabnya ... Itu sebabnya, ketika sesuatu seperti ini terulang lagi, aku akan pastikan untuk melakukannya."



Ekspresinya terkesan tulus dan kata-katanya terdengar pelan tapi berkelok. Semua itu dijiwainya dengan rasa realitas tetapi juga ambiguitas yang kosong. Akhirnya, semua orang juga pasti akan melakukannya. Mereka harus mengatakannya, bahkan jika mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan atau apakah mereka bisa mengerjakannya. Aku yakin bahwa itu adalah sesuatu yang semua orang pikirkan, bahkan jika terkesan samar-samar.



Aku, tentu saja, tidak terkecuali. Itulah sebabnya, untuk saat ini, aku perlu melakukan hal-hal yang benar di depan mataku. Aku memutar kursi dan menghadapi komputer lagi.



"Itu bukan masalah besar. Aku lah yang selalu melakukannya dengan egois. Kau tidak bersalah karena tidak bisa menghentikanku. Adapun yang perlu disalahkan, adalah orang-orang yang membuat janji tanpa pikir panjang ... Itulah sebabnya, eh ... aku akan melihat apa yang bisa aku lakukan.”



"... Oh ... Oke, mari kita melakukan yang terbaik!" kata Yuigahama, suaranya hidup, dan dia memberi aku dorongan yang kuat.



× × ×



Tidak tidak! Aku ingin pulang! Aku tidak tahu lagi! Lupakan mengirimkan draft dan pengoreksian itu! Aku bosan dibayang-bayangi deadline dan dipenjara di dalam ruangan ini! Aku tidak ingin mengerjakan atau meulis manuskrip lagi!



Aku berteriak sekuat tenaga dan merebahkan diriku di atas meja. Sekarang, aku hanyalah satu-satunya orang di ruang OSIS. Aku menjerit sebanyak sampai puas.



Aku menyerahkan cetakan data pada Yuigahama di tengah-tengah kerjaanku, dan dia pergi untuk memberikannya kepada Yukinoshita. Ketika dia pergi, aku melemaskan konsentrasiku.



Nah lihat, entah bagaimana caranya, tapi aku berhasil menyelesaikan 80% dari kolomnya. Aku menerima suatu motivasi dari Yuigahama, jadi aku pikir, aku telah melakukan beberapa pekerjaan yang cukup baik. Mengingat aku orangnya seperti ini, itu adalah hal yang luar biasa.



Tapi untuk dua puluh persen sisanya, tidak, suatu kalimat berharga masuk ke pikiranku, dan aku berakhir dengan menatap langit-langit sambil menyandarkan punggungku terhadap kursi. Ahh, apakah tidak bisa seorang Illuminati* datang ke sini? Aku benar-benar ingin bebas dari pekerjaan ini selamanya, kumohon.

[Hmm, Ciu gak yakin sama apa yang Hachiman maksud dengan Illuminati. Namun, secara kosakata, Illuminati adalah seseorang yang mengklaim dirinya memiliki pencerahan atau pengetahuan khusus, Kamus Oxford. Mungkin juga, yang dimaksudkannya adalah Illuminati penyembah setan. Sapa tahu.]



Aku, sekali, berpikir bahwa konsentrasi adalah hal yang spontan dan bukan hal yang terus-menerus. Bukannya melakukan semua pekerjaan semalaman selama beberapa hari, di mana kau tidak akan membuat banyak progres, yang lebih penting adalah melakukannya dengan cara yang sistematis dan teratur. Padahal, semua itu tidak benar-benar dipermasalahkan ketika kau menyadari bahwa deadline sudah di depan mata. Ini seperti hari-hari sebelumnya ujian, serius deh.



Aku terus menatap langit-langit tanpa daya layaknya baterai yang mati. Dan ada yang mengetuk pintu. Dengan tidak ada energi cadangan untuk menjawab, aku hanya menggerakkan mataku pada pintu, dan orang itu masuk ke ruang tanpa dipersilahkan.



"Selesai?"



Orang yang datang, kemudian bertanya, dengan tas di bahunya itu adalah Yukinoshita.



"... Jika aku sudah selesai, aku sudah memberi tahu dirimu."



"Itu memang benar," kata Yukinoshita dengan setuju. Lalu, dia berjalan di sampingku dan mengambil cetakan yang ditandai merah dari tasnya.



"Ini yang sebelumnya. Ada kalimat yang belum selesai di paruh kedua.”



"B-Baik."



Aku mengambil cetakan darinya dan melakukan pembacaan cepat. Di samping beberapa kalimat yang belum selesai, aku juga menemukan beberapa kesalahan. Aku memperbarui naskah tersebut dengan perbaikan, dan aku masih bisa merasakan kehadiran gadis itu di sebelahku.



"... Apakah kamu butuh sesuatu?"



"Ah, tidak ada ... Aku tidak membutuhkan sesuatu secara khusu."



Yukinoshita terdengar bingung ketika dia berbicara. Dia dengan tenang menyilangkan tangannya di belakang badannya. Kemudian dia mengambil langkah mundur dan mengeluarkan kursi yang ada di sampingku. Setelah beberapa saat merogoh-rogoh tasnya, ia akhirnya mengambil file yang jelas dan mulai mengerjakan sesuatu.



Sepertinya Yukinoshita datang ke sini untuk bekerja serta mengawasi aku. Fakta bahwa dia sudah di sini, berarti kita berada di batas akhir sebelum deadline.



Tertekan atau tidak, aku sudah tahu kengerian deadline.



Setelah aku selesai membuat revisi pada naskah cetakan yang aku terima darinya tadi, aku menggulir layar laptop ke bawah untuk menyelesaikan 20% sisa pekerjaan.



Hanya beberapa ratus kata lagi.



Jika aku bisa menuliskan banyak kata, aku bisa mengisi semua ruang pada halaman ini.



Aku bisa melakukannya, tapi jika aku menghasilkan sesuatu yang sangat jelek, satu-satunya orang yang menjadi sasaran protes adalah si Kepala Editor, Isshiki. Aku bukanlah seorang pria yang menyelesaikan pekerjaannya asal-asalan kemudian menyerahkannya pada atasan. Itu hanya akan memberi beban pada Isshiki.



Untuk menghindari itu, aku perlu menghasilkan sesuatu yang berkualitas. Sebaliknya, jika aku mengajukan sesuatu yang buruk, pertama dan terutama, Editor Yukinoshita serta Kepala Editor Isshiki akan memberitahu aku untuk memperbaiki kembali naskahnya. Jika aku harus merevisi semua hasil kerjaku, sama saja artinya dengan kerja dari awal lagi.



Aku mengumpulkan apa yang tersisa dari tekadku dan terus mengetuk-ngetuk keyboard. Tampilan digital di bagian bawah layar akan tercentang, menit demi menit, dan ruang kosong akan terisi, baris demi baris.



Tak lama, tanganku berhenti di tempat, tidak bergerak satu inci pun. Tanpa sadar, aku menyatakan sesuatu dengan suara kecil.



"... Ini berakhir."



"Oh, benarkah?"



Rupanya dia mendengar suaraku, Yukinoshita memasang wajah gembira dan hendak berdiri dari tempat duduknya. Aku mengangkat tangan untuk menghentikannya Aku pun meluncurkan tubuhku di atas meja dan tergeletak di sana.



"Ini berakhir, ini semua berakhir. Tidak mungkin, aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa memikirkan apa pun lagi. Aku tidak bisa memikirkan sepatah kata pun ...”



"Jadi itu maksudmu ..." Yukinoshita mendesah dengan heran dan duduk kembali di kursinya. ”Tapi kita tidak bisa menerima itu. Kita hampir tidak memiliki waktu tersisa, kau tahu?”



"Yahh, aku tahu itu, tapi ..."



Aku sangat menyadari itu, aku sudah muak. Tapi otakku tidak dapat berfungsi lagi, tidak peduli seberapa keras aku memerintahnya. Otakku selalu menentang hal-hal yang berbau perbudakan, jadi aku mulai merasa tidak bisa melakukan apa-apa lagi saat ini. Dengan cara yang sama, kau akan memeras handuk basah sampai tetesan air terakhir, namun tak ada satu pun ide datang ke pikiran.



Aku menyandar ke kursi dan menatap langit-langit. Aku kehabisan pilihan ...



Aku meninggalkan tangan yang sudah keriting di atas keyboard, dan tidak memindahkannya sejengkal pun. Dengan tangan seperti itu dan tubuh menghadap ke atas di langit, aku mirip seperti bangkai serangga. Aku tidak lebih dari seekor serangga ... Seekor serangga kecil dan tidak kompeten, bahkan tidak bisa menyelesaikan sesuatu sebelum deadline tiba. Dari sekarang, mari kita sebut diriku Hachiman si Serangga. Dan mari kita menyingkirkan tubuh manusiaku untuk dibuang ke laut ...



Aku menatap langit-langit dengan damai dan Yukinoshita menutupi pemandanganku. Saat ia melihat ke arahku, entah kenapa, wajahnya terlihat begitu gelisah.



"... Ini....ambil."



Ketika Yukinoshita berbicara, dia diam-diam menyodorkan sesuatu yang dibungkus saputangan di dekat dadaku.



Aku mengangkat wajahku dan mengambil objek yang dibungkus tersebut darinya, rasanya sedikit hangat. Itu adalah saputangan yang dihiasi dengan desain cakar kucing imut. Setelah membuka bungkus itu, yang keluar adalah sekaleng MAX COFFEE. Tampaknya dia telah berusaha sebisa mungkin untuk menjaga kaleng tersebut agar tetap hangat.



Melihat itu, aku pun tersenyum.



"Ambil nafas. Kau tidak akan menyelesaikan apa-apa jika kau terus menatap layar sepanjang waktu. Akan lebih baik jika kau beristirahat sejenak,” kata Yukinoshita yang tiba-tiba memalingkan pandangannya. Dia kembali ke tempat duduknya dan kembali ke pekerjaannya.



"Terima kasih ..."



Aku menerima pemberiannya dengan gembira dan memutuskan untuk memanfaatkannya. Aku membuka kaleng MAX COFFEE dan meminumnya sambil melihat wajah Yukinoshita dengan linglung.



Sementara itu, tangan Yukinoshita tidak berhenti. Dia diam, tapi yang terdengar hanyalah suara pena merah menulis di atas kertas. Namun demikian, aku merasa frekuensi suaranya sedikit aneh.



"... Maaf, seburuk itukah?"



"Eh?"



Ketika aku bertanya, Yukinoshita memalingkan wajahnya ke arahku. Kemudian dia menjatuhkan tatapannya kembali ke kertas di tangannya untuk memahami apa yang aku maksud. Dia menggulirkan pena merah, menggerakkan bibir, dan membuka mulutnya.



"... Ada kesalahan, tapi yang paling banyak adalah salah ejaan dan kesalahan ketik. Tidak ada kesalahan yang mencolok, jadi jangan khawatir. Sebaliknya, mereka berdua memiliki kesalahan tulis jauh lebih banyak,”



Yukinoshita mengatakannya dengan nada menggoda dan tertawa. Dengan seperti itu, dia tampak jauh lebih mirip dengan gadis seusianya. Dia tampak seperti seorang gadis kecil yang polos.



"Yah, kau membuat begitu banyak tanda merah, sehingga itu membuatku sedikit khawatir."



"Oh. Kau hanya lupa untuk menambahkan beberapa catatan di dekat kata-kata tersebut, jadi aku hanya menambahkan itu. Aku memberikan revisi sembari aku terus membacanya.”



"Maaf karena telah merepotkanmu."



Aku dengan santai menyatakan itu, tapi Yukinoshita menghentikan tangannya dan dengan lembut menyisihkan pena merah di atas meja. Kemudian dia melemaskan bahunya dengan berputus-asa.



"... Maafkan aku juga. Aku harusnya sudah memeriksa progresmu ketika aku punya kesempatan. Aku harusnya sudah tahu bahwa kau bahkan dapat melakukan kesalahan.”



"Ah, tidak, itu hanya salah perhitungan di bagianku. Sebenarnya, apakah itu semacam sindiran-tingkat-tinggi ...?” aku bertanya padanya.



Yukinoshita tersenyum dan menggeleng. ”Tentunya itu adalah salah satu bagian, tapi ... pada dasarnya itu adalah salah perhitungan dariku juga.”



Jadi kau benar-benar sedang meledek ...



Apapun itu, tidak ada keraguan bahwa kami berdua telah membuat suatu kesalahan. Apakah itu aku, dia, atau diri kami sendiri, kami masih belum memahaminya. Dan itu seperti keadaan langit yang membentang di luar jendela. Langit adalah milik setiap insan masusia. Meskipun kau tidak dapat membedakan antara siang dan malam, namun kau pasti bisa tahu bahwa warna langit sedang berubah, dari saat ke saat.



"Pada akhirnya, akulah orang yang paling tidak bisa melakukan berbagai hal," Yukinoshita bergumam sembari melihat matahari yang tenggelam dan semakin kabur.



"Kau sudah melakukan lebih dari cukup. Tidak seperti Yuigahama dan aku yang pandai dalam hal penjadwalan. Isshiki cukup bagus dalam membual dan menghubungkan berbagai hal, tapi dia bukanlah tipe orang yang sanggup merencanakan sesuatu ...”



Sementara menjawab, aku juga melihat matahari yang terbenam. Apapun itu, kemungkinan warna yang kami berdua lihat adalah berbeda. Merah, merah muda, atau merah tua. Mungkin, merah tua atau bahkan merah gelap. Kemungkinan besar berwarna oranye. Tapi tidak peduli apa warnanya, itu tidak akan menggangguku.



"Jadi, eh ... Kau sudah sangat membantu."



Aku mengalihkan pandanganku dari jendela dan kembali ke pemandangan ruang OSIS.



Cahaya matahari terbenam dituangkan ke dalam ruangan, mewarnainya dengan warna merah. Ketika aku berpaling ke arah Yukinoshita yang berada di sampingku, ekspresi sedihnya sungguh tak dapat kupahami. Tapi telinga dan tengkuk yang terlihat di antara celah rambutnya, tercelup dalam warna merah tua.



"... Jika itu yang kau pikirkan, maka aku juga berharap begitu." Yukinoshita mendesah, dan bergumam dengan suara rendah, seakan tidak memiliki kepercayaan diri, atau mungkin, dia sedang mendongkol.



Namun, paling-paling itu hanya terjadi sekejap. Dia segera mengangkat wajahnya, menepis rambut pada bahunya, dan dengan suaranya yang tidak lebih dingin dari biasanya, dia berkata, ”Aku akan membuat beberapa penyesuaian untuk pekerjaan akhir dan memberimu beberapa waktu tambahan.”



"Ah, t-tentu ... Huh, kau bisa melakukan itu?" tanyaku, tapi Yukinoshita tidak menjawab.



Sebaliknya, dia mulai menekan nomor pada ponselnya.



"... Yuigahama-san? Perubahan rencana. Karena naskahnya tidak selesai tepat waktu, isilah sisanya dengan teks sebanyak yang kau bisa, lantas kirimkan itu. Adapun untuk bagian terakhir, masukkan saja teks tiruan. Kita akan mengoreksi dan merevisinya nanti. Itu saja. Bisakah kau juga memberitahu Isshiki-san tentang hal ini ...? Ya, silakan lakukan.”



Setelah Yukinoshita menutup panggilan teleponnya, dia mengarahkan tatapannya ke arahku seakan mengkonfirmasi bahwa aku telah mendengar semua itu.



"... Apakah itu tidak masalah?"



"Ini hanyalah suatu penanggulangan darurat ketika berbagai hal tidak selesai tepat waktu. Kita sudah memperhitungkan pengeluaran tambahan yang akan datang, dengan melakukan koreksi dalam anggaran, sehingga harusnya tidak ada masalah. Aku takut bahwa kita tidak dapat melakukan pemeriksaan terakhir pada berbagai hal, tapi ... kita tak bisa berbuat banyak dalam situasi ini,” kata Yukinoshita dengan senyuman. Untuk menghadapi kecelakaan yang tak terduga, dia menyiapkan jadwal dengan “peredam” sebagai usaha terakhir.



Syukurlah. Dia salah seorang gadis yang selalu mengatakan betapa lembutnya diriku, tapi siapakah sebenarnya orang yang lembut di sini?



Yah, aku tidak bisa menyangkal bahwa aku adalah seorang pria yang lembut. Tapi kelembutan itu bisa dengan mudah menjadi musuh yang menakutkan. Tapi itulah mengapa, aku ingin dimanjakan seperti ini.



Aku meneguk sisa MAX COFFEE-ku dan dengan tegas meletakkan kaleng tersebut di samping. Suara *klang terdengar ketika kaleng berkontakan dengan meja besi.



"Waktunya untuk menyelesaikan semua ini," kataku, dan menghadapi komputer sekali lagi.



"... Aku mengerti. Kalau begitu, lakukanlah yang terbaik.”



Walaupun dia mengatakan itu dengan suara yang teramat lembut, aku masih bisa mendengarnya.



× × ×



Mungkin karena istirahat sebentar, atau gula dari COFFEE MAX yang memicu otak aku, tapi tanganku terus mengetik, bertujuan untuk mengisi ruang kosong yang tersisa.



Aku terus menulis tanpa mengindahkan waktu, dan sebelum aku menyadarinya, Yuigahama dan Isshiki sudah hadir di ruang OSIS.



Ketiga gadis ini duduk dengan tegang di hadapanku, dan dengan tenang menungguku untuk menyelesaikan pekerjaan sambil menatap diriku.



K-Kalian ini, membuatku lebih sulit untuk menulis ...



Tapi terlepas dari itu, aku menuliskan kalimat demi kalimat, dan akhirnya, sepertinya aku tinggal menyelesaikan yang terakhir. Aku menekan tombol enter, tapi aku tidak segera melepaskan tanganku dari keyboard. Aku membaca ke bawah, baris demi baris. Setelah meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak bisa menulis kalimat lain, aku tahu bahwa naskah akhirnya telah selesai.



"Aku sungguh sudah menyelesaikannya sekarang ..."



Tubuhku segera melemas dan aku jatuh tersandar ke kursi, dengan tangan menggantung di sisi. Aku menghela napas dengan hati yang tentram dan Yukinoshita menghampiri tempat dudukku.



"Bolehkah aku melihatnya?"



"... Ya."



Aku mendorong layar laptop ke arahnya dan Yukinoshita memeriksa pekerjaanku. Yuigahama dan Isshiki menyaksikannya dengan ketakutan. Sebaliknya, aku sama sekali tidak ambil pusing. Bagaimanapun juga, aku sudah bebas! Apa itu deadline? Aku tidak tahu apa-apa tentang itu! Fuhaha! Aku sudah lepas! Aku menahan keinginan untuk berteriak tepat di ujung paru-paruku dan dengan sabar menunggu Yukinoshita menyelesaikan pemeriksaannya.



Dan setelah beberapa waktu, Yukinoshita mengangkat wajahnya dari layar komputer. ”... Tidak ada masalah yang ditemukan. Isshiki-san, silahkan cek lagi.”



"Y-Ya!"



Berikutnya, Isshiki mulai memeriksa juga, tapi fakta bahwa aku sudah lulus dari inspeksi Yukinoshita, berarti seharusnya tidak ada masalah lagi. Jadi, artinya adalah, pekerjaanku sudah usai. Oh ya ampun, dunia dengan adanya deadline adalah dunia yang terhebat!



Ketika aku sedang mabuk dalam rasa kebebasan, Yuigahama dan Yukinoshita berbicara kepadaku.



"Kerja bagus, Hikki."



"... Kerja bagus hari ini."



"Ahh, kalian juga. Maaf karena telah menunda berbagai hal.”



Astaga, ketika merasakan semua kebebasan ini, hampir saja aku berpikir bahwa aku sendirilah yang telah menyelesaikan semua ini. Tapi kali ini, ini semua berkat kalian bertiga yang mengawasi aku dan menahan aku agar tidak melarikan diri di tengah-tengah pekerjaan.



Jika aku berpikir tentang hal itu, euforia yang aku alami ini disebabkan karena aku diawasi oleh beberapa orang.



... Jadi pada dasarnya, itu berarti editor dan deadline adalah dua hal yang mirip seperti obat-obatan berbahaya. Dua hal itu perlu diatur dalam suatu peraturan resmi. DEADLINE, KATAKAN TIDAK![9]



"Aku sudah selesai memeriksa. Tidak ada masalah di sini,” kata Isshiki sambil menutup laptop.



Yukinoshita kembali mengangguk. ”Kita telah berhasil menyelesaikan tepat waktu, jadi mengapa kita tidak bersantai sambil minum secangkir teh di ruang klub?”



"Sebaiknya kita merayakannya!"



"Aku setuju!"



Yuigahama dan Isshiki menanggapi dengan antusiasme. Namun, Yukinoshita memberi Isshiki suatu tatapan yang dingin.



"Kau perlu melakukan pemeriksaan terakhir pada segala sesuatu. Setelah itu, biarkan Hiratsuka-sensei melihatnya juga. Itu adalah tugasmu sebagai Kepala Editor.”



"Aww."



Melihat Isshiki mengeluh, alis Yukinoshita pun berkedut. Menyadari itu, Yuigahama datang untuk menengahi mereka berdua. ”Sudah, sudah, kita masih akan berada di sekitar sini, jadi mampirlah ke tempat kami setelah kau menyelesaikan itu.”



"Uuuugh ... Ya mbak. Aku akan menyelesaikan semuanya dalam sekejap dan menuju ke sana.”



Isshiki mencengkeram pena merahnya bahkan sebelum ia mengakhiri kalimatnya. Dia mulai meninjau segala sesuatu dengan mata yang bulat seperti piring. Kami menyaksikan dia dengan lirikan, sembari bergerak menuju ke luar ruangan.



Dalam perjalanan ke ruang klub, Yukinoshita mendesah sebentar. ”... harusnya Isshiki-san termotivasi seperti itu sejak awal.”



"Iroha-chan dapat melakukannya jika dia mencoba."



"Ya, kau mengerti orang-orang seperti itu. Orang-orang yang tidak melakukan apa-apa kecuali mundur ke sudut,” kataku sembari memberikan senyum pahit pada perkataan Yuigahama.



Kemudian, Yukinoshita memberikan senyum menggoda dan menatapku.”Oh, siapakah yang kau bicarakan itu?”



"Aku sedang berbicara secara umum."



× × ×



Sepertinya alat pemanas di Klub Relawan yang sudah diperbaiki datang kemarin. Sekarang ruangannya benar-benar hangat dan nyaman, tidak seperti beberapa hari yang lalu.



Aku tidak bilang ruang OSIS bukanlah ruang yang nyaman, tapi pada akhirnya, aku merasa jauh lebih nyaman jika berada di ruang klub ini. Maksudku bukan pada tingkatan emosional, tapi pada tingkat yang lebih naluriah. Rasanya seperti berada di wilayahmu sendiri. Dan ketika kau menghuni suatu tempat selama hampir setahun, bahkan anjing dan kucing sekalipun akan mulai memperlakukannya sebagai wilayah mereka sendiri. Begitupun denganku.



Tapi ruang klub yang membuatku nyaman ini, sekarang tampak agak berantakan karena semua pekerjaan yang kami telah lakukan untuk membuat koran gratis beberapa hari terakhir.



Sementara Yukinoshita menyiapkan teh, Yuigahama dan aku memutuskan untuk membersihkan ruangan.



Kami mengumpulkan dokumen dan melemparkannya pergi. Setelah menghabiskan beberapa waktu untuk menyelesaikan itu, kami duduk di kursi masing-masing dengan lelah. Ketika Yuigahama mengeluarkan suara "ah." aku berbalik untuk menengoknya, dan dia memegang kamera yang telah kami gunakan ketika mewawancarai semua klub.



"Hei, kita harus mengambil gambar. Suatu gambar Klub Relawan!” kata Yuigahama.



Alis Yukinoshita berkerut. Melihat itu, Yuigahama memiringkan kepalanya dengan penuh rasa ingin tahu. Yukinoshita pun menggeleng, dan itu menyebabkan Yuigahama memiringkan kepalanya ke arah yang berlawanan.



Keduanya terlibat dalam suatu dialog tanpa perkataan, dan hanya menggunakan ekspresi wajah. Itu terjadi sampai pintu ruang klub terbuka dengan berisik.



"Aku sudah selesai menaklukan si penghisap rokok itu!"



Issihiki datang sembari berbicara. Eh, kau benar-benar tidak perlu mengatakan "menaklukan ..." Ketika ia melihat kamera di tangan Yuigahama, dia melepaskan suara mengejutkan.



"Oh, jadi di sini ya kamera milik OSIS itu. Apakah kau masih perlu menggunakannya?”



"Sepertinya dia akan mengambil gambar Klub Relawan," jawab Yukinoshita yang terdengar seperti orang asing. Mmhmm, kau benar-benar anggota klub juga, lho ... Bahkan, kau adalah ketua klubnya, lho?



"Oh, aku bisa mengambilkan gambar untukmu."



"Iroha-chan, kau harus dipotret bersama kami juga."



"Ya, tentu saja, setelahnya kita bisa ...! Tapi pertama-tama, mari kami mengambil gambar semua anggota Klub Relawan.”



Isshiki dengan tegas menolaknya sambil tersenyum, dan mengulurkan tangannya pada Yuigahama. Dia mungkin bertindak perhatian dengan caranya sendiri. Menyadari niatnya, Yuigahama menyerahkan kameranya.



"Benarkah? Terima kasih banyak. Kalau begitu, aku serahkan padamu! Mari kami semua bersama-sama mengambil gambar setelahnya!”



"Um, aku belum mengatakan apapun tentang mengambil gambar ..."



"Yukinon, kau terlalu keras kepala." Yuigahama menyatakan itu dengan terus terang dan Yukinoshita tergagap. Nah, apapun itu, pada akhirnya mungkin dia akan menyerah dan membiarkan dirinya dipotret ... Bertindak sedikit keras kepala tidak akan mengubah apa pun, begitupun denganku.



Namun, aku ingat suatu masalah yang keras dengan kamera.



"... Aku tidak begitu peduli, tapi kartu memorinya sudah penuh, lho."



"Oh, itu benar. Itu karena senpai mengambil begitu banyak foto dari Klub tenis.”



"Apa sebenarnya yang kau foto sehingga menghabiskan begitu banyak memori ...?"



Yukinoshita menanyakan itu dengan heran, sementara Yuigahama masih memikirkannya sembari membuat anggukan besar.



"Klub tenis ... Jadi Sai-chan, ya ...? Apa boleh buat.”



"Yui-senpai, kau benar-benar tidak mempermasalahkan hal itu!?"



Jadi, dia pun akhirnya menyerah ... Tidak, ada kemungkinan kecil bahwa dia mengakui itu ... Atau, paling tidak seperti itulah yang kupikirkan, sampai akhirnya Isshiki menepuk tangan dan memasukan kamera tersebut ke dalam saku blazernya.



"Jika tidak ada memori, kalau begitu, bagaimana dengan smartphone ini?" dia bertanya, dan menyuguhkan smartphone itu padaku. Omong-omong, hari ini dia masih menyita ponselku.



"Ahh, baiklah, masih ada sisa memori di ponsel itu, jadi aku tidak keberatan."



"Oke, kalau begitu kita akan menggunakan ini," kata Isshiki sambil mengedipkan mata dan segera menyiapkan ponsel itu. Ini mungkin juga sudah dipertimbangkan oleh Isshiki. Jujur, aku sama sekali tidak memahami gadis ini ...



"Umm, senpai oke, Kau tetap duduk di sana. Yui-senpai dan Yukinoshita-senpai harus berdiri di belakangnya senpai.”



"Okaaay!"



"U-Um ... Ya ampun ..."



Isshiki memberikan mereka instruksi, Yuigahama meraih lengan Yukinoshita yang masih terlihat enggan. Dan akhirnya, Yukinoshita menurutinya. Kemudian keduanya berdiri bersama-sama di belakangku ... Di belakang aku?



"... Hah? Tunggu sebentar? Bukankah pengaturan ini agak sedikit aneh? Bukankah ini seperti salah satu foto-keluarga-beranjak-dewasa? Mungkin kalian berdua harus mundur sedikit lebih jauh?”



Adapun, kalian berdua terlalu dekat! Terlalu dekat, kataku! Maksudku, boleh-boleh saja jika kita mengambil gambar bersama-sama, tetapi, berada pada posisi yang begitu dekat dengan kalian berdua benar-benar membuatku gugup. Jadi, hentikan ini segera!



Kursi membuat suara berisik ketika aku mencoba untuk bangun membuat jarak, tapi kedua bahuku ditekan dan aku pun terpaksa duduk kembali. Aku mendongak dan Yukinoshita menatapku dengan senyum manis dan dingin.



"Hikigaya-kun, kau sangat keras kepala."



"Itu adalah kau ..."



"Iroha-chan, kami sudah siap sekarang."



Yuigahama bahkan menekan bahuku lebih kencang dan memanggil Isshiki.



"Oke, ini dia. Katakanlah cheeeeese.”



Ada beberapa kilatan cahaya yang terjadi hampir bersamaan dengan suara jepretan shutter. Ahh, aku pasti membuat wajah yang lucu ... Pasti gambarnya akan terlihat seperti foto-keluarga-beranjak-dewasa....



Saat aku duduk di sana sembari merasa sedih, Isshiki mendekatiku dan menyerahkan kembali smartphone-ku.



"Ini dia, senpai ... Ini adalah gambar yang bagus," kata Isshiki sambil memberikan senyum yang sedikit terkesan dewasa. Aku tidak mau repot-repot mencoba untuk bertanya tentang apa maksudnya dia melakukan ini. Karena aku yakin maksud Isshiki sama seperti apa yang dia katakan tadi.



"Hikki, dapatkah kau mengirimkan gambarnya padaku? Oh, sebenarnya, Iroha-chan, mari kita mengambil gambar bersama-sama!”



"Okaaaay! Tolong ambil gaaaambarnya, senpai.” Isshiki dengan ringan menepuk bahuku, lantas bergegas menuju Yuigahama dan Yukinoshita.



"Aku lebih suka tidak melakukannya..."



"Aku berkata tidak. Kita semua akan mengambil gambar!”



"Bagaimana seharusnya kita mengatur diri?"



Ketika mereka bertiga berpikir tentang pengaturan posisi untuk gambar, aku diam-diam menatap ponselku. Layarnya menampilkan foto Klub Relawan yang diambil beberapa saat yang lalu.



... Dia benar, itu tidak seburuk yang kupikirkan. Tidak terlihat seperti foto-keluarga-beranjak-dewasa.



Dan juga, sebelumnya aku tidak tahu apa yang harus kutulis jika ditanya tentang: apakah Klub Relawan itu atau seperti apakah kami. Namun sepertinya, aku bisa melakukan itu sekarang. Itulah sebabnya gambar ini tidak seburuk yang kupikirkan.



Aku masih tidak tahu harus kupanggil apa klub ini atau bagaimana cara mendefinisikannya. Tapi aku yakin bahwa ada sesuatu yang bisa kami bagi pada orang lain, walaupun kami tak tahu identitas kami sendiri. Jika kami memiliki kata-kata, kemungkinan kami akan mencoba untuk menjaga wujud kami sembari mengukuhkan perasaan serba salah ini bersama-sama.



"Hikki, ambil gambarnya!"



"... aku mengerti."



Aku berdiri setelah Yuigahama berteriak. Aku mengarahkan kamera smartphone-ku pada gadis-gadis itu dan memposisikannya.



Seperti biasa, Yuigahama menampilkan senyumnya yang enerjik dan cerah.



Isshiki menampilkan wajah-model-kelas-wahid-nya.



Dan yang terakhir, dipeluk erat dari kedua sisi, Yukinoshita, meskipun terlihat sedikit jengkel, memerah karena malu.



Berapa lama lagi kami bisa terus menjalani hari-hari normal yang penuh dengan hal sepele seperti ini?



Rasa sakit dan rasa nostalgia macam apa yang tersimpan pada foto ini, ketika kami melihatnya nanti di saat kami sudah tua?



Sembari memikirkan semua itu, aku pun menekan shutter.


Catatan Kaki

1. Economy Hotel Place 21.

2. Lagu penutup Manga Nippon Mukashibanashi.

3. Flower Knight Girl - Bagian dari permainan ini adalah membuat komentar yang akan membuat orang menghabiskan uang mereka (dalam game) atau sejenisnya.

4. Yumekui Merry - Slogan Merry, juga memiliki Seiyuu yang sama.

5. Suatu referensi untuk Sekai no Omanko (NSFW).

6. Saikano

7. Chiyonofuji Mitsugu - Seorang pegulat sumo yang pensiun.

8. Final Fantasy V - Exdeath.

9. Slogan anti-narkoba di Jepang. Setara akan D.A.R.E atau KATAKAN TIDAK.

Oregairu Jilid 10.5 Bab 3 Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.