01 Agustus 2015

Oregairu Jilid 10.5 Bab 2 Bahasa Indonesia

Jilid 10.5 Bab 2
Pasti, Isshiki Iroha terbuat dari Gula, rempah-rempah, dan sesuatu yang menyenangkan

Pemanas mengeluarkan suara *klong dan *klong.



Pemanas yang dipasang di ruang klub sudah sering terpakai. Karena sudah beroperasi begitu lama, itu tampaknya mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Entah kipasnya macet, motornya bermasalah, atau bingkainya bengkok.




Sekitar waktu senja hari sepulang sekolah, pemanas kecil kami mulai membuat suara aneh seakan-akan mengumumkan usainya kegiatan klub.



Aku tidak begitu memperdulikannya karena dari tadi aku fokus membaca dan mendengarkan Yuigahama-Yukinoshita mengobrol. Meskipun mereka berhenti dengan seketika, kebisingannya masih terdengar.



Yukinoshita yang dari tadi menatap ke arah buku sakunya, berhenti membalikkan halaman dan melihat pemanas di dekat jendela. Suara yang sama rupanya juga mengganggu dia.



"... Ini adalah hari yang cukup damai, bukan?"



"Aku juga tahu, kan? Hari ini agak santai.”



Yuigahama mengulurkan tangannya, yang dari tadi mengutak-atik ponselnya, ke arah mug miliknya. Aku juga sama, aku meraih cangkir dan meneguk teh yang tidak lagi hangat.



Setelah kami berdua bernapas dalam kepuasan, suara *klong yang memenuhi ruangan kini mulai menenang. Bahkan Yuigahama akhirnya memperhatikan pemanasnya dan melihat benda itu.



Kami tidak benar-benar menyadari suara *klong dari pemanas yang terus-menerus beberapa hari terakhir. Mungkin ini karena Isshiki yang baru-baru ini sering ikutan nongkrong di ruangan ini.



Tentu saja, bukan karena dia mengganggu atau mengoceh dengan suara keras, tapi perhatian kami secara alami bergeser ke sesuatu yang lain ketika dia tidak berada di ruangan ini. Dan setiap kali Isshiki mengunjungi kami, dia membawa beberapa jenis permintaan yang gak mutu, sehingga suasana pun menjadi sibuk.



Itulah mengapa aku bilang bahwa hari ini cukup damai.



Saat memanjakan diriku sendiri dengan meminum teh hangat dan memakan manisan, aku akan membaca buku dengan pikiran kosong sembari mendengarkan suara ceria dan suara tenang yang terus bergantian. Sesekali, aku ikut-ikutan.



Tidak ada pengunjung, tidak ada pekerjaan, hanya ada suasana yang mellow. Jika hari-hari seperti ini terus terjadi di sepanjang hidupmu, maka sepertinya kau akan mengalami kehidupan yang sepele. Tetapi meskipun demikian, waktu ini tetaplah terasa begitu berharga karena sudah lama tidak kurasakan. Karena itu, suara *klong dari pemanas yang terus-menerus hanya terdengar seperti suara pancaran air dari shower di sore hari, dipenuhi dengan irama dengan keanggunan.



Aku menutup buku dan melihat ke arah jendela sambil mendengarkan suara dari pemanas.



Aku menatap matahari terbenam dengan pikiran kosong dan Yukinoshita pun berbicara.



"Haruskah kita menyudahi kegiatan klub untuk hari ini?"



"Oh ya, sepertinya tidak ada seorang pun yang datang, kok," jawab Yuigahama. Dia mengambil kue terakhir, kemudian pergi,”Kue terakhir ini milikku!" dan dia pun menyikat habis semua kue teh.



Yukinoshita dan aku segera bersiap-siap untuk pulang sembari memeriksa apakah pintu telah terkunci dengan benar. Setelah memeriksa bahwa jendela juga telah terkunci dengan baik, aku pun mematikan pemanas.



"Terimakasih untuk hari ini," kataku, dan membalik saklar. Setelah mematikannya, suara *klong pun berhenti. Mengingat musim dingin akan berlanjut sedikit lebih lama, mungkin tidak ada salahnya untuk meminta Hiratsuka-sensei melihat apakah pemanasnya bisa diperiksa dan diperbaiki.



Setelah memasang mantel dan syal, kami keluar ke lorong. Yukinoshita mengunci pintu ruangan.



Dengan ini, jam kerja hari ini pun berakhir.



Sekarang, semua pekerjaan telah usai, kami hanya perlu menuju ke rumah masing-masing. Ketika kami berjalan menyusuri lorong gedung khusus untuk menjauh dari ruang klub, Yuigahama menggigil dan membenarkan mantel depannya. ”... Astaga! Lorongnya membeku!”



Kekosongan lorong itu bukan alasan mengapa rasanya begitu dingin. Seakan-akan, hawa dingin merangkak ke atas mulai dari kakiku. Aku meremas syal dan memperketatnya.



"Aku kira, kita menyadari hawa dingin ini hanya karena kita baru saja keluar dari ruangan yang hangat."



"Bagaimanapun juga, lorongnya tidak terpasang alat pemanas,." Yukinoshita menderap ke depan seolah-olah mengatakan pada Yuigahama untuk menghadapinya. Yuigahama berjalan di sampingnya sembari memasang wajah merenung dan menggosok syal-nya.



"Mmm ... Oh, aku tahu!" katanya, dan kemudian memeluk lengan Yukinoshita.”Pasti sedikit lebih hangat jika aku melakukan ini!”



"Y-Yuigahama-san, tunggu sebentar." Yukinoshita terhuyung, menajamkan suaranya dan memasang tatapan mata yang menentang. Tapi setelah dia melihat wajah Yuigahama yang penuh kasih sayang, dia mendesah dan menyerah pada keadaan tersebut.



"... Ooooh, begitu hangat."



"Sulit untuk berjalan ..."



Sebenarnya, suhu mereka seharusnya tidak jauh berbeda, tapi tampaknya indeks panas tubuh merekalah yang menjadikan hangat. Hanya melihat mereka berdua saja sudah cukup untuk menghangatkanku!



Bahkan setelah Yukinoshita telah mengembalikan kunci ke kantor guru, Yuigahama terus saja menempel pada dirinya.



Aku mengikuti dua gadis yang saling melilit satu sama lain tersebut dan berjalan melalui lorong yang menuju pintu masuk. Di perjalanan, wajah yang kukenal muncul dari dalam ruang OSIS.



"Oh, itu Iroha-chan. Yahallo. ”Yuigahama mengangkat tangan kiri dan melambaikannya. Tangan kanannya masih menggenggam lengan Yukinoshita. Setelah melihat dia, Isshiki bergegas menuju ke arah kami.



"Ahh, selamat malam. Aku senang kalian semua masih berada di sini.”



"Kami sedang dalam perjalanan pulang," kata Yukinoshita dan Yuigahama masih menempel padanya.



Bukankah jika dilihat dari kejauhan, kedua gadis ini terlihat seperti sedang pacaran?  ... Kalau begini, tidaklah aneh jika ada orang yang menganggap mereka berdua tidak normal, tapi itulah hebatnya Isshiki. Dia pasti sudah terbiasa melihat situasi seperti ini karena dia tidak tampak terganggu. Dia pun menjawab balik seperti biasa.”Aku juga sudah menyelesaikan beberapa hal, ini juga mau pulang. Jadi, aku berpikir untuk mampir atau semacamnya.”



"Apakah kau perlu sesuatu?"



"Ya, sebenarnya aku memerlukan sesuatu," kata Isshiki sambil mengangguk. Seolah-olah mewaspadai kehadiran Yukinoshita dan Yuigahama, dia memberi isyarat kepadaku dan berbisik, ”Senpai, bisakah aku merepotkanmu sebentar?"



"Huh? Ya ... tentu saja ...” aku melirik Yukinoshita dan Yuigahama untuk menyuruh mereka pergi terlebih dahulu dan mereka pun mengangguk balik. Isshiki menarik lenganku, dan kami pun mendekati jendela di ujung lorong.



Langit berwarna senja dan angin yang menerpa jendela terlihat begitu dingin. Dengan punggungnya menghadap jendela, Isshiki dengan gelisah bertanya,”Um, senpai, bagaimana dengan pekerjaan sebelumnya yang aku minta agar kau membantu? Aku ingin agar kau memutuskannya sekarang juga ...”



"Hm, ya. Aku mengerti. Aku akan melakukan sesuatu tentang hal itu nanti.”



Mendengar kata "pekerjaan", membuat aku menanggapinya dengan motivasi rendah layaknya budak-budak yang disuruh kerja paksa. Akan menjadi masalah jika aku harus membahas tentang pekerjaan ketika aku mau pulang. Jam kerja Klub Relawan hari ini telah usai. Silahkan datang kembali lain hari. Hawanya begitu dingin dan aku ingin pulang.



Aku berbalik setelah memberikan respons hangat yang samar-samar. Namun, suara Isshiki datang padaku dari belakang. ”Oh. Kalau begitu, tidak masalah kan, jika kita bertemu besok pukul sepuluh pagi di depan stasiun Chiba?”



"Huh? Besok?” aku berbalik secara refleks dan mengonformasi ulang pertanyaan Isshiki.



Besok adalah hari libur. Keluarga Hikigaya menerapkan sistem dua hari libur penuh dalam seminggu. Jadi jika aku disuruh beristirahat, maka aku benar-benar akan beristirahat. Namun, masalahnya adalah Klub Relawan mengadopsi sistem dua hari libur mingguan. Kedua sistem ini kebetulan berbeda. Pokoknya, setiap kali tugas Klub Relawan diberikan, aku punya perasaan bahwa aku akan bekerja pada hari Sabtu dan Minggu. Setelah dipikir-pikir, itu bahkan tidak bisa disebut sistem dua hari libur mingguan, bukan? Apakah ini klub sweatshop* ...?

[Sweatshop adalah tempat dimana seorang pekerja membanting tulang dengan gaji yang sedikit.]



"Tidak, besok aku tidak ingin bekerja ..."



Saat ini, aku memberi respon yang tepat agar memastikan liburan akhir pekanku terselamatkan. Isshiki memindahkan jari telunjuknya ke dagu dan memiringkan kepalanya.”Tapi aku meragukan bahwa senpai akan melakukan sesuatu di hari liburnya....”



"Jangan begitu, kau pikir aku akan tahu ...?"



Ini menggangguku setiap saat, tapi mengapa Isshiki selalu berbicara dengan asumsi bahwa aku tahu segalanya? Memangnya aku tahu apa rencana dia? Aku tidak tahu segalanya, aku hanya tahu apa yang aku tahu.[1]



Setelah aku mengatakan itu, Isshiki dengan licik menggembungkan pipinya. ”Maksudku, aku sedang membicarakan tentang senpai."



"Oh, Kau berbicara tentang aku ... Tunggu, mengapa ini tentang aku? Bukankah ini aneh? Nah, kau benar bahwa aku tidak akan melakukan apa-apa di hari liburku ...”



"Lihat, aku tahu, kan? Kalau begitu, aku akan mengandalkanmu besok. Aku tak sabar untuk melihatmu beraksi, senpai! Aku mohon pamit sekarang.”



"T-Tentu ..."



Isshiki tersenyum dengan cerah, mengakhiri percakapan, dan melambaikan tangannya untuk mengucapkan salam perpisahan. Astaga! Irohasu, itu sungguh senyum yang menawan! Wajahmu mengatakan padaku bahwa kau tidak akan membiarkan aku mengatakan tidak!!



Aw sial, apakah aku sudah membuat semacam janji atau sejenisnya ...? Jika dia menyebutkan pekerjaan, aku pikir Isshiki pasti sudah memintaku untuk menolongnya melakukan sesuatu atau sejenisnya ... Ah sial, aku benar-benar tak punya petunjuk ...



Setelah disudutkan oleh senyuman Isshiki, aku mulai berjalan menuju pintu masuk.



Setelah berjalan beberapa langkah, aku melihat kembali ke arah Isshiki. Dia masih melambaikan tanganya sambil tersenyum.



Nah, kami sedang membicarakan aku di sini. Mungkin saja dia hanya mengatakan hal yang penting untuk saat ini, seperti yang aku lakukan sebelumnya. Bahkan, tampaknya itu adalah satu-satunya kemungkinan. Masalahnya ada pada rinciannya ...



Tapi aku tidak dapat mengingat satu hal pun. Aku membenamkan wajahku ke balik syal, mengembungkan pipi, sembari berpikir, tapi aku tidak bisa menyimpulkan apa-apa.



Aku memutar otak saat menuju ke pintu masuk dan aku bisa melihat Yuigahama - Yukinoshita sedang mengobrol dengan ekspresi bosan. Sepertinya aku membuat mereka menungguku terlalu lama.



"Ahh, maaf. Kalian seharusnya bisa pulang tanpa aku ...” kataku.



Dengan penuh semangat, Yuigahama berputar ketika aku memanggil mereka. Pada saat itu, dia menyeret Yukinoshita sembari masih saja memegang lengannya. Apakah kau tahu, dia mengingatkanku pada apa? Seperti anjing yang tiba-tiba mulai bergerak sendiri di tengah jalan.



"Kami tidak benar-benar menunggu. Hanya saja, setelah Yukinon dan aku mengobrol, kita berdua berkeliling sebentar ... benar kan?”



"... Sepertinya begitu." Yukinoshita tiba-tiba memalingkan wajahnya ketika Yuigahama menanyainya. Melihat dia bertindak demikian, ini mirip dengan kucing yang tidak suka dipeluk.



"Oh. Yahh, Kau tahu ... terima kasih untuk itu.”



Aku berterima kasih pada mereka dan mereka berdua menggelengkan kepala. Setelah melihat gerakan mereka yang malu-malu, aku pun terus melangkah dan menggerakkan sepatuku.



Ketika kami meninggalkan sekolah, hari sudah benar-benar gelap. Ini mungkin telah mendekati hari pertama musim semi, tapi sepertinya kami harus menunggu sedikit lebih lama sebelum waktu dalam satu hari menjadi lebih panjang.



Ketika kami menuju ke gerbang utama pintu masuk, Yuigahama berjalan di sampingku. ”Apa yang tadi dikatakan oleh Iroha-chan?”



"Yah, aku benar-benar tidak memahaminya ... Sepertinya ini tentang pekerjaan, tapi aku sungguh tidak tahu ..."



"Itu bukan penjelasan yang sangat jelas ..." kata Yukinoshita dengan keraguan sambil tersenyum. Dia berjalan selangkah di belakang kami.



Namun, keterangan yang tidak terlalu jelas sering kali terjadi dalam pekerjaan. Sebenarnya, saat ini kegiatan Klub Relawan juga tidak terlalu jelas ... Meskipun demikian, aku setuju bahwa semua hal akan jauh lebih mudah jika keterangan diberikan terlebih dahulu. Bagaimanapun juga, laporan, komunikasi, dan konsultasi adalah hal-hal yang begitu penting.



Sialan, kau bahkan tidak perlu bekerja selama kau memiliki hal-hal tersebut. Bayangkan jika beberapa orang penting bilang sesuatu padamu, kemudian kamu menanggapinya dengan, ”Akan kupastikan untuk melapor, berkomunikasi, dan berkonsultasi denganmu, ya kan!?” Kau mungkin dapat menghindari tanggung jawab dengan cara seperti itu!



Dengan pemikiran seperti itu, ingin rasanya aku melewati hari esok!



× × ×



Hari libur yang disertai dengan langit musim dingin cerah. Bagian depan Stasiun Chiba ramai dengan aktivitas manusia.



Aku membayangkan, wilayah kota pasti jauh lebih ramai daripada ini. Tapi kekacauan kecil di sini terasa begitu parah bagiku karena aku sangat jarang keluar di akhir pekan.



Aku melirik orang-orang yang bolak-balik melalui depan stasiun dan memeriksa waktu. Waktunya adalah pukul 10:15 di pagi hari.



Itu sudah melewati waktu yang ditentukan dan Isshiki masih saja tidak terlihat. Walaupun aku ingin mengingatkan Isshiki bahwa dia terlambat, aku tidak punya nomor teleponnya. Sungguh apes.



Ketika kau mengatakan ingin bertemu di depan Stasiun Chiba, harusnya kau tidak mungkin tersesat di pintu masuk timur, tapi mungkin juga itu berarti pintu masuk barat ... Tidak, mungkin juga itu bisa merujuk ke Stasiun Keisei-Chiba. Bagaimanapun juga, mereka sudah terbiasa untuk memanggil Stasiun Keisei-Chiba. Ampun deh, Depan Stasiun Kereta Nasional Chiba ... stasiun mana lagi tuh? Ada kata Depan pada namanya ... Jika bukan itu, kemungkinan ada Stasiun Nishi-Chiba, Stasiun Higashi-Chiba, Stasiun Hon-Chiba, Stasiun Shin-Chiba, Stasiun Chiba-Minato, Stasiun Chiba-Koen, Stasiun Chiba-Chuuei, atau mungkin, Stasiun Chiba Newtown dan masih baaaaanyak lagi nama jalur yang ada kata “Chiba”-nya. Bagi seseorang yang baru datang di Chiba, mungkin saja ini merupakan suatu hal yang sulit dicerna.



Ketika seseorang dari Prefektur Chiba atau Kota Chiba mengatakan,”Aku pergi ke Chiba"; tentu saja, mereka akan memeriksa sekitar wilayah Stasiun Chiba. Mungkin intuisi ini tidak dimiliki oleh orang-orang dari daerah lain. Katakanlah ada seseorang yang berasal dari Hokkaido. Kau tidak tahu tempat mana yang mereka rujuk ketika mereka menyatakan,”Aku pergi ke Hokkaido”. Atau orang-orang dari Tokyo,”Aku pergi ke Tokyo" terdengar seolah-olah mereka akan mengejar mimpi dan akan menjadi sesuatu yang BESAR.



Itulah mengapa aku memilih tempat ini ketika diajak bertemuan di depan stasiun Chiba. Aku menginjak lantai untuk mengalihkan perhatianku dari hawa dingin, sambil menunggu Isshiki. Kemudian, dalam gelombang manusia, aku bisa melihat Isshiki.



Dia mengenakan: syal bulu, mantel krem yang terikat erat, sepatu bots, celana pendek, rok anyaman. Itu semua terlihat begitu hangat. Sepatu bot yang dilengkapi dengan high-heel miliknya menginjak tanah dengan ringan.



Begitu dia melihat aku, dia berlari lebih cepat. Setelah membungkus lehernya dengan syal sekali lagi, mengutak-atik poninya dan melepaskan napas kecil, dia pun mengangkat wajahnya.



"Aku minta maaf karena telah membuatmu menunggu. Butuh beberapa saat bagi aku untuk bersiap-siap ...”



"Tidak, aku memang harus menunggu," kataku dalam ketidakpuasan dan makna tambahan: Irohasu, kau saaaaaaangat lambat.



Isshiki mengerutkan kening. ”Um, tidakkah seharusnya kau mengatakan bahwa sudah tiba di sini ...? Bagaimanapun juga, kita akan berkencan.”



"... Kencan?"



Itu adalah kata yang tidak kau dengar setiap hari ... Mungkinkah ini sesuatu yang mirip dengan ritual di mana kau harus melunakkan amarah dengan menemani dia ...?[2] Dan kemudian, akan ada pertempuran! Atau semacam itu. Ya benar, seperti akan ada pertempuran. Secara umum, kencan adalah suatu aktifitas ketika seorang laki-laki dan perempuan keluar bersama.



Tapi kenapa tiba-tiba aku berkencan dengan Isshiki, sih ...? wajahku pasti dipenuhi dengan tanda tanya, sehingga Isshiki meletakkan tangannya di pinggang dan mendesah tak percaya. ”Aku sudah bilang padamu sebelumnya, bukan? Kau harus berpikir tentang pelatihan berkencan.”



"Ahh ...."



Omong-omong, dia sungguh mengatakan sesuatu seperti itu bulan lalu. Dia benar-benar serius ketika mengatakan itu? Aku sungguh ingat bahwa dia memberikan suatu jawaban yang acak tanpa pikir panjang saat itu. Sial! Aku tidak berpikir dia akan menganggapnya sebagai janji dariku!



"Nah, jika memang itu yang kau maksud, harusnya kau memberitahuku lebih lanjut. Aku juga harus mempersiapkan banyak hal ... Kau tahu?”



Misalnya, aku bisa memperpadat jadwalku dan menolaknya, mengulur-ulur rencana tersebut tanpa kuberi kejelasan, tiba-tiba sakit perut pada hari H, atau hal-hal semacamnya. Yah, meskipun begitu, aku tidak yakin bahwa ini semua akan berbuah. Ini karena dia telah mengatakannya padaku sebelumnya. Setiap kali kau membuat rencana yang menarik dan terus mempersiapkannya, sampai akhirnya hari H tiba, kau hanya akan berakhir dengan berpikir,”Oke, sepertinya terdengar merepotkan ..." Ada apa dengan fenomena itu?



Meskipun aku mencoba menyuarakan keberatanku, tampaknya itu tidak memiliki efek apapun karena Isshiki tidak bergeming.



"Maksudku, jika aku mengundang senpai dengan cara biasa, kau tidak mungkin datang, kan?"



"... Itu benar."



Kau ini ada-ada saja. Dia cukup mengerti tentang kepribadianku, bahkan ia mungkin bisa menerima sertifikat Hikigaya tingkat tiga.



Apapun itu, ini adalah kesalahanku. Aku membiarkan dia menganggap bahwa aku telah membuat janji. Sekarang sudah terlalu terlambat untuk beralasan dan membatalkan ini. Salah satu alasan mengapa situasi ini bisa terjadi adalah karena aku menganggapnya sepele dan memberinya jawaban-setengah-hati. Adalah suatu tindakan yang tidak bertanggung jawab jika aku meninggalkan pekerjaan sekarang.



Jadi, tindakan tercerdas yang bisa kulakukan ketika nasi sudah menjadi bubur seperti saat ini, adalah menyelesaikan pekerjaan ini secepat mungkin kemudian pulang ke rumah.



"Baiklah, mari kita pergi." aku mengangguk dan Isshiki akhirnya tersenyum.”Jadi, mau ke mana?"



Aku bertanya seketika, namun senyum Isshiki justru pecah. Dengan napas mendalam, dia cemberut dalam ketidaksenangan. ”Jadi, hal pertama yang kau lakukan adalah bergantung pada seorang gadis... Aku pikir, kau akan memikirkan sesuatu ...”



"Aku hanya senang merumuskan rencana rumit ketika aku sendirian, tapi ketika aku bersama dengan orang lain, style-ku adalah mengikuti orang tersebut dari belakang.”



"Lupakan saja ... Mari kita cari tahu ke mana harus pergi sementara kita berjalan-jalan! Sungguh dingin di sini.” bahu Isshiki mengendur pertanda pasrah. Dia segera membungkus kembali syal ke lehernya dan kembali tenang. Dia mulai berjalan dengan menderap lantai menggunakan tumitnya. Yap, ya, sepertinya Irohasu akhirnya terbiasa dengan kecepatanku.



Ngomong-ngomong, siapa ya yang membuat aku menunggu begitu lama dalam cuaca beku seperti ini ...?



× × ×



Kami berjalan menyusuri jalan panjang menuju distrik hiburan di kota, dari depan stasiun.



Distrik ini bisa disebut sebagian jalan utama Chiba. Tempat ini diisi dengan barisan: restoran, fasilitas hiburan, dan stan-stan perdagangan. Karena ini adalah akhir pekan, ada banyak orang yang datang dan pergi. Sering kali, para pelajar mampir ke sini selama hari kerja dan malam hari. Kebetulan, ini jugalah tempat yang sangat akrab bagiku.



Jika kita terus berjalan, kita akan tiba di tempat yang biasanya aku kunjungi. Di sana ada kumpulan bioskop, toko buku, dan arcade*.

[Arcade di sini artinya adalah gedung yang terdiri dari gang-gang beratap, biasanya ditempati toko.]



Selanjutnya, jika kita belok ke kiri, kita akan tiba di toko PARCO*, dan jika kita berjalan-jalan di sekitar Chiba, akan ada jalan-jalan tembusan dan banyak lainnya. Hari ini terlihat keramaian pejalan kaki, seolah-olah semua orang memiliki pikiran yang sama.

[PARCO adalah salah satu department store ternama di Jepang.]



Meskipun aku terbiasa berjalan-jalan di tempat ini, semuanya terasa berbeda ketika bersama dengan seorang gadis. Berjalan berdampingan seharusnya adalah hal yang biasa, tetapi jika aku berjalan dengan cepat, aku mungkin sudah meninggalkan Isshiki di belakang. Aku menghela napas dangkal, mengembalikan ketenanganku, dan sedikit melambatkan laju langkahku. Ini kulakukan agar aku berjalan setengah langkah di depan Isshiki, sambil terus memperhatikannya agar tidak ketinggalan di belakang.



Saat aku berjalan ke depan sambil menghindari orang yang melewati aku, Isshiki sedikit mempercepat langkahnya dari belakang dan akhirnya berjalan di sampingku. Dengan sedikit mendorongkan bagian tubuh atasnya ke depan, ia melihat wajahku dari bawah.



"Senpai, biasanya kau pergi ke mana?"



"Rumah."



"Ngomong apa barusan?"



"K-kanan ..."



Nada bicara Isshiki berubah menjadi tajam dan dia memelototiku dengan mata setengah terpejam. Kau membuatku takut, Iroha-chan. Isshiki terdiam, namun kehampaan itu justru membuatku tertekan. Aku batuk dan membenarkan pernyataanku.



"Entah perpustakaan atau toko buku. Aku bisa menghabiskan banyak waktu di sana. Dan aku pun senang ketika aku pergi ke salah satunya.”



"Kencan di perpustakaan ..." Isshiki berbisik dengan wajah ragu dan kemudian memindahkan tatapannya ke langit. Setelah beberapa saat tampak berpikir, dia segera menunduk.



"Aku minta maaf, sesuatu yang se-intelektual itu tampaknya lebih mirip seperti hal yang Hayama-senpai akan

lakukan, jadi aku ingin lebih mengenal sisi tak berguna dari dirimu, senpai.”



Oh Hoh, gadis kecil ini ... Dalam hal persekolahan, ada banyak sisi intelek pada diriku, kau tahu? Lagipula, bukannya aku ingin pergi ke perpustakaan dengan Isshiki, sehingga itu bukanlah masalah besar bagiku.



Maksudku, sekarang ini, aku sangat-sangat gugup. Bahkan jika aku harus pergi ke suatu tempat yang tenang bersama dengan Isshiki, aku kira, aku tidak akan bisa tenang. Aku merasa seperti seorang ayah yang ingin bersantai di akhir pekan, tapi malah dipaksa untuk mengurus anak-anak. Jadi berdasarkan logika itu, mungkin aku bisa membaca dengan tenang jika aku harus pergi ke perpustakaan dengan Hayama. Ya ampun! Bukankah aku baru saja benar-benar membayangkan berkencan dengan Hayama-kun di perpustakaan !? Hawawa![3] Bisakah kau membayangkan betapa ruwet situasinya, jika Ebina-san tahu bahwa aku membayangkan hal seperti itu!? Tidak...yang benar saja



 Tapi karena aku tidak peduli sedikit pun tentang Hayama, jadi mari kita singkirkan dia dari kepalaku untuk selama-lamanya. Aku memeras otak untuk memikirkan tempat umum lainnya yang biasanya dikunjungi oleh orang.



"Ada karaokean, panahan, biliar, bowling, tenis meja ... pusat Batting* juga bisa, tapi tak satupun dari tempat-tempat tersebut ada di Stasiun Chiba ...”

[Pusat Battling adalah tempat bermain bisbol indoor. Namun hanya untuk memukul bola yang ditembakkan oleh semacam mesin. Bukan bermain bisbol sebenarnya. Biasanya tempat seperti ini digunakan untuk melepas penat dengan melampiaskannya pada pukulan.]



Aku menatap Isshiki untuk menanyainya apakah ada pilihan yang dia sukai, dan dia pun membuka mulutnya dengan wajah serius. ”Aku tidak terlalu peduli, tapi biliar sama sekali tidak cocok denganmu, senpai.”



"Berisik."



"Oh, tapi tenis meja pasti cocok!"



"Kau sungguh tidak perlu menambahkan itu ..."



Sejujurnya, tidakkah kau sedikit jahat dengan mengatakan ucapan seperti itu ...? Tenis meja memang mengagumkan, kau tahu? Pernah dengar tentang "Ping Pong"? Manga dan anime-nya benar-benar keren.



Sembari bercakap-cakap, kami tiba di persimpangan Gosaro besar dan dihentikan oleh lampu lalu lintas.



Kami akan menuju ke PARCO jika kami belok ke kanan di sini. Kami akan pergi ke bioskop jika kami terus lurus ke depan. Pilihannya adalah antara kiri dan lurus, karena kami tidak akan menemukan apa-apa jika berbelok ke kanan.



"... Bagaimana kalau kita melihat film itu? Kita bisa menghabiskan waktu dua jam.”



"Mengapa kita harus menghabiskan waktu ...? Yahh, kau di sini sedang bertugas, senpai ...”



"Baiklah, film itu."



Isshiki tampak sedikit enggan, tapi karena aku berhasil mendapatkan persetujuannya, aku melangkahlan kakiku untuk menuju ke arah bioskop.



Mengingat bahwa ini adalah akhir pekan, bioskop sedang ramai-ramainya.



Saat aku memandang jadwal pemutaran film dan ketersediaan kursi, Isshiki menunjuk pada poster ke-Hollywood-an yang luar biasa. Itu secara menyolok dicap sebagai "Nominator Academy Award*.”

[Ya, Academy Award biasa kita kenal sebagai Piala Oscar, yaitu suatu supremasi tertinggi dalam penghargaan perfilman.]



"Aku ingin menonton ini."



"Baiklah, aku akan menonton yang satu ini."



Di sisi lain, aku memilih film yang tidak ada hubungannya dengan Academy Awards. Kedua film ditayangkan dalam waktu yang hampir sama, sehingga kami berdua harus keluar dari teater hampir bersamaan.



"Sekarang kita hanya perlu tempat untuk bertemu setelah menonton. Bagaimana dengan Starbucks* di bawah?”

[Starbucks adalah salah satu kedai kopi tersukses di dunia.]



Aku terbiasa tidak menonton film bersama dengan orang lain, jadi aku memutuskan untuk menonton film yang wajar. Oleh karena itu, aku bahkan memperhitungkan panjang durasi kedua film, jadi mengapa Iroha-chan memasang wajah tercengang?



"... Hah? Ada apa?” aku bertanya.



Isshiki mengangguk, menemukan sesuatu yang meyakinkan. ”Aku mengerti. Semuanya berubah jadi begini. Ini karena kau merespon seperti itu.”



Aku tidak tahu bola lampu apa yang dihidupkan untukmu, tapi aku senang kau mengerti. Isshiki mengeluarkan desahan tak percaya dan dia memalingkan wajahnya dari jadwal pemutaran film. Kemudian, tatapannya berhenti pada suatu titik.



Ketika aku mengikuti tatapannya, ada papan nama boling. Di bagian bawah, tertulis meja ping-pong.



Setelah memeriksa itu, Isshiki berbalik ke arahku.”Oke, lupakan film, mengapa kita tidak bermain tenis meja saja?”



"Aku sih tidak masalah, tetapi tidakkah sepatu itu membuatnya jadi agak sulit?" kataku, sambil melihat sepatu yang dipakai Isshiki ini. Isshiki berhenti dan terpaku ke arah kakinya. Kemudian diarahkan tatapannya ke wajahku.



Penampilan polos dengan mulutnya yang terbuka lebar mungkin adalah hasil dari terkejut atau syok. Aku menyadari sekali lagi bahwa Isshiki adalah seorang gadis yang lebih muda dariku.



Wajah penasaran yang disodorkannya padaku seakan-akan hendak menyatakan sesuatu.



"A-Apa?"



"Tidak ada ... Aku hanya tidak menduga bahwa kau begitu jeli ..."



"Aku bisa mengatakan itu dengan mudah, karena aku melihat tubuhmu hari ini lebih tinggi dari biasanya," kataku.



Isshiki mengambil langkah mendekat ke arahku seolah-olah sengaja membenarkan itu. Dia pun menghadapi aku. Aku mengambil langkah mundur untuk membuat jarak di antara kami, namun Isshiki menaikkan alisnya dan melangkah maju lagi untuk memperpendek jarak. Rupanya, dia menyuruhku untuk diam. Aku sedikit mendorong tubuhku ke belakang dan Isshiki terus menatapku. Dan dengan napas yang dihembuskan dari bibirnya yang tersenyum, ia pun melantunkan sesuatu.



"Oh, itu benar. Kau terasa lebih pendek dari sebelumnya.”



Karena jarak di antara wajah kami lebih dekat dari biasanya, aku secara naluriah menahan napas ketika melihat bibir mengkilatnya yang tersenyum.



Aku berdiri di sana dan tidak dapat mengatakan apa-apa, bahkan Isshiki kebingungan karena jarak kami yang begitu dekat. Dia pun akhirnya memalingkan tatapannya dengan pipi yang sedikit memerah. Kemudian, dia menatapku dengan takut. Sepertinya dia hendak mempermainkanku, namun dia terlalu malu untuk melakukan itu.



"... Yah, aku kira kau bisa menyewa sepatu lain." aku mengalihkan mataku dari Isshiki dan mengambil langkah menuju gang bowling. Isshiki mengangguk untuk menyetujuinya dan dia mengikuti aku dari belakang.



Astaga, betapa licik si junior-ku ini ...?



Namun di samping kelicikannya itu, Isshiki kurang-lebih adalah seorang gadis yang imut. Itu malah membuatnya semakin buruk.



Karena jujur, ia memiliki wajah yang imut. Gerakannya memang licik, tapi lucu. Kepribadiannya ... yahh, ada banyak masalah dengan itu, tapi aku bisa bilang bahwa kelicikannya dan kepolosannya memang imut.



Sial, apa-apaan itu? Dia memang imut. Dia seperti seorang idola di sekolah! Dia adalah Iroha-chan, kau tahu! Wajar saja jika itu terjadi padanya ... Tidak, itu pasti akan terjadi padanya.



Kelicikan dan keimutan, namun, itu semua ditujukan pada Hayama Hayato, dan bukan untuk aku, jadi aku bisa tetap tenang. Kau tahu....jika aku masih seperti diriku yang dulu kala, yaitu seorang pria yang polos....aku cukup yakin bahwa aku akan jatuh ke perangkap Isshiki Iroha.



Dengan memikirkan berbagai hal dari sudut pandang yang berbeda, aku menghadapi identitasku sebagai warga Chiba, memperkuat cintaku pada kampung halaman dan tetap tenang. Fiuh, hampir saja. Jika bukan karena cintaku pada tanah Chiba, kelicikan Irohasu pasti sudah benar-benar memusnahkan aku. Terima kasih, Chiba. Aku mencintaimu, Chiba.



Sekarang aku kembali tenang, aku juga ingat tujuan hari ini. Tugasku adalah untuk merancang pelatihan berkencan antara Isshiki dengan Hayama.



Ketika kami sampai ke salah satu bagian dari area perbelanjaan stasiun, aku berbalik ke Isshiki dan memeriksa tempat bowling bersamanya. ”Sebenarnya, apakah Hayama pernah bermain tenis meja? Tidakkah sesuatu yang lebih keren lebih baik baginya?”



"Itulah sebabnya tenis meja adalah yang terbaik! Aku tidak akan dapat membedakan diriku dengan orang lain jika aku mengajak Hayama-senpai pergi ke tempat yang biasa dikunjunginya, kan?”



"Masuk akal ..."



Ketika ia mengatakan itu, itu benar. Saingan Isshiki saat ini, Miura, tidak mungkin mengundang Hayama untuk bermain sesuatu seperti ping-pong. Oleh karena itu, Isshiki bisa membuat dirinya tampil beda dengan keahlian bermain ping-pong. Meskipun begitu, aku tidak yakin apakah dia bisa mencapainya secara negatif ataukah positif. Terlebih lagi, aku bahkan meragukan Hayama akan peduli ...



Nah, bagaimanapun juga, ini semua untuk junior-ku yang imut ini, jadi mari kita lakukan yang terbaik yang aku bisa.



× × ×



Kami menuju ke tempat boling dekat bioskop, mendaftar di meja admin, dan pergi ke meja ping-pong di sudut.



Kami mengambil tempat duduk pada sofa kulit di dekatnya, dan mengganti sepatu kami.



Isshiki duduk di sampingku, melepas mantelnya, dan mulai mengganti sepatu botnya.



Sweater rajutan berwarna merah muda di balik mantel itu terlihat cukup ramping. Itu menunjukkan lekukan tubuhnya yang feminim, rok high-waist-nya menunjukkan lekukan pinggangnya. Ketika dia kesulitan melepas sepatu dengan tangannya, aku bisa melihat kehalusan betisnya melalui stoking-nya.



Akhirnya aku mengarahkan pandanganku ke tubuhnya yang tampak masih belum dewasa. Ketika tatapan mata kami bertemu, dia memiringkan kepalanya ke sisi dengan: "Ada apa?" Tapi tidak mungkin aku mengatakan padanya bahwa aku sedang terlena. Aku terlena pada dirinya karena ketidakseimbangan antara pesonanya yang memikat dan sifat kekanak-kanakannya. Jadi aku menggeleng dan menyerahkan raket dengan tenang.



Setelah Isshiki menundukkan kepalanya dan menerima raket, ia berlari ke depan meja ping-pong sembari mengipasi dirinya sendiri.



"Aku tidak bermain tenis meja sejak SMP."



"Kau bisa mengambilnya di kelas penjaskes ketika kau naik ke kelas II nanti."



Aku berdiri menghadapi Isshiki di ujung meja. Isshiki menggulung lengan sweater rajutan miliknya dan menunjukan raket ke arahku. Dia kemudian membuat ... tersenyum dengan penuh semangat!



"Jadi, jika aku menang, dapatkah kau mentraktirku makan siang?"



"Kami bertaruh untuk makan siang, ya? Yahh, aku kira tidak masalah bagiku ...” jawabku, dan melemparkan bola ping-pong pada Isshiki. Aku kira, tidak ada cara yang lebih baik untuk membuat pertandingan jadi menggairahkan selain memberikan suatu taruhan. Setelah memantulkan bola di atas meja, Isshiki meraihnya dan menyiapkan raketnya.



"Kalo begitu, kita sudah sepakat ...! Oke, aku akan mulai duluan. Eiiii.”



Isshiki dengan tegas menggerutu dan secara lemah me-rally* bola kepada aku.

[Rally di sini artinya melakukan serangan berturut-turut secara berkesinambungan.]



"Hoi."



Aku mengembalikan bola yang datang langsung ke arahku tanpa kekuatan ekstra. Bola itu dengan lincah turun di depan Isshiki dan memantul ke ketinggian yang sempurna untuknya. Isshiki menggerutu lagi dengan suara lemah,”Toh!" dan rally bola kembali terjadi.



Bola ping-pong tersebut memantul ke depan-belakang beberapa kali dengan suara berisik.



Setiap kali bola membuat suara memantul, rasa nostalgia semakin berkembang di dalam benakku. Ini mengingatkanku saat bermain dengan Komachi di pemandian air panas yang kami kunjungi bersama keluarga. Berkat itu, aku jadi mahir ber-rally untuk bersenang-senang. Kurang-lebih, gaya bermainku mirip Mario Kart* dan Puyo Puyo*. Maksudku, setiap kali Komachi kalah, dia sedikit sebal ...

[Mario Kart adalah judul game Mario Bross versi balapan Gokart. Sedangkan Puyo Puyo adalah game semacam Tetris.]



Aku menggunakan skill ber-ping-pong yang kudapat ketika melawan Komachi, untuk menempatkan rally bola ke sudut yang bisa dengan mudah dijangkau oleh Isshiki.



"Tah."



"Hoi."



Kami me-rally bola bolak-balik sembari menggeram dengan datar. Tampaknya salah satu dari 108 keterampilan-onii-chan milikku, yaitu ”menghibur adik kecil", belum usang.



Pada awalnya, Isshiki mengembalikan bolanya dengan gugup, tapi sepertinya, lambat laun dia mulai terbiasa. Sepertinya dia bisa bersenang-senang sekarang ... Ketika aku mulai tenang, kilatan yang mencurigakan muncul di mata Isshiki.



Isshiki memberi tatapan yang terfokus pada bola melambung, melangkah, melakukan ancang-ancang ayunan yang besar, dan men-smash bolanya.



"Matilahhhhhh!"



"Eh, mengapa kau mengatakan itu ...?"



Bola yang Isshiki smash terbang dengan membentuk lintasan parabola besar dan menghilang ke kejauhan. Bolanya telah pergi, namun Isshiki masih memiliki senyum kemenangan di wajahnya, ”Bagaimana, kau suka itu ... !?" Tidak ada coming-from-behind* grand slam di tenis meja, nak.

[Coming-from-behind di sini maksudnya serangan tiba-tiba yang menentukan dikala musuh lengah.]



Aku memungut bola ping-pongnya yang mendarat di kejauhan. Meskipun kami kembali bermain dengan giliran servis padaku, aku membuat beberapa kesalahan sehingga Isshiki pun mendapatkan giliran untuk melakukan servis lagi.



"Oke, jadi sekarang giliranku, kan?"



Isshiki memantulkan bola di atas meja dan mengambil posisi servis. Seolah-olah dia menyadari sesuatu, tatapannya tertuju ke suatu tempat, dan dia menghentikan pergerakan tangannya sementara waktu. ”Oh, senpai, bisakah kau tungg.....HIYAH!”



Tepat ketika ia mencoba untuk menghentikan pertandingan, tiba-tiba dia melakukan servis dengan semua energinya. Tapi aku bukan tipe orang yang terlena karena sandiwara murahan seperti itu. Aku dengan tenang bergeser ke depan bola, dan mengembalikan bolanya ke titik di mana Isshiki melangkah maju.



"... Terlalu mudah."



Ayahku selalu menggunakan trik ini ketika bermain tenis meja denganku sewaktu aku masih kecil. Jadi untuk balas dendam, aku melakukan hal yang sama beberapa kali pada Komachi, dan dia begitu marah karenanya! Aku tidak akan membiarkan kau meremehkan gen berharga keluarga Hikigaya sekarang! Ketika aku melakukan hal seperti ini, Komachi, yang dulu masih balita, benar-benar menangis dan mengatakan, ”Aku tidak akan bermain tenis meja denganmu lagi, onii-chan!” ..... imutnya adikku.



Tentu saja, saat itu Komachi langsung mengamuk, tapi bagaimana dengan reaksi Irohasu yang sudah dewasa? Ketika aku menatapnya, dia mengertakkan giginya seakan menyesali bahwa rencananya telah digagalkan.



"Grrr ..."



"Jika kau mengusahakan hal-hal seperti itu, aku kira kau mulai serius ..." kataku sambil melepas sweater-ku. Aku mengusap lantai dan mengambil posisi mirip seorang atlet tenis meja. Ketika aku melakukannya, Isshiki melambaikan raketnya, lantas protes.



"S-Senpai, kau sangat kekanak-kanakan!"



"Kau juga ... Apapun itu, sekarang giliranku. Giliranku melakukan servis sekarang.”



Aku tidak lagi menggunakan mode main-main seperti sebelumnya. Aku memposisikan diriku di sudut dan melakukan servis dengan kekuatan penuh. Meskipun Isshiki mengeluh, dia tampak sangat siap. Dia pun mendesah pendek dan mengejar bolanya. ”Uryah!"



Dan kemudian, raketnya menebas udara dan rok Isshiki yang terlalu bersemangat itupun tersingkap. Sial, aku baru sadar, dia mengenakan rok, kan ...? Lebih baik aku memberinya pukulan-pukulan yang tidak terlalu cepat...



Setelah itu, aku kembali ke mode main-main sembari dengan ringan mengembalikan bola. Tapi sekarang aku terpaku pada roknya. Seakan-akan, tatapanku bergerak dengan sendirinya ke arah roknya. Rok Isshiki yang mengepak-ngepak ke atas dan bawah tidak berhenti menggangguku.



Cih! Betapa licik!



Apanya yang licik? Ada meja yang menghalangi pandanganku ke roknya dan seharunya aku tidak melihat apa-apa! Ada apa dengan olahraga cacat ini ... !? Oh, aku tahu. Bagaimana jika ada seseorang menemukan papan tenis meja yang terbuat dari "bahan tembus pandang"? Itu pasti akan populer. Persetan, aku harus menemukannya dan menjadi kaya.



Entah karena aku punya pemikiran konyol atau delusi tentang rok, aku berulang kali luput menangkis bolanya. Itu membuat Isshiki mampu mencetak beberapa poin.



Isshiki mendesah dan mengeluarkan handuk mini dari tasnya. Dia menepuk-nepuk wajah dengan handuknya untuk mengusap keringat dan mulai menghitung sesuatu dengan menekuk-nekuk jarinya.



"Ummm, jadi senpai memiliki delapan poin sekarang, dan aku harusnya punya ... satu, dua, tiga, empat ... Oh,

senpai, jam berapa ini?”



Saat aku berpikir tentang mengapa dia penasaran dan menanyakan hal itu, aku melihat jam di dinding dan menjawab, ”Hampir jam sebelas."



"Sebelas. Oke. Ah, jadi poinku adalah dua belas, tiga belas "



"Kau memiliki enam poin...Enam.....”



Kau terlalu blak-blakan tentang Time-Noodle[4]. Berapa sih banyaknya angka yang kau lewatkan? Lagipula, kau cukup baik untuk tahu tentang cerita rakugo* tua seperti itu, Isshiki.

[Rakugo (落語, kata yang jatuh) adalah seni bercerita tradisional Jepang yang mengisahkan cerita humor yang dibangun dari dialog dengan klimaks cerita yang tidak terduga. Cerita dikisahkan sedemikian rupa sehingga di akhir cerita ada klimaks berupa punch line (disebut ochi atau sage) yang membuat penonton tertawa. Rakugo adalah seni yang mulai dikenal sejak zaman Edo. Wikipedia Bahasa Indonesia tanpa perubahan.]



Ketika aku menunjukkan itu kepadanya, Isshiki cemberut. Tapi cemberut tidak akan ada gunanya di sini.



"Ini dia, ayo mulai."



Aku memanggilnya dan melakukan servis ringan. Aku memperpelan kecepatan bola, tapi aku membidik titik yang sulit dijangkau. Isshiki berlari ke salah satu sudut meja, tapi bola ping-pong itu tanpa ampun memukul tepi meja dengan sura *plonk dan terpental jauh.



Melihat bolanya berlalu, Isshiki membuat senyum dan menatapku. ”Ah, itu tadi out, jadi aku mendapatkan poin, kan?"



"Jika out, tidak mungkin ada sura *plonk ..."



Apa-apaan dengan kebohongan terang-terangan itu ...?



Kali ini, tidakkah caranya sedikit tidak adil? Terutama ... roknya yang berkibar itu, aku pikir itu benar-benar tidak adil!



Sejak saat itu, aku bisa mengumpulkan poin. Aku pun masih membuat beberapa kesalahn karena roknya Isshiki, dan akhirnya keluarlah pemenangnya.



Hasilnya adalah kemenanganku sepenuhnya.



Kami berdua pun duduk di sofa terdekat setelah menyelesaikan permainan kami. Aku sedikit terengah-engah karena sudah lama aku tidak bermain tenis meja.



Di sisi lain, bahu Isshiki melemas karena dia kesal. Tampaknya dia begitu syok karena kalah dariku  ... Kau masih hijau, nak!



"... Jadi, aku yang menang, kan?" aku meminta konfirmasi darinya.



Isshiki dengan enggan mengangguk.”Aku kira begitu ... Kali ini aku mengaku kalah ..."



Anehnya, dia dengan jujur menerima kekalahan meskipun dia bermain dengan taktik licik tadi. Namun, orang yang mengakui kekalahannya adalah seorang pemenang sejati.



Aku bukanlah tipe orang yang membanggakan kemenangan, tapi kemenangan bukanlah hal yang buruk. Tanpa sadar, aku menumpahkan senyum yang tidak menyenangkan, tapi setelah melihat Isshiki tertunduk lesu, aku tidak sampai hati tertawa padanya.



"Yah, terima kasih untuk makan siangnya." aku menahan senyumku dengan batuk dan menyatakan itu semanis mungkin. Ketika mendengarnya, bahu Isshiki bergetar ... H-Huh, jangan bilang kau menangis, Irohasu? E-Eh, Ap-apa yang sebaiknya aku lakukan ...?



Ketika aku mulai panik, tawa bernada rendah terdengar dari sampingku.



"... Fufufu."



Ketika aku menatapnya, Isshiki menampilkan senyum yang tak kenal takut.



"Hah, apa? Ada sesuatu yang salah?” tanyaku.



Isshiki meletakkan tangannya di pinggang dan menunjukku dengan senyum kemenangan.”Aku bilang, kau harus mentraktir aku jika aku menang, tapi aku tidak mengatakan apa-apa jika kau yang menang, senpai.”



Ngoceh apa sih dia ...? Aku memandanginya dengan tatapan curiga dan aku teringat percakapan kami sebelum pertandingan ... Hmm?



"...... Itu benar."



Memang, satu-satunya syarat yang dia berikan adalah jika dia menang ... Boleh juga, aku pasti memperlajari sesuatu di sini ... Lain kali aku akan menantang Komachi dengan cara seperti ini, inilah yang akan kugunakan. Sudah lama aku tidak melihat Komachi menunjukkan kebenciannya padaku...Memikirkan itu saja sudah membuat dadaku berdegup kencang dalam kebahagiaan. Tapi tahukah kamu, hal-hal yang Irohasu katakan dan lakukan, benar-benar buruk.



"Yah, sejak awal aku memang tidak mengharapkan traktiran darimu, jadi itu tak masalah bagiku. Tapi, bukankah kau sedikit tidak adil ...?” balasku.



Isshiki, lebih menunjukkan ekspresi tidak peduli tentang hal itu. Sebaliknya, ia malah tersenyum.



Dia dengan lembut meletakkan tangan di dadanya, dan sedikit membungkuk ke depan untuk mengintip ke wajahku. Matanya tampak seolah-olah menggodaku.



"Menjadi sedikit tidak adil, membuatku lebih tampak seperti seorang gadis, bukan?"



"Ahh, itu ..."



Perkataan Isshiki ini memang konyol, namun anehnya meyakinkan. Aku pikir ini berasal dari Mother Goose*. Yaitu tentang gadis yang terbuat dari gula dan rempah-rempah, dan semua hal yang menyenangkan.

[Mother Goose adalah seorang penulis khayalan yang memiliki kumpulan dongengan dan cerita, dia diyakini hidup di jaman Eropa kuno.]



Itu sungguh benar. Meskipun dalam kasus Isshiki, rempah-rempahnya agak kebanyakan.



"... Aku tidak begitu peduli, tapi jangan berharap logika tersebut bekerja pada pria. Hari ini terutama.”



Memang, ada tipikal orang-orang yang serius di dunia ini. Mereka tanpa ampun akan terus berjudi. Kau akan sangat marah ketika kalah pada Daihinmin*, semua orang akan tertawa dan mengatakan betapa lucu itu.[5]

[Daihinmin atau Daifugō (大富豪)adalah sejenis permainan kartu di Jepang.]



Yah, yakinlah bahwa aku adalah tipikal pria seperti Hayama dan Tobe. Yaitu pria yang bisa menikmati antusiasme dari penampilan dan kemampuan komunikatif gadis macam Isshiki. Aku pikir, dia akan selalu dimaafkan walaupun melakukan tindakan selicik ini. Sial, bahkan aku sekalipun sanggup memaafkannya untuk saat ini!



Sembari aku memikirkan hal itu, Isshiki memandangku dengan lemah lembut. Seolah-olah, dia mengerti bahwa aku hendak mengatakan itu padanya. Dia kemudian melambaikan tangannya untuk menolak.



"Tidak, tidak, tidak, aku jelas tidak akan melakukan itu ketika aku bersama Hayama-senpai. Apa yang akan aku lakukan jika ia akhirnya membenciku?”



"... Yah, aku yakin Hayama akan lebih bahagia dengan cara itu."



"Beneran? Dari mana kau mendapatkan informasi itu?”



"Gak tau."



Karena Isshiki tiba-tiba membungkuk ke depan, aku pun bergeser menjauh darinya. Isshiki tidak semakin mendekatiku. Dia hanya menyilangkan tangannya sambil berpikir. ”Jika sumbermu tidak jelas, maka aku tidak bisa mempercayaimu ... Aku pun tidak berpikir bahwa aku bisa bertindak seperti tadi.”



"Kenapa terburu-buru? Untuk saat ini, dia- "



Perkataanku disela ketika Isshiki bergeser ke arahku.



"Itu sebabnya, untuk saat ini ..."



Isshiki menghentikan kata-katanya. Dia memindahkan bibirnya ke telingaku, seolah-olah mengatakan sesuatu

diam-diam dengan mata penuh tipuan.



Dia menambahkan beberapa rempah-rempah yang diolesi dengan gula.



"Kau adalah satu-satunya orang yang melihat aku bertindak seperti ini, senpai."



"Kau menyadari bahwa itu seperti mengatakan: tidak apa-apa bagiku untuk membencimu, bukankah begitu ...?" aku mengatakannya sembari menarik tubuhku agar menjauh darinya. Isshiki hanya tertawa cekikikan.



Tidak peduli seberapa banyak gula yang kau gunakan untuk melapisi lombok...lombok tetaplah lombok. Tidak peduli seberapa banyak sirup yang kau campurkan pada Tabasco*......Tabasco masihlah Tabasco.

[Tabasco adalah merek dagang untuk berbagai jenis saus cabai yang dibuat dari cuka, cabai jenis Capsicum frutescens var. tabasco, dan garam. Sebelum dibotolkan, saus ini disimpan selama 3 tahun di dalam tong yang dibuat dari kayu ek putih. Dengan demikian saus ini memperoleh rasa dan aromanya yang unik. Saus ini rasanya pedas sedikit asam, dan populer di banyak negara di dunia. Saus ini diproduksi di Amerika Serikat, tetapi namanya berasal dari nama negara bagian Tabasco di Meksiko. Wikipedia Bahasa Indonesia tanpa perubahan.]



Tidak ada yang akan berubah...kecuali ada sesuatu yang baik.



× × ×



Setelah kami berolahraga ringan, aku pun merasa lapar.



Isshiki yang berjalan di sampingku, menepuk bahuku segera setelah kami meninggalkan arena Bowling. ”Apakah kau merasa sedikit lapar?"



"Hm, ya. Aku kira, kita harus makan sesuatu.”



"Baiklah."



Aku memalingkan wajahku padanya dan menjawab. Dia pun tersenyum balik. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa lagi dan hanya terus tersenyum.



Jangan bilang, sudah waktunya bagiku untuk mengajukan pertanyaan ...



Aku mempersiapkan diriku. Dan dengan penuh kesulitan, aku membuka mulutku. ”Apakah ada sesuatu yang ingin kau makan?"



"Apa pun tak masalah bagiku."



I-Itu dia! Dia adalah tipe gadis yang akan mengatakan apapun tak masalah, ketika kau bertanya apakah yang ingin dimakannya!!!



Rumor menyebutkan bahwa gadis-gadis dalam masyarakat mengukur tingkat kejantanan para pria berdasarkan saran yang mereka ajukan. Para pria sedang diuji ... Tapi aku ingin menyisipkan sesuatu.



Kemungkinan, menyadari fakta bahwa anak laki-laki dan perempuan berada pada posisi yang sama dalam menguji satu sama lain, dapat menjadi kunci keberhasilan.



Aku ingin mengirim kata-kata ini pada semua orang.



"Ketika kau menatap jauh ke dalam jurang, jurang juga akan menatap jauh ke dalam dirimu." (Nietzsche)



Sial, aku menjadi terlalu-sadar seketika karena "Penawaran Tak Resmi Terbaik! Jurnal Kenken tentang Pengalaman Sukses Mencari Pekerjaan di Penerbit!!” yang telah kami baca tempo hari. Aku harus tenang dan menghadapi kenyataan lagi.



Andaikan saja aku masih seperti yang dulu, pertanyaan Isshiki ini akan pernah membuat aku lupa diri. Aku akan meledak-ledak dalam kemarahan dan berubah jadi Super Sayian. Tapi aku sekarang sudah dewasa dan memiliki akumulasi dari semua pengalaman hidup yang pernah kujalani.



"Bagaimana dengan pasta? Arrabbiata*? Atau mungkin tagliata*?”

[Arrabbiata adalah saus pedas khas Itali yang dibuat dari campuran bawang putih, tomat, cabe, dan dimasak menggunakan minyak zaitun. Arrabbiata sendiri dalam bahasa Italia artinya “marah”. Wikipedia Bebas]

[Tagliata adalah steak yang dipotong tipis.]



"Mengapa semuanya pasta ...?"



"Kecuali tagliata, itu bukan pasta."



Itu adalah beef steak yang diiris tipis atau semacamnya.



Alis Isshiki berkedut seolah-olah ia kesal dengan apa yang aku katakan. Tapi dia, tentu saja, hampir tidak mampu menjaga senyumnya.



Meskipun dia tampak bahagia di luar, dia jelas-jelas sedang marah di dalam. Dan dengan suara yang menusuk, dia bergumam. ”... Duh, tapi senpai, kau sungguh memiliki kepribadian yang buruk."



"Kau juga," kataku.



Isshiki memindahkan jari telunjuknya ke dagu dan dengan manis memiringkan kepala. Dia bertanya-tanya tentang apa yang barusan aku katakan. ”Meskipun begitu, orang-orang bilang bahwa aku punya kepribadian yang baik?"



Menyatakan itu dengan ekspresi berterus-terang, sama saja dengan menunjukkan seberapa kuat hatinya. Benar, dia memiliki kepribadian yang baik. Jika tentang perkara mentalitas, mungkin iru lebih kuat dari JFA[6]...



Kami memikirkan tempat untuk makan sambil berjalan-jalan di sekitar.



"Jika bagimu apapun tak masalah, maka ... Saizeriya* kedengarannya oke."

[Saizeriya (サイゼリヤ) adalah nama restoran ala Italia di Jepang.]



Isshiki menggeleng dengan maksud memberikan penolakan. Ayolah, bukankah kau bilang apapun tak masalah bagimu ...? Pada akhirnya, aku harus mempertimbangkan beberapa kesukaan Isshiki ketika aku memberinya saran.



Dengan demikian, mari kita mulai "Quiz! Makan siang Irohasu!”Aku harus menyebutkan nama setiap tempat sampai Isshiki menyetujui dan suka terhadapnya.



"Oke, bagaimana dengan Jolly Pasta*?"

[Jolly Pasta juga merupakan resto ala Italia di Jepang.]



Isshiki menoleh pertanda menolak. Ini juga salah ...



"Cih, baiklah. Aku akan berkompromi denganmu sepanjang jalan...sampai Tora No Ana*.”

[Tora No Ana adalah semacam toko komik & manga.]



Isshiki memiringkan kepalanya dan memberikan, ”Maaf?" Grrr, toko mana lagi yang bisa membuatmu makan pasta di sana ...?



"C-Capricciosa*?"

[Capricciosa adalah salah satu jenis pizza.]



Akhirnya, Isshiki mendesah. Rupanya, waktuku telah habis. Jumlah jawaban benar yang aku berikan pada "Quiz Makan Siang Irohasu!" adalah nol, sehingga tidak ada poin bagiku.



"Pasta dan pasta lagi, ya ...? Aku tidak masalah, ke manapun kau pergi, senpai.”



"Sungguh? Jadi tak masalah bagimu jika tanpa pasta atau alpukat?”



"Serius, lantas kemana kau akan membawaku ...?" Isshiki tampak sedikit marah dan melotot padaku.



Tidak, gadis seharusnya sepenuh hati seperti pasta dan alpukat ... Oh, dan udang. Tentu saja...udang. Para gadis memiliki citra untuk menyukai udang. Kau tahu apa yang aku maksud? Tidakkah Cobb Salada Pasta, yaitu kombinasi pasta dan alpukat, adalah hal terhebat yang pernah ada?



Dia mengatakan bahwa makan di mana saja tidak masalah baginya, tapi beberapa saat yang lalu, dia menolak Saizeriya. Untuk jaga-jaga, aku mengecek dan bertanya lagi padanya, ”Kamu yakin? Kau tidak sedang menguji aku, kan?”



Isshiki mengeluh dan melihat ke kejauhan. ”Nah, biasanya demikian, tapi ..."



Jadi kau selalu melakukannya, ya ...? Irohasu, kau menakutkan.



"Tapi untuk saat ini, aku tak masalah dengan tempat apa pun yang biasanya kau kunjungi untuk makan, senpai."



... Syukurlah, satu-satunya toko pasta lain yang aku ketahui adalah Tapas Tapas, meskipun begitu, sebenarnya tidak ada satu pun toko pasta di sekitar Stasiun Chiba.



Jadi artinya, aku harus membawanya ke tempat yang agak jauh untuk mengunjungi toko pasta yang kumaksud.



Tapi, karena itu adalah tempat yang tidak biasa dikunjungi oleh para pelajar SMA, pilihanku pun semakin menyusut. Di saat akhir pekan seperti sekarang ini, restoran keluarga dan cafe pasti penuh. Artinya, aku bukanlah ahli dalam menemukan tempat makan yang bergaya.



Seperti yang dikatakan oleh Isshiki tadi, dia mengharapkan sesuatu yang tidak berguna dariku.



Dalam hal ini, hanya ada satu jawaban.



"Baiklah, sepertinya, kita harus menuju ke sana ...” kataku. Aku pun mengambil langkah maju menuju pusat Chiba sambil menunjukkan jalannya pada Isshiki.





Suatu jalan utama Chiba yang membentang di sepanjang pusat perbelanjaan besar seperti SOGO*, PARCO, dan C-ONE* dipenuhi dengan restoran. Tapi juga ada banyak jalanan yang terkenal dikenal sebagai "jalan pungutan" dan gang-gang sempit yang membentang di sebelahnya.

[SOGO (株式会社そごう)adalah salah satu frenchise department store asal Jepang. Begitupun dengan C-One, banyak pujasera di sana.]





Tapi sebagai warga Chiba yang tumbuh besar di sini, aku sengaja mengambil gang belakang dan memilih toko yang tidak terlalu mencolok.



Biasanya, aku lebih suka berpetualang untuk menemukan tempat makan baru yang cocok. Tapi kali ini aku sedang membawa seorang gadis.



Pada saat seperti ini, memilih suatu tempat yang menonjol tampaknya adalah hal yang benar untuk dilakukan.



Ketika kami memasuki jalan, terlihat papan nama dengan lampu oranye dari toko yang ingin kupilih. Di bawah papan itu, ada tangga yang turun ke bawah tanah.



Mata Isshiki berbinar pada ruangan bawah tanah yang mirip tempat perlindungan ini.



"Kau akan mendapatkan banyak poin jika kau tahu tempat makan yang bagus, Kau tahu!" Isshiki menarik narik lenganku untuk menunjukkan kegembiraannya.



Kami kemudian tiba di toko ramen, Naritake, yang bahkan cukup terkenal di Chiba. Saat ini, mereka membuka cabang Tokyo dan di Nagoya. Mereka juga memiliki bisnis di Paris, Perancis. Jadi terkadang toko ini disebut sebagai Paritake (olehku).



"Dan ... kita akan makan ramen?" Isshiki melihat toko tersebut melalui kaca dan kegembiraannya lenyap seketika. Paling tidak, dia tidak lagi menarik-narik lenganku.



"Kau bilang mau kuajak ke tempat biasa aku makan, jadi ..."



"Yah, aku kira senpai lah yang berkata begitu," katanya dengan berputus asa sambil menarik napas dalam-dalam.



O-Oke ... maksudku, memang tempat ini tidak elegan tau apapun itu. Tapi janganlah sebegitu kecewa terhadap pilihanku ...



Berdasarkan pengalamanku, anak perempuan seharusnya seperti ramen. Sumber: Hiratsuka-sensei. Sial, sumber informasiku sama sekali tidak terpercaya. Entah kenapa, bahkan Hiratsuka-sensei tidak berada pada usia yang layak disebut muda lagi, jadi itu sungguh buruk. Apanya yang buruk? Memanggilnya seorang gadis adalah hal yang buruk.



Jika saja Hiratsuka-sensei berada di sini, dia pasti akan melompat ke toko itu untuk makan. Persetan, dia akan mendapatkan semua nari, nari, dan take take sembari melakukan hal itu. Dengan kata lain, sejauh yang aku

tahu, hanya Hiratsuka-sensei yang akan berakhir seperti itu.



Tetapi jika aku melihat ini dari sudut pandang yang berbeda, ini adalah kesempatan yang sempurna untuk memperkenalkan Naritake pada Isshiki. Ada pepatah lama, ”Di mana ada keadaan darurat, di sana ada krisis. Tapi di mana ada keadaan darurat, di sana juga ada kesempatan.” Suatu keadaan darurat tak ubahnya dengan krisis. Sehingga saat kau berpikir bahwa itu adalah kesempatanmu, kau pasti tidak akan melewatkannya bagaikan menarik karpet yang berada di bawah kaki seseorang. Lebih baik aku tetap fokus!



"Um, kenapa kau tidak menilainya setelah mencobanya ....?" Aku secara naluriah menggunakan nada sopan dan malu-malu untuk berbicara pada Isshiki.



Isshiki memberiku tatapan mata yang tajam, tapi kemudian menyerah dan mengangguk. ”Aku rasa itu tidaklah masalah. Maksudku, akulah yang mengatakan bahwa kau harus memilih...”



Oh, benarkah? Sungguhkah? Yahh, jika benar-benar tidak keberatan dengan itu, maka aku berhasil mengajakmu ...



Aku memasuki toko dan berhasil mendapatkan persetujuan Isshiki, meskipun ia masih tampak enggan. Kami disambut dengan suara energik,”Halo, selamat datang!"



Sebagian besar kursi telah ditempati karena waktunya adalah siang hari, tapi untungnya, ada dua kursi yang kosong. Aku memutuskan untuk membeli tiket makan dari mesin tiket terdekat. Isshiki melihat kata-kata pada tombol dan tatapannya kabur ke kanan-kiri. Tampaknya, dia sedang kebingungan.



"Aku menyarankan rasa shoyu*. Miso juga cukup enak, tapi karena kau pertama kali mencoba, biasanya pilihan terbaik adalah shoyu.”

[Shoyu adalah saus yang dibuat dari fermentasi kedelai, gandum, dan air garam. Sering juga dikenal Soy Sauce.]



"Oke, aku ikut......"



Setelah Isshiki membeli tiketnya, kami menuju ke meja. Kami duduk di kursi dan hal pertama yang keluar dari mulutku adalah panggilan untuk seorang pelayan.



"Gita gita."



"Gita? Huh?” sambil duduk di sampingku, Isshiki menatapku dengan keraguan.



"Itu mengacu pada jumlah lemak yang kau inginkan di dalam kaldumu. Oh, bisakah kami mendapatkan kaldu assari* untuk mbak ini?”

[Assari adalah istilah Jepang untuk menerangkan sesuatu yang ringan dan mudah. Lawan katanya adalah Kotteri yang berarti berat, tebal, dan kaya (tidak selalu tentang uang).]



Back Fat* dan rasa yang kaya adalah nilai jual Naritake. Tapi bahkan jika kau memesan sesuatu dengan jumlah lemak yang normal, rasanya masih cukup kuat dibandingkan dengan toko ramen lainnya. Dianjurkan bagi para pemula untuk mencoba ramen assari.

[Back Fat adalah lemak pada bagian punggung hewan yang diyakini memiliki tingkat kolesterol moderat.]



"... Kau tampak terbiasa dengan semua ini, senpai."



"Kurang-lebih begitu." menganggap itu sebagai pujian, aku pun membual dengan bangga. Tapi setelahnya, Isshiki tidak begitu memberikan reaksi.



Ketika aku meliriknya, Isshiki berpaling dariku dengan wajah apatis.



Hmm, Irohasu tampaknya tidak terlalu terkesan denganku ... Kami duduk berdampingan, namun kenapa terasa ada jarak yang begitu jauh di antara kami berdua ...?



Hei para pria! Dengarkan! Kalian bisa memamerkan pengetahuan tentang makanan kelas B* seperti ramen dan kari, sebanyak yang kalian mau. Tetapi gadis-gadis sama sekali tidak menganggap itu mengesankan! Bagi para pria yang ingin populer dengan cara seperti ini....camkan itu baik-baik pada kepala kalian!

[Makanan kelas B adalah makanan kelas II yang tidak begitu elegan. Istilah kasarnya adalah “makana kaki lima”.]



Aku melihat dapur di depanku karena kami tidak banyak berbicara selama menunggu hidangan tiba. Aku pun menyadari sesuatu.”... Orang yang mengatakan, 'Halo, selamat datang' ada di sini hari ini. Sepertinya ramen kita akan ditambahi sesuatu.”



"Huh? Apa sih yang kau katakan?”



"Masalahnya adalah, Naritake biasanya cukup bagus, tapi itu tergantung pada waktu dan jam. Orang yang membuat ramen akan memasaknya dengan berbeda, dan tentu saja itu akan berdampak pada rasanya. Aku lebih suka makan ke Naritake ketika orang yang menyambutmu dengan: 'Halo, selamat datang' sedang keberja di shift-nya.”



"... Umm, aku tidak bisa memahami apa-apa dari omonganmu itu."



Ketika Isshiki mulai letih menunggu, ramen pun tiba. Kadar gita gita Back Fat berkilauan layaknya puncak Gunung Fuji. Hanya dengan melihat uap panas yang mengepul dari mangkuk ramen, hatimu akan merasa hangat.



"Eh? Apkah ini adalah lemak, kau serius?” Isshiki meninggikan nada suaranya dengan syok setelah melihat mangkuknya. Tapi aku tidak punya waktu untuk berurusan dengan dia.



"Selamat makan." aku dengan sungguh-sungguh mengucapkan apresiasi terhadap hidangan ini. Kemudian aku meraih sendok Cina dan sumpit. Aku dengan sepenuh hati memakannya, menghirup aromanya, menyantapnya, dan menelan ramenku. Rasanya memang nendang.



Di sisi lain, Isshiki yang masih di dekatku, menonton aku yang tenggelam dalam kenikmatan ramen. Dia melihatku dengan keengganan di matanya. Tapi setelah menghela napas seakan-akan mempersiapkan dirinya, dia dengan ketakutan mengambil sumpitnya. Dia dengan anggun menempatkan sendok Cina ke mulutnya, mengangkat rahangnya, dan memindahkan leher rampingnya.



Dia kemudian membeku. Itu hanya sesaat, ia dengan cepat kembali sadar. Dia menyeruput mie menggunakan sumpitnya, meniup mie dengan bibirnya yang mengkilap, dan mulai mengunyah.



Rupanya, itu tidak meninggalkan kesan buruk pada dirinya. Setelah melihat reaksinya dengan lega, aku pun kembali memakan mie ku.



Kami berdua terus makan dengan terdiam. Akhirnya kami menyelesaikan hidangan kami, bahkan kami tidak menyadari bahwa itu telah habis.



"... Ini membuatku frustrasi," kata Isshiki dengan berbisik. Aku melihatnya dengan lirikan dan dia mengangkat wajahnya untuk menatapku. Entah kenapa dia tampak frustrasi. Isshiki cemberut dan meneruskan kata-katanya.



"Tapi, itu enak ..." dia segera mengalihkan wajahnya. Seakan-akan, aku tidak bisa menahan senyum ketika melihat tingkahnya itu.



"... Aku senang mendengarnya."



"Yah, mengajak seorang gadis ke suatu toko yang biasanya sulit untuk dimasuki sendirian olehnya. Sepertinya tindakanmu itu bisa memberimu poin tinggi.” Isshiki mengangguk dan meyakinkan dirinya seolah-olah dia membujuk seseorang. Selama dia menikmatinya, itu membuatku sangat senang.



Tapi jika dipikir-pikir, pasta dan ramen adalah dua hal yang cukup identik. Dalam hal: konten minyak, alpukat dan Back Fat, itu semua tidak begitu berbeda.



Karbohidrat dan lemak tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Mungkin itu adalah hal yang sangat baik.



Naritake benar-benar seperti dewa.



× × ×



Baiklah, sekarang kita sudah selesai makan, mari kita pulang!



Setidaknya, itulah yang aku ingin kukatakan, tapi kami masih berjalan di sekitar kota Chiba.



"Apakah kau tidak ingin makan sesuatu yang manis?"



Ia berpose untuk mengajukan pertanyaan itu, tetapi dalam kenyataannya, dia lebih mirip memberikan aku perintah. Aku menerima perintahnya dan kami pergi berkeliling mencari tempat yang mirip dengan cafe.



"Ada banyak toko bagus jika kita pergi ke arah sana," kata Isshiki sambil berjalan dengan buru-buru. Arah yang dia tuju, sedikit menjauh dari pusat kota. Itu mengarah pada jalan tenang yang dilengkapi dengan suatu taman, kantor, dan apartemen.



Kami melewati depan pusat stasiun dan berjalan menyusuri jalan yang baru-baru ini sedang dalam perawatan. Daerah ini, tidak seperti jalan "pungutan" yang ramai, dan tidak begitu banyak terdapat bangunan.



Mungkin itulah alasan mengapa angin terasa bertiup sedikit lebih kuat di sini.



Cuaca begitu bersih, namun angin utara masihlah terasa dingin.



Setelah perutku terisi penuh dengan ramen, aku merasa nyaman dan hangat. Aku tidak akan mengatakan bahwa aku ingin pulang ke rumah saat ini, tapi aku juga tidak suka berjalan untuk jangka waktu yang lama.



Aku menatap Isshiki yang bertanya-tanya, berapa lama lagi waktu yang diperlukan untuk sampai ke sana. Ia menunjuk ke depan dengan senyuman. ”Kau lihat itu? Toko yang di sebelah sana itu.”



Ketika aku melihatnya, aku ditemukan dengan suatu cafe elegan.



Bagian luarnya terbuat dari panel kayu dengan jendela besar sehingga cahaya bisa masuk dengan baik dari luar. Pada terasnya terdapat payung hijau besar, dan bagian depan cafe memiliki papan yang dilengkapi menu tertulis dengan kapur. Betapa elegan, itu ter-ekspose di bawah cahaya matahari siang. Hei, yang benar saja, kita sedang berada di Chiba, kau tahu? Apakah tidak masalah memiliki cafe seperti ini di Chiba?



Bagaimana dengan itu? Kau suka pada toko yang itu, kan? Kita akan masuk, kan? Kamu tidak tahu apa arti dari: "Aku tidak akan pergi", kan? Diam-diam, Isshiki menarik syal-ku, seakan-akan hendak menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu. Um, syal-ku bukan tali, kau tahu?



"Yah, aku kira toko ini tidaklah masalah."



Lagipula, hawanya benar-benar dingin. Jadi, aku tidak protes pergi ke mana saja, asalkan bisa masuk ke dalam ruangan yang lebih hangat. Aku tahu dengan pasti, bahwa aku tidak akan repot-repot masuk ke toko jika aku sendirian. Tapi karena aku didampingi oleh Isshiki hari ini, maka mereka harus memaafkanku karena aku akan masuk tanpa izin ke dunia elegan yang mereka punyai.



"Oke, mari kita.......oh, sial!!" kata Isshiki dan dia pun terhenti.



"Apa? Apa yang sedang terjadi?”



Dia menarik lenganku dan memaksaku untuk berhenti. Lenganku bukanlah kemudi milikmu, lho ... Kemudian, dia dengan panik bersembunyi di belakangku. Kemudian, dia mengintip dari samping dan menunjuk pada toko tersebut.



"Mohon lihat ke sana."



"Hm."



Aku melihat ke arah yang ditunjuknya dan sepasang kekasih baru saja keluar dari cafe. Seorang gadis terlihat lemah-lembut yang mengenakan kacamata dengan rambut dikuncir dan seorang pria biasa-biasa saja tanpa ciri-ciri mencolok... Setelah keduanya meninggalkan toko, mereka berjalan ke arah yang berlawanan dari kami.



Aku melihat mereka dengan penasaran sambil bersedekap dan merenung.



Mereka tampak tidak asing ... Ketika aku masih berpikir tentang dimana aku pernah melihat mereka, suatu suara berbicara kepadaku dari balik.



"Yang cowok adalah wakil ketua OSIS, dan yang cewek adalah sekretaris OSIS."



... Ohhh, itu benar, aku sudah pernah bertemu dengan mereka sebelumnya.



Tidak, tunggu sebentar. Mengapa mereka berdua keluar dari cafe itu bersama-sama?



"Apa, jangan bilang kalo mereka berdua berpacaran?" tanyaku pada Isshiki yang sedikit menjauh dari punggungku.



Dia memiringkan kepalanya. ”Siapa tahu? Aku tidak berpikir begitu? Hanya karena mereka keluar bersama-sama ke suatu tempat sebentar, bukan berarti mereka paca ...”



Isshiki tiba-tiba berhenti dan berbalik dengan kekhawatiran yang bahkan jauh lebih intens.



"Ha! Apa lagi sekarang? Apakah kau mencoba untuk merayu aku? Sedikit memalukan bagimu, jika kau berpikir bahwa kau dapat bertindak seperti pacarku hanya karena kita keluar untuk bersenang-senang sebentar. Aku minta maaf, tolong pikirkan itu setelah kita melakukan ini beberapa kali.” Dia dengan cepat mengoceh setelah menjulurkan kedua tangannya, seolah-olah ingin membuat jarak denganku.



"Ahh ..., iya, iya. Gak masalah, lupakan saja.”



Akan begitu merepotkan, jika aku bertanya padanya mengapa dia menyimpulkan seperti itu ... Dan juga, dia sudah sering kali menolak aku dengan perkataan seperti itu ... Itu membuatku merasa bodoh.



"Apa pun itu, mari kita masuk. Aku mulai kedinginan.”



"Oh, tunggu aku!"



Aku pergi ke toko setelah berkata demikian padanya dan Isshiki pun mengejar aku.



Aku tahu bagian luar cafenya begitu elegan, tapi interiornya juga tidak berbeda. Tampaknya mereka memilih kursi dan mejanya dengan teliti, karena masing-masing terlihat berbeda. Dinding dan  laci dihiasi dengan dekorasi manis, mewujudkan suatu interior yang akan populer di kalangan pelanggan wanita.



Tempat duduk yang akan kami tempati tampak berbaris dari dalam ke kanan. Ada juga sofa yang tampak lebih standar jika dibandingkan dengan interior toko. Sinar matahari dari luar terpancar melalui haluan jendela yang menghadap ke jalan.



Isshiki yang duduk di seberangku segera membuka menu. ”Oh, Astaga! Kau tahu....aku tak punya ide tentang apa yang harus kupesan.”



Meskipun dia bertanya demikian, sepertinya dia tidak mengharapkan jawaban dariku secara khusus. Dia hanya membalik-balik daftar menu itu sendiri. Irohasu geto loh. Dengan sangat licik, dia menunjukkan tipu muslihatnya yang begitu manis dan feminim. Yahh, kelicikan tidak benar-benar menjadi masalah karena para gadis menyukai hal yang manis-manis. Di sisi lain, ada seorang monster pemakan kue yang menelan seluruh kue teh di ruang klub ... Meskipun baru-baru ini, dia lebih suka melahap kerupuk beras sebagai gantinya.



Ketika aku melihat Isshiki yang terus mengkhawatirkan menunya, ia menunjukkan sebagian menunya padaku.



Ohh, menu ini cukup bervariasi ...



Macaron, Bolu Gulung, gâteau au fromage cheesecake, creme brulee ... Ada juga gelato dan sorbet. Aku ingin tahu apa perbedaan antara keduanya? Apakah itu sesuatu seperti keluarga Shofukutei[7] atau sejenisnya?



Dengan pemikiran sia-sia di kepalaku, aku membandingkan nama-nama item menu tersebut dan gambar, sampai akhirnya Isshiki memutuskan sesuatu dengan tiba-tiba



"Aku siap."



"Oh. Kalau begitu, mari kita panggil pelayannya.”



Setelah memanggil pelayan, Isshiki menunjuk menu dan memesan. ”Mohon beri aku teh assam* dan macaron.”

[Teh Assam adalah teh hitam yang berasal dari India.]



"Dan aku akan memesan ... kopi blend dan gelato*."

[Gelato adalah es krim khas Italia.]



Setelah membuat pesanan kami, sementara waktu ada jeda untuk berelaksasi.



Bossa nova BGM* dengan lembut dimainkan, suasana hangat di dalam, dan sinar matahari lembut di sore hari. Itu semua mempengaruhi suasana spesial di dalam cafe. Bahkan suara pelanggan lain terdengar jauh dan tenang, seolah-olah mereka terendam air.

[Bossa nova adalah musik asal Brazil yang berasal dari genre Samba. Menekankan pada melodi, namun sedikit dalam perkusi.]



Tapi sebagai gantinya, perhatianku tercurah pada orang di depanku.



Isshiki pasti sudah pernah mengunjungi toko ini secara berkala, karena dia menikmati sofanya dan terlihat sangat santai. Dia menempatkan sikunya di lengan kursi, mengistirahatkan pipinya di tangannya, dan memandang ke luar jendela. Dia bersenandung sendirian sembari menanti-nanti kedatangan macaronnya.



Aku juga menatap pemandangan di luar sambil mendengarkan suara dendangan Isshiki yang redup. Pemandangan di depan adalah suasana khas kota Chiba. Tapi saat ini aku menatapnya dari balik selembar kaca interior cafe elegan. Dan ternyata, kesannya jauh lebih mewah dari biasanya. Pasti ini karena sihir dari suasana cafe, sehingga aku melihat ilusi itu.



Mungkin saja, Isshiki gemar melihat pemandangan ini dan memutuskan untuk sering-sering datang ke toko ini. Tentu saja, dia bukanlah satu-satunya pelanggan yang menikmati ini dan berkunjung ke sini.



"Apakah kau menggunakan toko ini sebagai tempat nongkrong para anggota OSIS?" aku bertanya. Itu kulakukan karena kami melihat mereka berdua sebelumnya. Isshiki berpaling ke arahku dan menggeleng.



Kemudian, Isshiki bertepuk tangan, memindahkan tangannya ke dagunya, dan berpikir.



"Ahh, jadi kau sedang berbicara tentang si wakil ketua dan sekretaris. Aku pikir, mungkin itu karena kami membicarakan tentang hal itu minggu lalu.”



"Jangan bilang ..."



Jadi itu sebabnya kami berpapasan dengan mereka tadi.



Tidak, mungkin si wakil ketua memutuskan untuk menggunakan momen itu sebagai kesempatan untuk mengajak si sekretaris. ”Hei, apakah kau ingat tentang toko yang Isshiki-san bicarakan tempo hari? Ingin mencoba pergi ke sana?”atau modus sejenisnya! Pfft, menjijikkan. Apa sih yang mereka lakukan di OSIS? Jangan main-main denganku, lakukan pekerjaanmu dengan baik!



... Tidak, tunggu. Tidak selalu si cowok yang mengajak si cewek. Jika gadis sekertaris yang tampak lemah-lembut itu mengerahkan semua keberaniannya untuk mengajak si cowok, itu membuatku ingin bersulang padanya! Tentu saja, aku tidak berniat bersorak untuk wakil ketua! Karena secara internal, aku pikir, aku menempatkan wakil ketua dalam kategori yang sama seperti Tobe. Dalam artian, mungkin dia adalah korban dari Isshiki Iroha.



Saat aku sedang berpikir, pelaku yang bersangkutan, yaitu Isshiki Iroha, berbicara kepadaku.



"Aku menanyai wakil ketua OSIS, apakah ada tempat yang bisa aku kunjungi untuk bersenang-senang di akhir pekan. Dan itu hanya untuk hari ini. Hanya untuk hari ini!” kata Isshiki sambil menekankan bagian terakhir selagi dia menatapku. Kau pasti menekankan bagian yang penting, kan ...? Terus terang saja, itu tidak mendapat poin tinggi di mata seorang Hachiman.



"Aku menghargai gestur-mu, tapi aku lebih menyukai jika kau mempersiapkan hal-hal yang lebih mendasar...”



Kau tahu, seperti memeriksa pendapatku mengenai masalah ini. Atau memberiku penjelasan tentang apa tujuan kami ketika pergi keluar untuk bersenang-senang. Pasti ada banyak hal yang harusnya sudah dilakukan terlebih dahulu ...



Tapi, keluhan dariku hanya didengar oleh Isshiki melalui kuping kirinya, kemudian keluar kuping kanan. Isshiki terang-terangan mengalihkan pandangannya dan mengubah topik pembicaraan sembari bergumam. ”Yah, aku tidak berharap melihat mereka di sini, jadi, tadi hampir saja ...”



Dia berhenti bicara, memindahkan tatapannya kembali dan melihat ke arahku. Dan kemudian, secara lembut dia menyentuh mulut dengan tangannya, seakan-akan perkataannya tidak ingin didengar oleh orang di sekelilingnya. Dengan senyuman, dia berbisik diam-diam, ”Lain kali, mari kita pergi ke suatu tempat, di mana kita tidak akan melihat orang lain yang kita kenal.”



"Ada lain kali ...?" kataku. Ketika aku terkejut dengan kata-katanya dan membayangkan berapa banyak kesulitan yang akan terjadi, suaraku menjadi sedikit serak.



Mendengar itu, Isshiki melotot kembali. ”Mengapa kau terlihat seperti tidak menyukainya?"



"Oh tidak, itu bukan berarti aku tidak suka atau semacamnya ... Yahh, katakan saja, aku akan mengatur sesuatu sehingga dapat mempertimbangkan kemungkinan positif sebanyak yang aku bisa.”



"Astaga, itu tidak terdengar realistis sama sekali ..." Isshiki mengeluh dan menatapku dengan senyum kecut. Kemudian, mulutnya membentuk lingkaran dan kilatan semangat muncul di matanya. Aku menoleh ke arah yang Isshiki lihat....yaitu, di belakangku...dan si pelayan telah membawakan satu-set-kue untuk kami.



Macaron, teh, kopi, dan gelato yang elegan diletakkan di atas meja. Setelah melihat hidangan-hidangan itu dalam sukacita, Isshiki mengambil ponselnya dan mulai memotret. Entah kenapa, ia bahkan mengambil gambar gelato-ku juga.



Mengapa sih para gadis suka mengambil gambar makanan mereka? Apakah mereka ingin merekam diet mereka atau sejenisnya? Atau apakah pelatih RIZAP* mereka memberitahu agar mereka mengirim foto tersebut padanya?

[RIZAP adalah nama suatu Gym atau gedung olahraga.]



Setelah Isshiki puas dengan mengambil gambar, ia menurunkan ponselnya. Hanya ketika aku pikir bahwa akhirnya aku bisa makan, Isshiki mengangkat tangannya untuk menggangguku sekali lagi.



"Ah, maafkan aku. Bisakah kau mengambil gambar?”



Ketika dia memanggil pelayan, si pelayan dengan cepat muncul dan menerima ponselnya. Mengambil gambar lagi? Berapa lama lagi sih, kau akan membuat aku menunggu!? Aku sudah ingin makan gelato-ku! Aku mengambil sendok dan tanganku pun dipukulnya.



Ketika aku melihatnya, Isshiki bersandar dan berpose di depan pelayan dengan ponselnya yang berada dalam mode kamera.



"Ayo, senpai, buatlah tanda ‘piss’ dengan dua jarimu. Pisssss.”



"Aku tidak ingin melakukannya. Kau tidak benar-benar membutuhkan gambarku. Gelato-ku akan mencair, kau tahu.”



"Itu tidak akan mencair begitu cepat. Jadi, ayolah,” kata Isshiki dengan cepat, tanpa menoleh. Rupanya, dia tidak bisa menahan wajah berposenya untuk waktu yang lama. Seolah-olah mulai tidak sabar, tingkah laku si pelayan yang tadinya sopan, kini berubah menjadi sedikit kasar.



"Um, Pak ...?" kata si pelayan sembari menatapku dengan senyum bermasalah. Tatapan pelayan memiliki makna bahwa dia sedang tertindas, dan bukannya kebingungan tentang apa yang harus dilakukan ... A-Aku minta maaf karena telah mengganggu kerjamu ...



"Senpai, ayolah, ayolah." Isshiki terus mendesak aku. Karena aku tidak punya banyak pilihan, aku sedikit memindahkan piring dan membungkuk di atas meja.



"Kau harus bergeser sedikit lebih dekat ..." si pelayan memerintahkan aku sembari berpose dengan kamera. Aku pun sedikit menggeser tubuhku agar lebih mendekat. Dan kemudian, tiba-tiba aku mencium bau sampo. Aku melihatnya tepat di depan mataku, dan rambut lembut Isshiki berkibar. Wajahnya sungguh dekat. Ketika aku secara refleks memindahkan tubuhku agar menjauh darinya, si pelayan kembali menegur.



"Ah, itu sudah cukup baik. Oke, ini dia......”



Dan kemudian, ada dua sampai tiga suara jepretan.



"Terima kasih banyak."



Setelah memberikan ucapan terima kasih, Isshiki mengambil kembali ponselnya dan melihat gambar-gambar tersebut sembari mengistirahatkan tubuhnya di sofa. Aku tidak pernah menyangka bahwa mengambil gambar adalah suatu pekerjaan yang begitu melelahkan ... Konon katanya, nyawamu akan tersedot jika kau dipotret, dan sepertinya mitos itu benar adanya.



Aku mendesah dan uap air yang tadinya mengepul di atas cangkir kopiku, kini sudah tiada. Aku ingin meminumnya sebelum menjadi semakin dingin.



"... Bisakah aku makan sekarang?"



"Ah, ya, silahkan duluan." Isshiki menjawab dengan acuh saat memeriksa gambar-gambar di ponselnya. Sambil berharap bahwa wajahku tidak memerah pada gambar, aku makan gelato untuk mendinginkan wajah dan kepalaku.



... Sialan, itu benar-benar meleleh sedikit.



× × ×



Aku meninggalkan toko setelah membayar tagihan, dan saat itu hari sudah mulai gelap. Ketika kami dengan lamban mengobrol tentang hal-hal tak berguna dan menikmati manisan, rupanya kami duduk di dalam toko tersebut terlalu lama.



Sekarang sudah malam, hembusan angin jadi sedikit lebih kuat. Hawa dingin merembes melalui bukaan kecil di syal-ku yang longgar.



Ketika aku menyesuaikan kerah mantel dan membungkus diriku dengan syal sekali lagi, Isshiki keluar dari toko tak lama kemudian.



"Maaf karena telah menunggu. Aku hampir lupa untuk meminta tanda terima.”



Isshiki mengepuk kepalanya dengan mengatakan: "teehee, oops" ☆. Betapa licik ... Kemudian, aku bertanya-tanya untuk apa dia meminta tanda terima? Kami membayar tagihan bersama-sama sebelumnya. Omong-omong, setelah bermain tenis meja dan makan ramen, dia juga menyimpan tanda terima di setiap toko yang kami singgahi ... Apakah dia akan mengajukan laporan pengeluaran atau semacamnya?



"Baiklah, aku kira, kita harus menuju ke stasiun."



"Oke." Isshiki mengangguk dan kami berdua pun mulai berjalan.



Ada orang-orang yang menuju ke stasiun, dan ada juga orang-orang yang mungkin datang dari stasiun pada saat-saat seperti ini. Dengan percampuran lalu lintas gelombang manusia tersebut, pemandangan kota menunjukkan “wajah dikala hari mulai senja”. Mengingat ini adalah akhir pekan, kota ini bahkan tampak lebih mencolok dan hidup.



Belum larut malam, tapi aku sudah menguap. Ini mungkin dikarenakan pertandingan tenis meja yang tadi kami lakukan. Isshiki yang dari tadi berjalan di sampingku juga ikut-ikutan menguap.



Ketika Isshiki menyadari bahwa aku melihatnya sedang menguap, dia tampak sedikit malu. Dia batuk untuk menutup-nutupi itu dan mengambil setengah langkah lebih dekat.



"Yah, aku kira, kau mendapatkan sekitar sepuluh poin untuk hari ini," kata Isshiki dengan tiba-tiba.



Sepertinya, dia memberi aku poin yang diperoleh dari tes ujian kursus berkencan.



"Aku kira, aku akan bertanya, tapi berapa banyak poin maksimalnya?"



"Seratus, tentu saja."



"Kenapa sih itu begitu rendah ...?"



Aku pikir, aku telah mencoba cukup keras, kau tahu? Ya? Tidakkah kau sedikit tidak adil di sini? Aku memberi Isshiki suatu tatapan ketidakpuasan. Dia mengangkat kedua tangannya yang ditutupi dengan sarung tangan.



Isshiki melebarkan telapak tangannya, dan ia mulai menghitung dengan jari-jarinya. ”Pertama, kau kehilangan

sepuluh poin karena kau bukanlah Hayama-senpai.”



"Itu adalah suatu peraturan yang sungguh tak masuk akal, kan?"



Apakah kau adalah Nayotake no Kaguya-hime[8] atau sejenisnya? Belum lagi kau melakukan sistem pengurangan poin. Ketika kau menyemangati seseorang, aku secara pribadi berpikir bahwa akan lebih baik untuk menggunakan sistem penambahan poin. Mari kita menambahkan poin baik kita, ya!



Tapi jeritan jiwaku tidak mampu menggapai Isshiki. Dia terus menghitung sambil melipatkan jari demi jari yang masih tersisa. Tolong berhenti, semakin kau melipat jari-jarimu, semakin kau lipat hatiku.



"Dan jika kita menghitung perilaku dan tindakanmu, totalnya adalah minus empat puluh poin, oke?"



"Aku kira itu cukup adil." aku mengangguk secara refleks. Adapun, fakta bahwa aku kehilangan banyak poin berarti aku melakukannya dengan baik. Meskipun demikian, mungkin itu lebih disebabkan oleh toleransi dari Isshiki daripada kerja kerasku.



"Jadi kau menyadari hal itu ..."



Suara mendesahnya tercampur dengan ekspresi patah semangat. Oh, jadi kau tidak akan memberiku poin gratis...



Sekarang, Isshiki-sensei terus menghitung. Isshiki tiba-tiba meremas tangan kanannya untuk mengepalkannya dan dengan ringan menonjok diriku. ”Kau kehilangan lima puluh poin karena menerima ajakan seorang gadis dengan begitu mudah. ​​"



"Kaulah yang mengajak aku ... Tunggu, sekarang poinku jadi nol."



Aku sama sekali tidak merasakan sakit ketika dia memukulku, tapi anehnya, ada sesuatu yang menusuk di dadaku. Tiba-tiba aku mengingat seseorang, dan itu cukup membebani pikiranku.



Setelah menonjok sisi tubuhku, Isshiki melangkah ke depan, dan dia terbatuk sambil membusungkan dadanya.”Yah, hari ini aku bersenang-senang, jadi aku akan memberikan sepuluh poin tambahan sebagai bonus."



"... Wah, terima kasih untuk itu."



Secara total, sepuluh poin. Evaluasi terkadang memang keras, tapi poin yang diberikan di akhir adalah suatu pemaaf. Perincian skorku sendiri adalah mirip, jadi aku kurang-lebih yakin akan hal itu.



Sembari kami bercakap-cakap, kami semakin mendekati stasiun.



Dari sini, aku akan mengambil Jalur Sobu dan Isshiki kemungkinan akan pulang naik monorail. Sehingga berarti, kami akan berpisah di depan stasiun.



"Jadi bagaimana denganmu, senpai?" tanya Isshiki sederhana ketika kami tiba di bundaran yang diteruskan ke tangga. Karena dia menghadap ke bawah, aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya, jadi untuk sesaat aku tidak mengerti pertanyaannya.



Namun, seharusnya tidak menyimpang terlalu jauh dari apa yang telah aku pikirkan sebelumnya.



"Yah, aku kira, aku memang seperti itu ... Meskipun aku sedikit lelah."



"Apakah kau harus jujur ​​tentang seberapa lelah dirimu ...? Maksudku, itu sama sekali tidak masalah. Artinya, kau benar-benar merupakan partner yang tepat bagiku!”



Isshiki mengangkat wajah dengan senyuman energik. Aku hanya membalas kelicikan khas Isshiki dengan wajah kaku. Ketika Isshiki melihat senyum kecutku, dia menggembungkan pipinya pertanda tidak senang.



"Ada apa dengan wajah-super-merepotkan-mu itu ...?" pipi Isshiki membengkak dan dia dengan cepat berjalan ke depan untuk berpaling. Dia menyatakan sesuatu dengan ekspresi dongkol, ”Tidak ada gadis di dunia ini yang tidak merepotkan, kau tahu.”



Ahh, itu sungguh benar. Aku dengan ringan mengangkat bahu dan melangkah cepat menuju Isshiki.



"... Aku bisa membayangkan. Tidak ada banyak orang yang tidak memiliki banyak masalah.”



"Wow, kau sungguh menyedihkan, senpai." Isshiki berbalik, menunjukkan wajah kesal yang jauh lebih parah daripda wajah kesalku tadi. Gadis ini kejam.



Kecepatan berjalan kami pasti menurun karena kami berdua berpikir tentang berapa banyak masalah yang kami punyai. Tapi concourse* di depan stasiun sudah berada di dekat kmi. Setelah menghindari aliran orang dari gerbang tiket, kami tiba di tempat pertemuan hari ini, yaitu bagian depan Vision. Isshiki berhenti dan aku pun melakukannya.

[Concourse adalah suatu tempat terbuka di stasiun yang berisi banyak orang berlalu-lalang.]



"Apapun itu, hari ini berisi suatu pengalaman belajar yang baik. Terima kasih banyak.”



Isshiki dengan ringan membungkuk dan dengan jujur ​​mengungkapkan pujiannya. Terkejut karena kesungguhan dan perilaku sopannya, aku menjawab balik dengan canggung dan bingung. Isshiki mengangkat wajahnya dan tertawa geli.



"... Senpai, pastikan untuk terus mengingat hari ini, oke?"



Dia memberikan tatapan yang baik, diwarnai sedikit dengan keseksamaan.



"... Ya. Yahh, Kau tahu, terima kasih untuk hari ini.”



Aku sungguh-sungguh merasa belajar beberapa hal hari ini. Tentu saja, ini semua tentang Isshiki, sehingga menurutku dia tidak begitu mengerti hal tersebut terlalu banyak. Bagaimanapun juga, semua orang memiliki kekhususan yang berbeda dari orang lain.



"Oke, kita akan bertemu lagi di sekolah."



"Hati-hati di jalan."



Setelah bertukar salam perpisahan, Isshiki menuju ke peron monorel. Saat ia naik eskalator, ia semakin jauh dan terus menjauh.



Tiba-tiba, Isshiki berbalik dan melambaikan tangannya. Aku mengangkat tanganku juga untuk meresponnya dan mengawasinya dari jauh.



Gadis terbuat dari gula, rempah-rempah, dan semua hal yang menyenangkan.



Isshiki Iroha memiliki “hal menyenangkan” itu. Rasanya manis, namun pedas. Dan juga, mungkin pahit dan asam. “Hal menyenangkan” miliknya begitu menyusahkan, sehingga kau tidak akan dapat memahaminya kecuali jika kau mengalaminya sendiri.



Dan tanpa diragukan lagi, Isshiki bukanlah satu-satunya gadis yang memiliki sifat seperti itu. Dua gadis yang cukup dekat denganku, juga memilikinya.



Hanya saja, aku bertanya-tanya, sifat macam apa yang mereka miliki?



Ketika aku melihat Isshiki sampai dia menghilang dari pandanganku...hanya sekilas....pertanyaan seperti itu melintasi di pikiranku.


Catatan Kaki

1. Tsubasa Hanekawa dari Monogatari Series.

2. Date a Live.

3. Komei dari Koihime Muso.

4. Suatu cerita rakugo tua.

5. Lirik dari Pure Love Song oleh Shonan Kaze.

6. Asosiasi Sepakbola Jepang.

7. Keluarga Shofukutei mengacu pada dua aktor dengan nama yang sama namun berbeda akhiran.

8. Nayotake ada Kahuya Hime-, juga dikenal sebagai Putri Kaguya dari Bambu Penyegel. Hamburan Cahaya memberikan permintaan mustahil untuk lima pangeran yang meminangnya dalam pernikahan.

Oregairu Jilid 10.5 Bab 2 Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.