01 Agustus 2015

Oregairu Jilid 10.5 Bab 1 Bahasa Indonesia

Jilid 10.5 Bab 1
Suatu Hari nanti, bahkan Zaimokuza Yoshiteru akan dapat Menemukan Suatu Pekerjaan Mudah yang bisa Dilakukannya, Mungkin


Seperti yang diketahui oleh banyak orang di planet ini, jarang sekali terlihat salju selama musim dingin di Chiba. Jelas, tidak berarti bahwa hawanya tidak dingin. Karena nyatanya, itu sungguh dingin. Bagaimanapun juga, ini adalah musim dingin. Aku bahkan bisa mengklaim bahwa kedinginan hati Chiba jauh melampaui negara musim dingin lainnya. 

Tentu saja, aku benar-benar tidak tahu musim dingin di negara lain. Itu karena aku tidak pernah menghabiskan masa antara akhir Januari-Februari di tempat selain Chiba.

Satu-satunya perbandingan yang kuketahui adalah tampilan pada termometer dan laporan cuaca yang melaporkan suhu di bawah titik beku. Tapi terlepas dari itu semua, aku tidak akan benar-benar tahu seberapa dingin suhunya, sebelum aku mengalaminya sendiri.

Di sisi lain, adalah suatu fakta, bahwa nomor pada termometer tidak selalu mewakili seberapa dingin cuaca di Chiba.

Di dunia ini, ada sesuatu hal yang disebut indeks panas.

Kau mengalami sesuatu pertama kali, merasakannya, mempelajarinya, lantas kau akan benar-benar mengerti.

Sebagai contoh yang paling dekat, sekarang, aku bisa merasakan perbedaan antara angka pada termometer dinding dan indeks panasku.

Satu-satunya alasan untuk fenomena ini adalah karena ada seorang pelajar laki-laki di depan aku.

Bahkan di puncak musim dingin, keringat mengucur dari tubuhnya, mulutnya kejang-kejang, dan ia pun mengusap keringat di keningnya dengan punggung tangan yang ditutupi oleh sarung-tangan-tanpa-jari.

"... Mu."

Ketika ia mengeluh dengan suara berat, siswa itu (Zaimokuza Yoshiteru) menundukkan kepalanya. Sembari ia melakukan hal itu, ia membenamkan kepalanya ke dalam mantel. Ia tampaknya menyukai dan menirukan suatu monumen perintis. Tampaknya, dia bisa disalah-tempatkan pada suatu pintu masuk apartemen untuk jalan kelas tinggi di daerah Musashi Kosugi.

Dengan suatu erangan, Zaimokuza menjadi tenang dan suasana Klub Relawan kembali hening.

Selain Zaimokuza dan aku, ada orang lain yang hadir di klub. Tetapi, masing-masing dari mereka tenggelam dalam urusannya sendiri. Seseorang sedang membaca buku dengan secangkir teh di tangannya. Yang lain sedang mengutak-atik ponselnya sambil mengunyah kue teh*. Dan orang yang terakhir, sedang menata poninya sambil melihat cermin.
[Kue teh di sini bisa berarti: kue yang dimakan sebagai teman minum teh, atau kue yang terbuat dari bubuk teh. Pembaca boleh memilihnya.]

"... Muuuuun." Zaimokuza mengeluh lagi dan menatap langit-langit. Kali ini suaranya (tidak seperti sebelumnya) tersengar lemah. Namun demikian, dia tidak mendapat tanggapan dari orang-orang di sekelilingnya.

Ketika tak ada seorang pun (bahkan aku) bereaksi, Zaimokuza terus mengeluh lagi dan lagi.

Akhirnya, karena mulai jenuh dengan itu, desahan singkat terdengar dari sudut diagonal meja yang berlawanan dari tempat dudukku.

Ketika aku melirik ke arahnya, ketua Klub Relawan, Yukinoshita Yukino, menempatkan cangkirnya ke piring lepek dan menekan pelipisnya.

Yukinoshita memandang sebentar ke arah Zaimokuza dan kemudian meluncurkan tatapan matanya ke aku.”... Untuk saat ini, haruskah kita menanyakan tentang apa urusannya di sini?"

"Ehh ...? Meskipun begitu, satu-satunya orang yang sanggup berbicara dengan si chuuni ini adalah Hikki.”

Orang yang dengan enggan menjawab sembari mengunyah kerupuk beras adalah Yuigahama Yui. Dengan menempelkan tubuhnya di sisi meja, dia menoleh ke arahku.

Yahh, bagi Yukinoshita dan Yuigahama, memberikan respon secara tiba-tiba pada Zaimokuza yang mengganggu, bisa dianggap sebagai suatu bentuk kebaikan. Walaupun itu agak lama.

Tapi satu-satunya orang bermasalah adalah gadis yang mengabaikannya sepanjang waktu sambil menatap ke cermin, yaitu Isshiki Iroha. Kalau begitu, mengapa kau ada di sini? Maksudku, ini bukanlah masalah besar atau apa pun. Aku bahkan tidak memintanya*.
[Kalimat tersebut bernada tsundere.]

Isshiki tidak begitu memperhatikan Zaimokuza. Setelah dia memeriksa poninya, dia mengambil krim dari wadah di kantongnya. Dia pun memulai perawatan kulit di tangannya sambil berdendang. Dia mengoleskan krim di sepanjang jari tipisnya dan bau asam sitrat* memenuhi udara.
[Asam sitrat atau yang lebih dikenal dengan aroma citrus adalah wewangian jeruk.]

Aku pun ingat, Zaimokuza dan Isshiki tidak benar-benar mengenal satu sama lain, iya kan?

Meskipun begitu, pernah berkenalan atau tidak, kemungkinan Isshiki tidak akan memperhatikan Zaimokuza sepanjang hari. Biasanya, hal sebaliknya adalah kebenaran.

Itu berarti ... aku tak yakin, tapi Yuigahama yang mendorong tubuhnya ke depan untuk bersandar pada sisi meja bertanya padaku, "Hikki, mengapa kau tidak menanyainya?"

Yukinoshita mengangguk seolah-olah dia berkata. ”... Itu benar. Bagaimanapun juga, sejak awal, Hikigaya-kun adalah satu-satunya orang yang bertanggung jawab untuk masalah seperti ini,.”

"Jangan membuat aku bertanggung jawab hanya karena kalian merasa seperti itu ..."

Satu-satunya orang yang menjadi tanggung jawabku adalah Totsuka-tan, kau tahu? Aku seperti seorang penggemar gila yang mempengaruhi beberapa orang untuk menjadi penggemarnya juga. Dan menghibur dia di konser, kau tahu? Tapi keimutan mengatakan “Totsuka-tan” bukanlah suatu hal yang normal.

Apapun itu, satu-satunya individu dalam ruangan ini yang bisa menjalin komunikasi dengan Zaimokuza adalah aku. Aku secara samar-samar menyadari bahwa betapa merepotkan hal itu. Tapi sepertinya dia tidak akan meninggalkan klub, kecuali jika aku berbicara kepadanya.

"Zaimokuza, untuk apa kau datang ke sini ...?" Aku memberanikan diri dan bertanya padanya.

Kemudian, dia terlihat kegirangan dan menunjukkan senyum senang.”Ohh, Hachiman! Betapa kebetulan!”

"Tidak, Kau benar-benar tidak perlu bertindak seperti itu ..."

"Hapon, seperti yang kau katakan. Seperti yang kau lihat, saat ini aku sedikit tersudut ...” Zaimokuza berhenti sejenak. Dia membetulkan posisi tubuhnya, seakan hendak memulai lagi dari awal. Sembari menjadi satu-satunya orang yang mendengrakannya, aku akhirnya melakukan hal yang sama.

"Maksudmu, apakah ini tentang perbincangan kita waktu itu, yaitu kekhawatiranku menjadi editor penerbitan?"

"Ya. Tentu saja, ini juga terjadi untuk yang pertama kalinya ketika aku mendengar tentang hal ini.”

Dia mulai lagi... tiba-tiba mengatakan sesuatu yang benar-benar keterlaluan lagi ... sepertinya begitu.

Yuigahama yang menyimak dari jarak dekat bergumam, ”Bukankah ini sesuatu tentang Light Novel atau sesuatu sebelumnya ...?”

Oh ya ampun, Yuigahama benar-benar bagus dalam merespon. Dibandingkan dengan dua gadis lainnya, kurang-lebih mereka hanya mengabaikannya dengan dingin. Bahkan Yukinoshita, gadis yang telah menunjukkan minat sebelumnya, sekarang tidak melihat adanya nilai dalam mendengarkan jawaban Zaimokuza. Dia hanya membalik-balik halaman bukunya, kemudian kembali membaca dengan tampilan acuh-tak-acuh di wajahnya. Adapun Isshiki, gadis yang tidak memberikan minat sejak awal, hanya menunjukkan ekspresi wajah kompleks sembari ia mengatur bulu matanya dengan penjepit.

Namun, Yuigahama mengungkap suatu hal yang benar. Harusnya, cita-cita Zaimokuza adalah menjadi seorang penulis Light Novel. Ada juga masa ketika ia mengklaim bahwa ia ingin menjadi seorang penulis cerita Game. Tapi dia langsung banting stir dan kembali ingin menjadi seorang penulis Light Novel lagi. Sifat plin-plan-nya membuat aku berpikir bahwa dia jauh lebih cocok untuk menjadi seorang politikus.

Apapun itu, aku mengamati Zaimokuza untuk memahami mengapa ia memiliki perubahan mendadak dalam hatinya. Dia pun bersedekap dengan ekspresi wajah sulit ditebak.

"Hmhm, itu karena penulis Light Novel adalah ampas dunia hiburan. Itu adalah suatu pekerjaan yang tidak memerlukan landasan untuk memulainya. Itu adalah pekerjaan yang semua orang bisa melakukannya. Terus terang, tak seorang pun akan membuatku iri bahkan jika aku menjadi seorang penulis novel. Dan Light Novel diperlakukan seperti sampah hanya untuk menjadi Light Novel ...”

Zaimokuza tampak sedih saat ia berbicara. Tetapi ketika ia membelalakkan matanya, ia menyatakan sesuatu dengan suara serius. ”... Dan itulah ketika aku menyadari sesuatu."

"D-Dan itu adalah ...?" Meskipun merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan pada sorotan mata yang menembus kacamatanya, aku harus menanyakan hal itu. Setelah melakukannya, Zaimokuza dengan keras melompat untuk berdiri, dan menjatuhkan kursi ketika dia melakukan itu.

"Menulis adalah untuk dikritik! Sisanya adalah untuk menghilang! Dalam dunia bisnis, kau hanyalah sebongkah batu di pinggir jalan! Apakah ada nilai dalam pekerjaan seperti itu!?”

Teriakannya yang keras menggema di setiap sudut ruangan dan juga kepalaku. Ketika gemanya berhenti, Zaimokuza duduk lagi dengan tenang dan ruangan kembali menjadi hening.

Meskipun suaranya begitu keras, para gadis di ruangan ini masih saja tidak peduli. Bahkan Yuigahama yang beberapa saat lalu mendengarkan omongan Zaimokuza, sekarang kembali mengotak-atik ponselnya.

Saat ini, satu-satunya orang yang mau memasang telinga untuk mendengarkan kisah Zaimokuza adalah aku. Aku mungkin sudah terbiasa sendiri, tapi bahkan keheningan ini sedikit menyiksaku.

"B-Benar ... Kau sungguh memahami permasalahanmu sendiri ..." Aku bingung bagaimana untuk mengomentari ledakan ratapan yang mendadak itu. Aku pun hanya bisa menanggapinya dengan sesuatu yang layak.

Zaimokuza menyeringai.”Itu karena aku melihat di internet."

Wow. Internet begitu menakjubkan. Internet punya, seperti, seeeeemuaaanyaaa.

Kami terus berbincang sampai seakan-akan perutku terasa kenyang dan aku pun merasa kembung. Tapi Zaimokuza terus melanjutkan ocehannya disertai pendapatnya yang indah. ”Seperti yang aku sebutkan sebelumnya, editor penerbitan adalah pekerjaan yang jauh lebih keren! Bukan saja mereka memiliki kehidupan yang stabil, mereka jugalah orang yang terlibat dalam industri kreatif. Kurang-lebih, ini melanggar batas pada domain penciptaan anime! Dengan begini, aku akan dapat menikahi seorang Seiyuu! Fuahaha!”

"Kau pasti sedang mabuk Happy Meals* karena kepalamu hanya dipenuhi oleh pemikiran-pemikiran yang menyenangkan...”
[Secara artian, Happy Meals adalah suatu menu untuk anak kecil yang dikeluarkan oleh resto siap saji ternama, Mc Donalds. Namun, yang Hachiman maksudkan mungkin adalah pengertian kata tersebut secara harfiah, yaitu “Menu Gembira”.]

Itu tidak akan pernah terjadi, bahkan jika Natal, Tahun Baru, dan ulang tahunmu terjadi pada hari yang sama. Persetan, sekalian saja tambahkan Halloween dan Hari Valentine pada tanggal yang sama. Di sisi lain,”Happy Halloween" dan "Selamat Hari Valentine" biasanya digunakan di seluruh dunia. Namun, mengapa itu begitu menyenangkan? Hari Valentine adalah peringatan kematian Saint Valentine, kau tahu ... Apakah orang-orang akan mulai mengatakan "Selamat April Mop!" untuk April Fools, juga?

Senada dengan tren terbaru penambahan kebahagiaan, pemikiran Zaimokuza bukanlah pengecualian pada aturan-aturan tersebut. Mereka sangatlah senang pada sesuatu yang buruk. Apa yang buruk? Merekalah yang sungguh buruk.

Sejak awal, tujuan akhir untuk menikahi seorang Seiyuu adalah suatu hal yang buruk.

Era ini sudah menderita karena taraf perkawinan yang rendah, jadi bagaimana bisa seseorang seperti penulis Light Novel menikah dengan Seiyuu? Keluarkan kepalamu dari selokan!

Aku tidak benar-benar peduli jika Zaimokuza terluka atau depresi, sembari dia meneruskan kehidupannya yang sia-sia dalam kesalahpahaman. Tapi aku harus memberitahukan ini kepadanya. Inilah yang mereka sebut dengan niat baik dari teman sekelas.

"Zaimokuza."

"A-Ada apa ...?"

Aku tidak tahu apakah suaraku mendalam tanpa kusadari atau apakah gairahku bangkit karena hal tersebut, yang jelas, ketika aku memanggil nama Zaimokuza, ia duduk tegak dan menatap lurus ke mataku. Ketika aku juga menatap matanya, aku pun berbicara dengan perlahan.

"Izinkan aku menanyakan sesuatu. Ketika kau berada di SMP, apakah kau berpikir bahwa setelah masuk ke SMA, kau bisa mendapatkan pacar?”

"Nugh!"

Tepat sasaran; Zaimokuza mengucurkan keringat dingin dan terdiam. Aku terus menekannya.”Saat ini, kau pasti sedang memikirkan ini. Yaitu ... 'setelah aku masuk ke universitas, aku harus bisa mendapatkan pacar!'"

"Nnnngh! B-Bagaimana kau bisa tahu ... !?”

Dia bahkan tidak perlu bertanya. Jawabanku adalah jelas.

"Bagaimanapun juga, semua orang pernah mengalaminya,..." kataku. Secara naluriah aku mengatakannya dengan nada suara berat. Ya, adapun, suatu waktu di mana aku memiliki pikiran-pikiran seperti itu. Itu karena aku amat kecil, yaitu seorang balita kecil yang tak tahu apa-apa tentang dunia ini atau tempatku berada. Apa boleh buat, kau hanya bisa berpikir tentang bagaimana kau akan menikah di usia 25 th dan memiliki anak. Tapi ketika kau berkembang semasa SMP dan SMA, kau secara bertahap mengalami mekanisme batin dan realitas dunia. Hal ini membuatmu menurunkan standar visimu yang ideal. Kau tidak bisa melihat mimpi kecilmu pada realita; itulah bagaimana dunia ini bekerja, aku berani mengatakan ...[1]

Ketika aku punya pikiran-pikiran seperti itu, tiba-tiba aku mengeluarkan tawa yang bersifat nihilistik*. Zaimokuza menghela napas dengan berat dan dia pun jadi kaku, seakan-akan dia mensetujuinya.
[Dalam istilah Filosofi, nihilistik adalah kepercayaan yang menyatakan bahwa tak satupun hal di dunia ini memiliki eksistensi nyata. Kamus Oxford. Ini dekat dengan makna “pesimis”.]

Tapi di sana, aku bisa mendengar suara batuk yang begitu tipis.

"Semua orang ya ... Aku paham."

"Mmm ..."

Aku menoleh dan Yukinoshita yang harusnya sedang membaca buku, melirik padaku. Tapi ketika sorotan mata kami bertemu, dia tiba-tiba memalingkan wajahnya. Di sisi lain, Yuigahama yang dari tadi mengutak-atik ponselnya, kini menghentikan jari-jarinya dan membeku dengan ekspresi gelisah di wajahnya.

Dan sekali lagi, ruang klub menjadi tenang. Hah? Ada apa dengan keheningan ini ...?

Ketika aku duduk di sana dengan gelisah dan canggung, Isshiki memalingkan tatapannya dari cermin dan melirik kami. Dia kemudian mendesah singkat. ”... Aku tidak benar-benar peduli, tetapi apakah mudah untuk memasukkan suatu karya ke penerbit?”

Aku pikir, dari tadi dia tidak mendengarkan perbincangan kami. Ini karena dia mengabaikan Zaimokuza sepanjang waktu, tapi rupanya, percakapan kami telah mencapai telinganya.

Ketika Isshiki bertanya, suasana kaku akhirnya memudar. Dia mungkin tidak mengajukan pertanyaan itu kepada kami secara khusus, tapi Yukinoshita memiringkan kepalanya sambil merenung. ”Aku pernah mendengar bahwa ada suatu penghalang tinggi untuk memasukkan karya ke penerbit ...”

"Ohh, itu sungguh terdengar sulit, ya?"

Aku ragu bahwa Yuigahama mengerti tentang permasalahan apa yang sedang terjadi di sini. Aku penasaran, apakah gadis ini benar-benar tahu apa yang penerbit lakukan sebagai suatu perusahaan...

Apapun itu, dengan mengabaikan Yuigahama untuk saat ini, perkataan Yukinoshita adalah tepat. Aku ingat bahwa aku pernah mendengar itu dari ayahku. Sungguh sulit untuk menemukan pekerjaan di outlet-outlet media massa utama. Sekarang, mari kita lihat seberapa tinggi niat Zaimokuza dalam menantang itu semua ... aku memandang Zaimokuza. Anehnya, dia menjadi tenang.

"Memang. Aku juga telah mencari-tahu hal tersebut di internet. Dan tampaknya bergabung dengan salah satu penerbit memanglah suatu pekerjaan yang sangat sulit.” Zaimokuza mengeluh sambil bersedekap dan memiringkan kepalanya ke samping. ”Namun, aku tidak bisa memahaminya ...Apa yang membuatnya begitu sulit...? Editor Light Novel bahkan bisa bekerja sambil tidur. Ini adalah pekerjaan sederhana yang semua orang bisa lakukan. Yang harus kau lakukan hanyalah membaca naskah yang sudah selesai dikerjakan atau mengirim email ke orang-orang yang berada di daftar paling atas: 'Mari Menjadi Seorang Novelis'[2]. Kemudian, meminta mereka untuk menerbitkan karya-karya mereka, iya kan?”

"T-Tentu saja ..."

Aku harusnya tidak pernah menduga bahwa dia adalah seseorang yang bertujuan untuk menjadi penulis Light Novel karena dia begitu sering mengatakan kata-kata tak masuk akal. Tapi, yaahhh, memang benar bahwa pekerjaan sebagai seorang editor Light Novel tidak memerlukan pengetahuan umum, maka, bias ini tidak dapat dihindari.

Seharusnya, editor Light Novel adalah pekerjaan yang melelahkan. Jika dipikir-pikir, mereka harus bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki pemikiran menyedihkan seperti Zaimokuza, memperhatikan gastritis* miliknya, rasa panas dalam perut, dan Yamanouchi[3] yang harus mereka hadapi ... Semakin buruk karya seorang penulis Light Novel, maka editor-nya juga semakin disalahkan ...
[Gastritis adalah radang lambung.]

"Yahh, kau tidak akan tahu sampai kau mendapatkan dan mencoba pekerjaan seperti itu," kataku.

Zaimokuza kemudian menggoyang-goyangkan jari sambil mendecakkan lidahnya. Pria ini memang menjengkelkan ...

"Tentu saja, aku sudah mengarang rencana mengenai perburuan pekerjaan."

"Kau tidak bilang ... Biarkan kami mendengarnya."

"Tidak diragukan lagi bahwa mencari pekerjaan sebagai lulusan muda adalah suatu hal yang sulit. Tapi lain cerita jika kau mentransfer pekerjaanmu. Dengan seseorang sekaliber aku, aku hanya perlu menyelinap ke perusahaan editorial atau penerbit rendahan. Tujuanku adalah untuk direkrut sebagai seseorang yang mencari pengalaman,” kata Zaimokuza sambil tertawa dengan ekspresi kemenangan di wajahnya. Adalah misteri, mengapa ia tampak begitu yakin dan sombong.

"Ohh, secara mengejutkan, dia memikirkan suatu jalan untuk melaluinya..."

Ternyata, Yuigahama mudah tertipu.

"Tidak, masalah pertamamu adalah bagaimana kau bisa masuk ke perusahaan-perusahaan editorial dan penerbit ...”

Proposalnya adalah gambar rencana karir tertulis. Namun, satu-satunya masalah adalah betapa cacat dan tidak realistis rencananya tersebut. Seolah-olah menemukan beberapa celah, Yukinoshita menyipitkan matanya dan memasang ekspresi wajah yang sulit ditebak. ”Sejak awal, jika kita mempertimbangkan perusahaan berskala kecil sampai menengah, mereka tidak harus secara aktif merekrut ...”

Namun, telinga Zaimokuza adalah benda yang terbiasa tidak mendengarkan apa pun yang orang lain katakan.

"Aku pikir, ada di sana. Jika aku bisa mengumpulkan pengalaman editorial sebagai seorang asisten, aku dapat dengan mudah menemukan pekerjaan di GaGaGa Bunko ...”

"Kau terlalu meremehkan GaGaGa ..."

Seperti yang kau katakan, tapi kita sedang berbicara tentang salah satu dari tiga perusahaan terbesar di negara ini, Shogakukan, kau tahu ... Dia terlalu meremehkan dunia ini sehingga semuanya terlihat mudah. Tapi mari kita kesampingkan masalah itu.

Masalahnya adalah apa yang terjadi selanjutnya.

"Dengan demikian, untuk mengumpulkan pengalaman, aku berpikir untuk menciptakan suatu doujinshi."

"Uh huh. Yahh, lakukan saja yang terbaik.”

"Umu ... Tapi saat ini, aku tidak punya 'kawan sejati'[4] yang bisa membantuku membuat doujinshi ... Seorang 'kawan sejati' yang dapat melihat dan mendengar hal yang sama seperti yang aku lakukan ...”

"B-Benar ..."

Frasa memalukan apa yang sedang kau gunakan itu ...? Sekarang aku mendapatkan aura buruk darinya ... Di saat aku gemetaran karena firasat burukku, seolah-olah ingin membuatku tenang, Zaimokuza menempatkan tangannya di pundakku.

Kemudian, ia menunjukkan senyum yang cukup terang untuk menerangi dunia.

"Jadi ... Hachiman, mari kita bersama-sama membuat suatu doujin!"

"Aku menolak. Dan juga, aku bukanlah kawan sejatimu.”

Antusiasme santaimu seperti jika kau mengatakan,”Isono, mari kita bermain bisbol"[5] itu tidaklah cukup untuk menerangi duniaku. Di sini, aku ingin meminta pengunduran diri sampai waktu yang tak ditentukan. Walaupun, tidak masalah bagiku jika aku diberi imbalan setelah membantunya.

"Hachimaaaaaaaaaaan! Bukankah kita berdua selalu menjadi kawan!? Mengapa kau harus menjadi begitu kejam!?” sambil marah, Zaimokuza menuduh aku kejam lagi dan lagi. Jadi selama ini kau berpikir bahwa aku bisa tahan dengan semua omong kosongmu? Ketika aku mengabaikan Zaimokuza yang menggerutu, terdengar suara cermin yang dilipat.

Ketika aku melihat ke arah suara tersebut, Isshiki, yaitu seorang adik kelas yang telah selesai memoles dirinya dan juga memeriksa penampilannya, melipat cerminnya dan memasukkannya ke dalam kantong. Kemudian, dia menempelkan jari telunjuknya pada dagu dan memiringkan kepalanya untuk merenung. ”Ummm, 'doujinshi' itu apa?”

"Yahh, sederhananya, itu adalah buku-buatan-sendiri. Kau menulis manga-mu sendiri atau sesuatu seperti itu, dan membuatnya menjadi suatu buku.”

"... Benar."

Isshiki masih terlihat kebingungan bahkan setelah aku menjelaskannya. Aku sendiri bukanlah ahlinya doujin, jadi aku tidak yakin bagaimana cara menjelaskan itu kepadanya.

Ketika aku sedang berusaha keras untuk menjelaskan itu, gadis yang duduk secara diagonal dari arahku, Yuigahama mengangkat tangannya dan berkata, "aku, aku!"

"Aku tahu apa itu! Itu disebut Comiket atau sejenisnya, kan? Suatu even di mana kau menggambar manga-mu sendiri. Aku pikir, Hina pernah berbicara tentang itu sebelumnya.”

"Itu adalah penjelasan yang agak ceroboh. Dan juga, hobi milik Ebina-san agak khusus, namun, yahhh, kau hampir benar,” kataku.

Kali ini, Yukinoshita memasang ekspresi tidak percaya dan ragu-ragu.”Itu tidak hanya berlaku untuk manga. Ketika aku mendengar istilah tersebut, aku menghubungkannya pada bidang sastra dan seni.”

"Itu juga benar."

Sebenarnya, jika kita melacak istilah tersebut kembali ke akar-akarnya, bahkan penulis besar dan terkenal telah menghasilkan buku-buku mereka sendiri sebelumnya. Sastra seperti Shirakaba[6] dan Garakuta Bunko bahkan disertakan di dalam buku pelajaran sekolah.

Pada kenyataannya, doujinshi memiliki ruang lingkup yang luas dan tidak hanya terbatas pada manga. Doujin juga melingkupi review buku, buku studi investigasi, atau bahkan album foto. Ada genre yang berbeda serta berbagai variasi konten yang ekstrim di luar sana.

Dan juga, ketika aku menyebutkan review buku, isinya berkisar dari buku kritik tentang permiliteran sampai ulasan sinopsis dari cour anime sebelumnya. Bahkan ada buku kemenangan batu-kertas-gunting antara Anime Minggu[7] juga. Selanjutnya, kegiatan Doujin skala besar tidak hanya sekedar buku, tetapi juga diperluas ke ranah cosplay, anime produksi sendiri, CD drama, dan karakter-karakter figur. Jadi, ruang lingkupnya begitu besar.

"Benar, jadi Comiket ... Aku baru sadar, aku pernah mendengar tentang hal itu sebelumnya."

Jadi, Kau tahu tentang hal itu, Raiden?[8] Yahh, Comiket sudah fokus di televisi dan program baru khusus, sehingga bukanlah hal yang aneh jika kau mengetahui eksistensinya.

Namun, tampaknya Isshiki hanya memiliki pemahaman sepihak tentang hal itu.

"Bukankah itu seperti tempat di mana kau dapat membuat beeeeegitu banyak uang?" dia bertanya sembari bersandar maju dengan mata yang berbinar. Tampaknya dia tertarik pada topik ini. Gerakan yang seperti itu adalah gerakan murni seorang gadis, tetapi perkataan yang keluar dari mulutnya benar-benar mengerikan ...

"Tidak, itu tidak selalu benar. Aku mendengar bahwa mereka biasanya mengabaikan keuntungannya.”

Doujinshi adalah yang pertama dan yang terutama,”Aku membuat doujin karena aku ingin", sehingga seharusnya tujuan mereka bukanlah untuk keuntungan. Aku tidak begitu memahaminya karena aku tidak mengerti detailnya dengan jelas. Tapi di antara banyaknya Circle yang menciptakan doujinshi, jika kau memperhitungkan dari segi biaya yang bermacam-macam, mereka biasanya dikategorikan di antara merah dan hijau, plus dan minus, atau nol.

"... Mereka tidak memperoleh keuntungan ... tapi masih melakukannya?" setelah selesai mengatakan itu, Isshiki mengeluh dan mulai memegangi kepala. Tampaknya dia sedang mengalami kesulitan untuk memahami hal ini ...

"Jadi, itu sesuatu seperti dunia hobi." Yukinoshita mengangguk. Yahh, aku bisa membayangkan bahwa Yukinoshita menghabiskan uang pada hobinya seperti: teh, Pan-san Panda, dan merchandise kucing, semuanya tergantung kegemaran pribadi.

"Hal semacam itu cukup menakjubkan, ya kan?" kata Yuigahama sambil mengunyah permennya. Mengingat kepribadiannya, dia tampak agak terkesan meskipun perkataannya tidak terdengar seperti itu. Dia pun mendesah.

"Kegiatan Doujin bukanlah hal yang langka. Sebenarnya, Otaku bukan satu-satunya orang yang ingin membuat buku, kau tahu.”

"Kau pikir begituuu?" suara Isshiki masih terdengar penasaran. Ketika kami sedang berhadapan dengan hal-hal berbau budaya seperti doujinshi, yaitu hal yang asing bagi seseorang macam Isshiki, dia hanya memberikan kesan normal-normal saja.

Tapi, ada contoh lain yang serupa dalam konsepnya.

"Ada hal-hal seperti surat kabar gratis yang mahasiswa buat. Pikirkan itu,” kataku.

Yuigahama menepuk tangannya.”Oh, jadi hal-hal semacam itu disajikan selama festival sekolah berlangsung.”

"Ohh ..., aku bisa mengerti." Isshiki mengangguk seolah-olah ia mampu membayangkannya.

"Benarkah? Pada dasarnya, koran gratis adalah jenis doujinshi-terlalu-sadar[9].”

"Mendengar kau berkata demikian, itu terdengar begitu embigu, tapi itu adalah cara yang sempurna untuk mendeskripsikannya ...” seolah-olah mengingat sesuatu hal yang tidak menyenangkan, Yukinoshita menekan pelipisnya dengan kencang.

Betapa kebetulan, ketika aku menyebutkan "terlalu sadar", kepalaku juga terasa hampa.

"Apapun itu, mungkin ada beberapa BIAS dalam hal KORAN GRATIS, tapi aku pikir, kita berhasil mencapai KONSENSUS yang saling menguntungkan. Tentu saja, ketika kita berbicara tentang KORAN GRATIS, pada CASE BY CASE BASIS, sehingga demi tujuan untuk mencapai AGREEMENT yang jelas, satu-satunya hal yang dapat kita lakukan selanjutnya adalah melihatnya masing-masing dengan TRIAL AND ERROR sebagai INFLUENCER, dengan cara itu, kita dapat COMMIT pada sesuatu dengan hasilnya.”

"Senpai, apa sih yang kau katakan ...?" Isshiki meringis. Sepertinya dia mundur beberapa sentimeter dari bagian belakang kursiku.

"Oh maaf. Untuk sesaat, kesadaranku pergi entah ke mana ...”

"Mungkin akan lebih baik jika kesadaranmu pergi, dan tak kembali lagi ..." Yukinoshita mendesah dengan heran.

Apapun itu, sekarang kami semua sepakat bahwa doujinshi adalah hal-hal yang berhubungan dengan hobi.

Orang yang menciptakan koran gratis, kurang-lebih tidak berbeda dari kalangan Doujin. Dengan kata lain, mereka adalah Otaku ber-genre "jenis-terlalu-sadar".

Jika aku harus mengatakannya, doujinshi eksis pada beberapa jenis genre dan beberapa jenis orang.

"Jadi, jenis buku macam apa yang ingin kau buat?" aku bertanya pada Zaimokuza.

Dia berpikir dengan tenang sejenak. Lalu, ia mengangkat wajahnya dengan ekspresi segar dan membuka mulutnya.

"Fumu. Aku kira, aku akan membuat suatu novel ... Aku tidak memiliki pengetahuan tentang apa pun secara khusus, dan aku juga tidak memiliki kemampuan menggambar.”

Alasannya terlalu menyedihkan.

Bukankah sudah saatnya berhenti mengucapkan hal-hal basi seperti: "karena aku tidak bisa menggambar, aku akan menjadi penulis Light Novel!”...? Setidaknya, aku ingin agar kau bertujuan untuk menjadi seorang penulis Light Novel dengan alasan yang tepat seperti:”aku pikir, aku tidak bisa menemukan pekerjaan, maka aku akan menjadi penulis Light Novel sebagai gantinya!”

"Pada akhirnya, kau akan memilih Light Novel ... Jika kau benar-benar ingin menulis, ada banyak cara untuk mempublikasikannya di internet. Seperti yang kau sebutkan tadi, 'Mari Menjadi Seorang Novelis!' atau apa pun itu. Sebenarnya, aku pikir, kau akan memiliki kesempatan yang lebih tinggi untuk memulai debut jika kau mencobanya di sana.”

Walaupun aku jarang melakukan ini, aku pun memberikan beberapa saran yang bersifat membangun pada Zaimokuza, tapi tampaknya dia tidak begitu tertarik tentang hal itu.”Mmm ... Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku begitu suka dengan tempat itu."

"Kenapa tidak? Cobalah, itu cukup populer saat ini, kan? Parallel Universe Reincarnation Peerless CheaRem*.”
[Diterjemahkan: CheaRem Reinkarnasi Dunia Pararel Tanpa Bandingan (?), Ciu juga tak begitu paham maksdunya.]

"... Hah?"

Seketika aku mengucapkan itu, Isshiki mengeluarkan suara rendah seolah-olah dia berkata,”Apa sih yang orang ini katakan ...?”

Pandangan macam apa itu? Betapa menyebalkan ... Apakah aku mengatakan sesuatu yang aneh tadi? Itulah yang aku pikirkan, dan itu menyangkal apa yang aku lakukan.

Para gadis meringkuk di kursi mereka bersama-sama dalam suatu kelompok. Mereka pun membentuk suatu musyawarah dan saling berbisik satu sama lain.

"Paralel, Universe? Chea? Apa yang dia katakan tadi ...?”

"CheRem ... apa itu?"

"Mungkin dia berarti cheetaras?"

Isshiki, itu adalah makanan ringan olahan

Parallel Universe Reincarnation Peerless CheaRem membacakan kisah protagonis yang bereinkarnasi di dunia paralel sambil membangun harem melalui kekuatan-curang-tiada-bandingan yang dimilikinya. Sial, bagiku, menjelaskan hal itu sungguhlah suatu hal yang tidak masuk akal.

Yahh, itu adalah sesuatu yang seharusnya tidak hanya dinikmati oleh mereka yang menyukainya. Tidak perlu untuk menjelaskannya dengan paksa kepada orang-orang yang tidak tertarik. Itu juga bukanlah sesuatu yang harus dipahami oleh semua orang.

Parallel Universe Reincarnation Cheating* awalnya mirip dengan Light Novel. Jadi, semuanya akan baik-baik saja selama orang-orang yang menyukainya tidak kecewa terhadap ceritanya.
[Diterjemahkan: Kelicikan Reinkarnasi Dunia Pararel.]

Dan ini tidak berlaku hanya untuk Light Novel.

Ini diterapkan untuk semuanya. Kata-kata, atau bahkan perasaan.

Selama itu dapat mencapai seseorang yang ingin kau buat bahagia, itu lebih dari cukup.

Tapi aku bertanya-tanya, mengapa? Itu sama sekali tidak mencapai Zaimokuza-san.

Bahkan sekarang, ia mengabaikan apa yang telah kami katakan. Lengan dan kakinya menggeliat seakan-akan menahan sesuatu yang berat.

"Arghhhh! Bukan itu masalahnya! Ini bukan tentang popularitas atau seberapa baik diterima! Aku tidak peduli tentang hal itu sama sekali, itu tidak menggangguku sama sekali! Hanya saja, um, kau tahu? Bagaimana ya aku harus mengatakannya!? Aku tidak suka hal-hal yang hanya terikat pada peringkat dan klasemen! Contohnya, aku tidak ingin orang-orang mengkritik pekerjaanku di belakang layar atau sejenisnya!”

Seketika, aku hampir saja berpikir bahwa ia mengucapkan sesuatu yang keren, tetapi ada suatu perkataan penasaran yang keluar dari mulutnya. Dan satu jawaban yang ada di pikiranku.

"Ahh. Huh? Apakah di sana mereka menampilkan peringkat? Yahh, aku kira itu mungkin sedikit kasar, melihat betapa tidak populernya pekerjaanmu, ya kan?”

"Tidak ada! Sama sekali tidak! Tingkatan, klasemen, peringkat, dan ulasan tidak menggangguku sedikit pun! Hal-hal seperti peringkat tidaklah lebih dari hanya sekedar standart! Sisanya hanya perlu ditutupi dengan keberanian!” kata Zaimokuza dengan bersemangat.

Namun, pada akhirnya, hanya ada beberapa hal yang tidak bisa kau tutupi hanya dengan keberanian semata. Dengan melihat: betapa transparan dirinya, hal-hal yang dia prihatinkan, dan beberapa karakteristik lainnya... Sifat alami Zaimokuza benar-benar kelihatan!

"Oh .... Jadi, kau sudah tidak lagi bersemangat untuk mengirimkan sesuatu, ya?”

"Bisa dibilang itu adalah pertumbuhan baginya, mengingat kau memerlukan ketetapan hati yang kuat untuk menunjukkan sesuatu seperti itu di hadapan publik.”

"Ya, ya, dia memang punya nyali."

Yukinoshita dan Yuigahama tampak terkejut dan terkesan saat mereka memuji Zaimokuza. Tapi hanya untuk memastikan, kalian benar-benar sedang memuji dia, kan? Iya kan? Karena aku sungguh berpikir bahwa kalian malah sedang menyindirnya dengan tajam! Terlebih lagi, Yukinoshita-lah yang kita bicarakan di sini, maka tentu saja dia sedang menyindir!

Bagaimanapun juga, aku sedang dalam suasana hati yang baik untuk memuji Zaimokuza.

Kita bicara tentang seorang pria yang tidak pernah bisa bahkan menyelesaikan naskah, apalagi mengajukan karyanya ke Rookie of the Year Award*. Walaupun itu hanya di internet, tetap saja dia harus meng-upload karyanya ke domain publik. Walaupun aku merasa bahwa akan ada beberapa orang yang menderita ketika membaca karyanya (selain aku), aku masihlah merasa gembira. Semua orang hanya harus lebih menderita. Jika semua orang menderita bersama-sama, dunia pasti akan berubah menjadi damai.
[Diterjemahkan: Penghargaan untuk Pemula Tahun Ini.]

Atau paling tidak, seperti itulah yang kupikirkan. Tapi Zaimokuza menggoyangkan tangannya bolak-balik untuk menolak sesuatu.”Tidak, aku tidak melakukan hal semacam itu. Aku benar-benar terganggu ketika aku melihat hasil karya orang lain dihujat.”

"Oh oke ..."

Lihatlah, perdamaian dunia masihlah jauh.

Seperti itulah Zaimokuza. Gelar “pathetic wannabe”* miliknya bukan untuk dipertunjukan. Tidak, tunggu, mari kita berpikir begini; dia memberikan empati ketika melihat karya orang lain dihancurkan berkeping-keping. Itu adalah bukti bahwa dia punya sensitifitas yang cukup besar. Aku tak yakin, tapi ia mungkin memiliki bakat untuk menjadi seorang penulis ...
[Diterjemahkan: apa ya...bilang saja “ingin jadi orang yang menyedihkan”.]

Namun, aku secara pribadi percaya bahwa aspek yang paling penting untuk menjadi seorang penulis Light Novel bukanlah kemampuan menulis atau menyusun sesuatau, bukan juga imajinasi yang berlimpah. Bagiku, yang terpenting adalah: menjadi orang yang tidak sensitif.

Dengan kata lain, yang terpenting adalah memiliki mentalitas baja.

Kau tidak akan kalah, tak peduli orang lain mengatakan apa. Kau tidak akan menyerah, bahkan jika karyamu tidak laku. Kau hanya akan mengatakan hal-hal yang penting di blog atau Twitter. Kau tidak akan terlena, bahkan jika karyamu laku terjual. Kau tidak akan berkecil hati, saat orang mengejek karyamu. Kau tidak akan terlibat dalam suatu perselisihan atau semacamnya, ketika orang lain terlibat. Kau tidak akan melihat situasi yang lepas kendali secara serta-merta. Kau tidak akan membesar-besarkan kemampuanmu sendiri. Kau tidak terlampau percaya diri sendiri sejak awal. Kau tidak akan khawatir tentang masa depan dan usiamu yang terus memburumu. Kau tidak akan menangis pada suatu malam yang sepi dalam kesendirian. Kau tidak akan terlalu melambungkan harapanmu, saat menerima berita indah. Kau tidak akan biarkan nomor dari tempat lain mengganggumu. Kau tidak akan mengundurkan diri, bahkan jika kau tak mampu menulis lagi. Kau tidak akan lari dari tenggat waktu. Dan kau tidak akan lupa untuk menghargai semua yang terjadi di lingkungan sekitamu.

16 NAI-NAI[2] tersebut adalah komponen penting dalam mentalitas untuk menjadi seorang penulis Light Novel.

Kekuatan mentalmu adalah hal yang paling penting. Aku pikir, Light Novel Selama Aku Memiliki Adik Perempuan menulis sesuatu seperti itu di dalam bukunya. Tidak, sepertinya tidak. Ya, mungkin tidak.

Tapi karena Zaimokuza bukanlah orang yang profesional atau berani, aku harus membawanya ke jalan-bebas-kerumitan! Mentalitas Zaimokuza benar-benar seperti tahu, yang pada musim seperti ini enaknya diseduh bersama air panas di dalam suatu pot.

Aku menegakkan posturku dan berdeham. Dengan suara yang lebih tenang dari biasanya, aku berkata, "Zaimokuza. Kemungkinan doujinshi-mu tidak akan terjual satu copy pun. Jika itu menjadi kenyataan, apakah kau tidak merasa sakit?”

Zaimokuza tergagap dan membayangkan kemungkinan yang terjadi. Aku tak tahu, apakah karena menahan konvensi musim panas atau konvensi musim dingin, perasaan kesendirian di stan-mu, mendengarkan suara ramah dari gadis-gadis cosplay di bilik terdekat, melihat Circle yang mengantri panjang di depanmu, dan menatap langit-langit karena kau tidak tahan melihat doujinshi-mu belum terjual 1 copy pun ...Bisakah Zaimokuza menangani situasi seperti ini? Tidak, menurutku dia tidak akan tahan.

Akhirnya, bahu Zaimokuza melemas dan ia seolah-olah mengerahkan suaranya keluar. Katanya, "... Kau ada benarnya juga."

"Jika kau bertujuan untuk menjadi editor, akan lebih berguna jika kau memikirkan metode lain, bukannya membuat doujinshi.”

"Fumu ... Aku paham, aku paham ..." Zaimokuza menjawab dengan jujur ​​seolah-olah semangatnya sudah rusak karena tekanan yang terus kuucapkan. Bagus, bagus, sekarang aku tidak perlu khawatir tentang membuat doujinshi dengan Zaimokuza ...

Setelah Zaimokuza, yang sebelumnya berteriak dengan suara nyaring, kini sudah menjadi jinak, ruangan itu terendam dalam suatu keheningan. Aku menghela napas lega sekarang, karena kita telah menyelesaikan masalah ini. Lalu, ada yang suara kerupuk yang sedang dikunyah.

"Tapi, hei, bagaimana kau menjadi editor?" kata Yuigahama sambil mengunyah.

Zaimokuza mengangkat wajahnya.”Memang, itu benar ..."

Sekarang mereka membahasnya, aku pun juga tertarik.

"Aku kira, kita harus mencarinya ..."

Seperti yang telah dinyatakan dengan begitu elegan oleh Zaimokuza sebelumnya, semuanya ada di internet. Itu termasuk hal-hal yang seharusnya tidak berada di sana.

"Yukinoshita, biarkan aku gunakan komputernya."

"... Ini bukanlah ruang komputer." Yukinoshita bergumam sambil berdiri. Dia mengeluarkan laptop dan segera menyiapkannya untuk aku.

Aku menghadapi laptop untuk mengajukan beberapa pertanyaan pada Google-sensei dan sebuah kursi ditempatkan di sampingku.

Ketika aku melihat ke kanan, Yukinoshita sedang duduk di kursi dan merogoh ke dalam tas untuk mengambil kacamatanya.

Setelah dengan lembut menyeka rambut hitam mengkilat miliknya, ia dengan hati-hati memakai kacamata seolah-olah dia sedang memakai tiara*.
[Tiara adalah semacam perhiasan yang dipakai di kepala, sering kali bentuknya menyerupai mahkota yang biasa terlihat di acara-acara penobatan putri kecantikan.]

Ujung jarinya yang ramping dan lentur perlahan-lahan menjauh dari bingkai kacamatanya. Setiap kali dia berkedip, bulu matanya yang panjang dan lentik seakan-akan menyikat kaca lensa. Setelah ia selesai mempersiapkan segala sesuatu tanpa menghadapi masalah, ia mengangguk dan dengan tenang menggeser kursinya untuk melihat laptop.

Ketika melakukan itu, rambutnya berkibar dan menghembuskan aroma manis SABON[11].

Dekat ...

Ketika dia duduk tepat di sebelahku, aku merasakan suatu ketidaknyamanan yang aneh dan membuatku gelisah. Itu membuat aku bergeser ke kiri sehingga aku bisa merasa lebih nyaman. Tapi ketika aku melakukan itu, hidungku disambut oleh aroma jeruk yang samar-samar.

Sebelum aku bahkan sanggup menyadarinya, Yuigahama sudah berada di dekatku dan duduk di kursinya.

Dia membungkukan tubuhnya ke depan seolah-olah ingin mengistirahatkan dagunya di atas meja. Setiap kali siku kami bersinggungan dengan ringan, kami bertukar pandang. Seakan-akan, itu membuat orang-orang lain di ruangan tersebut serasa menjauh.

Tapi, ketika aku pikir dia hendak berkomunikasi denganku, Yuigahama mengalihkan lirikan matanya dan posisi kami tidak berubah. Kalau begitu, aku harus bergerak, tapi ketika aku merasa hem blazer*-ku menggosok roknya, aku tidak bisa bergerak lebih jauh.
[Blazer adalah semacam jaket yang dipakai oleh para pelajar sebagai bagian dari seragamnya. Kamus Oxford.]

... Dekat .

Selain itu, ada kehadiran lain di belakang aku.

Ada suara sandal yang berdecit di lantai.

Ketika aku menoleh, Isshiki sudah berdiri di belakangku. Dia mengintip dari bahuku untuk melihat layar komputer.

Dia menempatkan tangannya di pundakku seakan-akan ingin merebahkan tubuhnya padaku dengan lembut. Kehangatan tubuhnya membuatku terjaga. Bahkan napasnya yang dangkal mencapai telingaku. Berkat itu, ada semacam hawa dingin yang merambati di tulang belakangku.

... Seperti yang aku katakan, kau terlalu dekat, sialan.

Sisi kiri, kanan, belakang sudah ditempati, satu-satunya pilihanku adalah untuk bergerak maju.

Tetapi bahkan sisi depanku tersegel.

Zaimokuza datang secara langsung dari depan dan melihat ke bawah, pada laptop. Seolah-olah ia adalah seorang yokai* botak raksasa.
[Yokai adalah dedemit dari Jepang.]


Kau terlalu dekat, pergi dariku.


Tertekan hampir dari semua penjuru, aku meringkukkan bahuku sembari mengetik keyword yang ada di kepalaku. Beberapa hasil pencarian segera ditampilkan pada layar.

"Suatu situs pencarian pekerjaan dengan papan buletin pencarian pekerjaan ... Ohh, suatu sekolah persiapan untuk mencari pekerjaan sedang dalam publikasi ... Mereka memiliki segala macam hal, ya?”

"Oh Hikki, bagaimana dengan yang satu ini?"

Ketika aku meneliti beberapa link penting, Yuigahama mencondongkan tubuhnya ke depan dan menunjuk ke layar. Kemudian, Yukinoshita juga memiringkan kepalanya ke arahku dan membaca catatan yang Yuigahama telah tunjukkan.

"Suatu jurnal pengalaman sukses ... Sepertinya ... ini adalah blog seseorang yang menerima penawaran tak resmi dari penerbit sungguhan. Aku kira, ini tidak apa-apa.”

"Senpai, cepatlah, cepatlah." Isshiki menyuruhku bergegas sembari mengetuk-ngetuk bahuku.

Sekali lagi, kau terlalu dekat. Aku mulai basah kuyup sekarang. Jadi...bisakah....kau...mundur....15 cm dariku atau lebih jauh lagi...?

Aku memperlihatkan pada Zaimokuza tentang apa yang harus dilakukan dan dia pun mengangguk. ”Umu, mari kita lihat!"

"... Baiklah, kalau begitu, mari kita periksa yang satu ini."

Aku mengklik link tersebut dan halaman jurnal pengalaman sukses termuat di layar.

Header-nya bertuliskan "Penawaran Tak Resmi Terbaik! Jurnal Kenken tentang Pengalaman Sukses Mencari Pekerjaan di Penerbit!!”.

"... Hei, apa artinya dengan 'penawaran tak resmi terbaik'? Apakah itu tentang baik-buruknya penawaran tak resmi atau sejenisnya?”

"Tahan."

Ketika aku bertanya, Yukinoshita menjulurkan tangannya ke arah mouse di sisiku. Dia membuka suatu tab yang berbeda dan mulai mencari penawaran tak resmi terbaik dan sebagainya. Sementara dia melakukan itu, rambut hitam panjangnya menyikat dan menggelitik punggung tanganku. Secara refleks, aku menarik tanganku dan menempatkannya pada lutut, kemudian aku duduk dalam pose yang santun.

Setelah pencariannya menampilkan beberapa hasil, ia menunjuk ke layar.”Sepertinya itu mengacu pada ranking calon karyawan yang tidak dipublikasikan dalam perusahaan. Penawaran terbaik tampaknya mengacu pada orang-orang yang peringkatnya berada di atas mereka. Setelah masuk ke dalam perusahaan, mereka akan diperlakukan sebagai trainee eksekutif dan mereka juga akan memiliki keuntungan di mana mereka ditugaskan ... seperti itulah yang tertera.”

"Kau tahu, hanya mendengar 'trainee eksekutif' membuat aku sedikit khawatir ..."

Di telingaku, kedengarannya seperti pemerasan. Kedengarannya sama mengkhawatirkan dengan slogan: "Perasaan berada di rumah!” atau "Generasi muda menunjukkan upaya-upaya besar!” Sekarang aku menjadi prihatin tentang apa yang terbentang di masa depan si kenken ini.

Yahh kalau begitu, karena telah menyaksikan sesuatu yang menakutkan, kita mungkin perlu mengikuti si kenken ini, atau jalan kemuliaan apa pun yang dilaluinya. Kita akan lihat, apakah dia bisa menjadi budak perusahaan penerbit yang luar biasa melalui penawaran tak resmi terbaiknya.

Kami scroll ke bawah dan memutuskan untuk membaca catatan jurnal satu per satu.



"Penawaran Tak Resmi Terbaik! Jurnal Kenken tentang Pengalaman Sukses Mencari Pekerjaan di Penerbit!!”

Blog ini akan membahas proses mendapatkan penawaran tak resmi terbaik dari penerbit satu per satu!

Dilindungi hak cipta @kenken



1. Mengisi Aplikasi Pekerjaan

AP adalah singkatan yang aneh, bukan (lol)?

Pada aplikasi ini, ada pertanyaan standar yang memintamu untuk memberikan CV singkat, riwayat kerjamu, dan apa alasanmu melamar. Selain itu, ada juga pertanyaan unik untuk setiap perusahaan seperti: menulis essay atau komedi sandiwara tiga topik, berita terbaru yang membuatmu tertarik, tiga orang yang saat ini tengah kau perhatikan, ceritamu paling memalukan dalam kegagalan, dll ... Kadang-kadang, mereka juga memiliki bagian eksentrik seperti, halaman putih kosong yang memintamu, ”Silakan gunakan halaman ini untuk mendiskripsikan dirimu sendiri.”

Kantor pekerjaan juga menyimpan masa lalu JA, maka salah satu strategi yang efektif adalah meminta para senior dari seminar atau klub agar mau menunjukkan hasil kerjaan mereka!

Sebagai tambahan, mengenai CV ...

Baru-baru ini, ada banyak pelamar pekerjaan yang tidak memiliki nama universitas yang terdaftar, sehingga kau tidak selalu lolos melalui filter akademik. Faktanya, sejak awal, aku telah memperjuangkan pendirian untuk menentang keberadaan filter akademik. Banyak pelajar yang memperpanjang penawaran tak resmi dari perusahaan terkenal. Dan mereka berasal dari universitas antah-berantah. Tapi kurasa, alasan di balik fenomena ini adalah, para pelajar dari universitas tidak terkenal berani memilih segala sesuatu berdasarkan potensi tersembunyi miliknya. Bukan menggunakan merk atau kekuatan dari almamater sekolahannya.

Mungkin banyak perusahaan akan mulai merekrut orang dengan mengevaluasi mereka pada level yang lebih setara dan personal tanpa adanya bias.

Sebaliknya, mungkin kita, para pencari kerja, tidak seharusnya menilai suatu perusahaan berdasarkan merk atau nama besar yang mereka miliki. Ada kemungkinan, kunci keberhasilan adalah menyadari fakta bahwa perusahaan dan pencari kerja berada di kedudukan yang sama dalam hal saling memilih.

Aku ingin mengirim kutipan ini untuk semua orang.

"Ketika kau menatap jauh ke dalam jurang, jurang juga akan menatap jauh ke dalam dirimu." (Nietzsche)

Hoh ... Sekali lihat, ini benar-benar ditulis dengan cukup sopan. Sebenarnya, mengapa kenken mengirimkan kutipan dari Nietzsche kepada kami? Aku benar-benar lebih suka Nietzsche sendiri yang melakukan hal itu.

Yukinoshita, yang dari tadi melihat blog ini bersama denganku, mengangguk sambil membaca lanjutannya. Tapi Yuigahama dan Isshiki memiliki ekspresi jijik dan tampak sedikit ragu-ragu.

"Ini sangat bertele-tele ..." gumam Yuigahama.

Kau tidak akan mampu membaca Conan jika ini saja sudah membuatmu muak. Mungkin memang tersaji begitu banyak kata, tetapi hal-hal menarik masihlah menarik!

Ketika memikirkan perkataan itu, bahuku diketuk-ketuk berulang kali oleh seseorang karena jengkel.

"Ini agak mengganggu, bukan ...?" kata Isshiki dalam ketidakpuasan. Dia terus mengetuk bahuku dengan ujung jarinya. Baiklah, mari kita berhenti menekan bahu aku sekarang, oke?

Tapi, yahhh, aku bisa mengerti perasaan Isshiki. Entah kenapa, aku juga semakin muak dengan tulisan orang ini.

Adalah misteri, mengapa dia berlagak begitu tinggi dan kuat, tapi kontennya terasa seperti sesuatu yang akan kau dengar dari seorang mahasiswa-terlalu-sadar. Memikirkan universitas yang memiliki banyak orang-orang seperti ini, membuat aku tidak ingin pergi ke...

Sudah dikatakan, si kenken ini atau siapa pun dia, sudah cukup ngelantur sejak awal. Motivasiku akan menghilang, jika catatan yang dia tulis setelah ini hanya berisi tentang antusiasme. Menurutku, KinKi Kids[12] atau Yoshida Terumi[13] adalah beberapa orang yang memiliki energi sebesar ini.

"Fumu ... Aku paham, aku paham. Aku mengerti sekarang, kurang-lebih. Hachiman, lanjutkan ke berikutnya!”

Adalah hal yang meragukan, apakah Zaimokuza benar-benar memahami sesuatu ataukah tidak. Tapi aku mengangguk dan meng-klik halaman berikutnya.

2. Ujian tertulis

Banyak penerbit menguji pengetahuan umum, tetapi ada beberapa yang memberikan SPI tes. Mereka menjual buku diktat untuk kedua jenis tes tersebut. Jadi, akan lebih bijaksana jika kau mempersiapkannya sebelumnya. Untuk perusahaan biasa, SPI diperlukan. Selain itu, kau mungkin harus mengambil tes SPI jika kau mengubah pekerjaan. Tidak ada salahnya mempersiapkan diri untuk itu juga. Adapun mengenai bagian essay dalam ujian, berdasarkan pengalaman pribadiku, Perusahaan S dan Perusahaan K menanyakan pertanyaan yang cukup luas. Sedangkan Toko Buku K bertanya pertanyaan buruk yang difokuskan untuk membuatmu gagal. Jadi bagi mereka yang mencoba untuk melamar di Toko Buku K, berhati-hatilah!

Walaupun tampak tenang, ia menyisipkan beberapa kata-kata kebencian terhadap Toko Buku K ... Dilihat dari hal ini, si kenken atau siapa pun dia, kemungkinan pernah gagal ketika melamar di Toko Buku K.

"Hachiman, apa itu SPI? Seorang mata-mata?”

Ketika suara Zaimokuza datang dari atasku, Yuigahama bereaksi.”Bukankah itu semacam majalah? Karena itu adalah penerbit, aku rasa, kau harus membaca itu, kan?”

"Yang kau sedang bicarakan adalah majalah 'SPA!' ...”

"SPA" tes? Apa sih itu? Apakah mereka akan memberitahuku untuk "menjawab dengan Top 30 toko gyoza @Shinbashi " atau semacamnya? Yang menakutkan adalah, penerbit tersebut bisa dengan mudah mengajukan pertanyaan yang akan kau dapatkan dari Quiz Champions[14].

Mengenai SPI, aku sendiri juga tak mempunyai pengetahuan luas tentang itu. Ketika aku masih bingung untuk memberikan jawaban, Yukinoshita diam-diam mengulurkan tangannya ke laptop. Dia membuka tab baru dan mulai melakukan pencarian tentang tes SPI.

Ketika dia akhirnya menemukan suatu halaman yang relevan, ia perlahan-lahan memindahkan tangannya ke dagunya dan mengangguk.”Sederhananya, SPI adalah sejenis tes bakat. Sepertinya ... mereka mengukur keterampilanmu, contohnya: penalaran logis, pemikiran kalkulatif, kemampuan berkomunikasi, serta karaktermu melalui penilaian kepribadian.”

Yukinoshita mengumpulkan poin-poin penting dan menerangkannya, sembari mendorong kacamata dengan jari tengahnya. Tapi bagi Yuigahama, itu tampaknya tidak masuk akal karena mulutnya hanya menganga.

"Ohhhh ... jadi kau mengatakan bahwa itu seperti tes psikologis atau semacamnya? Aku benar-benar memahami itu!” kata Yuigahama dengan cerah, dan dia berpaling ke arah Yukinoshita.

Yukinoshita lalu berpaling ke arah yang berlawanan, seolah-olah dia telah menyerah pada sesuatu.”... Yah, aku kira pemahaman itu cukup baik."

"Tidak, itu pasti salah."

"Yukinoshita-senpai, jangan menyerah untuk menjelaskannya ..." kata Isshiki.

Seolah-olah mempertimbangkannya kembali, Yukinoshita memejamkan mata dan mulai berpikir.

"S-Sepertinya begitu. Aku yakin bahkan Yuigahama-san bisa mengerti jika aku berusaha lebih keras dalam menerangkannya. Dengan begitu, Yuigahama-san bisa mengerti ... Dengan begitu, Yuigahama-san bisa mengerti ...” Yukinoshita bergumam dalam bisikan sembari merenungkan itu dengan sungguh-sungguh.

Melihat itu, bahu Yuigahama melemas.”Kebaikan Yukinon ini agak menyakitkan bagiku ..."

Nah, mencoba untuk menjelaskan atau memahami tes yang tak pernah kau ambil sebelumnya mungkin adalah suatu hal yang sulit. Itu berarti, kau harus mengambil tes ini sendirian untuk benar-benar memahaminya. Apakah kita suka atau tidak, pada akhirnya, kita semua harus mengambil tes ini suatu hari nanti. Ughh, aku benar-benar tidak ingin mencari pekerjaan ...

Namun, itu meyakinkan bahwa kau bisa mempersiapkan ujian tertulis ini terlebih dahulu.

Jika ada sesuatu yang sulit dalam proses pencarian kerja ini, itu adalah "wawancara" yang akan dibahas pada catatan selanjutnya.

Sekarang, bagaimana si kenken melewati rintangan ini? Aku melanjutkan untuk meng-klik link catatan selanjutnya dan melihat apa yang bisa dia berikan pada kami.

3. Wawancara Pertama

Ada kesempatan di mana kau akan diwawancarai dalam kelompok.

Ada seorang pria di Big K yang terus mengganggu dan mencoba untuk memprovokasi aku. Dia benar-benar mengganggu. Aku akan membenci orang itu selamanya.

Hanya itu yang ditulis. Tiba-tiba kau mengabaikan penjelasanmu sekarang, bukankah begitu kenken? Meskipun begitu, kau masih saja memastikan untuk menampilkan kebencianmu, bukankah begitu Kenken?

Zaimokuza melihat catatan kecil ini sekali lagi.

"Ooohn? Hachiman, apakah tidak ada tulisan lagi?”

"Sepertinya begitu. Mari kita lihat yang berikutnya.”

Dengan tulisan yang sangat minim, tidak ada banyak informasi yang bisa kami dapatkan dari ini.

Setelah memeriksa dengan Yukinoshita dan yang lainnya, aku memindahkan mouse dan mengklik ke halaman selanjutnya.

4. Wawancara Kedua

Ketika aku mengungkapkan alasanku untuk melamar, orang dari Perusahaan F ini berusaha untuk membuatku mengamuk dengan menceritakan, ”Oke, selamat karena telah sanggup mengucapkan itu! ^^ ". Meskipun begitu, mungkin posisinya adalah semacam pemimpin redaksi atau sejenisnya. Aku pasti tidak akan memaafkan orang itu .

Catatan kali ini benar-benar berisi omong kosong dan ditulis berdasarkan kebencian semata.

Catatan pengalaman mencari kerja dari si kenken ini semakin memburuk sedikit demi sedikit, dan aku pun hanya bisa tertawa kecut di dalam hati.

Aku bisa mendengar orang yang berada di sebelahku, Yukinoshita, sedang mendesah.”Ada informasi yang kurang dan terus berkurang pada setiap catatannya.”

"Jika kita harus berpikiran positif, mungkin dia sedang memberitahu kita tentang hal-hal yang tidak penting dalam proses mencari kerja ..." Isshiki tersenyum dan tampak penasaran.

Seperti yang mereka berdua katakan, si kenken memberikan informasi yang kurang dan terus berkurang. Tampaknya, dia telah gagal pada saat yang sama. Bahkan jika aku terjungkal ketika membaca ini, itu tidak merubah fakta bahwa mencari pekerjaan pastilah suatu hal yang sulit ...

Tapi ini hanya wawancara kedua. Masih ada banyak catatan tersisa pada jurnal pengalaman sukses ini.

Aku meregangkan otot-ototku, mempersiapkan diri, dan melanjutkan ke catatan berikutnya.

5. Wawancara Ketiga

Ini adalah wawancara yang membuatku stres. Ada sekitar 10 karyawan pria paruh baya di Perusahaan K. Itu sungguh buruk. Mungkin tadinya ada 20 orang dari mereka. Itu benar-benar buruk.

Sekarang kenken bahkan tidak mengeluh lagi. Antusiasme awalnya menghilang ditelan bumi dan dia sudah di ambang kematian. Jika aku harus berpikiran positif, aku ingin memuji kekuatan mentalnya karena mau repot-repot membagi semua informasi tentang pengalaman pahit ini pada kami.

Tapi, catatan pendek mengenai wawancara yang ditulisnya, paling tidak membuatmu berpikir bahwa wawancara adalah suatu proses yang penuh dengan tekanan. Bahkan dalam catatan singkat ini, tergambarkan dengan cukup jelas bahwa wawancara menghadirkan rasa takut dan keputus-asaan.

Kita hanya bisa membayangkan itu, tapi wawancara dengan karyawan suatu perusahaan terdengar begitu sulit. Jika ada sekelompok orang tua yang umurnya berbeda beberapa puluh tahun denganmu, mengenakan ikat pinggang, jas hitam dengan pangkat istinewa seperti anggota dewan, eksekutif perusahaan, direktur manajemen, dan direktur eksekutif yang sedang duduk berdampingan, bukankah mereka adalah SEELE[15]? Bukan hanya satu Impact, namun itu adalah Third Impact.

"Kedengarannya agak sulit ..." Yuigahama berbisik, suaranya bercampur dengan simpati dan duka. Aku juga merasakan kesengsaraan yang sama.

"Sepertinya masih ada lagi ..." kata Yukinoshita dengan sedikit mengeluh. Bahkan seakan-akan perkataannya menganjurkan kami untuk tidak melihat catatan si kenken lebih jauh.

Tapi kami telag sampai sejauh ini, jadi kami harus meneruskannya, kami harus melihatnya sampai akhir. Aku mengoperasikan mousenya dengan tangan gemetar dan meng-klik catatan final.

6. Wawancara Akhir

Para mass-res bajingan itu berbohong. Mereka berkata bahwa wawancara terakhir hanya untuk mengkonfirmasi niatmu dalam melamar pekerjaan, dan tidak akan membuatmu gagal. Jangan main-main denganku. Mereka malah membuatku gagal sungguhan.

Jurnal pengalaman berhenti di sana.

Sebenarnya, apakah yang terjadi pada Kenken akhirnya? Hanya memikirkan tentang nasibnya saja sudah membuat dadaku jadi sesak.

Sepertinya bukan aku saja, yang lainnya juga menghela napas dalam-dalam.

Ini seperti perasaan bersalah ketika kau mengintip ke dalam cetak-biru kehidupan seseorang. Atau merasa tak berdaya setelah menyaksikan perang untuk memperebutkan pekerjaan dari garis depan.

Tapi di luar itu semua, aku merasakan suatu keinginan kuat untuk tidak bekerja dengan orang yang membuat jurnal ini. Dia begitu penuh semangat di awal, tapi di tengah, ia hanya mengutuk dan mengeluh ...

"Um ... jadi...apakah orang ini lulus?" Isshiki mengajukan pertanyaan sederhana.

Yuigahama kemudian menyadari sesuatu dan melihat layar lagi.”Kau benar! Ia bahkan menyebutnya sebagai jurnal 'pengalaman sukses', juga!”

"Ahh, mungkin karena itu. Mereka pada dasarnya hanya menulis 'sukses' dalam hal nasehat. Ini seperti aturan daya tarik. Dan itu seperti pelatihan pencitraan yang cenderung disukai oleh orang terlalu-sadar.”

"Kedengarannya lebih mirip seperti pencerahan-diri daripada pelatihan pencitraan ..." kata Yukinoshita sambil menekan pelipisnya.

Nah, pasti ada komponen tentang perburuan pekerjaan yang menyinggung pencerahan-diri ... Maksudku, ketika kami berselancar pada dunia maya sebelumnya, ada beberapa frase mencolok seperti: refleksi diri, self-PR, keinginan untuk tumbuh, dan yang lainnya. Tentunya, itu tidak dapat dihindari karena perusahaan sedang mencari sumber daya manusia dengan keuletan dan mentalitas yang kuat. Tetapi, cara setiap orang berusaha untuk menunjukkan kepribadian yang berwarna-warni ataupun sama, sangatlah tidak wajar dan menakutkan.

Sekarang aku sudah tahu informasi sebanyak ini. Itu tidak terdengar seperti suatu industri di mana aku bisa bekerja dengan baik ... Ketika minatku terhadap pekerjaan macam ini sudah anjlok, Zaimokuza yang berdiri di depanku berbicara kepadaku dengan suara kecil. ”Hachiman, apa itu mass-res? Apakah itu sesuatu seperti anjing Chiba[16]?”

"Tidak sama. Anjing Chiba mana yang kau bicarakan di sini?”

Anjing Chiba adalah karakter yang merupakan maskot Chiba Prefecture Environment Foundation. Dan anjing tersebut dibentuk berdasarkan wujud geografis Prefektur Chiba. Jika mengesampingkan fakta tersebut, kau mungkin berpikir itu mirip dengan CHI-BA + KUN*, tapi mereka berdua adalah makhluk yang begitu berbeda. Anjiing Chiba hanyalah suatu nama, namun tidak menyerupai anjing sama sekali. Mengenai fakta tersebut, makhluk misterius yang tampak seperti anjing CHI-BA + KUN jauh lebih mirip seperti anjing. Ada apa dengan selera orang-orang di Chiba? Jalanan di prefektur ini terlalu berbatu.
[CHI-BA + KUN adalah maskot prefektur Chiba di Jepang, wujudnya adalah anjing berwarna merah dan berhidung panjang.]

Mendengarkan itu, Yukinoshita memiringkan kepalanya sambil berpikir. ”Yah, itu kemungkinan besar adalah julukan untuk penelitian masyarakat yang dilakukan oleh media massa.”

"Penelitian ... Kedengarannya mereka benar-benar akan melakukan banyak eksperimen." gumam Yuigahama sembari menatap langit-langit. Dia mungkin membayangkan segala macam hal yang berhubungan dengan penelitian. Tapi aku pikir, imajinasi Gahama-san memakai mantel sambil memegang termos dan gelas mungkin keliru!

Namun, memang benar bahwa kata "penelitian" tidak mengacu pada sesuatu yang khusus, sehingga agak sulit untuk membayangkan hal itu. Sangat mudah jika penelitian itu tentang teknik ilmiah atau sejarah, tetapi untuk penelitian media massa, tidak banyak ide tentang itu.

"... Aku kira kita harus mencoba untuk browsing tentang mass-res."

"Memang. Lakukan apa yang harus kau lakukan!”

Karena Zaimokuza memberiku kesepakatan yang meyakinkan sembari mengepakkan mantel layaknya Profesor Clark, aku segera meminta Google-sensei untuk jawabannya.


Aku memasuki sejumlah universitas secara acak, menambahkan spasi, dan menambahkan "mass-res".

Setelah memasukkan kalimat, ini dia, ini dia. Pada layar terpampang frase terlalu-sadar. Terdapat foto beberapa orang memakai setelan dan memperkenalkan diri mereka, disertai dengan motto favorit untuk mempromosikan diri. Setelah itu, ada ribuan komentar dukungan dari teman-teman mereka.

Selain itu, ada foto-foto mereka yang sedang melakukan perjalanan ke India, mendaki Gunung Fuji, mengikuti kamp pelatihan BBQ untuk mencari pekerjaan. Aku pun tak tahu apa yang sedang mereka teliti.

Aku memejamkan mataku setengah sembari membaca. Itu kulakukan karena aku tidak tahan melihat seluruh halaman itu secara utuh. Akhirnya, aku memiliki pemahaman umum tentang klub apa itu.

Pada dasarnya, itu adalah klub yang mengumpulkan orang-orang mencari pekerjaan di siaran stasiun TV, perusahaan surat kabar, atau penerbit. Di sana, mereka akan bertukar informasi dan mengajarkan metode yang sangat mudah pada lainnya agar berhasil dalam mengamankan pekerjaan.

"H-Hei, Hachiman, haruskah aku masuk salah satu klub mass-res ini agar bisa diterima di penerbit? Haruskah aku benar-benar mencobanya? Benar-benar mencobanya?” Zaimokuza gemetar ketakutan saat ia memandang foto-foto bahagia tersebut.

"Yah, aku bilang itu tidak harus. Aku benar-benar berpikir, akan lebih baik jika kau tidak bergabung sesuatu yang didasarkan pada homepage saja ...”

Aku yakin di antara banyak klub yang mempeomosikan diri mereka sebagai media massa atau iklan masyarakat penelitian, ada beberapa yang benar-benar melakukan apa yang seharusnya mereka kerjakan.

Tapi hanya mendengar hal-hal yang terlalu-sadar seperti itu. membuat aku berpikir tentang Mr. Tamanawa, yaitu Ketua OSIS SMA Kaihin Sogo, jadi aku tidak bisa menyandang citra positif sama sekali.

Saat aku melihat website, ada kalimat tertentu menarik perhatianku.

"... Sebenarnya, Zaimokuza, aku tidak berpikir kau bisa masuk."

"Hm, kenapa?"

Aku menunjuk di sudut layar. Di sana ditampilkan kata: ”Ujian Masuk." Mereka memiliki tes tertulis yang menanyakan pengetahuan umum. Dan juga, kau akan diwawancarai oleh beberapa anggota klub serta ketua klub.

"Tampaknya, kau harus menjalani tes tertulis dan melalui wawancara untuk bergabung dengan klub mass-res ini atau apa pun namanya.”

Aku mengetuk pada bagian tersebut di layar komputer dengan jariku dan Isshiki menunduk untuk melihatnya. Dengan suara apatis, ia berkata,”Ahh, aku kira itu tidak mungkin maka ..."

"Hmhm ... Hachiman. Aku bukanlah ahli dalam hal wawancara ...”

"Aku tahu."

Lebih dari yang aku inginkan ... Kebetulan, aku jugalah tipikal orang yang sangat buruk dalam hal wawancara. Ada kalanya, di mana aku gagal dalam wawancara untuk pekerjaan paruh waktu. Jadi, aku tidak hanya kehilangan pekerjaan paruh waktu, tapi aku juga lari dari wawancara.

Ketika aku mengenang kembali masa-masa suramku sebagai manusia di masa lalu, Isshiki mengulurkan tangannya ke laptop dari belakangku dan bermain-main dengan itu. Kemudian, dia menyadari sesuatu, seolah-olah dia yakin benar terhadap hal tersebut.

Aku menatapnya dengan pemandangan penasaran. Isshiki lalu mengangguk.”Kau tahu, bukankah Yui-senpai pasti akan lulus dari hal semacam ini?”

"Huh, kenapa? Aku benar-benar buruk dengan tes...” terkejut karena panggilan tiba-tiba dari Isshiki, Yuigahama menyuarakan suatu perbantahan. Ketika ia melihat Isshiki dengan mata berkedip, Isshiki mengulirkan tangannya ke bawah pada layar laptop.

"Ah, tidak. Hanya dengan melihat gambar ini, aku punya perasaan bahwa mereka agak mirip dengan kita. Jadi aku pikir, itu akan super mudah karena mereka mungkin akan menerima orang-orang imut.”

"Nah, itu benar."

Jika kita mengesampingkan masalah ujian tertulis, sepertinya, Yuigahama adalah tipikal orang yang tepat untuk wawancara. Dia mungkin bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang antusias dan para pria yang dinamis.

Ketika aku mengangguk pada pernyataan Isshiki, Yuigahama yang masih terkejut karena tiba-tiba menjadi pusat pembicaraan,  hanya bisa tersipu malu. Saat ia mengusap-usap sanggul di kepalanya, dia menembakkan sebuah tatapan padaku. ”S-s-sungguh?”

"Ya. Jika itu adalah Yuigahama, kau tampaknya bisa cocok dengan atmosfer happy-go-lucky* yang menjengkelkan ini.”
[Happy-go-lucky adalah ungkapan untuk sesuatu yang bersifat bahagia namun sama sekali tidak prihatin akan masa depan. Kamus Oxford.]

"Jadi itu alasanmu!? Aku sudah terlanjur senang ...” Yuigahama melemaskan bahunya dan melongo. Tidak, tidak, bukannya aku mengatakan bahwa kau tidak imut atau sejenisnya, ya. Aku hanya mengatakan bahwa jika itu adalah kau, kau bisa dengan mudah cocok pada orang-orang antusias, dan mahasiswa dinamis, ya. Hanya saja, kau tahu, aku tidak berpikir bahwa itu adalah hal yang baik jika kau membiarkan orang-orang itu  menyeretmu ke langkah mereka!

"Nah, bagaimana dengan ini? Eh, orang menilaimu berdasarkan penampilanmu, tapi hal yang penting adalah apa yang ada di dalam jiwamu ... Bahkan, aku akan mengatakan bahwa akan lebih baik untuk menghindari klub seperti ini, yaitu klub yang mengevaluasi dirimu berdasarkan penampilan dan antusiasme. Mungkin saja begitu, bukan berarti aku tahu segalanya.”

"Eh? Mmm, baik, aku kira begitu. Ya ...” Yuigahama tampaknya tidak sepenuhnya menyetujuinya, tapi dia enggan mengangguk dan mengalihkan pandangan dariku.

Mendengarkan dari awal sampai akhir, Isshiki berseru dengan suara kecil, seakan-akan dia sedang terkejut. "... Senpai, kau adalah orang yang super buruk dalam menginvestigasi sesuatu."

Berisik. Jika aku baik dalam hal itu, aku sama sekali tidak akan menyerah pada wawancara.

"Di dalam jiwa, ya ...? Dalam hal ini, aku tidak yakin apa yang harus dipikirkan pada suatu pertemuan orang-orang yang bernilai sama. Aku tidak bisa membayangkan mereka berusaha untuk berkembang jika mereka semua sama dan mengendalikan lingkungan ...” Yukinoshita, gadis yang dari tadi mendengarkan percakapan dari sampingku, melihat website dan membuka mulutnya dengan ragu.

Zaimokuza lalu memukul tangannya sendiri. ”... Hapon. Jadi yang kau katakan adalah: jika aku harus memberikan contoh, produsen dari perusahaan game tertentu membuat permainan yang benar-benar booming. Itu bisa terjadi karena mereka dengan mudah membuat game dari suatu karya asli pada beberapa penerbit. Mereka juga menolak untuk mempublikasikan game karena betapa sulitnya permainan tersebut diberi hak cipta oleh perusahaan lain karena, penerbit super raksasa tertentu memonopoli majalah permainan ...! Aku kira, seperti itulah sifat mereka?”

 "Aku tidak tahu apa yang sedang kau ocehkan karena itu terdengar begitu rumit. Dan aku yakin bahwa kau sedang membicarakan suatu hal yang sama sekali berbeda. Tapi, mungkin saja permisalanmu benar”

Aku merespon Zaimokuza dengan ekspresi: apa-apaan yang sedang kau omongkan. Setelah itu, Zaimokuza memberikan anggukan. ”Seperti yang aku pikirkan! Bagaimanapun juga, kebenaran itu sudah tertulis di internet!”

Wow, internet memang menakjubkan. Apa yang kau cari sehingga muncul sesuatu yang seperti itu? Dasar master pencarian sialan. Apapun itu, untuk generasi yang akan datang, aku punya feeling bahwa master pencarian macam ini adalah suatu keharusan. Ini adalah bakat generasi jaman sekarang.

Ketika aku mulai terkesan dengan salah satu keterampilannya, Zaimokuza mengobarkan api semangat. ”... Sialan mereka! Jadi yang harus disalahkan untuk bakatku yang belum ditemukan dan ketidakmampuanku dalam membuat debut, adalah si kaisar jahat, penerbit super raksasa tertentu, dan monopoli mereka terhadap pasar, bukankah begitu!?”

"Kau salah."

Ya, ya, pertama-tama mulai sajalah untuk menulis, oke?

× × ×

Kami istirahat untuk minum teh sebentar, kemudian bekerja kembali di depan laptop.

Karena "Penawaran Tak Resmi Terbaik! Jurnal Kenken tentang Pengalaman Sukses Mencari Pekerjaan di Penerbit!!” tidak begitu informatif, kami memutuskan untuk mencari situs serupa lainnya.

Pada beberapa situs berburu pekerjaan, ada komentar dari orang-orang yang sudah mendapat pekerjaan sungguhan dan ikhtisar aplikasi perusahaan, sehingga mereka adalah referensi yang lebih baik.

Namun, kami menemukan lagi beberapa tokoh yang mengejutkan.

"Tingkat keberhasilan pada penerbit besar benar-benar gila ... Ribuan orang melamar dan hanya lima belas dari mereka yang mendapat pekerjaan ...?”

"Tidak ada nomor yang pasti pada jumlah total pelamar karena diumumkan secara tidak resmi, tetapi pasti sekitar 200-300 kali jumlah tersebut.”

Setelah melihat angka-angka tersebut, Yukinoshita melakukan perhitungan perkiraan, Yuigahama mendesah dengan kagum.”Woow, menjadi editor terdengar benar-benar sulit."

"Ini hanyalah jumlah orang yang diterima kerja, sehingga jika kita mempertimbangkan tugas departemen lainnya, jumlah orang yang menjadi editor penerbit pastilah tidak sebanyak ini.”

Pernyataan Yukinoshita itu ada benarnya. Kemungkinan, ada orang-orang yang menjadi milik divisi pekerjaan umum dan operasi penjualan, sehingga departemen editorial juga bervariasi. Untuk divisi Light Novel yang Zaimokuza inginkan secara khusus, paling tidak hanya ada 1 atau 2 orang. Untuk karyawan baru, jika mereka beruntung, mungkin mereka tidak akan diutus pada setiap departemen.

"M-Mmph ... G-Gununu ... jika memang itu yang terjadi, menjadi penulis Light Novel tampaknya jauh lebih sederhana ...”

"Mungkin."

Jika kita mempertimbangkan tingkat keberhasilan saja, mungkin lebih mudah untuk bekerja sebagai penulis Light Novel pada GaGaGa Bunko. Bagaimanapun juga, mereka tidak mewawancarai penulis Light Novel di sana.

Sementara kami membahas itu, kami juga memeriksa tingkat keberhasilan membuat debut sebagai penulis Light Novel di GaGaGa Bunko. Ketika aku mengulurkan tanganku untuk memulai pencarian, ada tangan lain yang menyambarku dari belakang.

"S-Senpai, t-tunggu sebentar."

Suara Isshiki terdengar gemetar ketika dia menghentikan tanganku.

"A-Ada yang salah?" tanyaku.

Sambil bergumam "Mm! Mm!”, Isshiki menggoyangkan ujung jarinya dan menunjuk ke layar.

"Lihat ini! Lihat!”

Apa masalahnya ...? pikirku. Ketika aku melihat, dia menunjuk komentar yang dibuat oleh karyawan dari penerbit tertentu. Dia memperkenalkan diri dan memberikan informasi mengenai pekerjaannya, universitas tempat ia lulus, pekerjaan yang dia emban, jadwal waktu perkiraan satu hari kerja dalam seminggu, dsb. Ketika aku membaca kumpulan informasi itu satu per satu, mataku berhenti di satu titik.

"Gaji ¥ 10,000,000 pada usia 25 th ..."

Kau pasti berbohong, itu tidak mungkin terjadi. Penerbit besar sungguh menakjubkan ... Hanya tiga tahun sejak lulus dari universitas, dan dia sudah mendapatkan gaji sebanyak itu? Terlebih lagi, ia mendapat kenaikan jabatan sementara dia digaji sebesar itu? Dia benar-benar seorang pemenang ...

Aku duduk gemetaran dan syok. Aku pun bisa mendengar suara napas yang dalam dari belakang. Ketika aku berbalik, Isshiki menempatkan tangan kiri ke pipinya dan menunjukkan senyuman yang manis layaknya anak anjing. ”Aku akan menikahi seorang editor penerbitan."

"Tidak, tunggu, tenang dulu. Jika memungkinkan, akulah yang akan menikahi editor penerbitan.”

"Kaulah yang perlu tenang ..."

Seakan-akan tidak percaya dengan apa yang barusan aku ucapkan, Yukinoshita melemparkan perkataan tersebut padaku. Aku pun kembali sadar. Mungkin aku sudah kehilangan ketenangan ketika membaca tulisan itu. Kalau dipikir-pikir, ¥ 10,000,000 tidaklah sehebat itu. Aku adalah Hachiman, artinya, aku bisa menghasilkan ¥ 80,000 sendirian. Dan uang sebanyak itu akan tercapai jika ada 125 Hikigaya Hachiman di dunia ini. Bayangkan, betapa menjengkelkan dunia ini jika ada aku sebanyak itu. Itulah sebabnya ¥ 10,000,000 tidak begitu istimewa! Sudah cukup dengan adanya 1 orang Hachiman di dunia ini, dan itulah yang menyebabkan diriku begitu berharga!

Ketika aku mengangguk dan menggunakan logika aneh itu untuk meyakinkan diriku, Yuigahama yang berada di samping mengeluh. ”Editor ... Editor, ya ... Mmm ..."

"Yah, tidakkah memiliki beberapa tujuan dalam dirinya sendiri merupakan hal yang baik? Bagaimanapun juga, sejak beberapa waktu yang lalu aku sudah berusaha keras untuk mencapai tujuan hidupku.”

"Hoh, tujuan ..." Aku menatap Isshiki dengan cermat untuk meneliti dirinya. Ini kulakukan, karena apa yang barusan dia katakan sungguh tidak terdengar seperti dirinya yang biasa.

Namun, dia menempatkan jari telunjuknya ke dagu dan memiringkan kepalanya. ”Tentu saja, aku berencana untuk mengundurkan diri setelah beberapa tahun menikah, kau tahu?”

"Kemana kau limpahkan semua kerja kerasmu itu ...?" kata Yukinoshita sambil mendesah.

Isshiki menggembungkan pipinya.”Maksudku, aku tidaklah pandai belajar dan tidak ada sesuatu hal pun yang ingin kulakukan ...”

"Aku benar-benar memahamimu. Aku jugalah seperti itu ...” Yuigahama melemaskan bahunya dan menurunkan badannya. Dari belakangnya, Isshiki setuju dengannya. Seolah-olah menyadari sesuatu, ia mengangkat kepalanya dan menatap Yukinoshita.

"Oh, tapi Yukinoshita-senpai, kau tampaknya ingin segera masuk ke dunia kerja."

Yukinoshita mengedipkan matanya setelah mendengarkan pernyataan tak terduga tersebut.

"Aku ..." Yukinoshita tersentak. Dia pun memikirkan pertanyaan yang tiba-tiba dilontarkan padanya. Bibirnya terbuka, dia hendak mengatakan sesuatu. Namun, secepat itu juga dia menutup bibirnya kembali.

Dia mengalihkan tatapan matanya ke bawah, bulu matanya yang lentik pun melengkung ke bawah. Ketika melakukan itu, rambutnya berayun dengan lembut. Sekilas, leher ramping dan kulit putihnya terlihat. Itu menyebabkan aku menahan napas secara refleks.

Dengan santun, tangannya yang berada di atas rok, berpindah. Dengan perlahan, dia meremas jari-jarinya sedikit demi sedikit.

"Sepertinya, itulah yang aku pikirkan sebelumnya.... Tapi sekarang, aku tidak begitu yakin,” Yukinoshita mengangkat wajahnya dan mengatakan itu sembari tersenyum seolah-olah dia sedang malu.

"Yah, aku kira juga begituuuu. Bagaimanapun juga, ini adalah suatu hal yang jauh berada di masa depan.” kata Isshiki dengan enteng.

Isshiki menyatakannya dengan acuh, tetapi tidak ada yang menanggapinya.

Aku pikir, Yuigahama dan aku tidak mendengarkannya.

Karena jawaban Yukinoshita sedikit tak terduga.

Tidak banyak pelajar yang bisa memberikan jawaban lugas mengenai masa depannya. Namun, aku pikir (dengan samar-samar) bahwa Yukinoshita sudah memikirkan masa depannya dengan tepat. Mungkin saja aku sudah memaksakan ilusiku dengan egois pada dirinya, tetapi meskipun demikian, ada suatu perasaan tidak nyaman yang aneh bersarang di hatiku.

Aku menyangga pipiku dengan tangan di atas meja dan memberikan lirikan pada Yukinoshita. Ketika ia melihatku, ia memiringkan kepalanya karena ingin tahu mengapa aku melakukan itu. Dia pun menunggu aku untuk mengatakan sesuatu.

Dia menatapku dengan perasaan ingin tahu, dan mengucapkan "um ...". Aku menggeleng dengan ringan untuk menyatakan padanya bahwa tidak ada apa-apa. Dia kemudian menarik dagunya dan mengangguk balik padaku.

... Yah, bahkan Yukinoshita sekalipun masihlah seorang siswi SMA kelas 2. Tidak ada yang salah jika dia belum tahu tentang apa yang dia inginkan untuk masa depan. Bahkan, jika dia memilih untuk tidak mengatakan apa-apa karena semuanya masih belum jelas baginya, itupun juga merupakan alasan darinya.

Ketika aku memikirkan hal itu, aku menelan rasa ketidaknyamanan itu dan memindahkan tatapanku ke depan.

Tatapan mataku kemudian bertemu dengan Zaimokuza yang tengah mengeluh sambil bersedekap. "Hachiman, bagaimana denganmu?"

"Hm, aku?"

"Aku pikir, tidak ada gunanya menanyai Hikki ..." Yuigahama menatapku dengan pandangan mata dingin dan aku mengangguk balik.

"Yah, aku kira begitu. Pada dasarnya, aku ingin menjadi suami yang seharian penuh tinggal di rumah.”

"Ya, aku tahu itu ..."

"Aku sarankan untuk mencari tahu arti kata 'pada dasarnya'..."

Yuigahama menunduk dan Yukinoshita menekan pelipisnya dengan mata tertutup. Di sana, Isshiki menepuk bahuku. Ketika aku berbalik, matanya berbinar-binar dan seolah-olah inign berbicara dengan rahasia, ia meletakkan tangannya ke mulutnya dan berbisik di dekat telingaku. ”Senpai, aku merekomendasikan agar kau menjadi editor.”

"Aku tidak akan menjadi seorang editor, aku tidak akan bekerja, dan aku tidak akan mencari pekerjaan." jawabku sembari memutar tubuhku agar menjauh dari bau lembut Anna Sui* dan napasnya yang terasa geli.
[Anne Sui adalah seorang fashion designer dari Amerika yang lahir pada 4 Agustus 1964. Salah satu karyanya adalah kosmetik beraroma khas.]

"Disamping itu, tidaklah mudah untuk menjadi seorang editor penerbitan. Yahh, jika kau berusaha keras mulai dari sekarang, mungkin ceritanya akan berbeda.”

"Umuu, berapa tahun lamanya aku harus mencoba sejak saat ini ... Kedengarannya merepotkan ..."

Zaimokuza mengangkat kepalanya sembari mengeluh. Tiba-tiba, matanya membelalak, punggungnya tegak, dan dia meraung.

"... Memang, itu bukanlah prestasi yang mudah untuk menjadi seorang penulis Light Novel! Aku tahu itu, penulis Light Novel adalah orang NOMOR SATU! Sekarang, Hachiman, kita tidak bisa berlama-lama lagi! Mari kita mulai lembaran kerja baru!”

Sebelum ia selesai, Zaimokuza berlari ke pintu. Dia berhenti di pintu dan kemudian membalikkan badannya. ”Hachimaaan! Cepat, cepat!”

Melihat cara dia melompat-lompat dan memanggil aku, dia sungguh tampak seperti seorang penjahat. Namun bagi Zaimokuza, yang memiliki senyum ceria di wajahnya, aku tidak tahu mengapa dia bisa sebahagia itu.

"Kenapa kau tidak ikut dengannya?"

"Yap, ya."

Yukinoshita dan Yuigahama mengatakan itu dengan senyum kecut.

"... Yah, aku bertanggung jawab atas dirinya, jadi aku kira aku harus ikut dengannya." aku sengaja menyatakan bahwa aku sudah menyerah. Dan aku pun membulatkan tekadku dan kemudian berdiri.

Pada saat yang sama, Irohasu, ia mengutak-atik komputer dan mem-browsing sesuatu.

"Aku ingin tahu apakah koran gratis cukup mudah dibuat ...?"

Kau terlalu acuh terhadap Zaimokuza, kau tahu ...

× × ×

Langit yang aku tatap dari jendela tampak biru dan bersih. Namun anehnya, rasanya sangat suram dan tidak terasa hangat sama sekali. Mungkin ini adalah efek dari suasana hampa di perpustakaan.

Dengan tidak adanya pembaca selain kami, perpustakaan sekolah hampir kososng setelah jam pulang. Kemungkinan ada asisten perpustakaan di luar meja pendaftaran, tetapi tidak ada tanda-tanda kehadiran dari mereka.

Duduk berlawanan denganku searah diagonal, Zaimokuza dari tadi mencorat-coretkan pensil mekaniknya pada kertas catatan, tapi akhirnya dia berhenti.

Entah dia sudah kelelahan atau kehabisan ide, Zaimokuza duduk sejenak di sana dengan linglung. Tiba-tiba, ia berkata,”Fumu, pada akhirnya haruskah aku menjadi penulis Light Novel ...? Aku tidak akan dapat menikah dengan seorang Seiyuu.”

"Jika kau ingin menikahi Seiyuu, maka kau perlu memiliki banyak persyaratan, dan kau tidak memiliki persyaratan-persyaratan itu, kau tahu ... Begitu juga dengan editor penerbitan.”

"Aku mengerti. Menjadi penulis Light Novel adalah hal yang mustahil dan menjadi editor penerbitan juga tidak mungkin ...” kata Zaimokuza sambil mengeluh. Tapi kemudian, matanya menyala dan ia berdiri, lalu berteriak dengan suara aneh.

"Aku sudah mengerti! Kalau begitu, era modern saat ini adalah tentang menjadi direktur! Aku akan membuat anime! Don-don-donat, mari kita menggila![17]"

Suara teriakan menggema di seluruh ruangan perpustakaan yang tadinya tenang. Ketika gemanya berhenti, aku hanya bisa tersenyum pahit untuk menanggapinya.

"... Yahh, jika itu membuatmu bahagia, mengapa tidak." kataku.

Zaimokuza berkedip karena terkejut. ”Mu, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang biasa dikatakan oleh pacar lama ...? H-Hei, hentikan itu. K-Kita tidak punya hubungan seperti itu, kan ...?”

"Jangan memerah dan canggung, itu benar-benar menjijikkan. Aku hanya tak tahu lagi harus berbuat apa padamu, idiot. Apapun itu, mulailah menulis. Aku mau pulang.”

"Mu. Benar ... Baik, mari kita menulis.”

Entah kemana, energi Zaimokuza saat dia berteriak-teriak tadi langsung hilang dalam sekejap, kemudian ia menjadi terdiam seakan-akan terfokus pada sesuatu. Saat ia mengencangkan bahunya, ia mulai menulis sesuatu di catatannya. Ohh, aku kira, kau masih berencana untuk menulis Light Novel, ya kan? Betapa mengejutkan.

Bahkan Zaimokuza yang tidak menunjukkan tanda-tanda perkembangan, kini berubah sedikit demi sedikit. Meskipun ia telah melalui segala jenis jalan seperti: jalan melarikan diri, jalan pintas, jalan melingkar, dsb, ia masihlah bergerak untuk mendekati tujuannya. Meskipun dalam kasus Zaimokuza, tujuannya untuk menikahi Seiyuu adalah hal yang busuk.

Namun meski demikian, seiring dengan ia menyelesaikan tulisannya kata demi kata, kalimat demi kalimat. Ia akan terus menghabiskan waktu di dalam hidupnya untuk melalui proses ini. Dan sedikit demi sedikit, dia akan meninggalkan masa lalunya untuk menuju suatu target baru di masa mendatang.

Kira-kira, aku hanya tinggal menyisakan 1 tahun di bangku SMA. Setelah itu, dengan pertimbangan bahwa aku bisa melalui sekolah persiapan dan lulus dari Universitas dengan tanpa hambatan, kira-kira itu akan memakan waktu sekitar 5 tahun sampai aku benar-benar terjun ke komunitas masyarakat yang sesungguhnya.

Lima tahun.

Sepertinya itu adalah waktu yang lama, namun sepertinya itu akan berlalu sekejap mata saja. Aku berpikir bahwa....ketika kami tumbuh, periode tahunan akan menjadi pendek dan terus memendek secara bertahap. Dan pastinya, lama waktu di tahun ini tidak akan sama dengan tahun depan.

Dan aku yakin bahwa itu bukan hanya terjadi pada lama periode waktu.....namun juga nilai yang terkandung di dalamnya.

Mungkin juga, saat inipun, ketika aku memandang ke langit yang suram, juga memiliki suatu nilai.

Itulah sebabnya, untuk saat ini, aku pikir aku akan terus melihat ke langit yang keriput-namun-cantik ini, sedikit lebih lama lagi.


Catatan Kaki

1. Suatu parodi lagu POISON,”dunia ini adalah tempat di mana kau tidak bisa mengatakan hal-hal yang kau inginkan"

2. Suatu situs web yang memiliki tulisan orang-orang, buku, cerita, dan lainnya yang akan diurutkan berdasarkan peringkat.

3. Perusahaan medis.

4. Tales of Zestiria

5. Sazael-san

6. Suatu jurnal sastra yang didirikan oleh suatu asosiasi penulis.

7. Dua film yang disebut Sazae-san dan Smile Precure, ditayangkan pada hari Minggu dan menampilkan pertarungan batu-kertas-gunting diantara keduanya.

8. Suatu meme Jepang yang berasal dari Sakigake! Otokojuku oleh Akira Miyashita. Idenya adalah, seseorang yang memainkan peran Raiden selalu mengatakan sesuatu yang seolah-olah dia tahu semuanya, tetapi sebenarnya hanya memberikan bualan ketika menjelaskan.

9. Jenis terlalu-sadar (secara harfiah dalam bahasa Jepang berarti orang-orang dengan kesadaran diri yang tinggi) yaitu orang-orang yang cenderung berbicara seakan-akan mereka tahu lebih banyak daripada yang mereka lakukan, berlagak seperti orang lain, dll. Mirip seperti model, tapi bukan hanya dalam artian fashion.

10. Suatu grup idol pria.

11. Perusahaan wewangian tubuh.

12. Suatu duo Jepang.

13. Aktor Jepang.

14. Suatu program berbagai bahasa Jepang.

15. Evangelion.

16. Bahasa Jepang-nya adalah マス犬 (masu-ken), bagian “ken”-nya berarti anjing. Anjing Chiba adalah 千葉犬 (Chiba-ken).

Oregairu Jilid 10.5 Bab 1 Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

1 komentar:

  1. min saya minta ijin untuk repos ln nya di web saya boleh saya kasih sumbernya ntr

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.