29 Agustus 2015

Fate/Apocrypha Jilid 1 Bab 2 LN Bahasa Indonesia

FATE/APOCRYPHA
JILID 1
BAB 2

 Demikianlah, klan Yggdmillennia telah mengumpulkan para Servant Hitam di Benteng Millennia. Mereka sudah mendapatkan setiap hal yang dibutuhkan untuk menang. Tapi tetap saja, masih terlalu cepat untuk menurunkan kewaspadaan sekarang.

Archer dan Lancer tampak sudah berbicara dengan penyihir Yggdmillennia dalam beberapa kesempatan, menghabiskan waktu dengan mengukur persiapan untuk melawan Servant musuh.

Rider, meskipun ada di dalam pengawasan ketat Master Celenike, masih saja keluar kastil dan pergi ke jalanan Trifas sesuka hatinya. Tentu saja, pakaian yang ia gunakan saat dipanggil akan menarik terlalu banyak perhatian, jadi dia berganti dengan setelan pucat yang digunakan oleh para homunculus.

Untuk Caster yang telah mengatur ruang kerjanya di kastil, ia telah mengabdikan dirinya semata-mata hanya untuk produksi golem. Ruang kerja tersebut, dibentuk oleh kemampuan kelas Caster yang disebut Territory Creation, yang lebih mirip dengan perusahaan yang khusus menangani pembuatan golem. Meskipun kemampuan pertahanannya rata-rata, Caster memiliki kekuatan untuk menciptakan tiga puluh golem dalam sehari, yang bahkan penyihir modern sekalipun hampir tidak bisa membuat satu golem dalam setahun.

Saat ini, dua orang pria sedang duduk berhadapan di meja yang ada di dalam ruang kerja. Sebuah golem yang ramping dan terbuat dari roh hutan meletakkan cangkir di depan mereka, tingkah lakunya tidak tetap dan tak menunjukan gerakan aneh selayaknya golem.

Menyesap teh yang telah ditawarkan padanya, Darnic melihat sekeliling, pada ruang kerja yang penuh dengan aktifitas. Bagaimanapun, yang meyibukkan diri mereka di sana bukanlah manusia, tetapi para golem―beberapa diciptakan dalam wujud manusia, beberapa dengan banyak tungkai seperti laba-laba, dan masih banyak lagi―yang akan membersihkan ruang kerja dan mengatur peralatan.

“...Mengenai bahan-bahan yang kuminta beberapa hari lalu, apakah aku boleh tahu kapan itu akan tiba?”

Darnic mengangguk tersenyum mendengar pertanyaan Caster. Sebelumnya, Caster meminta permata yang akan digunakan sebagai organ golem dan perkamen yang akan digunakan sebagai kulit. Keduanya harus berusia minimal delapan ratus tahun, pintanya, dan dalam jumlah besar; bahkan bagi Yggdmillennia yang keturunannya telah tersebar di seluruh dunia, mencari benda-benda tersebut merupakan pekerjaan yang sulit.

“Seharusnya sekarang sudah sampai. Prosesnya memakan waktu lebih lama dari perkiraan karena kita harus menghindari Clock Tower. Karena itu, aku harus minta maaf.”

Menjadi pusat Asosiasi, bermacam-macam peralatan sihir beredar melalui Clock Tower. Apakah kau mencari permata berusia delapan-ratus-tahun atau bahkan perkamen berusia-seribu-tahun, selama kau memiliki sumber dan koneksi, mencari benda-benda seperti itu adalah hal yang mudah.

Meski begitu, rute itu sudah tidak bisa lagi mereka gunakan karena sekarang mereka telah keluar dari Asosiasi. Mereka tidak memiliki pilihan selain menggunakan rute perdagangan lain, atau memesan menggunakan nama palsu, atau masuk ke dalam pasar gelap demi mencari benda-benda tersebut. Apapun kasusnya, membutuhkan waktu yang lama untuk memesan dan mengumpulkan benda dalam jumlah besar tanpa menarik perhatian.

“Yah, berapa pun jumlahnya akan diterima. Sekarang tinggal...”

Royal Crown, Cahaya Kebijaksanaan (Golem Keter Malkuth)―sebuah Noble Phantasm anti-Army tingkat A diteriakkan oleh Caster Avicebron.

“Noble Phantasm milikku dibuat untuk digunakan. Sekali dipanggil, maka itu akan terus-menerus membutuhkan jumlah prana yang tidak terhingga. Seperti, membutuhkan sebuah inti.”

“Ya, aku mengerti. Tapi kita harus berhati-hati dalam memilih. Selain itu, hal tersebut belumlah ada.”

Caster mengangguk menanggapi kata-kata Darnic.

“Benar sekali… mungkin aku terlalu terburu-buru. Ngomong-ngomong, aku akan mulai memilih komponen selain intinya dan membiasakannya, sehingga intinya dapat dimasukkan kapan saja.”

“Berapa lama waktu yang dibutuhkan?”

“Jika semuanya berjalan lancar, kita membutuhkan tiga hari.”

“...Itu tidak akan menjadi masalah. Maka, kuserahkan urusan itu padamu.”

Saat Darnic meninggalkan ruang kerja, ia berpapasan dengan Roche. Dia sedang membawa permata dan perkamen dalam jumlah yang besar di tangannya.

“Sudah sampai, tuan.”

“Bagus sekali. Ayo kita mulai membuat model raksasa sekarang.”

“Ya!”

Roche memandang Caster―Servantnya―dengan penuh rasa hormat.

Hubungan yang normal antara Master dan Servantnya telah terbalik. Contohnya jika seorang Servant adalah raja dikehidupannya yang dulu, maka dia harus diperlakukan sedemikian rupa guna menghindari tindakan yang dapat menyakiti harga diri si Servant; bagaimanapun, Caster bukanlah seorang raja ataupun kesatria. Dalam hidupnya, dia adalah seorang filsuf―dan seorang spellcaster, sama seperti sekarang.

Tapi jika kau mengetahui latar belakang mereka berdua, maka hubungan seperti ini adalah hal yang wajar.

Roche Frain Yggdmillennia―dalam sejarah penyihirnya, keluarga Frain cukup dikenal dalam bidang pengendalian boneka. Anak-anak di keluarga tersebut dibiarkan dirawat oleh para golem sejak mereka lahir sampai mereka mencapai umur ketika gelar kepala keluarga bisa diberikan pada mereka. Praktisnya, orangtua mereka tidak pernah meninggalkan ruang kerja untuk menemui mereka. Para golem telah memenuhi tanggungjawab mereka bahkan dalam hal pendidikan.

Akhirnya, setiap anak di keluarga tersebut terbiasa dengan golem. Cara bicara dan kelakuan boneka-boneka ini yang disesuaikan dengan manusia―cara mereka bekerja pada siang dan malam hari―menjadi hal yang alami bagi mereka.

Dibesarkan dengan asuhan yang cukup eksentrik, menjadi penyihir yang melebihi para golem daripada manusia menjadi hal yang normal. Bahkan mungkin mereka telah melupakan wajah orangtua mereka, tetapi mereka ingat setiap bentuk golem yang telah merawat mereka.

Kurang lebih Roche sama seperti itu. Dia tidak tertarik dengan jenis manusia maupun penyihir lain. Tentu saja, dia dapat bercakap-cakap dengan orang lain; dia bisa berurusan dengan orang, seperti saat berkelahi dengan orang lain untuk mendapatkan sumber daya yang berharga. Tapi dia tidak memiliki satu pun kebaikan yang bisa ditemukan pada manusia maupun penyihir. Bagi Roche, cara berbicara pada anjing maupun kucing sudah berarti bahwa mereka saling mengerti.

Bagaimanapun, Caster yang ada di hadapannya merupakan sebuah pengecualian.

Avicebron―Solomon ibn Gabirol―adalah seorang penyair dan filsuf yang hidup pada abad ke-dua belas. Dia lahir di Málaga, Spanyol, dan merupakan seseorang yang membawa pengetahuan Yahudi dan Arab-Yunani ke perputaran kebudayaan di Eropa. Dia tidak mendapat kehormatan sebagai kesatria maupun raja; juga tidak menghasilkan karya yang dapat hidup selama ribuan tahun. Meski begitu, dia merupakan salah satu orang yang menjadi permulaan masa Renaissance di Eropa. Dia merupakan ayah dari konsep Kabbalah―dalam bahasa Yahudi berarti ‘tradisi’―dan banyak sistem sihir lainnya; dan tidak dapat disangkal bahwa dia adalah seorang ‘pahlawan’ yang telah mempengaruhi sejarah dunia sihir.

Dalam hidup, karena fisik yang lemah dan sikap pesimisnya, ia menjadi enggan untuk berhubungan dengan orang lain. Ketika ia memiliki cukup rasionalitas untuk berbicara dengan orang lain, ia tidak akan membiarkan satu emosinya pun terlihat. Dengan kata lain, karena telah melampaui satu jenis sihir sebagai penyihir, ia tidak perlu mengkhawatirkan bermacam-macam tugas di kediamannya.

Alasan mengapa Roche memiliki rasa hormat sampai memanggilnya ‘tuan’ adalah karena kehebatan Avicebron dalam membuat golem yang melebihi kemampuannya.

Maka, bahkan pencemooh sekalipun mampu menciptakan hubungan yang lancar dengan Masternya. Bagi Roche yang telah dijauhkan dari orangtuanya sejak lahir dan hanya menciptakan golem seumur hidup, hanya kemampuan dalam menciptakan golem saja yang mampu membuatnya memberikan rasa hormat dan kepercayaan.

“Tuan... tentang perkamen ini, di mana saya harus merekatkannya?”

“Untuk model yang besar, menggunakan perkamen untuk memperkuat sendi-sendi mereka adalah yang terbaik... kau harus sangat hati-hati saat menggunakan air raksa.”

“Baik!”

Meskipun saat ini ia tergesa-gesa, mata Roche masih sempat mengikuti setiap gerakan Caster, penuh dengan rasa kagum. Caster adalah seorang guru yang ideal untuk Roche, sama halnya dengan Roche adalah Master yang ideal untuk Avicebron.

...Paling tidak, untuk saat ini.

***

Para Servant Merah dan Hitam―saat ini, adalah para pemain yang telah dikumpulkan oleh takdir. Para Roh Pahlawan suci yang berjumlah empat belas membuat perang kali ini menjadi Perang Holy Grail tidak sah terbesar yang pernah ada.

Tetapi hal itu tidak bisa hanya ditekankan dari se-abnormal apa situasinya. Perang Holy Grail asli di Fuyuki merupakan pertempuran yang didominasi oleh tujuh orang Servant; bagaimanapun, kelebihan satu Servant saja dapat merubah sistem perang, dan keabnormalan ini melanggar batas wewenang Holy Grail itu sendiri.

Pengamat yang ada pun tidak lebih dari campur tangan pihak luar. Tanpa menghiraukan apakah ada penyelundup atau tidak, Grail itu sendiri akan memanggil seorang Servant yang akan bertindak sebagai [Ruler] pada perang Holy Grail ini. Mereka tidak melayani salah satu pihak yang ada, tapi untuk melindungi konsep dari ‘Perang Holy Grail’ itu sendiri.

Monster-monster kuat yang telah dikumpulkan untuk Perang Besar ini jumlahnya terlalu banyak untuk bisa diabaikan. Sehingga, kehadiran seorang Servant dari kelas-Ruler telah bisa diterima oleh kedua kelompok sebagai suatu fakta.

...Beberapa hari lagi, sang Ruler pasti akan muncul di hadapan kita.

Saber Hitam, Siegfried.
Archer Hitam, Chiron.
Lancer Hitam, Vlad III.
Rider Hitam, Astolfo.
Berseker Hitam, Frankestein.
Caster Hitam, Avicebron.
Assassin Hitam, Jack the Ripper.

Para Servant Hitam telah terungkap. Pertanyaan yang ada sekarang adalah Roh-Roh Pahlawan seperti apa yang akan melawan mereka sebagai Servant Merah... dan apakah mereka akan memiliki cara untuk mengalahkan Vlad, pahlawan termasyhur di Roma, dan Siegfried, yang tidak bisa dilukai oleh serangan seperti apapun.

Tapi jangan pernah meremehkan nama Asosiasi dengan mempertanyakan kesempatan mereka. Organisasi besar ini telah mengajarkan sihir tertentu pada generasi ke generasi sejak zaman kuno. Katalisator-katalisator milik mereka yang bisa memanggil Roh Pahlawan ke zaman kita jumlahnya seperti bintang.

Salah satu penyihir yang dipekerjakan oleh Asosiasi, Shishigou Kairi, telah memanggil Mordred. Kesatria Pengkhianat yang memiliki kemampuan yang pantas untuk seorang Servant dari kelas-Saber. Saat ini, Shishigou sedang berjalan menuju gereja yang ada di puncak bukit Sighișoara bersama dengan Servantnya yang ada dalam bentuk spiritual.

Kota Sighișoara diciptakan sebagai pemukiman oleh Saxons pada abad kedua belas. Bahkan di Eropa, merupakan hal yang langka untuk menemukan sebuah kota dimana sisa-sisa Abad Pertengahan masih sangat kuat.

Sighișoara juga merupakan kota terdekat dari Trifas yang berada di luar jangkauan Yggdmillennia dan para Servant mereka. Maka, merupakan hal yang bijak bagi penyihir Asosiasi untuk memposisikan diri mereka di sini. Saat Trifas menjadi daerah yang terlalu berbahaya untuk dimasuki, berada di kampung halaman musuh, Bucharest juga merupakan sesuatu yang terlalu berbahaya.

Status dari Servant musuh masih tetap tidak diketahui, tetapi dapat dilihat bahwa milik mereka― Servant Merah―telah dipanggil seluruhnya. Saber telah mengonfirmasi bahwa keenam Servant lainnya telah berkumpul.

Karena telah mempersiapkan perang ini dalam waktu yang lama, maka bukanlah hal yang aneh jika Yggdmillennia telah memanggil semua Servant mereka. Dengan kata lain, perang dapat pecah kapan pun.

Sekarang, Shishigou sedang menapaki tangga yang memiliki atap berbentuk kubah menuju lokasi yang ditetapkan. Dikatakan memiliki 172 anak tangga, tangga dan Gereja yang berada di Bukit sama-sama merupakan pemandangan yang sudah terkenal.

Tiba-tiba, Saber berbicara pada Shishigou.

‘...Ada satu hal yang aku ingin kau lakukan, Master.’

“Ya? Apa itu?”

‘Belikan aku beberapa potong baju.’

Untuk sesaat, Shishigou kehilangan kata-kata mendengar permintaan yang tak terduga itu.

“...Kenapa?”

‘Terus berwujud seperti ini membuatku mudah kesal. Aku tidak bisa menenangkan diriku tanpa menapakkan kakiku di tanah. Dan aku juga tidak bisa berjalan-jalan di kota, bahkan di siang hari kalau aku menggunakan pakaian ini.’

Memang benar jika ‘pakaian’nya, atau lebih jelasnya, setelan zirah lengkap itu tidak mungkin untuk dipakai di tempat umum. Juga, karena mayoritas Perang Holy Grail dilakukan di malam hari, maka hal itu bukanlah suatu kebutuhan yang mendesak..

‘Lakukan itu untukku. Aku yakin bahwa Masterku bukan orang pelit yang akan menyesal jika menghabiskan uang hanya untuk membeli pakaian.’

“...Sepertinya aku tidak memiliki banyak pilihan.”

Orang egois, Shishigou menghela napas. Tapi sekarang masih jam sembilan pagi, dan mereka mungkin tidak akan menemukan toko yang sudah buka. Saat ini, Shishigou memilih untuk menghiraukannya sampai pertemuan selesai.

Sesaat sebelum ia mencapai tangga teratas, samar-samar ia melihat gereja yang berbentuk seperti roket. Mengetahui bahwa tidak ada seorang pun di dekat sana, ia pergi menuju pintu; sekarang jam sembilan tepat, seperti yang telah diatur.

Ketika dia berjalan melewati pintu tebal ke dalam gereja... seorang pria berdiri di depan altar di ujung jalan tengah gereja. Melihat dari bagaimana ia tidak terkejut akan kehadiran pengunjung, orang itu pasti yang telah mengundang Shishigou.

“...Selamat datang.”

Shishigou mengangkat tangan dan tersenyum.

“Aku ada sebuah pertemuan di sini. Aku tebak kaulah orang yang memanggilku?”

“Ya, tentu saja.”

Mengangguk, Shishigou berjalan sambil berbisik pada Saber.

‘...Apakah ada Servant di sini, Saber?’

‘Tidak... tidak ada satu pun yang bisa kurasakan, tapi aku punya firasat buruk tentang ini. Berhati-hatilah, Master.’

Saber tidak dapat mendeteksi  keberadaan Servant lain, namun merasakan suatu keganjilan―tapi Shishigou tidak punya waktu untuk menebak maksudnya.

Ketika ia duduk di bangku pertama dan melihat lagi ke arah si pria, Shishigou menyadari bahwa tuan rumah itu lebih muda daripada yang ia pikirkan. Cukup mungkin jika dia belum genap berusia dua puluh tahun. Melihat dari jubah yang pria itu kenakan, sepertinya dia adalah pendeta yang dikirim oleh Gereja Kudus.

Dengan senyum yang sangat dewasa di wajah kekanakan tanpa dosanya, pendeta itu berkata.

“Merupakan sebuah kehormatan untuk bertemu denganmu. Namaku Shirou Kotomine―orang yang bertindak sebagai pengawas Perang Besar Holy Grail kali ini.”

...Sesuatu terlintas di kepala Shishigou ketika dia mendengar nama itu. Tetapi itu hanyalah perasaan sesaat ketika mendengar sesuatu yang tidak semestinya, dan ia membiarkan pikiran itu lewat tanpa berkomentar apapun.

“Shishigou Kairi. Kupikir kau telah menyelesaikan pr-mu, jadi aku akan melewati bagian perkenalan.”

“Kau benar sekali.”

Ada suatu ketidakjujuran yang terlihat di wajahnya. Hal itu adalah senyum yang sangat bijaksana, senyum yang tidak seharusnya dibuat oleh seseorang yang bahkan belum genap dua puluh tahun.

“Bisakah kau menunjukkan Servantmu?”

“Tidak. Aku tidak―”

‘Lakukan saja, Master... ada sesuatu yang aneh.’

Sesaat setelah mendengar kata-kata itu, Shishigou segera mengikat hubungan yang ada. Bintik-bintik emas bergabung menjadi satu, saat Mordred menampakkan dirinya dan mulai berhati-hati mengawasi sekitar seperti sedang melindungi Shishigou.

“Ya ampun...”

Shirou menggosok matanya dengan jari, dan sebuah kerutan terlihat di wajahnya.

“Apa?”

“Oh, bukan apa-apa. Sekarang, biarkan aku menunjukkan Servantku... tunjukkan dirimu, Assassin.”

“Seperti keinginan Anda, tuanku.”

Terkejut dengan suara yang tiba-tiba terdengar, Shishigou melonjak kaget. Assassin telah menunjukkan wujudnya tepat di sebelah bangku yang tadi ia duduki.

“Cih. Assassin, huh...”

Saat Assassin memasuki dunia ini, ia memiliki kemampuan kelasnya yaitu [Presence Concealment]. Ketika berada di bawah kemampuan ini dan sedang berada dalam wujud spiritual, ia tidak akan bisa dideteksi oleh siapa pun kecuali ia bergerak menyerang.

“Aku adalah Assassin Merah. Kami mohon bantuan untuk ke depannya... Shishigou, benar?”

Sebuah aroma yang menenangkan keluar dari kecantikannya yang menggoda, ia yang dibalut dengan pakaian segelap malam. Ia menunjukkan sebuah senyum tipis saat jari-jarinya menyentuh lembut tangan Shishigou.

“...Ya, makasih.”

Dengan senyum kaku, Shishigou menjauh dari wanita itu. Di Fuyuki, sudah ditetapkan bahwa Hassan-i Sabbah akan selalu terbanggul sebagai Assassin. Apakah wanita ini salah satu dari mereka?

Nalurinya berkata seperti itu.

Si Pria Tua dari Gunung (Hassan) merupakan seorang pembunuh sejati; ia melenyapkan targetnya menggunakan suatu kemampuan yang didapat dari latihan fisik dan pikiran. Dan hal itu bukanlah sebuah kesan yang ditunjukkan oleh wanita ini. Kematian yang disebabkannya tidak diselesaikan secara rahasia, namun secara hati-hati dan penuh perencanaan. Yang dibutuhkannya hanyalah sebuah kata―sebuah lirikan mata―dan targetnya akan mati oleh tangan yang lain.

“...Tua bangka yang kotor.”

Shishigou tidak lagi setuju dengan gumaman Mordred.

“Tolong jangan mengganggunya seperti itu, Assassin.”

“Ya, ya, aku mohon berhentilah.”

Tersedak oleh tawa, Assassin menjauhkan dirinya dari Shishigou.

“Sekarang, mari kita tinjau situasi kita saat ini. Klan Yggdmillennia telah memiliki enam Servant: Saber, Archer, Lancer, Rider, Berseker dan Caster. Kelihatannya hanya Assassin yang belum bergabung dengan mereka.”

“Ada nama yang sudak kita ketahui?”

“Saat ini, sayangnya, tidak ada. Yah, kita belum perham bertarung melawan mereka, jadi kukira hal seperti ini masih alami. Bagaimanapun, kita harus mengonfirmasi parameter dari keenam Servant yang ada.”

Shirou memasukkan tangan ke sakunya dan mengambil beberapa dokumen. Dengan berterima kasih, Shishigou mengambil kertas-kertas tersebut dan membaca sepintas isinya. Mereka hanya berisi tentang spesifikasi para Servant, tanpa menyebutkan informasi penting apapun seperti kemampuan lahiriyah atau Noble Phantasm. Namun begitu, seseorang sudah bisa memutuskan beberapa hal dari menebak apa yang ada dalam data.

Lazimnya, rintangan terberat akan muncul dari tiga kelas kesatria yaitu Saber, Archer dan Lancer―masing-masing dari mereka memiliki parameter luar biasa yang melebihi kelas lainnya. Juga seperti yang diduga, mereka menggunakan kelas Berseker untuk memperkuat Servant yang paling lemah; tapi dengan spekulasi yang rendah, mau tidak mau ia akan menjadi ancaman yang sepele. Lalu untuk kelas Rider dan Caster, masalah mereka bukan ada pada jumlah, melainkan pada Noble Phantasm dan sihir; jadi untuk saat ini, Shishigou akan memberikan keputusan soal mereka.

“Ada ide siapakah mereka?”

“...Secara teknis ada satu. Kukira kau telah menyadarinya juga.”

Shirou tersenyum masam seraya mengangguk.

“Yah, melihat bahwa saat ini kita berada di Roma, tidak mungkin rasanya jika pahlawan terhebat di negara ini tidak dipanggil.”

Tidak ada alasan mengapa pahlawan-pahlawan asli Roma yang terkenal tidak dipanggil, dengan perang yang sekarang terjadi di sini sebagai ganti Fuyuki.

“Vlad III, Pangeran Wallachia―jika sekarang dia tidak bersama kita, maka sudah dapat dipastikan kalau dia akan jadi lawan kita.”

Roh Pahlawan Vlad Țepeș adalah seorang pahlawan besar yang melawan invasi Ottoman Turki dan bertarung menggunakan taktik yang tidak biasa. Walaupun dikenal sebagai model dari Pangeran Drakula, aspek-aspek kepahlawanannya akan menjadi lebih hebat di Roma. Tambahan yang ia kumpulkan dari kemasyhurannya pastilah merupakan kemugkinan tertinggi seorang Servant. Satu-satunya pertanyaan yang tersisa hanyalah kelas apa yang akan ia miliki...

“...Dia pasti menjadi Lancer. Tidak ada sejarah mana pun yang mengatakan bahwa Vlad III menggunakan pedang atau panah. Berseker dan Assassin sudah pasti tidak, dan kemungkinan dia akan menjadi Caster adalah nol besar, yang artinya dia akan menjadi Rider atau Lancer. Tetapi semua spesifikasi Rider terlalu rendah untuk seseorang yang memiliki kemasyhuran terhebat di sini. Hal ini menyisakan kemampuan Lancer Hitam yang luar biasa kuat sebagai kandidat terkuat.”

Shirou mengangguk samar menyetujuinya.

“Maka Lancer adalah Vlad III... berita ini bukanlah tanpa nilai. Jauh lebih baik daripata tidak tahu apa-apa tentang mereka bertujuh.”

“Bagaimana dengan yang ada di pihak kita?”

“Tidak terlalu buruk. Saber milikmu kelihatannya cukup hebat, dan aku bisa menjamin bahwa Lancer dan Rider memiliki kemampuan yang bisa digunakan untuk melawan Vlad III.”

“...Huh.”

Kelihatannya Asosiasi sudah berencana untuk menemukan Roh Pahlawan yang kuat. Lancer dan Rider pasti memiliki kemasyhuran yang sangat hebat, atau kekuatan yang melampaui kemasyhurannya, karena Shirou tidak mengatakannya dengan pasti.

‘Mungkinkah dia... Ayah...’

Saber bergumam, dengan suara rendah yang hampir tidak bisa didengar.

‘Tenanglah. Itu tidak mungkin... kurasa.’

...Pastinya ia berharap begitu. Jika hal seperti itu sampai terjadi, persekutuan mereka akan terpecah bahkan sebelum perang dimulai.

“Ngomong-ngomong, dengan pemanggilan Sabermu, sekarang kita telah mengumpulkan ketujuh Servant. Selanjutnya... maukah kau memberitahuku nama Servantmu?”

Assassin terkikik. Pada waktu yang bersamaan, Saber dipenuhi dengan kebencian. Tapi melebihi permintaan untuk nama aslinya, kelihatannya ia lebih terganggu oleh tawa Assassin yang sangat menjengkelkan.

“Ahh... yah, apakah aku harus mengatakannya?”

“Yah, aku lebih ingin tahu kenapa kau tidak bisa mengatakannya padaku. Kita adalah rekan dalam perang ini. Memberitahukan nama seperti halnya kita memercayakan hidup kita di tangan yang lain, bukankah lebih bijaksana jika kita mengetahui nama asli satu sama lain?”

“Aku yakin hidup kita benar-benar ada di tangan yang lain... tapi...”

Sebagai permulaan, nama Servant adalah informasi yang paling penting. Merupakan hal yang tidak mungkin untuk menebak nama mereka tanpa memikirkannya. Pengetahuan tentang nama asli seorang Servant akan menunjukkan segalanya, mulai dari Noble Phantasm mereka, kekuatan dan juga sebaliknya, kelemahan mereka.

“Dan jika para Servant akan berdiri di garis perang yang sama, mereka harus saling mengetahuin Noble Phantasm apa yang akan digunakan oleh rekannya. Dalam kasus lain, saat Noble Phantasm seorang Servant digunakan, maka nama aslinya akan terungkap. Ada sedikit perbedaan di sini.”

Kenyataannya, rencana Shirou sangat beralasan―tapi Shishigou tidak bisa mencampakkan keraguannya tentang kemungkinan bertarung bersama Shirou yang ini... dan Assassin miliknya. Ini merupakan sensasi yang ganjil dan mengerikan. Ia dapat mencium sesuatu yang mungkin tidak akan ada di jalannya perang―bau busuk penipuan.

Shishigou memunggungi mereka berdua, melihat ke arah Saber dan membuat pemikirannya diketahui melalui telepati. Antara Master dan Servant, sangat mungkin untuk bertukar pikiran melalui tingatan seperti ini, bahkan meski tanpa mengucapkan kata-kata.

‘Apa keinginanmu, Master? Ngomong-ngomong, aku menolak.’

‘Dan aku setuju denganmu. Tapi kenapa?’

‘...Insting.’

‘Aku percaya padamu. Jadi sudah diputuskan.’

Shishigou melipat kembali dokumen yang ada dan berjalan melewati gang, masih memunggungi mereka berdua.

“Oh? Mau ke mana?”

“Yah, kamu hanya ingin pergi dan melakukan urusan kami. Beruntungnya aku karena mendapat Saber, jadi aku ragu kalau bekerja sendiri akan mberikan masalah yang cukup berarti.”

Dikatakan bahwa Saber adalah Servant terkuat di antara para Servant yang lain. Dengan parameter dan kekuatan serang yang tinggi, tidak mungkin jika mereka akan kalah melawan Servant lain.

“Aku mengerti. Jadi kau tidak akan bergabung dengan kami dalam pertempuran?”

“Kalian telah memiliki emam Servant, ‘kan? Dan jika Lancer dan Rider sekuat yang kau katakan, maka tidak akan ada masalah.”

“Itu memang benar, tapi... kau mengecewakanku.”

Shirou menggaruk kepalanya, terlihat enggan. Assassin, alisnya melengkung, memenuhi udara dengan rasa ketidaksukaan.

“...Jadi kau menegaskan bahwa kau tidak membutuhkan bantuan kami dalam jalannya perang, tapi ketahuilah bahwa kau membuang semua saran yang dapat kami berikan di Trifas.”

“Itu akan memalukan, karena aku senang mendapat sebanyak mungkin saran yang bisa kudapatkan. Bagaimana jika aku membelinya darimu?”

Alis Assassin semakin berkerut mendengar kalimat ketidaksetujuannya. Diam-diam, Shirou mengendalikannya.

“Kami akan memberikan informasi secara teratur. Tapi hal ini benar-benar sangat disanyangkan, aku sungguh-sungguh berharap bisa bekerja denganmu.”

Shirou mengeluh dengan menyesal.

Segera setelah keluar dari gereja, Shishigou mengembalikan Saber ke dalam bentuk spiritualnya dan mengalihkan perhatian sepenuhnya untuk menuruni anak tangga tanpa mematahkan lehernya.

“Saber, apakah ada yang melewati kita?”

‘...Aku tidak bisa mendeteksi seorang pun. Tapi tetaplah waspada, Master. Assassin bisa mengikuti kita dalam wujud spiritual. Aku harus membunuhnya jika dia mencoba menyerang.’

“Sekarang siang hari, jadi aku meragukan hal itu.. tapi aku bisa melihat tulisan yang ada di dinding dengan praktis. Ayo segera pergi dari sini.”

‘Bolehkah aku mengatakan sesuatu?’

“Cepatlah.”

‘Assassin Merah itu... dia memiliki bau yang sama dengan Ibu. mempertanyakan kesetiaannya merupakan hal yang penting, tapi mari berdoa semoga kita tidak berakhir ditusuk dari belakang olehnya.’

Ibu Mordred―dengan kata lain adalah adik Raja Arthur, Morgan―dikatakan berencana menggulingkan kekuasaan Raja dan ingin Mordred mewarisi tahta, dan juga dikenal sebagi penyihir kuat bernama Merlin. Mendapat komentar seperti itu dari Saber, Assassin pastilah merencanakan sesuatu.

‘...Apapun yang terjadi, tetaplah jaga jarak dengannya.’

Shishigou mencapai ujung tangga dan akhirnya dapat menghembuskan napas lega. Meski begitu, dia tetap menyuruh Saber mengecek apakah ada kehadiran Servant lain di dekat sana.

‘Sebenarnya, Master...’

“Ya, apa?”

‘Hal ini cukup... cukup membuatku nyaman saat mengetahui bahwa Masterku bukanlah orang yang akan menjualku demi tipuan dan kebohongan. Tapi tetap camkan, ini bukan berarti bahwa aku sangat bersyukur. Hanya saja... yah.’

Dengan kata-kata yang meragukan, Saber memujinya. Ujungnya, Shishigou mendapat keuntungan yang besar dengan menolak ajakan Shirou―sang Master telah memperoleh kepercayaan dari Servantnya.

“Sama-sama. Sekarang, ayo kita pergi ke Trifas. Jika keadaan yang buruk masih bisa menjadi lebih buruk lagi, kita hanya perlu menghadapi setiap Servant yang ada di dalam perang. Apa kau menerima hal itu?”

Saber menyatakannya dengan keras saat ia menjawab.

‘Serahkan semuanya padaku, Master. Demi namaku Mordred, satu-satunya kesatria yang mengungguli ayahku!’

Shishigou menerima hal ini dalam hati. Dikatakan bahwa dalam memanggil Servant, seorang Roh Pahlawan dengan kejiwaan yang mirip dengan pemanggillah yang akan terpilih. Dan Saber benar-benar mirip dengannya.

Ya... terutama dalam hal kepercayaan dirinya yang berlebihan.



“Tidak berakhir dengan baik ya. Aku takut jika mereka mungkin menyadari sesuatu.”

“Apakah tidak mungkin bagimu untuk mengetahui nama asli Saber, Shirou?”

“Kelihatannya tidak. Sabernya pasti memiliki suatu kemampuan atau Noble Phantasm yang dapat membuat identitasnya tetap menjadi rahasia. Aku bisa mengetahui parameternya, tapi di samping itu...”

“Kau mengerti, secara tidak pasti mereka menjadi musuh pertama yang harus kita lenyapkan. Sekarang masih ada waktu―apakah kita tidak bisa mengirim agen untuk mengejar mereka?”

“Tidal, tidak, sebaiknya kita tidak melakukanyua. Sekarang masih terlalu cepat untuk bertarung melawan sekutu kita.”

Dengan cepat Shirou menolak saran Assassin yang tak kenal ampun.

“Sekutu? Yang benar saja.”

“Tujuan kita sama, dan hal itu membuat kita menjadi sekutu. Kita bisa mengurus mereka setelah semua Servant Hitam dikalahkan. Dan bagaimana dengan Noble Phantasm milikmu, Assassin? Semua material yang menjadi kelemahanmu seharusnya sudah terkumpul sekarang.”

“Ya, hanya perlu melakukan ritual untuk membuatnya menjadi Noble Phantasm tetapku. Aku membutuhkan waktu tiga hari lagi.”

“Aku paham. Artinya kita bisa menerobos Trifas dalam tiga hari.”

“Ya, yang kita butuhkan sekarang adalah beberapa merpati yang bisa menjadi pengintai kita dalam beberapa hari ini.”

Tiba-tiba keduanya menghentikan diskusi mereka dan melihat ke arah pintu. Setelah sesaat, pintu itu ditendang oleh pengacau, tapi Shirou menjadi santai setelah mengetahui siapa pria itu.

“Yah, halo Caster. Apa yang kau lakukan di sini?”

Pria yang dipanggil Caster, berdandan dengan pakaian sopan dengan gaya busana ala abad Pertengahan. Ia berjalan dengan cepat melewati gang yang ada, merentangkan tangannya dan berteriak.

“[Kuda! Kuda! Kerajaanku untuk seekor kuda!]”

Setelah hening sesaat, Shirou―dengan cukup gugup, seperti sedang merasa menyesal―berkata.

“...Apakah itu berasal dari salah satu karyamu?”

Bahu Caster jatuh saat dia menghela napas kecewa mendengar kata-kata Shirou.

“Ya ampun, Master! Bagaimana mungkin ada yang hidup di zaman ini dan tidak mengetahui salah satu karya terbesarku? Kau harus membaca ini jika ada waktu!”

Dia mengeluarkan sebuah buku besar bersampul tebal―baru-baru ini, ia mengunjungi toko buku untuk membeli hasil karyanya sendiri. Judul yang dapat terbaca adalah, The Works of William Shakespeare.

Caster Merah, William Shakespeare―satu-satunya dramawan yang namanya telah terkenal di seluruh dunia. Maka, dapat dikatakan bahwa orang yang tidak mengetahui karyanya adalah orang yang dungu. Bahkan dikatakan bahwa jika ada orang yang menjiplak sumber dari beberapa literatur modern, seseorang pasti selalu mengetahui bahwa itu adalah karya Shakespeare.

Bagaimanapun, ada sesuatu yang dikatakannya beberapa saat lalu yang tidak bisa diabaikan. ‘Master’, panggilannya kepada Shirou―seseorang yang telah memiliki Assassin. Tidak ada satu pun pendeta maupun assassin yang tidak akan terkejut mendengar hal ini. Jika memang benar, maka Shirou telah mengendalikan dua orang Servant.

Hal itu memang mungkin, tapi tetap saja bukanlah hal yang umum. Tidak pernah ada kasus di mana seorang Master bisa memerintah dua orang Servant dalam Perang Grail sebelumnya. Seseorang mungkin saja akan mati karena kehabisan prana. Oleh karena itu, ada berapa banyak prana yang diberikan pria ini padanya?

“Aku mungkin memang dipanggil oleh Holy Grail, tapi alat itu tidak memberikanku pengetahuan yang rinci tentang karya-karyamu. Bagiku kau hanyalah ‘seorang penulis terkenal yang ada dalam sejarah’.”



Mendengar komentar Assassin, Caster menatapnya dan meratap.

“Wahai Ratu Assyria, jangan biarkan aku mendengar kata-kata yang menyakitkan itu. Aku mohon padamu. Setiap baris yang kau ucapkan merupakan penolakan terhadap kepribadianku!”

“...Ya, kupikir kau akan melihatnya seperti itu. Tapi Caster, apa yang terjadi dengan kau yang seharusnya ada dalam bentuk spritual?”

Pertanyaan wanita itu menghentikan duka cita Caster yang dibuat-buat.

Dengan sebuah deheman, dia berkata lagi dengan perasaan yang tidak nyaman.

“Ah, ya, ng... [sepasang kekasih itu bak orang gila yang memiliki pemikiran nan bergelora], seperti kata sajak tersebut,  tetapi seseorang yang kita kenal sebagai Berseker saat ini tengah bersikap sangat tidak wajar...”

“...Apakah Berseker mulai mengamuk?”

“Oh, tidak,” sahut Caster pada Shirou.

“Jadi apa yang sebenarnya terjadi? Jelaskan dengan benar.”

Assassin mendekati Caster, wajahnya dipenuhi dengan kemarahan. Dengan senyum yang mirip seperti pelawak, Caster menyampaikan beritanya.

Berseker telah memulai pergerakannya di Trifas. Kelihatannya dia sudah bisa membedakan musuh mana yang harus dia serang.”

“...Apa?”

“Ya ampun... itu adalah berita yang mengganggu.”

Assassin kehilangan kata-kata sedangkan Shirou mengeluh begitu saja.

“Sekarang, Archer sedang dalam pengejaran. Tapi apakah dia bisa menghentikan Berseker atau tidak, mari kita tentukan dengan melemparkan koin... yah, sepertinya dia akan gagal.”

“Ini bukanlah hal yang lucu, Caster.”

Assassin menggerutu dengan pahit. Tapi tentu saja, karena meskipun seluruh Servant Merah telah berkumpul, mereka belum sepenuhnya siap menghadapi perang. Hal ini masih tidak termasuk dengan Servant klan Yggdmillennia yang menunggu di dalam Benteng Millennia yang tak tergoyahkan, dalam kondisi sempurna dan menunggu kesempatan mereka―Berseker tidak memiliki kesempatan untuk melawan mereka sendirian. Amukannya mungkin berakhir dengan kematian seorang Servant yang tidak berarti.

“Siapa yang akan kita kirim, Master? Noble Phantasm milikku belum siap. Dengan status seperti ini, akan menjadi hal yang tak berguna jika kita menyerang. Pilihan yang kita miliki hanyalah  membiarkan Berseker menuju takdirnya.”

“[Kejahatan, engkau telah terbangun. Ambillah jalan apa yang engkau ingin...]”

“Oh? Jadi kau yang mendorongnya untuk melakukan itu, Caster?”

Caster mengakhiri sikapnya yang berlebihan dan mengalihkan pandangannya seraya terlihat malu.

“Jadi kau yang telah memberitahunya di mana letak Trifas! Kau benar-benar...!”

“Oh, tapi Berseker yang malang hanya berharap untuk mencari musuh pemberontakan―aku tidak mungkin hanya berdiri diam ketika dia dipenuhi dengan penderitaan yang dalam!”

Bagi Shakespeare, dunia ini adalah cerita terhebat yang pernah dikisahkan. Atau lebih pada, seharusnya seperti itu. Karena dia mencintai sepenuh hati semua yang bersikap di luar kebiasaan, dan mengikuti kisah-kisah yang telah mereka rajut.

Karena itulah mengapa ia ingin menggunakan tipu muslihat dan provokasi―apapun demi cerita tersebut.

“Lagi dan lagi, kau hanya membuktikan bahwa dirimu bukanlah apa-apa melainkan masalah...!”

Assassin menghela napas berat, sementara Caster membalas dengan penuh keanggunan.

“Sekarang kau tahu kenapa mereka memanggilku ‘pengacau’... atau mungkin ‘penipu’ lebih cocok.”

“Sama sekali tidak membantu, selanjutnya... kita akan meminta Archer untuk mendukung Berseker. Tapi beri dia perintah tegas untuk mundur jika situasinya menjadi tidak menguntungkan. Berseker tidak bisa dihentikan―bahkan jika masternya mengucap Mantra Perintah, karena itu hanya akan menunda kejadian yang tak dapat dielakkan.”

“Ya, Master. Familiarku akan menyampaikan perintahmu pada Archer.”

“Dan sebagai pengawas, aku harus mengikuti Berseker dan menghadapi apapun yang tersisa di jalannya. Aku tidak akan bisa bergerak dalam beberapa waktu―menjauhlah dari masalah, kau mau ‘kan, Caster?”

Karena Shirou juga merupakan seorang pengawas, tentu saja dia harus melakukan apapun untuk melindungi kerahasiaan dari sihir. Jika seandainya Berseker pergi ke Trifas secara langsung, maka kemungkinan besar dia telah dilihat. Jika saja dia berada dalam bentuk spiritual―tapi, sebagai pengawas, Shirou bisa mengetahui kalau mengharapkan sesuatu seperti itu dari Berseker merupakan sesuatu yang tidak berarti... terutama dari yang satu itu.

“Oh, ya. Aku mengerti, Masterku...”

Berpura-pura mendukung Caster yang sedang berkecil hati, Shirou berkata dengan senyum yang lembut,

“Jangan khawatir, Caster. Pertempuran sebentar lagi akan terjadi. Dengan ketujuh Servant [Hitam] dan tujuh Servant [Merah], perang ini pasti akan menjadi Perang Holy Grail terbesar―Perang Besar Holy Grail. Aku percaya bahwa pertempuran ini akan memuaskan kecintaanmu pada kisah-kisah.”

***


Dan begitulah malam berakhir, dengan pertemuan keempat belas Servant. Di satu sisi, ada klan penyihir Yggdmillennia yang telah keluar dari Clock Tower―dan di sisi lain, ada penyihir-penyihir yang dikirim dari Clock Tower, yang tidak menerima tanggungjawab dan bertujuan untuk meraih Holy Grail.

Tidak ada tempat untuk penundukan dan perdamaian, tidak ada ruang bagi perundingan. Karena ini akan menjadi perang penghancuran sebenarnya, sebuah pertarungan hingga mati akan terjadi saat kedua sisi saling membantai. Bagaimanapun, berbeda dengan kebanyakan perang, permulaan dari perang ini sangatlah tenang.

Shishigou Kairi dan Saber akhirnya sampai di Trifas setelah perjalanan satu malam. Shishigou, mengendalikan Saber―yang antusias ingin memulai pertempuran secepat mungkin―dan menciptakan sebuah ramuan herbal untuk mengusir rasa kantuknya, lalu mengatur untuk membuat sebuah bengkel.

Dia telah berpikir untuk menyewa kamar hotel, namun hal itu hanya akan menarik perhatian yang lebih besar dari musuhnya. Meskipun dia bisa mengubah sebuah kamar hotel menjadi sebuah bengkel kerja yang berguna, hal itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa bangunan semacam itu sangat lemah. Dan tidak ada orang di dunia ini yang akan menghancurkan seluruh gedung hanya untuk mendapatkan satu kamar single.

“...Dan inikah solusi yang kau miliki?”

Saber mengucapkan keluhannya dengan lesu.

Seperti yang telah ia minta, Shishigou membelikannya beberapa baju dengan model modern di sebuah butik yang ada di Sighișoara. Dengan sebuah tanktop yang menyingkap daerah perutnya serta sebuah jaket kulit berwarna merah tua, pakaian itu bahkan terlihat dingin untuk digunakan dimusim gugur. Tentu saja, karena dia adalah seorang Servant, cuaca tidak akan menjadi masalah baginya.

Apa yang membuat Saber kecewa adalah tempat yang Shishigou pilih utnuk dijadikan bengkel. Saber sudah berhubungan dengan penyihir semasa hidupnya―ibunya adalah seorang penyihir―jadi dia tahu benar bahwa mereka itu eksentrik, keras kepala dan egois. Tapi...

“...Kau ingin membuat sarangmu di dalam katakombe? Benar-benar, kau pasti bercanda...”

Saber memiliki hak untuk mengeluh―lilin-lilin yang ada di sekitar mereka menyinari bayangan pilar-pilar yang tebuat dari tulang. Dua kantung tidur diletakkan di sekitar area yang cukup luas―sepertinya altar―yang menunjukkan bahwa Shishigou berencana untuk tidur di sana.

“Jangan banyak menuntut. Tidak banyak garis sihir yang berkualitas, kau tahu? Tempat ini sudah pasti akan membantu mengembalikan pranamu.”

“Persetan dengan garis sihir. Bukan itu masalahnya.”

“Oh... apakah kau takut?”

Saat Shishigou menepuk tangan mengerti, Saber membuat wajah seperti seekor penyu penggigit pemarah dan berteriak.

“Bukan! Aku hanya tidak bisa menerima perlakuan rendah seperti ini! Aku adalah seorang kesatria! Dan bahkan jika aku bukan kesatria, tidak ada seorang pun yang akan menerima perlakuan seperti ini!”

“Hah... baiklah, oke. Kau bisa menggunakan kantung tidur itu. Harganya lebih mahal, jadi aku yakin bahwa rasanya akan lebih nyaman.”

“...”

Bahu Saber melorot.

Seperti sebuah peribahasa... ‘kunci untuk berurusan dengan penyihir adalah menyerah’.

Tapi Saber tahu betul kalau Shishigou tidak memilih tempat ini menjadi bengkelnya secara mendadak dan dengan cara yang bodoh―tapi hal itu tidak cukup untuk membuat situasinya yang menjengkelkan berkurang.

Lagipula, keahliannya adalah necromancy. Merupakan hal yang alami jika kuburan dan rumah orang mati, serta tempat-tempat lain yang dipenuhi dengan mayat manusia, akan menjadi tempat yang paling sesuai untuknya.

Sebagai tambahan, makam bawah tanah ini memiliki jalan keluar yang banyak, yang membuat mereka dapat kabur dengan mudah selama jalan keluarnya tidak disegel bersamaan. Dan jika memang terjadi hal seperti itu, seseorang bisa dengan mudah membuat lubang menuju ke atas. Lalu, termasuk hal yang sulit untuk meruntuhkan atap bebatuan yang ada di atas mereka, bahkan dengan menggunakan bom―makam ini lebih besar daripada perkiraan orang-orang, jadi akan membutuhkan bom dalam jumlah besar atau ritual berlevel tinggi untuk mengharcurkannya. Tidak ada satu pun dari hal ini yang akan menjadi masalah selama mereka tetap siaga dan waspada.

Yang paling penting, secara tak terduga tempat ini merupakan benteng yang kokoh... jika kau dapat melupakan fakta bahwa tempat ini adalah kuburan.

Saat ini, Shishigou menyebar sebuah medan pendeteksi di sekitar jalan keluar makam. Dia mungkin telah memilih tempat ini sebagai bengkel kerja, tetapi tempat ini tidak lebih dari persinggahan sementara. Shishigou memutuskan tidak memasang perangkap hingga dia yakin perang benar-benar sudah dimulai, dan tentunya hanya jika dia memiliki waktu.

Kemudian, Shishigou mengeluarkan sebuah botol kaca dari dalam ranselnya. Kelihatannya, hal ini menarik perhatian Saber―yang dengan malas memerhatikan Shishigou yang sedang kesulitan―dan membuatnya mengintip dari balik bahu pria itu.

“...Apakah itu ular?”

“Ini adalah Hydra muda, diawetkan dengan formalin. Aku ragu jika ada yang lain di dunia ini.”

“Huh... dan apa yang akan kau lakukan dengannya?”

“Apa kau lupa? Kau sedang berbicara dengan seorang necromancer. Aku akan memrosesnya.”

“Memrosesnya?”

Dengan hati-hati, Shishigou mengeluarkan Hydra tersebut dari dalam botol dan meletakkannya di lantai. Tepat saat Saber ingin menggapainya, menyentuhnya, Shishigou berteriak keras.

“Berhenti! Jangan menyentuhnya!”

“...Apa? Aku hanya ingin melihat-lihat...”

Saber menjawab dengan kesal. Shishigou menghela napas dan menjelaskan.

“Lihat, Saber... Bukankah kau memiliki pengetahuan tentang legenda Heracles? Jadi, apa yang kau pikirkan jika kita membicarakan seekor Hydra?”

“...Yah, Hydra punya sembilan kepala...”

“Dan?”

“Napasnya yang beracun... oh.”

“Tepat sekali. Tubuh Hydra dipenuhi dengan racun. Jika ini merupakan Hydra dewasa, tenggorokan kita pasti sudah membusuk dengan hanya berada di dekatnya saja. Yah, yang satu ini masih muda―dan mati―jadi semuanya akan baik-baik saja selama kita tidak menyentuhnya.”

Tentu saja, tidak seperti pria atau wanita biasa, Saber tidak akan mati. Meski begitu, Hydra masih tetap seekor monster kejam. Seperti yang dikatakan sebuah pepatah: ‘Orang bodoh pergi ke tempat di mana rasa takut para malaikat menapak’.

Menggunakan sepasang sarung tangan kulit, dengan hati-hati Shishigou melepaskan kepala Hydra satu per satu menggunakan pisau. Kemudian, dia mengambil kepala-kepala itu dan merendamnya ke dalam suatu cairan berwarma merah kehitaman.

“Apa yang kau lakukan?”

“Jika usianya sedikit lebih tua, aku bisa membuat anak panah untuk busur bersilang. Tapi memerhatikan ukurannya, belati mungkin menjadi benda terbaik yang bisa kubuat.”

“Hmph... Apakah kau membutuhkan waktu yang lama untuk membuatnya?”

“Tiga jam atau lebih, mungkin. Kita tidak akan pergi ke mana-mana sampai saat itu, jadi tidurlah.”

Bagaimanapun, Saber memilih untuk tidak tidur dan berjongkok di sebelah Shishigou.

“Tertarik?”

“Tidak mungkin. Aku sama sekali tidak tertarik dengan pembedahan dan pemrosesanmu atau apapun yang kau lakukan.”

Saber menyangga dagunya, terlihat bosan. ‘Tidurlah dan hematlah pranaku’ adalah sesuatu yang ingin diucapkan oleh Shishigou, tapi dia yakin kalau Saber tidak akan mendengarkannya.

Menggunakan penjepit untuk mengambil kepala-kepala Hydra dari dalam cairan, Shishigou mengarahkannya ke sekitar api yang ada di lilin. Itu adalah hal yang sederhana, namun merupakan pekerjaan yang sangat berbahaya yang menuntut perhatian penuh Shishigou.

“...Hei, Master? Apa yang kau harapkan dari Holy Grail?”

Bahkan saat Shishigou melakukan pekerjaannya―yang membutuhkan konsentrasi penuh, dan sebuah langkah yang salah dapat membuat racun Hydra membunuhnya―Saber bertanya tanpa memedulikan apapun.

“Jika kau bertanya padaku tentang keinginan yang kuharap bisa dikabulkan Holy Grail... aku ingin Grail itu membawa kemakmuran pada klanku. Aku adalah seorang penyihir, tahu.”

Saber terlihat kecewa dengan jawabannya yang biasa saja. Penyihir yang berharap klannya beruntung merupakan sesuatu yang terlalu umum.

“Hanya itu? Tolol sekali.”

“Jangan bodoh―itu adalah hal yang penting. Kau tahu, manusia hanya hidup sebentar. Kau bahkan tidak bisa hidup hingga dua ratus tahun. Tapi anak akan meneruskan mimpi-mimpi ayah mereka.”

“Tidak semua anak akan meneruskan mimpi ayahnya.”

“Apakah kau berbicara berdasarkan pengalaman?”

Dalam sekejap, kemarahan terlihat di wajah Saber. Shishigou meminta maaf dengan senyum kecut. Tapi Saber tidak menggubris permintaan maafnya dan malah merayap tanpa suara menuju kantung tidurnya.

Meskipun Servant tidak butuh tidur, namun hal itu berguna dalam hal mengontrol penggunaan prana. Khususnya dalam kasus Saber Merah―Mordred―yang melahap prana dalam jumlah luar biasa sebagai ganti karena memiliki kekuatan yang tiada tara. Membuatnya menghemat penggunaan prana sebanyak mungkin akan lebih baik. Yah... saat ini ia hanya sedang merajuk.

Saat memroses Hydra, Shishigou mengunyah beberapa buah-buahan dan daging yang dikeringkan sebagai makanan. tapi, sekarang pun, dia akan menggeser tatapan matanya dari pekerjaannya dan melihat ke arah gadis yang sedang tidur. Setiap saat dia melihatnya, yang Shishigou lihat hanyalah wajah tanpa dosa seorang anak―dalam berbagai cara, hal ini membuat Shishigou depresi.

Mordred, Kesatria Pengkhianat, merupakan salah satu penjahat langka, yang hingga saat-saat terakhirnya, ingin menodai legenda yang agung.

Diberi kekuasaan saat Arthur pergi dalam perjalanan, Mordred mendapat kesempatan untuk menghasut para prajutit dan mengambil tahta yang sangat diinginkannya. Sekembalinya sang Raja, sebuah pertempuran antara pasukan Mordred dan Raja segera pecah―yang kemudian dikenal sebagai pertempuran besar Camlann. Banyak kesatria Raja yang terkenal gugur dalam pertempuran ini, serta Arthur dan Mordred yang sibuk bertarung satu-lawan-satu di tengah medan pertempuran yang membara. Bahkan setelah tertusuk tombak suci Rhongomyniad, Mordred masih bisa memberikan sebuah tebasan fatal pada Raja.

Arthur memerintah Sir Bedivere,yang masih setia pada sang Raja hingga akhir, untuk mengembalikan pedang suci. Dikatakan bahwa mungkin Arthur tewas di atas bukit atau saat sedang disembuhkan di Pulau Avalon.

Bagaimanapun, takdir yang dikenal dari seorang Mordred adalah kenyataan bahwa ia terbunuh dalam duel. Tapi itu merupakan hal yang wajar―lagipula, Mordred adalah seorang antagonis yang menipu Arthur Pendragon yang agung, Raja Kesatria yang melegenda, yang namanya masih terukir di tanah Britania hingga sekarang.

“...Oke, semuanya berjumlah sembilan. Sekarang tinggal tubuhnya.”

Bergumam pada dirinya sendiri, Shishigou tenggelam dalam pikirannya. Pandangannya mungkin dibengkokkan tergantung bagaimana proses pemanggilan berlangsung, tapi jika disuruh memilih antara Arthur atau Mordred sebagai Servant, dia tidak akan ragu untuk memilih Mordred.

Di antara sang Raja―yang memanfaatkan sebuah pedang suci sebagai perwujudan kekesatriaan―dan kesatria pemberontak yang menginginkan pemberontakan dengan pengikut Raja, apakah tidak jelas bahwa orang yang kedua lebih menarik dari segi kepribadian?

Shishigou tidak benar-benar paham apakah Mordred mencintai atau membenci Arthur. Lagipula, hanya ada sebuah garis tipis yang memisahkan kedua emosi tersebut. Bagaimanapun, memang benar bahwa Mordred sangat dipengaruhi oleh Arthur. Itulah mengapa dia memberontak―untuk menjadi seperti ayahnya atau untuk menyangkal jalan yang dilalui oleh sang Raja, Shishigou tidak tahu―dan, mengesampingkan apakah hal itu benar atau salah, perbuatannya itu membutuhkan keberanian.

“...Kupikir sekarang aku tahu kenapa aku memanggilnya.”

Senyumnya adalah ejekan untuk dirinya sendiri. Seorang penyihir sepertinya tidak akan pernah bisa mulai memanggil seorang Kesatria yang tepat dari Round Table―tiga sorakan untuk sang Kesatria Pengkhianat.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Shishigou merangkak ke dalam kantung tidurnya dan tidur layaknya batang kayu.



Trifas menjadi tempat yang sangat sepi di pertengahan malam. Tidak ada lampu yang menyala dari dalam perumahan, dan tidak ada toko yang masih buka di malam hari. Hanya lampu-lampu jalananlah yang menerangi kegelapan―cahaya lemah yang bisa sedikit melawan bayangan yang gelap.

Mordred dan Shishigou sedang mencari tempat yang cocok untuk melancarkan serangan mereka ke Benteng Millennia. Dalam Perang Holy Grail pada umumnya, sudah menjadi peraturan untuk mencari bengkel kerja penyihir musuh. Tapi dalam kasus ini, hal itu tidak penting. Lagipula, sudah bisa dipastikan bahwa mereka akan beroperasi dari dalam benteng itu. Maka, tidak perlu lagi mencari meteka, karena tidak ada alasan bagi Master maupun Servant musuh untuk berada di luar benteng yang kokoh itu.

Dengan kata lain, tidak ada hal yang bisa dilakukan selain menyerang benteng itu terlebih dahulu―yang artinya pertama-tama harus menemukan tempat yang bagus untuk mengamati, serta tetap menjaga jarak.

Benteng itu berada di timur laut Trifas dan tiga hektar di sekelilingnya adalah kawasan hutan. Trifas ada di dataran tinggi yang timbul dari barat ke timur, jadi siapa pun bisa melihat seluruh isi kota dari tempat tertinggi yang ada di benteng.

Oleh karena itu, Shishigou dan Saber memulai pencarian mereka dari arah selatan benteng. Pilihan terbaik adalah bangunan yang tinggi, yang tidak terlalu dekat dengan benteng tapi juga tidak terlalu jauh hingga tidak bisa melihat apa-apa.

“Bagaimana dengan yang itu?”

Saber menunjuk sebuah gedung di kota yang berusia seabad. Dibangun dengan gaya Secessionist, seluruh bangunan itu dibuat memiliki garis-garis yang lurus dan permukaan yang halus―atapnya yang geometris dan berwarna cerah terlihat bersinar.

Ini adalah karya yang berharga dan juga bangunan bersejarah yang penting. Meski begitu, hal tersebut sama sekali tidak berarti di hadapan dua orang yang hanya tertarik dengan pemandangan yang disajikan oleh gedung itu.

“Kelihatannya bagus. Ayo ke sana dan melihat-lihat.”

Shishigou bekata pelan. Namun, Saber mencengkeram kerahnya untuk beberapa alasan.

“...Uh.”

“Ayo pergi.”

Mendapat firasat yang buruk akan hal ini, Shishigou berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Saber. Tapi terlambat―dengan suara ledakan, Saber menggunakan [Prana Burst] miliknya untuk melompat ke atap. Ketika mereka mendarat, tekanan yang dirasakannya membuat kesadaran Shishigou seakan melayang untuk beberapa saat.

Sesaat keheningan melanda saat Shishigou berpikir bagaimana cara untuk menegur Saber yang terlihat puas.

“...Jangan lakukan itu lagi.”

Akhirnya, Shishigou hanya memberikan sebuah senyum simpul sebagai aksi protes. Saber mengangguk, kelihatan menyesal.

“Jadi bagaimana tempat ini, Master?”

“Yah...”

Kastil terlihat cukup jelas dari atap tempat mereka sekarang, namun pengawas dari sisi lain seharusnya tidak bisa dengan mudah memergoki mereka. Tempat ini benar-benar sempurna untuk mengawasi. Tapi...

“Tidak, tempat ini buruk.”

Shishigou menghela napas. Saber mengangguk setuju dengan sebal. Saat mereka sedang berdiri di atap, sejumlah besar burung terbang keluar dari dalam kastil. Melihat lebih dekat lagi ke atap yang dipijaknya, Shishigou melihat adanya medan pendeteksi samar yang ditempatkan di sana.

“Saber!”

Sebelum Shishigou mampu mengatakan hal lain, Saber sudah lebih dulu berganti dengan setelan zirahnya dan bersiap untuk pertempuran.

“...Apakah itu elang?”

Karena kegelapan malam hari, bahkan Shishigou sekalipun akan kesulitan untuk melihat pergerakan samar yang seperti itu. Meski begitu, dengan penglihatannya yang luar biasa, Saber bisa dengan jelas melihat wujud penyerang mereka.

“Bukan... mereka golem!”

Empat golem batu yang sepertinya dibentuk seperti capung, meluncur turun dari atas mereka dari segala arah. Saber melompat dan menghancurkan satu, lalu mendarat di tanah terdekat dan menjatuhkan dua golem lainnya.

“Sial... masih ada lagi!”

Saber mengayunkan pedangnya tanpa henti. Golem humanoid dan non-humanoid muncul dari sekitar mereka―mereka pasti sudah berkamuflase di atap dan bangunan terdekat. Tapi masih ada banyak lagi―manusia-manusia yang menggenggam tombak muncul dari segala tempat dan bersama dengan para golem, menyerang keduanya.

Bukan... wajah mereka terlalu tanpa ekspresi untuk ukuran manusia. Faktanya, wajah mereka terlalu mirip satu dengan yang lainnya sehingga mereka bisa dikira saudara.

“Mereka... bukan manusia. Homunculus, huh.”

“...”

Saber sedikit bergerak saat mendengar gumaman Shishigou.

“Ada apa?”

“Bukan apa-apa... Berikan perintahmu, Master.”

“Kekuatan sihirku belum cukup kuat untuk menghabisi golem-golem itu... Serahkan homunculusnya padaku, kau mengatasi sisanya.”

“Baik!”

Menghancurkan atap di bawahnya, Saber menyerang para golem dengan kecepatan peluru. Tubuh-tubuh golem yang terbuat dari batu dan perunggu hancur layaknya kertas dan kayu. Golem lain berusaha menyerang Saber dengan tubuh besarnya, tapi Saber hanya berteriak dan mencondongkan tubuhnya ke depan, menghempaskan boneka-boneka batu yang ada di sekitarnya.

Gerakannya sama sekali tidak menunjukkan keelokan kesatria dan keindahan seorang ahli pedang―dia lebih mirip dengan seorang berseker dan binatang yang buas. Saber mengayunkan pedang dua-tangannya hanya dengan satu tangan, membiarkan tangannya yang lain bebas. Tapi bukannya mengayunkan pukulan, dia malah melemparkan pedangnya―benar-benar berjiwa dan berhati kesatria―ke arah golem yang muncul dari atas dan menusuknya. Menghentikan pukulan dari golem kedua, Saber berteriak dan  menghempaskan penyerangnya―menabrakkannya ke arah golem yang sudah tertusuk, serta membuat mereka hancur. Setelah menarik pedangnya dari bekas golem, Saber kembali menyerang dengan gencar.

Melawan homunculus, Shishigou mengeluarkan sebuah senapan besar. Bahkan homunculus yang tanpa emosi pun melambatkan serangan mereka, berhenti dan mengamati senjata yang menakutkan itu.

Itu adalah sebuah senapan tanpa merek . Dengan batang dan larasnya yang dipendekkan, senjata ini sangat mudah dibawa dan cocok untuk menghemat ruang, tetapi jarak efektif serangannya benar-benar kecil.

Meski begitu, parameter sebenarnya dari sebuah senjata tidak berpengaruh banyak bagi seorang necromancer.

“Boom.”

Setelah mengarahkan senjata itu ke arah homunculus, dengan santai Shishigou menarik pelatuknya. Mulanya ia tidak membidik apapun―kuncinya adalah memegang senapan itu. Pelontar peluru dan komponen senapan lainnya telah dimodifikasi dengan ritual sihir. Ketika tembakan dilakukan, bukan senjatanya yang menembak, tapi sesuatu yang lain.

Proyektil yang dimiliki oleh senjata ini akan membuat darah siapa pun yang melihatnya membeku. ‘Menjijikkan’ mungkin kata yang tepat untuk menyebutnya―itu adalah jari-jari manusia.

Ada sebuah teknik rune sihir di Scandinavian yang disebut ‘Gandr’, yang memberikan suatu kutukan pada target hanya dengan menunjuk mereka. Kutukan tersebut bisa menunjukkan luka fisik―menjadi seperti sebuah peluru―jika dibuat menggunakan jumlah prana yang besar.

‘Peluru-peluru’ jari yang dibuat dengan menggabungkan Gandr dan kemampuan necromancy Shishigou itu hanya bisa mencapai kecepatan di bawah kecepatan suara, tapi mereka bisa menyesuaikan kemampuannya dengan mendeteksi panas tubuh seperti seekor ular. Ketika proyektil itu menembus jantung musuh, maka kutukannya akan pecah―senjata itu benar-benar peluru setan, ‘satu tembakan, satu kematian’.

Proyektil-proyektil itu membelok di udara dan membunuh beberapa homunculus dalam sekejap. Tapi senapan itu hanya bisa ditembakkan dua kali sebelum bisa diisi lagi. Tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, homunculus lainnya menerjang ke depan. Shishigou yang masih mengisi ulang senapannya, berhenti dan mengambil sebuah benda yang mengerikan―sesuatu yang berkedut dan berwarna merah kehitaman. Itu adalah jantung seorang penyihir.

Shishigou melemparkan benda itu ke arah homunculus terbanyak. Dengan suara seperti benda basah, jantung itu mendarat di sekitar mereka―dan seketika membesar lalu meledak. Gigi-gigi dan kuku-kuku penyihir yang sudah ditanam di dalamnya menembus tubuh para hounculus. Mereka segera mati dengan wajah ngeri, seolah-olah telah diberi racun.

Dari banyak necromancer yang ada di dunia, sepertinya hanya Shishigou yang bisa mengubah mayat penyihir dan binatang gaib menjadi sebuah alat pembunuh yang brutal.

Meskipun homunculus memiliki kemampuan bertarung, bagi seorang hunter mereka hanyalah mangsa kecil. Dan sepertinya hal itu juga berlaku untuk Saber.

“Sudah selesai, Master.”

“Yeah, kerja bagus.”

Setelah menghancurkan golem terakhir, Saber kembali. Dia melihat ke mayat-mayat yang ada di sana dan menghembuskan napas terkesan.

“ Tidak buruk untuk seorang necromancer.”

“Aku sudah menemukan lawan yang seimbang dalam membunuh.”

Saat mengatakan hal ini, Shishigou mengeluarkan sepotong perkamen dari serpihan tubuh golem. Ada mantra yang ditulis di sana.

“Benda ini tua... sekitar delapan ratus tahun.”

Waktu merupakan harga yang tinggi dalam penggunaan sihir. Sebuah misteri memperkuat berapa lama waktu ia ada. Sebagai contoh, sebuah keahlian keluarga sihir dengan menambahkan kecakapan yang ada pada setiap generasi. Dengan perkamen berusia delapan ratus tahun, seseorang bisa saja menciptakan golem yang mampu membunuh satu atau dua orang penyihir berpengalaman.

Meski begitu...

“Bagaimana menurutmu golem-golem ini, Saber?”

“Ini pertama kalinya aku melawan boneka-boneka batu seperti mereka... tapi mereka lebih hebat dari yang kukira. Golem yang terakhir bisa menahan tiga tebasan.”

“Sebuah golem ciptaan penyihir modern tidak mungkin masih utuh jika kau tebas dua kali, tidak peduli berapa lama waktu yang ia butuhkan untuk membuatnya.”

Tentu saja ada pengecualian. Dunia ini adalah tempat yang besar, dan mungkin saja ada penyihir yang bisa menciptakan golem yang seimbang dengan seorang Servant. Bagaimanapun, penyihir seperti itu tidak mungkin akan ada di klan Yggdmillennia. Golemancer terkuat mereka adalah Roche Frain Yggdmillennia. Namun sebagus apapun golem ciptaannya, golem itu bahkan tidak akan mampu menahan satu serangan Saber.

Kelihatannya, pencipta dari golem-golem ini bukanlah penyihir modern.

Baru saja saat Shishigou ingin mengamati perkamen itu lebih dekat lagi, sebuah hawa panas menerpa wajahnya.

“Ouch!”

Dia melompat dan melepaskan perkamen yang membara. Bukan hanya potongan yang Shishigou ambil―seluruh perkamen yang ada di sekitar mereka terbakar. Sisa-sisa golem yang ada segera mengecil dan berubah menjadi debu.

“Apa kau baik-baik saja?”

“Yeah, ini hanya sengatan kecil. Si brengsek yang hati-hati―itulah petunjuk yang kita miliki. Sepertinya kita tidak bisa terus berdiam di sini, tidak jika mereka sudah melakukan penyerangan.”

Klan Yggdmillennia sudah pasti memahami pentingnya sebuah strategi di tempat ini. Lagipula, Trifas adalah kota yang kecil. Hal terbaik yang bisa terpikirkan adalah bahwa musuh telah mengawasi lokasi-lokasi yang mungkin digunakan untuk menyerang kastil. Dan mereka tidak hanya mengirim atu atau dua orang pelindung, namun sejumlah besar golem dan homunculus yang terlatih.

Jika mereka tetap berdiri kebingungan di sini lebih lama lagi, Yggdmillennia hanya harus mengirimkan seorang Servant untuk menyerang. Untuk sekarang, pilihan yang mereka miliki hanyalah untuk mengirimkan seekor familiar dan mengawasi kastil dari jauh.

“Kukira kita tidak punya pilihan selain mundur?”

“Yah, kita sudah mempelajari sesuatu.”

“Dan apakah itu?”

“Caster mereka―atau kelas lainnya, tapi pasti dia adalah Servant―adalah Roh Pahlawan yang berbakan dalam bidang golem.”

Hal itu mengurangi jumlah kemungkinan dalam jumlah yang seimbang. Golem sendiri merupakan sesuatu yang sangat langka, tapi tidak akan ada orang yang sangat terkait dengan mereka kecuali Roh Pahlawan.

“Ngomong-ngomong, Master, apakah kau merasa kita sedang diawasi?”

Dalam perjalanan kembali ke bengkel kerja, tiba-tiba Saber mengatakan hal ini karena dia baru saja mengingatnya. Shishigou mengangguk setuju. Kelihatannya, dia adalah seorang penyihir yang memanfaatkan sihir jarak jauh, atau penyihir yang bisa berbagi indera dengan familiarnya. Terutama, Shishigou dan Saber sudah diawasi guna memutuskan kemampuan bertempur mereka.

“Yah, selama kau menggunakan helm itu, informasi yang ingin kita rahasiakan akan tetap aman. Kau bisa melepaskannya sekarang, ‘kan?”

Salah satu Noble Phantasm milik Saber, Helm of Hidden Infidelity (Secret Pedigree), bisa menyembunyikan parameter milik Saber. Meskipun data umum seperti statistik dan kemampuan kelas tidak bisa disembunyikan, potongan zirah ini bisa menyembunyikan nama asli, Noble Phantasm dan kemampuan pribadinya sebagai rahasia.

Meskipun Noble Phantasm terkuatnya tidak bisa diaktifkan ketika menggunakannya, ini adalah Noble Phantasm Anty-Army―ini seharusnya bisa digunakan ketika musuh tertentu akan dimusnahkan. Sekalinya terungkap, targetnya pasti akan lenyap dari dunia ini.

“Jadi tidak apa-apa kalau aku tidak menggunakannya selain untuk bertarung, ya?”

“Yeah, lakukan saja.”

Saber yang merasa senang mulai bersiul. Sebenarnya, Shishigou tidak mengizinkan Saber untuk mengungkapkan parameternya. Kelihatannya, data dan statistiknya hanya akan terlihat keitka dia ‘melepas’ helmnya saat masih ‘memakai’ zirah. Bahkan jika Saber melepaskan setelan zirahnya dan berganti memakai baju modernnya, selama dia tidak memegang senjata, kemampuannya untuk menyembunyikan parameter masih berfungsi meski dia tidak memakai helm.

Sekarang, Saber sudah memakai pakaiannya yang tadi dan menghela napas.

“Zirah itu benar-benar tidak nyaman ya?”

“Hanya perlu terbiasa saja... tapi aku merasa lebih bebas jika melepasnya.”

Saber meregangkan tubuhnya dan ke tengah jalan lalu berputar-putar. Pertempuran tadi mungkin telah membuat suasana hatinya membaik, pikir Shishigou.

Berhenti melompat dan berdiri dengan satu kaki, Saber membalikkan badan dan bertanya.

“Oh, ya―bagaimana pekerjaanku, Master?”

“Hmm?”

“Maksudku, bagaimana pendapatmu tentang kemampuan bertarungku? Yah, karena musuhnya bukanlah Servant, aku tidak bisa menggunakan kemampuanku yang sebenarnya...”

“Ah, itu... aku harus bilang bahwa kau luar biasa. Kau telah menunjukkan padaku kenapa kau dipilih sebagai Servant kelas Saber.”

Saber mengangkat dagunya angkuh, terlihat puas.

“Tapi melemparkan pedangmu? Yang benar saja?”

“Jangan bodoh, Master. Yang penting aku menang―bukan yang lain. Kemampuan berpedang hanyalah pilihan lain dalam pertempuran. Aku akan memukul, menendang, dan menggigit jika perlu.”

“...Aku sepenuhnya setuju denganmu.”

Kepribadian gadis itu benar-benar mirip dengannya hingga rasanya Shishigou ingin memejamkan mata.



Di ruang singgasana yang ada di dalam benteng Millennia, Caster Hitam menggunakan api Menorah untuk mrlihat pertempuran yang dilakukan oleh anjing Asosiasi dan Saber Merah. Gambarnya diproyeksikan ke dinding―seperti film―dan ditontoh oleh para Master dan Servant Yggdmillennia.

Seluruh Master kecuali Darnic merasa hancur oleh serangan Saber yang dahsyat―seseorang bahkan bisa merasakan pertempuran hebat itu melalui gambar yang disajikan. Meskipun postur tubuhnya pendek, kesatria itu―gabungan besi yang kokoh―berlari kesana kemari layaknya bola meriam dan menghancurkan golem yang ada.

Golem-golem yang diciptaan Caster Hitam melampaui perkiraan, memiliki kekuatan untuk melawan Servant kelas rendah. Namun mereka bisa bertahan dalam satu serangan―paling banyak tiga―sebelum hancur.

“Seperti yang bisa diharapkan dari seorang Servant kelas Saber.”

Lancer berkata dan Darnic hanya mengangguk menanggapi rajanya.

“Stregth tingkat B+, Endurance tingkat A, Agility B, Prana B... mengesampingkan keberuntungannya, seluruh tingkat parameternya ada di atas C. Benar-benar sesuai dengan Roh Pahlawan pengguna Pedang.”

Faktanya, tingkat Strength seperti itu tidak biasa. A+ merupakan modifier langka yang memungkinkan angka khusus dapat meningkat dalam sekejap. Lalu ada juga Magic Resistance dan Riding skill, yang keduanya tingkat B―yang membuat Saber menjadi cukup kuat untuk menghadapi sihir tingkat A.

Dalam ketiga Perang Holy Grail di Fuyuki, hanya Servant kelas Saber yang mampu bertahan hingga akhir―katanya, berkat segala kekuatannya yang memungkinkan untuk menghadapi situasi apapun. Semua orang yang menyaksikan pertempuran itu tidak bisa membantah ini.

“Hal yang benar-benar harus dicatat adalah parameternya yang asli tersembunyi.”

Karena dia adalah seorang Servant, Lancer tidak mengerti. Tapi sebagai Master, Darnic bisa membaca statistik seorang Servant. Tapi dia menyadari kalau tidak bisa mengumpulkan informasi mengenai bakat lahir maupun Noble Phantasm milik Saber. Meskipun bisa mengetahui kemampuan Saber atau desan pedang kesatria apa yang dia gunakan, sepertinya ada yang mencegahnya untuk mencaritahu.

Seperti, dalam beberapa manifestasi legenda indentitas Saber adalah rahasia―mungkin dikarenakan bakat bawaan maupu Noble Phantasm. Dalam kasus ini, Saber Merah sudah pasti adalah lawan yang kuat.

“Dan bagaimana dengan Servat kita? Saber, apa kau yakin bisa mengalahkan kesatria ini?”

Saber mengangguk tanpa berkata apapun menanggapi pertanyaan Lancer. Seperti yang telah diperintahkan Gordes, dia tetap menjaga kebisuannya bahkan saat berbicara dengan sang raja.

“Guru, bagaimana kau melihat ini?”

Archer tersenyum setenang lautan ketika menjawab.

“Aku yakin, Saber yang ini merupakan lawan yang berat. Bagaimanapun, saat kita bisa menebak sifat Noble Phantasmnya, aku yakin dia tidak akan menjadi masalah besar.”

Lancer menganguk, terlihat puas.

“Apa Anda tahu siapa Master itu, Kakek?”

Tanya Fiore.

“Ya, aku sudah mengumpulkan informasi dari mata-mata kita yang ada di Clock Tower. Namanya adalah Shishigou Kairi, seorang necromancer dan juga bounty hunter... seorang pekerja lepas yang mengampil pekerjaan apapun.”

“Mengumpulkan uang dengan sihir...? Rendah sekali.”

Gordes meludah. Baginya, sihir adalah sumber pengetahuan dan bukan sesuatu yang bisa digunakan untuk mengumpulkan harta. Master yang lainnya pun merasakan hal yang sama. Ada penghinaan yang besar yang terlihat―dan dalam beberapa kasus, ada kekaguman―di mata mereka. Hanya Darnic yang telah hidup di jalan sihir selama seabad, dan Celenike yang mengumpulkan sihir-sihir kegelapan sebagai bagian pekerjaannya, yang dengan dingin mampu menganalisa kemampuan Shishigou yang sebenarnya.

“Dia kuat.”

“...Sepertinya begitu.”

Necromancy adalah sihir yang berhubunyan dengan mayat. Alaminya, keahlian ini―yang bisa menciptakan zombi biasa dan melahirkan monster―membutuhkan jumlah mayat yang besar. Dan di mana dia bisa mendapatkan mayat sebanyak itu? Tidak, tidak di pekuburan atau makam―tapi di medan perang. Necromancer terhebat muncul untuk berperang. Dapat desebut sebagai takdir jika necromancer mendapat kebahagiaannya dengan mengumpulkan bahan-bahan yang ia perlukan setelah revolusi atau perebutan kekuasaan... apapun yang berujung pemusnahan.

Sejak zaman dahulu, perang tidak pernah berakhir―dan necromancer tidak pernah terpisah dari bahaya. Mereka bereksperimen dengan nyawa mereka sebagai taruhannya. Mereka bahkan mungkin mati karena hasil karyanya sendiri. Meski begitu, ada beberapa penyihir yang dengan senang hati mau memasuki medan perang―dan hal itu melebihi ketidakrasionalan yang ada.

Keluarga Shishigou sudah memiliki tujuh generasi penyihir yang mereka dapatkan dari Negeri Timur, di mana sihir dikatakan berkembang pesat. Risalah yang ditulis oleh kepala keluarga keenam, Shishigou Touki, sangat mendapat perhatia dari Cloc Tower. Jadi, sudah diduga bahwa anaknya Kairi akan meneruskan jalan ayahnya sebagai peneliti Clock Tower. Bagaimanapun, dia menghilang sebelum tahun ketiga sekolahnya, meninggalkan pendidikan yang dijalaninya.

Sejak saat itu, dia masuk ke medan perang untuk menjaring mayat dan menjalani hidup sebagai seorang bounty hunter, menahan penyihir-penyihir tabu demi uang.

Motifnya tidak diketahui, tapi kepribadian dan kemampuannya sesuai dengan pekerjaan yang ia lakoni. Dalam waktu sepuluh tahun, nama Shishigou Kairi bahkan sudah di kenal oleh kelompok penyihir bawah tanah.

Tentu saja, dia tidak benar-benar memutuskan hubungan dengan Clock Tower―tidak dapat disangkal bahwa dia dipekerjakan kali ini dengan kompensasi yang besar. Faktanya, seluruh Master yang dikirim oleh Asosiasi berjenis seperti ini. Satu-satunya pengecualian adalah Shirou Kotomine, sang pendeta yang dikirim oleh Gereja.

Tidak ada informasi yang pasti dari pendeta itu kecuali bahwa dia adalah anggota Majelis Sakramen Kedelapan. Tentu saja, Yggdmillennia memiliki sanak famili di dalam Gereja... tapi tetap saja hanya ada sedikit sejarah yang berhubungan dengannya. Hal ini berarti daftar riwayat hidupnya benar-benar kosong, atau dia berada dalam organisasi yang sangat rahasia.

Bagaimanapun juga, di samping unsur yang tidak diketahui ini, masing-masing Master lain adalah penyihir elit di antara para elit. Hanya Darnic dan Fiore yang bisa melawan mereka dalam pertempuran sihir.

Tapi, sayangnya para Master dari kelompok Merah harus membayar penggunaan Servant dengan memberikan prana mereka. Hal itu bukanlah masalah bagi Yggdmillennia―meskipun mereka adalah Master dan memiliki Mantra Perintah, aliran prana memenuhi prana yang dibutuhkan oleh Servant dengan beroperasi di antara mereka dan memengaruhi ke yang lain. Servant-Servant itu sama sekali tidak menggunakan prana asli milik Master mereka.

Tentu saja, untuk berjaga-jaga, mereka memberikan prana yang dibutuhkan dalam jumlah minimal ―karena, para Master masihlah menjadi seseorang yang membuat Servant bisa ada di dunia ini. Tapi mengesampingkan syarat inti yang harus diberikan oleh Master, prana yang Servant keluarkan―menggunakan Noble Phantasm, penyembuhan otomatis dan sihir―semuanya disediakan oleh sesuatu yang lain.

Dalam hal ini, mereka bisa dengan mudah menutup jarak yang ada dalam hal kekuatan. Semakin hebat seorang penyihir, maka semakin banyak pula prana yang akan dibutuhkan untuk menggunakan kemampuan mereka―jika hal ini sampai terjadi, mereka mungkin harus berjuang melawan Servant mereka untuk memenuhi kebutuhan prananya sendiri.

Siapapun yang percaya bisa memenangkan perang besar seperti ini hanya dengan persiapan selama sepuluh hari adalah salah besar. Yggdmillennia... tidak, Darnic telah merencanakan semuanya sejak Perang Holy Grail ketiga di Fuyuki berakhir.

“Pertempuran sudah dimulai...”

Lancer Hitam bergumam. Setiap Master dan Servant yang ada di ruangan itu diam-diam menyetujuinya. Di hati mereka yang terdalam, ada sesuatu yang mengobarkan semangat mereka―dan dengan percikan itu, mereka akan mengumumkan perang.

Tidak butuh waktu yang lama bagi kedua pihak untuk berkumpul dan berperang. Lalu, ada satu hal yang telah disetujui oleh setiap peserta dari Yggdmillennia dan Asosiasi―perang besar ini akan berkisar di antara keempat belas Servant.

Tapi pada hari itu... takdir seseorang berubah.

***

Segalanya menjadi huru-hara yang tak jelas.

Kegelisahannya terlihat―Sirkuitnya―mengeluarkan prana. Jiwanya meleleh... hancur... melemah. Dia sudah benar-benar sadar, namun tidak bisa berpikir.

Sebuah ‘insting’ yang lemah memrotes tentang kesakitan yang hebat... tapi baginya, hal itu tak lebih dari tangisan seekor makhluk tidak penting.

Tidak ada pengakuan... tidak ada pemikiran... tidak ada rumus logika yang tepat. Dia tidak bisa menegaskan dirinya sendiri. Bahkan dia tidak bisa mengatakan apakah dia mati atau hidup dengan pasti.

Tapi ada sesuatu yang ingin dikumpulkannya, mengapa ada di sini―’informasi’, seperti contoh, ‘waktu’. Dia menerima informasi dan―diberi waktu untuk memrosesnya―pengetahuan terbentuk.

Dengan pengetahuan, dia bisa mengatakan sensasi apa yang sebelumnya tidak dia mengerti,

Aku... hidup.

Itu adalah fakta yang sederhana.

Sebuah fakta yang bahkan seorang bayi yang baru lahir pun bisa pahami sebagai sebuah kenyataan yang jelas, baginya, hal itu adalah sesuatu yang tak pernah ia ketahui hingga saat ini.

Waktu berlalu.

Dia mengumpulkan informasi.

Dia memperoleh pengetahuan.

Saat dia sadar, siklus itu mulai mengulang pada kecepatan yang tidak normal. Dari awal, dia adalah suatu makhluk yang terlahir dengan Sirkuit Sihir sebagai pondasinya―kemampuannya untuk memahami suatu pengetahuan memang luar biasa.

Banyak makhluk yang menilainya... manusia, saudara sejenisnya dan monster.

Manusia akan melihat mereka tanpa minat. Saudara sejenisnya akan melihat mereka dengan emosi suram di mata mereka. Respons para monster berbeda-beda; beberapa sama sekali tidak tertarik; beberapa mengasihani mereka; dan beberapa―sangat penasaran―ingin meneliti mereka.

Tapi tetap tidak ada yang berubah. Siklus ‘informasi’ dan ‘pengetahuan’ tetap terus berulang.

Dia mengambil ‘pengetahuan’nya yang mengkhawatirkan dan kacau balau lalu mengaturnya, mengklasifikasinya, menyusunnya dengan apik―seperti sebuah perpustakaan. Bagaimanapun, saat dia mengumpulkan informasi dari luar lebih banyak lagi, dia merasa kalau jantungnya sedang direnggut.

Tanpa sadar, dia mengabaikan sensasi ini dan melanjutkan untuk mengumpulkan lebih banyak lagi informasi. Tapi semakin banyak dia mengumpulkan―semakin banyak dia mengerti―semakin besar pula sensasi itu membengkak, hingga tidak mungkin lagi diabaikan.

Seandainya dia mengukur jantungnya, sebanyak enam puluh persen yang akan direnggut. Tapi meskipun dia sudah tidak bisa lagi melarikan diri dari apa yang akan terjadi, dia lebih memilih untuk menangguhkannya.

Tapi tidak ada yang bisa menyalahkan sifat pengecutnya―karena rasa pengecut hanya bisa muncul setelah seseorang bisa memahami apa itu arti keberanian. Dia bahkan tidak tahu kalau dia menjadi seorang pengecut―dia hanya tidak ingin melihat apa yang ada di depannya.



Takdir mengalir... berkelok-kelok dan terbentuk, tersesat dalam penyimpangan.

Satu manusia dan satu monster berdiri di depannya. Keduanya adalah orang-orang yang telah ditemuinya puluhan kali sebelum ini.

‘Kode’ dari yang pertama adalah ‘Roche’. Dia adalah seorang Master.

‘Kode’ dari yang kedua adalah ‘Caster’. Dia adalah sang guru.

“Ayo sekali lagi kita melakukan percobaan pada penempatan Sirkuit Sihirnya.”

Roche mengangguk mendengar kata-kata Caster.

“Lalu, ayo gunakan homunculus ini...”

Dia menerka isi dari diskusi mereka. ‘Sirkuit Sihir’ adalah tubuh palsu yang diperlukan untuk menjalankan sihir. Mereka berperan sebagai rangka dimana daging homunculus―sepertinya―terbentuk. Jadi, apa maksud dari ‘penempatan’ yang ini?

Dia merasa seperti ada cacing yang merangkak di punggungnya. Tidak ada kesalahan―mati sudah merupakan takdirnya.

Dengan percakapan yang baru saja terjadi satu menit, detak jantungnya―telah dipompa terus-menerus, bahkan sejak terbentuk―tersentak mengamuk.

Dia mendapat kembali informasi tentang percakapan tadi. Caster dan Roche telah banyak membicarakan hal ini sebelum membicarakan mengenai golem... boneka-boneka yang dibuat dari tanah, batu dan ritual... dan lebih mirip seperti mesin daripada makhuk hidup buatan. Dan alasan untuk penempatan Sirkuit Sihir ini... adalah untuk menciptakan golem yang bisa menggunakan sihir.

Konsumsi dipelukan seiring dengan berjalannya penciptaan. Jika penciptaan itu untuk membuat ‘golem yang bisa menggunakan sihir’, maka umumnya mereka akan mengonsumsi ‘homunculus yang memiliki Sirkuit Sihir’.

Dia merasakan keringat dingin siring dengan hitungan mundur gilirannya. Dia akhirnya mengerti kenapa.

Dikonsumsi artinya dihancurkan―dan kehancuran sama dengan kematian. Dia sudah tahu kata itu, tapi tidak bisa mengerti artinya.

“Ayo mulai dengan tiga unit. Um... yang satu ini, yang ini dan yang ini.”

Jari itu menunjuknya. Pikiran tentang kematian yang gamblang mencengkeram jantungnya, seakan ingin mencekiknya. Enam puluh persen dirinya yang ia abaikan, memberi sebuah pernyataan yang serius.

Kau akan mati. Kau baru saja dilahirkan―disegel dalam tangki persediaan prana―dan sekarang akan dikonsumsi hanya karena seseorang melihatmu.

Pasangan itu meninggalkan ruangan. Dia yakin bahwa dia hanya memiliki sedikit waktu sebelum kematian datang.

Keputus-asaan melandanya. Inilah hal yang ingin ia hindari. Kelahirannya tidak ada artinya... dan kehidupannya tidak berarti.

Dan lagi, dia tidak bisa menangis, berteriak ataupun mengeluh. Dia hanya bisa memandang dengan pandangan kosong.

Tapi... apakah hal itu benar-benar masalahnya?

Dia berpikir dan memutar otaknya. Apakah benar-benar tidak ada yang bisa dia lakukan? Ataukah dia hanya berpikir seperti itu? Sekarang, hanya ada satu hal yang bisa dia―dan bukan yang lain―dapat lakukan... paling tidak, dia bisa mengumpulkan informasi, dia bisa berpikir, dan dia bisa memperkirakan solusi yang dibutuhkannya. Dia sudah berusaha sejauh ini.

Jadi, mari mencoba mengambil satu langkah maju.

Hanya kebetulan saja dia dipilih, kebetulan saja dia bisa menumbuhkan sebuah identitas ketika tersegel di tangki persediaan, ditujukan untuk menyediakan prana bagi para Servant.

Meski demikian, dua kebetulan yang muncul bersamaan ini sudah ditakdirkan.

Bekerjalah...

Untuk pertamakalinya sejak dilahirkan, dia menggerakkan sebuah jari. Menggerakkan tangannya dan mengepalkan tangan, dia berusaha untuk mengangkat lengannya.

Bekerjalah...

Dia mengonfirmasi keadaan seklai lagi. Dia paham bahwa dia sudah diawetkan dalam sebuah permata hijau agar bisa lebih efisien memberikna persediaan prana. Dengan mengulur waktu untuk memikirkan teka-teki kehidupannya, dia bisa menegaskan tujuannya―dia harus kabur dari tempat ini, sekarang juga.

Bekerjalah...!

Menggerakkan kedua tangannya, dia memukul-mukul kaca yang diperkuat itu. Tapi dia segera menyadari kalau hal itu tidak berarti dan berhenti―kaca itu tidak bisa dipecahkan dengan kerusakan fisik yang dia berikan.

Setelah berpikir beberapa saat, dia meneliti Sirkuit Sihir miliknya. Saat dia mengambil mana dari udara dan menyediakan energi untuk membentuk tubuh Servant, Sirkuitnya telah bangkit dan siap.

“Logic Path/open (Straße gehen)”

Dia memotong saluran penyedia prana dan menggunakan bahasa yang ia ketahui untuk memberikan tenaga pada ‘misteri’ dalam dirinya. Meletakkan kedua tangannya di kaca, dia berdoa agar bisa membuat suatu ‘kehancuran’. Energi yang mengalir di dalam dirinya menemukan jalan keluar dan dalam sekejap membanjiri telapak tangannya.

Telah mengetahui dari bahan apakah kaca yang ia sentuh itu terbuat, prananya berubah dan mengijinkannya menciptakan ‘kehancuran’ paling kecil yang dibutuhkan. Cahaya memenuhi tangannya... dan kaca kuat itu pecah berkeping-keping layaknya kayu yang rapuh.

Pada saat bersamaan, tubuhnya terdorong keluar dari tangki dan bersentuhan dengan dunia yang telah diasingkan darinya. Pacahan kaca merobek punggungnya. Dia terdorong ke ruangan kecil ini―dan ke dunia ini.

Sesuatu terasa menyakitkan... sesuatu terasa salah. Dadanya ngilu dan dia mencoba untuk membuka mulut, hanya untuk mengetahui bahwa ia tidak bisa melakukannya―ada semacam mekanisme pernapasan yang mendesak hal itu. Menariknya, sekali lagi dia menarik napas.

Ahh...!

Dia tercekik. Tenggorokannya terasa seperti terbakar dan paru-parunya bergetar saat dia mengambil napas berat dari udara di sekitarnya.

Densi-sendinya bergerak dengan lemah. Lalu, dia ingat kalau dia baru bisa mencapai satu tujuan, dan itu bukanlah tujuan akhirnya.

Dia harus kabur... secepat yang dia bisa!

Setelah menetapkan tujuannya, dia mencoba untuk berdiri... hanya untuk menyadari bahwa konsep berdiri bukanlah sesuatu yang sudah tertanam dalam kerangkanya. Kaki-kakinya yang lemah bergerak dan dia terjatuh menyakitkan. Tidak bisa berjalan, dia merangkak di lantai menggunakan tangannya.

Dia bergerak maju dengan pelan. Beristirahat, dia menggunakan siku untuk mengangkat tubuh bagian atasnya. Lalu, kakinya menyentuh tanah. Pergelangan kakinya yang lemah berteriak, tapi ia mengabaikan rasa sakit yang terasa dan dengan mantap meregangkan lututnya.

Dan dia mengambil satu langkah maju.

Gravitasi menyerangnya setiap kakinya menyentuh tanah, seperti ada seseorang yang mendorongnya setiap waktu. Seperti cairan lengket menjijikkan merekat padanya.

Akhirnya, napasnya menjadi tenang. Tapi, sekarang dia tidak tahu harus pergi ke mana―hanya berdiri di sini berarti kematian.

Dia tidak bisa melakukan apa-apa kecuali mengeluh. Airmata tumpah dari matanya. Dia sudah menderita sebanyak ini, namun hanya bisa mengambil beberapa langkah―dan hal itu sudah cukup membuatnya merasa kalau dia sudah mengorbankan hidupnya untuk perjuangan yang sia-sia.

Hampir roboh, dia membentak dirinya sendiri untuk berkonsentrasi sepenuhnya pada kegiatan berjalan.

Ada bisikan di belakangnya yang membuatnya ingin membalikkan badan, tapi dia memaksa untuk menolak hal itu. Dia tahu apa mereka―apa yang mereka inginkan―dan hanya bisa berusaha sebisanya untuk mengabaikan nereka. Saat ini, semua yang diperlukannya hanyalah untuk terus maju.

Dengan hati-hati, dia maju selangkah demi selangkah dengan tangan tertumpu pada dinding dan entah bagaimana bisa keluar dari ruangan ke aula berlantai batu. Darah mengalir dari kakinya―mereka selembut kaki bayi yang baru lahir dan baru saja menginjak tanah untuk pertamakalinya. Bahkan kerikil pun bisa melukai kulitnya.

Darah mengalir. Rasa sakit telah menggapai pikirannya. Jumlah informasi yang banyak ini―sangat berbeda dengan jumlah yang diterimanya saat masih berada di dalam cairan perlindungan―melukai otaknya.

Seberapa jauh tubuh ini―yang tidak pernah didesain untuk berjalan―dapat melangkah pergi? Aula itu terlihat tidak berujung dan tidak akan pernah berubah. Dia jatuh bertumpu pada lutut, paham bahwa dia tidak bisa pergi lebih jauh lagi.

Napasnya lemah... jantungnya berpacu, berjuang melawan kematian. Tubuh itu―tidak cocok sama sekali untuk hidup―menolak untuk berdiri, meronta untuk tidak berjalan lagi. Sepertinya ada tekanan rendah dalam tubuhnya yang membuat tungkainya kedinginan. Penglihatannya berkabut. Suara terdengar jauh. Pikirannya tidak lagi berisi pikiran-pikiran yang logis―hanya keputus-asaan akan kematian yang menjangkaunya.

Benar-benar hidup yang tak berarti... aku benar-benar kehidupan yang tak berarti.

Dia dilahirkan tanpa arti. Sekarang, dia akan mati tanpa arti juga. Yang bisa dilakukannya hanyalah gemetar mengetahui kenyataan yang kejam.

Dia tidak menginginkan ini... dia tidak tahu apa yang tidak disukainya dari hal ini, tapi dia tidak menginginkannya. Dia takut tertisur, terjebak dalam kegelaoan dunia. Satu-satunya yang tidak ditakutinya adalah dirinya sendiri... karena dia bukanlah apa-apa. Dia tidak memiliki apapun, tidak menerima apapun... dia transparan dan tak berwarna.

“...?”

Tiba-tiba, jantungnya berdetak kencang.

Dia menyadari bahwa ada orang lain di belakangnya―tapi dia tidak tahu kapan orang itu datang. Dengan pikiran yang kacau-balau, dia bahkan terlalu takut untuk memastikan siapakah orang itu.

Dia bisa merasakan kalau sedang diawasi. Dia tahu bahwa dia harus kabur, tapi dia tidak bisa―tubuhnya lumpuh karena ketakutan. Jantungnya berdetak cepat, tidak bisa bertahan dengan kesunyian yang menghancurkan ini, hingga...

“Ada apa denganmu? Kau akan kedinginan kalau seperti itu, tahu?”

Suara itu tidak terdengar tajam dan menghina, juga tidak mengandung hal selain perhatian yang hangat.

Refleks, dia mendongakkan kepalanya. Mata mereka bertemu.

Dia sedikit menjaga jarak. Dia pernah melihat wajah ini sebelumnya... monster yang melihatnya dengan teliti ini. ‘Rider’, ‘kan?

“Kau tidak ingin sakit, ‘kan?”

Tersenyum, Rider berbicara lagi. Tapi dia tidak tahu bagaimana menjawabnya―hanya Rider itu tang sedang menunggunya.

Apa yang harus dia katakan? Kata-kata apa yang tepat untuk situasi semacam ini?

...aku...

Tanpa sadar, dia bergumam dengan suara parau. Karena Rider tidak bisa mendengarnya dengan jelas, Rider mendekatkan wajah dan memasang telinga.

Dia tidak tahu apa-apa... apa yang harus dipercayainya? Harus berakting seperti apakah dia? Aku tidak tahu, aku tidak tahu, aku tidak tahu lagi...

Kesadarannya terganggu. Kelihatannya, dia menyadari suatu ketakutan. Dan dia berharap.

Meskipun berjalan sendiri seperti ini sangat menyakitkan, dari lubuk hatinya yang terdalam, dia berharap semoga dia bisa terus hidup.



Ketika Rider Hitam melihat pemuda yang menunduk di aula benteng, dia berpikir apa yang harus dilakukannya. Tapi Rider sudah memutuskan bahwa dia harus menolongnya―satu-satunya yang menjadi masalah adalah ‘bagaimana’.

“Kurasa sebaiknya aku mulai mengangkatnya.”

Gerakannya cepat saat dia sudah memutuskan apa yang harus dilakukan. Setelah melepas jubahnya, dia membelitkan jubah itu ke tubuh pemuda yang disangganya. Dia adalah seorang Roh Pahlawan―dan bahkan Roh Pahlawan paling kurus dan lemah sekalipun tidak akan memiliki masalah saat mengbawa satu orang.

Tapi sekarang, dia khawatir tentang kemana dia harus membawa pemuda itu. Tidak di kamarnya―karena Master Celenike memanggilnya setiap beberapa jam sekali. Rider mungkin seorang Servant, tapi dia masih heran kenapa wanita itu begitu gigih.

“Tuan Rider.”

Dia menoleh mendengar panggilan itu. Ada dua homunculus yang menatapnya dan si pemuda dengan mata yang kosong, mata yang tanpa emosi.

“Master sedang mencari seorang homunculus yang kabur. Apa Anda melihatnya?”

“Tidak.”

Dia menjawab singkat―sangat cepat karena dia bahkan tidak memikirkannya. Setelah melihat sekilas ke arah pemuda yang ada di bahunya, dua homunculuc itu mengangguk dan berbalik.

“Semoga beruntung!”

Rider melambaikan tangannya, berterimakasih pada homunculus itu saat mereka pergi.

Bagaimanapun, jika Caster memburu homunculus ini―untuk alasan apa, dia tidak tahu―maka menjadi hal yang lebih sulit untuk menolongnya. Dia ingin membicarakan ini dengan seseorang... tapi siapa? Dia tidak akrab dengan Saber yang pendiam. Lancer sama sekali tidak peduli tentang homunculus, yang artinya dia tidak akan menangkap ataupun membantu. Berseker tidak perlu dipertanyakan lagi.

Karenanya, hanya ada satu Servant tersisa yang bisa dia harapkan. Rider pergi menuju kamar Chiron, mengetuk pintu dan mengumumkan kedatangannya.

“Hei, Archer? Ini Rider... apa ada orang lain di kamar bersamamu?”

“Rider? Tidak, tidak ada seorang pun.”

Sempurna, pikir Rider saat dia membuka pintu. Melihan pemuda yang sedang dibawanya, Archer terlihat langsung paham situasi yang ada dan membimbing Rider menuju tempat tidurnya.

“Ini adalah homunculus yang sedang diburu Caster, ya?”

“Yeah, sepertinya.”

Rider membaringkan homunculus itu di ranjang dan melepaskan jubahnya. Archer menawarkannya sebuah handuk, dan dia menggunakannya untuk menyeka kotoran yang ada di tubuh homunculus tersebut. Lalu, dia memakaikan pemuda itu sebuah jubah pinjaman. Ekspresi pemuda itu terlihat kesakitan dan kelihatannya dia punya masalah pernapasan.

“Kau paham pengobatan ‘kan, Archer? Apa kau bisa memeriksanya?”

“Tentu saja.”

Menjadi guru besar di antara para Centaurus dan memiliki kebijaksanaan dari Dewa, Chiron adalah seorang guru yang mengajari pahlawan besar seperti Heracles dan Jason. Selain itu, dia juga mengajari Asclepius yang kemudian menjadi dewa pengobatan. Pada dasarnya, Archer adalah seorang ahli pengobatan.

Archer menyentuh nadi pemuda yang tak sadarkan diri itu dan meletakkan tangan di atas jantungnya. Dengan matanya yang tajam, dia melihat setiap bagian tubuh homunculus itu.

“Kelihatannya dia memaksakan Sirkuit Sihirnya. Sepertinya dia menggunakan sihir untuk memecahkan tangki kaca yang menahannya dan kelebihan prana yang ia miliki, berakhir menyobek pembuluh darahnya. Dan juga ada masalah lain, alasan yang lebih sederhana... dia kelelahan.”

“Dia lelah?”

“Aku yakin ini adalah pertamakalinya dia berjalan seumur hidupnya. Hari ini mungkin pertamakalinya dia mencoba berdiri sendiri.”

“Oh... jadi, dia seperti seorang bayi yang baru lahir.”

Normalnya, seorang homunculus adalah manusia buatan yang bisa beroperasi sejak pertamakali dia diciptakan. Jika dibuat dengan sempurna, homunculus tidak akan pernah mati karena umur yang tua. Tapi―hal ini sepertinya dikarenakan kelahirannya yang ganjil―homunculus ini memiliki banyak kelemahan fisik.

Dia mungkin memang lahir dengan fisik yang lemah... karena dia tidak diciptakan untuk bertarung, tapi untuk menjadi sumber persediaan. Sirkuit Sihirnya memang kelas-satu, tapi dia tidak bisa menggunakannya.

Jika dia menggunakan sihir... Sirkuitnya mungkin bisa bertahan, tapi tidak dengan tubuhnya yang lemah.

“Jadi dia akan baik-baik saja selama tidak menggunakannya?”

“Kukira ya. Meski begitu... menjalani hidup yang sederhana mungkin terlalu berat untuknya. Aku takut dia hanya bisa bertahan selama tiga tahun.”

Keheningan melanda seluruh ruangan. Tiga tahun... kata-kata kejam ini bahkan membuat bahu Rider terkulai. Setelah sesaat―seperti ingin menghilangkan keadaan yang tak menyenangkan itu―Rider berbicara.

“Maaf... aku mengotori kasurmu.”

“Tidak masalah. Tapi... ada satu hal yang ingin kutanyakan. Kenapa kau menyelamatkannya?”

Rider menjawab pertanyaan Archer tanpa ragu.

“Karena aku ingin.”

Kata-katanya bukanlah sebuah keraguan. Dia menyelamatkan pemuda itu karena dia ingin. Sesederhana itu―sejelas itu―hingga hal itu akan menjadi hal yang sulit dilakukan oleh orang selain Rider.

“Dan bagaimana dengan Caster?”

“Aku tidak tahu! Haha!”

Tertawa, Rider menghempaskan tangannya ke udara. Meskipun menghela napas, Archer merasa bahwa ini adalah suatu keputusan yang benar. Meskipun memenangkan pertempuran adalah hal yang penting, situasi mereka saat ini tidak terlalu berbahaya sehingga mereka bisa berusaha melupakan tanggungjawab mereka sebagai Roh Pahlawan. Menyelamatkannya―atau paling tidak mengabaikannya―adalah hal yang benar untuk dilakukan.

“Aku akan pergi sebentar... aku ragu akan ada yang datang, tapi tolong jangan menjawab jika kau mendengar ketukan.”

“Oke, Terima kasih, kalau begitu aku akan tetap disini.”
Sebelum ia pergi, Archer tiba-tiba mengajukan pertanyaan pada Rider.
“Apakah kau akan memegang tanggung jawab ini hingga akhir?”
Mendegar pertanyaan itu, Rider menatap homunculus yang tertidur di atas kasur. Saat itu, dia ingat betapa ringannya tubuh laki-laki itu. Lengannya melingkar di lehernya, sangat tipis bagaikan dahan kayu. Dia terlahir dalam kondisi lemah… bahkan tidak bisa melakukan hal dasar seperti berjalan.
Bahkan jika dia keluar dari benteng ini, kemungkinan dia bisa bertahan hidup sangat kecil. Archer bertanya, apakah ia mampu bertanggung jawab atas nyawa anak itu. Namun Rider tidak bisa tinggal bersama anak itu lebih dari tiga tahun meskipun ia mengingingkannya… Perang Holy Grail sudah tidak lama lagi. Berapa lama waktu yang ia perlukan agar bisa membantu anak itu sampai keinginannya terpenuhi?
Rider tidak tahu jawabannya. Kapanpun saat dia tak tahu jawabannya, ia akan menyerahkan hatinya tuk menemukan jawabanya. Rider akan melindunginya… membantunya seperti yang diinginkan, sampai dia bisa menerimanya.
“Aku akan terus membantunya sampai akhir. Aku tidak akan meninggalkannya.”
Setelah Archer meninggalkan ruangan itu, Rider menaruh tanganya pada leher homunculus dan berbisik.
“Ayo… kau sudah bangun, ‘kan?”
Mendengar kata-kata itu, homunculus itu membuka matanya, bangun dari tempat tidur, melihat pada Rider dengan takut dan gemetaran. Dia seperti hewan kecil yang terperangkap, pikir Rider.
“Hei…”
Rider mencoba untuk menyapanya tapi anak itu hanya diam.
“Uh… jadi…”
“…”
“Bagaimana ya cara menjelaskanya… uh…”
“…”
Rider memiringkan kepalanya. Dalam situasi seperti ini, apa yang harus dia lakukan agar dia percaya bahwa dirinya adalah teman? Setelah cukup laam berpikir, ia memutuskan untuk merangkulnya, membiarkan anak itu bersandar didadanya.
“Kau mengerti, ‘kan? Tidak aka nada yang akan menyakitimu, aku disini ingin membantu mengabulkan keinginanmu.”
“…?”
Dia tidak mengerti, homunculus itu tidak mengerti apa yang rider katakan- bukan tidak mengerti secara harfiah, namun maksud dari kata-katanya.
“Beritahu padaku… Apa yang kau inginkan.”
Rider berbisik ke telinganya. Homunculus itu mulai berpikir. Berharap, keinginan, keinginan ... Tapi apakah dia memiliki hak untuk mengatakan keinginannya? Dia tidak memiliki kekuatan apapun, juga tak memiliki apa-apa, tak memiliki pengalaman sama sekali dan dibuat hanya untuk menjadi alat –meski dia tahu ia telah dibuang.
Namun, walaupun dia punya  satu keinginan yang sangat tidak cocok. Sebuah keinginan ... mimpi yang dia inginkan sangatlah tidak layak. Dia tidak berharap untuk diberikan-tapi tidak ada salahnya mengatakan itu, ia memutuskan.
Homunculus membuka mulutnya dan menggunakan organ vokal yang hampir tidak pernah ia digunakan sebelumnya. Itu memang menyakitkan tapi ia harus mengatakan keinginanya.
“Selamatkan… aku…”
Mendegarnya, Rider menjawab dengan lembut.
“Baiklah, akan kulakukan.”
Dalam kalimat instan-yang tampaknya tanpa mengingat-jawabnya. Homunculus itu tampak mempercayainya. Rider mengeluarkan senyum riang.

"Kau bilang 'selamatkan aku', ‘kan? Aku mendengarmu. Aku adalah Roh Pahlawan, lagipula… akulah yang akan menyelamatkanmu apapun yang terjadi.”

Kau mau? Kau ingin mengabulkan permintaanku? Bisakah aku mempercayaimu?
Tidak, meskipun ia tidak percaya… tapi anak itu tetap menginginkanya.

Betapa beruntungnya homunculus itu bahwa orang yang pertama ditemuinya adalah Rider Hitam- Seorang Paladin, Astolfo.
Ujar Rider dengan bangganya.

"Lalu, sekarang ... pertama, kita harus berpikir bersama-sama ‘tuk memikirkan bagaimana cara untuk membantumu. Oh, tapi kusarankan serahkan saaj semuanya padaku. Karena ini adalah tugas untuk orang yang punya pengendalian diri sepertiku, Astolfo! "

Homunculus itu mendengar kata Rider, bolamatanya melebar. Hatinya sangat tersentuh oleh
Kepolosan rider –hanya orang bodoh yang meragukan kesetiaan Astolfo.
.Mulai sekarang, takdir harus berlajan kedepan.

Ayah Shirou, pengawas yang dikirim oleh Gereja, berlutut hormat dihadapan lima Masters lainnya yang dipilih di Clock Tower untuk menekan Yggdmillennia.
Ada beberapa jarak antara ia dan orang-orang itu, seolah-olah ada semacam kamar pembatas. Selain itu, ada tirai tipis antara Masters dan Shirou, menutupi pandangannya. Membuat lima orang lainya hanya terlihat bayangan.
"... Lapor."
Shirou dengan fasih menyampaikan pesan itu dari sisi lain tirai
"Perang ini berada di pihak kita. Lima dari tujuh Servant musuh telah dikalahkan sementara
semua servant kita berada dalam kondisi baik. Kami telah menangkap Master yang lolos. Apa yang harus saya lakukan?
Setelah beberapa saat, tawa merendahkan mulai bergema.
"Tentu saja, Bunuh mereka. Bunuh mereka semua. Bawakan kepala-kepala mereka –sebagai bukti agar bisa mendapat imbalan. Kau bisa memberikan sisanya pada anjing.”
"Mengerti ... lalu bagaimana dengan proposal yang kubawa sebelumnya? Apakah sudah kalian pertimbangkan?"

Tiba-tiba, sisi lain dari tirai menjadi diam. Tampaknya, ini bukan penolakan, namun ada sedikit pertimbangan disini.
"Kami mempercayaimu-tapi kita tidak perlu melakukanya. Kami adalah Master, dan kita harus mengontrol para Servant."
"Jangan khawatir. Aku dapat melakukan itu untukmu."
"Maksudmu ... kita tidak lagi membutuhkan mereka?"
Shirou sadar bahwa pernyataan itu akan memancing emosi. Rasa takut, mungkin, atau muak dengan perang, atau sebagai pelipur lara sebagai tanggung jawab pada yang lain…
" Ya, tentu saja."
Bisikan terdengar dibalik tirai didepan Shirou. Shirou terus berlutut dan menunggu keputusan.
"Tidak… masih terlalu berbahaya. Bukankah akan lebih aman jika tidak membubarkan kita dulu?”
“Baik, aku mengerti”
Lebih aman katanya –Yah meskipun objekn tersebut seharusnya tidak seharusnya diserahkan padam orang lain, namun mereka tidak bisa menolaknya tanpa alasan. Mereka sudah tidak memiliki akal sehat- Shirou sudah mengira bahwa ia perlu melakukan satu dorongan lagi.

“Saya harus pegi, silahkan nikmati perbincangan kalian.”
Shirou meninggalkan ruangan itu dengan membungkuk dan lima Masters yang berada dibalik tirai memulai percakapan mereka.
Mereka mungkin penyihir professional. tetapi mereka tidak dapat berbaur dengan masyarakat jika mereka tidak memiliki suatu sisi manusia. Mereka sedang menikmati perdamaian mereka dengan sungguh-sungguh, saling berbagi dongeng konyol dan cerita kesalahan.
"Ini tidak berhasil ... Mungkin sudah saatnya untuk mengaturnya untuk bergerak."
Assasin menahan tawan dilanjutkan Shirou yang mengangkat bahu dengan santai.
"Apakah aku tidak memberitahumu bahwa akan terjadi seperti ini? Aku menang taruhan."
"Kupikir bergitu ... Kau boleh mendapatkan anggurnya. Tapi hanya itu yang kau inginkan? Aku mendapat botol dari
tetua di Sarkamen Kedelapan. Mungkin tua tapi tidak ada yang istimewa dengan itu. "
"Itu tidak penting. Aku hanya menginginkan rasa kekayaan.”
"Begitu..."
Tanpa diduga, Shirou mengagguk bagaikan paham apa yang Assasin pikirkan.
"Dan apa yang anda lihat?"
"Nah, di antara para Servant yang dipanggil di Holy Grail Wars, ada beberapa yang tidak menyukai bentuk spiritualnya dan hanya aktif untuk makan dan tidur –Kebanyakan dari mereka adalah roh anggota kerajaan. "
"Ya, tidak diragukan lagi. Untuk itulah tujuan menjadi raja –Untuk menjadi berkuasa dan memiliki hasrat lebih dari yang lain. Itu adalah takdir dari para-para pemimpin. "
"Hmm ... Namun, apa tidak ada raja yang hidup sederhana?”
"Kesederhanaan hanyalah dianggap olahraga bagi orang-orang yang memiliki otoritas-orang yang merasa memiliki semuanya. Orang yang akan memimpin dunia adalah orang yang mampu melakukan tirani, Seseorang harus menjadi tirani dan juga menjadi raja.”
Pada saat itu, tiba-tiba menjadi Assasin tenang.
Ekspresi Shirou tidak berubah. Setelah mengelaurkan semua argument logisnya. Tidak ada
Kesempatan baginya untuk menolak.
“Aku minta maaf, tidak ada gunanya kau mendengar semua ini.”
“Oh, tidak, aku sudah biasa mendenghar celotehan bupati… heh.”
Shirou mulai tertawa seolah-olah ada hal lucu yang terjadi.
“Apa yang lucu?”

"Semakin aku mempertimbangkan situasi ini, semakin aku terhibur.. Ini akan masuk akal jika itu
Terbalik –Itu hanya akan terjadi jika aku adalah Servant dank au adalah master. Namun, hal itu
adalah kebalikan dalam kenyataan. Sistem Servant pada Holy Grail kadang-kadang membuat seseuatu yang membuat penasaran.”

“Itu benar, aku terbiasa dilayani, tapi ini hal baru bagiku untuk melayani orang lain. Tapi masih ada waktu, Begini… mau kah kau bertukar?”
Shirou menggeleng.
"Tidak, terima kasih. Sepertinya kau akan jadi orang yang kejam pada masamu."
Dengan tatapan jahilnya, Assasin bergumam.
"Tidak sia-sia aku dikenal sebagai peracik racunn tertua di dunia ... Apakah kau yakin bisa
Menggunakan Ratu Semiramis? "
Itulah kata-kata yang Assasin katakana saat pertama kali dipanggil.
Dengan tersenyum, Shirou mengulangi jawabannya sekali lagi.

"O Ratu Assyiria –Di perang besar Holy Grail ini, saya bertujuan bukan untuk kemenangan atau kekalahan, tetapi untuk
tujuan lain. Apakah yang mulia mau membantu saya? "
Jarang-jarang  melihat Assasin tertawa terpingkal-pingkal
"Haha! Ya, itu saja! Jujur, aku bahkan tidak bisa mulai memahami apa yang kau katakana selanjutnya –Aku hanya berpikir untuk mencari Master lain untuk menjadi bonekaku.

"Dan sekarang?"
"Apakah perlu kau pertanyakan lagi? Kau sangatlah menarik, Master. Keinginanmu adalah tanggung jawabku. Karena itulah aku tidak pernah ragu untuk membantumu.”
Bersamaan dengan Shirou mengucapkan terima kasih, seekor merpato abu-abu terbang kearahnya.
Assassin, pada saat yang sama dia juga adalah seorang Caster. Dia memiliki kemampuan yang sangat langka yaitu [Pemanggilan Ganda] –Memberikannya kemampuan mengendalikan dua kelas, dikenal sebagai Caster, juga sebagai Assasin.
Menurut legenda, ia ditinggalkan Setelah lahir dia dibuang oleh ibunya, lalu dia dibawa dan dirawat oleh seekor merpati. Bahkan setelah ia tumbuh ia terus berteman dengan merpati.


Semiramis adalah peracik racun tertua di dunia –dan salah satu orang yang diberinya racun adalah suarminya, Raja Ninus, orang yang merebutnya dari suami pertamanya, Jenderal Onnes. Setelah beberapa decade, diapun menjadi Ratu Assyria.
"Pemberitahuan ... Berserker kita sudah hamper mencapai Trifas. Archer dan Rider sudah siap menanti. "
"Oh? Rider, juga?"
Shirou dan Assasin tahu bahwa Archer telah melacak Berserker, tetapi tampaknya Rider juga akan ikut bersama.
"Dia pergi setelah Archer, Sepertinya … Rider kita seperti yang diharapkan, kupikir. Archer dan dia berasal dari tanah yang sama, lagipula –Yang seharusnya sudah jelas, sih. Dia sudah membuat kemajuan saat mereka mengejarnya.”

Nada bicara Assasin jadi tajam. Ada perbedaan kompatibilitas yang mendalam pada Rider-yang berpikiran luas, berani dan sedikit berpiking tentang raja-dan Assasin, menjadi ratu. jika
ini telah menjadi standar Holy Grail War, pertempuranpertama pasti akan terjadi diantara mereka.
Datang merpati yang lain. Shirou melihat senyum tipis muncul di wajah Assassin saat ia menerima berita itu.
"Shirou ... tampaknya seseorang yang paling kau takuti datang."
Mendengar kata-kata Assasin, mata Shirou –yang biasanya tenang- menunjukan mata kekesalan untuk pertama kalinya.
Dia tidak membencinya, hanya saja dia adalah satu keberadaan yang ingin Shirou musnahkan.
"Maksudmu ... Ruler."
"Ya. Itu sudah dipastikan bahwa ia telah menyusup ke Rumania."

Hubunganya dengan merpati ada di seluruh pelosok Rumania, negara di mana pertempuran akan diputuskan. Begitu Ruler muncul dan dan melewati perbatasan, Assassin menerbangkan vanguard untuk mengetahui lonjakan prana yang dia miliki sebagai mana Servant.


"Apa yang harus kita lakukan?"
"Bunuh dia –atau setidaknya kita penjarakan."
"Dalam hal ini, kita harus mengirim Lancer. Rider juga bisa membantu jika dia tidak kabur ..."
Dibandingkan dengan Servant lain dari Fraksi merah –Selain  Saber, melakukan misi independen- Lancer dan Rider benar-benar tak tertandingi. Secara khusus, kekuatan Rider sebanding dengan Vlad III, bahkan di Rumania-ia dianggap satu-satunya pahlawan didunia.
"Aku tidak yakin Rider mau melakukan misi seperti ini dan melakukan apa yang tidak ingin dilakukanya, meskipun itu perintah dari Master. Lagipula dia benar-benar seorang pahlawan.”
Rider bukanlah pahlawan pemberontakan seperti Berserker, ia berbeda dan adalah kesatria yang diagungkan raja. Dia pernah secaraterang-terangan menolak perintah raja dan hanya mau membantu saat pasukanya terbunuh. Orang seperti itu tidak mungkin mau membunuh Ruler bersama dengan Lancer.
"Tapi Lancer akan mengikuti perintah Master tanpa keberatan."
Di sisi lain, Lancer adalah-mudahnya disebut- prajurit. Ketika diperintahkan, ia akan langsung melakukanya seolah-olah membangkang itu tidak ada dalam kamusnya.
"Ya ... mari kita memberikan perintah untuk Lancer."
Shirou memerintahkan Lancer melalui Masternya.
"Aku menyatakan, bahwa Lancer Merah-Akan mengikuti perintah Assasin dan memusnahkan Ruler. Pembukaan dari peninggalan sucimu akan diserahkan kepada kebijaksanaanmu sendiri. "
'Mengerti', jawab lancer dengan singkat.
Lalu, merasakan bahwa Ruler telah menginjakkan kaki di Rumania, kedua kubu langsung melakukan tindakan-'Hitam ' yang mencari cara untuk mengamankan dominasi mereka dan' Merah 'bergerak untuk menghancurkan musuh terbesarnya.

Fate/Apocrypha Jilid 1 Bab 2 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.