01 Agustus 2015

Fate/Apocrypha Jilid 1 Bab 1 Bahasa Indonesia



FATE/APOCRYPHA
JILID 1
BAB 1

Merupakan sesuatu yang aneh melihat ruangan berpencahayaan redup itu tampak berputar-putar. Ruangannya menjadi luar biasa luas, namun membuat orang yang berada di dalamnya tertekan karena merasa tidak nyaman. Lilin-lilin yang diletakkan di tengah ruangan sedikit menerangi wajah para pria yang berada di dalam sana, namun penampilan mereka tetap tidak jelas dan kabur. Udara yang berada di dalam ruangan dipenuhi dengan kesedihan yang tidak dapat dijelaskan.

“Jadi...hanya satu orang yang kembali.”

Ada tiga orang yang berkumpul di sana. Salah satunya adalah seorang pria tua yang pendek namun tidak bungkuk, kerutan di wajahnya bersinar seperti sebuah patung pahatan dari kayuRocco Belfaban, orang yang telah menjadi kepala dari Departemen Pemanggil selama sekitar lima puluh tahun, meskipun tidak ada yang memercayai hal itu.

Pria yang lainnya mengangguk menanggapi gumaman parau Belfaban.

“Aku menyaksikan sendiri pertarungan itu, yah... itu adalah pemandangan yang menakutkan. Hal itu tidak seharusnya ada di dunia ini.”

Yang berbicara adalah pria yang lebih muda, ia terlihat tampan dengan rambut berwarna merah. Melihat sekilas kekuatannya, jiwa besar dalam tatapannya dan sikap sopan santunnya, kau dapat menebak kalau dia adalah bagian dari komunitas elit. Terlihat sebuah keyakinan kuat akan kewajiban dari kata-kata yang diucapkannya.

Namanya adalah Bram Nuada-De Sophia-Ri, penerus kepala Departemen Pembangkitan dan juga salah satu instruktur kelas satu yang dipekerjakan oleh Clock Tower.

Si pria tua mengangguk setuju dan mengarahkan pandangannya pada orang terakhir di ruangan itu ―yang terus diam. Dia adalah seorang pria dengan rambut panjang tergerai yang sedang mengerutkan alisnya, terlihat tidak suka atas gagasan itu.

“Bagaimana menurut anda, Tuan El-Melloi?”

Menyalakan cerutu di tangannya dengan api dari lilin, laki-laki yang dipanggil El-Melloi itu menggelengkan kepalanya pelan.

“El-Melloi kedua. Seperti penghormatanku padamu sebagai orang yang lebih tua, tetap gunakan ‘II’. Nama itu tidak dapat dipakai tanpanya.”

“Maafkan kesalahanku. Bagaimana anda menghadapi situasi semacam ini, El-Melloi II?”

“Yah, sudah jelas kalau kita harus mengubah apa yang menjadi tujuan kita. Saat ini, kita baru saja kehilanganan keempat puluh sembilan penyihir kita. Salah satu dari mereka memang berhasil selamat, tapi dia sudah tidak berguna lagi.”

Operasi mereka sudah direncanakan sedetail mungkin, yaitu mengorganisir lima puluh penyihir. Saat dimulai, operasinya berjalan dengan sempurna dalam setiap hal. Akan tetapi, segalanya dirusak oleh seorang single familiar.

Hasilnya, keempat puluh sembilan penyihir mati, dan hanya satu orang yang berhasil kembali.

“Kita harus berterima kasih pada usahanya yang telah membuat kita memiliki kesempatan untuk balas dendam. Jika kita bisa mengumpulkan ketujuh master, kemenangan akan menjadi milik kita.”

“Tapi, siapa yang bisa pergi? Setiap penyihir setengah waras yang dikirimkan hanya akan mengalami nasib yang sama. Daerah Trifas berada di bawah kekuasaan mereka.”

Setelah hening beberapa saat, El-Melloi II memberikan sebuah pernyataan yang jelas dan sederhana.

“Kita harus mengajukan para profesional dari luar wilayah ini. Perang Holy Grail ini benar-benar berbeda dengan perang yang pernah kita alami sebelumnya. Clock Tower pasti masih menyediakan setidaknya satu atau dua orang penyihir.”

Dua orang lainnya menunjukkan persetujuan mereka. Mereka harus memilih ketujuh Master sekarang. Akan tetapi, ada persoalan lain yang harus diselesaikan saat itu juga. Akan menjadi hal yang luar biasa untuk memilih master dari keluarga penyihir di Clock Tower. Mungkin saja membutuhkan waktu lebih dari tiga bulan sebelum pemilihan itu disetujui karena alasan yang bermacam-macam, tidak kurang juga rangkaian dan perlindungan dari kepala keluarga penyihir. Maka, merupakan hal yang lebih efektif untuk  membuat kontrak dengan penyihir mandiri yang ada dan lebih siap.

“Maka kita perlu mengumpulkan orang yang kita rasa cocok untuk situasi ini. Biarkan Gereja Kudus mengirim Master terakhir. Kita harus melibatkan mereka dalam perang ini agar semua orang tahu kekuasaan kita.”

“Karena itu, aku akan membuat seleksi untuk menentukan pusaka-pusaka suci ini. Waktu tidak sedang berpihak pada kita, tapi seharusnya masih mungkin untuk mengumpulkan katalisator yang bisa memberi kita kekuatan yang setara dengan milik musuh.”

Mendengar kata-kata Bram, Belfaban mengetuk lantai dengan tongkatnya saat dia mengumumkan.

“Ini benar-benar berbeda dengan semua tiruan dari ritual Perang Holy Grail pada masa kita. Dalam hal skalanya saja, ini melebihi Perang Suci yang terjadi tiga kali di kota Fuyuki. Kita harus menguatkan diri kita tentang apa yang akan terjadi. Biarkan mereka merasakan penyesalan yang besar karena telah menodai nama Clock Tower.”

Tanpa melihat lagi ke arah satu sama lain, ketiga pria itu meninggalkan ruangan dengan cara yang berbeda.
***

Sekarang adalah malam sebelum Nazi Jerman menyerbu Polandia untuk memulai Perang Dunia Kedua. Kota Fuyuki di Jepang sedang mengadakan ritual Perang Holy Grail yang ketiga kalinya. Tujuh Servant dan tujuh Master, demi keinginan mereka, memulai pertarungan megah hingga hanya satu orang yang tersisa. Namun dalam jalannya perang, sebuah keadaan yang mengarah pada kehancuran dari Lesser Grail muncul. Hal ini kemudian membuat Grail War menjurus pada keadaan yang tidak stabil.

Masalahnya ada pada apa yang terjadi setelahnya.

Greater Grail, alat pengabul-keinginan yang mahakuasa, telah disembunyikan di dalam gua besar yang terdapat di Gunung Enzou. Kemudian secara kebetulan, Greater Grail ditemukan oleh seorang penyihir yang didukung oleh Nazi, yang selanjutnya mencoba memindahkannya menggunakan bantuan militer.

Ada sebuah pertempuran sengit yang dilakukan oleh tiga keluarga besar dari Einzbern, Makiri dan Tohsaka. Sama seperti yang dilakukan oleh Tentara Imperial, mereka mencoba untuk menggagalkan komplotan ini. Namun karena segera datang setelah Grail War berakhir, mereka ada dalam posisi yang lemah dan kelelahan. Greater Grail, yang dipalsukan oleh gabungan budak dari ketiga keluarga besar, telah dirampas oleh Nazi.

Pertempuran ini telah ditulis tanpa teks dan direkam tanpa gambar, bahkan ada dalam pikiran setiap oang. Bagaimanapun, merupakan sebuah kenyataan yang tidak dapat disangkal tentang adanya perang yang terjadi antara senapan dan sihir.

Sekarang, dengan Greater Grail di tangan mereka, sudah pasti Nazi dapat mengatur dunia dengan cara apa pun yang mereka sukai.

Tentu saja, masa depan seperti itu tidak datang. Ketika akan dikirim ke Jerman, Greater Grail menghilang secara misterius. Mungkin saja benda itu telah dicuri kembali oleh tentara Imperial, atau mungkin dirampok oleh tentara Soviet.

Dalam kasus ini, Greater Grail yang dapat menjadi simbol dari Reich Ketiga dan mengabulkan mimpi tentang penggabungan dunia, menghilang tanpa berada di tangan satu orang pun.

Dengan penjaganya yang telah dibubarkan dan semua individu yang terkait dengannya dikirim ke medan perang, bahkan Nazi sekalipun―yang  menjadi pemenang―tidak tahu dimana Greater Grail berada; untuk permulaan, tidak ada seorang pun yang tahu keberadaannya. Para penyihir yang bergabung dengan Nazi, yang dikenal sebagai ‘Yggdmillenia’, telah menghilang.

Greater Grail telah menghilang. Seperti sebuah kabut, mimpi dari ketiga keluarga besar―atau mungkin itu hanyalah sebuah tambahan yang kuat untuk kesalahan mereka―dihancurkan, dan Fuyuki bisa menyambut akhir dari perang dalam kedamaian.

Dan begitulah tahun demi tahun berlalu, hingga bahkan yang dulunya masih muda telah menjadi tua...
***

Inggris―dimana wilayah itu disebut sebagai markas besar Asosiasi Penyihir, [Clock Tower] berada. Menurut British Museum London, di sini adalah tempat dimana tiran bercita-cita tinggi yang berharap menegaskan sejarah sihir golongannya dan para penyihir yang dipenuhi oleh ambisinya sendiri, berkumpul dari seluruh dunia.

Merupakan sebuah fakta bahwa, terlepas dari ribuan penyihir yang datang, setidaknya akan ada salah satu dari mereka yang mengalami kegagalan di suatu tempat di jalan ini... tapi hal ini tak lebih dari hak mereka untuk bermimpi.

Itu merupakan pendapat dari seorang mantan siswa, Shishigou Kairi. Sesuatu membentur bahunya. Rupanya, dia terlalu berkonsentrasi berpikir hingga menabrak salah satu murid. Dia hendak meminta maaf pada murid itu ketika wajah si murid berubah menjadi kaku, dan pergi dari hadapannya secepat mungkin.

Shishigou menghela napas. Lagi, hal ini sudah biasa baginya.

Berdasarkan alkimia apa yang mereka hadapi, atau bahkan menggunakan sihir apa mereka bekerja, penyihir kadang-kadang akan memiliki penampilan yang menyimpang. Ini bukanlah sesuatu yang memalukan; faktanya, merupakan peraturan bagi penyihir untuk melihatnya sebagai sebuah sumber kebanggaan dan bukannya sebagai penghinaan.

Namun... Shishigou berpikir jika perawatan yang dilakukannya agak kurang beruntung.

Shishigou berjalan sebanyak tiga kali menuruni jalan yang dibuat petugas polisi untuk melakukan operasi pencarian mayat (dan setiap kalinya, dia ingin melarikan diri dengan memberi saran pada mereka). Setelah tiba di Clock Tower, dia dipertanyakan oleh penyihir penjaga sebanyak empat kali. Dia sudah tidak ingat lagi berapa banyak siswa yang ditemuinya di lorong yang menatapnya dengan ketakutan terlihat di mata mereka.

Ini rasis! Diskriminasi! Shishigou ingin mengeluh, tapi mereka pasti akan memberinya jawaban seperti ini.

“Tidak seperti itu, tapi kau membuatku takut.”

Ini sungguh kisah yang menyedihkan. Benar, dia akan mengakui bahwa penampilannya memang agak hebat; dia akan mengakui bahwa baju yang ia pakai sedikit berbeda dengan yang dipakai penyihir kebanyakan. Tapi dia yakin bahwa dia tidak pernah lupa untuk tersenyum...

Bagaimana caranya berpikir menunjukkan bahwa Shishigou Kairi tidak benar-benar mengerti apa yang membuat dirinya menakutkan. Hal itu ada pada wajahnya yang menakutkan, mata dan tatapannya yang setajam pisau, badannya yang berotot, dan jaket hitam terbarunya yang dibuat dari kulit binatang buas magis. Di atas semua itu, karena hidup melewati banyak pertempuran sebagai seorang pemburu hadiah mandiri, bau amis darah dan bubuk mesiu yang kental tercium dari tubuhnya. Bahkan bagi seorang penyihir yang sikapnya buruk, sesuatu yang mengerikan masihlah mengerikan.

“Senyummu benar-benar menakutkan di dalam dan di luar.”

Seorang pria tua menenangkan ketidakpuasan Shishigou seraya menghembuskan napas tajam disela-sela tawanya. Saat ini, mereka sedang berada di dalam ruangan Rocco Belfaban, kepala Departemen Pemanggil di Clock Tower.

Dalam sebuah kotak pameran yang menjulang di dinding, ada tengkorak dari beberapa binatang buas yang terlihat seperti gabungan aneh dari monyet dan gajah. Di sampingnya, ada perkamen yang jelas-jelas berusia sekitar seribu tahun, tapi bukannya dijaga dengan baik, terlihat seperti perkamen itu ditinggalkan di sana tanpa perawatan.

“Anda benar-benar bisa menemukan apa pun di tempat ini...”

Jika matanya yang ahli itu benar dalam menilai kadal yang diawetkan menggunakan formalin di sana, terlihat seperti benda itu hanya ada satu di seluruh dunia. Sambil memikirkan hal ini, Shishigou menempatkan diri untuk duduk di sofa tamu.

“Sungguh. Ini langka, tetapi cukup cocok. Apakah benda ini benar-benar berharga?”

“Maksudmu Hydra muda yang diawetkan itu? Apakah ‘berharga’ merupakan kata yang cocok untuk digunakan?”

“Itu benda palsu.”

Belfaban mengeluarkan tawa rendah sebagaimana dia menertawakan laki-laki itu. Shishigou menatap pria tua itu dengan pasti dan, tanpa adanya tanda-tanda bahwa dia akan  mendebat, dia meminum obatnya tanpa berkata apa pun. Rasanya cukup mengerikan untuk dirasakan, tapi Shishigou merasa cukup puas dengan kemampuan obat itu untuk mengobati kelelahan.

“Sekarang, hanya ada satu alasan yang membuatku memanggilmu. Apakah kau tahu tentang Perang Holy Grail Fuyuki?”

Shishigou mengerutkan dahinya sedikit.

“Yah, saya tahu.”

Perang Holy Grail adalah sebuah pertempuran yang berpusar pada Holy Grail mahakuasa yang dikatakan dapat mengabulkan segala macam permohonan. Meskipun begitu, ketika didahului oleh kata ‘Fuyuki’, setiap penyihir tahu bahwa perang itu mengacu pada sebuah pertempuran yang sangat unik dimana Roh Pahlawan dipanggil untuk bertarung dengan satu sama lainnya hingga mati.
            
Barangkali karena Asosiasi pengawas tidak terlalu serius mengawasi negara Timur kecil ini, Perang Holy Grail telah diulangi sebanyak tiga kali tanpa menarik banyak perhatian. Merupakan lelucon konyol jika dikatakan bahwa sebuah alat pengabul permohonan yang mahakuasa dapat hadir di tanah Negara-Negara Timur yang Jauh―itulah pengakuan yang diberikan oleh Asosiasi.

Meskipun begitu, semuanya dirubah oleh Perang Holy Grail ketiga. Perang Dunia Kedua pun kena imbas. Kemudian, karena adanya campur tangan dari negara-negara yang berbeda, Perang Holy Grail di Fuyuki berakhir dengan keadaan yang berbeda. Pada waktu yang bersamaan, informasi tentang sistem yang ada di balik Holy Grail telah dipropagandakan oleh para penyihir yang ada di dunia.

Hal ini membuktikan betapa unggulnya ritual Perang Holy Grail yang dilakukan oleh ketiga keluarga besar dari Einzbern, Makiri dan Tohsaka.

Mengajukan sebuah pertanyaan ‘bagaimana-jika’ tentang kejadian bersejarah ini: bagaimana jika Perang Holy Grail ketiga tidak meluas dalam skala yang seperti itu? Perang Holy Grail ini kemungkinanan menyisakan sebuah ritual yang unik di Fuyuki. Perang Holy Grail keempat kemungkinan akan diadakan sepuluh tahun dari sekarang. Bagaimanapun, Greater Grail telah menghilang, jadi Perang Holy Grail tidak lagi bisa terjadi di Fuyuki.

Saat ini, jenis dari ritual Perang Holy Grail telah terbentang melewati berbagai benua. Tentu saja, sebagian besar dari mereka berada dalam skala yang kecil, yang hanya mampu memanggil lima Servant; bahkan meskipun ritual itu sendiri telah ditetapkan, tidak dapat dipastikan bahwa hal itu dapat mengabulkan suatu permohonan.

“Apakah kau tahu tujuan dari Perang Holy Grail yang diadakan di Fuyuki?”

“Tentang itu, saya tidak tahu.”

Belfaban melihatnya dengan senyuman yang tak menyenangkan. Shishigou mengerutkan dahi dan mendesaknya untuk melanjutkan. “Perang itu bertujuan untuk menembus lubang [Putaran Asal Mula]”

“Apa maksud anda?”

Shishigou tercengang dengan jawaban yang tak disangka-sangka itu. Berdasarkan apa yang dikatakan Belfaban, sesuatu yang benar-benar dibutuhkan dalam ritual ini bukanlah para Master, tapi para Servant atau dengan kata lain, para Roh Pahlawan.

Untuk sementara, Lesser Grail akan mencegah jiwa-jiwa itu kembali ke tahta mereka. Dengan jiwa-jiwa kuat dari para Roh Pahlawan, mereka dapat membuka jalan menuju [Akasha]. Itulah tujuan sebenarnya dari Perang Holy Grail yang diadakan di Fuyuki.

“Jadi, pada dasarnya, perang kali ini berbeda dengan Perang Holy Grail yang lain?”

Belfaban mengangguk.

“Pokok dari ritual ini tidak seperti tiruan lainnya yang hanya menyalin dan memiliki tujuan utama untuk ‘mengabulkan segala permohonan’.”

Kemampuan untuk mengabulkan segala dan semua permohonan hanyalah sebuah lentera yang memunculkan ngengat untuk membunuh. Bahkan kebebasan-untuk-menantang diantara para Servant sebenarnya tidak berarti apa pun. Pola dari ritual ini haruslah unggul dan tersembunyi, meskipun merupakan sebuah ironi bagaimana ketiga keluarga besar akhirnya harus berpartisipasi secara wajar.

Benar bahwa Shishigou merasa terkejut. Terkejut―tapi hanya sekedar itu. Ya, mungkin benar bahwa itulah maksud sebenarnya dari Perang Holy Grail. Meskipun begitu, tidak ada seorang pun yang tersisa, yang mengetahui Perang Holy Grail ini. Greater Grail telah dicuri dari mereka, jadi ketiga keluarga besar tidaklah memimpin Perang Holy Grail keempat.

Karena sudah tidak diragukan lagi bahwa Shishigou merupakan penyihir kelas satu, maka sangat mungkin baginya untuk membuat ulang Perang Holy Grail Fuyuki. Bahkan diantara para instruktur yang ada di Clock Tower sekalipun, yang merupakan pusat dari Asosiasi Penyihir, berapa banyak dari mereka yang sepenuhnya mampu meniru sistem seperti itu?

Pada dasarnya, ini merupakan sebuah pengetahuan yang berharga, tapi juga merupakan informasi yang tidak bernilai.

“Jadi, Kek... apa yang harus saya lakukan mengenai hal ini?”

Menenangkan diri―Belfaban menjaga agar Shishigou yang tidak sabaran tetap dalam kendali.

“Ini merupakan awal dari kesulitan yang ada. Pondasi utama dan terpenting dari ritual Fuyuki, Greater Grail, menghilang dari ilmu pengetahuan setelah Perang Holy Grail ketiga. Kau tahu ini, ‘kan?  Jadi... tiga bulan yang lalu, akhirnya kami menemukannya. Atau setidaknya, kami mengetahui dimana benda itu disembunyikan.”

“Jadi... ada dimana benda itu?”

“Roma, di kota Trifas yang merupakan kota pinggiran Transylvania. Kami percaya bahwa benda itu berada di bangunan tertua yang ada di kota―benteng Millennia.”

“Dan anda ingin saya mendapatkannya?”

“Yah, kukira permintaannya adalah sesuatu semacam itu―tapi sebelum itu, ada berita yang lebih menyusahkan. Seseorang yang memberi kami informasi ini adalah pemimpin dari klan Yggdmillennia, Darnic.”

“...Maksud anda, Darnic yang itu?”

“Ya―si ‘Lidah Bercabang-Delapan’.”

Darnic Prestone Yggdmillennia―pemimpin dari klan Yggdmillennia yang diperkirakan telah hidup selama sekitar satu abad. Dia telah mencapai level [Grand] yang merupakan level tertinggi dalam Asosiasi, dan juga seorang instruktur kelas dua dalam hal pengubahan elemen, tapi murid-muridnya memiliki pendapat yang rendah tentang pria itu. Dibanding pendidikan, dia mencoba memiliki tujuan utama dalam bidang politik.

Perselisihan dalam golongan, perebutan kekuatan, kompetisi untuk harta―semua ini merupakan kejadian yang biasa terjadi di Clock Tower. Meskipun begitu, dengan memperlihatkan kemampuan politik yang tidak biasa, laki-laki itu memanipulasi dan mencurangi siapa pun yang mempercayainya, bahkan orang yang tidak mempercayainya pun, dikhianati dan dibuat benar-benar jengkel―sungguh penipu kelas kakap.

“Jadi masalahnya adalah Darnic?”

Mengetahui sifatnya yang seperti itu, sepertinya pria tersebut ingin terlibat dalam semacam transaksi yang berhubungan dengan Holy Grail. Meski begitu, Belfaban menggelengkan kepala, dan ekspresi yang sangat langka terlihat di wajahnya―sebuah ekspresi yang merupakan gabungan dari rasa ketidaksukaan yang menunjukkan kemarahannya.

“Masalahnya bukan dengan Darnic, tapi dengan seluruh anggota klan Yggdmillennia.”

“Apa maksud anda?”

“Klan itulah yang memiliki benteng Millennia... dan mereka telah memilih untuk keluar dari Clock Tower.”

Saat ini, bagian berita ini jauh lebih mengejutkan daripada rahasia tentang tujuan Perang Holy Grail Fuyuki yang telah dikatakan sebelumnya. Setelah mengetahui semua itu, hal ini tidak mungkin terjadi.

Jika dibahas secara umum, Asosiasi penyihir dibagi menjadi tiga kelompok. Yang pertama adalah [Atlas Academy]―sebuah organisasi yang berpusat pada alkimia dan telah ada sejak Zaman Purba, serta terletak di Pegunungan Atlas yang berada di Mesir. Yang kedua adalah [Wandering Sea], yang menjelajahi pesisir negeri di Eropa Utara, dan dapat dikatakan bahwa organisasi ini merupakan bentuk dasar dari organisasi penyihir. Yang terakhir adalah Clock Tower, yang merupakan pilar utama Asosiasi serta merupakan institusi yang terbaru dan terbesar.

Bahkan di dalam Asosisasi, ada beberapa orang yang sudah dipastikan menyimpang jika berkaitan dengan hal klenik... atau boleh jadi, hal ini berkaitan dengan kemampuan mereka yang semakin kuat sehingga membuat mereka harus disegel. Tindakan seperti itu tidaklah terlalu jarang dilakukan, meski begitu, itu tidak dapat dijadikan alasan saat sebuah klan memutuskan untuk keluar.

“Mereka jadi menyimpang hanya dalam sekejap? Demi apa?”

“Kau tahu bahwa Yggdmillennia bukanlah [Raja].”

Kualitas dari para penyihir tergantung dari berapa banyak waktu yang mereka gunakan untuk sihir―atau dengan kata lain, sejarah mereka. Salah satu dari keluarga bangsawan tertua adalah orang-orang yang telah mempelajari sihir sejak zaman kuno, dan bisa dikatakan bahwa mereka memiliki sejarah yang sudah ada sejak sekitar dua ribu tahun.

Ada tiga keluarga bangsawan dengan dua puluh klan yang berhubungan dengan mereka. Tapi klan Yggdmillennia tidak masuk maupun berhubungan dengan kelompok lainnya. Alasan di balik hal ini tidaklah pasti meski mereka memiliki sejarah yang tidak singkat. Rumor yang ada mengatakan bahwa mereka telah kalah dalam perebutan kekuatan di masa lalu dan memiliki hubungan yang buruk dengan ketiga keluarga bangsawan sejak dulu. Rumor yang lain mengatakan bahwa mereka telah diasingkan dari yang lain karena kualitas sirkuit sihir mereka yang lemah.

Apa pun alasannya, mereka sering tidak dianggap sebagai keluarga penyihir bangsawan. Tapi mereka tidak diam saja dan menerimanya tanpa perlawanan.

Klan itu meninggalkan metode umum yang biasa dipakai oleh para penyihir, yaitu mengentalkan potensi darah penyihir dalam beberapa generasi, dan menguasai sistem sihir yang telah dipilih oleh generasi pertama. Malahan, mereka menggabungkan kemampuan yang dimiliki oleh para penyihir yang telah berhubungan dengan mereka selama ini.

Klan itu menargetkan klan-klan lain yang memiliki sedikit sejarah dan sirkuit sihir yang lemah. Atau klan-klan yang mengalami kemunduran, dengan sirkuit sihir mereka yang menjadi semakin lemah pada setiap generasinya. Klan-klan yang telah kalah dalam perebutan kekuatan dan dipaksa menuju kehancuran. Atau para penyihir yang tiap kepalanya diberi harga sebagai hukuman dari Asosiasi. Dengan kata lain, mereka yang telah menyimpang di mata Asosiasi dan menolak menyerahkan takdir mereka pada sang Root.

Yggdmillenia berbisik pada mereka. Apa kau tidak ingin meninggalkan warisan dalam darahmu? Apakah kau tidak ingin mengumumkan kepemilikan atas hasil dari penelitianmu sendiri? Apakah kau tidak ingin klanmu meninggalkan nama dalam sejarah?

Nama tengah dari setiap Yggdmillennia berasal dari nama-nama klan yang telah mereka pikat. Bahkan kepala penyihir mereka tidak bersatu. Kepala keluarga dari klan-klan lama itu terus-menerus dikalahkan.

Sama halnya dengan sihir, ruang lingkup pembelajaran mereka juga luas: Alkimia Eropa, sihir kegelapan, sihir untuk kejahatan, astrologi, Kabbalah, ilmu tentang rune, bahkan Onmyodo Jepang―masing-masing memiliki satu anggota klan yang mempelajarinya.

Seperti yang diinginkan, pada akhirnya, dengan pasti mereka menjadi aliansi bebas dari para penyihir baru, lemah dan sekarat. Para Raja pun tertawa dan membiarkan sihir mereka yang remeh, yang tidak berarti.

Biasanya, kebanyakan penyihir Yggdmillennia hanya mampu menjadi penyihir kelas dua, kecuali pada kasus-kasus tertentu dimana beberapa dari mereka dapat mencapai kelas satu. Mereka menang dalam jumlah, tapi hanya mampu memberikan ancaman kecil. Tentu saja, karena kecerdikan Darnic dalam berpolitik, klan mereka dapat menjadi besar. Namun pada akhirnya, kenggulan klan mereka hanya ada dalam hal jumlah―atau begitulah seharusnya.

“Tidak diketahui sebesar apa kesedihan itu berarti bagi mereka, namun suatu hari, mereka datang dan berkata bahwa mereka akan keluar dari Asosiasi―bahwa mereka akan membentuk Asosiasi penyihir baru yang beranggotakan klan mereka.”

Sungguh sangat disayangkan, Belfaban menghela napas. Shishigou setuju. Mengumumkan dengan jelas pengeluaran dirimu dari Asosiasi merupakan sebuah deklarasi perang. Mereka seperti telah melemparkan sarung tangan dan meludahi wajah Asosiasi.

Memang benar bahwa selama mereka masih berada di Clock Tower,  kesempatan klan Yggdmillennia untuk menjadi Raja hampir tidak ada. Tanpa revolusi besar, mereka tidak akan pernah bisa selamat dari kelemahan mereka dalam seratus atau bahkan ribuan tahun.

Tapi hal itu tidak berarti bahwa mereka harus memilih untuk keluar dari Asosiasi. Atau paling tidak, itu bukanlah hal yang mungkin dilakukan oleh seluruh anggota sebuah klan untuk menyimpang, kecuali jika mereka memiliki sesuatu yang sangat luar biasa di tangan mereka.

Lagi... berbicara dari sudut pandang lain, jika mereka memang memiliki sesuatu yang penting, hal itu sudah cukup mendorong mereka untuk memulai pemisahan. Ya, seperti contoh―sebuah alat pengabul harapan yang mahakuasa, sebuah Greater Grail yang dapat memberitahu mereka jalan untuk mencapai Akasha.

Ekspresi Shishigou terlihat seperti telah mendapat sebuah jawaban. Melihat hal ini, Belfaban mengangguk dengan puas.

“Ya, Greater Grail Fuyuki akan menjadi simbol dari ‘Asosiasi’ baru mereka. Penyihir yang selamat menyampaikan pesan ini pada kami.”

“...Penyihir yang selamat?”

Belfaban menggaruk kepalanya dan mengeluarkan sebuah perkamen, lalu mengetuknya dengan satu jari. Hal itu mengaktifkan sebuah sihir yang bisa menunjukkan gambar-gambar dari masa lalu. Shishigou tidak peduli tentang sebuah foto atau video, tapi untuk seorang pria tua seperti Belfaban, bahkan teknologi kamera video tidak dapat diterima.

Apa yang muncul di gambar merupakan sesuatu yang telah Shishigou biasa lihat. Seorang pria yang menunjukkan tanda-tanda bahwa ia telah disiksa sedang duduk di atas sebuah kursi, menatap udara dan menggumamkan sesuatu yang tidak jelas dengan ekspresi kosong.

“Ini adalah penyihir yang menyampaikan pesan tersebut. Dia sudah dalam keadaan seperti ini ketika kami menemukannya; operasinya berhasil dan sekarang dia sedang koma. Mungkin dibutuhkan waktu selama enam bulan untuk membuat pikirannya benar-benar jernih kembali.”

“Apa yang dia katakan?”

Kami Yggdmillennia telah membebaskan diri kami dari politik picik Asosiasi Penyihir dan ingin membentuk asosiasi baru di sini, di Roma, yang merupakan tempat yang tepat untuk penyelidikan dalam hal pencarian sihir. Karena kami telah memiliki Holy Grail ke-726, lalu saat benda itu aktif dengan jiwa-jiwa dari tujuh Roh Pahlawan, kami pasti akan selangkah lebih dekat menuju jalan kemuliaan yang bersinar... hanya itu, dia mengatakannya lagi dan lagi.”

Yang ke-726―adalah Holy Grail yang diteliti di Fuyuki. Jika mereka bisa mengaktifkannya, bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun, mereka akan memiliki akses bebas  pada sumber prana yang sangat besar dimana prana itu tidak akan habis dalam beberapa dekade. Bahkan hal itu memungkinkan mereka untuk mencapai sang Root.

“Bisakah saya menanyakan sesuatu? Anda bilang bahwa dia adalah penyihir yang selamat. Jadi apakah ada yang mati?”

“Soal ini, tentu saja ada.”

“Berapa banyak?”

Belfaban terlihat ragu akan sesuatu sebelum akhirnya menjawab pertanyaan itu dengan jujur.

“Empat puluh sembilan. Kami telah mengirim lima puluh ‘pemburu’ spesial dalam sebuah penyerangan, tapi hanya satu yang kembali hidup-hidup.”

Ada sebuah helaan napas. Menjadi hal yang sulit untuk mengatakan helaan siapa itu.

Para pemburu spesial―dalam bahasa lain, penyihir yang bekerja dalam bidang yang sama dengan Shishigou. Tentu saja, mereka bukanlah pemburu mandiri dan merupakan anggota Asosiasi, namun jumlah sebanyak lima puluh masihlah terlalu besar. Dari kenyataan ini, seseorang dapat menyimpulkan bahwa dari awal hal ini merupakan sebuah paksaan menuju pemusnahan.

Wajar untuk menyebutnya begitu jika melihat skala kematian yang terjadi. Lalu, akan menjadi sebuah penghinaan bagi Asosiasi jika menertawakannya. Dan di atas semua itu, penghinaan atas dua ribu tahun sejarah sihir merupakan sebuah cercaan yang harus dibalas dengan pembalasan yang paling bengis. Lima puluh merupakan angka yang sesuai untuk tujuan itu.

Namun, hal itu masih belum cukup.

“Hal ini tidak berkaitan dengan jumlah. Mereka ada dalam skala lain yang jauh lebih besar. Mereka harus melawan seorang Servant, semacam itu.”

Setelah mendengar perkataan Belfaban, sebab kematian dari lima puluh orang penyihir menjadi jelas.

“...Jadi begitu. Mereka bahkan tidak memiliki kesempatan.”

Hal itu tidak akan membuat perubahan apakah ada lima puluh atau pun seratus penyihir yang dikirim. Siapa pun dia, dia merupakan sebuah kehidupan yang dikenal sebagai Roh Pahlawan. Bagi seseorang seperti itu, seluruh penyihir modern hanyalah seperti bayi.

“Familiar yang kita kirim ke sana melihat semuanya. Servant itu tiba-tiba muncul di depan para penyihir, melambaikan tangannya dan tersenyum―lalu semuanya berakhir. Dalam sekejap, setiap penyihir yang selamat tertusuk tombak yang panjang.”

“Tombak di Roma, anda bilang...”

Dalam kasus ini, terlihat bahwa mereka telah memanggil seorang Servant, meskipun hal ini sebenarnya menguntungkan mereka.

“Jadi Kek, jika Yggdmillennia telah memanggil seorang Servant, bukankah itu artinya kita bisa ikut menjadi Master?”

Jika Greater Grail telah diaktifkan, penyihir-penyihir lain seharusnya juga bisa menjadi Master. Asosiasi bisa mengirim penyihir ke sana untuk memanggil Servant yang mampu melawan Yggdmillennia.

“Terlambat. Mereka telah mengumpulkan tujuh orang Master. Pemanggilan mungkin saja belum dilakukan, tapi Holy Grail tidak akan pernah memberikan Mantra Perintah pada penyihir mana pun yang kita kirim.”

“...Jadi mereka berencana untuk saling membunuh satu sama lain?”

“Bisa jadi. Atau mungkin saja salah satu anggota klan akan memimpin dan memberikan perintah kepada yang lainnya untuk bunuh diri. Yang mana pun pilihan mereka, faktanya kita tidak memiliki cara untuk menggagalkan mereka.”

“Saya akan mengatakan ini sekarang, tapi saya tidak akan melawan satu Servant pun.”

Shishigou menegaskan hal itu hanya untuk berjaga-jaga. Kau harus membuat strategi dan mengatur taktik, juga harus memiliki semua keberuntungan dan keajaiban yang diperlukan untuk berada di pihakmu, lalu rintangannya adalah kau masih harus mencegah kekalahanmu bahkan saat melawan seorang Servant. Dapat mengalahkan ketujuhnya merupakan keajaiban sejati. Ya―itu akan menjadi hal yang benar-benar setara demi meminta sesuatu pada Holy Grail.

Terlihat sangat senang dengan dirinya sendiri, Belfaban menyeringai.

“Aku tidak akan memintamu melakukan hal sebesar itu. Yang aku ingin kau lakukan adalah bertarung menggunakan Servant yang kau panggil.”

“...Anda menang.”

Apa yang kau katakan? Pikir Shishigou. Menurut sistem Perang Holy Grail Fuyuki, jumlah maksimal dari Servant yang bisa dipanggil adalah tujuh, begitu pula jumlah Masternya.

“Ini merupakan aspek yang menarik dari Perang Holy Grail kali ini. Jumlah dari Servant yang dapat dipanggil adalah dua kalinya jumlah norm―empat belas.”

“Apa...?”

“Penyihir yang berhasil selamat itu menemukan Holy Grail yang tidak aktif di dalam kedalaman benteng. Dia berhasil membuka system cadangan yang ada.”

“Cadangan?”

“Berdasarkan situasi yang ada, Greater Grail bisa mendukung Perang Holy Grail sekali lagi dengan membagi-bagikan Mantra Perintah. Hal ini merupakan sebuah tindakan pelengkap yang disiapkan untuk situasi yang sangat buruk seperti ini, situasi dimana seluruh Servant menggabungkan kekuatan.”

“Jadi pada dasarnya...memanggil tujuh Servant lainnya untuk melawan tujuh Servant yang asli.”

Jadi itu alasan mengapa jumlahnya bisa ada empat belas. Shishigou telah mengerti arti dari angka ini.

“Tepat sekali. Negara Trifas merupakan tempat dengan posisi garis sihir terbaik di Roma untuk memulai. Hampir seperti, tempat itu bisa memiliki persediaan prana dengan kecepatan yang lebih tinggi dibanding Fuyuki. Intinya, tempat itu memiliki jumlah prana tak terbatas yang mampu memanggil empat belas Servant.”

Di Fuyuki, sistem seperti itu pasti akan menjadi sebuah langkah darurat. Jika yang terburuk masih bisa menjadi lebih buruk, kejadian seperti itu mungkin saja akan membuat garis sihir itu sendiri kewalahan.

“Apa yang anda katakan adalah, jika Yggdmillennia telah memiliki tujuh Servant dan tujuh Master, maka...”

“...maka kita juga akan memiliki tujuh Master dan tujuh Servant, berperang melawan Yggdmillennia dan menegaskan kemenangan kita.”

“Apa yang terjadi pada Grail itu jika kita menang?”

“Biasanya kita akan mengambilnya untuk dijaga. Yah, cukup sulit untuk mengatakan bagaimana penyihir yang selamat akan bisa bersikap tenang jika menghadapi sesuatu yang dapat dengan mudah mengirim mereka pada sang Root.”

...Jadi seperti itu. Dengan kata lain, ‘apa pun yang terjadi setelah Yggdmillennia dikalahkan adalah tanggungjawabmu sendiri’. Kau bisa meminta sebuah permohonan pada Grail itu, atau kau bisa menghalangi yang lain untuk melakukannya―kau bahkan bisa menghancurkan apa pun. Tentu saja, rubah tua ini benar-benar sudah siap dan menunggu. Sebuah tim yang bertujuan untuk merebut Grail itu mungkin saja disiapkan untuk segera bergerak setelah perang berakhir.

Tapi, tetap saja, jika dia mencoba untuk terus berada di pihak mereka...dia yakin bahwa dia memiliki kesempatan untuk mewujudkan harapannya. Punggung Shishigou gemetar dan membuat jantungnya berdegup kencang. Melihat hal ini secara jelas, pria tua itu mengangguk setuju sebagaimana hal ini memanglah sesuatu yang telah diperkirakannya.

“Jadi, kau akan menerimanya?”

Meski begitu, Shishigou tidak segera menjawab. Menyetujui secara cepat hanya akan menunjukkan kelemahannya.

“Saya masih memiliki beberapa pertanyaan. Saya akan memutuskannya setelah itu.”

“Baiklah.”

“Pertama, tentang para Master yang berada di pihak ini.”

“Ah, ya. Keenam Master lainnya sudah ditentukan dan telah dikirim ke Trifas― Rottweil Berzinsky si ‘Kadal Perak’; Gene Rum si ‘Tapak Badai’; ‘Gum Brothers’ dari keluarga Pentel; dan Feend vor Sembren kita, seorang instruktur kelas satu. Mereka adalah lima orang yang telah kami kirim.”

Shishigou menyetujui pilihan itu dengan baik. Mereka adalah para penyihir yang telah dikenal di seluruh dunia―para monster dengan spesialisasi yang mampu melenyapkan musuh mereka tanpa ampun. Dia telah bekerja sama dengan semua orang itu kecuali Sembren, jadi seharusnya tidak masalah jika dia harus berada di pihak yang sama dengan mereka.

“Master terakhir, dan juga sebagai pengawas, akan dikirim oleh Gereja Kudus.”

“...Seorang Master yang berperan sebagai pengawas?”

“Tepat sekali.”

Berdasarkan namanya, tidak diragukan lagi jika Perang Holy Grail akan berakhir kacau dalam cara yang tidak menyenangkan. Kemudian, satu-satunya organisasi yang mampu melawan Asosiasi Penyihir―adalah [Gereja Kudus]. Meski hampir dapat dipastikan bahwa Holy Grail dalam kasus ini merupakan benda palsu, mereka tidak bisa hanya duduk dan diam menonton sebagai penyihir yang bersaing dalam memperebutkan harta yang berharga atas nama harga dirinya. Bisa dikatakan bahwa Gereja memiliki campur tangan dalam pelaksanaan Perang Holy Grail ketiga yang ada di Fuyuki. Menurut pendapat beberapa orang, fakta mengatakan bahwa ketiga keluarga besar di Fuyuki itulah yang memulai tradisi tentang campur tangan Gereja, tetapi fakta itu telah lama hilang tertutupi oleh teori-teori yang berlawanan.

“Tapi...apakah bahkan kita butuh seorang pengawas untuk perang ini?”

Perang Holy Grail di Fuyuki memang membutuhkan juri adil yang tak berpihak pada ketiga keluarga besar maupun para Master. Hal itu cukup menjadi alasan untuk memilih Gereja Kudus, yang telah terlibat dengan cara yang tidak bisa dijelaskan.

Bagaimanapun, perang kali ini berbeda. Ini adalah pertempuran antara Asosiasi dan kekuatan yang menentangnya, dan seorang pengawas netral yang akan menilai konflik antar penyihir ini benar-benar tidak diperlukan. Meskipun terdapat perbedaan dalam hal ini, Gereja hanya akan dibutuhkan dalam hal perahasiaan perang, tapi Asosiasi tidaklah selemah itu dalam hal sumber daya manusia.

“Yah, kita tidak bisa mengabaikan mereka. Akan menjadi masalah yang lebih parah jika mereka malah berpihak pada Yggdmillennia. Kita harus menggunakan kesempatan ini untuk menegaskan bahwa kita adalah satu-satunya organisasi sihir yang berkuasa.”

Hasilnya, Gereja Kudus akan mendukung Asosiasi... untuk waktu yang akan datang. Tentu saja, dari sudut pandang Gereja, hal ini merupakan cara lain yang mereka gunakan untuk menjaga agar Asosiasi tetap dalam kendali.

“Pertanyaan kedua: pusaka suci dibutuhkan agar bisa menjadi katalisator dalam memanggil Servant. Apakah anda telah menyiapkan sesuatu?”

Belfaban menganggukkan kepalanya. Pada hakikatnya, sebuah katalisator tidak benar-benar dibutuhkan. Ketika memanggil Servant tanpa katalisator, seorang Roh Pahlawan akan dipilih tanpa tergantung pada kekuatan pemanggilnya, tetapi lebih pada kemiripan sifat mereka. Meski begitu, kebanyakan Master akan menghindari hal ini dengan tujuan untuk memanggil Servant tertentu dengan menggunakan pusaka suci sebagai katalisator.

Tentu saja, memiliki sebuah katalisator tidak menjamin dengan pasti Servant apa yang akan terpanggil. Andaikan penyihir itu menggunakan sisa-sisa Argo, yaitu kapal yang telah mengangkut banyak pahlawan Yunani sebagai katalisator, maka siapa yang akan menjawab panggilan itu? Heracles yang tak ada bandingannya? Kapten Jason? Medea, si penyihir penghianat? Atau mungkin ‘god of the medicine’, Asclepius? Siapa pun tidak ada yang tahu sebelum pemanggilan dilakukan. Tapi masih mungkin untuk membatasi pilihannya jika kau menggunakan sebuah katalisator yang hanya pernah berkaitan dengan satu Roh Pahlawan―sebagai contoh, kulit ular pertama di dunia yang mengganti kulitnya, atau potongan baju dari mantel yang pernah digunakan oleh raja tertentu. Dengan pusaka seperti itu, akan mungkin untuk memanggil Roh Pahlawan yang sesuai dengan harapanmu karena kemampuan daya tariknya.

Kemudian, memanggil tanpa menggunakan katalisator bukanlah sesuatu yang tidak berguna. Karena pemanggil dan roh yang telah dipanggil akan memiliki sifat yang mirip, maka akan menjadi hal yang mudah untuk menciptakan kepercayaan dengan Servant dalam waktu yang singkat. Di Perang Holy Grail Fuyuki, kemiripan yang lemah antara Master dan Servant akan menjadi sangat fatal, sama halnya seperti sedang membawa bom waktu. Hal itu bisa menciptakan sebuah tragedi jika, hingga saat-saat terakhir pun, mereka tidak memiliki kepercayaan penuh pada yang lainnya. Meski begitu, dengan sebuah langkah yang salah, mungkin saja kebencian dan ketidakpercayaan akan muncul karena kemiripan yang sangat sama.

Saat kemiripan adalah suatu perkara yang tidak bisa diabaikan, kemungkinan gagal dari taruhan yang besar seperti itu sebagai pemanggil tanpa katalisator sangatlah besar.

Sebuah katalisator akan menyelesaikan masalah seperti ini. Dan hal ini membuat Asosiasi Penyihir harus bisa menyiapkan pusaka suci yang memiliki hubungan dengan mayoritas Roh Pahlawan.

Berdiri, Belfaban mengeluarkan sebuah kotak yang terbuat dari kayu eboni dari laci meja, lalu membukanya dengan hati-hati―di dalamnya ada sepotong kayu dengan tanda bahwa benda itu telah diolah. Tidak ada yang spesial dari benda itu... tapi ketika Shishigou membuka mulutnya, suaranya berubah menjadi melengking dan aneh. Ada sedikit tekanan yang muncul dari dalam kayu tersebut.

“Apa ini?”

“[Round Table]. Kesatria-kesatria besar pernah berbincang satu sama lain di meja ini. Untuk melindungi Inggris, rumah mereka, mereka tidak hanya bertarung menggunakan pedang, tetapi juga menggunakan kata-kata.”

“Round Table milik Inggris... contohnya, Raja Arthur?”

Tanpa berpikir, Shishigou meraih dan bermaksud mengambil katalisator tersebut, namun tersadar saat itu juga. Round Table para kesatria―tidak perlu ada penjelasan lebih lanjut tentang ini untuk para pengikut Raja Arthur. Round Table diusulkan olah Raja sendiri dalam rangka untuk menghilangkan jarak antara para bangsawan dan rakyat biasa.

Setiap kesatria yang duduk di meja itu merupakan pahlawan yang dipuja dalam sejarah. Pastinya Raja Arthur sendiri, dan Lancelot, Galahad, Gawain, Tristan, Percival... siapa pun dari mereka yang terpanggil sebagai Servant akan memiliki kebanggaan yang tak dapat disangkal perihal kemasyhuran maupun kekuatan.

“Tapi...kita tidak bisa tahu kesatria mana yang akan terpanggil. Tidak salah lagi benda ini akan memanggil Roh Pahlawan yang memiliki sifat dasar yang mirip denganmu.”

“Tidak masalah. Setiap Kesatria Round Table yang terpanggil sebagai Servant adalah seseorang yang ada di buku-buku milik saya.”

“Aku mengerti. Artinya, kau menerimanya?”

Shishigou memberi dirinya waktu untuk berpikir sebentar. Segalanya sudah disiapkan agar dia bisa memanggil seorang Servant. Yggdmillennia akan mengambil keuntungan penuh dari lokasi mereka yang berada di Roma untuk menciptakan Servant terkuat di negara itu. Walau begitu, ketika hal ini mengarah ke situ, ini bukanlah sebuah keadaan yang merugikan.

Mengetahui hal itu, pertempuran ini merupakan tujuh lawan tujuh―secara jumlah mereka seri. Dan yang paling penting, Shishigou memiliki keinginan yang hanya bisa diperoleh dari alat pengabul keinginan yang mahakuasa―Belfaban tahu ini.

...Maka, sudah diputuskan.

Shishigou mengangguk dan menyalakan sebuah cerutu. Dia menghirup asapnya dalam-dalam, membiarkan racun itu memenuhi paru-parunya sebentar. Terlihat ekspresi ketidaksukaan di wajah Belfaban―pria itu membenci cerutu.

“Jadi kita sudah menentukan tujuh orang Master. Yggdmillennia telah memiliki tujuh; sekarang Asosiasi pun harus mengirim tujuh orang. Dengan kata lain, empat belas Servant akan dipanggil ke dunia ini. Dalam sejarah, sebelumnya tidak pernah ada ritual dengan skala sebesar ini. Ini bukan lagi Perang Holy Grail―tapi merupakan [Perang Besar] untuk semua Perang Holy Grail.”

“’Perang Besar’, huh...”

Tujuh Servant melawan tujuh Servant. Di masa lalu, Servant bisa memilih diantara yang lain dengan bebas hingga hanya tersisa satu orang, tapi kali ini―ini merupakan perang yang mutlak antar para Servant.

“Saya ingin setengah dari gaji saya dibayar dimuka. Jika anda setuju dengan hal itu, mari menandatangani kontrak.”

Belfaban mengerutkan dahinya saat mendengar kata-kata Shishigou. “Apakah bayaran yang sudah disiapkan belum cukup?”

“Pekerjaan ini tidak memiliki kemungkinan selamat yang tinggi. Saya lebih senang mengambil apa yang saya bisa sekarang.”

“Oh? Apakah kau sudah memikirkan sesuatu?”

Berdiri dari sofa, Shishigou berjalan menuju kotak pameran tanpa ragu dan mengambil Hydra muda yang telah diawetkan.

“Ini.”

“...Apakah tidak masalah dengan benda palsu itu?”

Shishigou membenarkanya tanpa berpikir dua kali. Ekspresi Belfaban berubah menjadi cemberut saat dia mengerjapkan matanya. Namun tentu saja, itu karena Hydra tersebut adalah barang asli. Kau bisa menjual aset apa pun yang dimiliki keluarga Shishigou, dan hasil penjualannya tidak akan bisa mencapai bahkan sepertiga harga aslinya.

“Kalau begitu, aku akan menganggapnya sebagai jawaban ya.”

Dengan senang Shishigou mengambil Hydra itu dengan satu tangan, lalu mengambil kotak katalisator dengan tangan yang lainnya.

“Sekarang pergilah ke Roma. Aku akan menghubungi pengawas dan Master-Master lainnya. Mereka akan menghubungimu secepatnya setelah kau tiba.”

“Oh, baiklah. Siapa nama pengawas ini?”

Tanpa pikir panjang, Shishigou menanyakan hal ini sebelum dia pergi. Perang ini seperti tugas resmi dari Majelis Sakramen Kedelapan. Jadi mungkin saja dia adalah seseorang yang sudah terkenal.

“Aku belum pernah bertemu dengannya secara pribadi, tapi, yah...dia adalah seorang pendeta yang disebut Shirou.”

Sayang sekali, nama itu bukanlah nama yang dia kenal.

Shishigou Kairi segera menaiki pesawat dari London menuju Roma. Untungnya, segera setelah dia menyetujui pekerjaan ini, dia menyadari kemungkinannya untuk menjadi ‘perburuan’ yang lain; semua alat yang dibutuhkannya untuk pertempuran ini telah disiapkan dengan matang, jadi dia tidak perlu menghabiskan waktu untuk kembali ke rumahnya.

Di perjalanan, Shishigou membaca dengan teliti dokumen tentang Perang Holy Grail yang Belfaban berikan padanya―melihat pada tujuh [Kelas] dasar yang akan ditetapkan untuk Servant dan juga karakteristik mereka; [Mantra Perintah] yang memiliki wewenang untuk membuat Servant patuh, yang bahkan bisa memaksa mereka untuk melaksanakan perintah bunuh diri; satu-satunya laporan yang tersisa dari Perang Holy Grail ketiga―

Baru saja setelah dia selesai membaca semua itu, pesawat mendarat di Roma. Saat itu ada peraturan yang ketat mengenai penyihir yang melakukan perjalanan ke Roma demi mencegah Mantra Perintah mengakui seorang penyihir kelas tiga yang lemah, meski hal itu tidak mungkin terjadi.

Ketika meninggalkan pesawat, sesaat Shishigou merasakan rasa sakit yang muncul di tangannya. Ketika dia memeriksanya, ada sebuah pola yang terukir di punggung tangannya, seperti tato. Perang Holy Grail telah mangakuinya sebagai seorang Master dan memperbolehkannya menggunakan Mantra Perintah.

Meski telah menebak hal itu sebelumnya, Shishigou tetap saja merasa lega. Jika Mantra Perintah tidak muncul selama apa pun dia menunggu, maka satu-satunya pilihan yang ada untuknya hanyalah untuk dengan tegas pulang ke rumah.

Shishigou tidak segera pergi dari Bucharest, ibu kota Roma, menuju Trifas. Dia menyimpulkan bahwa memanggil Servant adalah hal pertama yang harus dilakukan. Trifas adalah wilayah Yggdmillennia, jadi berusaha masuk ke sana sendirian tanpa seorang Servant sama saja dengan bunuh diri.

Untungnya, Bucharest memiliki sejarah yang lamanya hampir enam dekade dan banyak garis sihir yang kuat berada di kota. Shishigou segera mengamati sekitarnya setelah dia tiba di siang hari, dan memutuskan tempat mana yang akan cocok dengannya. Pilihan terbaik adalah sudut pemakaman yang dibuat oleh Gereja Stavropoleos―tapi tentu saja, untuk seorang [necromancer] seperti Shishigou, secara alami tempat yang dipenuhi dengan mayat akan menjadi tempat yang palig cocok.

“Meski aku ragu seorang Servant akan senang dibangkitkan di dekat batu nisan...”

Ketika matahari telah tenggelam dan tirai malam hari telah turun di kota, Shishigou segera pergi untuk mengerjakan apa yang harus dia lakukan. Sebagai langkah awal, dia membuat sebuah batas di sekitar pemakaman untuk mencegah adanya orang yang datang; ritual untuk membuatnya tidak terlalu rumit, karena dia hanya perlu menahannya hingga proses pemanggilan selesai.

Selanjutnya, menggunakan kapur yang dibuat dari tulang yang telah dijadikan abu dan darah penyihir, dia menggambar sebuah simbol sihir; lingkaran pemurnian yang diukir  di sekitar sebuah lingkaran yang terdiri dari empat lingkaran pembersihan. Di tengahnya, dia meletakkan sebuah bola kristal. Ini merupakan ritual semuanya-atau-tidak sama sekali, tapi Shishigou mengangguk puas ketika melihat hasil kerjanya.

Satu-satunya hal yang tersisa untuk dilakukan sekarang adalah memberi katalisator tersebut sebuah jampi sebagai mantra. Sekilas, ritual ini terlihat terlalu mudah untuk sebuah ritual yang bertujuan membangkitkan seorang Roh Pahlawan. Walau begitu, sebagai seorang Master hal ini bukanlah apa-apa melainkan benang yang mengikat Grail dan Servant bersama, jadi hal ini tidak akan menjadi masalah.

Saat dia menyelesaikan persiapan soal simbol sihir itu lebih cepat dibanding perkiraannya, Shishigou memiliki waktu bebas sampai prana di tubuhnya mencapai kondisi maksimal.

Secara tidak sadar―barangkali karena bosan―dia menyalakan sebuah cerutu. Cerutu itu merupakan produk Taiwan, tetapi sangat langka. Bisa disebut sebagai sebuah keajaiban saat dia bisa mendapatkan sekotak cerutu itu dari penyihir lain. Sekalipun begitu, rasanya hebat. Bagaimanapun, yang membuatnya dapat merasakan kenikmatan dunia adalah kelangkaan dan rasa buruknya yang datang secara bersamaan.

Bernapas dalam asap secara bebas―hampir terlihat menyedihkan, dengan menyesal―Shishigou menemukan waktu untuknya berkaca. Perang Holy Grail adalah perang terkecil, namun juga yang terbesar di dunia...dengan hanya satu pemenang. Situasinya pun sedikit berbeda dengan situasi yang ada selama ini, tapi dalam hal ini, apa yang menunggu di jalannya adalah monster-monster mengerikan―melawan Roh Pahlawan dimana tidak ada sihir seperti apa pun yang akan bekerja.

Samar-samar, pikirannya beralih pada keinginanya untuk Holy Grail. Apa yang diinginkannya tidaklah berlebihan. Bagi Shishigou Kairi, bahkan itu bukanlah sesuatu yang mendesak. Faktanya, selama hidup dia percaya bahwa harapan-harapannya sudah berakhir. Meninggalkan Clock Tower, memilih untuk menjadi pemburu hadiah dan seorang penyihir mandiri, semuanya karena hal ini. Meski begitu, harapan yang diyakininya telah dia buang sekarang ada di depan matanya, tepat dalam genggaman tangannya.

“...Apakah aku benar-benar bisa meraihnya?”

Dia tidak tahu―tidak tentang Perang Holy Grail ini. Mungkin saja saat ini dia sedang berjalan menuju kematiannya. Sebenarnya, kesempatan yang dimilikinya sangat tinggi, tetapi...

―Ini bodoh. Jika aku ingin kembali, sejak pertama seharusnya aku tidak menerimanya.

Dia tahu ini. Dia tahu bahwa tidak ada tempat untuk melarikan diri, karena jembatan yang dilewatinya telah dia bakar dengan tangannya sendiri. Bahkan meski jika dia kembali, tidak ada lagi tempat baginya untuk pulang. Shishigou sudah merasa pasrah akan hal itu.

Dia berdiri di depan simbol sihir.

Sebentar lagi jam dua tepat. Bahkan di Jepang, jam ini akan menunjukkan dimulainya malam yang mati. Tidak ada waktu yang lebih cocok dari ini bagi Shishigou Kairi saat dia berada pada posisi yang mematikan.

“Mari kita mulai ini.”

Bekas ketegangan menodai suaranya―yang merupakan tanda bagus bahwa dia sedang menjaga kondisi mentalnya tetap dalam keadaan yang baik. Yang terakhir, sekali lagi Shishigou menetapkan warna apa yang dia pilih. Rupanya, kelompok Servant dari kedua belah pihak telah ditetapkan; [Hitam] untuk para Servant dari klan Yggdmillennia, dan [Merah] untuk para Servant dari Clock Tower.

“Dasar dari perak dan baja.

Sebuah pondasi dari batu dan sang Pangeran Kontrak.

Merah adalah warna yang memiliki rasa hormatku.

Sebuah dinding penghalang angin.

Gerbang arah mata angin tertutup.

Dari puncak tahta, majulah dan ikuti jalan bercabang menuju Kerajaan.”

Shishigou mulai mengucapkan mantra. Pada saat bersamaan, dia merasakan sensasi berputar yang tak menyenangkan, seperti tangan-tangan dari dunia lain sedang bermain dengan organ-organnya. Pengaktifan sirkuit sihirnya mengubah ‘mana’ yang ada di udara, dan Luapan Sihirnya bangkit untuk menyokong hal ini.

Seluruh tubuhnya berubah menjadi suatu bentuk manusia, namun juga tidak manusiawi. Sebuah peralatan yang menegaskan keajaiban dunia, komponen dari sebuah mesin, atau barangkali sebuah roda gigi―menjadi itulah dia. Menyadari hal ini, Shishigou menginjak gas lebih keras, mempercepat sirkulasi prana dalam tubuhnya lebih jauh lagi.

Lingkaran pemanggil bersinar merah; tapi sekarang bukan saat yang tepat bagi Shishigou untuk memerhatikan sesuatu yang akhirnya akan menjadi sebuah perwujudan keajaiban.

“Penuhi. Penuhi. Penuhi. Penuhi. Penuhi.

Jadilah lima kali lipat lebih kuat, hancurkan setiap yang terisi menjadi berkeping-keping!”
***

Transylvania, Roma

Trifas―kota kecil di utara Sighisoara, kota kelahiran sang Pangeran Tertusuk. Temboknya yang dibangun untuk melindungi kota dari invasi Turki selama Abad Pertengahan masih berdiri dengan kokoh, melindungi benteng dan bagian utama kota.

Kebanyakan bangunan di kota dibangun selama abad pertengahan dan telah direnovasi serta dibangun ulang, yang membuat kota ini sama bernilainya dengan Sighisoara itu sendiri. Populasinya yang sebanyak 20.000 orang hidup dari bekerja di bidang pertanian dan industri tekstil.

Dan tentu saja, di sana ada sesuatu yang bisa kau sebut sebagai simbol kota, yaitu sebuah kastil raksasa yang berdiri di puncak sebuah bukit kecil dan menjulang tinggi di atas jalanan; Benteng Millennia. Kastil ini tidak pernah dirubah sejak abad pertengahan hingga saat ini. Invasi Ottoman Turki, pecahnya Black Death, dan meletusnya perang-perang modern―ada banyak kesulitan yang terjadi di Trifas, tetapi benteng dan klan yang memilikinya masih tetap berdiri dengan pasti.

Nama klan itu adalah Yggdmillennia. Mereka adalah para penyihir yang dulu datang ke Roma dari Eropa Utara. Dan sekarang, kastil itu berkembang jauh lebih pesat daripada sebelumnya.

Tidak hanya anggota klan Yggdmillennia yang menghuni kastil ini. Ada orang-orang biasa dengan keistimewaan tersendiri―tidak ada yang tahu dari mana asal mereka―yang bekerja dalam bidang yang bermacam-macam dan berpatroli di sekitar kastil dengan senapan si tangan mereka, sesuatu yang tidak terpikirkan lagi akan dipakai di hari dan di masa ini. Berjalan di sepanjang lantai batu, siapa pun akan dibuat terpana...

Sebuah pemandangan yang akan mengejutkan mata siapa pun yang memandangnya... tetapi tidak ada warga Trifas biasa yang mau menyusuri kastil aneh ini dengan sembrono. Ketika lampu benteng dinyalakan, mereka dilarang untuk berjalan-jalan keluar rumah.

Itulah kenapa tiga bulan lalu, ketika lampu yang telah padam sejak dulu dinyalakan lagi, orang-orang menunjukkan wajah bingung dan suram. Pemimpin dari kastil itu, sang tiran yang berlumur darah telah kembali.

Terus berdoa untuk keselamatan dirinya, orang-orang di Trifas melanjutkan hidup mereka...
***

Jam dua malam, kota Trifas sudah tertidur pulas dengan benteng Millennia mengawasinya secara keji. Terlihat seorang pria yang sedang berdiri si samping sebuah jendela, sedang melihat keluar. Mata pria yang melihat kesunyian jalanan yang ada di bawahnya itu, terbakar oleh tekad dalam hati.

Pria itu adalah Darnic Prestone Yggdmillennia, pemimpin klan Yggdmillennia. Selama Perang Holy Grail Ketiga, dia berpartisipasi sebagai seorang penyihir yang berpihak pada Nazi, dan juga merupakan orang yang memerintahkan agar Greater Grail dikirim ke Jerman.

Tetapi kejadian itu sudah terjadi lebih dari enam puluh tahun yang lalu, dan meski begitu, tidak ada satu kerutan pun yang muncul di wajah pria itu. Berdasarkan penampilannya, dia terlihat seperti berumur sekitar dua puluh tahun. Sepertinya, bagi pria itu waktu sudah berhenti berjalan sejak Perang Holy Grail Ketiga.

“Ya, segala yang kulakukan adalah demi hari ini.”

Sungguh, ada banyak emosi yang terkandung dalam kata-kata itu. Memang benar, dia sudah menyiapkannya dalam waktu lebih dari enam puluh tahun―bahkan sejak Perang Holy Grail Ketiga, dengan hati-hati dia telah melakukan segala hal sesuai rencana untuk menghindari kecurigaan.

Satu-satunya kesalahan yang dilakukannya adalah membiarkan informasi tentang Perang Holy Grail di Fuyuki menyebar; karena hal ini, pusaka suci yang dapat berperan sebagai katalisator menghilang ke berbagai tempat. Raja para Pahlawan yang paling agung, Raja para Kesatria yang memiliki pedang suci terkuat, dan Raja para Penakhluk yang telah menguasai setengah dunia―dalam sekejap, katalisator mereka terpencar dan akhirnya hilang. Meski begitu, pusaka suci yang telah dikumpulkan oleh para anggota klan selama beberapa dekade atas perintahnya sudah lebih dari cukup untuk memanggil Roh-Roh Pahlawan unggul. Jumlahnya tentu tidak kurang dari pusaka-pusaka yang telah dikumpulkan oleh Asosiasi.

Dengan empat pemanggilan yang akan dilakukan bersamaan malam ini, mereka akan memiliki enam orang Servant. Menghitung Assassin yang telah dipanggil di Tokyo karena keadaan tertentu, sekarang mereka memiliki ketujuh Servant.

Artinya, dalam beberapa jam, Yggdmillennia akan menyalakan api pemberontakan melawan Asosiasi Penyihir.

Untungnya, segala hal sudah berjalan semulus perkiraannya. Clock Tower yang akan mencoba melakukan pemusnahan segera setelah klannya mengumumkan pemberontakan merupakan sesuatu yang sudah diperkirakannya. Lima puluh orang penyihir akan datang ke Trifas, menunggu dalam hutan yang ada di luar kota, dan berencana untuk mengakhiri hal ini dalam satu malam juga merupakan sesuatu yang sudah ditebaknya. Servant yang telah dipanggilnya, Lancer, membutuhkan waktu hanya tiga puluh detik untuk membinasakan lima puluh pemburu berpengalaman juga merupakan hal yang telah diprediksinya―benar-benar sangat hebat.

Satu-satunya hal yang tidak sesuai dengan perkiraannya hanyalah fakta bahwa satu orang penyihir yang selamat akan mengaktifkan sistem cadangan. Walaupun begitu, dia sudah bersiap-siap menghadapi hal tersebut. Dia paham betul bahwa Asosiasi akan menghalanginya memerintah tujuh orang Servant. Tujuh lawan tujuh―secara angka, jumlah ini seimbang.

Hanya saja, lawannya kali ini adalah Asosiasi Penyihir; tidak dapat diragukan lagi jika mereka akan memanggil Roh Pahlawan dengan kedudukan yang tinggi. Meski begitu, tidak ada Roh Pahlawan mana pun yang akan memiliki kemasyhuran melebihi Lancer miliknya di Roma. Bahkan sejak Lancer dipanggil dua bulan lalu, dia telah secara bebas menggunakan bakat bawaannya untuk mengubah Trifas dan daerah sekitarnya menjadi tempat dimana dia berperan sebagai [Raja].

Selama berada di dalam wilayahnya, Lancer menerima tambahan kekuatan pada setiap parameternya, dan Noble Phantasm miliknya dapat dipakai. Satu-satunya kesulitan yang ada adalah sifat keras kepala Servant itu; walau begitu, Darnic berharap dengan samanya tujuan mereka, tidak akan ada masalah yang timbul.

Mereka akan membunuh musuh seperti apa pun yang datang. Selain pengawas dari Gereja, keenam Master yang lain adalah penyihir yang memiliki kemampuan khusus dalam bidang peperangan. Bagaimanapun, mereka semua mendapat kesulitan karena harus menyediakan prana untuk Servant mereka. Karena Yggdmillennia telah memiliki rencana untuk mengatasi kesulitan itu, maka kemenangan mereka sudah bisa dipastikan.

Mendengar bunyi roda, Darnic berbalik.

“...Kakek,” Sudah waktunya, kata seorang gadis berkursi roda dengan suara yang jelas dan lembut sambil tersenyum.

Darnic balas tersenyum, terpengaruh oleh kelembutan si gadis.

“Apa kau baik-baik saja, Fiore?”

“Saya baik-baik saja, meskipun sepertinya adik saya kurang istirahat.”

Fiore Forvedge Yggdmillennia―satu-satunya penyihir Yggdmillennia yang memiliki bakat alami dan merupakan penerus Darnic. Dengan kata lain, dia sudah diakui sebagai pemimpin Yggdmillennia selanjutnya.

Umumnya, ada dua jenis ‘jenius’ di dunia ini. Yang pertama adalah dia yang diberkahi kemampuan untuk menguasai bidang apa pun dengan cepat. Sementara yang kedua adalah dia yang memiliki kemampuan dan bakat yang tinggi dalam suatu bidang.

Fiore sendiri, adalah seseorang yang lamban. Meskipun gadis itu lemah dalam hal menguasai mayoritas sihir, kemampuannya dalam membangkitkan sihir dan menguasai manusia setara atau bahkan lebih tinggi dibanding instruktur kelas satu Clock Tower sekalipun. Umumnya, Kode Sihir Penguat Gabungan yang dia buat dengan pengubahan asli miliknya, mampu membuat penyihir kelas tiga bahkan bisa mengalahkan penyihir kelas satu. Dalam generasi-generasi yang ada di klan Yggdmillennia, hampir tidak ada satu penyihir pun yang lahir dan memiliki bakat yang lebih besar daripada dia.

“Siapa yang mengira bahwa dua Mantra Perintah akan diberikan padamu dalam waktu yang bersamaan? Jika kita masih mengikuti metode asli Perang Holy Grail, kejadian ini pasti akan menciptakan sebuah tragedi.”

“...Ya, saya juga berpikir seperti itu.”

Bagi penyihir, merupakan hal yang wajar bahkan untuk guru dan murid, serta saudara yang lebih tua dan yang lebih muda untuk saling mengincar satu sama lain jika berkaitan dengan perbedaan dalam hal kepentingan. Meski begitu, hal itu tidak akan berefek pada Fiore dan adiknya saat muncul perbedaan yang sangat besar dalam hal kekuatan mereka. Masalah itu hanya akan berakhir dengan Fiore yang membuat adiknya mati ketakutan. Sebenarnya, hal itulah tragedi yang sesungguhnya.

“Saya dengar Asosiasi Penyihir telah mengirim penyihir terakhir mereka.”

“Telingamu tajam juga.”

Darnic menunjukkan sebuah senyuman masam. Padahal hanya satu jam yang lalu dia menerima laporan dari mata-mata yang dimasukkannya ke Clock Tower.

“Jadi akhirnya perang ini dimulai. Lalu...”

“Ya. Mulai hari ini, Servant Hitam dan Merah akan memulai Perang Besar Holy Grail. Dan kita sebagai Tiga dari Seribu Kerajaan harus membuka seluruh misteri dan keajaiban yang ada dunia.”

Wajah duka yang ditunjukkan Fiore bukanlah karena Fiore membenci konflik. Seperti penyihir pada umumnya, dia belajar di Clock Tower. Teman-temannya masih tetap berada di sana hingga sekarang, dan dia juga tidak terlalu membenci tempat itu. Meski dia tidak akan berhadapan langsung dengan teman-temannya... tapi tetap saja, perang ini perang ini membuatnya merasa tidak nyaman.

Dasarnya, rasa takut juga turut menyebabkan hal itu. Dalam dunia sihir, Clock Tower merupakan sebuah simbol yang mutlak. Ditemukan di awal zaman kuno, organisasi ini mengumpulkan berbagai jenis misteri dan sihir yang ada.

Hal ini hampir seperti badan sihir terbaru yang ada di dunia―sesuatu yang tidak bisa Fiore bayangkan.

Bagaimanapun, Darnic yang menantang―pemimpin klan―tidak bisa dipertanyakan. Dia adalah seorang monster yang mengurus kegiatan besar di usia tiga puluhan. Meskipun sudah hidup selama sekitar satu abad, dia merupakan pemilik dari Puncak Sihir klan itu sendiri. Segera setelah Fiore menantang laki-laki itu, dia akan menyadari bahwa dirinya diusir dari koneksi seluruh klan dengan cepat; dan meski dia kabur ke Asosiasi, sebagai seseorang yang memiliki darah seorang penghianat, apa yang menunggunya di sana tidak lain dan tidak bukan adalah kemalangan.

Namun, Fiore akan merasa keberatan jika kesempatan mereka untuk menang tidak ada. Tetapi apa yang dia lihat selanjutnya adalah sesuatu yang besar,  altar berwarna putih kebiruan... dan singgasana dari timbunan daerah sihir serta prana murni yang besar.

Hanya kau yang boleh melihat ini. Jangan mengatakannya pada yang lain.”

Mengatakan ini, Darnic mengajaknya untuk melihat apa yang ada di dasar Greater Grail, sesuatu yang selalu disembunyikan. Mungkin benda itu memang belum sepenuhnya bekerja, tetapi limpahan jumlah prana yang ada dan kedewaannya, membuat Fiore merasa seperti jiwa gadis itu ditarik keluar dari tubuhnya.

“...Dengan pengabul keinginan ini, keinginan terbesarmu bisa terkabulkan dengan mudah.”

Gadis itu tidak bisa membantah gumaman Darnic. Karena dia juga memiliki mimpi, sebuah harapan yang tidak akan pernah bisa terkabulkan seberapa keras pun dia berusaha.

Melawan teman-temannya hanyalah sesuatu yang terlalu dia rasakan, dan bukan sesuatu yang bisa menghalangi Fiore untuk berjalan menuju tujuannya. Dia telah membuat dirinya sendiri melakukan perlawanan penuh pada Asosiasi.

“Sekarang, temani aku menemui Raja kita. Mari kita memanggil para kesatria yang akan melindungi kita.”

“Baik, Kakek.”

Begitu mereka sampai di ruang tahta di mana ritual akan berlangsung, keempat Master lainnya telah berkumpul. Terlihat juga para homunculus yang melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar dan dengan tanpa suara membawa alat-alat sihir yang dibutuhkan.

Pola sihirnya pun sudah digambar dengan gabungan antara emas dan perak yang dijaga tetap dalam keadaan cair dengan teknik penahan-panas. Pola sihir yang rumit dan sulit ini direncanakan untuk bisa memanggil lebih dari seorang Servant dalam sekali pemanggilan.

Seluruh kebisingan yang ada mendadak berhenti.  Darnic memilih saat ini untuk pindah ke dekat singgasana dan mengumumkan sesuatu sambil merentangkan kedua tangannya.

“Letakkan katalisator yang telah kalian kumpulkan di atas altar.”

Semua Master mengangguk.

Yang pertama―Gordes Musik Yggdmillennia, seorang pria gemuk. Hanya dengan melihat ekspresinya sekilas, siapa pun dapat mengetahui bahwa dia adalah seorang pria angkuh. Keahliannya ada dalam bidang alkimia. Katalisator miliknya dibiarkan tetap berada di dalam kotak, mungkin karena nilainya atau bisa juga karena dia tidak ingin Master yang lain melihatnya.

Yang kedua―Fiore Forvedge Yggdmillennia, seorang gadis berkursi roda. Keahliannya adalah pembangkitan sihir dan penguasaan manusia. Katalisator miliknya adalah sebuah anak panah kuno yang ujungnya menjadi hitam karena sesuatu―mungkin darah.

Yang ketiga―Celenike Icecolle Yggdmillennia. Keahliannya adalah perihal sihir kegelapan. Mengesampingkan penampilannya yang rapi dan bersih, seluruh tubuhnya berbau darah; mugkin itu disebabkan karena dia menciumi jeroan yang diambil dari perut binatang buas dan manusia yang digunakan untuk pengorbanan. Katalisatornya adalah sebuah gelas kaca. Di dalamya, terlihat masih ada noda dari suatu cairan.

Yang keempat―Caules Forvedge Yggdmillennia, adik laki-laki Fiore. Keahliannya adalah dalam hal pemanggilan. Dengan wajah kekanak-kanakan yang berbintik, orang-orang tidak akan mengira bahwa umurnya delapan belas tahun. Malu-malu, pemuda itu terus berkomat-kamit membaca mantra pemanggil Roh Pahlawan. Katalisator yang dia miliki adalah lembaran kertas lama. Di dalamnya, ada gambar manusia dengan tulisan ‘manusia sempurna’ berada di pojok kanan bawah.

Dan yang kelima, yang telah selesai melakukan pemanggilannya―Roche Frain Yggdmillennia, merupakan Master dari Caster. Dia adalah yang termuda di antara Master yang lainnya; seorang anak laki-laki berusia tiga belas tahun yang sedang menonton pemandangan itu dari kejauhan dengan penuh minat.

“Jarang sekali kau meninggalkan ruang kerjamu, Roche.”

Roche mengedikkan bahu ketika Darnic memanggilnya.

“Yah, ini adalah pemanggilan Roh Pahlawan. Anda sangat beruntung jika bisa melihatnya sekali saja dalam hidup. Bahkan saya akan meninggalkan ruang kerja saya agar bisa melihatnya untuk yang kedua kali.”

Dia terdengar sudah dewasa, walaupun dia hanya melebih-lebihkannya. Roche adalah anak laki-laki yang cukup terkenal sebagai penyihir dalam bidang penguasaan boneka jika mengesampingkan desain dan penampilan mereka; boneka-bonekanya, dibuat hanya dengan pikiran dan memiliki kekurangan dalam hal keindahan.

Caster telah dipanggil oleh Roche dua bulan yang lalu dalam waktu yang hampir berdekatan dengan pemanggilan Lancer, dan mereka telah sepenuhnya menghabiskan waktu mereka hanya untuk menciptakan golem-golem yang dibutuhkan untuk Perang Besar Holy Grail di ruang kerja mereka yang berada di dalam kastil.

“Dimana Caster?”

“Oh, tuan akan segera datang. Beliau sedikit sibuk dengan desain Noble Phantasmnya.”

“Maka aku harus meminta maaf nanti. Sekarang, mari kita lihat upacara misterius ini sekali lagi.”

“Baik.”

Roche mengangkat bahunya. Anak laki-laki itu memanggil Servantnya sendiri ‘tuan’ karena hormat; baginya, legenda yang Caster ciptakan pantas dipuja. Dia memberikan kepercayaan penuh pada Caster dan merasakan kebahagiaan sejati saat membantu Caster di ruang kerja.

Caster mewujud di dekat Roche belum lama ini, muncul dengan mantel dan setelan berwarna biru di seluruh tubuh serta memakai sebuah topeng tanpa mata, mulut dan sama sekali tidak menarik. Roche memanggilnya sebagai guru dengan senang, dan Caster hanya mengangguk tanpa mengatakan apa-apa.

Mengonfirmasi posisi dari keempat pemanggil, Darnic menundukkan kepalanya ke arah singgasana yang kosong itu sebagai penghormatan.

“Rajaku, sekarang kami akan memulai pemanggilan.”

‘...Baiklah.”

Partikel-partikel cahaya berkumpul di singgasaa tersebut, menyatu dan membentuk suatu bentuk manusia. Pria yang Darnic panggil sebagai Raja itu mengenakan pakaian kerajaan yang berwarna hitam seperti bayangan di malam hari. Sebaliknya, wajahnya pucat menjijikkan dan rambut putih panjangnya yang seperti sutera tergerai lepas.

Dia adalah kartu truf terkuat yang telah disiapkan oleh pemimpin Yggdmillennia, sang Lancer Hitam―Vlad III. Pahlawan terhebat Transylvania, dikenal sebagai ‘Pangeran Tertusuk’ yang menakutkan bagi Turki, dan juga telah menyebarkan nama-nama lain di dunia.

Sang Naga Kecil... atau, vampir Pangeran Drakula.

Tentu saja, dia sama sekali bukan vampir. Dia adalah pria setia dan merupakan seorang pahlawan yang naik ke tahta, tidak peduli sekecil apa negaranya nanti. Khususnya di sini, di Roma dimana dia tercatat sebagai orang yang mengusir invasi besar Kekaisaran Ottoman Turki yang telah menginjak-injak negeri lain. Hal itu membuatnya menjadi seorang pahlawan besar.

Ya, selama dia berada di Roma, dia akan menjadi Servant dengan kamasyhuran terhebat―seperti Heracles yang berada di Yunani atau Raja Arthur yang berada di Britania.

Setelah melihat sekilas pada Darnic, suara Lancer yang penuh wibawa bergema di ruangan tersebut.

“Sekarang, panggil para Roh Pahlawan yang akan melayaniku!”

“Seperti kata anda.”

Darnic membungkuk dengan penuh hormat, lalu mengumumkan pada keempat Master.

“Mari kita mulai, penyihir-penyihir kabanggaan Yggdmillennia. Dengan selesainya ritual ini, kita akan mengambil langkah pertama kita menuju peperangan. Apakah ada yang berubah pikiran?”

Keempat Master tetap diam menegaskan pendirian mereka.

Suasana di ruang tahta kembali berubah. Indra keempat Master menajam, bahkan tekanan dari Pangeran Tertusuk yang sedang mengawasi mereka dari belakang pun menjauh saat itu juga.

Memang benar bahwa pemanggilan seorang Servant lebih mudah dibandingkan dengan ritual besar normal lainnya yang rumit. Meski begitu, fakta jelas mengatakan bahwa memanggil Roh Pahlawan misterius adalah sesuatu yang dapat mengambil nyawa seseorang jika dilakukan dengan cara yang salah.

Siapa pun tidak ada yang boleh melakukannya dengan ceroboh, tapi melakukannya pelan-pelan dan memastikan keselamatan dari setiap langkah juga merupakan sesuatu yang bodoh. Yang sekarang dibutuhkan adalah kekejaman dan keberanian―dapat mengacungkan pistol ke kepalamu sendiri dan menarik pelatuknya.

“Dasar dari perak dan baja.

Sebuah pondasi dari batu dan sang Pangeran Kontrak.

Hitam adalah warna yang memiliki rasa hormatku.

Sebuah dinding penghalang angin.

Gerbang arah mata angin tertutup.

Dari puncak tahta, majulah dan ikuti jalan bercabang menuju Kerajaan.”

Mereka tidak berlatih mengenai hal ini sebelumnya, tetapi mereka semua mengatakan mantra itu dengan selaras tanpa ada satu kata pun yang salah.

Dengan selesainya sajak petama, sinar dari pola sihir itu membesar. Prana yang mengamuk menginjak-injak dan menyerbu mereka. Bahkan Caules yang terlemah di antara mereka berempat, tetap berdiri dengan tegap dan melanjutkan mantra itu tanpa keraguan.

“Dengan panggilan hormat; permohonanku akan membentuk tubuhmu, dan pedangku akan menentukan takdir.

Patuhi panggilan dari Holy Grail.

Jika engkau sejalan dengan tujuan dan kehendak, jawablah panggilanku!”

Mantra itu―prana yang sekarang berpacu dengan Sirkuit Sihir mereka―memanggil para Roh Pahlawan dari [Tahta] mereka. Menarik manusia-manusia terhebat yang keberadaannya pernah terukir dalam mitos dan legenda.

 “Dengan ini aku bersumpah.

Menjadi kebajikan yang tersimpan di dunia ini.

Akan kutakhlukkan kejahatan di dunia ini.”

Tepat saat ini, ketiga Master lainnya memberi jeda. Hanya Caules, yang melihatnya sebagai sebuah pertanda, melanjutkannya dengan sajak yang berbeda.

“Biarkan awan kekacauan memenuhi matamu.

Engkau yang terjebak dalam sangkar kegilaan.

Dan aku yang memegang rantai rapuhmu!”

Mantra tambahannya adalah untuk [Peningkatan Kegilaan]; dengan ini, sudah dipastikan bahwa Servant yang akan dia panggil akan memiliki kegilaan sampai tingkat tertentu. Seorang Servant yang lebih lemah akan memiliki kemampuan fisik seorang Berseker.

Dan sekarang adalah waktu untuk sajak terakhir.

Mengabaikan siksaan pada sirkuit sihir mereka dan ketakutan yang akan lepas kendali, keempat dari mereka bisa merasakan penyesalan sebentar; itu adalah kesenangan tertinggi yang mereka rasakan selama ritual berlangsung. Meski begitu mereka terus melanjutkan tanpa menghiraukannya―untuk menggenggam kuat misteri terbesar di tangan mereka.

Monster-monster yang luar biasa mengalir bersama cahaya, meluap bersama keajaiban, dan melampaui sihir―dengan kata lain, para Roh Pahlawan sedang mencoba untuk memasuki dunia mereka.

“Dari Surga Ketujuh

Engkau yang berpakaian tritunggal agung, keluarlah dari lingkaran pembatas ini.

Pelindung keseimbangan kudus!”

Bersamaan dengan diucapkannya kata-kata ini, badai mengamuk dan membuat para homunculus gemetar ketakutan karena panik. Roche bahkan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Lancer, Darnic dan Caster membiarkan badai itu berputar di sekitar mereka layaknya angin sepoi-sepoi.

Dan begitulah, mereka mewujud.

Muncul sebuah cahaya membutakan yang datang dari lingkaran sihir yang rumit dan lebar di sana. Lalu, hanya membutuhkan waktu yang sebentar agar keajaiban-keajaiban terbentuk. Mereka adalah para pahlawan yang mengambil khayalan para pria menjadi milik mereka, orang-orang yang telah melampaui batas-batas kemanusiaan.

Badai pun berubah menjadi sebuah hembusan dan cahaya yang membutakan itu mengecil dan memudar. Terlihat empat orang yang  berdiri di dalam lingkaran.

Salah satunya adalah seorang gadis yang mengenakan gaun berwarna putih. Tangannya memegang sebuah tongkat raksasa. Dengan tatapan matanya yang kosong, dia melihat sekitarnya.

Yang lainnya adalah seorang anak laki-laki dengan penampilan seperti perempuan dan mengenakan pakaian pesta. Berbeda dengan yang lainnya, hanya dialah yang melihat para Master dengan senyum lebar di wajahnya.




Yang lain adalah seorang pria yang membawa sebuah panah di tangannya.  Dilingkari oleh mantel sewarna rumput, dia berlutut dan melihat ke tanah.

Terakhir, adalah seorang pria yang seluruh tubuhnya dibungkus zirah yang bersinar. Ada sebuah pedang besar di punggungnya. Rambutnya yang berwarna perak melambai tertiup angin.



“Ahh...”

Terdengar suara heran dari salah satu orang yang ada di dalam ruangan itu. Bahkan kedua mata Darnic pun terpana melihat penampilan mereka yang berwibawa. Ditambah lagi, para Servant itu mengatakan sesuatu bersamaan―sesuatu yang akan membuka penutup menembus Perang Besar Holy Grail tujuh lawan tujuh.

“Sesuai dengan pemanggilan, kami menyerahkan diri kami―para Servant Hitam. Takdir kami mengalir dengan Yggdmillennia, dan pedang kami hanyalah untuk Anda.”
***

Di pemakaman Gereja Stavropoleos yang berada di Bucharest, Shishigou Kairi juga telah berhasil memanggil Servant miliknya.

“...Jadi, kaulah Masterku?”

Seorang kesatria bertubuh kecil dengan zirah menutupi seluruh tubuhnya, menanyakan hal ini pada Shishigou. Suara kesatria itu yang jelas dan jernih menjangkaunya melewati helm. Shishigou pun mengangguk dan mengulurkan tangannya.

“Shishigou Kairi. Aku akan menjadi Mastermu. Mohon kerjasamanya.”

“...Apakah ini sebuah pemakaman? Benar-benar tempat yang hina untuk memanggilku.”

Kesatria itu mengabaikan uluran tangan Shishigou. Menggaruk kepalanya, Shishigou mulai menjelaskan alasan mengapa dia memilih tempat ini.

“Yeah. Yah...tempat seperti ini bagaikan kampung halaman bagiku.”

“Kau lahir di dalam sebuah kuburan?”

“Hari-hariku kulalui bersama banyak mayat.”

Mendengar ini, kesatria itu mengangguk paham.

“Aku mengerti... kau adalah seorang necromancer.”

“Benar. Kau seorang Saber, ‘kan?”

Shishigou bertanya saat melihat pedang yang dipegang oleh kesatria itu.

“Bukankah sudah jelas? Kau pasti memiliki penglihatan yang buruk dan kecerdasan yang rendah jika mengira aku seorang Caster atau Assassin.”

“Menurutku... tidak ada yang salah jika ada seorang Assassin yang membunyikan bel dan berdiri di depan pintu rumahmu menggunakan satu setel zirah.”

Kelihatannya, Assassin seperti itu pun ada.

“...Mungkinkah aku telah dipanggil oleh orang idiot?”

“Sayang sekali. Kau baru saja dipanggil oleh Master terbaik yang pernah ada, Saber. Yang ingin kukatakan adalah, Shishigou Kairi ini adalah seorang Master kelas satu dan mampu memerintahmu dengan sempurna.”

“Hmm... kukira sebuah perintah yang baik sudah cukup, yah, meskipun itu tidak lebih dari kata-katamu saja.”

“Baiklah Saber. Pertama-tama, apa kau bisa menyebutkan nama aslimu? Sungguh... kenapa aku tidak bisa melihat semua parametermu meskipun aku adalah Mastermu?”

Normalnya, seorang Master akan bisa melihat tingkat informasi yang ada ketika berhadapan dengan seorang Servant―data berharga tentang kekuatan fisik dan daya tahan, serta kemampuan yang mungkin mereka miliki. Detail tentang bakat bawaan dan Noble Phantasm umumnya tidak bisa dilihat hingga mereka menunjukkannya sekali, tapi hal itu merupakan sesuatu yang tak ternilai  dalam merencanakan suatu strategi.

Dan tentu saja, Servant pertama yang bisa seorang Master ketahui kemampuannya adalah Servant yang mereka panggil. Dengan mengerti perincian mereka, mereka bisa membuat rencana tentang bagaimana mereka bisa memenangkan perang.

Walau begitu, saat Shishigou ingin mengetahui parameter dasar dari kesatria yang ada di depannya, kepribadian dari sang Roh Pahlawan, bakat bawaan, serta data tentang Noble Phantasm, semuanya tersembunyi darinya dan tidak bisa terbaca.

“Itu karena helm ini. Aku akan melepasnya.”

Kata Saber, lalu helm yang menutupi wajahnya terbelah dan menyatu dengan baju zirahnya. Ketika [dia] menunjukkan wajahnya, Shishigou melongo.

“Kau adalah...perempuan?”

Tidak, barangkali dia seorang anak laki-laki. Bisa saja seorang kesatria memiliki penampilan yang terlihat muda. Namun, itu merupakan hal yang tidak terduga, bahwa Shishigou akan membiarkan kata-kata itu meluncur keluar dari dalam mulutnya tanpa berpikir dan tidak menyadari suasana hati kesatria tersebut yang memburuk.

“Jangan katakan itu lagi.”

“Mengatakan... apa?”

Geramannya yang menakutkan dan mematikan membuat Shishigou tersadar kembali.

“Sebut aku seperti itu lagi, dan aku tidak akan bisa menahan amarahku.”

Kilatan yang terlihat di mata kesatria itu membuat Shishigou tahu niat membunuhnya. Bisikan insting Shishigou memberitahunya bahwa gadis itu serius.

“...Baiklah, maafkan aku. Aku tidak akan mengatakannya lagi.”

Mengangkat kedua tangannya ke udara, Shishigou meminta maaf dengan jujur. Mengesampingkan amarah yang terlihat di wajahnya, Saber mencoba untuk memperbaiki suasana hatinya. Menarik napas panjang, gadis itu memberengut dengan ekspresi dongkol.

“Aku memaafkanmu, dan jangan pernah membahas hal ini lagi dalam pembicaraan kita. Ingat itu.”

“Aku mengerti. Jadi, siapa nama―”

“Hm? Ada apa, Master? Aku tidak tahu katalisator apa yang kau gunakan. Tapi kau memanggilku dengan rinci, ‘kan? Kenapa aku harus memberitahumu...”

“Ah, bukan. Inilah katalisator milikku.”

Perlahan mundur dari pola sihir yang telah hancur, Shishigou melemparkan katalisatornya. Saber melihatnya dengan tatapan aneh saat menangkapnya.

“Dan ini?”

“Itu adalah sesuatu dari Round Table. Meja yang kalian, para kesatria pernah gunakan.”

Dalam sekejap, suasana hati Saber kembali menggelap. Dengan sebuah seruan, dia mengarahkan pedangnya pada benda itu―pada pusaka suci yang sepertinya tidak akan pernah muncul lagi di dunia ini―dan menghancurkannya menjadi serpihan.

“...Uhh.”

Setelah membuat pusaka suci itu menjadi serpihan, Saber menghentak-hentakkan kakinya.

“Ini kutukan! Aku tidak pernah berpikir akan dipanggil menggunakan benda ini!”

Ekspresinya menjadi dingin dan dipenuhi kebencian pada Round Table. Itu ganjil, pikir Shishigou. Bagi para kesatrianya, Round Table adalah tempat untuk melakukan pembicaraan yang bersemangat. Meskipun pada akhirnya para kesatria itu terpecah menjadi kawan dan lawan, hal itu bukanlah dikarenakan desain mejanya. Jika ada seorang kesatria yang membencinya sebesar ini...

Dalam sekejap, Shishigou mengetahui nama asli gadis itu.  Jika ada kesatria yang membenci Round Table, dia pasti salah satu kesatria yang telah memberontak pada Raja.

“Saber, kau adalah Mordred?”

Mordred memberengut saat mendengar pertanyaan Shishigou. Terlihat bahwa gadis itu merasa kesal karena identitasnya dapat ditebak dengan tepat hanya dari apa yang baru saja dia lakukan.

Tetapi nada suaranya tegas saat dia menegaskan.

“Seperti yang kau katakan. Aku Mordred, satu-satunya penerus sejati Raja para Kesatria, Arthur Pendragon.”

“...Bukankah kau memberontak?”

Segera setelah Shishigou membahasnya, wajah Saber berubah menjadi merah.

“Ya, itu benar. Aku memang melakukannya. Raja tidak pernah mengakui kemampuanku sampai saat-saat terakhir; meski dalam hal memerintah dan berpedang, aku dalam level yang sama―tidak, aku bahkan bisa melakukannya lebih baik. Tapi Raja menolak memberikan tahtanya karena asal-usulku.”

Nada dingin dalam suaranya bukanlah karena emosinya yang liar. Justru sebaliknya, hal itu dikarenakan dia dipenuhi oleh kemarahan dan kebenciam hingga seluruh tubuhnya bergetar.

Asal-usulnya―bahwa dia lahir dari hubungan yang terjadi antara Raja dan adik kandungnya, Morgan―menjadi sebuah kecacatan yang fatal.

“Ditambah lagi, aku membiarkannya berakhir dalam pemberontakan. Aku membiarkan semua orang tahu bahwa pemerintahan Raja tidak ada artinya.”

Memang benar, berdasarkan legenda, Mordred-lah yang menggiring raja ke jurang kematiannya. Bahkan setelah tertusuk tombak suci, Mordred berhasil memberikan sebuah tebasan yang mematikan pada Raja.

Mendekati kematian, Raja mengembalikan pedang sucinya ke danau dan mencoba mencapai Avalon. Hidup Mordred sendiri, berakhir di bukit Camlann; satu-satunya hal yang dia tinggalkan hanyalah nama buruknya sebagai Kesatria Penghianat.

“Memang benar... jadi kau ingin menjadi raja?”

Bagi Mordred yang telah ditolak naik tahta, dimahkotai sebagai raja pastilah harapannya. Tetapi nada suara Mordred berubah menjadi angkuh ketika dia menjawab pertanyaan Shishigou.

“Jauh dari itu. Aku sama sekali tidak ingin menjadi raja melalui Holy Grail. Ayahku tidak akan pernah mengakuinya bahkan meski aku naik tahta dengan cara itu. Satu-satunya hal yang kuinginkan adalah, Master, adalah kesempatan untuk menarik pedang penunjuk.”

“...Pedang yang ditarik Raja dari dalam batu?”

Saber mengangguk. Memang dikatakan bahwa Arthur muda memiliki hak untuk memerintah dengan cara menarik pedang―yang telah mengalahkan balik orang-orang yang menyombongkan kekuatan mereka.

Tentu saja, jika Mordred bisa menarik pedang tersebut dari batu, maka dia akan diakui layak untuk menjadi raja. Meski begitu, ada sebuah lubang yang lebar menuju keinginan yang direncanakannya.

“Hey, bisakah aku menanyakan sesuatu?”

“Ya?”

“Katakanlah Holy Grail sudah mengabulkan keinginanmu, apa yang akan terjadi jika kau tidak bisa menarik pedang itu dari batu?”

Jika dia ingin menarik pedang penunjuk, maka secara alami dia mempunyai kesempatan untuk gagal dan tidak bisa menarik pedangnya. Karena tidak ada satu orang pun yang diakui layak oleh sang pedang. Mordred boleh memiliki darah seorang Arthur, tapi merupakan hal yang perlu dipertanyakan apakah dia bisa menariknya atau tidak.

“Tidak sopan sekali, Master. Tentu saja aku bisa menariknya!

Namun Saber sombong karena kebanggaan dan pernyataan itu. Dari bobot kata-katanya yang sangat besar itu, siapa pun bisa tahu bahwa dia memiliki harga diri seorang raja. Mungkin saja dia bisa menarik pedang itu dari batu dengan mudah.

“Sekarang, Master, jangan sampai kita terlambat. Beritahu aku di mana musuh yang harus aku binasakan.”

Saber mendesak maju dan nada meremehkan terdengar dari suaranya, tapi Shishigou menjaganya agar tetap berada dalam kendali.

“...Apakah kau pernah mendengar peribahasa ‘berpikir dulu sebelum bertindak’?”

“Dan kenapa aku harus peduli pada hal semacam itu? Bukankah aku dipanggil untuk melawan ketujuh Servant?”

Sepertinya Grail telah memberinya pengetahuan mengenai Perang Besar ini.

“Itu memang benar. Tapi kita tidak tahu apa yang terjadi pada ketujuh Servant yang berada di pihak musuh.”

Mereka berdua mendongakkan kepala saat mendengar suara kepakan sayap di atas mereka. Di sana, ada sebuah merpati abu-abu yang sedang bertengger di cabang pohon. Matanya―mata tanpa emosi yang merupakan sesuatu yang unik jika dimiliki oleh burung―bergerak gelisah. Kemudian, burung itu melemparkan selembar kertas yang dibawanya sejak tadi di mulut. Lalu, burung itu terbang pergi seperti telah menyelesaikan tugasnya di sini. Ketika Shishigou mengambil kertas itu, Saber mengintipnya dengan penuh minat.

“Apakah yang tadi itu familiar?”

“Sepertinya begitu. Mereka ingin segera bertemu dengan kita.”

“Siapa?”

“Orang yang memiliki tujuan sama dengan kita.”

Shishigou meremas memo itu―yang hanya bertuliskan ‘besok pagi jam sembilan di Sighisoara, gereja yang ada di atas bukit’―dan menghancurkannya dengan tangan.
***

Terlihat keindahan, kemegahan dan kekhidmatan yang masih menghanyutkan di sana. Seratus kata-kata pujian pun bahkan tidak akan cukup untuk menggambarkan pemandangan ini.

Saber, Archer, Lancer, Rider, Berseker dan Caster Hitam―selain Assassin yang dipanggil di Shinjuku, semuanya telah berkumpul di ruangan ini.

Dalam Perang Holy Grail, merupakan hal yang sangat jarang untuk bisa melihat lebih dari dua Servant berada dalam satu tempat yang sama di waktu yang sama. Tanpa menghiraukan apakah mereka saling bertarung atau bekerja sama, biasanya hanya akan ada dua atau paling banyak tiga Servant. Dan wajar bagi mereka untuk saling mewaspadai yang lainnya, tanpa memberikan aba-aba ketika mereka mulai saling membunuh.

Tapi perang telah berubah―dan mereka telah setuju jika dalam Perang Besar ini, mereka akan menerima perjanjian yang dibuat.

“Ah, apakah kita harus saling memperkenalkan diri dulu? Kita harus. ‘kan? Aku akan mulai dulu! Servant Rider―namaku adalah Astolfo. Siapa nama kalian?”

Sebelum siapa pun membuka mulut mereka, Servant dari kelas Rider―Astolfo, telah membuka mulutnya lebar-lebar.

Servant yang ada di sebelahnya―seorang pria yang berpenampilan tenang―terlihat terkejut akan hal itu, namun akhirnya tersenyum simpul dan menjawab.

“Aku adalah Servant dari kelas Archer. Namaku Chiron.”

“Terima kasih, Chiron! Mungkin waktu yang akan kita habiskan bersama cuma sebentar, tapi mari lakukan yang terbaik!”

Rider mengulurkan tangannya; Archer menjabat uluran tangan itu dengan ekspresi terganggu.

“Jangan gunakan nama aslimu, Rider. Panggillah yang lain dengan kelas mereka.”

Dengan dingin, Darnic membuat Rider kembali terkendali.

“Oh baiklah,” kata Rider sambil mengangguk, lalu memanggil Servant bergaun putih.

“Dan kau?”

“......”

Servant itu tetap diam. Dia menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, menunjukkan penolakannya.

“Oh, maaf. Tidak apa-apa jika kau tidak bisa berbicara... di mana Masternya?”

Rider melihat ke arah para Master dan berhenti pada Caules ketika dia menyadari reaksinya saat dilihat.

“Hei, Master di sana. Siapa namanya?”

“Uh, yah, namanya...”

Mengesampingkan kebingungannya untuk menghindari Rider, Caules tidak mampu menahan pendekatannya. Cara Servant itu memandangnya seperti sedang mencoba untuk membor sebuah lubang padanya, yang akhirnya membuat Caules menggerutu tentang nama asli Servant bergaun putih tersebut.

“...Frankestein.”

“Aku mengerti. Senang bertemu denganmu, Fran―maksudku Berseker.”

Servant dari kelas Berseker―Frankestein, menggerutu karena tidak senang namanya dibongkar.

Akhirnya, mata Rider melihat ke arah Servant terakhir―Saber.

“Jadi, siapa namamu?”

“Berhenti, Saber. Jangan bicara.”

Sebelum Saber sempat menjawab, Masternya―Gordes―menghentikannya. Kemudian, pria itu menegaskan dengan suara lantang pada semua orang yang ada di sana, termasuk Darnic.

“Aku tidak akan memberitahukan nama asli Servantku pada kalian, kecuali Darnic.”

Seluruh ruangan gempar. Celenike bertanya dengan nada dingin.

“Bukankah kita semua telah setuju sebelumnya, bahwa kita akan memberitahukan nama asli dari Servant kita? Bukankah akan menjadi hal yang rendah bagimu jika mengingkarinya, ya ‘kan?”

“Maka aku tidak memiliki katalisator ini.”

Mengatakannya, Gordes memegang erat kotak katalisatornya seperti barang yang benar-benar berharga. Dia bahkan berencana untuk tetap menjaga katalisatornya sebagai sebuah rahasia.

Gordes mengangguk masam untuk menegaskan.

“...Akan menjadi hal yang fatal bagi Servantku untuk memberitahukan nama aslinya. Aku lebih memilih untuk mengurangi jumlah kata-kata yang mungkin akan keluar tanpa disadari.”

Nama asli dari setiap Servant merupakan sebuah informasi yang harus tetap dirahasiakan sebisa mungkin. Seterkenal apa pun seorang pahlawan, sering terjadi kasus di mana dia mati terlalu cepat.

Membeberkan nama asli seorang Servant akan mengungkapkan kelemahan fatalnya―yaitu, alasan kematian pahlawan tersebut.

Jika dia telah terbunuh oleh racun, akan mudah untuk menemukan cara melakukannya lagi. Jika dia telah terbunuh oleh anak panah, maka buatlah kebakaran. Jika dia memiliki sebuah titik lemah, maka yang harus kau lakukan hanyalah menemukannya.

Meski jika alasan yang telah dikatakan di atas tidak menjamin suatu kelemahan, seorang pahlawan yang mewarisi sifat naga tidak akan bisa dengan sukses melawan senjata yang dibuat untuk membunuh naga. Dan bahkan jika kau tidak punya kesempatan untuk memiliki senjata seperti itu, membongkar informasi seperti ini pada Master lain seperti membuat agar beberapa tidakan balasan menjadi mudah diatur.

Umumnya, ada juga Servant yang jika namanya dibongkar, tidak akan memiliki masalah; seperti contoh, Rider Astolfo adalah salah satunya.

Darnic melihat pada Vlad yang mengangguk sambil menyeringai. Vlad yang merupakan Servant milik Darnic, pastilah tahu siapa Servant Hitam yang telah dipanggil oleh Gordes. Ini seperti seorang pangeran yang terkenal akan perangainya yang keras, telah dengan baik hati memberikan persetujuan.

“...Baiklah. Kita akan membuat pengecualian untuk kasusmu.”

Gordes memberikan sebuah senyuman puas yang lebar saat mendengar kata-kata Darnic.

“Terimakasih yang sebesar-besarnya, Yang Mulia. Sekarang, kami mohon diri.”

Mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, Gordes berjalan keluar ruangan dengan Saber mengikuti di belakangnya. Celenike menggerutu tidak puas ketika melihat mereka pergi.

“Tidakkah dia bangga karena telah memanggil Saber...”

“Itu hanyalah jenis makhluk apa dia.”

Sahut Darnic dengan senyum masam. Gordes adalah penerus dari keluarga Musik yang pernah menyombongkan diri akan kemampuan alkimianya yang menyaingi Einzbern. Lagi, ketika keluarga Musik bergabung dengan Yggdmillennia, darah sihir mereka telah rusak.

Bagi sebuah keluarga yang pernah terkenal, pastilah bukan merupakan hal yang memalukan jika telah diserap oleh Yggdmillenia. Dari kecil, ayah dan ibunya telah menanamkan pada Gordes perihal telah menjadi ilmuan sehebat apa keluarga besarnya. Sekarang, di umurnya yang ke tiga puluh enam, dia masih belum bisa memisahkan antara mimpi dan kenyataan karena telah dibesarkan agar menjadi bangga akan hal itu.

Fakta bahwa Gordes adalah seorang penyihir kelas satu―yang merupakan pertama kalinya terjadi sejak keluarga Musik bergabung dengan Yggdmillennia―seperti membuatnya telah terlibat dalam kebanggaan garis keturunannya.

Di samping itu, Gordes sebenarnya adalah penyihir yang cakap. Dialah orang yang telah mengusulkan dan mengatur cara untuk memanipulasi sistem―divisi dari garis edar prana, yang dalam Perang Holy Grail ini mungkin dianggap sebagai permainan yang curang.

Sehebat apa pun penyihir yang dikirim oleh Asosiasi, memanggil seorang Servant―dan menyediakan prana untuknya―akan menciptakan sebuah beban yang merepotkan. Karena tidak memiliki kesulitan ini, Servant Hitam dapat menutup jarak yang ada di antara mereka. Memiliki prana yang melimpah membuatnya mungkin untuk tidak terlalu selektif dalam penggunaan Noble Phantasm. Hasil yang telah ditunjukkan Gordes tidak bisa diabaikan begitu saja―seperti tidak ada pilihan selain membiarkan kelakuannya.

Dengan semangat yang tinggi, Gordes kembali ke kamarnya dan berbalik untuk melihat Saber lagi. Penampilannya yang sempurna dan penuh keagungan akan memikat siapa pun yang melihatnya. Gordes telah yakin akan pendapatnya, tapi tetap bertanya pada Saber, hanya untuk meyakinkan.

“Jawab satu hal padaku, Saber―nama aslimu adalah Siegfried, benar?”

Melihat anggukan pembenarannya, Gordes sampai pada kegembiraan tertingginya.

Siegfried―adalah seorang pahlawan nasional di Jerman. Meskipun penggambarannya berbeda dalam setiap legenda yang melekat padanya, perannya yang paling terkenal adalah seperti dalam puisi hebat Nibelungenlied, ‘Lagu Nibelungs’. Terlahir sebagai seorang pangeran Belanda, dia telah melalui banyak petualangan bahkan sampai dimahkotai sebagai pembunuh-naga.

Dia menghadapi setiap pertarungan tanpa pernah sekali pun kalah, sampai akhirnya kehilangan nyawanya karena ditikam oleh pedang seorang penghianat di bagian punggung, yang merupakan satu-satunya titik lemah yang dia miliki.

Di tangannya adalah pedang suci dari Nibelungs, Balmung. Karena membunuh naga iblis Fathir dengan pedang ini dan mandi dengan darahnya, Siegfried menjadi kebal pada segala jenis senjata.

Tetapi, semengagungkan apa pun seorang prajurit, tubuhnya pasti memiliki satu titik lemah―sebuah tempat di punggungnya yang tertutupi oleh daun linden, yang menempel padanya saat dia sedang mandi dengan darah naga. Bagian itu merupakan titik lemahnya yang akan membawa kematian yang tak dapat dielak oleh Siegfried.

Gordes berpikir keras selama sesaat. Memang benar bahwa hal ini merupakan sesuatu yang baik karena memanggil salah satu dari Servant terhebat, tapi fakta yang menjadi legendanya―dan fakta tentang punggungnya―telah terkenal luas. Seberapa lama dia bisa menyembunyikan titik lemah yang mematikan dan nyata itu?

“Saber, mulai sekarang, tetaplah diam kecuali ketika kau menggunakan Noble Phantasm milikmu. Kau hanya boleh berbicara jika aku mengizinkannya.”

Dengan menjaga agar Saber tetap diam, seharusnya Gordes bisa memperkecil jumlah pertanda yang bisa membuat nama aslinya terungkap dengan cepat. Mengayunkan Mantra Perintah yang ada di punggung tangannya, Gordes menegaskan dengan keras perintah ini. Meski begitu, terlihat sebuah keraguan di matanya. Apakah dia akan dimaafkan jika memperlakukan seorang pahlawan besar dengan perlakuan yang semena-mena?

...Akankah dia memaafkan Gordes?

Mengesampingkan hal ini, pikiran Gordes tidak bisa membantu kecuali hanya dengan menganggapnya sebagai ‘seorang Servant’. Faktanya, Saber bukanlah siapa-siapa kecuali seorang tamu yang datang sementara ke dunia ini dibawa oleh Gordes, Masternya.

Dalm waktu yang singkat, ruangan itu hanya dipenuhi oleh ketegangan.

“...”

Setelah beberapa lama, Saber menjawab dengan sebuah anggukan untuk menggantikan kata-kata, pertanda bahwa dia telah menerima perintah Gordes. Ada beberapa kisah yang menceritakan tentang kesetiaan Siegfried dan kecakapannya dalam memimpin prajurit sebagai seorang kapten; tapi di waktu yang bersamaan, dia adalah seorang pahlawan yang menjawab permintaan dan panggilan dari orang lain.

Bahkan jika hal ini karena keterpaksaan, dia tidak akan membantah perintah untuk tidak berbicara. Tidak ada perintah yang akan menjadi beban baginya selama hal itu bisa memenuhi keinginannya.

...Jika, pada saat ini, dia telah menolak hal ini dengan tegas, Gordes mungkin akan memilih untuk menggunakan Mantra Perintahnya, dan takdirnya mungkin saja akan berbeda. Tetapi Siegfried telah memilih untuk patuh sebagai seorang Servant dari kelas Saber―mengingat Gordes mengakui pertukaran ini sebagai seorang Master yang dikatakan menerima Servant atas keinginannya.

Dalam sekejap, kesalahpahaman di antara mereka nantinya akan membawa situasi yang fatal.



Pada waktu yang sama, berbagai Master dan Servant mulai saling berinteraksi dengan yang lain di ruangan raja.

“Aku adalah Mastermu, panggil saja aku Fiore. Senang bertemu denganmu.”

Fiore mengulurkan tangannya, dan secara hormat Archer meraihnya dengan kedua tangan.

“Terima kasih, Fiore. Percayalah, sebagai Servant anda, atas nama Chiron saya tidak akan membuat anda malu.”

“...”

Fiore terdiam, terlihat kebingugan, lalu melihat wajah Chiron.

“Apakah ada masalah?”

“Oh, tidak. Kau benar-benar Chiron, bukan? Aku tahu itu, tapi...”

“Sulit dipercaya?”

Kata Archer tanpa menghilangkan senyumnya. Fiore memberikan sebuah anggukan kecil.

“Sudah saya duga. Secara alami, seharusnya saya tidak terpanggil dalam wujud seorang pria.”

Chiron―seseorang yang bijaksana di antara para Centaurus, dan merupakan seorang guru dari banyak pahlawan besar, dimulai dari Heracles.

Setengah manusia dan setengah kuda. Chiron dilahirkan oleh Cronus, pelindung hasil panen dan bumi, dan Philyra sang Dewi, dia kemudian menjadi seorang roh surgawi. Meski begitu, setelah tertusuk oleh panah yang telah dilumuri racun Hydra, dia mengorbankan keabadiannya untuk menghilangkan kesakitan yang dia rasakan. Hal ini kemudian membuatnya kehilangan kedewaan dan keabadian, dan menjadi sebuah kehidupan yang bisa dipanggil oleh sang Grail.

Tentu saja, tidak akan ada masalah dengan terpanggil sebagai Servant dalam wujud Centaurus...

“...Bagaimanapun, seseorang akan bisa menebak nama asli saya hanya dengan melihat penampilan saya. Saya harap anda tidak akan mundur.”

Bagi siapa pun yang melihat wujud Chiron, mereka pasti akan menebak seorang Centaurus―mengarahkannya pada pahlawan yang lebih terkenal, namanya pasti akan muncul pertama kali, apalagi jika melihat panah yang ada di tangannya. Faktanya, Chiron adalah Roh Pahlawan yang menjadi model Sagittarius, sang Archer yang berada di langit.

Namun, saat dipanggil, Chiron mengambil wujud manusia. Hal ini membuat tingkat paremeter yang dimilikinya menjadi lebih rendah, namun hal ini tidak akan memengaruhi kemampuannya dalam memanah.

“Ya, tentu saja. Aku mengerti.”

Dengan bingung, Fiore mengangguk. Memang benar bahwa, jika mengesampingkan pakaiannya yang kuno, dia terlihat seperti seorang pria sejati tanpa sama sekali membuka identitasnya sebagai seorang guru besar Chiron.

Bagaimanapun, sekarang saat berbicara langsung dengannya, hal itu membuat Fiore harus menggunakan seluruh kekuatannya agar bisa mengimbangi keberadaan Archer. Kehadiran Archer bagaikan sebuah hutan raksasa yang sejuk dengan udara bersih yang menelan kehadirannya yang kecil.

“Tetapi saya rasa terlalu mudah untuk meminta kepercayaan dan keyakinan anda. Saya Servant Archer; lihatlah panah saya di medan perang, maka anda akan menemukan bukti bahwa saya memang sesuai untuk menjadi Servant anda.”

“Ya... aku mengharapkan hal yang hebat, Archer.”

Fiore menundukkan kepalanya, terlihat malu, lalu meninggalkan ruangan itu bersama Archer.

“Kita juga pergi, Berseker. Berubahlah ke dalam bentuk magis, oke?”

...aaah.... uuuuh.....

Dengan sebuah persetujuan yang mirip dengan lenguhan, Berseker berubah menjadi debu dan menghilang.

Caules menghapus keringatnya dan menghembuskan napas lega. Pemanggilan itu cukup melelahkan baginya. Sungguh, seluruh hadiah dari keluarga Forvedge telah diambil oleh kakaknya.

Sayangnya, karena Caules sendiri memiliki ketangkasan yang lemah sebagai seorang Master, Berseker yang dipanggilnya―makhluk buatan manusia, Frankestein―secara relatif merupakan sebuah misteri. Bahkan dengan parameternya yang telah dinaikkan melalui [Mad Enhancement], tidak ada sesuatu yang istimewa darinya. Lagi, nilai sejati darinya adalah dalam hal keunikan bakat bawaan yang dia miliki.

Jujur, Darnic tidak berharap terlalu banyak dari Caules maupun Berseker. Sebagai awal, kelas Berseker tidak menerima perintah ketika pertarungan sudah dimulai. Sudah menjadi takdir mereka untuk mengamuk di medan pertempuran dikarenakan kegilaan mereka, sebelum akhirnya kalah. Dengan penggunaan Mantra Perintah yang baik, Berseker seharusnya bisa membuat kerusakan besar pada medan pertempuran, dan membuat sebuah kemungkinan untuk menyerang beberapa kapten musuh yang sedang kebingungan. Caules hanya perlu mencari waktu yang tepat.

Caules meninggalkan ruangan tersebut, terlihat kelelahan.

“Sekarang, Rider, aku akan mengajakmu berkeliling kastil. Kau sudah tidak sabar, ‘kan?”

Rider yang malu, menggaruk kepalanya.

“Kau tahu, huh? Jadi, baiklah, aku lebih memilih tidak menggunakan wujud magisku...”

“...Baiklah. Aku akan menyiapkan kamar untukmu.”

“Sungguh?! Heh, aku sangat beruntung memiliki Master yang pengertian!”

Rider menari berputar-putar, bersorak dan menggerakkan tangannya ke atas sebagai sebuah perayaan kebahagiaan karena keinginannya sudah terkabul.

Barangkali dia kesulitan dalam hal  kekurangan prana yang dibutuhkan untuk mempertahankan wujud fisiknya secara terus-menerus. Para Master mungkin memang mendapat bantuan dari Holy Grail, namun secara terus-menerus mewujudkan sebuah misteri tetaplah menjadi beban.

Faktanya, ketika membahas tentang hal itu, tidak ada yang salah dengan menjaga Servant tetap dalam wujud magisnya kecuali untuk pertarungan. Tapi hal itu murni dilihat dari sudut pandang para Master. Di antara para Servant, ada juga yang lebih tertarik dengan kehidupan kedua dan lebih memilih untuk tetap bertahan dalam bentuk fisik mereka, dan mengabaikan kesusahan para Master.

Servant Rider, Astolfo seperti seorang manusia yang penuh dengan rasa ingin tahu. Jika Masternya Celenike mengizinkan―dan bahkan jika Celenike tidak mengizinkan―dia akan keluar dari kastil dalam sekejap dan menuruti keinginannya untuk bersenang-senang di jalanan yang ada di sana.

Di antara ke-12 Paladin Charlemagne, Astolfo dikatakan sebagai yang paling tampan, optimis, dan tidak peka. Untuk mengatakan bahwa penampilannya tidak terduga merupakan suatu kekurangan yang besar dalam hal informasi, namun adalah hal yang wajar jika legenda berubah; penampilannya yang menyenangkan masih sesuai dengan selera Masternya, Celenike.

“Ritualnya telah selesai, tuan. Mari kembali ke ruang kerja.”

“...Ya, ayo.”

Roche dan Caster juga meninggalkan ruangan.

Melihat kepergian para Master, Darnic membubarkan para homunculus. Dan ketika mereka sudah sendiri,dia menoleh pada Lancer yang sedang duduk di singgasana.

“Pemanggilan tadi telah membuat jumlahnya enam. Dan Assassin akan segera datang.”

Saber, Archer, Lancer, Rider, Berseker, Caster, Assassin―di Perang Holy Grail sebelumnnya, menjadi sebuah keharusan bagi setiap Servant untuk membuat strategi dan bertarung menggunakan taktik mereka.

Bagaimanapun,situasi telah banyak berubah di perang ini―karena dia tidak hanya mempunyai satu orang Servant, namun tujuh orang Servant.

Segalanya tergantung pada kelas dari setiap Servant. Sekarang, setiap kelas yang memiliki kesulitan besar untuk melewati semua konflik yang ada di Fuyuki―kelas seperti Berseker, Caster dan Assassin―akan bisa melatih potensi mereka yang sebenarnya.

Dalam sekejap, Caster yang dipanngil oleh Roche sudah berada dalam proses pembuatan seribu golem. Dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan ukuran, mereka sudah menunggu waktu untuk bertempur.

Walaupun mereka tidak sepadan dengan seorang Servant, mereka cukup bernilai sebagai batu sandungan―dan melawan Servant yang tidak sesuai dengan petarung tingkat rendah seperti Caster dan Assassin, mereka mungkin memiliki kesempatan untuk mengalahkan seorang raksasa.

“...Apa kau tahu apa yang aku rasakan sekarang, Darnic?”

Hal itu merupakan fakta yang sederhana sepanjang hari ini. Lancer menunjukkan sedikit senyum senang di wajahnya, namun Darnic malah mengajukan pertanyaan yang sama.

“Raja, bagi penyihir rendah seperti saya, tidak ada pertimbangan yang mengizinkan saya untuk membayangkan sesuatu yang sama dengan sang Drakula hebat.”

Ketika dia mengatakan ini, Lancer yang terlihat jengkel menatapnya dengan tajam.

“Menjilat secara berlebihan hanya akan menunjukkan kerendahanmu, Darnic. Kau mungkin memanggilku sebagai Raja, tapi aku memanggilmu Master sebagai balasan. Aku tidak akan menyangkal bahwa aku bukanlah siapa-siapa kecuali Servantmu.”

“...Ya, Raja.”

Darnic memcaci dirinya sendiri dalam hati karena telah melakukan sesuatu yang berlebihan. Meskipun demikian, Lancer... yaitu, Vlad III, sudah pernah berkuasa di tanah ini sekali. Namun meski dihapus dari dunia sihir―bahkan jika dia mampu dengan pasif melakukan sesuatu yang melawan etika―Darnic harus tetap memberikan rasa hormatnya pada sosok seperti itu.

Tentu saja, ada sebuah pemisah mutlak yang dibuat oleh Mantra Perintah. Kau bisa mengatakan bahwa hal ini merupakan kesetiaan yang hanya datang dari fakta bahwa mereka terikat selama waktu yang telah ditentukan.

“Aku menghabiskan setengah hidupku untuk mempertahankan bangsa ini dari Turki, Darnic. Aku memimpin sebaik yang aku bisa, tapi tetap saja ada kalanya aku memiliki kekurangan.”

“Maksud Anda?”

Orang-orang, Darnic. Aku tidak memiliki kapten-kapten hebat yang dapat kuandalkan untuk memimpin prajuritku. Aku telah memberikan semuanya agar memperoleh kemenangan di medan perang, tapi itu tidak berarti aku bisa menyempurnakannya sedikit lagi. Tetapi jangan salah menganggap ini sebagai pengakuan ketidakcakapanku. Aku hanya...”

“...tidak memiliki waktu dan orang yang cukup.”

Lancer mengangguk mendengar perkataan Darnic.

“Akhirnya, aku memiliki mereka: enam orang Roh Pahlawan yang tak tergantikan, dan khususnya bagi Saber... aku tidak dapat memikirkan ada prajurit yang lebih sempurna dibandingkan Siegfried!”

Ya... selain Gordes, hanya Darnic dan Lancer yang tahu Roh Pahlawan seperti apa Servant Saber itu. Katalisator milik Gordes adalah daun linden bernoda darah. Kelihatannya, dia mendapatkan itu dari teman baik lamanya, Einzbern, tetapi bisa memperoleh pusaka suci seperti itu tentu saja bukanlah keberuntungan yang biasa.

“Dan tidak hanya Saber―ada juga Archer, sang guru besar Chiron dari Yunani kuno; Rider, Astolfo dari Dua Belas Paladin Charlemagne; Berseker, ciptaan gila dari Dokter Frankestein; dan Caster Avicebron. Seorang yang eksentrik, aku yakin, pasukan golem yang diciptakannya tidak tertandingi dalam perang.”

“Mereka semua ada di bawah perintah Anda, Raja. Mereka semua, Anda-lah yang memimpin.”

“...Ya, hal itu membuat semuanya makin disesalkan. Jika ada orang-orang seperti mereka di sisiku, aku tidak akan terpenjara di benteng itu.”

Pada tahun 1462, Raja Matthias dari Hungaria menangkap Vlad di tempat di mana dia menjadi kaki-tangan Turki, dan dia mengurung Vlad selama dua belas tahun.

Semua yang telah dia lakukan untuk mempertahankan negaranya telah dirusak, dan sebelum dia menyadarinya, legenda yang ditinggalkannya meupakan sesuatu yang memalukan, yaitu sang iblis yang berlumur darah.

“Tetapi sekarang, masa lalu bagaikan sebuah mimpi yang sangat jauh. Yang harus kupikirkan sekarang adalah masa depan―namaku yang menyedihkan telah tercoreng oleh darah.”

“Anda tidak perlu khawatir, Raja. Saat ketujuh Servant telah dikalahkan, maka alat pengabul keinginan yang mahakuasa, Greater Grail, telah diaktifkan dan pasti dapat mengabulkan keinginan Anda.”

Perbaikan pada kehormatan namanya, itulah keinginan dari Servant Lancer, Vlad III―yaitu untuk mencuci bersih noda dari ‘Pangeran Drakula’ yang telah menyebar ke seluruh dunia.

 Dia tidak menyangkal jalan yang telah dilaluinya. Perangnya melawan Turki dan ketidakberuntungannya dipenjara merupakan bagian dari hidup yang telah digariskan untuknya. Walau begitu, dia tidak bisa menerima namanya diseret dalam lumpur yang sama sekali tidak mencerminkan dirinya.

Di antara semua Servant, hanya Lancer-lah yang memiliki semangat dan taruhan seperti itu dalam Perang Holy Grail. Kegigihannya masih menjadi alasan lain mengapa Darnic menyukainya.

“Jadi, hanya Servant Assassin yang tersisa. Dia telah dipanggil di negara kecil yang jauh di Timur, ‘kan?”

“Ya, Raja. Seharusnya dia dipanggil di London, tapi itu adalah wilayah musuh kita. Itulah mengapa kami memanggil Roh Pahlawan tersebut di tempat yang memiliki garis sihir yang cocok dengannya.”

“Dan siapa nama dari roh ini?”

Jack the Ripper―pembunuh berantai yang telah menggegerkan Inggris seratus tahun yang lalu.”
***

Bucharest, Roma

Ibu kota Roma, Bucharest, dikenal sebagai ‘Little Paris’ pada awal abad ke-20. Namun, dikarenakan pengeboman yang terjadi pada saat Perang Dunia Dua, dua gempa bumi, juga perkembangan megalomania kota dari sang diktator Nicolae Ceauşescu,  banyak bangunan yang indah pada masa itu hancur. Jika kau berkendara sepanjang Calei Victoriei, melewati kota dari selatan ke utara, kau dapat melihat banyak gereja tua dan bangunan bersejarah dari kota lama.

Namun, itu bukanlah satu-satunya luka yang membekas di kota ini dikarenakan rezim Ceauşescu.

“...Nampaknya mereka memanggil mereka sebagai ‘anak-anak Ceauşescu’.”

Seseorang bergumam dengan jelas dan menggunakan nada yang tak manusiawi; gumaman itu berasal dari seorang wanita mempesona yang mungkin bisa membuat seorang pria gila hanya dengan sebuah ekspresi sayu yang dimilikinya. Namun, tidak ada siapa pun di samping wanita itu yang mampu mendengar suaranya.

Para pejalan kaki melihatnya hati-hati saat dia berbisik ke udara. Terlihat para remaja yang ingin memanggilnya, tapi, mungkin karena melihat suatu kegilaan di matanya, mereka mengurungkan niatnya dan menyerah dengan cepat.

“Ya. Itu benar. Hal ini sangat mengerikan... bagiku, hal ini tidak mengsasilkan apa pun. Aku hanya menjadi seperti itu bahkan sebelum aku menyadarinya.”

Seperti sedang berbicara dengan orang lain, wanita itu melanjutkan percakapan satu arahnya.

‘Anak-anak Ceauşescu’ merupakan bagian warisan yang merusak dari rezim itu. Dulu, Roma menghukum adanya kontrasepsi dan aborsi, dan berusaha untuk memaksa semua keluarga agar minimal memiliki lima orang anak. Anak-anak yang tidak bisa dirawat oleh siapa pun ini akhirnya menjadi anak jalanan, dan malah tergelincir masuk ke dunia kejahatan dan penjualan manusia. Pemerintahan diktator mungkin saja telah berakhir saat revolusi, tapi kehidupan yang telah dilahirkan tidak dapat dikembalikan. Karena adanya organisasi-organisasi kriminal dan kekuasaan orang-orang, kehidupan mereka yang kecil berubah menjadi debu dan berserakan. Mereka yang selamat adalah orang-orang yang telah berubah dari seorang mangsa menjadi predator, bahkan sebelum mereka menyadarinya.

Wanita itu berkeliling melewati Bucharest di malam hari saat dia lanjut berbicara dengan rekan yang hanya bisa dilihatnya. Seorang wanita muda berjalan sendirian―seperti sebuah magnet untuk masalah.

Sudah ada dua pria muda yang mengikutinya. Menunggu adanya tempat yang sepi dan tidak ada siapa pun yang bisa melihat, dengan segera mereka menutup jarak yang ada.

Wanita itu, dengan langkah-langkahnya yang tipis dan gugup, secara serampangan masuk ke sebuah gang yang diapit oleh gedung di kedua sisinya. Pria-pria itu tidak akan merasa puas hanya dengan merampok tasnya. Tidak ada orang yang akan mengetahui hilangnya seorang turis; uangnya, tubuhnya, seluruh hidupnya―mereka akan menghabiskan apa pun yang wanita itu miliki. Memikirkan hal ini, mereka menggapai bahu wanita itu.

...Tidak akan ada orang yang menyadari sebuah teriakan di sini.

Itulah yang para pria itu pikirkan... tapi mereka tidak pernah membayangkan jika wanita itu juga memikirkan hal yang sama.

Wanita itu hanya butuh salah satu dari mereka hidup. Yang lainnya tidak diperlukan. Dan bagi yang telah terpilih... hari ini merupakan hari keberuntungannya.

“Huh?” salah satu dari kedua pria itu mengatakan sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu. Karena beberapa alasan, tangannya tidak dapat menggapai wanita itu. Dia membeku ketakutan saat itu juga, berpikir bahwa dia baru saja mencoba menyentuh seorang hantu. Tapi darah dan rasa sakit yang tiba-tiba muncul di bagian dalam pergelangan tangannya, akhirnya membuat pria itu mengerti apa yang terjadi.

Oh... tanganku terpotong.

Pria itu kebingungan kenapa... tapi akhirnya dia menyadari sebuah kebenaran yang kejam.

Aaaerrrgh?!

Segera setelah berteriak, dia dipenuhi oleh rasa sakit yang amat sangat. Waktu sekaratnya memang telah mendekat, tapi indranya berubah menjadi lebih tajam―karena benda-benda yang tidak akan pernah bisa meninggalkan tubuhnya tiba-tiba tergelincir keluar dari perutnya yang terpotong.

Terdengar sebuah tangisan dari sebuah suara yang menawan. Sungguh, dia benar-benar sangat beruntung; dalam sekejap pria yang selamat itu sekarat karena kepalanya dipenggal, karena hal itu akan menjadi takdir yang cukup berharga untuk ditukar dengan apa pun yang pernah dia inginkan dalam hidup.

“...Ap-?”

Pria yang tidak terpilih berdiri di sana dengan bodoh. Secepat rekannya mencoba menggapai wanita itu, lengannya terpotong, perutnya tersayat dan kepalanya terpenggal. Dia tidak bisa memahami semua ini. Hal ini terlalu tidak masuk akal. Seluruh pikirannya berhenti.

“Oh...”

Setelah sejenak, dia menyadarinya―bahwa mereka bukanlah apa-apa kecuali serangga yang masuk ke dalam cahaya. Dan merupakan hal yang wajar jika semua serangga itu akan dibinasakan.

Dia merasakan sebuah sensasi yang dingin di pergelangan kakinya. Tapi sebelum mengetahui apa itu, laki-laki tersebut segera berbalik dan lari dari si wanita. Tidak... dia mencoba untuk lari.

Secepat dia berbalik, kaki seseorang membuatnya tersandung.  Ketika dia mencoba untuk bangkit, seseorang itu dengan cepat menahannya.

Dia bukanlah si wanita. Perempuan itu melihat si pria sekosong biasanya. Jadi siapa yang telah menahannya hanya dengan satu tangan?

“Apa yang akan kita lakukan padanya, Ibu (Master)?”

...pria itu tak dapat berkata apa-apa.

Seseorang yang berbicara dengan suara yang tenang, dan seseorang yang menahan pria itu adalah seorang anak kecil. Merasa lega, pria itu mengumpulkan seluruh kekuatan yang dimilikinya dan menarik lengan si anak seperti akan melemparnya.

Tapi lengan anak itu tidak bergeser satu inchi pun. Pria itu menggenggam lengan si anak dengan kuat menggunakan segala yang dia bisa. Namun, seperti sebalok baja, lengan anak itu tidak kalah.

Pria itu melayangkan tinjunya. Sensasi halus yang dirasakannya ketika pertama kali menyentuh anak tersebut membuatnya tahu kalau lengan itu bukanlah lengan palsu. Lalu, kenapa? Apakah mungkin sebuah tinju yang menggunakan seluruh kekuatannya tidak mampu menggerakkan lengan kecil si anak bahkan satu milimeter pun?

Sebuah pekikan menyedihkan keluar dari mulutnya. Dia mengambil pisau yang ada dalam sakunya dan menusuk lengan si anak. Tanpa memedulikan perbuatan bodoh yang dilakukannya, pria itu menikam lengan si anak lagi dan lagi, hanya untuk mencoba kabur dari pemandangan yang tidak masuk akal ini.

Dia menusuk, menusuk, dan menusuk. Jadi, kenapa... kenapa, kenapa aku tidak bisa melukainya?

“Ya ampun... apa itu tidak sakit?”

Anak itu menoleh ketika mendengar pertanyaan si wanita. Tidak ada yang memerhatikan si pria yang terus menusuk menggunakan pisaunya.

“Kami baik-baik saja. Kami adalah Servant. Hal seperti ini tidak menyakiti kami. Bagi kami, hal ini hanyalah seperti duri kecil.”

“Oh, baiklah, maka kau boleh memotongnya sedikit. Tapi tidak di tenggorokannya karena dia masih harus bicara.”

“Baik, Ibu.”

Anak itu mengangguk dengan pisau dalam genggaman. Untuk menghentikan duri yang menjengkelkan, dia memotong urat yang ada di pergelangan tangan si pria, dan menodai area yang berada di sekitar dada, leher, paha dan wajah si pria dengan darah―tapi tidak dalam tingkatan yang dapat membunuh pria itu, seperti yang diperintahkan Masternya.

“Bagus. Sekarang, tunggulah sebentar.”

Menghentikan si anak yang terus mengayunkan pisaunya dengan seksama, wanita itu memanggil pria tersebut.

“Hei.. kau punya banyak teman, ‘kan? Di mana mereka? Apakah kau tidak keberatan jika memberitahu kami nama bangunan dan letak jalannya?”

Pria itu telah kehilangan semangat untuk melawan. Ketika wanita tersebut mengajukan pertanyaan, kejujuranlah yang keluar dari mulutnya. Segalanya sudah cukup baginya. Dia akan melakukan apa pun. Jika wanita itu ingin dia menjilat sepatunya, maka dia akan melakukannya tanpa membantah.

Saat mendengar pengakuan si pria, wanita itu menandai tempat yang dikatakan oleh si pria di dalam peta. Sempurna, gumam si wanita ketika dia menepuk pundak si anak.

“Jack? Kau bisa memakannya sekarang.

Memakan...nya?

Tidak mengerti perkataan ini, si pria ingin bertanya. Anak yang dipanggil Jack menatap wajahnya... dan dia berteriak, tidak dapat menahan rasanya. Menggunakan matanya yang tanpa emosi, Jack mengeluarkan jantung si pria.

Dibandingkan dengan rasa sakitnya, pria itu tidak memercayai kecepatan dari tindakan itu. Ini bukanlah apa-apa baginya―seperti sedang memetik sebuah bunga. Seperti sedang menginjak seekor semut.

Jack menelan jantung si pria. Dan begitulah pria itu mati dalam penderitaan, terbungkus dalam keputus-asaan tentang pengetahuan bagaimana nyawa seseorang dapat diambil dengan mudah.

“Hei, Ibu? Apa yang akan kita lakukan sekarang?”

“laki-laki itu baru saja memberitahu kita dimana temannya, ‘kan? Kenapa kita tidak pergi ke sana?”

“Apakah kami bisa makan banyak?”

“Aku rasa begitu, Jack.”

Wanita itu, Rikudou Reika, menggelengkan kepalanya ketika melihat Jack yang dengan polos merasa senang, menenangkannya. Jack menerimanya dengan memejamkan mata; tidak ada jejak dari monster yang telah membedah tubuh manusia dan mengeluarkan jantungnya.

“Sekarang, ayo pergi.”

“Baik, dadah.”

Jack melambaikan tangannya pada kedua mayat yang ada. Mereka ditemukan keesokan harinya, dan juga diketahui bahwa teman-teman mereka ditemukan terbantai di bar di mana mereka sering datang. Polisi mencurigai bahwa hal ini merupakan perkelahian antar kelompok kriminal, tapi di sana ada satu catatan yang misterius: setiap jantung dari kelimabelas mayat itu telah dikeluarkan.

Mengetahui hal ini, sebuah koran menulis artikel hiburan tentang ‘Kembalinya Jack the Ripper?’. Namun, hal yang tidak diketahui oleh polisi atau media adalah, bahwa beberapa hari yang lalu, kejadian yang sangat mirip juga terjadi di Jepang.

Fate/Apocrypha Jilid 1 Bab 1 Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.