09 Agustus 2015

Date a Live Jilid 8 Bab 3 Bahasa Indonesia



PAGI JAM 12

Bagian 1
Hari selanjutnya, 22 Oktober jam 10:57am.

Shidou melihat ke jam yang ada di layar teleponnya, selagi berdiri di depan pintu rumah Itsuka.

Matahari musim gugur terasa baik, tapi terasa tidak enak jika memakai lengan pendek. Terkadang angin akan menggoyangkan daun merah di pohon dan menyentuh pipi Shidou sebelum kembali ke langit.

“Shidou!”

Dan di saat jam menunjuk jam 11, dia bisa mendengar suara datang dari mansion di sebelah rumah Itsuka. Saat dia melihatnya, dia melihat Tohka mengenakan pakaian musim gugur berlari ke arahnya dan dengan polos mengayunkan tangannya. Dia langsung mengangkat tangannya sebagai respon.

“Maaf, apa aku membuatmu menunggu?”

“Tidak, kau tepat waktu. Harusnya aku yang minta maaf, memanggilmu tiba-tiba.”

“Jangan khawatir! Lebih penting, kemana kita akan belanja hari ini!?”

Tohka memiringkan kepalanya dan bertanya dengan mata yang berkilauan.

Ya. Kemarin malam, Shidou memberitahu Tohka dia ingin Tohka ikut dengannya berbelanja.

“Aah------sebentar, kita ke stasiun dulu sekarang.”

“Umu!”

Tohka mengangguk penuh semangat. Bagaimana mengatakannya, sepertinya dia sangat senang bisa pergi dengan Shidou hingga tak tertolong lagi. Berbagai emosi seperti kebahagiaan, kemaluan, keenakan, dan lainnya bercampur dan Shidou menggaruk kepalanya dan tersenyum kecut.

“......Shin, jangan lupa tujuan kita hari ini.”

Dari suara Reine yang bergetar di telinga kanannya, Shidou menaikkan bahunya.

“.........Y-ya.”

Shidou membalas dengan suara lembut dan menoleh ke sebagian wajah Tohka selagi berjalan di sampingnya.

Wajah Tohka seperti biasanya. Tak ada yang aneh sama sekali.

---Tapi, mungkin.

“.............”

Shidou menelan ludahnya.

Sosok [Shidou yang lain] yang muncul di sekolah beberapa hari yang lalu terlintas di benaknya.

Ya. Tohka ini, mungkin tipuan Natsumi.

Shidou diam-diam melihat wajah Tohka selagi mengingat percakapannya dengan Kotori kemarin.

“-----------[Aku salah satu dari mereka. Bisakah kau tebak yang mana diriku?]...............

Hanya sehari sebelum Shidou pergi belanja dengan Tohka. Dia bersama Kotori melihat foto yang ada di dalam amplop bersama sementara kesulitan dan bergumam.

“A-Apa maksudnya.........ini?”

“.............Jika kita artikan secara harifah.”

Yang menjawab suara Shidou bukan Kotori tapi Reine. Saat ini, dia sedang dipanggil Kotori lewat Fraxinus.

Reine membariskan 12 poto di meja.

“................Natsumi akan menyamar menjadi seseorang diantara 12 orang.........Mungkin itu masalahnya.”

“.............uh”

Dia tersentak karena perkataaan Reine. Tapi............. Shidou juga mengira itu masalahnya.

Kemampuan Natsumi yang dia lihat beberapa hari yang lalu. Kekuatan Angel yang membuat penampilan Shidou dengan sedikit perbedaan. Jika dia menggunakannya, mungkin untuknya menyamar persis seperti orang lain.

“Dan, ini artinya dia mencoba memberitahuku untuk mengira dia menyamar menjadi siapa.....huh”

“Itu masalahnya......... Bagian terakhir [Sebelum semuanya menghilang] menarik sedikit perhatianku.”

Kotori melipat kedua tangannya selagi mengatakannya. Shidou menelan ludahnya.

“Ini........ Batasan waktunya, kan?”

“Itu mungkin......... Masalahnya. Sejujurnya, informasinya terlalu sedikit untuk membuat keputusan.”

“...........Lagipula, kita harus bergerak secepat mungkin.”

Reine melihat foto itu selagi mengangguk sebelum menaruh tangan di mulutnya.

“Walau kau bilang bergerak, apa yang akan kita lakukan?”

“Sebentar....... Pertama Ratatoskr, akan mencoba menaruh observasi Reiha pada semua orang yang ada di foto. Lawannya adalah roh dengan kekuatan penuhnya. Hal ini akan cepat jika kita menemukan walau Reiryoku sedikit bocor.”

“Begitu..........”

“........Namun,”

Dan, Reine membuka mulutnya untuk melanjutkan perkataan Kotori.

“..............Lebih baik untuk berpikir kemungkinan observasi reihanya sangat kecil. Jadi, di saat yang bersamaan, Shin, kita mungkin akan membuatmu bergerak.”

“Ya........ Jadi apa yang harus kita lakukan?”

Shidou menggenggam tinjunya selagi mengangguk. Walau penyebabnya masih tidak diketahui, berpikir kembali, ini semua dimulai saat Shidou merusak mood Natsumi saat pertemuan pertama. Juga, dia menyeret semua orang ke sini. Dia tidak bisa tetap diam dan melihat situasi.

Tapi..

“......Itu benar. Untuk saat ini, pilih siapa yang ingin kencan denganmu.”

“.......Huh?”

Dari suara Reine, Shidou mengeluarkan suara bodoh.

“Ken.......can? A-Apa maksudnya?”

Saat Shidou bertanya kedua alisnya terangkat, Kotori menjawab dengan tidak peduli kali ini.

“Ini maksudnya. Mulai besok, Shidou akan berkencan dengan semua 12 orang yang ada di foto satu persatu. Dan-----kau akan periksa jika kau menyadari ada yang sesuatu yang aneh dengan teman kencanmu.”

“.......! Aku mengerti!”

Tidak peduli jika Natsumi punya kemampuan berubah, dan walau dia bisa meniru suara dan penampilan, jika mereka saling berbicara, dia mungkin bisa menyadari ada sesuatu yang berbeda dari biasanya.

Namun, bukan berarti ada yang salah.

“.....tapi, semua yang ada di foto......kan”

Saat Shidou bertanya denga keringat yang bercucuran, Reine [.....aahhh] membalas.

“..........Tentu saja, bukan berarti kita menyelesaikan semuanya dalam satu hari. Walau kita sedang terburu-buru-------batas untuk satu hari mungkin 3 sampai 4 orang.”

“Tidak, bukan itu masalahnya..........walau jika Tohka dan yang lain tidak apa, Yamabuki, Hazakura, Fujibakama, Tama-chan-sensei dan........bahkan Tonomachi, aku harus mengajak mereka kencan juga, kan?”

Dari perkataan Shidou, Kotori mengangkat bahunya seperti dia akan menyerah.

“Haaa........sekarang bukan waktunya mengatakan itu benar. Mungkin saja, Shidou memikirkan hal seperti itu, mungkin itu yang Natsumi inginkan.”

Diberitahu Kotori dengan nada marah, Shidou [Uuu......] bimbang.

“............Be-benar.”

Setelah Shidou mengatakannya, Reine mengangguk.

“.........Tentu saja, kita akan memberikan bantuan sebanyak yang kita bisa. Walau kita akan di jarak di mana Natsumi tidak melihat.........pada akhirnya.”

“Ya..........kalau begitu, aku akan mengandalkanmu dengan bantuannya, Kotori.”

Tapi, Kotori mengerutkan alisnya.

Saat Shidou memutar kepalanya dari reaksi Kotori, Reine meninggikan suaranya.

“....................Ya, maaf tapi, Kotori tidak bisa bergabung saat ini.”

“Eh? Begitukah?”

“Yah itu memang benar.............bahkan aku salah satu tersangka.”

Kotori *fuun* menghembuskan nafas setelah mengatakannya. Shidou [Ah] membuka lebar matanya.

“.............jadi begitu. Aku yang berada di posisi bantuan. Aku minta maaf pada Kotori tapi, sampai kita bisa tahu yang mana Natsumi, Kotori tidak bisa masuk ke Fraxinus.”

“Ya. Ini penting. Tidak ada pilihan lain.”

Kotori mengangkat bahunya tidak seperti biasanya. Selama ini foto Kotori ada di amplop yang dikirim Natsumi.

Memang masuk akal. Sekarang masih belum ada apapun dari percakapan Kotori, tapi selama masih ada 0,1 persen kemungkinan dia mungkin Natsumi, dia tidak bisa masuk ke Fraxinus yang merupakan figur utama Ratatoskr. Sesuatu seperti Roh yang memiliki rasa benci tiba-tiba muncul, hanya memikirkannya saja sudah menakutkan. Berpikir seperti itu, memang seharusnya menyerahkan bagian pendukung pada Reine yang bukan tersangka.

“Tapi...........Aku penasaran kenapa Reine-san tidak termasuk. Bahkan Tama-chan-sensei dan Yamabuki beserta kelompoknya termasuk.”

“...........Hnn, ini memang hanya perkiraan, tapi aku tidak ada di sekitar Natsumi saat dia sedang meilih tersangka. Akhir-akhir ini, aku menyendiri di Fraxinus menyelidiki dan menganalisis Natsumi.”

“Aah........begitu.”

“...............yah sebenarnya, ada kemungkinan aku tidak cocok dengan ketajaman Natsumi.”

Reine mengatakannya selagi mengangkat bahunya dan mengejek diri sendiri. Itu adalah lelucon yang entah bagaimana harus direspon. Shidou tersenyum kecut.

Kotori terbatuk untuk kembali berbicara.

“Bagaimanapun. Pada akhirnya kondisi kemenangan kita, membuat Natsumi jatuh cinta dan menyegel Reiryoku-nya. Tolong perhatikan baik-baik.”

Di tengah perkataannya. Wajah Kotori terlihat kesal dan

“----jika kita merusak mood Natsumi lebih dari ini, daripada menyegel Natsumi, kita mungkin dalam bahaya dengan dia mempunyai sandera.”

“............!?”

Dari perkataan Kotori, Shidou merasa hatinya tertekan.

“Tu-Tunggu dulu. Kenapa sandera?”

“............ Coba pikir. Natsumi menuyuruhmu untuk coba mencarinya diantara orang-orang ini.-------jika ada 2 orang dengan wajah yang sama, maka pilihannya akan menjadi setengah.”

“......! Itu.......”

Wajah Shidou penuh dengan rasa takut.

Memang apa yang dia katakan itu benar. Bahkan saat Natsumi menyamar menjadi Shidou, hanya saat dia ada di sebelah Shidou yang asli baru Tohka dan Origami bisa melihat mana yang asli.

Jika itu Natsumi yang sudah mendapatkan pengalaman menyakitkan, dia mungkin tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Lalu apa yang akan dia lakukan? Jawabannya mudah.

“..........dia akan menahan orang yang akan gunakan di tempat lain.”

“Itu mungkin benar.”

Saat Shidou mengatakannya dengan rasa sakit, wajah Kotori muram selagi mengangguk.

“Tidak ada penundaan. Kita akan menyelidiki 12 orang dalam 3 hari yang berbeda, dan menemukan Natsumi apapun yang terjadi.”

“Aah.........Aku pasti akan menemukannya.”

Shidou kembali memegang tinjunya dan memiringkan kepalanya dengan semangat.

----Dan, saat ini.

Shidou berjalan disamping Tohka selagi memeriksa perilakunya.

“Nu? Ada apa Shidou?”

“Tidak, tidak apa-apa.............”

Shidou tiba-tiba bertatap mata dengan Tohka dan menghindarinya dengan tidak wajar. Selagi menggaruk pipinya, dia mempercepat jalannya sedikit. Mulai dari wajah, tubuh, suara, dan gerakan memiringkan kepalanya, gesture yang terlihat seperti hewan kecil, semua memang milik Tohka di dalam ingatan Shidou. Bahkan, dia tidak terlihat palsu.

Tapi, kesempurnaan itu terlihat mencurigakan, dan kepala Shidou sedang kacau.

Dan, mungkin menebak kebingungan Shidou, suara Reine dapat didengar dari Incam. “...............tenang. Walau Natsumi menyamar sebagai Tohka, dia mungkin tidak akan membuat kesalahan jika kau bertindak normal. Mungkin lebih baik jika kau membelokkannya sedikit.”

“Membelokkannya......maksudmu..”

Setelah Shidou membalasnya dengan lembut, dia menenggelamkan diri dalam pikirannya dan-------sekali lagi menatap ke arah Tohka.

“He-hei Tohka. Sudah berapa lama sejak kita jalan berdua seperti ini?”

“Mu? Kenapa tiba-tiba?”

Tohka menatapnya dengan kebingungan. Shidou mengayunkan tangan untuk mengelabuinya.

“Tidak, entah kenapa. Aku pikir, kita pergi keluar tidak hanya berdua seperti ini.”

“Mu..........begitu? Aku merasa kita pergi berbelanja hanya beberapa hari yang lalu.....”

“Aah, benarkah?”

Selagi mengatakannya, Shidou *fuumu* menggerutu dalam pikirannya. Hari disaat Shidou dan Tohka bertemu Natsumi, mereka juga berbelanja hari itu. Sepertinya dia mengingatnya dengan baik.

Bertanya-tanya kenapa Shidou terdiam, Tohka cepat-cepat mengatakan sesuatu.

“Jadi begitu, aku pikir tak peduli berapa kali kita jalan berdua. Umu, hari ini aku sangat bahagia dan mendapatkan banyak kesenangan.”

Setelah mengatakannya, dia tersenyum. Melihat ekspresi lucunya, wajah Shidou langsung memerah.

Tapi, sekarang bukan waktunya untuk memikirkan itu. Shidou menggerakkan bibirnya dan tersenyum tak kenal takut. Dan, setelah menelan ludah, dia membuka mulutnya.

“Benar, luar biasa. Memang sangat mirip Tohka.----kan, Natsumi.”

“..............!”

Saat Shidou memanggilnya, Tohka menggerakkan pundaknya dan menghentikan kakinya di tempat itu.

Bukan berarti dia punya bukti positif, dia hanya asal berkomentar untuk mengelabuinya. Sebenarnya, walau Tohka adalah penyamaran Natsumi, dia berpikir mungkin dia tidak akan bereaksi apapun.

Namun, dari reaksi Tohka, tidak mungkin-------

Saat tubuh Shidou kaku karena gugup, Tohka perlahan melihat ke arah Shidou dengan tatapan. Pandangan yang dipenuhi rasa kebencian membuat dia berpikir itu bukan Tohka yang biasanya.

Shidou menaruh kekuatan pada tinjunya.

“Jangan bilang, itu benar kau........?”

Tapi,

“........Shidou. Siapa perempuan yang kau panggil Natsumi? Barusan, siapa yang kau panggil?”

“Heh?”

Tohka bertanya dalam mood yang jelek, dan Shidou merasakan kekuatannya hilang dari tinjunya.

Daripada salting karena identitasnya ketahuan, perilaku Tohka benar-benar terlihat dia dalam mood yang jelek.

“..........Shin. Saat ini kau sedang berkencan. Jika kau salah memanggil nama perempuan dengan nama orang lain, aku pikir memang seharusnya dia dalam mood yang jelek.”

“Ah............i-itu memang............benar.”

Setelah Shidou mengomel sembari membiarkan keringatnya jatuh ke pipinya, dia mengulurkan tangannya untuk menenangkan Tohka yang memandangnya dengan keraguan.

“Ma-maaf, maaf. Hoora, itukah, kau pernah dengar [Natsu-mi]? Aslinya adalah salam di Dominika dan sedang populer akhir-akhir ini.........”

“Begitu..........?”

Sebenarnya itu hanya asal. Shidou mengangguk sembari meminta maaf pada orang-orang Dominika dalam hatinya.

“Fumu, apa artinya itu?”

“E-errrr.........sesuatu seperti, aku mencintaimu..........”

“Muu.............”

Saat Shidou menjawab dengan asal, pipi Shidou langsung memerah.

“Mu.....begitu. Fufu........”

Setelah mengatakannya, pipinya kembali normal. Sepertinya dia sudah lepas dari keadaan bahaya. Shidou pun menghela nafas.

Tapi saat itu, Tohka menyadari sesuatu lagi dan mengangkat bahunya.

“Lalu, sebelum itu, apa maksud dari [Memang sangat mirip Tohka]?”

“Eh? Ah, errr, itu............”
Tidak dapat memikirkan alasan, dia menjadi bingung. Dia merasa wajah Tohka semakin bimbang.

“............Ini buruk. Semuanya akan sia-sia jika Tohka moodnya sedang jelek. Bisakah kau lakukan sesuatu untuk mengembalikannya?”

“Kau bilang begitu tapi..........tidak akan mudah........”

Alis Shidou membentuk kanji selagi melihat sekeliling-------dan [ah] mengeluarkan suara lembut.

“He-hey, Tohka. Ini belum siang, kan? Memang terlalu cepat, tapi bisakah kita pergi makan?”

Setelah mengatakannya, dia menunjuk ke arah restoran di seberang. Di sana ada poster yang mengatakan [Waktu Makan Siang Makan Semua sedang berlangsung!] di bawah papan nama toko itu.

“Nu? Makan siang huh. Yah........aku tidak keberatan.”

Tohka mengatakannya dengan wajah galak. Biasanya, matanya akan bersinar dan suaranya akan terpental tapi....... Yah, apa boleh buat.

Shidou membawa Tohka yang wajahnya tidak senang dengannya selagi masuk ke restoran.

Walaupun agak ramai karena sedang jam makan siang, tapi untungnya mereka berhasil mendapatkan tempat tanpa menunggu. Dia menaruh tasnya ke keranjang yang ada di bawah mejanya, dan melihat ke arah Tohka yang duduk berlawanan yang sedang membersihkan tangannya dengan tisu basah.

“Oke, Tohka. Sepertinya ini gaya makan apapun. Pergilah dan ambil makanan duluan.”

“Mu...............”

Tohka tersenyum lebar karena perkataan Shidou------namun, dia mengayunkan tangannya seperti dia mengingat sesuatu.

“Aku tidak apa. Shidou kau saja duluan.”

“Eh? Kenapa lagi?”

“Tidak apa. Ya sudah, pergilah cepat.”

“O-ou..............”
Didesak oleh Tohka yang keras kepala, Shidou pun langsung berdiri dari kursinya.

“Apa yang terjadi pada Tohka?”

“..........Aku tidak tahu. Tapi, mungkin lebih aman jika kau menuruti kemauannya.”

Reine mengatakannya. Shidou [Itu benar] menjawab pendek sebelum berjalan ke pojok dengan bermacam makanan berbaris.

Dia lalu mengambil piring dan mengambil beberapa makanan sebelum kembali ke kursinya.

Meski begitu, mungkin karena gugup untuk menemukan Natsumi, dia tidak terlalu berselera untuk makan. Yang Shidou bawa kembali hanyalah salad dalam porsi sedikit dan beberapa potong ayam bakar.

“Oke, Tohka pergi dan ambil milikmu.”

“..................mu”

Saat Shidou mengatakannya, Tohka melihat makanan yang Shidou ambil sebelum berdiri dari kursinya.

Dia sedikit memiringkan kepalanya selagi membiarkan Tohka pergi. Dia berpikir dia masih memikirkan tentang hal itu tapi..........sesuatu terasa tidak benar. Apa yang terjadi sampai membuat wajah Tohka seperti itu saat akan makan.

Saat dia memikirkan hal itu, Tohka kembali lebih cepat dari yang dia duga. Dia meletakkan makanannya di meja dan duduk di kursinya.

“Baiklah, ayo makan.”

“Aah, benar........tunggu.”

Setelah ditarik, sekitar saat dia dengan Tohka saat dia menggabungkan kedua tangannya untuk berdoa [Itadakimasu], Shidou mengangkat alisnya.

Alasannya mudah. Makanan yang dibawa Tohka benar-benar sedikit. Dan bahkan lebih sedikit dari Shidou yang tidak berselera makan.

“Tohka.............? Kau, itu cukup?”

“Nu..............umu, ini cukup. Perutku akan kenyang dengan ini.”

“.............!?”

Dari perkataannya, Shidou membuka lebar matanya dengan ketakutan.

---Tidak mungkin. Makanan yang di depan Tohka sangatlah sedikit. Kecuali dia adalah gadis SMA dengan selera makan yang sedikit, tidak masalah, jumlahnya tidak akan membuatnya kenyang. Dan Tohka, yang rakus keluar dari orang-orang yang Shidou tahu.

Dia sedikit mencolek Incamnya untuk memberitahu ini situasi darurat. Tapi, kekacauan terjadi didalam Fraxinus tanpa Shidou memberitahu mereka.

“Tidak mungkin..........Tohka, dengan jumlah itu..........!?”

“Jangan bilang kalau dia merasa sakit!?”

“Tidak mungkin! Monster kelaparan itu!?”

Suara para kru yang keributan dan gelisah mengoperasikan peralatan bergetar di telinga kanannya. Mungkin dari kebingungan ini, dia merasa dia mendengar sesuatu yang jelek, tapi Shidou memilih untuk tidak bertanya.

Itu karena, kelakuan Tohka ini menunjukkan satu kemungkinan.

Yang artinya-----ada kemungkinan dia bukan Tohka yang asli.

“Reine-san..........!”

“..............Tenang. Mari lihat situasi sekarang.”

Reine memberitahukannya dengan suara lembut. Shidou meletakkan tangannya di dadanya untuk menenangkan degup jantungnya yang berdetak keras sebelum dia menyadarinya, dan kembali melihat Tohka.

“Tohka............Ada apa? Apa kau sakit?”

“Tidak. Kenapa?”

“Kenapa kau bilang........... Yah karena.......”

Bahkan saat Shidou melihat ke arah piring Tohka, Tohka mungkin menyadari pandangannya atau mungkin tidak *Pan*! Dia menepuk kedua tangannya.

“Ya sudah, Itadakimasu!”

“A-aaah.......... Itadakimasu.”

Seperti mengikutinya, Shidou menepuk kedua tangannya, dan mulai mengambil makanannya yang ada piring. Dan seperti itu,

“Gochisousama.............”

“Ha!?”

Shidou tiba-tiba mendengar suara Tohka dari arah berlawanan, dan membuka lebar matanya karena terkejut. Saat dia melihat, dia menemukan sudah tidak ada lagi makanan di piring Tohka.

“A-Apa kau sudah selesai makan.......?”

“...........umu. Enak.”

Tohka menepuk tangannya dan berdoa setelah makan [Gochisousama]. Tapi, jelas sekali dia tidak merasa puas.

“Tohka.......... Mungkin ini belum cukup untukmu?”

“E-Enggak, kok!”

Tohka mengayunkan kepalanya dengan panik.

Tapi saat itu, [Kuu~~~] suara seperti anak anjing menggonggong terdengar dari perut Tohka.

“.................err, itu.”

“I-Ini cukup.”

*Kyuu*,*korokorokoro*.

“.....Tohka?”

“A-Aku bilang aku tidak apa-apa!”

*Gyuu*,*guruguruguruguru*.

“U-umuu.......”

Suara perut Tohka terdengar sangat keras dan wajahnya menunduk ke bawah. Alis Shidou mendekat karena merasa curiga.

“Lihat......sudah kuduga ini tidak cukup untukmu. Apa yang terjadi padamu hari ini?”

Saat Shidou bertanya, Tohka diam sesaat sebelum mengangkat wajahnya.

“............ada acara [Jauhi perempuan yang makan lebih banyak dari laki-laki] ini TV kemarin...”

“Heh..........?”

“Jadi........Aku tidak ingin [Menjauh] darimu Shidou, dan.........”

Tohka mempersempit pundaknya karena malu. *Haa* Shidou menghela nafas dengan santai.

“Aku, lebih memilih perempuan yang makan banyak dengan semangat.”

“Be-benarkah!?”

“Aah. Malahan, aku merasa sedih jika ada makanan yang tersisa.”

Saat Shidou mengatakannya, Tohka tiba-tiba tersentak, dan mengangguk penuh semangat sebelum berdiri dari mejanya.

Dan setelah berjalan di area penuh makanan, dia kembali dengan piring besar yang penuh dengan makanan yang enak. Pelanggan yang dekat dan para staff terkejut melihatnya.

“Itadakimasu!”

Tapi, Tohka tidak merasa terganggu dan mulai makan makanan yang enak.

***

Bagian 2
“Itu Tohka yang biasa......kan?”

3:15 PM. Pulang ke rumah, Shidou mengingat kembali perkataan dan perilaku Tohka selagi melihat jam pada layar HP nya, dan bergumam pada diri sendiri.

Setelah makan siang, Shidou berjalan-jalan di kota dan selesai berbelanja, dan dia terus berbicara dengan Tohka tapi-----------dia tidak bisa menyadari sesuatu yang aneh.

Tentu, menurut yang dikatakan Reine, dia mencoba berbagai cara untuk mengelabui Tohka dan bertanya tentang hal yang hanya Tohka yang tahu. Tapi Tohka, menjawab semua pertanyaan dengan tenang. Berpikir normal, dia tidak terlihat sebagai Natsumi yang menyamar.

“Seperti yang kuduga, berarti orang lain kan?”

Setelah Shidou mengatakannya ke Incam, suara Reine membalas ke telinga kanannya.

“..........Belum waktunya mengatakan apapun. Lagipula, tidak ada pilihan lain selain percaya kemampuan berubah Natsumi mulai rusak sekarang, dan lanjutkan aksimu. Sudah waktunya. Kita akan memasuki penyelidikan kedua.”

“----Ya. Siapa selanjutnya? Kemana aku harus pergi.......”

“..............Hnn, Shin kau diam disitu saja.”

“Eh?”

“............waktunya bagus, dan sesuai dengan permintaan orang itu. Karena sesuai, aku membuatnya sehingga bisa ditangani bersamaan. Aku pikir dia akan disana segera----”

Dan, tepat di tengah perkataan Reine, *Pin**Pon* bel berbunyi.

“Hn? Siapa?”

Bahkan saat melihat layar intercom, tidak ada siapapun. Setelah Shidou memiringkan kepalanya selagi berjalan di koridor, dia berjalan ke arah pintu masuk dan membukanya.

“Ya, siapa------”

“Baa!”

“Uwah!?”

Saat dia memutar gagang pintunya, sesuatu keluar dari pintu mengarah padanya dan Shidou terpental ke belakang.

Pada saat itu Handphone yang dipegangnya terlepas dari tangannya dan terbang ke arah [Itu] yang membuat wajahnya keluar dari pintu. Tapi setelah [Itu] menghindari Handphone dengan kontrol tubuh yang menakjubkan, itu menggabungkan kedua tangan kecilnya dengan terampil selagi *Puri**Puri* menjadi marah.

“Mou--, Shidou-kun. Itu berbahaya.”

Saat dia melihat dengan hati-hati, dia mengetahui, itu adalah boneka kelinci. Itu adalah teman Yoshino, Yoshinon.

Namun itu sedikit berbeda dari Yoshinon yang dia tahu.

Itu karena, ada luka jahitan di wajahnya, dan baut raksasa menusuk kepalanya. Terlihat seperti cyborg.

“Kau Yoshinon.......kan?”

“Ya. Aku idola semua orang, Yoshinon-?”

Setelah mengatakannya, dan berbicara dengan konyol. *Hou* Shidou menghela nafasnya. Walau menggunakan pakaian yang seram, tetap saja hatinya adalah Yoshinon.

Dan, saat Shidou mengambil Handphone yang terjatuh di lantai, pintu terbuka perlahan dan pada saat itu perempuan yang muda mengintip ke dalam dengan ketakutan melalui celah pintu------itu Yoshino. Karena Shidou melepas gagang pintunya karena dia terkejut, hanya tangan kiri Yoshinon yang bisa masuk.

“Ou, Yoshino juga. Maaf. Aku agak terkejut dan pintunya.......”
Pintu yang terbuka semakin terbuka-------dan Shidou kembali mengangkat bahunya.

Berdiri di depan pintunya, pakaian Yoshino sama seperti Yoshinon dan berbeda dari biasanya.

Topi penyihir hitam yang lebar, dan dengan jubah yang hitam. Dia juga memegang sapu kecil di tangan kanannya. Ya------pakaian penyihir yang sama seperti pakaian Astral Natsumi yang sedang dicari Shidou.

“Yo-Yoshino.............itu................”

Saat Shidou bertanya, Yoshinon mencolek pipi Yoshino untuk menyemangatinya.

“Ayo ayo, Yo-Yoshino.”

“U-un.........!”

Setelah Yoshino mengangguk, dia melihat ke arah Shidou selagi dia membulatkan tekadnya dan menggerakkan bibirnya.

“Dan, Trick or Treat............”

“Heh?”

Shidou bengong mendengar perkataan Yoshino, dan tiba-tiba *pon* memukul tangannya setelah mengerti maksudnya.

“Ah, begitu. Itu, adalah kostum Halloween.”

Memang benar sekarang musimnya. Shidou mengangguk yakin.

“Yang artinya..........Yoshinon adalah”
“Ufufu, monster Frankenstein.”

*Gah*! Itu membuat kedua tangannya ke atas dan Yoshinon menakutinya. Tapi demikian, walau dia dilihat dengan mata yang lucu dan cakar yang lembut, namun kurang kekuatan.

“.......Reine-san, mungkinkah maksudmu permohonan orang itu.”

“.........aah, setelah melihatnya di TV, Yoshino bilang dia ingin mencobanya sekali.”

“Begitu........”

Shidou menggaruk pipinya setelah mendengar balasan dari Reine. Berbicara lebih jelas, Halloween itu tanggal 31 Oktober tapi, jika merasakan suasananya sekarang pun tidak apa.

Walau dia terkejut karena siluetnya sama seperti Natsumi tapi, penyihir lucu yang kecil persis seperti Yoshino.

“Hn, itu lucu, Yoshino.”

“........................”

Saat Shidou mengatakannya, Yoshino tersentak dan wajahnya menunduk ke bawah karena malu.

Dan, *Chon**chon* Yoshinon mencolek tangannya.

“Hei hei. Aku senang kamu memuji Yoshino tapi, apa kau melupakan sesuatu?”

“Apa.........yang. Ah, permen. Tunggu sebentar.”

Sekarang dia memikirkannya, dia melupakan hal yang paling penting. Dia berjalan ke dapur dan dia melihat-lihat ke lemari dimana biasanya permen disimpan.

Tapi, waktunya sedang jelek dan semua permen sudah tidak ada. Sepertinya ada chupa chups jika dia pergi ke kamar Kotori tapi, jika dia mengambilnya, dia tidak tahu sesuatu yang gila seperti apa yang akan menunggunya.

“Ah--..............maaf. Sepertinya aku sudah tidak punya permen.”

Kembali ke pintu utama, setelah menurunkan wajahnya dan meminta maaf, bahu Shidou menurun karena depresi.

“Begitu....”

“Aku sangat meminta maaf. Aku akan menyiapkannya lain waktu.........”

Tapi, saat Shidou mencoba memberitahukannya, wajah Franken Yoshino semakin dekat.

“Ou----too? Sekarang itu masalahnya Onii-san. Kita tidak melakukannya untuk bersenang-senang kau tahu.-----Yoshino! Ayo, lakukan!”

“e.......eeh?”

“Mouuu-----. Itulah kenapa, namanya Trick or treat, aku akan menjahilimu jika kamu tidak memberikan permen.”

“Ah..........”
Yoshino mengeluarkan suaranya seperti dia mengingat sesuatu dan melihat ke arah Shidou dengan matanya yang besar.

“O-oi........?”

“Iyaa----, tidak ada pilihan lagi karena tidak ada permen. Aku penasaran apakah aku harus membiarkan Shidou-kun merasakan kejahilan Yoshino.”

“Ke-kejahilan....... Apa yang kau rencanakan?”

Saat Shidou berjalan ke belakang dan bertanya, Yoshinon tersenyum tidak menyenangkan.

“Yah itu.......kau tahu.”

Dan dengan suatu maksud, itu membuat sinyal mata kepada Yoshino. Saat dia melakukannya, pipi Yoshino memerah dan dia menghindari kontak mata.

“Tidak, apa yang ingin kau lakukan!?”

Shidou berteriak----dan saat itu [Ah] mengeluarkan suaranya.

“Aku tahu. Bisakah kalian berdua menunggu di ruang tamu sebentar?”

“...........?”

“Ho-eh?”

Yoshino dan Yoshinon saling menatap satu sama lain. Shidou memberi isyarat pada mereka berdua dan sekali lagi kembali ke dapur.

Dia lalu mengeluarkan adonan kue panas dari lemari, mengeluarkan susu dan telur dari kulkas dan menaruhnya ke mangkok setelah mengukur jumlahnya.

Apa itu apa itu? Apa yang kau buat Shidou-kun?”

“Lihatlah setelah aku selesai membuatnya. Sebentar lagi selesai jadi tunggu sebentar lagi.”

Saat Shidou mengatakannya, mata mereka berdua terbuka lebar karena terkejut dan memiringkan kepala mereka.

Dia secara tidak sengaja tersenyum dan setelah memanaskan panci, dia melarutkan mentega dan menuangkannya ke adonan kue dengan indah.

Dia kemudian menumpuk dua potong kue ke piring putih, menaruh mentega di atasnya, dan selesai dengan sirup maple.

“Oke, selesai. Makanlah selagi masih panas.”

Shidou meletakkan piring di meja setelah mengatakannya, dan Yoshino mata dan mulutnya karena terkejut sebelum mulai melihat kue yang sangat enak.

“Ini............Aku pernah lihat ini di TV sebelumnya.........!”

Yoshino mengambil garpu ke tangannya dan------mengangkat bahunya seperti mengingat sesuatu.

“err..........Itadakimasu.”

“Ou, makanlah.”

Saat Shidou mengatakannya, Yoshino membantu Yoshinon memotong kuenya agar bisa dimakan, setelah menusukkannya dengan garpu dan melihatnya lagi, *Paku* dia memasukkannya ke dalam mulutnya.

“............!”

Mata Yoshino terbuka lebar dan *Bam**Bam* memukul meja sebelum memberikan tanda kerja-bagus pada Shidou. Dia pernah melihat ini sebelumnya, itu adalah reaksi Yoshino saat dia mencoba rasa yang belum diketahuinya. Sepertinya dia menyukainya.

“Haha, enak?”

Yoshino *Un**un* mengangguk. Dari tingkahnya, pipi Shidou tersenyum.

“......Shin.”

Dan, dalam mood yang lembut, dia bisa mendengar suara Reine dari telinga kanannya.

“..............Maaf mengganggumu dalam keadaan yang bagus, tapi bagaimana? Sesuatu aneh dengan Yoshino?”

“Ah....tidak, dari yang aku lihat, aku pikir tidak ada yang aneh.....”

Selagi mengatakannya, Shidou memperbaiki dirinya sendiri dan *Kohon* batuk.

“Sekarang aku memikirkannya, sesuatu seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Ho-ra, waktu Yoshino pertama kali datang ke rumah ini. Eeerrr, apa yang aku buat waktu itu?”

Saat Shidou menyelidiki secara tidak langsung, Yoshino dan Yoshinon melihat satu sama lain sebelum kembali melihat Shidou.

“Ya..........jika tidak salah, waktu itu........kamu membuat Oyakudon.”

Setelah mengatakannya, wajah Yoshino pun terpesona.

Walau Shidou tersenyum kecut pada Yoshino, dia bergumam [Benar] dalam pikirannya.

“Eeh---, kenapa dengan itu Shidou-kun. Yoshinon tidak tahu apapun.”

Dan dengan wajah penuh luka jahitan, Yoshinon mengatakannya dengan tidak senang.

“Hnn? Kau tidak ingat?”

Saat dia bertanya, Yoshinon membuat gerakan berpikir sebelum *Pon* memukul tangannya.

“Mungkinkah, itu saat Yoshinon di dalam rumah Origami-chan?”

“Ah.........oh iya, kau tidak bersama Yoshinon saat itu.”

“Itu benar.......tapi walau begitu, mengambil kesempatan makan Oyakudon dengan Yoshino saat Yoshinon tidak ada, Shidou-kun kau mesum! Oh Yoshino, kau seperti Cinderella yang menaiki tangga kedewasaan saat Yoshinon tidak melihat......tunggu, Ah-re? Yoshino sebagai anak kecil, siapa orang tuanya?”

“Yo-Yoshinon.........!”

Memiringkan kepalanya, mulut Yoshinon di tutup oleh Yoshino yang seluruh wajahnya menjadi merah. Yoshinon *Bata**Bata* menggerakkan tangannya.

“Hnnn! Hnnn!”

Walaupun seperti tidak dilengkapi organ pernapasan, tapi Yoshinon kesakitan. Karena terlihat menyakitkan, Shidou memanggil Yoshino.

“He-hei, Yoshinon kesakitan kau tahu?”

“! Ah.........ma-maaf, Yoshinon...........!”

“*Cough*,*cough*.......Fuui..........Aku pikir aku akan mati.........”

Dan saat itu, Yoshinon memiringkan kepalanya.

“Hnn? Ada apa, Yoshinon?”

Saat Shidou bertanya, Yoshinon langsung melipat tangannya dan *mumumu*.............menggerutu sebelum mengangkat wajahnya.

“Uu-nn, aku lupa. Itu karena aku kekurangan oksigen saat aku ditekan oleh Yoshino. Shidou juga, kau harus berhati-hati saat kau bertengkar dengan Yoshino.”

“Ti-Tidak mungkin........”

Setelah wajah Yoshino menjadi sangat merah, dia *Paku**Paku* memakan sisa kue nya untuk menyembunyikan rasa malunya.

Dan, setelah beberapa waktu berlalu, Yoshinon tiba-tiba menggerakkan telinganya dan membisikkan sesuatu ke telinga Yoshino.

“............jadi..........itu kenapa............dan”

“Eh...........ta-tapi..........”

Setelah Yoshino melihat ke arah Shidou saat dia mendorong Yoshinon, dia lalu mengambil sisa kue nya dengan garpunya, dan memanjangkan tangannya ke arah Shidou.

“E-err.........bagianmu.”

“Tidak, kau tidak perlu, lagipula aku memberikannya padamu.........”

“...................”

Saat Shidou mengatakannya, alis Shidou berbentu kanji   karena depresi.

Jika wajah Yoshino jadi seperti itu, tidak mungkin dia bisa menolak. Shidou menyerah dengan sedikit mengangkat kedua tangannya sebelum menggigit sepotong kue yang diberikan padanya selagi.............memperhatikan agar mulutnya tidak menyentuh garpu.

Dan, selagi melihat Shidou, Yoshinon tersenyum.

“Shidou-kun. Jika ingatan Yoshinon benar, ada beberapa orang yang memakan kue saat waktu camilan, tapi ada juga yang memakannya saat sarapan, kan?”

“Eh? Aah, yah, memang ada.”

“Bukankah aku benar. Lalu, bukankah agak aneh menyebut ini [Permen]?”

“O-Oioi.......”

Akan jadi masalah mengatakannya setelah memakannya. Wajah Shidou menjadi kewalahan dan menggaruk pipinya.

Setelah itu, jari Yoshino menunjuk ke arah Shidou.

“Er.......Shidou-san. Sebelah bibirmu, ada sirup...........disitu.”

“Eh? Benarkah?”

Mungkin ukurannya terlalu besar jadi ada beberapa yang tersisa di pipinya. Shidou menjilat bibirnya.

“Sedikit lagi, ke arah sini. Ah.............bolehkah?”

Selagi mengatakannya, Yoshino berdiri dari kursinya, mengambil beberapa lembar tisu basah yang ada di meja dan berjalan mendekati Shidou.

“O-ou............”

Bukannya dia tidak merasa malu sama sekali, tapi itu sudah di tunggu-tunggu. Walau wajah Shidou semakin panas, dia menghindari terjadinya kontak mata.

Tapi, setelah Yoshino memanjangkan tangannya ke arah wajah Shidou---------wajahnya semakin dekat dan menjilati tempat dimana bibir Shidou tidak bisa meraihnya.

“Uwah!?”

Itu memang tidak diduga. Dia menggerakkan tubuhnya dan lompat terkejut.

“Yo, Yo-Yo-Yo-Yo-Yoshino.......!?”

“Ah, ah-ah-ah-ah, err...........”
Untuk beberapa alasan, dengan kelakuan gelisah sama seperti Shidou, Yoshino kesusahan menggerakkan tangannya terburu-buru. “I-Ini, err........... Kue di antara permen dan nasi jadi.......”
Yoshino melanjutkan selagi matanya berputar.

“Ini, ke-kejutan.........!”

Setelah itu, *pata**pata* terdengar suara langkah kaki dan dia keluar rumah.

Ditinggal sendiri, Shidou bengong untuk sesaat, membiarkan suaranya keluar dari Incam.

“Re-Reine-san....... Barusan, apa itu benar Yoshino...........?”
“............Yah, aku penasaran”

Apa yang dibalas, entah kenapa sulit untuk dijawab.

***

Bagian 3 
“Eeer..........jadi, siapa berikutnya?”

Setelah penyelidikan Yoshino berakhir. Shidou bertanya ke Incam. Saat dia melakukannya, tidak sampai beberapa detik, suara Reine membalas.

“.............Aah, selanjutnya Tonomachi Hiroto”

“Tonomachi huh”

Shidou membalas dengan helaan nafas. Dia teman lelaki Shidou sudah sejak lama dan satu-satunya tersangka lelaki. Daripada menyebutnya kencan, mungkin lebih benar jika menyebutnya mengajaknya untuk bermain

“...........suara terdengar santai.”

“Ahaha........yah, itu karena Tonomachi adalah lelaki. Jika aku bilang bermain maka itu akan jadi bermain.”

“.............Hnn, itu bagus. Kalau begitu selesaikan dengan cepat. -------Aku sudah mengirim pesan padanya dengan namamu. Sudah direncanakan kau akan bertemu dengannya satu jam lagi.”

“Aku mengerti. Dimana aku harus bertemu dengannya?”

“.........aah, itu-----”

Shidou mengangkat pipinya setelah mendengar tempatnya dari Reine.

---Sekitar sejam setelah itu.

Shidou dan Tonomachi duduk bersebelahan di sauna.

Ya. Tempat bertemu yang didesain Fraxinus adalah di depan tempat kesehatan terdekat.

“...................”

“...................”

Beberapa menit berlalu, mereka duduk bersebelahan, tapi tidak ada percakapan sama sekali..........walaupun dia adalah teman yang sudah lama dikenalnya, dia merasakan atmosfer canggung.........yang lebih menghancurkan mental daripada berkencan dengan para gadis.

“He-hei..........Tonomachi.”

“..........uh! A-apa, Itsuka.............”

Saat Shidou berbicara dengannya saat dia tidak bisa menahannya, Tonomachi mengangkat bahunya.

“Tidak................entah kenapa.............maaf”

Setelah Shidou menundukkan kepalanya sedikit, dia menjauh dari Tonomachi.

“.............Reine-san. Kenapa kau memilih tempat seperti ini........?”

Dia komplain ke Incam dengan suara lembut. Incam Fraxinus dengan kualitas tinggi, suara mengantuk Reine tetap terdengar jelas walau di dalam sauna yang panas dan lembab.

“............Karena di antara pria, kupikir akan bagus jika bersosialisasi dengan telanjang.”

“Teori macam apa itu........... Bukankah waktunya jelek. Aku tidak tahu detilnya, tapi bukankah Natsumi mengatakan sesuatu pada Tonomachi saat dia menyamar menjadiku saat itu. Daripada menyebutnya sangat jauh, rasanya dia semakin berhati-hati.........”

“.............Kalau hubunganmu menjadi sesuatu yang mengancam, dia tidak akan datang.”

“Tidak, daripada mengancam, dia akan mencurigai keinginanku atau motifku........”

Selagi mengatakannya, Shidou melihat ke arah Tonomachi. Alasan kenapa pipinya memerah, pasti karena panasnya sauna. Pasti itu.

Dan, saat Shidou memikirkannya, Reine dengan lembut melanjutkannya.

“..........juga, ada maksud tertentu memilih tempat ini. Natsumi itu perempuan. Tidak masalah jika dia bisa mengubah tubuhnya; aku pikir ada perlawanan untuk mengekspos tubuhnya di depan lelaki.”

“Ah...........begitu.”

Memang benar apa yang dikatakan Reine. Jika Tonomachi adalah Natsumi, dia mungkin akan menggunakan suatu alasan untuk menolak ajakan pergi ke tempat ini.

“Kalau begitu, Tonomachi ini, bukan Natsumi?”

“..........Aku pikir kemungkinan itu tinggi.......Yah, kecuali Natsumi mempunyai suatu fetish dimana dia merasa suka untuk memamerkan bagian tubuhnya.”

“....................”

Shidou diam-diam menggaruk pipinya. Yah, memang benar itu tidak bisa jadi masalah utamanya.

“...........Jadi, apa yang harus aku lakukan? Seperti yang diduga, mungkin lebih tepat jika aku bertanya tentang hal-hal lama yang Natsumi tidak tahu.”

“...............Aah, itu hal yang mendasar. Atau satu lagi, aku ingin melihat reaksinya. -----bisakah kau mencoba menyentuhnya sedikit?”

“Huh..........?”

Shidou bengong. Tapi Reine melanjutkannya tanpa terpengaruh.

“..............Bagaimanapun seperti yang kukatakan, walau Natsumi tidak merasakan apapun mengekspos tubuhnya, dia pasti menunjukkan reaksi saat dia tiba-tiba disentuh.”

“.............ha-haha.............”

Kerongkongannya kering karena suasana yang panas dan gugup, setelah Shidou membasahi kerongkongannya, dia kembali melihat Tonomachi.

Dan, di saat yang sama, Tonomachi membuka mulutnya.

“He-hei, Itsuka. Kenapa kau mengundangku hari ini?”

“Eh? Tidak, i-itu...........”

“..............Shin, sekarang.”
Saat Shidou menjadi malu, dia mengingat intruksi Reine.

Walau Shidou kebingungan, dia mengikuti intruksinya dan memanjangkan tangannya dan menyentuh kulit Tonomachi seperti akan memeluk pundaknya. ----saat itu,

“Hii!?”

Tonomachi mengangkat tubuhnya dan *zazazaza* bergerak ke sisi lain untuk melarikan diri. Melihat hati-hati, seluruh tubuhnya merinding.

“Ke-ke-ke-ke-ke-ke-ke-ke-kenapa, Itsuka!?”

“Ah, tidak..............ou.”
“.................”

“.................”

Keadaan kemballi canggung.

“..............Jadi, bagaimana reaksi Tonomachi?”

“..................hn, dia sangat panik. Saat tangan Shin menyentuh, kegugupunnya pun naik.”

“Eh, artinya............”

“...........Aku ingin sedikit data lagi. Tolong lakukan lagi.”

“Ha-haa............”

Dia benar-benar enggan, tapi ini juga untuk menentukan Natsumi. Setelah Shidou berdiri dari kursi, dia sekali lagi duduk di sebelah Tonomachi. Di kesempatan itu, pundak Tonomachi sekali lagi gemetar.

“I-Itsuka............kita teman..........kan? Yang biasa.”

“Hn, aah..........itu benar.”

“Itu benar! Ha-haha............iyaa--, maaf, maaf. Bodohnya aku, aku mencurigai pergerakanmu....”

“.............To-u.”

Saat itu, *petari* Shidou menaruh tangannya ke paha Tonomachi.

“GiNyaaaaaaaaaaaa!?”

Saat dia melakukannya, Tonomachi berteriak dan keluar dari sauna.

***

Bagian 4
 “Haa.................”

Selagi berjalan sendirian di jalan tengah malam, Shidou menghela nafasnya.

Walaupun akhirnya dia masuk kamar mandi, tidak ada rasa capeknya yang hilang.............tidak, malahan rasa lelahnya semakin menambah.

Tapi, dia tidak bisa mengatakannya. Masih ada satu orang lagi, satu lagi tugas tersisa hari ini.

“Err, bertemu di taman di dataran tinggi itu tak apa?”

“.......Aah. Kau sedikit terlambat. Lebih baik jika kau bergegas.”

“Ya...........!”

Tiba-tiba langsung menambah kecepatannya dan menaiki lereng, dia bergegas ke tempat pertemuan. Kota dengan matahari terbenam memang agak dingin, tapi ini waktu yang tepat untuk menghangatkan diri di kamar mandi.

Tidak lama kemudian, dia sampai di tempat pertemuan. Sudah ada perempuan di depan kursi yang disinari oleh cahaya lampu jalanan.

Dia adalah perempuan yang cantik mengenakan blus lengan panjang dengan desain pucat dan rok hitam. Dia adalah salah satu dari Yamai bersaudara--------Yamai Yuzuru.

“Marah. Keberanian yang hebat untuk mengajak seseorang keluar tapi datang terlambat.”

Setelah mengatakannya, Yuzuru melihatnya dengan setengah mata terbuka. Setelah Shidou terburu-buru dan berlari ke depan Yuzuru, dia langsung menggabungkan kedua tangannya dan menundukkan kepalanya. Yah, sebenarnya, itu adalah Reine dan anggota Ratatoskr yang memanggilnya bukan Shidou, tapi tidak mungkin Yuzuru mengetahuinya.

“Maaf, Yuzuru. Kesalahanku yang sebelumnya terulang kembali.”

“Pengampunan. Yah, tak apa. Hati Yuzuru besar, jadi aku akan menganggap perhitunganku salah 5 menit.”

Setelah mengatakannya, Yuzuri menghela nafasnya dan melipat tangannya.

Saat melihatnya, Shidou merasakan sesuatu yang aneh dan menggaruk kepalanya.

Bukan berarti ada yang salah dengan kelakukan Yuzuru. Dengan kata lain, dia terpengaruhi dengan rasa penasaran tentang fakta hanya ada satu dari Yamai bersaudara saat biasanya ada dua.

Untuk sementara, dia mendengar Yuzuru akan jadi yang terakhir hari ini, tapi seperti yang diduga dia merasa aneh melihatnya seperti itu. Setelah Shidou menyegel Reiryoku mereka, tidak berlebihan untuk mengatakan mereka ini selalu bersama kecuali saat ke toilet.

Mungkin dia membaca pikiran Shidou dari pandangannya, Yuzuru mengangkat bahunya.

“Sigh. Apakah Yuzuru sendiri tidak cukup?”

“Tidak, itu tidak benar!. Aku hanya berpikir jarang sekali.......”
“Menolak. Kau tidak harus memaksakan diri untuk membuat alasan. Yuzuru dan Kaguya itu satu pikiran dan satu tubuh. Bahkan, pemikiran itu membuktikan Yuzuru dan Kaguya terhubung.”

Yuzuru mengangkat bibirnya dan tersenyum. Itu benar, hari ini juga; sepertinya kedua Yamai adalah saudara yang intim.

“Pertanyaan. Ada apa,, memanggil Yuzuru keluar di jam seperti ini.”

“Ah, tidak, aku pikir, berbicara berdua saja.........bolehkan?”

Saat Shidou bertanya. Yuzuru membuka lebar matanya karena terkejut.

“Menolak. Bukan berarti tidak boleh. Tapi, kalau begitu----”

Yuzuru menyempitkan matanya dan memegang tangan Shidou; lalu dia mendekati Shidou. Payudaranya mendorong erat tangannya.

“Yu-Yuzuru?”

“Peluk. Hanya untuk malam ini, Shidou milik Yuzuru. Dan, hanya untuk malam ini, Yuzuru milik Shidou.------Apa aku benar?”

Setelah mengatakannya, dia meniupkan nafas manisnya ke lehernya. Karena tipuannya yang mempesona yang tidak biasa saat dia bersama Kaguya, Shidou langsung memerah.

“Saran.--------Shidou, haruskah kita berjalan sedikit?”

“Eh?”

Saat Shidou memiringkan kepalanya, Yuzuru sedikit tersenyum dan mendorong Shidou.

Dalam kecepatan yang biasa, mereka sampai di bagian pinggir taman.

Dari tempat itu, kota Tenguu, tempat Shidou dan yang lain tinggal bisa langsung terlihat. Didalam jalanan yang benar-benar gelap, lampu yang menyala seperti kilauan bintang.

“Kagum.-------Cantik”

“Aah.....itu benar.”

Dan, saat Shidou membalas dengan jujur, Yuzuru menatap wajah Shidou dengan setengah mata terbuka.

“A-Apa?”

“Menunjukkan. Saat perempuan bilang [Itu cantik], sudah ditentukan balasan yang benar untuk pria katakan adalah [Kau lebih cantik]”

“...........itukah masalahnya?”

“Setuju. Itu masalahnya.”

Darimana dia tahu hal seperti ini. Yuzuru mengatakannya dengan penuh percaya diri. Shidou tersenyum kecut selagi mencoba menggerakkan mulutnya.

“Ka-kau lebih.............cantik.”

“Tersenyum.............fufu, benarkah?”

Saat Shidou mengatakannya, pipi Yuzuru sedikit memerah dan dia tersenyum.

Dari ekspresi lucunya yang tidak biasa dia keluarkan, jantungnya berdetak keras.

Bagaimana mengatakannya.............tidak tenang.

Bahkan roh yang reiryokunya sudah disegel, ada beberapa hal yang menyebabkan kekuatannya kembali saat mental mereka jadi tidak stabil. Karena itu, Shidou sering menjaga Tohka dan yang lain.

Tapi, Yamai bersaudara Kaguya dan Yuzuru, karena mereka sangat stabil untuk waktu yang lama bersama, mereka adalah roh yang tidak terlalu dia pikirkan. Bahkan, berlawanan dengan Tohka yang dipindahkan ke kelas yang sama dengan Shidou, kedua Yamai masuk kelas di sebelahnya bersama. Berbicara yang sebenarnya, perasaan Yamai bersaudara sebagai [Teman] lebih kuat daripada Tohka, Yoshino, dan yang lain.

Tapi----------tidak, itulah kenapa, berbicara dengan Yuzuru sendirian rasanya sangat menyegarkan.........jantung Shidou anehnya berisik.

“Memanggil.----Shidou.”

Yuzuru mengeluarkan suaranya dengan lembut.

“Hnn.........ada apa?”

Saat Shidou membalas, Yuzuru *gulp* menelan ludahnya sebelum melanjutkannya.

“Permohonan. Tolong jawab dengan jujur.”

“A-aah..........jadi, ada apa?”

“Pertanyaan. Shidou---------diantara Kaguya dan Yuzuru, siapa yang lebih kau suka?”

“Eh......?”

Dia bengong, dari pertanyaan yang tidak diduga. Shidou merasakan keringatnya keluar dari dahinya.

“Ke-kenapa begitu.............”

Bahkan jika suaranya gemetaran, Yuzuru terus menatap Shidou dan tidak akan memandang yang lain. Mata itu, tidak terlihat dia sedang bercanda atau mengejeknya.

“Ha-hal seperti itu, aku tidak bisa memilih jika kau bertanya tiba-tiba. Kalian berdua..........penting untukku.”

Saat Shidou mengatakannya, Yuzuru mengangkat bahunya seperti dia kelelahan.

“Cemooh. Ya ampun. Kau memilih jawaban paling lemah dan paling menyedihkan yang ada.”

“Di-diam, ba-bagaimana aku bisa jawab kalau kau bertanya seperti itu!”

“Dikonfirmasi. Kalau begitu, jika Yuzuru memberikan waktu, bisakah kau menjawabnya?”

“Uh............”

Dia bimbang mendengar perkataan Yuzuru. Melihat Shidou, Yuzuru sekali lagi menghela nafasnya.

Melihat Yuzuru, Shidou menggaruk kepalanya selagi membalasnya.

“Kalau begitu, kau ingin aku memilih siapa?”

“Berpikir...........sebentar..........”

Yuzuru meletakkan jarinya di dagunya seperti dia sedang berpikir. Setelah dia melakukannya, dia sekali lagi melihat Shidou.

“Balas. -------Jika kau memilih Kaguya, Yuzuru akan memujimu anak baik anak baik. Jika Shidou memilih Yuzuru, maka Yuzuru akan marah.”

Setelah mengatakannya, dia tersenyum nakal.

Sekarang dia memikirkannya, Kaguya dan Yuzuru adalah tipe perempuan seperti ini. Mereka mencintai yang lain lebih dari diri mereka sendiri. Dia bercampur dalam pikiran dan mengatakan [......terima kasih referensinya.]

“Tambahan. Tapi, jika Shidou memilih Yuzuru............aku akan senang.”
“Eh------”

Tapi, Shidou merasa jantungnya semakin berdebar setelah mendengar perkataan Yuzuru barusan.

Karena mereka menempel bersama seperti ini, ada kemungkinan Yuzuru mungkin mengetahuinya. Setelah Shidou mengayunkan kepalanya ke samping, dia melanjutkan perkataannya untuk menipunya.

“Ja-jadi, siapa?”

“Sigh. Seperti yang kau dengar. Yuzuru tidak keberatan dengan jawabannya. Tapi walau begitu, itu jawaban pecundang. Yuzuru kecewa pada Shidou. Dasar tidak berguna.”

“Uguh............”

Dia tidak bisa membalas apapun karena dibilang seperti itu. Dia pun menggigit bibirnya.

Namun, Yuzuru tidak keberatan, dan [Tapi] menambah lagi.



“Perjanjian. --------jika. Hanya jika. Jika Kaguya menanyakan hal yang sama pada Shidou seperti Yuzuru saat ini..........saat itu, Shidou harus menjawab [Kaguya].”

“Eh, itu..............”
Shidou tidak bisa menyelesaikan perkataannya, dan Yuzuru melanjutkan.

“Prediksi. Kaguya pasti akan marah. ‘Kenapa kau tidak memilih Yuzuru!’ Seperti itu...............tapi, di dalam hatinya, dia akan sangat senang sampai tidak bisa ditahannya.”

“Yuzuru..............”

“Percaya. Kaguya sering seperti itu, tapi dia benar-benar mencintai Shidou. Tidak mungkin salah karena Yuzuru mengatakan ini. Yuzuru dan Kaguya berasal dari satu tubuh dan satu jiwa. Apa yang Yuzuru benci, Kaguya juga benci. Sama saja----------apa yang Yuzuru cintai, Kaguya juga cinta.”

“Eh, itu berarti...........”

Saat Shidou mengangkat alisnya, Yuzuru membuka sedikit lebar matanya. Dan selagi meletakkan tangannya di mulutnya untuk menutupinya, dia berpisah dari Shidou dan menjauh.

“Ceroboh. Itu adalah informasi yang tidak penting. Untuk mencegah mengatakan sesuatu lagi, Yuzuru akan lari sekarang.”

“Ah, oi, Yuzuru!?”

Saat Shidou memanggil namanya, Yuzuru berbalik dan tersenyum.

“Perjanjian. Yuzuru tidak bohong. Kaguya benar-benar menyukai Shidou. Itulah kenapa---------Tolong jaga Kaguya.”

Setelah Yuzuru mengatakannya, dia menundukkan kepalanya dan lari ke gelap malam.

***

Bagian 5 
“..........Jadi, kau membiarkannya pulang sendirian? Haaa...........setidaknya antarlah dia pulang dengan baik.”

Selagi berbaring di sofa, Kotori menghela nafasnya.

Shidou, Kotori, dan Reine saat ini sedang berkumpul di dalam rumah Itsuka. Shidou duduk dengan posisi Seiza di lantai, Kotori di depannya dan Reine duduk di sofa di samping mereka, seperti sedang menatap mereka.

Ditinggal sendirian di taman, Shidou tidak memiliki pilihan lagi selain kembali ke rumah dan saat itu, Kotori dan Reine sudah berdiri di ruang utama dan waktu belajar langsung dimulai.

“Membiarkan perempuan berjalan sendirian di malam hari, itu bukan pilihan yang bisa aku kagumi.”

“Guh...............maaf.”

Memang benar apa yang dia katakan. Tapi, saat Shidou sedang bengong, Yuzuru menuruni lereng dengan kecepatan yang luar biasa. Memang hebat roh angin. Mengejarnya sangatlah tidak mungkin.

“...............Yah, dia tidak bisa melakukan apapun. Shin melakukan pekerjaan dengan baik.”

Reine mungkin tahu tentang situasi dari observasi dari Fraxinus, dan perahu penyelamat datang dari samping.

Kotori *fuun* menghembuskan nafas dan membuat batang chupa chups yang dimakannya berdiri.

“Aku tahu itu. Bahkan aku mengerti itu jadwal yang sulit.”

Dia melihat ke arah Shidou saat mengatakannya.

“---jadi, Shidou. Setelah berbicara dengan 4 orang hari ini, apa kau menyadari sesuatu yang aneh? Tohka, Yoshino, Tonomachi, Yuzuru. Di dalam orang-orang ini------siapa menurutmu Natsumi?”

“................”

Ditanya seperti itu, Shidou mengingat apa yang terjadi hari ini dan tenggelam dalam pikirannya.

Sejujurnya, ini masih tahap awal dari penyelidikan. Memang benar, ada beberapa yang dia pikirkan saat dia mencoba berpikir tapi, dia tidak bisa memutuskan siapa kriminalnya saat ini.

“..........Aku masih belum tahu. Lagipula, aku harus memeriksa semuanya.”

“Yah............itu benar.”

Sepertinya Kotori sudah mengira jawaban itu. Dia membuka matanya setengah dan menghela nafas.

“Aku akan memeriksa nada suara mereka untuk jaga-jaga, jadi aku akan memberi tahumu jika ada sesuatu.”

“Aah........aku mengandalkanmu.”

“Yah lagipula. Tolong istirahat hari ini dan bersiap untuk hari esok. Aku tidak akan memaafkanmu jika sesuatu seperti, pertemuan besok pagi kacau karena kekurangan tidur.”

Kotori mengatakannya selagi mengganti kaki yang dilipatnya dengan yang lain. Shidou berdiri dan mengangguk.

“Aah, itu benar. Aku akan melakukannya. ------Reine-san, jam berapa besok dimulai?”

“..........hnn, yang pertama jam 10 pagi. Maaf, tapi kau harus bolos sekolah besok.”

“Situasinya seperti ini jadi mau bagaimana lagi. Jadi eeeerrrrr, orang pertama adalah............”

“.........Kotori.”

“...............uh!”

Berbaring di sofa, Kotori mengangkat bahunya. Saat itu, Reine menyadari sesuatu dan *pon* menepuk tangannya.

“............aah, begitu. Tidak heran kau bersemangat menyuruhnya untuk tidak ketiduran besok-----”

“--------Bukan seperti itu! Sebagai komandan aku------”

Dia menyadari pandangan Shidou saat itu. Kotori melempar bantal padanya.

“Uwah, oi, apa yang kau lakukan?”

“Diam! Tidur sana!”

Berteriak, Kotori mengambil bantal yang lainnya.

Dia tidak tahan menerima serangan yang lain. Shidou buru-buru masuk kamarnya.

***

Bagian 6
---*click* terdengar sebuah suara, dan jarum panjang dan pendek jam menunjukkan angka 12 bersamaan.

Jam 12 malam 22 Oktober berakhir dan 23 Oktober dimulai.

Ya. Artinya-------hari pertama sudah berakhir.

“Fufu.......”

Di dalam kegelapan. Natsumi berubah menjadi [seseorang], dan tertawa dengan sangat lembut.

Hari pertama. Shidou tidak bisa mengatakan Natsumi menyamar menjadi siapa.

Namun, itu tidak bisa ditolong. Karena ada lebih dari 10 tersangka, dan aturannya juga tidak jelas. Karena ada perbedaan dalam standar, jelas berapa banyak yang bisa dia lakukan.

Tapi, apapun alasannya, hari pertama sudah berakhir.

“-------------<Haniel>. Ini waktunya.”

Saat Natsumi bergumam yang tidak bisa didengar siapapun, dia menjetikkan jarinya.

Itulah yang harus Natsumi lakukan. <Haniel> akan menyelesaikan pekerjaannya karena intensi Natsumi.

“Kalau begitu........... Pertama, satu orang. Bisakah kau menebakku?”

*kusu**kusu*

Sang penyihir mengejek.

“---sebelum, semuanya menghilang.”

***

Bagian 7
 “Hn..........”

Pagi. Dari keributan yang bergetar di telinganya, Shidou sedikit meregangkan tubuhnya di kasur sebelum menggaruk matanya.

Dia memanjangkan tangannya samping bantal selagi menguap dan menekan tombol alarm jam.

Tapi--------suaranya tidak berhenti setelah dia melakukan itu. Sepertinya suara yang mengganggu tidur Shidou bukanlah alarm.

“Ah-re?”

Dia mengangkat tubuhnya dengan lemas dan sekali lagi menguap. Bersama dengan dia mengumpulkan kesadarannya, dia mengenal asal dari suara itu, ya, ini............suara bel. Bel rumah Itsuka *Pin*pon**Pin*pon* terusan berbunyi.

“Apa yang terjadi, pagi-pagi seperti ini..............”

Setelah Shidou menggerutu di tempat tidurnya, dia menuruni tangga dan ke koridor. Bahkan saat itu, suara belnya tidak berhenti.

Tapi, saat Shidou mencapai pintu depan, pengunjung misterius itu mungkin menjadi tidak sabar dan mulai *Gacha**Gacha* membuat suara pada gagang pintu setelah melewati gerbang.

“Uoou............!?”

Masih bisa ditahan karena masih pagi, tapi akan menjadi horor jika terdengar di tengah malam. Shidou mengeluarkan suaranya ketakutan.

“Si-siapa.......?”

“Shidou !”

Saat dia melakukannya, suara perempuan yang gelisah bisa terdengar dari seberang pintu. Suaranya sangat tinggi yang familiar dengan----------milik Kaguya.

“Kaguya? Ada a-------”

Saat Shidou melepas kunci pintu, Kaguya melompat ke arahnya dengan keringat keluar dari dahinya.

“Uoou, oi, tenang! Apa yang terjadi!”

“Sh-Shidou! Apa Yuzuru datang kesini!?”

Lupakan nada suara yang biasanya, Kaguya berteriak. Shidou memiringkan kepalanya dengan curiga.

“Yuzuru.......? Tidak, dia tidak datang..........ada apa?”

“Di-dia tidak ada disini...........saat aku bangun tadi pagi, aku tidak bisa menemukan Yuzuru dimanapun!”

“Apa yang kau katakan.........!?”

Dari teriakan Kaguya, alis Shidou mendekat dan membalas.

---sepertinya mulai saat ini, [Permainan] Natsumi mungkin akhirnya dimulai.


***

Date a Live Jilid 8 Bab 3 Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: [ Yuu ]

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.