01 Agustus 2015

1/2 Prince Jilid 1 Bab 4 LN Bahasa Indonesia


Necromancer dan Bard 
Di sebuah kebun bernuansa Eropa yang amat romantis, seorang elf begitu tampan dan bagaikan malaikat duduk di sebelah seorang gadis cantik bagaikan mawar. Bersama, mereka membentuk gambaran sempurna dari seorang pangeran dan puteri dari kisah dongeng dan hanya satu kata untuk mendeskkripsikan mereka yaitu “kesempurnaan”. Sayangnya, gambaran tersebut dirusakkan oleh seorang wolfman buruk rupa yang duduk bersama mereka. Semua player di dekatnya menggelengkan kepala mereka, merasa seakan mereka memesan semangkuk mie za cui, hanya untuk mendapati bahwa usus babi yang lezat itu tidak dibersihkan dengan benar dan masih terdapat kotoran.
Meyunggingkan sebuah senyuman menawan, ujung mulutku naik ketika aku dengan seksama memerika buku menu putih di tanganku. Setelah membuat keputusan, aku mengangkat kepalaku, mengabaikan pandangan terpesona dari player lain yang diberikan padaku ketika aku menoleh pada pramusaji yang juga terpikat. Dengan suara lembut tak tertandingi, aku berkata, “Nona, tolong semangkuk susu kacang kedelai dan lima you tiaou.”
Mengerjapkan matanya dengan memikat, Lolidragon berkata dengan ringan, “Prince, kau benar-benar tahu bagaimana menghancurkan mood; apa maksudnya dengan susu kacang kedelai dan you tiao?” Para player di sekitar kami mengangguk setuju.
“Setidaknya pesanlah beberapa kue wijen! Nona, bawakan aku dua mangkuk susu kacang kedelai dan sepuluh kue wijen,” kata Lolidragon.
Lalu, Wolf-dàgē menambahkan dengan suara buasnya, “Dik, tambahkan juga secangkir Italian espresso, Caesar Salad, dan seporsi panggang…”
Setelah menghabiskan susu kacang kedelainya, Lolidragon menyeka mulutnya dengan sopan dan berkata, “Prince, kurasa kita harus cepat menemukan lebih banyak anggota tim!”
“Kenapa tergesa-gesa? Kita punya Wolf-dàgē untuk menyembuhkan kita, jadi kita tidak akan mendapat kesulitan mendapatkan experience. Kita dapat pelan-pelan mengumpulkan anggota tim yang lain!” Aku menelan semulut penuh you tiao, perlahan menjawab pertanyaan tersebut.
“Bukan, experience tidak ada kaitannya dengan mengapa aku ingin lebih banyak anggota tim.”
“Lalu?” tanyaku. Kenapa lagi kita perlu anggota tim selain untuk menaikkan level?
Lolidragon menghela nafas berat. “Jalan ini milikku untuk dibersihkan dan pohon ini adalah milikku untuk ditebang; supaya kau bisa lewat dari sini… Kau. Harus. Berpisah. Dengan. Si. Tampan.”
“Apakah kau harus mengoleskan garam di lukaku?” Lolidragon sialan! Aku…aku benar-benar kesal!
Lolidragon terkekeh. “Luka memang untuk diolesi garam…Prince, intinya adalah kita berhasil menakut-nakuti Fairsky saat ini, tapi itu tidak berarti tidak akan ada orang lain yang akan mencoba untuk merampasmu dariku. Kali berikutnya, aku mungkin tidak bisa melindungi kehormatanmu… Karena itu – demi wajahmu yang sedikit tampan, demi kehormatanmu, demi perjalanan bulan madu bertarung dengan monster kita yang gemilang – kita butuh untuk membangun kekuatan tempur kita secepatnya. Karena itu rekan adalah asset paling penting dalam pertempuran kita untuk melindungi kehormatanmu.”
“….” Aku dibuat tidak dapat berkata apa-apa. Lolidragon benar-benar tahu bagaimana menakut-nakuti orang, pikirku. Tapi dia biasanya benar. Akankah aku benar-benar menyerahkah kehormatanku pada seorang wanita? Bisakah ini dianggap sebagai lesbian?
Lolidragon mempertimbangkan dengan seksama. “Kurasa kita harus mendapatkan seorang mage, dan setelah itu seorang archer. Itu akan melengkapi party kita.”
Pada saat ini, Wolf-dàgē berbicara. Dari apa yang Lolidragon dan aku telah simpulkan dari Wolf-dàgē, dia hanya membuka mulutnya ketika kami sedang mendiskusikan sesuatu yang penting. Selain itu, dia sangat jarang bicara.
“Menemukan mage yang mana saja adalah mudah, tapi akan menjadi sulit untuk menemukan seorang mage yang cocok dengan kita. Beberapa mage yang mengkhususkan diri di spell area bagus untuk menangangi banyak monster pada satu waktu. Yang lain lebih suka untuk memfokuskan serangan mereka sehingga mereka memiliki spell yang lebih kuat, tapi mereka hanya dapat menghadapi satu monster pada satu waktu dengan begini. Ada mage yang memilih untuk berdampak lemah tapi cepat menyerang, begitu juga dengan mage yang lebih suka ledakan sihir kena-atau-tidak sama sekali. Sihir tipe elemental juga memainkan peranan penting, jadi kita akan harus menemukan seorang mage tergantung pada tipe monster apa yang ingin kau hadapi…”
Mengagumkan! Baik Lolidragon dan aku menjadi bermata bintang, menatap hormat Wolf-dàgē. Mengagumkan ada begitu banyak teori dibalik menemukan seorang mage…
“Kau mengagumkan, Wolf-dàgē. Kau tahu begitu banyak…”
Wolf-dàgē memberi kami sebuah senyuman malu-malu. “Itu sama sekali bukan apa-apa. Aku ingin menjadi seorang mage sebelumnya, karena itulah aku menyelidiki class itu.”
Seorang mage setinggi dua meter? Aku tersenyum kaku memikirkannya.
“Lalu kenapa kau tidak menjadi mage?” Lolidragon juga samar-samar tersenyum kaku, tapi pikirnya, seorang mage setinggi dua meter setidaknya sedikit kurang aneh daripada priest setinggi dua meter…
Wolf-dàgē menghela nafas berat. “Err…!”
“Jika kau tidak mau mengatakannya, tidak apa-apa.” Wolf-dàgē mungkin memiliki alasannya sendiri… Melumuri garam pada luka orang lain adalah spesialisasi Lolidragon, bukan aku – walaupun aku juga sangat penasaran.
“Bukan masalah besar.” Dengan ekspresi sedih, Wolf-dàgē berdiri dan menoleh menerawang jauh ke langit, sangat menggambarkan kesedihan. Hal apa yang mungkin terjadi yang membuat Wolf-dàgē untuk menyerah terhadap mimpinya menjadi seorang mage?
Ekspresi Wolf-dàgē menggelap. “Sebenarnya, alasannya karena… Ada terlalu banyak orang mengantri di luar kuil mage, jadi aku pergi ke kuil priest sebagai gantinya.”

Kakiku mengirim tengkorak skeleton warrior terbang dan dengan tendangan berputar, kupatahkan tulang belakang skeleton tersebut. Ada suara ‘krak’ ketika skeleton itu berubah menjadi tumpukan tulang belulang. Di belakangku, Lolidragon sedang sibuk mengumpulkan tulang-tulang – Aku tidak sedang bercanda. Karena setengah kilo debu tulang berharga sepuluh koin perak, sudah pasti ini  bukan bahan tertawaan!
Sebelum aku lupa menjelaskan, alasan kami di sini adalah karena Wolf-dàgē berkata dia ingin melihat tekhnik bertarung kami sebelum mencoba menemukan anggota tim yang cocok.Karena itulah kami berakhir di hutan mengerikan ini yang penuh dengan skeleton, menggunakan tekhnik tergila kami untuk menunjukkan pada Wolf-dàgē terbuat dari apa kami.
Wolf-dàgē menatapku tak percaya. “Postur taekwondo-mu tidak benar. Kemari! Biar Dàgē mengajarimu.”
Wolf-dàgē kemudian mengirim tiga skeleton terbang dengan hanya satu tendangan… Apa kau benar-benar seorang priest?
Ahaha! Aku tadinya menaikkan level sendirian, jadi aku menambah beberapa strength… Sini, kemari, biar ku-buff kau dengan Song of Battle, Fleet-footedness, dan Impenetrable Wall.”
Setelah mendapat buff besar di strength, agility, dan defense, aku akhirnya mengerti keuntungan dari memiliki seorang priest. Ketika aku menerjang melewati sekumpulan skeleton, aku teringat kali terakhir Lolidragon dan aku menghadapi skeleton level rendah di goa di desa pemula.

“Lolidragon, apa kau yakin bisa menghadapi skeleton?” Aku menatap goa yang gelap mengerikan tersebut, merasakan diriku mulai merinding.
Hanya memikirkan susunan kerangka putih di klinik sekolah membuatku merasa takut… Dan, lebih penting lagi, kerangka tidak berliur, jadi bagaimana aku akan mengandalkan diri untuk bisa mengamuk?
Lolidragon juga, menelan ludah dengan gugup dan berkata, “Kita…pasti…bisa…”
Kami memaksa diri untuk memasuki goa. Lolidragon! Pergi dan periksalah keadaan di dalam lebih dulu… Apa? Apa maksudmu ‘tidak’?! Apa kau benar-benar seorang pencuri?
Karena tidak bisa berbuat apa-apa lagi, aku harus menyalakan sebuah obor dan berjalan maju dengan Lolidragon bersembunyi di belakangku. Tiba-tiba, kami mendengar suara tulang belulang saling bergesekan. Wajahku memucat. Aku menoleh ke Lolidragon, berharap untuk mendapatkan sedikit kenyamanan dengan keberadaannya, hanya untuk melihat wajah­nyaberubah menjadi hijau.
“Ahh…” Lolidragon tiba-tiba mengeluarkan suara mencicit, telunjuknya gemetar menunjuk ke depannya.
Aku berpaling untuk menemukan tiga skeleton putih yang tiba-tiba muncul, tapi yang mengejutkanku adalah aku sama sekali tidak takut. Ketika aku melihat kiri dan kanan, aku terus membayangkan bahwa ketiga skeleton itu seperti tulang iga babi yang aku dan saudaraku makan kemarin. Kuangkat Black Dao-ku dan mendekati para skeleton itu dengan waspada…

Lolidragon:
Aku menatap Prince, yang tanpa takut mendekati kelompok skeleton tersebut dan berpikir, Kelihatannya dia semakin menjadi jantan! Lumayan, lumayan; wajah yang tampan tidak boleh memiliki sifat penakut.
Tiba-tiba, sesuatu yang putih jatuh di bahuku. Dengan gugup, aku mengintip pada bahu kiriku untuk melihat apa yang jatuh. Ahhh! Sebuah tangan skeleton! Aku mencoba untuk mengguncangkannya, tapi tangan itu mencengkeram erat pada bahuku. Aku takut!
Ketakutan sampai batas daya tahanku, aku akhirnya mengerti apa yang Prince maksudkan ketika dia berkata tentang membenci sensasi dari air liur… Aku marah, marah! Aku sangat marah! Skeleton bodoh, tidakkah kau tahu kau tidak bisa seenaknya mencengkeram bahu seorang gadis cantik?
Aku meraihnya, menangkap sendi siku skeleton tersebut, memelintirnya dengan paksa…dan menemukan bahwa hanya ada sebuah lengan kiri skeleton di kiriku. Uwah! Aku cepat-cepat melemparkannya ke samping, tapi si skeleton bodoh memutuskan untuk menggunakan tangannya yang lain untuk mencengkeramku.
Aku segera mengulangi gerakanku sebelumnya… Dan kemudian aku kehilangan kendali. Melihat tulang belulang putih di hadapanku, aku membongkar mereka begitu aku mengulurkan tanganku, menghancurkan tulang demi tulang…
Aku kembali sadar setelah beberapa waktu, dan hal pertama yang kulihat adalah Prince memandangku dengan tidak percaya dan tanah yang diseraki dengan tulang belulang. System notice menyatakan aku baru saja mempelajari skill baru : Dismantle Bones.
Dengan begitu dikatakan, “Air liur untuk Prince, skeleton untukku.” – Lolidragon.

“Tolong…Tidakkk!” Sebuah jeritan yang melengking tajam menyentakkanku dari lamunan. Awalnya, aku berpikir itu adalah Lolidragon yang kembali liar, tapi ketika aku menoleh, Lolidragon sedang duduk di tanah, menghancurkan tulang belulang menjadi tulang bubuk dengan pandangan kosong tetap di wajahnya.
“Prince, suaranya berasal dari sini,” Wolf-dàgē berkata sambil menunjuk menuju asal suara tersebut.
Lolidragon, Wolf-dàgē, dan aku cepat-cepat berlari ke arah tersebut dan melihat seorang gadis yang sangat imut dari ras angel, dengan rambut yang dicepol dua, menutupi wajahnya sambil berlari ke arah kami, tersedu-sedu.
“Flaming Skeleton…” ekspresi Wolf-dàgē menjadi sangat serius.
Melihat skeleton yang berapi-api mengejar gadis kecil cantik tersebut, ekspresiku tidak kurang seriusnya darinya. If aku terbakar, itu akan sangat menyakitkan!
Namun mau bagaimana lagi, begitu gadis bercepol tersebut sudah bergegas menuju kami. Aku hanya bisa mengangkat pedangku untuk menghalau monster-monster tersebut, mengingatkan diriku sendiri untuk tidak membiarkan diriku pada dorongan hati untuk terpengaruh melakukan pertunjukkan gila. Dari pengalamanku memasak, aku tahu lebih baik dari orang lain bagaimana sakitnya terbakar…
Nine-headed Dragon Strike!” Sembilan pedang berapi muncul, dengan cepat menyerang sembilan titik yang berbeda dari skeleton. Ah! Flaming Skeleton ini mengagumkan; bahkan para player dan boss skeleton dari desa pemula tidak dapat menahan tekhnik ini, tapi skeleton-skeleton ini ternyata berdiri tegap menerimanya…
Aku merasa tumbuhnya rasa kekalahan. Aku mundur, menenggak sebuah MP potion, dan melancarkan Nine-headed Dragon Strike yang lain. Masih belum mati? Geram, MP potion, Nine-headed Dragon Strike, MP potion, Nined-headed Dragon Strike! Aku terengah-engah berat. Skeleton yang begitu kuat! Tetap hidup bahkan setelah begitu banyak Nine-headed Dragon Strike…
“Prince, jika kau terus menggunakan serangan berelemen api pada Flaming Skeleton ini, aku takut kau akan menghadapinya sampai Second Life tutup,” Wolf-dàgē mau tak mau menegurku. Perkataannya diiringi suara terkekeh geli Lolidragon.
“…Kesalahan, kesalahan!” Malu, aku memadamkan api di pedangku dan hanya menggunakan “Ten” Strike sebagai gantinya. Kali ini, Flaming Skeleton tersebut terpencar menjadi potongan di tanah.
<Ding! System Notice: Prince telah mem-PK anak buah Doll, Flaming Skeleton, Reputasi -100>
Itu tuduhan yang keliru; kapan aku melakukannya?
Ekspresi riang Wolf-dàgē dan Lolidragon berubah menjadi khawatir dan mereka mendatangi dan berdiri di sampingku dengan waspada. Melindungi gadis berambut cepol tersebut dengan berdiri di depannya, kumpulan pertanyaan mengalir dari mulut Lolidragon. “Gadis kecil, berapa banyak orang yang memanggil Flaming Skeleton tersebut? Bagaimana caranya kau menyinggung mereka?”
Gadis itu dengan malu-malu menjawab, “Aku tidak menyinggung siapapun.”
“Lalu kenapa Flaming Skeleton player Doll mengejarmu?” tanyaku curiga.
“Mereka adalah skeleton-ku…”
Apa? Apakah aku mendengarnya dengan jelas? Kami bertiga bertukar pandang kebingungan, tapi Lolidragon memaksa suaranya untuk tetap tenang. “Kau adalah ‘Doll’?”
“Ya…”
“Kau memanggil skeleton-skeleton itu?”
“Ya…”
“Kau adalah seorang necromancer?”
“Ya…”
“Kau adalah ras angel?”
“Itu benar!”
“Lalu kenapa kau berlari dan bahkan berteriak minta tolong?” Aku sedikit jengkel.
Doll berkata dengan sedih, “Karena ini adalah pertama kalinya aku memanggil skeleton menyeramkan itu! Mereka ternyata mempunyai api, menakutkan! Doll terus berlari, tapi skeleton-skeleton itu terus mengejarku, huwaaa!
Sudut bibir Lolidragon berkedut. “Kau memanggil mereka, jadi sudah pasti mereka akan mengikutimu! Kenapa menjadi seorang necromancer jika kau takut pada skeleton? Di samping itu, kau berasal dari ras angel…”
Doll yang gemetar tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menaikkan dagunya. “Necromancer tidaklah jahat. Pekerjaan mereka yang sebenarnya adalah untuk menemukan arti sebenarnya dari kematian dan mengungkap misteri kematian. Selain itu, kemahiran sebenarnya seorang necromancer adalah obat; tidak ada yang lebih akrab dengan tubuh selain seorang necromancer!”
“Gadis kecil, kelihatannya kau menghafal The Eye of Soul dengan sangat baik!” Lolidragon berkata dingin.
Ah, pantas saja perkataan itu terdengar akrab; mereka berasal dari novel The Eye of the Sou.
Setelah Doll mendengar ini, dia mengentakkan kakinya ke tanah dengan marah dan berkata, “Aku berbeda dengan necromancer di The Eye of the Soul! Aku adalah …ehem! Ehem!” Dia tiba-tiba membersihkan tenggorokannya, mengangkat tongkatnya, dan berputar di tempat sambil mendeklamasikan, “Demi cinta dan keadilan! Aku adalah necromancer cantik, Doll! Kejahatan, waspadalah! Dengan kekuatan para skeleton, Doll akan menghukummu!”
Begitu dia selesai, satu kaki menyentuh tanah sedangkan yang lain terangkat main-main dan kedua jari telunjuknya menunjuk pada lesung pipitnya.
Baik Lolidragon dan aku tidak dapat berkata apapun untuk membalasnya, tapi Wolf-dàgē bertanya, “Adik kecil, level berapa kau?”
Sambil tetap mempertahankan posisinya yang sangat sulit itu, Doll menjawab, “Tidak ada yang bertepuk tangan, jadi aku tidak akan bilang!”
Plok, plok, plok… Tidak ada pilihan; kami mulai bertepuk tangan.
“Hehe, aku level tiga puluh! Hebat, ‘kan?” Doll berkata dengan bangga sambil kembali ke posisi yang lebih normal.
Pada titik ini, aku harus mengatakan bahwa Wolf-dàgē level tiga puluh enam, satu level di atasku.
“Level tiga puluh.” Wolf-dàgē mempertimbangkan, lalu bertanya “Doll, kemampuan apa yang telah kau pelajari? Berapa banyak skeleton yang bisa kau panggil?”
Doll memiringkan kepalanya dan dengan sebuah ekspresi menggemaskan merapal, “Kerangka-kerangka dari orang mati yang terlelap dalam kegelapan dan kedalaman dunia yang terpencil, abaikan tidurmu dan jawablah panggilanku, panggilan dari sang necromancer, Doll!”
Begitu dia selesai melagukan mantra, tanah mulai bergetar dan banyak kerangka tangan-tangan mulai bermunculan dari tanah seperti tunas kacang…
“Prince, ada sebuah skeleton mencengkeram kakiku,” Lolidragon gemetar.
Oh tidak, jika Lolidragon disentuh skeleton, lalu…!
Aaaaaaah!” Lolidragon mengeluarkan jeritan yang menusuk dan meraih untuk menangkap tangan skeleton yang mengganggunya. Dia benar-benar menarik skeleton tersebut sepenuhnya keluar dari dalam tanah, seakan dia sedang menarik keluar sebuah lobak. Lalu, menggunakan kemampuan Dismantle Bones, dia mengoyak skeleton tersebut. Setelah selesai, dia berpindah untuk mengoyak yang lain dan yang lain dan yang lain…
Lolidragon, apa yang sedang kau lakukan, memanen? Lupakan itu, pikirku. Meskipun aku berkata begitu, aku segera mengumpulkan tulang demi tulang – setengah kilo bubuk tulang berharga sepuluh koin perak dan kali terakhir Lolidragon mengamuk, kami memperoleh total sepuluh koin emas. Kelihatannya kali ini kami bisa makan di restoran!
“Prince…skeleton yang dipanggil oleh player secara otomatis akan menghilang, kau tidak dapat menjual mereka.” suara Wolf-dàgē melayang ke telingaku.
Ap-ap-apa?! Kenapa kita tidak dapat menjualnya? Aku mengawasi dengan sedih ketika emas di tanganku menghilang.
Di satu sisi, Doll memperhatikan ketika skeleton-skeletonnya diubah menjadi tumpukan tulang belulang. Terpesona, dia berseru, “Idolaku! Bisakah aku menanyakan nama kakak itu?” tanyanya padaku, matanya bersinar dengan rasa hormat.
“…Lolidragon.”
“Lolidragon-jiějie sangat kuat, untuk mengetahui setiap sendi dari skeleton tersebut dan memelintirnya sehingga setiap tulang di tubuh skeleton tersebut patah! Tiadanya keraguan dan pelaksanaan secara rapi yang mengagumkan! Lolidragon-jiějie benar-benar memiliki pemahaman mendalam tentang jiwa orang mati. Aku harus belajar darinya,” kata Doll, terlihat terpesona sambil menyaksikan Lolidragon membongkar lengan dari sebuah skeleton.
Aku mengawasi tanpa daya ketika Lolidragon, yang tampaknya memiliki pemahaman mendalam tentang jiwa orang mati, menggunakan kekuatannya untuk membongkar tulang demi tulang. Aku sedikit khawatir karena dengan begini ketidakpopulerannya mungkin akan segera menempatkannya di daftar orang memalukan…
“Satu, dua…tiga…empat…delapan…” Wolf-dàgē mulai menghitung jumlah skeleton tidak lebih pelan dari Lolidragon yang mencabuti mereka dari dalam tanah. “Totalnya delapan skeleton level rendah! Itu cukup lumayan. Berapa banyak flaming skeleton yang dapat kau bangkitkan, Doll?”
Doll, yang sedari tadi menyaksikan Lolidragon dengan takjub, mulai merapal secara otomatis, “Kerangka dari orang mati yang mendendam, berselubungkan api yang membara dari kedalaman neraka, jawablah panggilanku, panggilan dari sang necromancer, Doll!
Empat tunas berselimutkan api muncul dari dalam tanah. Aku segera bergegas menuju mereka, dengan wajah pucat, amat khawatir bahwa Lolidragon mungkin –
Ahhhhh!
…Kelihatannya aku terlalu lambat. Lolidragon telah mengempit tangannya dan merengek tersedu-sedu.
Akan tetapi, sebelum aku mencapai Lolidragon, sebuah sosok lebih cepat dariku telah menyerbu maju. “Lolidragon-jiějie, kau tidak apa-apa? Waaah! Doll tidak bermaksud melukai kakak.” Begitu dia selesai bicara, Doll mulai menangis, meraung keras. Lolidragon menatapnya bingung selama sesaat dan lalu melihatku.
Aku menggaruk wajahku. “Doll bilang dia mengidolakanmu, karena kau memiliki pemahaman mendalam tentang jiwa-jiwa orang mati.”
“…”
“Prince, kurasa kita sebaiknya meminta Doll untuk menjadi anggota party kita,” sahut Wolf-dàgē. Melihat ekspresi Lolidragon, dia menambahkan, “Kemampuan Doll untuk memanggil orang mati sangat mengagumkan. Saat ini, Prince adalah satu-satunya warrior kita. Tidak peduli betapa kuatnya dia, dia tidak bias pergi menyerang dan melindungi seorang priest dan seorang mage di waktu yang sama, jadi seorang necromancer dengan beberapa bawahan skeleton akan sangat cocok dengan grup kita.”
Aku menatapnya, ragu-ragu. Priest kita sebenarnya membutuhkan perlindungan?
Doll mulai bertingkah seimut mungkin. “Bagus sekali! Aku ingin mengikuti Lolidragon-jiějie.”
Hawa dingin menjalar di punggung Lolidragon.
Aku tidak memiliki komentar dengan masalah tersebut dan dengan begitu party kami – dengan dua suara, satu menolak dan satu tidak memilih – mendapa seorang anggota baru. Sebagai tambahan untuk seorang elf warrior banci yang tampan, seorang thief cantik (yang selalu menolak untuk mengintai ke depan), dan seorang priest wolfman setinggi dua meter (dapat mengirim tiga skeleton terbang dengan satu tendangan) – tim kami sekarang termasuk seorang necromancer ras angel untuk cinta dan keadilan yang takut skeleton…
Sejujurnya, menyerukan “MATILAH!” pada para skeleton di satu saat dan bertempur bersama mereka di saat berikutnya membuatku merasa aneh yang tak dapat dideskripsikan. Setidaknya aku sedikit lebih baik daripada Lolidragon; dia terus mendekam di belakang punggung lebar Wolf-dàgē. Hanya saat dia merasa malu karena mendapat terlalu banyak experience tanpa usaha, terkadang dia memunculkan kepalanya dan melemparkan sebuah pisau tersembunyi…
Sialan, Lolidragon! Bidik dengan hati-hati sebelum kau melempar! Saat dua pisau lempar mendesing lewat, menggores satu sisi kepalaku, aku merasakan dorongan untuk memukuli seseorang.
Apakah kalian merindukan Meatbun? Aku sebenarnya ingin mengajak Meatbun untuk latihan beberapa lemparan sehingga dia dapat naik level, tapi begitu aku mengeluarkan Meatbun, Doll memekik tentang betapa imutnya dia dan merampasnya.
Lihat! Doll masih ada di sana bermain dengan Meatbun, melemparkan ke atas ke bawah… Tunggu sebentar! Kenapa Doll memegang sebuah tulang di tangannya? Dan kenapa Wolf-dàgē di sebelahnya, terlihat seakan dia sedang melatihnya sesuatu?
Juga, kenapa posisi Doll terlihat seakan-akan dia sedang bermain kasti?
Sebelum aku sempat mengucapkan sepatah kata, bola kasti tersebut – Meatbun, itu dia – telah dikirim terbang dengan sebuah pukulan dari tulang tersebut.
“Benar, posisi memukulmu sangat bagus,” Wolf-dàgē berkata menyetujui.
Rahangku terbuka lebar. Aku hanya dapat melihat tanpa daya ketika Meatbun-ku yang malang dikirim terbang kembali, berteriak-teriak gembira ketika pergi. Dia pertama-tama menabrak skeleton yang berdiri di sampingku (yang telah dipanggil oleh Doll), sebelum memantul dan mengenai skeleton kedua, lalu memantul kembali ke pertama, lalu kedua, kesatu, kedua…
Kepalaku berputar ke kiri dan ke kanan terus menerus ketika aku mengawasi Meatbun-ku yang tidak bersalah memantul mundur dan maju antara kedua skeleton tersebut
<Skeleton HP -50, HP -50, HP -50>
Dengan suara “bam!” dan “pom!”, dua skeleton tidak bersalah mengumumkan kepergian mereka dari dunia orang hidup.
<Ding! System notice: Pet Prince, Meatbun telah mem-PK skeleton milik Doll, Reputasi -200>
<Ding! Pet : Meatbun telah mempelajari sebuah skill baru – Double Kill>
Aku menangkap Meatbun ketika dia melayang kembali padaku. Aku menatap Meatbun, dan lalu pada monster besar berkepala dua yang sedang kuhadapi, ujung-ujung bibirku naik menjadi sebuah senyuman dingin.
“Meatbun, gunakan Double Kill.” Aku melemparkan Meatbun pada monster tersebut dengan lemparan ganas, tapi dia hanya memantul sekali sebelum kembali ke tanganku. Itu membuatku berada dalam masalah besar karena monster raksasa tersebut mulai menyerang ke arahku, dan aku berakhir dengan harus memarang monster tersebut hingga mati. Wolf-dàgē bahkan harus menyembuhkanku sekali.
Akhirnya, aku dapat melihat deskripsi skillnya.
(Double Kill: Kemampuan menyerang. Persyaratan: Memerlukan benda semacam tongkat untuk memukul pet; Damage: 80>
Benda serupa tongkat! Aku melihat ke sekelilingku, mulanya aku ingin meminjam sebuah tongkat tulang dari Doll. Setelah berpikir beberapa saat, aku menyadari tulang tersebut hanya akan ada untuk sejenak sebelum menghilang. Sebagai gantinya, aku mengambil sarung pedangku dan – dengan sebuah ayunan – mengirim Meatbun terbang.
“Meatbun, Double Kill.”
Kali ini, Meatbun menyerang seekor raksasa berkepala dua dengan keakuratan tanpa cela dan menghancurkan setengah dari HP monster tersebut. Lalu aku merangsek maju dan, menggunakan Continuous Attack, menendang raksasa tersebut hingga kalah. Yang lain, dikepung oleh Flaming Skeleton milik Doll, gugur begitu aku melakuakan sapuan akhir.
Aku lalu meminjamkan sarung pedangku pada Wolf-dàgē sehingga ia dapat menggunakannya sebagai tongkat pemukul. Doll berdiri di samping Wolf-dàgē, melemparkan Meatbun padanya sehingga dia dapat memukulnya. Kami menunggu hingga setelah Meatbun menghancurkan setengah dari HP monster-monster tersebut sebelum Flaming Skeleton dan aku menyelesaikan mereka.
Cara yang bagus untuk naik level!
Selama beberapa hari kemudian kami menyempurnakan sebuah metode baru: aku akan menggunakan Aroma Release milik Meatbun untuk memikat banyak monster setelah Wolf-dàgē mem-buff Lolidragon. Berikutnya, menggunakan serangan diam-diam. Lolidragon akan mengalihkan perhatian setiap monster padanya dan mulari berlari seperti orang gila di sekitar kami. Doll lalu akan melemparkan Meatbun sehingga Wolf-dàgē dapat memukul Meatbun; dengan begini, dua monster akan terpancing keluar dengan HP mereka yang sudah berkurang setengah. Lalu, Flaming Skeleton dan aku akan maju untuk menghabisi mereka.
Dengan mengulang memikat monster, melempar “bola” serangan, dan lalu membunuh monster-monster tersebut, kami berhasil menaklukkan musuh berkisar dari raksasa berkepala dua level tiga puluh dua hingga gorgon level empat puluh. Kami semua mendapat poin EXP dengan kecepatan mengerikan, rata-rata setiap kami mendapat kenaikan sebesar tiga level.Bertempur dalam sebuah tim benar-benar cara yang bagus untuk berlatih, pikirku.
Akan tetapi, suatu hari, sesuatu terjadi…
Seperti biasa, Lolidragon membuat para monster untuk memfokuskan perhatian padanya. Tetapi, ketika dia mulai berlari di sekitar kami, kami menyadari ada monster berkepala leopard yang terlihat aneh berlari dengan kecepatan yang mengagumkan. Bahkan dengan agility Lolidragon yang ditingkatkan, yang seharusnya tinggi hingga membuat iri, monster tersebut tetap dapat menyamainya setiap langkah.
Kami mulai khawatir dan Wolf-dàgē bermaksud untuk menyerang si kepala leopard menggunakan Meatbun. Akan tetapi, kelemahan Meatbun adalah hanya dapat menyerang dalam area yang sempit, dan dia tidak dapat mencapai si kepala leopard. Lolidragon tetap mengelak, berharap dapat cukup dekat dengan kami, tapi elakkannya menyebabkan si kepala leopard mendekatinya selagi kami masih di luar jangkauan…
Kami hanya dapat menyaksikan tanpa daya ketika si kepala leopard mencakar punggung Lolidragon, memukulnya jatuh. Yang membuatnya lebih menakutkan, bagaimanapun, adalah masih ada banyak monster yang mengejarnya. Aku bergegas melemparkan Meatbun pada si monster kepala leopard sambil berlari menuju Lolidragon.
Kali ini Meatbun berhasil mengenainya, menyebabkan si kepala leopard berlari ke arahku sebagai gantinya. Tapi sudah terlambat; monster-monster yang lain telah mengelilingi Lolidragon dan aku hanya dapat melihatnya tanpa daya pada wajahnya yang ketakutan sebelum ia dikerumuni…
“Lolidragon!”
Sebuah cahaya putih melesat ke langit dari tengah-tengah para monster. Aku benar-benar kacau sekarang, karena aku tidak dapat melindungi Lolidragon dengan benar. Aku mencoba melampiaskan frustrasiku pada si kepala leopard sialan, tapi menemukan bahwa monster ini… Kuat! Monster ini sangat kuat! Dengan bengis dia memukulku dua kali, dan aku tidak berhasil banyak dengan sebuah serangan. Jangan katakan padaku…
“Lari Prince, itu adalah seekor bos!” raung Wolf-dàgē.
Dengan kalut aku mencoba mengundurkan diri, tapi lari… Ke mana aku bisa lari?!
Sekumpulan monster yang membunuh Lolidragon telah mengepung kami. Kami berdiri saling memunggungi, tahu bahwa kematian kami sedang mendekat.
(Second Life tidak memiliki scroll of teleportation, untuk mempertahankan tingkat realisme. Hanya ada stasiun teleportasi di setiap kota yang memungkinkan para player untuk berpindah ke kota-kota lain.)
Tiga leret cahaya putih melesat ke langit…

Kematian benar-benar tidak dapat dibandingkan dengan ketidaknyamanan lainnya yang biasa. Ketika aku kembali ke rebirth point di Star City – kota terdekat dari kami – wajahku pucat dan menahan keinginan untuk muntah.
Wolf-dàgē dan Doll telah log off, tapi aku menolak untuk log off bersama mereka – aku harus mencari tahu apa yang terjadi pada Lolidragon pertama-tama. Aku mencari ke mana-mana tanda-tanda keberadaan Lolidragon, tapi aku tidak dapat menemukan jejaknya. Mungkin dia merasa begitu ketakutan sehingga dia langsung log off!
Beberapa saat kemudian, aku merasa lebih baik. Setelah berpikir sebentar, aku memutuskan untuk berjalan-jalan dan menunggu yang lain alih-alih log off.
Aku berkeliling di sekitar kota, memastikan untuk mengikuti saran Lolidragon: Untuk terlihat sebagai barang kelas satu dengan mempertahankan aura anggun dan berbudi halus serta menyunggingkan senyum samar dan mempesona di bibirku. Seperti yang diduga, meskipun seluruh jalan sedang memperhatikanku, tak ada seorangpun yang berani untuk menggangguku, dan dengan begitu aku dapat menjelajahi sekitar dengan senang.
Melihat banyak orang berkumpul  di sisi lain jalan yang sepi, rasa ingin tahuku mengesalkanku dan kuputuskan untuk melihat juga. Ketika aku mendekat, aku dapat mendengar alunan musik sedih terindah datang dari pusat kerumunan. Melemparkan senyum sopan pada para player terdekat, aku memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyelip tanpa susah payah menuju tengah-tengah kumpulan ketika mereka menatapku, terpesona.
Begitu terlihat, itu adalah seorang bard – seorang bard berambut hitam dan bermata ungu dan ras demon – yang sedang memainkan sebuah guqin. Hal yang langka untuk melihat seseorang dari ras dan kelasnya, belum lagi fakta bahwa dia sedang memegang sebuah instrumen yang sangat tidak biasa. Lalu aku tiba-tiba terbayang anggota timku sendiri dan mengernyit. Aku sebenarnya tidak punya hak untuk menilai orang lain! Bagaimanapun, dia memainkannya dengan sangat baik dan aku mendengarkan dengan penuh minat suara lembut dan halus tersebut.
Tiba-tiba, musik berhenti. Aku memandang dengan tanda tanya pada bard tersebut, hanya untuk melihatnya menatap balik padaku, terlihat terkejut. Saat itulah aku melihat dengan jelas wajahnya…
Dia cukup untuk dibandingkan dengan adikku, hal itu sudah menjelaskan semuanya. Akan tetapi, bila adikku memberi kesan sebagai seorang swordman yang ramah, orang ini terlihat lebih sebagai seorang keindahan yang menakutkan.
Dia tampaaaaaaan sekali! Ya ampun, akhirnya aku menemukan pria lain yang ketampanannya dapat membuatku mendesah kagum!
Dia yang telah tersadar dari keterkejutannya, meletakkan alat musiknya dan menatapku dengan sebuah ekspresi lembut, jelas-jelas tertarik. Mengabaikan orang-orang di sekitar kami, kami saling memandang dengan emosi mendalam satu sama lain.
Terima kasih telah mengirimkan padaku kesempatan ini, Tuhan. Kelihatannya aku tidak perlu memilih antara dua pilihan sebagai narsis dan incest pada akhirnya!
Pria itu perlahan berjalan ke arahku, dan dia tetap menatapku dengan lembut. Wajahku bersemu merah ketika aku dengan malu-malu menunggunya menghampiri. Sangat sulit untuk tetap tenang sementara menunggu dia untuk datang mendekat bagaimanapun.
Akhirnya, dia berdiri di hadapanku, dan dengan gerakan yang tidak terduga, dia berlutut. “Cantik sekali, kau benar-benar orang yang  terindah yang pernah kutemui. Matamu bagaikan bintang yang berpijar, bibirmu dapat membuat mawar tercantik sekalipun malu, dan kulitmu bagaikan salju yang murni…”
Wajahku memerah, merah, merah! Malunya! Bagaimanapun aku jadi malu jika kau mengatakan hal seperti itu di depan begitu banyak orang! Tapi rasanya saaaangat senang mendengarnya.
“…Benar-benar aura yang elegan. Semua elemen kesempurnaan bergabung dalam dirimu… Tidak, kau bukan kesempurnaan. Kata “sempurna” hanya dapat digunakan olehmu seorang. Jika bisa…bolehkah aku mendapat kehormatan untuk mencium tangan putihmu yang cantik?” Dia melihat padaku penuh harap, meminta dengan mengangkat tangan kanannya.
Ah! Wajahku pasti dengan jelas memperlihatkan diriku mabuk oleh perkataannya. Merasa bagaikan seorang putrid, dengan malu-malu aku mengulurkan tangan kananku pada ksatriaku. Ekspresinya jelas terlihat terkejut dan puas. Menerima tangan kananku seakan-akan itu adalah sejenis harta karun, dia menciumnya dengan lembut namun juga penuh gairah. Aku ingin mengingat adegan elegan ini selamanya…
“Prince, apa yang sedang kaulakukan?” aku tiba-tiba menerima sebuah PM dari Lolidragon.
Aku membalas dengan napas tertahan. “Lolidragon, aku bertemu dengan seorang super tampan dan kelihatannya dia jatuh cinta padaku!” Wajahku tenggelam dalam ketakjuban.
Cepatnya! Lolidragon baru saja log on dan langsung menemukan keramaian tersebut. Sebelum membalas balik, dia berlari dengan tak sabar menuju kumpulan itu, hanya untuk menemukan suaminya selingkuh dengan pria lain.
“…Apakah dia tahu bahwa kau seorang gadis?”
…Tunggu, itu benar, aku terlihat seperti seorang laki-laki sekarang. Melihat pada si bard tampan, aku merasakan suatu keprihatinan menusukku. Jangan bilang kalau orang ini adalah…? Itu tidak mungkin, ‘kan?! Aku rasanya benar-benar ingin menangis…
Dan dengan begitu, bergantung ada serpihan harapanku yang terakhir, aku membuka mulut dan bertanya, “Emm, apa kau tahu kalau aku seorang laki-laki?” Tuhan, tolonglah, tolonglah, TOLONGLAH katakan padaku dia mengira aku adalah seorang perempuan!
Si tampan kemudian berdiri. Dia lebih tinggi dariku saat ini yang berkisar 175 cm – kurasa ia sekitar 180 cm. menggunakan sebuah jarinya untuk memiringkan wajahku ke atas, ia melihat kepadaku dengan tatapan mabuk kepayang dan berkata, “Tentu saja aku tahu. Kau memancarkan aura yang bersemangat seperti itu, bagaimana mungkin aku salah mengira dirimu dengan seorang gadis kecil lemah?” Lalu dia memelukku dengan tiba-tiba. Dengan helaan nafas bahagia, dia menambahkan, “Laki-laki adalah yang terbaik. Dengan otot-otot sekekar ini…Rasanya leeeeebih baik daripada memeluk gadis-gadis lembut dan rapuh itu!”
Bibirku terangkat menjadi senyum tipis…

Di penginapan…
“Prince, kau benar-benar tidak kenal ampun pada orang itu! Sampai menggunakan Nine-headed Dragon Strike padanya,” kata Lolidragon sambil tertawa terbahak-bahak. “Reputasimu akan turun kalau begitu!”
Aku dapat merasakan urat-uratku menonjol keluar karena gusar. Menggertakkan gigi, aku membalas, “Dia seharusnya berterima kasih karena aku tidak membunuhnya sampai kembali ke level satu! Aku benar-benar marah!”
Padahal kupikir akhirnya aku menemukan pria yang tampangnya memuaskan, hanya untuk mendapati dirinya sebenarnya….adalah seorang GAY! Waaaaaah!
Begitu aku membunuh si bard bodoh itu, Lolidragon dan aku menerima sebuah PM dari Wolf-dàgē dan Doll, lalu kami memutuskan untuk bertemu di dalam pub ini. Lolidragon si bodoh menceritakan pada Wolf-dàgē dan Doll tentang apa yang telah terjadi sebelumnya dan sebagai hasilnya mereka tidak dapat berhenti tertawa. Sialan!
Pada akhirnya, Wolf-dàgē batuk dua kali untuk mendapatkan perhatian Lolidragon dan Doll, menghentikan tawa mereka yang tampaknya tidak akan berakhir. “Oke, berikan Prince waktu sejenak dan mari menganalisa alas an kematian kita sebelumnya.”
Begitu mendengarnya, atmosfir seketika menjadi berat. Kami semua dengan seksama memperhatikan perkataan Wolf-dàgē. “Monster berkepala leopard itu adalah seekor bos level menengah. Sekalipun kita tidak dapat menang, seharusnya tidak berakhir semengerikan itu dalam total kehancuran kita. Kupikir hal itu terjadi karena tim kita kekurangan player penting; class jarak jauh. Jika kita memiliki seseorang yang mampu dengan serangan jarak jauh, Lolidragon tidak akan mati sia-sia hanya karena kita tidak dapat mendekatinya. Hal itu juga tidak mengakibatkan kita menjadi terkepung dan dihabisi sepenuhnya.”
Semuanya mau tak mau menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju.
“Jadi pada dasarnya, kita kekurangan seorang archer atau seorang mage?”
Wolf-dàgē mengangguk dan berkata, “Ya. Kupikir akan lebih baik jika kita mendapatkan kedua kelas tersebut, mengingat masing-masing mereka memiliki keunikannya sendiri. Mereka sama-sama penting. Tim kita akan menjadi sangat sempurna jika kita dapat menemukan seorang archer yang bisa menembak dengan akurasi yang tinggi dalam jarak yang cukup jauh, dan seorang mage yang spesialisasi di serangan AOE.”
“Kalau begitu ayo ke Adventurer’s Guild untuk mendapatkan anggota baru!” Lolidragon tiba-tiba berseru. “Setelahnya, kita juga dapat mendaftarkan tim kita.”
“Ide bagus,” sahut Wolf-dàgē`

Kesan pertamaku tentang Adventurer’s Guild adalah tempat itu besar – Luas! – seperti lapangan baseball, dengan sebuah atap terbuka. Tempat itu penuh dengan orang-orang yang mencari anggota tim, mengambil quest, menjual barang-barang, dll dan merupakan tempat yang begitu hidup, tetapi…
Walaupun seharusnya berisik, seperti biasa aku disambut oleh kesunyian kemanapun aku pergi. Di bawah tatapan orang-orang, kami sedikit demi sedikit tiba pada area perekrutan dan mengangkat sebuah papan tanda yang berbunyi: “Merekrut archer dan mage untuk leveling jangka panjang, antara level tiga puluh dan empat puluh.”
Kami semula senang pada setiap orang yang menyimak papan tanda kami, diam-diam berpikir ini tidak akan lama sampai kami mendapatkan seorang rekan.
Itu benar-benar terjadi dengan cepat. Setelah sepuluh detik, kami melihat tanpa daya ketika beberapa ratus orang bergerak ke arah kami. Para wanita berseru, “Aku ingin bergabung, sayang,” atau, “Tampan, pilih aku!”, sementara para pria berkata, “Aku datang, manis!” atau “Ambil aku, cantik!”
Lolidragon, si imut berparas malaikat Doll, dan aku memutih. Akulah yang pertama-tama bersembunyi di belakang punggung Wolf-dàgē. Lolidragon mengikuti di urutan kedua dan Doll yang terakhir. Situasi saat ini sangat mirip dengan permainan “Elang dan Induk Ayam.”
“Baris!” Wolf-dàgē berteriak dengan suara kencang dan dalam.
Hasilnya sangat bagus. Setelah Wolf-dàgē berteriak, gerombolan yang sangat menakutkan tersebut membeku selama tiga detik. Setelah detik kesepuluh, sebuah pasukan – dengan tentara berbaris sepuluh mengikuti – muncul. Dàgē, benar-benar menyia-nyiakan bakatmu bahwa kau bukanlah seorang jenderal.
Kami mempercayakan seluruhnya pada Wolf-dàgē dan menyerahkan keputusan padanya. Lolidragon, Doll dan Aku kemudian mengeluarkan guazi dan minuman lalu berkumpul di satu sisi, memakannya.
Setelah beberapa lama…
Berapa lama? Cukup lama untuk kami bertiga menghabiskan guazi kami, membeli beberapa bungkus lagi, dengan santai pergi berbelanja, dan kemudian makan malam…juga membawakan pesanan makanan untuk Wolf-dàgē. Selama waktu ini aku juga log off untuk memasakan, membuka-buka beberapa komik, menyalakan TV dan menonton Naruto. Lalu aku log on lagi dan mulai memakan guazi yang baru dibeli Lolidragon…
“Baiklah, kurasa orang-orang ini sudah cukup!” kata Wolf-dàgē, akhirnya selesai menyeleksi.
Kami melihatnya, dan melihatnya, dan melihatnya. Akhirnya Lolidragon berkata dengan suara gemetar, “Dàgē, kita mencoba untuk membuat party, bukan pasukan!” Setidaknya ada sekitar dua atau tiga ratus orang di lautan orang ini!
Wolf-dàgē menggaruk bulu abu-abunya. “Mau bagaimana lagi. Orang-orang ini memenuhi kualifikasi; mereka semua sangat bagus.”
Aku memberi isyarat pada Lolidragon untuk mendekat dan berbisik di telinganya. Aku bisa saja melakukannya lewat sistem pesan pribadi, tapi mau bagaimana lagi; ini adalah kebiasaan manusia! “Lolidragon, kurasa kebanyakan orang-orang ini di sini karena kita. Kenapa tidak katakan pada mereka tentang hubungan kita?”
Aku berdeham lalu berkata, “Semuanya, kami harus mengklarifikasi sesuatu sebelumnya. Wanita cantik ini dan aku sudah menikah. Karena itulah…” Sebelum aku bahkan sempat menyelesaikannya, sekitar delapan puluh persen player telah menghilang.
Kami dapat mendengar banyak gerutuan terjadi di bawah. “Kenapa tidak mengatakannya dari awal?! Membuatku menunggu begitu lama…”
“Menyebalkan, orang secantik itu sudah ada yang punya!”
“Sekarang aku tidak bisa mendapatkan si tampan itu untuk menjadi suamiku…”
Tetapi orang-orang yang masih tinggal berkata sesuatu berikutnya, “Setidaknya masih ada gadis angel imut itu…”
Lolidragon dan aku melihat kepada Doll yang masih muda dan polos. Sama sekali tidak! Jadi aku membuka mulutku kembali, “Semuanya, gadis ras angel ini adalah adikku. Bagi yang ingin mendekatinya sebaiknya…” Sebelum aku menyelesaikannya, semua orang telah pergi.
“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanyaku.
“Orang-orang ini…Kita juga tidak menginginkannya!” sahut Lolidragon.
“Sebaiknya kita menaikkan level dan mencapai level sebelumnya,” Wolf-dàgē merespon.
Menggigiti jari telunjuk, Doll menelengkan kepalanya dengan pandangan bingung.
Party kami mulai berlatih serius di daratan tandus para zombie. Kami datang ke tempat yang dipenuhi zombie ini khususnya untuk menghindari akhir lain yang seberbahaya waktu sebelumnya. Zombie adalah monster aneh yang bergerak pelan, tapi memberikan serangan yang sangat hebat. Kau dapat melihat Lolidragon berkeliling, terkadang terkantuk-kantuk…
Namun tiba-tiba, sebuah monster yang anehnya cepat menyerang ke arah Lolidragon. Tidak mungkin itu…!
“Lolidragon, lari! Itu adalah Zombie King!” Wolf-dàgē berteriak membangunkan Lolidragon yang hampir jatuh tertidur. Dia menoleh ke belakang pada Zombie King, ketakutan, dan tidak dapat menahan jeritan meminta tolongnya sambil berlari menjauh dengan sangat cepat.
Sial! Aku tidak membiarkan Lolidragon mati lagi. Kenapa Zombie King harus muncul tepat ketika Lolidragon begitu jauh dari kami? Aku tidak dapat mengejarnya…!
“Bertahanlah, Lolidragon!” teriakku sambil berlari.
Kali ini, Lolidragon tidak berani untuk berbelok di persimpangan. Dia berlari lurus ke depan, tidak membiarkan Zombie King untuk mendekatinya. Akan tetapi, kami tidak dapat mengejar dengan kecepatannya juga.
Sambil menyaksikan Lolidragon lari menjauh dan semakin jauh, aku mulai panik. Kita harus merekrut seorang archer, bagaimanapun juga!
Di saat itulah ketika kami mulai kehilangan harapan, aku mendengar sebuah suara dari belakangku.
Supersonic Soul-chasing Arrow.” Suara merdu yang sangat akrab dibarengi oleh suara musik.
Sebuah anak panah tembus cahaya melesat menuju Zombie King, mengakibatkan monster tersebut mengubah arah dan menyerang kami.
Aku menoleh untuk mendapati si bard bodoh berambut hitam dan bermata ungu itu. Dia melihat ke arahku, tersenyum dan berkata, “Kau harus menolongku untuk menahannya, kurasa. Aku adalah seorang bard lemah, bagaimanapun.”
“Dan jika aku menolak?” sahutku dingin.
Ada sebuah senyuman tak berdaya pada wajah tampannya. “Kalau begitu…aku akan mati di tanganmu lagi. Tapi itu tidak apa-apa; biarlah itu menjadi ganjaran karena mencium tanganmu.”
Hei! Aku memberi isyarat pada Wolf-dàgē dan Doll. Mereka mengangguk mengerti dan menarik keluar Meatbun, mempersiapkan dalam posisi memukul. Kukeluarkan pedangku dan melangkah mendekati Zombie King yang sudah menhampiri.
Pantas saja dia dipanggil Zombie King – agility dan kekuatannya semuanya termasuk kelas atas. Dia bahkan memiliki jumlah HP yang sangat banyak. Aku telah mencoba “Nine-headed Dragon Strike” dua kali, tapi kebanyakan seranganku ditahan karena agility-ku bukanlah tandingan Zombie King.
Dua dari Flaming Skeleton Doll telah dihancurkan, tapi aku bersyukur karena mereka. Jika bukan karena Flaming Skeleton yang menahan sebagian besar serangan, sudah lama aku dihajar habis-habisan.
Walaupun hanya seekor bos tingkat menengah, agility Zombie King dan strength-nya sangat melampauiku. Sedangkan aku, aku terbiasa untuk menemukan dan menyerang titik kelemahan musuh daripada “menghadapinya langsung”, karena itu aku tidak bertarung sungguh-sungguh…Aku saat ini hanya tergores berkat Flaming Skeleton dan penyembuhan dari Wolf-dàgē.
Lalu, sebuah suara indah mulai menyanyi, diiringi oleh dentingan guqin. “Sheng-ge Entrancement Technique,” nyanyi si bard, melancarkan abilitynya.
Aku menyadari penurunan drastic agility King Zombie seakan dia terpengaruh oleh musik. Aku juga merasakan tekanan pada tubuhku berkurang, akhirnya memungkinkanku untuk berkonsentrasi untuk menyerang titik kelemahannya – lehernya – ketimbang berjuang untuk mempertahankan diriku sendiri.
Di bawah seranganku yang terus menerus pada leher dan sambungannya, HP Zombie King perlahan mulai berkurang. Pada saat ini, Lolidragon juga kembali bergabung dengan pertarungan tersebut. Dengan agility-nya yang super tinggi, dia membantu mengalihkan perhatian Zombie King, membuatnya menjadi lebih mudah untukku.
Nine-headed Dragon Strike!” Setelah tiga Fatal Blow dari Lolidragon ditambah tiga Nine-headed Dragon Strikes-ku, Zombie King tersebut akhirnya terdorong sampai batasnya. Dia meledak menjadi sebuah tongkat, dua permata, dan beberapa material yang dapat digunakan untuk membuat weapon atau armor tingkat tinggi.
Kami mengidentifikasi tongkatnya, menemukan bahwa benda tersebut adalah tongkat sihir tipe bertumbuh dengan light-type damage – the Light of Glory. Kami memberikan tongkat tersebut pada Wolf-dàgē dan memutuskan untuk membagi sisanya di kota.
“Ayo! Kita perlu kembali menaikkan level,” aku mendesak semuanya, tetapi…
“Maukah kau bergabung dengan tim kami?”
Tidaaak! Wolf-dàgē, tidak bisakah kau melihat diriku yang mati-matian untuk mengabaikan dia? Sekarang kau bahkan mengundangnya untuk bergabung dengan tim kita!
“Apakah kau yang telah menyelamatkanku? Terima kasih, terima kasih banyak.” Lolidragon mati-matian mencoba menahan tawanya.
Si bard memberiku tatapan singkat namun antusias. “Aku akan sangat senang bergabung dengan tim kalian.”
“Tidak! Aku menolak!” aku memekik dengan kalut.
Wolf-dàgē mengerutkan alisnya dan berkata, “Kau melihatnya juga, Prince. Dia …siapa namamu?” Dia menoleh untuk bertanya pada si bard.
Si bard membungkuk dan berkata, “Namaku Guiliastes.”
“Guiliastes tidak hanya dapat menyerang dari jauh, tapi dia juga bisa menggunakan support-type magic. Dia akan menjadi anggota tim yang baik sekali.”
“Itu benar, Prince, terima saja dia!” Lolidragon menyahur dengan nada tulus yang keliru.
“Tidak, Lolidragon,” aku memohon. “Bukankah kau bilang kita mencari anggota tim untuk melindungi kehormatanku? bagaimana bisa kau membiarkan seorang mesum masuk sekarang?!”
Lolidragon terkikik geli tapi segera bepura-pura terlihat berpikir serius. “Kau benar. Lalu bagaimana dengan ini : Guiliastes, kau harus bersumpah untuk melakukan apapun yang tidak sepatutnya pada Prince.”
Guiliastes memunculkan wajah kaku karena ngeri. “Tolong jangan salah paham. Guiliastes tidak akan pernah mencoba untuk melakukan tindakan senonoh apapun pada Tuanku yang indah dan mulia.” Dia menatap hangat padaku lagi. Menakutkan! “Tuanku yang indah dan mulia hanya untuk dilihat, tidak untuk disentuh.”
Aku melihat pada penolongku yang terakhir, Doll, dengan ekspresi yang mati-matian memohon.
“Tentu, lebih banyak lebih menguntungkan!” Doll meyakinkan dengan senang.
Dengan begitu, dengan empat suara setuju melawan satu suara menentang, kami kini mendapat tambahan baru di tim kami: Guiliastes, seorang demon bard gay.
“Gui-apapun, kuperingatkan kau, jika kau mencoba untuk…berbuat sesuatu padaku, akan kubuat kau membayarnya.” Kuangkat dao-ku pada wajahnya.
“Tuanku yang tercinta, jika kau tidak dapat mengingat nama Guiliastes, silakan memanggil dengan nama panggilanku,” Guiliastes berkata padaku dengan lembut.
“Apa nama panggilanmu? Akan melelahkan untuk terus-terusan memanggilmu dengan nama panjang,” sahut Lolidragon.
Dia menyunggikan sebuah senyuman kecil pada Lolidragon dan lalu menolehkan kepalanya dengan mesra padaku. “Panggil saja aku Gui.”
[½ Prince Volume 1 Chapter 4 End]
Footnotes
Mie Za cui: Sebuah sajian mie yang tidak biasa yang sepertinya sangat populer di Hong Kong dan Taiwan. Hidangan ini biasanya di dalamnya terdapat potongan wortel, kulit babi, kari bakso ikan, darah babi, dan usus babi, bersama dengan mie.
You tiao : Roti batangan yang digoreng (kemungkinan cakwe di Indonesia).
Wolf-dàgē : Imbuhan dalam bahasa Cina yang berarti “kakak (laki-laki)”
The Eye of the Soul : Sebuah novel fantasi yang dipublikasikan oleh Adventurers’ Heaven (yang juga mempublikasikan ½ Prince)
Demi-cinta dan keadilan…menghukummu! : Merujuk pada seri komik dan anime Jepang, Sailor Moon.
Lolidragon-jiějie : Imbuhan dalam bahasa Cina yang berarti “kakak (perempuan)”
Guqin : Biasanya nama ini merujuk pada alat musik tradisional China yang termasuk dalam keluarga sitar/kecapi. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Guqin.
AOE : Singkatan dari “Area of Effect”, yang berarti serangan hebat dalam sebuah area tertentu. Serangan ini biasanya sangat kuat dan untuk melawan banyak lawan dalam satu waktu, tetapi kelemahannya adalah banyaknya waktu yang dibutuhkan untuk merapalnya.
Permainan Elang dan Induk Ayam : Permainan anak-anak di beberapa negara di Asia, dengan banyak variasi (di Indonesia disebut permainan “Ular Naga Panjang”. Permainan ini membutuhkan tiga atau lebih pemain, dengan satu pemain sebagai “Elang”, satu pemain sebagai “Induk Ayam” dan yang lainnya sebagai “Anak-anak Ayam.” Anak-anak ayam akan berbaris di belakang induk ayam dan berpegangan pada orang di depannya sementara Elang berusaha menangkap anak-anak ayam dengan menyentuh mereka. Begitu induk ayam kehilangan seluruh anak ayamnya, permainan selesai.
Guazi :  Snack Cina yang biasa dimakan ketika Tahun Baru Cina, yang dibuat dari biji-bijian (bunga matahari, labu, atau semangka) yang digaramin dan dikeringkan (di Indonesia disebut kwaci).

1/2 Prince Jilid 1 Bab 4 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

1 komentar:

  1. hahahaha sumpah ngakak
    prince yg tamvan tapi banci
    lolidragon class thief tpi penakut
    doll ras angel class necromancer tpi tkut tengkorak
    beastman yg gede + kekar tpi class priest
    Gui tamvan tpi humu :v
    charanya greget semua

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.