28 Juli 2015

Mushoku Tensei Jilid 1 Bab 2

BAGIAN 1
Lilia pernah menjadi pelayan-penjaga selir kerajaan Asura.
Pelayan-penjaga adalah pelayan yang juga bertugas sebagai penjaga.

Pelayan-penjaga biasanya melakukan pekerjaan pelayan, tapi saat terjadi sesuatu, mereka akan mengangkat pedang untuk melindungi Tuannya.
Lilia dengan setia menyelesaikan tugasnya. Sampai saat ini, belum ada keluhan tentang pekerjaanya sebagai pelayan.
Tapi sebagai pendekar pedang, kemampuannya biasa saja, tidak ada yang spesial.
Dan karena itu, dia melakukan kecerobohan saat melawan pembunuh bayaran yang mengincar putri yang baru lahir, dan kakinya terluka karena pisau musuh.
Pisau itu dilapisi racun yang digunakan khusus untuk membunuh bangsawan.
Belum ada penawar ataupun sihir penyembuh yang bisa mengobati racun mengerikan itu.
Luka itu segera diobati, dan Lilia berhasil selamat berkat dokter yang mencoba berbagai cara untuk menyembuhkannya, tapi luka itu memberikan efek samping.
Tidak ada masalah pada kehidupan sehari-harinya, tapi Lilia sudah tidak bisa berlari atau menghentakkan kaki lagi.
Setelah itu kerajaan langsung memecatnya.
Itu bukanlah kejadian yang langka, dan Lilia menerima takdirnya itu.
Setelah kehilangan kemampuannya, dia pun kehilangan posisinya.
Walau tidak mendapat uang kompensasi, dia termasuk beruntung karena dia tidak dibungkam mengingat dia bertugas di istana dalam.

Kemudian Lilia meninggalkan ibukota.
Dalang dibalik percobaan pembunuhan itu belum ditemukan.
Karena telah mengerti peraturan staff selir, dia tahu ada kemungkinan ia akan menjadi target berikutnya.
Mungkin alasan istana membiarkan Lilia pergi berkelana adalah untuk memancing keluar sang dalang.
Dia selalu memikirkan alasan kenapa dia yang tidak punya latar belakang penting, bisa diterima di istana dalam. Dan sekarang dia akhirnya mengerti; yang mereka inginkan hanyalah mempekerjakan pelayan yang dapat digunakan dan dibuang.
Apapun alasannya, dia harus meninggalkan ibukota secepat mungkin demi keselamatannya sendiri.
Meskipun kerajaan memperlakukan dia sebagai umpan, dia tidak punya kewajiban untuk tetap tinggal karena dia tidak diperintahkan melakukan apapun.
Dan dia merasa tidak memiliki kewajiban yang harus dilakukan.

Selama perjalanan Lilia berganti kereta kuda secara diam-diam, dan tiba di wilayah Fedoa, yang memiliki lahan pertanian yang luas dan terletak di perbatasan.
Tempat itu terdiri dari ladang gandum luas yang menenangkan, dan benteng kota Roa sebagai pengecualian,, yang menjadi tempat tinggal sang penguasa.
Lilia berniat bekerja disana.
Tapi, karena kakinya terluka, dia tidak bisa mendapat pekerjaan yang membutuhkan kekuatan fisik.
Dia bisa menawarkan diri mengajar teknik pedang, tapi dia lebih baik dipekerjakan sebagai pelayan, karena gajinya lebih tinggi.
Di perbatasan, banyak orang yang bisa menggunakan pedang, dan banyak yang bisa mengajarkan ilmu pedang, tapi pelayan yang berpengalaman dalam mengurus keperluan rumah tangga relatif jarang.
Karena jumlahnya sedikit, gajinya akan lebih besar.
Bagaimanapun, akan berbahaya baginya jika dipekerjakan oleh penguasa Fedoa, atau bangsawan kelas atas lain dengan status yang sama...
Orang-orang semacam itu pasti memiliki hubungan dengan raja.
Jika mereka tahu bahwa dia pernah bekerja sebagai pelayan untuk selir istana, ada kemungkinan dia akan digunakan sebagai alat politik.
Dan karena alasan itu, Lilia menghindarinya.
Dia tidak ingin mengalami situasi hampir mati lagi.
Meskipun itu agak tidak adil bagi sang putri, Lilia berharap bisa tetap menjauh dari konflik kekuasaan para bangsawan.
Tapi, jika gajinya terlalu rendah maka tidak akan ada cukup uang untuk dikirimkan ke keluarganya. Mencari pekerjaan yang aman dan gaji terjamin tentu tidak mudah.


BAGIAN 2
Setelah berkeliling ke semua tempat selama hampir satu bulan, Lilia menemukan selembar kertas perekrutan.
Seorang kesatria kelas bawah dari desa Buina, yang terletak di wilayah Fedoa, sedang mencari pelayan untuk dipekerjakan.
Dan yang lebih penting, di kertas itu tertulis bahwa orang yang berpengalaman merawat anak-anak atau yang memiliki pengetahuan tentang persalinan lebih diutamakan.
Buina adalah sebuah desa kecil di tepian Fedoa.
Sebuah desa diantara pedesaan. Desa yang sangat terpencil.
Hal itu sangat tidak nyaman, tapi ini adalah tempat yang dia cari.
Seorang ksatria kelas bawah yang menjadi majikannya juga penemuan bagus yang tak terduga.
Dan yang paling penting, dia mengenali nama calon majikannya.
Paul Greyrat.
Dia adalah adik kelas Lilia.
Seorang anak bangsawan boros, yang pada satu hari, tiba-tiba menerobos masuk ke dojo tempat Lilia belajar ilmu pedang.
Dia bercerita, bahwa dia kabur dari rumah setelah bertengkar dengan ayahnya, dan datang ke dojo untuk belajar ilmu pedang.
Dia juga mempelajari ilmu pedang di rumahnya, meskipun dengan gaya yang berbeda, dan dalam waktu singkat mampu melampaui Lilia.
Lilia tidak senang tentang hal itu, tapi dia mengerti bahwa dia tidak punya bakat, dan lalu merelakannya.
Paul, yang memiliki banyak bakat, pada akhirnya diusir dari dari dojo karena melakukan kesalahan.
Dia hanya meninggalkan sebuah kalimat pada Lilia, "Aku akan menjadi seorang petualang."
Seorang pria yang seperti badai.

Dan sekarang sudah 7 tahun sejak mereka terpisah.
Pada saat itu, ia telah benar-benar menjadi seorang ksatria dan menikah ...
Meskipun Lilia tidak tahu rintangan seperti apa yang sudah Paul alami dalam hidupnya, seingatnya paul bukanlah orang jahat.
Jika Lilia menceritakan tentang masalahnya, dia yakin bahwa Paul akan membantunya.
Jika itu tidak berhasil, maka ia hanya perlu mengingatkan tentang beberapa peristiwa di masa lalu.
Ada beberapa hal yang bisa dia gunakan untuk bernegosiasi.
Setelah dia mempertimbangkan semua faktor ini, Lilia menuju ke Buina.
Paul mempekerjakan Lilia tanpa ribut-ribut.
Tampaknya ia sangat cemas karena Zenith istrinya akan segera melahirkan.
Lilia sudah diajarkan tentang persalinan secara detil saat kelahiran sang putri. Terlebih lagi dia adalah orang yang Paul kenal dan diketahui latar belakangnya.
Lilia diterima dengan sambutan hangat.
Dan gajinya juga melebihi apa yang Lilia harapkan, jadi harapannya sudah terpenuhi.


BAGIAN 3
Sang anak pun lahir.
Tidak ada masalah persalinan atau semacamnya. Semua berjalan seperti saat dia dilatih di istana dalam.
Tidak ada masalah sama sekali. Semua berjalan lancar.
Namun, sang anak tidak menangis saat dilahirkan.
Hal itu langsung membuat Lilia berkeringat dingin.
Si bayi segera mengeluarkan cairan ketuban setelah ia lahir, tapi dia hanya mengangkat kepalanya tanpa emosi, dan tidak mengeluarkan suara apapun.
Ekspresi itu seperti anak yang meninggal saat lahir.
Lilia menyentuh si bayi, dan dia memiliki detak jantung. Dia juga bernafas.
Hanya saja dia tidak menangis.
Lilia teringat dengan perkataan seorang pelayan-penjaga senior.
Bayi yang tidak menangis saat lahir biasanya memiliki komplikasi.
Sesaat dia memikirkan hal ini.
"Ah, ah." Bayi itu melihat padanya, dan menggumamkan sesuatu dalam rasa pusingnya.
Lilia merasa lega setelah mendengarnya.
Meskipun tidak ada bukti tentang hal itu, Lilia merasa tidak akan ada masalah.


BAGIAN 4
Anak itu diberi nama Rudeus.
Dia adalah anak yang aneh, tidak pernah menangis atau rewel. Pada awalnya, Lilia menganggap dia memiliki tubuh yang agak lemah, dan tidak membutuhkan banyak tenaga untuk merawatnya.
Tapi, anggapan itu hanya terjadi di awalnya saja.
Setelah Rudeus belajar cara merangkak, dia mulai bergerak kemanapun di dalam rumah.
Kesemua tempat di dalam rumah. Dapur, pintu belakang, gudang, ruang peralatan pembersih, perapian...... dan lain-lain.
Dia bahkan naik ke lantai dua, meskipun tak ada yang bisa membayangkan bagaimana cara ia melakukannya.
Dan hal lainnya, dia akan menghilang saat tak ada yang mengawasinya.
Tapi, dia akan selalu ditemukan di suatu tempat di dalam rumah.
Rudeus tidak pernah meninggalkan rumah.
Terkadang ia melihat ke luar jendela, tapi sepertinya dia masih takut untuk pergi keluar rumah.
Secara insting Lilia merasa takut pada bayi ini, dan selalu bertanya-tanya kapan hal itu dimulai.
Kemungkinan saat Lilia menemukannya setelah dia menghilang.
Seringkali, Rudeus akan tersenyum.
Kadang-kadang dia akan melihat sayuran, memandangi api lilin yang meliuk, atau hanya melihat celana dalam yang belum dicuci.
Rudeus menggumamkan sesuatu dan menunjukan senyuman yang membuat orang merasa jijik.

Itu adalah senyman yang secara naluri membuat orang jijik.

Saat Lilia bekerja di istana dalam, dia harus pergi ke istana utama untuk melakukan tugas, dan para pejabat tinggi yang dia temui disana memiliki senyuman yang sama.
Mereka botak, memiliki perut buncit, dan meliriknya sambil menatap payudaranya. Mirip dengan bayi yang baru lahir belum lama ini.
Rasanya sangat menakutkan saat dia harus menggendong Rudeus.
Hidungnya akan memerah, kedua ujung mulutnya akan naik, dan nafasnya akan semakin cepat sambil membenamkan kepalanya ke dada Lilia.
Dan dia akan membuat suara aneh, "Huuu" and "Orhhh", dan terlihat tertawa saat membuat suara itu.
Saat itu juga, tubuh Lilia dikuasai oleh rasa menggigil yang mengerikan.
Dan dia harus menahan keinginan untuk membuang ataupun membantingnya ke tanah.
Bayi ini tidak imut sama sekali. Senyuman itu membuat orang lain ketakutan.
Itu adalah senyum yang sama dengan yang dimiliki pejabat tinggi saat mereka membeli banyak budak wanita muda.
Dia seharusnya hanya seorang bayi yang baru saja lahir.
Lilia merasa ketidaknyamanan yang tak tertahankan, dan bahkan merasakan bahaya saat sedang memikirkan hal itu.
Bayi ini sangat aneh. Mungkinkah ada hal buruk yang sedang merasukinya? Atau mungkin sesuatu yang serupa, seperti kutukan.
Setelah memikirkannya terus, Lilia mulai merasa sangat cemas.
Dia pergi ke toko perlengkapan, dan dia menghabiskan uang dengan jumlah yang menyedihkan untuk membeli beberapa hal yang diperlukan.
Saat keluarga Greyrats tertidur, dia melakukan ritual rumahan untuk mengusir setan.
Tentu saja, hal ini disembunyikan dari Paul dan keluarganya.
Dan keesokan harinya, setelah menggendong Rudeus lagi, Lilia mengerti.
Bahwa itu percuma saja.
Dan dia masih menjijikan seperti biasa. Hal itu sangat menakutkan saat seorang bayi menunjukan ekspresi seperti itu.
Zenith bilang, "Saat bayi ini diberi ASI, dia akan menjilat..."
Ini sudah keterlaluan.
Paul tidak pernah menahan diri soal wanita, tapi dia tidak pernah menjadi menjijikan sampai sejauh ini.
Hal ini terlalu aneh jika menjadi sesuatu yang turun-temurun.
Lilia kembali ingat.
Dia pernah mendengar sebuah cerita di istana.
Di masa lalu, seorang pangeran kerajaan Asura dirasuki iblis. Untuk membangkitkan iblis itu, dia akan merangkak dengan tangan dan kakinya setiap malam.
Dan saat ada pelayan yang tidak curiga memeluknya, sang pangeran menusuknya dengan pisau yang tersembunyi dibelakangnya, dan membunuhnya.
Itu sangat menakutkan.
Apakah Rudeus juga semacam itu?
Tidak diragukan. Dia adalah iblis semacam itu.
Sekarang dia masih menurut, tapi suatu hari dia akan bangkit, dan saat semuanya tertidur, satu per satu akan dia.......
Ahh..... Ini masih terlalu awal, terlalu awal untuk memutuskan hal ini. Aku seharusnya tidak mengambil pekerjaan ini.
"Cepat atau lambat aku akan diserang.
....... Lilia adalah orang yang terlalu percaya pada takhayul seperti ini.


BAGIAN 5
Selama tahun pertama dia bekerja, Lilia masih takut pada Rudeus.
Tapi dia tidak menyadari sejak kapan pergerakan tak terduga Rudeus mulai berubah.
Rudeus tidak menghilang semaunya lagi, dan biasanya dia tetap berada di ruang kerja Paul di lantai dua.
Bicara soal ruang kerja, Itu hanyalah ruangan dengan beberapa buku.
Rudeus berdiam disana dan tidak pergi lagi. Lilia diam-diam mengamatinya, dan mendapatinya bergumam sendiri sambil membaca buku.
Itu adalah gumaman yang tak berarti.
Atau seharusnya begitu, paling tidak, itu bukanlah bahasa yang sering digunakan di benua pusat.
Dan masih terlalu cepat bagi dia untuk belajar berbicara. Begitu juga untuk diajarkan tentang huruf abjad.
Dia hanyalah bayi yang melihat buku dan membuat suara yang tidak jelas.
Karena jika bukan begitu, itu akan sangat aneh.

Lilia selalu merasa bahwa suara itu memiliki arti dan tersusun.
Rudeus tampaknya  memahami isi buku itu.
Ini terlalu menakutkan..... itulah yang selalu Lilia pikirkan, ketika ia mengamati Rudeus dari celah kusen pintu.
Bagaimanapun, dia tidak pernah merasa jijik lagi kepada Rudeus karena suatu alasan yang tak bisa dijelaskan.
Jika dipikir-pikir, rasa tidak nyaman yang tak diketahui asalnya itu perlahan menghilang saat Rudeus mengurung dirinya di ruangan itu.
Meskipun terkadang dia menunjukan senyum menjijikan saat Lilia menggendongnya, itu tidak membuatnya merasa tidak nyaman.
Dia tidak lagi membenamkan kepalanya ke dada Lilia, dan tidak lagi terengah-engah secara tiba-tiba.
Kenapa Lilia selalu menganggapnya menakutkan?
Akhir-akhir ini, dia merasa bahwa Rudeus itu tulus dan pekerja keras, dan tidak ingin menggangu dia.
Zenith juga merasakan hal yang sama.
Setelah itu, Lilia merasa lebih baik tidak terlalu peduli padanya.
Pemikiran itu bertentangan dengan akal sehat.
Faktanya, itu adalah hal yang tidak normal bagi manusia untuk tidak peduli pada seorang anak yang belum lama lahir.
Namun akhir-akhir ini ada tanda-tanda pengetahuan di mata Rudeus.
Beberapa bulan yang lalu dia hanya menunjukan pandangan mesum, tapi sekarang, ada kemauan kuat dan pengetahuan yang berkilau di matanya.
Apa yang harus dia lakukan? Meskipun ia memiliki pengetahuan tentang merawat anak, Lilia belum memiliki pengalaman untuk dapat memahaminya.
Dia tidak ingat apakah pelayan-penjaga seniornya atau ibunya di kampung halaman yang mengatakannya, bahwa tidak ada cara yang benar untuk membesarkan anak.
Setidaknya, dia tidak merasa jijik, tidak nyaman, atau ketakutan lagi.
Jadi Lilia memutuskan lebih baik tidak mengganggunya, dan membiarkan dia kembali seperti semula.
--Lebih baik membiarkan dia apa adanya.
Itulah keputusan akhir Lilia.

Mushoku Tensei Jilid 1 Bab 2 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Damas Anang

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.