27 Juli 2015

Date a Live Jilid 8 Bab 2 LN Bahasa Indonesia



12 FOTO

Bagian 1
Senin, 16 Oktober. Tobiichi Origami menghela pelan saat dia duduk di kursinya.

“……………………”

Dia punya rambut yang terurai hingga bahu, tubuh langsing, dan wajah cantik seperti boneka.

Tapi jika seseorang melihat dengan dekat, mereka mungkin melihat wajah Origami sedikit muram sekarang. Alasannya sederhana.

Kemarin sore. Pertanda gempa luar angkasa akan terjadi di pinggiran kota Tenguu dan pengumuman untuk evakuasi diumumkan.

Ini berarti roh akan muncul dan tim AST akan datang dan menyerang.

Namun, tanpa dimasukkan ke dalan anggota tim AST, Origami mematuhi alarm dan pergi ke shelter bersama semua orang dan hanya bisa menunggu ancaman roh diselesaikan.

Sabar. Kesal. Meskipun memiliki kemampuan untuk menarik pelatuk, dia tidak diizinkan melakukannya.

Itulah alasan kenapa wajah Origami sedikit muram.

Meski begitu, itu adalah hal yang tak terelakkan.

Bulan lalu, dia menggunakan baju besi pemusnahan tanpa izin dan menyerang pasukan sekutu. Pada akhirnya, dia menunjukkan taringnya kepada penyihir DEM yang memakai peralatan yang tidak biasa.

Akibatnya, selama dia dihukum, Origami dimasukkan ke dalam markas tahanan dan dilarang menggunakan peralatan AST.

Tentu saja, di depan hukum yang tak terbantahkan, dia berada di negara dimana dia dijatuhi beberapa hukum pidana. Tapi, karena itu adalah tindakan tidak masuk akal sehubungan dengan DEM kali ini dari sisi lain, ada banyak suara melindungi Origami dari dalam JGSDF sehingga diskusi mengenai hukumannya pun berlanjut. Mengingat hal ini, bisa dibilang Origami sekali lagi diberkati keberuntungan.

Namun, jika itu satu-satunya yang dapat membuat posisi Origami terancam, mungkin bukan itu masalahnya. Berbeda dengan sebelumnya, ada satu alasan lagi. Ada kejadian yang membuat perasaan Origami gelisah.

“Shidou……………….”

Origami bergumam dengan suara lembut di mana tidak ada yang bisa mendengarnya, dia menengok ke kanan.

Ya. Kursi sebelah kana Origami masih kosong.

Orang yang paling dicintai Origami, kursi Itsuka Shidou.

Masih ada waktu sebelum pelajaran dimulai. Bukan berarti Shidou memang absen. Tapi……….. Origami memiliki hal yang masih tertunda.

Dia diam-diam meninggalkan kursinya, dan berdiri di depan kursi yang ditempati Shidou.

“Nu?”

Seperti itu, gadis yang duduk disitu mungkin menyadari kehadiran Origami dan selagi mengeluarkan suaranya, dia melihat dengan mata yang tidak enak.

“................Ada apa denganmu, ada sesuatu yang kau inginkan?”

Perempuan itu, Yatogami Tohka mengatakannya selagi menatap Origami.

Masalah Origami adalah keberadaan perempuan ini. Dengan agak tidak menyenangkan, sejak rumah perempuan ini dekat dengan Shidou, mereka sering datang ke sekolah bersama.

“Shidou belum datang?”

Saat Origami bertanya, Tohka [Muu] merubah ekspresinya [Tsuun!] sebelum melihat ke arah lain.

“Fuun! Aku tidak akan beritahu kalau Shidou harus lakukan sesuatu dulu dan akan sedikit telat!”

“.....................”

Kalau begitu, diam disini tak ada gunanya, dan Origami kembali ke kursinya. Sebenarnya, tak ada alasan untuk berbicara dengan Yatogami Tohka kecuali memang harus.

Mungkin marah karena sikap Origami, Tohka [Beeh] menjulurkan lidahnya. Dari semua arah di kelas, semua orang melihat mereka.

Lalu pintu kelas terbuka dan seorang pemuda masuk.

Dan saat itu.

Dengan wajah yang tampan dan raut muka yang menggembirakan. Ya. Itu orang yang disukai Origami, Itsuka Shidou.

“Ooooh Shidou!”

Origami melihat Tohka dengan kesal, sementara ekspresi Tohka benar-benar berubah setelah dia berdiri dan meninggikan suaranya.

Saat dia melakukannya, Shidou mengangkat alisnya seperti dia menyadari, dan Tohka mendekatinya.

“Kau cepat! Apa kau sudah menyelesaikannya?”

“Aah, berkatmu. Lebih penting lagi, bisa bicara sebentar?”

“Nu? Ada apa?”

Tohka memiringkan kepalanya. Saat dia melakukannya, Shidou tersenyum lembut, menaruh tasnya, dan dengan tangannya dan *mukyuu* memegang payudara Tohka.

“Mu..............? Hnn................”

Tohka terdiam beberapa saat karena dia tidak mengerti apa yang terjadi dan.........

“A-A-A-A-A-A-A-A-A-A-A-A.............Apa yang kau lakukan!?”

Wajahnya memerah dan Tohka langsung melepaskan tinju ke arah Shidou.

“Otto!”

Namun, setelah Shidou menangkis serangan Tohka dengan kelincahan tubuhnya, dia bergantian membuka dan menutup tinjunya seolah-olah memikirkan perasaan payudara yang dia nikmati.

“Iyaa--, payudara yang indah! Perasaan memegang secara alami memang beda.”

“A-A...........!”

“Kali ini, hanya sekali, tak apa jika aku memegangnya langsung? Aku akan melakukannya dengan lembut.”

“A-Apa yang kau katakan! Apa kau sedang bercanda!?”

Tohka mengatakannya dengan kebingungan selagi menghalangi dadanya dengan kedua tangannya, pipinya semerah tomat.

Sepertinya, seolah mereka mendengar keributan, tim tiga perempuan yang sedang berbicara di dekat meja mengelilingi Tohka dan memandangi Shidou.

Yamabuki Ai, Hazakura Mai, Fujibakama Mii. Mereka adalah teman baik Tohka dan trio terkenal dari tahun ke-2 kelas 4.

“Tunggu sebentar, Itsuka-kun, apa yang kau pikirkan!?”

“Ini kejahatan!”

“Haruskah aku mencabut buahmu itu!?”

Datang dari masing-masing mulut, mereka terus mengkritiknya.

Tapi, setelah Shidou mengangkat bahunya seolah dia tidak terganggu dengan itu, dia meraih tangan Ai yang ada di dekatnya dengan gerakan elegan dan mendorongnya ke tembok. Lalu, dia menggunakan tangan satunya dan mengangkat dagu Ai.

“Aku mengerti kamu ingin diperhatikan. Tapi, jangan berteriak seperti itu. Haruskah aku menutup bibirmu itu?”

“Eeh............!?”

Dari serangan balik Shidou, Ai membuka lebar matanya dan tubuhnya membeku. Mai dan Mii, terkejut dengan apa yang terjadi, lupa untuk menahan Shidou.

Shidou *fufu* menggerakkan mulutnya menjadi tampilan yang tak kenal takut, dan sembari mengangkat wajah Ai, membuat bibirnya mendekat. “Ya-yaaaa.............! Aku punya Kishiwada-kun..........!”

Walau Ai mencoba menghentikannya, Shidou tidak berhenti. Dia perlahan mendekat dan tubuh Ai membeku dan menutup rapat matanya.

Shidou tersenyum nakal, membawa bibirnya mendekati telinga Ai, dan *fuu* meniupkan lembut. “Ha-hanyaaaa......”

Lututnya terayun *Gaku**gaku* dan Ai jatuh di tempat.

Saat mereka kembali sadar, Mai dan Mii mengangkat bahunya.

“Ah, Ai!”

“Sialan, beraninya kau melakukan itu pada Ai?”

Mereka menangis dan melihat ke arah Shidou dengan ekspresi galak.

Namun, saat itu, Shidou merendahkan posturnya dan menarik rok Mai dan Mii dengan tangannya dan mengangkatnya. Para lelaki di kelas [Ooooooooooooohhhhhh!] menjadi bersemangat dan Mai dan Mii menekan rok mereka dengan panik.

“Kyaaaaaaaaaaa!?”

“A-Apa yang kau lakukan!”

“Hahaha, kalian berdua mengenakan pakaian dalam yang benar-benar lucu! Tentu saja, biarkan aku apresiasikan hal itu lain waktu di ranjang.”



“A..........!?”

Setelah Shidou mengatakan [Adieu] dengan dua jari dan berdiri dengan sikap sombong, dia melewati celah antara Mai dan yang lainnya dengan gerakan tubuh lincah dan keluar dari kelas.

“.................Shidou?”

Di dalam kelas yang kebingungan, Origami mengangkat alisnya.

***

Bagian 2
“Fuaaaaa……….”

Setelah dia menguap dengan keras, Shidou berjalan di koridor SMA Raizen.

Sepertinya bel tanda berakhir pelajaran ke-4 sudah berbunyi; murid perempuan berjalan dengan bentonya dan para pria berlarian ke kantin sekolah. Shidou menggaruk pipinya sambil menggerutu sendiri.

“Sudah waktunya istirahat makan siang…………… Aku datang cukup telat yah?”

Ya, pertemuan darurat diadakan kemarin di Fraxinus dan Shidou diharuskan hadir. Sebenarnya, ini buka tipe pertemuan yang berakhir larut malam. Namun kali ini, karena kemampuan dan tujuan Natsumi belum diketahui dan karena ucapannya sebelum pergi bisa menyebabkan bahaya kepada Shidou saat dia kembali, kali ini pertemuan berlangsung lebih lama.

Walau dia sudah beristirahat, tidak berhasil mengusir jauh rasa kantuknya. Dia menggaruk matanya dengan punggung tangannya dan menghela napas lagi.

Tapi, saat dia naik ke atas tangga dan membuka pintu kelas, rasa kantuk Shidou benar-benar hilang.

“.........................!!”

Itu karena semua murid melotot ke arah Shidou saat dia memasuki kelas.

Shidou mengangkat bahunya dan melihat sekitar dengan tidak nyaman.

“Eh..........? A-Apa? Apa yang terjadi...............?”

Karena tidak mengetahui apapun, keringat bercucuran di pipi Shidou. Berkumpul di sudut kelas, Mata Ai, Mai, dan Mii berkaca-kaca dan mendekat ke Shidou dengan cepat.

“Beraninya kau kembali lagi ke sini, Itsuka Shidouuuuuu!?”

“Kau harusnya tahu apa yang sudah kau lakukan!”

“Melalui rasa sakit, kami akan membuatmu malu karena sudah terlahir!”

Mereka saling bergantian berbicara dan mengepung Shidou, dan [Guruuuuuuu......] menggerutu seperti serigala.

Tubuh Shidou membeku. Ini bukan pertama kalinya dia diteriaki oleh ketiga perempuan ini tapi tidak ada apapun yang dipikirnya membuat mereka marah. Malahan, dilihat dari cara mereka berbicara, sepertinya mereka bilang Shidou datang ke kelas beberapa saat yang lalu dan melakukan sesuatu yang buruk.

Tu-tu-tunggu sebentar! Kenapa kalian semua marah!?”

Saat Shidou menjulurkan tangannya untuk menenangkan Ai, Mai, dan Mii yang tiba-tiba berdiri di depannya, bingung apa yang membuat mereka marah, mereka meninggikan suaranya dan mendekati Shidou.

“Tak ada gunanya kau pura-pura tak tahu!”

“Itu benar! Kita punya banyak saksi mata!”

“Badai sakura ini, aku tak akan membiarkanmu bilang kau lupa apa yang terjadi!”

Ai menggunakan tangan kanannya dan membuat suatu tanda, Mai menunjuk semua orang di kelas, dan Mii membuat gesture untuk membeberkan pundaknya, tapi dia berhenti.

Namun, walau mereka mengatakannya, dia masih bingung. Alisnya membentuk bentuk kanji delapan (), selagi melihat sekeliling untuk minta bantuan.

Dan sebagai respon, dia mendengar suara yang familiar dari belakang Ai, Mai, dan Mii.

“Kalian bertiga, bisa minta waktu sebentar?”

“Tohka!”

Ekspresi Shidou menjadi cerah dan memanggil pemilik suara itu.

Mulut Tohka membentuk kanji () selagi melewati Ai dan Mai, dan berjalan sampai di depan Shidou. Setelah Shidou bernafas lega, dia menatap Tohka dan bertanya.

“Kau menyelamatkanmu Tohka. Ada apa dengan mereka? Walau aku baru sampai-------------“

Pipi Tohka memerah *posu*, dan meninju perut Shidou.

“…………….Kenapa kau tiba-tiba melakukan hal seperti itu? Err, bagaimana yah…….. itu menakutkanku!”

“Heh……? A-Apa yang kau bicarakan, Tohka…….? Aku tidak---------“

“…….Apa?”

Saat Shidou menjawab, kedua alis Tohka mendekat dan membuat ekspresi galak sebelum air mata turun dari matanya selagi dia memukul dada Shidou.

“Wah, a-apa yang kau lakukan, Tohka? Sakit……”

“Diam! Aku salah menilaimu Shidou! Walau aku akan memaafkanmu, aku tak akan mau. Kenapa kau tidak jujur saja!?”

“Tidak, apa maksudmu!?”

“…………..! I-Itu…… er, itu, a-aku………..”

Tohka menjadi bimbang, dan mukanya menjadi lebih merah dan menengok ke bawah.

Melihat Tohka seperti itu, Ai, Mai, dan Mii memeluknya.

“Tidak apa! Tidak apa Tohka-chan!”

“Bukan hanya dia menyangkalnya, berpikir dia akan membuat korban mengalami kilas balik!”

“Bahkan tidak ada neraka yang pantas untukmu!”

“Tidak, itulah kenapa! Apa yang kau bicarakan!?”

Tak tahan, Shidou pun meninggikan suaranya.

Dan saat itu, ada yang memegang tangan kanan Shidou.

“Eh?”

Datang entah darimana, Tobiichi Origami berdiri dengan tatapan tenang dengan intense ringan yang membuat kita jatuh ke dalam selagi dia menatap Shidou.

“O-Origami? Jangan bilang aku melakukan sesuatu padamu juga…………?”

Saat Shidou menanyainya dengan ketakutan, Origami menengok ke bawah dan menggelengkan kepalanya.

“Tidak ada.”

“Be-begitu…………”

Dari balasan Origami, Shidou mengeluarkan tenaga pada tangan kanannya karena gugup dan menghela nafas.

Lalu, Origami menarik tangan Shidou ke arah bajunya yang kancingnya dibuka sebelumnya memasukkan tangannya ke dalam payudaranya.

“Aguaayaaaaa!?”

Dari sensasi yang tiba-tiba, Shidou membuat suara yang belum pernah dikeluarkannya.

Walau dia mencoba menarik tangannya, dia memegang lengannya dengan erat, aku tidak bisa bergerak! Bahkan, tiap kali dia mencoba menarik, perasaan lembut dan hangat terasa ke jari dan telapak tangannya yang sensitif membuat pikiran Shidou kacau.

“A-Apa yang kau lakukan--!?”

Saat itu, Tohka mengangkat kepalanya dan melepaskan genggaman Origami dari Shidou.

Setelah Shidou berhasil membebaskan tangannya, dia menghirup udara untuk menenangkan hatinya yang sudah dipukul berkali-kali.............. Tapi, saat dia menarik nafas, dia mencium suatu aroma yang berasal dari tangan kanannya yang memiliki kehangatan dan perasaan Origami, dan wajah semakin memerah.

“O-Origami........? Bukankah kau bilang aku tidak melakukan apa-apa padamu..........?”

Saat Shidou menanyakannya dengan malu, Origami mengangguk.

“Ya. Itulah kenapa aku membiarkanmu melakukannya sekarang.”

“Ha.........Haaaaaa!?”

“Lakukanlah, lakukan hal yang kau lakukan pada semuanya. Dorong aku ke tembok dan angkat daguku, tiup nafas manismu ke telingaku dan angkat rokku.”

“A............!?”

Shidou membuka lebar matanya dari intruksi yang sangat detil selagi Ai, Mai, dan Mii tersipu malu.

Origami tidak peduli dan terus berbicara.

“Dan setelah bertukar ciuman yang panas, buka bajuku, ambil keperawananku, dan tinggalkan bekas di tubuhku yang takkan pernah hilang.”

“E-eeeeehhh!?”

“Tobiichi Origami! Shidou takkan melakukan hal seperti itu!”

Saat Shidou meninggikan suaranya, Tohka mengeluarkan teriakan yang tak tertahankan.

Namun, Origami tidak merasa terganggu  dan mendekati Shidou.

“Lakukan, Shidou. Lakukanlah.”

“Tunggu............tidak, errrr................”

“Lakukan.”

“Ma-maafffffffffffffffffffff!”

Shidou meminta maaf untuk beberapa alasan dan pergi dari tempat itu.

Biasanya, Origami merespon dengan cepat agar Shidou tidak lari, tapi dia dihalangi oleh Tohka dan pertengkaran pun terjadi.

Shidou mengambil kesempatan itu untuk lari ke koridor dan kabur ke tempat yang aman dimana Origami tidak bisa menemukannya.

Selagi menyeka keringat yang turun, dia mengatur pernapasannya.

“Apa yang semuanya katakan? Aku baru sampai.............”

Setelah mengatakannya, dia mengangkat alisnya. Sepertinya semua membicarakan bagaimana Shidou melakukan sesuatu yang buruk baru-baru ini.

“Hn..........?”

Selagi Shidou menaruh tangannya di dagunya untuk berpikir, dua perempuan yang dia tahu berjalan menuju arahnya.

“Ou, Kaguya, Yuzuru.........tunggu---“

Saat dia memanggil mereka, Shidou menyadari sesuatu yang aneh. Untuk beberapa alasan, mereka berdua tidak mengenakan seragam SMA Raizen tapi mengenakan baju renang sekolah.

“.........un?”

“Ketahuan. Ini Shidou.”

Kaguya dan Yuzuru menyadari Shidou dan mengangkat alisnya bersamaan.

Saat dia mengenalinya, mereka berdua *Ba*! Menjulurkan tangannya disaat bersamaan dan mengintimidasi Shidou.

“Kami akhirnya menemukanmu Shidou..........! Kau belum lari huh!? Fuun, aku mengakui keberanianmu itu!”

“Waspada. Kita tidak akan lengah lagi. Kita akan menyelesaikan ini dengan benar.”

“A...........!?”

Dari respon mereka, tubuh Shidou kembali membeku dan melangkah mundur.

“Ja-jangan bilang kau akan mengatakan....... aku melakukan sesuatu padamu?”

Shidou bertanya dengan suara gemetaran selagi Kaguya dan Yuzuru mengangkat alisnya.

“Sialan kau Shidou, jangan bercanda! Tetap saja, kembalikan pakaian dalam yang baru saja kau curi!”

“Marah. Siapa yang tadi bilang [Sebenarnya, aku punya fetish bra], dan menumpahkan air ke Yuzuru?”

“I-iiiih!?”

Setelah diberitahu tentang kejahatan yang tidak dia ingat, Shidou membuka lebar matanya.

“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan tapi kita tidak bisa lengah saat ada di dekatmu.”

Setuju. Yuzuru panik karena tidak ada baju ganti tapi untungnya ada satu di tas kolam renang.”

“A-Aku tidak melakukannya----“

“Apa kau berlagak bodoh!? Tak ada gunanya! Tidak mungkin aku bisa salah dengan wajah Shidou.”

“Setuju. Itu benar. Tidak mungkin Kaguya penyuka Shidou bisa salah.”

“Apa yang kamu katakan Yuzuru!? Kau sama denganku.......!”

“Abaikan. Tak mengerti apa yang Kaguya bicarakan.”

Yamai bersaudara berdebat untuk beberapa saat tapi lalu mengayunkan kepalanya dan sekali lagi melihat Shidou.

“Tetap saja! Takkan ku biarkan berakhir selagi aku masih terpukul! Kejahatan dibawah Yamai, kau harus memberikan kompensasi dengan tubuhmu! Dengan kata lain...... Shidou! Buka celanamu!”

“Setuju. Lagipula, Yuzuru akan membasahi tubuh Shidou dengan semprotan.”

Setelah mengatakannya, Yamai bersaudara secara bertahap mengurangi jarak antara mereka dan Shidou.

“Ja-jangan main-main denganku.....!”

Dia tidak bisa menerima balas dendam untuk kejahatan yang tidak dia ingat. Shidou mengangkat tumitnya dan akan lari.

Namun, saat itu, dia mendengar suara yang dia kenal datang dari rute pelariannya yang ada di belakangnya.

“Itsuka-kun.....................!”

Dia adalah perempuan yang memakai kacamata dan tubuh mungil. Walau dia terlihat muda, Shidou tahu di bukanlah murid karena dia tidak memakai seragam sekolah. Wali kelas Shidou Okamine Tamae, dipanggil Tama-chan.

“Ta-Tama-chan............. uhh, Okamine-sensei!”

Shidou membenarkan nama panggilan yang dia tidak sengaja dan memanggil namanya, Tama-chan-Sensei berjalan dengan berat ke arah Shidou dan langsung memegang ujung baju Shidou.

“A-Ada apa, sensei....?”

Setelah Shido bertanya dengan ketakutan, wajah Tama-chan-sensei terlihat seperti dia akan menangis dan mengeluh.

“Se-setelah melakukan sesuatu seperti itu, apa yang kau katakan...........? A-Aku tidak bisa menikah lagi........... aku akan memintamu untuk tanggung jawab, oke!?”

“E-Ehhhh!?”

Dia bersiap untuk batasan tertentu. Tapi, seperti yang diperkirakan, sudah satu langkah terlalu jauh. Dia menggerakkan bahunya dan mengambil satu langkah ke belakang.

Saat dia melakukannya, seorang pemuda datang dari sudut koridor dan saat dia melihat Shidou, dia [Hii] membuat suara ketakutan.

Itu adalah teman Shidou, Tonomachi Hiroto. Rambutnya dioleskan pomade, dan penampilan yang tak kenal takut. Tubuhnya lebih dikaruniai dari Shidou. Walau begitu, tuk beberapa alasan, dia memeluk pundaknya dengan gesture perempuan dan *Kata**Kata* dan giginya bergemeretak.

“To-Tonomachi..........?”

Saat Shidou mengatakannya dengan ragu, seluruh tubuh Tonomachi menggigil seperti Chihuahua.

“Itsuka........Kun, errr, errm, hei,............ aku sering bercanda dan kadang menyebabkan kesalahpahaman tapi............. aku tak tertarik jadi................”

“Ada apa denganmu!?”

Setelah mengeluarkan teriaka yang tak bisa dia tahan lagi, mungkin karena terkejut, Tonomachi menarik kepalanya mundur seperti kura-kura.

“Kuh..............!”

Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi sepertinya mereka tak akan mendengarkan permintaan maaf. Bagaimanapun, diam di sekolah akan buruk. Mata Shidou menengok kiri dan kanan untuk mencari rute pelariannya.

Dan----------

“Eh..........?”

Secara cepat matanya bergerak lebih jauh ke koridor. Seluruh tubuh Shidou terasa merinding.

Di pertigaan dengan cahaya bersinar masuk dari jendela, seorang pemuda berdiri.

Dia memiliki fisik tubuh yang ramping dan wajah netral. Untuk seketika,  Shidou merasa dia mungkin penah melihatnya, dan perasaan aneh datang pada Shidou.

Tapi, tiba-tiba.

Dia menyadari orang yang dia lihat ada di kaca setiap pagi.

Ya. Itu adalah sesuatu yang tak dapat dipercaya tapi................ Itsuka Shidou, berdiri disana.

“........................”

[Shidou yang lain] melirik ke arah Shidou selagi mengayunkan tangannya dan bibirnya tersenyum, dan berjalan melewati koridor.

Sepertinya dia meledek Shidou.

“Tu-Tunggu...........! Apa kau................!?”

Shidou berteriak dan mulai berlari mengajar [Shidou yang lain].

Tapi dia tidak bisa dibandingkan dengan kemampuan Yamai bersaudara. Tangan kanannya dipegang Kaguya selagi tangan kirinya dipegang Yuzuru dan kakiknya terhenti.

“Kuku, kau pikir kami akan membiarkanmu pergi? Menyerah Shidou! Kau akan menyesali kejahatanmu!”

“Tangkap. Tak membiarkanmu pergi. Yah, kami akan berhati-hari menyiramimu.”

“Tu.............! Tunggu sebentar! Sekarang di sisi lain koridor aku..............!”

Jika dia tetap disini, dia akan kehilangan [Shidou yang lain]. Shidou menguatkan tekadnya *Guu*, dan memberikan kekuatan pada kedua tangannya.

“Ah-----! Aku mengerti! Aku akan diam!”

Saat dia berteriak dengan putus asa, Yamai bersaudara yang menahan kedua tangan Shidou mengangguk dengan puas.

“Kuku, ya, itu bagus. Kau memberikan penghinaan pada kami, Yamai. Kami akan memberimu hukuman yang tepat.”

“Setuju. Shidou harus menyelesaikannya dari awal.”

Kaguya dan Yuzuru melepaskan tangan Shidou. Mereka mungkin percaya apa yang Shidou katakan jujur; tapi jika di mencoba lari, mereka mungkin berpikir akan mudah untuk menangkapnya lagi.

Kenyataannya, itu benar. Walau kekuatan mereka disegel, Yamai bersaudara adalah roh yang bisa mengendalikan angin. Kecepatan Shidou tidak bisa dibandingkan dengannya. Akan sangat sulit untuk lari dari mereka.

Ya.......... dia harus membuat kesempatan yang bagus.

“Aah, aku menyerah. Celanaku, kan!? Yang harus kulakukan melepaskannya, kan!?”

Setelah Shidou mengatakannya, dia menggunakan tangannya dan *Kacha**Kacha* mulai melepas sabuknya.

”.............................!?”

Karena perilaku tiba-tiba dari Shidou, tubuh Kaguya, Yuzuru, dan Tama-chan-sensei bergetar dan menutupi mata mereka dengan tangannya. Kebetulan, wajah Tonomachi menjadi pucat dan kabur ke balik tembok.

Bagaimanapun, ini kesempatan bagus. Saat semuanya menutup wajah mereka, dia lari mengejar [Shidou yang lain].

Dia berlari ke ujung koridor dan berbelok kearah [Shidou yang lain] pergi. Saat dia melakukannya, dia melihat sosok belakang [Shidou yang lain] di atas.

“Orang itu………..!”

Shidou menggemertakkan giginya dan menambah kecepatan untuk mengejarnya.

Dan, setelah terus berlari…………

Shidou berlarian mengelilingi sekolah seperti dia dipandu [Shidou yang lain] dan pada akhirnya, mereka sampai pintu menuju atap.

“Haa….. ha….. Tidak ada……… lagi tempat……. Untuk lari………”

Dia meletakkan tangannya tepat di dadanya untuk mengatur pernapasannya.

Lalu, Shidou meletakkan tangannya di kenop pintu dan membukanya. Dalam sekejap pandangan suramnya terkikis oleh rasa kebebasan di langit yang biru.

Tapi, sekarang tidak ada waktu untuk memikirkannya. Dia melangkah ke atap dan mengalihkan pandangannya ke setiap sudut dan celah dari daerah yang dikelilingi pagar.

“Yo, cepat juga.”

“………!”

Tubuh Shidou bergetar saat dia mendengar suara dari belakangnya.

Dia berbalik dan melihat ke arah datangnya suara itu. Pria yang mirip sekali dengan Shidou duduk santai dan menatapnya di struktur atap tempat Shidou keluar.

“Kau..... seperti yang diduga, adalah aku...........!?”

Shidou mengangkat alisnya, dan wajahnya muram selagi melihat [Shidou yang lain].

Di jarak yang dekat, tidak mungkin bisa salah. Seperti berjalan ke dunia cermin, seseorang yang persis dengan Shidou yang tepat di depannya.

“Fufu............”

[Shidou yang lain] tertawa, turun dari struktur atap, dan mendarat tepat di depan Shidou.

Ya. Dari keterangan dari mulut Tohka, ketiga perempuan, Yamai bersaudara, Tama-chan-sensei, Tonomachi, dan beberapa orang lain, semua kelakukan buruk yang Shidou tidak ketahui.

Bahkan sepertinya, setiap kelakukan itu dilakukan oleh [Shidou yang lain] yang berdiri tepat di depannya.

“Seperti yang kau kira. Aku bersenang-senang saat kau tidak ada.”

Seperti dia mengira pikiran Shidou dari ekspresinya, [Shidou yang lain] menggerakkan bibirnya. Dia sangat mirip dengan Shidou, dari suara sampai gerakannya. Setiap kali dia berkomentar, perasaan menjijikkan menyerang Shidou.

“Siapa...... kau? Kenapa kau membuat wajah seperti aku. Dan juga, apa tujuanmu melakukannya......!?”

Shidou bertanya tanpa menurunkan kewaspadaannya, [Shidou yang lain] *Kusu**kusu* tertawa di tenggorokannya dengan aneh yang tak bisa ditahannya lagi.

“A-Apa yang aneh!?”

“Fufu.......... ya itu aneh. Karena, kau belum menyadarinya, Oh Shidou-kun!”

“A...............?”

Shidou menganga dan matanya terbuka lebar.

Dari suara yang dibuat [Shidou yang lain], bagian terakhir berubah menjadi suara perempuan yang sangat berbeda dari suara Shidou.

Suara yang pernah dia dengar sebelumnya........

“Suara itu......... jangan bilang...... Natsumi...........?”

Ya. Suara ini tak salah lagi milik roh yang Shidou hadapi kemarin.”

[Shidou yang lain] tersenyum sebelum membuat tanda lingkaran dengan tangannya.

“Pin Pon! Betul. Kerja bagus! Anak baik, anak baik!”

“A-Apa-apaan bentuk itu............?”

Bahkan saat bertanya, pemandangan yang dia lihat kemarin melayang jelas di ingatan Shidou.

Malaikat Natsumi mengubah semua anggota AST dan setiap misil berubah setelah sebuah cahaya keluar.

Kemampuan mengubah objek menjadi objek lain. Memikirkan itu bisa digunakan pada tubuhnya sendiri, maka bentuknya saat ini bisa dimengerti.

Namun, dia masih tidak mengerti. Wajah Shidou menjadi suram selagi melanjutkan perkataannya.

“Apa tujuanmu!? Menggangguku seperti itu dan melakukan hal nakal pada yang lain......!?”

Setelah Shidou mengatakannya, Natsumi langsung kehilangan ekspresi kepuasannya dan langsung menatap Shidou.

“...........Kau tidak tahu? Serius?”

“A-Apa............?”

Tertusuk oleh tatapan kilat dari mata Natsumi, Shidou merasakan halusinasi seperti hatinya sedang dikencangkan.

Di saat yang sama, perkataan Natsumi kembali terdengar.

(Sekarang kau sudah melihatnya, aku tidak akan membiarkannya berakhir seperti ini..........! Ingat ini. Aku akan mengakhiri hidupmu........!)

“Ah...”

Shidou menggerakkan bahunya dan menelan ludahnya.

“Ja-Jangan bilang, maksudmu mengakhiri hidupku...........”

“------dua puluh poin.”

Saat Shidou mengatakannya dengan ketakutan, Natsumu membuka setengah matanya selagi membalasnya.

“Huh............?”

“Bukankah sudah aku bilang? Aku tidak akan membiarkan orang yang tahu rahasiaku pergi begitu saja. Kau pikir akan memaafkanmu setelah melecehkanku? Jangan main-main denganku... Aku akan menghancurkanmu menjadi lebih lembek dari bubur.......!”

“Tu-Tunggu sebentar. Dari awal, aku tidak tahu Natsumi punya rahasia----“

Saat Shidou mengatakannya, Natsumi *Dan!* menghentikan perkataannya dengan menghentakkan sepatu haknya ke atap.”

“-------------Houra, nee. Itulah kenapa berbahaya. Orang yang tahu rahasiaku tidak boleh ada di dunia ini!”

“.............!?”

Dikalahkan oleh ekspresi mengerikan Natsumi, Shidou mengambil langkah mundur.

Namun, Natsumi tidak terganggu dengan itu dan tersenyum tajam selagi menunjuk Shidou.

“Tapi jangan khawatir. Sekarang ada dua Shidou-kun. Nee? Ada dua orang yang identik itu aneh, kan? Harus ada satu orang, atau kita tidak bisa melakukannya, kan?”

“Satu orang.............tunggu, jangan bilang.............”

“Mulai hari ini, aku akan menjadi Shidou-kun. Aku akan berperilaku seperti Shidou-kun sekarang. Jangan khawatir. Mataku mengamati dengan sempurna. Aku sudah menyelidiki dirimu dan orang yang berhubungan denganmu. Aku tak akan bersenang-senang seperti tadi lagi. Walau kau tak ada disini, tidak ada yang akan menyadarinya. Walau kau tak ada disini, dunia akan terus berjalan tanpa perubahan.”

Selagi membuat gerakan seperti sedang tampil di opera, Natsumi melanjutkan.

“--------Fufu, jangan khawatir. Bukan artinya aku akan membunuh Shidou-kun. Tapi, aku hanya akan memindahkanmu ke tempat lain jadi kau tidak bisa menggangguku.”

“Ja-Jangan main-main denganku! Hal seperti itu-------“

Tepat setelah Shidou mengeluarkan suara yang tidak dapat dia bisa tahan lagi.....

*Batan!* Pintu terbuka dan keluarlah dua perempuan.

--Mereka adalah Tohka dan Origami.

“Kenapa, pergi ke tempat lain! Aku akan menemukan Shidou!”

“Itu kata-kataku. Aku tidak bisa membiarkanmu melakukannya. Kau harus cepat kembali ke kelas.”

Sepertinya mereka berdua sedang mencari Shidou. Mereka saling menatap dan mendorong selagi keluar dari pintu atap.

Tapi, keduanya mungkin melihat orang yang ada di atap dan mereka menghentikan kegiatan mereka persis bersamaan dan membuka mata selebar mungkin karena tidak percaya.

“A-Ada....... dua Shidou?”

“...........Apa artinya ini?”

Tohka dan Origami bertanya dengan mata mereka terangkat dengan curiga dan melihat wajah Shidou dan Natsumi bergantian. Memang sudah biasa, ada dua orang dengan tampilan identik.

Namun, ini adalah kesempatan. Sekarang mereka berdua pastinya melihat dua Shidou, mereka mungkin akan mengerti salah satunya melakukan hal nakal pada semuanya dan bukan Shidou yang asli.

“Tohka, Origami! Dengarkan aku, orang ini---“

“Orang ini palsu! Dia menyamar sebagai aku dan menjahili semuanya!”

Tapi, Natsumi membuat suara yang keras untuk mengganggu Shidou.

Tentu, berbeda dari yang tadi, sekarang suaranya sama seperti Shidou.

“A..............? Ja-Jangan tertipu! Akulah yang asli!”

“Apa yang kau katakan!? Akulah yang asli!”


Dengan Shidou dan Natsumi mengatakannya dengan suara dan cara bicara yang sama, Tohka dan Origami mengangkat kedua alisnya. Sepertinya mereka bingung mana Shidou yang asli.

Tapi, satu-satunya hal yang bisa Shidou lakukan adalah meminta denga putus asa pada mereka. Ke arah mereka berdua, dia menaikkan suaranya lebih lagi.

“Tohka, Origami, percaya padaku........! Aku adalah Itsuka Shidou yang asli!”

“Jangan tertipu! Aku memohon----percaya padaku!”

Natsumi juga membuat suara putus asa. Dilihat dari sikapnya, dia terlihat seperti Shidou yang asli juga.

“Muu......... ini artinya salah satu dari mereka asli. Lalu---“

“Situasi yang tidak bisa dimengerti. Tapi-----“

Setelah Tohka dan Origami membandingkan mereka sesaat, mereka menunjuk jari mereka pada satu orang.

“Kau palsu.”

“Kau yang palsu.”

Mereka mengarahkan jari mereka pada Shidou yang palsu disaat bersamaan.

“A...........!?”

Wajah Natsumi terlihat terkejut. Dia tidak habis pikir mereka bisa mengetahuinya tanpa rasa ragu.

“A-Apa yang kalian katakan. Aku-------“

Walau Natsumi tidak menyerah dan melanjutkan kata-katanya, sepertinya Tohka dan Origami tidak berencana untuk mengubah pilihannya. Mereka mengayunkan tangannya dan mendekati Shidou.

Saat itu, sepertinya Natsumi akhirnya menyerah. Dia menatap Shidou, Tohka dan Origami dengan kebencian.

“......Bagaimana kau mengetahuinya? Perubahanku ini sempurna. Walau menebak hanya ada kesempatan 50/50. Bagaimana kalian berdua dengan percaya diri menunjukku?”

Respon terhadap pertanyaan Natsumi, Tohka dan Origami melihat satu sama lain dan membuka mulut mereka bergiliran.

“Walau kau tanya kenapa........... Aku langsung tahu saja. Memang benar kamu terlihat persis dengan Shidou, tapi saat kau berdiri dengan yang asli, aku merasa baumu berbeda. Itu saja.”

“Aku mungkin tertipu jika kau sendirian. Sebenarnya, aku pikir kau Shidou sampai sekarang. Namun, lain cerita jika di bawah kondisi dimana dipertanyakan mana yang asli jika ada dua Shidou. Kedipanmu lebih cepat 0.05 kali dan bagian tengah tubuhmu miring 0.2 derajat ke kiri dibanding dengan Shidou. Tidak ada kesalahan lagi.”



Disaat Tohka sedang agak samar dan Origami terus berbicara, Natsumi melihat mereka dan wajahnya terlihat tidak percaya.

“A-Apa....... Apa-apaan dengan mereka? Mereka gila..........!”

“...................Tidak, itu......................”

Saat Natsumi berseru gemetaran, Shidou membalas dengan samar.

Kepalsuan terungkap dengan cepat. Normalnya, dia akan berterima kasih pada mereka tapi............ bukannya dia tidak mengerti kenapa Natsumi terkejut.

Natsumi menggigit giginya dengan kesal dan mengangkat tinggi tangannya.

Sapu tipe malaikat muncul dari angkasa dan dia memegangnya dan ujung sapunya terbuka dan mengeluarkan cahaya yang mengkilau secerah matahari.

Selanjutnya, tubuh Natsumi bersinar dan dia berubah kembali menjadi perempuan cantik yang Shidou lihat kemarin.

“A...........!?”

“...............!?”

Tohka dan Origami membuka matanya karena terkejut dan merendahkan tubuhnya untuk melindungi Shidou.

Namun, Natsumi tidak terganggu dengan respon mereka dan menggigit giginya selagi menggaruk kepalanya.

“Tidak mungkin.......... tidak mungkin......... tidak mungkiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnn!”

“A.............?”

“Bukan hanya rahasiaku yang diketahui, apa kau bilang perubahan sempurnaku sudah dapat diketahui? Bohong............ sesuatu seperti itu pasti bohong! Aku pasti......... aku pasti takkan menerima ini...........!”

Natsumi berteriak dengan marah dan *Pi!* menunjuk jarinya ke arah Shidou dan para perempuan.

“Takkan kubiarkan berakhir seperti ini.........! Aku pasti akan menakuti kalian semua...........!”

Dengan terakhir kalinya melihat penuh kebencian pada Shidou dan para perempuan, dia duduk diatas sapunya dan *Ton* menendang tanah membuatnya terbang ke langit.

“Ah------O-oi!”

Sudah terlambat walau dia sudah cepat dan teriak sekeras mungkin. Natsumi tidak melihat ke Shidou dan siluetnya mengecil seiring dia melayang pergi.

“Kuh.............”

Walau dia harus menaikkan level kasih sayang Natsumi untuk menyegel Reiryoku1nya, tidak ada satupun kemajuan.

Bahkan, tejadi sesuatu yang tak terduga. Natsumi muncul di depan Shidou dan mencoba untuk menggantikannya. Mungkin aneh. Dia harus melaporkan hal ini pada Kotori.

Namun, sebelum melakukannya, ada sesuatu yang harus dia lakukan.

“Shidou?”

“Shidou!”

Tohka dan Origami memperhatikan tanpa menurunkan kewaspadaannya sampai Natsumi benar-benar pergi, dan langsung memanggil nama Shidou.

“A-Ada apa?”

Shidou membalas dengan gugup, berpikir apa yang akan mereka katakan selanjutnya.

“Siapa itu!?”

“Siapa perempuan itu dan apa hubungannya denganmu?”

Mereka berdua menanyai pertanyaan yang sudah dia duga.

Wajah Shidou menegang, dan dia berpikir cara yang mungkin untuk menjelaskan situasi ini tanpa membocorkan informasi tentang Natsumi.

***


Bagian 3
DEM industries, bangunan perusahaan Britania Raya.

Di dalam ruang konferensi di lantai 20 sekarang, ada beberapa orang disana.

Mereka adalah anggota Perusahaan DEM. Mereka semua duduk di meja berbentuk elips besar dan membalik-balik dokumen di tangan mereka sementara wajah mereka semua terlihat kesulitan.

Bahkan, itu bukan sesuatu yang tidak mungkin.

Mereka semua harusnya sudah menerima laporan dari sini dan sana. Dan bahkan dokumen di tangan mereka tertulis situasi yang sangat detil.

---Tidak hanya direktur manajer Perusahaan DEM, Isaac Westcott mengayunkan kekuasaannya dengan tidak masuk akal, dia juga membuat DEM cabang Jepang juga fasilitas terkenal di sana dalam keadaan sebagian hancur.

Bahkan, selain menyebabkan kematian dan cedera pada beberapa penyihir hebat, dia juga menambahkan bonus untuk bebas mengungkapkan teknologi rahasia yang merupakan Realizer di mata publik. Jika tidak orang yang mengubah ekspresi matanya setelah melihat laporan-laporan ini, mereka harusnya langsung keluar dari perusahaan dan jadi seorang penjudi.

Meski demikian, tidak semuanya membuat wajah seperti itu.

Di meja yang terletak jauh di belakang ruangan. Disana ada satu pria yang duduk dengan tenang.

Tubuhnya ditutupi dengan jas hitam. Pria berusia sekitar 30-an. Selagi memperhatikan pertemuan, mata tidak enaknya mengekspresikan kegelapan mengintip dari celah poni hitam abu-abunya.

Sir Isaac Ray Peram Westcott. Dia adalah manajer direktur perusahaan DEM yang merupakan topik diskusi saat ini.

“Apa......yang kau pikirkan! Tuan Westcott!”

Salah seorang anggota dewan dengan gemetaran membanting dokumen di tangannya ke meja dan menaikkan suaranya. Dia adalah pria berusia pertengahan dengan kacamata. Walau dia terlihat muda diantara para anggota dewan, tapi dia tetap terlihat lebih tua daripada Westcott.

Orang yang diperingatkan untuk tidak bertindak kasar pada direktur manajer tidak ada ditempat sekarang. Hanya jika ada perbedaan standar yang bisa efektif, semua orang memikirkan hal yang sama.

Namun, selagi melihat pada masalah, topik pembicaraan Wetscott, duduk di kursi yang ada di belakang ruangan tidak terlalu membingungkan dan hanya mengangkat bahunya.

“Aku tidak mengerti maksud pertanyaanmu, Murdoch.”

“Tolong jangan bertindak seolah kau tidak bersalah.”

Setelah Westcott mengatakannya, Murdoch dengan kasar mengambil dokumen yang dilemparnya ke meja dan membawa ke depannya.

“Campur tangan tak beralasan dengan JSDF, pemanfaatan peralatan dan penyihir untuk pribadi, mengintruksikan rencana penyerangan yang dapat melukai orang-orang, dengan tambahan membuat setiap sudut distrik perkantoran menjadi wilayah perang......!? Walau kerusakannya diperkirakan ringan, kita merugi 1 miliar ponds...........! Kita juga memiliki kelemahan besar yang dikendalikan oleh pemerintah Jepang! Bagaimana kau akan memperbaikinya!?”

“Tidak masalah. Ada hasil panen yang sesuai untuk itu.”

“Hasil panen...........? Apa itu?”

Saat Murdich mengatakannya, Westcott mengangkat bibirnya.

“-------Bergembiralah. Kami telah berhasil membalikkan .

“.......................!”

Dari perkataan Westcott, Murdoch dan semua yang ada di ruangan itu membuka lebar matanya.

“Jangan main-main denganku................!! Tolong pahami situasinya! Jika menyerang dengan buruk, mungkin bisa membuat situasi perusahaan DEM ini berlanjut, kau tahu!? Roh, bagaimana dengan itu!? Bagaimana sebuah roh bisa menyelamatkan perusahaan ini dari dilema!? Kita tidak  punya waktu untuk memuaskan dirimu itu!”

“...........Hou?”

Wajah Mudroch penuh amarah dan dia pun berteriak. Saat dia melakukannya, Westcott yang tersenyum seperti robot, hanya bergerak sedikit.

Tapi Murdoch tidak menyadarinya dan melihat ke arah anggota lain yang ada di ruangan.

“Aku akan bertanya pada kalian semua! Apa tak apa membiarkan dia melakukan lebih dari ini!? Jika ini terus berlanjut, industri DEM akan hancur tak lama lagi! Sebelum itu terjadi, bukankah kita harus mengambil tindakan yang tepat!?”

“Tindakan yang tepat........adalah?”

Dari perkataan Murdoch, pria yang duduk di kursi yang berlawanan mengeluarkan suaranya. Murdoch melebarkan kedua tangannya dan mengatakannya seperti sedang pentas drama, selagi mengumumkannya dengan keras.

“Aku! Disini, menuntuk pemecatan Direktur Manajer Westcott!”

“--------------------!”

Saat Murdoch mengatakannya, semua anggota dewan mengangkat alisnya. Ada beberapa yang terkejut dengan penuntutan yang sangat jelas ini tapi--------lebih dari setengah dari mereka dalam keadaan seolah mereka tahu garis besar kasus ini sebelumnya.

Setelah Murdoch melihat sekitar dan mengangguk dengan puas, dia melihat ke arah pria tua yang duduk dibelakang Westcott.

“Kalau begitu, Ketua Russell. Keputusanmu.”

Dia mengatakannya, dan memiringkan kepalanya di depannya untuk mendesaknya.

Di dalam perusahaan Britania Raya, anggota dewan yang berurusan dengan perusahan manajemen tidak bisa memegang dua posisi langsung secara bersamaan sebagai ketua dewan direksi. Dan itu adalah ketuanya, si tua Russell.

“..........Apakah tak apa, tuan?”

Russell melihat ke arah Westcott dengan wajah kesulitan.

Namun, Westcott tidak keberatan dan mengangguk dengan tenang.

“Tentu. Itu adalah hak istimewa yang sah untuk para anggota.”

“..................”

Setelah Russell menundukkan matanya ke bawah dari perkataan Westcott, dia menghela nafas selagi dia sudah memikirkan sesuatu dan mengeluarkan suaranya.

“Kalau begitu, aku akan membuat keputusan-----Siapa yang menyetujui pemecatan Westcott, angkat tangan kalian.”

Saat Russell mengatakannya, Murdoch mengangkat tangan kanannya setinggi mungkin.

Dan, anggota yang lain pun mengikutinya.

Dengan petugas muda di tengah, hampir setengahnya.

Ini jelas situasi yang ganjil.

Memang benar saat ini, aksi Westcott disebut-sebut aksi yang tidak biasa dan cukup banyak yang menyimpan ketidakpuasannya dengan perilaku arogannya dari hari biasa. Tapi, sulit dipikirkan banyak orang yang menyebrang ke arah mayoritas dengan keputusan cepat untuk setuju dengan Murdoch.

Westcott melihat ke arah Murdoch. Saat dia melakukannya, Murdoch *fuun* mengembuskan napas dan tersenyum menghina. Kemungkinan besar------tepat sebelum Westcott kembali ke Britania Raya, dia sudah membuat persiapan.

Sambil melihat perilakunya, Russell memperhatikan seluruh ruang konferensi seperti dia menghitung jumlah yang mengangkat tangan, dan dengan lembut mengeluarkan suaranya.

“---karena jumlahnya nol, pemecatan direktur manajer Wetscott ditolak.”

“Apa yang kau katakan?”

Murdoch mengangkat alisnya karena perkataan Russell.

“Tolong jangan bercanda, Tuan Russell. Kau harusnya punya kebanggaan sebagai ketua. Atau apa, mungkinkah matamu mulai jelek sampai kau tidak bisa melihat siapa saja yang mengangkat tangan.”

“Tidak. Aku hanya menjawab sesuai dengan yanh kulihat.”

“..........Apa?”

Murdoch mengatakannya dengan ragu dan mengalihkan pandangannya ke atas lalu---[Hii] dia tersentak.

Dan seolah-olah mengikutinya, anggota yang mengangkat tangan juga wajahnya mulai kesakitan seperti Murdoch.

Tapi itu mungkin wajar.

Karena, tangan yang mereka angkat tinggi mulai menghilang dari sikunya.

“Uh-a-a-aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!?”

Merasakan sakit saat pertama kali dia melihatnya, Mudroch berteriak dan terjatuh. Dan bagaikan sebanding dengan itu, darah segar keluar dengan sangat banyak.

---Ruang konferensi, berubah menjadi lukisan dari neraka yang kacau dalam sekejap.

Namun didalam sana, suara yang dingin terdengar dari belakang Wetscott.

“----Kesenangan? Kepuasan diri? Untuk seseorang yang menunggangi nama DEM yang telah dibangun oleh Isaac, kau pasti tahu bagaimana cara berbicara seperti kau mengetahuinya.”

Orang yang mengatakan itu pun melangkah maju, perempuan dengan rambut pirang Skandinavia diikat yang tidak cocok. Di satu tangannya--------dia memegang pedang laser dengan ukuran seperti pisau.

Walaupun menjaga pedang lasernya tanpa setelan kabel sangat aneh dengan sendirinya, dia bahkan membuat pedang panjang dan benang yang tipis,selagi dia membersihkan lengan para anggota dalam sekejap--------membuat kemampuannya mudah diketahui.

Ellen Mira Mathers. Kepala eksekutif kedua yang dapat menyelesaikan pekerjaan dari bayang-bayang DEM dan penyihir terkuat di dunia.

“Yah, jangan katakan itu, Ellen. Mereka menggunakan keadaan yang diberikan pada mereka dengan baik, dan menggunakan kewenangan yang diberikan pada mereka.”

“Tapi...”

Saat Ellen membantah dengan keras kepala, Westcott menghentikannya dan perlahan berdiri dari kursinya.

“Ada pengobatan tersedia di kantor kesehatan. Jika kau menyatukannya kembali segera mungkin akan kembali normal setelah beberapa hari.-----Pergi sekarang. Kalian adalah talenta yang menanggung bahu masa depan DEM. Bukankah menggelikan jika kalian kehilangan satu tangan dari sesuatu seperti ini?”

“..................Sialan kau.............!”

Tidak lagi menggunakan kehormatan, Murdoch menatap Wetscott.

Tapi, Westcott tidak memikirkan tatapannya, dan sedikit mengangkat bahunya.

“Jangan khawatir, setelah aku selesai dengan kesenangan dan kepuasan diriku, aku akan memberikan perusahaan ini pada kalian semua.-------oh, itu segera datang. Dibandingkan dengan waktu kita harus terus menunggu.”

Mengatakannya, Westcott tersenyum diam.

***



Bagian 4
“Ah---......”

Shidou menggentarkan tenggorokannya seakan sedang menggerutu, dan meletakkan kakinya ke sofa.

Sabtu, 21 Oktober-------5 hari berlalu dengan cepat dari waktu saat Natsumi menyamar menjadi Shidou dan muncul di sekolah.

Namun, Natsumi belum sekalipun muncul di hadapan Shidou setelah waktu itu. Jika gempa angkasa terjadi maka akan terdeteksi oleh alat pendeteksi .

“............Jika tidak terjadi sesuatu malah aku merasa tidak enak.”

Selagi berbaring si sofa di ruang tamunya, Shidou meletakkan tangannya di dahinya dan menghela nafas.

Dan, saat Shidou memandang langit-langit selagi memikirkannya, tidak diduga di sekitar perutnya, *Kyumu!* Dia merasa ada sesuatu ditempatkan disitu.

“Uguh............a-apa ini............?”

Wajahnya mengernyit karena tiba-tiba ada yang berat dan menurunkan pandangannya ke perutnya.

Saat dia melakukannya, dia melihat adiknya Kotori duduk di perutnya dengan wajah tidak peduli.

“...........Oi, Kotori.”

Saat dia melakukannya, Kotori *Piko**Piko* menggerakkan Chupa chups yang ada di mulutnya selagi tersenyum tanpa takut, dan melihat ke arah Shidou.

“Oh, ternyata ada kehidupan disini, jadi tadi kupikir ada sofa langka berkulit manusia.”

“Kita tidak punya furnitur seperti milik Ed Gein2.”

Setelah Shidou mengatakannya dengan mata yang setengah terbuka, Kotori mundur dari perut Shidou dan menematkan seluruh berat badannya sebelum berdiri di tempatnya.

“Kuehh!”

“Oh, apa aku baru menginjak malaikat emas.”

Kotori tersenyum dan mengangkat bahunya.

“Kau..........”

Shidou mengusap sekitar perutnya dan perlahan mengangkat tubuhnya.

“Fuun, itu karena meski kau berada di situasi dimana kau menjadi target Roh, kau dengan malasnya bersantai. Kita tidak tahu apa yang sedang dia lakukan. Tolong persiapkan dirimu.”

“Guh...............”

Jika dia diberitahu seperti itu, tidak ada yang bisa dia balas. Dia menggigit bibirnya dan terdiam.

“Kita tidak tahu apa yang Roh------Natsumi pikirkan, tapi sulit tuk mengetahui apa yang dia lakukan tanpa mengetahui apapun. Dia mungkin akan menghubungi Shidou dengan suatu cara.----Dan, selama kita tidak punya cara untuk menghubunginya, kita harus meningkatkan tingkat kasih sayang Natsumi saat itu juga. Kau mengerti kan?”

“A-Aku mengerti.”

“Aku ingin tahu tentang itu.”

Saat Shidou membalasnya, Kotori mengangkat bahunya dengan cara menyerah.

Tapi, perkataan Kotori memang benar.

Tujuan Shidou, Kotori, dan semua orang di Ratatoskr, untuk tidak membunuh Roh tapi untuk menyegel kekuatan Roh dan hidup dengan damai.

Itulah kenapa, awalnya mereka benar-benar ingin menghindari Roh untuk bermusuhan oleh berbagai alasan saat ini.

Apalagi dalam kasus Natsumi, mereka tidak tahu kenapa dia menganggap Shidou sebagai musuh. Hal pertama adalah melakukan sesuatu dan berhubungan dengan Natsumi, dan mencari tahu kenapa dia memusuhinya. Masalah menumpuk setinggi gunung.

Mungkin dia melihat ekspresi Shidou, Kotori *Fuun* menghela napas dan menunjukkan amplop yang dia pegang.

“Wajahmu akhirnya terlihat tertekan.------ini, ambil. Ada di dalam kotak pos pagi ini.”

“Eh?”

Dia memutar kepalanya dengan heran dan menerimanya. Setelah dia ambil, dia menemukan ada sesuatu di dalam dari ketebalan dan berat luarnya.

Itu adalah amplop putih dengan hanya kata [Itsuka Shidou] yang tertulis. Tidak ada alamat, kode pos dan bahkan perangko yang tertempel. Sepertinya, itu langsung dimasukkan ke kotak pos rumah Itsuka.

“Ini........surat?”

“Ya. Surat cinta.--------dari Natsumi.”

“A..........!?”

Shidou membuka lebar matanya karena nama yang Kotori katakan, dan langsung membalikkan amplopnya.

Ditutup dengan lilin, dan tepat di bawahnya, tertulis dengan jelas nama [Natsumi].

Setelah Shidou menelan ludah, dia menaruh amplop di meja dan kembali duduk di sofa.

“A-Apa tidak apa-apa jika aku membukanya.........?”

“Ya. Saat kau membukanya *Don*! Kemungkinan seperti itu bisa ada, jadi Fraxinus sudah menyelidiki bagian luarnya. Tidak ada benda berbahaya di dalamnya.--------Tentu saja, selama musuhnya adalah Roh, bukan berarti kita memberikanmu jaminan yang pasti.”

“......................”

Kotori mengatakannya sembari mengangkat bahunya. Shidou membiarkan keringatnya turun dari pipinya.

Bahkan walau seperti itu, hanya karena alasan itu, dia tidak bisa membiarkan amplopnya tak terbuka dan melupakannya. Dia membuat keputusan dan menarik pipinya, dan setelah menaruh berbagai semangat, dia melepaskan segel lilin dan mengeluarkan isinya.

“Ini...................”

“.............seperti, foto.”

Kotori mengintip ke tangan Shidou dan mengatakannya.

Ya. Di dalam amplop ada berbagai foto.

Shidou bingung kenapa Roh mengirim foto, tapi setelah dipikir kembali, jika Natsumi berulang kembali ke dunia ini  seperti beberapa hari yang lalu, tidak aneh jika dia sudah mempelajari berbagai hal tentang dunia ini.

Dan apapun alasannya, Masalahnya saat ini adalah apa yang ada di foto.

“.........Ini, Mungkinkah itu aku?”

Kotori mengerutkan alisnya saat mengambil satu foto.

Memang benar foto yang diambilnya adalah foto Kotori dengan seragam SMPnya dan rambutnya yang diikat dengan pita berwarna putih.

Tapi garis pandangnya tidak cocok dengan jarak yang jauh. Sepertinya............dilihat dari reaksi Kotori, tidak salah lagi fotonya diambil diam-diam.

Tidak, Kotori bukan satu-satunya. Ada 12 foto di dalam amplopnya dan semuanya, orang terdekat Shidou dengan foto seluruh tubuh.

Tohka. Origami. Kotori. Yuzuru. Kaguya. Miku. Ai. Mai. Mii. Tama-chan-sensei. Dan juga----Tonomachi.

Semua foto ini diambil tanpa disadari (Hanya satu orang yang menyadarinya, Origami satu-satunya yang melihat ke arah kamera)

“A-Apa-apaan foto ini...”

Entah kenapa terasa tidak enak dan Shidou mengangkat alisnya. Kenapa dia mengirim ini, apa yang Natsumi coba beritahukan pada Shidou?

“Apa hanya foto? Ada yang lain?”

“A-aah.....”

Setelah mencari di dalam amplop, ada kertas lain di dalamnya, dan dia menemukannya semacam kartu.

Dia mengambilnya, dan meletakkannya di meja. Di situ, ada sesuatu yang tertulis.

[Aku ada di salah satu dari mereka
Bisakah kau tebak yang mana?
Sebelum semuanya menghilang
Natsumi]

***


Date a Live Jilid 8 Bab 2 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

3 komentar:

  1. Kok ga ada yg komen y 0_o
    -
    Klo Natsumi bisa niru tubuh cowok, mgkn dia udh coli berkali2 pakek tubuh tiruannya xD . Oh, iya btw gambar Shido (yg lain) megang Oppainya Tohka kok ga ada

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.