30 Juni 2015

My Dearest Jilid 1 Chapter VI

 
MY DEAREST
JILID I CHAPTER VI
KEMBALINYA ANGGELINA

Bagian Pertama
Di hari yang sama, langit telah berubah menjadi gelap gulita.

Terlihat Anggela di kamarnya yang sedang berjalan ke arah tempat tidur, dia mulai membaringkan tubuhnya.

Dia mulai memejamkan matanya dan berniat beristirahat.Tapi …

Triningggg!

Terdengar nada dering dari suara telepon genggamnya, suara tersebut cukup menggangu Anggela yang berniat ingin tidur.

Dia lekas mengambilnya. Wajahnya terlihat sangat tidak senang karena merasa terganggu.

“Ap–”

“Hallo, Anggela!?” tanya khawatir Hizkil memotong pertanyaan Anggela.

“Apa? Ini sudah jam setengah 8 malam, aku mau tidu–” 

“Cepat datang ke blok C daerah selatan Dealendra, ada perampokan disini!!” Hizkil terlihat sangat khawatir, dia berteriak pada Anggela.

“Haaah? Lalu kenapa kamu malah meneleponku?! Itu bukan urusanku–” jawab Anggela malas. Tapi kembali perkataannya terpotong oleh sahabatnya.

“Seluruh pasukan Adjoin yang berusaha menangkap pelaku telah dikalahkan, karena alasan itulah aku meneleponmu!!”

“Apa?! Organisasi keamanan Kineser itu telah dikalahkan?” tanya Anggela sedikit terkejut.

“Iya, mereka telah dikalahkan dengan mudah!”

“Hizkil, mungkinkah perampok ini …”

“Ya, tidak salah lagi, dia termasuk 28 Kineser yang ditakuti.”

“Kineser tingkat atas, kah?” Anggela terlihat mengeluh sambil memejamkan mata.

“Iya! Cepatlah datang kemari sebelum dia melarikan diri!”

“Ya iya, aku kesana!” Anggela langsung menutup teleponnya.

“Hah, yang benar saja? Kenapa aku harus melakukan ini?” kesal Anggela bergumam sendiri, dia mulai memakai jaket berwarna cokelatnya.

Setelah itu dia mulai membuka jendela kamarnya yang cukup besar.

Wushhhh ….

Suara dari hembusan angin malam mulai menerpa tubuh Anggela.

“Sial, dinginnya ….” Anggela mulai menggigil kedingingan.

ELS,”  lanjut Anggela pelan sambil menutup matanya. Wajahnya terlihat sangat serius berkonsentrasi.

Dalam kurun waktu yang cepat percikan listrik biru mulai terlihat di sekitar tubuhnya, lalu setelah itu …

ZWITZZ!!

Dia menghilang, lebih tepatnya dia menggunakan kemampuan kinesisnya.



<<Electrica Lightning Speed>>, salah satu kemampuan tingkat menengah dari tipe Electrokinesis. Pengguna menggunakan percepatan listrik dengan udara sebagai hambatannya. Kemampuan ini juga lah yang digunakan Anggela saat menyelamatkan mantan kekasihnya, Shina.

Dalam kurun waktu yang cukup singkat Anggela telah sampai di tempat tujuan, yakni blok C daerah selatan Dealendra seperti yang dikatakan oleh sahabatnya.

Anggela mulai melirik ke kanan dan ke kiri mencari seseorang, khususnya Hizkil. Tapi daerah tersebut terlihat sepi, bahkan sangat sepi.

 “Ini terlalu aneh, jam segini seharusnya masih ada beberapa orang yang berada di luar.” Anggela bergumam sendiri. Dia mulai berjalan kembali semakin mengamati sekitar.

Suasana saat itu terasa hening hingga terdengar suara teriakan yang membuat Anggela terkejut. Teriakan seseorang yang sudah ia kenal dengan baik suaranya.

“Anggela, di atas kepalamu! Orang yang melayang terbang itu adalah perampoknya!” Hizkil berteriak dari kejauhan, dia terlihat sangat khawatir menatap sahabatnya.

Setelah mendengar teriakan sahabatnya itu, dengan cepat Anggela langsung melihat ke atas langit.

Dan benar saja, terlihat seseorang yang sedang mengapung di udara. Dia terlihat menggunakan topeng sambil membawa tas besar rampokannya.

Aerokinesis, kah?” gumam Anggela dalam hati.

ZWITZZ!!

Kembali Anggela menggunakan kemampuan ELS. 

Dia bergerak secepat halilintar ke arah perampok tersebut, dan tanpa perampok itu sadari kini Anggela sudah berada di atasnya.

Bingo!!” Anggela tersenyum sambil melihat perampok tersebut, lalu Anggela bersiap menendang kepala perampok tersebut dengan kaki kanannya, tendangan horizontal yang amat kuat.

“Ap-apa? Sejak kap–” Perampok tersebut terlihat sangat terkejut, perkataannya tidak selesai karena mendapatkan tendangan yang cukup keras dari Anggela.

DUAKKK!!! HYUNGGG!!!

Perampok tersebut jatuh menukik sangat cepat ke bawah.

Tapi saat tiga meter diatas permukaan tanah, dia mulai berteriak kesal.

Aerial Stay!!”

Dalam sekejap sebuah tekanan udara yang cukup hebat mendorongnya dan membuat dia kembali melayang.

<Aerial Stay>, kemampuan tingkat menengah dari tipe Aerokinesis. Pengguna memanipulasi udara sekitar yang berguna untuk membantu keseimbangannya saat melayang di udara.

Sebelum Anggela tertarik oleh gaya gravitasi bumi, Anggela kembali menggunakan kemampuan sebelumnya untuk mendekati perampok tersebut. Dia berniat menyerangnya kembali secara langsung. 

Furious Wind!" teriak kesal perampok tersebut. Dia mengangkat tangan kirinya hingga sejajar dengan bahunya. Topeng yang sebelumnya ia pakai mulai hancur dan jatuh ke bawah karena serangan Anggela sebelumnya.

<<Furious Wind>>, salah satu kemampuan tingkat menengah lainnya dari tipe Aerokinesis, yakni membuat putaran angin ribut yang tajam di sekitar pengguna, radiusnya sekitar tiga meter. Kemampuan ini sangat efektif digunakan untuk menyerang maupun bertahan.

Anggela sudah terlanjur masuk dalam radius kemampuan <<Furious Wind>> dan tentunya secara otomatis dia terkena serangan tersebut.

Dirinya langsung terpental sejauh sepuluh meter, beberapa bagian pakaiannya terlihat sobek, dia mendapati luka-luka seperti irisan pisau diseluruh tubuhnya. 



“Hmm, aku mengerti. Tidak kusangka di Dealendra ada kineser tingkat atas selain sang bintang Keisha ,” senyum gadis cantik dengan rambut twintail berwana merah darah tersebut. Wajahnya terlihat sangat manis menatap Anggela.

“Eehh .… Ka-kamu seorang gadis?” tanya Anggela sangat terkejut.

 “Ya, tentu saja, tapi bukankah ada yang lebih penting dari itu?”

“…?” Anggela terlihat penasaran.

“Apa aku harus meladenimu, tuan Electrokinesis?” senyum sombong gadis tersebut pada Anggela.

“Tentu ... jika kau mau,” senyum Anggela membalas senyuman gadis tersebut.

Anggela mulai menutup matanya, dia mulai berkonsentrasi sambil mengangkat tangan kirinya ke atas.

“Ap-apa yang kamu lakukan? Apa kamu menyerah!?”

“….” Anggela terus memejamkan matanya, dia mengabaikan teriakan musuhnya. Dia seolah sedang berkonsentrasi mengeluarkan salah satu kemampuan tingkat atasnya.

“Hei aku bert–” Gadis tersebut tiba-tiba terdiam.

DREDEDDEDDED!!

Getaran yang cukup hebat mulai muncul di sekitar Anggela, getaran yang membuat gadis tersebut terdiam dan sangat terkejut.

Te-tekanan macam apa ini?” gumam gadis tersebut dalam hati, wajahnya terlihat sangat khawatir menatap Anggela.

“Hei gadis kecil, sebaiknya kamu berhati-hati dengan kepalamu,” senyum kembali Anggela, dia mulai membuka matanya dan melihat gadis tersebut.

“Ja-jangan-jangan–” jelas gadis tersebut khawatir, dia langsung melihat ke atas langit.

Gadis tersebut melihat gumpalan awan hitam pekat yang dialiri banyak tegangan listrik. Wajahnya yang khawatir mulai berubah menjadi wajah yang sedikit ketakutan.

Gadis itu kembali melihat Anggela, wajahnya terlihat sangat khawatir saat melihat Anggela. Sedangkan Anggela hanya tersenyum membalas tatapan khawatir dari gadis itu.

At-Atmosfer Defence!!” teriak gadis tersebut sambil merentangkan kedua tangannya sejajar dengan bahunya.

<<Atmosfer defence>>, mengumpulkan seluruh jenis udara yang berada dalam jangkauan sepuluh meter, lalu kumpulan tersebut dikonversi menjadi pertahanan udara tingkat tinggi yang befungsi untuk melindungi pengguna dari serangan musuhnya.

Crushing Bolt!!” teriak Anggela sambil menjatuhkan tangan kirinya.

<<Crushing Bolt>>, mengendalikan energi halilintar yang berada di atas awan. Energi petir yang dikendalikan tersebut akan dikumpulkan pada satu tempat atau awan yang sama, dan ketika awan tersebut sudah tidak kuat menampung energi listrik itu. Sang pengguna akan langsung mengendalikan energi halilintar yang berlebihan itu untuk menyerang musuhnya. Skill ini memiliki radius delapan meter dengan tegangan listrik mencapai dua juta volt.

WUZTTTTT!!!! BEB …… JLEGARRRRR!!!!!!

Skill Crushing bolt milik Anggela menarik banyak perhatian, semua orang bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi sampai muncul petir yang begitu besar.

Keisha terbangun dari tidurnya oleh suara halilintar Anggela. Dia mulai melihat ke luar jendela karena penasaran apa yang sebenarnya sudah terjadi.

Setelah melihat apa yang sudah terjadi, Keisha mulai bergumam kesal dalam hatinya sendiri.

Hanya satu orang di daerah ini yang bisa melakukan hal tersebut! Apa yang sebenarnya dia pikirkan sampai harus menggunakan kemampuan itu? 

ZWITT ZWITT!

Percikan listrik kecil masih terlihat di sekitar Anggela dan gadis itu. Suasana terasa sangat tegang saat itu, gadis tersebut masih menatap tajam Anggela yang tersenyum padanya.

“Siaal! Ke-kekuatan macam apa itu … ?” kata gadis perampok tersebut. Napasnya tersengal-sengal dan tubuhnya terlihat kacau karena kelelahan.

“Ehh, sudah selesai? Padahal aku tadi cuma pemanasan kok,” senyum Anggela sambil memejamkan matanya. Anggela sama sekali tidak terlihat kelelahan meski menggunakan kemampuan tingkat atasnya.

Dengan memasang wajah khawatir, gadis tersebut kembali berbicara dalam hatinya sendiri.

Apa-apaan orang ini? Dia seperti tidak terlihat kelelahan setelah menggunakan kemampuan itu. Jika aku tidak menggunakan kemampuan pertahanan terkuatku, mungkin sekarang aku sudah mati. Orang ini bukan kineser tingkat atas sembarang, kekuatannya hampir menyamai kak Silca. Apa boleh buat, pilihan terbaikku sekarang hanyalah mundur.”

“Ak-aku menyerah! Ini barang rampokanku,” kata gadis tersebut sambil melemparkan hasil curiannya.

“Eehh, kenapa kamu tidak mencoba kabur dariku saja?”

“Apa kau sedang bercanda? Mustahil aku bisa kabur dari monster sepertimu.”

“Mo-monster? An-anu bukankah itu terlalu berleb–”

“Sudah jelas ‘kan jika aku memanggilmu monster? Aku tidak tahu siapa kamu, kamu bahkan tidak masuk dalam daftar 28 kineser tingkat atas. Tapi kekuatanmu, kemampuanmu melebihi tingkat atas pada umumnya, dan bahkan kekuatanmu itu hampir menyamai kak Silca,” jelas gadis tersebut sambil terbang menjauhi Anggela.

“Si-Silca? Bukankah terlalu berlebihan jika membandingkanku dengan kineser terkuat saat ini,” senyum Anggela sambil melihat gadis tersebut pergi terbang menjauhinya.

“Tapi yang lebih penting akhirnya tugas ini selesai juga,” lanjut Anggela.



“Anggela, bukankah kamu tadi itu terlalu berlebihan? Kamu membuat terkejut seluruh penduduk di daerah ini!” jelas Hizkil dengan nada sedikit kesal.

“Ehh? Benarkah?” tanya Anggela sedikit terkejut.

“Haah, kamu tidak sadar? Tapi, ya sudahlah, aku tidak bisa memarahimu, lagipula aku yang ikut melibatkanmu dalam situasi seperti–” Hizkil terlihat memejamkan matanya, tapi perkataannya terpotong oleh teriakan seorang gadis yang terdengar marah.

“Sudah kuduga ini perbuatanmu Anggela!”

“An-anu Kak, ada alasannya kok, aku berhasil menggagalkan perampokan. Lihat, ini hasil curiannya.” Anggela terlihat ketakutan, dia mulai menunjukkan hasil rampokan gadis tersebut pada Kakaknya, Keisha. 

“Kakak tahu niat kamu baik, tapi bukankah tadi kamu itu terlalu berlebihan? Bagaimana jika ada orang yang tidak bersalah terkena dampaknya?” jelas Keisha menasehati Anggela.

“Tapi Kak, musuhnya itu Kineser tingkat atas–”

“Jangan banyak alasan!!”

“Ya Kak, maaf,” jelas Anggela sambil memalingkan wajahnya.

“Ya sudahlah, ayo kita pulang sebelum Adjoin datang ke tempat ini.” Keisha mulai berjalan pulang menuju rumahnya.

“Tunggu, bukankah Kakak itu ketua Adjoi–” Tanya Hizkil terlihat kebingungan.

“Kamu juga Hizkil, cepat pulang! Kamu ini ... sudah malam masih saja keluyuran di luar!” bentak Keisha dengan nada sedikit kesal.

“Si-siap, roger!” jawab Hizkil lalu melakukan teleport menuju rumahnya.

ZWUBB!

“Aku duluan ya, Kak.” Anggela lalu melakukan kemampuan percepatan listriknya untuk sampai ke dalam kamarnya.

“Dasar!” Keisha bergumam sendiri dengan nada masih kesal, lalu kemudian dia juga menggunakan kemampuan yang sama dengan Anggela untuk sampai ke rumahnya. Hanya saja percikan listriknya berwarna hitam yang indah.

***

Bagian Kedua
“Sialan! Kenapa aku bisa kesiangan seperti ini?” geram Anggela sendiri sambil terus berlari menuju sekolah.

Beberapa menit setelah dia menggerutu, dia mulai berpikir dan mengingat kejadian tentang tadi malam. Wajahnya terlihat mengeluh menyesal.

“Ah ... tentu saja aku pasti kesiangan, kemarin malam aku tidur jam 10 karena pertarungan itu.”

Saat Anggela berlari melewati koridor sekolah, dia tidak sengaja melihat gadis cantik berambut putih dengan muka yang sangat mirip dengan Kakaknya, Keisha. Gadis itu berjalan ke ruang kepala sekolah dengan salah satu pengajar di HoK.

Dengan tanpa sadar Anggela berhenti sambil terus memandang gadis tersebut. Hanya satu kata yang terpikirkan dalam pikiran Anggela.

Anggelina?” 

“….”

Ah, gawat gawat! aku harus cepat!”  gumam Anggela dalam hatinya, dia mulai berlari kembali menuju kelasnya.

Dia sampai di kelasnya dan mendapati pengajar kelasnya belum datang, hanya ada beberapa siswa yang berada di kelasnya.

Dia mulai berjalan menghampiri Sylvia dan bertanya.

“Pak Daniel kemana?” tanya Anggela pada Sylvia.

“Hah? Kenapa aku harus menjawabmu, aku tidak berkewajiban memberitahum–” 

“Sylvia, sudahlah,” jelas sahabat Sylvia menyanggahnya, dia terlihat menenangkan sahabatnya tersebut.

“Pak Daniel izin tidak masuk sekarang, kita hanya diberi tugas,” lanjut gadis tersebut menjelaskan pada Anggela.

“Ohh begitu. Ya udah, terima kasih,” jelas Anggela sambil berjalan ke arah tempat duduknya.

“Salsa, kamu jangan tertipu sama pembunuh itu!” bisik Sylvia yang masih bisa didengar oleh Anggela.

“Ayolah Sylvi, itu sudah setahun yang lalu dan lagipula itu hanya kecelakaan.”

“Tapi–” 

“Yang lebih penting dari itu, kamu lihat ‘kan kilatan petir besar kemarin malam?” tanya Salsa.

“Ya aku melihatnya, aku pikir itu tidak mungkin terjadi secara alami,” jelas Sylvia serius.

“Benar, aku setuju! Sepertinya kemarin malam telah terjadi pertarungan antar Kineser tingkat atas,” Kata Salsa sambil berdiri dari tempat duduknya.

“Ya, aku juga berpikir seperti itu. Apa masalah mereka sampai melakukan pertarungan hebat seperti itu yah?” tanya Sylvia lalu ikut berdiri dari tempat duduknya.

“Entahlah, aku juga penasaran …,” senyum Salsa sambil berjalan ke arah pintu keluar kelas.

“Kamu mau ke kantin kan?” Sylvia bertanya pada sahabatnya.

“Iya, aku belum sarapan tadi pagi.” Salsa berbalik melihat sahabatnya.

“Daripada aku di sini, lebih baik aku ikut kamu deh,” gerutu Sylvia berjalan mengikuti Salsa, dia mulai melirik sinis Anggela.

Untung saja mereka tidak tahu!”  gumam Anggela dalam hatinya, dia terlihat mengambil nafas lega.

Anggela mulai menempelkan pipinya pada mejanya, dia terlihat masih mengantuk karena telat tidur kemarin malam. Setelah itu tanpa ia sadari, ia kembali tertidur dengan lelapnya ….



Beberapa saat kemudian, Anggela terbangun karena dibangunkan paksa oleh sahabatnya yang mendatangi kelas Anggela. 

“Anggela, bangun!”

“Oohh, Hizkil? Kenapa?” tanya Anggela dengan memasang wajah setengah sadar.

“Ayo makan siang! Ini sudah jam istirahat.”

“Istirahat?!”

“Iya, memangnya apa yang kamu lakukan kemarin malam sampai kurang tidur seperti ini?” tanya Hizkil tersenyum meledek.

“Apa pertanyaanmu itu harus kujawab?” jawab Anggela membalikkan pertanyaan, nadanya terdengar sedikit kesal.

“Ahaha, tenang aku cuman bercanda.”

“Jadi sekarang sudah istirahat, ya?” tanya kembali Anggela sambil memegang kepalanya.

“Iya, memang sudah–” Hizkil langsung terdiam melihat Anggela yang tiba-tiba berdiri.

Dregg!

“Ikut aku!” ajak Anggela lalu berjalan ke pintu keluar kelas.

“Memangnya mau ke mana?” tanya Hizkil keheranan sambil berjalan mengikuti Anggela.

“Ikut saja!”

“….”

Mereka berdua berjalan pergi ke suatu tempat.



“Hey Anggela, sebenarnya kita ini mau ke kantin, kan?”

“Iya–” Anggela langsung terdiam karena melihat Shina, Eliza dan Anggelina yang sedang makan di kantin.

“Stop!” Anggela sambil menahan Hizkil yang berjalan di belakangnya.

“Hah? Sebenarnya ada apa denganmu hari ini, bukankah kamu hari ini sedikit lebih an–”

“Lihat gadis berambut putih yang bersama Shina itu,” jelas Anggela sambil menunjuk Anggelina.

“Ra-rambut putih? Ja-jangan-jangan?” Hizkil memasang muka terkejut.

“Iya, dia Anggelina.” Anggela tersenyum bahagia.

“Wooah, cantik banget, wajahnya bener-bener mirip sama Kak Keisha!” jelas Hizkil sambil terus melihat Anggelina.

“Lalu apa alasan dia sampai datang kemari?” lanjut Hizkil bertanya melirik sahabatnya.

“Kakekku meninggal, akhirnya dia datang kemari,” jawab Anggela datar.

“Singkatnyaaa ….” Hizkil memasang ekspresi terkejut.

“Ya udah, sekarang ayo kita kembali ke kela–”

“Apa maksudmu? Kita harus menyapa adik kecilmu itu kan? Lagipula ini jam istirahat jadi kita harus membeli makanan.”

Hizkil mulai berjalan menghampiri Shina dan yang lainnnya, dia terlihat menarik Anggela secara paksa.

“Eehh? Hizkil, t-tunggu aku belum siap, ak–” Anggela terlihat gugup ketakutan.

“Yoo Shina, Eliza, dan … Anggelina,” sapa Hizkil pada mereka lalu melirik Anggelina dengan senyuman.

“Siapa?” bisik khawatir Anggelina pada Shina.

“Kakak kelas kita, namanya Hizkil,” jawab Shina tersenyum khawatir.

“Ohh, jadi ada urusan apa Kak Hizkil?” tanya Anggelina sambil melirik Anggela.

“Umm .… Kenal sama orang ini?” kata Hizkil sambil memegang kepala Anggela, lalu dengan sangat cepat Anggela membuang tangan Hizkil dari atas kepalanya. 

“Apaan sih.“

“Gak! Siapa orang aneh ini?” Tanya Anggelina sambil menunjuk Anggela dengan nada meremehkan.

Or-orang aneh? " Geram kesal Anggela dalam hatinya.

“Ehh, bohong?! Kamu gak kenal kakak kembar kamu sendiri?” tanya Hizkil terlihat sangat kaget.

“Haaaah?! Orang ini kakak kembar aku?” tanya balik Anggelina sangat kesal.

“Apa kamu mengajakku berkelahi, hah?!” lanjutnya sambil melihat Anggela dengan tatapan kesal.

“Lah, kok malah melihat ke sini? “ Anggela balik bertanya.

“Denger yah! Kakak aku itu tidak sejelek ini, lagipula dia orang yang sangat jenius.”

“….” Anggela dan Hizkil saling menatap satu sama lain.

“Ingat baik-baik yah, aku dan kakak kembar aku bangsawan grade A, otomatis dia merupakan Kineser hebat seperti aku!” lanjut Anggelina sedikit sombong.

“Aku tahu kok, di sekolah ini kineser tertingginya hanya tingkat 4 sepertiku, dan yang lebih parahnya lagi dia itu seorang perempuan, jadi dengan kata lain kamu kineser tingkat rendah kan? Tingkat berapa kamu?” tanya Anggelina sambil menunjuk Anggela. 

“Ti-tingkat satu,” senyum Anggela memiringkan kepalanya.

“Eehh?!! Anggela?” tanya Hizkil dengan muka kaget.

“Hahahahahaha, tingkat satu ingin mengaku jadi kakakku? Apa kau sedang bercanda?” tanya Anggelina dengan tertawa yang meremehkan.

“Ahahahaha, maaf orang ini emang sering bercanda,” senyum Anggela menahan kesal sambil menepuk punggung Hizkil.

“Sudah sudah, bell masuk mau berbunyi, ayo kita kembali ke kelas,” ajak Eliza pada teman-temannya.

“Ya, ayo Eliza, Shina,” senyum manis Anggelina.

Anggelina, Shina dan Eliza pun mulai berjalan pergi ke kelasnya, sedangkan Hizkil dan Anggela masih berada di dalam kantin tersebut.

“Anggela, denger yah, kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarny–” Hizkil terdiam karena melihat wajah Anggela yang terlihat sangat kesal.

“Si cengeng itu…! Berani sekali dia menghinaku seperti itu?! Awas ... awas saja nanti kamu Anggelina!!”

“A-Anggela?” tanya Hizkil ketakutan.

“Haah?!” jawab Anggela dengan nada yang masih kesal.

“Ma-maaf, aku cuman mau ngasih tau, dia itu masih adik kandungmu, jangan terlalu keras,” jelas Hizkil dengan nada pelan, dia terlihat sangat khawatir memalingkan wajah.

“Sudah jelas, aku hanya akan memberinya sedikit pelajaran,” senyum Anggela, raut wajahnya berubah secara drastis.

“Ha-hanya sedikit, kan?” Hizkil sambil memasang wajah semakin khawatir.

“Iya hanya sedikit. Ayo kita beli makanan sebelum bell masuk berbunyi,” ajak Anggela lalu berjalan ke arah kasir.

“Y-ya,” Hizkil sambil berjalan mengikuti Anggela.

***

My Dearest Jilid 1 Chapter VI Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.