24 Juni 2015

My Dearest Jilid 1 Chapter V


MY DEAREST
JILID I CHAPTER V
DEEP SEA MALL

Bagian Pertama
Dengan masih memasang muka mengantuk, dia mulai mengangkat handphonenya tersebut.

“Ya, ada apa?” tanya Anggela, masih mengantuk.

“Nggel, ada yang mau aku bicarain.”

“Apa harus sekarang, Hizkil?” tanya Anggela kembali dengan nada malas.

“Tentu saja! Apa sekarang kamu sedang sibuk?” tanya Hizkil sangat serius.

“Apa kamu mau kubunuh? Ini masih jam 2 pagi, orang normal seharusnya sedang mencoba untuk tidur sekarang!” jelas Anggela sedikit kesal.

“Sudah sudah, yang lebih penting aku mau bertanya.”

“Apa? Cepat aku masih mengant–hoaam,” Anggela menguap.

“Bisakah nanti siang kamu menemaniku pergi ke DSM? Aku–

“Aku tutup!” Dengan sangat cepat Anggela langsung menutup handphonenya.

Tit tit titt~

“Apa-apaan orang itu? Meneleponku jam segini hanya untuk urusan yang tidak penting.” Anggela menggerutu kesal, lalu dia mulai membaringkan tubuhnya kembali di atas kasur.

“Masa bodoh dengan orang itu, besok kan sekolah diliburkan jadi aku bisa tidur seenaknya,“ senyum Anggela lalu perlahan memejamkan mata, dia mulai memasuki alam mimpinya kembali.


Tapi keesokan harinya, harapan Anggela untuk tidur seenaknya telah sirna ketika di pagi hari Hizkil datang ke rumahnya dan membangunkannya.

“Anggelaaa!“ Teriak Hizkil yang membuat Keisha terkejut saat memasak.

Keisha lekas berjalan cepat dan membukakan pintu untuk tamu yang sudah ia duga.

“Sudah kuduga itu kamu, untung ada kamu … tolong bangunkan dia dikamarnya,“ Keisha tersenyum membiarkan Hizkil masuk, setelah itu dia menutup pintu lalu berjalan ke arah dapur.

“Siap, roger.” Hizkil lalu berjalan cepat ke arah kamar Anggela.

“Anggela, Anggela bangun!" teriak Hizkil sambil menampar-nampar kedua pipi Anggela, tapi Anggela tetap tidak bangun dan malah bersembunyi di balik selimutnya.

“Dasar!“

“Ok, kalau kamu nggak mau bangun, aku akan ungkap rahasia tentang Sylvia, lalu rahasia kemampuanmu, lalu–”

“Sialan! Awas saja kalau kamu ungkapin semua itu!” ancam Anggela dengan nada kesal sambil membuka selimutnya.

“Ya ya ya, maka dari itu, temenin aku pergi ke DSM.” Hizkil tersenyum.

“Huuhh.” Anggela membuang napas, mengeluh.

“Apa-apaan reaksimu it–” 

“Ya ya, aku akan siap-siap sekarang!” kata Anggela sambil turun dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi.

“Siap-siap kemana? Mau pergi kemana?” tanya Hizkil dengan muka sok polos.

“Mau pergi membawamu ke neraka!” geram Anggela kesal, lalu masuk ke toilet dan menutup pintu toilet tersebut dengan sangat kencang.

BUUAAKK!

“Anggela!!” teriak kesal dari Keisha..

“Maaf Kak itu ulah Hizkil yang menendang pintu toilet!” balas teriak Anggela.

“Ehh kok aku?–”

“Hizkil!!” Teriak Keisha kesal.

“Yaaa, ma-maaf kak!!” teriak Hizkil khawatir.

“Hmmph,” senyum Hizkil melihat kamar mandi yang dimasuki Anggela.

“Dasar, lanjutnya, lalu tiduran di atas kasur Anggela.

Selang beberapa menit setelah kejadian tersebut, akhirnya Anggela keluar dari kamar mandinya. Wajahnya terlihat sangat terkejut karena melihat kelakuan sahabatnya.

“Apapa-apaan orang ini, bukankah dia yang mengajakku untuk pergi?” geram kesal Anggela karena sudah melihat Hizkil yang tertidur pulas di atas kasur.

“Woi bangun!” Anggela melemparkan bantal yang berada di lantai ke arah muka Hizkil, tapi Hizkil tetap tidak terbangun, bantal yang sebelumnya Anggela lempar mulai ia peluk dengan kedua tangannya.

“Hmm~ Liana~” Hizkil menggumam dalam tidurnya sambil memasang wajah sedih.

Setelah Anggela mendengar perkataan tersebut, dia jadi ikut memasang wajah sedih sambil melihat Hizkil.

“Yah apa boleh buat, aku akan biarkan dia tidur sebentar, senyum Anggela sambil mengambil pakaian di dalam lemarinya.

“Anggela, apa kamu udah bangun!?” teriak Keisha dari dapur.

“Apa aku harus menjawabnya?!” teriak Anggela dengan nada sedikit kesal sambil memakai bajunya. 

“Ohh kalau gitu ke sini! Kita sarapan! ”

“Ya kak sebentar, aku lagi ganti baju.”

“Haah? Apa?!”

“Bentar, aku lagi ganti baju!!”

“….” Suasana hening untuk beberapa detik.

“Ya sudah, cepatlah!” teriak Keisha lagi.

“Terlalu lama Kak kau menjawabnya–” kata Anggela datar.


“Ohh Anggela?” Hizkil terbangun dan memasang muka setengah sadar.

“Ya, ini aku,” kata Anggela sambil berjalan keluar kamar.

“Wah tumben bangun pagi, mau kemana?” tanya Hizkil lalu duduk di kasur Anggela.

“Hahaha, apa kau sedang bercanda?” senyum Anggela kesal.

“Hah?” Hizkil kebingungan.

“Bukankah kamu yang membangunkanku, kamu sendiri yang memaksaku untuk menemanimu pergi ke DSM.” 

“Astaga, aku lupa! Ayo kita berangkat,” jelas Hizkil langsung turun dari kasurnya, dia berjalan cepat menghampiri Anggela.

“Sarapan, kita sarapan dul–” 

“Gak ada waktu, ayo cepat!” Hizkil berlari menuju ke arah pintu keluar rumah Anggela.

“Hah yang benar, emang ada perlu apa kamu pergi ke Deep Sea Mall?”  tanya Anggela ikut berlari mengejar Hizkil.

“Anggela, Hizkil, kalian mau kema–” Keisha terlihat khawatir melihat Anggela dan Hizkil. 

“Kita makan di luar Kak!” teriak Hizkil dari luar.

“Ehh ?! Ayolah, yang benar saja? Lalu siapa yang akan menghabiskan makanan ini?” Keisha terlihat kecewa melihat makanan yang cukup banyak.

Mereka terus berlari ke arah pantai tempat pintu masuk DSM berada. Sambil terus mengikuti Hizkil, Anggela mulai merasa penasaran.

"Kenapa Hizkil ingin sekali pergi ke DSM, apa telah terjadi sesuatu disana?" gumam Anggela khawatir dalam hatinya.

“An-anu, Hizkil, panggil Anggela sambil terus berlari mengejar Hizkil.

“Ya, ada apa?” jawab Hizkil dengan nada serius sambil terus berlari.

“Maaf, jika kamu ingin sekali segera sampai disana, kenapa tidak menggunakan kemampuan teleportmu saja?”

“Waah kamu bener, kamu jenius Anggela!” Hizkil menghentikan langkahnya.

“Jen-jenius? Nggak nggak, itu hanya logika yang simpl–” Anggela tiba-tiba menghentikan perkataannya, dia terkejut karena tiba-tiba Hizkil langsung memegang tangannya.

“Tu-tunggu, Hizkil? Jangan-jangan–” Anggela ketakutan, perkataannya terpotong karena mereka berdua sudah menghilang dengan kemampuan Teleport milik Hizkil.

SWUBB!!

Dalam sekejap mereka sampai di DSM. Kedatangan mereka berdua yang muncul tiba-tiba membuat mereka menjadi pusat perhatian bagi beberapa pengunjung di sana.

Ya, jumlah kineser di dunia ini tidak banyak, mungkin sekitar 528 orang termasuk 28 kineser tingkat atas. Maka tidak heran jika masyarakat akan terkejut melihat kemampuan kineser di depan umum tersebut.   

“Wah wah, sepertinya kita jadi pusat perhatian yah Anggela, senyum Hizkil lalu berbalik melihat Anggela yang sedang duduk jongkok, wajahnya terlihat sangat pucat.

“Si-sialan kamu Hizkil!” umpat Anggela dengan wajah yang mabuk hebat.

“Haah? Kamu masih belum terbiasa dengan perpindahan dimensi?” tanya Hizkil dengan nada meremehkan.

“Tentu saja bodoh!! Aku bukan Kineser tipe seperti itu!” jelas Anggela sambil berdiri sempoyongan, dia mulai berdiri sambil memegang dinding yang dilapisi kaca yang indah. Dibalik kaca itu, terlihat dalam lautan yang menakjubkan, bagaikan sebuah akuarium dengan skala yang sangat besar.

“Ayolah, berhenti bertingkah seperti anak kecil,” ejek Hizkil.

“Orang normal bahkan kineser yang bukan tipe dimensi pasti akan seperti ini, apa kau mau mengajakku berkelahi hah?”

“Ya ya maaf, ahaha,” senyum Hizkil meminta maaf lalu diakhiri dengan tertawaan kecil.


“Jadi, kamu ke sini mau beli apa?” tanya Anggela sambil berjalan pelan ke tempat duduk yang tersedia di DSM tersebut, wajahnya terlihat sudah kelelahan.

“Beli? Enggak, aku enggak beli apapun.” jawab Hizkil melirik Anggela.

Ja-jadi memang benar kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan tempat in–”  Anggela terlihat mulai khawatir.

Apa-apaan sih perkataan kamu? Aneh banget, senyum Hizkil.

“Hah? Lalu–” Anggela terdiam karena melihat mata Hizkil yang berbinar-binar karena melihat sesuatu.

Anggela penasaran kenapa mata Hizkil bisa sampai seperti itu, dia pun berbalik dan ikut melihat apa yang Hizkil lihat, lalu Anggela berkata dengan nada yang cukup terkejut.

“Fe-festival mainan!?”

“Hmm!” senyum Anggela. 

Bukankah dia yang terlihat seperti anak kecil disini,” gumam Anggela dalam hati.

“Hizk–” Anggela mencoba memanggil Hizkil, tapi perkataannya terpotong oleh suara seorang gadis yang datang menghampiri Hizkil.

“Kak Hizkil?!”

“Oohh ya, kamu? Kalau tidak salah kamu itu ...”

“Saya Eliza, sahabatnya Shina,” senyum Eliza.

“Ohh Shina yah,” kata Hizkil sambil memalingkan wajahnya, dia mulai merasa terganggu. kemarahannya pada Shina masih tersisa dalam dirinya. 

“Shina Shina, cepet sini!!” teriak Eliza sambil melihat Shina dari kejauhan.

Terlihat Shina yang sangat manis berjalan menghampiri mereka berdua, rambutnya yang panjang terlihat diikat ke belakang, pakaiannya pun terlihat manis yakni berwarna putih dengan beberapa corak mawar merah.

Sejak memasuki DSM, dia sudah menjadi pusat perhatian, khususnya bagi kaum pria.

Shina memalingkan wajahnya dari Hizkil, dia merasa malu karena dia sudah mendengarkan semua percakapan Hizkil bersama Anggela di atap sekolah. Dia benar-benar terlihat sedih karena merasa bersalah.

“Jadi kak Hizkil, kamu sendirian?” tanya Eliza.

“Ohh enggak, aku bersama–” Hizkil terdiam karena melihat Anggela yang berjalan pelan menuju pintu keluar.

“Anggela! mau kemana kamu?!” teriak Hizkil kesal.

“Ehh, orang itu?” tanya Eliza sedikit terkejut.

“Y-ya maaf, tadi aku mau ke toilet sebentar,” kata Anggela dengan senyum terpaksa, lalu mulai berjalan menghampiri mereka.

“Hei, bukankah toilet berlawan arah dari sana?” tanya Hizkil dengan nada curiga.

Kedatangan Anggela kembali membuat Shina menjadi gugup dengan muka yang memerah. Saat Anggela menatap wajahnya Shina, Shina selalu saja memalingkan wajahnya dari Anggela.

Hatinya semakin berdegup kencang ketika Shina menatap langsung Anggela yang melihatnya.


***

Bagian Kedua
Ap-apa dia sebegitu membenciku?” Anggela berbicara dalam hatinya, wajahnya terlihat khawatir melihat Shina.

“Jadi, Kak Hizkil mau beli apa?” tanya Eliza.

“Ak-aku–” Hizkil terlihat gugup sambil memalingkan wajahnya.

“Dia cuman mau lihat festival mainan itu–” kata Anggela datar.

“Ahahaha, apa katamu Anggela?” Hizkil menginjak kaki sahabatnya.

Aww!” geram Anggela sambil melirik sinis Hizkil.

“Shina, kenapa kamu diem aja?” tanya Eliza sambil melihat Shina yang gugup salah tingkah, dia terus memalingkan wajahnya yang memerah dari Anggela.

Oi oi, apa kehadiranku disini begitu mengganggunya?” gumam Anggela dalam hati, dia terlihat memejamkan matanya karena merasa bersalah.

“Jadi–” perkataan Eliza terpotong oleh suara telepon genggam Anggela.

“Sebentar,” Anggela berlari meninggalkan mereka, lalu setelah cukup jauh dia mulai menjawab teleponnya.


“Hallo, Anggela?”

“Oh Kak Keisha, ada apa?” 

“Apa kamu lagi sibuk sekarang? Bisa kamu pulang seben–”

“Bisa bisa kak, aku akan pulang sekarang.”

“Wah, bagus, kata Keisha dengan nada gembira.

“Aku berhutang budi padamu kak,” lanjut Anggela

“Ehh? Berhutang budi? Berhutang budi apany–” tanya Keisha kebingungan, tapi pertanyaannya tidak dijawab oleh Anggela karena dia langsung menutup teleponnya.

Titt tittt~

Anggela kembali berjalan kearah Hizkil dan yang lainnya sambil bergumam dalam hatinya sendiri.

Wuuh aku bener-bener berhutang budi sama Kakak, jika aku terus bersama Hizkil dan yang lainnya, mungkin aku hanya akan mengganggu hari libur Shina.”

“Siapa? tanya Hizkil penasaran melihat Anggela yang menghampirinya.

“Kakak, aku harus pulang sekarang, penting katanya!” jelas Anggela sambil memalingkan wajahnya.

“Ehh benarkah?” tanya Hizkil sedikit terkejut.

Iya.

“Yahh jika itu kakak kamu apa boleh buat, ayo kita pulang saja.”

“Ehh sudah mau pulang?” tanya Eliza keheranan.

“Ya mau bagaimana lagi, kata Hizkil sambil melirik Eliza.

“Apa benar kalian mau pulang?” tanya Shina terlihat sangat sedih melihat Hizkil, sesekali dia juga melirik Anggela.

“Hizkil, sebaiknya kamu tidak usah pulang,” senyum Anggela melirik Hizkil lalu melirik Shina.

“Tapi–”

“Ayolah, yang mempunyai urusan kan cuman aku, dan lagipula bukankah kamu sangat menantikan itu?” tanya Anggela sambil melihat festival mainan.

Hizkil hanya terdiam dengan muka memerah karena malu.

“Jadi? sela Eliza.

“Ya ya, memang benar, aku datang kesini hanya ingin melihat festival itu! Apa ada masalah?” tanya Hizkil dengan nada sedikit kesal.

“Enggak kok, iya kan Shina?” tanya Eliza sambil melihat sahabatnya Shina.

"Iya, jawab Shina yang masih memasang muka sedih.

“Ya udah, aku duluan pulang, pamit Anggela sambil berjalan menuju ke arah pintu keluar.

“Apa harus kuantarkan kamu dengan kemampuan teleportku?” tanya Hizkil terlihat bercanda.

“Jika kau berani, lakukan saja!” geram Anggela kesal sambil memejamkan mata.

“Hahahaha, cuman bercanda Nggel, lagipula aku ini kan masih kakak kelas kamu, jangan jahat gitu dong.”

“Maaf, ini bukan sekolahan,” senyum Anggela sambil terus berjalan.

Eliza dan Shina cukup terkejut dengan pembicaraan Hizkil dengan Anggela tadi, mereka bertanya-tanya kenapa Hizkil bisa seperti merasa segan pada Anggela? Padahal dia lebih kuat dari Anggela.

“Ohh iya Hizkil ” Anggela berbalik melihat Hizkil.

“Hah, apa?” Hizkil lalu berlari kearah Anggela.

Dia sepertinya pulang, bisik Anggela pada Hizkil.

Dia?” tanya Hizkil kebingungan.

“Ang-ge-li-na, bisik kembali Anggela dengan nada mengeja.

“Ehh adik kembar kamu? yang tinggal di daerah Frosy itu?” tanya Hizkil terkejut.

“Besok aku ceritain semuanya di sekolah,” jelas Anggela lalu berbalik dan kembali berjalan menuju pintu keluar, sedangkan Hizkil berbalik kembali menghampiri Shina dan Eliza.

“Apa yang dia katakan tadi?” tanya Shina penasaran.

“Ohh, bukan hal yang penting.”

“Ehm begitu,” kata Shina dengan nada sedikit kecewa.

“Ohh iya, Hizkil, aku mau tanya.”

“Apa, Eliza?”

“Apa yang kamu lakukan jika ada gadis bangsawan yang menyukaimu?” tanya Eliza dengan muka penasaran.

Sambil melirik Shina, Hizkil pun menjawab.

“Langsung kutolak, aku sudah mempunyai gadis yang kusuka.”

“Ehhh,” Eliza memasang muka menyesal sambil melihat Shina, tapi Shina seakan tidak peduli dengan jawaban Hizkil. Dia hanya terdiam sambil terus melihat pintu keluar.

“Shina?” Tanya Eliza kebingungan.

“Y-ya apa?” Shina sedikit terkejut.

“An-anu Shina, bukankah kamu hari ini agak sedikit aneh? Apa ada masalah?” bisik khawatir Eliza bertanya pada sahabatnya.

“Enggak, aku gak ada masalah apapun kok!

“Aku hanya sedikit tidak enak badan saja kok, jadi aku duluan pulang yah,” lanjut Shina tersenyum ke Eliza dan Hizkil.

“Eh? Bukankah tadi pagi kamu sehat-sehat sa–”

“Daah! Eliza, Hizkil,” senyum Shina lalu berjalan cepat ke arah pintu keluar.

Apa yang sebenarnya terjadi denganku? Kenapa aku bisa bersikap seperti ini?” Shina bergumam dalam hatinya sendiri. Dia terus berjalan cepat menuju pintu keluar sambil memejamkan matanya yang terlihat sedih.

“Yah aku juga pulang deh, khawatir sama keadaan Shina,” senyum Eliza pada Hizkil, setelah itu dia berlari mengejar sahabatnya.

“Aku sendirian?” Hizkil bergumam sendiri dengan nada sedikit sedih.


Di lain tempat, di kediaman Anggela.

Anggela terlihat telah sampai di rumahnya, dia membuka pintu rumahnya dan berteriak.

“Kak aku pulang!!” Anggela sambil melepaskan sepatunya.

“Ohh Anggela kamu sudah pulang? Bagus, cepat ke sini!” jelas Keisha dari pintu ruang keluarga.

“Ya kak, ada apa?” tanya Anggela sambil berjalan ke ruang keluarga.

“Duduk di sini.”

“Ya, apa?” Anggela kembali bertanya, lalu menduduki tempat yang ditunjuk oleh Keisha.

“Sepertinya adikmu benar-benar akan datang ke Dealendra, dia akan tinggal bersama kita,” jelas Keisha sambil memasang wajah bahagia.

“Ohh benarkah? Ya kalau begitu bagus,” senyum Anggela.

“Tapi sepertinya dia tidak tahu alamat kita, jadi jika kamu bertemu dengannya di suatu tempat, kamu harus langsung berbicara padanya!” kata Keisha dengan nada cemas.

“Ya kak.” Anggela berdiri, lalu berjalan ke arah kamarnya.

“Awas jangan sampai lupa, Anggela.”

“Iya iya kak,” senyum Anggela, lalu memasuki kamarnya.


***

My Dearest Jilid 1 Chapter V Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Fariq Farhan Ariq

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.