17 Juni 2015

My Dearest Jilid 1 Chapter IV



MY DEAREST
JILID I CHAPTER IV
ALASAN YANG SEBENARNYA

Bagian Pertama
Langit terlihat sangat cerah, suhu udara saat itu juga masih terasa hangat karena matahari masih belum mencapai titik tertingginya. Di bawah sang matahari itu, lebih tepatnya di atas atap bangunan HoK, terlihat Anggela dan Hizkil yang sedang beristirahat.

Mereka memakan makanannya yang baru mereka beli di cafeteria. Anggela terlihat duduk sambil bersandar dekat pintu keluar, dia memakan makanannya. Sedangkan Hizkil terlihat berdiri sambil memandang langit, roti coklat terlihat masih ia pegang di tangan kanannya.

Beberapa menit kemudian Anggela selesai memakan makanannya, dia berniat mengambil jus yang berada di sampingnya, tapi tiba-tiba dengan cukup cepat Hizkil mengambil jus milik Anggela tersebut dan lekas meminumnya.

“Hey!” Anggela terlihat kesal.

“Ayolah, bukankah kamu juga suka seperti–“ senyum Hizkil melihat Anggela.

“Tidak! Aku tidak seperti itu,” jelas Anggela berdiri dan merebut kembali jus miliknya, kemudian dia lekas meminum jus jeruk kesukaannya itu.

“Hee ayolah, aku belum menyelesaikan perkataanku, paling tidak biarkan aku menyelesaikannya.” Hizkil dengan muka sok kecewa.

“Apa kau bodoh? Kenapa aku harus menurutimu?” senyum Anggela sambil memberikan jusnya yang sudah habis pada Hizkil.

Shina yang bersembunyi di balik pintu hanya bisa terdiam melihat Anggela dan Hizkil, dia terlihat sangat terkejut dan mulai bergumam dalam hatinya.

Eh? Ap-apa itu sikap kak Hizkil yang selalu terlihat keren?”

Anggela berjalan ke pinggir atap yang tidak jauh dari pintu keluar, setelah itu secara perlahan dia mulai memejamkan mata dan merasakan angin yang berhembus pelan menerpa tubuhnya.

Hizkil yang baru saja menyelesaikan makanannya mulai duduk di tempat Anggela sebelumnya duduk, dia tersenyum sambil melihat Anggela.

“Ohh iya Nggel, apa kamu sudah mendapatkan gebetan baru?”

“Apa kau mengajakku berkelahi?!” senyum Anggela sambil melirik Hizki, dia masih memejamkan matanya tapi nadanya terlihat sangat berat seolah sedang kesal.

“Ahahahaha, nggak nggak, aku angkat tangan. Mustahil aku bisa menang melawanmu,” senyum Hizkil sambil mengangkat kedua tangannya.

“Berhentilah bersikap berlebihan seperti itu,” senyum Anggela sambil berjalan menghampiri Hizkil, dia duduk di samping Hizkil sambil membaringkan tubuhnya pada tembok.

Mustahil?” Shina bergumam kembali dalam hatinya, wajahnya semakin terlihat terkejut penasaran.

Bukan hal aneh jika Shina kebingungan, dia mulai berpikir kenapa Kineser tingkat tiga seperti Hizkil bisa berkata seperti itu pada Kineser tingkat satu seperti Anggela.

“Tapi jujur, aku masih bingung, Anggela.” Hizkil dengan nada serius melirik sahabatnya.

“Bingung?”

“Alasan kamu untuk terus mengikuti rencana Shina. Padahal kan kamu sendiri sudah tahu tentang rencananya dia."

“Aku hanya iseng saja, nggak ada alasan khusus, jawab Anggela sambil menutup matanya sebentar.

Ketika melihat respon sahabatnya tersebut Hizkil langsung terdiam, dia tersenyum melihat Anggela.

“Ayolah, berhenti berbohong, aku tahu jika kamu memejamkan matamu dalam suasana seperti ini, aku yakin kalau kamu pasti sedang tidak jujur.”

Eeeeh... jadi dia tahu dari awal semua rencanaku? Bohong, kan? Tunggu, kenapa kak Hizkil juga bisa tahu tentang rencana itu? ” Shina berbicara dalam hati, wajahnya terlihat semakin terkejut, kedua tangannya mulai bergemetar ketakutan.

“Ya ya ya, aku memang bohong,” Anggela terlihat kecewa lalu tiduran di atas lantai.

“Terus apa alasannya?”

“Coba kamu bayangkan, apa yang akan terjadi jika aku tidak datang dalam pertemuan itu?” Anggela mulai melirik sahabatnya.

“Hmm... yaaa mungkin mereka bakalan bosan, karena cuman menunggu diam nggak ada kerjaan.”

“Nah itu alasannya, senyum Anggela memejamkan matanya.

“Hah?! Memangnya kenapa kalau mereka cuman nunggu diam disana? Hizkil terlihat semakin kebingungan melihat sahabatnya.

“Jika mereka bosan menunggu, menurutmu siapa yang bakal disalahkan karena sudah membuang waktu libur mereka?” tanya Anggela lalu kembali duduk sambil melihat sahabatnya.

“Jika kamu tidak datang ke pertemuan itu, Shina hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.” Hizkil terlihat berpikir menjawab pertanyaan Anggela.

“Jangan katakan kalau tujuanmu adalah mengorbankan dirimu demi dirinya dengan datang ke pertemuan itu?!” Hizkil terlihat sangat terkejut melihat sahabatnya.

Jawaban Hizkil tersebut direspon Anggela dengan senyuman, melihat respon Anggela tersebut Hizkil langsung berdiri dan berbicara dengan nada yang sangat kesal.

“Anggela, sadarkah kamu?! Dia cuman permainin kamu! Kenapa harus bersikap baik terlalu jauh seperti itu?? –“

“Ayolah, mungkin dia juga punya alasan tertentu, dia juga pasti punya sisi baiknya. Manusia itu nggak ada yang sempurna,” jelas Anggela ringan memotong perkataan Hizkil.

“Jadi maksud kamu, jika kamu ditodong sama perampok maka kamu akan kasih aja semua barang-barang kamu. Kamu berpikir kalau dia juga punya alasan tertentu sehingga melakukan perampokan, begitu?” kesal Hizkil melihat sahabatnya.

Untuk beberapa alasan Anggela terdiam, wajahnya menggambarkan kalau dirinya kesakitan. Deg, rasa sakit misterius mulai datang padanya, rasa sakit hati Anggela saat Hizkil berkata seperti itu.

 "Sa-sakit? Kenapa?" gumam Anggela terkejut dalam hatinya, untuk sesaat dia memegang dadanya.

“Anggela?”

“Y-ya enggak gitu juga bodoh!!” Anggela terlihat kesal lalu mulai berdiri, dia memukul keras pudak sahabatnya.

“Hey, aku ini masih kakak kelas kamu loh! Sopan sedikit–

“Ya ya kakak kelas, maaf,” senyum Anggela lalu berjalan menuju pintu keluar tempat Shina bersembunyi.

Shina yang mengatahui hal tersebut bergegas turun menuruni tangga dengan kepala yang tertunduk, dia berjalan sangat cepat menuju kelasnya.

Semua orang tertuju melihat Shina yang berjalan cepat di lorong, mereka bertanya-tanya apa yang terjadi hingga gadis seperti Shina bisa terlihat seperti itu.

"Shina?"

“Shina?!! teriak teman dekatnya yang bernama Eliza, dia juga sedikit penasaran melihat sahabatnya yang bersikap aneh.

“Y-ya ya apa?” Shina dengan nada sedikit gugup karena terkejut, dia terlihat salah tingkah yang membuatnya semakin terlihat manis.

Ma-manis sekali…!!!” gumam beberapa siswa melihat Shina yang menjadi pusat perhatian.

“Ehhh... ada apa dengan muka kamu, kenapa memerah seperti tomat yang sudah matang?”  tanya Eliza sambil memegang kedua pipi Shina.

“Demam?” lanjut Eliza terlihat khawatir, dia mulai memegang kening sahabatnya dengan tangan kanannya.

“…” Shina hanya terus terdiam, wajahnya masih memerah gugup.

“Tapi tidak panas, lalu kenap– Eliza terlihat kebingungan sambil melepaskan tangannya.


“Aku baik-baik aja, Eliza!! ini cuman ke-kepanasan,” jawab kesal Shina sambil memalingkan wajahnya, setelah itu dia langsung bergegas masuk ke dalam kelasnya.

“Kepanasan?” Eliza bergumam sendiri.

“Ini kan masih jam 10 pagi,” lanjut Eliza semakin kebingungan sambil melihat jam tangan yang berada di tangan kanannya.

***

Bagian Kedua
Ting tong!!!

Tanda bel HoK mulai bergema di daerah sekitarnya, bel pertanda sekolah berakhir tersebut diikuti oleh teriakan gembira para siswa.

Para siswa lekas berjalan keluar kelas dan bergegas pulang, ada juga beberapa siswa yang masih di sekolah karena suatu keperluan. Ada yang memiliki urusan dengan pengajar, ada yang sedang mengikuti AS(Additional Skill), dan yang lainnya.

Anggela dan Hizkil termasuk dari beberapa siswa yang masih di sekolah tersebut. Terlihat Anggela yang sedang duduk di atas kursi halaman sekolah, kepalanya terlihat menghadap langit seakan mencoba mencari tahu alasan hatinya tadi sakit.

Apa maksudnya tadi? Hatiku benar-benar sakit saat Hizkil mengajukan pertanyaan itu….”

Ketika Anggela masih bergumam dalam hatinya, mulai terlihat Hizkil yang berjalan dari arah Gymnasium menghampiri dirinya.

“Ok Anggela, urusanku sudah selesai…,” jelas Hizkil menepak punggung sahabatnya.

“Apa selama itukah memberikan surat pengunduran diri?” jelas Anggela sambil berdiri.

“Eh memangnya lama, yah?”

“Lihat sekitarmu, sekolah sudah benar-benar sepi sekarang,” kesal Anggela memejamkan mata.

“Ahahaha maaf maaf,” Hizkil diikuti tertawaan bersalahnya.

“Ya sebenarnya aku tidak peduli, tapi apa kamu yakin tentang ini?” Anggela mulai berjalan.

“Tentang apa?”

“Tentang dirimu yang tiba-tiba berhenti mengikuti ASBasket…?”

“Ah tak apa, lagipula alasanku mengikuti Additional Skill itu hanya untuk melatih fisikku saja.”

“Hmmm, sayang sekali, padahal kamu cukup berbakat dalam hal itu. Kekuatan tim basket sekolah kita pasti akan munurun…” Anggela memalingkan pandangannya, nadanya terlihat kecewa.

“Ahahaaha rasanya aneh dipuji oleh orang sepertimu, Anggela…”

“ ….?” Anggela terlihat kebingungan melirik sahabatnya.

“Maksudku, aku sangat merasa tersanjung dipuji oleh orang jenius sepertimu.”

“Jenius apanya…,” senyum Anggela memejamkan matanya.

“Eh Anggela… tadi di Gymnasium ada seorang gadis yang mengungkapkan cintanya padaku. Dia sepertinya sudah tau kalau aku akan mengundurkan diri–

“Biar kutebak, gadis itu satu AS denganmu…?”

“Iya benar-benar! Namanya Clara, kelas X-C. Apa kamu kenal?”

“Tidak...”

“Sudah kuduga…”

“Apa itu hinaan?” Anggela melirik sinis Hizkil, dia mulai menghentikan langkahnya

“Tidak tidak, aku hanya berpikir kalau kamu pasti tidak tahu tentangnya.” Hizkil terlihat ikut menghentikan langkahnya.

“Ya ya, jadi apa jawabanmu…?” Anggela mulai melangkah kembali.

“Ak-aku tolak–

“Sudah kuduga.” Anggela memejamkan matanya.

“… Hizkil tidak merespon, wajahnya masih terlihat sedih.

Anggela berhenti dan melihat sahabatnya yang tertunduk sedih.

“Mau sampai kapan kamu seperti ini? Dia yang kau tunggu sudah pergi dari dunia ini…,” jelas Anggela dengan nada kesal.

“Tapi aku yakin–

“Jika kau yakin kalau dia masih hidup, jangan pernah memasang wajah menyedihkan seperti itu di depanku. Sebagai sahabatnya juga aku selalu percaya kalau dia masih hidup…”

“Ya, terima kasih Anggel– senyum Hizkil berjalan cepat menghampiri sahabatnya, tapi dia langsung terdiam terkejut melihat wajah Anggela, wajah yang sangat serius melihat pos pendaratan Mobil terbang.

“Anggela…?” Hizkil terlihat kebingungan.

 “Pegang ini!” jelas Anggela sambil melemparkan tasnya ke arah Hizkil.

“Hah? Memangnya kenap– Hizkil menangkap tas Anggela, perkataannya tidak selesai karena terkejut melihat Anggela yang sudah menghilang dari hadapannya.

“Ja-jangan-jangan!?” Hizkil terkejut sambil melihat tempat yang sebelumnya dilihat Anggela. Ia mengamati tempat tersebut dan terlihat jelaslah alasan Anggela bersikap aneh seperti sebelumnya.

“Shi-Shina!?” jelasnya langsung berlari ke arah tempat tersebut.
  
Dalam hitungan persekian detik, Anggela menyelamatkan Shina yang hampir tertabrak oleh pendaratan Flying Car. Shina hanya terdiam kagum melihat Anggela yang sedang menggendongnya.

“Ka-kamu gapapa?” Tanya sang pengemudi cemas ke arah Anggela.

“Jangan bertanya padaku! Tanya pada gadis ini!“ Teriak kesal Anggela sambil menurunkan Shina.

“Nona kamu gapapa?” Tanya sang pengemudi khawatir pada Shina.

“Ak-aku gapapa.” Shina dengan muka yang memerah sambil terus menatap Anggela.

“Bila ada apa-apa tolong hubungi saya, sungguh saya sangat menyesal atas kejadian ini, jelas sang pengemudi sambil memberikan kartu namanya.

"Iya iya pak." Shina sambil menerima kartu nama tersebut dan langsung melihat kembali Anggela.

“Makas– Shina berniat berterima kasih tapi perkataannya langsung terpotong oleh Anggela.

“Maaf bukannya aku sok jadi pahlawan atau sok cari perhatian kamu. Aku tahu kamu membenciku, tapi aku enggak bisa diam aja ketika orang yang berada didepanku terancam bahaya. Lain kali jangan pernah melamun di jalanan yang cukup berbahaya seperti ini, jelas Anggela lalu berjalan menghampiri Hizkil yang sedang berlari.

“Gilaa!! Kamu benar-benar menggunakan Electr– Hizkil sambil melemparkan tas milik Anggela.

“Diamlah! Ayo pulang!! teriak kesal Anggela memejamkan mata.

Shina hanya bisa melihat Anggela dan Hizkil dari kejauhan. Saat itulah untuk pertama kalinya dia merasakan hatinya berdegup sangat kencang, wajah memerah dengan suhu tubuhnya yang naik secara signifikan. Sambil memasang muka sedikit sedih Shina bergumam pada hatinya sendiri. “Pe-perasaan menyesakkan apa ini?”

Warna langit sudah berubah menjadi oranye. Selama perjalanan pulang suasana cukup hening, tidak ada satu kata pun keluar dari Anggela maupun Hizkil, Hingga Hizkil mulai membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana, wajahnya masih terlihat khawatir.

“Wad-waduuh udah lama sekali aku gak liat kemampuan itu.”

“… Tak ada respon dari Anggela dan hanya terus berjalan.

“Ang-Anggela…?”

“Mau bagaimana lagi? Aku tidak mau kejadian satu tahun yang lalu itu terulang kembali.”

“Oh maksudmu tentang Sylvia itu?”

“Ya, jangan beritahu siapapun tentang masalah itu, termasuk kakakku Keisha, jelas Anggela sambil melirik Hizkil.

“Ya ya ya, tuan muda.” Hizkil sambil memejamkan matanya.

“Tapi kamu beruntung yah,” lanjutnya sambil berjalan mundur menghadap Anggela.

“Beruntung?”

“Heee? Jadi kamu gak peduli kalau kemampuanmu yang sebenarnya terbongkar?” Tanya Hizkil dengan muka yang cukup terkejut.

“Aduh sial!! Aku lupa masalah itu?? Siapa aja yang udah liat kejadian itu? Biar aku paksa tutup mulut!” Jelas Anggela dengan muka khawatir.

“Maka dari itulah aku bilang kamu lagi beruntung, untung saja tidak ada siswa yang melihat kejadian itu selain aku dan Shina.”

“Ohh begitu,” jelas Anggela lalu membuang nafas lega.

“Awas!– lanjut Anggela tapi perkataannya langsung terpotong oleh Hizkil.

“Awas? Tenang ajah aku gak bohong kok, beneran gak ada yang lihat kemam– Hizkil perkataannya terpotong karena kesakitan, kepalanya terbentur tiang.

DUANG!

“Awww, sakit!“ Hizkil sambil mengelus kepalanya sendiri.

“Kenapa kamu gak ngasih tahu aku sih?” Hizkil dengan nada sedikit kesal.

“Salah siapa memotong perkataan orang lain,“ jelas Anggela sambil memalingkan wajahnya.

“Salah kamu nih kalau kepalaku benjol!”

“Haah?! Kok aku yang disalahin?” Anggela menghentikan langkah kakinya.

“Iya, seharusnya kamu gantian dong jalan mundur seperti aku.” Hizkil ikut menghentikan langkahnya.

“Maaf aku bukan orang aneh.” Anggela sambil melanjutkan langkahnya.

"Ehh, jadi maksudmu itu aku termasuk orang aneh?” Hizkil sambil berjalan cepat mengejar Anggela.

“Mungkin…” senyum Anggela.

:Mungkin katamu…” Hizkil memasang wajah datar.

“Oh iya Hizkil, aku mau tanya sesuatu.” Anggela sambil terus melangkahkan kakinya.

“Iya apa?”

“Kenapa kamu mengikutiku?” tanya Anggela dengan nada sedikit kesal.

“Apa maksudmu? Jalan rumahku juga kesini–

“Jangan bohong!! Rumahmu berlainan arah dengan rumahku.” Anggela sambil menunjuk arah ke belakang.

“Benarkah?” jawab Hizkil polos.

“Jangan berlagak bodoh, cepat pulang sana!” Anggela sambil menunjuk kembali arah yang berlainan dengan tujuannya.

“Ya ya ahahaha, aku suka banget deh liat muka marahmu itu, lucu ahahaha.” Hizkil tertawa bahagia.

“….“ Anggela hanya melirik sinis Anggela.

“Ya su-sudah aku pulang dulu yah, bye.” Hizkil lalu menghilang karena menggunakan kemampuan teleport-nya.

Sedangkan Anggela akhirnya sampai di rumahnya, dia mulai membuka pintu dan melihat kakaknya berwajah sedih melihat dirinya.

“Ang-Anggela ada kabar buruk datang dari keluarga kita, jelas Keisha dengan muka sedih.

“Ka-kabar buruk?” tanya Anggela memasang muka cemas.

“Satu-satunya kakek kita telah meninggal kemarin sore, dia meninggal karena–

“Ohh si botak itu udah meninggal?” tanya Anggela dengan nada meremehkan.

“Anggela! Meski dia botak, dia masih tetap kakek angkatmu, jangan menghinanya seperti itu!” Jelas Keisha dengan nada sedikit kesal.

“Tapi bukankah kakak juga suka memanggilnya dengan si cerewet tingkat dewa? Bukankah itu juga menghi–

“Itu masa lalu! Itu waktu kakak masih kecil, sekarang udah enggak kok!” Keisha dengan muka yang memerah.

“Ya iya kak,” Anggela tersenyum. 

“Jadi dia kembali kesini yah?” lanjut Anggela bertanya sambil membuka sepatunya.

“Iya sepertinya begitu, sudah sebelas tahun aku tidak melihatnya, aku ingin segera melihat wajahnya sekarang.“ Keisha sambil melihat salah satu foto dalam rumahnya.

“Aku juga kak, aku juga penasaran seperti apa dia sekarang.” Anggela sambil berdiri dan melihat foto yang dilihat oleh Keisha.

“Aduh aku jadi inget betapa lucunya kalian berdua, kalian selalu saja berebut mainan.” Keisha tertawa.

“Benarkah? Aku tidak pernah mengingat hal itu, jelas Anggela langsung masuk dan mengambil segelas air dalam lemari es.

“Iya, tapi ujung-ujungnya kamu yang selalu menang, dan dialah yang selalu menangis sambil berlari kearahku.

“Aku ingat itu, dia memang sering menangis dan selalu saja dekat denganmu, ya kan Kak?” tanya Anggela.

“Iya, setiap dia menangis dia selalu berlari ke arahku dan memelukku, seakan-akan aku disuruh untuk menghiburnya,” senyum Keisha.

“Ahahahaha, masa lalu yang indah, jelas Anggela lalu meminum air yang dia ambil sebelumnya.

“Aku jadi ingin tahu, apa dia masih bersikap seperti itu yah Anggela?” tanya Keisha tersenyum bahagia.

“Mungkin saja, karena dia masih tetap adik kecil kita, senyum Anggela lalu berjalan pergi menaiki tangga dan memasuki kamarnya.

“Ya adik kecil kita, Anggelina.“ Keisha sambil menyentuh foto gadis manis berambut putih, gadis yang terlihat masih berumur lima tahun.

***

My Dearest Jilid 1 Chapter IV Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Damas Anang

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.