10 Juni 2015

My Dearest Jilid 1 Chapter III


MY DEAREST
JILID I CHAPTER III
MIMPI YANG SAMA

Bagian Pertama
Dengan baju kotor yang diselumuti oleh terigu, tepung, dan telur, Anggela berjalan pulang bersama sahabatnya, Hizkil.


Dari wajahnya tidak terlihat sama sekali penyesalan ataupun kekesalan atas apa yang telah terjadi padanya, ia terlihat menerima perlakuan yang tidak menyenangkan dari mantan kekasihnya tersebut.


“Anggela …,” panggil Hizkil, dia melirik Anggela yang berada disampingnya.


“…?” Anggela membalas lirikan sahabatnya.


“Bagaimana sekolahmu?”


“Bagaimana apanya? Tentu saja sama seperti yang kamu alami, bukankah kamu juga bersekolah di tempat yang sama denganku ….”


“Maksudku pelajaranmu di kelas, lingkunganmu, dan hubunganmu dengan teman-teman sekelasmu.”


“Jika tentang pelajaran, sampai saat ini aku tidak memiliki kendala atau masalah, aku bisa menahan diri saat tes kemampuan.”


“Lalu hubunganmu dengan teman-teman sekelasmu? Khususnya perempuan itu …” Hizkil mulai memasang wajah khawatir.


“Tanpa aku menjawabnya kamu sudah tahu kan bagaimana hubunganku.” Anggela memejamkan mata.


“Jadi kamu masih memainkan peran itu …,” senyum Hizkil sedih.


“….” Anggela mulai membuka mata, dia tersenyum melihat sahabatnya.


Anggela menghentikan langkahnya, dia telah sampai di rumahnya yang ditemani oleh Hizkil.


Krekkk!


Perlahan Anggela membuka pintu dan mulai berbicara kembali.


“Aku pulang Kak!”


Anggela mulai duduk sambil membuka sepatunya yang kotor. Sebelum dia sempat berdiri, terlihat Keisha yang sudah menghampiri dirinya.


“Eh sudah pulang? Cepat sekal–” Keisha terdiam, dia benar-benar terkejut melihat kondisi adiknya yang berantakan.


“Anggela! Apa yang terjadi!? Kenapa banyak terigu dan telur ditubuhmu!?” lanjut Keisha bertanya khawatir sambil membersihkan pakaian kotor adiknya.


Anggela mulai berdiri dan tersenyum melihat Kakaknya.


“Oh ini, temen aku mengira kalau hari ini adalah hari ulang tahunku, jadi begini deh.”


“Apa itu benar, Hizkil?” tanya Keisha melihat Hizkil, wajahnya terlihat curiga.


“I-iya Kak, itu benar …” Hizkil memalingkan wajahnya. 


“Hmmmm ….” Keisha semakin terlihat curiga melihat Anggela dan Hizkil.


“Pe-percayalah Kak, untuk apa kami berbohong ….”


“Ya terserahlah, tapi umur kalian ini sudah remaja. Kenapa masih bertingkah seperti anak kecil, hah?” kesal Keisha memejamkan mata.


“Ya Kak, maaf …,” jelas Anggela dan Hizkil bersamaan.


“Lagipula ini bukan salahnya Anggela kak, dia cuman–” lanjut Hizkil berusaha membela sahabatnya.


“Ya sudahlah, Hizkil silahkan masuk, dan kamu Anggela, cepat bersihkan badanmu.”


“Yaaa!” jawab serentak mereka berdua, jawaban patuh layaknya sang anak pada orang tuanya.


Hizkil berjalan memasuki kamar sahabatnya, Anggela. Ketika memasuki kamar Anggela, dia langsung melompat ke kasur Anggela dan mengambil sebuah novel ringan yang berserakan diatas kasur tersebut.


Sambil menunggu sahabatnya membersihkan badannya, dia mulai membaca novel ringan tersebut, novel ringan yang berjudul Annoying Childhood Friend, sebuah novel ringan yang terlihat lebih tebal dari novel ringan lainnya.


“Hey, ini kamarku. Jangan seenaknya seperti itu, kamu harus bersikap layaknya tamu, Hizkil,” jelas Anggela dengan nada sedikit kesal, dia baru saja memasuki ruangan pribadinya tersebut.


“Ayolah Nggel, kamu juga seperti ini kan di kamarku.”


"Benarkah?” tanya Anggela sambil memasang muka meremehkan.


“Ahahahaha, muka kamu lucu banget Anggela!” Hizkil sontak tertawa melihat wajah Anggela yang lucu.


“Siapa yang melucu?‼” teriak Anggela dengan nada kesal


“Ya ya sabar, ahahaha,” kata Hizkil sambil mencoba menghentikan tertawaannya.


“Ya sudah ada urusan apa kamu datang kesini?”  tanya Anggela sambil membereskan novel ringan yang berserakan diatas kasurnya.


“Urusan? Gak ada, aku gak punya,” jelas Hizkil lalu kembali membaca novel ringan.


“Haaah!?”


“Apa-apaan sih reaksimu itu? Aku kan–” 


“Cuman main?”


“Betul.” Hizkil mengedipkan salah satu matanya ke arah Anggela.


“Berhenti mengedipkan matamu seperti itu, kamu tidak sadar kalau itu menjijikan.” Anggela menyalakan real portable. Sebuah perangkat keras permainan di masa depan, grafik dan kualitas gambarnya benar-benar terlihat nyata.


“Bagaimana kalau kita main ini? aku baru beli kasetnya kemarin,” lanjut Anggela sambil menunjukkan cover game terbarunya. Game tentang Action, pertarungan yang melibatkan kedua player untuk saling berkelahi.


“Tekken XI? Keren, aku tidak tau kalau game legend itu sudah keluar!” Hizkil terlihat terkejut melihat kaset baru Anggela.


“Jadi apa kamu berani melawanku?” senyum Aggela sambil memasangkan chip kecil pada perangkat keras yang terlihat sangat tipis.


“Tentu saja, hukuman yang kalah adalah harus traktir yang menang besok,” jelas Hizkil lalu melempar novel ringan yang sebelumnya dibacanya.


“Woi jangan main lempar buku orang lain‼” teriak Anggela dengan nada sedikit kesal.


"Gimana bagus kan peraturannya?” tanya Hizkil sambil turun dari kasur.


“Gimana jidatmu.” Anggela mengambil buku yang dilempar oleh Hizkil.


“Tapi aku terima tantanganmu,” lanjut Anggela tersenyum bersemangat.


Seharian penuh mereka berdua bermain game tersebut, terus bermain dan melupakan kejadian menyedihkan yang terjadi pada hari ini.


Mereka terus bermain hingga tidak terasa waktu telah berlalu, mereka mulai berhenti bermain game tersebut saat Keisha berteriak.


“Anggela! Hizkil! Mau sampai kapan kalian bermain game??! Ini udah jam setengah 9 malam,” teriak Kakaknya Anggela dengan nada sedikit kesal.


“Waduh gawat,  aku harus cepat-cepat pulang nih,” jelas Hizkil dengan nada sok serius sambil terus memainkan gamenya.


“Bisakah aku memukulmu?” tanya Anggela dengan muka datar.


“Ahahaha lucu Anggela, mukamu, mukamu!!”


"Sudah aku bilang, siapa yang melucu hah?‼” tanya Anggela dengan nada kesal.


“Ya ya, ya sudah aku pulang dulu yah, ahaha,” pamit Hizkil sambil mencoba menghentikan tertawaannya, lalu dia pun berdiri, selang beberapa detik dalam sekejap dia pun menghilang tanpa bekas.


“Teleport kah?” senyum Anggela sambil mematikan real portablenya, lalu setelah itu dia berbaring tidur diatas kasurnya.


“Hoaam …” Anggela menguap dan tertidur.


***


Bagian Kedua
Dalam mimpinya, Anggela kembali bermimpi yang sama, mimpi berulang yang cukup sering ia alami.


Dia kembali berada di tempat yang dipenuhi oleh gurun pasir sangat luas, gurun pasir dengan suhu yang cukup tinggi.


Matahari masih saja terlihat terik dan panas membakar tubuh Anggela yang kebingungan,


“Lagi?” gumam Anggela sendiri dalam mimpinya, dia kembali mengamati sekitar, kembali memasang wajah kebingungan karena bermimpi aneh lagi.


Dia mulai berjalan mengitari gurun pasir tersebut dan mencari seorang gadis yang selalu dia temui dalam mimpinya tersebut.


“Kali ini aku harus berhasil menangkapnya.”


Dan benar saja, dia akhirnya melihat gadis tersebut, tanpa berkata apa-apa dia langsung berlari mengejar gadis tersebut. Tapi seperti biasanya gadis itu juga malah berlari menjauhi Anggela, sekuat apapun Anggela berlari jarak antara mereka berdua tidak pernah berubah.


Anggela hanya bisa melihat punggung gadis tersebut dengan rambut merah muda yang dikuncir dua, dia hanya bisa melihat gadis tersebut dari kejauhan.


“SIAPA KAU?!” teriak Anggela pada gadis itu, teriak kekesalan yang seakan dipermainkan oleh gadis tersebut.


Tapi tidak ada jawaban darinya. Dia hanya terus berlari menjauhi Anggela, terus berlari seolah takut akan keberadaan Anggela.


“Sial! Mungkinkah itu hanya halusinasiku saja?” Anggela menghentikan langkahnya, dia membungkuk mengambil napas karena kelelahan.


“Sudah cukup! Aku tidak akan mengejarmu lagi …,” lanjut Anggela sangat kesal, dia membalikkan badannya dan pergi menjauhi gadis tersebut, dia terlihat putus asa dan menyerah untuk mengejar gadis tersbut.


“Ini bukan halusinasimu.” Gadis tersebut mulai berbalik.


Secara perlahan gadis tersebut mulai berjalan mendekati Anggela sambil menundukkan kepalanya.


“Bo-bohong?! Dia berjalan ke arah–” 


Tapi, dengan terkejut Anggela terbangun karena mendengar teriakkan kakaknya, Keisha.


“ANGGELA!!”


“Haaah?!” teriak Anggela dengan nada sedikit kesal, dia terbangun kaget karena teriakan kesal dari kakaknya.


“Cepat mandi! Sebentar lagi jam delapan‼”


“Eehh!! Bohong, kenapa Kakak gak bangunin aku!!” Anggela langsung duduk di atas kasur sambil memegang kepalanya yang masih pusing.


“Kakak udah panggil kamu delapan belas kali, tapi kamu masih tidak bangun!” Keisha dengan nada sedikit kesal.


Anggela tidak menjawab omelan kakaknya tersebut, dia lebih memilih berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan badannya


“Sebelumnya udah kakak bilang kan, kalau kamu tidak boleh tidur diatas jam delapan malam, jadi gini kan akibatnya,” lanjut Keisha bergumam sendiri, gumaman kesal yang tidak didengarkan oleh sang adik. 


Setelah selesai mandi, Anggela lekas memakai seragamnya dan turun ke bawah untuk memakan sarapannya. Dia memakan sarapannya dengan wajah khawatir karena tekanan disekitarnya sedikit berat, sang Kakak melirik sinis Anggela yang terbangun kesiangan.


“Dengar yah Anggela–”


“Iya Kak maaf, aku gak bakal kesiangan kayak tadi–”


“Dengerin Kakak bicara dulu … sejak kapan kamu menjadi anak yang tidak sopan seperti ini?” kesal Keisha semakin menatap tajam Anggela.


“Ma-maaf …” Anggela memalingkan wajahnya yang sedikit cemberut.


“Kemampuan otakmu sudah diatas rata-rata, malah sangat jauh dari anak-anak seumuran denganmu. Lalu kenapa kamu masih ingin bersekolah?”


“Tapi Kak, bukan berarti kemampuan otakku yang bagus membuatku menjadi malas, setidaknya aku harus belajar tentang sejarah dan–”


“Itu yang Kakak maksud Anggela, kemampuanmu sudah jauh di atas yang lainnya. Kamu bisa sangat dengan mudah memahami suatu hal, bukan hal yang sulit kan bagimu untuk menguasai satu bahasa dalam beberapa jam? Hal itu juga sama seperti ilmu pengetahuan. Kamu tidak perlu bersekolah di HoK.”


“Aku juga ingin belajar tentang ilmu Kinesis, aku ingin kemampuanku berkem–” Anggela terlihat masih cemberut memalingkan wajah.


“Ini juga maksud Kakak, kamu pasti tahu jika HoK itu sebuah fasilitas pembelajaran yang diperuntukan untuk para Kineser pemula, untuk memperbaiki dan mengontrol kemampuan Kinesis para Kineser pemula. Sedangkan kamu? Kamu bukan seorang pemula, tingkatanmu jauh diatas mereka.”


“Sekarang siapa yang tidak sopan ….” Anggela terlihat kesal dalam hati karena perkataannya terus dipotong. Dia berdiri lalu berjalan membawa piring kotornya ke tempat cuci piring.


“Jika kamu ingin ilmu pengetahuan dan kemampuanmu berkembang, berhentilah bersekolah disana dan masuk Adjoin. Akan cukup mudah bagimu untuk masuk organisasi ini meski tidak mendapat bantuan relasi dariku.”


Anggela tidak merespon saran dari Kakaknya, dia berjalan ke arah pintu keluar lalu duduk dan berniat memakai sepatunya.


“Anggela, apa kau mendengarkan penjelasan Kakak?”


“Iya Kak, aku dengar. Tapi aku harus tetap bersekolah, ada beberapa hal yang ingin aku pastikan di sekitar lingkunganku, khususnya HoK.”


Keisha hanya bisa terdiam, wajahnya terlihat sedih karena gagal membujuk adiknya.


“Maaf Kak, aku hargai tawaranmu untuk mengundangku dalam organisasimu, tapi untuk sekarang aku tidak bisa.”


“Baiklah, tapi kamu harus berhati-hati dalam menggunakan kemampuanmu. Kamu adalah tanggung jawabku sebagai seorang Kakak dan Ketua Adjoin.”


“Tenang Kak, sudah lama sekali kok aku tidak menggunakan kemampuanku …,” senyum Anggela membuka pintu dan berjalan pergi menuju HoK.


“Aku berangkat Kak!” Anggela berlari menjauhi rumahnya.


Anggela terus berlari menuju sekolahnya layaknya siswa normal. Padahal jika dia menggunakan kemampuan kinesisnya, dia bisa saja sampai di sekolah dalam sekejap, tapi hal tersebut juga akan menimbulkan resiko bagi dirinya, yakni membuat identitas kemampuan Anggela terbongkar.


Akhirnya dia sampai di HoK. Dia berjalan cepat menuju kelasnya karena bel masuk sudah berbunyi beberapa menit yang lalu.


Entah suatu keburuntungan atau hanya kebetulan, ketika Anggela masuk ke kelas untungnya pengajar dalam kelas Anggela juga kesiangan.


Beberapa menit lalu saat Anggela dalam perjalanan ke HoK, dia sudah mempunyai firasat buruk tentang akibat dari kejadian kemarin, kejadian yang membuat harga dirinya terinjak-injak.


Saat dia membuka kelasnya, dia tau kalau hal ini akan terjadi padanya.


 “Banci! Kamu nembak Shina kemarin? Gak salah tuh,” teriak seseorang di kelas, dan semua di kelas pun ikut menertawakannya.


Berlanjut, dia tahu kalau permainan Shina ini akan berlanjut di HoK. Bukan hal aneh jika dia menjadi semakin terkenal, terkenal karena harga dirinya yang telah dihancurkan oleh orang yang ia kagumi.


“Gila aja! Berani banget kamu itu nembak gadis populer di sekolah. Emangnya kamu ini siapa??” jelas Sylvia salah satu teman sekelas Anggela, wajahnya terlihat sangat senang melihat Anggela yang terlecehkan.


Anggela bergegas langsung duduk dibangkunya. Anggela sudah siap mental untuk menghadapi hinaan dan cemoohan dari mereka semua.


“Hey kenapa kamu diem aja? Malu, kah? Aku baru tau kalau Pembunuh juga bisa malu!!” jelas Sylvia dengan nada kesal, wajahnya terlihat sangat membenci Anggela.


Setelah perkataan tadi, pengajar pun datang sambil berkata “Maaf maaf, bapak terlambat. Kita langsung saja mulai pelajarannya.”


Proses pembelajaran berlangsung seperti biasanya, dan tidak ada yang berubah. Sesekali Sylvia dan kelompoknya mengobrol sambil melihat Anggela, mereka seolah-olah sedang membicarakan Anggela.


Sedangkan Anggela hanya tiduran dibangkunya hingga istirahat pertama. Satu kali penjelasan dari guru sudah cukup membuat Anggela mengerti, dia benar-benar di tingkat berbeda.


Ketika bel istirahat berbunyi, seperti biasanya Hizkil datang ke kelas Anggela, dan seperti biasanya juga mereka pergi ke kafeteria untuk membeli makanan.


Saat di lorong menuju kafeteria, Hizkil lekas berbalik dan menghadap Anggela, dia berjalan mundur sambil melontarkan pertanyaan yang sedikit menusuk hati Anggela


“Anggela, ingat janji kamu, kan?”


“Iya aku ingat.” Anggela menutup matanya menahan kesal.


“Tapi aku gak nyangka yah, kalo permainan kamu memburuk seperti itu–” kalimat Hizkil terpotong oleh Anggela.


“Berisik! Pertandingan kita sengit, kamu hanya beruntung! ” jelas Anggela dengan nada kesal.


“Hah? Beruntung darimananya? Aku menang 28 kali dalam 30 pertandingan. Itu bukan hanya keburuntungan, itu skill, Anggela.”


“Berisik!” Anggela memalingkan wajahnya.


Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, seperti biasanya mereka berdua membeli makanan dan minuman yang menjadi kesukaannya, lalu setelah itu.


“Kita makan di situ yuk,” ajak Hizkil sambil melihat tempat duduk yang kosong di dalam kafeteria.


“Aku di atap!” Anggela berjalan pergi ke luar kafeteria.


“Ehh? Aku juga awalnya berpikiran seperti itu loh.” senyum Hizkil lalu berjalan mengikuti Anggela.


“Pembohong, bukannya kamu tadi bilang ingin makan di kafeteria,” jelas Anggela sambil terus berjalan.


“Itu aku keceplosan, te-hee!” Hizkil memasang muka menjengkelkan.


“Apa kamu benar-benar minta dipukul, hah!” geram kesal Anggela.


“Ahahahaha, sabar-sabar nggel, aku cuman bercanda.” Hizkil tertawa sambil melihat sahabatnya.


Saat mereka sedang berjalan menuju atap sekolah, Shina tanpa sengaja melihat mereka berdua, Wajahnya yang terkejut tersebut mulai berubah menjadi wajah penuh kecurigaan, dia pun mulai bergumam dalam hati sambil mengikuti mereka.


“Apa Anggela mau mengadu tentang kejadian yang kemarin?” 


Shina terus mengikuti mereka berdua dan berniat menguping pembicaraan mereka. Jadi saat Anggela berbicara macam-macam pada Hizkil tentang dirinya, dia bisa langsung tahu dan bisa memberi pelajaran pada Anggela.


***

My Dearest Jilid 1 Chapter III Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.