06 Juni 2015

My Dearest Jilid 1 Chapter II


MY DEAREST
JILID I CHAPTER II
PENGKHIANATAN

Terlihat Anggela dan Hizkil yang baru saja sampai di depan toilet HoK, toilet yang cukup mewah dengan dua pintu bercabang. Masing-masing pintu tersebut menuju ke toilet yang sesuai dengan jenis kelamin yang berbeda.


“Anggela, kamu masuk sini kan?” Hizkil tersenyum menggoda Anggela, jarinya menunjuk pintu berwarna merah muda yang diperuntukan untuk perempuan.


“Apa? Aku tidak bisa mendengarm–“ balas Anggela ketus sambil membuka pintu berwarna biru muda, tapi perkataan dan pergerakannya terhenti saat dia mendengar percakapan yang tidak jauh dari mereka.


Percakapan itu berasal dari dua orang yang berada di lorong toilet perempuan.


“Shina, kamu beneran jadian sama si kakek banci itu?!” tanya seorang gadis, gadis tersebut kemungkinan besar teman dekat Shina.


“iya hahahaha,” jawab Shina tertawa.


Dengan memasang wajah yang cukup terkejut, teman dekat Shina kembali mengajukan rentetan pertanyaan.


“Heeee!? Ka-kamu beneran suka sama dia? Gak salah? Kok mau sih sama dia? Bukannya kamu suka sama kak Hizkil?”


“Iya aku emang beneran suka sama kak Hizkil.” Shina tersenyum, nada bicaranya terlihat ringan seolah tidak memikirkan perasaan orang yang baru saja mengungkapkan cinta padanya.


Bukan hal yang aneh jika pernyataan Shina tersebut membuat Anggela maupun Hizkil terkejut. Anggela tidak menyangka kalau gadis yang disukainya itu ternyata malah menyukai sahabatnya sendiri.


Di sisi lain, Hizkil hanya bisa diam sambil menatap Anggela, wajahnya terlihat sangat bersalah dan menyesal meski kejadian ini bukan merupakan kesalahannya.


Sungguh disayangkan cinta pertama Anggela berubah menjadi seperti ini, menjadi cinta segitiga yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Namun, penderitaan Anggela tidak cukup sampai di sini. Kenyataannya, percakapan itu masih berlanjut dan mau tidak mau, Anggela harus mendengarkannya. Dipejamkannya kedua matanya. Kedua tangannya, mengepal erat menahan amarah.


“Lalu kenapa!? Kenapa kamu malah jadian sama kakek banci itu?! Aku benar-benar tidak mengerti jalan pemikiranmu,”  tanya teman dekat Shina lagi, kali ini nadanya terdengar meninggi seolah kesal dan kecewa pada sahabatnya tersebut.


“Sabar Eliza, makanya dengerin dulu alasan aku mau sama dia, jawab Shina ringan, kedua bibirnya masih menyunggingkan sebuah senyuman.


“Ya udah, jadi apa alasannya?!”


Denger yah, aku jadian sama dia cuman iseng-iseng doang. Aku cukup kesal karena Kak Hizkil masih belum menghubungi aku. Aku hanya berniat mainin Kakek Banci itu, siapa tau aja rasa kesal aku bisa hilang karena mungkin kakek banci itu bakalan jadi hiburan yang menarik buat aku, hahahahahaha!” jawab Shina sambil tertawa senang, senang seolah ia tidak sabar untuk mempermainkan kekasih barunya itu.


Dengan wajah yang cukup terkejut dan kebingungan, teman Shina kembali bertanya, “ma-maksudnya?”


“Gini yah, aku kan ngajak dia besok buat date dan rencananya kita ketemuan di depan sekolah ini. Nah entar kamu kasih tau semua temen di kelas kita buat datang besok ke tempat pertemuan aku sama si kakek banci itu,” Shina tersenyum sambil sambil menjelaskan rencananya.


“Heeeee!? Em-emangnya kamu mau apain dia?” 


“Rencananya aku mau langsung putusin dia di depan semua temen-temen kelas, aku pengen banget liat ekspresi wajahnya, pasti lucu deh ahahahahaha,” jawab Shina kembali tertawa bahagia.


Setelah mendengar percakapan itu, hati Anggela semakin hancur dan ia merasa bahwa harga dirinya telah diinjak-injak. Menahan amarah dan kekecewaannya, Anggela semakin mengepalkan kedua tangan.


Sedangkan Hizkil sang sahabat terlihat menundukan kepala, bukan wajah penyesalan lagi yang ia tunjukkan, melainkan wajah kemarahan yang belum pernah ia perlihatkan pada siapapun. Dia merasa tidak terima karena Shina hanya berniat mempermainkan perasaan sahabatnya.


Hizkil pun berencana melabraknya saat ini juga. Dia mulai berjalan ke arah toilet wanita, berniat memberi pelajaran pada Shina tanpa memperdulikan tempat. Tatapannya terlihat tajam layaknya seseorang yang sedang murka.


Tapi langkahnya langsung terhenti saat dia melihat ke belakang, melihat pada sahabatnya yang menghentikan langkahnya.


“Mau kemana kamu, Hizkil?” tanya Anggela dengan nada yang ditekankan. Kepalanya masih tertunduk dalam.


“Bukankah sudah jelas!? Aku akan memberinya pelaja–“


“Kamu pikir aku akan membiarkan hal itu? Lihat sekitarmu, jernihkan kepalamu dulu. Akan memalukan jika kamu bertindak menuruti emosi saja.”


“Kau gila Anggela? Siapapun akan marah jika sahabatnya diperlakukan seperti it–“


“Ini urusanku, bukan urusanmu…” Anggela tersenyum sambil membuka kedua mata yang sedari tadi ia pejamkan. Tangannya masih mengepal di kedua sisi tubuhnya.


“Ini urusanku juga, Anggela! Kamu teman masa kecilku, sahabatku! Kamu sudah kuanggap seperti adikku sendiri.” Hizkil terlihat sedih saat membalikkan badannya.


“Memang benar aku adalah sahabatmu dan adik tingkatmu dalam sekolah ini. Kuakui kamu lebih tua dariku dan aku harus menghormati keinginanmu yang berusaha membelaku. Tapi bagaimana jika begini…”


“….?”


“Saat ini aku berbicara padamu sebagai seorang Kineser, apa kamu masih ingin mencampuri urusanku, Hizkil Anugerah..?”


“…”


“Kamulah satu-satunya di sekolah ini yang mengetahui kemampuanku, seharusnya kamu mengerti apa maksudku barusan. Jangan ikut campur atau aku akan membunuhmu…” Anggela kembali memejamkan mata, nadanya suaranya terdengar serius.


“Anggela…” Hizkil terlihat khawatir, tapi wajahnya masih memperlihatkan rasa kesal karena percakapan Shina dan temannya.


“Jika kamu melakukannya tadi, coba pikirkan apa yang terjadi dengan nama baikmu? Kamu akan dibenci karena melabrak seorang gadis di toilet perempuan..”


“Tapi aku melakukan itu demi ka–“


“Demi aku? Jangan bercanda, justru sebaliknya yang akan terjadi. Aku akan semakin dipanggil banci karena meminta bantuan pada Kakak kelas populer sepertimu.”


“Lalu apa rencanamu?!”


“Tenanglah, aku memiliki sebuah rencana yang bagus..” senyum Anggela.


“Oh iya! Kenapa aku tidak terpikirkan, kamu hanya tidak perlu datang saja ke tempat pertemuan itu!”


“Bukan ide yang buruk, tapi sayangnya aku akan tetap datang ke tempat pertemuan itu. “


HAH!? Apa maksdmu!? Kamu pasti tau kan jika kamu datang ke tempat itu artinya apa!? Kamu bakalan jadi bahan tertawaan buat mereka, harga diri kamu bakal di injak-injak sama mereka.


“Ada suatu hal yang ingin aku pastikan, tolong anggap saja kalau kamu tidak mendengar apa-apa sejak tadi. Dan tolong jangan campuri urusanku ini,” senyum Anggela sambil berjalan pergi memasuki toilet pria.


Mendengar perkataan sahabatnya, Hizkil tediam di depan pintu toilet. Wajahnya masih menunjukkan rasa kesal.


Bersamaan dengan masuknya Anggela ke dalam toilet, tiba-tiba muncul Shina dan temannya yang berjalan keluar dari toilet wanita, mereka terlihat tertawa bahagia tanpa memperdulikan sekitar.


“Waah ide bagus tuh, pasti bakalah lucu deh wajahnya hahahahaha….” Eliza terlihat tertawa sambil memejamkan mata.


“Iya kan–“ perkataan Shina langsung terhenti saat dia melihat Hizkil yang berada di depannya. Ekspresinya terlihat terkejut, sama seperti Eliza, sahabatnya.


“Ka-Kak Hizkil?!” tanya Shina terkejut.


“Iyalah, memangnya siapa lagi?!” jawab Hizkil sambil menahan emosinya.


“Ka-Kakak sejak kapan disini??” tanya Eliza yang terlihat khawatir.


“Tenang, aku baru aja sampai disini kok…” jelas Hizkil sedikit kesal sambil berjalan pergi menjauhi toilet.


“……” Shina dan Eliza hanya terdiam kebingungan dengan sikap Hizkil.


Tidak terasa bel pulang telah berbunyi, waktu terasa cepat berlalu bagi semua orang. Tapi hal itu tidak berlaku bagi Anggela, baginya waktu seakan berhenti, hanya sakit hati, sakit dikhianti oleh orang yang ia kagumi dan cintai.


Waktu seakan membeku baginya. Sepanjang perjalanan pulang bersama sahabatnya, dia hanya terdiam seribu bahasa.


Hizkil sahabatnya pun hanya ikut terdiam, wajahnya terlihat cemas bercampur marah.


Krekkk….


Sesampainya di depan rumahnya, Anggela langsung membuka pintu. Dengan pelan, ia berjalan masuk sambil menundukkan wajahnya. Kemudian, sebelum ia kembali menutup pintu, Hizkil berbicara padanya.


“Apapun rencanamu, aku akan mendukungmu, Anggela. Dia, tidak…. Maksudku mereka semua tidak tau betapa baiknya dirimu….”


“Ya, terima kasih…” Anggela tersenyum mendengar perkataan sahabatnya. Namun, ia masih memejamkan matanya saat menutup pintu.


Breb….


Saat pintu tersebut tertutup, Hizkil menghilang seketika menggunakan kemampuan berpindah tempat yang dimilikinya.


“Anggela, kamu sudah pulang?” tanya Keisha tersenyum, rambutnya terikat kebelakang, membuat dirinya terlihat semakin cantik dan dewasa.. Gadis berusia 20 tahun itu mengenakan sebuah apron yang membuatnya benar-benar terlihat seperti ibu rumah tangga.


“Iya Kak, aku pulang…” jawab Anggela. Ia tersenyum kecil melihat Kakaknya.


Melihat ekspresi yang ditunjukkan adiknya, wajah Keisha berubah menjadi sedih dan khawatir. Dia berjalan selangkah menghampiri adiknya yang sedang melepas sepatu.


“Apa yang terjadi…?”


“Tidak ada apa-apa Kak….” Anggela memejamkan matanya beberapa detik.


Keisha hanya terdiam bingung, dia tahu kalau sesuatu telah terjadi pada adiknya. Tapi dia hanya berjalan mundur menjauh seolah tidak ingin mencampuri masalah pribadi adiknya.


“Begitu…” kata Keisha sedih.


Anggela mulai berjalan menaiki tangga untuk pergi memasuki kamarnya. Tapi langkahnya terhenti saat dia mendengar Keisha berbicara padanya.


“Ikuti kata hatimu. Kakak percaya kalau kamu dapat menyelesaikan masalah yang datang padamu. Apapun pilihanmu, kami berdua…. Kakak dan dia pasti akan mendukungmu.”


“Terima kasih Kak…” Anggela tersenyum, nampak bahagia dengan perkataan kakaknya itu meski Keisha berbicara sambil membelakanginya.


“Tapi jika kamu masih di jalan yang benar, yah..” Keisha membalikkan badannya seraya tersenyum melihat Anggela. Sebuah senyuman menawan yang bahkan mampu membuat adiknya merona.


Setelah itu, Anggela lekas berjalan cepat menuju kamarnya. Wajahnya terlihat lebih baik setelah dia mendapatkan hiburan singkat dari Kakak perempuannya. Satu-satunya yang bisa dia lakukan saat itu adalah berpikir positif tentang Shina, berpikir kalau Shina memiliki alasan lain untuk melakukan hal tersebut padanya.


Anggela mulai mengganti pakaian, lalu membaringkan tubuhnya pada kasur berwarna putih yang terlihat empuk. Dia mengamati handphonenya dan melihat sebuah pesan yang sudah ia duga akan datang, sebuah pesan dari kekasihnya.


+++

Shina         : Sayang, jangan telat besok yah :)
Anggela     : Ya, aku gak bakalan telat kok, tenang ajah :)

+++


Ya, Anggela membalas pesan tersebut seakan-akan masih belum mengetahui rencana Shina.


***


Bagian Kedua:


Esok harinya, hari minggu yang menjadi hari perjanjian pun datang. Anggela bangun lebih awal seperti saat dia ingin mengungkapkan perasaannya pada Shina. Wajahnya terlihat tidak sabar ingin menemui gadis yang akan mempermalukannya nanti.


Entah dia terlalu bodoh atau memiliki suatu rencana lain, wajah Anggela terlihat segar seolah sedang berusaha menikmati harinya.


Sang kakak hanya tersenyum sedih. Dia sadar kalau adiknya hanya mencoba menyembunyikan kesedihannya. Dia tahu jika Anggela bersikap berlebihan seperti itu, adiknya pasti sedang menyembunyikan kesedihan yang cukup dalam.


“Anggela? Tumben kamu keluar rumah di hari minggu, mau kemana?” tanya Keisha sambil tersenyum kecil.


“Oh ini kak, mau main sama teman!”


“Sama Hizkil?”


“Bukan, sama teman yang seumuran denganku.”


“Waah tidak disangka kamu akhirnya punya teman, benar-benar suatu keajaiban bagi orang pendiam sepertimu mempunyai teman…” Keisha tersenyum menggoda adiknya.


“….”


Hening. Anggela hanya melihat kakaknya dengan tatapan datar.


“Hahahahaaha, maaf maaf. Jadi temanmu itu perempuan atau laki-laki?”


“Pe-perempuan kak,” jawab Anggela dengan wajah memerah.


“………..” Keisha terdiam cukup lama, wajahnya terlihat terkejut dan sedih melihat Anggela.


“Kak?”


“Ma-maaf-maaf! Syukurlah kamu sudah lebih baik sekarang,” Keisha berjalan mundur dengan nada gugup.


“Lebih baik? Apa maksud Kak–


“Sudah-sudah, kamu cepat berangkat sana! Kamu jangan sampai membuat seorang gadis menunggu!” Keisha mendorong paksa punggung Anggela menuju pintu keluar.


Kini Anggela berada di luar pintu, merasa heran melihat sikap kakaknya. Tapi dia tidak punya banyak waktu dan mulai berjalan cepat untuk pergi menuju tempat ia bertemu dengan kekasihnya.


Sedangkan di dalam rumah, terlihat Keisha yang masih berada di dekat pintu. Dia bersandar pada pintu sambil menundukkan kepalanya.


Tes..


Terlihat butiran air mata yang menetes jatuh ke lantai. Dalam suasana yang hening tersebut, terlihat Keisha yang menangis pelan seraya bergumam lirih. “Maaf, maafkan kakakmu ini, Anggela. Tapi mau bagaimana lagi, Kakak melakukan semua ini demi dirimu.”


Berbanding terbalik dengan wajah Keisha yang sedih, wajah Anggela terlihat baik-baik saja. Dia seperti sudah siap mendapatkan perlakuan yang kurang mengenakkan dari kekasihnya.


Anggela berjalan pelan menuju ke tempat pertemuan itu. Jauh dibelakangnya, terlihat Hizkil yang menunjukkan wajah khawatir saat melihat sahabatnya.


Angin bertiup cukup kencang saat itu, seolah-olah sedang mencoba menghalangi Anggela untuk tidak melakangkah lebih jauh lagi.


Tapi untuk suatu alasan yang dia percayai, dia tetap terus berjalan dan melangkah ke tempat pertemuan itu.


Dari kejauhan, Anggela memandang halaman depan HoK sudah mulai terlihat. Di sana, ada cukup banyak orang yang berkumpul. Kini dia yakin kalau percakapan Shina saat itu tidaklah main-main, Shina benar-benar berencana mempermalukan dirinya.


Anggela hanya tersenyum sambil memejamkan mata dan mulai berjalan menghampiri halaman HoK tersebut. Beberapa teman kelas Shina yang telah melihatnya berjalan ke arah mereka, mulai berbisik satu sama lain. Ada yang tertawa melirik Anggela, namun ada juga yang terlihat kesal padanya.


Dia terus berjalan santai menghampiri Shina sambil memasang wajah yang seolah-olah tidak tahu rencana kekasihnya.


Ketika Anggela sampai di depan Shina, ia berpura-pura menanyakan sesuatu. “Kenapa banyak orang yah? Emang ada acara apaan sekarang?”


“Enggak ada acara apa-apa kok, mereka semua teman aku.”


“Ohh gitu,” Anggela tersenyum melihat teman-teman Shina, tapi mereka semua hanya terdiam mengacuhkan Anggela.


Jauh dari tempat pertemuan itu, terlihat Hizkil yang hanya bisa melihat dengan tatapan kesal. Hatinya benar-benar sakit melihat sahabat sekaligus seseorang yang sudah dianggapnya sebagai adik diperlakukan seperti itu.


“Oh ya Anggela, sebelum kita date aku mau ngomong sesuatu sama kamu….”


“Apa…..?” Anggela tersenyum sambil memejamkan mata.


“Sebenarnya aku gak suka sama kamu, jadi kita putus yah,” Shina tersenyum memejamkan mata. Nada bicaranya terdengar sangat ringan seolah Anggela benar-benar tidak berarti apa-apa baginya.


“Loh kenapa!? Apa aku udah berbuat salah sama kamu!?” tanya Anggela khawatir, cemas dan kecewa. Dia berpura-pura bodoh seolah belum mengetahui rencana Shina.


“Iyaa! Pertama, kamu sms aku. Emang siapa kamu berani sms aku? Kedua, kamu ngajak aku ketemuan buat urusan yang gak penting, dan yang ketiga adalah kamu nembak aku, gak salah tuh?! Ngaca dulu dong siapa kamu ini! Ahahahaha,” jawab Shina yang diakhiri dengan sebuah tawa mengejek.


Tentu saja, dengan spontan semua teman Shina ikut tertawa melihat Anggela yang sedang dipermalukan.


“Aku gak nyangka ya kamu berani nembak Shina, pikir dulu dong siapa cewek yang kamu tembak! Pantes enggak sama sampah kayak kamu!? Dia itu kaya, cantik, populer, dan dari keluarga ternama. Sedangkan kamu? Jangan main nembak aja!” jelas salah satu teman lelaki Shina sambil merangkul pundak Anggela.


Entah untuk suatu alasan atau memang bodoh, Anggela hanya berpura-pura tertunduk malu.


Selang beberapa saat setelah itu, mereka mulai melempari Anggela dengan telur, tepung dan air yang sudah disiapkan sebelumnya. Ya, Anggela benar-benar dipermalukan saat itu, harga dirinya benar-benar diinjak-injak oleh seseorang yang ia kagumi.


Di tempat yang jauh dari Anggela dan yang lainnya, terlihat Hizkil yang menatap tajam tempat tersebut. Dia mengepalkan kedua tangan, tanda bahwa amarahnya benar-benar sudah berada di puncak. Tatapan membunuh yang bagaikan seekor predator siap memangsa mangsanya.


Jika bukan karena gertakan Anggela, jika bukan permintaan dari Anggela untuk tidak ikut campur, saat ini Hizkil mungkin sudah melabrak kelompok tersebut dan tidak lagi mempedulikan nama baiknya atau yang lainnya.


“Maaf yah, kita ini enggak sebanding jadi tolong berhenti mengejarku. Dan tolong juga kamu jangan nangis terus bilang sama orang tuamu karena udah diginiin sama aku…” jelas Shina tersenyum lalu pergi meninggalkan Anggela sendirian.


Setelah cukup lama mereka pergi, Anggela mulai mengangkat kepalanya, bukan wajah sakit hati atau putus asa yang terlihat. Dia hanya tersenyum seakan sudah tau kalau hal ini pasti terjadi padanya.


Dia membalikkan badannya dan berniat pulang, tapi tiba-tiba dihadapanya sudah terlihat Hizkil. Wajahnya terlihat sangat sedih melihat kondisi Anggela yang sudah dipermalukan.


“Parah mereka, sampai segininya nginjek-nginjek harga diri kamu,” kata Hizkil sambil membantu membersihkan baju kotor Anggela.


“Udah gak masalah, aku anggap ini sebagai acara ulang tahunku aja,” jawab Anggela sambil tersenyum.


“…..” Hizkil hanya terdiam mendengar perkataan Anggela barusan, wajahnya terlihat semakin sedih.


“Kenapa?”


“Enggak, aku  hanya kagum sama kamu. Dari dulu sifat kamu belum berubah, kamu selalu memandang positif suatu permasalahan. Coba deh kamu lebih serius menggunakan kemampuanmu di sekolah, biar kamu gak diinjek-injek kayak gini,” jelas Hizkil.


“Hebat apanya, ahahaha.” Anggela tertawa bahagia, dia berjalan melewati Hizkil dan berniat pulang ke rumahnya.


“…..” Hizkil hanya tersenyum melihat Anggela yang berjalan melewati dirinya.


“Tapi sepertinya mulai besok aku bakalan lebih sering menggunakan kemampuanku di HoK..” lanjut Anggela melirik Hizkil


“Wa-waah serius!?” sahut Hizkil dengan wajah terkejut, dia berjalan cepat menghampiri Anggela.


“Tapi bohong… ahahahaha,” jelas Anggela diikuti oleh tertawaan bahagianya.


“Ah sialan kamu,” Hizkil tersenyum melirik Anggela.


***

My Dearest Jilid 1 Chapter II Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.