16 Juni 2015

Mushoku Tensei Jilid 1 Bab 1

BAB 1
Bagian 1
Saat aku bangun, hal pertama yang kurasakan adalah mataku terasa silau.
Cahaya memenuhi pandanganku, dan aku menyipitkan mataku karena ketidaknyamanan ini.
Setelah mataku terbiasa dengan kecerahan ini, aku melihat seorang wanita muda berambut pirang menatapku.
Seorang gadis cantik...... Tidak, seorang wanita cantik lebih tepatnya.
(Siapa dia?)
Disampingnya ada seorang pria berambut coklat seumuran dengannya, memberikan senyuman kaku padaku.
Pria yang kelihatan angkuh dan kuat. Otot-ototnya sangat menakjubkan.
Rambut coklat, bertampang angkuh. Melihat penampilan berandalannya, aku seharusnya merasa ingin menjauh. Tapi anehnya, aku tidak merasa tidak nyaman.
Rambutnya berwarna coklat indah, mungkin bukan karena diwarnai, ku pikir.
"-----XX-----XXXX"
Senyuman sang wanita pecah saat melihatku, dan mengatakan sesuatu.
Apa yang dia katakan? Merasa pusing, aku tidak bisa mendengar dengan jelas, dan aku tidak mengerti sama sekali.
Mungkinkah itu bukan bahasa jepang?
"------XXXXX----XXX," si pria menjawab dengan ekspresi lembut. Ayolah, apa yang dia katakan ? Aku tidak mengerti sama sekali.
"------XX-----XXX"
Suara orang ketiga datang dari suatu tempat.
Aku tidak bisa melihat mereka.
Aku mencoba duduk dan bertanya, "Dimana ini, dan siapa kalian?"
Meskipun aku seorang hikikomori, aku masih belum gagal total dalam berkomunikasi.
Aku masih bisa melakukan hal seperti ini.

"Ah, Ah------"

Tapi aku tidak tahu apakah yang keluar dari bibirku sebuah erangan atau tarikan nafas.
Tubuhku tak bisa bergerak.
Aku merasakan sensasi di jari-jari dan pergelangan tanganku, tapi aku tidak bisa menggunakan tubuh bagian atasku.
"XXX--XXXXX"
Pada akhirnya, si pria mengangkatku.
Ini lelucon bukan? Beratku lebih dari 100kg, dan dia mengangkatku dengan muda....
Tidak, mungkin aku sudah koma selama puluhan hari dan itu menyebabkan berat badanku turun.
Itu adalah sebuah insiden besar. Ada kemungkinan aku kehilangan lengan atau kaki.
(Takdir yang lebih buruk dari kematian, hah......)
Pada hari itu.
Itulah yang kupikirkan.

Bagian 2
Sebulan telah berlalu.
Sepertinya aku sudah berreinkarnasi. Akhirnya aku menyadarinya.
Aku sudah menjadi sorang bayi.
Aku memastikannya saat aku sedang digendong dengan kepalaku diangkat dan tubuhku terlihat dalam pandangan.
Aku tidak tahu kenapa aku masih memiliki ingatan masa laluku, tapi tidak ada ruginya dengan memilikinya.
Memiliki ingatan meski telah reinkarnasi-----semua orang pasti pernah menghayalkannya meski hanya sekali.
Tapi aku tidak menyangka khayalan itu akan menjadi kenyataan.....
Pasangan yang pertama kali kulihat saat membuka mata sepertinya adalah orang tuaku.
Usia mereka kemungkinan di pertengahan awal 20 tahun.
Jelas sekali, mereka lebih muda dari kehidupanku yang lalu.
Dari sudut pandang orang berumur 34 tahun, mereka masih pantas disebut muda.
Melihat mereka yang sudah mempunyai anak diusia itu membuatku iri.
Aku sudah menyadarinya dari awal, tapi ini sepertinya bukan di Jepang.
Bahasanya berbeda, wajah orang tuaku tidak seperti orang Jepang, dan pakaian mereka sepertinya dari pedesaan.
Aku tidak melihat apapun yang mirip dengan alat elektronik (orang yang mengenakan celemek pelayan sedang membersihkan dengan kain), dan alat makan, mangkuk, dan furnitur terbuat dari kayu kasar. Kemungkinan ini adalah negara berkembang yang belum maju.
Sumber cahaya berasal dari lilin dan lampu, dan bukan dari bohlam.
Tentu, ada kemungkinan mereka sangat miskin sampai tidak bisa membayar tagihan listrik.
.....Mungkin kemungkinan itu sangat besar?
Kupikir mereka mempunyai uang, karena disana ada orang yang berpakaian seperti pelayan.
Tapi itu tidaklah aneh jika dia adalah saudara perempuan dari salah satu orang tuaku. Itu akan menjadi hal yang wajar jika dia melakukan bersih-bersih.
Aku memang ingin memulai dari awal, tapi tinggal di sebuah keluarga yang tidak bisa membayar tagihan membuatku sangat gelisah.

Bagian 3
Setengah tahun berlalu.

Setelah mendengarkan percakapan kedua orang tuaku selama setengah tahun, membuatku mulai mengerti sesuatu sedikit demi sedikit.
Nilai bahasa inggris ku tidak bisa dibilang bagus, tapi sepertinya benar kalau mempelajarinya bisa melambat jika sangat dipengaruhi oleh bahasa asli. Atau mungkin pikiran tubuh ini sangat bagus? Mungkin ini karena usiaku yang muda, jadi aku bisa mengingat dengan cepat.
Dan saat ini, aku sudah bisa merangkak.
Mampu bergerak adalah hal yang menakjubkan.
Aku tak pernah merasa sangat bersyukur seperti ini karena bisa bergerak.
"Dalam sekejap ia akan lari ke suatu tempat saat aku mengalihkan pandangan darinya."
"Bukankah bagus kalau ia aktif? Aku sangat khawatir karena dia tidak menangis saat dilahirkan."
"Bahkan sekarang, dia tidak menangis."
Orang tuaku membicarakan hal ini saat mereka melihatku merangkak kesana-kesini.
Lagipula aku sudah bukan diusia dimana aku akan menangis kencang saat lapar.
Tapi meski sudah kucoba untuk menahannya, sesuatu yang keluar dari bawah tetap keluar, jadi aku membiarkannya apa adanya.

Meskipun aku hanya bisa merangkak, tapi setelah merangkak, aku mengerti banyak hal.
Pertama, keluarga ini lumayan kaya.
Bangunan ini adalah rumah kayu berlantai dua, dan ada lebih dari lima kamar. Mereka mempekerjakan seorang pelayan.
Awalnya kukira si pelayan adalah bibiku atau semacamnya, tapi dari sikap hormatnya kepada orang tuaku menunjukan kalau dia bukan kerabatku.
Tempat ini berada di sebuah desa.
Dari pemandangan yang kulihat melalui jendela, aku melihat pemandangan pertanian yang menenangkan.
Rumah lainnya tersebar di sekitar, dan di salah satu sisi ladang gandum aku melihat dua, tiga keluarga.
Desa ini cukup terpencil. Aku tidak melihat satupun kabel listrik, lampu, atau semacamnya. Mungkin tidak ada generator di sekitar sini.
Kudengar negara asing menempatkan kabelnya di bawah tanah, tapi jika benar begitu, aneh sekali jika rumah ini tidak memiliki listrik.
Tempat ini sangat terpencil. Ini sangat menyakitkan bagi orang yang pernah merasakan dorongan peradaban.
Bahkan jika ini adalah reinkarnasi, aku masih ingin punya komputer pribadi.

Cara berpikirku itu berakhir saat sore hari.
Karena tak ada yang bisa dilakukan, aku naik ke atas kursi seperti biasa, untuk mengagumi pemandangan yang luas. Saat melihat ke luar jendela, aku terkejut.
Ayahku sedang mengayunkan pedang di halaman.
(Ap-, hah? Apa yang dia lakukan?)
Ayahku masih mengayunkan benda itu diusianya sekarang? Chuunibyou?
(Ah, sial....)
Karena terkejut, aku jatuh dari kursi.
Tanganku yang masih berkembang meraih kursinya, tapi itu tidak mampu untuk menahan tubuhku dan bagian belakang kepalaku menyentuh tanah terlebih dulu.
"Kyaa!"
Aku mendengar teriakan saat kepalaku menyentuh lantai.
Ibuku melihatku dan menjatuhkan cucian bersihnya, tangannya menutupi mulutnya, melihatku dengan wajah yang sangat pucat.
"Rudi! Kau tidak apa-apa!?"
Ibuku berlari ke arahku dengan panik dan menggendongku.
Dia melihat mataku dan meletakkan tangannya ke dada, tampak lega
".....Huuh, kelihatannya kau tak apa."
(Nyonya, sebaiknya jangan menggerakan seseorang yang kepalanya baru saja terbentur,) aku mengingatkannya dalam hati.
Dilihat dari sikap cemasnya, sepertinya aku telah terjatuh dalam posisi yang berbahaya.
Sepertinya benturan di kepalaku bisa membuatku menjadi idiot. Walaupun hasilnya sama saja.
Rasa sakit ini berdenyut di bagian belakang kepalaku. Setidaknya dengan berpegangan ke kursi bisa mengurangi ketinggiannya.
Dari reaksi ibuku yang sudah tak terlalu panik sepertinya aku tak berdarah. Kemungkinan hanya benjol saja.
Ibuku melihat kepalaku dengan seksama.
Ekspresinya berkata, jika ada luka itu akan menjadi serius.
Kemudian, dia meletakan tangannya di kepalaku,
"Untuk jaga-jaga....... Biarkan kekuatan tuhan berubah menjadi hasil panen yang berlimpah, dan anugrahkanlah kepada mereka yang telah kehilangan kekuatan untuk berdiri lagi, HEALING"
Aku hampir berteriak, "Woi, woi, apakah ini [Sakit, sakit, pergilah] versi negara ini?"
Ataukah mungkin, sama seperti ayahku yang mengayunkan pedang, ibuku juga seorang chuunibyou?
Pernikahan antara seorang prajurit dan penyembuh?
Saat aku berpikir begitu.
Tangan ibuku memancarkan cahaya redup, dan, dalam sekejap, rasa sakitku hilang.
(...... Eh?)
"Lihat, sekarang sudah tak apa. Lagipula, ibumu adalah seorang petualang terkenal." ibuku berkata dengan nada sombong.
Aku langsung terjun ke dalam kebingungan.
Pedang, prajurit, petualang, penyembuhan, mantra, penyembuh. Semua istilah ini bergema di kepalaku.
Apa itu barusan? Apa yang baru saja dia lakukan?
"Ada apa?"
Ayahku melihat ke dalam jendela dari luar saat ia mendengar teriakan ibuku.
Tubuhnya dipenuhi keringat karena dia baru saja mengayunkan pedangnya.
"Dengarlah, sayang. Rudi benar-benar naik ke atas kursi.....dan hampir mendapat luka serius."
"Sudah sudah, justur tidak bagus jika anak laki-laki tidak aktif."
Seorang ibu yang agak khawatiran, dan seorang ayah yang tak terlalu mempermasalahkan itu dan menenangkan sang ibu.
Ini adalah kejadian yang biasa.
Tapi, ibuku tak menjauh, munkin karena bagian belakang kepalaku menyentuh tanah lebih dulu.
"Tunggu dulu sayang. Anak ini bahkan belum setahun. Bisakah kau lebih khawatir sedikit!"
"Justru itu, seorang anak akan tumbuh lebih kuat setelah jatuh bangun. Karena itu dia akan menjadi lebih sehat. Lagipula, jika dia terluka, kau pasti bisa mengobatinya?"
"Tapi aku sangat khawatir, aku selalu membayangkan kalau dia terluka parah dan aku tidak mampu mengobatinya......"
"Dia akan baik-baik saja."
Ayahku mengatakan itu dan memeluknya erat.
Wajah ibuku memerah.
"Aku sangat khawatir karena dia tidak menangis sejak awal, tapi karena dia anak yang nakal, dia pasti baik-baik saja......"
Ayahku mencium ibuku.
Woi, woi, kalian sengaja menunjukannya padaku kan? Kalian berdua!

Lalu mereka berdua menaruhku di kamar sebelah supaya tidur, pergi ke lantai dua, dan memulai membuat adik untukku.
Meskipun kalian berdua pergi ke lantai dua, aku masih bisa mendengar suara desahan kalian, dasar orang offline yang sukses...
(Tapi, sihir huh.....)

Bagian 4
Kemudian, aku mulai memperhatikan percakapan antara orang tuaku dan si pelayan.
Dan kemudian aku mendengar banyak istilah yang tidak ada dalam kosa kataku.
Terutama nama negara, nama distrik, dan nama berbagai lokasi.
Beberapa kata benda yang belum pernah kudengar.
Mungkin tempat ini.....
Tidak, aku sangat yakin.
Kalau ini bukanlah Bumi, tapi dunia lain.

Sebuah dunia berbeda yang terdapat pedang dan sihir di dalamnya.

Saat ini, sekilas aku mendapat sebuah inspirasi.
.......Kalau di dunia ini, mungkin aku bisa mencapai sesuatu.
Jika di dunia pedang dan sihir, dunia yang menyimpang dari akal sehat kehidupanku sebelumnya, mungkin aku bisa melakukannya.
Untuk hidup seperti orang normal, untuk bekerja keras seperti orang normal, untuk dapat mendaki kembali saat aku jatuh, untuk sepenuhnya menjalani hidup.
Aku memiliki banyak penyesalan di kehidupan lamaku.
Mati penuh dengan kegelisahan yang membara karena ketidakmampuanku dan fakta kalau aku tidak mencapai apapun.
Tapi, aku orang yang sudah mengalami hal itu,
Masih memiliki pengetahuan dan pengalaman dari kehidupan sebelumnya, mungkin aku bisa melakukannya.
--Untuk hidup dengan serius.

Mushoku Tensei Jilid 1 Bab 1 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.