14 Juni 2015

Heavy Object Jilid 1 Bab 1 Bagian 1 - 9

BAGIAN 1
TENTARA BERPANGKAT RENDAH YANG MENGALAHKAN GULLIVER PERTEMPURAN DI SALJU ALASKA YANG MEMBEKU

Bagian 1
Pada akhirnya, perang tak lebih dari pertempuran antar Object.
Keberadaan manusia yang membawa senapan yang dirawat dengan hati-hati pun tidak bisa melakukan apa-apa.
Bahkan ketika puluhan ribu atau ratusan ribu tentara berkumpul dengan puluhan ton tank dan pesawat tempur yang sudah disiapkan, monster setinggi 50 meter itu akan menyapu bersih mereka semua. Beberapa Object masih tetap bisa bergerak bahkan setelah diserang satu atau dua rudal nuklir, jadi akan sangat gila jika mencoba melawan mereka secara langsung.
Itulah kenapa semua pihak menyerahkan peran utama dalam perang kepada Object.
Dengan menyerahkan peran utama yang merepotkan kepada monster itu, semua orang dapat dengan mudah melihat dari sisi aman.
Mungkin itulah alasan kenapa 800 orang yang berada di dalam zona markas ini, yang khusus menangani masalah perawatan, terlihat sangat nyaman dan santai meskipun berada di tengah garis depan pertempuran.
Area ini dinamakan markas, tapi yang mereka lakukan hanyalah merawat Object dan melihatnya dilepas ke medan pertempuran.
Keberadaan manusia hanya digunakan untuk menjaga senjata super besar itu saat sedang dirawat selama waktu yang singkat dan kemudian mereka akan mendapat gelar kehormatan karena telah menjaga negara mereka dengan nyawa mereka.
Dengan Object yang berada di sini, mereka tentu sangatlah aman.
Object yang melindungi mereka ini seperti sebatang pohon yang berbuah emas. Hanya dengan melihatnya, Object akan mengalahkan musuhnya satu per satu. Para tentara berpendapat bahwa semua itu adalah hasil dari kerja zona markas dan merasa bahwa mereka semua harus diberi bayaran, lalu rekening mereka akan penuh dengan uang yang dibayarkan oleh pajak.
Kenyataannya, perang diselesaikan oleh Object sendirian.
Selama Object ada di sana, hidup dan masa depan mereka akan terjamin.
Karena pola pikir itu lah, prajurit-prajurit itu akan langsung kalang kabut ketika melihat Object mereka terbakar dan meledak.
Pada zaman ini, perang tak lebih dari pertempuran antar Object.
Itu berarti kekalahan dari sebuah Object menandakan bahwa musuh juga memiliki sebuah Object.
Badai salju Alaska yang putih membentuk sebuah pemandangan, tapi mereka masih bisa melihat merahnya api dan asap hitam yang membubung ke langit.
Kursi pelontar menembakkan tubuh seorang pilot perempuan keluar dari dalam kokpitnya ke langit, tapi tak akan ada orang yang akan menyelamatkannya karena dia adalah seorang pecundang yang telah kalah.
Ada sebuah hal yang lebih penting yang melintas di pikiran mereka.
Sekali lagi, di zaman ini, perang tak lebih dari pertarungan antara Object. Keberadaan tank, pesawat, dan berbagai jenis senjata lainnya yang digunakan pada zaman sebelumnya hanya akan dengan mudah dihancurkan oleh sebuah monster setinggi 50 meter bernama Object ini.
Sekarang setelah Object mereka dihancurkan, Object milik musuh dapat bergerak dengan bebas.
Sederhana saja.
Mereka semua akan dibantai.
Tembakan senjata yang membabi-buta akan menghancurkan daging, tulang, dan organ tubuh mereka ke udara di dalam pembantaian tanpa harapan ini.
Tak ada yang bisa dilakukan selain melarikan diri. Tapi walau mereka melarikan diri, akan menjadi sebuah keajaiban jika ada sepersepuluh dari total tentara yang ada di dalam markas itu yang bisa bertahan hidup. Tak ada satu orang pun yang mengikuti perintah paling penting dalam perang – untuk berdiri di tempat mereka dan menjaga garis pertahanan.
Petak umpet yang mengerikan telah dimulai.
Petak umpet yang sangat mengerikan antara monster setinggi 50 meter dengan manusia yang sangat kecil.

Bagian 2
Suatu hari yang biasa, seorang anak laki-laki bernama Quenser sedang berdiri di area Alaska yang bersalju. Dia berada di dalam markas yang khusus melakukan perawatan bagi sang raksasa, Object. Perawakan Quenser berbeda dari penampilan tentara pada umumnya. Sederhananya, dia tidak memiliki otot yang dibutuhkan oleh seorang tentara. Dia lebih terlihat seperti seorang siswa yang akan belajar di sebuah negara yang aman. Sebenarnya, dia bisa dengan mudahnya menjadi wanita jika ia memakai celana pendek atau rok.
Pada kenyataannya, kesan pertama yang terlihat itu tidak sepenuhnya salah.
Lengannya yang ia gunakan untuk menggali salju dengan sekop bergetar karena kelelahan dan myalgia.
“Sial!! Sebenarnya apa tujuan pekerjaan kita ini!?”
Orang yang berteriak dan kemudian menyerah itu adalah seseorang yang lebih terlihat seperti prajurit, berdiri di sebelah Quenser. Quenser nampak terkejut dan prajurit laki-laki yang ia temui di zona markas itu melemparkan sekopnya.
“Ada banyak jenis tentara. Aku adalah seorang prajurit yang bekerja sebagai analis radar untuk mengecek spesifikasi Object musuh dan mencari kelemahannya. Aku tidak bergabung dengan tentara untuk menggali lubang!”
Prajurit pintar itu bernama Heivia. Karena Quenser tidak memiliki semangat pejuang seorang tentara, dia bisa bergaul dengan Heivia lebih baik daripada dengan yang lain.
(Yah... kita sama-sama mirip, sih.)
Dengan pikiran yang ragu itu, Quenser berbicara.
“Tidak ada pilihan lain, kan. Semua pertempuran dilakukan oleh Object, tapi orang-orang di tempat aman di sana tidak ingin uang pajak mereka dibayarkan pada orang yang sama sekali tidak bekerja. Waktu aku menonton CS News, aku melihat Penasihat Flide sedang berkampanye mengenai penurunan pajak untuk mendapatkan suara di pemilu yang akan datang.”
Itulah yang aku maksudkan dari tadi,” kata Heivia. “Bahkan orang-orang di negara kita tahu kalau menggali di tempat bersalju seperti ini untuk merawat landasan pacu itu tidak ada gunanya. Tahu kalau ini hanya untuk pencitraan saja membuatku semakin tidak ingin melakukannya.”
“Yeah, pesawat tempur tidak akan berarti di hadapan Object. Ketika perang latihan, Object sudah menghancurkan 1500 pesawat dan aku sangat yakin bahwa mereka hanya mengarang jumlah itu karena mereka terlalu malas menghitungnya.” Quenser menancapkan sekopnya ke tanah dan menyandarinya dengan kedua tangannya. “Lagipula, Object menggunakan anti air-laser yang ditenagai oleh reaktor bertenaga tinggi. Pesawat tempur mungkin bisa terbang sampai Mach 2 atau Mach 3, tapi itu bukan tandingan kecepatan cahaya. Saat Object sudah mengunci targetnya, mereka pasti tertembak jatuh. Aku dengar kalau unit lapis baja yang dikatakan di kelas sejarah selamat karena debu dan kotoran dan benda-benda lainnya merubah arah laser itu, tapi ketinggian terbang pesawat tempur menunjukkan kalau tidak mungkin ada benda yang bisa mengganggu arah laser.”
“Benda itu adalah monster setinggi 50 meter yang masih bisa bergerak bahkan setelah diserang nuklir. Pesawat tempur bagi Object tak lebih dari burung kecil atau nyamuk. Merawat landasan pacu seperti ini hanya membuang-buang tenaga.”
“Yeah, aku dengar pilot terbaik dari unit angkatan udara cuma berjaga-jaga di dalam kokpit mereka sambil mendengarkan radio. Tapi aku ragu tank-tank dari unit lapis baja bisa lebih berguna.... Dan mengenai menaikkan permukaan landasan pacu ini. Apakah mereka tidak bisa memasang sekop raksasa di tank-tank itu dan mengerjakannya dalam sekali kerja?”
“... Lalu apa yang kita lakukan ini…?”
“Yah, aku lebih memilih pekerjaan ini daripada harus bertarung.”
“Itu bukan kata-kata yang pantas diucapkan seorang prajurit, tapi aku harus setuju denganmu,” kata prajurit berandalan Heivia, setuju dengan apa yang dikatakan Quenser yang berasal dari rakyat sipil. “Kita bisa saja meninggalkan semua masalah perang ini kepada Object. Kehilangan nyawa di dalam perang rasanya tidak ada gunanya lagi. Kita tinggal melihat dari jauh dan melihat Object membawa oleh-oleh kemenangannya. Orang-orang seperti kita ikut berperang tidak akan ada artinya lagi.”
“Kau seorang bangsawan, kan, Heivia?”
“Yeah, jadi aku harus berada dari sini dan menjadi seorang ‘prajurit yang terhormat’ untuk menunjukkan kemampuanku menjadi kepala keluarga berikutnya di keluargaku. Sederhananya, kalau aku bisa tahan dengan kehidupan di markas selama tiga tahun, aku bisa menghabiskan sisa hidupku di dalam rumah mewah dan besar bersama dengan banyak pelayan wanita.”
Tidak seperti kata-katanya, Heivia terlihat tidak terlalu senang.
Ia terlihat tidak terlalu puas dengan hidup yang damai itu.
“Sepertinya kau punya masalahmu sendiri.”
“Yah, tidak sepertimu, Heivia, aku hanya orang biasa. Aku harus mencari pekerjaan. Karena itulah aku mendaftar sebagai Tamtama di sini.”
“Apa kau bercita-cita menjadi desainer Object?”
“Belajar di tempat di mana Object ada katanya adalah jalan tercepat untuk mendapatkan kekayaan. Kalau aku bertahan di sini selama tiga tahun, aku bisa mendapat pendidikan terbaik yang bisa didapat. Lalu aku bisa mendapat uang dan mendapat gelar ‘orang suci yang membantu pahlawan’ dengan membangun dan menjual Object kepada para pahlawan itu untuk dipiloti.”
“Tamtama yang berhasil akan sangat dipuji oleh orang-orang karena rintangan yang dilewati oleh mereka. Karena mereka semua tidak menjalani latihan sebagai seorang tentara, aku dengar banyak dari mereka yang mundur karena sakit dan kerja berlebihan. Mendengar itu semua membuatku ingat kalau inilah medan perang.”
“Ngomong-ngomong, apa kau menjalani latihan perang, Heivia?”
“Yeah, aku dapat latihan gaya lama saat aku mendaftar dulu. Sepertinya mereka ingin membuat tentara berotot dan memberi jiwa camaraderie selama 5 bulan latihan, tapi aku berakhir tanpa hasil. Aku belum pernah terjun ke perang sesungguhnya sejak aku melapor ke markas ini, bahkan kemampuan bela diriku sepertinya semakin tumpul.”
“Aku sangat senang dapat menjalani hidup yang membuat kita lupa cara bertarung.”
“Sebenarnya itu bukan kata-kata yang pantas bagi seorang prajurit, tapi sekali lagi aku setuju dengan apa yang kau katakan.” Merasa lelah dengan apa yang mereka perbincangkan, Heivia mengganti subjek pembicaraan mereka. “Ransum bernutrisi dari militer ini rasanya sangat hambar dan menjijikkan. Apa yang sebenarnya mereka pikirkan waktu membuat ini? ... Ini lebih mahal dari daging tapi rasanya lebih buruk. Aku sangat tidak tahan.”
“Bukannya mereka membuat itu agar semangat para tentara tidak berubah hanya karena apa yang mereka makan hari itu? Orang-orang memiliki selera yang berbeda soal makanan, jadi mereka tidak bisa membuat makanan yang semua orang suka.”
“Jadi mereka memberi kita makanan yang pasti tidak disukai semua orang? Berengsek!”
“Makanan itu dibayar dari uang pajak, jadi lebih baik jangan protes. Tapi aku akui, menangkap seekor rusa dan memanggangnya dengan sedikit garam lebih baik.”
Quenser membuat komentarnya keluar jalur, tapi membuat Heivia terpaku di tempat karena suatu alasan.
Dia melihat Quenser dengan rasa sangat kagum.
“... Kau benar-benar seorang Tamtama. Kau sangat jenius.”
“Hoi.”
“Kau benar. Kalau kita tidak bisa memakan makanan yang enak, kita tinggal cari makanan yang enak sendiri.”

Bagian 3
Dan pada akhirnya, Heivia membuang sekopnya, mengambil senapannya, dan melangkah keluar markas. Sebuah hutan conifer yang diselimuti oleh salju putih mengelilingi area itu. Itu adalah sebuah kawasan alami yang kelihatannya dihuni hewan liar lebih banyak dari yang mereka bayangkan.
Quenser juga ikut dengan Heivia, tapi dia tidak membawa senapan yang diberikan oleh Heivia tadi.
“Ayo kita kembali. Atasan pasti mencari kita kalau mereka tahu. Aku rasa aku bisa membayangkan mereka akan menceramahi kita tentang melindungi hewan liar atau semacamnya.”
“Ayolah, aku tahu kau lebih memilih potongan daging yang empuk daripada ransum rasa jeli bensin itu kan. Dan aku tidak mengerti kenapa mereka bangga padamu kalau berhasil menembak musuh sementara mereka akan sangat marah jika kita menembak seekor hewan.”
“Itu karena peluru itu tidak gratis. Mereka menggunakan uang pajak dan membeli peluru itu untuk membunuh musuh, jadi aku rasa mereka tidak ingin menyia-nyiakannya,” kata Quenser, tapi Heivia nampak tidak mendengarkannya.
Dia berjalan semakin jauh ke dalam hutan yang lebat, mengikuti jejak rusa yang tertinggal di salju.
(... aku tidak ikut-ikutan hal ini...)
Quenser mengambil lagi senapannya dan duduk di sebuah batu.
Dia melihat markas perawatannya.
Namun dia tidak melihat sebuah bangunan dari semen. Markas tempat Quenser bekerja adalah sebuah markas bergerak, jadi markas itu terdiri dari sekumpulan kendaraan. Kendaraan markas itu jauh lebih besar daripada truk trailer. Markas tentara, menara kontrol radar, dan semua posisi penting ada di dalam markas bergerak itu. Bahkan tempat perawat Object terdiri dari puluhan truk besar itu yang berjejer sepanjang puluhan meter.
Itu adalah beberapa aspek dari Hukum Perang yang diganti oleh Object.
Daripada diam bertahan di satu tempat, lebih efektif jika sebuah markas militer bisa mudah berpindah tempat untuk membawa Object ke mana pun ia dibutuhkan.
Pikir Quenser seraya ia menatap ke arah markas era baru tersebut.
(Atasanku pasti sedang duduk manis di dalam ruangan mereka dengan dekorasi ala militer yang hangat sambil meminum kopi dan menunggu Object kembali.)
Namun, menggerutu saja tidak akan bisa menahan hawa menusuk Alaska dan Heivia benar tentang dirinya bahwa Quenser juga sudah lelah dengan makanan yang tidak ada rasanya itu.
Quenser merogoh kantung seragam militernya yang masih belum terbiasa ia pakai. Dia mengambil peralatan P3K yang selalu ia bawa dan sebuah pisau yang dia tidak tahu bagaimana cara menggunakannya. Peralatan itu semua dibutuhkan untuk merawat luka sekaligus sebagai alat untuk membuat api dan menangkap ikan.
(Bahkan di era di mana Object menyelesaikan semuanya, benda ini adalah pemborosan pajak.)
Saat disimpan, pancingan itu hanya sepanjang bolpoin, tapi saat dipanjangkan bisa memiliki panjang hingga 50 sentimeter dan terlihat seperti tongkat untuk menangkap wakasagi. Namun, benda itu terbuat dari karbon atau apalah itu sehingga memiliki kekuatan dan fleksibilitas yang tidak bisa diragukan lagi. Daripada umpan, peralatan ini memiliki beberapa jenis lure. Sepertinya menggunakan mereka menggunakan beberapa cara agar tidak menghabiskan umpan untuk memancing ikan saja.
Quenser mengelilingi tempat itu sebentar dan melihat sebuah sungai kecil. Dia menghancurkan permukaan sungai yang membeku dan mengulur senar pancingnya di dalam sungai itu.
“Ahh, hari ini sangat damai,” gumamnya walau sebenarnya dia sekarang berada di garis depan sebuah perang.

Bagian 4
Namun, seorang tamtama amatir seperti dirinya tidak bisa menggunakan sebuah peralatan bertahan hidup begitu mudahnya. Masih sebuah pertanyaan apakah Quenser bisa menangkap seekor ikan dengan sebuah alat pancing sederhana. Jadi bukan sesuatu yang mengherankan jika dia tidak mendapatkan apapun meski sudah menunggu cukup lama.
Dia mendengar suara tembakan tak jauh dari situ.
Tentu saja itu bukanlah musuh yang sedang mendekat; itu adalah Heivia yang sedang berburu Rusa, dengan harapan bahwa ia mendapatkannya untuk makan malam nanti. Di zaman dan era seperti ini, melihat seorang prajurit yang nekat menyerang pangkalan tempat monster bernama Object sepertinya sangat tidak logis. Ibaratnya seperti mencoba menghancurkan dinding bungker nuklir dengan menendangnya.
Saat Quenser sedang memikirkan hal itu, ia mendengar suara langkah kaki yang berderap di atas salju.
“Apa yang sedang terjadi?”
Dia berputar dan melihat seorang perempuan yang terlihat bingung. Perempuan itu umurnya sekitar 14 tahun dan bahkan terlihat lebih tidak cocok sebagai tentara dibandingkan seorang tamtama seperti Quenser.
Dia memiliki rambut pirang lembut dengan panjang sebahu dan kulit putih. Daripada biru, matanya lebih berwarna biru langit muda dan pandangannya jauh melihat ke arah lain jadi Quenser tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh perempuan itu sekarang.
Dari lekuk tubuhnya terlihat kalau ia sangat langsing.
Pertanyaannya sepertinya terkait dengan suara tembakan senjata api itu daripada apa yang sedang dilakukan oleh Quenser.
Quenser menjawabnya dengan blak-blakan.
“Kita berniat membuat barbekyu malam ini. Aku bertugas memancing Salmon dan Heivia memburu Rusa. Mungkin memang aku yang berpikir tentang acara ini, tapi aku bahkan tidak tahu apakah daging Rusa itu cukup enak. Aku tidak pernah mencobanya sebelumnya, jadi aku agak tidak yakin. Aku harap rasanya tidak terlalu aneh.”
“... Kau akan cepat mati kalau tidak memakan sayuran.”
Perempuan itu menghela napasnya seperti orang yang baru saja membuka sebuah kotak dan menemukan sesuatu yang sangat tidak menarik di dalamnya.
Quenser menatap ke arah pancingnya yang tidak menunjukkan tanda-tanda ia akan mendapatkan ikan tidak peduli seberapa lama ia menunggu.
“Mau pergi ke mana, Putri?”
“Apa kau mencoba membuatku marah?”
Ekspresi perempuan itu biasanya tidak cepat berubah, tapi kali ini sepertinya dia merasa terganggu.
Namun, Quenser dan perempuan itu tidak terlalu saling mengenal dan ia tidak tahu harus bicara apa. Perempuan itu jarang berbicara. Quenser bahkan ragu apa ia punya kesempatan dimana ia harus berkomunikasi dengan perempuan itu.
Lagi pula, perempuan itu adalah seorang Elite, dia adalah seorang pilot dari sebuah senjata bernama Object.




Saat Quenser sedang bekerja di markas perawatan di Alaska, dia sempat bertukar sapa dengan perempuan itu, tapi dia ragu bahwa alasan itu cukup untuk membuat mereka berteman. Posisi mereka terlalu jauh. Quenser hanyalah seorang tamtama biasa sementara perempuan itu memiliki posisi yang sangat jarang dimiliki oleh orang lain bahkan di dalam satu negara sekalipun.
Tidak seperti Quenser dan yang lainnya, ia mengenakan sebuah pakaian yang khusus dikenakan oleh seorang pilot Elite. Pakaiannya sangat sulit untuk dijelaskan. Pakaian itu sangat berbeda dari seragam kemiliteran lainnya. Warna utamanya adalah biru indigo dan pakaian itu sangat ketat dimulai dari leher hingga menutupi lengan dan kakinya. Sepatu bot dan sarung tangan yang ia kenakan sepertinya memang menempel dengan pakaian itu dan tersambung dengan pengikat.
Selain itu, dia mengenakan sebuah rompi pelindung untuk melindungi bagian dadanya dan sebuah kantong yang melebar seperti rok mini. Sepertinya, bagian bawah rompi dan bagian atas kantong itu saling terhubung saat dia memiloti Object. Seperti sebuah tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi, bagian lehernya memiliki model kerah seragam pelaut yang memiliki model yang sama dengan seragam sekolah tertentu dari sebuah negara yang aman.
Pakaian itu tahan air agar bisa dikenakan saat berada di bawah air dan bahkan dapat menghentikan aliran darah ke bagian bawah tubuhnya untuk menekan fungsi otak, seperti seragam pilot angkatan udara. Pakaian seorang pilot Object terlihat sangat berbeda dari seragam yang lain; bahkan melewati model-model seragam militer yang lazim.
Quenser mengingat saat-saat di mana dia pertama kali melihat mata biru langit itu di area perawatan. Saat pertama kali melihatnya ia berpikir bahwa matanya itu benar-benar bercahaya, tapi ia salah. Saat memiloti Object, sebuah sinar inframerah digunakan untuk mengikuti gerak matanya yang digunakan sebagai alat input. Paparan terlalu lama dari laser itu membuat warna asli mata birunya semakin pucat.
Pencahayaan itu bukanlah hal buruk yang harus dimaklumi dari kerusakan pupilnya karena sinar laser itu. Malah itu adalah sebuah pengembangan yang membuat laser bisa bekerja semakin efektif, jadi matanya tidak akan menjadi lebih pucat lagi jika telah mencapai titik tertentu.
Perempuan itu memutar mata bercahayanya yang menandakan bahwa ia adalah seorang pilot Elite dari Object ke arah Quenser dan berbicara.
“Object sedang diservis. Jadi aku tidak punya pekerjaan lain dan akhirnya aku ingin berjalan-jalan di sekitar pangkalan. Saat itulah aku mendengar suara tembakan api.”
“... Oh, sial. Kau bisa mendengarnya dari arah markas? Mungkin kita bantalan dapat hadiah dari atasan nanti.”
“Dan wanita tua itu berteriak sesuatu tentang ‘anak bodoh itu’ melarikan diri dan membuang kesempatan emas untuk mempelajari sesuatu sejak Object sedang menjalani perawatan.”
“Oh, sial! Ini lebih buruk dari yang aku pikirkan!!”
Dia mulai lari ke arah markas, tapi kemudian...
“... Tidak, tunggu. Kalau kita pergi sekarang, aku masih tetap dapat tegurannya, jadi pilihanku sekarang adalah kembali dengan tangan kosong atau dimarahi dengan salmon hasil tangkapanku... begitu ya. Oke, aku tidak akan kembali sebelum mendapat salmon bahkan jika aku harus mati.”
“Kalau kau bertingkah sedikit lebih dewasa dan tidak berpikir untuk melakukan hal itu, mereka juga tidak akan sering marah padamu.”
Quenser berbalik kembali ke tongkat pancingannya dan perempuan itu melihat dengan muka yang terkejut. Tak jelas apa sebenarnya keinginan dari putri itu, apa ia memang tidak ada sesuatu untuk dilakukan atau dia memang tak terbiasa dengan seseorang yang bukan prajurit normal (bagi seorang prajurit, memiloti Object merupakan urusan hidup atau mati, jadi mereka berusaha menjaga dari gadis Elite itu agar tidak terjadi hal buruk yang tidak diinginkan) karena dia melanjutkan keluyurannya di luar markas. Ini tidak sama seperti saat Quenser membantu perawatan karena mereka hanya akan berbicara seperlunya.
(... Apa ini berarti putri itu juga tidak tahan dengan ransum, makanya dia tertarik dengan salmon ini?)
Quenser tidak berani mengungkapkan apa yang dia pikirkan sekarang karena dia tahu bahwa hal ini pasti akan membuat gadis itu tidak nyaman.
Quenser ingin melanjutkan perbincangan mereka dengan mencari topik baru, tapi gadis itu ternyata memulai duluan tanpa sempat Quenser berpikir topik apa yang ingin dia bicarakan.
“Kamu ke sini untuk belajar tentang Object, bukan?”
“Benar. Kalau aku bisa bertahan dengan membantu perawatan Object di sini selama tiga tahun, aku pasti akan mendapat kesuksesan saat aku pulang nanti.”
“Kenapa harus markas ini?” tanya gadis itu dengan rasa penasaran. “Kau tahu kan jenis Object apa yang aku pilot di markas ini?”
“Itu adalah Object Multifungsi Guna dan Wilayah. ... Dengan kata lain, Object jenis ini bisa digunakan secara bebas di segala tempat di muka bumi dan dalam kondisi apapun. Object ini adalah jenis paling standar dari senjata raksasa ini dan bisa bergerak di laut dan darat.”
“Standar itu cuma kata lain dari kuno.” Gadis itu menghela napasnya. “Object Generasi kedua tidak bisa bekerja di mana saja. Sebuah Object yang dikembangkan untuk bertarung di gurun pasir tanpa banyak pikiran untuk bertarung di mana saja akan mengalahkan Object normal di pertempuran gurun pasir.”
Itu adalah teori yang mulai berkembang dan menyebar di industri pembuatan Object.
Saat Object pertama muncul di pertempuran, Object Multi wilayah yang bisa bertempur di segala medan di dunia ini adalah raja monster tanpa musuh alami. Namun, saat Object lain mulai muncul di muka bumi ini, situasi mulai berubah.
Model Multi Wilayah yang bisa bergerak bebas di mana saja memang tidak memiliki kelemahan yang terlihat, tapi juga ini berarti ia tidak memiliki kekuatan yang nyata. Saat situasi berganti di mana Object melawan senjata biasa ke Object melawan Object, pertanyaannya adalah bagaimana caranya membuat Object tersebut bisa berdiri di garis depan.
Salah satu jawaban atas masalah itu adalah dengan membuat sebuah Object yang memiliki kekuatan yang luar biasa bahkan jika harus menghancurkan keseimbangan fungsionalitasnya. Setelah itu, Object itu akan bertarung hanya di daerah yang dikuasainya, memberikannya keuntungan ketika melawan Object yang lain.
“Di sini, di Alaska, sama saja. Kita punya sebuah Object tanpa kelemahan dan mereka memiliki Object dengan kekuatan yang luar biasa. Di wilayah bersalju ini, Object milikku mungkin tidak memiliki kesempatan menang.”
Tapi kau tetap menaiki Object itu, benar kan, Putri?”
“... Aku tidak memiliki pilihan lain,” kata gadis yang dikenal dengan seorang pilot Elite tersebut dengan ragu.
Semua monster setinggi 50 meter sebelum ini sekarang telah menjadi “model generasi lama” karena perkembangan senjata yang lebih maju, tapi tentu saja tidak sembarang orang bisa menjadi seorang Elite yang bisa memiloti Object.
Mereka adalah orang yang telah memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh Tentara dengan menggunakan standar yang mereka buat.
Juga, manusia hanyalah sebuah terminal yang mengontrol Object setelah mereka memiliki kemampuan yang telah dikembangkan sehingga mereka dengan mudah bisa melewati standar kejeniusan dengan sifat alami mereka yang telah secara artifisial diasah, diperhalus, dan diperkuat dengan bantuan obat-obatan kimia dan berbagai alat elektronik untuk menyamakan diri mereka dengan sebuah Object.
Setelah seorang Elite berhasil dikembangkan, takdir mereka telah terhubung dengan Object itu.
Seorang Elite tidak bisa memiloti Object selain Object yang telah dicocokkan dengan dirinya. Faktanya, tidak salah jika menyebut Elite adalah seorang yang otaknya telah disesuaikan untuk Object tertentu.
Elite hanya bisa memiloti Object yang dikembangkan bagi diri mereka sendiri atau Object lain yang telah dikembangkan dari turunan diagram pohon yang sama.
Kalau begitu, apa yang akan terjadi jika tipe Object yang kau pakai telah menjadi model yang usang?
“Aku mungkin tidak akan bisa menang,” kata gadis Elite yang memiloti Object tak terkalahkan itu tiba-tiba. “Aku mungkin tidak akan bertahan.”
Otak gadis itu telah disesuaikan hanya untuk memiloti Object tertentu saja.
“Bagi seseorang yang telah bekerja di bagian perawatan Object seharusnya kau tahu itu. Jadi kenapa kau datang kemari?”
“Karena aku menilai sesuatu secara berbeda,” jawab Quenser setelah berpikir sebentar. “Hanya seorang prajurit lah yang begitu terobsesi dengan apa itu kuat dan apa itu lemah. Aku adalah seorang Tamtama. Kalau aku tidak bertahan dengan Object sebagai nilai akademisnya, aku tidak akan mendapatkan pengetahuan dan kemampuan yang aku butuhkan.”
“...?”
“Kalau aku belajar dari model yang paling dasar, aku bisa menggunakan pengetahuan itu di manapun. Di lain sisi, kalau aku belajar Object yang telah mengalami optimalisasi yang begitu tinggi, pengetahuan yang aku dapat tidak akan bisa digunakan di sembarang tempat. Bagi seorang tamtama, Objectmu merupakan pilihan yang terbaik.”
Pendapatnya tidak bersumber pada masalah serius seperti menang perang, tapi apa yang dia katakan itu karena dia bukanlah seorang prajurit.
“Kalau kau berharap terlalu tinggi di medan perang, kau tidak akan hidup lama.”
“Itu benar, dan itu kenapa Tamtama sepertiku tidak memiliki kemungkinan hidup yang tinggi. Tapi aku bertahan di sini, di medan perang ini, dengan harapan aku cepat mendapat pengalaman, jadi aku tidak akan mengeluh.”
Mendengar Quenser berkata seperti itu, gadis yang telah menjadi seorang veteran perang yang telah melewati begitu banyak pertempuran itu memiringkan kepalanya seperti gadis biasa yang kebingungan.
“Jadi kau sudah siap.”
“Ya, yah, aku tidak suka bekerja dengan metode yang sangat lama di sekolah, jadi aku sangat bersemangat mengambil kesempatan ini untuk melangkah lebih jauh. Aku harus siap dengan segala risiko yang ada.”
“Hmm,” kata Elite itu dengan reaksi yang menunjukkan bahwa dia belum benar-benar paham.
Lalu...
“Benarkah?”
“?”
Kali ini giliran Quenser yang terlihat kebingungan. Namun, sepertinya gadis itu tidak memiliki niat lagi untuk melanjutkan pembicaraan mereka. Dia berbalik dan meninggalkan area hutan Alaska itu, meninggalkan bocah itu dengan senapan dan tongkat pancingnya.
Di kehidupan nyata, manusia kadang tidak berpikir bahwa hal buruk akan terjadi.
Contohnya, alasan kenapa gadis Elite itu berbicara padanya seperti itu adalah sesuatu yang bagi Quenser seharusnya pikirkan lebih dalam lagi.
Lagipula, Object adalah sinonim dari perang dan darah-daging prajurit tidak memiliki nilai.
Namun, itu juga berarti bahwa memikirkan hal itu mungkin juga tidak berarti.

Bagian 5
Seperti yang sudah diduga, mereka berdua mendapat ceramah.
Dua orang bodoh bernama Quenser dan Heivia dibawa menuju barak untuk perwira komisi khusus. Sama seperti bagian lain, barak ini berada di dalam kendaraan besar di dalam markas. Tiga kendaraan super besar disambung bersama dan saling berdampingan, membuat sebuah bangunan persegi panjang setinggi empat lantai. Tentu saja, kendaraan itu bisa dipisahkan kapan saja agar bisa lewat di jalan yang sempit.
Quenser dan Heivia berada di lantai paling tinggi di barak perwira.
(Dasar Borjuis Jepang sialan)
Bukan semata karena dekorasi mewah dalam ruangan itu yang sama-sama mereka pikirkan, tapi lebih karena mereka dipaksa duduk dalam posisi seiza di lantai yang keras itu.
Sementara itu, perwira penanggung jawab mereka, Froleytia, tidak duduk di lantai keras itu. Setengah bagian dalam ruangan itu dibuat lebih tinggi dan digelari tatami. Dia duduk di sebuah meja pendek di tengah-tengah tatami itu. Dia duduk di atas bantal Zabuton yang begitu empuk dan halus yang bahkan seekor kucing pun tidak akan beranjak dari bantal itu jika ia tiduran di atasnya.
Dia adalah seorang wanita cantik dengan rambut panjang berwarna perak.
Rambutnya mungkin agak dicat karena warnanya sedikit terlihat biru muda.
Dia tinggi dan kurus, dadanya besar dan bajunya seperti tidak kuat menahannya. Kakinya yang dibungkus oleh stocking hitam yang memanjang ke bawah dari rok ketat itu tidak hanya ramping. Mereka begitu penuh dengan aura kecantikan yang menarik mata. Bibirnya yang pucat menahan sebuah pipa. Itu tidak pendek, tidak seperti model detektif Eropa. Tapi, pipa itu adalah pipa sepanjang 30 cm bernama Kiseru.
Quenser tidak tahu apakah aroma ini berasal jenis tembakau yang dia hisap itu atau dari aroma rambutnya, tapi dia mencium bau yang agak manis.
“... Kalian tahu kenapa kalian dipanggil ke sini, kan?”
Suaranya terdengar lebih dingin daripada salju yang berada di luar jendela ini saat menusuk telinga Quenser dan Heivia.
Mereka jelas sangat tahu alasan kenapa mereka dipanggil ke sini.
Mereka meninggalkan tugas menggali mereka untuk mencari makanan di luar wilayah markas. Karena Heivia juga telah menembakkan beberapa peluru sembarangan, sudah jelas kalau Froleytia marah kepadanya. Saat ini mereka ada di posisi dimana mereka bisa dengan mudahnya dijebloskan ke dalam penjara atau mungkin pengadilan militer.
“(... Apa yang akan kita lakukan sekarang, Heivia!? Sudah kubilang seharusnya kita berhenti!! Ini memang cuma masalah ransum, tapi lebih baik aku makan salju selama tiga hari daripada seperti ini!!)”
“(... Diam, berengsek!! Sial, apa benar dia 18 tahun? Aku tahu prajurit normal tidak dibutuhkan di zaman sekarang ini, tapi aku berani bertaruh bahwa dia bisa mengalahkan Object hanya dengan sebuah pukulan!)”
“Quenser, Heivia!”
Dengan dipanggil nama mereka saja, dua orang itu langsung bersiaga dalam keadaan terkejut. Froleytia bahkan tidak melihat ke arah mereka. Dia sedang bermain tusuk rambut sepanjang 20 cm yang memiliki model seperti Kanzashi dari Jepang sambil mengendalikan semacam pena di sebuah papan di atas mejanya.
Papan itu disebut tablet.
Quenser pernah merasa bahwa alat itu biasa digunakan untuk menggambar di komputer, tapi...
“Apa ini menarik perhatianmu, Quenser?”
“I-iya!!!”
“Mungkin aku tidak berada di level yang sama dengan kalian yang menghabiskan waktu untuk mencari makanan, tapi aku sekarang sedang sibuk. Mungkin ini tidak terlihat begitu sulit dibandingkan kalian yang panik mengubur ikan dan daging kalian di dalam salju agar awet, tapi aku harus mengurus komando operasi di sebuah pulau kecil di Pasifik sementara aku di sini di markas Alaska.”
“U-ummm....”
Quenser menggerakkan matanya untuk melihat dinding di sampingnya. Seluruh dinding itu adalah sebuah monitor LCD besar dan menampilkan sebuah peta samudra yang besar dan juga beberapa pulau. Tanda V berwarna merah terus muncul bersamaan dengan gerakan Froleytia yang mengontrol tablet itu.
“Ya, ini sebenarnya sederhana. Aku membuat tanda di papan ini dan Object yang berada di sana akan menembakkan serangan jarak jauh yang akan menghancurkan markas gerilyawan itu. Cukup sederhana, bukan? Tolong katakan kalau kau juga berpikir seperti itu,” kata Froleytia dengan acuh tak acuh saat dia melanjutkan untuk menambah tanda V lagi. “Tablet benar-benar bagus. Misalnya ,aku rasa benda ini bisa merasakan emosiku dari bagaimana aku menekan pen ini di atasnya. Perasaanku mengatakan bahwa operasi hari ini akan berjalan sangat mulus.”
Mungkin dia memang agak marah saat dia menjalankan komando itu karena dia mengeluarkan suara berderit yang keluar dari pen plastik yang dia pegang.
Saat mereka membayangkan potongan daging yang beterbangan di udara di bagian dunia lain setiap Froyletia menambahkan tanda cek itu, Quenser dan Heivia merasa merinding.
“Seperti yang aku bilang, aku agak sibuk mengomando beberapa zona markas dan unit sekaligus, lalu ada orang-orang idiot yang memutuskan untuk menambah masalahku lagi... omong-omong, apa kalian tahu apa yang aku rasakan di hatiku saat ini?
“Ya, bu!! Tapi, saya lebih memilih bila tidak perlu membayangkannya! Saya bisa katakan bahwa anda sekarang sedang marah, Froleytia!!”
“Bagus. Aku senang memiliki bawahan yang cermat. Benar begitu bukan? Mengangguk kalau kalian setuju,” kata Froleytia, menatap mereka dengan senyuman yang begitu sadis di bibirnya.
Setelah dia selesai memberikan perintah kepada unit di Laut Pasifik dan memeriksa bahwa operasi telah selesai, ekspresinya berubah riang.
“Jadi, apa saja yang kalian dapat? Aku sudah muak dengan penghapus raksasa yang mereka sebut makanan.”

Bagian 6
Akhirnya, masalah ini selesai dengan makan malam yang terdengar seperti ide yang bagus (walaupun Quenser dan Heivia nanti masih harus lari 20 km di salju), tapi masih ada waktu lengang sebelum makan tiba.
“Maksudmu kita harus melakukan hukumannya sekarang!?” kata Quenser sambil menguatkan hatinya ketika mendengar pengumuman itu, tapi Froyletia menggelengkan kepalanya.
“Kau adalah seorang Tamtama. Kalau aku tidak mengirimmu ke area perawatan untuk mempelajari Object, wanita tua di sana akan membentak aku lagi nanti.”
“Uuh!? Aku lupa kalau ada dia juga!! Ini berarti aku juga akan mendapat ceramah dari wanita tua yang bisa mengalahkan kau, Froyletia!!”
“Oh, dan Heivia, kau melanjutkan menggali salju sendirian. Pastikan landasan pacu itu sudah bisa digunakan saat matahari tenggelam. Angkatan udara sudah mengeluh dari tadi.”
“Tidaaaak!! Itu lebih buruk daripada lari 20 km!! Dan kenapa angkatan udara tidak turun tangan dan membantu!?”
Akhirnya Quenser berpisah dengan Heivia dan menuju area perawatan Object.
Itu adalah gedung yang besar yang bahkan bisa menutupi monster setinggi 50 meter. Seperti barak perwira, gedung ini juga tersusun dari beberapa kendaraan yang saling terhubung.
Sebuah kendaraan dengan panjang 15 meter dan lebar 10 meter saling berbaris dengan dua sisi dan keduanya dengan cepat membangun sebuah dinding yang tergabung dengan sebuah atap. Akhirnya, terbentuklah sebuah bagian khusus yang terlihat seperti sebuah gudang. Sebuah area perawatan besar itu dibangun dari beberapa mobil yang saling tersambung.
Selain sebuah peluncur utama, area perawatan ini juga memiliki sistem tambahan yang akan mengeluarkan Object di saat darurat. Karena markas itu terdiri dari dua mobil yang saling terhubung dan mengelilingi Object, mereka bisa memisah dan menyingkir dari Object jika monster itu harus keluar. Tapi, karena metode ini merusak lantai area, sistem itu jarang digunakan.
Quenser memasuki bangunan besar itu melalui pintu belakang untuk prajurit perawatan.
Monster setinggi 50 meter itu adalah sebuah simbol kekuatan militer yang begitu memukau.
Yang mengelilingi reaktor di tengah itu adalah sebuah dinding tebal sama seperti tempat perlindungan bom nuklir. Dinding itu membentuk sebuah bola. Bagian bawahnya membentuk sebuah pola Y terbalik dan tidak berjalan atau menggelinding seperti roda pada mobil. Benda itu menggunakan tenaga listrik statis untuk mengambang di atas tanah. Teori di balik hal ini sangat berbeda, tapi pergerakannya membuatnya terlihat seperti sedang bergeser di atas tanah.
Tentu saja, menyelimuti tanah dengan tenaga listrik statis tak cukup untuk membuat benda besar semacam itu mengambang. Sebuah semprotan yang berfungsi sebagai penangkis dari Object yang mengambang itu disemprotkan di bagian bawah saat benda itu bergerak.
Benda itu menggunakan sebuah laser sebagai tenaga pendorong.
Tenaga dari listrik statis itu menciptakan sebuah celah di antara Object dan tanah dan udara yang berada di tengah-tengahnya memanas karena berkali-kali ditembakkan laser yang saling memantul dan berkonsentrasi pada satu tempat. Pemanasan ini membuat udara yang berada di tengah-tengah itu memampat dan membuat sebuah dorongan. Teori ini sama dengan laser yang dipasang pada mesin pendorong pesawat ulang-alik.
Bagian utamanya adalah tujuh lengan yang memanjang dari bagian belakang bola itu.
Tujuh senjata besar yang terpasang padanya mampu memecah sesama Object pada level yang setara.
Benda itu juga mempunyai seratus senjata yang terpasang di permukaan bola itu. Tapi sepertinya pemasangan senjata itu terlihat tidak berguna dan malah terlihat aneh. Desainer Object ini pasti sudah sangat kehilangan kreativitasnya.
Di zaman modern, ini adalah puncak kebanggaan dari kemiliteran.
Ini adalah ujung tombak dari sejarah.
Ini adalah Object.
Lebih dari 200 kabel tebal yang berjenis sama seperti yang ada di derek itu saling terhubung dengan dinding dan langit-langit, itu adalah jangkar yang digunakan untuk menahan Object di tempat ini. Banyak sekali jalan yang dipasang di langit-langit dan banyak mekanik perawat memakai seragam kerja mereka yang saling mengerjakan hal-hal yang berbeda.
Tiba-tiba suara tinggi dari sebuah logam yang berbenturan di susuran tangga bergema di area itu.
Quenser melihat ke atas dan terkejut ketika melihat seorang wanita tua berteriak memanggil namanya dari lantai tiga.
“Jadi kau di sini bocah! Kau harusnya berterima kasih padaku! Aku memilih menggunakan semua tenaga yang ada dan menggunakan bocah sepertimu! Ambil peralatanmu dan naik ke sini!!”
“Maaf saya terlambat! Tentang hukuman saya...!!”
“Tidak masalah. Seorang mekanik menunjukkan harga dirinya dari apa yang ia hasilkan!!”
Mendengar itu Quenser langsung menuju lantai tiga dengan menggunakan tangga yang menempel di dinding yang bisa naik ke atas dengan menggunakan sebuah tombol.
“(... Ohh. Aku beruntung sekali orang tua itu pengertian. Aku rasa aku tidak perlu takut dengan orang ini.)”
“(... Yah, kalau bocah tidak berguna aku akan menaruhnya ke dalam drum kosong dan memukulnya dengan tongkat besi dari luar.)”
Saat mereka saling bergumam tanpa didengar oleh yang lainnya, dua orang itu mulai bekerja di lantai tiga.
Wanita tua itu sedang mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan sistem.
Kokpit Object (dan pendorong darurat) terletak di bagian belakang dari tubuh bulatnya. Tidak ada yang mau memikirkan hal ini, tapi sang pilot Elitee akan diluncurkan ke atas dengan arah diagonal dari bagian belakang jika berada dalam keadaan darurat.
Saat itu, puluhan palka pelindung dibuka untuk membuat jalan masuk ke dalam bola itu dan cahaya monitor di dalam kokpit itu terlihat bercahaya seperti di dalam terowongan. Terowongan itu bukan hanya jalan menuju ke dalam kokpit tapi juga sebagai jalan bercabang untuk masuk ke berbagai ruang lain seperti ruang perawatan reaktor, pintu berlapis dua di mana bahan bakar cadangan berada, atau ruang untuk mengganti kotak dimana gas sisa dikompres dan disimpan. Lorong ini mirip seperti terowongan subway yang terbuat dari beberapa lapisan dan rel yang mudah berganti.
Sementara itu, wanita tua itu bersandar di pagar besi dekat terowongan dan melihat suatu alat di tangannya.
“Itu terhubung langsung dengan sistem nirkabel Object bukan? Kalau tidak membutuhkan kabel panjang untuk menyambungkannya, kenapa kita harus membuka semua pelindung sampai ke dalam kokpit?”
“Dasar bodoh. Pelindung Object menutup semua sinyal elektromagnetik. Kalau tidak, Object musuh bisa mengacaukan sistemnya di tengah pertempuran.”
Tiba-tiba secercah cahaya berwarna putih kebiruan melintas di sudut mata mereka, membuat mereka berdua terdiam. Orang tua lain sedang mengerjakan zirah Object.
Tubuh utama dari Object sendiri memiliki tinggi 50 meter, tapi bagian utama itu tidak terbuat dari lelehan besi semata yang dibuat secara sembrono. Lapisan logam seperti tatami yang bengkok disiapkan dan sebanyak puluhan, ratusan, ribuan, bahkan puluhan ribu dari benda itu digabungkan untuk menciptakan bola besar ini.
Tujuan utama dari lapisan sebanyak ini lebih untuk memecah dan menyebarkan sebuah tekanan daripada membuat sebuah dinding pertahanan yang tebal. Teorinya hampir sama dengan rompi anti peluru, tapi bedanya monster ini menggunakan lapisan logam yang bahkan bisa menahan tekanan serangan nuklir.
“Ini disebut zirah bawang bukan? Bukan hanya kekuatannya, tapi lapisannya juga bisa diganti jika Object musuh menyerangnya. Siapa pun yang mengeluarkan ide ini seharusnya mendapat sebuah penghargaan Nobel.”
“Memang terdengar sederhana, tapi setiap lapis dari zirah ini dibuat khusus dan ditempa oleh seorang pandai besi handal seperti pengrajin katana dari Jepang.”
“Logam panas itu memiliki beberapa miligram bubuk mesiu yang ditambahkan saat ditempa bukan? Dari yang kudengar cara itu membuatnya kuat, tapi sangat sulit untuk didaur ulang.”
“Semua ini berkat penempa besi itu. Senapan mesin saja tidak bisa merusaknya, bahkan membuatnya rapuh.”
Quenser dan wanita tua itu melihat ke bawah dari jalan masuk saat sebuah forklift membawa lapisan logam itu dari bawah. Forklift itu memiliki tulisan “Kemenangan Paling Indah bagi Putri Milinda!!” tertulis di bagian samping dengan bahasa Inggris.
(Itu putri yang tadi.)
Saat Quenser sedang berpikir, wanita tua itu berkata padanya.
“Sejujurnya, aku lebih terkejut dengan mekanisme dari arus listrik yang disediakan reaktor itu dari pusatnya dan menyediakan tenaga untuk meriam laser di permukaan luar benda ini tanpa menggunakan satu kabel pun.”
“Benda ini menggunakan tenaga listrik dari papan sirkuit, kan? Dengan mengatur sekatan material dan material konduksi di satu tempat dan membakarnya di pelat logam, tenaga bisa disuplai tanpa harus mengurangi pertahanannya dengan membuka lubang palka zirah untuk kabelnya. Orang yang memiliki ide ini seharusnya mendapatkan penghargaan Nobel juga.”
“Benar-benar, bocah. Kau membuatnya terdengar begitu mudah.”
Wanita tua itu menganggukkan kepalanya. Di saat yang sama, dia mengeluarkan perangkat lunak Object dengan tangannya yang lincah menggunakan peralatan di tangannya.
Saat dia melanjutkan pekerjaannya, dia menanyakan sebuah pertanyaan kepada Quenser.
“Jadi kau berharap menjadi seorang insinyur senjata?”
“Eh? Oh, tentang keinginanku menjadi seorang desainer Object. Yah, kalau buatku sih yang penting bisa mendapatkan posisi yang bagus dan kekayaan seumur hidup. Selama bisa mendapatkan status sosial dan kekayaan, aku bisa melampaui semua orang yang berada di status yang sama denganku.”
“Kau tidak akan bisa mendapatkan kehidupan yang layak jika tidak menjadi seorang pedagang. ... Yah, itu hidupmu bocah, jadi aku tidak akan menghentikanmu. Jadi apa yang kau pikirkan dengan pengalamanmu di lapangan sebagai insinyur senjata?”
“Aku rasa aku ingin memulai dengan membongkar frame utamanya.”
“Dasar bodoh. Tidak ada orang baru yang bisa mengambil semua pekerjaan di satu object. Kau seperti berkata impianmu menjadi seorang miliuner. Kau terlalu berkhayal. Bukankah murid sepertimu mulai belajar dengan sesuatu yang mudah seperti replika Object, mendapat pekerjaan di kontraktor pertahanan, dan belajar hal yang lebih kompleks di sana?”
“Yah, aku tidak begitu nyaman dengan replika itu.” mungkin dia merasa agak berat di pikirannya, karenanya Quenser membuat ekspresi yang tidak menyenangkan. “Replika itu bergerak dengan mencontoh pergerakan hewan dan serangga, dan aku tidak menyukai laba-laba atau kecoa atau serangga lainnya. Meski hanya menElitei tentang serangga, aku rasa penEliteian seperti itu tidak berguna untukku.”
“Dasar pengecut. Kau akan menyesal jika kau tak mempelajari dasar dari semua ini.”
“Aku ingin mempelajari Object dengan fitur standar seperti yang putri itu gunakan di medan perang supaya aku cepat mengerti tanpa harus melewati tahap-tahap menyebalkan itu.”
“Memangnya kau pikir kenapa para penguasa itu membangun kebun binatang dan museum serangga di kota-kota besar? Mereka menghabiskan uang pajak orang-orang untuk memberikan inspirasi kepada para pemuda yang akan menjadi desainer Object.”
Wanita tua itu mendesah.
Quenser melihat ke jalur terowongan ini yang mengarah menuju kokpit.
“Ngomong-ngomong tentang masa muda, bukannya ini saat buat pilot... atau apalah itu, pemilihan para Elitee? Saat aku masih belajar di negara yang aman, pejabat pemerintah yang mengenakan pakaian serba hitam datang dan berkeliaran di sekolahku.”
“Mereka melakukannya empat kali dalam satu tahun, tapi mereka tidak akan menemukan yang berkualitas seperti tahun ini.”
“Elitee harus menguasai Elemen bukan? Apa itu?”
“... Itu adalah sebutan umum untuk kondisi seorang pilot Object yang harus dikuasai.” Jari wanita tua itu berhenti menggerakkan alat di tangannya dan nadanya terdengar dingin. “Beberapa bilang jika itu adalah semacam kekuatan Esper yang membuat mereka bisa mengoperasikan benda-benda tertentu. Yah, ada yang bilang kekuatan itu ada pada diri seseorang sejak mereka lahir, tapi Elitee adalah proyek militer yang telah melalui pengadaptasian oleh para pejabat militer itu. Dengan metode penciptaan mereka, masalah yang paling besar adalah masalah hak asasi manusia daripada masalah kekurangan uang atau peralatan.”
“Maksudmu...?”
“Mereka yang terpilih secara otomatis akan kehilangan hak kemanusiaannya, tapi tak pernah ada yang mengeluh soal itu karena para Elitee memilih bertarung untuk negara mereka bahkan setelah melalui percobaan seperti itu. Orang-orang seperti itu bukan orang biasa.... Para Elitee tumbuh dan berkembang dengan mempiloti Object, senjata paling mutakhir, dan akan menjadi masalah jika mereka melawan negara mereka sendiri.”
Mereka mendengar suara mekanika dan wanita tua itu berbisik. “Jangan berbicara dengannya.”
Sebuah kursi keluar dari terowongan itu menggunakan elevator kokpit. Putri Elitee itu duduk dengan tubuh bagian atasnya yang terpasang sabuk yang membentuk huruf H.
“Jadi akhirnya kau sampai juga, tukang tidur.”
“Aku minta maaf. Aku tidak menyangkalnya.”
“Ini, bocah, aku punya pekerjaan untukmu. Periksa kursi pelontar otomatis ini. Tak ada orang yang mengerjakan bagian ini karena orang bilang kalau ini adalah pertanda buruk.”
Di berbagai usia, pekerjaan seperti ini pasti diserahkan kepada para amatir. Para amatir harus mengerjakan pekerjaan ini, pekerjaan yang tidak berguna sambil melihat para profesional bekerja di sudut matanya.
Quenser berbalik ke posisi di belakang gadis itu dan mulai bekerja.
“Berbicara mengenai mitos, kenapa Object harus berwarna putih? Atau ini karena kamuflase di dalam salju?”
“Pertamanya memang seperti itu,” kata gadis itu.
“Tapi raja hutan yang tidak memiliki musuh alami tidak perlu bersembunyi, dan biaya pengecatan menjadi mahal, jadi ini hanya ‘putih’. ... Tambah lagi monster setinggi 50 meter ini tidak bisa disembunyikan begitu mudah.” Tambah wanita tua itu.
“Heeh. Ini tidak ada hubungannya dengan soal replika yang tadi kita bicarakan, tapi aku dengar rumor bahwa musuh membuat proyek untuk menjadikan Object seperti hewan buas atau serangga.”
“Ada juga rencana untuk membuat mode yang sangat buruk di mana benda ini terus membuat suara yang berisik dari gir yang saling bergesek. Tidak ada rencara yang benar-benar bagus.”
“?”
“Musuh bukan satu-satunya yang bisa melihat Object. Bagaimana kalau prajurit kita yang melihat Object itu ketakutan karena desainnya yang menakutkan dan menurunkan semangatnya; dan saat kita melakukan parade militer di tengah kota dengan desain yang menakutkan itu.”
“Begitu ya,” jawab Quenser. “Lalu bagaimana dengan sebuah sabit yang menggantung di atap dan digantungkan pada sebuah tali itu?”
“Itu simbol keberuntungan tradisional.”
“Itu memberikan kita kemenangan,” sela gadis itu.
Saat dia mendengarkannya, Quenser melanjutkan menggerakkan kunci inggrisnya.
Dia mendengar suara klik dan gadis itu menganggukkan kepalanya seolah dia mau menceritakan hal lain tentang jimat pembawa keberuntungan. Quenser melihatnya dengan penuh tanda tanya dari balik tempat duduk di balik kepala gadis itu.
“Aku tidak bisa bernapas.”
“Sial! Dasar bodoh!! Jangan main-main dengan sabuk itu!! Sabuk itu mencekik Putri!!”
“Apa!? Apa aku melakukan sesuatu yang salah!?”
“Aku tidak bisa bernapas,” ulang si gadis.
Quenser dengan panik mengambil alatnya lagi, tapi dia tidak apakah itu akan memberikan efek ke sabuk itu.
Perempuan tua itu lari ke elevator kecil.
“Aku akan mengambil pisau!! Bocah, kau tangani dia dulu! Tarik sabuknya untuk memberikan celah agar gadis itu tidak pingsan saat aku kembali nanti.”
Saat Quenser masih berada dalam keadaan panik, perempuan tua itu sudah pergi.
Dia dengan cepat mengitari kursi itu dan berdiri di depannya.
“A-aku minta maaf!”
“Tidak apa-apa... tapi lakukan sesuatu.”
“Oke!!”
Quenser melakukan apa yang disuruh perempuan tua itu tadi untuk menarik sabuk itu untuk menahan gadis itu agar tetap sadar.
... Tapi desain sabuk berbentuk H itu masuk terlalu dalam ke dalam dada perempuan itu yang membuat dadanya terlihat kencang.
“Umm...”
Jari Quenser tertahan entah karena apa.




Untuk memegang sabuknya, dia harus menyangkutkan jarinya ke bawah sabuk itu, tapi dia harus masuk ke dalam celah payudara gadis itu.
(Meski tubuhnya seperti anak kecil, dia punya bagian yang menonjol di sini...)
Saat pikiran tidak berguna itu terus berkutat di dalam pikiran Quenser, dia mendengar suara pelan gadis itu.
“... Aku akan mati.”
“!?”
Itu benar. Dia tidak boleh ragu di saat seperti ini.
(Aku akan menyelamatkan nyawa seseorang di sini. Ini serius. Aku mengacaukannya. Aku harus siap untuk hal ini. Tapi itu adalah payudaranya. Tidak, tidak, masalahnya bukan di sini. Aku harus tetap serius. Kalau aku tidak cepat, nyawanya dalam bahaya. Aku harus menyelamatkannya. Aku perlu melakukan sesuatu untuk putri ini. Ini payudaranya!!)
“Ooohhhhhhhh!!”
Saat dia telah siap untuk kondisi ini, Quenser meraih dada gadis itu dengan menghilangkan semua beban pikiran di kepalanya.
“Ee...!?”
Sang putri menjerit dengan suara memekik seperti seekor binatang kecil dan Quenser kemudian berhenti.
(Tidak bagus. Bukannya melihat sabuknya, aku malah melihat dadanya. Aku tidak mungkin meraba dadanya dengan nafsu saat aku membuatnya begitu takut kehilangan keperawanannya. Tapi apa yang harus aku lakukan? Bisakah aku menyelamatkannya tanpa harus menodainya!?)
“Penanganan... darurat...,” kata putri itu dengan wajah yang semakin pucat dan pucat.
“Apa? Kau punya ide!?”
“Ya... tapi...”
Saat dia mau mengatakannya, gadis itu menekan sebuah tombol dibalik kursinya.
Segera setelah itu, kursi itu meledak.
Sabuk berbentuk H yang mengikatnya kuat itu tadi secara otomatis mengendur dan kursinya terbang ke langit. Namun, Quenser tidak hanya bisa melihat saja. Udara bertekanan tinggi yang dikompres menghempas begitu kuat meluncurkan Quenser beberapa meter ke udara.
Quenser mendarat dengan berguling di landasan pacu dan dia melihat sebuah bunga putih di pojok matanya.
Itu adalah parasut darurat.
Normalnya, elevator berkecepatan tinggi akan membawanya dari kokpit menuju bagian luar, kursi itu akan dilontarkan ke udara, dan akhirnya udara bertekanan tinggi di seragam gadis itu akan aktif pada tahap ketiga. Namun, dia hanya melakukan tahap ketiga saja yang membuatnya terbang ke atas langit-langit.
(Pelontar darurat itu benar-benar membawa sial.)
Saat dia berguman di dalam hatinya, Quenser mendengar sebuah suara.
“Ini adalah pertama kalinya aku melakukan hal ini.”


Bagian 7
Saat matahari sudah tenggelam, saatnya untuk makan malam.
Daripada pergi menuju aula, Quenser menuju tempat dimana salju turun. Dia akan mengadakan barbekyu malam ini. Karena Heivia sudah menangkap seekor rusa, tentu saja dia akan ikut, dan sepertinya atasan mereka, Froleytia, juga akan ada di tempat itu dengan alasan dia sangat peduli dengan keadaan bawahannya.
Semua orang merasa bosan karena semua urusan tentang perang telah diserahkan kepada Object sendiri. Kalau mereka menawari acara ini ke orang lain, mungkin 800 orang tentara yang ada di sini juga akan ikut, tapi Froleytia bilang bahwa acara ini adalah acara pribadi khusus untuk mereka bertiga saja. Lagi pula mereka hanya memiliki daging yang terbatas.
Dan akhirnya mereka bertiga memulai acara barbekyunya.
Mereka membuat acara ini di luar markas area perawatan.
Zona markas ini tidak lebih dari kumpulan beberapa kendaraan besar dan mereka secara sembunyi-sembunyi berkumpul di sebuah tempat kosong yang dikelilingi fasilitas ini di semua sisi jadi angin dingin tidak akan menganggu mereka. Di sini, mereka membuat sebuah api unggun dan meletakkan pelat besi di atasnya.
Froleytia, atasan mereka, adalah orang pertama yang datang ke tempat ini dan sedang menghangatkan tangannya di api yang dia buat. Dia mungkin adalah orang yang sangat mengharapkan acara api unggun ini.
“Bahkan ketika aku menghangatkan diriku, udara dingin masih terasa. Aku perlu makan makanan berlemak agar tubuh bagian dalamku juga merasa hangat.”
Quenser melongok ke kaki Froleytia.
“Bukannya memakai stocking lebih hangat dari pada melepasnya?”
“Apa kau ingin aku memakaikan stoking ini di kepalamu supaya kamu bisa tahu, Quenser? Stoking ini cuma untuk penampilanku saja. Tidak lebih. Memangnya aku memilih stoking ini supaya aku tidak merasa dingin, begitu? Aku iri dengan kalian yang selalu memakai celana panjang itu seharian,” kata perempuan dengan rok ketat itu sebelum berbalik melihat Heivia. “Kerja bagus Heivia, Berkatmu, sekarang landasan ini bisa dipakai untuk lepas landas kapan saja. Aku yakin grup STOL dari unit angkatan udara juga berterima kasih padamu.”
“Heh heh. Tidak masalah buatku.”
“Tapi angkatan udara itu memang sangat tidak berguna. Para pengecut itu mengeluarkan semua senjata mereka dari pesawatnya dan mengaku agar bisa menambah kelincahan dan kesenyapannya. Aku yakin kalau mereka semua itu takut ditembak oleh musuh jika dilihat membawa senjata dan dianggap sebagai musuh. Mereka semua dengan bangga mengaku kalau mereka spesialis di bidang intelijen, tapi hampir semua informasi Object yang ada didapat dari pertarungan sang Putri.”
“Berengsek!! Aku sudah merasa kalau pekerjaanku ini sia-sia, tapi yang lebih membuatku kesal lagi adalah ketika aku mendengar kalau pekerjaan ini benar-benar sia-sia!! Dan dari yang kudengar, salju akan turun lagi besok pagi!!”
“Yah, masa-masa pesawat tempur juga sudah berakhir ketika Chemical Oxygen Iodine Laser mulai dipasang di pesawat-pesawat bomber. ... Unit itu terlalu besar untuk dipasang di pesawat tempur. Saat cahaya sudah terlibat, terbang dengan kecepatan suara sudah bukan masalah lagi. Dan kemudian Object muncul. Mereka memiliki beberapa jenis laser. Mereka bisa menembaknya di semua arah dan sisi. Sangat sulit untuk melawan serangan seperti itu dengan pesawat tempur biasa. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan angkatan udara sekarang adalah mengantar pizza dari wilayah negara aman sebelum pizza itu dingin.”
“... Panjangnya 700 meter. Aku membersihkan landasan pacu sepanjang 700 meter itu sendirian dengan tenagaku sendiri!!”
Saat Heivia masih penuh dengan rasa marah, Froleytia merasa cukup dengan mendengar suara Heivia dan berpura-pura tidak melihatnya. Ia kemudian berbicara kepada Quenser dengan suara yang lebih bersahabat dibandingkan pada saat dia memberikan perintah para bawahannya.
Omong-omong, aku dengar kamu mengobrol dengan sang putri di luar wilayah markas,” tanya atasan super cantiknya itu yang dengan hati-hati merawat kukunya walau dia sendiri berada di garis depan.
Suaranya terdengar seperti hal ini lebih penting daripada kenyataan bahwa Quenser telah melanggar perintah.
“Umm, apa itu masalah? Aku berbicara dengannya beberapa kali di bagian perawatan, jadi aku hanya berinteraksi dengannya seperti biasa. Apa aku harus menegaskan lagi soal posisi kami?”
“Aku tidak ada masalah dengan itu. Dan kudengar, pihak medis memberikan dia ransum yang lebih buruk dari milik kita yang katanya membantu tubuhnya agar tidak menderita, tapi kalau menurutku hal itu malah membuatnya tambah stres karena harus makan makanan yang sangat buruk itu setiap saat.”
“Bukannya Putri Elite itu memiliki gedung rekreasi khusus? Dari yang kudengar, tempat itu memiliki peralatan penyembuh digital,” kata Heivia dengan bahasa yang begitu sopan yang jarang sekali dia gunakan sehari-hari.
Froleytia mengambil sepotong bagian daging rusa yang lembut dengan sumpit yang dia gunakan karena obsesinya dengan Jepang.
“Barang-barang seperti itu menghabiskan banyak uang, tapi tidak ada keuntungan yang bisa diambil. Apa kau pikir kau bisa bersenang-senang dengan materi pelajaran yang diberikan oleh gurumu di sekolah? Sepertinya, sang putri sudah pernah sekali ke tempat itu dan tidak pernah kembali ke sana lagi.”
“Jadi begitu ya,” jawab Quenser saat dia teringat akan perbincangannya dengan sang putri di awal hari tadi.
Dia tidak bisa membayangkan apa yang bisa membuat gadis itu tersenyum.
Itu adalah gadis yang berkata padanya bahwa mungkin dia tidak bisa memenangkan pertempuran berikutnya.
Saat kalimat itu menguap di pikirannya, Quenser bertanya, “Apa dia pernah sekali kalah, Froleytia?”
“Ya,” dia langsung membenarkannya sambil berangan-angan kalau ada bir yang bisa dia minum sambil memakan daging ini. “Aku sudah kalah 3 kali saat mengomando unit dari jauh dan sekali dengan unit yang aku tempati. Itu sangat buruk. Kritik yang datang saat aku pulang lebih buruk dari yang aku bayangkan. Tapi aku tidak terlalu terkejut karena aku kehilangan senjata yang digunakan untuk rencana strategi nasional.”
“Eh? Object itu bersinonim dengan perang, bukan? Apa yang kau lakukan ketika pihak musuh menghancurkan Objectmu? Aku ragu kau bisa melawan balik dengan tank dan pesawat,” tanya Heivia dengan rasa penasaran.
“Sederhana. Kau mengibarkan bendera putih.”
“Hah?”
“Perang saat ini sudah bukan perang habis-habisan. Saat Object musuh sudah hancur, pemenang sudah bisa ditentukan. Dan sang pemenang tidak perlu capek-capek mengejar unit infanteri yang berlarian ketakutan. Tidak pernah ada perjanjian yang pernah dibuat untuk menyatakan penyerahan, tapi salah satu fakta perangnya adalah bahwa tidak perlu ada lagi pihak yang perlu melawan balik. Saat sebuah unit mundur dan menyerahkan wilayahnya, tidak perlu lagi membuat masalah semakin rumit dengan mengejar mereka sampai musnah.”
Melihat mulut yang terbuka dari kedua prajurit tersebut, Froleytia tersenyum ramah.
“Ha ha. Aku mengerti kalau kalian terkejut dengan hal itu. Saat mereka melatihmu, mereka tidak ingin menurunkan tekanannya, jadi mereka tidak pernah membicarakan masalah itu denganmu. Tapi lihat aku, aku bergabung dengan militer sejak umur 13 tahun dan aku telah terjun dalam berbagai penyerangan, tapi aku sama sekali tidak memiliki bekas luka sedikit pun. Untuk menghindari kematian yang tidak diperlukan, kita menggunakan Object yang mengumpulkan semua kekuatan militer menjadi satu daripada menyebarkannya. Kulitku yang cantik ini menunjukkan sebuah ‘medan perang yang aman’.” Froleytia memutar sumpitnya sedikit. “Apa kau tahu alasan pertama kenapa seorang tentara dikirim kembali ke tempat mereka berasal bukan karena tertembak oleh musuh atau menginjak ladang ranjau? Sebenarnya alasan pertama mengapa banyak yang dipulangkan adalah pertengkaran antara laki-laki dan perempuan. Di medan perang modern, kau harus lebih khawatir dengan masalah asmara daripada peluru. Bukankah tempat ini sangat damai?”
Quenser setuju dengan pendapat Froleytia tapi kemudian dia memiliki sebuah pertanyaan yang muncul di benaknya.
“Tunggu, tapi Froleytia, bukannya kau melancarkan serangan meriam ke arah markas musuh dengan menggunakan Object milik sekutu kita di pasifik pagi tadi?”
“Kau memiliki ingatan yang bagus, Quenser. Itu bukanlah perang melawan pasukan negara lain. Perang melawan gerilyawan dan teroris tidak lebih dari sebuah perlawanan bagi kita. Jadi operasi seperti ini tidak dihitung sebagai perang. ... Dengar dan ingat ini. Rencana paling efisien dalam operasi seperti ini adalah dengan menggunakan Object. Negara-negara besar memerlukan pasukan dengan kekuatan untuk menekan pihak-pihak yang melawan.”
Saat percakapan ini merusak rasa makanannya, Quenser memutuskan untuk mengganti tema pembicaraan mereka. Tema yang lain yang muncul selain Object adalah dengan membicarakan makanan yang sedang mereka makan saat ini.
“Jadi apakah tentara dilatih untuk berburu? Aku hanya berada di tingkatan di mana aku hanya bisa menangkap seekor salmon dalam 3 jam.”
“Senapan modern tidak hanya memiliki teropong. Mereka juga memiliki kamera inframerah dan mikrofon untuk mencari musuh. Dengan itu, kau bisa mencari dan melacak targetmu dalam berbagai cara. Sebenarnya sih aku pasti bisa mendapatkan sesuatu di luar sana bahkan jika hanya memiliki tongkat pancing saja. Meskipun sebenarnya produksi senapan sendiri merupakan pemborosan pajak karena semua pertarungan dan perang diserahkan kepada Object.”
Froleytia kemudian berbicara sambil menunjukkan dirinya yang sangat handal menggunakan sumpit.
“Asal garis suplai tidak terpotong, kita akan terus mendapat makanan dari negara kita. Dan markas ini tidak akan bisa diambil selama kita memiliki Object di tangan kita. Bahkan jika aku adalah prajurit baru, mereka tidak selalu melatih kita untuk berburu binatang. Setidaknya, itu bukan keterampilan yang dibutuhkan seorang insinyur perang.”
“Insinyur perang...hm? Aku tidak terbiasa dengan istilah itu.”
“Manajemen dari markas ini tergantung dari pajak. Jika kita tidak memberikan pekerjaan kepada para murid yang selalu menganggur, itu bisa mempengaruhi suara yang didapat dari para politisi itu. puncak dari pemilihan umum sudah dekat di negara kita dan Konselor Flide mulai khawatir.”
Ada banyak jenis dari insinyur perang, tapi yang dibicarakan oleh Quenser dan yang lainnya adalah tentara yang menangani ledakan. Namun, mereka tidak terlalu profesional dalam hal tersebut terutama untuk membunuh tentara lawan. Maka dari itu, mereka menggunakan kemampuan itu untuk menghancurkan jembatan dan menghancurkan jalur musuh atau meledakkan batuan untuk menghalangi jalan lawan.
Untuk murid yang penuh dengan pengetahuan yang tidak lazim dan tidak memiliki keberanian untuk menembak seseorang, peran ini sangatlah sempurna. Ada juga kursus untuk menjadi tenaga medis, tapi Quenser lebih akrab dengan mesin daripada benda hidup.
“Tapi markas kita kan adalah sebuah pangkalan wahana, jadi kita bisa membangun markas kita di manapun kita inginkan, dan kita juga memiliki Object. Tidak banyak yang bisa dilakukan bagi insinyur perang seperti kami.”
“Itu bukan hanya untuk insinyur perang. Hal itu juga sama saja bagi semua tentara di markas,” kata Froleytia saat dia menggunakan sumpitnya untuk mengambil potongan kecil salmon. “Sial, ini adalah dunia yang sangat damai. Rasanya pistolnya berkarat lebih cepat dan aku cepat jerawatan karena terlalu banyak nutrisi yang aku makan.”
“Aku tahu. Selama kita memiliki Object, kita aman. Setelah tiga tahun di markas ini, aku telah memiliki tiket untuk penghargaan yang menungguku di rumah dan Quenser bisa kembali ke rumahnya untuk menjadi sarjana terkemuka di sana,” kata Heivia dengan senyum saat dia menepuk Quenser di bahunya.
“Bocah seperti kalian membuatku iri,” ejek Froleytia, tapi dia sama sekali tidak cemburu terhadap mereka. dia lebih memilih dipromosikan sebagai seorang pejabat politik setelah lepas dari kemiliteran.
“Yah,” kata Quenser. “Selama kita memiliki Object, bahkan orang lemah seperti kita bisa ikut berperang di dalam perang.”
Kata-kata Quenser menyiratkan satu-satunya kebenaran di muka bumi ini.
Itu benar selama mereka memiliki Object.

Bagian 8
Di hari berikutnya, mereka akan tahu.
Mereka akan tahu neraka macam apa yang menunggu mereka yang dimanjakan oleh kedamaian yang ditawarkan oleh Object yang menghancurkan Object musuh.
Froleytia sudah mengatakan bahwa mereka tinggal menunjukkan bendera putih jika mereka kalah…
Namun, dia juga telah mengatakan hal lain.
Tidak pernah ada perjanjian yang dibuat secara formal untuk aturan itu.

Bagian 9
Sebuah ledakan memecah langit Alaska.
Object tak terkalahkan yang sedang bertarung dalam jarak 10 km jauhnya di dalam badai salju itu mulai mengeluarkan asap hitam dan berhenti bergerak. Melalui teropong, terlihat kalau kursi pilot terlempar keluar dan dengan perlahan mengambang turun ke dalam tumpukan salju dengan parasutnya.
Dan...
“...”
Suara tidak mengenakkan yang menggema di perut Quenser mencapai telinganya bersama dengan angin. Simbol keamanan mereka, Object, telah meledak dan dikalahkan oleh Object lawan.
Tubuh utamanya adalah sebuah benda bulat dengan zirah yang tebal. Di empat arah bagian tubuhnya, terdapat empat kaki seperti serangga yang memanjang sampai ke tanah. Senjata utamanya adalah dua meriam plasma berkeseimbangan rendah, dengan panjang 50 meter. Setelah gas khusus dimasukkan ke dalam meriam itu, sebuah tenaga raksasa dari reaktor buatan membuat sebuah tembakan plasma yang langsung menembak. Dua pasang meriam itu terpasang di sisi depan, belakang, kiri, dan kanan, membuat sebuah salib horizontal yang membuatnya bisa menembak dari segala arah. Total ada 8 meriam. Tubuh bulat dan empat kaki dengan sinar laser yang tak terhitung, railgun, dan coilgun, semua berjumlah 100 di seluruh sisi Object.
Tubuh utamanya sendiri tingginya 50 meter dan meriam itu memiliki panjang yang sama dengan panjang Objcet memberikan total panjang yang lebih dari 140 meter. Benda bermassa satu gunung itu dengan perlahan mengarahkan meriam anjungannya ke arah yang diinginkan. Dua pasang meriam plasma berkeseimbangan rendah itu mampu melelehkan bunker nuklir yang ditanam di dalam tanah dengan sekali tembakan.
“....Hey,” kata Heivia yang tiba-tiba saja berdiri kebingungan di depan Quenser. “Kenapa benda itu mengarahkan senjatanya ke arah kita? Kalau Object kita kalah, kita tinggal mengangkat bendera putih dan semuanya akan selesai kan? Itu yang Froleytia bilang kan!? Lalu kenapa!? Ini bukan hal yang santai. Cepat dan kibarkan bendera putih sialan ituuuuuuuuuuu!!”
Quenser melihat radio yang sejak awal menjadi masalahnya.
Dia bisa mendengar sinyal yang terputus-putus.
Itu mungkin adalah versi digital dari bendera putih.
Froleytia pasti telah mengikuti perjanjian yang telah dia katakan untuk mengakhiri pertempuran itu. Dia pasti telah berpikir cepat untuk mengurangi angka korban yang terluka dan angka prajurit yang kehilangan nyawanya serendah mungkin.
Namun, Object musuh sama sekali tidak berhenti.
Suara derit meriam yang sedang menyesuaikan arah tembakannya sepertinya hendak mengatakan bahwa ia tidak peduli dengan isi perjanjian itu.
“Lari...” kata seseorang.
Mungkin itu adalah suara Quenser sendiri.
“Laaaaarrrrrrriiiiiiiiiii!!”
Apakah delapan ratus tentara yang ada di dalam markas ini telah sadar?
Sebuah suara erangan dan kilatan cahaya menguasai semua indera Quenser.
Sesuatu mencoba menghancurkan tulang tengkoraknya, paling tidak gendang telinganya. Object itu tidak menembakkan peluru logam, ia menggunakan sebuah tembakan plasma berkeseimbangan rendah yang sangat kuat yang dihasilkan dari tenaga sisa yang Object itu keluarkan.
Berapa temperatur yang bisa dicapainya?
Sebelum dia bisa memikirkan hal itu, rasa pusing membuatnya merasa terbang.
Sebuah tembakan laser dari salah satu meriam plasma itu menghancurkan mobil markas yang tidak jauh dari Quenser. Kendaraan yang membentuk markas perawatan bagi Object, yang menjadi markas terbesar di markas Alaska itu besarnya lebih dari 100 kendaraan pembentuk zona markas, dan salah satunya menjadi tidak berbentuk seperti patung gula sebelum meledak seperti gunung berapi yang akan meletus.
Ledakan itu melempar Quenser ke dalam tumpukan salju.
Bahkan ketika tertimbun di dalam salju yang berada di bawah nol, tubuh Quenser tetap terbungkus di dalam keringat.
“Apa...?”
Dia bahkan tidak bisa mendengar suaranya sendiri.
Dia begitu keras berusaha untuk mengecek apa yang terjadi di luar sana meskipun ia kehilangan setengah kemampuannya untuk melihat dan entah kenapa ia masih utuh. Meriam plasma berkeseimbangan rendah tersebut pasti menembak lurus saat mengeluarkan pancaran sinar yang panas itu karena meninggalkan jejak yang dalam di salju.
(Apakah panasnya sangat hebat... hingga melelehkan salju... dan menimbulkan ledakan bawah tanah?)
Sangat mungkin jika bahkan logam-logam itu meleleh dan menancap di dalam tanah.
Saat Quenser masih linglung di salju ini, seseorang meraih tangannya.
Itu adalah Heivia – dengan matanya yang berwarna merah darah – nafasnya terdengar berat.
“Hey, kita harus keluar dari sini.”
“... Apa...”
“Kita harus keluar dari sini!! Object kita sudah kalah dan Object mereka sama sekali tidak rusak!! Kita tidak akan bisa melakukan sesuatu bahkan jika kita memiliki 100 tank. Kalau kita tidak keluar dari sini, kita akan dibantai seperti semut!!”
Melarikan diri.
Arti tersebut akhirnya sampai di telinga Quenser.
Saat dia melihat sekitarnya, dia melihat tentara yang lain mulai mengambil aksi. Markas tersebut terdiri dari 100 kendaraan yang sangat besar. Tentara-tentara tersebut memanjat dan melompat dari satu kendaraan ke kendaraan yang lain dan mobil-mobil yang ada mulai memecah formasi mereka karena panik.
Suara teriakan terdengar dari semua arah.
Tidak ada tentara satu pun yang berkata mengenai melawan.
“Sial!! Kirim semua UAV! Pancing Object itu agar tidak mengejar kita!!”
“Apa kita harus mengatur jalan keluar kita!? Apa ada celah sempit gunung yang tak bisa dilewati makhluk setinggi 50 meter!?”
“Apa kita memiliki memiliki persediaan sekam dan suar!? Bahkan jika kita tidak bisa melawan, kita masih bisa membuatnya tidak bisa melacak kita...!!”
Karena mereka adalah tentara sungguhan, mereka tahu bahwa sia-sia berpikir untuk melawan Object secara langsung.
Saat Quenser melihatnya, Quenser bertanya dengan kosong ke Heivia.
“Lari... tapi ke mana?”
“...!!”
Ekspresi Heivia lebih terlihat seperti takut daripada marah.
Keadaan ini seperti mendengar betapa putus asanya situasi yang kita rasakan dari seseorang, membuat kita kembali merasakan trauma yang sangat dalam.
Setelah itu, mereka mendengar suara yang mereka kenal.
Melihat ke arah lain, mereka melihat Object dengan diameter 10 kilometer mendekati mereka seperti sedang meluncur. Ia tidak bergerak dengan menggunakan ban seperti mobil. Ia bergerak dengan menggunakan dorongan yang kecil seperti water strider, bergerak secara halus di permukaan tanah dan lereng curam permukaan gunung. Ia bergerak tanpa menghiraukan medan yang dilalui seperti cahaya lampu yang bergerak di tanah.
Suara berfrekuensi rendah seperti cahaya kilat yang begitu dekat tertinggal di telinga Quenser.
(Oh, sial. Jadi benda itu menggunakan cara yang sama dengan milik Putri...!)
Saat seluruh kendaraan markas mereka mulai pergi meninggalkannya, Quenser hanya berdiri di situ, linglung di tengah salju.
Object itu mengambang di atas tanah menggunakan tenaga listrik statis. Beratnya lebih dari 20 ton, tapi reaktor yang ada di dalamnya lebih bersih dan lebih kuat daripada reaktor nuklir. Benda itu menggunakan tenaga listrik statis untuk membuatnya mengambang.
Bau yang samar dan khas mencapai di hidung Quenser. Sepertinya, Object itu menyemprotkan material yang menolak tenaga listrik monster itu. Pada umumnya, semprotan itu akan hilang setelah beberapa hari dan dibuat tidak berbahaya untuk tanaman dan binatang, tapi bagi Quenser baunya lebih buruk dari darah.
Benda raksasa yang bergerak di atas permukaan tanah dengan cara meluncur seperti itu sangat aneh.
Konvoi markas itu mencoba melarikan dengan melalui celah di antara dua gunung.
Dengan suara seperti kilat, Object itu bergerak mencoba mendahului konvoi itu dan bergerak lewat tepat di sisi diagonal dari salah satu gunung. Kemudian pindah ke dalam jalur dalam lembah untuk memblokir jalan mereka.
Jalan kabur ditutup hanya dalam 20 detik.
“Sial!! Keluar dari sini!!” teriak Froleytia.
Segera setelah itu, Object setinggi 50 meter itu melepaskan tembakan meriamnya.
Tidak, lebih dari itu.
Object tidak hanya memiliki meriam plasma berkeseimbangan rendah. Object ini memiliki reaktor yang sangat bersih dan lebih kuat dari pada reaktor nuklir. Dengan meriam plasma berkeseimbangan rendah, sinar laser, railgun, dan coilgun, monster itu memiliki lebih dari 100 senjata.
Object mulai menembak.
Setiap senjata itu mengeluarkan tenaga yang sangat kuat sehingga membuat kapal tempur akan miring hanya dengan memasangnya saja dan monster itu memiliki 100 senjata seperti itu.
Tidak ada yang tahu berapa kali monster itu menembakkan senjatanya.
Ribuan dan puluhan ribu suara erangan saling bertumbuk dan berkombinasi membuat suara ledakan tunggal.
Saat konvoi markas itu memecah formasi mereka dan mencari jalan mereka melarikan diri secara masing-masing, ribuan peluru kilatan cahaya tanpa ampun menyerang mereka semua.
Dinding kendaraan itu mampu menahan tembakan langsung dari peluru normal, tapi dinding itu hancur berbarengan dengan suara hancurnya kendaraan yang seperti kertas. Berulang kali terdengar suara ledakan seperti bensin yang terbakar oleh api dan tubuh tentara yang terlempar tinggi ke udara.
Heivia dengan cepat meraih kepala Quenser dan menundukkannya di dalam salju untuk bersembunyi. Bahkan, ini merupakan sebuah keberuntungan karena serangan Object tidak menghancurkan tubuh mereka.
(… Tidak...)
Kepala Quenser sendiri masih terasa aman sementara hampir seluruh tubuhnya tidak bisa merasakan berapa suhu temperatur salju ini.
(Tidak ada yang namanya keajaiban atau kesengajaan jika berbicara mengenai Object. Sebuah Object tidak mungkin lengah dengan tidak wajar seperti ini!! Pasti ada alasan dibalik semua ini. Pasti ada alasan yang logis kenapa kita tidak mati..!!)
Quenser melirik ke arah markas mereka yang hancur terkena ledakan setelah sebuah Railgun menembaki mereka secara membabi buta seperti peluru kacang polong (meski benda itu sudah cukup kuat ketika dipasang pada pesawat Bomber). Ada beberapa prajurit yang melarikan diri dari tempat itu, tapi Object itu malah mengarahkan senjatanya pada markas yang lain.
Melihat itu, Quenser semakin terlihat bingung.




“Berengsek!! Fasilitas perawatan!!” Quenser berteriak dengan sangat keras sampai-sampai ia berpikir bahwa tenggorokannya akan lepas; ia perlu melakukan hal ini agar ia tidak pingsan karena efek ledakan itu. “Cepat pergi dari markas itu!! Mereka mengincar apapun yang berhubungan dengan Object! Kalau kalian tidak kabur dari tempat itu, kalian akan mati!!”
Saat para prajurit itu melompat dari mobil dengan keadaan terkejut, meriam plasma Object, tanpa ampun, menghancurkan markas itu sampai hancur.
Object memiliki makna yang sama dengan perang.
Tak peduli berapa banyak tank atau pesawat, kau tidak akan bisa melawan Object.
Itulah kenapa Object musuh memprioritaskan untuk menghancurkan suku cadang dan fasilitas lainnya yang digunakan untuk memperbaiki Object. Jika ada sebuah kesempatan untuk membangun kembali sebuah Object, sebuah pertarungan antara Object vs. Object akan melahirkan sebuah pertarungan yang dapat membalik hasil awalnya.
Object itu sama sekali tidak mengampuni nyawa para prajurit itu.
Dari awal, Object hanya menghancurkan apapun yang memiliki kemungkinan untuk memberikan serangan balasan. Setelah itu, Object akan menggunakan tubuh raksasa setinggi 50 meter untuk mengejar dan membantai satu demi satu manusia-darah-dan-daging itu seperti semut.
Kendaraan demi kendaraan markas itu dihancurkan satu persatu.
Walaupun mereka tahu monster itu tidak mengincar mereka, Quenser dan para prajurit lainnya dengan putus asa bersembunyi. Satu langkah yang dapat membuat salah paham dapat menghancurkan mereka kapan saja dengan mati tertimpa fragmen mobil-mobil markas itu yang beterbangan ke semua arah.
“Kita harus pergi dari sini selagi bisa,” kata Heivia saat dia meraih lengan Quenser dengan tangannya yang bergetar.
Quenser tidak mempedulikan jemari Heivia yang menggantung di lengannya. Ia tidak menunjukkan emosi apapun dan hanya mendengarkan.
“Tidak peduli ke mana, kita harus harus pergi!! Kita cukup pergi dari sini sejauh mungkin dari monster itu! Ayo lari!!”
Dia tidak sedang memikirkan sebuah strategi untuk mundur; dia sedang memikirkan sesuatu seperti melarikan diri dari sesuatu yang menakutkan.
Dan...
“...”
(Monster itu...berhenti?)
Object yang telah menghancurkan sebagian besar dari markas tiba-tiba berhenti seperti memandangi rongsokan-rongsokan itu. Hanya senjata utamanya saja yang bergerak memindahkan moncongnya secara perlahan seperti sedang mencari sesuatu.
Quenser berpikir bahwa jantungnya akan berhenti.
Sekarang, setelah benda itu menghancurkan semua fasilitas yang berhubungan dengan Object, apakah benda itu akan mulai membantai semua prajurit?
Pikiran yang paling buruk muncul di kepala Quenser, tapi dia masih tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Hal yang sama terjadi pada Heivia yang berada di sebelahnya. Mereka tahu bahwa musuh mereka adalah manusia yang memiliki otak yang sama dengan mereka dan prajurit sama seperti mereka, tapi kehadirannya seperti tak tertandingi; sama seperti naga raksasa yang melihat mereka. Rasanya seperti melakukan provokasi sederhana saja dapat membuat mereka hancur berkeping-keping dengan cakar raksasanya.
Mereka tahu bahwa Object hanya bergerak berdasarkan perintah sistematis militer, tapi Quenser dan Heivia merasa seperti hewan herbivora yang baru saja melarikan diri dari raja binatang dan hanya berdoa bahwa raja itu mau mengampuni mereka.
Dan...
Object raksasa dengan total panjang 140 meter itu menggerakkan meriam utamanya ke empat arah. Benda itu mengganti arahnya sama seperti gerakan orang yang memalingkan mukanya ke arah lain ketika seseorang menepuk pundaknya. Dengan suara seperti awan petir yang begitu dekat, benda itu kembali ke arah dari mana dia datang. Para prajurit yang berada di jalannya segera berlari untuk menghindar tapi Object itu sama sekali tidak mempedulikannya.
“Apa...?”
Quenser pada akhirnya mengangkat dirinya sendiri dari tanah dan melihat ke empat arah dari mana Object itu datang.
“Kenapa kita masih hidup...?”
Apa yang sebenarnya membedakan dirinya dengan tubuh manusia yang berserakan di tanah tempat mereka berdiri?
Quenser sama sekali bidak memiliki jawaban untuk pertanyaan itu. Heivia berbicara di dekatnya.
“Aku tidak tahu, tapi ayo pergi. Aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi kita sepertinya berhasil bertahan hidup. Kalau kita lari secepat yang kita bisa, mungkin kita bisa membuat perubahan!!”
Tubuh Heivia bergetar begitu kuat.
Quenser mengira bahwa Heivia benar, tapi dia berhenti.
Dia merasakan sesuatu di kakinya.
Sepertinya benda itu terlempar dari wahana markas. Itu adalah layar LCD. Lebarnya setara dengan kertas A4 dan memiliki kemampuan nirkabel. Benda itu mengeluarkan tanda berbintik elektronik.
Layar itu menunjukkan peta area.
Di titik tunggal itu, sebuah titik merah berkedip.
(... Sinyal pertolongan...?)
Akhirnya Quenser tersadar apa yang dimaksud dari tanda itu.
“Sang Putri!!”
Object musuh memprioritaskan semua kemungkinan yang dapat memperbaiki Object yang telah hancur. Untuk itu, dia harus menghancurkan markas itu sampai hancur dan meninggalkan para prajurit sendirian.
Kalau begitu, bukankah seharusnya musuh juga menargetkan dan memberikan prioritas tertinggi pada pilot Object yang kalah, yaitu sang putri?
“Hey, kau anak bangsawan dan tamtama satunya lagi!!” teriak Froleytia dari jarak yang tak begitu jauh.
Mereka melirik ke sana dan melihat wanita cantik dengan rambut biru keperakan membuat gerakan tubuh yang menunjuk ke arah lereng gunung.
“Kita harus menggunakan kesempatan ini untuk kabur!! Aku akan menyiapkan laporan resmi ke tingkat atas untuk melaporkan mundurnya kita dari garis depan!! Jika kita bisa melewati gunung, ada sebuah lembah yang besar. Ada jembatan suspensi di sana!! Saat kita menyeberanginya, kita bisa melarikan diri dari Object itu!! Monster itu mungkin akan mencoba menembak kita dari tepi lembah, tapi kita bisa menyebar dan bersembunyi di hutan conifer di sisi seberangnya!!”
“Tapi..”
Pandangan Quenser terbagi menjadi dua, yaitu pada Froleytia dan papan layar di kakinya.
Sejujurnya, dia merasa lega ketika dia tahu bahwa dia bisa selamat dari situasi seperti ini.
Tapi...
Apa yang akan terjadi pada putri yang masih hidup itu...?
Pikiran itu menghentikan Quenser.
Froleytia sadar tentang layar yang ada di kaki Quenser.
“Kau bodoh! Kenapa kau pikir dia mengeluarkan sinyal pertolongan itu!?”
“....?”
“Itu bukan untuk kita! Sang putri memancarkan sinyal pertolongan itu supaya musuh bisa merasakannya dan agar perhatian mereka teralihkan kepadanya!! Dia memastikan bahwa kita tidak dibunuh!! Apa kau ingin menghancurkan kesempatan yang dia buat itu!?”
Mata Quenser terbuka.
Kata-kata Froleytia menusuk dalam di hatinya.
(Apa itu benar...?)
Quenser melirik ke sekitar area itu dan melihat para prajurit yang seharusnya memiliki tubuh yang berotot dari latihan yang sangat berat dan konstan tapi mereka harus mengabaikan kemampuan mereka itu karena adanya Object. Mereka semua melihat Quenser sama seperti Quenser melihat mereka.
Mereka semua terlihat canggung.
Mereka terlihat seperti tidak mau melewatkan kesempatan mereka untuk kabur.
(Apapun yang kau katakan, dia adalah kawan kita; gadis berumur 14 tahun. Dia adalah tipe orang yang menggunakan dirinya sendiri sebagai umpan untuk menyelamatkan kita. Apa kalian serius mau meninggalkan dirinya...?)
“Kita pergi,” gumam Heivia. “Kita tidak memiliki pilihan lain!! Apapun yang akan kita lakukan, putri itu akan terbunuh, jadi kita harus kabur sebelum Object itu kembali!!”
“Sialan! Apa kau mengerti apa yang kau katakan!? Apa kau tidak berpikir apa yang akan terjadi pada sang putri jika dia tertangkap oleh musuh yang akan moralnya macam setan itu!?”
“Apa!? Apa kau mau bilang kita harus melawan Object!?”
Mendengar kalimat itu dengan nada yang tinggi membuat Quenser terdiam.
Ekspresi Heivia seperti penuh dengan rasa takut dan malu.
“Semua orang bisa duduk diam di sini tanpa melakukan apapun sambil berpikir apa yang benar dan apa yang salah!! Dan kalau kau berpikir kau bisa melawan Object itu sendirian dan menyelamatkan sang Putri, kau hebat!! Tapi nyatanya, kau tidak bisa melakukan hal itu!! Saat benda itu menangkapmu di radar mereka, kau akan hancur seperti debu dan tertiup oleh angin!!”
Heivia meraih bahu Quenser saat ia masih berpikir.
(...Berengsek.)
Dadanya yang terasa sesak itu adalah respon alami dari seorang manusia.
Quenser merasa sangat takut sebenarnya.
(Tentu saja aku takut. Tidak peduli berapa banyak harapan orang-orang yang aku terima, aku tidak memiliki keberanian sama sekali. Object adalah monster. Melawannya dengan tindakan bodoh seperti ini sama saja dengan lompat ke dalam kematian. Aku ingin menjauh dari sini sebisaku. Heivia benar. Tidak peduli apa yang kukatakan, rasa sakit ini tidak akan hilang begitu saja...)
Namun, kaki Quenser tidak membawanya segera pergi dari tempat ini.
Dia berdiri di situ sambil melihat Heivia sekali lagi.
“... Tapi bukankah sang Putri sedang melawan monster itu?”
“...”
“Monster itu membuat pria dewasa bergetar ketakutan dan membuat kita akan mati karena syok setiap kali benda itu mengarahkan moncong meriamnya ke arah kita!! Dan walau dia sadar dengan hal itu, dia tetap berdiri di sana dan melawan Object itu untuk melindungi kita!!”
Walaupun dia mengendalikan senjata aneh bernama Object, dia pasti pernah merasakan rasa takut. Tidak mungkin dia tidak merasakan perasaan itu saat dia melawan monster itu.
Sehari sebelumnya, dia berkata bahwa dia tidak tahu apakah dia bisa menang atau tidak.
Sang putri tidak mengatakan hal itu dengan maksud yang serius, jadi Quenser berpikir kalau tidak ada makna yang dalam di balik kata-kata itu. Namun, dia salah. Bagaimana jika selama ini dia telah memendam perasaan tidak enak itu selama ini di wajahnya? Bagaimana kalau dia hanya ingin mengatakan hal itu hanya kepada seseorang – siapapun – untuk menghilangkan beban yang selama ini terus menganggunya.
Quenser berpikir tentang apa yang seharusnya dia lakukan.
“... Berikan itu padaku.”
Quenser mengulurkan tangannya ke arah Heivia.
Heivia terlihat bingung, jadi Quenser mengulanginya lagi.
“Berikan senapan itu!!”
Quenser mengambil senapan itu dari Heivia. Senjata canggih dengan kamera infra-merah, mikrofon untuk mencari musuh, dan beberapa macam alat yang lain seperti pembidik.
Namun, Heivia tidak mengerti kenapa Quenser meminta senapannya.
“Apa kau benar-benar akan pergi?” Heivia menarik kepalanya yang terkejut ke belakang seperti anak kecil. “Apa kau tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh raksasa itu!? Apa kau tidak melihat Object itu!? Monster itu adalah reaktor raksasa dengan dinding setebal bunker perlindungan nuklir!! Benda itu tetap bisa bergerak bahkan setelah tertembak dua rudal nuklir!! Sarjana sepertimu seharusnya tahu tentang hal itu!!”
“Aku tahu,” jawab Quenser.
Pekerjaan Heivia sebenarnya adalah seorang analisis yang mencari karakteristik kelemahan dari sebuah Object, tapi Quenser mempelajari Object dari sudut pandang seorang insinyur. Dari pengetahuannya, dia sudah cukup tahu bahwa mereka sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menang.
Tapi...
“Aku tidak memiliki pilihan lain...”
“Apa?”
“Apa kau berpikir kalau Object itu tidak akan mendahului kita kalau kita menyeberangi gunung dan lembah di sisi sebelah sana?”
“Yah...”
“Kalau mereka benar-benar ingin membunuh sang Putri, mereka cuma butuh satu tembakan saja. Dan jika mereka ingin menangkap sang putri dan membawanya ke markas mereka, Object itu bebas untuk menangkap kita setelah pasukan mereka menangkap Sang Putri. Benda itu akan segera kembali untuk membunuh kita saat kita menaiki gunung. ... Kau juga melihat gerakannya, kan?”
Quenser bisa merasa bahwa tubuhnya bergetar pada berat senapan itu karena dia tidak pernah secara serius menggunakannya. Dia menekan getaran pada tubuhnya dan tetap maju.
“Sepertinya sang Putri mencoba memberikan kita beberapa waktu, tapi dia mungkin tidak memberikan waktu bagi dirinya sendiri.”
Kalimat yang dia katakan barusan seperti tidak benar-benar nyata.
Dia ingin melakukan hal ini sebelum dia benar-benar dikuasai oleh rasa takut.
“Seseorang harus melakukan sesuatu. Bukan karena ingin bertanggung jawab padanya, tapi demi bertahan hidup.”

Heavy Object Jilid 1 Bab 1 Bagian 1 - 9 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.