26 Juni 2015

Haganai Jilid 9 Bab 13

BAB 13
LENGKAP



Aku kembali ke kamarku, menghabiskan waktu selama beberapa jam dengan memainkan game portabel dan membaca Light Novel, setelah itu, aku kembali ke mata air panas untuk mandi kedua kalinya.
Aku berencana untuk menikmati mandiku yang kedua ini, tapi Pegasus-san akhirnya datang bersama denganku. Dan entah kenapa, kami berakhir dengan saling gosok punggung lagi.
Aku tidak tahu mengapa, tapi sepertinya dia menyukai menggosok punggung. Berkat itu, punggungku kembali bersih dan berkilau, mungkin.
Tak lama setelah mandi kedua, aku kembali ke kamarku ketika waktu makan malam, dan nyonya pemilik rumah membawa makanan kami ke kamar.
Makanannya adalah gunung sayuran dan ikan air tawar, diikuti oleh daging rusa rebus.
Sudah lama sejak terakhir kali aku makan daging rusa, dan itu memiliki rasa yang unik.
"Ya, bagaimanapun juga, daging rusa cukup lezat. Sekali, aku pernah berada di Hokkaidou dengan Hayato ketika..."
Pegasus-san sedang berada di dalam suasana hati yang baik, dan memulai mengenang beberapa kisah lagi.
Ngomong-ngomong, dia tidak minum alkohol.
Jika Pegasus-san, yang sangat payah terhadap efek minuman keras, tertidur, maka itu akan memberiku ketenangan pikiran, karena aku bisa mandi sendiri. Tapi ketika aku menyarankan dia untuk minum, "Besok aku harus jadi sopir lagi untuk mengembalikan kalian pulang. Dengan demikian, mabuk dan mandi adalah hal yang berbahaya." Itulah kata-kata yang sangat terhormat, yang dia katakan.
Meskipun dia adalah seorang pria tua yang konyol, tampaknya dia masih bisa menahan diri sehingga sesuatu yang benar-benar fatal tidak akan terjadi. Seperti yang diharapkan dari sesosok ketua.
Setelah mengatakan itu, seusai makan malam, aku beristirahat selama 2 jam, sampai Pegasus-san mengundangku untuk mandi yang ketiga kalinya. Tentu saja, kali ini kami juga saling menggosok punggung.
Seperti biasa, aku meninggalkan Pegasus-san di belakang dan dengan cepat keluar dari kamar mandi.
Meskipun sudah ketiga kalinya aku mandi, aku merasa tidak pernah bersantai dan menikmati semuanya.
Bukannya aku sangat menyukai air panas atau apa, tapi aku hanya ingin menikmati pemandian air panas tanpa adanya gangguan.
Aku mungkin akan pergi mandi lagi ketika Pegasus-san tertidur... tapi tunggu dulu, pemandian hanya akan buka sampai tengah malam. Jika itu terjadi, maka sepertinya aku tidak akan pernah bisa bersantai.
"Haa ..."
Aku menghela napas berat saat aku berjalan keluar dari ruang ganti, dan kemudian mataku terhenti pada peta bangunan itu sekali lagi.
Lorong masuk, Lobby, Toko, Ruang Ping-Pong, Tempat Pemandian Umum [Red Flower Area (Pemandian Pria)], Tempat Pemandian Umum [King Flower Area (Pemandian Wanita)], Tempat Pemandian Outdoor [Gold Ring Area (Pemandian Campur)].
"..."
Tiba-tiba, suatu ide muncul di kepalaku.
Pemandian campuran.
Pasti itu adalah suatu tempat terbatas selama kursus pelatihan ski, tapi hari ini, tampaknya tidak akan ada pembatasan.
Termasuk kami, satu-satunya tamu lain yang hadis di hotel ini adalah orang-orang tua saja.
Dan untuk para gadis, tampaknya pemandian perempuan telah disediakan untuk mereka, sehingga mereka mungkin tidak akan pergi ke pemandian campuran.
Meskipun kemungkinan bahwa akan ada beberapa wanita tua yang mandi di sana tidaklah nol... Yah, bahkan jika ada wanita-wanita tua di pemandian, aku akan menyadarinya.
... Baiklah.
Aku memutuskannya dan mulai bergerak.
Tidak lagi menuju ke kamarku, aku berbalik, dan dengan kecepatan tinggi aku bergegas ke tempat pemandian campuran outdoor.


Gold Ring berjarak cukup jauh dari dua pemandian besar lainnya, dan untungnya aku mampu bersalin di ruang ganti tanpa terlihat oleh salah satu anak perempuan pun.
Bukannya aku berencana melakukan sesuatu yang buruk, bahkan jika aku terlihat di ada, itu tidak akan menjadi masalah, tapi akan sangat memalukan jika mereka tahu bahwa aku akan mandi di pemandian campuran.
Mendesar dengan napas lega, aku melepas yukata dan pakaianku, dan menuju ke pemandian outdoor dengan rasa kebebasan.
Di saat aku membuka pintu dan melangkah keluar dari ruang ganti, Udara malam Desember dari pemandangan bersalju menunjukan taringnya dan menyerang seluruh tubuhku.
Ahhh, seperti yang kuduga, ini begitu dingin... terlalu dingin...!
Tubuhku telah dicuci tiga kali, jadi aku langsung menuju pusat pemandian— disaat aku melakukannya, aku mendengar suara yang datang dari dalam air panas.
"... Oh, Kristus, masing-masing dari mereka di sana memiliki seperti wajah yang begitu indah, sialan! Aku akhirnya berpikir bahwa aku akan memiliki keuntungan, dan tiba-tiba dua sosok berdada raksasa itu muncul entah dari mana! Mengapa harus aku yang terjebak di antara dua potong daging busuk yang hanya tinggal dua tahun lebih lama dariku dan memaksaku untuk memiliki perasaan menyedihkan ini! Sial, sial, sial, sial, mereka sok menatapku dengan mata kasihan, bukan! Mencoba untuk mencari perhatianku ketika mereka bahkan tidak mengerti perasaan menyedihkan ini, dasar para normalfags sialan! Sial, mengapa harus aku yang berada di tempat seperti ini ...! Sendirian, sangat sendirian?! Ini tidak benar! Aku bukanlah makhluk yang menyedihkan! Ini bukan isolasi, melainkan kesendirian! Oh, aku merindukanmu, wahai anak pelacur! Aku adalah Khan! Sudah lama sejak terakhir kali aku terjebak dalam suatu kesendirian, sialan! ... Tapi bagaimanapun, ini sungguh suatu kesepian... Aku tidak suka kedinginan atau kesepian, Kodaka.... Gusu... "
Di sudut mandi, sendirian, terendam sampai ke dagu dan memandang langit berbintang, sembari memuntahkan bahasa kasar dengan sangat cepat, dia adalah:
"...Uu, Aku pikir aku akan kembali normal sekarang ... "
"...... Rika?"
"KYA?!"
* SPLASH *
Ketika aku memanggilnya dengan malu-malu, Rika menjerit dan menyelam di bawah air.
"Achoo!"
Aku bersin. Bagaimanapun, itu terlalu dingin, jadi aku cepat masuk ke dalam air panas.
Terasa enak...
Rasa hangat dari pemandian air panas menyebar ke seluruh tubuhku, rasanya seolah-olah semua kelelahan di tubuhku terlarut jauh di dalam air.
"Wah... Aku sudah hidup kembali."
"Jangan hidup kembali, bodoh!"
Dengan suatu percikan, kepala Rika menyembul dari bawah air, kemudian berteriak padaku. Dengan malu-malu, dia menyembunyikan dadanya dan membelakangi aku.
Rika bahkan tidak memiliki handuk yang membalut tubuhnya, sehingga ia benar-benar telanjang.
Jantungku hampir melompat keluar dari dada saat melihat punggung putih Rika, jadi, aku juga membelakanginya dengan segera.
Aku juga berpikir bahwa aku harus mencoba dan menciptakan jarak antara kita berdua, tetapi karena pemandian air panas outdoor ini lebih kecil daripada dua pemandian lainnya, maka sepertinya aku tidak bisa berbuat banyak.
"M-m-m-m-m-m-mengapa Kodaka datang ke sini?!"
"Ketua berada di tempat pemandian pria, jadi aku tidak bisa bersantai di sana! B-Bagaimana denganmu?! Mengapa kau sengaja datang ke pemandian campuran ?!"
Rika mulai membuat keributan, dan aku pun sedikit terguncang, jadi aku menanyakan satu pertanyaan padanya.
"Uu ..." erang Rika, dan kemudian menyimpulkannya dengan cepat:
"... Karena memalukan untuk mandi dengan orang lain."
Dia mengatakan sesuatu yang tidak benar-benar kumengerti.
"Mengapa mandi dengan gadis-gadis lain begitu memalukan bagimu?"
"K-Karena! Ketika kau mandi, maka kau harus telanjang bulat, bukan? "
"Yaahh...namanya juga mandi."
"... Ada orang-orang yang curang dari Neighbor’s Club, dan baik Hinata-senpai maupun Ootomo-senpai dari OSIS adalah gadis yang cantik, tapi yang paling penting, payudara mereka begitu besar. Jinguuji-senpai cantik dan memiliki gaya yang baik, dan Yusa-senpai juga imut. Adalah penyiksaan bagi seorang gadis yang tidak imut ketika harus mandi dengan orang-orang seperti itu..."
"Hah?"
Sekali lagi tidak memahami apa maksudnya, aku mengangkat alis.
"... Um,  kau tahu. Apakah mungkin, gadis yang tidak imut ini adalah... dirimu sendiri? "
"Yah, siapa lagi?"
Aku kaget pada Rika yang telah menggumamkan itu dengan kesal.
Ampun deh, apa sih yang dia katakan?
"... Yah, maksudku...  kau cukup i-imut, kau tahu?"
Itu tampaknya semakin memperburuk suasana hatinya, dan dia pun membalas:
"... kau mengatakan hal-hal yang aneh lagi."     
"Tidak, justru kaulah yang mengatakan hal-hal aneh... Maksudku, berapa kali aku mengatakan itu di depanmu? Bahwa kau... imut, dan berbagai hal lain... "
"Apakah kau mengatakan itu? Tapi tahukah kau, itu hanya ucapan sembrono untuk mengolok-olok Rika, bukan? "
“... Jadi kau berpikiran seperti itu?"
Aku terkejut setelah mendengar apa yang Rika benar-benar pikirkan.
Beberapa hari setelah liburan musim panas berakhir, ketika Rika melepaskan kacamatanya dan menguraikan rambutnya, tanpa berpikir panjang, aku berseru bahwa dia imut dan dia adalah tipeku.
Tanpa ragu, itu adalah perasaanku yang sebenarnya.
Di kereta api, ketika kami pergi ke Nagaya, aku juga mengatakan 'penampilan Rika biasanya imut'.
Aku sengaja mengatakan itu untuk mengolok-olok Rika, tetapi bagian 'imut' adalah kebenaran.
"... harusnya kau mengetahui hal itu. Pastinya, Rika adalah seorang gadis yang imut."
Setelah aku mengalahkannya, Rika bergumam dengan ekspresi kesepian.
Kata-kata ini membakar hatiku.
Kenapa sih gadis ini menilai penampilannya sendiri dengan begitu rendah?
"... kau harus berhenti bercanda."
Tanpa berpikir, aku membiarkan suara kecil menyelinap keluar.
"Eh?"
"... Ketika aku berkata bahwa kau imut, dan bahwa kau adalah tipeku, itu... tanpa diragukan lagi, itu adalah perasaanku yang sebenarnya."
"Benar, benar..."
Pada Rika yang tampaknya menyedihkan, aku pun menjadi kesal dan berkata:
"Ah ya ampun, kenapa kau begitu pintar, namun seidiot ini?"
"I-Idiot...?!"
Rika kehabisan kata-kata, jadi aku berbalik menghadapi dia dan berteriak dalam keputusasaan:
"KAMU IMUT!!"
Wajahku mulai merasa sangat panas berkat efek gabungan dari pemandian air panas dan rasa maluku, namun demikian aku melanjutkan perkataanku:
"Tapi maksudku, jika kau tidak imut, maka yang ada di depanku ini siapa? ... Kamu imut. Tidak peduli bagaimana kau melihat itu kau sungguh imut ...... dan sampai kau percaya, aku akan terus mengatakannya berulang-ulang. Rika sangatlah imut! Rika kau imut, Rika-chan, kau sungguh seperti malaikat, kau membuat aku terengah-engah, kau tahu ?! Lebih dari Sena, lebih dari Yozora, lebih dari Yukimura, lebih dari Kate, lebih dari Hinata-san, lebih dari Akane-san, lebih dari Karin-san, lebih dari Aoi-san, diantara mereka semua, kaulah yang paling imut!"
Aku menyatakan itu dengan keras.
Rika tidak kehabisan kata-kata.
Sebagai balasan dari perkataanku, aku mendengar percikan dan suara Rika berdiri dari bak mandi.
Saat aku merasa riak pada air sudah mereda:
"... Benarkah?"
Bagiku, suara Rika terdengar seperti pemohonan.
"Sungguh."
"—Kalau begitu Kodaka, lihat ke sini."
"Ha ?! Tidak, maksudku, kau berada di sana. "
"Tidak apa-apa."
Pikiranku mulai kacau, tapi Rika berbicara dengan sangat tenang.
Apa boleh buat, jadi aku menutup mata dan berbalik ke arah Rika.
"... Buka matamu."
Setelah beberapa detik ragu-ragu, aku membuka mataku dengan takut.
Dan di sana ada Rika, yang benar-benar telanjang.
"... Wajahmu itu mengatakan 'Dan di sana ada Rika, yang benar-benar telanjang,' tanpa disertai pikiran atau perasaan."
Wajahnya sekarang memerah karena malu, dan dia mengenakan senyum kecut sambil mengatakan sesuatu yang mirip dengan apa yang pernah dia katakan ketika ia mengenakan pakaian pelayan.
"... Ahh. Pikiranku menjadi putih bersih, aku tidak bisa memikirkan apa-apa. "
Ketika aku mengucapkan perkataan itu pada pikiranku yang kebingungan, Rika mengatakan sesuatu seperti yang pernah dia katakan sebelumnya, "Ba-ka Ba-ka, Kodaka no Ba-ka," tapi kali ini dia mengatakannya dengan senyuman, dan itu sungguh berbeda.
"... Apakah aku imut?"
Rika bertanya dengan suara yang rapuh.
"K- kau imut."
Aku menjawab dengan suara serak.
"... Ingin menyentuh payudaraku?"
"A-aku tidak terlalu ingin untuk tidak menyentuhnya!"
Ditanyai suatu pertanyaan yang keterlaluan, aku secara naluriah mencoba untuk menyangkalnya, tapi akhirnya aku gagal.
Karena dia tidak menggunakan lengannya untuk menutupi bukit-bukit kembar miliknya, mataku tertuju pada benda itu.
Rika mengalihkan pandangannya ke bagian tubuhku bagian bawah, dan wajahnya berubah merah.
"... Sama seperti yang Maria-sensei katakan, tidak benar-benar memiliki perasaan semacam itu."
"K-k-k-k-k-kau pikir, dirimu sedang melihat ke arah mana?! Malulah terhadap tindakanmu sendiri!”
Panik, aku mencoba membelakangi Rika.
Dari belakang, Rika tertawa cekikikan.
Dan kemudian—Rika datang dari belakang dan menempatkan lengannya di leherku, lantas merangkul aku.
Dan di punggungku, aku bisa merasakan sensasi dua benda yang lembut.

"-------------------------------! A-a-a-a-a-a-a-a-a-apa yang kau.....? "
Aku tergagap, kaget dan tertegun sehingga ku tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Rika berbisik ke telingaku:
"...... Ini adalah ucapan terimakasih karena telah memanggilku dengan sebutan imut."
Meskipun aku tidak bisa melihat wajahnya, aku yakin bahwa warna wajahnya semerah diriku.
Seperti yang kau duga, hatiku berdebar keras layaknya drum.
"T-Tidak lagi!"
Dia mengatakan itu setelah sekitar lima detik, dia menarik dadanya menjauh dari punggungku dan melepaskan dekapannya.
... Tidak salah lagi, selama lima detik tersebut, hatiku tidak pernah berdegup sekencang ini seumur hidupku.
Rika keluar dari pemandian, dan mulai berjalan menuju ruang ganti.
Sehingga aku tidak bisa melihat sosok itu dari belakang, aku menutup mata erat-erat dan membenamkan kepalaku ke dalam air.
Aku mendengar pintu ruang ganti terbuka, dan kemudian suara pintu tertutup. Ku pikir, dia membanting pintunya dengan sengaja sehingga aku bisa mendengarkan suara itu dari dalam air.
"Puhaaa"
Mengangkat kepalaku dari dalam air, aku menatap seluruh langit malam dan mengambil napas besar, kemudian kuhembuskan.
Berulang kali aku mengambil napas dalam-dalam dan kuhembuskan.

Rasanya seperti, darahku mendidih, dan tidak peduli seberapa dingin udara malam hari di bulan Desember, tubuhku tidak akan mendinginkan sama sekali.

Haganai Jilid 9 Bab 13 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Fariq Farhan Ariq

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.