26 Juni 2015

Haganai Jilid 9 Bab 12

BAB 12
KEDUA ANGGOTA DEWAN OSIS





Setelah itu, percakapanku dengan Pegasus-san berlanjut. Namun, sebagian besar pembicaraannya hanyalah kisah tentang kenangan masa lalu menyenangkan dengan ayahku.
Tidak hanya aku tidak memiliki ketertarikan pribadi dalam apa yang dia katakan, tapi bahkan dengan semua niat baik di dunia ini, masih akan sulit bagi siapa pun untuk menyanjung keterampilan percakapan Pegasus-san. Dia akan tiba-tiba merubah adegan ceritanya, atau akan mengulangi kisah yang sama lagi-dan-lagi. Jadi, dengan perasaan tidak nyaman, aku menyerah untuk mendengarkannya dan pura-pura tertidur di tengah-tengah ocehannya.
Aku menghabiskan waktu sekitar satu jam dalam keadaan demikian, sampai akhirnya kami tiba di suatu pemberhentian – yaitu suatu service station. Kami kemudian makan siang di sana, sebelum berangkat lagi. Sekali lagi, aku hanya bisa tahan dengan ocehan Pegasus-san selama satu jam, jadi aku memutuskan untuk menggunakan jurus yang tadi, yaitu pura-pura tidur, dan akhirnya aku menghabiskan perjalanan dalam mode pertapa. Setelah semua itu berakhir, kami akhirnya tiba di tujuan, yaitu penginapan.
Itu adalah bangunan dengan kesan yang begitu kuno; rupanya penginapan ini telah berbisnis selama 50 tahun.
Orang tua yang merupakan pemilik penginapan keluar untuk menemui kami dan menyambut Pegasus san dengan sepenuh hati. Pegasus-san, bagaimanapun juga, tampak cukup pemalu dan dia berbicara dengan senyum kecut di wajahnya.
Tampaknya, mereka telah menggunakan penginapan ini bahkan selama periode ketika St. Chronica hanya berisi pelajar perempuan, dan mereka datang ke sini setiap tahunnya untuk pelatihan ski.
Mereka menerapkan salju buatan di berbagai tempat untuk persiapan musim pembuka sehingga semua orang bisa menggunakan lereng salju. Namun, sebagian besar pemain ski tidak datang sejak waktu yang cukup lama.
Pada tour ini, beberapa kelompok orang dewasa yang tinggal bersama kami tidak begitu tertarik dengan ski, melainkan pemandian air panas.
"Nah... berhubung sekarang kita memiliki kesempatan, mari memperkenalkan diri masing-masing, yuk? Iya ya, aku menyadari bahwa itu agak terlambat untuk sekarang, sehingga kau tidak perlu mengatakannya lagi. "
Akane-san mengatakan itu terhadap grup setelah kami memasuki lobi.
"Aku adalah wakil ketua OSIS, Ootomo Akane. Aku kelas tiga, senang bertemu kalian semua."
"Aku adalah ketua OSIS, Hidaka Hinata. Aku berharap kita semua bisa akrab."
"...... Sekretaris OSIS, Jinguuji Karin. Kelas 2-4."
Setelah dia selesai, Karin menunduk dan memandang Aoi.
"A-Aku juga? Umm... aku bendahara OSIS Yusa Aoi... a-aku minta maaf karena telah menyebabkan banyak masalah bagi kalian tempo hari..."
Sepertinya memori tentang dihujat oleh Sena dan Yozora setelah mencoba untuk menutup Neighbor’s Club masih membebani pikiran Aoi, dan dia akhirnya memperkenalkan dirinya dengan gelisah.
"K-Kemudian sekarang giliran Neighbor’s Club!" Aku menekan suaraku.
"Aku dipanggil Kusunouki Yukimura, aku memberi salam sekali lagi."
Yang pertama memperkenalkan dirinya dengan sopan adalah Yukimura, yang sudah berkenalan dengan OSIS. Bagus sekali, Yukimura!
"Aku Takayama Maria, penasihat klub dan guru sungguhan, aku juga seorang guru! Ahahaha! "
Maria melanjutkannya dan memperkenalkan dirinya. Sekarang baru kusadari, dia pernah menjadi guru sungguhan tempo hari, kan?
"G-Guru?" Semua anggota dewan, kecuali Aoi, tampak bingung.
"... Ah, aku dari kelas 1-4, Shiguma Rika."
Rika memberikan pengantar sederhana dan menurunkan tatapannya.
"...Hasegawa Kobato."
Mungkin karena dia bisa membaca situasi, kali ini Kobato tidak memperkenalkan dirinya sebagai Reisis Vi Felicity Sumeragi, dan dia pun menggunakan nama sebenarnya.
"Aku Kashiwazaki Sena. Seperti yang kalian lihat, aku adalah seorang bidadari. "
Seperti biasa, Sena memperkenalkan dirinya dengan sok. Dia adalah satu-satunya orang yang tidak pernah berubah.
Melihat sikap Sena, Aoi tergagap dan membisikkan "Fugugu ......". Permusuhannya dengan Sena jelas-jelas belum berakhir.
Dan terakhir:
"... Mikadzuki Yozora."
Bahkan tanpa melihat Hinata-san secara langsung, Yozora hanya menyebutkan namanya dengan singkat.
Hinata-san mendesah kecil.
Seolah-olah mencoba untuk memindahkan percakapan, Yozora berpaling dari Dewan OSIS dan mengatakan:
"Jadi, Niku, bagaimana tentang pembagian kamarnya?"
"Kami sudah memesan dua kamar untuk dua orang, jadi kita hanya perlu pergi ke depan dan memesan dua lagi, sehingga ada empat. "
"Jadi, ada empat orang dari Dewan OSIS, Kodaka dan ketua... yang tersisa adalah..."
Jadi, aku benar-benar akan tinggal sekamar dengan ketua...
"Tentu saja, aku akan berbagi kamar dengan Kobato-chan!"
"Tidak!"
Setelah menyangkal permintaan Sena dengan langsung, Kobato lari dari sisi Sena dan menyembunyikan dirinya sendiri di balik punggung Yozora.
"Bagaimana kalau kita mencampur Neighbor’s Club dan Dewan OSIS? Untuk memperdalam persahabatan kita."
Akane-san menyarankan itu.
Yozora memasang wajah kesal dan berbisik dengan suara kecil:
... Mengapa kita perlu untuk memperdalam persahabatan kita...
"Eh? Apakah  kau mengatakan sesuatu?"
"...... Tidak ada, sama sekali."
Yozora bergumam.
‘Eh? Apakah kau mengatakan sesuatu?’ dari Akane-san mirip seperti pertanyaan favoritku dulu, yaitu suatu pertanyaan yang ditanyakan ketika kau mendengar perkataan seseorang dengan jelas atau tidak. Dengan demikian, momen diantara si penanya dan yang ditanya akan rusak. Tidak jelas, apakah itu dilakukan dengan sengaja ataukah tidak. Sebagai efeknya, orang yang ditanya akan ragu-ragu untuk mengulangi pernyataannya sebelumnya dan membiarkan semuanya berlalu begitu saja sejatinya, ini adalah suatu pertanyaan yang digunakan untuk menyangkal pernyataan orang lain.
"Apakah yang lainnya juga setuju?"
"'juga', katanya ..."
Menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi untuk memberikan persetujuan, Yozora hanya bisa memasang ekspresi tak puas.
Rika dan Kobato juga tampak menentangnya, tapi karena pada dasarnya mereka berdua suka malu dengan keberadaan orang-orang asing, dan mereka merasakan pancaran aura 'normal' dari diri Akane-san, mereka hanya bisa terus diam dan tidak keberatan.
Aku sungguh berpikir bahwa dia agak memaksa, tapi aku semua untuk memperdalam persahabatan di antara dewan OSIS dan Neighbor’s Club, jadi aku tidak mengatakan apa-apa... apapun itu, aku akan tinggal bersama dengan orang tua, jadi akhirnya teman-teman menggunakan batu-kertas-gunting untuk memutuskan komposisi ruangan.
Dengan demikian, gadis-gadis memutuskan tugas ruangan dengan batu-kertas-gunting.
"Mari kita bagi kamar menjadi 3-4-3, setelah kita selesai dengan batu-kertas-gunting."
"Akan sangat menyenangkan bila kita akhirnya bisa sekamar, Yukkii."
"Memang, tentu saja."
Ketika Yukimura dan Aoi saling melempar senyuman:
"Batu gunting kertas! Batu gunting kertas! "
Setelah seruan Akane-san, pertempuran komposisi ruangan dimulai.
Hasil:
1 - Kashiwazaki Sena, Kusunoki Yukimura, Takayama Maria, dan Yusa Aoi.
2 - Hidaka Hinata, Ootomo Akane, dan Shiguma Rika.
3 - Mikadzuki Yozora, Hasegawa Kobato, dan Jinguuji Karin.

Yukimura dan Aoi, Yozora dan Kobato; dengan kata lain, mereka akan menghabiskan malam dengan bahagia, sementara Akane-san dan Hinata-san saling meledek satu sama lain layaknya sahabat karib, "Jadi sepertinya, hubungan yang tidak diinginkan dan tak terpisahkan kita telah ditakdirkan untuk terus berlanjut, bahkan sampai saat ini."
Di sisi lain, Sena tampak tak senang, tapi aku berharap dari lubuk hatiku yang terdalam bahwa ini akan menjadi kesempatan baginya untuk memperdalam hubungan dengan Yukimura dan Aoi.
Maria cukup melekat pada Sena, jadi mungkin tak masalah.
Masalah sebenarnya adalah, ada dua gadis yang keluar dari zona kenyamanan mereka; yaitu Rika dan Karin.
"Permisi, Jinguuji-senpai... jika kau tidak keberatan, bolehkah kita bertukar kamar?"
Mungkin karena tinggal dengan dua gadis dari kelas tiga dalam satu ruangan terlalu berat baginya, Rika menawarkan pertukaran kamar dengan Karin.
Harusnya, Karin akan menerima penawaran tersebut—atau paling tidak seperti itulah yang kupikirkan:
"Nggak."
Setelah menolak tawaran tanpa pertimbangan terlebih dahulu, Karin memberi Rika sekilas lirikan dan berkata:
"Aku Jinguuji Karin, berharap bisa akrab dengan kalian."
Setelah itu, dia membungkuk ke arah teman sekamarnya, Yozora dan Kobato.
Keduanya tampak ragu-ragu, tapi mereka menjawab dengan: "Ah, ya ...", "Kukuku ......A-Aku pun setuju denganmu..."Akhirnya jadi seperti ini, bergantian kamar bukan lagi menjadi pilihan.
Akane-san melihat Rika berdiri di sana dalam kecemasan, jadi dia meyakinkannya:
"Shiguma Rika-san, kan? Kau sungguh tidak harus begitu gugup. Hari ini, permasalahan Senpai dan Kouhai tidaklah penting. Akan lebih menyenangkan jika kau bisa bersantai sedikit. "
"Benar..."
Rika hanya memberikan jawaban yang samar.
Dia bukanlah tipe orang yang bisa santai jika disuruh menjadi simpel dan biasa, aku pun sedikit khawatir.


Perbincangan Pegasus-san dengan pemilik penginapan berakhir dan kami semua menuju ke kamar masing-mading.
Mereka semua berada di lantai dua. Pegasus-san dan aku tinggal di kamar 203, Sena dan kelompoknya di kamar 205, Hinata-san dan kelompoknya di kamar 206, sementara Yozora dan kelompoknya di 207.
Ruang tempat Pegasus dan aku tinggal adalah ruangan bergaya Jepang berukuran 10-tikar tatami, sehingga tidak ada toilet atau kamar mandi.
"Kalau begitu, sudah lama sejak kita terakhir kali mendapatkan kesempatan bersantai seperti ini, jadi mari kita memanfaatkan ini sebaik-baiknya, bukankah demikian?"
Pegasus-san mengatakan dengan ekspresi senang sembari dia membuka pintu geser kamar.
Di sisi lain, ada balkon, dan jika kau melihat keluar dari jendela, barisan gunung putih berdiri di kejauhan.
"Pemandangan yang benar-benar indah, bukan?"
Ketika aku memberikan kesanku yang jujur, Pegasus-san menjawab dengan puas 'Hmm' dan mengangguk, kemudian ia duduk di kursi tatami dan mulai menuangkan teh.
Sambil menuangkan teh untukku juga, aku duduk dan mulai meminumnya.
Meminum teh sambil menatap pegunungan bersalju. Ah, betapa santai.
"Fu ... sekarang aku memikirkannya, aku ingat bahwa aku pernah sekali bepergian bersama dengan Hayato dan teman-teman pada hotel pemandian air panas, persis seperti ini—"
Tampaknya dia mulai tenang, tapi sepertinya bukan itu masalahnya.
Melihat bahwa pembicaraan tentang masa-masa indah bersama ayahku akan dimulai lagi, aku buru-buru meneguk tehku. Tunggu sebentar, bukankah kita sudah membicarakan kisah yang sama persis ketika di bus tadi?
"E-Permisi, aku harus pergi ke toilet sebentar."
"Eh? Ah, aku paham. "
Meninggalkan Pegasus-san yang tampak agak kecewa, aku pun keluar dari ruangan.


Setelah aku selesai di kamar mandi, aku memutuskan untuk pergi ke toko di lantai pertama untuk menghabiskan waktu luang. Ketika aku tiba di depan toko, aku bertemu Yozora, Kobato, dan Karin.
Mereka bertiga memakai yukata dan memegang handuk.
"Kodaka."
Yozora kemudian melihatku dan memulai percakapan.
"Hei... sudah mau mandi, ya?"
"Ya, bagaimanapun juga, tidak ada yang benar-benar kami kerjakan..."
Rencana awal dewan osis untuk hari ini seharusnya adalah 'Chillax', dan praktis, Neighbor’s Club juga tidak punya rencana sendiri.
Melihat fakta bahwa kami memiliki kesempatan langka, yaitu berada di suatu hotel pemandian air panas, aku pikir, adalah hal yang normal jika kami ingin mencoba mandi di pemandian air panas tersebut.
Pemandian umum hotel tampaknya cukup besar, belum lagi itu adalah suatu pemandian alam terbuka.
"Aku paham... jadi, mungkin aku juga harus mandi."
"Begitukah... k-kalau begitu bagaimana jika kita pergi ke pemandian campur bersama-sama?"
Yozora bertanya dengan nada menggoda.
Wajahnya merah. Jika itu sangat memalukan untuk dikatakan, maka seharusnya dia menyimpan kata-kata tersebut...
Rupanya, di hotel ini, selain pemandian pria dan wanita normal, ada juga pemandian campuran outdoor.
Tentu saja, itu tidak tersedia bagi para pelajar yang sedang kursus pelatihan ski, tapi tampaknya tidak berlaku kali ini...
Tetapi kalau dipikir-pikir, Yozora mengatakan sesuatu seperti itu ...
"C-Cuma bercanda! Jangan memikirkannya dengan serius, idiot!"
"A-Aku tahu itu!”
"Hmpf!"
Yozora berbalik dan berjalan pergi.
"Kukuku... marilah kita pergi bersama-sama untuk menaklukkannya, Ksatriaku..."
Ditambahkan Kobato, yang mengikuti jejak Yozora dengan terburu-buru.
Namun, Karin adalah satu-satunya orang yang tidak berjalan mengikutinya.
"..."
Tanpa kata dan ekspresi, Karin menatap dua gadis yang meninggalkannya itu.
"... Bahkan, penampilannya dari belakang sungguh cantik."
Karin tiba-tiba berkata.
"Eh?" Saat aku bertanya sebagai balasanan, Karin berbalik, dan mulai menatapku dengan intens.
Aku mulai kebingungan karena mata tanpa ekspresi itu menatapku dengan tajam.
Sekretaris OSIS, Jinguuji Karin—di antara semua anggota Dewan OSIS, gadis inilah yang paling sulit kunilai kepribadiannya.
Dia selalu bertindak dengan tanpa tanpa kata dan acuh tak acuh, dan jika kau memanggilnya, sesuatu yang kau dapatkan hanyalah sorotan mata yang begitu hampa. Bukan hanya terhadapku, sepertinya dia melakukannya pada semua orang.
Aku punya perasaan bahwa hubungannya dengan Hinata-san atau Aoi tidaklah harmonis, karena kedua gadis itu begitu enerjik.
"... Umm, apakah  kau membutuhkan sesuatu?"
Aku bertanya, karena aku merasa tingkat kecanggungan di atmosfer mencapai 9000. Karin mengangguk sedikit.
"Hasegawa-kun, ada sesuatu yang aku ingin kutanyakan darimu."
"Sesuatu yang ingin kautanyakan?"
"Yozora-oneesama itu, orang seperti apa?"
"... Hah?"
Setelah mendengar pertanyaan tersebut, aku hanya bisa gagal paham, Karin pun mengulanginya.
"Yozora-oneesama itu, orang seperti apa?"
Setelah mendengar pertanyaan itu dua kali, aku masih tidak mengerti.
"... kau bertanya... orang seperti apa..."
Kesanku terhadap Yozora dari sepuluh tahun yang lalu, dan dari setengah tahun yang lalu, keduanya terus-menerus terguncang dan kabur, jadi aku merasa tidak dapat menjelaskan hal tersebut dengan baik.
"Mengapa kau ingin tahu lebih banyak tentang Yozora? Bahkan, mengapa kau memanggilnya 'Onee-sama'?"
"Aku rasa, ada campur tangan nasib."
"... Maaf?"
Melihat tampilan tercengang di wajahku, pipi Karin jadi sedikit memerah.
Karin kemudian menggenggam salib di lehernya dengan kedua tangan dan mulai berbicara dengan wajah mengantuk.
"Ketika aku melihat Yozora-oneesama pagi ini, aku mengerti. Pada saat aku menatapnya, aku tahu; orang ini adalah bagian lain dari jiwaku yang robek dan terpisah ketika aku lahir. Kecantikan yang mempesona, suara menyegarkan dengan nada meremehkan; dia bahkan berpakaian hitam seperti Lucifer si malaikat gagal—"
"Itu hanya jersey,  kau tahu?"
Tindakan tsukkomi dariku diabaikan di tengah jalan.
"Dengan hanya melihat secara mendalam ke mata Yozora-oneesama, membuatku terasa seolah-olah jiwaku ditelan seluruhnya."
"Bukankah itu hanya imajinasimu?"
"Aku merasa seolah-olah, aku sedang dibuahi hanya dengan mendengar suara Yozora-oneesama."
"Seolah-olah!"
Aku melemparkan kata-kata tsukkomi pada Karin sekuat tenaga, yang mulai mengatakan beberapa hal keterlaluan.
"Aku ingin melahirkan bayinya Yozora-oneesama."
"Kamu tidak bisa."
"Aku ingin berhubungan seks dengan Yozora-oneesama."
"Kata-katamu menjadi lebih dan lebih lancang, oi ..."
Aku bisa merasakan wajahku memanas.
"Pertama-tama, aku ingin telapak kakinya meraba-raba pipiku."
"Jadi  kau sudah memikirkan beberapa metode cabul dalam berhubungan intim ..."
"Dan kemudian—"
"Kau tidak perlu menjelaskannya lebih jauh! Ummm, jadi seperti itu...? Kau suka Yozora secara seksual?"
"Aku harap, kau bisa menahan diri dari menggunakan bahasa vulgar seperti itu. Jiwa kita diberkahi rasa cinta untuk menyukai sesama. "
Karin sedikit cemberut sambil mengatakan itu.
... Sekarang aku yakin akan hal itu. Dia memang orang aneh ...!
Aura gila ini semakin meluap... kalau dipikir-pikir, ternyata gadis setenang dia memendam aura sekotor ini...
Jadi inilah alasan mengapa dia menolak untuk bertukar kamar dengan Rika.
"Jadi, dia seperti apa? Ceritakan lebih banyak lagi tentang Yozora-oneesama. "
"Bahkan jika kau bertanya kepadaku hal itu..." Aku berpikir sebentar dan berkata, "Aku tidak benar-benar tahu banyak tentang dirinya."
Sekarang aku sudah benar-benar mengucapkannya dalam bentuk perkataan, rasanya sedikit kesepian.
Aku menyadari fakta bahwa aku benar-benar tak tahu apa-apa tentang Yozora.
"Semuanya baik-baik saja, misalnya, hal-hal seperti : sesuatu yang dia sukai atau dia benci."
"Hal yang dia suka... ah... dia sering membawa Pocky dan cokelat untuk dimakan, jadi aku akan mengatakan bahwa dia suka hal semacam itu. Dia juga cukup sering minum kopi, dan dia bilang, dia juga suka jelly kopi."
Aku pun bermaksud untuk mengkonfirmasi semua ini sendirian, aku mengaduk-aduk memoriku sembari memberikan jawaban.
"Cokelat... hal itu harus diketahui. Aku benar-benar ingin menyuapi cokelat pada Yozora-oneesama dari mulut ke mulut. "
"Dan juga... tampaknya, dia juga suka membaca dan pergi ke bioskop."
"Hebatnya Onee-sama, betapa cerdas hobinya. Aku sendiri juga suka membaca. Aku ingin tahu, jenis buku macam apa yang Onee-sama sukai?"
"Siapa tahu...? Dia selalu menempatkan cover pada buku-bukunya, dan bahkan jika kau bertanya padanya, dia hanya akan memberikan jawaban yang tidak masuk akal atau mengabaikanmu. Tapi ketika aku mengintipnya sesekali, buku yang dia baca tampaknya cukup berat. Dan juga, aku pikir, dia membaca manga meskipun tidak menunjukkan itu."
"Aku paham... kebetulan, apakah dia suka novel Yuri?"
Karin memberiku tatapan penuh dengan harapan.
"Yuri eh... Aku ingin tahu apa pendapatnya tentang hal itu."
Tampaknya dia suka sesuatu seperti BL 'Homoge Klub', tapi aku tidak yakin apa pendapatnya tentang sesuatu yang berbau Yuri.
"Adapun hal-hal yang dia benci..."
Hal pertama yang datang ke pikiranku adalah Sena. Dan kemudian Hinata-san.
"Normalfags, aku kira... bagaimanapun, dia selalu mengatakan 'Mati, mati!'.
"'Normalfags' apa maksudmu ...?"
"Itu adalah kata tidak baku yang menggambarkan orang-orang yang hanya memenuhi kebutuhan hidup normal mereka."
"Aku pikir kita bisa mengatakan bahwa dia membenci dunia tidak adil ini dan dia akan senang bila dunia ini hancur. Menabur benih kehancuran dunia ini seperti malaikat gagal yang agunf— Ahh kau begitu keren, Onee-sama ".
Wajahnya terpesona, Karin begitu tergila-gila padanya.
"Aku benar-benar tidak berpikir bahwa itu adalah sesuatu yang spektakuler..."
"Terima kasih. Kau cukup informatif. "
Dia kembali ke mode tanpa ekspresi seperti biasa, dia pun berterima kasih kepadaku dengan nada acuh tak acuh, dan mulai berjalan pergi.
... Aku ingin tahu, apakah benar-benar tidak masalah membiarkan dia pergi ke kamar mandi bersama dengan Yozora, di saat seperti ini.
"Ahem, harap berhati-hati untuk tidak melakukan sesuatu pun yang bisa membuatmu dicap sebagai seorang kriminal."
"Tak perlu khawatir. Bagaimanapun, kami berdua adalah wanita. "
Tanpa menoleh, Karin menjawab dengan acuh tak acuh.
"Bahkan jika kalian berdua adalah perempuan, kau berencana untuk melakukan apa ...?"
"Suatu pertukaran jiwa yang benar-benar suci, seperti itulah."
"... Hanya untuk berjaga-jaga, walaupun kalian berdua adalah wanita, harusnya kau tahu benar akan hal ini, memaksa dia...      melakukan hal semacam itu adalah kejahatan,  kau tahu? "
"...... Eh?"
Untuk sesaat, sepertinya pikiran itu terlintas dalam benaknya, yaitu pikiran untuk melakukan suatu hubungan seksual tanpa menjalin hubungan yang tepat, tapi Karin terus berjalan pergi tanpa sepatah kata pun dan tidak melihat ke belakang.
Aku bertanya-tanya, apakah itu benar-benar tidak masalah...?
Tapi juga, aku tidak pernah menyadari bahwa Karin begitu bergairah.
Aku pikir dia adalah seorang gadis yang pendiam, tetapi tampaknya dia sungguh banyak bicara. Aku pikir dia mengucapkan banyak hal di kala itu, bahkan lebih banyak daripada yang pernah aku dengar ketika aku masih aktif di Dewan OSIS minggu lalu.
Tampaknya, semua orang memang memiliki sisi kepribadian lain yang berbeda.
Aku yakin, saat ini, aku sudah mengenal Karin lebih dalam.


Aku sedang kembali ke kamarku setelah aku berpisah dengan Karin, tapi kali ini, adalah Hinata-san dan Akane-san yang aku temui di lorong.
Mereka juga mengenakan yukata dan memegang handuk.
"Apakah kalian berdua juga menuju ke pemandian?"
"Yup! Ketika kau menginap di suatu hotel pemandian air panas, maka kau harus mencoba pemandian air panasnya, kan?!"
Hinata-san tersenyum hangat.
"Um, mana Rika ...?"
Aku menanyakan itu karena ingin tahu, dan ekspresi bermasalah muncul pada kedua wajah mereka.
"Kami mengajaknya untuk datang ke mata air panas bersama-sama, tetapi tampaknya dia tidak merasa sehat, sehingga dia beristirahat di kamar untuk sementara. Tentu saja, wajahnya tampak sedikit pucat, jadi kita memutuskan untuk pergi tanpa dirinya."
Akane-san menjawabnya, dan kemudian Hinata-san menambahkan:
"Yah, kau dapat memasuki daerah air panas sebanyak yang kau inginkan. Ketika Shiguma pikir waktunya sudah tepat, aku percaya bahwa kita akan pergi bersama-sama. Bagaimanapun juga, cara terbaik untuk membuka hatimu kepada orang lain adalah dengan nongkrong bersama dalam kondisi telanjang bulat, lho! Seperti Akane-san dan aku, setiap kali kami bertengkar, kami pergi ke pemandian umum dan ngobrol sampai mulai merasa pusing."
"Hina. Topik itu...,"kata Akane-san, sambil terlihat agak malu.
"Bahkan kalian berdua kadang-kadang juga bertengkar?"
"Sebenarnya ini sering terjadi."
Akane-san tertawa tegang.
"Meskipun begitu, pertengkaran kami biasanya disebabkan oleh salah orang ini yang bertingkah idiot."
Ketika Akane-san menunjukan jarinya padanya, Hinata-san mulai ngambek seperti anak kecil:
"Apa yang kamu katakan? Bahkan ketika aku meminta maaf dengan jujur, Akane selalu meributkan permasalahan sepele, jadi dialah yang salah. "
"Meskipun menyebut 'hal sepele', tampaknya itu benar-benar tidak tercermin pada dirimu sendiri . Maksudku, bahkan ketika aku menghubungimu tentang tour ini...."
Dia tiba-tiba berhenti di tengah-tengah kalimat.
"... Yah, aku kira, kami sungguh bertengkar lagi dan lagi."
Wajah Akane-san mulai berubah menjadi merah karena malu sembari ia tersenyum kecut.
Entah kenapa, mereka berdua mengingatkanku tentang Pegasus-san dan ayahku. Pegasus-san tampaknya juga cukup sering mengucapkan perkataan buruk ketika dia berbicara tentang orang tuaku.
Jika aku tak salah ingat, Hinata-san dan Akane-san sudah saling kenal sejak sekolah dasar.
Selain mengetahui hal-hal yang tidak disukai satu sama lain, mereka juga cukup sering bertengkar, tapi ketika mereka bersama-sama , kau bisa mengatakan bahwa mereka adalah teman sejati... itulah yang aku pikir.
Sekarang aku baru menyadarinya, dalam drama TV lama yang biasa aku tonon, ada dialog seperti 'meskipun aku bisa menyebutkan 10 kelemahan yang kau miliki, aku masih mencintaimu!’
... Jika aku harus menyebutkan semua kekurangan dari anggota Neighbor’s Club, aku pikir, jumlahnya akan lebih dari 10 kesalahan.
"Oh ya, jadi bagaimana tentang Yozora?"
Tiba-tiba teringat akan hal itu, dan aku pun mengubah topik pembicaraan.
"Ah," kata Hinata-san sambil memberikan sedikit ekspresi wajah kesusahan:
"Yah, cukup banyak yang bisa kukatakan. Orang tua kami bercerai ketika kami masih sangat kecil. Aku pergi dengan ayah kami, dan Yozora pergi dengan ibu kami. "
Aku tidak tahu harus berkata apa kepada Hinata-san, yang mulai menjelaskan segala sesuatu tanpa ragu-ragu.
"Setelah perceraian, kami pergi ke SD dan SMP yang berbeda. Tidak sampai SMA, kami akhirnya bisa bertemu lagi, tapi jujur, kami saling menghindari satu sama lain... namun! "
Setelah Hinata-san bergumam dengan agak kesepian, dia tiba-tiba tersenyum secara ambisius.
"Aku tidak tahu dia sekarang sedang berada di kondisi mental macam apa, tapi akhirnya, dia berada di suatu tempat yang bisa kugapai. Aku akan menggunakan tour ini untuk melihat apakah Yozora dan aku bisa menjadi teman!"
"S-Semoga berhasil! Aku akan mendukungmu."
Aku mendukung Hinata-san yang telah menyatakan tekadnya. Adalah suatu hal yang baik ketika kedua saudara kembali akur.
"Ah, benar juga, Yozora sedang menuju ke mata air panas beberapa saat lalu."
"Apa ?! Ini adalah kesempatanku! Aku harus buru-buru dan pergi untuk mencuci punggung Yozora!"
Dengan mata penuh sukacita, Hinata-san bergegas pergi ke mata air panas.
Akane-san mengatakan "Oh ya ampun," dan mengangkat bahunya sebelum mengikuti Hinata-san.
"Um, Akane-san."
Aku memanggilnya untuk menghentikan Akane-san.
"Hm?"
"Apakah mungkin, ketika kita menetapkan kamar, kau sengaja mencampur anggota Dewan OSIS dan anggota Neighbor’s Club demi Hinata-san? "
"... kau cukup tajam, ya."
Menjawab pertanyaanku, senyum kecut muncul di wajah Akane-san.
Dari semua orang yang aku tahu, Akane-san adalah yang paling normal, jadi aku sangat prihatin padanya dan mencoba untuk membaca situasi ini.
Menggunakan perkataan seperti "itu adalah kesempatan yang telah lama kami tunggu" sebagai dalih. Meskipun fakta mengatakan bahwa mereka adalah orang yang jelas-jelas tidak disukainya, dia mencampur dengan paksa anggota klub kami. Aku khawatir, karena aku yakin bahwa hal ini cukup membuatnya tertekan.
"Aku berharap bahwa Hina akan berada di kamar yang sama dengan adiknya. Meskipun ternyata hal itu tidak terjadi, tidaklah buruk baginya untuk berteman dengan kouhai-nya."
Dan kemudian, senyum kesepian tiba-tiba muncul di wajah Akane-san saat dia berkata,
"... Bukannya aku selalu bisa berada di sisi Hina, kau tahu..."
"Eh?"
Aku tidak mengerti arti dari apa yang dia katakan, tapi Akane-san memberikan senyum lembut dan mengatakan:
"Aku akan pergi, Hasegawa-kun."
Sambil berbalik, ia dengan cepat menuju ke pemandian.


Setelah kembali ke kamarku, aku melihat Pegasus-san, yang sedang berbaring telungkup di atas bantal.
Dia mungkin kelelahan setelah lama mengemudi.
Sambil mengatakan 'Terima kasih untuk semua kerja kerasmu' dalam pikiranku, aku memutuskan bahwa memasuki mata air panas sementara Pegasus-san sedang tidur adalah pilihan yang lebih baik, jadi aku meraih yukata dan handuk dari lemari.
"Un ...?"
"Geh ..."
Meskipun aku sudah mencoba untuk membuat suara sepelan mungkin, sayangnya, Pegasus-san terbangun.
Memegang yukata dan handuk, pandangan kami bertemu.
"Hm? Kodaka-kun, kau akan mandi? "
"Ah, yaaahh... ya."
"Aku paham, kalau begitu, aku juga ikut. Bisakah  kau tunggu sebentar? "
"... Y-Ya ..."
... Pada akhirnya, sepertinya aku akan pergi ke air panas bersama dengan Pegasus-san.
Saling mencuci punggung satu sama lain, mendengar kisah tentang hidupnya ketika dia masih bersekolah, dan harus mendengarkan cerita berisikan kenangan dia dengan orang tuaku (aku pernah mendengar ini semua sebelumnya) sekali lagi...
Kebetulan, tempat pemandian umum yang luas ini tampaknya telah disewa untuk kami, dan pemandangan pemandian outdoor ini juga indah. Pasti akan menyenangkan jika aku bersantai di sini.


Meninggalkan Pegasus-san belakang, aku cepat-cepat keluar dari pemandian, mengenakan yukata-ku dan mengeringkan rambutku.
Setelah selesai di ruang ganti, aku mulai menuju ke kamarku, tapi di jalan, aku melihat denah peta bangunan ini. Entah kenapa, mataku terpaku pada denah itu untuk sementara waktu, dan pandanganku berhenti pada kata-kata 'Ruangan Ping-Pong'.
Hee... jadi ada kamar Ping-Pong, ya.
Mulai tertarik, aku pun memutuskan untuk menuju ke sana.
Di Ruang Ping-Pong, ada sekitar 10 meja Ping-Pong, serta Sena, Yukimura, Maria, dan Aoi.
Semua orang ber-yukata, dan mereka semua bermain Ping-Pong, dengan Yukimura menghadapi Aoi, dan Sena menghadapi Maria.
"Ah, Onii-chan!"
Yang pertama menyadari kedatanganku adalah Maria, dan memanggilku, kemudian ketiga gadis lainnya berhenti bermain Ping-Pong dan melihat ke arahku juga.
"Terima kasih untuk semua kerja kerasmu, Aniki," kata Yukimura.
"Kodaka,  kau sudah mandi?"
Aku mengangguk untuk membalas pertanyaan Sena.
"Ah, kalian belum mandi?"
"Ya. Ini adalah sesuatu yang tidak bisa kami lakukan sehari-hari, jadi kami memutuskan untuk berkeringat sebelum mandi. "
Sena mengatakan itu, tapi sepertinya dia tidak berkeringat sama sekali.
Namun, Aoi, Yukimura, dan Maria memiliki keringat yang bercucuran dari dahinya, dan rambut dan yukata mereka berantakan.
"Kau ingin bermain juga, Kodaka? Jika gadis-gadis ini menghadapiku mereka tidak punya peluang menang."
Pada komentar Sena, wajah Aoi dan Yukimura menunjukkan ekspresi sedikit marah, dan Maria membalas:
"T-Tidak mungkin! Kali ini aku akan mengalahkan Sena dengan pasti! "
Dia berkobar.
"Aku baru saja keluar dari kamar mandi, jadi aku pikir aku tidak akan ikut."
"Aku mengerti ..."
Kekecewaan menyebar di wajah Sena, dan dia kembali ke pertandingannya dengan Maria.
Ngomong-ngomong, Sena memegang raket shakehand, sementara Maria menggunakan pen-holder.
"Yukkii, mari kita melakukan beberapa pelatihan yang intensif!"
"Kedengarannya bagus."
Aoi dan Yukimura memulai reli mereka lagi.
Keduanya menggunakan raket shakehand.
Apa pun itu, aku akhirnya menonton permainan mereka.
Aku pernah bermain Ping-Pong di gym ketika masih SMP. Meskipun aku tidak benar-benar mahir atau buruk dalam permainan ini, bila dibandingkan dengan seseorang seperti diriku, Maria jauh lebih terampil.
Dia mampu bereaksi terhadap bola yang bergerak cepat, dan terus-menerus bergerak di sekitar meja untuk mengembalikan bola dengan jangkauan yang pendek. Bola bergerak begitu cepat sampai-sampai aku pun mengalami kesulitan mengikutinya dengan mataku.
Terhadap serangan-serangan sengit dari Maria, Sena tampak bosan dan dia hanya bergerak sesedikit mungkin untuk mengembalikan volley dari Maria. Betapa luar biasa refleks yang dia miliki...
"Fungyaa!"
"Tei!"
"Gyaa. Kau mengenaiku lagi. "
Dengan mudah mengembalikan smash yang Maria kirim menggunakan semua kekuatannya, Sena mendapatkan satu poin.
Tampaknya ini dikarenakan perbedaan ukuran tubuh yang cukup signifikan, sehingga hasilnya juga berbeda
... jika Maria menggunakan drive sebagai serangan utamanya, mungkin efeknya berbeda, tetapi tampaknya dia tidak punya kesempatan untuk menggunakan tembakan lurus.
Dan begitupun bagi Aoi dan Yukimura, tampaknya keduanya adalah seorang amatir dalam hal Ping-Pong.
Pertandingan mereka sangat berbeda dari Sena dan Maria. Pergerakan bola yang mereka mainkan jauh lebih lambat sehingga aku bisa mengikutinya dengan pandangan mataku.
Aksi mereka tidak berlangsung lama baik, dengan salah satu dari mereka hilang awal dan berakhir itu.
"Teei!"
"Yaa"
Meskipun keduanya benar-benar seorang pemula, menonton mereka mengejar bola seolah-olah hidup mereka bergantung pada itu, adalah hal yang sangat menyenangkan... namun.
Di tengah-tengah permainan mereka, mereka tidak menyadari bahwa sabuk yukata mereka telah longgar, dan itu menyebabkan daerah luas di sekitar dadanya terbuka...!
Seiring mereka membuat pergerakan yang sia-sia, setiap kali mereka mengayunkan raketnya, sekilas pemandangan dada akan muncul dan menghilang.
Aoi mengenakan bra olahraga sehingga itu bukan masalah. Masalah yang sebenarnya ada di Yukimura.
Yukimura... tidak mengenakan bra.
"Haa, aha... nhaa!"


Pipinya memerah, dan celana dalam aneh yang memikat miliknya juga kelihatan, Yukimura membentangkan lengannya berkali-kali, seakan hidupnya tergantung pada itu.
Setiap kali dia bergerak, payudaranya yang belum-cukup-indah melompat keluar di depan mataku, itu menyebabkan suatu perasaan tertentu bergejolak di dalam diriku secara tiba-tiba.
Aku, yang dipaksa menonton semua pemandangan ini, hanya bisa berbalik.
"Kodaka-kun, kau sudah mau pergi?"
"Y-Ya. Aku merasa sedikit dingin setelah mandi. "
"Begitu ya. Jadi, mohon bertandinglah denganku lain kali, Aniki. "
"T-Tentu! Nanti, ketika aku cukup berminat melakukannya! "

Seolah-olah melarikan diri dari suara manis Yukimura, aku meninggalkan ruang Ping-Pong.

Haganai Jilid 9 Bab 12 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Fariq Farhan Ariq

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.