Jumat, 26 Juni 2015

Haganai Jilid 9 Bab 10

BAB 10
NEIGHBORS CLUB SAGA


Setelah Yozora-san mengatakan itu, dia tidak lagi tidak lagi khawatir akan kekalahannya, dia duduk di depan TV bersama Kobato dan mulai bermain game tadi malam, 'KuroNecro', dan Maria pun ikut bergabung.
Sena memohon pada Kobato, 'Biarkan aku ikut bergabung juga! Aku sudah cukup banyak berlatih game, lho!' Tapi dia ditembak jatuh oleh 'TIDAK!' dari Kobato. Namun, dia tidak menyerah dan terus melakukannya, sampai dia akhirnya diizinkan untuk ikut bermain, dan dalam pertarungan itu dia menyerang Kobato dengan pergerakan yang sangat kompleks. Sena memaksakan stunlock-nya sampai Kobato tidak bisa kabur lagi dan akhirnya mati. Dengan demikian, Sena memperoleh kemenangan sempurna.
Melawan Yozora, yang menantang dia untuk membalaskan dendam Kobato, dia menggunakan stunlock combo yang berbeda dari sebelumnya dan mendapatkan kemenangan total lagi.
Sena berkata pada Yozora yang masih tertegun, "Kau tak tahu apa-apa tentang estetika bertempur, dasar binatang sialan...”
"Fufun, pecundang menyedihkan harus tetap tenang! Bagaimana Kobato-chan, aku kuat kan?! Itulah mengapa kau harus pergi denganku, bukannya dengan Yozora, dan—"
"... Jika aku bermain denganmu, aku hanya akan bosan."
"(• Ω `) "
Benar-benar merusak suasana hati Kobato, Sena ditendang keluar.
"Uu Kobato-chan milikku di-NTR oleh Yozora ..."
"Dari awal Kobato tidak pernah menjadi milikmu."
Aku turut berduka pada Sena yang berlinang air mata.
Dalam suasana hati seperti itu, semua orang menghabiskan waktu begitu lama dengan berbagai hal.
"H-Hei!"
Rika, yang sedang membaca buku, memecahkan suasana setelah Yozora dan Kobato menyelesaikan pertempuran yang tak terhitung jumlahnya.
"Sudah cukup lama sejak terakhir kali kita semua berkumpul di sini, jadi mengapa kita tidak melakukan sesuatu bersama-sama?"
"Itu ide bagus! Setuju, setuju!"
Karena dia telah diusir dari permainan, Sena adalah yang pertama kali menyetujuinya.
"Hmph... Yah, aku sih tidak keberatan, tapi, kita akan melakukan apa?"
Menanggapi pertanyaan Yozora, Rika mengatakan:
"Aku sedang berpikir tentang permainan 'Romancing Saga' yang pernah kita mainkan sebelumnya. Aku baru saja mendapatkan edisi utama kemarin. Apa yang kamu pikirkan?"
Romancing Saga-Dikembangkan oleh suatu perusahaan yang berlokasi di Prefecture Saga. Suatu game RPG fantasi dengan menggunakan layar head mount yang akan membuatmu terbenam dalam petualangan realistis dan menyenangkan.
Sekitar lima bulan yang lalu, Neighbor’s Club telah memainkan versi percobaan dari game tersebut. Rika pun telah membantu untuk mengembangkan itu.
Kembali pada waktu itu, Rika menyatakan secara antusias, "Aku kebetulan punya suatu game yang begitu sempurna," dan dia pun memamerkannya. Tapi sebenarnya, dia telah menyiapkan semua model karakter yang kita telah gunakan sebelumnya dan kami semua sudah memainkan game itu secara sekilas.
Dengan adanya Rika, yang telah menjadi temanku, dan Yozora, yang sudah kembali, game ini adalah pilihan sempurna untuk sesuatu seperti : awal yang baru bagi Neighbor’s Club.
"Aku menyetujuinya. Jika aku tidak salah ingat, game itu cukup menakjubkan."
"RomaSaga... Jadi versi akhir sudah ada di sini, aku paham. Baiklah, tunjukkan padaku."
Entah kenapa, Yukimura bergumam dengan ekspresi tegang.
Kobato, yang belum menjadi anggota pada saat memainkan game itu dulu, berkata, ‘Saga...?' dengan ekspresi agak penasaran di wajahnya.
"Jika ada sesuatu yang tidak kau mengerti, aku akan mengajarkanmu, oke, Kobato-chan?! Aku akan melindungimu dari semua monster yang menakutkan!"
Menanggapi Sena, yang membungkuk dengan kegirangan, Kobato merasa takut dan bergerak mendekati Yozora.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku akan pastikan untuk melindungi Sumeragi. "
"...! Yep! "
Kobato tersipu di depan Yozora setelah dia mengatakan itu, dan kemudian, dengan tampilan senang di wajahnya, dia pun mengangguk, sementara Sena hanya menanggapi dengan, ‘Uuh Mengapa selalu Yozora...' sambil berlinang air mata.


Rika dan aku mengambil layar head mount 'Virtual Boy', yang belakangan ini jarang dipakai, dan juga game dari ruang science, kemudian menghubungkannya ke komputer, setelah itu semua orang mengenakan head mount-nya masing-masing.
Mirip dengan ketika kami mainkan di waktu itu, tepat setelah logo perusahaan Largehard, pegunungan indah, sungai, dan padang rumput muncul di depan mata kami.
Sembari kami mendengarkan BGM mengesankan yang muncul dari headphone, narasi yang tak asing pun juga terdengar.
Saga - Terletak di Perbatasan Terakhir.
"Apa apaan ini?!"
Kobato baru kali ini melihat pembukaan tersebut dan mencibirnya. Ini mirip seperti apa yang aku lakukan dulu.
"... Aku kira, narasinya masih sama seperti dulu."
"Munculnya dunia dan hal-hal lain seharusnya tidak berubah dari versi beta. Kalau begitu, aku akan melewati pembukaan ini."
Rika mengatakannya disela pembukaan, dan langsung men-skip sampai ke layar pemilihan karakter.
Suatu cermin muncul di depan mataku, dan sosokku tercermin di situ.
Berdiri di ruang hitam legam yang mirip sekali dengan model CG. Sekali lagi, aku benar-benar ditunjukkan betapa hebat keterampilan Rika. Dia telah mengalahkan permasalahan pribadinya sendiri dan melalui semua itu, sehingga dia bisa membuat sesuatu sehebat ini... Meskipun aku percaya bahwa dia, entah bagaimana caranya, berhasil menyelipkan gambar kita untuk melakukan semua ini.
"Model karakternya sama seperti terakhir kali kita main. Aku juga sudah menyiapkan milik Kobato-san. Di sana, harusnya tidak ada masalah jika kau pergi ke depan dan menekan tombol konfirmasi begitu saja, tetapi juga ada fungsi untuk menyesuaikan tinggi dan ukuran tubuh, jadi jika kau tumbuh lebih tinggi atau payudaramu mengembang selama 5 bulan terakhir, silakan mengubah pengaturannya sendiri. "
Jadi, bahkan benda ini memiliki fungsi seperti itu ...
Sekarang aku baru sadar, terakhir kali aku mengukur tinggi badanku adalah saat dipindahkan ke akademi ini, jadi aku agak penasaran berapa tinggiku sekarang. Akan sangat baik jika aku tumbuh...
Setidaknya, aku meninggalkannya begitu saja dan menekan tombol konfirmasi untuk berpindah ke layar pemilihan pekerjaan.
Daftar pekerjaan ditampilkan dalam barisan di layar. Ada sekitar seratus pekerjaan berbeda yang bisa dipilih, dan aku benar-benar bingung apa yang harus kupilih.
"Pekerjaan apa yang akan kalian pilih?"
Anggota lain tampaknya tidak mengalami kesulitan dalam memilih kelas mereka, jadi aku mengajukan pertanyaan pada mereka.
"Aku memilih Paladin,” kata Sena, yang pertama menjawab pertanyaanku. Jika aku menanyainya, aku bisa bilang bahwa dia tidak 'memilih' Paladin, tetapi sepertinya dia sudah menetapkan hal tersebut dari awal.
"Aku akan menjadi seorang kesatria kegelapan."
"Kukuk... Baiklah, aku pikir, aku akan naik tahta menjadi putri kegelapan."
"Rika akan jadi biksu. Terakhir kali kita bermain, kita tidak punya penyembuh dan itu menyebabkan kita mendapat banyak masalah."
Yozora, Kobato, dan Rika menjawab.
"Aku akan memilih penari."
"Penari?!"
Pada jawaban tak terduga tersebut, semua anggota lain dan aku tersentak dengan kaget.
"Kau tidak memilih samurai?"
"Itu benar."
"... Yah, kita sudah memiliki dua petarung jarak dekat, sehingga kelas pendukung mungkin akan lebih baik," Kata Rika.
Dan yang paling terakhir, Maria angkat bicara.
"Aku menjadi penyihir, ahahaha!”
"Eh ..."
Terakhir kali kami bermain, aku memilih penyihir, tapi itu adalah kelas tidak berguna yang sama sekali tidak mempunyai keterampilan diperlukan.
Omong-omong, terakhir kali kami main, Maria jatuh tertidur setelah dia meletakkan virtual boy, sehingga pada dasarnya, dia tidak berpartisipasi sama sekali.
"Ahahaha! Aku adalah seorang jenius jadi aku pasti bisa melakukan beberapa sihir yang menakjubkan!"
"... Maria,  kalau begitu, kau benar-benar memilih itu?"
"Yap! Mari kita melakukan yang terbaik bersama-sama Onii-chan!"
Melihat Maria yang begitu polos bahagia, aku hanya bisa merasakan kehangatan dalam diriku.
"Mari kita lihat... Aku pikir aku akan memilih kelas pertapa."
Aku berpikir, akan lebih baik untuk memilih kelas yang mampu menggunakan sihir, jadi aku memutuskan untuk memilih pertapa.
Setelah aku selesai memilih kelasku, cermin di depanku melebar di seluruh layar dan berubah menjadi padang rumput besar.
Dan kemudian, aku bisa melihat sosok keenam rekanku.
Sena, Paladin, mengenakan baju besi yang begitu cocok dengan image-nya, dan armornya dicat putih. Itu sangat cocok dengan rambut pirang dan mata biru miliknya, dan tampak benar-benar keren, tapi penampilannya begitu tertutup, jadi, yaaahh, aku cukup menyayangkannya, betapa memalukan diriku.
Yozora mengenakan armor hitam yang terlihat begitu sesuai dengan kesan kesatria kegelapan. Paha dan lengannya sedikit lebih terekspose daripada kostum milik Sena.
"Uuuu An-chan..."
Melihat sosok Kobato, aku membuka mata lebar-lebar.
Pilihan Kobato adalah kelas... putri kegelapan, bukankah begitu?
... Namun, yang kulihat adalah, suatu puding hitam gelap melahap tubuh kecilnya, sesuatu yang tampak seperti jelly rasa kopi. Wajahnya, lengan, dan kaki terlihat menjulur keluar dari benda itu.
"Ke mana perginya pudi... eh... putri itu..."
"Sepertinya kau berakhir dengan memilih kelas lain seperti rose girl dan penyihir, yaitu kelas yang telah dimasukkan oleh para pengembang dengan tujuan hanya untuk nge-troll. Sama seperti rose girl, itu adalah penyerang jarak-menengah dan kemampuan bertahannya adalah yang terbaik diantara kelas-kelas lainnya. Namun kemampuan menyerangnya juga tak kalah tinggi, jadi menurutku itu adalah pilihan yang tak buruk."
"Ti-Tidak apa-apa, Kobato-chan! Bahkan jika  kau menjadi jelly kopi, kau tetaplah imut! "
"..."
Kobato bersikap tak acuh ketika Sena menghiburnya, tapi...
"... Kebetulan, aku suka kopi jelly, lho?"
"... T-Tentu saja... Kukuku, jika kesatriaku mengatakan demikian, maka aku akan menjadi dark matter..."
Mendengar komentar dari Yozora, suasana hati Kobato kembali membaik.
Berikutnya, aku menoleh ke arah Rika.
Kelasnya adalah biksu... Tidak hanya jubah biarawan yang dia miliki, tetapi juga kepala yang benar-benar botak.
Pada dasarnya, dia adalah seorang biarawan Buddha.
"... Aku tahu bahwa ini adalah hal yang paling dekat dengan 'biksu' di Jepang, tapi tetap saja..."
"Ya ... Itu adalah kelas pendukung seperti penyembuh dan biarawati, tapi Rika begitu ceroboh untuk memilihnya, Rika pikir, Rika akan menjadi seorang biarawati seperti yang pernah dilihatnya pada DragonCrest... Rika telah mencoba berbagai macam gaya rambut yang berbeda, tapi Rika tidak pernah menyangka melihat Rika dengan kepala yang sepenuhnya botak..."
Dia mengatakan itu dengan suara tertekan.
"T-Tapi itu masih bagus! Bahkan gaya rambut itu sesuai denganmu, lho. "
"... Terima kasih banyak."
Tampaknya dia begitu tidak mempercayai perkataanku, tapi sejujurnya, aku pikir, kepala yang dicukur botak itu tampak bagus karena wajah kekanak-kanakan Rika jadi terlihat jelas. Dia tampak lucu dengan segala jenis gaya rambut, bukan?
Dan yang berikutnya, Yukimura...
"Eh...?!"
Melihat sosoknya, aku tercengang.
Penari—seharusnya itulah kelas yang dipilih oleh Yukimura. Saat aku sedang memikirkan bakal terlihat seperti apa kostumnya, dan aku pun tahu permainan lempar bola seperti apa yang ada di game ini, maka aku hanya bisa berpikir bahwa kostumnya memiliki bentuk yang begitu bervariasi. Tapi yang aku lihat di depan mataku adalah suatu kostum penari yang begitu sexy... seakan-akan, dia hanya menggunakan pakaian dalam. Itu adalah suatu kostum yang sangat terbuka.
Di samping itu semua, ada fakta bahwa sekarang Yukimura memiliki ukuran Double D Cup.
"Yukimura,  kau..."
"Ada apa?"
Yukimura memiringkan kepalanya sedikit.
Itu adalah Yukimura, tapi Yukimura dengan dua bukit yang tumbuh di dadanya. Itu adalah Yukimura, tapi setiap kali dia bergerak, benda itu bergoyang-goyang. Kedua tonjolan itu terlihat begitu tidak sesuai.
"Yukimura-kun, kau bermain-main dengan ukuran cup-mu, bukan?"
"Ohh ya ampun, ini suatu kesalahan, aku pasti tadi membuat kesalahan ketika mengatur ukurannya"
Yukimura berlagak bodoh sambil berlagak seakan-akan dia baru menyadarinya sekarang.
"... Terahir kali aku tahu, kau tidak sebodoh itu dalam permainan game komputer, Yukimura-kun."
Dengan pandangan berat, Rika menatap dada Yukimura (pada kenyataannya, karakternya memang begitu menarik perhatian, seni dalam game memang luar biasa).
"Jadi yang seperti itu bisa saja terjadi ...!" gumam Yozora dalam penyesalan.
Memiliki payudara yang bisa bersaing dengan ukuran Sena di dunia nyata dan melihat bahwa Sena mengenakan baju besi, situasi saat ini berubah menjadi aneh, dimana sekarang Yukimuralah yang paling seksi di Neighbor’s Club.
"Yukimura, mengapa kau membuat karakter yang begitu seksi? Akhir-akhir ini, kau bahkan berhenti memakai seragam pelayan dan mulai mengenakan seragam sekolah seorang gadis. Aku juga mendengar kau berbicara dengan Aoi tentang 'kekuatan kewanitaan' ... Apa yang terjadi dengan: menjadi seorang pria sejati?"
Aku menggunakan kesempatan ini untuk bertanya tentang sesuatu yang cukup membuatku penasaran selama ini. Dan jawabannya adalah?
"Aku sudah berubah pikiran."
Yukimura menjawab dengan acuh tak acuh.
"............"
"............"
"Hah? Begitukah? "
"Iya."
Balasan acuh tak acuh begitu cocok dengan dirinya, dan pada saat yang sama, dia terlihat begitu jantan karena menjawab tanpa basa-basi.
"Ummm, aku berharap kau akan memberi penjelasan tentang 'perubahan pikiran'-mu, dengan rincian yang lebih spesifik, kau tahu...?"
"Aku paham, jadi begitu ya."
Sepertinya Yukimura benar-benar tidak memahaminya, dan dia berkata dengan agak takut:
"Jika kau mengizinkan aku untuk berbicara jujur, aku yakin bahwa Yozora-Anego tidak layak dipercaya. "
"Gifu!"
Yukimura mengatakannya tanpa sedikit pun keragu-raguan.
Yozora tersedak setelah mendengar Yukimura mengatakan itu, karena sesungguhnya, hal seperti itu adalah sesuatu yang begitu sulit dikatakan tepat di depan orang yang bersangkutan.
Yukimura berbalik dan membungkuk serendah-rendahnya pada Yozora (seperti biasa).
"Yozora-Anego, terima kasih karena telah mendukungku selama ini. Aku percaya bahwa sudah waktunya bagiku untuk mendapatkan tujuanku dengan caraku sendiri. "
"Aku paham... Rupanya kamu sudah dewasa, Yukimura..."
Yozora tertawa dengan hampa dan bahkan tidak mencoba untuk memberikan alasan penyanggahan.
"Aku akan mengembalikan pakaian pelayan setelah dicuci dari binatu."
"Yah, jangan khawatir tentang hal itu. Aku memberimu seragam pelayan sebagai hadiah perpisahan... "
"Aku harus menolak, karena itu akan menggangguku, jika tetap berada di rumahku..."
"A-A-Aku paham... Di-Di-Dimengerti."
Yozora melemaskan bahunya dengan kecewa, bahkan dalam dunia nyata (atau setidaknya seperti itulah menurutku) setelah mendengar Yukimura, yang terbiasa berbicara dengan sopan, lembut dan tidak pernah mengungkapkan sesuatu yang pedas.
Dia mengatakan bahwa, dari awal dia tidak suka seragam pelayan itu, jadi sekarang dia tidak mengikuti Yozora lagi, perintah untuk mengenakan seragam jadi tidak berarti...
Mengesampingkan Yukimura dan Yozora, aku mengalihkan pandanganku pada Maria.
Dia mengenakan jubah hitam dan topi runcing penyihir, di tangannya, dia memegang tongkat yang ujungnya dilengkapi dengan permata—memang seorang penyihir yang imut.
"... Hah...? Ini penyihir, kan...? "
Maria mengangguk dengan penuh semangat dan mengatakan "Ya!" sebagai jawaban untuk pertanyaanku.
"Ah, kelas penyihir sungguh jelek ketika seorang pria memilihnya. Jika pemain wanita memilihnya, itu berfungsi dengan agak normal. "
Rika memberikan jawaban atas kebingunganku.
"Ada apa dengan perbedaan perlakuan itu..."
Itu pun bukan jawaban yang memuaskan, tetapi jika Maria memiliki sesuatu yang dia senangi, jadi aku kira itu itu tidak masalah.
Akhirnya, aku membuka menu permainan untuk melihat bagaimana penampilanku sendiri.
Di bagian atas ada suatu T-shirt yang keriput, di bagian bawah ada celana pendek... Apa?
"Apa-apaan ini?!"
Itu sungguh berbeda dari penyihir (versi laki-laki) yang biasanya dilihat oleh para otaku cewek. Kasus ini begitu menyedihkan dan aku pun tidak bisa keluar lagi. Aku sekarang hanya menjadi seorang pria yang menyedihkan...
"A-aku memilih pertapa, jadi apa-apaan ini ?!"
"Ah.  Rika  baru  sadar  sekarang ...  Kodaka-senpai  mendapatkan  dua  kali  kelas  guyonan  sekaligus ... Menariknya, keadaan jiwa seseorang setelah masturbasi mirip dengan pikiran seorang pertapa – inilah yang kumaksud dengan guyonan."
"Bagian mananya yang kau lihat sebagai kelas dari kostum ini?!"
Ketika aku membuka daftar kemampuan, hal pertama yang aku dapati adalah 'Lepaskan celanamu'.
Dan deskripsinya adalah: 'Lepaskan celanamu. Bagian-bagian pribadimu akan didetailkan, tidak ada alasan untuk sungkan (lol) '... (lol) itu sungguh membuatku jengkel.
"Ada terlalu banyak kelas tak berharga dalam game ini ..."
"Ini menunjukkan bahwa pencipta game ini melihat para pemain sebagai orang-orang yang menjijikkan. Aku benar-benar tidak tahu apakah ini benar-benar suatu pembebasan ataukah tidak. "
"Game ini pasti akan mendapatkan banyak celaan, jadi aku pikir, akan lebih baik jika game ini tidak dirilis," kataku dengan lesu.
"Huff ... 'waktu pertapa', eh ... Akan sudah lebih pas jika aku yang memilih kelas itu ..."
Yozora mengatakannya dengan menyesal.
Karena beberapa jam lalu Yozora mengatakan bahwa dia melakukan hal itu di kamar mandi rumahku, semua orang terdiam, dan menunggu situasi tidak nyaman ini berakhir.
"P-Pokoknya mari kita bertualang!" Rika mengatakannya seolah-olah untuk menyingkirkan atmosfer canggung tersebut, "Sama seperti pada versi beta, tutorial berlangsung sampai kita mengalahkan raja iblis di dalam Valhalla Castle, jadi mari kita menyelesaikan dengan mengalahkan raja iblis hari ini! "
"Ini akan menjadi balas dendam untuk waktu itu. Yozora, jangan menghalang-halangi jalanku kali ini," kata Sena.
"... Baiklah. Aku mengerti. Kupikir, akan lebih baik jika aku meringkuk di pojok dan melakukan masturbasi lagi, jadi aku tidak akan mengganggu jalanmu..."
"Aku bilang, berhenti mengatakan itu! Ayo, mari kita pergi!"
Sena berteriak pada Yozora, yang telah benar-benar memasuki mode penyiksaan diri, dan mulai berjalan pergi.
Dengan dipimpin oleh Sena, semua orang mulai bergerak maju, meskipun lambat.
Kesatria Kudus, kesatria hitam, puding hitam, penyihir, biarawati, penari, dan pertapa.
Anehnya, kecakapan perang kami tampak begitu seimbang (terlepas dari aku).


Beberapa saat setelah kami maju ke arah Valhalla Castle, kediaman raja iblis...
GYAAAAAAAAAAAAAAA———!
... Monster keluar dari tanah dengan beberapa teriakan yang menyeramkan.
Tiga prajurit warasubo1 menampakan wujudnya di depan kami.
"HYOU- ?!" "GYAA- ?!"
Maria dan Kobato melihat makhluk-makhluk tersebut untuk pertama kalinya dan berteriak.
"A-AN-CHAN, M-M-MEREKA ADALAH WARASUBO!"
"Ya, tampaknya kau juga mengingat mereka."
Ketika kami tinggal di Kyushu, Kobato pernah sekali menyaksikan bagaimana warasubo dimasak. Adegan itu membuatnya takut sehingga dia mulai menangis.
"Kukuku... k-karena makhluk itu begitu aneh, mungkin aku juga akan bertemu dengan naga jahat waraboros di sini... Aku harus membalas budi dari waktu itu ...! "
"Majulah, bayangkan kita bisa mencoba dan memakannya lagi suatu saat nanti?"
"BAGAIMANA MUNGKIN AKU MEMAKAN BENDA SEPERTI ITU!"
Dia menolak dengan sepenuh hati. Meskipun itu begitu lezat... warasubo...
"Jadi musuh kita benar-benar belum berubah..."
Karena aku cukup bersimpati pada warasubo, aku merasa sedikit sedih.
"Kita akan berikan pukulan pada monster-monster itu, Yozora!"
"Fu ... Aku akan menggunakan gagang pedang terkutuk milikku padamu..." kata Yozora, meskipun dia memegang pedang yang sama persis seperti milik Sena. (Kami masih memegang peralatan pemula, jadi ini hanyalah pedang seukuran gilingan.)
Kebetulan, sistem pertempuran dalam game ini tidak berbasis pada giliran, melainkan pertempuran asli, sehingga kau harus mengatur waktu antara serangan atau keterampilan pendukung.
Setelah seseorang mengambil tindakan, ada jeda waktu yang bisa digunakan para pemain untuk lari atau bertahan.
"Terima ini ...!"
"Fu ..."
Kedua ksatria menyerang prajurit warasubo #1 secara berturut-turut.
"GYAAAAAAAAA!"
Namun, monster itu melemparkan tombaknya secara horizontal dan menangkis kedua serangan si kesatria.
"Eh ?!" "Apa- ?!"
Baik Sena dan Yozora mengeluarkan suara dengan nada terkejut.
Melihat kesempatan yang diciptakan oleh serangan mereka gagal, prajurit warasubo #2 dan #3 juga menyerang.
Sena dan Yozora masing-masing mendapatkan 5 damage dari warasubo yang menyerang mereka.
Serangan tambahan dari warasubo #1 pada Sena menyebabkan 6 damage.
"Beraninya kau melakukan itu padaku, dasar kau alien menjijikkan!"
"Tolong hati-hati. Berbeda dengan versi sebelumnya, sekarang mereka bisa menyerang balik. "
Rika mengatakan itu dan mentransferkan beberapa sihir penyembuhan pada Sena.
Sekarang aku baru menyadarinya, waktu kami memainkan game ini tempo hari, pola serangan musuh masih berada dalam tahap pengembangan, jadi akhirnya kami bisa membantai mereka dalam suatu pertempuran yang berat sebelah... Aku hanya bisa menghindar ketika menghadapi para warasubo yang kini bisa menyerang dengan layak.
Belum lagi, tampaknya AI2 yang mereka punyai cukup cerdas. Para tentara saling bekerja sama. Serangan Sena dan Yozora ditahan dengan terampil, sehingga damage yang mereka terima sangat minim. Dan tentara lainnya melakukan serangan balasan ketika ada celah.
Masih pertempuran pertama, tapi aku tahu dari seberapa buruk kerja sama kami bahwa ini akan menjadi game yang tidak mudah diselesaikan.
"Aku juga akan melawan mereka! Apa yang harus aku lakukan ?! "
Maria mengatakan itu saat dia melihat Sena dan Yozora sedang berkelahi, dan Rika mulai memberikan instruksi.
"Kalau begitu, tolong gunakan mantra bola api pada tentara #1. Setelah mereka sempoyongan karena serangan tersebut, Yukimura-kun dan Kobato-chan bisa menyerbu! "
"Dimengerti."
"Kukuku ... Baiklah."
Yukimura dan Kobato memberikan persetujuan mereka.
"Mari kita lihaaaaatt, bola api yang satu ini, kan? Terbakarlah sampai mati, alien menyebalkan! "
Maria melemparkan bola api ke prajurit warasubo #1.
Karena ia tidak tahan terhadap sihir, prajurit warasubo terbakar oleh bola api dan bergerak sempoyongan, melihat itu, Kobato melepaskan tentakel hitam dari tubuhnya dan menyerangnya.
Sebagai tambahan, Yukimura memangkas prajurit itu dengan pisau yang dia pegang dengan kedua tangannya, sembari menggoyang-goyangkan payudaranya ke kiri dan ke kanan.
... 'Yukimura dengan payudara yang bergoyang' ... Ada perasaan aneh yang merasuki pikiranku dan ini bukan bahan tertawaan, tetapi lupakan saja itu ...
"Gyaaaaaaaah!"
Prajurit warasubo #1 menjerit di akhir hayatnya, roboh ke tanah, dan menghilang.
"Baik, berikutnya, mari kita tumbangkan prajurit #2."
Yozora dan Kobato mendekati prajurit #2.
Prajurit #2 menyerang Yozora dengan menggunakan tombak, tapi Yozora memblokirnya.
Kemudian Kobato menggunakan tentakel hitamnya untuk menyerang monster tersebut.
"Ahahaha! Aku juga akan menyerang! "
Maria menciptakan bola api sambil tertawa.
Namun bola apinya hanya melewati si prajurit—dan mengenai Kobato, dan dia pun menerima damage.
"FUNGYA! APA YANG  KAU LAKUKAN, IDIOT ?! "
"I-Itu tidak sengaja! Salamu! Kenapa bengong!"
Melihat Kobato marah, Maria jadi bingung.
"Hei! Kenapa sekarang damage bisa terjadi antar sesama teman ?! "
"Sepertinya mereka mengubah itu dari versi beta untuk menekankan pentingnya kerja sama. Tolong berhati-hati agar tidak mengenai teman saat menyerang. "


Rika memperingatkan semuanya untuk berhati-hati sembari dia menyembuhkan Kobato, tapi...
"Heee, jadi serangan juga dapat melukai teman-teman satu tim. Kalau begitu, kita harus extra hati-hati, bukankah demikian? "
Tanpa keraguan, aku bisa bilang bahwa Sena yang ada di dunia nyata sedang tersenyum dengan jahat, dan itu sepenuhnya bertentangan dengan peringatannya tadi.
Namun, Yozora tetap terdiam, jadi aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan.
Kemudian, dua prajurit di sebelah kiri menyerang lagi.
"Perlawanan yang percuma."
Prajurit #2 ditumbangkan oleh serangan combo dahsyat dari Yukimura (dengan payudara yang bergoyang), sehingga satu-satunya yang tersisa sekarang adalah prajurit #3.
"GYAAAAAAAAAA!"
Dalam versi beta, para prajurit warasubo mengungkapkan berbagai hal menyedihkan tentang keluarga mereka ketika mereka berada dalam keadaan darurat, sehingga pemain yang hendak membunuhnya akan merasa bersalah, tapi sepertinya versi itu telah dihapus, dan mereka terus menyerang kami bahkan dalam keadaan sekarat, jadi tak ada rasa apa-apa. Prajurit #3 hanya terus menyerang kami seolah-olah tidak ada yang terjadi.
"HAA!"
Yukimura dengan lincah menghindari serangan prajurit #3 dan membuat jarak antara dia dan musuh.
"Sekarang, Yozora! Majulah! "
"Ya."
Yozora menyerang prajurit warasubo #3 dan Sena segera mengikutinya.
"Ayo! Cross Slash! "
Sena memberikan ayunan besar dengan pedang di tangannya, dan mengarahkan jurus pamungkasnya pada... Yozora.
Ah... Sudah kuduga... Aku pun hanya mendesah.
Kekuatan pertahanan tingkat tinggi dari kesatria kegelapan menyebabkan Yozora tetap hidup bahkan setelah menerima Cross Slash secara langsung, dan giliran dia balas dendam pada Sena.
"Lebih berhati-hati, ya."
Yozora mengatakan itu dengan acuh tak acuh. Dia bahkan tidak menyalahkan Sena atas perbuatannya tersebut, melihat reaksi seperti itu, Sena jadi bingung dan hanya bisa menjawab, "Ah, eh, ya ... Maaf." Dia pun meminta maaf.
Prajurit #3 bersiap untuk serangan berikutnya dan sekarang menyerbu ke arah Yozora, itu adalah suatu serangan yang bisa dia tahan dengan begitu mudah.
"Sumeragi!"
"Kukuku ..."
Kobato menggunakan tentakelnya untuk menyerang musuh, yang diikuti oleh serangan Yozora untuk melancarkan pukulan terakhir.
Maka, semua musuh sudah tersingkir dan pertempuran berakhir dengan kemenangan kami.
"Kukuku... kesatriaku memang luar biasa, itu adalah pertunjukan kekuatan yang spektakuler..."
Kata puding kegelapan... maksudku, putri kegelapan. Kesatria kegelapan pun bereaksi dengan meletakkan tangannya di depannya dada dengan gerakan elegan, mirip seorang pelayan : "Fu... Aku merasa terhormat"
"Muu..."
Sena terus berdiri di sana diam sambil melihat mereka berdua.


Setelah pertempuran pertama, petualangan kami terus berlangsung dengan lancar.
Mungkin, itu karena kelompok kami memiliki keseimbangan yang bagus. Tapi aku akan mengatakan bahwa ini lebih dikarenakan kami tidak saling serang satu sama lain dengan sengaja (padahal itu sangat mungkin terjadi, jadi aku cukup penasaran.)
Pertama, ada Yukimura yang dengan cerdik melancarkan serangan sebagai DD utama di kelompok kami meskipun dia lemah dalam bertahan, dia menyembuhkan sekutu dengan tarian dan goyangan payudaranya, dan meningkatkan statistik mereka – lagi-lagi dengan goyangan payudara.
Lalu ada Sena, sebagai barisan depan, yang akan mengamuk pada segala sesuatu yang mengganggu jalannya, seolah-olah dia mencoba untuk melampiaskan rasa frustrasinya karena diabaikan oleh Kobato dan Yozora.
Karena tidak ada kekhawatiran monster datang dari arah belakang atau pusat, ditambah lagi, Kobato dan Maria mendukung serangan dari garis depan, Rika mampu berkonsentrasi pada penyembuhan lini penyerang (terutama Sena), dia memasang perisai untuk membatalkan sihir lawan dan mendukung kelompok ini.
Berikutnya adalah Yozora, yang terus memperhatikan setiap kesempatan untuk menyerang monster-monster, sementara dia dijaga oleh Maria dan Kobato.
Dan terakhir, seorang pria yang pada dasarnya tidak melakukan apa pun, yaitu aku.
Setelah mengalahkan banyak monster warasubo sepanjang jalan, kami akhirnya tiba di Valhalla Castle, yaitu rumah dari raja para warasubo.
Pastinya, dia tampak seperti suatu bos yang kuat, dengan ukuran sekitar 10 kali lebih besar daripada monster warasubo biasa, dilengkapi dengan baju zirah besi dan kapak raksasa yang terlihat begitu buruk.
"Jadi,  kalian akhirnya tiba di sini, wahai para manusia sialan."
Terakhir kali kami bertemu, makhluk ini menyerang tanpa peringatan, tapi sekarang dia benar-benar berbicara.
"... Tapi, keberuntunganmu berakhir di sini. Hari ini aku akan mandi dengan guyuran darahmu, dan kemudian kami, orang-orang pilihan dari prefektur Saga, akan menaklukkan dunia ini dan memerintah sebagai ras paling unggul! "
Raja berkata dengan suara bergairah yang lebay. Jadi mereka dulunya adalah orang-orang dari prefektur Saga...
"Aku akan membayar hutang yang kemarin dengan bunga!"
"Hmph ... Darahmu akan kutumpahkan di lantai hari ini."
"Kukuku ... Kau harus merasakan kekuatan sejati kami ..."
"Seorang raja iblis sepertimu hanya akan kami hajar!"
Sena, Yozora, Kobato, dan Maria mulai mempersiapkan diri untuk pertempuran, Yukimura mulai menari dan meningkatkan kekuatan serang kelompok kami, sementara Rika menggunakan tekniknya untuk mendukung kekuatan pertahanan kelompok kami.
"GUOOOOOOO!"
Raja Iblis menyerang ke arah kami sambil mengayunkan kapaknya dan pertempuran akhirnya dimulai.
Serangan Raja Iblis sangatlah kuat, tapi pola serangannya tidak banyak berubah ketika kami terakhir kali bermain, sehingga semua orang, dengan pengecualian Kobato dan Maria yang baru kali ini melihatnya, mampu bertarung dengan baik dan semuanya berjalan dengan terkendali.
Terakhir kali kami bermain, Yozora meninggalkan Sena, dan Sena menggelitik Yozora di dunia nyata untuk menghalang-halanginya bermain–tapi saat ini tidak ada hal seperti itu.
Setiap kali aku melihat, bar point dari Raja Iblis berkurang sedikit demi sedikit. Aku berpikir bahwa kemenangan sudah berada di genggaman kami.
... Kemenangan kami? Itu sangat salah ...
Aku hanya berlindung di pinggir agar tidak menjadi pengganggu dalam pertempuran tersebut.
Meskipun begitu, aku telah belajar kemampuan baru seperti Level Up, tapi itu hanya mirip seperti, 'Bersiaplah untuk FAP', 'Siapkan tisu', atau 'Kunci pintu', itu hanyalah hal-hal yang cocok dilakukan sendirian untuk bersenang-senang, aku bahkan tidak bisa masuk ke 'waktu pertapa'.
Sekarang, aku bahkan bukan seorang pertapa... Aku hanyalah seorang NEET.
"Haaa ... Ah"
*Dorong*
Aku mendesah ketika aku memeriksa daftar keterampilan tak berguna yang aku miliki dan secara tidak sengaja menekan tombol 'Turunkan celanamu'.
Kemudian aku (atau lebih tepatnya karakterku) mulai melepas celana dengan terburu-buru.
"Apa- UWAAA, TUNGGU, AKU!"
Aku bingung dan mencoba untuk membatalkannya secepat mungkin, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya.
"Eh, tunggu, Kodaka? Apa-apaan itu ?!"
Yang pertama melihatku adalah Rika.
"Aniki ... Betapa berani dirimu..."
Yukimura berkata sambil menatap ke arahku.
"J-jangan lihat!"
Bahkan jika bagian itunya disensor, bagi seseorang dengan kepribadian sepertiku, memperlihatkan tubuh bagian bawah adalah suatu hal yang sangat memalukan, sampai-sampai aku mau mati.
"B-bagaimana cara memasang kembali celananya?!"
"Umm, sekali kau melepas celanamu, tidak mungkin kau bisa memasangnya kembali sampai pertempuran berakhir."
"Hei, Rika! Kau mematikan perisai pertahanannya! Apa yang kau-?"
Yozora sedang terlibat dalam pertempuran jarak dekat dengan raja iblis, dan ketika dia melihat ke belakang, dia pun kehabisan kata-kata.
"K-Kodaka ?! A-Apa yang sedang kau lakukan ?! "
Gerakan Yozora berhenti, dan pada saat itu, suatu hantaman kuat dari Raja Iblis mengenai tepat di punggungnya.
"Shi-"
Serangan yang mendarat di punggungnya adalah suatu serangan fatal yang bisa memperburuk keadaan, itu berarti, Yozora mati seketika.
Tubuh Yozora tumbang ke tanah dan menumpahkan darah ke mana-mana.
"Onee- K-Kesatriaku!"
Kobato berteriak dengan kaget.
... Tidakkah dia mencoba untuk mengatakan 'Onee-chan' tadi? Aku tidak tahu bahwa dia sudah sedekat itu dengan Yozora ...
Setelah membunuh Yozora, Raja Iblis mengarahkan tatapan matanya pada Kobato dan menyerangnya.
"Aku akan melindungimu, Kobato-chan! Cepat bersembunyi di balik punggungku sekarang! "
"TIDAK!"
"(• Ω `) "
Kemudian, setelah dia menolak bantuan Sena, Kobato mencoba lari ke arah yang berbeda, tapi dia hanya berakhir dengan terpojok di depan dinding, dan menerima pukulan langsung.
Sebagai puding hitam yang memiliki pertahanan kuat, bahkan serangan langsung pun belum cukup untuk menumbangkannya. Tapi karena dia terus melarikan diri ke arah yang berlawanan dengan kelompok kami, kemudian terpojok lagi, dia akhirnya menerima beberapa pukulan telak dari Raja Iblis. Sihir penyembuhan dari Rika pun tidak dapat mencapainya karena jaraknya cukup jauh Dan dengan demikian, Kobato mati tanpa banyak perlawanan.
"Kau berani melakukan itu pada Kobato-chan, dasar bajingan!"
Sena mengayunkan pedangnya ke arah Raja Iblis dan melempar kemampuan apapun yang dia miliki. Ketika melakukannya, Sena mendapatkan banyak damage, namun Raja Iblis memanfaatkan celah pada serangannya dan memberikan pukulan telak. Sena pun mati.
Kelompok ini telah kehilangan petarung utama dan sekarang kami adalah mangsa yang empuk bagi Raja Iblis. Akibatnya, Yukimura, Maria, dan Rika diringkus olehnya secara berurutan. Yang tersisa hanyalah seorang pria yang tidak memakai celana dan alat kelaminnya bergantungan. Dan aku pun terbunuh dengan cepat.
Dan setelah pertempuran ini, tidak ada seorang pun yang pernah melihat pahlawan kita lagi.
Dan persis seperti terakhir kali kami memainkan game ini, narasi terdengar dengan suara muram dan layarnya berubah menjadi hitam. Hanya ada kalimat 'GAME OVER' yang muncul dengan berlumuran darah.
Hal bodoh aku (lebih tepatnya karakterku) lakukan, menurunkan moral kelompok. Dan sekarang sudah cukup terlambat, kami bersumpah untuk mengalahkan Raja Iblis dengan pasti lain kali dan kami pun keluar dari permainan.
"Ya ampun, itu semua karena Kodaka mulai melakukan suatu hal yang cabul ..."
"Tepat. Mengapa kau menelanjangi dirimu sendiri saat itu, apakah kau seorang idiot? "
Yozora dan Sena terus mengeluh padaku sembari wajahnya memerah sedikit.
"Ini memalukan, bahkan itumu disensor."
"Kau ingin membuat game ini menjadi genre 18+, Yukimura-kun ...?"
Rika membalas Yukimura, yang mengatakan itu dengan kekecewaan terlihat di wajahnya.
"Hei, hei. Mengapa tempat di sekitar batang milik onii-chan terlihat aneh? Saat itu, aku juga merasakan hal yang sama pada peepee punya Onii-chan, sehingga aku ingin melihatnya lagi. "
"M-Maria, mohon Aku mohon agar kau berhenti berbicara tentang bendaku..."
"... Hee... Jadi Kodaka memiliki semacam perasaan itu..."
Rika mengatakannya dengan nada tertarik dan wajahku terasa semakin memanas.
"T-Tapi jujur, sudah cukup lama sejak kita terakhir kali melakukan kegiatan Neighbor’s Club seperti ini."
"Menurutmu, salah siapa sehingga kita hiatus dari aktivitas klub begitu lama?"
Aku menegang setelah dimarahi oleh Sena, tapi kemudian Kobato berkata, "Ini semua salahmu juga...", dengan suara kecil, itu menyebabkan wajah Sena juga jadi menegang.
"A-Apapun itu, untuk menebus kekalahan kita, mari kita banyak-banyak bermain, jadi camkan itu pada pikiran kalian!"
"Ah, ya! kau benar! "
Sena mengatakan itu untuk menyembunyikan rasa gugupnya dan aku mengikutinya dengan segera.
"Kalau begitu mari kita juga melakukan sesuatu minggu depan!"
"Tidak perlu menunggu sampai minggu depan, mungkin besok atau lusa. Bagaimanapun juga, kita akan punya waktu kosong karena liburan... Kita harus pergi berkaraoke lagi atau sesuatu sejenisnya."
"Itu adalah ide yang cukup bagus dari seseorang seperti Yozora! Aku akan membuat kalian semua menggigil dengan suaraku yang bak malaikat! "
"Kau nyanyi saja sendirian."
"Kukuku, kesatriaku ... Jika ini adalah keinginanmu, maka aku akan meminjamkan CD lagu karakter 'KuroNecro"... Kami akan bernyanyi duet antara Reisis dan Shen-fa. "
"Hooo, jadi ada juga yang seperti itu? Aku akan mengatur agar kita berdua bisa menyanyikannya. "
"K-Kobato-chan, berduetlah denganku-gyapo!"
Lagi-lagi, Sena mendapat tepisan pemukul lalat ketika dia mencoba mendekati Kobato.
"Kemudian lusa... Pada hari Minggu kami pergi berkarao—"
"Ah, maaf teman-teman, besok lusa aku sudah punya acara yang harus aku lakukan."
Setelah aku menyela Yozora, semuanya melihat ke arahku sekaligus.
"Kau punya rencana di akhir pekan...? Apakah kau sudah menjadi orang yang normal ...!? "
"Aku tetaplah seorang Kodaka, namun sesuatu yang sangat berani sudah terjadi!"
"Kukuku ... Aku yakin, kau harus memasak ramen tonkotsu, bukan?"
"Bukan begitu! Kadang-kadang, bahkan orang sepertiku juga merencanakan sesuatu di akhir pekan, dasar idiot ... Namun ini memanglah suatu hal yang begitu langka... "
Setelah aku selesai mengatakan itu sambil mencibir, Rika mengatakan:
"Aku ingin tahu, rencana apa yang menyibukkanmu di akhir pekan?"
"Itu, umm..."
Tak ada alasan aku menyembunyikannya, tapi aku punya perasaan bahwa jika aku mengatakannya tanpa pikir panjang, orang-orang ini akan marah padaku. Tapi, aku kira jika aku menipu mereka, itu tidaklah jujur, jadi aku akan mengatakan kebenaran...
Monolog ini berjalan melintasi kepalaku.
"Aku pernah mendengar bahwa, anggota dewa osis berencana pergi dengannya dalam suatu tour ke pemandian air panas. "
Yang mengatakan itu secara tiba-tiba bukanlah aku, tapi Yukimura.
"" "" "" PEMANDIAN AIR PANAS ?! "" "" ""
Suara terkejut dari enam orang bergema di ruangan.
Enam orang—Jika kau bertanya mengapa aku juga ikut menjerit. Jawabannya sederhana. Karena aku baru tahu bahwa aku akan diajak ke suatu pemandian air panas.
"APA MAKSUDNYA?!"
"APA MAKSUDNYA?!"
Sena dan Yozora mendekat ke arahku.
"Yang aku dengar hanyalah, aku akan diajak pada suatu tour untuk memeriksa penginapan yang akan dipakai oleh para pelajar pada saat kursus pelatihan ski. "
"Mengapa harus Kodaka?!"
Sena dan yang lainnya terus menghujani aku dengan pertanyaan tanpa henti. Tentu saja, aku tidak punya pilihan selain menjelaskan.
"Yah, kami hanya akan tinggal di sana selama satu malam dan kembali keesokan harinya. Sepertinya ini bukanlah suatu permasalahan yang besar. "
Dan sebagai balasan terhadap perkataanku, seseorang yang dengan tenang melihat wajah masam semua anggota, Rika mengatakan, "Aku ingin tahu, apakah klub kita baru saja kedatangan seorang pelepas nafsu birahi yang beruntung atau semacamnya...," dalam erangan yang amat kesal.
"... Aku bertaruh, kau akan 'tanpa sengaja' menyerang ke dalam bak mandi perempuan atau mengelupasi yukata milik salah seorang gadis dan mengekspose tubuh telanjang gadis malang itu. "
Anggota lain mengangguk dalam-dalam.
"Tidak begitu... Aku akan memastikan bahwa itu tidak akan terjadi!"
Aku tidak bisa mengatakan bahwa itu benar-benar tidak akan terjadi.
"Sekarang nasi sudah menjadi bubur, kami tidak punya pilihan selain melakukan itu, bukan ...?" Kata Sena.
"Itu?"
"Ya ...  kau benar ..." Yozora mengangguk.
"Memang."
"Ya."
Sepertinya Yukimura dan Rika juga memahami maksud Sena.
Yozora mulai menarik napas dalam-dalam dan menyatakan aktivitas klub berikutnya,
"Kita juga akan ikut tour!"

... Secara bombastis, mirip seperti seorang presiden klub.

Haganai Jilid 9 Bab 10 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Fariq Farhan Ariq

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.