07 Juni 2015

Fate/Apocrypha Jilid 1 Prolog Bahasa Indonesia



FATE/APOCRYPHA
JILID 1
PROLOG

Ini adalah tempat yang tidak ada di tempat yang lainnya. Sebuah dunia yang tidak ada di tempat lainnya.

Terlepas dari konsep yang dikenal dengan sebutan ‘waktu’, tempat ini tidak memiliki siang maupun malam, matahari maupun bulan. Hanya aurora pucatlah yang menerangi langitnya.

Tidak ada perubahan di dunia ini. Lautnya yang luas tidak berombak, dan awan yang berada di langit sama sekali tidak bergerak. Tidak dapat melihat bulan maupun bintang-bintang, pria yang menghuni dunia ini meratapi sesuatu.

Itulah mengapa pria itu menutup matanya. Ketika dia melakukannya, dia dapat melihat kenangan dari hari-hari yang sangat dirindukannya. Dan kenangan-kenangan itu ada banyak jumlahnya.

Dia sangat bangga akan masa lalunya, sangat bangga sampai-sampai meski telah mengulanginya ribuan atau puluhan ribu kali, dia tetap tidak akan merasa lelah.

Seperti biasa, pria itu menolehkan kepalanya ke kanan, ke kiri, ke bawah ke arah bumi, ke atas ke arah langit, meyakinkan bahwa tidak ada yang aneh  sementara kelopak matanya tertutup. Kemudian, dia mulai melihat sebuah mimpi, sebuah khayalan yang disebut dengan ‘masa lalu’.

Sekarang, atas nama kehormatannya, sesuatu haruslah diucapkan.

Hanya fakta itulah yang tertinggal untuk dilakukannya. Untuk bertarung, untuk menjadi sembuh, untuk merasa sedih atau marahhal-hal ini sudah tidak dibutuhkan lagi olehnya.

Apakah ini membosankan? Dia hanya dapat menyetujuinya.

Apakah ini menyakitkan? Dia seperti ingin menyangkalnya.

Seperti biasa, kejadian-kejadian di masa lalu akan terlihat di matanya−gamblang dan nyata. Masa lalu yang dilihatnya sangatlah singkat dan meski demikian, kejadiannya selalu jelas. Mereka tidak akan pernah memudartidak akan pernah terkotoridan tidak akan pernah terlupakan.

“Kunohon, bangunlah.”

Sekali lagi...sama sekali tidak ada perubahan di dunia ini. Angin tidaklah berhembus, dan ombak tidaklah muncul. Tempat itu tetaplah sama.

Itulah mengapa, jika perubahan muncul di dunia ini...tidak diragukan lagi kalau ada campur tangan dari dunia luar.

Pria itu membuka matanya. Melihat sesuatu yang tidak dapat dipercaya, dia membeku. Sejak kapan emosi-emosinya mulai goyang?

“Sudah sejak lama.”

Sebelum pria itu dapat mengatakan apa-apa, gadis itu tersenyum. Pria itu merasa otaknya telah terguncang, dan sensasi itu membuatnya hanya bisa membuka mulut tanpa dapat berkata apapun.

Seorang gadis yang cantik ada di sana, rambutnya sehalus cahaya matahari musim semi.

Pria itu mengenal si gadis dengan sangat baik. Setiap kali dia menutup matanya, gadis itu akan muncul. Dia tidak akan salah mengenali gadis itu dengan yang lain. Tapi kenapa gadis itu ada di sini? Kenapa dia ada di sini...di sini, di tempat dimana dia tidak seharusnya berada?

Alis gadis itu menaut dalam penderitaan, dan dengan lembut dia menyentuh wajah si pria dengan tangannya. Jari gadis itu menunjuk seolah-olah sedang membuat janji, membuat si pria mengeluarkan suara yang gembira.

“Di dunia ini sangat menyakitkan...sangat kesepian.”

“Ini salahku,” si gadis bergumam sedih.

“Itu tidak benar,” tegas si pria.

Hal ini bukanlah sesuatu yang harus dikhawatirkan. Ini merupakan wewenangku. Tidak ada keabadian di sini, tidak ada kekekalan di sini, tidak ada kebosanan, keputus-asaan, dan tidak ada ketakutan.

“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendiri lagi.”

Ahtanpa janjimu pun, fakta bahwa kau ada di sini telah memberiku kebahagiaan. Bukan hal lain tetapi kebahagiaan.

Seharusnya tempat ini tidak berubah, dunia yang sempurna. Dunia dimana waktu membeku.

Tetapi gadis itu berada di sini sekarang. Dan mungkin dunia ini telah terjatuh, tidak lagi sempurna dan menjadi dunia yang biasa dan sederhana.

Pria itu tidak dapat menahan kegembiraannya.

Dunia akan berubah. Waktu akan bergerak.


***

Tidak akan berlebihan jika tempat ini disebut sebagai medan perang.

Terdapat para homunculus yang diciptakan untuk bertarung, mengayunkan halberd raksasa dan menghasilkan ritual-ritual sihir yang rumit pembawa kehancuran berskala besar ke area di sekitar mereka. Tidak dilahirkan secara alami, para homunculus ini memiliki cacat jasmani yang harus diganti agar dapat menghasilkan dua bulan waktu hidup yang sangat singkat. Tetapi pergantian ini akan membuat perbedaan kecil meskipun hanya dua minggu, seperti hidup mereka memang dimaksudkan untuk dihabiskan dalam perang ini.

Dari saat mereka dilahirkan, dilupakan oleh alkimia, para homunculus itu tumbuh sehat dan dewasa. Mereka adalah organisme buatan manusia, lahir untuk bertarung, menghancurkan, dan mati.

Pada waktu yang bersamaan, ada juga golem-golem yang diciptakan oleh teknik Kabbalistik, [pelayan-pelayan boneka] yang menjalankan perintah dari master mereka. Dibandingkan dengan para homunculus yang diciptakan menyerupai manusia, golem-golem ini merupakan karya yang dibuat dari batu dan perunggu. Apa yang menjadi kekurangan mereka adalah jumlah, jadi mereka dibuat menjadi sedikit gegabah saat menghadapi serangan-serangan yang datang, menggunakan tubuh raksasa dan tinju batu mereka untuk menghancurkan dan membinasakan musuh.

Tidak ada satu pun golem maupun homunculus yang dapat menyamai kemampuan seorang penyihir biasa dalam pertarungan. Meskipun begitu, keduanya akan menjadi kewalahan oleh jumlah musuh yang banyak.

Prajurit Dragon Toothmereka adalah pasukan tengkorak yang diciptakan menggunakan gigi taring naga. Dengan kemampuan dari ras naga, dan dianugerahi dengan pengetahuan tentang bumi itu sendiri, setiap gigi taring naga yang dikubur di dalam tanah berubah menjadi seorang prajurit rendahan. Meskipun mereka hampir tidak memiliki kekuatan melawan para homunculus dan golem yang memang diciptakan untuk bertarung, mereka memiliki jumlah yang sangat banyak.

Diciptakan untuk aktifitas fisik oleh sebuah golongan Servant of Red, prajurit-prajurit ini diarahkan untuk membuat keributan dalam jumlah yang tidak terhingga, menjadi sekumpulan besar pasukan yang memancarkan gelombang demi gelombang serangan. Dan mereka tidak akan berhenti sampai mereka benar-benar hancur. Memanfaatkan pedang-pedang dan palu-palu yang terbuat dari tulang yang lebih kuat dan tajam daripada baja, mereka datang berbondong-bondong, menghajar para golem dan membelah para homunculus.

Itu adalah wujud kekejaman. Dengan pemikiran mereka yang sederhana dan emosi yang hampir tidak ada, para golem, para tengkorak dan para homunculus ini dengan sederhana menunjukkan serangan yang sama lagi dan lagi, tidak pernah berhenti sampai kematian mereka, tidak pernah mengistirahatkan senjata-senjata mereka selama musuh mereka masih ada.

Api membara, dan bumi terbelah. Prajurit-prajurit yang terluka segera disembuhkan dengan sihir penyembuhan dan dengan segera kembali ke medan pertempuran.

Biarkan mereka bertarung. Biarkan mereka rusak. Pertempuran ini ditentukan oleh kemampuan pertempuran itu sendiri. Prajurit-prajuritnya adalah bidak kuda, tidak lebih dari sebuah statistik... tidak, pertempuran itu tidak akan pernah ditentukan oleh mereka.

Sekali dalam beberapa waktu, bagian dari medan pertempuran akan ditelan oleh ledakan-ledakan yang sangat besar. Ledakan-ledakan itu datang dari kekuatan yang bisa berdiri sendiri namun tidak dapat ditandingi oleh ribuan pasukan, menyabit dan menghancurkan segerombolan pasukan dengan hanya satu ayunan senjata.

Mereka adalah bagian-bagian terhebat dalam permainan, seseorang yang akan menentukan nasib dari pertempuran ini. Gesit namun keras kepala, mereka bersinar seperti kilatan cahaya, yang merupakan perlambangan dari kepahlawanan.

Tiba-tiba, udara memberikan guncangan-guncangan kasar, membunuh para tengkorak dan golem yang ada dalam areanya. Segalanya berhambur, rusak dan berubah menjadi puing.

Sebidang tanah kosong yang aneh terbentuk pada medan pertempuran. Meskipun begitu tidak seorang pun, apakah mereka homunculus, golem maupun prajurit Dragon Tooth yang tak berotak, mau mengambil satu langkah pun untuk memasukinya. Mereka memahami bahwa tempat yang satu itu adalah lubang neraka. Mereka akan hancur tanpa sebab jika mereka berjalan ke tempat itu.

Hanya mereka yang terpilihhanya para servant yang memiliki hak untuk berada di sana.

Seperti sekarang, dua Saber berdiri di sana.

Pada salah satu sisi ada seorang kesatria perak bertubuh kecil yang seluruh badannya terbungkus oleh zirah tebal, yang membuatnya menjadi seperti satu kesatuan baja. Berkaitan dengan helm yang menyembunyikan wajahnya, jenis kelamin maupun ras dari kesatria itu benar-benar tidak diketahui. Senjata yang dimilikinya adalah pedang perak yang dihiasi dengan dekorasi yang sangat indah.

Di sisi lain ada seorang pria tinggi yang dikelilingi oleh hawa yang tidak biasa. Sebuah pedang besar digenggamnya dengan kedua tangan. Sama seperti pedang milik musuhnya, pedang itu menyiratkan keindahan dan kejahatan yang hanya mungkin dimiliki oleh senjata yang ditujukan untuk digunakan oleh seseorang yang bukan manusia. Permata biru yang ditempelkan pada pangkal pedangnya bersinar dalam keistimewaan.

Warna dari pedang milik mereka adalah perak dan emas, dan walaupun bentuknya berbeda, kedua senjata itu sama-sama memiliki sinar para pahlawan. Zaman pedang telah memberitahukan akhir masanya bertahun-tahun yang lalu. Sebaliknya, senjata api telah menjadi penakhluk di medan pertempuran.

Oleh karena itu, apakah mereka merupakan kaum barbar yang telah ketinggalan zaman, yang ditertawakan oleh para pengguna senaja api?

“...Aku datang, Saber of Black!”

Kemudian, si emas menjawab panggilan dari si perak. “...Datanglah, Rot.

Dalam sekejap, Saber of Red melompat maju dengan raungan seperti singa. Hentakan kaki dari kesatria itu mengguncang bumi, dan kecepatannya menembus batas suara. Lompatan seperti ini mungkin dilakukan tergantung dari kemampuan Saber of Red yang disebut [Prana Burst]. Dengan segera mengeluarkan kekuatan sihir dari kedua lengan atau tubuhnya, kesatria itu mampu melesat ke depan dengan ketepatan waktu yang mirip seperti peluru, dan dengan mudah mampu mengayunkan senjata besarnya.

Tenaga dari lompatan itu menghempaskan mayat para golem dan tengkorak yang telah berserakan di tanah. Dengan kecepatan dan kerusakan yang seperti itu, bahkan senjata modern terkuat yang ada dalam perang seperti induk tank utama pun, akan hancur lebur karenanya.

Meski begitu, walaupun kesatria yang melompat itu bukanlah kesatria biasa, lawannya juga merupakan kehidupan yang yang telah mencapai dunia para iblis.

Dengan sebuah seruan perang dahsyat yang mengingatkan pada seekor naga raksasa, Saber of Black mengambil beberapa langkah maju dengan pedang emas besar miliknya berada di tangan. Tak ada sedikitpun keraguan yang terlihat di matanya saat musuh bergerak dengan cepat ke arahnya, pedang yang dipegangnya tinggi-tinggi ia tebaskan.

Jika serangan gencar milik si perak disebut peluru, maka apa yang dapat menahannya adalah guillotine berkecepatan tinggi milik si emas. Baja bertemu dengan baja, dan kehancuran yang disebabkan oleh hal itu hampir benar-benar nyata.

“Ha! Lemah sekali, Black!”

Unh

Baja memotong dan roh-roh yang bertarung saling baku tembak. Letusan-letusan api terpecah. Tidak ada rasa kasihan, tidak ada kebencian, yang ada hanya hasrat kuat untuk  menolak kehadiran yang lainnya, sama halnya dengan perasaan bahagia membingungkan ketika menghadapi musuh yang sangat kuat. Bahkan sejak dimulainya pertempuran ini, pedang mereka telah saling berbenturan sepuluh kali. Secara tidak sadar, bibir Saber of Red membentuk sebuah seringaian.

Tidak ada satu pun dari mereka yang ditakdirkan untuk berada di dunia ini. Mereka adalah suatu wujud tak berbentuk dari manusia luar biasa yang telah meninggalkan nama mereka dalam sejarah dan membuat legenda. Pahlawan yang namanya tetap hidup dalam hati orang-orang  bahkan setelah kematian mereka, dan mereka dikenal sebagai [Roh Pahlawan], dan dua dari mereka adalah tiruan dari semacam[Servant] yang terbentuk di dunia ini untuk menuruti perintah masternya.

Pada benturan ketigabelas pedang merekaseketika, dunia menjadi sunyi. Senjata dan daging mereka tidak hancur, kedua kesatria itu menunjukkan keseimbangan yang indah, dan senjata mereka masih saling mengunci satu sama lain. Sekilas, dapat terlihat bahwa Saber of Black memiliki keuntungan dalam hal fisik. Perbedaan antara Saber of Red dengannya adalah perbedaan nyata antara seorang pria dan seorang anak.

Meskipun fakta mengatakan bahwa kesatria emas sangatlah kuatkesatria perak jauh lebih kuat daripada dia.

Alasannya sama seperti sebelumnya, yaitu kemampuan [Prana Burst]. Saat ini, kesatria perak tidak sedang menggunakan sihir untuk menyerang, tetapi lebih ke menambah kekuatan fisiknya. Saat ini, Saber of Red seperti sebuah granat dengan sumbu yang menyala dan siap meledak.

Haaahhh!

Si kesatria perakSaber of Red melangkah maju, kaki-kakinya membelah bumi dan ia meneriakkan sebuah raungan penuh semangat.

Tidak dapat menahan kekuatan lawannya, Saber of Black terjungkal ke belakang, tetapi seperti yang dapat diharapkan dari seorang pahlawan, dia lebih memilih melompat kecil ke belakang daripada berguling perlahan, dan ekspresinya sama sekali tidak berubah.

Saber of Red menekan pedangnya ke depan. Bahkan tanpa melihat wajahnya, siapapun dapat mengetahui bahwa sebuah tawa sinis terdengar dari balik helm.

“Dan kau menyebut dirimu seorang ‘Saber’, yang seharusnya menjadi yang terkuat diantara para Servant? Sangat mengecewakan. Atau mungkin hanya inilah yang dapat dilakukan oleh seseorang yang palsu sepertimu?

“...”

Saber of Black terdiam. Sebenarnya, seperti yang dikatakan oleh Saber of Red, dia adalah Roh Pahlawan palsu. Tidak ada cara baginya untuk memendingi Roh Pahlawan asli seperti lawannya.

Meskipun begitu, bukan berarti dia mengakui kekalahannya. Untuk menyelamatkan teman seperjuangannyamau atau tidak, dia harus bertarung.

“...Wahai pedangku,”

Saber of Black memilih langkah terbaik untuk menjatuhkan musuhnya.

“Berkatilah Thee dengan kekuatanmu.”

Suaranya terlepaskan. Dia mengatakan hal ini tanpa perubahan dalam ekspresinya, meskipun kematian telah menanti. Pedang besar yang dia pegang di atas kepalanya mulai dipenuhi dengan cahaya berwarna orange.

“Jadi kau melepaskan Noble Phantasm milikmu.... Hah, itu tidak ada artinya bagiku!”

Saber of Red bergumam marah. Tidak ada nada terdesak dalam suaranya.

Sebuah [Noble Phantasm] adalah senjata terakhir milik seorang Servant, sesuatu yang hanya akan aktif dengan menyebut nama asli pemiliknya. Noble Phantasm dapat dengan mudah menjadi sebuah kekuatan penghancur yang luar biasa, atau sesuatu dengan sifat khusus yang akan selalu menusuk dan membunuh lawannya seketika, atau bahkan bukan suatu senjata, namun sebuah perisai dengan kemampuan untuk menghalau serangan jarak jauh. Ada banyak sekali jenis Noble Phantasm yang disebutkan oleh legenda.

Dan tentu saja, sama seperti yang dilakukan Saber of Black, Saber of Red  juga melepaskan Noble Phantasm miliknya.

“...Baiklah, sepertinya Masterku telah memberi izin, biarkan aku membalas kebaikannya!”

Saber of Red megambil kuda-kuda dengan pedang peraknya. Pada waktu yang bersamaan, helm berat yang menutup wajahnya terbelah menjadi dua dan menyatu dengan baju zirah miliknya.

Mata mereka bertemu. Saber of Black sedikit menaikkan alisnya, terlihat terkejut. Tapi tentu saja, hal itu disebabkan karena Saber of Red memiliki wajah seorang gadis muda. Normalnya, Servant akan dipanggil dalam bentuk mereka saat mencapai masa kejayaannya. Sama seperti, banyak pahlawan mencapai masa kejayaannya saat berusia duapuluh hingga tigapuluh tahun, dimana usia tersebut adalah usia terbaik mereka. Bagaimanapun, Saber of Red jelas-jelas terlalu muda. Bahkan terlihat seperti usianya belum genap duapuluh tahun.

Selain itu, kecantikan yang dimilikinya sama sekali tidak dapat memnyembunyikan kekejaman alaminyabahkan, dia tidak bersusah-susah untuk menyembunyikannya. Dalam kedua matanya yang terus menerus menatap tajam pada Saber of Black, terdapat gabungan dari kebengisan dan juga kesenangan yang didapatnya dari pertempuran.

“...Kenapa kau melepaskan helmmu?”

Red menjawab pertanyaan dari Black dengan nada yang terdengar jengkel.

“Tidak ada alasan khusus. Aku hanya tidak bisa mengaktifkan Noble Phantasmku tanpa melepaskannya terlebih dahulu. Apa kau memiliki sesuatu yang lebih menakutkan, Black?”

Dalam sekejap, udara berkumpul mengelilingi Saber of Red dan pedangnya berubah menjadi kotor oleh darah. Terlebih lagi, bilah pedangnya terbungkus oleh lingkaran darah dan, mengeluarkan suara-suara aneh, lalu mulai berubah.

Tentu saja, itu bukanlah wujud Noble Phantasm yang sebenarnya. Pedang yang murni, indah dan terkenal itu telah diubah menjadi menakutkan dan jahat oleh kebenciannya, dan hal itu cocok untuk dimanfaatkan oleh iblis.

“Sekarang adalah saat eksekusimu. Kemarilah, temui akhir yang layak bagi seorang imitasi sepertimu, Saber of Black!”

Saber of Red mengangkat pedangnya yang fantastis.

Cukup jelas bagi siapapun yang melihatnya bahwa itu akan menjadi serangan yang mematikan


“...Aku datang.”

Saber of Black, sama seperti sebelumnya, berdiri tegap dan menghadapi Saber of Red dengan tanpa keraguan sedikitpun. Apakah dia memiliki kesempatan untuk menang atau tidak, hal itu sama sekali tidak berarti baginya.

...Hal ini perlu diselesaikan.

Saber of Black telah mengerti hal itu. Dia tidak sedang membahayakan hidupnya, karena dia tidak memiliki kehidupan yang bisa ia bahayakan.

Cahaya orange dan lingkaran darah itu membesar dengan cepat. Angin yang berputar di sekeliling mereka menjerit, membiarkan semua orang di sekitarnya tahu bahwa dua Noble Phantasm telah dilepaskan.

Pedang-pedang itu benar-benar senjata legenda. Mereka berderap, sebagai cikal bakal dari mimpi-mimpi, khayalan yang membantai musuhnya dan menusuk para iblis di tangan para pahlawan yang saling bertarung di medan pertempuran.

Kedua tangan mereka menggenggam pedang. Mereka adalah dua Servant dari kelas Saber. Dan keduanya merupakan musuh yang harus saling membunuh satu sama lain.


Clarent

Rebellion.

Saber of Red marah.


Bal-

Phantasmal Greatsword,

Saber of Black berteriak.


Blood Arthur

...Lawanlah Ayahku yang Indah!!




-mung

Jatuhkan Iblis Langit!!


Cahaya berwarna jingga dan merah padam saling berpacu dan bertubrukan satu sama lain. Dua aliran cahaya seperti gelombang ombak yang ditujukan untuk mengancurkan, saling mencoba untuk menelan yang lainnya.

Hal itu merupakan kejadian yang sangat tidak mungkin terjadi dalam sejarah yang dibuat oleh manusia. Sebuah tubrukan dari dua Noble Phantasm yang mematikan, dari dua pahlawan yang lahir pada masa yang berbeda dan dibesarkan di tempat yang berbeda pula.

Cahaya memenuhi langit dan membinasakan apapun di sekitarnya. Para golem dan tengkorak yang berkumpul di sana telah hancur dan hilang menjadi debu.

Semua orang yang menyaksikan kejadian besar ini, tak henti-hentinya menarik napas mereka. Langit yang dipenuhi dengan warna orange dan merah terlihat seperti sedang mengumumkan akhir dunia.

Meski begitu, semua cerita haruslah memiliki akhir. Cahaya yang baru saja membesar itu mulai memudar, dan menghilang menjadi titik-titik debu.

Tempat dimana keduanya tadi berdiri terlalu tragis untuk dilihat.

Bayangkan seekor kupu-kupu sedang mengembangkan sayapnya. Tanda seperti itulah yang telah terukir di tanah. Itu adalah bekas ledakan yang besar, sangat besar sampai-sampai dapat terlihat dari langit yang sangat jauh.

Berapa banyak yang akan percaya bahwa bekas itu disebabkan oleh tebasan sebilah pedang? Pasti sebuah legenda baru telah lahir di tempat itu hari ini.

Benturan yang hampir tidak mungkin antara pedang suci legenda dan pedang jahat yang ganjil telah menipu bumi.

Apa yang telah menghentikan pertarungan itu bukanlah kemampuan mereka, kekuatan mereka maupun perbedaan kekuatan Noble Phantasm mereka.

Noble Phantasm yang dilepaskan oleh Saber of Black menyebarkan gelombang berwarna jingga yang membentuk setengah lingkaran di sekelilingnya. Di sisi lain, Saber of Red melepaskan garis cahaya lurus berwarna merah dari ujung pedangnya. Hal yang menentukan pertarungan itu adalah kualitas dari Noble Phantasm dan jarak yang mereka ambil untuk membidik lawan mereka. Jika saja Saber of Black mau mengambil beberapa langkah lebih dekat, pertempuran itu mungkin saja akan memiliki akhir yang berbeda.

Dalam hal ini, siapa yang menjadi juara dan siapa yang kalah telah ditentukan. Satu Servant telah jatuh, dan yang lainnya tidak mampu berdiri. Bertumpu pada lututnya, Saber of Red kembali berdiri walaupun dengan kaki gemetar.

Dipenuhi dengan niat membunuh, Saber of Red menatap tajam pada Saber yang telah jatuh.

“Kenapa kau masih hidup...?!”

Noble Phantasm harusnya merupakan senjata yang pasti dapat membunuh lawannya, dan pada waktu yang bersamaan, merupakan sumber harga diri pemiliknya. Katika namanya telah disebutkan, akan menjadi masalah jika Noble Phantasm itu tidak dapat membunuh musuhnya. Dan dengan Noble Phantasm yang menggunakan nama ayahnya, Raja dari Para Pahlawan, itu bukanlah sebuah kebanggaan bagi Saber of Red, melainkan lebih mendekati sebuah dendam.

Lagi, bagi Saber of Red, Saber of Black yang dapat bertahan tidaklah bisa dimaafkan. Saber of Black yang terus menggenggam pedang akan membuatnya dibenci oleh Saber of Red. Kenyataan bahwa Saber of Black mampu mengangkat kepala dan bahkan berditri merupakan sesuatu yang tidak akan pernah diterima oleh Saber of red meskipun dia mampu menebas laki-laki itu ratusan kali lagi.

Rasa sakit yang teramat sangat menyakiti tubuh Saber of Red, tapi hal itu tidaklah menjadi penghalang dalam sebuah pertarungan. Menggunakan Noble Phantasm dalam tingkat yang seperti itu pastilah menghabiskan jumlah prana yang besar, namun Masternya sangatlah cakap, sangat cakap sampai-sampai ia mampu bergerak setelah menggunakan Noble Phantasmnya.

“Jangan berani-berani bergerak, Saber of Black. Bukan orang lain, tapi akulah yang akan membunuhmu...!”

Dia akan memenggal kepala Saber of Black, mengayunkan pedangnya dengan sepenuh hati. Itulah hak yang hanya dimiliki olehnya.

Saber of red melangkah maju.


[Saber of Black POV]

Pada akhirnya, Aku masih hidup. Atau mungkin aku hanya hidup.

Seperti biasa, jantungku memainkan ritme yang sangat keras. Sirkuit sihir di tubuhku hidup, dan dengan putus asa mencoba untuk terus menjadi Saber. Bagaimanapun, serangan terakhir itu telah menghabiskan seluruh prana yang kukumpulkan. Sekarang tidak ada lagi yang kumiliki untuk terus menjadi seorang Saber.

Zirah yang menutup seluruh tubuhku kini telah menghilang, seperti benda itu telah terlepas. Kemudian, pedang besar yang menjadi simbol bahwa aku adalah seorang Saber juga menghilang ke udara.

Saat ini, Saber of Black lenyap dari dunia.

Ketika itu terjadi, kesadaranku dipenuhi oleh rasa sakit saat aku menjadi seorang Saber. Darah keluar dari mulutku; airmata mengalir turun dari mataku dikarenakan kegelisahan, kegelisahan karena rasa sakit yang memenuhi tubuhku, rasa sakit karena tabrakan yang menghancurkan tulang-tulangku. Dengan putus asa aku menahan untuk tidak berteriak, tetapi karena tidak dapat menahan rasa sakit itu sepenuhnya, aku mulai melenguh.

Setelah beberapa saat, rasa sakit itu mulai menghilang, namun aku tidak dapat lagi mengayunkan pedangku. Disamping itu, kehilangan kemampuan menjadi Saber membuatku tidak tahu bagaimana menghadapi situasi seperti ini. Aku masih memiliki dua Mantra Perintah...tetapi suaraku tidak mau keluar. Ini bukan waktunya untuk kehilangan keberanian, tetapi rasa sakit di tubuhku telah meningkatkan kegelisahanku. Transformasi hanya dapat dilakukan dalam jarak yang telah dipastikan. Jika aku mencoba transformasi lainnya, tubuhku tidak akan mampu untuk bertahan.

Saber of Red terus mendekat, pikirannya dipenuhi dengan niat membunuh. Saat ini tidak ada lagi hal yang benar-benar bisa kulakukan. Keajaiban tidak akan datang. Tidak akandan meskipun keajaiban itu benar-benar terjadi, perang ini adalah perang terakhir yang bisa aku hadapi.

Hal ini adalah fakta yang menyesalkan, tetapi aku harus menerimanya.

Aku tidak terlalu takut pada kematian. Dalam kasusku, kematian semudah menghilang. Aku tidak memiliki penyesalan yang cukup berarti. Jika aku memilikinya, penyesalan itu datang karena aku telah gagal melindungi seseorang yang harus kujaga.

Tapi hanya itu. Dan itu bukan penyesalan yang berarti.

Aku tidaklah berharap ataupun meminta pertolongan. Hal itu semudah tujuanku, dari semenjak aku lahir, aku telah mengenal dan memilih jalanku sendiri. Aku hanya ingin berpegang teguh pada hal itu.

Aku tidak menyesali hasil ini. Sekarang hal yang bisa kulakukan hanyalah menunggu kematian. Semakin dekat dengan hal itu, waktu terulur seperti sebuah manisan yang meleleh. Secara tidak sadar, aku berharap agar hal itu segera berakhir lebih cepat. Karena semakin lama waktu terulur, semakin banyak waktu untukku memikirkan pertanyaan terlarang itu.

Untuk alasan apakah aku hidup?

Tidak ada jawaban. Bahkan, aku berharap tidak akan ada jawaban. Aku tidak akan pernah ingin menerima jawabannyabahwa aku terlahir hanya untuk dibuang.

Ya...mati di sini tanpa peduli ataupun memikirkan jawabannya telah ditakdirkan untukku. Tidak ada hal yang harus kulakukan, tidak ada hal yang bisa kusebut tujuan.

“Kenyataan bahwa aku tidak dapat membunuhmu dalam satu tebasan benar-benar mempermalukanku...tapi aku tidak akan membiarkanmu hidup.”

Saber of Red memandang tajam padaku dengan tatapan dingin seorang prajurit. Bahkan orang baru sepertiku mengerti bawa pedang yang dipegangnya ditujukan ke arah leherku.

“Waktunya untuk mati, Saber of Black.”


Kata-katanya sangat tenang; pedangnya, melayang dengan cepat. Dan warna putih memenuhi penglihatanku

Fate/Apocrypha Jilid 1 Prolog Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

1 komentar:

  1. http://www.kiminovel.net/p/fateapocrypha-ln-bahasa-indonesia.html?showComment=1496856686903

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.