14 Mei 2015

Oregairu Jilid 10 - Bab 6




Bab 6: Dengan Berani, Yukinoshita Haruno menghabiskan waktu.
Pada akhirnya, beberapa hari telah berlalu dan aku masih belum mendapat informasi penting  tentang Program Jurusan Hayama selain dari suara kegelisahan teman sekelasku.
Saat mengamati kelompok Hayama, mereka masih menjalani keseharian mereka seperti biasanya. Miura, bahkan mungkin Tobe, tetap disamping tokoh yang merupakan pusat dari kelompok mereka tanpa terang-terangan menjaga jarak, masih memikirkannya tapi juga berusaha tidak ikut campur.
Tidak banyak waktu yang tersisa untuk menyelesaikan permintaan yang kami terima dari Miura.
Hari terakhir penyerahan Angket Pilihan Program Jurusan adalah pada akhir bulan, tepat sebelum maraton. Sebelum itu, aku harus mendapatkan jawaban tentang Program Jurusan Hayama.
Saat ini, yang aku tahu hanyalah Hayama tidak memberitahukan siapapun tentang Program Jurusannya. Hanya itu. Untuk sekarang, satu-satunya pilihanku adalah dengan mengumpulkan informasi sebagai dasar untuk membuat perkiraan.
Aku menghabiskan beberapa hari melakukan itu dan maraton sudah semakin dekat sekaligus pembukaan awal minggu sepulang sekolah.
Setelah memeriksa keadaan kelas, aku berjalan menuju lorong. Keadaanya sedang benar-benar buntu. Yuigahama juga berusaha berbicara dengan Hayama dan kelompoknya sesaat sebelum mereka berangkat ke klub mereka, berusaha menyelidikinya dengan caranya sendiri.
Dengan begitu, seharusnya takkan ada masalah jika aku pergi ke ruang klub sendiri hari ini. Saat aku keluar kelas, aku berjalan menyusuri lorong menuju gedung khusus.
Dan agak jauh di depan, Hiratsuka-sensei memanggilku untuk mendekat kesana.
“Mau ke klub?”
“Mmm, ya.”
“Begitu. Kebetulan kamu lewat, aku juga berencana akan pergi kesana,” kata Hiratsuka-sensei. Dia menunjuk ke arah gedung khusus dan mulai berjalan seakan sedang memerintahku. Sepertinya dia ingin membicarakan sesuatu denganku sambil berjalan kesana.
Jika dia mengunjungi klub kami, aku pikir dia ingin berbicara tentang pekerjaan... Aku pasrah, tidak ada untungnya juga kalau menentangnya. Dengan patuh aku berjalan mengikutinya.
“Apa besok kamu ada waktu sepulang sekolah?”
“Setahuku, ya.”
Sejujurnya, aku tidak punya acara atau kegiatan apapun. Secara keseluruhan, sebenarnya ada konsultasi dari Miura, tapi bukan berarti aku memiliki hal khusus yang harus kulakukan tentang itu.
Malahan, aku sekarang sedang buntu.
Aku sedang sibuk dalam sederetan kegiatan: Menguping pembicaraan orang disekitarku (stalking), diam-diam mengawasi Hayama (stalking), mencari kesempatan untuk bisa sendiri dengan Hayama (stalking), dan pada akhirnya semuanya berakhir sia-sia (strike). Sambil memikirkan tanggal akhir penyerahan Angket Pilihan Program Jurusan, hanya tinggal masalah waktu sampai batas deadline, abaikan dulu yang lainnya.
Hiratsuka-sensei, entah puas dengan jawabanku atau memang sudah memperkirakan kalau aku tidak punya rencana, mengalihkan pembicaraan dengan acuh.
“Besok akan diselenggarakan konsultasi pendidikan dan karir, tapi keliahatannya kita sedikit butuh bantuan... Meskipun anggota OSIS sudah bekerja dengan keras.”
Shocking truth. Isshiki terlihat seperti akan banyak mengacau, tapi dia benar-benar melakukan tugasnya.
“... Dan disitulah, Isshiki meminta seseorang untuk membantunya. Kelihatannya dia ingin kamu membantu pekerjaan mereka.”
Apa Irohasu memerintahku? [1] Kata ‘pekerjaan’ tidak terlalu membuat jantungku berdebar, sih...
“Jadi, kenapa dia harus repot-repot mengatakannya padamu, sensei ...?”
Isshiki sudah terbiasa tanpa dosa berkeliaran di ruang klub kami, jadi dia bisa saja langsung memintanya.
“Itu karena ini adalah perintah resmi dari OSIS,” kata Hiratsuka-sensei sambil mengangguk. “Yaah, itu berarti dia sudah berkembang jika dia meminta ijn dari wali terlebih dahulu. Aku tidak tahu apa tujuannya, tapi kalian sangat cocok menjadi sumber daya manusia yang bisa yang bisa digunakan dengan bebas dan tanpa gangguan, jadi itu pilihan yang logis.”
Keliahatannya Hiratsuka-sensei melihat pertumbuhan Isshiki dengan caranya sendiri... Tidak, tidak salah lagi ini adalah rencana Isshiki: Dia meminta pada Hiratsuka-sensei adalah agar kita tidak bisa menolaknya. Tapi, yaah, jika Isshiki sudah bekerja keras, aku rasa takkan menyakitkan jika aku sedikit membantunya.
“Yaah, kalau cuma itu, sepertinya tak masalah... Tapi, memangnya apa yang harus dilakukan di konsultasi pendidikan dan karir?”
“Simpelnya, akan dibahas tentang strategi menghadapi ujian. Anggap saja seperti tempat dimana kamu bisa bertanya tentang pertanyaan tertentu pada kakak kelasmu.”
“Bukankah masih terlalu dini untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian? Maksudku, kenapa harus dimulai sekarang?”
“Seharusnya kita sudah membahasnya saat perwalian.” Hiratsuka-sensei terlihat marah.
... Kalau tidak salah, aku pikir kita membahasnya saat di kelas. Apa mungkin aku mengabaikannya begitu saja... Ahaha... Aku memaksakan senyum mencurigakan sambil mengalihkannya.
Hiratsuka-sensei mengabaikan hal itu dan mengeluh singkat. “Itu karena sekolah kita menawarkan program pembelajaran Internasional. Ada juga anak yang ingin sekolah ke luar negeri. Untuk itu, mereka harus mempersiapkannya sedini mungkin, jadi kita mungkin jauh lebih cepat dibanding sekolah lain pada umumnya.”
“Sekolah ke luar negeri...”
Benar juga, program jurusan bukan cuma terbatas pada dalam negeri. Tapi aku tidak pernah memperhitungkannya karena itu terlihat terlalu indah untuk menjadi kenyataan, tapi memang ada yang ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi di luar negeri. Salah satu ciri sekolah kami adalah penawaran Program Pendidikan Internasional. Dengan begitu, tentu saja normal kalau seseorang ingin sekolah ke luar negeri.
Sekolah keluar negeri, kah...? Itu luar biasa... Aku pernah berwisata ke luar negeri dulu, tapi aku belum pernah berpikir tentang tinggal disana.
Setidaknya, itu bukan yang perlu kamu paksakan. Itu berarti, mereka yang ingin belajar di luar negeri mungkin telah memikirkannya jauh-jauh hari.
“Aku pikir ada banyak orang yang sudah memutuskannya, huh? Aku dengar bahkan ada juga yang sudah menyerahkan angketnya...”
“Tidak, itu tidak benar. Hanya sedikit orang yang melakukannya. Kita juga sudah mengatakan kalau batas waktu penyerahannya adalah akhir bulan. Itulah saat dimana orang-orang biasanya menyerahkannya di saat-saat terakhir... Ahh, tapi Hayama sudah menyerahkannya.”
You don’t say...”
Aku beruntung karena namanya baru saja disebutkan. Jadi aku tidak perlu repot-repot membangun pembicaraan untuk bertanya tentangnya, pikirku.
Tapi, Hiratsuka-sensei menatapku dengan lirikannya.
“Kamu takkan mendapatkan apapun dariku karena ini adalah informasi pribadi.”
“... B-B-Bu-Bukannya aku ingin mengetahuinya atau semacamnya.”
“Yaah, mau bagaimana lagi. Kamu akan menjadi lebih penasaran saat ingin mengetahui tentang orang-orang disekitarmu yang membuatmu tertarik. Itu juga adalah topik yang menarik sampai saat ujian datang.” Hiratsuka-sensei tersenyum seperti sedang mengenang masa lalu. Lalu dia melanjutkan. “Murid seperti Hayama dan Yukinoshita menjadi pusat perhatian bahkan di kalangan guru. Itu juga hal yang berkaitan dengan pencapaian sekolah.”
“Hah, mereka menanggung cukup banyak harapan, kan...?”
“Nilai ilmu sosialmu sebenarnya juga tidak terlalu buruk... Tapi kesenjangan perhatian yang didapat kalian bagaikan bumi dan langit.” Kata Hiratsuka-sensei.
Dia menggembungkan pipinya dan terlihat sedikit marah, tapi, yaah, memang seperti itulah nasib kaum marjinal. Sampai sekarang, aku masih belum membuat hubungan baik dengan para guru. Karena itu, meskipun mendapat nilai ujian yang baik, nilai yang muncul di raporku selalu terlihat ada yang kurang. Aku takkan pernah memahami kenapa para guru berpikir kalau anak gaduh (lol) di SMP itu lebih disukai...
Saat aku sedang mengingat kenangan buruk itu, Hiratsuka-sensei tiba-tiba berhenti. Dia mengibaskan rambutnya yang panjang dan menatapku.
“Apa yang akan kamu pilih?”
“Aku memilih Ilmu Sosial.” Kataku, menjawab langsung.
Hiratsuka-sensei menggelengkan kepalanya. “Tidak, bukan itu, maksudku setelah itu.”
“Bapak Rumah Tangga.”
Sesaat setelah jawaban langsungku, kepalaku dipukul dengan pelan. Hiratsuka-sensei meletakkan tangannya di pinggangnya karena pasrah dan menatapku. Tatapannya kehilangan keganasannya yang biasanya, membuatnya terlihat lebih seperti onee-san, membuatku sedikit merasa gelisah. Lalu dia mengeluh. “Lihatlah kenyataan.”
Bu-Bukannya aku lari dari kenyataan, aku hanya mengejar mimpiku... Tapi mengatakan hal itu akan sedikit keterlaluan untuk tatapan serius Hiratsuka-sensei.
Aku menggaruk pipiku, mengalihkan pandangan, dan menjawab. “Aku masih belum memutuskannya. Terlebih, bukan berarti aku punya suatu pekerjaan yang aku inginkan dan aku juga tidak ingin terlibat dengan penelitian, jadi aku yakin memilih Ilmu Sosial takkan menjadi masalah.”
“Apa kamu punya sesuatu yang membuatmu tertarik?”
“Jika sesuatu yang membuatku tertarik, itu adalah hobi. Melakukan hal yang kamu sukai untuk memenuhi kebutuhan terlihat menyakitkan untukku.”
“Hidup itu kejam!” Setidaknya itulah apa yang ‘Jinsei’ [2] CM katakan. Itu membuatnya terkesan seperti “kehidupan itu terlalu keras!”
“... Benar-benar seperti kamu, Hikigaya. Yaah, ada benarnya juga. Nyatanya, jika kita membicarakan tentang masa depanmu yang sebagian bersar diperngaruhi oleh program jurusanmu, maka itu tidak tepat bagi beberapa orang.” Hiratsuka-sensei menyilangkan tangannya dan melihat keluar jendela. “Ada juga lulusan sains yang bekerja di bagian penerbitan, dan ada juga lulusan sosiologi yang bekerja di industri hiburan. Bahkan ada juga yang kuliah tentang bahasa asing berkelana keliling dunia. Orang yang memasuki sekolah hukum tidak pasti akan menjadi pengacara atau jaksa. Malahan, aku sendiri sebenarnya tidak belajar di bidang pendidikan. Bagaimanapun juga, pekerjaan itu bukan cuma dokter, pengacara, atau ilmuwan...”
“Ya, ada juga paramedis...” kataku.
Hiratsuka-sensei mengangguk.
Memang, tidak ada kepastian kalau pekerjaanmu nanti akan berkaitan dengan program jurusanmu. Maksudku, lihat saja ayahku. Dia lulus dari suatu program pembelajaran misterius dan sekarang bekerja dibidang yang misterius. Tunggu, ternyata itu ada hubungannya...
Zaman sekarang, terdapat perbedaan mencolok antara Program Jurusan Ilmu Sosial dengan Sains dan mereka bahkan berkata untuk mempertimbangkan sudut cabang jurusan juga. Bahkan perusahaan-perusahaan kelihatannya mengambil risiko dan mengharapkan suatu sistem lain dari sumber daya manusia.
Pada akhirnya, kualitas dan kemampuan seseorang adalah aset yang berharga. Contohnya, kemampuan komunikasi atau kemampuan komunikasi, juga kemampuan komunikasi. kemampuan komunikasi itu pasti sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Ya ampun, aku tidak ingin memikirkan tentang mencari kerja.
“Tapi, yaah, sebagai seorang guru, ini juga sesuatu yang perlu kuberitahukan...” kata Hiratsuka-sensei, lalu dia menepuk bahuku. “Kamu tidak harus menentukan keseluruhan masa depanmu sekarang. Jika mau, kamu bisa saja berpindah ke universitas lain, mengganti jurusanmu, atau bahkan menunggu sampai kamu diterima oleh universitas yang bagus. Menganti program jurusanmu juga bisa saja. Ini hanyalah salah satu kesempatan dari berbagai pilihan yang kamu miliki.”
“Begitu.”
Aku yakin ada banyak kesempatan untuk menentukan jalan hidupmu. Bukan cuma tentang pendidikan maupun karir. Jadi, dengan kata lain, menikah juga salah satu kemungkinan dari berbagai pilihan itu kan? Meski aku tidak yakin kalau pilihan itu sebenarnya ada atau tidak! Untukku dan juga untuk Sensei!
Tapi itu hanya kepastian tentang kamu punya kesempatan untuk memilih lagi. Tapi tidak ada jaminan kamu akan bisa menghilangkan kegagalanmu, kamu mungkin hanya akan gagal lebih banyak lagi dan meningkatkan penderitaanmu.
“... Tapi, bukankah itu buruk jika pilihan pertamamu adalah suatu kesalahan?”
“Memang, itulah kenapa apa yang guru bisa lakukan hanyalah menambah pilihan itu...” kata Hiratsuka-sensei. “Dan juga, menguranginya.”
“Apa tak apa kalau kamu menguranginya?” tanyaku.
Hiratsuka-sensei terlihat bingung.
“Tentu saja, pilihan terakhir ada di muridnya. Paling jauh, kami hanya bisa memberikan saran. Jadi, mulai dari sekarang... kamu perlu segera menyerah dari mengejar mimpimu untuk menjadi Bapak Rumah Tangga.”
Ahh, dia baru saja membuang pilihan itu keluar jendela... Pilihanku...
Tanpa terasa, kami selesai menyusuri lorong yang panjang dan sampai di tangga. Aku berencana untuk menaikinya, tapi Hiratsuka-sensei berjalan menuju ke sudut. Keliahatannya dia tidak ikut ke ruang klub denganku. Pekerjaanya telah selesai saat menyampaikan permintaan Isshiki.
Hiratsuka-sensei sedikit melambaikan tangannya dan mulai berjalan menjauh dariku. Aku mengangguk untuk menanggapinya.
Lalu, dia berhenti dan berjalan ke arahku.
“... Jika kamu akhirnya memilih program kependidikan di universitas, bagaimana jika kamu mempertimbangkan hal itu? Mengejutkannya, sepertinya kamu akan sangat cocok dengan itu.”
“Itu jelas tidak mungkin, aku tidak ingin menjadi guru. Itu berarti aku harus berurusan dengan murid seperti ini.” Aku mengangkat bahuku dan menjawab.
Hiratsuka-sensei tersenyum kecut. “Benar juga. Aku setuju denganmu tentang hal itu.”
... Kamu tak pantas mengatakannya, saat kamu menjadi orang sibuk seperti itu.
Aku menganggukkan kepalaku untuk terakhir kalinya dan melihat Hiratsuka-sensei pergi.

×   ×   ×





Saat membuka pintu, mataku bertatapan langsung dengan Yukinoshita.
Dengan sebuah selimut menyelimuti pangkuannya, dia memegang buku yang terbungkus dengan cover bergambar kucing yang kelihatannya sangat ia sukai, tapi pendangannya tertuju pada pintu.
Sepertinya Yuigahama masih belum sampai, jadi Yukinoshita sendirian. Dia tersenyum lembut padaku.
“Selamat sore.”
’sup.”
Setelah aku menjawab, Yukinoshita menutup bukunya dan berdiri. Lalu dia mulai mempersiapkan teh seperti biasanya.
Setelah airnya mendidih, Yukinoshita mengambil dua buah cangkir dan berkata padaku.
“Kelihatannya kamu sedikit terlambat hari ini.”
“Hiratsuka-sensei punya semacam permintaan atau semacamnya...”
Yukinoshita mengisi cerek itu dengan daun teh dan memiringkan kepalanya karena bingung.
“Permintaan?”
“Dia bilang akan ada konsultasi pendidikan dan karir atau semacamnya besok dan OSIS perlu sedikit bantuan.”
“Begitu. OSIS... kalau begitu aku akan merapikan jadwalku,” kata Yukinoshita.
“Yeah.” Tanpa kusadari aku menjawabnya seperti biasanya karena jawaban mengejutkannya. “... Eh, tunggu, tak apa kalau cuma aku yang pergi.”
Mempertimbangkan kalau hanya aku yang dimintai tolong, kemungkinan hanya pekerjaan sederhana seperti mengatur kursi. Jadi tidak perlu sampai merepotkan Yukinoshita dan Yuigahama.
Meskipun aku berkata begitu, Yukinoshita tidak sedikitpun memperhatikannya dan segera menjawab. “Tak masalah... Aku juga tidak punya hal yang harus kulakukan.”
“Yaah, benar juga...”
Aku sedang buntu, tapi itu bukan berarti Yukinoshita memiliki semacam rencana. Hal ini sangat memalukan mengingat apa yang sudah kukatakan pada Miura, tapi memang beginilah kondisi kami saat ini. Jadi melakukan sesuatu untuk menyibukkan diri juga bisa menjadi bagian dari relaksasi.
Kami berdua kembali diam setelah itu, penampakan cerek yang berisi air mendidih menyita pandangan kami. Saat kami menunggunya sampai selesai, pintunya terbuka dengan keras.
“Yahalo!”
“Halo Halo~.”
Itu adalah dua salam yang sudah kuketahui dan khas.
Pertama, dia adalah Yuigahama. Lalu, yang masuk setelahnya adalah Ebina-san.
“Selamat sore, Ebina-san.”
“Hai, kita belum bertemu lagi sejak tahun baru, huh~?”
Yukinoshita dengan sopan menawarkan duduk pada Ebina-san, lalu dia berterima kasih dan duduk. Saat Yukinoshita mempersiapkan teh untuk pengunjung kami, aku menatap kearah Yuigahama untuk meminta penjelasan darinya,Hoi, kenapa nona ini datang kesini, hmm...?
Yuigahama mengangguk. “Ingat kan? Kita pernah membahas kalau kita harus memeriksa setiap orang yang mungkin tahu tentang program jurusan Hayato-kun, kan?”
Yeah.”
“Jadi itulah kenapa aku membiacarakannya pada Hina dan kami berpikir kalau lebih baik kita membahasnya bersama-sama disini. Kan, Hina?”
“Aku harap aku bisa berguna.”
Yuigahama memulai pembicaraan dan Ebina-san mengangguk gelisah.
Yaah, bukan keputusan buruk. Ebina-san mempunyai hubungan yang cukup akrab dengan Hayama dan Miura. Dia bukan orang yang bisa begitu saja aku ataupun Yukinoshita tanya, jadi mungkin saja berhasil jika Yuigahama menjadi mediator.
Terlebih, Ebina-san mungkin bersembunyi dibalik kedok gadis ‘gila’, tapi dia juga memiliki sisi misterius. Bahkan jika kita tidak mendapatkan jawabannya, kita mungkin akan mendapatkan semacam petunjuk.
Tapi, ekspresi Ebina-san terlihat murung. Kacamatanya juga terlihat sangat berkabut karena teh yang diterimanya dari Yukinoshita.
“Program Jurusan Hayato-kun, kah...? Aku sendiri juga kurang mengetahuinya. Karena, Hayato-kun bagus dalam kedua bidang jadi agak sulit untuk menebaknya.”
“Ahh. Aku juga berpikir begitu. Itu benar...” Yuigahama menurunkan bahunya sambil menyetujuinya.
Yaah, karena nilainya tidak setimpang milikku, memperhitungkan program jurusanya dari bidang akademis sepertinya sulit.
Mungkin terlihat pesimistis untuk menghindari hal yang tidak cocok denganmu, tapi itu benar-benar cocok denganku. Tapi, yaah, itu tidak berarti sama untuk semua orang.
Sambil menyandarkan pipiku di tangan, aku mendesah.
Ebina-san melanjutkan berpikir. Terlihat seperti terpikir sesuatu, dia membuka mulutnya.
“Oh, tapi, aku pikir dia pernah berkata sesuatu tentang berbagai pekerjaan.”
“Eh, apa, apa? Apa dia mengatakan hal semacam itu?” tanya Yuigahama.
Ebina-san mengangguk. “Belum lama ini, sekitar saat waktu kunjungan tempat kerja. Aku pikir dia berkata sesuatu tentang media masa atau perusahaan asing atau semacamnya?”
“Ahh, benar, kelihatannya dia pernah mengatakannya.” Yuigahama menepukkan tangannya.
Saat membahasnya, aku rasa memang dia pernah mengatakan sesuatu semacam itu. Tapi entah itu media masa maupun perusahaan asing, itu masih terlalu ambigu. Bukan berarti Ilmu Sosial akan lebih mudah untuk masuk media masa dan perusahaan asing juga tidak terbatas pada industri. Itu adalah hal bodoh untuk mulai memprediksi dari sana.
“Tapi, itu mungkin hanya hal yang diucapkannya karena penasaran. Sepertinya itu masih terlalu lemah untuk dijadikan titik acuan,” kata Yukinoshita, meletakkan tangan di dagunya.
Dia sangat benar. Pada kenyataannya, tempat yang akhirnya kami kunjungi adalah perusahaan yang sama sekali tak ada hubungannya dengan IT.
Tapi Ebina-san sepertinya juga memahami hal itu.
“Ya, aku juga berpikir begitu. Hanya saja...” Ebina-san tiba-tiba berhenti bicara. Pandangannya tertuju pada sudut ruangan, tidak menatap siapapun dalam ruangan.
“Hanya saja...?” Yuigahama memintanya untuk melanjutkan.
Ebina-san sedikit menggelengkan kepalanya. “Hanya saja, semuanya akan pergi ke tempat yang sama, jadi aku ragu ini akan menjadi referensi yang bagus!”
“Ahh, benar juga,” kata Yuigahama.
Ebina-san mengatakan kata terakhirnya dengan sedikit tidak normal dan Yuigahama menganggukkan kepalanya. Tapi, aku tidak bisa menganggukkan kepalaku. Barusan itu, apa itu benar apa yang ingin dikatakan Ebina-san?
Yukinoshita menyilangkan kakinya dan berkata pada Ebina-san, “Apa dia mengatakan sesuatu yang lain lagi?”
“Aku tidak ingat apapun lagi yang berkaitan dengan hal ini...” Ebina-san memiringkan kepalanya karena bingung sambil mencoba mengingat sesuatu, tapi pandangannya lalu beralih padaku. “Oh, tapi, hey, mungkin Hikitani-kun tahu sesuatu tentang hal sepele seperti ini, kan?”
“Hah? Aku?” Tanpa sadar aku menunjuk diriku setelah tiba-tiba terbawa dalam pembicaraan.
“Benar, Hikki memperhatikan orang lain dengan sanga—“
Ebina-san langsung berdiri dan memotong ucapan Yuigahama. “Benar kan! Itu seperti eye contact khusus milik para homo! Itu semua tentang Haya-Hachi!”
“Tidak ada hal semacam itu,” kataku.
“A-Ahaha...”
“Haa...”
Yuigahama tersenyum kaku dan Yukinoshita sedikit mendesah, menekan dahinya seperti sedang menahan pusing.
Ebina-san tertawa “gufufu” ‘gila’ seperti biasanya dengan suara yang mengerikan, tapi dia tiba-tiba mengangkat frame kacamatanya dengan jarinya. Aku tidak tahu kemana arah pandangannya karena terhalang lensa kacamatanya.
“... Yaah, Tapi aku tidak bisa menyebut keseluruhannya hanya sebagai sebuah candaan.” Ebina-san mengatakannya dengan pelan. Malahan, itu sangat pelan sampai kukira aku akan melewatkan semuanya. Sebelum aku bisa menanyakan maksud dari ucapannya, Ebina-san menggeser kursinya dan menondongkan badannya kedepan. “Oh, tapi kita bisa selalu membahas tentang berbagai kemungkinan mengenai Haya-Hachi!”
“Tidak, tidak mungkin...”
“Sayang sekali,” kata Ebina-san. “Yah, aku mau pamit dulu. Sampai jumpa lagi, Yui, Yukinoshita-san.”
Dia berdiri dan berjalan menuju pintu ruang klub.
“Ah, oke, makasih!”
“Jika kamu teringat sesuatu, kami akan sangat senang jika kamu mau memberitahukannya pada kami lagi.”
“Baiklah, sampai jumpa lagi.” Ebina-san menjawab Yuigahama dan Yukinoshita sambil melambaikan tangannya dan meninggalkan ruangan.
Setelah sebentar memperhatikan pintunya, aku mendesah pendek. “Sepertinya masih perlu waktu sampai kita bisa mendapatkan semacam petunjuk.”
“Aku pikir begitu.” Yukinoshita mengangguk dan mengambil tehnya yang sudah dingin.
Yuigahama memegang cangkirnya dengan satu tangan dan tangan yang satunya memegang handphone-nya.
“... Ke belakang sebentar.” Aku memberitahukannya pada mereka dan meninggalkan ruangan.
Belum lama sejak Ebina-san meninggalkan ruang klub. Seharusnya dia belum terlalu jauh. Aku ingin mendapat sedikit informasi lagi, bukan, aku ingin bertanya tentang maksud dari perkataannya tadi.
Terlebih, aku rasa dia masih punya sesuatu yang ingin dibicarakan karena hanya aku yang tidak mendapat salam darinya. Meski begitu, mungkin saja dia hanya melupakanku. Kalau begitu, itu lebih seperti bullying kan? Jika keberadaan yang tak terlihat adalah Another [3], maka seseorang mungkin akan mati.
Sambil memikirkan hal itu, aku melihat ke sudut dan tidak salah lagi Ebina-san sedang berjalan.
Suara langkah kakiku menggema sepanjang lorong lalu Ebina-san berbalik.
“Kamu tahu, aku pikir semua ini sia-sia,” katanya. Suaranya terdengar seperti dia sudah memperkirakan kalau aku akan mengejarnya.
“Apanya?”
“Caramu mencari informasi seperti ini. Hayato-kun bukan orang yang akan menunjukkan kelemahannya dengan mudah.”
Dia berhenti sambil menatapku. Tatapannya yang dingin terlihat jauh bebeda dari ekspresi yang berusaha dia tunjukan sepanjang hari. Atau mungkin, kekauan ini mungkin adalah bagian dari sifat aslinya. Ini adalah sesuatu pernah yang kurasakan dalam tragedi yang tejadi ketika karyawisata.
Aku sedikit mengangkat bahuku dan memalingkan pandanganku dari matanya. “... Aku tahu. Tapi setelah apa yang kukatakan pada Miura, aku harus menyelesaikannya.”
“Uh huh...”
Setelahnya, kami kehabisan kata.
Di lorong ini, yang ada hanya Ebina-san dan aku. Saat kamu berdua diam, kesunyian memenuhi udara dan suara yang terdengar hanyalah suara angin yang membentur jendela.
Merasa canggung karena hanya berdiri dan terdiam, aku berpikir menguras otak dan apa yang ingin kutanyakan pada Ebina-san terlintas di kepalaku. Aku batuk sekali, lalu berkata.
“Sebenarnya aku ingin bertanya sesuatu padamu, apa kalian tak apa dengan ini?”
“Apa maksudmu?”
“Yaah, bagaimanapun yang terjadi nanti, aku tidak bisa membayangkan kalian akan bisa bersikap sepeti bias—“
“Itu takkan terjadi.” Ebina-san memotong perkataanku dan segera menjawab. “Hayato-kun pasti akan menemukan suatu cara untuk menghindari masalah itu dan aku pikir Yumiko akan memahaminya. Aku tak bepikir kalau pergantian kelas akan meruntuhkan semuanya.”
Perkataannya sedikit ambigu, tapi suaranya terdengar penuh dengan keyakinan.
“Begitu. Kamu cukup mempercayai mereka, kan?”
“Bukannya begitu... Aku hanya berpikir kalau Hayato-kun akan memilih suatu cara dimana tidak ada orang yang terluka. Daripada kepercayaan, ini hanyalah keinginan egois dariku.” Ebina-san tersenyum, menjulurkan lidahnya.
Mungkin, jika aku masih aku yang dulu, aku yakin aku takkan merasakan sedikitpun kecurigaan pada perkataan Ebina-san. Aku pikir aku pasti akan begitu saja memberikan semacam penghormatan pada Hayama Hayato karena menjadi orang yang seperti itu.
Tapi sekarang, semuanya berbeda. Perkataannya mungkin tidak jelas, atau sesuatu yang nyata, tapi, meski begitu, yang terkandung jauh di dalam perkataan itu adalah perasaan murung dari kegelisahan.
Itulah yang membuatku ingin menanyakannya.
“Hei, kenapa kamu berpikir seperti itu?”
“... Karena Hayato-kun pasti akan memenuhi harapan semua orang.” Ebina-san mengalihkan pandangannya dariku dan tersenyum lagi. Tidak ada sedikitpun warna pesona dari senyuman itu, hanya bibirnya yang sedikit melengkung keatas; ekspresi yang dingin.
Melihatnya dari dekat, aku tidak bisa memikirkan kata apapun untuk menjawabnya. Dalam kesunyian itu Ebina-san melompat selangkah kebelakang menjauh dariku dan sedikit mengangkat tangannya. “Okay, aku mau pulang sekarang.”
“Ah, ya...” kataku, berhasil menjawab. Aku memperhatikan punggung Ebina-san saat dia pergi.
Untuk sekarang, aku masih belum mendapatkan apapun yang mengarahkanku pada suatu jawaban.
Tapi aku merasa ada sesuatu yang sangat mengganjal. Saat aku memikirkan tentang sumber dari perasaan itu, aku kembali ke ruang klub.
Dengan segera, aku melihat ke langit dari jendela lorong. Dari arah yang kulihat terdapat langit musim dingin yang suram dan mendung, berwarna merah menyala dan nila.
Dalam sekejap, langitnya mulai gelap.
Tak diragukan lagi, secara alami, dan tidak mengkhianati harapan dari siapapun.

×    ×    ×





Setelah kedatangan Ebina-san ke klub kami, kami tidak mendapatkan pengunjung lagi. Saat jam kerja kami berakhir, aku segera pulang.
Aku mengucap salam “aku pulang” di pintu masuk, tapi tak ada jawaban. Kedua orang tuaku yang menjadi budak perusahaan kelihatannya belum pulang dan Komachi kemungkinan sedang les atau di kamar.
Aku menaiki tangga dan memasuki ruang keluarga yang gelap gulita lalu menyalakan lampu.
Cahaya menyinari seluruh ruangan.
Saat itu, sesosok makhluk muncul di ruang tamu yang tadinya kukira kosong.
“Whoa! Sial...
Setelah diamati lebih lanjut, Komachi sedang melamun sambil menyandarkan pipi di tangannya di atas meja.
Karena mendengar suara anehku, dia menoleh karena menyadari keberadaanku dan menyeringai. “...Ah, onii-chan. Selamat datang.”
“Y-Yeah, aku pulang...”
Aku melemparkan jaket dan tasku ke sofa lalu menyalakan pemanas ruangan. Kelihatannya, Komachi sedang kehilangan arah dan tujuan. Ruang tamunya menjadi sangat mencekam.
“Komachi, ada apa?” Aku duduk di kursi dan bertanya.
Komachi tersenyum malu dan menjatuhkan dirinya ke meja.
“S-Sudah, aku sudah tidak tahan lagi...” Komachi berkata tersedu dan mulai memegangi kepalanya. “Uuuu... Saat aku gagal dalam ujian nanti, itu pasti akan menjadi awal runtuhnya kehidupanku... Dan para tetangga akan menertawakan kita, ‘Apa kalian tau tentang kedua NEET di keluarga Hikigaya? Mereka seperti pinang dibelah dua, fufufu’... Aku pasti aku takkan bisa menjalani kehidupan normal lagi!”
“Umm, tapi aku bukan NEET...”
Mengabaikan balasanku, Komachi menggosok rambutnya dan menjatuhkan dirinya ke meja lagi.
Ya ampun, lagi lagi dia begini... Ini adalah jebakan yang sama seperti saat akhir tahun kemarin.
Yaah, di dunia ini juga ada yang namanya marriage blue atau maternity blue, ada juga Tail Blue [4]. Kalau komachi, kelihatannya ini sesuatu seperti exam blue. Ada juga pasukan Sentai semacam ‘Nilai ujian merah’ dan ‘budak perusahaan hitam’. Pasukan sentai yang sangat mengerikan, yap.
Bagaimanapun juga, aku sudah punya gambaran cara untuk menangani Komachi.
“Bagaimana kalau istirahat sebentar? Seperti, bagaimana kalau memikirkan sesuatu yang menyenangkan,” Aku mengatakannya sesuai dengan buku panduan onii-chan, tapi tak ada jawaban. Padahal biasanya akan langsung kena...
Aku bersandar di sofa, merasa ada yang aneh dan berbalik ke arah Komachi. Dia terlihat sedang tertidur di meja dan sedikit cemberut. Tangannya yang tergeletak diatas meja sedikit mengepal.
“... Mana mungkin aku akan merasa senang.”
Tak seperti tadi, nada candaannya sudah menghilang. Ngambeknya Komachi membuatku teringat saat dia masih kecil.
“Apa terjadi sesuatu?”
“Tak ada.”
Komachi menjawabnya dengan nada kasar. Tapi, meski dia mengatakannya dengan sangat singkat, sepertinya masih ada sesuatu yang ingin dikatakannya.
Aku duduk tenang disana, sambil menunggunya untuk melanjutkan. Hampir satu menit terlewati. Di ruang tamu, suara yang bisa terdengar hanyalah suara detak jarum jam di dinding dan suara kendaraan yang berlarian di luar.
Akhirnya, Komachi mengeluh pasrah.
“... Sebenarnya, itu lho, saat aku beristirahat, atau sebelum aku tidur, atau saat aku makan, aku mulai berpikir kalau aku sudah melakukan itu atau sudah menyelesaikan ini,” kata Komachi, berbicara dengan terpatah-patah. Dia tidak menatapku, dia terus melihat ke kepalan tangannya. “Seperti, apa yang harus kulakukan kalau aku tak berhasil... atau seperti, bagaimana jika aku gagal, apa yang harus kulakukan? Sesuatu seperti itu.”
Dia mengepalkan tangannya lebih keras lagi. Untuk mengatasinya, aku berbicara sepelan yang kubisa. “Kamu tidak perlu cemas dengan hal semacam itu, karena kamu berhasil lulus ujian sekolah swasta.”
“Bukan berarti aku ingin ke sana.”
Komachi memalingkan wajahnya dariku. Karena itu, aku tidak bisa membaca ekspresinya. Lalu aku bisa mendengar suara terpatah.
“Sia-sia rasanya membayar untuk sekolah di tempat yang tidak aku inginkan... aku juga akan merasa bersalah pada ayah.”
Kedua orang tua kita bekerja, jadi kita cukup longgar dalam finansial. Malahan, aku pikir kita punya cukup tabungan untuk membayar biaya di sekolah swasta. Tapi sepertinya Komachi bukan sedang mempermasalahkan tentang uang.
Tapi, Komachi merasa bersalah pada ayah, kah? Padahal biasanya dia akan mengabaikannya begitu saja, tapi saat seperti ini malah dia dibawa-dibawa.
Tentu saja, Komachi bukannya membenci ayah.
Tapi, tertekan karena ujian, kelihatannya jadi diri yang biasanya disembunyikan tiba-tiba mucul.
“Terlebih, aku tidak ingin mendengar kalau aku gagal...”
Nadanya gemetar.
Komachi adalah adik yang ceria, cakap dan selalu tersenyum. Dia mengurus pekerjaan rumah dan tentu saja mengurus kakaknya. Tidak diragukan lagi kalau dia juga menampilkan sifat itu di sekolah.
Tapi saat libur musim dingin, tidak salah lagi kalau dia ingin menjaga jarak dari temannya. Saat ini terjadi pergeseran dan tekanan pada hubungan sosia yang tidak sanggup kuterka.
Semakin ceria dirimu, semakin terlihat jelas saat kilauanmu memudar. Sekolah swasta sudah mengumumkan hasil ujian dan seharusnya menjadi topik di kalangan teman sekelasnya. Suatu hal sepele yang biasanya tak di anggap, bisa saja berubah menjadi tombak tajam yang suatu saat akan benar-benar menusuk hati.
Itulah kenapa orang-orang ingin menjaga jarak dari orang lain dan juga kenyataan.
aat Komachi menyelesaikan perkataanya yang terpatah-patah, dari arahnya, aku bisa mendengar suara desahan seperti dia sedang menangis.
“Yaah, ujian SMA memang penting. Jika kamu berhasil lulus, pasti akan muncul jarak yang cukup jauh dengan teman SMP-mu dan akan sedikit sulit saat bertemu mereka.”
“Uh hah...” Komachi meresponnya dengan suara seperti dia tak begitu memahaminya.
Mungkin saja hal ini sudah berulang kali diucapkan di sekolah, tempat les, atau bahkan oleh orang tua kami. Tapi aku tetap melanjutkannya.
“Tapi ujian kuliah itu jauh lebih penting dan mencari kerja mungkin jauh jauh lebih penting lagi. Dan saat kamu melalui semua itu, temanmu akan terus berkurang hampir semuanya, jika kamu kebetulan bertemu mereka, pasti akan sangat canggung.”
“Y-yeah...”
Nadanya tercampur dengan kebingungan dengan jawaban yakinku, “Tapi itu tak apa.”
Komachi mengangkat wajahnya. Matanya sedikit berair, ekspresi seperti terkejut. Saat dia terlihat seperti itu, aku teringat kenangan saat dia masih kecil dan tanpa sadar aku tersenyum.
“Terlebih, kamu bisa menganggapnya seperti ini: asalkan semuanya berakhir mulus, maka kamu berhasil. Sama seperti playoff baseball. Memasuki sekolah atau Universitas berkelas itu sepadan seperti mendapatkan keuntungan dari menjadi juara musim. Kamu akan mendapatkan keuntungan, tapi itu takkan menentukan segalanya.”
Konon, pernah ada sebuah tim yang telah memenangkan gelar team nomor satu di Jepang setelah melewati pertarungan sengit di pertarungan singkat akhir musim dari peringkat tiga pada musim biasa. Saat kamu kalah, memasukkan seorang pitch-hitter bisa membuatmu merasa jengkel seperti saat pukulan dalam lapangan ke area lambat. Kehidupan maupun baseball adalah rangkaian drama tanpa naskah.
Aku pikir aku sudah menceritakan cerita dengan bersemangat, tapi Koachi sepertinya tidak tertarik dengan pembicaraan tentang baseball terlihat dari dia yang sudah melamun dari pertengahan cerita dan hanya menatap kearahku tanpa merespon.
Mmm, berdasar pada radar onii-chanku, ini bukanlah hal yang ingin Komachi dengar.
Aku terus memutar otak, bingung untuk mengatakan apa, aku memutuskan untuk mengatakan apapun yang terlintas di pikiranku.
“Yaah, itu lho... Kalau sesuatu yang butuk terjadi, kalau itu untukmu, aku akan melakukan sesuatu.”
“Onii-chan...”
“Membiayai dua orang itu tidak jauh berbeda dari membiayai satu orang. Aku akan memohon pada orang tua kita untukmu.”
“Kamu seharusnya berkata kalau kamu akan bekerja...” Komachi membersihkan matanya sambil berkata dan tersenyum.
“Itu adalah pilihan terakhir untukku... Dan, mungkin ini aneh kalau aku yang mengatakannya, tapi Onii-chanmu ini sangat luar biasa. Aku bisa menjadi apa saja... Jadi, santai saja.” Aku menjulurkan tanganku dan menepuk kepala Komachi dengan pelan, lalu mengelus rambutnya.
“Hey, onii-chan. Saat aku melihatmu...” kata Komachi, memotong perkataannya. Dia meletakkan tangannya pada tanganku dan menatapku dengan mata yang masih sedikit berair. Lalu dia mengeluh lelah. “Aku mulai berpikir kalau terlalu khawatir itu tindakan yang bodoh...” Dia menyingkirkan tanganku.
“... Baguslah.”
Dasar bocah... Ini yang aku dapatkan dengan bersikap baik padanya... Malahan, itu juga membuatnya lucu, kan? Mmm, tapi kelucuan yang onii-chan harapkan itu sedikit berbeda...
“Argh, oke, sudah cukup. Kembali belajar.”
Komachi berdiri dari kursinya, kembali menjadi dirinya yang biasanya dan pergi dari ruang keluarga. Saat dia memegang gagang pintu, dia tiba-tiba berhenti.
“Terima kasih,” katanya, lalu segera kabur dari ruang tamu dan menutup pintunya.
Dari balik pintu terdengar suara langkah kaki yang lebih sibuk dari biasanya.

×    ×    ×


Keesokan harinya sepulang sepulang sekolah, Yukinoshita, Yuigahama, dan aku sampai di depan ruang seminar.
Kami kesini untuk membantu OSIS seperti yang di minta Hiratsuka-sensei kemarin, yaitu untuk mempersiapkan kegiatan konsultasi pendidikan dan karir. Meskipun aku bilang kalau aku akan pergi sendiri, mereka berdua memutuskan karena mereka tidak punya hal untuk dilakukan jadi akhirnya terjadilah  “ayo kita bertiga selesaikan ini dengan cepat.”
Terakhir kali aku pergi ke ruangan ini adalah saat Festival Budaya; yaah, saat persiapan Festival sekolah juga.
Aku memegang pintu ruangan dan keliahatannya tidak terkunci. Sepertinya Isshiki dan anggota OSIS lainnya sudah ada disini. Aku mengetuk pintunya dan aku bisa mendengar suara datar “silahkan masuk”. Aku membuka pintunya dan Isshiki yang ada di dekat jendela menoleh kearahku.
“Ah, senpai!”
Seakan berkata “Terlalu lama”, Isshiki mendekat dan mencoba menarik lenganku. Tapi saat dia melihat dua sosok di belakangku, dia segera menunduk.
“Oh, kalian berdua juga datang.”
“Yahallo, Iroha-chan!”
“Apa yang harus kami lakukan?”
Yuigahama menjawabnya dengan ceria pada salamnya sedangkan Yukinoshita melihat kedalam ruang konsultasi.
Aku juga melihat ke dalam dan kelihatannya ruangannya masih seperti biasanya. Kursi dan meja berjejer dan membentuk persegi.
“Karena kita melakukan persiapan untuk konsultasi pendidikan dan karir, kita harus mengatur ulang ruangan ini. Dan juga, anggota OSIS harus berkeliling menjadi semacam tokoh pendukung atau semacamnya.”
“Hah, kedengarannya akan cukup memakan waktu,” kataku.
Isshiki menurunkan bahunya. “Ya, itu benar. Dan hal semacam ini juga harus menjadi tanggung jawab OSIS... Benar-benar pekerjaan yang merepotkan...” kata Isshiki.
“Yaah, memang seperti itulah kerja OSIS...”
“Aku tidak mendengar sedikitpun tentang hal ini... Ya ampun, jika bukan gara-gara seseorang yang berkata padaku untuk menjadi ketua OSIS...”
Flip, flip, flip. Isshiki sengaja menatapku.
“Berisik... Tapi, meskipun kamu begitu banyak mengeluh, sepertinya kamu benar-benar bekerja.”
“...Y-yaah, karena ini adalah pekerjaan,” kata Isshiki, membalikkan dirinya karena canggung dan mengalihkan pandangannya dariku. Lalu dia membatuk sekali dan menggoyangkan kumpulan kertas yang dipegangnya. “Y-yang jelas! Tolong pindahkan meja dan kursinya. Lalu tolong buat menjadi enam bilik lengkap dengan penyekat.  Senpai dan wakil ketua tolong tangani benda yang berat.”
Aye, aye! Aku mengangguk, mengacungkan tanda peace dalam hati, dan Isshiki juga melakukannya. Lalu dia menatap ke Yukinoshita dan Yuigahama.
“Untuk yang wanita, tolong pindahkan kursinya. Seharusnya ada dua baris untuk siswa dan satu baris untuk tutor. Jika kalian selesai, tolong siapkan teh untuk para tutor.”
Isshiki memberi perintah pada sambil melihat printout. Secara mengejutkan, dia telah menjadi sangat efisien dan cukup ahli. Gadis sekertaris dengan rambut kepang mengangguk setelah mendengar perintah itu.
Di sisi lain, ada seseorang yang memiringkan kepalanya. Tentu saja, itu adalah Yuigahama.
Chuuter ...? Seekor tikus ?”
Kita bukan sedang membicarakan tentang Nyanta, Hamtaro, Ebizou, or Kikuzou. Bingung bagaimana aku harus menjelaskannya, Yukinoshita sedikit melangkah maju.
“Tutor adalah orang yang akan memberikan saran dan membantu dengan memberi panduan belajar. Dalam hal ini, mereka adalah orang yang memberi petunjuk.
“Benar. Selain para guru, kita juga juga mengundang alumni dan kakak kelas tiga yang mendapatkan rekomendasi,” kata Isshiki.
“Alumni...” Yukinsohita menggerutu.
Kebetulan sekali. Saat ini, sepertiya aku memikirkan hal yang sama dengannya. Aku bisa merasakan firasat buruk.
“Okay, aku harus memanggil para tutor, jadi wakil ketua, sisanya kuserahkan padamu,” kata Isshiki lalu meninggalkan ruangan.
Selanjutnya kita memulai persiapan sesuai dengan instruksi dari wakil ketua.
Saat aku membawa penyekatnya bersama si wakil ketua, dia terlihat merasa bersalah dan berkata.
“Maaf ya, tapi kalian benar-benar membantu. Kami hanya perlu bantuan untuk merapikan ruangan.”
“Ahh, tak masalah. Jauh lebih baik karena kita tahu apa yang harus dilakukan.”
Saat event natal, kita telah menempuh jalur neraka karena kita tidak bisa menentukan apapun. Dibandingkan dengan itu, aku pikir keadaannya sedikit lebih baik, baik untuk motivasi Isshiki, kecanggungan anggota OSIS, maupun hubungan antara Yuigahama, Yukinoshita dan aku.
Pemicunya bisa saja apapun, jika kami bisa membawa benda berat bersama sedikit demi sedikit seperti ini, maka kami seharusnya bisa mengubah jalan hidup kami.
Kami sudah memindahkan meja, mengatur pemabatas, dan hal yang tersisa untuk dilakukan adalah pekerjaan para gadis. Karena kami melakukannya dengan efisien, kami masih punya cukup waktu sebelum acara dimulai.
Saat itu, aku melihat seseorang yang sedang melihat ke dalam ruangan sambil gelisah dari pintu masuk, datang lebih cepat dari yang lain. Ponytail yang kukenal itu terus maju dan mundur di pintu masuk.
Namanya kalau tidak salah, Honda, bukan, Suzuki... atau mungkin Yamaha? Bukankan itu hanya merk sepeda motor? Maksudku, penampilan garangnya memberikan kesan seperti itu. Sepeda motor, sepeda motor... sepeda motor, Kawasaki, sepeda motor? Yeah, sepertinya Kawasaki.
Karena Kawasaki terlihat ragu tentang boleh tidaknya dia masuk, aku memutuskan untuk memanggilnya.
“Hey, sebentar lagi persiapannya akan selesai.”
“... Baik.”
Kawasaki terkejut saat aku memanggilnya. Jawabannya sangat pendek, atau bahkan kasar. Dia selalu bersikap seperti itu kan...?
Tapi membiarkannya berdiri disana sambil menunggu tanpa kepastian  membuatku merasa kasian karena dia sudah repot-repot datang kesini. Sampai persiapan ruangannya selesai, aku memutuskan untuk menghabiskan waktu dengannya.
“Hey, kamu datang kesini untuk mengikuti konsultasi pendidikan dan karir, kah?”
“Kurang lebih seperti itu...”
Sikapnya terlihat sedikit gelisah saat dia menjawab. Dia terlihat seperi gadis biasa saat bersikap seperti itu. Meskipun ada aura mengerikan yang muncul darinya, kesungguhannya datang kesini membuatnya terlihat seperti anak baik. Sifatnya ini membuat paman melihatnya dari sudut pandang yang bagus, yap.
Ini adalah kesempatan yang bagus. Aku akan mencoba bertanya pada Kawasaki tentang program jurusan apa yang akan dipilihnya, meskipun aku tak yakin kalau itu akan berguna.
“Oh ya, kamu mau ambil program jurusan apa?”
“Hah? Aku? Aku... pikir aku akan pergi ke sekolah negeri bidang ilmu sosial... atau semacamnya.”
“Jawaban pasti dan ambigu disaat yang sama, hah...” kataku.
Pada awalnya dia mengatakannya dengan tegas tentang sekolah yang diminatinya, tapi dia mengakhirinya dengan kata yang mabigu.
Kawasaki menatapku dengan mata sedikit menyipit. “Ada masalah?”
“Tidak. Tidak sama sekali. Okay?”
Aku berakhir menjawabnya dengan sopan. Tidak bisakah dia melakukan sesuatu pada sikap sensinya itu...? Tentu saja aku tidak punya masalah dengan itu. Aku sangat berharap kalau dia akan berhenti memancarkan aura real monk-nya [5] itu. Kemungkinan dia juga bisa menembakkan raging fist...
“Tapi, jika kamu sudah menentukannya, apa kamu masih perlu kesini?”
“... Aku masih belum yakin dengan nilaiku, jadi aku pikir aku harus datang kesini dan bertanya tentang hal itu.”
Meskipun dia mengatakannya dengan jelas, tapi aku bisa merasakan keraguan di dalamnya. Kelihatannya dua sudah bertekad untuk memasuki sekolah negeri.
Yaah, benar juga. Dia juga punya saudara kan? Setiap keluarga punya masalahnya masing-masing.
Setiap keluarga, tidak peduli keluarga siapapun juga pasti memiliki masalah. Itu juga sama untuk Hayama dan Yukinoshita. Kalau Kawasaki, dia memiliki banyak saudara. Dia memikirkan tentang masa depan dan memutuskan untuk memasuki sekolah negeri. Dia juga memiliki adik perempuan di PAUD. Jadi tak ada salahnya memilih sekolah negeri. Kakak yang sangat baik. Berbeda jauh dengan salah satu onee-sama di luar sana...
“Oh ya, bagaimana keadaan adik perempuanmu? Umm, Mii-chan?”
“Hah? Siapa itu?” Kawasaki melotot padaku.
O-oh, ya ampun, aku hanya salah menyebut namanya... Dasar Siscon...Yang jelas, siapa namanya...? Haa-chan? Bukan, itu adalah aku, mungkin. Hachiman berubah menjadi Haa-han. Okay, bagaimana dengan kaa-han... yaah, itu untuk maman.
Aku memikirkan semua nama yang terasa pernah kuketahui, saat aku megingat suatu nama yang terasa kukenal, aku menepukkan tanganku.
“Oh, dia Saa-chan.”
Dalam sekejap, kami terdiam. Lalu, Kawasaki kembali sadar dan mundur satu langkah dengan wajah yang sangat merah, dia berkata dengan kasar. “Haah!? Siapa yang kamu sebut dengan Saa-chan—Kamu tidak berhak mengatakannya.”
“Oh ya. Saki, kah?”
Jadi itulah kenapa berubah menjadi Saa-chan, masuk akal. Tapi, Kawasaki tidak terlihat puas dan kembali mundur satu langkah.
“H-haah!?”
Hentikan ‘Hah, haah!?’ mu itu, apa kamu itu T-san [6] yang terlahir di kuil atau semacamnya? Kalau Kawasaki, dia akan menjadi K-san? Ah, benar, Kei-chan.
“Kei-chan, kan? Kei-chan. Aku baru teringat,” kataku.
Kawasaki menatap tajam padaku. “Saat kamu melupakannya lagi, akan kupukul kamu.”
“B-Baik...”
Aku tidak bisa mengatakannya.. Aku tidak bisa bilang kalau aku lupa nama adik perempuannya dan namanya Kawasesuatu-san juga kabur dalam ingatanku... Tapi membahas tentang adik perempuannya sepertinya membuatnya sedikit lembut dan dia mulai berbicara dengan nada lembut, jauh berbeda dari tadi.
“Selanjutnya, um, jika kamu bertemu dengannya lagi... Bisakah kamu bermain dengan Kei-cha—Keika lagi?”
“Mm, yeah. Yaah, aku tidak yakin kalau aku akan bertemu dengannya lagi, tapi baiklah.”
“Okay...”
Setelah mengangguk pada jawabannya, pintu ruang seminar terbuka dan Yuigahama muncul.
“Hikki, kita sudah selesaikan persiapannya.”
Lalu Yuigahama menyadari keberadaan Kawasaki dan berkata “Ohh” lalu melambaikan tangannya. Kawasaki mengangguk dan menundukkan kepalanya.
“Apa kamu kesini untuk konsultasi? Masuk, masuk saja!” kata Yuigahama dan mengisyaratkan pada Kawasaki untuk masuk.
Saat aku melihatnya pergi, aku membuka pintu ruangan sepenuhnya. Dengan begini akan memudahkan bagi siswa lainnya untuk masuk.
Saat aku ingin mengunci bagian bawah kuncinya, aku mendengar suara dari atas.
“Hey, aku masih belum bertanya padamu... Program jurusanmu.”
Aku berbalik dan hanya Kawasaki yang menghadap padaku.
“Aku akan ke sekolah swasta jurusan Ilmu Sosial.”
“Uh huh... Jadi Ilmu Sosial.” Kawasaki mengatakannya dengan acuh dan pergi kearah Yuigahama.
... Yaah, kita sama-sama Ilmu Sosial. Kalau kami berada di kelas yang sama tahun depan, maka aku mungkin akan bertemu dengan adik perempuannya lagi. Jadi aku akan bermain dengannya saat itu terjadi.

×    ×    ×





Setelah kedatangan Kawasaki, murid-murid lainnya segera berdatangan. Aku melihat ke arah jam dan sudah hampir saatnya jadwal pembukaan acara konsultasi.
Dibalik pintu, suara gaduh percakapan dapat terdengar dari lorong. Yukinoshita yang berdiri di sampingku memperhatikan suara itu. Yuigahama berjalan menuju kami dan melihat dengan penasaran kearah lorong.
Itu juga merupakan suara yang familiar untukku. Tidak diragukan lagi, sumber suara itu sedang bersama Isshiki Iroha menuju ruangan ini. Dan seperti yang kita duga, itu adalah Yukinoshita Haruno. Meguri-senpai mengikuti dibelakangnya.
Saat dia melihatku, dia melambaikan tangannya dengan ramah. “Oh, ada Hikigaya-kun. Hyahallo!”
“Halo.” Aku sedikit menundukkan kepalaku.
Haruno-san tersenyum senang dan mengalihkan pandangannya pada Yukinoshita.  Yukinoshita dengan berani melawan tatapan itu dan tatapan mereka saling berhadapan.
“... Nee-san.”
“Jadi Yukino-chan juga ada disini. Mmkay, onee-chan akan mendengarkan banyak hal darimu hari ini,” kata Haruno-san, menggodanya.
Yukinoshita meliriknya sambil menyeringai. Keadaanya mulai memanas... Hoi, kalian berdua, lakukan hal semacam ini di rumah...
Seolah tiba-tiba merasakan suasana suasana yang berbahaya, Yuigahama yang berdiri di samping Yukinohita memulai pembicaraan dengan Haruno-san.
“Ah, jadi Haruno-san adalah alumni yang mereka maksud, ya?”
“Ya, ya. Aku dengar sesuatu seperti mendapatkan penghargaan...” Haruno-san tersenyum dengan sangat gembira. “Jadi aku kesini!”
Orang ini benar-benar punya banyak waktu luang atau mungkin dia tidak punya teman...? Aku curiga padanya, tapi Haruno-san adalah tipe orang yang disukai banyak orang. Kelihatannya hari ini dia juga mendapatkan pengikut baru. Isshiki segera datang ke samping Haruno-san dan memulai percakapan dengannya dengan mata bersinar.
“Aku sangat senang karena senpai yang sehebat dirimu bisa datang hari ini, kamu sangat membantu!”
“Yang benar? Ini bukan masalah besar, tahu?”
Meskipun dia bersikap rendah hati, tapi senyum tenang Haruno-san terliahat dipenuhi dengan kepercayaan diri, atau bahkan sangat menawan.
“Itu tidak benar, Haru-san-senpai, kamu itu, seperti, sangat keren! Aku sangat mengagumimu! Aku juga ingin menjadi sepertimu Haru-san-senpai... atau semacamnya.”
Haruno-san memeluk Isshiki dan membelainya.  Di pelukannya, Isshiki tersenyum malu. Ah, gadis ini mencoba untuk mendapatkan hubungan baik degan orang-orang penting dan jika itu semua berjalan lancar, dia akan mencoba untuk mendapatkan informasi penting...
Tapi Haruno-san adalah musuh yang tangguh, tertawa kecil sambil tersenyum kagum saat mengelus rambut Isshiki, sepertinya dia sudah mengetahui keseluruhan perhitungannya.
Aku melihat sesuatu yang tidak menyenangkan... kalau bisa, aku tidak ingin Isshiki menjadi seperti Haruno-san. Tapi Meguri-senpai tersenyum gembira saat memperhatikan mereka, kejadian tak alami itu sepertinya memiliki makna yang berbeda dari tiap orang yang melihatnya.
Berdasar pada Solace no Hado [7], Megu Megurin Megurin power yang menenangkan, aku bisa merasakan hatiku termeguri.
Saat dia menyadariku, dia mengucap salam padaku sambil melambaikan tangannya dan berjalan kearahku. “Hikigaya-kun, rasanya sudah lama tak jumpa!”
“Ah, benar... Senpai, kamu juga diundang?”
“Ya, karena aku medapatkan rekomendasi rujukan sekolah,”
Saat kami mulai percakapan, Yuigahama mendekat dan bergabung. “A-Apa itu Rekomendasi Rujukan sekolah?”
“Rekomendasi rujukan sekolah adalah sistem dimana sebuah Universitas menyiapkan beberapa kuota untuk siswa rekomendasi dari SMA. Siswa yang memenuhi persyaratan akan akan dicalonkan dan direkomendasikan oleh pihak SMA. Salah satu ciri dari sistem ini adalah tingginya kemungkian lolos diabanding dengan pendaftaran langsung.”
Entah kenapa, Yukinoshita yang menjawab pertanyaan Yuigahama. Meguri-senpai mendengarkan dan menganggukkan kepalanya.
“Yukinoshita-san, pengetahuanmu sangat luas! Untuk sekolah kita, ada beberapa Universitas yang cukup besar untuk direkomedasikan. Jadi jika kamu bisa mempertahankan nilai yang bagus, kamu bisa mendapatkannya.”
“Fufun”, Meguri-senpai yang sedikit membusungkan dadanya karena bangga terlihat lucu. Gahh, aku sedang termeguriiii...
Tapi, mantan ketua OSIS ini bukan sekedar orang yang ceria. Saat ada pekerjaan yang harus dilakukan, maka dia akan mengusahakan sebisa mungkin agar hal itu selesai. Kalau bukan karena itu, dia takkan mendapatkan rekomendasi. Meguri-senpai melihat ke arah jam. Hanya tinggal beberapa menit sampai acara dimulai.
Dia berjalan ke arah Isshiki yang sedang bersama Haruno-san dan bertanya, “Ketua, apa yang harus kita lakukan?”
“Ah. Kalau begitu, Shiromeguri-senpai, bisa tolong pergi ke kursi yang paling ujung, lalu Haru-san-senpai ke yang di sampingnya...”
Setelah Isshiki kembali menghadapi kenyataan, dia mulai membagi tugas. Saat dia melakukan itu, Yukinoshita melihat ke arah jam lagi. Lalu dia memanggil haruno-san.
“Nee-san, ada waktu sebentar?”
“Hmmm?”
“Aku ingin bertanya tentang sesuatu. Hikigaya-kun, Yuigahama-san, bisa kesini sebentar?” kata Yukinoshita, lalu dia meminta kami menuju ke ujung ruangan.
Karena dia berkata ingin berkata sesuatu dan juga memanggil kami, aku punya gambaran tentang apa yang ingin dilakukannya. Dia mungkin ingin mencoba bertanya pada Haruno-san tentang program jurusan Hayama. Saat aku memikirkan hal itu, orang yang paling lama mengenal Hayama, di dalam dan luar sekolah, tidak salah lagi adalah Haruno-san. Pemikiran Yukinoshita ada benarnya.
Kami berkumpul di sudut ruangan dan Yukinoshita bertanya langsung. “Apa kamu punya gambaran tentang program jurusan yang mungkin akan diambil Hayama?”
Seakan Haruno-san tidak percaya mendapatkan pertanyaan seperti itu, dia berulang kali mengedipkan matanya. Tapi dia segera tertawa pendek yang mengejek. “Program jurusan Hayato? Oh, tentang itu?”
Nada acuhnya memperlihatkan kalau sepertinya dia menyadari sesuatu.
Tidak mengabaikan hal itu, Yukinoshita bertanya. “Apa kamu tahu sesuatu?”
“Entahlah? Aku tak begitu tertarik, jadi aku tak pernah menanyakannya. Tapi aku yakin kalau dia sudah memutuskannya.” Haruno-san menjawabnya dengan kasar dan mengeluh panjang karena heran. Lalu dia tersenyum jahat pada Yukinoshita. Matanya dipenuhi kekejaman. “... Terlebih, Yukino-chan, kamu seharusnya tahu apa itu tanpa perlu bertanya padaku.”
“Aku takkan bertanya padamu kalau aku sudah mengetahuinya, nee-san,” kata Yukinoshita, menjawabnya juga dengan tatapan tajam dan dingin.
Nada provokatifnya itu membuat Haruno-san sedikit menyeringai untuk sekejap.
Tapi dia segera mengalihkannya bukan dengan nada yang keras, tapi dengan nada yang tenang, berkata langsung, “Pikirkan sendiri hal itu dengan serius.”
“.....”
Cara bicaranya yang seakan sedang marah membuat Yukinoshita terdiam. Yuigahama juga, terlihat terkejut dan memperhatkan Haruno-san. Bahkan aku juga sedikit kehilangan kewaspadaanku. Itu bukan nada yang kasar atau kejam, tapi bisa disebut sebagai bijak atau perhatian.
Haruno-san segera menjulurkan ludahnya dan tersenyum mengejek.
“Padahal aku pikir akhirnya kamu bisa melakukan sesuatu sendiri, tapi kamu masih saja bergantung pada orang lain seperti dulu. Maksudku, itulah kenapa kemu sangaaat lucu, dulu. Oh, aku tahu,” kata Haruno-san. “Yang lebih penting, Yukino-chan, kamu mau ambil program jurusan apa?”
Saat dia bertanya pada Yukinoshita, dia kembali sadar. Dia mengibaskan rambut di bahunya dan menatapnya dengan sombong. “Aku tak punya kewajiban untuk memberitahumu, nee-san.”
“Padahal ibu yang memintaku untuk menanyakannya. Kalau tidak ada kesempatan seperti ini, rasanya agak sulit untuk menanyakannya. Karena Yukino-chan tak pernah mau membicarakan sesuatu yang penting. Onee-chan tidak tahu harus berbuat apa.” Haruno-san menempelkan jari di pipinya dan tersenyum kecut. Dia terdengar seperti sedang bercanda, tapi kelembutan itu segera menghilang saat dia menatapku. “... benar kan, Hikigaya-kun?”
“Ah, tidak...” Aku menjawabnya tergagap karena tiba-tiba ditanya.
Mata Haruno-san yang sepertinya sudah mengetahui semuanya memegangku dan tak mau melepaskanku. Saat itu, di ujung penglihatanku, aku bisa melihat Yukinoshita menggigit bibirnya sambil terlihat murung.
“... Hal ini tak ada hubungannya denganmu, nee-san.”
“Dinginnyaaa. Ah, aku tahu. Hikigaya-kun, bagaimana kalau kita membicarakan sesuatu?” kata Haruno-san. “... aku bisa memberitahumu apapun, tahu?”
Dia menusuk pipiku sambil melihat mukaku. Karena kita ada di dalam, dadanya, yang tertutup oleh potonga rajutan syal, sedikit terlihat dan semacam aroma manis parfum—terlalu dekat, dekat, dekat!
“Tidak, yaah, aku sudah memutuskannya...”
Aku sedikit menjauh sebanding dengan jarang yang di tempuhnya tadi, dan sekuat tenaga menarik mundur tubuhku. Haruno-san menggembungkan pipinya karena kecewa. Lalu dia mengeluh karena bosan dan sekarang berbalik pada Yuigahama.
“Aww, baiklah, kalau begitu aku dengan Gahama-san saja.”
“Jadi aku cuma tokoh tambahan?!”
Yuigahama menjerit karena perlakuan kejam itu dan Haruno-san tertawa kecil.
Setelah itu, Isshiki dan Meguri-senpai datang. Mereka mungkin kemari untuk memanggil Haruno-san. Sekarang juga sudah hampir saatnya acara pembukaan.
Biasanya, ada siswa yang datang di saat-saat terakhir dan ruangannya dipenuhi dengan keramaian.
Dalam keramaian itu, aku melihat Hayama dan yang lainnya. Sepertinya dia bertindak sebagai pengawal untuk Tobe dan bahkan Miura.
Tentu saja, dia juga menyadari kami. Meski kami berada di sudut ruangan, Haruno-san, orang luar, menarik perhatian dengan mudah.
Di dekat pintu masuk, sedikti jauh dari kami, Hayama memanggilnya.
“Haruno-san...”
“Ah, itu dia Hayato.” Haruno-san menyapanya sambil melambaikan tangannya.
Lalu, sepertinya keramaian di ruangan ini sedikit meningkat. Haruno-san sedikit memiringkan kepalanya karena hal itu.
“Ini cuma perasaanku atau semua tatapan itu terasa agak aneh?”
“Yaah, ya, kamu sangat menonjol.”
Aku tak perlu mengatakan itu, tapi kalau dari sudut pandang yang melihat, haruno-san adalah sosok cantik yang hanya dengan berjalan di kota akan menarik perhatian semua orang. Di lingkungan sekolah, dia terlihat benar-benar menonjol.
Tapi Haruno-san terlihat tak tidak setuju dangan perkataanku.
“Tapi ini terasa sedikit berbeda dari itu..” kata Haruno-san.
“Ahh, itu pasti karena rumor itu.” Isshiki mengatakannya saat teringat sesuatu.
Meguri-senpai mengikutinya. “Oh, rumor itu! Hal itu terdengar sangat indah kan ? aku juga sangat menyukai rumor seperti itu.”
“Rumor? Hah, tentang hal apa itu, Iroha-chan?”
Haruno-san tidak mengabaikan hal itu dan menatap pada Isshiki.
“Ah, ummm...” Isshiki bingung apa tak apa kalau memberitahunya, menatap bergantian pada Yukinoshita yang putus asa dan Hayama yang sedang berbicara agak jauh dari sini, dan terdiam.
Tapi Haruno-san meletakkan tangannya di bahu Isshiki sambil memaksanya untuk menjawab. “Tolong beritahu aku, ya?”
Karena itu, dia tidak bisa menolak. Kata-kata itu terlalu berat. Haruno-san tersenyum seperti biasanya dan dengan tenang menunggu tindakan Isshiki. Setelah beberapa detik, setelah membulatkan tekad, Isshiki berbisik pada Haruno-san karena mempertimbangkan keadaan di sekitarnya.
Haruno-san mencondongkan telinganya sambil mengangguk dengan ekspressi gembira. Ahh, jika dia mendengar rumor itu tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi...
Tapi sikap Haruno-san tidak seperti apa yang kubayangkan.
“Oh, jadi tentang itu... Hal itu sudah mereka alami sejak dulu,” kata Haruno-san dengan dingin.
Setelah berterima kasih pada Isshiki dia berbalik seperti sudah tidak tertarik lagi.
“Meguri,  ayo pergi.”
“Baiiiik.”
Haruno-san dan Meguri-senpai pergi ke kursi mereka. Saat dia berpisah dengan kami, dia menolehkan kepalanya dan melambaikan tangannya pada kami.
“Okay, sampai jumpa lagi!”
Ekspresi maupun sikapnya terlihat ceria, tapi di sampingku, Isshiki malah terlihat tersenyum kaku. Lalu dia menolehkan kepalanya padaku sambil menimbulkan suara mesin dan mendesah lega.
“I-Itu sangat menakutkan... Tidak salah lagi itu adalah onee-san dari Yukinoshita-senpai, tidak diragukan lagi!”
“Tak ada yang meragukannya.”
“Itu adalah cara yang buruk untuk menyamakan kami.” Yukinoshita mengeluh, memegangi kepalanya seperti sedang pusing.
Yuigahama menepuk bahunya dengan pelan. “Tak apa! Yukinon sama sekali tidak menakutkan!”
“Tak masalah, tapi aku merasa kalau kamu sedang mempermainkanku...”
“Eh? Itu tidak benar! Yukinon, kamu itu seperti, bagaimana yang mengatakannya... Sangat lucu!” Yuigahama mengepalkan tangannya sambil mengatakannya.
Yukinoshita terlihat kaget dan memalingkan mukanya. Meski begitu, kalian berdua berteman baik seperti biasanya...
Bagaimanapun juga, konsultasi pendidikan dan karir akan segera dimulai. Untungnya kami hanya diminta untuk mengatur ruangan. Sisanya bisa diserahkan pada OSIS.
“Baiklah, Isshiki, kami akan kembali.”
“Ya, terima kasih banyak!” Isshiki menunduk dengan sopan.
Aku mengangguk lalu memanggil Yukinoshita dan Yuigahama.
“Baiklah, ayo kembali ke ruang klub.”
“Aku pikir begitu.”
“Uh uh, baiklah.”
Aku bersama mereka berdua berjalan keluar ruangan dan berpapasan dengan Hayama dan yang lain yang terhenti di pintu masuk. Aku melihat kearah Hayama yang sedah berbicara dengan yang lainnya.
“Beeh, aku harus konsultasi dengan siapa?”
“Masih banyak waktu sebelum giliranmu, jadi pikirkan dulu baik-baik.”
Hayama tersenyum pahit pada perkataan Tobe dan dia diam-diam melihat ke depan. Di depannya adalah Haruno-san.
“Hey, Hayato... Apa kamu dekat denagan orang itu?” Miura berkata dengan pelan sambil menatap Haruno-san tanpa menolah pada Hayama.
Hayama menatapnya, sedikit terkejut, tapi segera tersenyum lebar. “... Dia hanya teman masa kecil.”
Dengan pembicaraan itu di belakangku, kami kembali ke ruang klub.

×    ×    ×


Sebuah kalender meja terpampang di atas meja ruang klub. Yaah, bukan kalender juga sebenarnya, tapi lebih seperti album foto kucing atas meja, dengan banyak gambar kucing di sebagian besar halaman. Aku memperhatikannya sambil menguap.
“... Aku tuangkan tehnya.”
“Hm? Ah, terima kasih.” Aku meminumnya dari cangkir tehku sambil memperhatikan kalender itu.
Yuigahama melihat ke kalender itu. “Tidak banyak waktu yang tersisa sampai deadline, kah?”
“Ya. Tapi aku benar-benar tak tahu apa-apa...”
Sejauh ini, aku sudah bertanya pada beberapa orang secara tidak langsung, tapi tidak ada satupun jawaban yang berkaitan dengan program jurusan Hayama yang muncul. Itu mungkin karena aku sangat payah dalam bertanya pada orang lain, tapi jika aku bertanya langsung, akan jadi masalah kalau dia tahu tentang itu. Karena aku sudah ditolaknya saat aku bertanya langsung padanya. Rasanya agak sedikit tidak enak kalau aku ketahuan sedang mencari tahu tentangnya tentang kenapa dia tidak mau memberitahukan proram jurusannya. Aku tidak peduli dengan apa yang dipikirkannya tentangku, tapi aku ingin menghindari dari menempatkan Miura di posisi yang tidak menyenangkan.
Saat aku sedang memikirkan tentang berbagai hal sambil menghitung sisa hari, terdengar suara cangkir yang diletakkan di cawan.
Aku menolehkan kepalaku dan Yukinoshita sedang terlihat serius yang tidak seperti biasanya.
“Hikigaya-kun... Aku pernah bercerita padamu tentang orang tua Hayama, kan?”
“Ya. Sesuatu tentang mereka itu seorang dokter dan pengacara.”
“... Hah? Benarkah!?” Yuigahama terlihat terkejut, sepertinya pertama kali mendengarnya.
“Kamu tak pernah bertanya?” tanyaku.
Yuigahama menggembungkan pipinya seperti sedang jengkel. “Kamu biasanya tidak membicarakan sesuatu seperti itu... Maksudku, aku juga tidak tahu apa perkerjaan orang tuamu, Hikki.”
“Mereka berdua hanyalah budak perusahaan biasa.”
“Ah, aku juga. Tapi ibuku cuma ibu rumah tangga...”
Oh ya, aku sangat memahaminya... mempertimbangkan ketidak mampuannya dalam memasak dan aura ibu rumah tangganya yang sangat aneh, itu terdengar masuk akal.
Sifatmu pasti sebagian besar terbentuk oleh lingkungan dimana kamu tinggal. Karena itu, kenapa aku tidak ingin menjadi budak perusahaan, itu semua berkat orang tuaku yang telah kuamati sejak dulu. Tapi, hey, keuangan keluarga kami tidak pernah kekurangan saat kami memiliki dua sumber pemasukan, jadi aku cukup bersyukur. Kamu bahkan bisa bilang kalau alasan kenapa aku mendukung emansipasi wanita adalah karena kedua orang tuaku bekerja. Dan suatu hari, saat Komachi mulai bekerja, dua sumber pemasukan kami akan menjadi tiga dan keuangan keluarga kami akan terjamin.
Saat aku sedang memimpikan tentang rencana indah keluargaku, Yuigahama melanjutkan permbicaraan.
“J-jadi, apa Hayato-kun akan mengikuti keluarganya?” tanya Yuigahama.
Yukinoshita meletakkan tangan di dagunya dan memiringkan kepalanya.
“Entahlah... Ayah Hayama-kun bekerja di bidang hukum sedangkan kakeknya adalah dokter keluarga, jadi keduanya mungkin saja terjadi...”
“Jadi kita masih belum bisa memperkirakan antara Ilmu Sosial atau Sains.”
Entah itu pengacara atau dokter, keduanya membutuhkan kepercayaan. Jika pilihannya hanya salah satu dari itu, maka kita bisa mengesampingkan kemungkinan yang satunya, tapi dengan kedua kemungkinan itu, tidak salah lagi, kita masih tak tahu apa-apa.”
Yuigahama mengeluh saat mendengarnya. Lalu dia mengangkat wajahnya. “Tapi bukankah itu hebat jika dia menjadi salah satu dari itu?”
“Itu benar. Dari pendapat umum, aku yakin mereka adalah keluarga yang terpandang.” Yukinoshita mengangguk.
Memang benar, jika kita membicarakan tentang pengacara dan dokter, itu semua terdengar pekerjaan yang sangat menjanjikan. Aku sudah tahu beberapa keadaan dalam keluarga Hayama, tapi rasanya sangat luar biasa saat mendengarnya lagi. Kenapa orang seperti dia memasuki sekolah kami? Seharusnya dia masuk saja ke sekolah swasta yang lebih baik.
Yaah, aku pikir begitu pula untuk Yukinoshita. Aku menatap Yukinoshita.
“Sebenarnya, apa tak apa kalau kamu menceritakannya?”
“Selama ini berkaitan dengan permintaan, itu semua tidak lebih dari sekedar informasi tambahan. Tapi, aku tidak bisa memberitahukan tentang total kekayaan kami.” Yukinoshita mengatakannya dengan tengan dan acuh.
Gadis yang sudah cukup usia untuk menikah tidak seharusnya membicarakan tentang uang dan kekayaan. Di sisi lain, Yuigahama terlihat melamun, memutar otaknya sambil menggumamkan sesuatu.
“Uang... Kartu?”
Oh, jadi kamu tahu apa itu kartu ATM? Selamat ya, Yuigahama. Selanjutnya, aku akan memberitahumu apa itu kartu kredit.
Yang penting, abaikan dulu Yuigahama, untuk sekarang ayo pikirkan tentang program jurusan Hayama.
Pertama, tidak salah lagi, kemungkinan besar dia akan melanjutkan untuk kuliah. Hayama adalah siswa kehormatan dengan nilai yang bagus dan berada di peringkat kedua dalam ujian semester. Jika dia tidak berniat melanjutkan untuk kuliah, maka akan terjadi keributan besar di kalangan para guru, tapi berdasar perkataan Hiratsuka-sensei, sepertinya tidak seperti itu.
Sejauh ini masih bagus.
Tapi program jurusan Hayama bukanlah apa yang ingin aku ketahui. Karena, itu semua hanyalah memilih antara kedua bidang studi yang ingin dipelajari di tahun ketiganya.
“... Aku tidak tahu,” kataku.
Terlihat sedang merenung, Yuigahama berkata.
“Mungkin, dia memilih Ilmu Sosial? Sepertinya kebanyakan orang juga memilih itu.”
“Ya, cukup mudah untuk membayangkannya.”
Sebenarnya, semua orang yang mengenal sosok manusia bernama Hayama Hayato berpikir seperti itu. Dia adalah orang yang tidak akan membuat masalah, akrab dengan semua orang, dan bahkan bisa bersikap ramah pada makhluk sejenis Zaimokuza dan diriku yang telah terperosok dalam jurang hitam strata sekolah. Sosok yang tanpa ragu bersosial dan bercanda sudah tidak asing lagi bagi diri Hayama sampai saat ini.
Tapi saat ini, keganjilan mulai muncul. Aku tidak tahu bagaimana aku harus mengatakannya.
Saat aku mulai memikirkannya lagi sambil diam, Yukinoshita juga sedang terdiam, menatap padaku seakan ingin mengatakan sesuatu. Aku mengisyaratkannya dengan mataku dan dia mulai berbicara sambil merenung.
“Aku pikir... dia akan memilih Sains...”
“Kenapa begitu?” tanya Yuigahama.
Yukinoshita terlihat menunduk karena gelisah. “Aku tidak bisa bilang kalau ini adalah alasan yang kuat, tapi, um, itu juga berkaitan denganku, jadi...”
“... Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk mengatakannya kalau kami tidak ingin mengatakannya.”
Suara Yukinoshita dipenuhi dengan keraguan dan kegelisahan jadi aku segera menyelanya. Tapi, setelah berulang membuka dan menutup mulutnya, dia mengangkat mukanya seperti sudah membulatkan tekad.
“Tidak juga, um... Takkan ada ruginya juga kan kalau kalian mengetahuinya?”
Dia benar-bernar payah dalam menyampaikan sesuatu, meski aku juga tidak pantas untuk mengatakannya. Yuigahama dan aku memperbaiki posisi duduk kami dan menghadap pada Yukinoshita. Lalu dia perlahan mulai berbicara.
“Kalian tahu kan kalau Hayama-kun punya hubungan yang lama denga keluargaku? Saat kami masih kecil, kami berdua dan nee-san sering bermain bersama. Karena nee-san orangnya seperti itu, kami biasanya harus mengikuti apapun yang dilakukannya...” kata Yukinoshita. “Jadi, singkatnya, aku pikir tak apa kalau kita menganggap dia tumbuh sambil terpengaruh oleh nee-san.”
Saat dia selesai mengatakannya, dia mendesah kecil.
Apa yang dikatakannya saat natal tidak jauh berbeda dari apa yang baru saja dikatakannya. Tapi, karena sekarang aku sudah mendapatkan sedikit pencerahan tentang hubungan mereka bertiga dan cerita masa lalu mereka, aku merasakan sesuatu yang ganjil.
Hayama yang sekarang. Dan Hayama yang dulu dibicarakan oleh berbagai orang. Apa yang harus kupikirkan saat ini adalah Hayama Hayato di masa depan. Aku bisa mengesampingkan hal lain dulu.
“Um, Haruno-san memilih Sains kan? Jadi ada kemungkinan kalau dia juga akan memilih Sains. Kalian juga banyak terpengaruh olehnya saat masih kecil,” kata Yuigahama.
“Ya... Tapi aku juga masih tidak yakin.”
Jawaban Yukinoshita sedikit ambigu. Yuigahama dan aku menatap Yukinoshita untuk melanjutkannya. “Ini mungkin terdengar berkebalikan, tapi...” katanya, “Jika dia berencara untuk melanjutkan hubungan keluarga kami kedepannya, aku yakin akan lebih bagus jika dia mewarisi bidang hukum.”
“Bukankah itu berarti dia akan memilih Ilmu Sosial?” kataku.
Yukinoshita menggelengkan kepalanya. “Ada cara lain menjaga hubungan itu, jadi...”
Mmm, yeah.
Bukan cuma pengacara, tapi bidang usaha lain juga bisa digunakan untuk menjaga hubungan. Itu juga bukan berarti hanya dengan jalur bisnis. Contohnya, dengan perjodohan, meski itu terdengar tabu di zaman sekarang, tapi kemungkinan itu bisa saja terjadi.
Saat aku memikirkannya, Yukinoshita menambahkan. “Tentu saja, aku tidak tahu pendapat keluarga Hayama tentang hal itu. Aku tidak yakin kalau itu tidak mempengaruhi program jurusan Hayama. Aku belum pernah mendengar Hayama menentang orang tuanya.”
“Ahh, benar juga, Hayato-kun terlihat cukup banyak terlibat dengan bisnis keluarga, kah?”
Yukinoshita mengangguk pada pemikiran sederhana Yuigahama. Setelah mendengar hal ini, aku punya gambaran tentang keadaan keluarganya. Meski begitu, kita masih kekurangan solusi.
Tanpa kusadari, aku menggaruk kepalaku dan mengeluh.
“Aku ragu kalau kita bisa bertanya pada orang tua Hayama. Tak banyak yang bisa kita lakukan saat berkaitan dengan area keluarga.”
“Aku pikir begitu...” ekspresi Yukinoshita menjadi suram. “Tapi setidaknya ibuku ingin hubungan kami terus bertahan.”
Secara reflek aku memalingkan pandanganku.
“Baiklah, untuk sekarang... Aku akan mencoba memikirkannya sedikit lagi,” kataku, dan menghentikan pembicaraan.
Sejujurnya, aku butuh waktu untuk mengatur pemikiranku. Saat ini, sisa pilihan kita adalah membuat perkiraan dari setiap pecahan informasi yang kita miliki. Untuk sekarang ayo pikirkan tentang program jurusan Hayama saja.
Karena.
Jika aku tidak melakukannya, aku pikir aku akan membayangkan sesuatu yang sangat mengerikan.
Aku mengeluh panjang, dan saat pembicaraan seperti akan berakhir, Yukinoshita dan Yuigahama melemaskan tubuh mereka. Semuanya megambil tehnya dan kesunyian yang damai terbentuk. Teh hangat yang membasahi tenggorokanku terasa nikmat.
Suara cangkir yang diletakkan bergema dalam ruangan yang sepi, dan Yukinoshita perlahan berbicara.
“Um...”
“Hm?”
“Maaf untuk kejadian hari itu saat ibuku sepertinya mengusir kalian... Aku pikir aku bisa mengatakannya dengan sedikit lebih baik lagi.”
Saat dia selesai, dia menatap ke permukaan teh di cangkirnya dan menggigit bibirnya. Yuigahama mengelus bahunya dengan lembut.
“Tidak perlu khawatir. Kita juga tidak bisa begitu saja bergabung dengan acara perkumpulan keluarga. Kan, Hikki?”
“Ya, kamu tak perlu memikirkannya.”
“... Terima kasih.”
Yukinoshita tersenyum lembut, sedikit terlihat gelisah, da sedikit menundukkan kepalanya pada Yuigahama dan diriku.
Semua hal tentang sikapnya sangat indah. Punggungnya yang tegap, tangannya yang mengepal di pangkuannya, jarinya yang kecil dan gemulai, dan alisnya yang panjang yang berbaris di kelopak matanya yang tertutup.
Saat aku memperhatikan semua itu, Yukinoshita mengangkat wajahnya dan mata kami saling bertatapan. Kami berdua segera memalingkan wajah kami.
“B-bagaimana kalau kita akhiri dulu untuk hari ini? Aku akan membereskan tehnya.”
Merasa sedikit canggung, Yukinoshita segera berdiri dan mulai beres-beres. Dia meletakkan cangkir dan teko di nampan, sepertinya ingin membersihkannya di luar.
“A-aku juga ikut membersihkannya!”
“Tak apa, jadi tunggu sebentar.”
Yukinoshita mengehntikan Yuigahama saat dia akan berdiri dan segera meninggalkan ruangan. Yuigahama dan aku tertinggal berdua di ruangan dan kami saling menatap. Yuigahama tersenyum dan tertawa.
“Hey, Yukinon mulai sedikit mau membicarakan tentang dirinya. Kamu tahu kan kalau dulu dia tidak tak pernah mau membahas tentang keluarganya?”
“Itu... Ya, aku pikir benar.”
Mungkin, itu mungkin adalah caranya untuk lebih dekat dengan kami. Meski dia sangat kikuk, kasar, dan sedikit kelewatan. Meskipun dia mengurus sebagian besar hal dengan baik, tapi dia juga memiliki sisi payah.
Tidak, aku sama sekali tidak pantas mengatakan hal itu tentang orang lain.
Suatu hari, aku sendiri yang akan menanyakannya. Saat ini, aku sama sekali tidak tahu tentang apa saja yang boleh kutanyakan, tapi meski begitu, suatu hari, aku pasti akan melakukannya.

×    ×    ×


Aku berpisah dengan Yukinoshita dan Yuigahama di gerbang sekolah dan menuju ke area parkir sepeda,
Matahari sudah tenggelam dan angin yang dingin berhembus melewati celah antar gedung. Klub lain sepertinya sudah mengakhiri  kegiatannya, jadi lapangannya menjadi sangat tenang.
Saat aku berjalan di lapangan, aku bisa mendengar suara panggilan “Heeeey”. Aku berbalik, tapi aku tak melihat siapapun.
“Atas, lihat ke atas!”
Seperti yang dikatakannya, aku melihat ke atas. Saat itu, aku melihat ke dekat ruang OSIS dan terlihat Yukinsohita Haruno sedang melambai dari jendela yang terbuka.
“Hey, tunggu aku,” katanya, seperti biasa, lalu menghilang.
“Apa yang dilakukannya...?”
Aku pikir, Yang benar saja, seberapa banyak waktu luang yang dimilikinya? Lalu, orang lain muncul di jendela. Setelah diamati lebih lanjut, itu adalah Isshiki Iroha. Dia menundukkan kepalanya, melambaikan tangannya tanda sampai jumpa sambil tersenyum, dan segera menutup kordennya. Ada apa dengannya...?
Saat aku sedang melihat ke jendela ruang OSIS sambil memikirkan apa-apaan semua itu tadi, terdengar suara langkah kaki. Aku berbalik ke arah itu dan Haruno-san sedang berlari ke arahku.
“Phew, aku benar-benar tenggelam dalam pembicaraan dengan Shizuka-chan dan Iroha-chan jadi aku sangat terlambat.”
Kelihatannya dia berlari kesini, nafas Haruno-san sedikit terengah. Lalu dia melihat ke area sekitar.
“Dimana Yukino-chan? Kalian tidak bersama?”
“Dia harus segera naik kereta.”
“... Yang benar saja. Sia-sia aku lama menunggu.”
Eh, bukannya tadi kamu bilang tenggelam dalam pembicaraan? Sikapnya yang menunggu seseorang untuk menyergapnya sangat mengerikan... Sepertinya setelah konsultasi pendidikan dan karir, Haruno-san menghangatkan dirinya dengan penghangat ruangan di ruang OSIS sambil memperhatikan lapangan. Tidak salah lagi Isshiki dipaksa untuk menghabiskan waktu dengannya. Sebenarnya itu bukan salahku, tapi entah kenapa aku tiba-tiba merasa bersalah...
Sambil menenangkan dirinya, dia berdiri di sampingku dan menepuk bahuku. “Okay, Hikigaya-kun juga tak apa. Antar aku sampai stasiun.”
“Hah?”
Haruno-san terlihat tidak puas dengan jawabanku dan meletakkan tangan di pinggangnya, terlihat cemberut. “Apa-apaan itu? Kamu akan membiarkan seorang gadis pulang sendirian selarut ini? Mengawal adalah tugas laki-laki, tahu!”
Yaah, sejujurnya, ini semua salahmu sendiri karena bermain sampai selarut ini... kata itu hampir saja terlepas dari mulutku, tapi aku menelannya lagi. Atau lebih tepatnya, aku menelan nafasku.
Haruno-san memegang tanganku dan mendekatkan mulutnya ke telingaku seperti ingin berbisik dan mengatakan sesuatu yang rahasia, “Kamu takkan mendapat banyak kesempatan untuk pulang bersama seorang onee-san yang cantik sepertiku, tahu!”
Grrr, bulu kudukku langsung mulai merinding. Aku sedikit menjauh darinya karena panik dan Haruno-san tertawa bahagia... Dia benar-benar mempermainkanku. Tidak seperti Komachi dan Isshiki, sifat liciknya itu sudah selevel dengan raja iblis. Dan seperti yang kalian tahu, kamu takkan bisa kabur dari raja iblis.
Aku mengipasi pipiku yang panas dan menunjuk ke arah area parkiran sepeda.
“Yaah, tak masalah... Bisakah aku mengambil sepedaku?”
“Okay, ayo pulang bersama.” Jawab Haruno-san, berdiri di sampingku dan kami mulai berjalan.
Saat ini, keadaannya sudah cukup gelap dan dalam perjalan ke stasiun, ada taman dan tempat berbahaya seperti gang sempit.
Aku juga kebetulan adalah pria yang tinggal di kehidupan sosial Jepang yang menghormati orang yang lebih tua dan menempatkan wanita diatas pria. Atau tepatnya, aku lemah dengan wanita yang lebih tua. Dan juga, aku juga lemah pada wanita yang lebih muda, termasuk adikku. Selain itu, aku juga tidak bisa bersikap tegas di hadapan pria, jadi intinya aku lemah terhadap semua jenis manusia.
Kami meninggalkan area parkir sepeda dan melewati pintu gerbang. Sambil mendorong sepedaku, Haruno-san dan aku berjalan menyusuri gelapnya kota.
Sebenarnya jarak ke stasiun tidak terlalu jauh. Perumahan di sekitar taman masih terlihat terang, sepertinya sisa dekorasi saat natal, dan jalanan yang gelap mulai terang.
Meski Haruno-san memintaku untuk mengantarnya, dia terdiam sepanjang jalan. Tentu saja, aku juga tidak mengatakan apapun padanya, dan suara mobil yang lewat, suara dari perumahan, suara angin musim dingin yang berhembus dan suara langkah kaki kami terdengar jelas.
Tak lama kemudian, kami sampai di sebuah tikungan kecil dan Haruno-san berbicara untuk pertama kalinya.
“Hikigaya-kun, kamu pilih program jurusan apa?”
“Yaah, Ilmu Sosial.”
“Oh, baik. Kamu memang selalu membaca buku. Seperti itulah bocah filsafat kita.”
“Ah, tidak, itu... Mungkin.”
Memang benar kalau aku sedang membaca buku saat bertemu Haruno-san dulu di kota. Tapi aku membcanya karena aku merasa sangat gugup... Itu hanyalah buku penghalangku dari suatu kematian. Karena alasan yang menyedihkan itu, aku mengalihkan pandanganku dari Haruno-san.
Tapi setelah Haruno-san melangkah setengah langkah ke depan, dia sedikit menyondongkan wajahnya dan menatap wajahku.
“Buku apa yang kamu baca?”
“... Biasanya apapun. Tapi aku tak membaca buku asing.”
“Mmhmm. Kalau begitu, bagaimana dengan Akutagawa atau Daizai?”
“Sebagian besar, aku sudah membacanya, tapi... Aku lebih suka membaca buku filsafat umum.”
Sejujurnya, aku bisa saja menikmati sesuatu yang disebut filsafat itu jika aku serius mendalaminya, tapi, kesan menyedihkan yang akan muncul dariku adalah “Wow, bocah literatur! Gelarmu itu bukan cuma nama! Itu adalah pekerjaan abadi, jadi, lima bintang!” Saat itu, pekerjaan hiburan termasuk Light Novel mendapatkan banyak tanggapan, tapi itu tetap bisa dinikmasti meski isinya kurang menarik, jadi Light Novel memang yang terbaik! Apa-apaan dengan cara aneh ini untuk menikmati sesuatu...?
Saat aku memikirkan hal itu, Haruno-san yang sedang berjalan di sampingku mengangguk dengan jawaban setuju. Lalu dia berkata.
“Okay, jadi mungkin bagian sastra takkan cocok untukmu. Aku pikir kamu menganggap pelajaran sosial atau sejenisnya itu lebih menyenangkan,” kata Haruno-san.
Saat dia mengatakannya, mulutku ternganga. Saat itu, dia mulai menceramahiku. Aku tak begitu menyukainya karena aku sedang tidak menginginkannya, tapi sepertinya aku harus menerima niat baiknya dengan terima kasih.
“... Terima kasih.”
“Sama-sama.” Haruno-san tersenyum dan lalu berkata. “Jadi, apa kamu mendengar sesuatu dari Yukino-chan tentang bidang yang diminatinya atau semacamnya?”
Tch, jadi ini yang ingin dibicarakannya! Sia-sia aku berterima kasih...
“Tidak, aku tidak tahu apapun tentang pilihannya.”
“... Yaah, aku pikir dia takkan memberitahumu begitu saja. Hikigaya-kun, pastikan kamu tanyakan padanya, okay?”
Dia menepuk punggungku. Umm, bahkan jika kamu memintaku untuk melakukannya... Tapi aku tidak bisa berkata untuk tanyakan sendiri pada Yukinoshita. Aku juga ragu kalau Yukinoshita akan menjawabnya dengan jujur, dan aku masih harus mananyakannya sendiri. Aku tidak bisa meminta sesorang melakukan sesuatu yang tidak kulakukan.
“Pastikan kamu menanyakannya saat kalian bertemu lagi,” kata Haruno-san, dengan sopan. Lalu dia berkata “Ah” seperti teringat sesuatu. “Ngomong-ngomong, apa kamu bertanya langsung pada Hayato?”
“Ah, dia memberitahuku sesuatu, tapi dia tidak memberitahuku.”
“Oh, jadi Hayato tidak melakukannya, kah...?”
Haruno-san mengalihkan pandangannya ke jalan utama ke stasiun yang mulai terlihat. Tapi sepertinya dia tidak melihat ke orang-orang yang lewat. Matanya yang tajam dan indah sepertinya tidak sedang melihat pada keadaan di saat ini.
“Jadi begitu. Jadi Hayato juga mengharapkan sesuatu,”
“Mengharapkan apa?”
Perkataan tiba-tibanya sepertinya tidak ditujukan padaku, tapi aku secara reflek menanyakannya. Tapi, Haruno-san menatapku dan tersenyum manis.
“Sesuatu yang akan menemukannya, aku pikir.”
Setelah hanya mengatakan hal itu, dia sedikit menaikkan kecepatan langkahnya dan berjalan di depanku. Dia menepukkan lengan jaket merahnya dan berbalik.
“Sampai sini saja. Kita juga sudah hampir stasiun. Terima kasih sudah mengantarku.”
“Begitu, kalau bergitu, sampai jumpa lagi...”
Saat aku akan sedikit menundukkan kepalaku, Haruno-san mengacungkan jari telunjuknya di depan wajahku dan berkata dengan ceria.
“Jangan lupa untuk bertanya pada Yukino-chan tentang program jurusannya. Aku akan memeriksa jawabanmu nanti.”
“Bisakah kamu menyebutnya sebagai memeriksa jawaban...?” kataku.
Haruno-san menusuk pipiku dan tersenyum. “Tidak usah mempermasalahkan hal kecil, sampai jumpa lagi!”
Dia sedikit melambaikan tangannya dan berjalan pergi. Aku melihat kepergiannya sambil memegang pipiku yang ditusuk. Dia terus berjalan tanpa sekalipun berbalik. Tak lama kemudian, dia tenggelam dalam lautan massa.
Tapi, meskipun dalam keramaian itu, Yukinoshita Haruno masih tetap bisa dilihat dengan jelas.





[1] Gochuumon wa Usagi desu ka?
[2] Jinsei – Sebuah LN yang juga diterbitkan oleh GaGaGa Bunko.
[3] Another – siswa ‘palsu’ di kelas yang sebenarnya sudah mati.
[4] Ore, twintail ni Narimasu – Flat is Justice.
[5] Real Monk – Sebuah lelucon di FF11 di server Jepang yang ditujukan pada orang yang benar-benar bisa beladiri dalam kehidupan nyata.
[6] T-san – Copypasta tentang pendeta bernama T-san yang lahir di sebuah kuil dan berkata HAA (Hah!?)
[7] Sebuah parodi dari Satsui no Hado dari Street Fighter

Oregairu Jilid 10 - Bab 6 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: h kim

9 komentar:

  1. Thx chap 6-nya..
    ditunggu chap selanjutnya ^_^

    BalasHapus
  2. Thanks min...
    Tetap semangat ngelanjutinnya ya.... :D

    BalasHapus
  3. Tnx gan,, di tunggu chap lnjutany

    BalasHapus
  4. Terlalu banyak paragrafh. but great (y)

    BalasHapus
  5. tampilan untuk browers mobile nya mohon di perbarui :D

    BalasHapus
  6. Chapter 06 termeguriii dah XD
    Flag saa-chaan berkibar . . .

    Gochisousama desuuuuuuu . . .

    BalasHapus
  7. wahhh, makin seruu nii oregairu,,
    makasih buat TL nya yaa :)

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.