01 Mei 2015

Oregairu Jilid 10 - Bab 5


Bab 5 : Sampai saat itu, Totsuka Saika terus menunggu


Hari ini adalah hari yang cerah setelah kedatangan Miura ke klub kami.
Dengan malas aku menuju ke lapangan untuk mengikuti pelajaran olah raga, dan langitnya sedang sangat cerah. Berdasar keadaan saat ini, kemungkinan besar nanti malam pasti akan sangat dingin.
Tapi aku sangat bersukur dengan langit yang tak berawan ini, karena aku akan berlatih untuk maraton yang akan datang. Aku mungkin hanya akan bermalas-malasan di rumah saat malam, jadi penurunan suhu udara bukanlah suatu masalah untukku...
Tiga kelas berkumpul di lapangan. Sama seperti kegiatan olah raga biasanya, latihan maraton juga dipisah menjadi kelompok laki-laki dan perempuan. Kami hanya akan berlari, meski rute yang ditempuh laki-laki dan perempuan akan berbeda.
Kami semua berkumpul di lapangan, lalu aku melihat Miura yang berada di kelompok perempuan.
Sejak pagi, sepertinya Miura mencoba mengalihkan pandangannya dariku. Seperti saat jam istirahat, dia pasti akan memalingkan mukanya dariku sambil menyandarkan pipinya di tangannya. Dan saat jam istirahat, Yuigahama dan Ebina-san akan bersamanya sambil membicarakan tentang berbagai macam hal.
Meski aku merasa agak sedikit nggak enak jika terus memperhatikannya, tapi dia terlihat lebih tenang dari kemarin, meski aku kurang tahu kenapa.
Setelah apa yang terjadi kemarin, aku segera pulang agar Miura bisa merasa tenang. Jika orang yang sama sekali tidak ada hubungannya sepertiku terus berada disana, aku tidak yakin Miura bisa merasa nyaman.
Jadi apa yang mereka bicarakan setelah itu aku sama sekali tidak mengetahuinya. Karena Miura sedang menangis, aku ragu apa mereka bahkan bisa berkomunikasi dengan benar.
Bagaimanapun juga, bukankah Miura sedikit terlalu lemah pada tekanan...? Bukankah dia juga menangis ketika cekcok dengan Yukinoshita saat musim panas...?
Tapi, meski dia mungkin lemah, aku berpikir kalau dia juga bertekad kuat.
“Aku ingin tahu.” kata itu terus bergema di telingaku.
Saat aku berbaris, aku melihat ke depan.
Aku melihat Hayama Hayato.
Hayama Hayato sedang berbicara bersama Tobe dan lainnya, tidak menyadari kalau aku sedang memperhatikan mereka.
Atau mungkin dia menyadarinya, tapi berpura-pura tidak menyadarinya, seperti yang biasanya dia lakukan pada banyak hal.
Terlebih, kenapa dia menolak untuk memberitahu siapapun tentang Program Jurusannya? Mungkin akan lebih cepat dengan mencari tahu alasan kenapa dia sangat keras kepala, dari pada memaksanya untuk mengatakannya.
Saat aku sedang berdiri sambil memikirkannya, guru OR kami, Atsugi, selesai dengan absensinya.
“Baiklah, berpasanganlah dengan siapapun sesukamu dan lakukan pemanasan,” kata Atsugi, dengan semena-mena.
Semuanya mulai berpasangan dan mulai melakukan pemanasan mereka.
Haruskah aku berpasangan dengan seseorang yang dekat dengan Hayama, lalu mencoba untunk bertanya sesuatu padanya?
Tapi siapa?
Apa ada seseoarang di sekolah ini yang mengetahui Hayama melebihi Miura? Seseorang yang paling dekat, kemungkinan kelompok Miura. Miura juga terus memperhatikannya. Seseorang yang lebih dekat daripada mereka sangat sedikit, bahkan mungkin  tidak ada.
Aku harus mengatur ulang pemikiranku. Atau bisa disebut dengan Paradigm Shift. Bagamina jika aku bertanya pada seseorang dengan keadaan yang mirip dan juga berteman dengan Hayama, lalu memperkirakan pemikirannya dari sana? Contohnya, Totsuka yang juga seorang ketua klub olah raga atau juga teman sekelas kamiTotsuka. Bagaimana dengan Totsuka yang masuk ke sekolah kami atau seseorang sepertinya... Okay, aku belum yakin dengan itu, tapi, yang jelas, Totsuka. Aku tidak bisa memikirkan alasan pastinya, jadi ayo coba Totsuka saja.
Mmmkay, sekarang saatnya pemanasan bersama Totsuka! Aku sedang sangat bernafsu sampai seseorang tiba-tiba memangilku.
“Hachimaaaan!”
Aku segera menoleh. Lalu, pandangan kami bertemu.
Berjalan kearahku di daratan lapangan yang luas ini sambil menimbulkan gempa adalah Zaimokuza, Kenapa dia terlihat begitu senang...?
“Hachiman, ayo lakukan peregangan untuk pemanasan!”
“Hoy... Kamu membuatnya terdengar seperti kita akan melakukan baseball... Dan juga, aku sudah berpasangan denga seseorang, jadi...”
Aku pikir aku sudah mengatakan keberatanku pada Zaimokuza, tapi dia sama sekali tidak mendengarkanku. Malahan, dia mulai mengatakan hal aneh.
“Tunggu dulu. Pak guru memang berkata untuk berpasangan denga siapapun yang kamu suka, tapi itu bukan alasan kenapa aku memilih makhluk semacam dirimu... Ja-Jadi, jangan salah paham ya, kamu dengar kan?”
“Ya ampun, jangan malu-malu sambil memalingkan wajahmu, itu sangat menjijkan...”
 Aku memalingkan pandanganku dari Zaimokuza dan melihat ke area sekitar. Hayama, Tobe, Ooka dan Yamato membentuk pasangan mereka dan mulai melakukan pemanasan mereka. Bazeng! Bahkan Totsuka sudah berpasangan! Padahal aku juga ingin menggunakan ini sebagai alasan untuk melakukan pendekatan pada Totsuka...
“Baiklah...”
Aku menyerah dan akhirnya bepasangan dengan Zaimokuza. Aku meregangkan tubuhku, atau tepatnya, melemaskannya. Setelah menyelesaikannya, Zaimokuza duduk sambil aku menekan punggungnya.
Tapi tidak ada gunanya melakukan pemanasan tanpa adanya perhitungan. Sambil melakukannya, aku memutuskan untuk mengaktifkan kemampuan pengamatan manusiaku.
Aku melihat kearah Hayama. Tapi karena kelompok itu berada cukup jauh, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Aku hanya bisa memastikan kalau dia sedang tersenyum sambil membicarakan sesuatu yang terlihat menyenangkan.
Dari posisiku, aku tidak bisa begitu mendengar apa yang mereka bicarakan. Aku harus mendekat...
Aku mencondongkan tubuhku semaksimal mungkin dan tanpa kusadari aku menekan Zaimokuza.
“Ow, ow, owowowow! Eeggk!”
Saat aku mendengar teriakan itu, aku sadar kalau aku sudah menekannya terlalu kuat dan segera melepaskannya. Akhirnya, Zaimokuza tumbang dan berbaring di tanah sambil tertawa terbahak-bahak.
Ada perbedaan yang sangat bersar antara kami dan mereka. Aku melihat untuk membandingkannya, tapi aku sama sekali tidak melihat adanya suasana senang maupun percakapan diantara kami. Tanpa kusadari aku tersenyum pahit.
Zaimokuza melihat hinaan itu. “Hentikan itu, Hachiman. Jangan bandingkan kita dengan makhluk seperti mereka.”
“Mm? Ahh, maaf.”
“Kamu hanya akan merasa menderita jika kamu terlibat dengan mereka, tahu? Mereka unggul dalam penampilan, kemampuan fisik, dan mereka bahkan orang yang dapat mengingat namaku. Kamu tidak perlu merendahkan diri, Hachiman.”
 “Ehh, kamu sedang membicarakanku?”
Padahal aku yakin kita sedang membandingkan Zaimokuza dengan Hayama?
Dengan lebarnya jarak di antara kami, tentu saja akan membuatmu ingin membandingkannya.
“Oh ya, mgomong-nomong, kamu mau ambil Program Jurusan apa?”
'karena kamu adalah antitesisnya jadi itu bisa digunakan sebagai referensi' adalah apa yang dikatakan Yukinoshita, aku pikir? Pikiran itu terlintas di pikiranku, jadi aku coba menanyakannya.
“Humu?” Zaimokuza memiringkan kepalanya dan menjawab, masih berbaring di tanah. “Aku, katamu? Aku ambil SAINS.”
“Hah?”
“... Apa-apaan dengan reaksimu? Apa kamu ingin mengeluh?”
“... Yaah, padahal aku yakin kamu akan mengambil Ilmu Sosial. Karena kamu ingin menjadi penulis Light Novel, bukankah itu akan lebih cocok?”
“Naif, kamu sangat munafak!” Zaimokuza menggelengkan jarinya sambil mencetikkan lidahnya.
Sangat merepotkan... Apa mungkin dia melewati sebuah ledakan raksasa[1] atau semacamnya...?
“Aku hanya mencari informasi tentang Ilmu Sosial sebatas yang kuminati. Permasalahannya adalah banyak bidang yang sama sekali tidak menarik bagiku. Kalau aku tidak memaksa diriku untuk mengahadapi mereka, aku takkan bisa mempelajarinya...”
“... Be-begitu. Untuk pertama kalinya kamu terlihat cukup terhormat.”
Dia ternyata memiliki pendapat yang sangat bagus sampai membuatku terkesan dalam sekejap.
Tapi, Zaimokuza yang bukan sampah bukanlah Zaimokuza. Zaimokuza adalah Zaimokuza karena dia bergantung pada alasan dan selalu memalingkan matanya dari kenyataan, dan segera tersungkur karena memgang teguh idealitasnya...
Aku akan terus mengenang Zaimokuza yang ini jauh di dalam hatiku. Selamat tinggal, Zaimokuza. Diam-diam aku mengucap selamat tinggal pada Zaimokuza yang sekarang.
Zaimokuza mulai berdiri dan sedikit membersihkan debu yang melekat padanya. “Yaah, itu juga bukan berarti aku menguasai Matematika dan SAINS...”
“Kamu pasti akan mengalami kesulitan saat ujian, kan?”
“Mungkin. Tapi... Aku, diriku, lebih kesulitan dalam menghadapi gadis daripada menghadapi Matematika dan SAINS...” Zaimokuza melihat ke kejauhan dan mengatakannya dengan suara tenang.
Ada semacam gambaran pencerahan tersirat dari kata-katanya dan itu terasa seperti dia telah mencapai tahap penyucian diri sehingga membuatku sulit untuk menyela.
Zaimokuza melanjutkan lagi. “Aku bisa merasa tenang di kelas SAINS. Lebih sedikit anak perempuan, lebih tenang ruang kelasnya. Terlebih, gadis yang memilih SAINS itu jauh lebih lembut, kan?”
“Aku kurang yakin dengan bagian Lebih lembutnya... Tapi... Benar juga... Kamu juga bisa menganggapnya seperti itu, hah...?”
Dia memberiku pencerahan tentang beberapa kemungkinan. Memang, kelas SAINS dihuni delapan puluh persen laki-laki. Sebagian gadis sepertinya menghindari pilihan itu.
Saat aku memikirkannya, mata Zaimokuza terlihat jahat.
“Hah! Para idiot itu, gadis dari Ilmu Sosial di sekolah swasta menganggap nilai KKM mereka tidak sesuai dengan kemampuan mereka yang masih belum memadai! Mereka seharusnya menghabiskan seluruh hidup mereka untuk memikirkan perasaan para penulis soal ujian!” Kata Zaimokuza.
Hanya dari perkataan yang diucapkannya secara semena-mena dengan menggunakan kebijakan jadulnya yang dipenuhi diskriminasi dan prasangka itu membuatku merasa tenang... Apa-apaan dengan pecundang yang satu ini...!? Zaimokuza, Kamu jauh labih baik yang seperti ini!
Tapi Hachiman pikir lebih baik kamu berhati-hati karena adanya kecenderungan bagi para gadis di SAINS untuk menjadi puteri otaku[2]! Untuk tetap berada di lingkungan dengan jumlah laki-laki yang banyak, pasti tidak aneh bagi para gadis untuk mulai menganggap dirinya sebagai seorang puteri. Gadis biasa akan diangkat sebagai puteri SAINS seperti bagaimana puteri sel[3] terbangun karena ciuman dari seorang pangeran...
Ada sesuatu yang menyedihkan tentang alasan Zaimokuza mengambil SAINS, tapi, yaah, aku yakin alasan pertamanya itu asli. Dia, juga, secara mengejutkan ternyata memikirkannya dengan serius.
“SAINS kelihatannya cukup sulit, tapi, berjuanglah.”
“Tentu saja, kamu tidak perlu memberitahuku dua kali. Aku takkan menjadi pengembara karena gagal saat ujian, nin-nin.”
“Perkataanmu sedikit keterlaluan.”
Kami segera menyelesaikan pemanasan kami, berdiri, dan berjalan menuju ke garis start maraton. Siswa laki-laki lain sudah berkumpul disana jadi kami berada di posisi yang cukup jauh di belakang.
Zaimokuza mengacungkan jari telunjuknya lalu menunjuk padaku. “Hachiman... Temani aku!”
“Emoh.”
Kamu bahkan bukan seorang gadis. Kenapa aku harus berlari bersamamu?
Atsugi meniup peluitnya sambil memegangi stopwatch. Barisan depan mulai berlari secara berurutan dan kami mulai berlari dengan pelan setelah mereka.
Aku melihat ke depan dan sekitar, tapi semuanya berlari dengan pelan. Ini hanya latihan, jadi sepertinya tidak ada yang melakukannya dengan serius.
Sekaranga adalah jam ke empat dengan jam istirahat setelah ini. Jika aku menggunakan tenagaku sekarang lalu makan, aku pasti akan tertidur saat jam ke lima. Siapapun pasti akan mengantuk kalau berada di dalam ruang kelas yang hangat dengan perut kenyang dan kelelahan karena bekeja. Aku sudah cukup tidur saat di kelas bahkan saat aku tidak lelah.
Kami dengan acuh berlari di ujung barisan dan setelah beberapa menit, Zaimokuza sudah mulai melambat. Seriusan? Bukannya kamu tadi berkata “-Apa kamu pikir kamu bisa terus mengikutiku?” beberapa saat yang lalu...?
“U-Ugh... Gejala peningkatan gravitasi[4]... Be-beban ini...”
“Aku jalan duluan.”
Aku berteriak pada Zaimokuza, lalu meninggalkannya disana, dan terus maju. Kapanpun seseorang memintamu untuk berlari bersamanya, itu adalah tindakan yang tepat untuk mengabaikannya di tengah jalan. Dengan begini, anak-anak akan mempelajari kalau mereka seharusnya jangan terlalu mudah mempercayai seseorang...


×   ×   ×


Saat aku terus berlari sendirian, aku sudah menyelesaikan setengah dari jarak tempuhku. Heke![5] Er, itu adalah Hamtaro, kan...?
Jarak tempuh untuk latihan di kelas ini adalah empat kilometer. Kami berlari berlari mengelilingi sekolah. Bleeeh... Jika kami terus berlali memutar seperti ini, aku pasti akan menjadi menterga...[6]
Pemikiran yang sangat tak berguna itu memenuhi pikiranku sampai aku mencapai kelompok tengah. Kelihatannya karena setiap berangkat dan pulang sekolah memakai sepeda cukup membantuku karena sekarang aku masih memiliki setengah dari staminaku yang tersisa.
Meskipun, kelompok “tengah” ini sebenarnya adalah orang-orang yang yang tak punya motivasi, bukan berisi orang yang berniat menyelesaikannya secepat yang mereka bisa agar bisa beristirahat.
Dalam kelompok ini aku melihat Tobe cs.
Latihan ini sepertinya bukan saat yang tepat bagi para anggota klub olahraga untuk berlari seperti biasanya. Aku juga tidak perlu repot-repot memastikan kalau mereka berlari bersama kelompok ini.
Mereka terus saling berbicara satu sama lain sambil terkadang memukul bahu mereka, memukul kepala mereka dan adu sprint yang tidak ada gunanya, berbicara dengan terlihat sangat senang. Jika aku adalah ketua kelas dengan rambut ekor babi, aku pasti sudah menegur mereka dengan “Hey, para laki-laki, seriuslah dan lari!” Lalu mereka akan berkata padaku, “Diam kau, jelek!” dan aku akan menangis setelahnya. Sial, aku ingin mereka berterima kasih karena aku tidak menjadi ketua kelas yang cantik dengan rambut ekor babi.
Tapi yang terlihat sedang bercanda hanyalah trio idiot yang biasanya, Tobe , Ooka dan Yamato. Aku tidak melihat Hayama dimanapun.
Kebetulan.
Ada sesuatu yang ingin kutanyakan pada mereka.
Sambil aku mengawasi trio idiot samba Carnival[7] yang terus bermain, aku berlari tepat di belakang mereka. Tapi agak sulit menemukan waktu yang tepat untuk berbicara pada mereka saat kami sedang berlari. Itu bohong! Hachiman, kamu baru saja berbohong pada dirimu! Kamu takkan bisa menemukan waktu itu bahkan saat kita berhenti berlari!
Rasanya cukup sulit karena tidak ada tanda atau semacamnya yang terlihat... Dan saat aku terus mengintai mereka seperti Rockbomb[8], Tobe berhenti berlari.
“Kalian duluan saja.”
Tobe jongkok setelah meneriakannya pada Ooka dan Yamato. Kelihatannya dia sedang mengikat tali sepatunya.
Alhamdulillah, orang yang paling gampang diajak bicara yang tertinggal.
“Hoy.”
“Whoa!”
Aku berdiri di belakang Tobe dan memanggilnya. Tobe berguling seperti dia sedang mencoba menunjukkan teknik menjatuhkan diri dan berbalik kearahku.
“Ya ampun, Hikitani-kun. Kamu seharusnya memberitahuku dulu sebelum kamu berbicara padaku seperti itu. Tadi Itu sangat mengejutkanku.”
Uh, ekspresi kagetmu itu sedikit berlebihan... Yaah, biarkan saja omelan tobe dan segera bertanya padanya tentang apa yang ku perlukan.
“Hayama tidak bersamamu?”
“Ahh. Hayato-kun berlari dengan serius. Semuanya sangat mengharapkannya untuk memenangkan maraton tahun ini karena dia menang tahun lalu.”
“Haa, ngono toh...”
Jadi begitu. Maraton sekolah kami hanya terbagi menjadi laki-laki dan perempuan, jadi itu  berarti Hayama yang memenangkan gelaran tahun lalu yang juga melawan kakak kelas. Itu bisa menjelaskan kenapa dia juga di favoritkan menang tahun ini. FYI, aku bahkan tidak mendapatkan posisi berapapun karena aku termasuk kelompok akhir.
Yaah, itu tidaklah penting.
Aku menunjuk maju dengan daguku dan melangkahkan kakiku memberitahu tobe untuk berlari bersamaku. Akan terasa aneh terus berdiri disini dan kami tidak tahu kapan para guru akan sampai di sekitar sini. Mengikutinya, Tobe berdiri disampingku dan mulai berlari.
Setelah berlari untuk sejenak, Tobe memiringkan kepalanya karena bingung. Dia mungkin bingung kenapa aku berlari bersamanya. Aku juga ingin segera menyelesaikan urusanku.
Tapi sebelum aku bisa melakukannya, Tobe membuka mulutnya. Dia mendesah seperti terlihat sedikit lega lalu tersenyum sengsara padaku. “Yo, seriusan, saat aku medengar rumor itu, aku sangat terkejut. Kita tidak boleh begitu saja mengatakannya pada siapapun, kan?”
“Hah?” Aku melihat padanya dengan mata setengah terbuka, penasaran dengan apa yang tiba-tiba dibicarakannya.
Tobe membersihkan keringat di keningnya. “Ayolah, Hayato-kun bilang inisialnya ‘Y’, kan? Tidak banyak orang yang mengetahuinya.”
“....”
Pernyataan mendadaknya membuat responku sedikit terlambat. Tapi setelah mulai menyambungkan setiap titik, aku terpikir suatu gambaran dengan jelas.
Di malam itu saat musim panas.
Dalam ruangan yang gelap, inisial yang dipaksa untuk diucakan, tidak bisa menahan kebisingan dan suara pertanyaan yang sama dari semua orang.
Aku teringat kejadian bersama Hayama cs saat berada di Desa Chiba. Dan tidak salah lagi, saat itu, Hayama menagtakan inisial orang yang disukainya adalah ‘Y’.
Dalam sekejap, tanpa kusadari aku melangkahkan kakiku dan Tobe munatap ke wajahku untuk memastikan.
“Kita tidak bisa membicarakan sesuatu seperti itu sekarang, kan?”
“Be-benar...”
Bukankah kamu sendiri yang pertama membahasnya? Apa kamu sejenis mereka? Apa kamu tukang cukur pribadi dari seorang raja atau samacamnya? Aku bukan orang yang akan meneriakkan apapun begitu saja, tahu...
“Maksudku, kamu pikir itu tidak mungkin, tapi saat kamu benar-benar mendengarnya, kamu pasti akan terkejut, kan?”
Aku pikir aku tahu apa yang ingin Tobe katakan.
“... Yaah, itu mustahil.”
Meski itu terdengar seperti setuju dengan Tobe, aku khawatir kalau aku sebenarnya mungkin telah membicarakan sesuatu yang benar-benar berbeda.
Tidak, aku tidak peduli dengan itu. Bukan itu apa yang ingin aku dengar.
Tapi, Tobe mencoba terus melanjutkannya. Untuk menghentikannya, aku membicarakan sesuatu yang ringan sehingga aku bisa mengendalikan arah pembicaraan.
“Apa kamu sudah menyerahkan angketmu?”
“Nah, belum. Aku berpikir mengambil SAINS, tapi Ooka dan Yamato terus berkata Ilmu Sosial.”
“Begitu... Apa kamu bertanya pada Hayama tentang apa yang akan diambilnya?”
Untungnya dia menyebutkan nama seseorang, jadi itu akan kebih mudah bagiku untuk menuju ke intinya.
Dari apa yang bisa kulihat, Tobe adalah laki-laki yang paling dekat dengan Hayama. Hayama mungkin juga dekat dengan Ooka dan Yamato, tapi Tobe yang berada di klub yang sama seharusnya memberinya keuntungan yang lebih besar. Tentu saja, itu adalah pendapatku berdasar apa yang ku ketahui tentang mereka... Maksudku, aku sama sekali tidak mengetahui tentang pertemanan Hayama.
Saat aku bertanya pada Tobe, dia menggosok rambut kuduknya. “Nah, dia, seperti, memndamnya sendiri dan tidak mau membertitahuku apapun.”
“Begitu...”
Yaah, itu seharusnya sesuatu yang sudah bisa ku  perkirakan. Bagaimanapun juga, aku harus menggunakan pendekatan lain untuk mengumpulkan informasi. Saat seperti ini dimana Tobe sedang bersikap santai sangat membantuku. Aku bertanya lagi padanya sambil berharap dia akan memberikan informasi seperti tokoh penduduk di RPG.
“Apa kamu pernah konsultasi pada Hayama tentang Program Jurusanmu?”
“Sudah, yeah. Aku bertanya padanya tentang kelebihan keduanya, dan, seperti, dia bekata itu akan menggangguku saat memilihnya atau semacamnya?” Kata Tobe, secara megejutkan terlihat seperti sangat khawatir dengan apa yang harus dilakukannya.
Ritme lari kami langsung menurun. Tapi, Hayama memberikan sarannya seperti biasanya... aku tidak bisa memastikan dia itu bersikap perhitungan atau menghindari bahaya...
“Yaah, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, apa kamu meminta rekomendasi darinya?”
“Dia bilang itu akan mengacaukan penilaianku atau semacamnya.”
“Begitu...”
Dia sangat teliti.
Sebenarnya, orang-orang yang biasanya sangat mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain juga cenderung mengambil kata-kata orang yang berkesan dari orang yang berkarisma dengan standar wajah. Mereka yang menjadi inti dari semua orang seperti Hayama harus berhati-hati dengan berbagai kemungkinan yang dapat diakibatkan dari ucapannya pada orang lain. Hal yang berkaitan dengan minat, selera dan gaya adalah hal sepele, tapi Program Jurusan dan hubungan bisa memperngaruhi kehidupan seseorang sekarang atau nanti. Semuanya baik-baiknya saja kalau berjalan tanpa masalah. Tapi sekali keadaannya menjadi buruk, bahkan orang yang berkarisma bisa menjadi target kebencian. Mereka yang membiarkan pendapat dan perkataan orang lain mengatur pilihan mereka, adalah orang yang sangat mudah menyalahkan orang lain.
Tapi berkaitan dengan makhluk yang bernama Tobe ini, sepertinya tidak perlu khawatirkan kalau dia akan memendam dendam pada seseorang.
Tobe terlihat termenung sambil kami berlari, lalu dia mendesah dalam, embun kecil terlihat keluar dari mulutnya.
“... Tapi, itu seperti apa yang Hayato-kun katakan.”
Perkataanya agak ambigu. Tapi ada ketulusan dalam kata yang diucapkannya dengan nada seperti tidak ditujukan pada siapapun. Dia pasti memahami apa maksud perkataan Hayama.
“... Kamu mempercayainya, hah?” aku mengatakannya.
Tobe terlihat kagum padaku. “Nah, apa, bukan seperti itu, mungkin? Yaah, itu lho, Hayato-kun itu teman yang sangat bisa diandalkan atau semacamnya?”
Terlihat malu dari kata “percaya”, wajah Tobe memerah karena dinginnya udara dan rasa malunya sambil mencoba mengatur perkataannya. Hoy, berhenti bersikap seperti itu! Aku yang seharusnya malu karena aku yang mengatakannya!
Tobe memukul dadanya untuk menghilangkaan rasa malunya dan melanjutkan. “Nah, seriusan, Hayato-kun sudah sering sekali menolongku. Aku sangat yakin tentang itu.”
“Itu bukan sesuatu yang perlu dibanggakan...” kataku.
Bagaimanapun juga, Tobe tidak terlihat malu. Dia mengeluh sambil terus menggosok rambut kuduknya. “Beeh, seriusan, aku berhutang banyak pada dia, beneran.”
“Lebih baik kamu segera membayarnya.”
“Itu benar banget! Yeah... Yaah, aku masih belum yakin dengan itu.”
Pada awalnya suaranya tidak beraturan, tapi tenaganya berangsur menghilang saat dia meneruskannya. Penasaran karena ekspresi galaunya, aku meminta Tobe utuk melanjutkan dengan menatapnya. Lalu tobe sedikit menarik pipinya.
“Aku berbicara dengannya tentang berbagai macam hal... Tapi Hayato-kun tidak pernah berkata padaku tentang apapun dan bahkan jika dia melakukannya, aku mugnkin takkan memahaminya.” Kata tobe, menyeringai.
Seringaiannya sama seperti angin kering nan dingin yang berhembus dari tadi. Seriangainya kering dan entah kenapa terlihat seperti kesepian.
 Karena kesunyian setelah itu sangat canggung, aku mencari setiap kata yang mungkin untuk dikatakan dan memberinya beberapa gambaran. “... Yaah, anggap saja begini. Dia tidak memiliki masalah, itulah kenapa dia tidak membicarakan apapun padamu.”
“Benar sekali! Hayato-kun memang orang yang sangat keren.”
“Itu sedikit tidak ada hubungannya... Terlebih, kamu mencarinya saat di Destinyland, kan? Aku yakin itu sangat membantunya saat itu, meski aku juga kurang tahu.”
“Benar sekali! Hayato-kun memang orang yang sangat keren.”
Kali ini baru ada sedikit hubungan dengan wajahnya... Pasti sulit memiliki wajah tamvan.
Sepertinya pembicaraan tadi sedikit meringankan Tobe dan ritme larinya mulai meningkat. Dia berkata “Dingin, dingin” pada dirinya sendiri setiap angin yang dingin berhembus pada kami.
Segera, kami bisa melihat Ooka dan Yamato di depan kami. Sepertinya mereka menurukan ritme mereka, merasa aneh karena Tobe tidak segera menyusul mereka.
“Baiklah. Aku harus segera mengejar mereka, jadi, aku duluan.”
“Oke.” Aku mengataknnya dengan singkat.
Tobe menggerakkan tangannya menyilang dan segera berlari meunju mereka. Dia memanggil Ooka dan Yamato sambil berlari sambil melambaikan tangannya. Saat mereka beruda melihatnya mendekat, mereka berlari lagi sambil berkata “Sial, dia datang!”, “Ayo segera pergi!”
Selama Tobe bersenang-senang dengan mengejar mereka yang terus berlari, itu tak apa, aku pikir...
Tapi biasanya, seharusnya ada satu orang lagi di kelompok itu. Jika dia tidak harus membawa beban harapan, aku pikir dia mungkin sedang tertawa bersama mereka.
Saat pikiran itu terlintas di pikiranku, aku menyesali kata yang kuucapkan dengan ceroboh tadi.
Karena dia tidak membicarakannya pada siapapun, berarti dia tidak punya masalah, mana mungkin mungkin hal itu benar.


×   ×   ×

 
Bel jam makan siang berbunyi.
Saat latihan maraton menggantikan jam OR, kami diperbolehkan untuk langsung pergi makan siang setelah menyelesaikannya. Aku dengan santai berganti pakaian tapi aku masih saja menjadi orang pertama yang mencapai kantin sekolah.
Dengan hati-hati aku memilih roti dari berbagai jenis roti yang ada, lalu segera menuju tempat makan siangku yang biasanya. Makan di luar saat suasana seperti ini berarti aku harus menghadapi udara dingin yang menyakitkan, tapi di kelas yang hangat dan banyak penghuninya, aku tak punya tempat di sana. Sebenarnya, belum lama ini aku mengintip tempat dudukku saat jam makan siang dan diatas mejaku terdapat kantung plastik dari kantin yang sepertinya digunakan sebagai tempat sampah. Tetap di kursiku berbarti aku akan mengganggu mereka!
Sambil memikirkan perhatian itu, aku berjalan menuju tempatku yang biasanya di lantai pertama gedung khusus. Aku duduk di tangga yang berada tepat di belakang kantin sekolah, di samping UKS. Dari sini, aku bisa melihat lapangan tenis.
Bunyi rentetan pukulan memenuhi dinginnya udara musim dingin. Klub tenis menggunakan jam makan siang mereka untuk berlatih. Baisanya, hanya Totsuka yang berlatih selama jam makan siang, tapi pasti karena akan diselenggarakannya kejuaraan sehingga jumlah anak yang berlatih meningkat.
Aku mengunyah roti yang kubawa sambil memperhatikan latihan mereka. Totsuka, yang dari tadi selalu memperhatikan anggota klubnya, menyadari keberdaanku, lalu berteriak pada mereka, dan berjalan kearahku sambil membawa sesuatu.
“Yo,” kataku.
“Yeah, yo!” jawab Totsuka, sedikit mengangkat tangannya dan terlihat malu.
“Tak apa dengan latihannya?”
“Oh, ya. Aku pikir sekarang saat yang tepat untuk makan siang,” kata Totsuka, sambil dia menujukan kotak makan siangnya.
Aku merasa sedikit bersalah karena ini terasa seperti aku mengganggu latihannya... Dan untuk membayangkan kalau dia akan repot-repot kesini hanya untuk makan bersamaku... Sial, aku melewati beberapa tahap seperti tak ada apapun... Kalau begini terus, hanya tinggal masalah waku sampai aku mencapai LOVE STAGE[9]...
Aku bergeser dan membuat ruang. Totsuka berkata “terma kasih” dengan sopan padaku lalu duduk di sampingku... Fuhaha! Lihat kemampuan tingkat dewa ini! Hanya dengan membuat ruang untuk seseorang, kamu bisa mengendalikan dimana dia akan duduk!
Di ujung mataku, aku bisa meliat Totsuka mulai membuka kotak makan siangnya yang kecil. Aku melihat ke lapangan tenis dan kelihatannya anggota lain juga sedang beristirahat untuk makan siang.
“Anggota lain juga ikut latihan saat jam makan siang, hah?”
“Ya, sebentar lagi akan diselenggarakan turnamen untuk pendatang baru, jadi aku mengundang mereka... Oh, bagaimana kalau begini, Hachiman? Mau ikut berlatih  bersama kami? Jika kamu mulai sekarang, mungkin kamu masih sempat untuk mengikuti turnamen musim panas.” Totsuka bertanya padaku sambil bercanda, mengayunkan tinjunya naik dan turun.
Ya ampun, apa apaan ini? Sangat imut. Maaf, tolong serahkan padaku anak yang bernama Totsuka ini. Sebenarnya, aku hampir saja menjadi miliknya.
“Kalau  begitu, itu bergantung pada berapa banyak latihan perminggunya...”
“Hey, kamu becanda kan?” Totsuka mencondongkan tubuhnya sambil melihat ke wajahku.
Rambut Totsuka berayun dengan lembut. Matanya yang mengintip dari celah poninya bersinar terang sambil tersenyum menggoda.
 “Yeah, itu cuma bercanda.”
“Sudah kuduga.”Totsuka segera menurunkan bahunya dan terlihat kecewa.
Lalu dia tersenyum. Kami berdua tahu kalau hal itu mustahil terjadi, jadi kami bisa bercanda dengan hal itu... Y-yaah, sebenarnya aku sangat serius saat dia pertama kali mengajakku!
“... Tapi, yaah, kamu melakukan tugasmu sebagai ketua dengan baik, hah?”
“Tapi aku rasa aku masih jauh dari itu.” Totsuka tersenyum gelisah sambil sedikit tertawa.
Aku pikit itu adalah gabungan dari kenyataan dan rendah hatinya. Tapi selama dai menjabat sebagai ketua, dia selalu kelihatan berlatih seorang diri. Aku yakin lebih mudah menyampaikan pada anggotanya dengan cara seperti itu daripada dengan perkataan.
Seperti itulah ketua klub yang seharusnya. Aku rasa ketua dari suatu klub di luar sana bisa mempelajari sesuatu dari ini... Meski sepertinya itu bukan masalah serius karena dia selalu bisa bertindak seimbang...
Tiba-tiba, kata “ketua klub” menggangguku.
Pemikiran utamakku untuk memperkirakan pemikiran Hayama adalah untuk bertanya pada Totsuka tentang hal ini. Tapi karena hasrat pribadiku untuk berbicara dengannya dan juga gangguan oleh Zaimokuza, aku melupakan hal ini...
Terebih, aku juga tertarik dengan Totsuka—maksudku, tertarik dengan Program Jurusan Totsuka.
“Totsuka. Kamu pilih yang mana? Ilmu Sosial atau SAINS?” tanyaku.
Totsuka terliaht bingung seperti yang dilakukan Bambi saat melopat dari padang rumput. “Jarang sekali kamu  bertanya sesuatu seperti itu, Hachiman.”
“Seriusan?” tanyaku, merasa terkejut.
Totsuka mengatakannya tanpa sedikitpun ragu atau bingung. “Um mm. Itu seperti kamu sedang tertarik pada sesuatu atau semacamnya.”
Ahh, benar, jika kamu mengatakannya seperti itu, itu benar.
Selama beberapa tahun, ada banyak saat aku mempersiapkan sebab dan alasan karena aku belum pernah mengobrol dengan seseorang. Sebenarnya, jika aku tidak punya alasan untuk berbicara pada orang lain, aku takkan bisa mengatakan apapun yang ingin kukatakan sesuai keinginkanku. Dengan kata lain, ironisnya, penyendiri bisa disebut sebagai orang dengan tujuan yang kuat, tidak salah lagi.
 Saat aku duduk sambil mempercayainya, Totsuka, tanpa menjawab pertanyaanku malah bertanya, “Bagaimana denganmu, Hachiman?”
“Aku ambil Ilmu Sosial.”
Biasanya aku akan menceramahinya di ruang pelajaran[10] karena menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, tapi aku tidak punya pilihan lain selain menjawabnya langsung karena dia sedang memiringkan kepalanya sambil menatap kearahku dengan matanya yang besar. Kalau dia Komachi atau Isshiki, aku pasti akan mengajari setelah mencermahinya. Sial! Pada akhirnya, aku hanya mengajarinya! Aku sangat manis!
Totsuka meletakkan sumpitnya dan menatap ke langit. Kelihatannya dia sedang berpikir, angin dingin berhembus dan mengayunkan poni Totsuka.
“Oh, baiklah... Mungkin aku akan pilih itu juga...”
“Oh, yeah!... Eh, apa tak apa kamu menentukannya seperti itu?”
Dalam sekejap, kata “kita sama, hah?” terucap oleh Totsuka (termasuk ekspresi malu) berkeliaran di pikiranku, jantungku terus bergejolak sampai hampir meladak[11], tapi, entah bagaimana, aku bisa menahan diriku dalam kendali.
“Mungkin lebih baik kamu memikirkannya lagi... Tapi jika kita bisa bersama, itu juga bagus.” Tambahku, sedikit membantuk.
Totsuka menempelkan jari telunjuknya sambil menatap ke wajahku. Um, gini lho, jika kamu terus menatapku seperti itu, aku mungkin akan berkata “Hey, ayo jangan cuma berhenti di Ilmu Sosial, ayo terus bersama sampai akhir khayat!...
“Sebagian besar, aku sudah memikirkannya... Hanya saja tempat yang ingin ku tuju mengizinkan kita mengambil ujian dengan materi Ilmu Sosial juga.”
“Ahh. Yaah, karena memang ada banyak pelajaran yang bisa dipilih.”
Jika standar penilaiannya seperti itu, maka tidak penting kamu memilih yang mana. Memang ada pilihan untuk menentukan Ilmu Sosia dan SAINS dengan MaPel ujian daripada memilihnya melalui cara biasa seperti bidang pilihanmu.
Untuk Ilmu Sosial di sekolah swasta, MaPelnya adalah B. Inggris, B. Jepang Modern, dan pelajaran sosial. Untuk SAINS, biasanya adalah B. Inggris, Matematika, dan materi SAINS.
Tapi, sekarang ini, kamu bebas memilih untuk mengambil MaPel ujian dari sistem A atau B bergantung pada Universitas dan bidang study. Bahkan terkadang kamu bisa mengambil Matematika dan materi SAINS di bidang studi Ilmu Sosial berantung pada pilihan. Terlebih, untuk sekolaah Negeri, beberapa sekolah memberikan semua kurikulum dari lima pelajaran utama dan tujuh pelajran tambahan di pemusatan belajar, jadi penting utuk mempelajari semua mata pelajaran.
Itu adalah hal sepele untuk memilih antara Ilmu Sosia atau SAINS jika kamu hanya mengikuti aturan sekolah yang menurutmu menarik.  Di sisi lain, ada banyak jenis gabungan sekolah yang bisa dipilih. Memperhitungkan pilihan Hayama dari sudut ini akan sangat rumit.
“Kemana sekolah yang ingin kamu tuju, Totsuka?”
“Um... Aku sedang bingung antara SAINS manusia atau SAINS olahraga[12] di sekolah Tokorozawa.”
“Ah, tempat itu. Hah?”
Aku cukup tahu sekolah yang katanya diminati Totsuka itu. Itu sekolah yang cukup terkenal, tapi jika kamu masuk ke sana, kamu akan terus mendengarkan pada angin dan memakan Manju Jumangoku[13] dalam empat tahun... Prefektur Saitama, sangat mengerikan...
Meski begitu,cukup menegesankan karena dia memilih tempaat terpencil seperti Saitama dengan sesuatu yang diinginkannya. Kalau diriku, sebisa mungkin, aku sama sekali tidak ingin meninggalkan Chiba dan aku hanya ingin menaiki layanan umum Sobu Line.
“Apa kamu mempertimbangkan olah raga karena kamu di klub tenis?”
Jika pelajaran ujian itu penting, maka alasan untuk memilih sekolah itu juga seharusnya berkaitan dengan sesuatu yang ingin kamu lakukan. Kalau begitu, sebaiknya aku memeriksa dari sisi itu juga.
Saat aku bertanya pada Totsuka, dia dengan malu meregangkan pipinya. “Mmm, bukan seperti itu. Aku pikir karena aku telah lama bermain tenis, jadi aku ingin melakukan sesuatu yang berkaitan dengan hal ini atau semacamnya...”
“Begitu... Apa ada rekomendasi untuk hal itu?”
Dia sudah bermain dalam jangka waktu yang lama, jadi setidaknya dia harus menerima penghargaan karena itu. Bekerja keras dalam klubmu dan di saat yang sama juga harus belajar dengan rajin kelihatannya sedikit sulit. Juga, karena sekolah yang diminati Totsuka itu cukup terkenal, bahkan jika dia berheti dari klubnya dan mulai berlajar dengan serius, ada jarak yang  jauh antara Totsuka dengan mereka yang telah melakuannya sejak dulu. Dari sudut pandang orang seprertiku, maka kamu lebih baik memilih sekolah lain yang lebih mudah.
Sudah mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan dari rekomendasi, Totsuka tersenyum. “Ahahaha, tidak ada hal seperti itu. Aku pikir itu mustahil untuk sekolah kita. Bahkan jika aku mendapat rekomendasi, aku tidak yakin itu dari Universitas terkenal.”
“Jadi seperti itu...?”
Itu benar, aku tidak ingat ada klub kuat dari sekolah kami. Bahkan jika ada satu hal yang terpikirkan olehku, itu adalah senpai dari klub judo yang ku temui saat musim panas. Sepertinya dia pergi ke Universitas dengan rekomendasi, tapi aku tidak ingat pernah bertanya di Universitas mana dia. Saat aku memikirkannya, aku juga tidak ingat pernah menanyakan namanya. Abaikan itu dulu, senpai itu terlihat mengalami banyak masalah, jadi kamu tidak harus menyetujui rekomendasi dari pihak lain.
Aku pikir cara terbaiknya adalah dengan mengambil ujian masuk seperti biasa dan lulus dalam sekali coba, kesimpulanku.
Totsuka mengunyah dango udang rebusnya dan memukul lututnya. “Ah, tapi untuk orang yang hebat mungkin akan mencoba ujian di sekolah yang terkenal. Kamu juga bisa mendaftar langsung.”
“Proses seleksi... itu mengingatkanku.”
Aku ingat bahwa jika kamu menang tiga kali dalam permainan kartu, permohonanmu akan terkabul dan kamu akan menjadi gadis abadi... oh, tunggu, itu selektor[14]. Intinya, proses seleksi adalah saat kamu mengambil ujian pemilohan khusus.
Totsuka mengangguk, tapi eksperinya perlahan menjadi rumit. “Benar, benar. Tapi biasanya orang yang melakukannya adalah orang yang bertujuan untuk menjadi atlit pro atau mengikuti olimpiade... Satu-satunya orang di sekolah kita yang bisa lulus kemungkinan hanya Hayama-kun.”
“... Seriusan, apa dia sehebat itu?”
“Itu hanya perkiraan. Aku yakin sebenarnya pasti jauh lebih sulit dari itu.” Totsuka memainkannya dengan menjulurkan lidahnya. Dia mengalihkan pandangannya ke lantai sekolah, ke arah dimana klub sepak bola biasanya berlatih sepulang sekolah.
“Kalau Hayama-kun, sepertinya dia akan lulus dengan mendaftar langsung daripada menggunakan rekomendasi, kan? Dia juga orang yang mengatur rapat ketua klub.”
Lamaran langsung. Dengan kata lain, ujian masuk AO[15]... Aku yakin nama resminya adalah AO “Airheads are OK” mungkin? Kan? Itu juga salah satu pilihan dan saat itu, hubungan antara pelajaran ujian dan pilihan antara Ilmu Sosial dan SAINS menjadi lebih lemah.
“Hayama sangat hebat...” aku mengatakan pendapat yang sudah sangat jelas dan biasa tentangnya.
“Ya. Dia bisa melakukan apapun dan juga dia orang yang baik.”
Aku pikir aku punya pandangan yang cukup baik tentang kemampuan Hayama, tapi aku belum pernah menilainya dari sudut klub. Bagi Totsuka yang juga menjabat sebagai ketua klub olah raga, ada bagian dari Hayama yang hanya bisa dilihatnya. Totsuka segera menjepit sumpitnya dan tersenyum sulit.
“Ngomong-ngomong tentang sesuatu yang greget... ada juga rumor itu.”
“Ah, itu...”
Hal itu tentu saja, rumornya juga sudah menyebar mencapai Totsuka.
“Aku sangat terkejut saat mendengarnya. Aku pikir Hayama-kun menyukai Miura-san. Kita pernah membicarakannya saat musim panas dulu...”
Seperti yang dikatakan Totsuka, ketika kita di Desa Chiba saat musim panas, Totsuka juga di sana saat Hayama mengatakan inisialnya. Nama Miura memang tidak salah lagi dimulai dengan “Y”.
Tapi saat OR, Tobe sama sekali tidak membahas kemungkin itu. Sebagai bagian dari kelompok Hayama dan memperhatikan mereka dari dekat, dia seharusnya melihatnya seperti itu; Hanya saja, sepertinya tidak seperti itu.
--- Kalau begitu, inisial itu milik siapa?
“Hachiman? Ada apa?”
Saat dia memanggilku, aku menyadari kalau aku sedikit mengerutkan alisku. Aku memaksa alisku bergerak naik dan turun, sambil mengendurkan pipiku.
“Tidak, aku hanya memikirkan inisial siapa itu. Karena ada banyak orang dengan inisial ‘Y’...”
Contohnya Yoshiteru Zaimokuza? Bagaimana dengan kuda hitam Yamato? Sial, seharusnya kita mengubah nama Isshiki dengan menambah bunyi “Y” dan membuatnya menjadi “Isshiki ‘suap’ Wairoha”. Kelihatannya dia bisa dituduh melakukan tindak penyuapan atau semacamnya... Sebenarnya, kalau begitu inisialnya menjadi W bukan Y. Aku memikirkan pendapat bodoh seperti itu lalu memaksa mereka menghilang dari pikiranku.
Saat kami berbicara, bel tanda berakhirnya jam makan siang berbunyi. Aku harus kembali ke kelas sebelum ber peringatan pertama berbunyi. Sial, aku bahkan belum menyelesaikan makananku. Aku segera memakan rotiku dan menelannya dengan MAX COFFEE. Sepertinya Totsuka hanya sedikit makan karena dia sudah menghabiskan makan siangnya dan perlahan berdiri.
Dia berjalan menju lapangan tenis dan berteriak. “Hey, kalian, saatnya pergi! Samapi jumpa lagi sepulang sekolah!”
Saat anggota klub tenis menjawabnya dengan mengayunkan raket mereka, Totsuka juga melambaikan tangannya. Aku memperhatikannya dengan heran. Bagaimana ya aku mengatakannya? Jarang kamu melihat Totsuka sangat bersemangat dan proaktif seperti itu.
“... Tidak cocok denganku?” Totsuka menatapku dengan malu, teringat bahwa aku masih disana.
“Ah, tidak, bukan begitu, em...”
Aku tergagap dengan perkataanku. Bukan Cuma karena terkejut. Hanya saja penampilannya yang seperti itu sedikit menggoda. Tidak seperti apa yang Totsuka lakukan sampai sekarang, aku rasa sekarang adalah saat dimana hatiku paling tersentuh.
“Hanya saja, aku tidak tahu, um, kamu terlihat sangat seperti seorang ketua, jadi aku sedikit terkejut.” Aku mengatakannya terpatah-patah, tidak bisa mengungkapkan perasaanku dengan benar.
Merasa itu aneh, Totsuka tertawa. “Ada banyak hal yang tidak kamu ketahui, Hachiman.”
“Yeah, ada terlalu banyak.”

Saat Totsuka tersenyum, aku juga tersenyum. Lalu dia segera melihat ke langit dan melipat jarinya seprti sedang menghitung sesuatu. “Seperti tentang klub tenis atau tentang rekomendsi olah raga...”
“Yeah, terima kasih karena kamu telah memberitahuku tentang hal itu,” kataku.
Totsuka kembali mengangguk dan melipat dua jari lagi. “Dan... tentang Program Jurusan Hayama-kun, atau tentang rumor itu.”
Saat dia mengatakan kedau hal itu, aku tidak bisa berkata apapun. Sebenarnya, aku sama sekali tidak mengetahui tentang Program Jurusan Hayama. Aku tidak bisa mengumpulkan banyak informasi bahkan setelah setelah tidak langsung menanyakannya pada Zaimokuza  tentang pilihan mereka. Kalau tentang rumor itu, aku berpura-pura seperti hal itu tidak pernah ada.
Kesunyian menyelimuti kami saat aku duduk disana tanpa bisa menjawabnya. Suara yang bisa terdengar hanyalah suara hembusan udara dingin dan keributan dari gedung sekolah.
Totsuka menghirup udara musim dingin dan melipat jari kelingkingnya, mengepalakan tangannya menjadi pukulan. “Dan juga... Tantang aku juga.”
Entah bagaimana, aku merasa puas mendengar itu.
Totsuka mengatur ulang ramutnya yang terhembus angin dengan ujung jarinya lalu membusungkan dadanya. Ini pertama kalinya aku melihat Totsuka seprti itu, Totsuka yang tidak ku ketahui.
“Aku menjalaninya dengan cukup baik, tahu...? Meski aku mungkin tidak terlalu bisa diandalkan.” Kata Totsuka sambil tersenyum malu.
Itu adalah sikap Totsuka Saika yang kupikir aku tahu.
Itulah kenapa, mungkin, aku pikir ini pertama kalinya aku bisa melihat dengan benar pada laki-laki bernama Totsuka Saika; Tidak kurang, tidak lebih. Tapi itu tidak berarti aku sepenuhnya memahaminya.
Tapi itulah kenapa aku merasa ingin lebih mengetahuinya.
“... Tidak, itu tidak benar. Bahkan aku mengandalakanmu. Aku masaih belum memahaminya, tapi... tapi, um, aku mungkin akan mengandalkanmu.” Kataku.
Aku berdiri dan berjalan ke arah Totsuka.
Meski terlihat malu, Totsuka menagangguk dengan kuat.
Aku pikir Totsuka terus menungguku untuk saat seperti ini, menungguku mendekatinya seperti yang kulakuan sekarang.
Dengan begini, kami mulai melepas topeng kami, menunjukan diri kita, dan untuk pertama kalinya bisa bertemu satu sama lain.
Jika ada saat dimana kami pada awalnya tidak saling menyadarinya dan membuat kami menjadi sama sekali tidak tertarik, membiarkan kami untuk tanpa ragu mengatakan hinaan, dan itu juga, adalah suatu pendekat perlahan, seperti saat kamu dengan mudah dan tenang memotong dan menggigit rambut di jarimu.
Totsuka bukan seoarang malaikat... Tapi lebih seperti iblis? Atau mungkin malaikat tertinggi... Tidak, mungkin malaikat jatuh?
Apapun dia, Totsuka adalah Totsuka.

Catatan Kaki:
1.         Ledaka raksasa – Salah satu jurus pokemon.
2.        Puteri otaku – gadis yang diperlakukan seperti puteri (tidak peduli penampilannya) saat dia adalah satu-satunya gadis dalam jumlah perbandingan laki-laki yang jauh lebih banyak dibanding perempuan seperti biasanya di klub budaya (klub dimana otaku biasanya akan berkumpul)
3.        Sel puteri – STAP adalah cara yang diduga digunakan untuk merangsang sel yang secara ilmiah sudah tidak layak pakai. Rangasangan pada sel bisa dilakuakn dengan merendam sel dalam semacam asam lemah (ciuman dari pangeran) dan zat kimia lainnya.
4.        Peningkatan beban – Jurus kamen rider.
5.        Hamtaro – suara lucu yang dihasilkan oleh Hamtaro.
6.        Cerita tentang Sambo si hitam kecil.
7.    Karnaval di brazil – Trio idiot (sanbaka) dan karnaval samba (Sanbakaanibaru)
8.        Rockomb – Monster di Dragon Quest yang juga di kenal sebagai batu bom.
9.        Love Stage!! Yaoi manga.
10.     AKB48 Ruang pelajaran Takamina.
11.       Nobodyknows+ - lirik dari Kokoro Odoru.
12.      Program u dergraduate Univrsitas Waseda
13.      Manju Jumangoku – artinya “100.000 butir manju” adalah toko manju yang bertempat di Saitama. “Angin yang memberitahumu” adalah slogan yang mereka gunakan.
14.      Selector-Wixoss.

15.      Ujian massuk AO – Admission Office. Sepertinya adalah mendaftar langsung via website universitas, bukan melalui pihak sekolahmu atau samacamnya.

Oregairu Jilid 10 - Bab 5 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: h kim

2 komentar:

  1. PertamaX . . . Kukukuku
    Gochisousama deshita XD

    BalasHapus
  2. Thx gan, ditunggu chapter 6nya :D

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.