Sabtu, 02 Mei 2015

Oregairu Jilid 8 Bab 1

Bab 1 : Tentu saja, Hikigaya Komachi pun bisa marah
“Bagaimana kalau?”
Ini sebuah skenario “bagaimana kalau?”
Bagaimana kalau hidup layaknya permainan, di mana kamu bisa ­me-load sebuah file save-an dan kembali ke saat di mana kamu bisa mengubah pilihanmu? Akankah hidupmu berubah apapun caranya?
Jawabannya bergema, tidak.
Hanya mereka yang diberkahi dengan pilihan lah yang mendapat keuntungan. Bagi mereka yang tidak pernah diberikan pilihan tersebut sejak awal, skenario hipotetik itu tidak ada artinya.
Dengan begitu, tidak akan ada penyesalan. Lebih tepatnya, adalah hidup itu sendiri yang merupakan titik puncak penyesalan.
Seperti itulah.
Ada juga skenario “sedikit terlambat”. Saat kamu memulai skenario “bagaimana kalau”, kamu tidak akan bisa melihat akhirnya. Tidak akan ada yang berubah apapun jawaban yang kamu berikan. Saat kamu telah menetapkan keputusan, sudah terlambat untuk menariknya kembali.

Pengandaian, parallel, dan loncatan waktu adalah konsep yang tidak nyata di dunia ini. Singkatnya, skenario kehidupan semuanya lurus. Berkhotbah tentang adanya kemungkinan hanyalah upaya sia-sia.
Aku sadar betul betapa salahnya aku. Bagaimanapun juga, dunia, merupakan tersangka yang lebih besar dibandingkan diriku.
Diisi dengan peperangan, kemiskinan, diskriminasi, dan banyak hal lainnya. Mencari kerja bisa jadi tidak menghasilkan dengan tidak adanya tawaran satupun. Bahkan pekerjaan paruh waktu bisa mengambil uang sakumu sebagai biaya kerusakan, apalagi pada kasus di mana kau harus menutupi sejumlah uang yang kurang dengan uang sakumu sendiri.
Jadi di manakah sebenarnya kebenaran dunia ini berada? Kebenaran yang digambarkan sebagai perbuatan yang salah di dunia ini tidak akan bisa disebut kebenaran.
Di sisi lain, malah bisa saja kebenaran itu adalah semua yang dianggap kesalahan di dunia.
Tapi, apakah ada artinya mencoba memperpanjang sesuatu yang mau tidak mau akan berakhir?
Nantinya, kau akan kehilangan semuanya. Itu adalah kebenaran yang nyata.
Tapi tetap saja, meskipun begitu.
Hal yang nantinya akan menghilang memiliki keindahan tersendiri.
Saat dimana kau kehilangan semuanya memiliki arti tersendiri. Bahkan hal seperti istirahat sejenak, suatu kombinasi dari stagnasi dan ketidaktentuan dalam hidup, pada akhirnya  kau tidak akan bisa lagi berurusan dengan hal-hal seperti itu.
Memaklumi kebenaran ini adalah apa yang seharusnya kau lakukan.
Suatu saat, aku yakin, kau akan memikirkan lagi hal-hal yang telah hilang, layaknya itu semua merupakan harta karunmu yang berharga, dan layaknya mereka sama seperti kebahagiaan ketika meminum sake sendiri.


× × ×


Benar-benar pagi yang tidak menyenangkan.
Langit bercuaca cerah ditemani dengan angin dingin yang menggoyangkan jendela dengan lembutnya. Ruangan ini merupakan tempat bersantai yang menggugah hasrat tidur.
Sungguh, ini benar-benar pagi yang tidak menyenangkan.
Sekarang adalah hari Senin setelah kembali dari karyawisata yang juga mengakhiri liburan.
Hari Senin seperti membangkitkan rasa melankolis. Setelah memaksa tubuh lemasku beranjak dari kasur, aku menggeliat ke arah kamar kecil.
Aku melihat cermin dengan mata setengah bangun. Yang dipantulkan setiap kali oleh cermin adalah aku.
... Hmph, sama seperti biasanya.
Yah, aku tidak pernah berubah sampai rasanya itu jadi sedikit anti-klimaks.
Segala yang dipantulkan cermin terdiri dari hal-hal pokok atas apa yang menyusun diriku: perasaan tidak mau ke pergi ke sekolah, perasaan ingin hanya duduk seharian dan bermalas-malasan, dan perasaan homesick yang muncul sesaat setelah pergi dari rumah.
Tapi ada hal yang berbeda. Air yang aku basuhkan pada mukaku lebih dingin dari biasanya.
Dengan berakhirnya musim gugur, rasanya tepat untuk mengatakan kalau sekarang musim dingin. November mulai berakhir dan apa yang tersisa di tahun ini tinggal satu bulan lagi.
Kedua orangtuaku sudah pergi lebih awal untuk bekerja agar menghindari keramaian kereta. Musim yang akan datang merupakan waktu dimana banyak yang hampir datang terlambat untuk bekerja atau lebih memilih lembur karena jelas bakal ramai. Seperti yang diduga, orang-orang masih rawan terhadap pagi hari di musim dingin meskipun sudah dewasa. Pada akhirnya, siapapun pasti ingin mengurung diri dalam futon mereka sampai detik paling terakhir.
Meskipun begitu, mereka semua punya alasan mengapa mereka masih terus bekerja.
Ada sedikit keraguan pada orang-orang yang beraktivitas berdasarkan alasan proaktif. Namun, sebaliknya, ada orang-orang yang hanya beraktivitas layaknya itu karena masyarakat telah memerintahkannya kepada mereka. Agar tidak dikucilkan, mereka berjalan mengikuti arus, tapi pada saat yang sama juga meyakini kalau ini adalah perubahan yang normal.
Ringkasnya, orang-orang beraktivitas hanya saat ada sesuatu yang bisa didapatkan dan tidak ada risiko kehilangan.
Mukaku yang dipantulkan oleh cermin jelas terlihat normal seperti orang-orang kebanyakan. Tapi mataku yang memandang lebar ke diriku sendiri, tidak bisa disebut normal; kebusukan dalam mata ini tidak lain karena aku berada di puncaknya masa-masa SMA.
Tapi itulah yang membuatku jadi diriku, Itulah yang membuat seorang Hikigaya Hachiman.
Puas dengan diriku yang tak berubah, aku beranjak dari kamar mandi.
Saat aku memasuki ruang tengah, Komachi adik perempuanku sedang berdiri di dapur. Dia memasang pose menakutkan sambil berdiri di depan poci teh.
Karena orangtuaku sudah menyelesaikan sarapan mereka lebih awal, menunya sudah disiapkan, hidangan Jepang. Tinggal menunggu Komachi membawa tehnya, lalu semuanya sudah siap.
Air mulai mendidih sesaat saat aku menarik kursi. Komachi menuangkan airnya ke poci teh dan dengan cepat mengangkat kepalanya.
“Ah, pagi onii-chan.”
“Yap. Pagi.”
Kami bertukar salam pagi. Setelahnya, Komachi berbicara dengan nada terkesan.
“… Kamu terlihat seperti sudah benar-benar bangun, hari ini.”
Aku memiringkan kepalaku saat dia mengatakan itu. Seburuk itu kah aku di pagi hari, biasanya? Tunggu, tidak, setelah aku pikir-pikir lagi, tentu saja aku lemas di pagi hari. Tekanan darahku bagaimanapun juga tidak rendah tapi kau mungkin tidak dapat mengatakan hal yang sama untuk motivasiku. Dan juga, Komachi tidak sepenuhnya salah saat menunjukkan sesuatu padaku. Tapi benar juga, aku benar-benar sepenuhnya bangun, hari ini.
“…Aah, yah, airnya cukup dingin saat aku membasuh muka tadi.”
Aku berbicara tanpa pikir panjang apa yang ada di pikiranku pertama kali sebagai alasanku dan Komachi melihatku curiga.
“Uh huh… Padahal aku cukup yakin airnya nggak beda dari biasanya.”
Bisa jadi tiba-tiba airnya tambah dingin, bukan? Lagipula, cepatlah dan ayo makan jadi kita bisa berangkat sekolah.”
“Ah, oke.”
Dia membawa poci teh ke meja makan  sambil membuat banyak suara langkah berisik dengan sandal yang dipakainya. Kelihatannya keluargaku tidak memilih Ayataka sebagai merek teh untuk digunakan di poci teh.
Setelah kami duduk di kursi kami masing-masing, kami menepuk tangan kami dan berterima kasih atas makanannya bersamaan.
Selama musim dingin, makanan Jepang di rumah keluarga Hikigaya utamanya terdiri dari makanan hangat dan sup miso. Tujuan sup miso adalah untuk menghangatkan tubuhmu sebelum kamu berangkat. Luapan cinta dari ibu, pikirku.
Aku meniup sup misoku untuk mendinginkannya karena aku memiliki lidah kucing. Saat aku melihat Komachi yang melakukan hal yang sama, mata kami bertemu.

Komachi menaruh mangkuknya di meja dengan hati-hati dan perlahan berbicara.
“...Hei.”
“Hm?”
Aku menanggapinya dan memberikannya sebuah pandangan sekilas, meminta dia untuk melanjutkan. Ketika aku melakukannya, Komachi bertanya kepadaku seolah dia sedang menyelidiki sesuatu.
“Apa ada sesuatu?”
“Tidak ada... Malah, pikirkan ini. Jelas sekali tidak ada yang terjadi dalam hidup milikku ini. Mereka berkata bahwa orang jahat mungkin terkadang adalah orang suci yang menyamar. Jadi, berdasarkan asumsi tersebut, mungkin akhirnya lebih baik ada sesuatu yang terjadi. Layaknya, jika kau terjangkit penyakit kronis, kau akan berakhir sering pergi ke rumah sakit tapi di lain pihak, kau akan menjadi lebih sehat. Artinya, jika sesuatu tidak terjadi maka itu berarti ada kemungkinan badai akan segera datang.”
Aku mengeluarkan perkataan itu dengan satu napas hanya untuk membuat Komachi terkejap kaget.
“Ada apa, onii-chan?”
Sungguh normal. Benar-benar sebuah reaksi yang normal.
Dia bertanya tanpa sedikit pun tanda kalau ia terpengaruh oleh kata-kataku. Maksudku, semua yang aku katakan tadi benar-benar bodoh, tapi apakah kau tidak ingin berkomentar apapun tentang itu?
Padahal aku betul-betul harus memeras otakku untuk membuat kata-kata itu...
Seperti yang diduga, Senin betul-betul membuatku mood-ku buyar.
“Yah, kau tahu... Intinya, tidak ada yang terjadi.”
Aku memindahkan bagian kuning telur ke mulutku dengan gerakan cepat. Tapi, apakah telur mata sapi lebih ke makanan Barat atau makanan Jepang?
Setelah mendengar jawabanku, Komachi menjawabnya dengan acuh tak acuh.
Komachi mendorong nampannya ke pinggir untuk mencondongkan badannya ke depan dan mengamati mukaku.
“Heei, kamu tahu?”
“Apa? Mameshiba?1
Atau mungkin dia adalah adalah kucing dalam kandang, yang berarti dia adalah putri yang dikurung. Sebentar, mungkin dia adalah Pappu si monster nasi2, lagipula saat ini kami sedang sarapan. Tidak mungkin dia bertingkah seperti Flabby Panda3 juga. Komachi benar-benar langsing. Lagipula, mencondongkan badan ke depan berarti lebih menunjukkan dadanya, jadi mungkin lebih baik baginya untuk sedikit lebih ‘menonjol’ di bagian itu. Sebenarnya tidak, tidak perlu hal seperti itu. Dia sudah sangat imut saat ini.
Saat aku meyakinkan diriku, Komachi mendesah.
“Onii-chan, normalnya kamu mengatakan hal-hal paling tidak penting, tapi saat ada sesuatu yang salah, kamu mengatakan hal-hal yang bahkan lebih tidak penting dari biasanya...”
“Aah, benar juga...”
Kritik pedas seperti biasanya. Dibilang apa yang kamu katakan tidak penting membuatku makin sulit meresponnya. Yah, lagipula, benar bahwa aku hanya berkata hal-hal tidak penting. Tapi tetap, menganalisa diriku dengan detail yang baik dari caraku bicara dan tingkah lakuku, apakah dia semacam penyelidik psikologis atau sesuatu? Ada apa dengan raut wajah itu?
“Kamu tahu...”
Komachi menyodok saladnya dengan sumpit. Terlihat seperti dia ingin mengatakan sesuatu, tapi dihentikan oleh keraguannya. Dia berkutat dengan tomat di sarapannya.
Aku punya gambaran kalimat apa yang tertahan di tenggorokannya, mungkin karena ikatan kami sebagai adik-kakak. Atau mungkin karena aku akhirnya menyadari ia melakukan hal yang sama sekarang.
Komachi perlahan menaruh sumpitnya dan bertanya padaku.
“Apakah... sesuatu terjadi dengan Yui-san dan Yukino-san?”
Aku lanjut makan dalam keheningan ketika mendengarkannya. Lagipula, aku diajari agar tidak berbicara saat makan. Aku menelan makananku pelan-pelan. Kemudian, bersamaan dengan bermacam-macam perasaan, aku meneguk sup misoku.
“...Apa mereka mengatakan sesuatu?”
“Nggak.”
Saat aku menanyakannya, Komachi menggelengkan kepalanya pelan.
“Mereka bukan tipe yang membicarakan masalah seperti itu dan aku yakin kamu tahu ini juga, kan?”
Ketika dia mengatakan itu, aku tidak bisa bilang apa-apa.
Baik Yukinoshita atau Yuigahama, walaupun mereka berdua sangat kritis tentang masalah paling tidak berguna, mereka pasti tidak akan cerewet tentang hal-hal seperti itu ke adik perempuan orang lain.
“Aku hanya berpikir sesuatu sedang terjadi.”
Komachi berbicara dan memperhatikan reaksiku.
Hidup bersama untuk waktu yang lama berarti ada beberapa yang kami berdua bakal sadari satu sama lain, entah itu hal baik atau buruk.
Tapi ada juga hal yang kau ingin tidak disadari.
“Aku mengerti.”
Setelah aku menjawabnya dengan perkataan basa-basi, mataku mendekat ke arah jam di dinding. Aku ambil sumpitku dan kembali makan.
Sebaliknya, Komachi makan dengan santai.
“Kamu harus mengunyahnya dengan hati-hati. Lagipula,”
Komachi terlihat bermaksud untuk melanjutkan perbincangan. Kelihatannya dia menduga aku bakal memotong percakapan ini.
Tatapannya melihat ke lusa dan dia kelihatan mendadak teringat sesuatu.
“Ingat sesuatu seperti itu pernah terjadi sebelumnya?”
“Maksudmu?”
Saat aku mengatakannya, aku mulai sadar betul tentang apa yang dia bicarakan. Apa yang dia maksud yaitu kejadian bulan Juni. Omong-omong, aku punya perasaan Komachi melakukan hal yang sama saat itu; menunjukkan sesuatu kepadaku.
Oh. Aku belum berubah sepenuhnya. Sudah kuduga.
Sedikitpun tidak tumbuh atau berubah, sama sekali tidak.
Meskipun begitu, Komachi menggenggam cangkir tehnya untuk menghangatkan tangannya. Dia melakukan itu meski  tidak ada tangkai teh mengambang di atasnya; aku bisa melihat itu dengan jelas.
“...Tapi, aku pikir mungkin ini sedikit berbeda dibanding yang dulu.”
“Yah, tentu saja. Lagipula, orang-orang berubah hari demi hari. Bahkan sel tergantikan setiap saat. Beri lima atau tujuh tahun, orang-orang akan berubah, mungkin. Jadi pada dasarnya, kau tahu, manusia itu...”
“Oke, oke.”
Komachi tersenyum pasrah dan mencoba menyudahinya. Setelah dia menaruh cangkir tehnya, dia menaruh tangan di pangkuannya.
“...Jadi, apa yang kamu lakukan?”
“Mengapa kau bertanya layaknya aku orang yang melakukan sesuatu?”
Aku merespon kembali, tapi Komachi kembali melihatku dalam diam. Ekspresi itu mengatakan kepadaku bahwa dia tidak ingin mendengar hal bodoh apapun dariku.
Aku menggaruk cepat kepalaku dan mengalihkan mataku.
“...Tidak ada yang terjadi. Dari awal, tidak ada yang terjadi sama sekali.”
Komachi mendesah.
“Walaupun onii-chan tidak menyadarinya, selalu ada kemungkinan bahwa kamu melakukan sesuatu. Oke baiklah... cobalah berbicara secara tatap muka.”
“Jika kau berkata seperti itu...”
Aku berpikir untuk beberapa saat.
Meskipun sudah beberapa hari semenjak aku kembali dari Kyoto, aku meluangkan sejenak waktu untuk berpikir. Aku bertanya kepada diriku sendiri, apakah ada yang salah dengan tindakanku atau apa ada masalah dengan hal yang aku lakukan. Aku cukup yakin sudah introspeksi atas tindakanku.
Bagaimanapun juga, satu-satunya hal yang muncul di benakku adalah sebuah solusi paling efektif yang membuat jalan untuk sebuah kesimpulan yang dijamin aman. Dilihat dari terbatasnya pilihan yang tersedia, aku pikir hasil akhirnya sudah lebih dari cukup.
Kemungkinan situasi terburuk bisa terhindarkan dan kami bahkan berhasil menyelesaikan permintaan lainnya di saat yang bersamaan. Tentang apakah prosesnya perlu pujian atau tidak, itu terserah. Yang penting kami dapat menyelesaikan permintaan tersebut.
Tapi, tidak perlu menjelaskan secara detil semua hal itu kepada Komachi. Sepanjang aku menyadarinya, itu sudah cukup.
“Tidak, tidak usah dipirkan, bukan apa-apa.”
Aku mengangkat kedua bahuku. Dari situ, aku memberikan sinyal bahwa ini akhir dari percakapan dan aku melanjutkan sarapanku.
Walaupun begitu, Komachi lanjut menatapku.
“Ya ampun kamu. Jadi, apa yang terjadi?”
Komachi memiringkan kepalanya curiga, mengistirahatkan dagunya pada tangannya, dan tertawa konyol.
Seimut posisi tubuhnya saat ini, ada maksud yang kuat di baliknya. Ini adalah sebuah sikap mental yang tidak mengizinkan percakapan berakhir dengan tidak jelas.
Tapi, sekarang rasanya mulai semakin mengganggu.
Normalnya, aku tidak akan jengkel pada tingkat kecerewetan Komachi saat ini. Biasanya aku tidak bakal menganggapnya serius dan hanya dan asal bicara, mengatakan sesuatu yang acak hanya untuk membingungkannya.
Tapi jika bicara tentang ‘normal’, maka Komachi tidak akan sekeras ini memaksakan keingintahuannya.
Saat aku mencoba bertingkah seperti yang biasanya aku lakukan bersama Komachi, dengan sadar mencoba menjadi bagaimana aku seharusnya, aku mulai merasa jengkel.
“...Kau menjengkelkan. Berhentilah.”
“...”
Perkataanku tidak sengaja terdengar kasar sehingga Komachi terlihat kaget. Akan tetapi, dia hanya terkejut beberapa detik dan bahunya mulai bergetar.
Dia mendadak membuka matanya lebar-lebar dan berteriak keras.
“...A-Ada apa dengan nada bicaramu itu!?”
“Nada bicaraku tidak ada yang beda dari biasanya. Ini fakta, kau benar-benar menjengkelkan.”
Perkataan itu tentu bukan hal yang ingin aku katakan. Aku jelas hanya ingin menyudahinya. Tapi ketika suatu perkataan sudah keluar, aku tidak dapat menariknya kembali.
Tidak peduli kapan dan di mana, kau tidak bisa menarik kembali apapun.
Komachi menyipitkan matanya dan menatapku. Beberapa saat kemudian, dia menjatuhkan pandangan matanya ke meja.
“...Hmph, oke. Baiklah, aku tidak akan bertanya masalah itu lagi.”
“Lebih baik begitu.”
Setelah itu, tidak ada percakapan lebih lanjut di meja makan.
Kami berdua lanjut makan dalam kesunyian dan waktu yang melintas perlahan rasanya seperti membeku.
Komachi dengan cepat meneguk sup misonya dan berdiri. Dia menaruh makanan dan piringnya dengan terburu-buru dan membawanya ke tempat cuci piring.
Dia lalu berjalan dengan cepat ke arah pintu dan berhenti. Tanpa melihat ke arahku, dia berbicara cepat.
“Aku pergi duluan. Pastikan mengunci pintunya.”
“Oke.”
Aku memberikannya jawaban pendek dan Komachi membanting  pintu saat menutupnya.
Pada saat itu, aku bisa mendengar suara kecil.
“...Pasti ada yang terjadi.”
Ditinggal sendiri di ruang tengah, aku mengambil tehku. Tehya sudah kehilangan kehangatannya dan saat aku menyeruputnya, rasanya suam.
Sudah beberapa tahun semenjak aku melihat Komachi bertingkah seperti itu. Sudah terlambat, tapi aku kira aku membuatnya marah...... Aku khawatir.
Komachi tidak terlalu sering marah. Tapi saat dia melakukannya, dia adalah tipe yang bakal tetap marah untuk beberapa saat. Tambah lagi, dia adalah seorang gadis yang tepat berada di tengah masa pubertasnya. Saat dia tiba di rumah, aku tidak tahu wajah apa yang akan dia buat.
Meskipun dia adik kandungku, aku tidak tahu.
Benar-benar susah rasanya untuk akrab dengan orang lain.


× × ×


Pemandangan jalan menuju ke sekolah sepenuhnya tenggelam dalam warna musim gugur.
Dedaunan dari pepohonan yang berjajar di sepanjang jalur pesepeda di Jalan Hanamigawa menghiasi sepanjang jajaran pepohonan atau jatuh ke lantai. Langit membentang jauh dan meluas di atas kepala sementara angin laut yang beku menghembus sepanjang jalan, mengalahkan kehangatan musim panas.
Sekecil apapun itu, benar-benar terasa kalau musim sebentar lagi berganti. Khususnya, pergantian dari musim panas ke musim gugur mudah sekali untuk dilihat dengan mata. Dan ketika sudah masuk penghujung musim gugur, kau akan melihat warna musim dingin mulai muncul.
Pergantian musim yang berurutan ini mungkin cuma satu-satunya waktu dimana kau bisa lihat bermacam-macam perubahan dengan matamu sendiri.
Apa yang bisa para tetangga lakukan pada penghujung musim gugur ini?
Perkataan dari seorang haiku terkenal.
Yang unik dari musim ini adalah kesayuan, kemalangan, dan bahkan mungkin kepingan kesepian mereka yang menyebabkan orang-orang penasaran apa yang tetangga mereka lakukan.
Kesepian adalah apa yang menarik rasa penasaran seseorang akan keadaan orang lain. Untuk menolak kesepianmu sendiri, kau mengkhawatirkan orang lain.
Tapi jika kau melihatnya dengan cara berbeda, itu mungkin hanyalah manifestasi dari keinginan untuk mengkhawatirkan dirimu sendiri.
Orang yang berada pada sisi lain hanyalah orang asing, setidaknya itu yang mereka katakan. Akan tetapi, orang asing itu pada akhirnya adalah diri sendiri; dengan kepura-puraan jelas yang mereka sebut sebagai filter, yang tersisa hanyalah diri sendiri.
Oleh karena itu, orang-orang sesungguhnya hanya memikirkan dirinya sendiri.
Ketika orang-orang ingin tahu tentang keadaan orang lain, mereka sebenrnya sedang membandingkannya dengan dirinya sendiri; hanya untuk menentukan posisi mereka sendiri terhadap orang lain.
Penggunaan orang lain untuk membangun posisi mereka sendiri, tidak memiliki bentuk kejujuran sedikitpun. Melakukannya dengan cara ini adalah kesalahan.
Dengan begitu, pengisolasian adalah keadilan yang sama benarnya dengan jawaban yang tepat.
Sepedaku gemerutuk seraya aku mengayuhnya. Kadang-kadang, ada suara derakan karat besi datang dari sepeda entah bagian mana. Bagaimanapun juga, aku mengayuh tanpa mengkhawatirkannya.
Berdasarkan waktunya, kau tidak akan telat tapi kau pasti akan datang ke kelas pada menit terakhir.
Inilah waktu berangkatku biasanya.
Saat aku memasuki area parkir sepeda, ada orang-orang yang berlari dengan buru-buru.
Aku mengunci sepedaku dan buru-buru berjalan ke arah gerbang depan seperti yang lainnya. Kapanpun aku sendiri, aku akan berjalan dengan langkah cepat. Ini adalah kemampuan yang terukir dalam diriku karena aku hampir tidak pernah berjalan bersama orang lain. Dengan kondisi ini, bisa saja aku dipertimbangkan untuk perlombaan jalan Tokyo Olympics sebagai perwakilan Jepang. Boleh juga.
Pintu masuk depan selalu selalu terlihat cukup indah karena tempat itu memancarkan atmosfir yang nyaman.
Salam pagi dan percakapan menambah keributan yang memenuhi tangga yang penuh sampai lorong gedung.
Karena acara terbesar, karya wisata, akhirnya selesai, semua orang kembali ke kehidupan SMA seperti biasanya.
Di kelas juga tidak ada bedanya.
Aku mengendap tanpa bersuara melewati sela-sela meja. Ketika aku berhasil sampai di tempat dudukku, aku perlahan menarik kursiku.
Aku duduk diam dan menunggu homeroom pagi mulai.
Meski aku mencoba untuk melamun, telinga dan mataku akan terus mengolah informasi atas keinginan mereka sendiri.
Karena teman sekelasku tidak bereaksi terhadapku, kelihatannya pengakuan cinta palsu yang kemarin itu tidak tersebar luas. Yah, memang harusnya seperti itu. Kalau dipikir secara logis, tidak akan ada orang yang ingin menyebarkan rumor tentang masalah itu.
Aku yakin Tobe, Ebina, dan bahkan Hayama tidak akan merasa senang kalau masalah itu menjadi bahan perbincangan di sekolah.
Atmosfir kelas sama seperti biasanya. Bahkan kenyataannya, atmosfirnya kelihatan jadi lebih baik dari biasanya.
Jelas sekali, setelah menjalani ‘ujian’ karya wisata bersama-sama, ikatan persahabatan mereka jadi lebih erat lagi. Tapi tidak, bukan itu masalahnya.
Malahan, mungkin karena sisa waktu bersama yang mereka punya.
Pergi ke tempat dingin seperti Kyoto adalah salah satu acara terbesar dalam kehidupan siswa SMA dan mereka bisa melihat pergantian musim secara langsung. Sekarang setelah itu usai, sepertinya semuanya jadi kurang lebih sadar terhadap situasi mereka.
November sebentar lagi akan berakhir. Saat kami sudah setengah jalan menuju Desember, kami akan libur musim dingin yang mengakhiri tahun dan berlanjut ke Januari. Kemudian Februari yang memiliki hari tersedikit dibanding bulan biasanya dan sisa Maret akan diselesaikan dengan libur musim semi. Sisa waktu terus berdetik, jam demi jam. Singkatnya, sisa waktu yang kita punya di kelas ini tinggal sekitar tiga bulan.
Itulah kenapa mereka ingin menghargai momen ini.
Tapi demi siapa mereka menghargai momen ini? Setidaknya tentu bukan teman mereka.
Tidak, apa yang mereka hargai adalah masa muda mereka. Saat-saat dimana mereka benar-benar menikmatinya ini adalah apa yang menurut mereka berharga.
Seraya aku mengamati secara acak, menganalisis, dan mendapatkan kesimpulanku, aku menguap kecil.
Memikirkan semua hal tidak jelas ini adalah bukti aku kelelahan.
Ini adalah hari pertama setelah liburan dan aku bisa merasakan tubuhku sudah membebaniku.
Untuk menghilangkan rasa pegal di pundakku, aku memutar dan meregangkan leherku.
Pandanganku menangkap wajah-wajah familiar teman sekelasku yang ribut berbincang seperti biasa. Di tempat lain, seseorang dengan rambut yang dikuncir sedang melihat ke luar melalui jendela.
Kawasaki, ia berdiri di sana dan terlihat gelisah. Akan tetapi, dia terlihat kuat dan tidak berubah seperti  selama ini.

Aku putar lagi pandanganku. Di sana ada satu grup dengan dua sampai tiga gadis sedang menunjukkan foto karyawisatanya masing-masing satu sama lain. Dalam grup para gadis itu ada Sagami yang sedang bersenang-senang. Dia adalah satu dari sekian jenis langka yang tidak mengalami pertumbuhan walaupun sudah melewati berbagai masalah sebelumnya. Yah, aku tidak terlalu ingin ikut campur, jadi aku tidak terlalu peduli. Aku tidak mendengar bentuk penghinaan apapun dari mereka, mungkin karena karyawisata.
Grup Sagami bukanlah satu-satunya yang membicarakan karyawisata karena ada grup lain tersebar di dalam kelas yang melakukan hal serupa.
Akan tetapi, nantinya percakapan tentang karyawisata ini akan berubah menjadi memori dan tenggelam ke dalam ingatan mereka. Saat mereka melihat foto mereka lagi, memori itu akan kembali hanya untuk berubah menjadi sesuatu yang berbeda.
Ini tidak hanya berlaku pada karya wisata, karena aku yakin saat ini pun sama saja.
Tentu, hanya beberapa dari mereka yang menyadari tentang hal itu. Mungkin juga mereka sudah menyadari tapi memilih untuk tidak mengakuinya agar bisa bersenang-senang.
Sedikit demi sedikit, orang-orang akan bertindak layaknya mereka tidak pernah menyadari apapun dan berpura-pura seperti mereka tidak pernah menyadari apapun sejak awal.
Itulah kenapa semua dari mereka mungkin melakukan hal yang sama.
Aku lanjut melihat sekeliling kelas, khususnya bagian belakang.
Hanya pemandangan yang sama dan tidak pernah berubah.
“Kau tahu, kita kembali ke Chiba dengan selamat, kan? Di Jalur Keiyou, mereka sudah memasuki suasana Natal, jadi aku panik di sana. Seperti, iklan promosi Disney Land itu sungguh gila!”
Orang yang bermain dengan rambut di belakangnya  dengan sikap jenaka adalah Tobe. Dia sama semangatnya seperti saat sebelum karya wisata.
“Disney Land terlalu semangat!”
“Aku tahu.”
Ooka dan Yamato bertingkah seperti biasa dan menanggapi Tobe.
“Disney Land huh~”
Orang yang mengatakan itu sambil bermain dengan rambut pirang keritingnya menggunakan ujung jarinya dan terlihat melamun itu adalah Miura. Jika Miura adalah salah satu dari para gadis yang bercita-cita menjadi putri Disney, aku pikir itu akan membuatnya cukup feminim.
Sekarang sudah tanggal segini, ya…….
Orang yang tersenyum sambil mengistirahatkan dagunya di tangannya adalah Hayama. Yang mendengarkan mereka adalah Yuigahama yang menaruh jari telunjuk di dagunya seraya matanya menerawang ke langit-langit, dia berbicara seperti ia mengingat sesuatu.
“Ah, ngomong-ngomong, aku dengar mereka membangun sebuah wahana baru di sana.”
Setelah ia berbicara, Ebina menyilangkan lengannya dan mulai berpikir.
“Eh? Bukannya itu untuk bagian resort? Terkadang susah menentukan mana yang…… itu dia, mana yang di atas dan di bawah.”
“Ebina, hentikan.”
Ebina dipukul ringan di kepalanya oleh Miura tapi tersenyum sesudahnya.
Grup Hayama sama seperti biasanya.
Aku merasa sedikit lega melihatnya.
Ini adalah dunia yang mereka harapkan; dunia yang sama dan tidak pernah berubah.
Dunia mereka ini pada waktunya akan hancur dan membusuk, tapi bukan berarti saat ini belum. Jadi mungkin itu memang sudah bentuk dunia mereka yang sebenarnya.
Baik Hayama dan Ebinda tidak ingin menyinggung soal ini.
Itu memang keputusan yang tepat. Jika mereka ingin berlanjut seperti saat sebelum dan sesudah karyawisata, maka interaksi antara mereka seharusnya tidak berubah. Tapi itu juga berarti bahwa jarak antara aku dan mereka menjadi abadi.
Sambil menatapi mereka dengan wajah bodoh, pandanganku mendadak bertemu dengan mata Yuigahama.
“…”
“…”
Tidak selama itu sebenarnya dan hanya beberapa detik sudah terlewati. Tapi cukup aneh, ini terasa lebih lama dari yang seharusnya. Layaknya tatapan kami mencoba saling menyelidiki, aku buru-buru mengalihkan mataku dalam gelisah.
Aku mengistirahatkan tubuhku di tangan kiriku dan menutup mata. Meski aku mengalihkan mata, telingaku masih lanjut bekerja.
Yang itu, kan?  Kayak, kita akan pergi ke Disney Land, seperti di sini!”
Itu, ya?”
Yeah.
Percakapan mereka tidak terlihat penting, tapi bagaimanapun juga, grup Hayama lanjut berbincang-bincang.
Di sana, gelak tawa Yuigahama bercampur dengan yang lainnya yang mana dia kelihatan jadi lega sembari ia mengelus dadanya.
…Tapi sungguh, benar-benar tidak ada hal penting di dalam percakapan mereka.
Akan buruk jika percakapannya hanya karena mood saja.
Pada catatan yang sama, mereka bisa dengan mudahnya bercakap-cakap satu sama lain sementara menghindari permasalahan sebenarnya. Kemungkinan lainnya adalah mereka memberlakukan sandiwara untuk menunjukkan aktifnya grup mereka seperti saat sebelum karyawisata.
Bagaimanapun juga, punya teman adalah hal yang indah. Menyayangi dan melindungi satu sama lain merupakan hal yang indah. Hal itu akan menjaga penampilan mereka dengan cukup baik. Tentu itu akan jadi indah.
Dengan demikian, formulanya terdiri dari elemen-elemen yang sangat sederhana itu: memiliki hubungan yang baik yang sama indahnya dengan saling melindungi dan menyayangi. Seperti yang kuduga, kepekaan matematikaku sedang buruk. Ngomong-ngomong, rumus matematika yang selesai itu indah menurut salah satu cabang dari sains. Aku bisa tahu dari mana mereka berasal. Ada rasa takut kehilangan dalam kenyataan yang seharusnya abadi. Tapi, lagipula, terlalu bersemangat memikirkan rumus matematika akan membuatku terlihat seperti ilmuwan bejat. Seperti yang kuduga, sains dan matematika itu menjijikkan.
Seraya aku memikirkan hal tak berguna untuk meghabiskan waktu, aku membuka mataku perlahan untuk mengecek waktu. Bel akan berdering sebentar lagi…
Pada saat itu, sosok yang buru-buru datang tepat waktu muncul di luar kelas. Dia terlihat tergesa-gesa meski langkahnya terlihat santai.
Orang yang membuka pintu dengan gemetar dan menjulurkan kepalanya melewati celah pintu untuk melihat ke dalam kelas adalah Totsuka. Setelah ia memastikan situasi di dalam kelas, dia mendesah. Totsuka menyapu keringatnya dan melihat ke arloji miliknya.
“Yay, aku datang tepat waktu…”
Totsuka mengangguk dengan ekspresi lega dan bertukar salam dengan teman sekelas sepanjang perjalanan ke kursinya.
Setengah jalan ke arah kursinya, Totsuka menyadari aku sedang melihat ke arahnya, sepanjang waktu sebenarnya, dan mendekatiku. Sebenarnya, apa yang harus ditanyakan di sini adalah kenapa aku melihatnya sepanjang waktu, tapi aku memutar pertanyaan itu; apakah ada orang yang tidak selalu melihat orang lain?
Karena Totsuka sudah berlari untuk sampai ke kelas, dia terengah-engah dengan wajah memerah. Dia pasti sudah melakukan latihan pagi karena aku dapat melihat kelelahan di matanya.
“Pagi, Hachiman.”
“…Yeah, pagi.”
Aku berdeham agar tidak terlalu semangat akan situasi ini dan menyapanya. Tapi setenang apapun aku, ini benar-benar bukan seperti diriku. Aku merespon dengan nada yang benar.
Namun, Totsuka melihatku dengan bingung dan entah kenapa diam. Tangan yang dia angkat dengan lembut itu seperti mematung.
“…”
“Kenapa?”
Ketika aku bertanya, Totsuka menurunkan tangan untuk menyudahinya dan tersenyum.
“Ah, tidak apa-apa, hanya berpikir kau mengatakan hai seperti biasanya.”
“…”
Ketika mendengar itu, aku bergerak sedikit lebih awal dari reaksiku. Adakah yang berbeda dari biasanya?
Tapi memikirkan masalah itu mungkin tidak akan memberiku sebuah jawaban.
Aku mematikan otakku dan berbicara.
“Aah… Yeah, benar. Seperti biasanya. Apa kamu latihan pagi?”
“Yap, sudah lama sekali aku sejak aku benar-benar menikmatinya. Ah, masih merasa capek dari karyawisata?”
Aku mengingat kembali perjalanan pulangku. Aku tidur hampir sepanjang perjalanan di dalam Shinkansen. Dia pasti berbicara tentang itu. Sebagian besar, aku setengah bangun, tapi aku benar-benar tidak sedang dalam mood untuk bicara dengan siapapun pada waktu itu… Umm, maksudku aku tidak persis dalam mood terbaikku dan aku tidak ingin membiarkan Totsuka melihat sisiku itu, kau tahu?
Maksudku, sebenarnya aku ingin terlihat sebagai Hikigaya Hachiman yang keren di depan Totsuka. Apa yang orang ini katakan?
“Ah, yeah, aku baik-baik saja.”
Oh, baguslah.”
Totsuka membalas dengan sebuah senyum, dan kemudian bel berbunyi. Totsuka melambaikan tangannya dan beranjak ke kursinya. Aku menanggapinya dengan senyum santai.
Benar, aku tidak lagi merasa capek. Atau bisa dibilang, lelah yang telah aku derita sebelumnya, sudah tertiup pergi baru saja.


× × ×


Satu persatu pelajaran selesai, aku bisa merasakan tubuhku mulai semakin lemas. aku memulai kebiasaanku menghitung sisa waktu jam pulang sekolah.

Dan kemudian, Hari ini ditutup dengan homeroom lagi yang juga berarti akhir dari hitung mundurku.
Waktu habis.
Aku mengambil tasku yang tidak ada hal penting didalamnya dan berdiri.
Orang-orang dengan cepat berangsur keluar dari kelas menuju klub mereka dan berjalan pulang kerumah. Aku bisa merasakan tatapan menusuk di punggungku tapi akhirnya lenyap ketika aku menutup pintu geser dibelakangku.
Lorong tenggelam dalam suasana yang santai. Murid-murid berjalan bolak-balik menuju arah yang berbeda. Mereka tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti meskipun berjalan begitu santai.
Aku memilih untuk berjalan di sisi lorong yang tidak terkena oleh sinar matahari yang tidak sehangat sisi yang lain.
Aku turun menuruni tangga dan memerhatikan kalau kepadatan siswa tidak sebanyak biasanya. Alasannya mungkin karena beberapa murid masih berada di kelas.
Tidak ada seorangpun yang memanggilku atau menanyakan tingkahku selagi aku terus berjalan ke pintu depan. Aku tiba tanpa hambatan.
Mulai dari sini, aku akan mengganti sepatuku dan berjalan menuju parkir sepeda. Setelah membuka kunci sepedaku, Aku akan berjalan pulang sambil melamun. Dalam waktu singkat, aku akan sampai di rumah dengan aman dan nyaman.
Tetapi itu sangat tidak seperti diriku.
Aku adalah aku. Selalu sama seperti itu. Itulah mengapa aku harus menghabiskan waktu seperti yang aku selalu lakukan.
Saat aku keluar dari pintu depan, mesin penjual otomatis mulai terlihat.
Tiba waktunya untuk mengganti topik. Aku memilih kopi kalengan. Tapi sekali lagi, apa yang aku pilih bukanlah merek Ayataka.
“…Ini benar-benar pahit.”
Aku meneguk habis kopinya dan melemparkan kaleng kosong ke tempat sampah. Rasa pahit masih tertinggal dalam mulutku dan berlarian tidak akan membuatnya hilang.
Seperti biasa, kakiku terasa berat, tapi aku memaksa diriku untuk bergerak. Aku mengambil rute yang berbeda dari yang biasanya aku pakai untuk pergi ke ruang klub.
Saat aku berjalan melintasi lorong dan menaiki tangga, pikiran yang menjengkelkan mulai mengisi kepalaku. Aku membuat desahan kecil selagi aku berjalan.
Setelah menghabiskan waktuku dengan santai, akhirnya aku berada di depan ruang klub.
Sebelum aku meletakkan tanganku di pintu, aku menarik napas dalam-dalam.
Pada saat itu, aku bisa mendengar suara-suara dari dalam. Aku tidak bisa menebak apa yang mereka bicarakan, tapi tampak seperti mereka sudah berada datang.
Setelah memastikan itu, aku membuka pintu dalam satu gerakan.
Setelah aku lakukan, mereka berhenti bicara.
“…”
Kami bertiga terdiam. Yukinoshita dan Yuigahama, yang terpaku padaku, memperlihatkan ekspresi terkejut.
Mereka mungkin berpikir aku tak akan repot-repot datang karena sudah selarut ini. Mereka tidak sepenuhnya salah. Toh, aku memang tidak terlalu termotivasi untuk datang ke sini.
Aku hanya bersikap keras kepala, itu saja. Itu hanya sikap keras kepala dari seseorang yang terkoyak berkeping-keping oleh niat jahat dan niat tidak mau bekerja sama dari orang lain.
Sikap perlawanan ini hanyalah milikku, agar aku tidak menyangkal masa laluku, tindakanku, dan keyakinanku.
Aku menyapa mereka dengan anggukan dan berjalan ke tempat kursi yang biasa aku duduki.
Begitu aku duduk di kursi yang aku tarik keluar, Aku mengeluarkan sebuah buku yang belum selesai kubaca dari tasku. Penanda yang aku tandai di buku itu masih sama seperti sebelum karyawisata.
Ketika aku mulai membaca, waktu yang membeku mulai bergerak lagi.
Di atas meja ada teko teh dengan manisan panggang dan cokelat. Dua cangkir teh berjejer saling berdampingan dan memunculkan uap dari permukaannya.
Ruangan terasa hangat dan berbau teh, mungkin dari air yang baru saja direbus.
Namun, aku bisa merasakan kehangatan ruangan perlahan turun.
Yukinoshita memandangku dengan mata dingin yang menusuk.
“…Jadi akhirnya kau datang juga.”
“Ya, seperti yang kau lihat.”
Aku menjawab dengan acuh dan membalik halaman walaupun aku hanya sudah membaca sedikit kurang dari setengahnya.
Yukinoshita tidak berkata apapun setelah itu.
Yuigahama terlihat melirik ragu-ragu padaku, tapi satu-satunya hal yang dia lakukan adalah menempatkan cangkir ke mulutnya.
Tapi sungguh, suasana disini sangat sesak. Itu sudah cukup mempertanyakanku kenapa aku datang.
Keheningan terus berlanjut.
Mataku mengikuti sepanjang baris di buku. Aku menyandarkaan punggungku ke kursi dan melemaskan bahuku sembari aku membalik halaman. Ini adalah awal dari periode yang tidak produktif di mana aku secara tidak sadar mulai menghitung mundur waktu yang tersisa antara halaman-halaman buku dan waktu pulang.
Seseorang sedang menelan ludah, suara gemerisik pakaian bisa didengar, dan ada yang terdengar gelisah.
Bahkan bunyi detak jarum panjang jam bisa terdengar.
Seakan suara itu jadi pemicu, Yuigahama sedikit menarik nafas dan berbicara.
"Ah, ngomong-ngomong, semua orang benar-benar bersikap seperti biasa. Um, itu... Semuanya..."
Meskipun ia sedang berada di tengah-tengah kalimatnya, kata-katanya terdengar semakin melemah seakan suasana menyesakkan ini menghancurkannya. Tapi, Yukinoshita dan aku melihat langsung padanya.
Semua orang, mungkin yang dia maksud adalah Tobe, Ebina, Hayama dan juga Miura.
Tapi dia benar. Karyawisata kami sudah berakhir tapi sama sekali tidak ada yang berubah dari kelompok Hayama. Mereka masih berhubungan baik seperti biasa dan itu adalah sesuatu yang kau bisa simpulkan cukup dengan melihat mereka.
"... Benar, cukup melihat mereka sudah memberiku kesan bahwa tak ada yang berbeda."
Bukannya aku bangga dengan apa yang aku lakukan. Bahkan, apa yang aku lakukan mungkin diklasifikasikan sebagai hal terburuk yang dapat dilakukan. Terlepas dari itu, aku bersyukur terhadap fakta bahwa apa yang aku lakukan tidak sia-sia.
Itulah mengapa tidak apa-apa menganggap hal itu sebagai opiniku.
"... Aku mengerti. Kalau begitu, baguslah."
Yukinoshita mengelus tepi cangkir tehnya dengan ujung jarinya saat ia mengatakan itu. Tapi, tatapan lelahnya diarahkan pada permukaan teh dan ekspresinya menunjukkan dia sama sekali tidak yakin.
Seolah-olah Yuigahama mengumpulkan tenaganya setelah percakapan itu usai, dia tertawa terbahak-bahak sambil membelai bola rambut di kepalanya.
"Maksudku, itu agak menakutkan, tapi aku tidak benar-benar memiliki sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Semua orang hanya ... bersikap normal."
Energi yang dipanggil kehilangan momentum di tengah jalan. Dia menurunkan wajah sedihnya ke bawah dan kata-kata yang diucapkan di akhir terdengar sendu.
"... Aku sungguh tidak tahu apa yang mereka pikirkan."
Ke arah siapa kalimat itu ditunjukkan? Kemungkinan bahwa kalimat itu tidak ditujukan terbatas pada Hayama dan grupnya sedikit mengejutkanku.
Saat aku duduk di sana tanpa merespon, Yukinoshita berbicara.
"... Begitulah. Bagaimanapun tidak mungkin kita mengetahui apa yang mereka pikirkan."
Yuigahama menjadi terdiam lagi setelah mendengar kata blak-blakan tersebut. Kehangatan cangkir yang Yuigahama cengkram sudah menghilang.
Melihat Yuigahama terlihat tersakiti, Yukinoshita melanjutkan dengan kata-katanya dengan "selain itu".
"Bahkan jika orang satu sama lain tahu apa yang dipikirkan, apakah kita akan mengerti atau tidak adalah masalah yang berbeda."
Yukinoshita mengulurkan tangannya ke cangkir teh yang ia tatap dari tadi. Meskipun seharusnya tehnya sudah dingin sekarang, dia minum dengan pelan dan hati-hati dan meletakkan kembali cangkirnya di cawan tanpa membuat suara apapun. Seolah-olah ia membenci suaranya.
Keheningan membuatku bertanya-tanya mengenai arti dari kata-katanya.
"... Kelihatannya memang begitu."
Tidak ada yang perlu untuk dipikirkan tentang hal itu karena maksudnya sudah jelas. Apa yang Yukinoshita katakan itu sepenuhnya benar dan tidak ada kesalahan yang bisa aku protes. Itu memang sungguh benar.
Aku menghela nafas pendek dan berdiri tegak.
"Yah, kau tidak perlu terlalu banyak khawatir tentang hal itu. Selama kita bertindak seperti biasa, maka lebih baik seperti itu, kan? "
Jika kita ingin melanjutkan seperti biasa dan tanpa mengubah apapun, maka kita harus melakukan hal yang sama dengan lingkungan sekitar kita juga. Lagipula memang ikatan antar manusia memang mudah rusak. Itu adalah kombinasi dari faktor-faktor internal dan eksternal.
Yuigahama mengulangi kata-kataku dengan perlahan.
"Kita harus bersikap normal juga ... ya ..."
Dia mengangguk meskipun tidak tampak terlalu percaya diri dan yakin.
Aku meresponnya dengan anggukan.
Ini adalah keputusan kami.
Tidak, itu adalah keputusanku.
Tapi hanya satu orang tidak menunjukkan tanda-tanda persetujuan. Yukinoshita Yukino menatap langsung ke arahku. Saat aku duduk di sana merasakan tekanan dari tatapannya, Yukinoshita perlahan mulai berbicara.
"Normal ... ya? Benar, untukmu, itu adalah normal."
"... Ya."
Ketika aku jawab, Yukinoshita mendesah kecil.
"... Tidak ada yang berubah, kan?"
Rasanya seperti aku telah diberitahu sesuatu seperti itu sebelumnya. Namun maksud yang tercampur dalam kata-kata saat itu sungguh berbeda. Kali ini, kata-katanya tidak ada kehangatan seolah-olah dia telah menyerah, seolah-olah sesuatu telah berakhir.
Kata-kata itu menusuk dadaku.
"Kau ... Um ..."
Yukinoshita tampak seperti dia mengalami kesulitan mencoba untuk mengatakan sesuatu terlihat dari kata-katanya yang terputus tiba-tiba. Matanya berkeliaran seolah-olah dia sedang berusaha untuk mencari kata-kata yang ingin dia katakan.
…Ahh, Ini mungkin kelanjutan dari sebelumnya.
Ia akan mengatakan kata-kata yang tidak jadi ia katakan waktu itu.
Aku mengistirahtkan tubuhku yang tambah kaku tanpa aku sadari dan menunggu Yukinoshita untuk melanjutkan.
Yukinoshita mencengkeram roknya. Bahunya sedikit bergetar. Setelah tampak yakin, tenggorokannya mulai bergerak.
Tapi, kata-katanya sama sekali keluar.
"Yu-Yukinon! U, Um, um......"
Yuigahama menaruh cangkirnya dengan keras di atas meja dan bermaksud untuk berbicara, memutus pembicaraan kami. Seolah-olah ia memiliki perasaan bahwa apa yang akan Yukinoshita katakan adalah kata-kata yang tidak boleh diucapkan.
Tapi itu tidak lebih dari penundaan. Caranya bersikap seolah ia tidak menyadarinya malah terlihat seperti ia mencoba untuk menjaga rahasia rapat-rapat.
Suasana berlanjut dan mereka berdua mencoba untuk mencari kata yang tepat untuk dikatakan, yang hanya menimbulkan kensunyian.
Berapa banyak yang mereka cari? Ini jelas bukan sesuatu hal yang sepele. Satu-satunya yang bergerak hanyalah jarum pendek jam.
Tiba-tiba, suara ketukan berasal dari pintu.
Kami semua menghadap ke pintu, tapi tidak ada yang angkat bicara.
Sekali lagi, pintu diketuk.
"Masuklah."
Yang menjawab adalah aku. suaraku tidak terlalu keras, tetapi tampaknya dapat didengar oleh orang di seberang pintu.
Pintu berderit terbuka.
"Aku masuk."

Orang yang mengatakan itu dan masuk adalah Hiratsuka-sensei.

Oregairu Jilid 8 Bab 1 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Fariq Farhan Ariq

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.